High School D×D EX Bab 4

High School D×D EX

Bab 4. Kehendak Crimson

Setelah menyelesaikan pertempuran bersama trio gereja generasi baru—Airi, Zen, dan Shin—aku menghabiskan waktu di sebuah kafe di kawasan pertokoan Kota Kuoh, tak lama setelah tengah hari dua hari kemudian.

…Pada akhirnya, karena pertempuran di bekas area penambangan batu terlalu berskala besar hingga situasinya tak bisa disembunyikan lagi, aku hanya memberitahukan kebenarannya kepada para VIP yang bisa dipercaya—Shemhaza, Sirzechs, Michael, Odin, dan Zeus.

Mereka semua sama-sama terkejut, tetapi segera bisa menerima dan mau mendengarkan perkataanku. Yah, lagi pula di setiap golongan maupun berbagai sistem mitologi, ada dewa yang menguasai waktu.

Namun, tampaknya mereka sama sekali tidak menyangka kalau bawahan dewa jahat dari dunia lain akan menyerang dari masa depan.

—Tetapi, setelah mengetahui situasinya, sepertinya para VIP tersebut bisa memahaminya. Kami semua berdiskusi melalui komunikasi jarak jauh, lalu menyepakati keputusan untuk tidak mempublikasikannya dan membereskannya secara internal.

Yah, dan yang memegang peran sentral dalam hal itu adalah… aku sendiri yang berada di pusaran kejadian ini…. Karena sudah terlibat, aku akan mengurusnya sampai akhir.

Selain garis besar kejadiannya, aku tidak menceritakan hal lain kepada para VIP. Bahwa Asia dari masa depan terkena kutukan Loki, bahwa anak-anak Ise datang ke masa lalu untuk menyembuhkannya, serta teknologi masa depan maupun situasi dunia yang kudengar dari anak-anak tersebut, semuanya sama sekali tidak kubocorkan. Karena justru hal-hal itulah yang paling tidak boleh dibicarakan. Kemungkinan terjadinya perubahan besar pada sejarah harus dipastikan untuk dihindari.

Seiring dengan hal itu, kepada Ise, Rias dan kawan-kawan yang menampakkan diri di bekas area penambangan batu tersebut, aku memberikan penjelasan singkat mengenai masalah kali ini—.

“Persenjataan kuno (buatan dewa-dewa zaman dahulu) yang terkurung di Celah Dimensi, mendadak bangkit dan menyerang ke sisi sini.”

—Kurang lebih begitu. Intinya, aku menyampaikan bahwa musuh misterius yang mengamuk di Kota Kuoh itu mirip dengan golem kuno yang merepotkan tim Vali—yaitu Gogmagog. Yang itu juga dulunya mengapung di Celah Dimensi sebelum ditemukan dan diaktifkan oleh Vali dan timnya….

Meskipun tampaknya ada hal yang mengganjal bagi mereka, mereka tetap memercayai penjelasanku. Rossweisse yang sedikit tahu mengenai hal-hal semacam ini sempat tampak curiga… tapi sepertinya dalam situasi saat ini pemikirannya belum sampai menebak keberadaan ‘Utusan dari Masa Depan’.

Mengenai masalah kali ini, Sirzechs juga menyampaikan cerita semacam itu hingga terdengar ke telinga Rias. Setelah mereka bisa menerima penjelasan tersebut untuk sementara, kami memutuskan untuk menangani masalah ini sambil tetap waspada dan saling bertukar informasi ke depannya.

…Nah, tanggung jawabku sangat berat. Sebelum Rias dan yang lainnya—serta golongan lain—mengetahui identitas asli mereka, aku harus menyelesaikan kejadian ini. Terlebih lagi, anak-anak Ise yang menjalin hubungan kerja sama denganku ini tak boleh diketahui oleh siapa pun selain aku. Di bawah situasi seperti itu, aku harus memusnahkan para UL yang datang ke sini, dan menangkap Loki yang datang dari masa depan. Ini pasti misi dengan tingkat kesulitan kelas atas….

…Yah, untung di dalam kemalangan ini, anak-anak Ise yang datang ke sini semuanya adalah orang-orang kuat. Kalau meminjam tenaga mereka, ini bukanlah misi yang mustahil. Masalahnya adalah sikap anak-anak itu yang tidak menunjukkan rasa sungkan terhadap era ini. Kalau salah bertindak, hal ini bisa terbongkar ke publik dan memberikan pengaruh besar bukan hanya pada tiap sistem mitologi, melainkan juga dunia manusia. Kalau sampai terjadi hal seperti itu, sejarah akan berubah drastis….

…Tapi, terlalu membesar-besarkan bayangan buruk juga tidak baik. Cukup dengan memiliki tekad bulat untuk merintangi tujuan UL, itu saja sudah memadai.

Sambil merenungkan hal-hal semacam itu, aku menikmati matcha latte favoritku. Sesuai rencana, setelah ini aku dijadwalkan bertemu dengan Gasper yang katanya datang dari masa depan…. Namun, sebelum dia tiba, seorang tamu tak terduga telah mengontakku terlebih dahulu, sehingga aku masuk ke kafe ini.

Aku mengalihkan pandangan kepada pemuda yang duduk di kursi seberangku. Pemuda berambut crimson—Ex Gremory, sedang menatapku lekat-lekat.

Beberapa saat lalu, sebuah lingkaran sihir komunikasi terbang langsung dari Ex secara pribadi, lalu dia berkata, “Bisa bicara sebentar?” Karena aku tertarik pada tindakan pemuda itu maupun pada dirinya sendiri, aku pun langsung menyanggupinya.

Dan kini, meski sudah masuk ke kafe ini bersama-sama…… Ex tetap bungkam, tanpa ada tanda-tanda percakapan akan dimulai.

“Jadi, apa yang ingin kautanyakan padaku?”

“…A, anu, begini….”

Ex menundukkan wajahnya dengan canggung. Dia kembali terdiam seperti itu.

Saat bertarung, kupikir dia adalah pemuda yang gagah berani layaknya kedua orangtuanya, tetapi ketika berbicara berhadapan seperti ini… terlihat juga sisi pemalunya yang tidak mencerminkan putra dari Ise dan Rias.

Yah, karena tidak akan selesai-selesai kalau begini terus, aku pun kembali bertanya kepadanya.

“Kau sengaja muncul di hadapanku. Ada sesuatu yang ingin kautanyakan, 'kan?”

“……”

Dari raut wajah dan sikapnya, sepertinya memang ada yang ingin ditanyakan… tapi dia kesulitan menyampaikannya. Bagaimana kalau aku saja yang memulai pembicaraan?

“Kalau begitu, sebaliknya aku yang akan bertanya. Apa yang sedang dilakukan Rias di masa depan? Apakah dia masih menjadi kepala keluarga?”

Saat ditanya begitu, tidak seperti sebelumnya, Ex mulai berbicara dengan ceria.

“Tidak, Ibu sudah menyerahkan posisi kepala keluarga kepada pamanku—Milicas-niisama. Saat ini, Ibu sedang memperluas bisnisnya ke berbagai bidang dan menggeluti beraneka ragam industri. Beliau juga seorang pemain Rating Game. …Yah, walau saat ini Rating Game sedang dihentikan karena sedang dalam kondisi perang akibat invasi dewa-dewa jahat dari dunia lain….”

Sambil menundukkan pandangan, Ex menambahi pembicaraannya.

“…S-sebenarnya, Ayah juga bermain sebagai pemain Game. Hanya saja, karena sangat sibuk, beliau akhirnya tidak pernah sempat menyelesaikan pertandingan….”

Saat ditanya tentang Rias, kata-katanya meluncur lancar, tapi dia tampak enggan membicarakan Ise. Atau lebih tepatnya, mengingat dia menambahkan cerita tentang ayahnya padahal tidak ditanya, sepertinya hal yang ingin ditanyakannya berhubungan dengan hal itu.

Didorong oleh rasa jahil, aku pun iseng bertanya.

“Omong-omong, bagaimana denganmu—apakah kau suka dada wanita?”

Saat sedang minum teh, Ex mendengar pertanyaanku—dan mendadak mematung. Setelah jeda sejenak, dia menyemburkan teh yang diminumnya lalu terbatuk-batuk.

“……Pft-buhok!”

Sambil terbatuk-batuk, dia mengusap mulutnya dengan handuk basah. Setelah menata napasnya, wajahnya memerah padam dan memberikan sanggahan.

“A-a-a-a-apa yang Anda bicarakan!?”

Arara, reaksi yang sungguh polos sampai-sampai tidak terasa seperti anak Ise! Lelucon ke arah sana tidak mempan, ya?

Meskipun memperlihatkan reaksi seperti itu, Ex berdeham sekali untuk menenangkan diri, lalu melanjutkan perkataannya.

“…Apakah ini tentang dada wanita…? Begitulah, karena semua ibuku, b-besar… sejak kecil aku berpikir dada wanita memang seharusnya seperti itu… Jadi, sempat ada masa di mana awalnya aku tidak bisa mengenali wanita berdada kecil sebagai seorang wanita. Waktu masih kecil dulu, aku juga pernah melakukan hal yang sangat tidak sopan kepada Sona-obaue.”

Dampak yang muncul pada anak ketika sang ayah terlalu terobsesi pada dada wanita ternyata jadi seperti ini, ya…. Bukan, mungkin pendidikan mereka berdua saja yang agak bermasalah. Sona sepertinya juga mengalami nasib yang cukup apes.

Sambil meremas handuk basah di tangannya, Ex meluapkan kekesalannya dengan cemberut.

“A-Ayah terlalu mesum karena menikahi wanita-wanita yang berdada besar saja! Makanya, aku yang anaknya jadi kena dampaknya…! Coba bayangkan perasaan seorang anak yang menjadikan ‘Lagu Oppai Dragon’ sebagai pengganti lagu pengantar tidur!”

“Maaf, yang buat lagu itu sebenarnya kami, sih.”

Aku langsung meminta maaf tanpa jeda sesaat pun. Soal lagu itu… kelakuan isengku dan Sirzechs yang jadi penyebabnya. Siapa sangka tiga puluh tahun kemudian hal itu malah merepotkan generasi penerus.

Mendengar permohonan maafku, Ex mengibaskan tangannya ke depan dengan panik.

“A-ah, tidak, bukan begitu maksudku… tidak, mungkin memang begitu maksudku, tapi….”

Meskipun dia adalah pemuda yang memiliki sisi gegabah di antara anak-anak Ise, di sisi lain dia tetap menjaga kesopanan terhadap orang yang lebih tua, ya.

Begitu rupanya, lewat percakapan beberapa menit ini, aku bisa memahami dirinya sampai batas tertentu.

Jika diumpamakan dengan era ini, ini seperti respons anggota keluarga terhadap para Maou yang menunjukkan sisi sangat konyol saat berada di kehidupan pribadi. Mungkinkah karena Sirzechs dan Serafall memperlihatkan sikap seperti itu di kehidupan pribadi mereka, Rias dan Sona yang merupakan adik mereka jadi tumbuh dengan kepribadian yang sangat serius? Sama halnya dengan itu, sebagai reaksi balik dari memiliki para ibu yang sangat beragam dan ayah yang terlalu mesum, Ex malah tumbuh menjadi pemuda yang terlalu serius.

Kalau diingat-ingat kembali, anak-anak Ise yang lain juga semuanya tipe yang serius. Karena orangtua yang membesarkan mereka ada banyak, mungkinkah mereka tumbuh menjadi seperti itu akibat pengaruh secara keseluruhan?

Aku pun kembali menanyakan hal yang mendadak membuatku penasaran.

“Apakah Kiba dan… Vali sehat-sehat saja?”

“Ya, Shihan[1]… Yuuto-san membimbing para penerus. Sementara Vali-sensei, di samping meneliti peninggalan dan situs purbakala buatan dewa-dewa kuno serta Empat Maou generasi pertama, beliau juga dengan tekun mengejar Jalan Ramen. Saat aku menjadi muridnya, selama enam bulan pertama aku diajari mulai dari mencuci piring. Beliau bilang, dasar-dasar pertarungan dan pembuatan ramen itu sama saja.”

Mengesampingkan Kiba, tapi Vali… tebakanku setengah benar, dan setengahnya lagi merupakan jawaban yang sangat menarik, ya…. Begitu ya, anak itu rupanya mulai melakukan penelitian…. Mengenai ramennya… aku takkan berkomentar apa-apa lagi.

“Tapi karena sekarang sedang perang, mereka berdua bertarung di barisan depan….”

Mereka berdua di masa depan pasti bergerak sebagai kekuatan tempur yang krusial.

Dari sana percakapan terus berlanjut, dan kami mengobrolkan hal-hal ringan yang aman. Ketika suasana obrolan sudah cukup hangat, Ex memasang ekspresi penuh tekad—.

“A-anu, mengenai Ayah…. Orang itu sangat menyayangi keluarga—”

Tepat saat dia mulai membicarakan hal itu, seseorang berdiri di hadapan kami.

“Gubernur Jenderal Generasi Pertama Azazel, aku datang untuk menjemput atas perintah atasan.”

—Dia adalah Himejima Kurenai.

Melihat sosok kakaknya, kata-kata yang hendak diucapkan Ex tertahan di tenggorokan. Padahal dia sampai ingin menemui aku untuk menanyakan tentang ayahnya—tentang Ise….

Kurenai sang kakak sempat memperlihatkan raut terkejut saat melihat Ex, tetapi dia segera memahami situasinya dan tersenyum ramah.

“Ex, pas sekali. Kau sebaiknya ikut juga. Atasan kita memanggil.”

Aku, Ex, dan Kurenai meninggalkan kafe untuk berpindah tempat.

 

Tempat yang dituju oleh Kurenai bersamaku adalah salah satu dari sekian banyak ruang yang membentang di bawah tanah Kota Kuoh. Itu juga merupakan tempat di mana aku pertama kali bertemu dengan Kurenai dan Zen.

Kurenai bilang kalau dia masih ada urusan lain, lalu pergi setelah mengantar kami ke sini. Putra sulung sepertinya punya banyak hal yang mesti dilakukan, ya….

Saat melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, aku seketika merasakan tekanan luar biasa yang tak terlukiskan serta aura yang sungguh tak biasa. Di hadapan pandanganku, berdiri dua orang gadis: seorang gadis berambut pirang dengan gaya rambut twin drill (empat gulungan vertikal), serta seorang gadis berambut perak yang mengenakan armor Valkyrie. Mereka sedang membentangkan lingkaran sihir analisis, dan meskipun sempat mengalihkan pandangan padaku, mereka tampaknya tetap berkonsentrasi melanjutkan pekerjaan analisis masing-masing. Namun, tekanan berat yang baru kurasakan tadi bukan berasal dari mereka berdua.

Lalu, sesosok bayangan perlahan muncul menyembul dari balik dinding. Dia tampaknya baru saja menembus dinding tersebut. Jika dilihat, seorang pria berambut pirang bertubuh tinggi yang dibalut jubah hitam berdiri tepat di hadapanku. Dia memiliki perawakan tubuh yang sangat kekar dan raut wajah yang gagah. Kedua mata merahnya menatap lurus ke arahku. Meski terkesan tenang, dia memancarkan aura yang sangat dahsyat, tetapi aku seperti pernah mengenali aura pancaran tersebut.

Ekspresi gagah di wajah pria itu melunak menjadi sebuah senyuman cerah saat menyapaku.

“Selamat siang, Sensei.”

Senyuman itu menyimpan sesuatu yang terasa tidak asing.

“Begitu rupanya, kau adalah… Gasper, ya?”

Mendengar perkataanku, pria bertubuh kekar berselimut jubah hitam itu—Gasper, mengangguk.

“Ya. Meskipun penampilanku mungkin sudah banyak berubah, aku adalah Gasper Vladi.”

Ini benar-benar… membuatku ingin berteriak keheranan. Siapa sangka bocah langsing dan ramping yang dulu itu bisa berubah menjadi sosok yang gagah perkasa seperti ini…. Jejak-jejak anak laki-laki feminin (yang suka berpakaian wanita) sama sekali tidak tersisa, berganti dengan penampilannya yang begitu maskulin. Rambutnya disisir ke belakang, dan atmosfer lemah lembut yang dimilikinya saat masih anak-anak kini telah sirna tanpa bekas.

“Jadi, kau yang bertanggung jawab memimpin dan membereskan masalah kali ini?” tanyaku sambil bertukar jabat tangan dengannya.

“Ya, karena ini berkaitan dengan perpindahan waktu, maka aku yang menguasai waktu ditugaskan untuk mengurusnya. Lagi pula, aku sudah sangat mengenal anak-anak Ise-senpai sejak mereka lahir, dan mereka semua mau menuruti perkataanku.”

Gasper berkata demikian, tetapi tepat di belakangku, Ex berbisik dengan suara pelan, “…Habisnya, dia menakutkan, sih.” Tapi biarlah bisikan itu kusimpan di dalam hati saja.

Setelah sapaan singkat tersebut, Gasper dari masa depan memberikan ringkasan data yang tertata rapi mengenai situasi saat ini serta informasi musuh yang datang ke masa kini—yaitu entitas UL dari dunia lain.

Yang datang ke masa lalu ini bersama Loki dari masa depan adalah dua dari Empat Jenderal milik Rezzo Roado dari Tujuh Bintang Rahu. Seharusnya, seluruh Invade Fanatics memimpin pasukan prajurit dan bertransfer waktu bersama Loki, tetapi tampaknya sebagian besar kekuatan tempur musuh gagal dalam perpindahan waktu akibat aksi penghalangan dari Gasper dan para pejuang masa depan ini.

Meski begitu, musuh sepertinya belum menyerah dan mencoba perpindahan secara paksa seperti Beuba Rekorg, salah satu dari Invade Fanatics berbentuk pilar yang muncul beberapa hari lalu. Gasper dan anak-anak Ise telah berjuang keras di dunia masa lalu ini demi mencegah hal tersebut terjadi sebelum terlaksana. Berkat usaha mereka, belum ada dampak besar yang timbul di dunia ini. Sungguh, aku benar-benar sangat hormat dan kagum pada mereka.

Aku pun bertanya kepada Gasper.

“Tujuan mereka adalah mundur lebih jauh ke masa lalu dari titik ini demi mengubah sejarah dunia ini—sejarah tiap sistem mitologi, bukan? Plus menghapus riwayat saat Ise dan yang lainnya berhubungan dengan dewa dari dunia lain, 'kan?”

Gasper mengangguk setuju.

“Meskipun tidak akan terjadi perubahan besar pada garis waktu dunia tempat kami berasal maupun garis waktu dunia ini, adalah kenyataan bahwa sejarah yang mundur lebih jauh dari era ini telah bercabang menjadi beberapa garis dunia. Musuh ingin menciptakan sejarah yang menguntungkan bagi mereka. Selain itu, mereka mungkin juga ingin memusnahkan keberadaan kami yang menjadi musuh bebuyutan mereka di masa depan. Bahkan saat ini, teman-teman dari masa depan dan Maou Ajuka Beelzebub-sama sedang bekerja keras mengamati garis dunia yang bercabang tersebut demi menyatukannya kembali. Kami hanyalah salah satu pasukan barisan depan yang diutus dari masa depan untuk memusnahkan UL yang mengamuk di masa lalu.”

Penjelasan yang persis seperti yang kuterima dari Kurenai dan yang lainnya. Gasper melanjutkan dengan raut wajah yang serius.

“…Masalahnya adalah apakah Rezzo Roado, salah satu pilar dari Tujuh Bintang Rahu, juga berniat berpindah ke sini. Jika entitas sekelas Tujuh Bintang sampai datang ke dunia ini, hal itu jelas akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada tiap sistem mitologi. Kita harus menghindari hal tersebut.”

Dari apa yang kudengar, Tujuh Bintang Rahu itu memiliki kekuatan yang sebanding dengan raja para dewa dari masing-masing sistem mitologi. Kalau entitas sekelas itu sampai mengamuk di masa lalu… masalahnya tentu tidak akan selesai dengan mudah. Kalau terjadi seperti itu, aku harus mendiskusikannya secara mendalam dengan Sirzechs dan yang lainnya.

Gasper berkata dengan raut muka serius.

“…Jika orang itu bisa datang tepat waktu, mungkin kita punya kesempatan….”

Sepertinya dia sudah punya langkah antisipasi. Aku tidak tahu siapa yang dia maksud, tapi kalau ada kekuatan tempur yang sanggup mengimbanginya, itu sungguh membesarkan hati.

Di tengah pembicaraanku dengan Gasper, dua orang gadis berambut pirang dan perak yang telah menyelesaikan analisisnya datang menghampiri dan mengajak kami bicara.

Gadis berambut pirang berkata, “Vladi-ojisama, kami telah berhasil melacak hampir seluruh titik transfer UL pada kondisi saat ini.”

Gadis berambut perak melanjutkan laporannya, “Di saat yang sama, posisi terkini seluruh saudara kami yang bertransfer ke era ini juga sudah berhasil diidentifikasi.”

Gasper mengangguk mantap.

“Luar biasa, Robertina, Helmwige. Ah, Sensei. Mereka berdua adalah bawahanku, sekaligus putri-putri dari Ise-senpai.”

Menerima perkenalan dari Gasper, gadis berambut pirang itu mengangkat sedikit ujung roknya dengan kedua tangan sambil menyampaikan salam hormatnya.

“Selamat siang, Gubernur Jenderal Generasi Pertama-sama. Perkenalkan, namaku Robertina Hyoudou.”

“Hyoudou? Tapi, aura yang terpancar darimu… adalah Phoenix, ya.”

Ya, aura yang berembus samar dari gadis ini adalah kekuatan api khas keluarga Phoenix…. Tentu saja, sebagai putri dari Ise, aura naga juga tersimpan di dalam dirinya.

“Benar sekali seperti yang Anda katakan. Aku adalah putri yang lahir dari ayahku, Hyoudou Issei, dan ibuku, Ravel Hyoudou. Karena ibuku telah keluar dari keluarga Phoenix, beliau tidak boleh lagi menggunakan nama Phoenix. Oleh karena itu, aku menggunakan salah satu nama keluarga yang digunakan Otou-sama di Dunia Bawah. Omong-omong, usiaku sama dengan Ex-kun.”

Karena dia sudah menikah, Ravel tidak bisa lagi menyandang nama Phoenix. —Namun, nama Gremory pun tidak bisa dipakai. Maka dari itu digunakanlah nama ‘Hyoudou’, ya. …Kalau dipikir-pikir, prajurit UL juga sempat menyebut-nyebut nama ‘Hyoudou’.

Menarik juga melihat Ravel yang punya dua gulungan rambut vertikal, sementara putrinya punya empat gulungan rambut.

“…Ise di masa depan sepertinya punya banyak sekali nama keluarga, ya.”

Saat aku bergumam demikian, putri dari Ravel—Robertina, terkekeh pelan.

“Otou-sama bahkan kadang suka berujar kalau beliau sendiri sampai bingung sedang dipanggil dengan nama yang mana saat ini.”

Termasuk julukan-julukannya, jumlah namanya pasti bertambah sangat banyak.

Kali ini, gadis berambut perak yang mengenakan armor Valkyrie (dengan sentuhan desain armor Boosted Gear Scale-mail Sekiryuutei) menyampaikan salamnya dengan sangat sopan.

“Namaku Helmwige. Aku lahir dari ayah sang Sekiryuutei dan ibu mantan Valkyrie. Aku lahir di tahun yang sama dengan Zen-kun dan Shin-kun.”

“Ah, sekali lihat saja aku langsung tahu. Kau putri dari Rossweisse, 'kan? Muka kalian mirip sekali. Namamu… diambil dari mantan rekan ibumu dulu, kah?”

“Ya, ibuku menamai anak-anaknya berdasarkan nama rekan maupun teman-teman di kampung halamannya yang pernah berjasa kepadanya.”

Rambut peraknya yang panjang dikepang satu, tetapi paras wajahnya benar-benar meniru Rossweisse. Lebih tepatnya, sejauh yang kutemui, anak-anak Ise ini semuanya punya raut wajah yang mirip dengan ibu mereka masing-masing.

Putri dari Rossweisse—Helmwige berkata, “Sebagai saudara yang sanggup bertarung, sebenarnya ada juga yang ahli dalam penggunaan sihir… tapi dia tetap berada di era asal kami di masa depan untuk mengatur proses perpindahan waktu kali ini.”

Menanggapi hal itu, Robertina menyampaikan rasa tidak puasnya dengan nada menggerutu.

“Padahal anak itu sudah terpilih oleh Pedang Raja Collbrande, tapi dia malah tidak memilih jalan sebagai pendekar pedang dan malah memilih jalan penyihir. Sungguh sangat disayangkan! Benar-benar membuang-buang bakat!”

Helmwige mengangkat bahunya.

“Yah, anak itu 'kan punya jalan hidupnya sendiri. Lagi pula, bakat sihirnya juga sangat unggul karena mengalir darah dari keluarga ternama tersebut. Dia pasti tidak bisa melawan pilihan dari Collbrande, jadi di masa depan dia mungkin akan menjadi seorang Pendekar Pedang Sihir.”

Merasa ada sesuatu yang mengganjal, aku pun bertanya.

“Jangan-jangan, dia anak dari Le Fay?”

Helmwige mengangguk.

“Benar. Namanya Mordred Hyoudou. Dia anak dari Le Fay-okaasan. Bersama dengan ibuku dan Kuroka-okaasan, Le Fay-okaasan adalah salah satu pengguna sihir utama di keluarga kami.”

…Si Ise itu, ternyata Le Fay juga berhasil digaetnya, ya.

Pantas saja, kalau Kuroka dan Le Fay sampai punya anak darinya, Vali pasti mau tidak mau ikut kerepotan mengurus dan menjaga anak-anak Ise.

Robertina cemberut dan marah-marah kecil.

“Anak itu bahkan jauh lebih sesuka hatinya dibanding Ex-kun! Duh, tidak boleh ada yang merusak reputasi Otou-sama maupun para Okaa-sama kita! Ex-kun juga, dengar tidak?!”

Robertina menudingkan jarinya tepat ke arah Ex.

“…Ruti, kau ini cerewet sekali, sih.”

Memanggil Robertina dengan nama panggilannya, Ex mengucapkannya dengan wajah jengkel seolah ingin bilang “Mulai lagi”.

Putri Ravel, Robertina, tampaknya menaruh rasa hormat yang sangat mendalam kepada para orangtuanya. Atau lebih tepatnya, sifatnya yang sangat kaku dan terlampau serius ini adalah warisan murni dari ibunya.

Gasper mengelus kepala Ex dengan penuh kehangatan dan keakraban.

“Memiliki saudara yang mau memberikan teguran itu adalah hal yang baik, tahu. Ex, seperti yang dikatakan Robertina, kau harus bertindak dengan sedikit lebih tenang. Tindakan yang ceroboh bukan hanya menurunkan nama baik orangtuamu, tapi juga merusak reputasimu sendiri. Kau paham, 'kan?”

“…Baik.”

Ex menjawab sambil menundukkan kepalanya.

Ooh, melihat Gasper menyampaikan nasihat yang begitu dewasa membuatku benar-benar merasakan perkembangannya.

Di saat aku sedang kagum memperhatikan pemandangan masa depan yang terhampar di depan mataku, sebuah lingkaran sihir mendadak muncul membentang di bawah kaki putri Rossweisse, Helmwige. Lingkaran sihir itu muncul secara otomatis. Pola lingkaran sihir—huruf-huruf sihirnya berputar dengan amat cepat, menyampaikan pertanda kegentingan.

Helmwige dengan ekspresi wajah tegang segera melapor kepada Gasper.

“Vladi-san, gawat! —Kami mendeteksi adanya respons dari UL di daerah Kyoto!”

Dan dengan demikian, pertempuran melawan para UL kembali dimulai—.

—D×D—

Tempat aku, Gasper, Ex, Robertina, dan Helmwige berpindah menggunakan lingkaran sihir adalah di dalam gunung yang berada di perbatasan Prefektur Kyoto dan Shiga. Kami langsung melompat ke lokasi tempat respons UL terdeteksi. Anak-anak Ise yang tidak ada di sini sedang pergi membersihkan UL lainnya yang mengamuk di tempat lain.

Sambil melangkah menembus pegunungan yang rimbun oleh pepohonan, Ex bergumam pelan.

“...Incaran mereka adalah para youkai di Kyoto, dan...”

Aku menyambung perkataannya.

“Pasti klan pengguna kemampuan khusus yang ada di era ini, 'kan. Astaga, benar-benar keterlaluan. Di masa depan, apakah ada sosok kuat yang muncul dari youkai atau orang-orang yang terhubung dengan Lima Klan Utama?”

Gasper membuka suara.

“Dua-duanya memang benar... tapi selain itu, mungkin mereka berpikir ingin menghancurkan orang-orang yang berhubungan dengan Sekiryuutei selagi ada kesempatan di masa sekarang.”

Begitu rupanya, memang benar begitu tampaknya. Tempat yang kami tuju, jauh di dalam pegunungan ini, seharusnya memiliki salah satu gerbang menuju wilayah tempat tinggal para youkai—sisi lain Kyoto.

Sesuai dugaan, sebuah gerbang torii kuno memperlihatkan wujudnya di kedalaman gunung. Itu adalah gerbang menuju sisi lain Kyoto. Di sekitarnya, terdapat kelompok yang memancarkan atmosfer mengerikan. Itu adalah kawanan UL, prajurit bertubuh perak. Di tengah-tengah mereka, tampak sosok raksasa yang memancarkan tekanan luar biasa kuat—naga mekanik, Galvardan!

Lengan kiri yang seharusnya sudah dihancurkan oleh putra Xenovia—Zen beberapa hari lalu, kini mengeluarkan uap yang sangat pekat. Setelah uap itu mengelupas, yang tampak di sana adalah sebuah bor yang sangat tebal sebagai pengganti lengan kirinya. Dari mata bor yang jahat itu, aku tak bisa tidak merasakan sesuatu yang sangat mengerikan. Di punggungnya juga terpasang ransel perlengkapan yang tampaknya merupakan persenjataan baru.

Untunglah kami tiba sebelum mereka melewati gerbang. Jika kelompok brutal yang tidak jelas asal-usulnya ini mengamuk di sisi lain Kyoto, tidak bisa dibayangkan berapa besar kerugian yang akan ditimbulkannya.

Gasper yang diselimuti oleh aura yang tidak biasa, melangkah maju dengan gagah ke hadapan para UL. Menilik dari kualitas auranya yang tak terduga, potensi terpendam Gasper yang telah tumbuh dewasa ini sudah jauh melampaui aku, dan dia jelas merupakan kekuatan tempur terbesar di pihak kami.

Menyadari kemunculan Gasper, para UL serentak menoleh ke arah kami. Eksekutif musuh—Galvardan, saat melihat Gasper, matanya berbinar dengan kilatan yang aneh.

[Heh, rupanya sosok yang luar biasa dahsyat yang datang. Gasper Balor, kah?]

Gasper bersedekap tangan dan menatap tajam ke arah Galvardan sembari memancarkan aura yang mengintimidasi. Pada sosoknya yang sekarang, sama sekali tidak tersisa bayangan anak laki-laki pemalu di masa lalu. Luar biasa, dia telah tumbuh menjadi begitu tangguh. Aku sampai dibuat sedikit terharu olehnya.

Gasper bertanya kepada Galvardan.

“—Galvardan. Salah satu dari Invade Fanatics yang melayani Rezzo Roado. Mengapa kau berada di tempat seperti ini? Apakah kau berniat membahayakan mereka yang tinggal di Kyoto?”

[Yah, itu juga salah satu alasannya, tapi sejujurnya aku datang untuk mengambil benda ini.]

Sambil berkata demikian, Galvardan menjulurkan lengan kiri barunya—bor itu ke depan. Dengan suara yang membahayakan berbunyi gyuiiiiin, bor tersebut berputar dengan kecepatan tinggi.

[Invade Fanatics yang masih berada di seberang sana—Addoza, telah mengirimkan pengganti lengan dan senjata tambahan ini lebih dulu untukku. Si berengsek itu, bukannya mengirimkan suku cadangku, dia malah mengirimkan senjatanya sendiri lebih dulu… tapi yah, benda ini boleh juga. Hanya saja, tampaknya karena penghalang kuat yang tercipta di garis waktu ini, mengirimkan benda ini pun membutuhkan usaha ekstra…. Begitu ya, itu pasti gara-gara gangguan kalian, 'kan? Gara-gara itu, titik transfernya jadi sangat melenceng sampai-sampai terdampar ke tempat seperti ini.]

Jadi bor itu adalah suku cadang penguat yang dikirimkan dari masa depan oleh Invade Fanatics terakhir yang melayani Rezzo Roado. Dan tampaknya, berkat aksi para pejuang masa depan, Invade Fanatics terakhir itu hanya sanggup mengirimkan senjata tambahan saja dengan sekuat tenaga.

Lalu, dari percakapan tadi bisa disimpulkan bahwa alasan dia pergi ke Kyoto adalah karena titik transfer lengan cadangannya melenceng. Sekalian saja dia berniat menyerang sisi lain Kyoto di era ini.

Mesin roket di pinggang Galvardan menyemburkan api dengan hebat! Dia berniat melompat keluar! Aku dengan cepat melapisi seluruh area ini dengan penghalang. Karena aku ingin menekan kerusakan seminimal mungkin.

[Masa bodoh, 'lah! Maaf saja ya, tapi aku akan langsung melakukan uji coba benda ini! Dibandingkan saat pertama kali berteleportasi kemarin, kondisiku sudah membaik. Aku akan membalaskan dendam dari sana!]

Sambil memutar bornya dalam kecepatan tinggi, Galvardan menerjang lurus ke arah kami! Serangannya melaju lurus dari depan bagaikan satu tusukan tombak yang tajam. Akibat empasannya, pohon-pohon di sekitarnya tumbang dan tanah terkikis sangat dalam.

“Aku tidak akan mundur, iblis jahat!”

Ex menarik pedang crimsonnya dan menghadapi serangan itu secara terang-terangan! Dengan Galatine III Revised yang diselimuti sihir pemusnah, dia menahan gempuran dahsyat Galvardan dari depan, namun momentum dari lengan kiri yang baru itu begitu hebat hingga melontarkan Ex ke belakang!

Di sisinya, putri Ravel, Robertina, dihujani oleh peluru cahaya yang ditembakkan secara bersamaan oleh kawanan prajurit UL—namun berkat ciri khas Phoenix, dari bagian tubuhnya yang terlempar, api regenerasi membumbung tinggi dan mengembalikannya ke bentuk semula seolah tidak terjadi apa-apa.

“—Sia-sia saja, karena aku ini abadi.”

Begitu mengatakannya, Robertina menumbuhkan sayap api yang sangat besar di punggungnya dan membakar habis kawanan prajurit UL dalam sekejap!

“Kalau kroco-kroco ini, biarlah aku yang menjadi lawan kalian bersama-sama.”

Begitu pula putri Rossweisse, Helmwige, membentangkan lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya di depannya dan memunculkan tombak yang tak terhitung banyaknya dari sana. Tombak-tombak yang mengandung sihir dari berbagai elemen meluncur dari lingkaran sihir dan menembus beberapa UL. Pada saat tertembus, efek sihir yang disematkan langsung muncul, seperti terbakar atau membeku. Putri-putri ini dua-duanya sangat kuat, ya!

Aku pun melepaskan tombak cahaya dan membantai UL tanpa kesulitan. Masalah prajurit-prajurit itu pasti bisa diatasi. Yang jadi masalah adalah—aku mengalihkan pandangan ke arah Galvardan.

Tebasan Ex yang telah memperbaiki posisinya dan bor Galvardan saling beradu dengan sengit.

[Heh! Kekuatan ‘Pemusnah’ milikmu sudah kami perhitungkan! Program penghalang sekelas ini sudah kami persiapkan!]

Sesuai perkataannya, Galvardan dengan mudah menangkis pedang Ex yang diselimuti Kekuatan Pemusnah. Meskipun demikian, Ex tetap melancarkan serangan cepat yang tajam tanpa peduli. Namun, serangan Galvardan yang sudah pulih kondisinya kini jauh lebih tajam dari sebelumnya. Walaupun Ex berhasil menghindari semua serangan yang berpotensi fatal, kerusakan tetap menumpuk di tubuhnya.

Setelah mengambil jarak sejenak, Galvardan membungkukkan tubuhnya ke depan dalam posisi rendah. Persenjataan yang ada di ranselnya terbuka. Di dalamnya dimuati oleh rudal yang tak terhitung jumlahnya! Jumlah sebanyak itu bahaya! Gunung ini bisa hancur lebur!

[Hancur leburlah kalian semuaaaa!]

Tepat ketika rudal-rudal Galvardan diluncurkan dan melaju mengincar kami—.

……

Tiba-tiba, segalanya menjadi sunyi senyap. Suara pertempuran maupun suara deru rudal yang terbang lenyap seketika, seolah-olah waktu di tempat ini telah terhenti—.

Semua rudal yang diluncurkan berhenti di udara. Galvardan, begitu pula kawanan prajurit UL, semuanya terhenti. Aku mengenali fenomena ini!

Gasper melangkah maju sembari menyalakan kilatan pada kedua mata merahnya.

“Aku telah menghentikan waktu selain aku, Azazel-sensei, Ex, dan yang lainnya.”

Sesuai perkataan Gasper, di dalam dunia yang terhenti ini, hanya kami yang dapat bergerak. UL maupun pohon-pohon di gunung semuanya berada dalam kondisi terhenti.

Tidak hanya menghentikan dunia, tapi dia bahkan bisa membuat orang lain bergerak di dunia yang terhenti ini….

“Jika ada yang bisa bergerak di dunia terhenti ini tanpa izin dariku, mereka adalah sekelas dewa, makhluk transendental (Iblis Super), Maou Generasi Baru… dan Dua Naga Langit.”

Gasper berkata demikian.

Jika dia bisa melakukan hal seperti ini, bukankah di masa depan dia adalah salah satu yang terkuat?

Robertina bergumam pelan.

“—Aeon Tycoon (Penakluk Ruang dan Waktu), Vladi-ojiisama dikenal sebagai makhluk transendental dengan julukan tersebut.”

“Makhluk transendental? Gasper?” tanyaku kepada Robertina.

“Ya, di dunia iblis tiga puluh tahun mendatang, ada enam orang yang secara resmi diakui sebagai makhluk transendental. Milicas-ojisama, Ajuka Beelzebub-sama, dan Vladi-ojisama juga dihitung sebagai salah satu di antaranya.”

…Jika dia bisa menguasai waktu, tidak mengherankan jika dia masuk ke dalam ranah tersebut. …Namun, ‘diakui secara resmi’, ya. Apakah itu berarti ada juga yang tidak terdaftar secara resmi di masa depan?

“—Hanya sebatas inikah, Ex?”

Begitu mengatakannya, Gasper membentangkan dan memperluas bayangan—kegelapan dari bawah kakinya. Kegelapan itu bergerak seolah memiliki kehendaknya sendiri, membungkus rudal-rudal yang terhenti di udara, dan melenyapkan semuanya tanpa sisa.

Gasper berkata kepada Ex.

“Ex, di medan tempur yang telah kami lalui di masa lalu dihuni oleh monster-monster kejam yang jauh lebih mengerikan, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan ini, tahu?”

Gasper menunjuk ke arah Galvardan yang masih terhenti.

“Dengarkan baik-baik, Ex. Saat waktu kembali berjalan nanti, kau harus mengalahkan Galvardan. Aku tahu kau memiliki perasaan ganjal terhadap ayahmu. Tapi, hanya dengan meluapkan amarah secara liar tanpa arah, tidak akan menyelesaikan apa pun.”

Mungkin karena masalah ayahnya disentuh secara langsung, Ex melontarkan kata-kata yang penuh dorongan emosi.

“Aku tahu… aku tahu kok! Tapi, Vladi-san! Tidak, Gasper-ojisan! Orang itu… saat Asia-kaasan terbaring karena kutukan Loki pun, dia bahkan tidak memunculkan batangnya sama sekali, tahu?! Saat orang yang berharga baginya menjadi seperti itu, dia bahkan tidak datang untuk melihat wajahnya sama sekali!”

“Karena itulah kau tidak bisa memaafkannya?”

“……”

Terhadap pertanyaan Gasper, Ex hanya diam tanpa menjawab.

…Mungkin hal yang ingin ditanyakan Ex kepadaku adalah penilaianku terhadap ayahnya—Ise. Aku rasa ada konflik batin berupa rasa cinta dan benci khas remaja terhadap ayahnya.

Namun, tanpa ragu Gasper memberikan senyuman kepada Ex. Seolah mewakili perasaan yang baru saja kurasakan, Gasper berkata seperti ini.

“Kau pasti sudah tahu, Ex. Orang itu mencintai seluruh keluarganya, termasuk dirimu. Alasan dia tidak memperlihatkan wajahnya adalah karena pasti ada alasan lain di balik itu semua.”

“…Meskipun begitu, aku tetap…!”

“Jawabannya lambat laun akan kauketahui dengan sendirinya. Untuk saat ini, ubahlah perasaan itu menjadi kekuatan dan hentikan dia. Sebentar lagi, penghentian waktu ini akan kulepaskan. —Kalau kau adalah wadah yang mewarisi kekuatan dan kehendak Dua Naga Langit, menangkanlah pertempuran ini.”

“—!”

Ditegaskan secara gamblang seperti itu oleh Gasper, sesuatu tampak membara di dalam diri Ex.

Dan saat Gasper memetikkan jarinya, dunia kembali bergerak.

[……Ini….]

Galvardan sejenak terkejut oleh keanehan di mana rudal yang seharusnya diluncurkan telah melenyap seluruhnya, tetapi dia segera menyadari bahwa itu adalah perbuatan Gasper dan mengalihkan pandangannya ke sana.

Gasper berkata kepada Ex, “Kalau kau yang telah belajar dari semua orang kuat tak bisa menerobos kejadian sekelas ini, kau hanya akan jadi bahan tertawaan.”

Mata Galvardan menyala dengan warna yang membahayakan.

[Disebut ‘sekelas ini’, berani juga kau bicara ya. Ucapan seorang makhluk transendental memang beda.]

Terbakar oleh kata-kata Gasper, Ex melangkah maju dan menjulurkan gauntlet yang terpasang di lengan kirinya.

“Haah!”

Dengan satu teriakan penuh semangat dari Ex, aura crimsonnya langsung membengkak hebat. Ex memasang kuda-kuda dengan pedang crimsonnya.

“Aku sudah paham. Darah apa yang mengalir di tubuhku, dan dari siapa aku diajari kekuatan serta teknik ini. Aku paham betul artinya! Karena aku adalah Ex Gremory yang mewarisi ‘Crimson Sejati’!”

Aura crimson semakin membumbung tinggi, membungkus diri Ex—.

“—Balance Adjust!”

[Scarlet Dragon Counter Balance!!!!]

Bersamaan dengan teriakan dan suara sistematis, aura itu pecah dalam sekejap!

Yang muncul di sana adalah sosok Ex yang mengenakan pelindung tangan dan pelindung kaki berwarna crimson, serta armor ringan. Berbeda dengan plate armor milik Dua Naga Langit atau Airi, ini adalah light armor yang tampak mudah untuk bergerak. Di punggungnya tumbuh empat helai sayap naga merah, dan di tangannya tergenggam Scarlet Blade (Pedang Crimson) Galatine yang telah berubah bentuk menjadi lebih organik. Sebuah perubahan Sacred Gear yang berbeda baik dari ayahnya maupun kakaknya—.

Sambil memegang pedang yang diselimuti oleh kekuatan pemusnah yang sangat besar, Ex yang mengenakan aura naga raksasa di tubuhnya meraung dengan lantang.

“Boosted Gear Diabolos Counter Balance, Scarlet the Exctinct Blade (Pedang Pemusnah Naga Crimson)! Terimalah kekuatan yang memuat kekuatan serta kehendak Naga Langit dan teknik pedang suci-iblis ini, Galvardan!”

[Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade!!!!]

Suara penuh kekuatan bergema nyaring dari permata di gauntlet-nya. Di saat yang sama, aura crimson yang menyelimuti pedangnya bertambah besar.

Seketika itu juga, Ex melesat pergi dari tempatnya tanpa suara! Pada detik berikutnya, kilatan crimson melintas di dada Galvardan, dan bagian itu saja telah terkikis habis!

[Kuh!]

Meskipun Galvardan mencoba menyapu dengan tangannya, dia tidak mampu mengenai Ex. Di saat yang sama, Ex yang telah berubah menjadi kilatan crimson mengikis tubuh Galvardan dengan tebasan berkecepatan dewa!

Kecepatan yang bahkan tidak sanggup ditangkap oleh mata maupun hawa keberadaan. Apakah Ex menggabungkan pertempuran kecepatan tinggi milik gurunya, Vali dan Kiba, ke dalam Counter Balance tipe armor ringan ini?

Di sana, dia menumpukkan daya hancur dari kedua orangtuanya—kekuatan naga dan kekuatan pemusnah ke dalam pedangnya. Serangan Galvardan sudah tidak mampu lagi menangkap Ex.

Begitu ya, memang seperti yang dikatakan Gasper. Justru karena Ex telah belajar dari semua orang kuat, karena dialah generasi penerus, kekuatan ini diizinkan untuk ada—.

Simbol masa depan—itulah Ex Gremory!

[Jangan berlagak kauuu!]

Galvardan menyemburkan sinar laser yang sangat tebal dari mulutnya, namun hal itu pun berhasil ditebas dan dilenyapkan secara utuh oleh Ex menggunakan Galatine III Revised yang telah menyatu dengan Longinus buatan!

“Atas nama Keluarga Duke Gremory, kau pasti akan kukalahkan, Galvardan!”

Melihat sosok Ex yang memancarkan aura kebangsawanan di dalam keberaniannya, aku melihat bayangan dari seseorang pada dirinya—.

Pertempuran kecepatan tinggi yang tidak dapat ditangkap oleh mata—kilatan crimson yang dihasilkan oleh pedang Ex melintas berulang kali di kedalaman hutan.

[Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade Boost Blade!!!!]

Pada akhirnya, tebasan Ex membelah dua bor di lengan kiri Galvardan, dan lewat tebasan beruntun berikutnya, lengan kanan serta kedua kakinya pun ikut terpotong!

Kehilangan kedua lengan dan kakinya, tubuh raksasa itu ambruk terjerembap ke tanah!

Gasper tidak melewatkan kesempatan itu dan memberi perintah kepada kedua bawahannya.

“Sekarang, Robertina, Helmwige! Kita kirim kembali Galvardan ke dunia asalnya! Ikuti aku!”

““Baik!””

Gasper, Robertina, dan Helmwige secara bersamaan membentangkan lingkaran sihir yang tampak seperti perpindahan waktu. Itu adalah lingkaran sihir dengan skala yang cukup besar untuk membungkus seluruh tubuh Galvardan. Lingkaran sihir itu semakin memancarkan cahaya yang kuat, tetapi Galvardan berusaha melawan.

[Mana sudi aku dikalahkan begitu saja!]

Dia mencoba kabur dengan menyemburkan roket di pinggangnya—.

“—Tidak akan kubiarkan.”

Dua tombak cahaya raksasa yang aku lepaskan menghancurkan mesin roket yang terpasang di kedua sisi pinggangnya. Galvardan yang kehilangan sarana untuk melarikan diri akhirnya terbungkus oleh cahaya teleportasi—.

[Ooooooooo! Sialaaannnnn!]

Sambil melontarkan raungan penuh kebencian, dia lenyap ditelan oleh kilauan lingkaran sihir—.

Melihat Ex yang bertarung dengan gagah berani sembari menyelimuti dirinya dengan aura crimson, Gasper berkata dengan penuh rasa bangga.

“Ise-senpai dan majikanku, Rias-sama, pernah berkata, —Ex benar-benar sangat mirip dengan Sirzechs-sama.”

Ya, benar sekali. Bayangan yang baru saja aku rasakan dari Ex memang adalah Sirzechs—.

 

Kami telah memastikan kehancuran total Galvardan beserta UL bawahannya…. Kerusakan di hutan memang lumayan parah, tapi yah, nanti akan aku urus bagaimanapun caranya.

Namun, berhasil mengirim balik Galvardan ke masa depan adalah pencapaian yang besar. Tampaknya para pejuang masa depan juga bertarung mati-matian untuk menghentikan bantuan musuh, jadi dengan ini musuh yang tersisa mungkin hanya Loki dan Ruma Ydora.

Namun, tanpa ada waktu untuk bernapas lega, laporan itu langsung masuk.

“…Tidak mungkin!”

Di lingkaran sihir komunikasi kecil yang terbentang di dekat telinga Robertina, sebuah informasi yang mengejutkan telah diterima.

“Vladi-ojisama! Gubernur Jenderal Generasi Pertama-sama! Pesan dari Zen-oniisama telah tiba! Ruma Ydora dari Invade Fanatics dan Dewa Jahat Loki—saat ini sedang menyerang Rias-okaasama dan Klub Penelitian Ilmu Gaib!”

……! Di saat kekuatan kami sedang terpecah, kau malah melakukan itu, Loki! Apakah kau jadi nekat karena terus-menerus dihalangi?!

Tidak, apakah tindakan menjadikan Galvardan sebagai umpan ini juga bagian dari rencananya?!

—Pertempuran kini bergerak menuju puncaknya!

 

[1] Shihan (師範) adalah istilah Jepang yang digunakan dalam banyak seni bela diri Jepang sebagai gelar kehormatan untuk instruktur ahli atau senior. Istilah ini dapat diterjemahkan sebagai “instruktur utama”.

Post a Comment

0 Comments