High School D×D DX.1 Life.1
Bagaimana kalau kukatakan ini adalah bersentuhan saat mandi bersama adik iparku?
Life.1 Penculikan ERO
Namaku Kiba Yuuto. Aku seorang siswa kelas dua SMA yang bersekolah di Akademi Kuoh. Biasanya, Hyoudou Issei-kun—yang merupakan pemeran utama cerita ini—yang akan bercerita, tapi…. Karena satu dan lain hal, kali ini aku yang akan menggantikannya bercerita.
Mengapa bisa begitu, karena—.
“Tolong jangan katakan kata tak senonoh seperti oppai!”
…Ise-kun sedang menderita penyakit otak yang parah….
Kejadiannya berlangsung pada suatu hari sepulang sekolah. Aku dan teman-temanku yang tergabung dalam Klub Penelitian Ilmu Gaib berkumpul di ruang klub yang berada di gedung sekolah lama, lalu berbincang-bincang tentang berbagai hal.
Meskipun ini rahasia bagi murid-murid lain, kami sebenarnya adalah iblis asli. Dan di bawah majikan kami yang juga menjabat sebagai ketua Klub Penelitian Ilmu Gaib—seorang senior berambut crimson, Rias Gremory-buchou—kami sedang mendiskusikan rencana kami ke depannya.
“Untuk sementara, jika dibandingkan dengan bulan lalu, persentase kontraknya sedikit menurun. Khususnya, tolong usahakan lebih dalam melayani pelanggan usia paruh baya dan lanjut usia.”
Buchou menyampaikan hal tersebut sambil menatap data dalam dokumen.
Saat itu, seorang siswi kelas satu—Toujou Koneko-chan—mengangkat tangannya.
“…Aku pernah melihatnya di televisi, ada sebuah toko elektronik yang berakar di komunitas lokal. Dengan membuka hati secara tulus kepada pelanggan paruh baya dan lansia, mereka tetap bisa menjual barang meski dengan tingkat diskon yang rendah. Konon sekarang toko tersebut sudah berhasil menambah jumlah cabangnya.”
“Artinya, membangun hubungan kepercayaan dengan manusia adalah hal yang sangat penting sekali lagi, ya. Walaupun itu adalah hal mendasar, kita sering kali melupakannya saat menjalankan pekerjaan sebagai iblis.”
Senior berambut hitam ponytail—Himejima Akeno-fukubuchou—menimpali perkataan Koneko-chan.
Pekerjaan iblis adalah mengabulkan keinginan manusia, dan sebagai imbalannya, kami menerima bayaran yang sepadan. Meskipun belakangan ini sudah tak ada lagi manusia yang membayar dengan nyawa mereka, manusia yang memiliki hasrat takkan pernah habis di zaman kapan pun. Berkat itulah, kami para iblis bisa terus melanjutkan pekerjaan ini.
Kami yang masih muda ini terkadang saling bertukar pendapat seperti ini demi mencari cara untuk meningkatkan pencapaian kinerja kami walau sedikit.
“Apakah aku bisa akrab dengan para manusia, aku jadi khawatir….”
Kouhai yang berpenampilan seperti gadis cantik dan suka berdandan layaknya perempuan—Gasper-kun—tampak agak cemas. Bagi dirinya yang kurang pandai berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal, hal ini mungkin merupakan tantangan yang agak berat.
Tiba-tiba, aku memindahkan pandanganku ke arah jam dinding. Buchou tampaknya memikirkan hal yang sama, dia menatap jarum jam tangannya dengan ekspresi wajah yang serius.
“…Lama sekali. Apa yang sedang dilakukan Ise dan yang lainnya?”
Buchou bergumam sambil menghela napas.
Ya, khusus untuk hari ini, kehadiran Ise-kun beserta teman-teman sekelasnya—Asia-san, Xenovia, dan Irina-san—terasa sangat terlambat. Aku dan mereka berada di angkatan yang sama, tetapi kelas tempatku berada sudah selesai lebih awal. Meski begitu, seharunya tak ada perbedaan waktu selesai kelas yang terlalu jauh dengan kelas mereka….
Lalu, dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki yang sangat bersemangat. Dug-dug-dug-dug-dug! Aku merasakan hawa keberadaan yang mendekat dengan kecepatan luar biasa sambil menggetarkan seluruh gedung sekolah lama. Itu pasti suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari.
Brak!
Pintu pun dibuka lebar-lebar dengan kasar, dan tiga orang gadis masuk dengan wajah yang pucat pasi.
Gadis berambut emas—Asia-san, gadis dengan highlight hijau di rambutnya—Xenovia, dan gadis twintail—Irina-san. Asia-san dan Xenovia adalah iblis seperti kami, sedangkan Irina-san adalah seorang malaikat. Ini benar-benar asli, semuanya.
Mereka bertiga sama-sama terlihat sangat panik. A-apa yang sebenarnya telah terjadi? Kalau dipikir-pikir, sosok Ise-kun tidak terlihat. Biasanya, mereka berempat selalu datang ke ruang klub bersama-sama, tapi….
“R-R-R-Rias-oneesama! Gawat!”
Asia-san berteriak sambil menahan air mata di matanya. Buchou yang menyadari sesuatu dari kepanikan Asia-san pun berjalan mendekati mereka.
“Tenanglah, Asia. Ada apa? Di mana Ise?”
Menjawab pertanyaan Buchou, Xenovia memejamkan mata dan mendongak ke langit-langit, lalu menunjuk ke arah koridor.
“…Ise sudah tidak menentu lagi.”
Xenovia mengucapkannya seolah-olah memeras suaranya. Tidak menentu? Apa maksudnya?
Irina-san tetap berada dalam posisi berdoa dan berjalan menuju jendela, memohonkan sesuatu dengan sangat sungguh-sungguh.
Ketika Buchou mengarahkan pandangannya ke koridor, seorang anak laki-laki masuk ke ruangan. —Hyoudou Issei-kun.
…Apakah telah terjadi sesuatu pada Ise-kun? Kalau dilihat-lihat, sepertinya tidak ada yang aneh darinya.
Hyoudou Issei-kun. Dia adalah temanku, dan satu-satunya sahabatku. Dia tipe orang yang berdarah panas dan selalu menerjang lurus dalam hal apa pun. Jika bicara soal cirinya… Ya, dia sangat mesum. Dia selalu memikirkan hal-hal mesum, dan ketika melihat anggota klub perempuan, dia pasti akan memulainya dari bagian dada. Dia benar-benar sangat menyukai buah dada wanita.
Impiannya adalah sukses dalam bisnis iblis, menjadi Iblis Kelas Tinggi, dan membangun sebuah harem. Dia sangat jujur pada hasratnya dan lebih menyukai perempuan daripada siapa pun.
Ise-kun membuka mulutnya dengan senyuman yang teramat sangat menyegarkan.
“Buchou, aku enggak apa-apa, kok.”
……
…E-eh? A-aneh, bukankah seharusnya Ise-kun menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘Ore’…? A-aneh sekali. Apakah telingaku yang bermasalah? B-barusan dia bilang, ‘Boku’…?
Buchou yang juga menyadari perubahan pada Ise-kun berusaha keras memperhatikan arah pandang Ise-kun.
Kemudian, dia berkata sambil menutup mulutnya.
“—Ise tidak melihat ke arah dadaku!”
[—!?]
Mendengar sepatah kata itu, aku, Akeno-san, Koneko-chan, dan Gasper-kun langsung bungkam tak mampu berkata-kata!
…B-bohong….
Bagi Ise-kun, dada Buchou adalah hal sangat berharga yang tak tergantikan oleh apa pun…. Kapan pun itu, pandangannya pasti selalu tertuju ke sana terlebih dahulu. Dia sendiri pernah menceritakannya dengan penuh perasaan.
—Kiba, dengarkan aku. Oppai Buchou adalah awal mulanya diriku sekaligus tempatku untuk pulang. Mau dilihat berapa kali pun tidak akan pernah bosan. Kau tahu tidak? Puting Buchou itu ya, tingkat kekerasannya sedikit berbeda antara yang kiri dan kanan, lho?
Di sebuah taman bersuasana senja, kalimat itulah yang keluar saat kami berdua sedang saling menceritakan impian kami. Saat itu aku berpikir ingin menamparnya sedikit. Suasananya saat itu bahkan memaklumi jika aku menamparnya.
Tapi, saat itu senyumannya sangat bagus. Wajahnya berseri-seri penuh kepuasan. Dia selalu memikirkan dada Buchou setiap saat. Atau lebih tepatnya, saat menceritakan impian pun, dia hanya bicara tentang oppai dari awal sampai akhir—.
Akeno-san mendekati Ise-kun, menggenggam tangannya—lalu menempelkannya pada dadanya sendiri.
Lantas—.
“A-apa yang kaulakukan!? Ini sangat tidak sopan!”
Dia segera menepis tangan itu dan memasang ekspresi wajah yang sangat bingung!
Mustahil! Hal seperti itu tak mungkin terjadi!
—Mana mungkin Ise-kun merasa bingung dan terganggu saat menyentuh dada wanita!
Ise-kun bahkan menjadikan buah dada indah milik Akeno-san sebagai objek pemujaan. Dia bahkan sampai menyebutnya sebagai dewa, tahu!? Kadang dia sampai mengatupkan kedua tangannya sambil bergumam, “Betapa bersyukurnya aku!” Saat melihat buah dada Akeno-san membal saat berolahraga memakai baju senam, dia bahkan menangis hingga melakukan sujud berserah diri! Padahal setiap kali Akeno-san menggoyangkan dadanya, dia selalu bereaksi dengan sekuat tenaga!
Padahal dia pernah bercerita dengan sangat berapi-api bahwa belahan dada yang sebanding dengan Grand Canyon—jurang di bagian utara Arizona, Amerika Serikat—hanyalah dada Buchou dan dada Akeno-san!
Akeno-san benar-benar terkejut melihat reaksi tersebut hingga seluruh tubuhnya gemetaran.
“…B-bohong. Ise-kun menepis oppai-ku….”
Akeno-san tampaknya mengalami guncangan yang cukup hebat hingga langkah kakinya menjadi tidak stabil.
Melihat hal itu, wajah Ise-kun berubah menjadi merah padam dan dia berteriak:
“Tolong jangan katakan kata tak senonoh seperti ‘oppai’ sebagai seorang wanita!”
—Ghh.
Aku tidak sanggup menahan air mata yang mengalir di pipiku.
Kepada semuanya. Ise-kun telah jatuh sakit. Penyakitnya sangat, sangat parah sekali.
—D×D—
“Jelaskan apa yang sudah terjadi.”
Buchou menyuruh Asia-san, Xenovia, dan Irina-san duduk di sofa, lalu mendengarkan cerita mereka.
Setelah menenangkan diri sambil meminum teh hangat yang diseduhkan oleh Akeno-san, ketiga gadis itu mulai bercerita sambil membasahi saputangan dengan air mata mereka.
Kejadiannya terjadi setelah jam pelajaran usai. Saat mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju gedung sekolah lama—.
“Ah, UFO!”
Tampaknya Ise-kun menemukan benda terbang misterius di angkasa. Saat yang lain ikut melihatnya dan merasa heran, tiba-tiba—.
“Benda terbang tak dikenal itu mendekati Ise-kun dan menembakkan sinar misterius ke arahnya. Kemudian, saat Asia-san menyembuhkan Ise-kun yang gosong dan mengepulkan asap menggunakan kemampuan pemulihannya—”
“Apakah kau baik-baik saja, Ise-san?”
“…Ya. Aku tidak apa-apa, Asia-san. Hari ini dunia juga damai, ya. Betapa indahnya jika semua orang di bumi ini bisa menjadi lebih dan lebih bahagia lagi. Hahaha.” ← ucapnya dengan senyuman segar dan mata yang berbinar-binar.
“…I-Ise-san?”
“Dia mendadak berubah menjadi sosok yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada perempuan…. Sebagai informasi, UFO-nya berbentuk tipe Adamski….”
Irina-san menjelaskan sambil menyapu sudut matanya.
—Astaga, gawat sekali. Aku bahkan bingung harus mulai heran dari mana! Lagi pula, UFO!? Kena tembak sinar UFO!? Y-Yah, karena di sini ada kami yang merupakan iblis dan malaikat, menurutku keberadaan alien sekalipun tidak terlalu aneh, sih…. Tapi tetap saja, ini situasi yang benar-benar sulit dilukiskan dengan kata-kata. Karena kami adalah Klub Penelitian Ilmu Gaib, momen menjumpai UFO seperti ini mungkin adalah peristiwa yang patut disyukuri. Tapi, bagaimanapun juga, ini tetaplah kejadian di luar dugaan.
Ise-kun, kau memang tipe orang yang sering terseret berbagai masalah, tapi tidak disangka kau sampai kena serangan dari makhluk luar angkasa….
Pandangan semua orang tertuju pada Ise-kun yang duduk di pojokan ruang klub. Dengan mata yang jernih, Ise-kun mulai menuliskan hal-hal seperti “Seribu Target demi Menyelamatkan Dunia” di dalam bukunya.
Koneko-chan mendekat dan bertanya, “…Lagi menulis apa?”
“Wah! Koneko-chan! Aku lagi menuliskan cara-cara agar seluruh orang di dunia bisa bahagia! Bagaimana dengan Koneko-chan? Maukah kau bersama-sama denganku mewujudkan dunia indah yang bebas dari perselisihan—”
Gubrak! Krek-krek!
Sebelum Ise-kun selesai bicara, Koneko-chan mendaratkan pukulan tanpa ampun. Bagaimanapun cara melihatnya, itu adalah pukulan yang diputar dan menghantam menembus ke dalam. Suara hantaman yang seharusnya tidak boleh terdengar dari kepala seseorang bergema cukup renyah.
Ise-kun menyemburkan darah dari hidungnya, tetapi senyumannya masih tidak pudar.
“Pukulan yang bagus! Tapi, sedikit sakit!”
“…Aku pikir dia bakal sembuh kalau dipukul… Ise-senpai. Antara payudara Buchou dan payudara Akeno-san, mana yang paling Senpai sukai?”
“A-apa yang kaukatakan!? Hal tidak sopan seperti itu, tidak boleh diucapkan oleh gadis jelita sepertimu, Koneko-chan—”
Brak! Krek-krek!
Sekali lagi, sebelum Ise-kun selesai bicara, Koneko-chan menghantamkan tinjunya ke wajah Ise-kun seperti palu. Dengan posisi tinju yang masih menempel di wajah, dia memutarkan kepalan tangannya menekan makin dalam dan makin dalam.
“…Ise-senpai tidak akan mengatakan hal seperti itu.”
“K-Koneko-chan! H-hentikan! Seorang gadis tidak boleh menunggangi dan menduduki laki-laki seperti ini—”
Dug-dug! Tak-tak!
“…Ise-senpai tidak akan mengatakan hal seperti itu.”
“I-iya, aku mengerti! Aku akan dengan senang hati menjadi lawan latihanmu! Lalu, mari kita jadikan kau sebagai juara umum bertarung bebas wanita yang pertama! Perdamaian yang dimulai dari sana juga—”
Duuag! Brakk!
Suaranya sudah sampai pada tahap di mana aku tak tahu lagi apa yang remuk di sana. Meski begitu, Koneko-chan tetap berusaha menyembuhkan Ise-kun. —Dengan tinjunya.
Melihat Koneko-chan yang terus melancarkan pukulan beruntun dari posisi menduduki, aku berkata, “Tapi, Koneko-chan. Bisa dibilang ini juga sisi Ise-kun yang normal, 'kan? Bukankah Koneko-chan sendiri sering terganggu dengan sifat mesumnya Ise-kun? Kau 'kan selalu bilang ingin dia menyembuhkan sifat mesumnya itu walau sedikit.”
Ya, Koneko-chan selalu memberi teguran setiap kali Ise-kun berbuat mesum.
“…Ise-senpai, tolong mesumnya dikurangi sedikit.”
Dia sering kali mengatakan hal-hal seperti itu. Bukankah situasi saat ini sebenarnya adalah sosok Ise-kun yang diidam-idamkan oleh Koneko-chan? Entah mengapa aku sempat berpikiran seperti itu.
Namun, Koneko-chan berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
“…Kalau dia sampai tidak tertarik padaku juga… aku enggak suka.”
—Ghh. Aha. Ternyata ada perasaan gadis yang rumit di baliknya, ya.
“Kalau Buchou dan Akeno-san bagaimana? Melihat kondisi Ise-kun yang sekarang.”
Menjawab pertanyaanku, mereka berdua saling berpandangan.
“Tentu aku ingin dia punya sifat serius yang sedikit lebih banyak, dan rasanya menyenangkan juga kalau sikap keibuannya atau kesopanannya bertambah, tapi….”
“Memang benar kalau dia tetap menggemaskan seperti ini…. Tapi, rasanya ada sesuatu yang kurang….”
“Bagaimanapun juga, Ise yang memandang kami sepenuhnya sebagai wanita dengan sekuat tenaga terasa jauh lebih menarik.”
“Fufufu, betul sekali. Dengan begitu kami juga merasa usaha kami untuk mempercantik diri sebagai wanita jadi lebih berharga.”
[Kan~]
Meskipun dua orang ini tak pernah berhenti memperebutkan Ise-kun, di saat-saat seperti ini pendapat mereka bisa selaras dan sangat akur.
“Ise yang sekarang membosankan.”
“Ise-kun yang tidak mesum itu ibaratnya seperti nasi belut tanpa belut dan nasi, ya.”
Xenovia menghela napas, sementara Irina-san memberikan perumpamaan yang aneh.
“Ise-san tetaplah Ise-san. Walaupun dia akan terus seperti ini seumur hidup, aku akan tetap mengikutinya. Tapi, aku memang lebih suka Ise-san yang semula.”
Asia-san yang sangat memercayai Ise-kun juga berharap dia bisa kembali seperti semula.
Pendapat para wanita yang mencintainya telah bersatu padu. Namun, bagaimana cara mengembalikannya…. M-menurutku menangkap UFO itu adalah cara yang terbaik….
“Nah, karena pendapat semua orang sudah cocok, apa yang harus kita lakukan?” aku meminta pendapat dari yang lain.
“Tak ada pilihan lain. Aku akan pergi menangkap UFO yang menjadi dalang utamanya.”
Xenovia mengambil jaring penangkap serangga dan pedang panjang yang tergeletak di ruang klub. D-dengan perlengkapan seperti itu dia berniat menangkap UFO yang terbang di angkasa…? Yang mengerikan dari Xenovia adalah dia terlihat benar-benar bisa melakukannya.
“A-apakah makhluk luar angkasa bisa ditangkap…?”
“Jangan khawatir, Kiba. Terkadang aku berpikir, bukankah keberadaan kita ini jauh lebih luar biasa daripada makhluk luar angkasa? —Begitu.”
Xenovia mengucapkannya dengan raut wajah yang sangat serius.
K-kalau dikatakan begitu memang ada benarnya, sih… Iblis, malaikat, youkai, vampir, dan lain-lain, keberadaan kami benar-benar fantastis. Kalau memikirkan hal itu, rasanya ada alien pun bukan hal yang aneh lagi. Tapi Xenovia, aku merasa jenis keberadaan alien dan kami itu genrenya agak berbeda.
“Bagus! Gasper, ikut!”
Dipanggil oleh Xenovia, Gasper-kun terperanjat kaget hingga matanya nyaris melompat keluar. Itu pasti tawaran yang sama sekali tidak ia duga.
“K-k-k-k-k-kenapa aku harus ikut menangkap alien-san, sih-aaaaah!?”
Sebelum Gasper-kun sempat melarikan diri, Xenovia dengan sigap mengikatnya erat-erat menggunakan tali sambil berkata, “Matamu memiliki kemampuan untuk menghentikan waktu objek sasaran. Hentikan pergerakan UFO yang terbang memutar di udara itu.”
Begitu rupanya. Memang benar Gasper-kun punya kemampuan menghentikan waktu dari apa pun yang masuk dalam pandangannya. Dia berniat menggunakannya untuk menghentikan objek terbang itu. Tapi, UFO itu tampaknya sangat lincah. Apakah bisa ditangkap dengan baik…?
Sambil memanggul Gasper-kun yang sudah terikat di pundaknya, Xenovia juga memanggil Irina-san.
“Irina! Kau juga ikut! Mari kita bersama-sama menindas kaum kafir yang bernama makhluk luar angkasa itu!”
Mendengar hal itu, Irina-san mengangguk mantap. …Tunggu dulu, menindas agama atau menyebut alien sebagai kaum kafir itu….
“Ya! Benar sekali! Kita tidak boleh tunduk pada penjajah! Ini semua demi Tuhan, demi Michael-sama! Akan kubasmi alien-alien itu!”
Irina-san, bahkan sebelum berangkat kau sudah kehilangan tujuan utamamu, ya.
Dengan semangat yang membara, Xenovia dan Irina-san melesat keluar dari ruang klub sambil menyeret Gasper-kun.
Fufufu, sepertinya hubungan antarplanet tidak akan bisa terjalin dengan baik…. Aku cuma bisa tertawa getir.
Buchou mengelus kepala Ise-kun yang baru saja dibebaskan oleh Koneko-chan dengan kondisi wajah yang sudah babak belur.
“Baiklah, urusan UFO kita serahkan pada Xenovia dan yang lainnya, sedangkan kita akan mencari cara sendiri untuk mengembalikan Ise.”
Dengan demikian, kami pun memulai rencana pemulihan Ise-kun.
Operasi Pemulihan Ise-kun
Rencana α: “Full Armor Asia”
“Karena alasan itulah, Asia. Pokoknya, coba arahkan kekuatan pemulihanmu ke bagian kepala Ise.”
“Baik.”
Asia-san merespons petunjuk dari Buchou.
Operasi untuk mengembalikan Ise-kun ke keadaan semula pun dimulai. Pertama-tama, kami memutuskan untuk mencoba menyembuhkan Ise-kun menggunakan kekuatan Asia-san yang memiliki kemampuan pemulihan.
—Namun, dalam kondisi Asia-san yang mengenakan baju renang sekolah dan kaos kaki panjang.
Lebih dari itu, Asia-san memasang telinga kucing di kepalanya, serta menumbuhkan ekor di bagian pantatnya. Di lehernya bahkan terpasang kalung leher dan lonceng. Pada nametag di dadanya tertulis huruf hiragana “A-si-a”.
Katanya, penampilan ini dinamakan kondisi baju renang sekolah telinga kucing. Boleh dikatakan ini adalah perlengkapan tempur penuh. “Full Armor Asia,” puji Buchou sambil mengangguk penuh keyakinan. Jika itu Ise-kun yang seperti biasanya, dia pasti akan meneteskan air mata haru dan berteriak, “Asia! Kerja bagus!”
Namun— Ise-kun tetap tidak memberikan respons sama sekali terhadap hal-hal yang berbau mesum.
Malahan, dia tampak seolah-olah tidak mengakui keberadaan penampilan tersebut.
“Ise-san…. Tolong kembalilah seperti semula.”
Ketika Asia-san mengarahkan tangannya ke bagian kepala Ise-kun, cahaya berwarna hijau muda terpancar. Cahaya itu membungkus tubuhnya, dan secara perlahan pembengkakan pada wajahnya mulai mereda.
“Terima kasih, Asia-san. Berkatmu, rasa sakitnya sudah hilang,” ucap Ise-kun dengan wajah tersenyum.
Asia-san memasang ekspresi wajah yang tampak sedih. Karena jika dalam kondisi normal, Ise-kun pasti akan memanggilnya dengan penuh kehangatan, “Asia.” Panggilan dengan imbuhan “-san” terasa sangat menyakitkan bagi Asia-san.
Meski begitu, Asia-san tidak patah semangat, dia mengusap air matanya, mengepalkan kedua tangannya dengan mengempaskannya seperti kucing, lalu berputar sekali di tempat untuk berpose dengan imut. Lonceng yang terpasang di kalung lehernya pun berdentang cring-cring.
“Kalau soal pemulihan, serahkan saja pada Asia, nyan☆”
Sambil mengedipkan sebelah mata dan memiringkan kepalanya sampai ke leher, dia mengarahkan suara yang sangat menggemaskan itu kepada Ise-kun, tapi… jawaban yang keluar dari mulut pria itu hanyalah,
“Ya!”
Satu kata singkat itu saja.
Mendengar hal itu, seluruh tubuh Asia-san gemetar hebat lalu dia langsung melompat dan menjatuhkan diri ke dada Buchou.
“Rias-oneesama! Kalau denganku tidak mempan! Uuu, lagi pula aku memang tidak bisa menggunakan telinga kucing dan ekor dengan imut seperti Koneko-chan!”
Di samping Asia-san yang terisak menangis, Koneko-chan menggerak-gerakkan telinga kucing dan ekornya secara menggemaskan. Identitas asli Koneko-chan adalah seorang nekomata. Berbeda dengan aksesori milik Asia-san, milik Koneko-chan adalah telinga kucing dan ekor yang asli.
Buchou mengelus kepala Asia-san yang menangis sambil menenangkannya.
“Tidak, Asia. Kau sangat imut, kok. Seperti yang diharapkan dari Asia-ku. Sisanya serahkan saja kepada kami.”
Dengan demikian, rencana pertama sama sekali tidak mempan.
Operasi Pemulihan Ise-kun
Rencana β: “Senjutsu Nekomata”
“…Kalau begitu, akan kucoba melancarkan sirkulasi ki di bagian kepalanya.”
Koneko-chan menempelkan tangannya ke kepala Ise-kun lalu memejamkan mata dan berkonsentrasi. Seketika itu juga, “ki” mulai berkumpul di tangannya.
Kaum Koneko-chan bisa menggunakan teknik manipulasi energi yang disebut senjutsu. Koneko-chan mencoba menyembuhkannya dengan memanfaatkan senjutsu tersebut untuk membenahi energi ki Ise-kun yang kacau.
“Selagi Koneko menyalurkan ki-nya, mari kita perlihatkan berbagai buku mesum koleksi berharga milik Ise kepadanya.”
Buchou mengeluarkan buku-buku mesum khusus milik Ise-kun yang tersembunyi di ruang klub, lalu membukanya dan memperlihatkannya ke arahnya. …Atau lebih tepatnya, Buchou dan Akeno-san secara normal bisa menemukan buku mesum tersebut…. Rupanya mereka berdua sudah tahu tempat penyembunyiannya. Seperti yang diharapkan dari orang-orang yang dijuluki Dua Onee-sama Besar….
Ise-kun, buku-buku berharga yang kausembunyikan di sini sudah sepenuhnya dikuasai oleh mereka berdua, lho.
“Ugh! H-hentikan! A-aku tidak mau melihat buku tak senonoh seperti itu…!”
“Apa yang kaukatakan? Ini 'kan buku yang biasanya kaubaca dengan gembira dan wajah penuh kebahagiaan?”
“Ise-kun, bagimu ini adalah kitab suci, lho. Justru dengan membaca inilah Ise-kun bisa menjadi Ise-kun yang sejati. Ayo, kau harus memelototi halaman onee-san yang mengenakan kostum cosplay mesum ini.”
Buchou dan Akeno-san mengikat Ise-kun di kursi, lalu menempelkan selotip di kedua kelopak matanya agar tak bisa dipejamkan. Dalam kondisi seperti itu, mereka memaksa Ise-kun untuk melihat buku mesum secara paksa.
Membenahi kekacauan ki di kepala sembari memperlihatkan buku yang dianggap sebagai harta karunnya. Aku berpikir mungkin akan ada semacam efek sinergi yang dapat membawa pemulihan, tapi… Koneko-chan menghentikan senjutsu-nya lalu menggelengkan kepala.
“…Tak bisa. Lebih tepatnya, energi ki-nya sendiri tidak kacau. Semuanya normal. Justru ki-nya baru mulai kacau setelah diperlihatkan buku itu.”
Menerima laporan tersebut, Buchou meletakkan tangan di dagunya.
“Artinya, tak ada kelainan pada kondisi fisiknya, ya…0 Ini malah jadi makin merepotkan. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan UFO itu kepadanya….”
Benar juga, apa yang sebenarnya sudah dialami olehmu, Ise-kun….
“Ara ara. Kostum yang ini luar biasa. Kalau aku yang memakainya dan memperlihatkannya pada Ise-kun, dia pasti akan sangat senang.”
Akeno-san merona merah di pipinya sembari membaca buku mesum tersebut. Mendengar hal itu, Buchou menengok dari samping ke arah buku yang sedang dibaca Akeno-san.
“Apa kaubilang…. Heh, kalau yang ini, sih, lebih cocok dipakai olehku. Lihat, bagian yang memperlihatkan kaki ini seolah-olah dibuat khusus untukku.”
“Cara bicaramu seolah-olah kakiku kalah dibanding milik Buchou.”
“Aku punya rasa percaya diri pada lekuk kakiku. Ise juga pernah memujinya, kok. Keseimbangan indah antara paha dan betis ini katanya sangat luar biasa, lho?”
Buchou mengelus kakinya sendiri sambil memamerkannya kepada Akeno-san. Akeno-san memang memasang wajah tersenyum manis, tetapi sebelah alisnya tampak terangkat naik.
“Ara, kalau soal itu, kemarin-kemarin Ise-kun juga memuji lekuk pinggangku. Dia bilang garis lekukan dari dada hingga ke pantatku adalah bentuk yang paling ideal.”
Kali ini giliran Akeno-san yang mengelus area dari dada hingga pinggangnya secara sensual dengan tangannya. Area sekitar mata Buchou tampak berkedut-kedut.
“…Apa kau secara tidak langsung ingin bilang kalau aku lebih gemuk darimu?!”
“Itu adalah kalimatku! Ise-kun itu sangat terpesona dengan tubuhku!”
“Bukan, tapi tubuhku!”
“Rias bodoh!”
“Akeno tak tahu diri!”
…Aah, mengabaikan pengobatan Ise-kun, mereka berdua malah mulai adu mulut. Kalau sudah begini, pertengkaran mereka tidak akan berhenti untuk sementara waktu.
Koneko-chan dan aku hanya bisa menghela napas pasrah.
Operasi Pemulihan Ise-kun
Rencana γ: “Menekan Switch”
“Kita harus meminta Ise-kun menekan puting susu Rias.”
Akeno-san yang sudah menenangkan pikirannya mengajukan usulan rencana berikutnya secara terang-terangan. Tiba-tiba saja langsung menyebut “puting susu”….
“Dulu, Ise-kun yang mengamuk akibat kekuatan naga legendaris—Sekiryuutei, bisa kembali normal setelah menekan oppai Rias.”
Benar, dalam insiden beberapa waktu lalu, Ise-kun membuat kekuatan Welsh Dragon—Sekiryuutei yang bersemayam di dalam tubuhnya—mengamuk. Fenomena yang disebut Juggernaut Drive itu meratakan seluruh area di sekitarnya dan mampu membantai musuh yang sangat kuat dengan mudah.
Pada saat itu, amukannya tidak bisa berhenti, dan kami dibuat sangat kebingungan. Pada akhirnya, dengan menyentuh dada Buchou, dia bisa kembali sadar. Hal itu bisa terjadi tentu saja karena Ise-kun adalah seorang pria mesum yang dijuluki “Oppai Dragon”. Dan yang paling utama, dia sangat menghormati serta mencintai Buchou. Tindakan menyentuh payudara wanita yang dicintainya adalah kejadian paling luar biasa baginya.
“Kondisi saat ini mungkin saja bisa diselesaikan dengan menekan dada Rias lagi.”
Justru karena pernah ada kejadian seperti itulah Akeno-san menyarankan usulan kali ini.
Mendengar pendapat Akeno-san, wajah Buchou memerah padam hingga tingkat maksimal.
“P-payudaraku…. J-jadi harus dipakai untuk hal seperti ini lagi, ya…. Karena ini adalah Ise sih tidak masalah, tapi tetap saja menyelesaikannya dengan bagianku itu agak….”
Seolah ingin meyakinkan Buchou yang malu-malu, Akeno-san memegang kedua bahunya.
“Tidak, Rias. Bisa dibilang, ini hanyalah bagian dari rutinitas. Ini juga demi memberikan service kepada para pelanggan kita, lho.”
“Service katamu… Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari pelanggan itu apa, Akeno….”
Meskipun Buchou tampak kebingungan, Akeno-san membimbingnya dengan lembut. Mereka benar-benar tidak terlihat seperti dua orang yang baru saja bertengkar tadi. Justru karena pada dasarnya mereka adalah sahabat dekat, terkadang mereka bertengkar, tapi di saat-saat seperti inilah mereka bisa saling bekerja sama. …Namun, rencana oppai ini… Kalau dibilang sangat khas Ise-kun, memang benar sih.
“Pokoknya, mari kita coba dulu.”
Akeno-san menggunakan kemampuan iblisnya untuk memunculkan rel tirai. Setelah membawa Ise-kun dan Buchou ke balik tirai, Akeno-san mulai melakukan persiapan.
“Ayo, Buchou. Silakan buka pakaianmu. Ise-kun, ini adalah oppai dari Rias-buchou yang sangat kausukai, lho. Silakan lihat.”
Di balik tirai tampaknya Buchou mulai melepas pakaiannya. Yang bisa melihat dada Buchou hanyalah Ise-kun dan Akeno-san. …Lalu, Asia-san juga ikut pergi ke balik tirai.
“T-tidak mau! A-aku tidak mau melihat hal senonoh seperti itu!” Sosok Ise-kun yang terikat di kursi dan mengamuk bisa terlihat dari bayangan yang terpantul di tirai.
“…Ka-kalau ditolak begitu rasanya agak menyebalkan juga, ya. Walau harus memaksa, aku jadi makin ingin dia menekannya.”
“Nah, begitu dong, Rias! Ise-kun! Ayo, arahkan pandanganmu ke oppai Rias!”
“Tidak mau! Aku enggak mau melihat oppai!”
“Tangannya! Arahkan tangan ini ke payudara Rias! Nah, bawa jarimu ke sebelah sana!” Akeno-san memegang tangan Ise-kun dan membimbingnya ke arah payudara Buchou.
“Hentikaaaaannn! Aku enggak mau menekan oppai! Itu tidak senonoh! Mesum! Aku enggak butuh hal-hal seperti itu! Kedamaian dunia tak ada hubungannya dengan oppai!”
“Bukan begitu! Oppai Rias itu adalah oppai yang bahkan bisa menyelamatkan kedamaian Dunia Bawah, tahu! Warnanya semerah muda ini! Sangat indah! Nah, kau harus mencubitnya perlahan!”
Akeno-san bersemangat sekali. Aku sampai terkejut. Jangan-jangan, dia juga ikut menikmati bagian dari rencana ini? Rasanya hal itu sangat mungkin terjadi.
“Ise-san! Tolong tekanlah! Kurasa kalau kau menekan oppai Rias-oneesama, semuanya akan terselesaikan! Berjuanglah! Sedikit lagi kau bisa kembali seperti semula!”
Asia-san juga mengatakan hal yang luar biasa…. Aku tahu dia melakukannya dengan bersungguh-sungguh, tapi….
Namun, perlawanan Ise-kun juga sangat kuat.
“Aku tidak akan tunduk pada oppai! Aku tidak akan kalah oleh oppai!”
“Tekanlah dadaku! Ise! Itulah sosok dirimu yang sebenarnya!”
“Ayo, cubitlah oppai-nya!”
“Tolong tekan oppai-nya, Ise-san! Cukup sekali tekan!”
…P-pemandangan yang sungguh mengerikan. Aku hanya bisa memandanginya dengan mulut setengah terbuka. Oppai, oppai terus…. Entah mengapa, rasanya aku pernah mengetahui situasi yang mirip seperti ini.
“…Kapan pun itu, setiap kali Ise-senpai menyebabkan sesuatu, situasinya pasti akan menjadi seperti ini.”
Di sampingku, Koneko-chan mendesah dengan mata setengah terpejam.
Benar juga. Kapan pun itu, keadaannya pasti selalu seperti ini. Aku juga jadi rasanya ingin menangis….
Di saat aku mulai merasa masa bodoh dengan semuanya, ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
Seorang wanita muda berambut perak panjang yang mengenakan setelan jas. Dia adalah Rossweisse-san yang baru saja menjadi rekan kami belakangan ini.
Rossweisse-san masuk ke ruangan sambil meminta maaf—,
“Maaf aku terlambat ikut rapat! Rapat staf sekolah ternyata memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan— astaga! Kalian ini, sedang melakukan apa dari sebelum matahari terbenam?!”
Dia terkejut saat melihat posisi Buchou, Ise-kun, dan yang lainnya yang seperti sedang saling tekan-menekan dada.
Ya, wajar saja sih. Siapa pun yang melihat hal ini pasti akan merasa panik dan kebingungan….
Operasi Pemulihan Ise-kun
Rencana Ekstra: “Sihir Norse”
“Begitu ya, aku sudah mengerti situasinya.”
Mendengar serangkaian kejadian tersebut, Rossweisse-san mengangguk-angguk paham.
“Bukankah begini saja sudah bagus? Lagi pula, hal-hal yang berbau tak senonoh itu tidak baik. Bagaimana kalau menganggap ini sebagai takdir dan menerimanya sebagai salah satu jalan keluar?”
Itulah pendapat dari Rossweisse-san, tapi—.
“Ditolak. Pembahasan kami sejak awal sudah disepakati untuk ‘mengembalikannya seperti semula’. Tolonglah, bisakah kau membantu kami? Sebagai mantan Valkyrie yang dulunya tinggal di Valhalla, bukankah kau punya suatu cara untuk mengatasinya?”
Atas permohonan Buchou, Rossweisse-san memejamkan mata dan memiringkan kepalanya.
“Hmm. Kalau bagiku pribadi, aku menolak pergaulan lawan jenis di kalangan pelajar muda, jadi kupikir biarkan saja begini. Tapi kalau Rias-san sampai berkata seperti itu, mau tidak mau aku harus membantu. —Baiklah.”
Rossweisse-san akhirnya mau menuruti permohonan Buchou.
“Kalau begitu, mari kita bergerak dengan cepat.”
Mendekati Ise-kun, Rossweisse-san memunculkan lingkaran sihir kecil di tangannya dan tampak sedang memeriksa sesuatu.
“Coba kita lihat, kondisi fisiknya sangat baik. Selain itu, kekuatan iblis dan kekuatan naga juga normal. Kalau soal yang mirip kutukan… rasanya agak sedikit samar.”
“Agak samar itu maksudnya bagaimana?”
Atas pertanyaan Buchou, Rossweisse-san mengangguk.
“Ya, meskipun aku tak tahu pasti dengan cara seperti apa teknik itu dianjurkan, tapi penumpukan sihir yang sangat rumit dan aneh terkonsentrasi di bagian kepalanya. Mirip dengan formula sihir iblis, tapi juga terhubung dengan formula sihir malaikat jatuh. Dan mungkinkah ada sedikit campuran dari bentuk sihir Norse kami juga? Toh, aku merasa ada formula sihir yang sangat kacau dan tak beraturan yang menempel padanya.”
“Apakah bisa disembuhkan?”
“Untuk saat ini, mari kita usahakan semaksimal mungkin.”
Rossweisse-san memunculkan tas khususnya di tangannya, lalu mulai mengaduk-aduk dan mencari isi di dalamnya.
Dia mengeluarkan ekor dari makhluk yang tampak mencurigakan, dedaunan berwarna mencolok yang beracun, hingga botol berisi cairan yang terlihat sangat berbahaya dan tak terlukiskan, lalu memasukkannya ke dalam cobek untuk ditumbuk dan diaduk. Lebih dari itu, dia juga mengeluarkan labu takar dan gelas kimia, lalu mulai melakukan racikan yang mencurigakan. Benar-benar terlihat seperti eksperimen seorang ilmuwan.
Asap dengan bau menyengat yang tak tertahankan mulai memenuhi ruangan. Aku tak tahan lagi dan akhirnya membuka jendela ruang klub. …Apakah dia sedang membuat ramuan penawar sihir atau semacamnya?
Setelah sekitar sepuluh menit, cairan yang bersinar dengan tujuh warna telah selesai dibuat di dalam gelas kimia.
“Sudah selesai! Inilah ramuan penawar ilmu hitam ala mitologi Norse!”
Meskipun ramuan itu meletup-letup berbusa dan mengeluarkan asap yang sangat berbahaya… tapi pasti ada khasiatnya.
“Ayo, Hyoudou Issei-kun! Minumlah! Ini manjur, lho! Sekalian ini adalah minuman spesial yang bisa menyembuhkan kebodohan otakmu juga!”
Ketika Rossweisse-san mendekatkan gelas kimianya, Ise-kun menunjukkan perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“B-bauuuu banget! Cuma dari baunya saja rasanya aku bisa mati mendadak, tahu?!”
Ise-kun yang terikat di kursi memberontak dan mengentak-entakkan kakinya, tetapi kami bertindak tanpa sepatah kata pun untuk memeganginya.
“L-lepaskan aku! Aku bisa mati!”
“Ufufu, perlawanan yang sangat imut. Tapi percuma saja. Tidak ada yang bisa lari dari sihir Norse. Ayo, minumlah ini dan jadilah siswa teladan.”
Rossweisse-san menunjukkan senyuman yang mengerikan. Apakah cuma perasaanku saja kalau dia terlihat agak menikmati hal ini? …Apakah ini benar-benar obat yang bisa menghilangkan kutukan? Meskipun menyimpan sedikit keraguan, aku tetap membantu Ise-kun meminum cairan tersebut.
Glek-glek-glek. Ise-kun dipaksa meminumnya. Setelah meminum semuanya sampai habis, dan jeda sesaat kemudian—.
Pshuuuuuuu. Asap berwarna ungu mulai keluar dari setiap lubang yang ada di wajahnya. Ditambah lagi, warna kulit wajahnya berubah menjadi tujuh warna secara bertahap. Pada saat berikutnya—.
Agh. Wajah Ise-kun berubah menjadi warna beracun, dan sambil memiringkan lehernya ke arah yang tak wajar, dia mengembuskan ektoplasma dari mulutnya lalu pingsan.
Melihat reaksi itu, kami semua menjadi pucat pasi. …E-eh, b-baik-baik saja, 'kan…? Baru saja, rasanya arwah pentingnya seperti baru dijemput ke alam sana….
Sambil memegang gelas kimia yang sudah kosong di satu tangan, Rossweisse-san memiringkan kepalanya.
“Aneh. Padahal pikunnya Odin-sama berhasil sembuh dengan obat ini….”
I-itu bukannya karena obatnya terlalu keras sampai-sampai malah sembuh dengan cara yang ekstrem…?
Brak! Di saat kami sangat kebingungan menghadapi situasi ini, ada orang yang membuka pintu dengan keras dan masuk ke dalam ruangan.
“Buchou! Semuanya! Berhasil!”
“Berhasil! Kami berhasil!”
Xenovia dan Irina-san yang seragamnya compang-camping telah kembali.
Di tangan mereka terdapat kepingan besi bersinar perak yang tampak seperti barang rampasan perang—. M-mungkinkah….
“Kami berhasil menjatuhkan UFO-nya!”
Xenovia melaporkan kemenangan tersebut kepada kami.
Semuanya, ini adalah kejadian besar.
…Rekan-rekanku pada akhirnya bahkan telah mengalahkan utusan dari luar angkasa.
Di dunia yang serba dipaksakan ini, aku sampai kehabisan kata-kata.
—D×D—
“…I-ini benar-benar UFO, ya.”
Buchou menatap benda itu dengan terperangah.
Di luar gedung sekolah lama, sebuah benda terbang tak dikenal—UFO dengan bentuk terkenal yang disebut tipe Adamski—berdiri mengeluarkan asap.
Tampaknya Xenovia dan Irina-san dengan kenekatan mereka berhasil menemukan UFO tersebut, lalu melancarkan serangan gelombang pedang suci dan serangan cahaya malaikat di tempat. Setelah pertarungan sengit, mereka berhasil menjatuhkan UFO tersebut dan menyeretnya sampai ke sini. Hebat sekali mereka bisa membawanya tanpa ketahuan oleh orang lain…. Apakah mereka menggunakan teknologi teleportasi dari surga?
Namun, tindakan serangan tanpa ampun seperti ini bisa berkembang menjadi masalah antarplanet. Sudah pasti tidak akan bisa mengelak lagi. Hubungan diplomasi mungkin akan dimulai dengan bentuk yang paling buruk.
Sambil memikirkan kecemasan tersebut, Xenovia menemukan sesuatu yang tampak seperti pintu UFO, lalu secara paksa menghancurkannya menggunakan pedang suci hingga terpental.
“Lihatlah, Pedang Suci Durandal milikku ini bahkan efektif melawan invasi luar angkasa,” ucapnya dengan penuh percaya diri….
Tapi belum tentu mereka itu penjajah…. Yah, walau yang menyerang Ise-kun duluan memang pihak sana sih.
“Omong-omong, Gasper-kun di mana?”
Karena aku tidak melihat sosoknya, aku bertanya pada Xenovia. Harusnya tugas Gasper-kun adalah menghentikan pergerakan UFO yang terbang di udara dengan menangkapnya dalam jarak pandang….
Xenovia memejamkan mata, sementara Irina-san menutup mulut dengan tangannya sambil meneteskan air mata. Eh? Apa maksudnya ini?
“Kiba. Dia adalah pria yang baik. Dia telah bertarung dengan gagah berani sampai akhir.”
“Gasper-kun terkena tembakan beam dari UFO… Uuh!”
Di arah yang ditunjuk oleh Irina-san, ada sebuah kardus!
Karena penasaran, aku membukanya—di dalamnya ada Gasper-kun yang gosong!
“Kematian Gasper tidak akan sia-sia! Ayo, mari kita basmi para alien itu!”
Xenovia berteriak dengan penuh semangat, lalu menerobos masuk ke dalam UFO melalui pintu yang sudah hancur.
Kenapa sih dia selalu bersemangat ke arah yang salah seperti itu! Ah, Gasper-kun bergerak. Sepertinya dia masih hidup. Syukurlah.
“…Y-Yuuto-senpai… a-aku… rasanya bakal jadi benci sama sci-fi….”
“Gasper-kun, terima kasih.”
Aku menepuk bahu Gasper-kun. Kau belakangan ini selalu mengalami hal-hal seperti ini, ya.
Lain kali aku akan buatkan makan malam yang lezat untukmu. Aku meneteskan air mata melihat perjuangan kouhai-ku ini.
Beberapa menit kemudian, Xenovia menyeret sesuatu dari dalam UFO.
Di tangannya adalah—!
Melihat pemandangan yang mengejutkan itu, semua orang melongo lebar!
“…Yang ada di dalam ternyata Azazel-sensei.”
Benar, yang diseret oleh Xenovia adalah penasihat Klub Penelitian Ilmu Gaib sekaligus Gubernur Jenderal Malaikat Jatuh—Azazel-sensei.
Di kepalanya terdapat benjolan besar. Sepertinya dia pingsan, tapi tidak salah lagi itu adalah Sensei.
…Apa yang sedang Anda lakukan, sih….
“Yah, mendadak aku cuma ingin bikin UFO saja! Jadi aku coba-coba bikin dengan meniru yang ada!”
Sensei tertawa terbahak-bahak. Sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
Setelah itu, kami diberitahu kebenaran dari kejadian ini.
Sensei yang sedang menonton acara spesial UFO di rumahnya, mendadak ingin membuat UFO, lalu secara sembunyi-sembunyi membuatnya di ruang penelitian bawah tanah sekolah. Dengan mekanisme dahsyat milik malaikat jatuh, UFO itu akhirnya berhasil terbentuk. Lebih dari itu, aku malah kagum dengan kemampuan teknologi Sensei yang bisa langsung membuat UFO begitu mendadak.
Apakah hal itu tak bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih berguna…? Meskipun menyampaikan kritikan di saat seperti ini sudah terlambat, aku tetap ingin mengkritiknya. Kalau dipikir-pikir, sekitar musim panas lalu dia juga sempat membuat robot, ya. Orang yang menjadi ancaman terbesar bagi dunia ini mungkin adalah orang ini.
Setelah itu, Sensei ingin melakukan uji terbang UFO tersebut dan langsung mengaktifkannya. Tampaknya UFO itu dibuat agar bisa memasang penghalang khusus yang membuat orang biasa tak bisa melihatnya, jadi masalah di sekitar situ tidak ada halangan. Dia ini orang yang teliti di tempat-tempat yang aneh.
Merasa puas karena UFO-nya bergerak lebih baik dari perkiraan, Sensei pun muncul di hadapan Ise-kun dan yang lainnya.
“Hahaha, yah, kalau ada Ise di bawah, rasanya jadi ingin menembakkan beam, 'kan?”
Atas alasan itulah dia menyerang Ise-kun. Dan berakhirlah Ise-kun dalam kondisi kehilangan hasrat seksualnya.
Plak! Buchou memukul kepala Sensei dengan harisen (kipas kertas) secara keras. Dia lalu mendesaknya.
“Dengar ya, gara-gara kau makanya Ise jadi seperti itu, tahu? Membuat UFO sih terserah, tapi mana ada guru yang menembakkan beam ke muridnya sendiri?!”
Menanggapi pertanyaan Buchou, Sensei mengarahkan ibu jarinya ke dirinya sendiri dengan bergaya sok keren.
“Ada di sini!”
Plak! Pukulan harisen yang kedua mendarat lebih tajam daripada yang pertama.
Kepada Sensei yang sedang mengelus kepalanya yang dipukul, Buchou kembali bertanya.
“Lalu, bagaimana caranya agar hasrat seksual Ise bisa kembali seperti semula? Melihatnya dalam kondisi seperti itu membuatku merasa sedih, tahu.”
Sensei menjawab pertanyaan Buchou.
“Yah, soalnya aku cuma ingin membuat senjata yang unik, jadi aku merakit senjata beam itu dengan formula sihir yang cukup asal-asalan. Meski kau minta untuk mengembalikannya ke semula, menganalisis beam itu butuh waktu, tahu.”
Mendengar perkataan Sensei, kedutan di mata Buchou dan yang lainnya terlihat jelas.
“J-jadi, maksudmu tidak ada cara untuk mengembalikannya seperti semula untuk sementara waktu!? Bagaimana ini!? Ise yang tidak mesum itu bukanlah Ise!”
Di belakang Buchou yang sedang murka, Akeno-san tersenyum manis sembari mengalirkan aliran listrik ke sekujur tubuhnya.
“Sensei? Anda bisa menyembuhkannya, 'kan? Kalau Anda tidak bisa menyembuhkannya, aku akan memberikan sedikit kejut biri-biri, lho?”
Dihadapkan dengan dua orang yang begitu berintimidasi, Gubernur Jenderal Malaikat Jatuh yang hebat itu pun sampai melangkah mundur.
“T-tunggu. Tenanglah. S-serahkan padaku. Aku akan mengusahakannya,” kata Sensei dengan wajah yang menegang.
Di laboratorium milik Sensei yang berada di gedung sekolah lama, terdapat sebuah perangkat berbentuk kapsul yang cukup besar untuk dimasuki satu orang manusia.
“Jadi begitulah, kita akan memasukkan Ise ke dalam kapsul ini.”
Padahal Ise-kun sudah dimasukkan ke dalamnya.
‘Keluarkan akuuuu!’
Dia berteriak histeris, tapi biarlah dia bersabar sebentar.
“Lalu, apa yang akan kaulakukan?”
Atas pertanyaan Buchou, Sensei menjelaskan sambil menekan tombol mengaktifkan alat tersebut.
Gagon-gagon-gagagon.
Dengan mengeluarkan suara yang mencurigakan, alat itu pun beroperasi.
“Dulu pernah ada kejadian doppelgänger Ise, 'kan?”
Beberapa waktu lalu, akibat kegagalan eksperimen Azazel-sensei, kembaran Ise-kun—doppelgänger bermunculan dalam jumlah besar hingga membuat Akademi Kuoh jatuh ke dalam kekacauan. Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu Sensei juga yang jadi biang keroknya. Dia benar-benar orang yang tak pernah berkaca pada kesalahan….
“Data kemesuman saat itu kebetulan masih tersisa. Kita akan memproyeksikan data ini ke Ise.”
“Maksudmu—mengembalikannya seperti semula dengan data mesum yang sudah di-backup?”
Atas ucapan Buchou, Sensei mengangguk.
“Ya, sebentar lagi Ise akan kembali seperti se—”
Kash!
Kapsul itu tiba-tiba memancarkan cahaya silau—.
Dduuuaaarrrr!
Dan memicu ledakan yang sangat dahsyat!
Ledakan hebat sampai mengacak-acak isi ruangan! Meja dan peralatan eksperimen beterbangan ke mana-mana. Kami refleks bersembunyi di balik tempat perlindungan untuk selamat.
…Setelah asap dan debu mulai mereda, kami mengarahkan pandangan ke arah kapsul.
Pshuuu.
Kapsul terbuka disertai bunyi mendesis. Di sana berdiri—
“O-PA-PA, OPPAAAAAAAAAAI!”
Ise-kun yang melontarkan teriakan aneh yang tak dimengerti!
[Malah makin rusak parahhhhh!?]
Kami hanya bisa terkejut melihat hasil yang sangat disayangkan itu.
Setelah itu, Ise-kun baru bisa kembali normal pada keesokan harinya.
Katanya, setelah pulang ke rumah dan tidur semalaman sambil dipeluk di dada Buchou, kondisinya langsung sembuh di pagi hari.
Mendengar hal itu, aku hanya bisa tertawa getir.
“Apa-apaan, kalau ada buah dada Buchou ternyata dia bisa kembali normal juga, ya.”
Lagi pula, dulu dia pernah bilang begitu.
—Kiba, dengarkan aku. Oppai Buchou adalah titik awal sekaligus tempat bagiku untuk pulang.
Dia benar-benar telah kembali berkat dada Buchou. Mau tak mau aku harus mengakui kehebatannya.
Di ruang klub setelah jam sekolah. Secara kebetulan hanya ada kami berdua di sana, dan Ise-kun berkata padaku dengan wajah gembira.
“Kiba! Aku dapat majalah porno yang super hebat! Bagus banget, 'kan! Tapi, aku enggak bakal memperlihatkannya kepadamu! Mana mau aku memperlihatkan majalah porno kepada cowok ganteng!”
Ise-kun memamerkan majalah mesum itu kepadaku dengan penuh kegirangan.
Ya, inilah baru teman sejatiku. Maksudku, dia memang harus mesum.
Syukurlah kau bisa kembali seperti semula, Ise-kun.

Post a Comment