High School D×D DX.1 Life.3
Life.3 Stop! Yuuto-kun!
Namaku Gasper Vladi.
Pada hari itu, ketika aku membuka mata—tempat tersebut adalah dunia yang sedikit berbeda dari biasanya.
Hal yang kuketahui setelah menghabiskan waktu seharian di sekolah adalah jenis kelamin semua orang selain aku telah terbalik. Teman sekelas yang dulunya laki-laki menjadi perempuan. Lalu, yang dulunya perempuan menjadi laki-laki.
Di dalam dunia yang sangat misterius ini, hanya aku seorang yang—tetap menjadi laki-laki. Uuun, mengapa bisa begitu, ya? Aku kurang tahu pasti. Atau lebih tepatnya, mengapa hanya aku yang berada di dunia aneh ini, ya?
Seusai pelajaran, begitu aku mengintip ke dalam Klub Penelitian Ilmu Gaib… tempat itu dipenuhi oleh laki-laki saja!
“Oh! Gasper, akhirnya kau datang juga!”
Pemuda tampan berambut crimson. Aku bisa langsung mengenalinya!
Itu adalah Rias-buchou! Uwaa, saat menjadi laki-laki, dia jadi terlihat sekeren ini! Bertubuh tinggi jenjang dengan rambut crimson, lalu mata berwarna hijau zamrud! Ketampanan wajahnya yang terstruktur rapi sampai-sampai bisa membuat sesama laki-laki terpesona dan membuatku pun terpikat!
“Ya, Gasper. Bagaimana kalau minum teh dulu?”
Seorang onii-san tampan berambut hitam yang terlihat keren! M-mungkinkah, Akeno-san? Luar biasa! Atmosfernya sangat keren dan pembawaannya pun terlihat begitu cekatan!
“Oi, Gasper. Kau juga kalau laki-laki harusnya sedikit lebih sigap. Akan kutebas kau, berengsek.”
“Duh, Xenovia-kun. Kau sendiri yang bilang begitu juga sepanjang tahun terlihat lesu, 'kan?”
Seorang onii-san liar yang memiliki highlight warna hijau pada rambutnya, dan seorang onii-san berambut pirang yang tampak berbudi bahasa halus. M-m-mereka ini adalah… Xenovia-senpai dan Asia-senpai, kah!?
L-luar biasa! Xenovia-senpai itu, kalau jadi laki-laki ternyata bisa jadi laki-laki yang sangat berotot dan sporty seperti ini, ya! Dia duduk di sofa dengan gaya liar dan tampak lesu. Sebaliknya, Asia-senpai ketika menjadi laki-laki berubah menjadi seorang onii-san yang bergaris tubuh halus dan tampak baik hati!
“Xenovia! Asia! Manga yang waktu itu sudah kudapatkan, lho! Ini! ‘Samurai Vatican’! Oda Nobunaga yang seharusnya tewas di Honno-ji entah kenapa berpindah tempat ke Vatikan dan mengamuk hebat di sana, lho!”
Laki-laki berambut kadru ini adalah—Irina-senpai? Sifat cerianya tidak berubah sama sekali baik saat menjadi laki-laki maupun perempuan, ya.
“Ooh, kerja bagus, Irina.”
“Terima kasih, Irina-kun.”
Menilik dari interaksi mereka bertiga, apakah nama mereka tetap sama?
Kalau sudah begini, apakah Koneko-chan juga menjadi laki-laki? Koneko-chan yang bertubuh mungil itu kalau jadi laki-laki bakal seperti apa, ya? Apakah tetap menjadi anak laki-laki yang mungil dan menggemaskan? Justru karena tidak menemukannya di ruang kelas, aku jadi penasaran.
Saat aku menoleh dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang klub—suara aneh “Kriuk!”, “Kriuk!” terdengar dari suatu tempat.
Begitu aku melempar pandangan ke arah tersebut—di, di, di-di-di-di sana ada seorang pria berbadan raksasa! Dia mengeluarkan telinga dan ekor kucing! M-m-m-m-masa, tidak mungkin….
Pria bertelinga kucing berbadan kekar raksasa yang tingginya tampak mencapai dua meter sedang mengunyah sesuatu yang terlihat seperti tulang T-bone steak dengan gigi dan rahangnya yang kuat secara renyah layaknya memakan camilan….
Buchou mendekat ke arah sana dan menyapanya sambil tertawa.
“Kau makan tulang lagi, ya. Bukankah kau terlalu banyak mengonsumsi kalsium dan protein? —Daineko-dono.”
—Deg! Da-Daineko…dono!?
B-bohong, 'kan… Pria bertubuh kekar nan berotot itu… adalah Koneko-chan!? Apalagi, dia dipanggil “dono”!
…Bahkan tiap-tiap jarinya berukuran sangat tebal…. Aku, karena saking terkejutnya, jantungku mulai berdebar-debar kencang…. Teman berhargaku, Koneko-chan… ternyata berubah menjadi pria raksasa!
“Haloo.”
Yang masuk ke ruangan dengan sapaan bersemangat adalah—Ise-senpai!? Ditambah lagi dia adalah laki-laki! S-sama seperti aku, jenis kelaminnya tidak berubah dan tetap seperti biasanya! A-apa maksud dari semua ini….
“Selamat siang.”
Yang masuk bersamaan dengan Ise-senpai adalah—seorang onee-san yang sangat cantik! Si-siapa dia, ya…. Rambutnya panjang dan tampak halus lembut. Lengan dan kakinya kecil ramping—pikirku begitu, tapi payudaranya tampak cukup berisi. Dia adalah onee-san dengan atmosfer anggun yang sepertinya bakal disukai oleh Ise-senpai.
Ah, mata kami saling beradu. Onee-san yang cantik itu menyunggingkan senyuman dan menyapaku.
“Selamat siang, Gasper-kun.”
Mungkin karena di sini hanya ada laki-laki saja. Senyuman orang ini terlihat memancar kian berkilau.
“Se-se-selamat siang… Senpai…?”
Karena tidak tahu siapa dia, untuk sementara aku hanya memanggilnya dengan sebutan “Senpai” saja…. Murid kelas satu hanya ada aku dan Koneko-cha… Daineko-dono saja, jadi kurasa pemanggilan ini sudah benar….
Buchou mengonfirmasi kedatangan Ise-senpai dan Senpai gadis cantik yang misterius tersebut.
“Baiklah, karena Ise dan Yumi sudah datang, bagaimana kalau kita mulai rapatnya?”
—Deg!
Yu-Yu-Yu-Yumi? M-m-m-mungkinkah, dia adalah Yuuto-senpai!?
Ini adalah kejutan berikutnya setelah “Koneko-chan = Daineko-dono”! Yuuto-senpai, di dunia sebelah sini ternyata berubah menjadi gadis cantik yang sangat memesona seperti ini, ya!
Meskipun dipenuhi dengan serangkaian kejutan, rapat Klub Penelitian Ilmu Gaib pun dimulai.
—D×D—
“Sebelum murid-murid kelas dua pergi melakukan karyawisata, kita harus memutuskan kegiatan untuk festival sekolah terlebih dahulu.”
Buchou menyampaikan hal tersebut sembari mengalihkan pandangannya pada dokumen di tangannya.
Topik pembahasan rapat kali ini adalah mengenai festival sekolah yang akan diselenggarakan pada musim gugur. Tampaknya poros waktu di dunia ini sama dengan dunia tempat aku berasal.
Namun, daripada memikirkan hal itu, mengapa aku bisa terlempar ke dunia sebelah sini, ya? Atau mungkinkah ada dewa di suatu tempat yang beranggapan, “Dunia sebelah sini jauh lebih cocok untukmu daripada dunia sana,” lalu mengirimku ke dunia ini?
Pertanyaan terbesarku adalah mengapa hanya aku dan Ise-senpai yang jenis kelaminnya tidak mengalami perubahan. Mungkinkah Ise-senpai juga terlempar ke dunia ini persis seperti yang kualami…?
“Hei, Gasper. Jangan melamun.”
Auu… aku dimarahi oleh Buchou. Ketegasan Buchou ternyata tak ada bedanya, baik di dunia sana maupun di dunia sini.
“Sudah jelas kita harus membuat kafe maid! Kafe maid! Kita kumpulkan gadis-gadis berpayudara besar untuk membuat kafe maid oppai, Ssu! Kalau itu tidak boleh, buat acara pemotretan cosplay yang mesum saja!”
Ise-senpai mengangkat tangannya lalu menyuarakan usul tersebut dengan penuh semangat.
Wajah mesum milik Ise-senpai rupanya masih tetap bertahan di dunia ini, ya. Aku jadi tenang mendengarnya, sebab aku tak bisa membayangkan sosok Ise-senpai yang tidak mesum.
“Ooh, boleh juga. Seperti yang diharapkan dari Ise.”
Xenovia-senpai tampak menyetujuinya. Setelah menjadi laki-laki, dia ternyata menyukai hal-hal seperti itu, ya.
“Tidak boleh! Itu sangat tidak sopan!”
Asia-senpai menolaknya dengan wajah yang memerah padam. Asia-senpai memang selalu tidak pandai menghadapi pembicaraan jenis itu, baik saat menjadi laki-laki maupun perempuan.
“Namun, jika hal itu berhasil direalisasikan, tampaknya kita bisa mengharapkan angka penjualan yang cukup baik.”
Akeno-san menyampaikan pendapatnya sembari mengulas senyum yang dingin.
“Akan tetapi, anggota yang tampak cocok memakai pakaian maid di klub kita hanya Yumi-chan seorang.”
Akibat ucapan Irina-senpai tersebut, pandangan seluruh anggota klub langsung tertuju kepada Yuuto—maksudku, Yumi-senpai.
“…Anu, kalau kalian semua memintaku untuk melakukannya, aku akan menurutinya….”
Meskipun memasang raut wajah yang sedikit kebingungan, Yumi-senpai tetap menyampaikan persetujuannya. Yuuto-senpai saat masih menjadi laki-laki memang tipe orang yang jarang menolak jika dimintai bantuan, dan sifat tersebut sepertinya tidak berubah meski dia telah menjadi perempuan.
Mendengar hal itu, Ise-senpai menatap bagian dada Yumi-senpai dengan raut wajah yang mesum.
“Yang benar saja! Penampilan maid Yumi pasti akan menjadi yang terbaik…. Uhihi, aku mengajukan usul agar menggunakan kostum dengan bagian dada yang terbuka!”
“B-benarkah…? Jika Ise-kun yang memintanya, mungkin aku akan mencoba memakainya….”
Yumi-senpai membuat wajahnya memerah padam menanggapi pendapat Ise-senpai. Tampaknya dia tidak sepenuhnya keberatan dengan usul tersebut.
“Kedisiplinan di sini sudah mulai kacau. Daineko-dono, lakukan penertiban dengan tinju besi.”
Mendengar instruksi dari Buchou—Daineko-dono langsung bangkit berdiri!
“Yes, Boss.”
Kenapa harus menggunakan bahasa Inggris!? Sebelum sempat memikirkan kebingungan tersebut, Daineko-dono telah mencengkeram Ise-senpai beserta kursinya menggunakan kedua kakinya yang tebal, lalu dengan gerakan bridge, dia langsung melemparnya ke arah belakang secara mendadak—! I-ini bukankah teknik lemparan gulat profesional yang dinamakan backdrop!
BLAR! Sembari menimbulkan suara yang sangat dahsyat, bagian kepala Ise-senpai—telah dihantamkan ke permukaan lantai. Lantai tersebut sampai berlubang dan kepalanya tertancap di dalamnya! Keadaannya terlihat seolah-olah Ise-senpai tumbuh dari dalam lantai.
…Hanya dengan melihatnya saja sudah merupakan pemandangan yang sangat mengerikan.
“Fujiyama, sushi, geisha.”
Entah mengapa Daineko-dono mengucapkan bahasa Jepang yang terbata-bata sembari mengunyah tulang misterius hingga hancur layaknya memakan camilan. …Apakah dia benar-benar Koneko-chan dari dunia sebelah sini…? Aku hanya bisa menganggapnya sebagai orang yang sama sekali berbeda!
“Ise-kun!”
Yumi-senpai menarik Ise-senpai keluar dari lubang lantai, merebahkan kepala dia di atas pangkuannya, lalu mulai merawatnya. Entah mengapa, Yumi-senpai terlihat sangat mengkhawatirkan Ise-senpai.
“Buchou, tolong jangan terlalu jahat pada Ise-kun. Kalau tidak keberatan, aku akan memakai baju maid, kok.”
Sambil mengelus kepala Ise-senpai, Yumi-senpai menyampaikan hal tersebut kepada Buchou.
“Yumi, kau terlalu memanjakan Ise. …Yah, aku takkan ikut campur sampai ke urusan perasaan pribadi, sih.”
Begitu Buchou mengucapkan kata-kata yang penuh arti tersebut, wajah Yumi-senpai mendadak menjadi merah padam seketika. A-a-apakah ini berarti hal tersebut benar-benar terjadi…?
“A-aku, s-soalnya….”
Yumi-senpai membeku dengan kedua pipi yang merona merah. Seperti dugaanku, Yumi-senpai terhadap Ise-senpai ternyata—.
Sedangkan Ise-senpai sendiri masih pingsan tak sadarkan diri.
“Astaga, dari sekian banyak orang, kenapa bisa jatuh cinta pada Ise, sih. Kurasa di klub ini masih ada laki-laki yang jauh lebih baik….”
Xenovia-senpai bergumam bosan dengan mata setengah terpejam.
“Ya ya, tapi menurutku mereka berdua sangat serasi, kok.”
“Benar, benar, seperti yang dikatakan Asia. Menurutku Ise memang lebih cocok bersama gadis yang cekatan seperti Yumi-chan.”
Asia-senpai dan Irina-senpai sepertinya menyetujui hubungan mereka berdua.
“Wah, wah. Rias, anggota klub kita ternyata sangat hangat, ya.”
“Yah, karena dua budak kebanggaanku akan bersatu, aku sebagai majikan juga tidak punya keluhan apa pun.”
Akeno-san dan Buchou sepertinya berada di posisi yang mendukung dan mengawasi. Waaah, entah bagaimana, hubungan seperti itu ternyata berkembang jauh lebih pesat dibandingkan dunia di sana, ya. Entah kenapa hal ini terasa sangat menyenangkan dengan caranya sendiri.
Melihat Yumi-senpai yang dikelilingi oleh para pria tampan juga merupakan pemandangan segar yang menarik!
Buchou berdeham untuk mengembalikan arah pembicaraan ke topik semula.
“Nah, mengenai festival sekolah… usul cosplay dan kafe maid rasanya sayang jika dilewatkan. Namun, anggota perempuan di klub kita hanya Yumi seorang. Yumi memang gadis yang sangat menarik, tapi menyerahkan seluruh pekerjaan padanya seorang adalah hal yang mustahil dan tidak masuk akal. Jujur saja, kita sangat kekurangan sumber daya manusia.”
“Itu karena kau hanya mengumpulkan laki-laki saja. Apakah kau sama sekali tidak berpikir untuk menambah sedikit pesona pada budak-budakmu?”
Akeno-san melayangkan kritikan tajam kepada Buchou. Buchou mengerucutkan bibirnya dengan mata setengah terpejam lalu membalas, “Soalnya aku memimpikan budak-budak yang kuat, makanya aku cuma ingin membentuk pasukan pria yang bisa diandalkan. Kau ini selalu saja cerewet tentang hal-hal kecil.”
“Bagaimanapun juga aku ini adalah Queen-mu. Aku merasa bertindak agak cerewet seperti ini memang sudah menjadi tugasku.”
“Nguuh, kau ini selalu saja punya balasan untuk setiap perkataanku.”
…Fufufu. Hubungan mereka berdua di dunia ini terasa menarik, ya. Meskipun jenis kelaminnya berubah, hubungan antara Buchou dan Akeno-san ternyata tidak berubah sama sekali. Akeno-san akan melayangkan kritikan tajam pada tuntutan tidak masuk akal yang kadang diucapkan Buchou. Walaupun sempat berdebat ringan, pada akhirnya—.
“Yah, bagaimanapun juga itu adalah keputusanmu sebagai majikanku. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja—mengenai kafe maid dan cosplay, bagaimana kalau kita coba konsultasikan pada Sensei?”
“Seperti yang diharapkan dari Queen-ku! Aku mencintaimu, Akeno!”
Sosok Buchou yang melingkarkan lengannya di leher Akeno-san sambil tertawa gembira. Nah, pada akhirnya pendapat mereka berdua selalu sejalan.
Pada saat itulah. Ada sesuatu yang bergerak mendekat melalui koridor dengan kecepatan yang sangat dahsyat.
Bam! Sosok yang membuka pintu lebar-lebar lalu menerobos masuk adalah—seorang wanita berambut hitam yang mengenakan jas laboratorium putih!
“Pembicaraan itu! Aku ikut!”
“T-tunggu sebentar, Azazel-sensei! Tolong tunggu aku! Astaga, mengikuti orang ini saja sudah membuatku kewalahan setengah mati….”
Seorang pria berambut perak muncul dari belakang wanita tersebut sembari tersengal-sengal menahan napas.
…A-Azazel-sensei? Kalau begitu, apakah wanita itu adalah Azazel-sensei!? Jika demikian, pria berambut perak di belakangnya adalah Rossweisse-san!
“Pas sekali Anda datang. Azazel-sensei, mengenai kegiatan festival sekolah, klub kami ingin mencoba membuka kafe. Akan tetapi—”
“Kalian kekurangan anggota perempuan, bukan? Serahkan padaku! Akan kuselesaikan masalah ini dengan cepat!”
Memotong ucapan Buchou, Sensei menyampaikan deklarasi tersebut secara megah.
“Lihatlah ini!”
Begitu Sensei mengeluarkan sebuah sakelar mencurigakan dari jas laboratoriumnya lalu menekannya—.
Wuuung.
Sebagian area lantai ruang klub mulai terbuka! Sensei ini benar-benar ya, dia memasang peralatan seperti itu lagi secara sembarangan di gedung sekolah lama!
Benda yang muncul dari dalam lantai yang terbuka adalah—sebuah wadah penopang. Di atas wadah tersebut… diletakkan satu pistol sinar misterius dengan desain yang tampak seperti muncul dari manga atau anime.
Sensei mengambil senjata tersebut lalu mengarahkannya ke arah kami.
“Ini adalah pistol sinar pengubah gender! Jika terkena tembakan ini, laki-laki akan berubah menjadi perempuan, sedangkan perempuan akan berubah menjadi laki-laki! Dengan menggunakan alat ini, kita bisa mengubah para cowok yang tampak pengap di Klub Penelitian Ilmu Gaib ini menjadi gadis-gadis cantik!”
[Ooh!]
Semua orang bertepuk tangan memuji penemuan Sensei.
“Bukankah itu senapan yang sangat luar biasa! Seperti yang diharapkan dari Azazel-sensei!”
Ise-senpai, yang entah sejak kapan telah bangkit kembali, memuji Sensei dengan tatapan mata yang penuh akan harapan.
“Kalau begitu, mari kita coba… hya!”
Biiip! Sensei menembakkan sinar tersebut ke arah Akeno-san secara mendadak. Akeno-san pun diselimuti oleh cahaya. Setelah beberapa saat, bentuk tubuhnya mulai melekuk halus—dan ketika cahaya tersebut meredap, dia telah berubah menjadi wujud perempuan Akeno-san yang aku kenal! Bahkan pakaian seragamnya telah berubah dari seragam putra menjadi seragam putri! Teknologi milik malaikat jatuh benar-benar sangat mengerikan!
[Luar biasa!]
Melihat kejadian tersebut, semua orang bersorak gembira.
“A-Akeno… Ka-kau berubah menjadi wanita yang sangat cantik….”
Buchou menyampaikan hal tersebut sembari membiarkan kedua pipinya merona merah.
“B-benarkah? Anu, cermin, cermin….”
Akeno-san mengamati dirinya pada cermin yang berada di ruang klub.
“Rambut hitam ponytail, ya…. Payudaranya juga sangat luar biasa. Jika ukurannya sebesar ini, ternyata terasa cukup berat.”
Dia menyentuh oppai miliknya yang berukuran besar dengan penuh rasa ingin tahu sembari menggoyangkannya.
“Hei, Akeno. Rasanya tidak pantas kau menggunakan gaya bahasa seperti itu dengan penampilan tersebut. Mengingat kau terlihat anggun, memesona, serta memiliki wujud kecantikan khas Jepang, bagaimana kalau kau mencoba menggunakan gaya bahasa yang lebih sopan?”
Demikian saran yang disampaikan oleh Buchou.
“Begitu rupanya. Memang benar katamu. Um, aku… aku bernama Himejima Akeno…. Semuanya, mohon bimbingan dan kerja samanya. Ufufu. Apakah seperti ini gaya bahasanya?”
Uwah, sosoknya benar-benar mirip dengan Akeno-san di dunia sana! Bahkan sikap dan tutur katanya pun sangat serupa!
“Akeno-senpai, kau sungguh sangat imut!”
“Imut sekali!”
“Kecantikan khas Jepang! Ini yang terbaik!”
“Jadilah pacarku~!”
Seluruh anggota laki-laki jadi sangat bersemangat melihat perubahan Akeno-san!
“Berikutnya giliranku.”
Xenovia-senpai mengajukan diri, dan Sensei dengan sigap menembakkan sinar tersebut. Setelah cahayanya meredap, sosok yang berdiri di sana adalah Xenovia-senpai seperti biasanya.
“Ooh. Lihatlah. Oppai milikku juga tergolong lumayan besar. Ya. Karena benda itu sudah tidak ada, kondisiku rasanya kurang maksimal, tapi kalau sudah terbiasa mungkin aku justru bisa bergerak lebih lincah.”
Geh, pembicaraan yang tidak sopan dilarang, Auuu!
Berikutnya Buchou mengajukan dirinya.
“Kalau begitu, aku sebagai majikan juga akan mencoba menjadi perempuan. Sensei, tolong bantuannya!”
“Serahkan padaku, Rias!”
Biiip! Buchou pun terkena tembakan sinar dari senjata buatan Sensei—lalu berubah menjadi seorang wanita berambut crimson yang sangat anggun.
Aah, ini adalah Buchou yang aku kenal! Bagaimanapun juga, jika berbicara mengenai Rias-buchou, wujud inilah yang paling sesuai!
Buchou memegang rambutnya sembari mengamati penampilannya di depan cermin.
“Heh, jika aku menjadi perempuan ternyata akan jadi seperti ini, ya. Rambut panjang… dan payudara yang besar. Penampilan yang sepertinya akan sangat disukai oleh para pria. Hahaha, jika aku menjadi perempuan dengan wujud seperti ini, Chichi-ue dan Haha-ue mungkin akan sangat memanjakanku.”
Dia pun tertawa dengan sangat menggemaskan.
“Aku juga akan mencoba mengubah nada bicaraku menjadi lebih elegan. Ehem. Anu, selamat siang, aku adalah Rias Gremory, penerus generasi berikutnya dari keluarga Gremory. Mohon bantuannya mulai saat ini. Nah, wahai budak-budakku yang manis, mari kita menuju ke Game bersama-sama. —Bagaimana penampilanku?”
Gaya bahasa kewanitaan Buchou membuat semua orang menghela napas kagum. Hal itu dikarenakan penampilannya sungguh sangat menyatu dan sempurna.
Bahkan dari sudut pandangku, wujud tersebut sama sekali tidak kalah dibandingkan dengan wujud Buchou di dunia sana.
—Lalu, ada satu orang yang menatap wujud tersebut dengan mulut setengah terbuka karena terpesona. —Dialah Ise-senpai.
Buchou menyadari sikap Ise-senpai, lalu mendekat dan melambaikan tangan di depan matanya.
“Hei, Ise. Ada apa denganmu? Hei.”
Mendengar suara Buchou, Ise-senpai tersadar seketika lalu menggenggam kedua tangan Buchou.
“Bu-Bu-Buchouuuuuuu!”
“A-ada apa, kenapa kau berteriak kencang sekali….”
“Pe-penampilan Buchou yang sekarang! Sangat mirip dengan wujud gadis idaman yang selama ini aku impikan! T-tolong berpacaranlah denganku!”
Waaah! Itu adalah pengakuan cinta yang mendadak! Buchou pun dibuat melotot kaget oleh kejadian yang tiba-tiba ini. Tapi Ise-senpai terlihat sangat serius. Bagaimana akhir dari kejadian ini nanti…? Bahkan di dunia sana pun tak pernah ada perkembangan seperti ini!
Di saat Buchou sedang kebingungan dan Ise-senpai sedang bersemangat, sebuah bayangan mendekat—.
Tak! Sebuah batang besi yang tebal diayunkan tepat ke arah kepala Ise-senpai. Menerima pukulan itu, Ise-senpai langsung ambruk ke lantai…. K-kelihatannya sangat sakit, Auuu.
Sosok yang mengayunkan batang besi itu adalah… Yumi-senpai! Dia menggenggam batang besi tebal itu sembari air mata mengenang di kedua matanya.
“Ise-kun… Bodoh! Padahal sebelumnya kau bilang ‘Tipe idamanku adalah Yumi’! Aku tidak mau peduli lagi padamu!”
Setelah teriakan itu, dia langsung berlari keluar dari ruang klub dengan cepat!
Ise-senpai segera bangkit berdiri.
“Yu-Yu-Yumi! Tunggu dulu! Ini salah paham! Ini beda urusan! Tunggu akuuuuuuu!”
Aah, Ise-senpai langsung berlari mengejar Yumi-senpai yang baru saja pergi. Entah mengapa hubungan mereka berdua terasa jauh lebih rumit dibandingkan dunia sana.
Tiba-tiba pandangan Sensei beralih ke arahku.
“…Tunggu sebentar, Gasper. Bisa kemari sebentar?”
“? A-ada apa…?”
Sensei memberi isyarat memanggil. Semua anggota klub sedang sibuk mengagumi perubahan wujud perempuan mereka sendiri, sehingga tidak memedulikan interaksi aku dan Sensei.
Sensei membawa aku ke sudut ruang klub, lalu berbisik-bisik.
“…Apakah kau tetap menjadi laki-laki? Maksudku, waktu mereka berubah menjadi perempuan, reaksimu biasa saja. Jangan-jangan, ingatanmu juga tidak berubah?”
“…M-maksudnya bagaimana?”
Gaya bicara Sensei terasa sangat mirip dengan Sensei di dunia sana…. Mungkinkah!
“…Sensei juga punya ingatan tentang dunia sana?”
“Bukan, lebih tepatnya….”
Sensei menggaruk kepalanya sambil mengakui perbuatannya.
“Eksperimenku gagal. Jenis kelamin di dunia ini jadi terbalik gara-gara itu. Termasuk ingatan mereka semua. Bahkan jenis kelamin milikku sendiri ikut terbalik.”
“J-jadi, kejadian ini disebabkan oleh Sensei—Mmph!”
Sebelum aku selesai bicara, mulut aku sudah ditutup rapat oleh tangannya!
“…Jangan keras-keras suaramu. …Yah, memang begitu kenyataannya. Maaf ya, setiap kali ada kekacauan pasti aku pelakunya. Tapi aku juga tidak menyangka bakal jadi seperti ini.”
“Lalu, kenapa dengan Ise-senpai?”
“Entahlah. Dia 'kan Sekiryuutei, lagi pula dia Oppai Dragon, mungkin dia mengeluarkan kekuatan payudara misteriusnya lagi. Yah, drama percintaannya dengan Kiba kelihatannya menarik juga.”
Sensei tertawa terkekeh-kekeh dengan gembira. Sang pelaku utama sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan.
“Bagaimana ini? K-kita harus mengembalikannya seperti semula, 'kan…?”
“Tentu saja. Untuk sementara, karena pistol sinar ini sudah selesai, kita tinggal menembakkannya satu per satu ke mereka…. Tapi ingatan mereka tidak ikut kembali, ya.”
“Kalau begitu bukankah ini tetap saja gagal!”
“Jangan berkata begitu. Nanti kucari caranya. Oh iya, mumpung ada kesempatan bagus, bagaimana kalau kau juga coba ubah jenis kelaminmu? Cobalah jadi perempuan. kau merindukannya, 'kan?”
Bisa-bisanya dia menawarkan bujukan manis seperti itu…. Memang benar aku merindukan menjadi seorang gadis, tapi… ba-bagaimana ini. Kalau cuma sebentar saja mungkin tidak apa-apa, 'kan? A-aku juga ingin punya oppai….
Aku mengelus bagian dadaku sendiri sambil berkata, “A-aku juga ingin punya oppai.”
“Bagus. Kalau begitu pas sekali. Mari kita buat oppai rudal. Benda itu akan meluncur terbang seperti rudal.”
Di dalam benakku terbayang gambaran oppai yang meluncur terbang! Sensei memutar-mutar kenop yang ada pada senjata itu! Sepertinya dia sedang mengatur hal tersebut! Kalau begini terus, oppai-ku bakal dijadikan senjata pemusnah!
“Aku tidak butuh oppai yang mengerikan seperti ituuuuu!”
“Apa kau bilang? Hmmm, kalau begitu bagaimana dengan oppai roket yang bisa terbang sampai ke luar angkasa? Dengar ya, dada yang berukuran besar dan menonjol biasanya disebut oppai roket? Tapi bukannya sekadar nama saja, aku akan memasangkan oppai yang benar-benar bisa menembus atmosfer dan terbang ke luar bumi layaknya roket sungguhan.”
“Kurasa hal itu tak ada bedanya dengan rudal sama sekaliiiii! Aku tidak ingin menjadi vampir luar angkasaaaaa! Lagi pula aku takut akan hancur menjadi debu karena merasakan sinar matahari dari jarak yang jauh lebih dekattttt!”
Aku tidak mau! Masa vampir seperti aku harus terbang meluncur ke luar angkasa! Itu sama saja seperti sengaja pergi ke luar angkasa menggunakan roket hanya untuk melakukan bunuh diri dengan memanggang diri langsung di atas sinar matahariiiii!
“Astaga, kau benar-benar pria yang banyak mau, ya. Apa boleh buat. —Bersabarlah dengan otot dada besar. Nah, seperti Daineko di sebelah sana… jadilah Daigasper.”
“Eeeeeeeeeeeeeeeeh! A-a-a-aku bakal berubah menjadi cowok lintas-busana yang mampu mengunyah tulang steak T-bone sampai renyah!?
Tiba-tiba pandanganku beradu dengan Daineko-dono.
Kriuk, kriuk.
Dia kembali mengunyah dan menghancurkan tulang menggunakan rahang serta gigi yang sangat kuatttt! Aku tidak mauuu! Makanan pokoknya adalah daging dan tulang. A-a-aku ini begini-begini juga seorang vampir yang ingin makan sayur-sayurannnnn! Biarpun gigi dan rahang adalah nyawa bagi seorang vampir, aku tidak membutuhkan hal semacam ituuuu!
Lalu, ujung pistol sinar milik Sensei pun telah mengunci sasaran ke arahku—.
—D×D—
“—kun.”
…Uuggh. Ada suara yang memanggilku….
“Gya-kun, bangunlah.”
…Saat membuka mata… di sana berdiri seorang gadis yang sudah sangat aku kenal. Gadis bertubuh mungil—Koneko-chan!
“…K-Koneko-chaaaaaan!”
Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluknya erat-erat. …Habisnya, habisnya!
“…Tenanglah, Gya-kun, ada apa? Sepertinya kau bermimpi buruk… Kalau mau, kau bisa cerita padaku.”
Koneko-chan mengelus kepalaku untuk menenangkan. Uuugh, ini Koneko-chan yang asli. Bukan Daineko-dono.
Syukurlah. Kejadian tadi… sepertinya hanyalah mimpi yang kualami di ruang klub.
Aku pun menceritakan isi mimpi tersebut kepada Koneko-chan. Koneko-chan mendengarkannya dengan raut wajah yang penuh rasa ingin tahu.
Sepertinya, aku tiba di ruang klub setelah pulang sekolah lebih awal dari siapa pun, lalu tertidur karena lelah menunggu. Dan di sanalah aku mengalami mimpi ajaib seperti tadi. …Padahal cerita Sensei terasa sangat nyata, tetapi syukurlah hal itu cuma mimpi.
Saat aku memandang ke sekeliling, anggota klub selain aku rupanya sudah berada di ruang klub, dan masing-masing tampak sedang mengobrol dengan asyik.
Syukurlah. Semuanya kembali seperti biasa.
Pada saat itulah. Telinga aku menangkap—suara remukan sesuatu yang terdengar kriuk-kriuk. Dengan perasaan waswas, aku menolehkan wajah ke arah datangnya suara tersebut…. Di, di, di sana tampak sosok Koneko-chan yang sedang menghancurkan dan mengunyah tulang steak T-bone!
“…Belakangan ini kekuatan rahangku mulai melemah, jadi aku harus mengunyah hal seperti ini untuk melatihnya.”
Tidaaaaaaaaaaak! C-cukup, Koneko-chaaaaaan! Kau bisa berubah jadi Daineko-dono nanti!
Lebih dari itu, seseorang membuka pintu lebar-lebar dan menerobos masuk ke dalam ruangan.
“Yo, kalian semua! Aku sudah mengembangkan hal yang bagus, lho!”
Azazel-sensei! Dia benar-benar seorang pria. Sensei mengacungkan… sesuatu yang tampak seperti pistol sinar di tangannya ke arah kami seolah-olah ingin memamerkannya. I-itu 'kan….
“Lihat, ini adalah pistol yang mampu menembakkan sinar pengubah gender. Laki-laki bisa jadi perempuan, perempuan bisa jadi laki-laki.”
Mendengar hal tersebut, Ise-senpai menjadi sangat bersemangat.
“Yang benar!? Luar biasa! Seperti yang diharapkan dari Sensei! Siap, Kiba, cepat tembak dia!”
“Eh, aku?”
Yuuto-senpai menunjuk dirinya sendiri. Sensei pun mengarahkan pistol sinar tersebut ke arah Yuuto-senpai.
“Baiklah, Kiba. Cobalah sekali-kali jadi perempuan. Tenang saja, kali ini tidak akan gagal.”
……“K-kali ini”? …M-mungkinkah, hal itu berarti….
Pandangan mata aku dan Sensei saling beradu. Sensei menyunggingkan senyuman yang penuh arti padakuuuuu!
“Ya 'kan, Gasper!?”
Hiiiiiiii!
Pada hari itu, aku benar-benar tak bisa tidur sama sekali dalam berbagai arti!
Sebagai informasi tambahan.
Ise-senpai menjadi sangat bersemangat melihat Yuuto-senpai yang berubah menjadi perempuan, lalu dia dipojokkan dan diinterogasi habis-habisan oleh Buchou dan Akeno-san yang telah berubah wujud menjadi pria.

Post a Comment