High School D×D DX.1 Life.DX

Life.DX Phoenix di Pertarungan Gedung Sekolah DX?

Itu terjadi pada suatu saat setelah jam sekolah usai.

Rias dan Ravel yang muncul di ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib, sedang duduk di sofa sambil bermain catur dan mengobrol dengan asyik. Meskipun di tengah-tengah mereka sedang menikmati catur, entah sejak kapan mereka malah jadi lebih keasyikan mengobrol. Terkadang mereka tertawa, dan terkadang mereka saling berbicara dengan serius.

“—Lalu, jika di sana ada Xenovia-sama atau Rossweisse-sensei, dari arah kolam renang juga—”

Ravel yang terbawa suasana mengutarakan hal tersebut, dan,

“Itu juga menarik sih, tapi kalau aku, pertama-tama Gasper pada saat itu akan ku—”

Rias memindahkan pion catur di atas papan sambil tersenyum tipis dan berpikir. Permainan catur dengan Ravel itu sepertinya telah berubah menjadi penggunaan pion untuk bahan diskusi mereka, di mana setiap pion bergerak ke sana kemari melintasi papan tanpa memedulikan aturan pergerakan aslinya.

“Apa sih yang lagi kalian bicarakan?”

Karena merasa tertarik, aku pun tidak tahan untuk bertanya pada Rias. Rias dan Ravel saling bertatap muka, lalu secara bersamaan terkikik pelan.

“Fufu, kami cuma lagi membicarakan soal game dengan Ravel. Terlebih lagi, pertarungan masa lalu yang bikin kangen.”

Ravel juga melanjutkan.

“Ya, kami sedang mengenang kembali pertarungan antara Rias-sama dan Riser-oniisama.”

Hee, mengenang kembali pertarungan Phoenix, ya. Melihat Rias selaku pihak yang bersangkutan dan Ravel yang merupakan adik dari pihak lawan bisa membicarakannya sambil tersenyum seperti ini, aku merasa dunia benar-benar sudah jadi damai. …Padahal saat itu keadaannya cukup gila-gilaan sih.

Tapi, baru saja terdengar nama Xenovia, Rossweisse-san, dan Gya-suke disebutkan. Mereka bertiga seharusnya tidak ikut serta saat itu…. Melihat aku yang kebingungan, Ravel yang menyadarinya pun memberitahukan kelanjutan percakapan mereka.

“Tapi, ini bukan sekadar cerita kenangan biasa, lho.”

Rias juga mengangguk dan melanjutkan.

“Kami lagi mengobrol bagaimana jadinya kalau anggota grup Gremory yang sekarang yang melakukan game pada saat itu. Soalnya bagiku itu adalah pengalaman yang pahit, jadi aku secara tak sadar membicarakannya dengan penuh semangat sambil berkata, ‘Kalau sekarang pasti akan kulakukan begini!’ karena merasa gemas.”

Ya, Rias mengutarakannya dengan penuh semangat. Kekuatan tempur Gremory yang sekarang melawan Phoenix! Itu… kelihatannya seru! Jika Xenovia dan yang lainnya yang tidak ada saat itu ikut bertarung, tentu saja berbagai imajinasi akan bermunculan, dan bagi kami yang memiliki pengalaman pahit, imajinasi kami pun ikut bekerja.

Bagi Rias yang merupakan King dan saat itu berada di tengah-tengah perjodohan, itu adalah pertarungan yang mempertaruhkan jalan hidupnya sekaligus pertarungan di mana dia menelan kekalahan, jadi wajar saja jika bicaranya menjadi sangat bersemangat.

Ravel juga berbicara setelah menyesap tehnya.

“Tapi, ini menyenangkan, lho. Budak-budak Gremory yang sekarang—tentu saja Rossweisse-sama, serta Xenovia-sama dan yang lainnya yang saat itu belum ada, jika ikut bertempur, situasinya pasti akan jauh berbeda….”

“Aturan dan field-nya sendiri juga pasti akan berbeda.”

Rias juga menyatakan hal yang sama.

Memang benar, dengan adanya Xenovia dan Rossweisse-san saja situasi pertempuran pasti sudah berubah drastis, dan jika dua orang yang terkenal dengan daya hancurnya itu ikut serta, tidak heran kalau field-nya akan diberi sedikit variasi tambahan. Hmm, begitu ya. Jadi diskusinya soal itu. Ini menarik! Pantas saja Rias dan Ravel begitu bersemangat mengembangkan imajinasi mereka. Aku pun memutuskan untuk duduk di sofa dan bergabung dalam percakapan.

Di saat seperti itu, Xenovia berjalan mendekati kami.

“Ada apa, ada apa? Tadi nama aku disebut-sebut, 'kan?”

Xenovia yang tadinya sedang mengobrol soal belanjaan hari libur bersama Asia dan Irina di pojokan ruang klub. Kalau namanya disebut-sebut saat suasana sedang ramai, wajar saja jika dia penasaran.

Setelah memberitahukan sedikit isi obrolan kami, Xenovia mengangguk sekali seolah paham.

“Aah, pertarungan Phoenix yang terkenal itu, ya. Setiap kali mendengar ceritanya, aku selalu berpikir kalau aku benar-benar ingin ikut serta saat itu.”

Ya, karena Xenovia tidak ikut serta dalam game saat itu, setiap kali aku atau Rias membicarakannya, dia sering ikut turut serta sambil berkata, “Aku juga ingin ikut bertarung.”

“Kalau ada Xenovia saja situasi pertempuran pasti akan jauh berbeda,” ucapku begitu.

—Lalu, Koneko-chan dan Gasper yang tadinya sedang bermain shogi juga datang ke arah sini dan angkat bicara.

“…Ise-senpai juga belum mencapai Balance Breaker penuh. Aku dan Akeno-san juga menahan kekuatan asli kami. Ah, Gya-kun juga tidak ada.”

“T-tunggu sebentar, Koneko-chan! Kau sebut namaku cuma sekadar tambahan, 'kan!?”

Gasper tidak tahan untuk menyela temannya yang mengutarakannya seolah baru teringat.

Namun, seperti yang dikatakan Koneko-chan, aku saat itu memang belum mencapai Balance Breaker yang sempurna. Ya, walaupun aku sempat menjadi Balance Breaker selama 10 hitungan saja di ruang pesta. Selain itu, Akeno-san dan Koneko-chan juga sedang cemas dengan kekuatan mereka sendiri sehingga tak bisa mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya. …Gya-suke juga tidak ada. Ah, tapi Gasper pada masa itu tingkat kecemasan sosialnya berada di level MAX, jadi kalaupun ada, rasanya meragukan apakah dia bisa berguna…. Mungkinkah dia bisa berguna untuk pengintaian dengan berubah menjadi kelelawar?

Ekspresi Gasper seketika menjadi muram dan berkata, “…Tapi, aku juga sangat menyesalinya. Saat itu, kalau saja aku ikut bertanding, mungkin hasilnya akan berbeda….”

…Dia juga punya penyesalan yang mendalam, ya. Saat pertama kali bertemu dulu dia juga pernah mengatakan hal yang sama.

Di tengah atmosfer yang sedikit menurun ini, Rias tersenyum pahit sambil memotong percakapan.

“Sudah-sudah, kalian semua jangan memasang wajah pesimis begitu. Berkat perjuangan kalian semua di sana, aku bisa berada di sini sekarang tanpa kurang suatu apa pun…. Terima kasih banyak.”

Atas ucapan terima kasih dari Rias selaku majikan kami, semua orang pun tersenyum hangat. Rossweisse-san juga bergabung dan menambahkan.

“Tapi, aku juga selalu merasa tertarik setiap kali mendengar ceritanya. Mengenai game melawan Phoenix yang konon merupakan pertarungan takdir itu. Jika Rias-san menikah di sana, mungkin semua orang yang ada di sini tidak akan ada.”

Sambil mengangguk-angguk, Irina juga melanjutkan.

“Benar sekali. Jangan-jangan, saat aku dan Xenovia pertama kali bertemu, Rias-san sudah punya suami?”

Bisa jadi. Walaupun itu adalah hal yang sama sekali tak ingin kubayangkan, tapi seandainya Rias menjadikan Riser sebagai suaminya, kehidupan di sini pasti sudah berubah total, dan mungkin Xenovia serta Rossweisse-san tidak akan pernah menjadi budak. Kalau dipikir-pikir seperti itu, pertarungan itu memang benar-benar pertarungan takdir.

Kiba berkata sambil tersenyum pahit.

“Tapi, kalau Riser Phoenix-san yang menjadi suaminya, aku rasa dia sendiri juga akan kerepotan, lho? Setelah itu 'kan langsung ada serangan Kokabiel, perdamaian Tiga Kekuatan Besar, lalu setelahnya Golongan Maou Lama dan Loki juga bermunculan, jadi kecemasan mentalnya tidak akan pernah berhenti.”

Melihat Riser ikut serta dalam setiap pertempuran itu rasanya cukup tidak rasional  sih, tapi seperti yang dikatakan Kiba, pertempuran sengit memang terus berlanjut setelahnya. …Riser pasti bakal sering mengeluh.

Saat kami sedang membicarakan perandaian tersebut, orang itu entah sejak kapan sudah ikut duduk di kursi percakapan.

“Hmm, begitu, begitu. Tampaknya kalian semua punya penyesalan dan rasa penasaran terhadap Rating Game melawan Riser Phoenix, ya.”

Azazel-sensei mengatakannya sambil memegang dagunya! Sensei ini benar-benar selalu muncul tanpa suara seperti biasa ya… Sensei melihat ke sekeliling kami lalu berkata, “Tapi, seperti yang dikatakan Rossweisse, ini adalah topik yang sangat menarik. Saat itu aku juga belum bergabung ke sini 'kan? Aku hanya bisa mengonfirmasi pertarungan itu dari rekaman video game yang dipinjam dari keluarga Gremory dan Phoenix. …Hmm.”

Sensei mengatakannya sambil berpikir sejenak.

…Firasat buruk. Kalau Sensei mulai berpikir dalam situasi seperti ini, biasanya dia bakal memikirkan hal yang tidak-tidak lalu mengeksekusinya…. Semua orang sepertinya merasakan hal yang sama dan mulai kebingungan.

“Azazel-sensei, jangan lakukan hal yang aneh-aneh.”

Akeno-san memberikan peringatan sekadarnya kepada Sensei. Akeno-san memang tegas kepada Sensei. Saat aku mengawasi Sensei dengan penuh kewaspadaan, dia mulai mengusulkan hal ini kepada Rias.

“Bagaimana kalau begini, Rias. —Mau coba tanding ulang?”

“—! A-apa kau serius mengatakannya?”

Seperti yang diduga, Rias tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya atas ucapan Sensei! Aku juga sama! Tidak disangka dia bakal berpikiran ke arah sana!

Sensei melanjutkan dengan senyuman nakal dan menyeringai.

“Bukankah kelihatannya seru? Dulu itu adalah pertarungan yang tidak bisa diapa-apakan lagi, tapi dengan kekuatan tempur kalian yang sekarang, ceritanya pasti akan jauh berbeda, 'kan? Mengujinya lewat tanding ulang juga bisa menjadi salah satu faktor untuk mengukur pertumbuhan kalian, 'kan?”

Y-ya memang sih, kalau bertarung melawan tim Phoenix dengan kekuatan tempur yang sekarang, perkembangannya pasti akan sangat berbeda…. Tapi, tanding ulang secara mendadak begini itu terlalu melompati tahapan! Lagian, kalau Sensei sudah bicara begitu, biasanya dia bakal mewujudkannya secara nekat! Semua orang di sini juga tahu akan hal itu.

Namun, ada seseorang yang setuju dengan pendapat Sensei ini. —Xenovia.

“Aku setuju. Ayo kita lakukan tanding ulang dengan keikutsertaan aku di dalamnya.”

Dia semangat sekali. Atau lebih tepatnya, dia sudah dipenuhi dengan semangat bertempur! Sepertinya dia benar-benar gemas karena tidak bisa ikut bertarung saat itu. Namun, di sini ada pria yang secara mengejutkan ikut setuju. Itu adalah Kiba.

“Jujur saja, aku sendiri juga punya rasa ingin mencobanya. Pasti bukan cuma aku saja yang merasa gemas.”

Kiba saat itu belum menjadi pengguna pedang suci iblis, dan dia dikalahkan oleh serangan kejutan dari Queen pihak lawan. Jadi wajar saja jika dia masih menyimpan perasaan menyesal.

“…Kalau bisa dilakukan, aku juga ingin mencobanya.”

Koneko-chan juga mengacungkan tangannya. Dia juga sama seperti Kiba, dikalahkan oleh Queen milik Riser.

“A-aku juga, kali ini ingin ikut bertarung!”

Gasper mengacungkan tangannya dengan ekspresi seorang pria. Melihat ini, Akeno-san pun ikut mengangguk setuju.

“Benar juga. Aku juga tidak mau terus-terusan dikalahkan oleh Queen lawan.”

Akeno-san yang tadinya menatap Sensei dengan tatapan tajam, khusus kali ini memberikan respons positif terhadap pendapat tersebut.

“Kalau semuanya bertanding, aku juga akan ikut bertempur. Bagaimanapun juga aku ini adalah Rook.”

Bahkan Rossweisse-san pun mengutarakannya dengan wajah penasaran. Asia juga mengacungkan tangannya dengan takut-takut.

“Kalau semuanya tidak keberatan, aku juga…. Bagaimana dengan Ise-san?”

Atas panggilan Asia, pandangan semua orang tertuju padaku. …Aku….

…Meskipun tadinya aku memikirkan berbagai hal, tapi aku sendiri juga punya penyesalan soal pertarungan Phoenix, dan masih merasa gemas. Sudah berapa kali aku berpikiran seandainya saat itu aku sudah bisa Balance Breaker.

Aku pun mengepalkan tangan dan menyatakannya.

“Kalau bisa bertanding, aku juga ingin mencobanya. Meskipun aku menang lawan Riser-san saat latihan, tapi di game, aku belum menang darinya jadi rasanya masih ada yang mengganjal. —Kalau sekarang, aku akan memperlihatkan kemenangan telak atas Riser-san dari depan!”

Atas perkataanku, semua orang pun mengangguk setuju.

“—Sudah diputuskan 'kan, Rias?”

Atas pertanyaan Sensei, Rias yang tadinya mengamati situasi akhirnya menghela napas pelan.

“…Duh, kalian ini benar-benar ya…. Tapi, benar juga. Aku juga—tidak suka kalau terus-terusan kalah. Kalau bisa tanding ulang dengan kekuatan tempur yang sekarang, aku juga ingin mencobanya.”

Ekspresi Rias saat mengutarakannya—tampak membara dengan semangat bertarung yang gagah.

Menerima hal ini, Azazel-sensei pun berdiri.

“Bagus! Ravel, bisa tolong kau tanyakan pada Riser dan orangtuamu? Urusan persiapan dan semacamnya biar aku yang atur. Siapa tahu pihak sana juga bakal tertarik.”

Ravel yang sepertinya juga tertarik, menganggukkan kepalanya dengan gembira.

“Baiklah. aku akan menanyakannya pada Otou-sama, Okaa-sama, dan kedua Onii-sama. Jika semua orang di Gremory bersedia menjadi lawan latihan Riser-oniisama, bagiku itu adalah hal yang sangat menggembirakan.”

Dengan begitu, dari sebuah obrolan santai, pembicaraan soal tanding ulang ini mendadak berkembang dengan pesat!

 

Hari libur berikutnya—.

Kami berkumpul di gedung sekolah lama Akademi Kuoh—ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib. Seluruh anggota klub berkumpul lengkap kecuali Irina dan Ravel. Kenapa kami berkumpul di ruang klub pada hari libur? Itu karena ruang klub ini bukanlah ruangan yang biasanya. Ya, tempat ini adalah gedung sekolah lama di dalam ruang buatan yang disiapkan di game field.

Obrolan santai di hari itu, ditambah dengan presentasi dari Azazel-sensei dan bujukan dari Ravel setelahnya, sudah lebih dari cukup untuk memprovokasi keluarga Gremory dan Phoenix. Formula pembentukan field yang digunakan tahun lalu langsung dipakai kembali, dan ruang yang sama seperti saat itu pun direkonstruksi. Ini adalah ruang buatan untuk pertandingan yang mereplikasi Akademi Kuoh secara utuh.

Di area ini, saat ini terdapat budak-budak Gremory yang sekarang dan budak-budak Phoenix yang sekarang. Di tempat yang berbeda, pihak keluarga Gremory dan Phoenix dikabarkan sedang menonton. Ya, berbeda dari sebelumnya, mungkin karena tidak ada hal penting seperti perjodohan yang dipertaruhkan, pertandingan ini dibentuk dengan aspek sebagai pengisi waktu luang para bangsawan.

Terlebih lagi, tempat siaga kedua belah pihak juga sama, pihak kami berada di ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib gedung sekolah lama, sedangkan pihak lawan berada di ruang OSIS gedung sekolah baru. Benar-benar persis seperti saat itu. Yang berbeda hanyalah keikutsertaan kekuatan tempur baru yaitu Xenovia, Gasper, dan Rossweisse-san. Di pihak lawan sepertinya Ravel tidak ikut bertanding, sih….

Pertandingan akan dimulai dalam waktu 30 menit. Semua orang sedang melakukan persiapan masing-masing menjelang game. Aku memakai seragam seperti biasa, dan karena sisanya tinggal mengeluarkan gauntlet atau mengubahnya menjadi armor, aku menyelesaikan persiapan dengan cepat lalu duduk di sofa.

Tiba-tiba aku bertanya pada Rias.

“Jadi, kau melihat situasi pertempuran ini seperti apa, Rias? Secara spesifiknya, perbedaan kekuatan tempur kita dengan pihak lawan?”

Rias melihat ke arah peta field yang terbentang di atas meja—denah Akademi Kuoh sambil berkata, “Begitulah. Jujur saja, dibandingkan saat kita bertarung tahun lalu, level kita sudah meningkat sangat jauh. Adanya Xenovia dan Rossweisse sebagai budak baru, Akeno, Koneko, dan Gasper yang telah membangkitkan kekuatan asli mereka, lalu Ise dan Yuuto yang telah mencapai Balance Breaker, serta aku dan Asia yang juga sudah jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Bukan cuma kekuatan tempur individu saja, tapi secara kekuatan menyeluruh pun kalau kita beradu dari depan pasti tidak akan kalah.”

…Yah, memang begitu sih. Kami sudah mengalahkan tim Sairaorg-san yang merupakan nomor satu di kalangan generasi muda, dan bahkan diikutsertakan oleh kalangan profesional Rating Game sebagai “kekuatan tempur yang setara dengan tim-tim peringkat top”. Dibandingkan dengan tim Riser yang termasuk generasi muda di dunia profesional, dari segi kekuatan tempur, kami bisa mendominasi jika bertanding sekarang. Bagaimanapun juga, dalam pertarungan saat itu pun kami berhasil meraih hasil yang bagus, ditambah dengan kami yang terus melakukan power up serta tiga orang kekuatan tempur baru, pihak lawan pun pasti tidak akan memiliki keleluasaan seperti dulu lagi.

Rias sendiri menyadari hal itu, namun sepertinya ada hal yang dia khawatirkan.

“Tapi, aku mendengar kalau budak-budak pihak lawan juga melakukan latihan belakangan ini. Riser sendiri bahkan sampai menyediakan fasilitas latihan di kastelnya dan mulai serius melatih dirinya sendiri….”

…Cerita itu sudah sampai ke telingaku. Riser dikabarkan mulai meniru kami, tim Sitri, dan tim Bael untuk mencoba melakukan power up pada budak-budaknya. Kenyataan bahwa Riser sendiri melatih dirinya juga secara tidak langsung sudah aku pahami.

Soalnya, sesekali dia menghubungi aku lewat lingkaran sihir komunikasi, dan setiap kali ada sesuatu, Riser bakal:

“Dengar, Hyoudou Issei. Belakangan ini otot lenganku sudah sepadat ini, lho. Bukankah bangsawan yang gagah itu punya daya tarik tersendiri?”

Dia memamerkan otot bisepsnya seperti itu…. Entah demi menjaga gengsi bangsawan atau karena harga dirinya, dia tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku paham kalau dia mulai berlatih di belakang layar. …Atau lebih tepatnya, Riser yang suka menghubungiku untuk hal-hal kecil itu terkadang bikin repot juga. Sepertinya dia tidak punya teman baik di generasi yang sama, yang lebih tua, maupun yang lebih muda, jadi aku adalah satu-satunya keberadaan teman bicara sesama pria baginya. Waktu game ini diputuskan juga dia mengontak aku sambil berteriak, “Apa-apaan ini, jelaskan padaku!”….

Sambil mengenang hal itu dengan jengkel, Rias melanjutkan pembicaraannya padaku.

“Selain itu, penasihat pihak lawan adalah Ravel. Jika anak itu yang tahu segala detail tentang kita berada di sampingnya, mereka mungkin akan menyerang dengan taktik yang tidak terduga. Sangat mungkin bagi mereka untuk menjebak kita yang tidak terbiasa dengan taktikal.”

Iya benar, seperti yang dikatakan Rias, kali ini Ravel menjadi penasihat pihak lawan. Posisi yang memberikan saran kepada Riser dan timnya sebelum game dimulai. Karena ini bukan pertandingan resmi melainkan pertandingan persahabatan antarkedua keluarga, aturan di area tersebut cukup fleksibel. Hal itu juga didasari oleh Rias dan kami yang mengizinkannya. Sebenarnya semua orang dalam hati merasa penasaran dan tidak sabar melihat saran apa yang akan diberikan Ravel.

Kiba yang sudah selesai bersiap-siap juga ikut dalam percakapan.

“Lalu, mengenai bantuan untuk posisi Bishop pihak lawan, selain fakta bahwa dia adalah seorang wanita, identitasnya tidak terungkap sampai akhir.”

Seperti yang dikatakan Kiba, karena Ravel tidak ada di pihak lawan, posisi Bishop tersisa satu slot kosong. Karena rasanya kurang pas kalau bertanding dalam kondisi begitu, Ravel secara mendadak memanggil seorang bantuan untuk menggantikannya khusus kali ini. Identitas bantuan tersebut sampai sekarang belum diketahui selain fakta bahwa dia adalah seorang wanita.

Xenovia yang memakai pakaian tempur biasanya menepuk dadanya dengan tangan sambil berkata dengan penuh percaya diri.

“Tidak masalah. Saat itu aku tidak ada. Tapi sekarang aku ada. Itu saja sudah cukup membuat perbedaan.”

Yah benar juga. Saat itu kami memang kekurangan orang. Sekarang semua bidak sudah berkumpul lengkap jadi kami bisa mengeluarkan kemampuan terbaik kami.

—Tiba-tiba, suara pengumuman dari langit terdengar.

‘Semuanya, saya Grayfia, maid keluarga Gremory yang kali ini bertindak sebagai arbiter untuk Rating Game antara keluarga Gremory dan keluarga Phoenix.’

Ooh, pengumuman dari Grayfia-san! Sungguh nostalgia!

‘Dikarenakan kali ini dibentuk sebagai pertandingan persahabatan antar-kedua keluarga, aturannya pun mengikuti hal tersebut dan berbeda dari aturan resmi biasanya. —Aturan yang diterapkan adalah aturan yang sepenuhnya sama persis dengan pertarungan kedua keluarga yang dilakukan sebelumnya.’

Mendengar ini aku sedikit terkejut.

“Aah, aturannya benar-benar sama persis. Kukira mereka bakal memberi batasan ke pihak kita.”

Karena daya hancur kami sudah menjadi luar biasa sengit, aku tadinya sudah bersiap kalau-kalau akan ada batasan aturan agar tidak menghancurkan field. Ternyata tidak ada, ya.

Atas hal ini Rias tersenyum tipis.

“Sepertinya merekonstruksi masa itu adalah salah satu tujuannya. Otou-sama dan Phoenix-ojisama yang menonton ini pasti menyetujuinya dengan antusias.”

Sebagai tambahan Rias mengatakan bahwa field ini sendiri telah diperkuat dibandingkan saat itu, jadi strukturnya sudah diubah agar tidak mudah hancur hanya dengan sedikit amukan dari kami.

“Kalau begitu, jumlah dan hak kepemilikan Air Mata Phoenix juga tetap sama!”

Atas ucapan aku Rias mengangguk, “Begitulah.” Berarti kita tidak dapat air mata lagi ya.

“…Di pihak kita ada Asia-senpai. Kekuatan penyembuhannya juga sudah meningkat dibandingkan saat itu, jadi tidak ada masalah.”

Atas perkataan Koneko-chan, Asia juga menyetujuinya.

“Ya! Serahkan urusan penyembuhan padaku!”

Yah, kalau ada Asia masalah terburuk harusnya bisa dihindari sih. Lagipula ini cuma pertandingan persahabatan, jadi tidak perlu seserius waktu itu….

[……]

Semua orang dipenuhi dengan semangat. Kelihatannya akan jadi seru. Aku juga mau mencoba semua hal yang tidak bisa aku lakukan waktu itu!

Saat memasang transceiver di telinga, pengumuman dari Grayfia-san kembali terdengar.

‘Waktu mulai telah tiba. Perlu diingat bahwa batas waktunya adalah 24 jam. Kalau begitu, game dimulai.’

Suara bel sekolah pun bergema. Di tengah atmosfer yang membawa kenangan ini, game pun dimulai!

—D×D—

Berlari keluar dari gedung sekolah lama, aku dan teman-teman berpacu menuju lokasi tujuan. Lokasi tujuannya adalah—gimnasium! Ya, taktiknya persis seperti saat itu. Pertama-tama kami mengincar gimnasium di tengah! Ini juga merupakan tantangan dari Rias untuk Riser. Sengaja menyerang dengan cara yang sama seperti waktu itu!

Namun, yang berbeda dari masa itu adalah, yang mengincar gimnasium bukan cuma aku dan Koneko-chan saja, tapi Xenovia juga ikut. Ini saja sudah membuat perbedaan yang luar biasa.

Sampai di gimnasium, kami masuk lewat pintu belakang seperti saat itu. Begitu masuk, di lapangan gimnasium ada empat orang wanita. Rook bergaun cheongsam—Xuelan-san, gadis kecil pemegang tongkat Pawn—Mira, serta si kembar pemegang gergaji mesin Pawn—Ill dan Nel!

…Tidak disangka, sampai di bagian ini pun persis sama seperti waktu itu. Riser ternyata cukup bersemangat juga, ya!

Begitu melihat kami, Xuelan-san sang Rook bergaun cheongsam tersenyum sinis.

“Seperti yang diduga, kalian datang juga.”

Sambil mendarat di lapangan, aku berkata, “…Ini bikin kangen, ya.”

“Ya, yah, bukankah ini bagus? Untuk ukuran hiburan seperti ini.”

Pihak lawan juga menaikkan bahunya, seolah tidak terlalu keberatan dengan situasi ini. Xuelan-san memasang kuda-kuda!

“Saat itu pertarungan kita belum selesai, tapi kali ini mari kita selesaikan dengan benar.”

Koneko-chan dalam mode nekomata memancarkan touki dari tubuhnya, maju melangkah satu langkah lalu berkata, “Dengan senang hati. Aku juga sudah jadi lebih kuat dibandingkan saat itu.”

Begitu mengatakannya, keduanya langsung memulai pertarungan seni bela diri! Serangan dari Koneko-chan yang menyelimuti diri dengan touki terasa tajam, tapi Xuelan-san pihak lawan juga melepaskan pukulan dan tendangan yang makin terasah dibandingkan saat itu, sehingga pertarungan berjalan cukup seimbang!

Di samping mereka, si kembar tampak bersenang-senang sambil membunyikan suara berbahaya dari gergaji mesin mereka.

“Kami akan memotong-motong kalian~♪”

“Potong-potong-potong-potong-potong~♪”

Frasa yang bikin kangen! Dulu aku sempat dibuat merinding oleh senyuman itu! Mereka mengarahkan gergaji mesin ke arah sini.

“Sudah lama tidak bertemu ya, Naga Mesum!”

“Kami tidak akan biarkan baju kami dipotong-potong lagi seperti waktu itu!”

Itu adalah momen saat Dress Break pertama kali diterjunkan dalam pertempuran nyata. Wah, itu sangat merangsang dan inovatif, sekaligus menjadi momen penting bagiku untuk menyadari jalan hidupku sendiri!

Nah, saat aku memasang kuda-kuda untuk melucuti pakaian mereka sekali lagi, yang berdiri di depan mereka adalah—Xenovia.

“—Hoh, memotong-motong, ya. Itu sangat menarik.”

Menggunakan Durandal dan Excalibur, dia menghadapi si kembar Pawn. Si kembar juga terkejut dengan kemunculan Xenovia.

“Ah! Onee-san ahli pedang yang saat itu tidak ada!”

“Apakah kau mau jadi lawan kami!?”

“Ya, kali ini aku juga ikut menyerang gimnasium. Kalau begitu, majulah. Akan kubuat kalian menjadi karat bagi Durandal dan Excalibur.”

Xenovia dan si kembar pemegang gergaji mesin mulai bertarung adu tebas! Menggunakan dua pedang suci untuk menahan gergaji mesin si kembar, Xenovia menepis balik mereka sekaligus dengan raut wajah penuh kesenangan!

Kalau begini kejadiannya, tersisa….

“Sudah lama tidak bertemu.”

Gadis pemegang tongkat—Pawn Mira berjalan ke depanku.

“Kau… Mira, 'kan?”

Atas perkataanku, dia mengangguk.

“Ya, sepertinya kau sudah menjadi hebat.”

Mira memasang kuda-kuda dengan tongkatnya. Pemandangan saat itu mendadak terbayang kembali. Saat Riser pertama kali muncul di ruang klub, dia adalah orang yang melemparku yang nekat maju bertindak ceroboh. Mira yang sama kini berdiri di depanku untuk ketiga kalinya. Rasa harunya benar-benar tidak main-main.

“Ya, aku juga sudah jadi kuat. Aku bukan lagi aku yang dulu dilempar olehmu!”

Sambil berteriak begitu, aku meningkatkan aura seketika lalu mengenakan armor!

[Welsh Dragon Balance Breaker!!!!!!!]

—Boosted Gear Scale-mail yang saat itu tak bisa kukenakan! Kalau sekarang, aku bisa bertarung dalam wujud ini! Aku langsung mendekat secara terang-terangan dari depan dalam sekejap. Dia sempat melompat mundur untuk menghindari serangan aku yang terbang dengan kecepatan tinggi, tapi—aku sudah berputar ke belakangnya dan melepaskan Dragon Shot!

Mira lenyap ke dalam aura Dragon Shot tanpa bisa berbuat apa-apa! Sekalian pakaiannya ikut terbawa angin akibat dampak dari peluru sihir… aku merasa bersalah tapi di saat yang sama ingin mengucapkan terima kasih! Sungguh pemandangan yang memanjakan mata!

“…Kuh, seperti yang diduga… …N-nanti….”

Saat dia lenyap ke dalam cahaya gugur, pipinya memerah sambil membocorkan kata-kata ini.

“Tolong berikan tanda tangan…. Sebenarnya aku penggemarmu!”

—! Yang benar saja!? Mira-san, penggemarku!? Mengejutkan sekali!

‘Satu Pawn milik Riser-sama, gugur.’

Pengumuman dari Grayfia-san terdengar, dan Mira-san pun dinyatakan gugur. Dia yang dulu membuatku kewalahan… —bisa kukalahkan hanya dengan satu serangan. Aku benar-benar merasakan kalau aku sudah jadi makin kuat.

Saat menoleh ke belakang, Koneko-chan dan Xenovia juga sudah menentukan kemenangan mereka. Rook Xuelan-san dan Pawn si kembar gergaji mesin lenyap ke dalam cahaya gugur—

‘Satu Rook dan dua Pawn milik Riser-sama, gugur.’

Pertarungan di gimnasium berakhir dengan kemenangan telak bagi kami—.

 

Sambil tetap waspada, kami keluar dari gimnasium.

…Soalnya, kalau alurnya persis seperti waktu itu, di sini Akeno-san akan melepaskan serangan petir ke gimnasium, atau Queen pihak lawan akan meledakkan Koneko-chan dengan serangan kejutan!

Koneko-chan sendiri juga menegakkan telinga kucingnya tinggi-tinggi sambil mewaspadai sekitar agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Namun, sosok Queen yang bisa meledakkan itu tetap tidak kelihatan….

“Akeno-san menyerang gimnasium dengan petir! …berarti kali ini tidak ada, ya.”

Sama seperti Koneko-chan, saat aku mengawasi sekitar, komunikasi dari Rias terdengar.

‘Menggunakan cara yang sama persis sampai sejauh itu tidak ada gunanya kan. Lagi pula—’

Aku mendadak tersadar. Saat mengarahkan pandangan ke satu titik di udara, di sana tertangkap sosok dua orang yang sedang melayang di udara.

‘Sepertinya ada hal yang ingin diselesaikan antar-Queen.’

Rias berkata begitu. …Yang terbang di udara adalah Akeno-san dan Queen milik Riser—Yubelluna-san! Akeno-san tersenyum manis sambil berkata, “Ara ara, sudah lama tidak bertemu ya. —’Bomb Queen’-san?”

“Ya, lama tak bertemu. Miko Pe… tidak, sekarang ‘Miko Halilintar Suci’, ya.”

Keduanya memancarkan aura dengan tekanan yang luar biasa. Yah, memang ada keterikatan takdir di antara mereka. Akeno-san yang sempat menyudutkannya tapi malah kalah karena lawan memakai Air Mata  Phoenix. Yubelluna-san yang sempat disudutkan oleh Akeno-san yang bahkan bukan seorang profesional. Wajar saja kalau keduanya sama-sama memiliki pemikiran tersendiri.

Akeno-san menumbuhkan sayap malaikat jatuh dari punggungnya, lalu mengalirkan halilintar yang menyambar-nyambar di tangannya.

“Kali ini aku akan menang secara adil dan jujur dari depan. Tentu saja, kau boleh menggunakan Air Mata jika berkenan, lho?”

Atas kata-kata menantang dari Akeno-san, Yubelluna-san juga memamerkan senyuman percaya diri.

“Fufu, aku juga sudah mengasah kekuatan iblis dan sihirku sejak saat itu. —Aku tidak akan kalah, lho?”

Begitu mengatakannya, keduanya langsung melepaskan adu pancaran sihir yang luar biasa di udara! Sinar halilintar bergema sambil memancarkan cahayanya, dan sihir ledakan pun meledak secara dahsyat tidak mau kalah!

Di saat yang sama, suara ledakan dan embusan angin kencang terjadi dari arah belakang! Saat menoleh, asap ledakan membumbung tinggi dari arah gedung sekolah lama.

“Woah! Di sana ada apa?”

Saat aku berteriak begitu, komunikasi Rias terdengar.

‘Rossweisse dan Gasper baru saja mengalahkan tiga Pawn milik Riser yang mencoba mendekat. Dulu itu adalah tugas Yuuto, tapi kali ini aku menyerahkannya pada jaring sihir yang dipasang Rossweisse dan kekuatan Gasper.’

—Lalu, pengumuman dari Grayfia-san juga terdengar.

‘Tiga Pawn milik Riser-sama, gugur.’

Aah, dulu ada kejadian seperti itu juga. Riser sampai mereplikasi sejauh itu. Tapi di pihak kami sengaja menempatkan Rossweisse-san. Yah, bagi tiga Pawn wanita yang baru saja diumumkan yaitu Shuriya, Marion, dan Bülent, menghadapi sihir pertahanan Rossweisse-san dan monster kegelapan Gasper pasti sangat berat. Belakangan ini Rossweisse-san memang memperkuat sihir pertahanan dan formula penghalang, sedangkan Gasper melatih pertarungan jarak dekatnya.

…Sekadar informasi, alasan kenapa aku bisa menghafal semua nama budak-budak lawan bukanlah karena tanding ulang ini sudah diputuskan atau karena merasa gemas dengan pertempuran saat itu, melainkan karena nama-nama budak-budak tersebut sering sebutkan oleh Riser dalam komunikasi rutinnya, sehingga aku tanpa sadar jadi hafal.

…Sialan! Si Riser itu, sampai urusan merepotkan soal budak-budak wanitanya saja diikutsertakan dalam curhatannya! Walaupun iri, tapi itu sungguh tidak bisa dibiarkan! Tidak dengar, itu bisa jadi referensi! Membentuk harem itu ternyata memang banyak membawa kesusahan bagi pihak pria, aku jadi paham dari cerita Riser!

…Tapi, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.

“Kalau begitu, Kiba itu ada di…?”

Saat aku memanggil nama kawan seperjuanganku,

“Yo, Ise-kun.”

Sosok Kiba mendadak muncul dari samping.

“Apaan, kau sudah datang.”

“Begitulah. Fufufu, kali ini Koneko-chan aman, dan Xenovia juga ada. Sangat menentramkan, ya.”

Seperti yang dikatakan Kiba. Sampai sejauh ini tak ada seorang pun dari pihak kami telah gugur! Ini sangat bagus! Baik secara situasi pertempuran maupun rasa percaya diri! Kami berhasil menunjukkan diri kami yang sudah jauh berbeda dibandingkan masa itu!

Xenovia juga tampak bersemangat tinggi.

“Ya, pertunjukan utamanya mulai dari sini. Sebentar lagi Rossweisse juga akan bergabung, dan Akeno-zenfukubuchou juga pasti akan menang atas Bomb Queen itu!”

Menyerahkan area sekitar gimnasium kepada Akeno-san yang sedang melakukan pertempuran sihir di udara, kami pun mengincar lapangan olahraga di bagian belakang gedung sekolah baru—.

 

Kami tiba di lapangan bisbol—aku, Kiba, Koneko-chan, dan Xenovia. Sosok yang sudah bersiap menanti kami di sana adalah seorang wanita berzirah, sang Knight.

Dia berdiri di tengah-tengah lapangan, seolah memang sudah menunggu kedatangan kami. Aku ingat betul tentang dirinya. Knight milik Phoenix—Carlamine-san.

Kiba yang pernah bertukar pukulan dengannya tersenyum melihat keberanian Carlamine-san yang tidak berubah. Waktu itu juga dia menantang dari tengah lapangan dan Kiba yang maju melayaninya.

Sambil melangkah maju, Kiba berkata, “Hai, Carlamine.”

“Ah, aku ingin bertemu denganmu, Kiba Yuuto.”

Sebagai sesama pengguna pedang yang memiliki pemikiran masing-masing, keduanya tampak senang bisa reuni kembali.

Tiba-tiba karena penasaran, aku bertanya pada Kiba.

“Omong-omong, waktu itu aku tidak sempat bertanya, tapi siapa pengguna pedang suci yang pernah dilihat oleh Carlamine-san itu?”

Yang aku ingat dari memoriku adalah saat Kiba dan Carlamine-san saling beradu pedang. Pihak lawan tiba-tiba mulai bercerita tentang pertemuannya dengan pengguna pedang suci. Dia bilang kalau Kiba bisa mengalahkannya, dia akan memberi tahunya. Kiba yang saat itu masih menyimpan kebencian mendalam pada pedang suci langsung bertarung seperti orang yang berbeda.

Berbeda 180 derajat, Kiba yang kini kebenciannya sudah sirna tampak teringat topik masa itu sambil tersenyum pahit.

“Ah-, itu sih—”

Memotong perkataan Kiba yang baru mau bicara, Carlamine-san tersenyum penuh percaya diri.

“Fufufu, sebentar lagi juga kau akan tahu. Sebenarnya, kali ini ada Sensei yang menjadi penolong yang sangat diandalkan datang ke pihak kami! Dia pasti bisa menutupi celah yang ditinggalkan Ravel-sama! Sensei! Silakan!”

Didesak seperti itu, sosok yang terbang mendarat dari udara adalah—! Seorang prajurit wanita berambut kadru bergaya twintail—.

“Ta-da! Penolongnya adalah aku!”

“I-I-IRINAAA—!?”

Aku berteriak dengan suara konyol! Ya jelaslah! Irina yang memakai pakaian tempur mendadak muncul di depan mata!

Melihat adegan kemunculan ini, Xenovia pun ikut terperangah.

“Jujur saja, ini membuatku kaget. Pantas saja dari tadi tidak kelihatan….”

“Tapi kalau penolong yang disiapkan Ravel-san adalah seorang wanita… begitu rupanya, masuk akal juga.”

Kiba mengangguk paham. Begitu ya, penolong yang dipanggil Ravel itu Irina! Tadi pagi Irina sempat bilang, “Karena ada urusan, mungkin aku tidak bisa mengantar kalian.” …Maksudnya urusan ini, ya!

Carlamine-san menyambut Irina dan berkata, “Ini adalah personel Bishop darurat kami, Irina-dono. Seorang malaikat! Dia juga merupakan pengguna pedang suci yang pernah kutemui di masa lalu.”

Irina berpose peace.

“Ufufu, benar sekali. Tidak menyangka kalau pendekar pedang wanita iblis yang kutemui di suatu negara sekitar dua tahun lalu ternyata adalah budak dari Phoenix. Bukankah ini takdir yang luar biasa?”

Ah, itu benar-benar takdir yang mengejutkan. Mengetahui punchline dari kebenaran yang tertunda setengah tahun lebih ternyata begini!

“…Oi oi oi oi.”

Saat aku memegangi kepala, Irina memberikan kedipan mata.

“Fufufu, aku ingin mencoba ikut Rating Game iblis! Khusus kali ini aku mengisi slot Bishop dan akan berjuang keras melawan Darling dan Xenovia!”

Aah, padahal ngomong begitu tapi dia malah mengeluarkan pedang suci Hauteclere! Dia penuh semangat membara!

“…B-Buchou, bukan, Rias. Ba-bagaimana bisa begini?”

Mungkin karena konten game-nya terlalu mereplikasi masa lalu, aku sampai tidak sengaja memanggil Rias dengan sebutan “Buchou” yang sudah lama tidak aku gunakan karena saking paniknya.

Namun, dia malah tertawa dari saluran komunikasi.

‘Fufufu, bukankah ini menarik? Hal seperti ini mungkin terjadi justru karena ini adalah pertandingan persahabatan.’

Irina yang sangat bersemangat memegang pedangnya dan bertanya, “Apakah Xenovia lawanku, atau Kiba-kun? Ise-kun atau Koneko-chan juga boleh!”

Xenovia melangkah satu langkah ke depan.

“Menarik! Bagaimana kalau aku yang maju! Bertarung dengan Irina di sini rasanya cukup puitis. Lagi pula, memperagakan pertarungan dengan Irina yang tidak sempat terwujud karena perdamaian di tempat ini bukanlah ide yang buruk.”

Xenovia mengatakan hal seperti itu. Benar juga, setelah pertempuran Kokabiel, jika tidak ada perdamaian antara Tiga Kekuatan Besar, kami mungkin akan bertemu kembali sebagai musuh. Jika itu terjadi, adegan seperti ini memang sangat mungkin terwujud.

Irina yang mendengar itu juga mengumbar senyuman polos.

“Bagus, bagus! Sekali-kali mari kita bertanding, Xenovia!”

Pada akhirnya Xenovia dan Irina malah mulai bertarung sebagai sesama prajurit wanita! Ini sudah melampaui perkembangan pertandingan di masa lalu. Yah, hal-hal di luar dugaan memang bisa saja terjadi. Merekapitulasi masa lalu sambil mengeluarkan taktik kejutan seperti ini pasti adalah pengaruh Ravel yang memberikan dukungan di pihak lawan.

Di samping mereka, Kiba dan Carlamine-san juga mulai bertukar tebasan!

“Itukah pedang suci iblis yang dirumorkan itu! Meski waktu itu aku tidak sempat merasakannya…!”

“Akan kubuat kau merasakannya sepuas yang kau mau!”

Keduanya tampak bersenang-senang memperagakan adu pedang! Carlamine-san memegang pedang iblis yang berbeda dari sebelumnya di kedua tangannya untuk menangkis pedang suci iblis milik Kiba.

Nah, saat aku berpikir bagaimana dengan aku dan Koneko-chan—,

“Nyan-nyan.”

“Nyan-nyan-nyan.”

Dua orang Pawn bertelinga kucing muncul! Nii dan Lii. Kalau tidak salah mereka nekomata. Tapi katanya beda ras dengan Koneko-chan….

“Waktu itu kami memang dikalahkan,”

“Tapi kali ini kami tidak akan kalah!”

Keduanya melotot ke arahku. Kalau teringat kembali, waktu itu mereka memang aku dan Kiba habisi sekaligus dengan kombinasi tim, ya.

Lalu, di hadapan dua orang Pawn bertelinga kucing itu, berdirilah Koneko-chan sang Rook bertelinga kucing.

“…Sebagai sesama pemilik telinga kucing, aku memang ingin bertarung. Seni bela diri kita juga mirip, mari kita bertanding untuk menentukan siapa nekomata yang lebih baik.”

Oh ho, Koneko-chan ikut bertarung juga, tiga gadis bertelinga kucing kini berlari di lapangan!

Jika Kiba, Xenovia, dan Koneko-chan sudah masuk ke mode bertarung, maka aku….

“Lawanmu pastilah aku.”

Suara pihak ketiga terdengar. Saat dilihat, ada sosok wanita yang mengenakan topeng hanya di sebelah wajahnya! Rook milik Riser—Isabella-san. aku beberapa kali pernah berinteraksi dengan orang ini.

“Sudah lama tidak bertemu, Isabella-san.”

“Ya, tidak disangka kita akan bertemu di medan tempur yang sama dengan cara yang sama….”

Meski merasa reuni di sini agak lucu, Isabella-san langsung mengambil kuda-kuda flicker. Ah, kangennya. Dulu aku sempat tersudut oleh flicker itu. Tapi kalau sekarang—.

Aku yang mengenakan armor memancarkan aura merah dari sekujur tubuh. Melihat hal itu, Isabella-san menghela napas kagum dan terkejut.

“…Aura yang luar biasa. Sudah berubah bagai langit dan bumi dibandingkan waktu itu ya, Sekiryuutei.”

“…Maukah kau menerima tinjuku yang sudah berkembang ini?”

Saat aku bertanya begitu, Isabella-san tersenyum gagah.

“Tentu saja, itu hal yang sangat kuharapkan! Tunjukkan padaku tinjumu yang telah mengalahkan Golongan Maou Lama, Loki, Cao Cao, dan naga jahat!”

Isabella-san juga memancarkan aura dari sekujur tubuhnya. Aura yang jauh lebih pekat dibandingkan waktu itu. Ini adalah bukti bahwa dia telah melakukan latihan di atas rata-rata orang biasa.

Dengan langkah kaki yang lincah dia memangkas jarak, mengayunkan tinjunya dengan lincah lalu melancarkan serangan tajam! Flicker! Dulu setiap satu pukulan terasa sangat berat sampai-sampai aku hampir kalah! Tapi—!

Aku menepis semuanya dengan pergerakan tubuh, lalu menghantamkan pukulan telapak tangan ke bagian perut Isabella-san. Dia menyilangkan tangannya untuk bertahan, tapi pukulanku melampaui perkiraannya hingga merusak pertahanannya secara total. Pemandangan yang berkebalikan dari waktu itu kini terhampar di sana.

…Sialan, aku jadi merasa sangat emosional…! Waktu itu aku tidak bisa mengalahkannya secara terang-terangan dari depan! Aku harus menumpuk berbagai trik dan teknik baru bisa mengalahkannya! Mengetahui bahwa pertarunganku selama ini tidak sia-sia membuat dadaku terasa sesak oleh rasa haru!

“Serangan yang bagus. Aku bahkan merasa bangga menyaksikannya.”

Isabella-san bahkan mengucapkan hal yang menyentuh hati seperti itu. Untuk membalasnya, aku mengambil posisi Dragon Shot! Waktu itu aku juga mengalahkannya dengan Dragon Shot!

[Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost!!]

Suara menggelegar keluar dari permata, aura yang terkumpul di tangan kananku semakin membesar! Aku mengepakkan kedua sayap naga, terbang berputar di udara, lalu mempermainkan pergerakan Isabella-san. Begitu menemukan celah, aku menembakkan kekuatan iblis yang terkumpul di tangan kananku!

“Maju—!”

Dragon Shot berukuran ekstra besar ditembakkan! Isabella-san yang tidak mau kena begitu saja mencoba melompat mundur dengan cepat, tapi—.

“Beloklah! —Dan di saat bersamaan Dress Break!”

Aku juga sudah berkembang! Aku memfokuskan kesadaranku untuk mengubah arah pergerakan Dragon Shot yang telah ditembakkan! Bersamaan dengan itu, aku juga mengaktifkan Dress Break. Sebenarnya saat menghantamkan pukulan tadi, syaratnya sudah terpenuhi.

Dragon Shot berbelok dengan kecepatan tinggi membentuk kurva melengkung, dan pakaian Isabella-san yang berusaha menghindarinya mendadak meledak hancur akibat Dress Break!

“—! Sampai bagian ini pun kau replikasi!?”

Isabella-san terkejut saat bajunya hancur! Ya iyalah, kalau mau melakukan sesuatu harus totalitas!

“Terima kasih atas pemandangan indahnya!”

Setidaknya aku mengucapkan terima kasih secara lisan! Melihat tubuhnya yang berisi, rasanya darah hidungku mau menetes di dalam armor! Tapi seperti yang kurasakan waktu itu, hanya topeng Isabella-san saja yang tak bisa dihancurkan oleh Dress Break! Kali ini juga sama! Uum, apakah ada sesuatu pada topeng itu yang bisa menetralkan kekuatan iblisku? Ataukah cuma karena fetisku saja yang terpancar pada teknik tersebut!?

Isabella-san yang menerima hantaman Dress Break versi Balance Breaker + Dragon Shot secara telak akhirnya lenyap ke dalam cahaya gugur.

‘Satu Rook milik Riser-sama, gugur.’

Pengumuman dari Grayfia-san terdengar.

…Nah, bagianku sudah selesai, bagaimana dengan Kiba dan Xenovia….

“Mau kuperlihatkan pedang iblisku yang lain? Selain Gram sih bisa semua.”

“Hoh, sangat menarik, tapi aku juga ingin melihat pasukan kesatria milikmu.”

Kiba dan Carlamine-san tampak menikmati duel antarkesatria tersebut. Berikutnya Xenovia dan Irina—

“Waktu misi pembasmian roh jahat di rumah hantu beberapa tahun lalu, yang paling banyak mengusir roh jahat itu pasti aku!”

“Bukan, aku! Soalnya Xenovia waktu itu datang terlambat, 'kan!?”

“Itu misi yang berbeda! Seingatku itu waktu pembasmian necromancer!”

“Dua-duanya kau terlambat, tahu! Kenapa kau selalu lupa hal-hal yang merugikanmu, sih!”

Sepertinya mereka malah keasyikan bernostalgia tentang masa-masa menjadi prajurit gereja. …Karena keduanya bertarung sambil mengobrol kenangan masa lalu, sepertinya pertarungan mereka bakal memakan waktu lebih lama.

“…Ude-hishigi-juji-gatame (kunci sendi silang).”

“Sakiitt sakiittt! Lii tolong, nyaaa!”

Ada Koneko-chan yang sedang mengunci sendi lawannya. Pihak lawan sampai menjerit-jerit. Pertarungan Koneko-chan dan Pawn bertelinga kucing benar-benar menjadi perkelahian sesama perempuan dalam arti harfiah, dan bagian ini pun tampaknya cukup seru untuk ditonton.

…Nah, kalau mau mereplikasi waktu itu, rasanya ada seseorang yang terlupa. Saat aku berpikir begitu, seorang gadis bergaya Jepang yang mengenakan jubah dua belas lapis (junihitoe) berdiri di sana. Gadis ini kalau tidak salah adalah Bishop milik Riser—Mihae, 'kan?

Dia membungkuk memberi hormat lalu berkata, “Tolong ikuti aku. —Tuan memanggilmu.”

…Aku menyerahkan tempat ini kepada teman-teman, lalu mengikutinya. Lokasi yang kami tuju adalah pintu masuk gedung sekolah baru.

 

Waktu itu kami menyusup dari pintu belakang, ya.

Di sana Asia, Rossweisse-san, dan Gasper sudah menunggu.

“Ah, Ise-san.”

“Senpai, kami sudah menunggu, lho.”

“Cepat sekali.”

Tiga orang menyambutku, tapi sosok Rias tidak kelihatan. Kalau tiga orang ini sudah sampai di sini, harusnya dia juga ada di sini.

“Di mana Rias?”

“Di atas.”

“Dia dipanggil Riser-shi dan naik ke atas.”

—Asia dan Rossweisse-san memberi tahuku atas pertanyaan tersebut.

…Jujur saja, sampai sejauh ini persis banget. Benar, waktu itu Rias membawa Asia menuju ke bagian atas gedung sekolah baru. —Untuk menyelesaikan masalah dengan Riser.

kami yang menengadah ke atas, Mihae-san berkata sekali lagi.

“Riser-sama menunggu di atas. Silakan naik. Namun, hanya Sekiryuutei-sama dan Asia Argento-sama saja.”

Kami saling bertukar pandang. Rossweisse-san dan Gasper mengangguk.

“Pergilah. Kedua King pasti memiliki berbagai hal yang ingin diselesaikan.”

“Ya, benar sekali. —Lagi pula lawan kami adalah….”

Rossweisse-san dan Gasper mengarahkan pandangan mereka ke arah Mihae-san. Gadis bergaya Jepang itu memancarkan aura dari sekujur tubuhnya, menandakan dia tidak akan membiarkan Rossweisse-san dan Gasper lewat begitu saja.

Aku dan Asia mengangguk bersamaan, lalu menerobos pintu masuk.

“Sisanya kami serahkan pada kalian, Gasper, Rossweisse-san!”

Aku menggendong Asia dengan gendongan ala putri, mengepakkan sayap naga lalu terbang menerobos ke dalam gedung sekolah. Tidak lama kemudian, suara dahsyat terdengar dari arah belakang. Pertarungan Rossweisse-san & Gasper melawan Mihae-san pasti sudah dimulai.

Sambil terbang melewati koridor, aku teringat masa lalu. Dulu aku melewati koridor ini sambil babak belur, terengah-engah, dan menahan rasa sakit. Demi menyelamatkan majikanku Rias—Buchou, aku berlari dengan sekuat tenaga. Berkali-kali jatuh dan bangkit kembali untuk menuju ke atas….

Medan tempur ini benar-benar penuh dengan kenangan manis dan haru. Dan puncaknya pasti sudah menunggu di depan sana.

‘Satu Bishop milik Riser-sama, gugur.’

Di tengah pengumuman kemenangan Rossweisse-san dan Gasper yang terdengar, aku akhirnya sampai di atap gedung sekolah.

Yang menunggu di sana adalah—Rias dan Riser Phoenix! Keduanya sepertinya tidak bertarung, pakaian mereka tidak berantakan dan tidak ada bekas pertempuran di atap gedung.

Setibanya di sana, aku menurunkan Asia lalu berdiri di samping Rias.

“Buchou, Hyoudou Issei! Siap melayani!”

Aku mengucapkan dialog yang sama persis seperti waktu itu kepada Rias. Dia yang mungkin merasa nostalgia juga tersenyum kecil.

“Terima kasih, Ise. Rasanya kalau sama persis sampai sejauh ini malah bikin agak malu, ya.”

Benar! Rasanya jadi agak aneh!

Riser yang melihat kemunculan aku berkata, “Si Bocah Naga kah? Si Ravel itu membiarkanmu lewat, ya—ingatku aku pernah mengatakan hal itu waktu itu,” lanjutnya sambil tersenyum pahit. Aah, memang dia pernah bicara begitu.

Di tengah kenangan masa lalu yang terngiang,

‘Queen milik Riser-sama, gugur.’

Laporan kekalahan Yubelluna-san terbang terdengar. Itu artinya menandakan kemenangan Akeno-san. Riser yang mengetahui kekalahan budaknya memejamkan mata dengan tenang.

Waktu itu Akeno-san kalah dan Yubelluna-san bergegas datang ke sini. Kalau teringat kembali, saat tahu Akeno-san kalah, aku waktu itu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku.

Akeno-san terbang di udara dan mendarat di atap ini. Baju miko yang menjadi pakaian tempurnya tampak babak belur. …Bukan kemenangan tanpa luka, ya. Yubelluna-san juga sudah jadi makin kuat.

“Yubelluna adalah orang yang paling mengembangkan kemampuannya dalam latihan… begitu ya, ternyata tetap tidak bisa menyamai budak milik Rias. …Jumlah medan pertempuran hidup dan mati yang dilewati memang berbeda, sih.”

Riser berucap dengan tenang. Jika itu Riser yang dulu, dia pasti akan merasa murka atas kekalahan budaknya dan melontarkan omelan. Pertandingan kali ini memperlihatkan bahwa dia bisa menerima hasilnya sampai batas tertentu.

Riser melepaskan baju atasan dan membuangnya. Sepertinya dia memakai pakaian tempur yang hampir telanjang dada di dalamnya. Dia memunculkan kedua sayap api dari punggungnya. …Melihat jumlah api yang keluar, aku dibuat terkejut.

—Dia membentangkan api yang jauh lebih pekat dan raksasa dibandingkan dulu dari punggungnya!

Jumlah panasnya terasa bahkan dari balik armor. Kalau kena secara langsung, meskipun memakai armor pasti tidak akan selamat.

Riser berkata pada Rias.

“…Rias, maaf tapi jangan menghalangiku, ya? Aku… ingin bertarung dengan pria ini. Meminta bantuan gadis malaikat itu juga karena aku sendiri yang menginginkan pertandingan di atap ini. …Ravel juga sudah memahaminya.”

—! …Pengakuan Riser membuat kami terkejut. Riser ternyata—sangat mendambakan pertarungan ulang denganku di tempat ini. Sampai-sampai tidak mengizinkan campur tangan Rias, Riser sangat menginginkan duel denganku.

“Dengar, Rias. Dibandingkan denganmu, aku jauh lebih terobsesi pada pria di sana itu. Selama belum mengalahkannya, aku belum bisa dikatakan mengatasi naga dalam arti yang sebenarnya!”

Mengetahui niat sebenarnya dari Riser, Rias menghela napas lalu menjawab, “Biarpun kau abadi, tak ada gunanya melawan Ise dengan armor merah yang telah menghadapi situasi hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya dan mengalahkan musuh-musuh tangguh. …Meski begitu kau tetap ingin bertarung?”

Sambil melepaskan aura yang sangat bertenaga, Riser melangkah maju memangkas jarak ke arahku langkah demi langkah.

“Rias, aku—tidak masalah kalaupun kalah. Kalau kalah pun akan kujadikan pelajaran. Yang terpenting aku sadar bahwa berbenturan dengan orang kuat itu ada artinya! Hyoudou Issei!”

Sambil menunjuk ke arahku, Riser berteriak dengan gagah! “Burung Api dan Phoenix! Serta api neraka dari keluarga Phoenix yang diagungkan! Rasakan dengan tubuhmu sendiri dan jadilah abu!”

Begitu mengatakannya, Riser mengobarkan api dan mengubah dirinya menjadi burung api raksasa lalu terbang ke udara! Adegan di ruang pesta waktu itu seolah terbayang kembali!

Dalam wujud itu dia berniat menerjang ke arahku! Aku… dibuat sangat terpacu dan bersemangat dari dasar hati oleh tindakan Riser!

“…Rias, aku mohon. Jangan pernah menghalangi! Aku… ingin bertarung dengan Riser Phoenix di sini!”

Rias yang memahami keinginanku pun mengangguk kecil. Setelah dipastikan, aku juga terbang ke udara dengan kencang! Karena aku ingin menerima api neraka si berengsek itu secara terang-terangan dari depan!

“Api ecek-ecekmu itu mana bisa memusnahkan aku, bodoooooooooh!”

Sambil meraung, aku menerjang Riser!

Gonn! —Tinju kami saling menghantam wajah satu sama lain! Gelombang kejutan dari benturan kami membuat gedung sekolah baru ini bergetar hebat!

Adu jotos antara aku dan Riser dimulai di udara di atas gedung sekolah baru! Setiap kali menerima satu pukulan, rasa panas yang tinggi meresap sampai ke dalam tubuhku, tapi hal seperti ini bukan yang pertama kalinya! Sudah pasti aku bisa menahannya! Meskipun tinjuku mengempaskan kepala, lengan, dan kaki Riser, karena sifat abadinya, dia langsung melakukan regenerasi dalam sekejap! Inilah yang bikin repot!

Waktu itu aku benar-benar merasa takut pada Riser. Mengetahui perbedaan kekuatan antara aku dan Riser membuatku ingin kabur dari tempat itu. Tapi sekarang berbeda!

Sambil saling memukul satu sama lain pada setiap pukulan, si berengsek itu berkata padaku!

“Apakah kau takut!? Tidak, kau tidak takut 'kan, Hyoudou Issei!? Kau adalah prajurit sejati yang telah berlari bersama Boosted Gear-mu! Ada atau tidaknya armor itu, kau bukanlah orang yang akan mati hanya karena api nerakaku!? Nilai sejatimu itu jauh lebih besar daripada gauntlet itu sendiri!”

……! …Sialan! Apa kau bodoh!? Kenapa kau ngomong begitu! Provokasi aku seperti waktu itu! Ejek aku! Kalau dipuji seperti itu… malah bikin mau menangis, tahu!

Tinju dan tendangan Riser yang diselimuti api menghantamku dengan tajam! Melihat Riser yang mulai bisa menghindari seranganku, aku jadi paham! Riser punya keahlian dalam seni bela diri!

“Kau bisa seni bela diri pertarungan jarak dekat!?”

“Yah, belakangan ini aku juga melatihnya tahu! Lagian, aku sampai mengundang Sairaorg Bael sebagai lawan bertandingku! Kalau soal adu fisik sudah pasti terjamin, 'kan!?”

Lawan bertandingnya Sairaorg-san! Pantas saja! Kenapa adu jotos secara langsung dengan Riser terasa ada rasa déjà vu! Benar, kalau adu jotos dengan Sairaorg-san, secara alami bakal jadi suka adu jotos seperti ini!

—Pertarungan dengan si berengsek ini memang harus seperti ini!

Setiap satu pukulan, di wajah, perut, kaki, dan lengan, mengerahkan seluruh tenaga dalam tinju dan tendangan barulah ada artinya! Tinjuku menghantam wajah Riser, dan tendangan Riser menghantam perutku!

…Sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku akan merapalkannya!

“—Aku, yang hendak bangkit, adalah Kaisar Naga Merah yang menjunjung kebenaran raja ke langit tertinggi! Menggenggam harapan nirbatas dan mimpi abadi, aku menempuh jalan kebenaran! Aku 'kan menjelma menjadi Kaisar Naga Crimson­—”

 

“Dan 'kan kubimbing kalian menuju Jalan Surga yang bersinar dalam cahaya crimson yang agung­—!”

 

[Cardinal Crimson Full Drive!!!!]

Aku berubah menjadi armor crimson! Riser yang melihatnya menunjukkan senyuman gembira yang terkejut, seluruh tubuhnya gemetaran karena sensasi kegembiraan.

“Majuuuuuuuu!”

Aku membesarkan tangan kananku secara maksimal! Dalam posisi Solid Impact! Sekalian menembus apinya!

[Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost Boost!!]

Bersamaan dengan suara peningkatan kekuatan, kekuatan dahsyat dari naga terkumpul di tinju kananku!

[Solid Impact Booster!!!!]

Riser membawa api di punggungnya ke depan untuk bertahan—tapi api itu pun dengan mudah diempaskan oleh tinjuku dan menghantamnya secara telak dari depan!

“Guhaaaaaaaaaaa!”

Riser menjerit keras dan jatuh meluncur ke atap gedung! Riser yang terempas ke lantai atap bangkit berdiri secara perlahan meskipun menerima kerusakan yang sangat besar!

Sambil meregenerasi tubuhnya dengan api, matanya bersinar terang benderang, menandakan dia belum menyerah dalam pertarungan.

Namun, meskipun Riser tidak bisa mati, kerusakan yang diterimanya kali ini tampaknya sangat dahsyat hingga tubuhnya sempoyongan dan kehilangan keseimbangan. Tidak peduli seberapa tidak bisanya mati sifat tubuhnya, jiwanya tidaklah kebal. Tinjuku—tampaknya telah menggapai jiwa Riser.

“Ise, Riser!”

Rias memanggil nama kami, tapi Riser tertawa terbahak-bahak lalu berteriak, “Hyoudou Issei! Aku mungkin akan kalah puluhan kali, ratusan kali darimu! Tapi! Ingatlah ini baik-baik! Kehidupan iblis itu mendekati abadi! Selama ada waktu sebanyak itu, suatu saat aku pasti akan menang darimu! Tidak, tidak butuh sepuluh ribu tahun! Cuma butuh beberapa tahun saja, orang sepertimu akan kujadikan abu dengan api neraka Phoenix ini!”

Mengobarkan api di punggungnya secara dahsyat sekali lagi, Riser terbang meluncur ke udara! Padahal mentalnya pasti sudah sangat lelah akibat satu pukulan aku tadi, tapi dia masih mau menerjang ke sini!

“Bagus. Aku juga suka itu! Sangat mudah dimengerti! Riser-san! Kau juga mau jadi rivalku! Bagus sekali!”

Aku menyambut Riser yang menerjang maju! Riser juga memamerkan senyuman!

“Maju kau, Hyoudou Issei! Ooooooooooooooooooooo!”

“Mana boleh kalahhhhh, oryaaaaaaaaaaaa!”

Tinjuku yang diselimuti aura crimson dan tinju Riser yang diselimuti api nereka berbenturan di dalam game field—.

 

Melihat hal ini, Rias dan Asia melakukan percakapan seperti ini, yang kemudian diberitahukan oleh Akeno-san yang kebetulan berada di lokasi beberapa saat kemudian.

“Asia, laki-laki itu… semuanya bodoh, ya.”

“Ufufu, tapi kelihatannya sangat menyenangkan. Mereka berdua—”

“Ya, tidak disangka. Riser tidak mengincar diriku melainkan Ise… benar-benar tidak terbayangkan. Tapi aku iri. —Ini adalah hal yang hanya bisa dimengerti oleh sesama laki-laki.”

—Tampaknya mereka membicarakan hal semacam itu.

—D×D—

Beberapa hari setelah pertarungan melawan Phoenix—.

Kami yang memenangkan pertarungan itu. Pertarungan antara aku dan Riser Phoenix juga berakhir dengan kemenanganku. Tampaknya hasil pertandingan anggota lain sudah diputuskan lebih cepat dari itu, tapi pengumumannya tidak terdengar oleh telingaku yang sedang keasyikan bertarung melawan Riser.

Hasilnya, pertandingan persahabatan berakhir dengan kemenangan mutlak bagi budak-budak Rias Gremory.

…Waktu itu kami kalah dan dihancurkan sampai babak belur. Kali ini, kami menang dengan jarak perbedaan kekuatan bertarung yang cukup jauh. Satu-satunya pertarungan yang belum selesai adalah duel antara Xenovia dan Irina, yang kabarnya terus bertukar tebasan sambil berdebat ini-itu sepanjang waktu. Karena pertarunganku dan Riser selesai lebih dulu, akibatnya King tim Phoenix kalah telak dan game pun dinyatakan berakhir.

“Hmmm, pertandingan kita belum selesai tahu!”

“Ya, benar sekali! Aku tidak akan kalah dari Irina!”

Irina dan Xenovia yang merasa belum puas sepenuhnya kabarnya terus bertanding lewat catur maupun olahraga setiap kali ada kesempatan sejak saat itu. …Ah, dua-duanya sama-sama tidak mau kalah, ya.

Tapi—. Pertandingan persahabatan itu sangat berarti bahkan untuk mengukur perkembangan kami. Lagi pula, pertarungan melawan Riser—benar-benar sangat menyenangkan.

Kiba, Koneko-chan, Akeno-san, dan Gasper yang waktu itu menyisakan penyesalan atas pertempuran masa lalu tampak puas. Bertahan hidup sampai akhir saja sudah cukup membuat hati terasa penuh. Aku sendiri juga merasa tersentuh saat berhasil berdiri sampai akhir dan mengalahkan Riser.

Riser berkata begini kepadaku dan Rias setelah pertandingan. “Cepatlah datang ke dunia profesional. —Karena aku ingin bertanding secara resmi.”

…Ya, rasanya aku ingin cepat-cepat pergi ke dunia itu. Tidak cuma Riser, tapi tim Sitri, Sairaorg-san, dan lawan-lawan kuat yang belum pernah terlihat pasti bisa ditemui di sana—.

Tidak, pertama-tama mari istirahatkan tubuh dulu. Rating Game itu sangat menguras tenaga dan mental dalam satu kali pertandingan, jadi setelah pertandingan pasti akan sangat lelah. Kali ini pun rasanya jauh lebih lelah dari perkiraan, jadi aku harus lebih memanjakan tubuh sedikit.

…Saat aku sedang memikirkan hal itu, Rias dan Ravel kembali saling berdiskusi sambil bermain catur di ruang klub.

“…Kalau situasi seperti ini, kalau aku yang memimpin, aku akan mengambil langkah begini.”

“…Tapi, pergerakan Rias-sama yang itu rasanya bisa diprediksi oleh pihak lawan….”

…Aku memperhatikan mereka dengan curiga sambil memikirkan apa lagi yang sedang mereka bicarakan kali ini, tapi tepat di saat Azazel-sensei mengintipkan wajahnya ke ruang klub sambil bilang “Yo~”, Rias dan Ravel langsung memojokkan Sensei!

“Azazel! Kau tahu 'kan tentang pertandingan Sona dan Seekvaira Agares!?”

“Sensei! Jika Rias-sama bertanding melawan Seekvaira-sama dalam Scramble Flag, menurut Anda apa yang akan terjadi!?”

—! Aku sampai terkelu! Yang benar saja! Yang sedang dibicarakan mereka berdua adalah—game Sona-zenkaichou dan Seekvaira-san!? Kalau ditarik kesimpulan, apakah mereka sedang berdiskusi “Kalau budak-budak Gremory bertarung di sana—”?

Sedangkan Sensei yang dipojokkan malah—.

“Oh. Kelihatannya menarik. Mau coba kutanyakan pada keluarga Agares?”

Dia mengatakannya dengan raut wajah yang sangat bersemangat!

Tidakkkk! Aku mohon! Kalau mau bikin pertandingan, tolong direncanakan dengan baik-baikkkk!

Aku pun dibuat kebingungan oleh tingkah main-main para wanita bangsawan ini—.

Post a Comment

0 Comments