High School D×D 1 Life.4
Life.4 Aku Menyelamatkan Temanku!
Plak!
Suara nyaring bergema di ruang klub. Sumber suara itu berasal dari pipiku.
Aku ditampar. Buchou menampar pipiku.
Raut wajahnya tampak sangat tajam.
“Berapa kali harus kukatakan baru kau mengerti? Tidak boleh, tetap tidak boleh. Aku tak bisa mengizinkan penyelamatan Sister itu.”
Aku mengunjungi sekolah setelah tak bisa menyelamatkan Asia dan melaporkan seluruh ceritanya kepada Buchou. Bahkan setelah aku melaporkan apa yang terjadi, aku mengusulkan untuk pergi ke gereja tersebut.
Tentu saja, demi menyelamatkan Asia. Namun, Buchou bilang dia tak akan terlibat dalam urusan itu. Aku yang tak terima, mendesak Buchou tanpa peduli kesopanan. Hingga akhirnya, aku ditampar.
Tamparan untuk pertama kalinya ini terasa lebih sakit dari perkiraan. Terutama hatiku. Sebab, aku terus menyuarakan hal yang mengkhianati Buchou yang selama ini sangat berharap padaku. Meskipun demikian, ada hal yang tetap tak bisa kukompromikan.
“Kalau begitu, aku akan pergi sendiri. Aku khawatir dengan ritual itu. Para malaikat jatuh sedang merencanakan sesuatu dari balik layar. Sama sekali tak ada jaminan bahwa keselamatan Asia tidak akan terancam.”
“Apa kau benar-benar bodoh? Kau pasti akan dibunuh kalau kau pergi. Kau takkan bisa hidup lagi. Apa kau mengerti itu?”
Buchou berlagak tenang sambil berbicara padaku seolah ingin menasihati.
“Tindakanmu akan memberikan dampak yang sangat besar bagiku dan anggota klub lainnya! Kau adalah iblis dari grup Gremory! Sadarilah hal itu!”
“Kalau begitu, aku keluar dari grup ini. Aku akan pergi ke sana sendirian.”
“Aku tak bisa melakukan itu! Kenapa, sih, kau tidak mengerti juga?”
Kupikir ini adalah pertama kalinya aku melihat Buchou semurka ini. Aku telah menyebabkan banyak masalah bagi Buchou. Tetap saja, aku tak boleh menyerah. Karena—.
“Aku sudah berteman dengan Asia Argento. Asia adalah teman yang berharga bagiku. Aku tak bisa meninggalkannya!”
“…Itu adalah hal yang mulia. Kurasa itu luar biasa kalau kau bisa mengatakannya dengan lantang. Tapi, kenyataan tidak sesederhana itu. Hubungan antara iblis dan malaikat jatuh tidak sesederhana seperti yang kaubayangkan. Kedua belah kubu sudah saling bersitegang selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Kalau memperlihatkan celah sedikit saja, kita akan dibunuh. Karena mereka adalah musuh.”
“Bukankah melenyapkan musuh cara Gremory menangani masalah?”
“……”
Kami saling melotot.
Aku tidak mundur. Aku menatap langsung ke matanya.
“Gadis itu pada dasarnya adalah pihak Tuhan. Dia adalah keberadaan yang tak pernah bisa hidup berdampingan dengan kita. Meskipun dia telah tunduk kepada malaikat jatuh, kenyataan bahwa dia masih musuh kita para iblis tetap tidak akan berubah.”
“Asia bukan musuh!”
Aku menyangkalnya dengan keras. Gadis sebaik dia mana mungkin seorang musuh!
“Sekalipun bukan, dia tak ada hubungannya dengan kita. Ise, kau harus melupakannya.”
Meskipun dikatakan begitu, mustahil aku bisa melupakannya!
Tiba-tiba, Akeno-san mendekati dan berbisik ke telinga Buchou.
Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Raut wajah Akeno-san juga tampak serius. Tapi sepertinya itu bukan mengenai perdebatan antara aku dan Buchou.
Setelah mendengarkan laporan Akeno-san, raut wajah Buchou menjadi jauh lebih serius.
Sepertinya memang telah terjadi sesuatu.
Buchou melirikku sekilas, lalu beralih memandang seluruh anggota yang tersisa.
“Ada urusan penting yang harus diselesaikan. Aku dan Akeno akan pergi keluar sebentar.”
—!
Y-yang benar saja!
“B-Buchou! Pembicaraan kita belum selesai—”
Seakan memotong perkataanku, Buchou menempelkan jari telunjuknya di bibirku.
“Ise, ada beberapa hal yang ingin kujelaskan padamu. Pertama, apakah kau menganggap Pawn sebagai bidak yang lemah? Bagaimana?”
Aku mengiyakan pertanyaan Buchou secara diam-diam lalu mengangguk.
“Itu salah besar. Pawn memiliki kemampuan spesial yang tidak dimiliki bidak lain. Kemampuan itu adalah Promotion.”
Promotion? Apa itu?
“Sama halnya permainan catur sungguhan, Pawn bisa promosi ketika berhasil melangkah hingga bagian terdalam dari wilayah lawan. Ia dapat promosi menjadi setiap bidak lain selain bidak King. Ise, saat kau melangkahkan kaki ke tempat paling penting di lokasi yang kuakui sebagai ‘wilayah lawan’, kau bisa berubah menjadi bidak apa pun selain King.”
Wow! Jadi, aku bisa promosi ke bidak Knight seperti Kiba, bidak Rook seperti Koneko-chan, dan juga bidak Queen seperti Akeno-san!?
“Karena belum lama sejak kau menjadi iblis, masih ada pembatasan, jadi masih mustahil bagimu untuk dipromosikan menjadi bidak terkuat, Queen. Tapi, kau bisa berubah menjadi bidak selain itu. Kalau kau memohonkan Promotion dengan kuat di dalam hatimu, maka akan ada perubahan dalam kemampuanmu.”
Menakjubkan! Hanya mendengarkan itu memberiku banyak informasi!
Kalau aku menambahkan promosi dengan Sacred Gear, maka aku mungkin bisa menghajar pastor itu!
“Satu hal lagi. Ini mengenai Sacred Gear. Kalau kau menggunakan Sacred Gear-mu, ingatlah baik-baik hal ini.”
Buchou mulai membelai pipiku dengan tangannya.
“—Perlihatkan perasaanmu. Sacred Gear akan bergerak dengan kekuatan perasaan. Dan kekuatan itu pun ditentukan olehnya. Walaupun kau seorang iblis, kekuatan perasaanmu tidak akan padam. Semakin kuat perasaan itu, semakin kuat Sacred Gear akan meresponsnya.”
—Perasaan.
Kekuatan perasaan yang menggerakkan Sacred Gear….
Begitu rupanya, kalau keinginanku kuat, benda ini akan mau bergerak untukku.
“Ada satu hal terakhir yang tak boleh dilupakan, Ise. Pawn pun dapat mengalahkan King. Ini adalah dasar dalam catur. Kebenaran ini juga berlaku untuk bidak catur iblis. Kau bisa menjadi lebih kuat.”
Setelah mengatakan itu, dia berteleportasi ke tempat lain melalui lingkaran sihir bersama Akeno-san.
Yang tersisa di ruang klub hanyalah aku, Kiba, dan Koneko-chan. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku sudah bertekad untuk pergi dari tempat tersebut.
“Hyoudou-kun.”
Kiba memanggilku.
“Apa kau tetap akan pergi?”
“Ya, tentu saja. Aku harus pergi. Asia adalah temanku. Akulah yang harus menyelamatkannya.”
“…Kau bisa terbunuh, tahu? Meskipun kau memiliki Sacred Gear, atau menggunakan Promotion, kau tak bisa mengalahkan sekelompok eksorsis dan malaikat jatuh sendirian.”
Itu adalah argumen yang masuk akal. Aku tahu hal itu. Aku sangat memahaminya.
“Meskipun begitu, aku tetap akan pergi. Biarpun harus mati, setidaknya aku akan membebaskan Asia.”
“Aku ingin memuji tekadmu yang bagus itu, tapi bagaimanapun juga ini adalah hal yang nekat.”
“Kalau begitu, aku harus bagaimana!?”
Aku berteriak padanya, tapi dia berkata dengan sangat tegas.
“Aku juga akan pergi.”
“A….”
Aku kehilangan kata-kata sejenak atas perkataan Kiba yang di luar perkiraan.
Tentu saja. Perkataannya benar-benar bertolak belakang dengan apa yang kubayangkan.
“Aku memang tidak begitu mengenal Asia-san, tetapi kau adalah rekanku. Meskipun Buchou berkata demikian, ada bagian dari diriku yang ingin menghormati kehendakmu. Lagi pula, secara pribadi aku tidak menyukai malaikat jatuh maupun pastor. Bahkan sampai pada taraf membencinya.”
…Orang ini mungkin memiliki masa lalu tersendiri.
Tapi mendengar kata rekan darinya….
“Bukankah Buchou juga sudah mengatakannya? ‘Saat kau melangkahkan kaki ke tempat paling penting di lokasi yang kuakui sebagai wilayah lawan, kau bisa berubah menjadi bidak apa pun selain King’. Bukankah secara tidak langsung ini berarti 'Aku telah mengakui gereja tersebut sebagai wilayah lawan yang ditempati oleh musuh Rias Gremory'?”
“Ah.”
Aku baru menyadarinya.
Begitu rupanya, ternyata maksudnya demikian.
Itu sebabnya dia menjelaskan informasi tentang Promotion.
“Secara tidak langsung Buchou telah mengizinkanmu untuk pergi. Tentu saja, aku rasa hal itu juga bermakna agar aku memberikan dukungan padamu. Sepertinya Buchou memiliki pertimbangan tersendiri. Jika tidak, dia pasti akan mengurungmu untuk menghentikanmu.”
Kiba tersenyum getir.
…Buchou, makasih banyak!
Sekali lagi aku terharu oleh kebaikan hati Buchou, dan bersyukur dari lubuk hati yang paling dalam. Begitu kembali dengan selamat, aku akan bekerja sangat keras!
Aku berterima kasih pada Buchou yang tak ada di sini secara diam-diam, gadis bertubuh kecil melangkah maju.
“…Aku juga akan pergi.”
“Ap-, Koneko-chan?”
“…Aku merasa tidak enak kalau cuma membiarkan kalian berdua pergi.”
Koneko-chaaaaaaaan! Meskipun ekspresinya datar dan tidak diketahui apa yang sedang dipikirkannya, aku merasa dapat menyentuh kebaikan hati yang tersembunyi di dalam dirinya!
“Aku tersentuh! Aaku sangat tersentuh, Koneko-chan!”
Aku menjadi emosional atas penawaran gadis itu.
“H-huh? T-tapi aku juga pergi…?”
Kiba yang terabaikan tampak tersenyum canggung karena merasa kesepian. Aku tahu kok, Kiba. Terima kasih.
Aku berpikir bahwa si tampan yang sedang kebingungan ternyata terasa sedikit lucu juga.
Baiklah! Kalau begini pasti bisa! Kita bisa melakukannya!
“Kalau begitu, mari kita bertiga memulai misi ini! Tunggu kami, Asia!”
Dengan begini, kami bertiga mulai bergerak menuju ke gereja.
—D×D—
Langit sudah gelap, dan cahaya lampu jalanan kini menerangi jalanan.
Aku, Kiba, dan Koneko-chan mengamati situasi dari posisi tempat gereja terlihat.
Tak ada orang yang keluar-masuk.
Namun, semakin mendekat, semakin rasa merinding menjalar. Keringat dingin yang tidak menyenangkan bermunculan di sekujur tubuh.
Saat kutanyakan pada Kiba, dia berkata, “Melihat dari hawa keberadaan ini, sudah dipastikan kalau malaikat jatuh ada di dalam.”
Begitu rupanya, bosnya ada di sana, ya.
“Ini denahnya.”
Kiba menggelar sesuatu seperti denah bangunan di permukaan jalan. Denah gereja. Dari mana dia mendapatkan ini…?
“Yah, ini 'kan teori dasar saat menyerbu wilayah lawan.”
Cowok tampan itu tersenyum ramah.
Oh, dukungan yang sangat teliti. Aku bahkan berniat menerobos masuk tanpa persiapan seperti itu, tahu. Sekali lagi aku bungkam menghadapi kepolosan diriku sendiri.
“Selain panti imam, ada juga asrama. Yang mencurigakan kemungkinan panti imam, ya.”
Kiba menunjuk panti imam pada gambar.
“Artinya asrama bisa diabaikan?”
“Kemungkinan besar begitu. Organisasi eksorsis liar semacam ini pasti akan memasang sesuatu di panti imam. Mereka biasa melakukan ritual mencurigakan di bawah tanah panti imam.”
“Kenapa?”
Aku menyuarakan keraguanku. Kiba tersenyum getir.
“Di tempat kudus yang selama ini dihormati, dengan melakukan tindakan yang memungkiri Tuhan di sana, mereka mendapatkan kepuasan pribadi dan mabuk akan penghinaan terhadap Tuhan. Justru karena dulu mencintainya, justru karena telah dibuang, mereka sengaja melakukan mantra jahat di bawah tanah panti imam dengan menyertakan makna kebencian.”
Gila juga. Tidak, mungkin Tuhan yang membuang penganut yang telah menghormati-Nya dengan sekuat tenaga juga ada buruknya di suatu tempat. Saat ini aku sedang benci Tuhan gara-gara urusan Asia, sih. Makanya aku berpikir begitu.
“Jarak dari pintu masuk ke panti imam sangat dekat. Kurasa kita bisa langsung mencapainya sekaligus. Masalahnya adalah setelah masuk ke dalam panti imam, mencari pintu masuk ke bawah tanah, serta apakah kita sanggup mengalahkan pembunuh bayaran yang kemungkinan sudah menunggu.”
Pembunuh bayaran…. Saat mendengar hal itu, aku merasakan firasat buruk.
Sambil diterangi cahaya bulan, kami saling bertatapan di pintu masuk gereja lalu saling mengangguk. Tekad sudah bulat! Sisanya tinggal menerobos masuk!
Asia, tunggulah!
Melintasi pintu masuk, kami berlari kencang menuju panti imam sekaligus. Katanya pada titik ini, malaikat jatuh sudah menyadari kalau kami menerobos masuk. Itu artinya pihak lawan sudah menyadari penyusupan kami. Tak ada lagi jalan untuk mundur. Hanya bisa maju ke depan!
Dengan penuh semangat kami membuka lebar-lebar pintu ganda tersebut, lalu melangkahkan kaki ke dalam panti imam. Bangku-bangku panjang dan altar. Dilihat dari penampilannya, ini panti imam yang biasa. Cahaya lilin dan cahaya lampu listrik menerangi bagian dalam.
…Tunggu, ada juga bagian yang tidak wajar. Patung orang suci yang disalibkan di kayu salib. Bagian kepala dari patung itu telah dihancurkan. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.
Prok, Prok, Prok, Prok.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema di dalam panti imam. Sosok seperti pastor muncul dari balik bayangan pilar. Melihat wajah orang itu, perasaanku langsung mual.
“Tatap muka secara langsung! Reuni kembali, ya! Sungguh mengharukan!”
Si pastor berengsek berambut putih itu! Kalau tidak salah namanya Freed, ya? Orang itu. Jadi dialah yang dimaksud pembunuh bayaran. Seperti biasa, dia menunjukkan senyuman yang main-main.
“Bagiku pribadi, enggak ada yang namanya ketemu iblis dua kali! Soalnya, aku ini sangat amat kuat, jadi kalau ketemu iblis pertama kali ya langsung memotong mereka! Sekali ketemu langsung dibantai di tempat! Cium mayatnya terus bilang goodbye! Itulah jalan hidupku! Tapi gara-gara kalian mengganggu, pendirianku jadi kacau balau tak tentu arah! Jangan begitu dong~. Enggak boleh mengganggu rancangan hidupku dong~! Makanya! Aku jadi emosi! Aku berpikir sebaiknya kalian mati saja! Lagian, mati saja sana! Dasar iblis sampaaaaaaaaaaah!”
Setelah memperlihatkan semua emosi sekaligus, pastor itu langsung murka secara drastis. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan pistol yang waktu itu dan pedang yang hanya berupa gagang.
Vzzzt. Bilah cahaya pun muncul. Kalau ditebas dengan itu bakal merepotkan. Peluru pistolnya juga gawat. Tapi, kali ini kami berbeda dengan waktu itu. Tiga lawan satu.
“Kalian datang buat menyelamatkan Asia-tan, 'kan? Hahaha! Menyelamatkan cewek jalang yang bahkan menyelamatkan iblis semacam itu, betapa luasnya hati para iblis-sama sekalian! Lagian, pada saat terpikat oleh iblis, Sister berengsek itu mending mati saja, 'kan!”
Mati? Apa maksudnya itu!?
“Oi! Di mana Asia!?”
“Hmm, di bawah altar sana ada tangga menuju bawah tanah yang tersembunyi. Dari sana kalian bisa pergi ke tempat ritual di mana ritual sedang dilaksanakan.”
Sambil menunjuk ke arah altar, tanpa ragu dia membocorkan tempat tersembunyi di bawah tanah. Orang ini sadar tidak sih kalau dia itu pembunuh bayaran? Atau, pembocoran ini timbul dari rasa percaya dirinya bahwa tidak masalah memberi tahu pun karena dia bakal membunuh kami.
“Sacred Gear!”
Merespons teriakanku, gauntlet merah terpasang di lengan kiriku. Pemasangan Sacred Gear selesai! Sip! Kiba juga mencabut pedang dari sarungnya, dan Koneko-chan—.
Hau! Mataku sampai melotot karena sangat terkejut.
Gubrakkk…
Koneko-chan mengangkat bangku panjang yang ukurannya berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri.
“…Hancur sana.”
Wuuuuut!
Koneko-chan melemparkan bangku panjang itu ke arah si pastor! Gadis berkekuatan super, metode serangan yang luar biasa melenceng dari standar apa-apaan itu!
“Woah! Jangan berlagak sok keren!”
Sambil melompat kecil, pastor itu menebas bangku panjang yang dilemparkan hingga terbelah dua dalam satu tebasan menggunakan pedang cahayanya. Bangku panjang yang terbelah dua itu terempas ke lantai.
“Di sana.”
Sret! Saat kupikir Kiba telah melompat, ternyata dia sudah menghilang. Kecepatannya bahkan tak dapat dikejar oleh mata!
Tring! Pedang Kiba dan pedang cahaya si pastor memercikkan bunga api. Meskipun berupa cahaya, apakah tingkat kekerasan diciptakan di sana? Karena saat Kiba menebas lurus dari depan menggunakan pedangnya, suara benturan logam tetap terdengar.
“Ngh! Ngh! Ganggu banget! Sok keren banget! Kenapa sih kalian itu resek banget! Benar-benar yang terburuk! Maaf ya pakai bahasa gaul jadul! Minta maafnya pas sudah mati nanti, ya!”
Sambil menghindar dari peluru pistol yang ditembakkan tanpa suara menggunakan kakinya, Kiba tidak menghentikan serangan ke arah lawan. Kiba sungguh luar biasa karena bisa menghindari semua serangan si pastor. Tapi, si pastor bajingan yang sanggup meladeni iblis secara seimbang itu juga cukup hebat.
Uwah, dia berhasil menahan tebasan Kiba lagi!
Mataku tak sanggup menangkap gerakan Kiba secara utuh, tapi pastor itu sanggup menangkapnya. Apakah itu artinya si pastor berengsek itu bukanlah lawan yang bisa kuatasi sendirian?
Kiba dan si pastor akhirnya saling mengunci pedang. Keduanya saling menatap tajam.
“Boleh juga. Kau lumayan kuat, ya.”
“Ahaha! Kau juga boleh juga! Knight, ya!? Gerakan tanpa celah! Sungguh luar biasa! Nah, nah, ini dia! Belakangan ini aku enggak pernah merasakan pertarungan sebagus ini, tahu! Padahal aku baru mau menangis sedikit, lho! Ngh! Ngh! Bakal kubunuh kau!”
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku mulai sedikit serius?”
Kiba mulai serius? Apa yang berniat dia lakukan?
“Rasakan ini.”
Nada suara yang rendah. Nada itu memiliki tekanan luar biasa yang tak disangka bisa keluar dari mulut Kiba yang biasanya ramah itu.
Dalam sekejap, sesuatu yang kabur dan hitam muncul dari pedang Kiba. Hal itu mulai menyelimuti seluruh pedangnya.
—Kegelapan.
Jika harus digambarkan, itulah kata yang tepat. Kegelapan menyelimuti pedang Kiba. Tidak, kegelapan menjadi pedang Kiba. Pedang kegelapan itu merentangkan kegelapan ke arah pedang cahaya si pastor yang sedang terkunci dengannya, lalu mulai menggerogotinya.
“A-apa-apaan ini!?” Pastor itu tampak terkejut.
“—Holy Eraser (Pedang Pelahap Cahaya), pedang kegelapan pemangsa cahaya.”
“K-kau juga pemilik Sacred Gear!?”
Sacred Gear! Kiba juga punya!?
Pedang kegelapan itu kerennya kebangetan!
Sialan! Cowok tampan itu bahkan punya senjata yang keren juga, ya!?
Pedang cahaya milik si pastor habis dilahap oleh pedang Kiba hingga kehilangan cahayanya, sampai-sampai tidak sanggup lagi membentuk bilah pedang.
Sekarang! Inilah kesempatanku! Aku berlari kencang!
“Sacred Gear! Aktifkaaaaan!”
[Boost!!]
Suara muncul dari permata, dan kekuatan mengalir deras ke dalam tubuhku! Targetnya adalah si pastor berengsek! Pastor itu menyadari gerakanku.
“Makanyaaaaa! Jangan berlagak sok keren!”
Dia mengarahkan moncong senjata yang diisi oleh peluru cahaya ke arah sini. Tanpa suara, peluru cahaya ditembakkan.
Sekarang!
“Promotion! Rook!”
Bashiin! Peluru cahaya itu tidak sanggup menembus tubuhku dan kembali menjadi ketiadaan.
“—! Promotion!? Kau Pawn!?”
Pastor itu tampak sangat terkejut.
Ya, aku adalah Pawn! Bidak Pawn yang akan memukulmu sampai hancur!
“Karakteristik Rook! Pertahanan super dan—!”
Tinju kiriku menancap di wajah si pastor. Begitulah pikirku, tetapi sensasi keras tertinggal di kepalan tanganku. Tapi tanpa peduli, aku melontarkannya sekaligus hingga dia terpental! Pastor itu terempas jauh ke belakang!
“Daya hancur serangan yang luar biasa.”
Sambil tersengal-sengal, aku tertawa.
“Itu balasan karena memukul Asia waktu itu. Bisa mendaratkan satu pukulan membuat perasaanku merasa lega.”
Meskipun pastor itu roboh, setelah meludahkan darah dari mulutnya ke lantai, dia mulai berdiri dengan sempoyongan. Pipi kanannya membengkak.
Hanya segini saja? Meskipun aku mencoba Promotion menjadi Rook, artinya aku belum memiliki daya hancur serangan seperti Koneko-chan. Tidak, jika dilihat baik-baik, pedang tanpa bilah milik pastor itu telah hancur berantakan. Apakah tepat sebelum menerima pukulan, dia menggunakannya sebagai perisai? Sensasi keras tadi adalah benda itu, ya? Kecepatan reaksi macam apa itu.
“…Ngh. …Oh, selain dipukul sama iblis sampah, dia juga mengucapkan omong kosong aneh padaku… —Jangan becanda,” teriak pastor itu dengan penuh amarah.
“Jangan main-main!! Bajingaaaaaan! Iblis seharusnya jangan bersikap sombong dengankuuuu! Aku akan membunuhmu! Pasti! Aku pasti akan membunuhmu! Aku akan mencincangmu, sialaaaaaaan!”
Pastor itu mengeluarkan pedang tanpa bilah yang kedua dari balik pakaiannya. Masih ada lagi!? Punya berapa banyak sih dia!?
Namun, aku, Kiba, dan Koneko-chan berdiri mengelilingi pastor tersebut. Sadar akan hal itu, si pastor memandang sekelilingnya. Dia mulai tersenyum getir.
“Oho. Jangan-jangan ini situasi yang dinamakan gawat, ya? Ngh, berhubung dari sudut pandangku dibunuh sama iblis itu adalah hal tabu, sebaiknya aku kabur saja. Ada rasa mengganjal karena enggak bisa membasmi kalian sih, tapi aku enggak mau mati dong!”
Tepat saat kukira pastor itu mengeluarkan benda bulat dari balik pakaiannya, dia mengempaskannya ke lantai.
Seketika, cahaya menyilaukan menyerang mata kami.
Sial! Pengalihan penglihatan!?
Saat penglihatanku telah pulih, aku memandang sekeliling dengan mata setengah terbuka, tetapi sosok pastor itu sudah tidak ada. Lalu, hanya suara si pastor yang terdengar dari suatu tempat.
“Oi. Iblis di sana… Ise-kun, 'kan? Sejujurnya, aku mulai menyukaimu. Jadi, pasti bakal kubunuh. Pasti, tahu? Iblis sampah yang berani mukul terus menceramahiku takkan pernah kumaafkan, tahu? Kalau begitu, bye-bye.”
Pandanganku pulih sepenuhnya, dan saat memandang sekeliling sekali lagi, bayangan maupun sosok si pastor sudah tidak ada.
…Dia kabur. Bahkan meninggalkan kata-kata gertakan lagi….
Meskipun berpikir begitu, aku tidak boleh terus berurusan dengan pastor itu. Aku, Kiba, dan Koneko-chan saling mengangguk, lalu melangkah menuju tangga tersembunyi di altar.
—D×D—
Kami bertiga menuruni tangga menuju bawah tanah yang ada di bawah altar. Sepertinya aliran listrik sampai ke bawah tanah. Kiba berada di depan dan memimpin jalan.
Setelah menuruni tangga, hanya ada satu jalan yang membentang ke dalam. Di kedua sisi dinding terkadang ada pintu, tapi apakah ini ruang bawah tanah?
Koneko-chan menunjuk ke dalam sambil berkata, “…Mungkin di ujung jalan ini…. Karena bau orang itu tercium dari sana….”
Asia ada di dalam, ya. Tentu saja semangatku makin membara.
Tunggulah, Asia. Sebentar lagi!
Saat melangkah ke dalam, pintu besar muncul.
“Yang itu, ya?”
“Kemungkinan besar di dalam ada kelompok besar malaikat jatuh dan eksorsis. Kalian siap?”
Mendengar perkataan Kiba, aku dan Koneko-chan mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu, pintunya—”
Saat aku dan Kiba hendak membuka pintu lebar-lebar, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Sambil mengeluarkan suara berat, bagian dalam tempat yang dinamakan ruang ritual itu mulai terlihat.
“Selamat datang. Para iblis sekalian.”
Malaikat Jatuh Reynare menyapa dari dalam ruangan.
Ruangan itu dipenuhi oleh para pastor. Semuanya memegang pedang yang memancarkan bilah cahaya di tangan mereka.
Melihat gadis yang disalibkan pada salib di bagian dalam, aku berteriak, “Asiaaaaa!”
Mendengar suaraku, Asia mengarahkan wajahnya ke arah sini.
“…Ise-san?”
“Ya, aku datang untuk menyelamatkanmu!”
Saat aku tersenyum padanya, air mata mengalir dari matanya.
“Ise-san….”
“Reuni yang mengharukan, tapi kalian terlambat. Sekarang, ritualnya hampir selesai.”
Ritualnya hampir selesai? Apa maksudnya—
Tiba-tiba, tubuh Asia mulai memancarkan cahaya.
“…Aaaah, tidaaaaaaaaaaaak!”
Asia menjerit keras. Tampak sangat menderita.
“Asia!”
Saat aku berniat berlari mendekat, para pastor mengepungku.
“Tidak akan kubiarkan kalian mengganggu!”
“Dasar iblis! Akan kubasmi kalian!”
“Minggir! Para pastor berengsek! Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian!”
Brak! Suara keras terdengar. Saat kulihat, Koneko-chan telah mementalkan salah satu pastor.
“…Jangan sentuh aku.”
Kiba juga mencabut pedang kegelapan.
“Bagaimana kalau aku mulai dari tingkat maksimal sejak awal? Soalnya aku benci pastor. Karena ada sebanyak ini, aku tidak akan sungkan-sungkan membuat kegelapan melahap cahaya kalian.”
Mata Kiba tampak tajam, dan niat yang dingin dapat dirasakan dari dirinya. Pedang kegelapan memancarkan hawa membunuh yang hitam pekat. Ini adalah pertempuran habis-habisan.
“Tidaaaaaak….”
Sementara hal itu terjadi, cahaya besar melompat keluar dari tubuh Asia. Reynare menangkap cahaya itu dengan tangannya.
“Ini dia, ini dia! Inilah kekuatan yang bertahun-tahun kuinginkan! Sacred Gear! Asal ada ini, aku bisa mendapatkan kasih sayang!”
Dengan ekspresi yang dihiasi oleh kegilaan, Reynare memeluk cahaya besar itu. Seketika, cahaya menyilaukan membungkus ruang ritual.
Saat cahaya itu mereda, malaikat jatuh yang memancarkan cahaya hijau dari sekujur tubuhnya berdiri di sana.
“Ufufu. Ahahahahaha! Akhirnya berhasil kudapatkan! Kekuatan tertinggi! Dengan ini, dengan ini aku bisa menjadi malaikat jatuh yang tertinggi! Aku bisa membalas orang-orang yang telah meremehkanku!”
Malaikat jatuh itu tertawa terbahak-bahak. Tanpa memikirkannya, aku berlari ke arah Asia. Para pastor berdiri menghalangi jalan agar aku tidak bisa pergi, tetapi Kiba dan Koneko-chan memberikan dukungan dengan mengalahkan mereka.
Pedang Kiba melahap bilah cahaya milik pastor, dan pastor yang kehilangan senjatanya ditumbangkan oleh Koneko-chan dengan satu pukulan berkekuatan super. Kombinasi itu luar biasa, menandakan bahwa kerja sama mereka berdua bukanlah sesuatu yang dibangun hanya dalam satu atau dua hari.
“Terima kasih! Kalian berdua!”
Asia yang disalibkan. Tampak terkulai lemas. Tidak, dia pasti masih baik-baik saja! Aku melepaskan alat pengikat di tangan dan kakinya, lalu memeluknya.
“…I-Ise-san….”
“Asia, aku datang untuk menjemputmu.”
“……Ya.”
Suaranya saat menjawab sangat pelan, dan tidak memancarkan hawa kehidupan.
Hei, hei! Harusnya dia masih baik-baik saja, 'kan? Hanya gara-gara hal begini….
“Sia-sia saja.”
Reynare memperlihatkan senyum ejekan seakan kembali memungkiri perasaanku.
“Orang yang Sacred Gear-nya dicabut tidak punya pilihan selain mati. Gadis itu akan mati, tahu.”
“—! Kalau begitu, kembalikan Sacred Gear-nya!”
Aku berteriak, tapi malaikat jatuh itu hanya tertawa.
“Mana mungkin kukembalikan. Demi mendapatkan ini, aku bahkan menipu atasan untuk menjalankan rencana ini, tahu? Aku juga akan membunuh kalian agar tidak meninggalkan bukti.”
“…Sialan, kau berbeda dengan Yuuma-chan yang kuingat.”
Mendengar ucapan itu, dia tertawa terbahak-bahak.
“Fufufu, hubunganku denganmu cukup menyenangkan, lho.”
“…Dia adalah pacar pertamaku.”
“Ya, melihatmu terasa sangat polos. Menggoda anak laki-laki yang tidak tahu perempuan itu sangat menyenangkan.”
“…Aku berniat menjaganya dengan baik.”
“Ufufu, kau sungguh menjagaku dengan baik, ya. Saat aku dalam kesulitan, kau langsung memberikan bantuan. Agar tidak menyakitiku. Tapi, semua itu sengaja kubuat seperti itu, tahu? Soalnya, wajahmu yang panik kebingungan itu sangat lucu.”
“…Aku merencanakan kencan pertama dengan hati-hati. Karena aku berpikir ingin menjadikannya kencan yang luar biasa.”
“Ahahaha! Benar sekali! Itu kencan yang sangat pasaran! Gara-gara itu rasanya sangat membosankan, tahu!”
“…Yuuma-chan.”
“Ufufu, karena aku berniat membunuhmu saat senja, makanya kuberi nama itu. Bukankah itu indah? Nah, Ise-kun.”
Amarahku telah melewati batasnya. Aku berteriak kencang.
“REYNAREEEEEEEEEEEE!!”
“Ahahahahaha! Bocah busuk sampah jangan seenaknya memanggil namaku!”
Reynare mengejek. Kebencian hingga membuat isi perut bergejolak lahir di dalam diriku.
Aku tidak pernah tahu ada orang yang sedemikian bejatnya. Bukankah orang inilah iblis yang sebenarnya!
“Hyoudou-kun! Bertarung sambil melindungi gadis itu di sini membuat posisi kita tidak menguntungkan! Cepat pergi ke atas! Kami yang akan membuka jalan! Ayo, cepat!”
Kiba berbicara sambil menebas para pastor. Memang benar. Masih ada cukup banyak pastor, dan bertarung melawan malaikat jatuh sambil melindungi Asia di rubanah ini mungkin ada batasnya.
Aku menatap tajam Reynare sekilas, lalu membopong Asia dan berlari kencang dari tempat itu.
“Koneko-chan, buatkan jalan melarikan diri untuk Hyoudou-kun!”
“…Dimengerti.”
Mereka berdua menumbangkan pastor yang tampak akan menggangguku. Berkat bantuan mereka berdua, aku bisa maju ke pintu masuk ruang ritual sekaligus.
“Kiba! Koneko-chan!”
“Pergilah duluan! Kami akan mengurus ini dulu!”
“…Cepat lari.”
“Tapi!”
“Sudah, pergi saja!”
Sialan! Kiba, Koneko-chan! Kalian berdua sok keren banget! Tapi, saat ini aku akan mengandalkan kalian berdua. Senior iblisku. Mana mungkin mereka mati!
“Kiba! Koneko-chan! Kalau sudah pulang nanti, panggil aku dengan sebutan Ise! Harus, tahu! Karena kita 'kan teman!”
Hanya itu yang kusampaikan. Aku merasa mereka berdua tersenyum. Aku meninggalkan tempat itu, lalu berlari menembus koridor bawah tanah sekaligus.
—D×D—
Setelah selesai menaiki tangga, aku membawa Asia sambil keluar menuju panti imam. Keadaan Asia aneh. Wajahnya pucat pasi. Aku membaringkannya di bangku panjang terdekat.
“Tunggulah! Sebentar lagi kau akan bebas, Asia! Kau akan bisa bermain denganku kapan saja!”
Mendengar perkataanku, Asia tersenyum kecil. Lalu, dia memegang tanganku. Hawa kehidupan tidak terasa dari tangan itu, dan suhu tubuhnya juga mulai hilang.
“…Aku, meskipun hanya sebentar… bisa memiliki teman… sangat bahagia….”
Sambil menderita, Asia tetap tersenyum.
“…Jika terlahir kembali, apakah kau mau menjadi temanku lagi…?”
“A-apa yang kaukatakan!? Jangan bicara begitu! Mulai sekarang aku akan membawamu ke tempat yang menyenangkan! Meskipun kau bilang tidak mau, aku tetap akan membawamu! Karaoke! Pusat arkade juga! Oh iya, mari pergi main boling juga! Selain itu, ke tempat itu! Dan di sana!”
Air mata tidak berhenti mengalir. Padahal aku harusnya berbicara sambil tersenyum, tapi air mataku tidak berhenti mengalir.
Aku mengerti.
Aku bisa memahaminya.
Gadis ini akan mati.
Dia akan mati.
Meskipun begitu aku ingin menyangkalnya.
Hal seperti ini sudah pasti bohong—.
“Kita 'kan teman! Kita akan terus berteman! Ya, benar sekali! Aku juga akan mengenalkanmu pada Matsuda dan Motohama! Mereka memang sedikit mesum, tapi mereka orang yang sangat baik, tahu? Mereka pasti mau menjadi teman Asia! Pasti, tahu! Kita akan bersenang-senang ramai-ramai bersama semuanya! Seperti orang bodoh!”
“…Pasti, kalau aku terlahir di negara ini… dan bisa pergi ke sekolah yang sama dengan Ise-san….”
“Ayo pergi! Datanglah ke sekolah kami!”
Tangan Asia mengelus pipiku.
“…Menangis demi aku… sudah, tidak ada lagi….”
Tangan yang menyentuh pipiku jatuh perlahan secara perlahan.
“…Terima kasih….”
Itulah kata-kata terakhirnya. Sambil tetap tersenyum, dia telah berpulang.
Tenagaku hilang. Aku menatap wajah meninggalnya dengan terpaku di tempat. Air mata tidak berhenti.
Kenapa? Kenapa gadis ini harus mati?
Padahal dia gadis yang baik, tahu?
Gadis penyayang yang mau menyembuhkan siapa saja yang terluka.
Kenapa gadis seperti itu sampai sekarang tidak ada yang mau menjadi temannya?
Kenapa sampai sekarang aku tidak berada di dekat gadis ini?
“Hei, Tuhan! Engkau ada di sana, 'kan, Tuhan!? Kalau iblis dan malaikat ada, Tuhan juga pasti ada, 'kan!? Engkau melihatnya, 'kan!? Engkau melihat semua ini, 'kan!?”
Aku berteriak ke arah langit-langit gereja. Aku tidak tahu siapa yang akan menjawab. Meskipun begitu aku ingin berteriak ke atas.
“Jangan bawa gadis ini pergi! Kumohon! Kumohon padamu! Gadis ini tidak melakukan kesalahan apa-apa! Dia hanya menginginkan teman! Aku akan terus menjadi temannya! Makanya, kumohon! Aku ingin gadis ini tersenyum lebih banyak lagi! Hei, kumohon! Tuhan!”
Meskipun mengadu ke langit, tak ada yang merespons.
“Apakah karena aku menjadi iblis makanya tidak boleh!? Karena teman gadis ini adalah aku yang seorang iblis makanya jadi tidak berlaku!?”
Aku menggertakkan gigi karena rasa penyesalan. Aku tidak memiliki kekuatan. Aku tidak memiliki kekuatan sama sekali. Kalau saja aku memiliki kekuatan lebih sebagai iblis….
Kalau saja aku memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan Asia….
Walaupun menyesali hal seperti itu, dia tidak akan tersenyum kembali padaku.
“Ara, iblis melakukan pengakuan dosa di tempat seperti ini? Atau sedang memohon sesuatu?”
Yang terdengar dari belakangku adalah suara Reynare.
Saat menoleh, tampak sosok malaikat jatuh yang mengejekku.
“Coba lihatlah. Luka akibat diserang oleh si Knight muda saat perjalanan ke sini.”
Reynare meletakkan tangannya di atas luka miliknya sendiri. Cahaya hijau muda dipancarkan, dan menutup lukanya.
“Lihat, indah, bukan? Betapapun terluka, akan langsung sembuh. Bagi kami para malaikat jatuh yang telah kehilangan perlindungan Tuhan, Sacred Gear gadis itu adalah hadiah yang sangat indah.”
Hei.
Cahaya itu milik Asia.
Kenapa kau yang menggunakannya?
Lagi pula, apakah Kiba dan Koneko-chan baik-baik saja? Hal itu sangat menggangguku.
“Sebagai malaikat jatuh yang sanggup mengobati malaikat jatuh, posisiku sudah terjamin. Aku bisa menjadi kekuatan bagi Azazel-sama dan Shemhaza-sama yang agung! Tak ada hal yang lebih luar biasa dari ini! Ah, Azazel-sama… kekuatanku, kekuatanku demi Anda….”
“Masa bodoh.”
Aku melototi Reynare dengan sengit.
“Aku tak peduli hal seperti itu. Mau malaikat jatuh, Tuhan, atau iblis…. Hal seperti itu tak ada hubungannya dengan gadis ini.”
“Tidak, ada hubungannya. Gadis itu adalah manusia terpilih yang bersemayam Sacred Gear di dalam tubuhnya.”
“…Meskipun begitu, dia seharusnya bisa hidup dengan tenang. Seharusnya bisa hidup secara normal!”
“Tidak akan bisa. Orang yang memiliki Sacred Gear berbeda akan menjadi orang yang disingkirkan di dunia maupun organisasi mana pun. Karena memiliki kekuatan yang dahsyat. Karena memiliki kekuatan yang berbeda dari orang lain. Nah, manusia 'kan memang membenci hal seperti itu, 'kan? Padahal ini kemampuan yang sangat indah.”
“…Kalau begitu, aku yang akan melindunginya sebagai temannya!”
“Ahahahahaha! Tidak mungkin! Soalnya, dia sudah mati, 'kan! Gadis itu sudah mati, tahu? Ini bukan lagi soal melindungi atau tidak melindungi. Kau tak bisa melindunginya! Saat senja waktu itu, maupun baru saja! Kau tidak sanggup menyelamatkan gadis itu! Benar-benar bocah yang aneh! Sangat lucu!”
“……Aku tahu. Makanya, aku tak bisa memaafkanmu. Kau, dan juga diriku—”
Aku tak bisa memaafkan semuanya. Diriku yang tidak sanggup melindungi Asia. Reynare yang telah membunuh Asia.
Kata-kata Buchou Rias melintas di benakku.
—Perlihatkan perasaanmu. Sacred Gear akan bergerak dengan kekuatan perasaan. Dan kekuatan itu pun ditentukan olehnya.
“Kembalikan.”
—Walaupun kau seorang iblis, kekuatan perasaanmu tidak akan padam. Semakin kuat perasaan itu, semakin kuat Sacred Gear akan meresponsnya.
“Kembalikan Asiaaaaaaaaa!!”
[Dragon Booster!!]
Seakan merespons teriakanku, Sacred Gear di lengan kiri mulai bergerak. Permata di punggung tangan memancarkan kilauan yang menyilaukan. Sesuatu seperti ukiran pola juga muncul pada gauntlet. Di saat yang sama kekuatan mengalir mengelilingi tubuhku. Dari lengan kiri yang terpasang Sacred Gear menuju ke seluruh tubuh.
Sambil menyerahkan tubuhku pada kekuatan yang meluap-luap, aku berlari kencang sekaligus. Aku melontarkan tinju ke arah musuh yang menunjukkan senyum mengejek.
Reynare menghindarnya dengan anggun. Seakan sedang menari di tempat itu.
“Akan kujelaskan agar orang bodoh sepertimu bisa mengerti. Ini perbedaan kekuatan tempur yang sederhana. Aku seribu. Kau satu. Perbedaan ini tidak akan bisa ditutupi dengan cara apa pun. Meskipun Sacred Gear-mu itu sedang aktif dan menjadi dua kali lipat yaitu dua, tetap tidak ada gunanya! Bagaimana caramu bisa menang dariku! Ahahahahahahaha!”
[Boost!!]
Suara terdengar lagi dari permata. Tulisan yang mengapung di permata punggung tangan berubah dari [I] menjadi [II].
Deg! Perubahan kedua menghampiri tubuhku. Kekuatan—sesuatu untuk menumbangkan musuh di hadapanku semakin bertambah lagi.
“Uoooooooooo!”
Aku memusatkan kekuatan yang meluap pada kepalan tangan lalu mendesak sekaligus. Aku sudah menjadi Rook melalui Promotion.
“Heh! Kekuatanmu bertambah sedikit, ya? Tapi, masih belum cukup!”
Seranganku berhasil dihindari lagi. Saat berikutnya, cahaya mulai berkumpul di kedua tangan Reynare, membentuk sesuatu.
“Sudah kuberikan kekuatan penuh! Rasakan ini!”
Jleg! Tombak cahaya menembus kedua kakiku. Menancap dengan tajam dan dalam ke paha kedua kaki. Bahkan dengan daya tahan pertahanan Rook, hal itu tidak sanggup mencegahnya.
“Guaaaaaaaaaaaaa!” Aku menjerit keras. Rasa sakit yang luar biasa bergema di sekujur tubuh, tapi aku tidak boleh berlutut di tempat seperti ini.
Aku segera memegang tombak cahaya dengan tangan.
Czzz.
“Guuuuuuuaaaaaaah!”
Suara daging yang terpanggang. Panas! Sangat panas sekali! Apakah karena ini cahaya!? Tanpa ampun membakar telapak tanganku yang memegang tombak. Asap membubung dari tangan. Juga dari luka di kaki. Membakar tangan dan kakiku secara hebat.
Melihat keadaanku yang berniat mencabut tombak, Reynare mengejek.
“Ahahaha! Iblis yang menyentuh tombak itu benar-benar puncak dari kebodohan! Bagi iblis, cahaya itu setara dengan racun mematikan. Hanya dengan menyentuh saja akan langsung membakar tubuh. Rasa sakit luar biasa itu adalah tingkat tertinggi bagi iblis! Bagi Iblis Kelas Bawah sepertimu—”
“Nugaaaaaaaaaaaaah!”
Aku mengeluarkan suara yang tak berbentuk kata-kata, menggenggam tombak cahaya secara lebih kuat lagi lalu menariknya keluar sedikit demi sedikit dari kaki.
Rasa sakit luar biasa dari tombak yang menembus kaki. Rasa sakit luar biasa yang dibawakan oleh hal bernama cahaya padaku. Hal-hal itu menyerangku tanpa ampun.
Rasanya aku hampir kehilangan kesadaran karena rasa sakit. Jika tidak menggertakkan gigi, rasanya aku akan mati.
Tapi, memangnya kenapa? Memangnya kenapa dengan hal itu!
“Benda seperti ini! Dibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh gadis itu! Oleh Asia, tidak ada apa-apanya, tahu!!”
Sambil meneteskan air mata dan air liur, aku menarik keluar tombak sedikit demi sedikit.
Sakit. Sakit sekali, bajingan! Tapi, benda seperti ini! Memangnya ada apa dengan benda seperti ini!
Sret, Sret.
Sambil mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan, tombak ditarik keluar dari kedua kaki. Saat melepaskannya dari kedua kaki dan menjatuhkannya dari tangan, tombak cahaya menghilang ke udara tanpa bersuara maupun menyentuh lantai.
Crot. Mungkin karena hal yang menyumbatnya telah hilang, darah segar meluap keluar dari lubang yang terbuka di kedua kaki. Meskipun tombak telah dicabut, tidak mungkin rasa sakitnya menghilang.
[Boost!!]
Bahkan saat tertembus tombak dan serangan terhenti, gauntlet di lengan kiri tetap mengeluarkan suara.
Sangat sakit sekali. Luar biasa sakit. Aku menangis dengan sangat parah, dan air liur juga menetes deras.
Bruk. Tenaga menghilang dari tubuh, dan aku terduduk di tempat. Tenaga untuk berdiri telah hilang. Sialan, tidak ada tenaga di kaki. Tidak, tidak ada tenaga di seluruh tubuh.
Apakah ini berbahaya?
“ …Hebat juga, ya. Untuk Iblis Kelas Bawah bisa mencabut tombak cahaya yang dibuat oleh malaikat Jatuh. Tapi, sia-sia saja. Cahayaku memang tidak menyilaukan, tapi memiliki kemampuan membunuh yang tinggi terhadap iblis. Konsentrasi kekuatan cahayanya pekat. Sampai-sampai bisa berfungsi sebagai bahan dasar bilah cahaya milik para pastor. Jika terluka sekali saja, Iblis Kelas Menengah pun tidak akan sembuh dengan mudah. Bagi Iblis Kelas Bawah sepertimu, sampai di sini adalah batasnya. Fufufu, kerusakan dari cahaya tidak boleh diremehkan, lho? Terutama cahayaku.”
Seperti biasa, dia berbicara panjang lebar mengenai hal yang tidak kupahami.
“Cahaya berputar di dalam tubuhmu, menyebarkan kerusakan ke seluruh tubuh. Jika pengobatannya terlambat kau akan mati. Tidak, kalau normalnya tidak aneh kalau kau mati, tapi tubuhmu benar-benar tangguh, ya.”
Ah, begitu ya. Bagi sampah yang baru sebentar menjadi iblis sepertiku, luka ini berbahaya, ya. Pasti begitu. Bagian dalam seluruh tubuh terasa sakit. Bukan sekadar berdenyut. Tapi sesuatu yang jauh lebih dahsyat. Apakah tulang, atau otot, rasanya seperti dibakar dari dalam oleh panas. Rasa sakit mengalir langsung ke saraf, jadi jika lengah sedikit saja rasanya kepalaku bisa gila.
Jika pengobatannya terlambat, pasti akan mati.
Tapi.
Aku tidak bisa terus terduduk di sini. Tapi, tidak ada tenaga di kaki. Sialan.
Apakah aku berakhir di sini?
Tiba-tiba pandanganku beralih ke arah Asia.
Dia yang tertidur dengan tenang.
Maaf ya karena berisik. Ah, aku baik-baik saja, kok. Aku beneran baik-baik saja. Soalnya aku cukup tangguh. Tidak ada masalah, kok. Nah, lihatlah. Bagian di mana kau merasa menyesal akan kukurangi, meskipun hanya sedikit akan kubalas.
“Di saat seperti ini, apakah harus memohon pada Tuhan, ya?” Tanpa kusadari, aku mengucapkan hal seperti itu dari mulutku.
“?”
Reynare memperlihatkan tanda tanya. Tanpa peduli, aku melanjutkannya.
“Tapi, Tuhan payah. Tadi juga Dia tidak mendengarkanku, dan sama sekali tidak mau menyelamatkan Asia yang anak baik itu. Hahaha, Tuhan berengsek.”
“Apa yang mulai kaukatakan, ya? Apa akhirnya kau sudah gila?”
“Kalau begitu, itu dia. Apakah Maou-sama mau mendengarkan permintaanku? Apakah ada? Apakah kau mendengarkan? Berhubung aku juga seorang iblis, apakah tidak bisa mendengarkan permohonanku sedikit saja?”
“…Sudah tak bisa ditolong lagi. Dia mulai berbicara sendiri di tempat seperti ini.”
“Aku akan memukul malaikat jatuh menyebalkan di depanku, jadi pastikan tak ada yang ikut campur. Aku sungguh tidak ingin ada yang mengganggu. Aku juga tidak perlu bantuan. Aku akan melakukannya sendiri. Dan juga, kakiku baik-baik saja. Aku akan berusaha bangun sendiri. Makanya, tolong biarkan aku bertarung satu lawan satu dengannya. Ini adegan yang bagus. Amarahku sangat tinggi sehingga kupikir aku bisa menangani rasa sakit ini. —Satu pukulan saja sudah cukup. …Tolong biarkan aku memukulnya.”
Kakiku bisa bergerak. Aku sudah kehilangan sensasi di kakiku. Hanya bergerak semilimeter saja memberiku rasa sakit.
Tapi masih bisa bergerak. Pantatku perlahan-lahan meninggalkan lantai. Tubuhku belum berhenti gemetar. Meskipun begitu, tubuhku bangun perlahan.
Sakit. Seluruh tubuhku sakit. Tapi aku bisa bergerak. Aku masih bisa bergerak. Aku hanya harus bertahan sampai aku mendaratkan satu pukulan.
“—! B-bohong! Tubuhmu tidak dalam kondisi untuk bisa berdiri! Karena cahaya—”
Aku mendekati Raynare secara perlahan yang tampak terperanjat.
Dan akhirnya, aku berdiri. Tepat di depan matanya. Dengan kakiku gemetar hebat, dan banyak darah mengalir deras dari tubuhku.
“Hei, Mantan Pacar. Aku telah melalui banyak hal gara-gara kau.”
“…M-mustahil kau bisa berdiri! Iblis Kelas Bawah tak bisa berdiri dengan luka separah itu! Bukankah cahaya sedang membakar bagian dalam tubuhmu!? Iblis Kelas Bawah tidak punya kekuatan iblis untuk meredam efek cahaya mana mungkin bisa bertahan!”
“Ah, sakit banget, tahu. Ini sakit banget sampai rasanya kesadaranku mau terbang. Tapi kau tahu, kebencianku terhadapmu begitu besar sampai-sampai rasanya aku bisa gila.”
Aku menatapnya tajam tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Serangan berikutnya adalah pukulan terakhirku. Begitu aku melontarkannya, aku akan tumbang.
Makanya, aku harus mengakhirinya dengan serangan berikutnya. Aku tak boleh mengalihkan mata dari targetku.
“Hei, Sacred Gear-ku. Kau punya cukup kekuatan untuk memukul bajingan di depanku ini, 'kan? Mari kita buat ini jadi serangan pemungkas yang keren.”
[Exposion!!]
Suara mekanis itu, khusus untuk saat ini, terdengar sangat bertenaga. Entah bagaimana, permata itu memancarkan kilauan yang jauh lebih terang. Kilauan yang luar biasa dan menyilaukan.
Tapi, tidak seperti cahaya malaikat Jatuh, bukannya memberikan kerusakan, aku justru merasakan ketenangan dari cahaya ini. Hanya dengan terkena cahaya ini saja, rasanya kekuatan seperti meluap-luap dari dalam tubuhku. Mirip seperti cahaya penyembuh milik Asia.
Ternyata ada cukup banyak cahaya yang aman bagi iblis.
Aku melangkah satu langkah ke depan. Darah menyembur deras dari luka di kaki dan jatuh ke lantai. Sekalian juga, aku memuntahkan darah dari mulut.
Ini sungguh-sungguh situasi yang gawat. Rasa sakit yang luar biasa ini benar-benar tanpa batas, sampai bergema di tempurung kepala. Tapi tidak apa-apa. Aku masih bisa bergerak, masih bisa.
Sampai saat ini, kekuatan yang seakan hendak meluap dari gauntlet masih terus mengalir ke dalam tubuhku.
Saat berhadapan dengan Reynare tadi sore, aku ketakutan oleh perbedaan kemampuan kami. Karena insting iblis dalam diriku menangkap perbedaan kekuatan tempur yang sangat mutlak, gemetar di seluruh tubuhku tidak mau berhenti. Waktu itu, aku berpikir bahwa aku pasti tidak akan bisa menang.
Tapi, sekarang berbeda.
Kekuatan yang tersalurkan dari gauntlet ini benar-benar tidak main-main. Namun, aku bisa memahaminya. Apakah karena aku adalah pemilik Sacred Gear?
Kekuatan ini tidak bertahan lama. Kekuatan ini hanya terbatas untuk satu kali serangan. Jika aku melontarkannya sekali saja ke arah lawan, maka semuanya akan selesai. Meskipun Sacred Gear tidak mengucapkannya lewat kata-kata, benda ini menyampaikan dan memberi tahuku melalui tubuh.
Aku mengambil ancang-ancang untuk memukul. Aku tidak punya pengalaman bela diri. Tapi, asal bisa kena satu pukulan saja sudah cukup.
Targetnya adalah malaikat jatuh berengsek di depanku. Aku akan memukulnya. Aku pasti tidak akan meleset.
“…Mustahil. Apa-apaan ini…. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi…. Bukankah Sacred Gear itu adalah Twice Critical yang melipatgandakan kekuatan pemiliknya? …Mustahil. T-tidak mungkin. Kenapa kekuatanmu bisa melampauiku…? Gelombang kekuatan iblis yang kurasakan ini…. Gelombang kekuatan iblis ini ada di tingkat Iblis Kelas Menengah… Tidak, Iblis Kelas Tinggi…!”
Kekuatanku setara Iblis Kelas Tinggi? Penyebabnya adalah Sacred Gear ini? Hei, hei, bukankah kau cuma Sacred Gear yang melipatgandakan kemampuanku saja? Soal Iblis Kelas Tinggi, aku cuma pernah bertemu Buchou saja, tapi apakah itu artinya khusus untuk saat ini aku menjadi sekuat Buchou?
“Bohong! Ini pasti bohong! A-Aku adalah malaikat jatuh yang berhasil mendapatkan penyembuhan mutlak! Setelah mendapatkan Twilight Healing dan bersemayam di dalam tubuhku, aku telah menjadi makhluk superior! Aku telah mendapatkan hak untuk dicintai oleh Shemhaza-sama dan Azazel-sama! Bagi orang hina seperti kau, mana mungkin aku…!”
Reynare kembali menciptakan tombak cahaya di kedua tangannya, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga.
Wusss! Aku mengibaskan kepalan tanganku dari samping untuk menepisnya. Tombak cahaya itu lenyap tanpa kesulitan.
Melihatku menepis tombak cahaya tanpa kesulitan, ekspresi Reynare makin pucat pasi.
“T-tidak!”
Kepak! Sambil mengepakkan sayap hitamnya, Reynare bersiap untuk terbang saat itu juga.
Kau berniat kabur? Hei, hei, bukankah baru saja kau menertawakanku dengan gembira? Begitu tahu tidak bisa menang sedikit saja, kau langsung mundur? Enak sekali, ya. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu kabur. Mana mungkin aku membiarkanmu kabur!
Set! Di saat musuh hendak terbang, aku berlari kencang dan menarik tangannya. Kecepatan yang luar biasa keluar dariku, kecepatan yang bahkan tidak bisa direspons oleh malaikat jatuh. Lengan yang kugenggam terasa sangat tidak berdaya dan begitu kurus hingga terasa lemah. Aku menarik lengan Reynare sekaligus dengan kuat dan menarik tubuhnya mendekat. Aku tidak akan pernah melepaskannya.
“Mana boleh kabur, bodoh!”
“Aku, aku adalah makhluk superior…!”
“Rasakan ini, dasar malaikat menyebalkan!”
“Sialaaaaaaan! Iblis Kelas Bawaaaaaaaaaah!”
“Uoryaaaaaaaaaaaa!”
Gauntlet di lengan kiri melepaskan seluruh kekuatannya sekaligus. Aku menyatukan seluruh kekuatan ke lengan kiri dan menumpuknya di kepalan tangan. Aku menghantamkannya secara tajam, tepat, dan lurus ke wajah musuh yang sangat kubenci ini.
Bugh!! Suara benturan yang nyaring bergema. Sambil membiarkan kepalan tanganku menancap di wajahnya, aku mendorongnya dengan kuat! Reynare terpental ke belakang akibat satu pukulan tersebut.
Duaaaaaarrrr!! Dengan suara kehancuran yang besar, malaikat jatuh itu terempas ke dinding. Dinding itu hancur berantakan, dan sebuah lubang besar tercipta di sana. Debu membubung tinggi.
Saat debu yang menari-nari di udara mulai tenang, tempat di mana Reynare terpental menjadi makin jelas. Lubang itu tembus sampai ke luar, dan malaikat jatuh itu tergeletak di atas tanah. Tidak ada tanda-tanda pergerakan. Aku tak tahu apakah dia mati atau tidak, tapi dia tidak akan bisa berdiri kembali dengan mudah.
—Aku berhasil membalasnya.
“Rasakan itu.”
Tanpa sadar senyuman merekah di bibirku. Ini perasaanku yang sebenarnya. Ini sungguh-sungguh pukulan yang terasa sangat memuaskan. Tapi, air mata juga langsung menetes.
“…Asia.”
Dia takkan pernah tersenyum padaku lagi.
—D×D—
Setelah meninju sampai terpental malaikat jatuh itu dan kehabisan seluruh kekuatan, aku roboh di tempat seperti….
Tep. Sesuatu merangkul bahuku. Saat kulihat, ternyata Kiba.
“Kerja bagus. Sampai-sampai bisa mengalahkan malaikat jatuh itu.”
Sambil tersenyum, dia memegang bahuku dan menopang tubuhku. Ada apa ini, Kiba juga babak belur, 'kan?
“Yo, kau terlambat, Casanova.”
“Fufufu, soalnya aku dilarang mengganggu oleh Buchou.”
Buchou?
“Benar sekali. Soalnya aku percaya kalau kau pasti bisa mengalahkan Malaikat Jatuh Reynare.”
Saat menoleh ke arah sumber suara, Rias-buchou berjalan sambil tersenyum dengan rambut crimsonnya yang berkibar.
“Buchou, datang dari mana?”
“Rubanah. Karena urusannya sudah selesai, aku menggunakan lingkaran sihir teleportasi ke sini. Soalnya ini pertama kalinya aku teleportasi ke gereja, jadi rasanya sedikit tegang.”
Buchou menghela napas sambil mengucapkan hal itu. Pantas saja, ternyata dia naik ke atas bersama Kiba dan yang lainnya. Kalau begitu, para pastor di bawah sudah dimusnahkan, ya. Berhadapan dengan Buchou, mereka tidak akan selamat. Lalu, Koneko-chan berjalan melintas di sampingku. Mau ke mana dia? Buchou datang ke hadapanku.
“Kalau begitu, sepertinya kau berhasil menang dengan selamat, ya.”
“B-Buchou…. Hahaha, entah bagaimana aku berhasil menang.”
“Fufufu, hebat. Seperti yang diharapkan dari budakku.”
Ujung hidungku dicolek pelan olehnya.
“Ara ara. Gerejanya jadi berantakan begini. Buchou, apakah tidak apa-apa?”
Akeno-san tampak sedikit kebingungan.
“…Memangnya ada yang berbahaya, ya?” tanyaku pada Buchou dengan hati-hati.
“Gereja itu milik Tuhan—atau milik agama yang berafiliasi dengannya, dan ada kalanya dimiliki oleh malaikat jatuh seperti kali ini, 'kan? Dalam kasus tersebut, jika kita para iblis membuat gereja berantakan, nanti kita bisa diincar oleh pembunuh bayaran lain. Karena rasa dendam dan aksi pembalasan.”
—!
S-serius?
“Tapi kali ini sepertinya hal itu tidak akan terjadi.”
“Kenapa begitu?”
“Gereja ini pada dasarnya sudah ditinggalkan. Lalu malaikat jatuh memanfaatkan tempat ini demi kepentingan pribadi mereka sendiri, dan kita hanya melakukan sedikit perkelahian di sini. Kita tidak menyatakan perang terhadap wilayah resmi milik lawan. Ini hanya sebatas pertarungan liar dan percekcokan antara iblis dan malaikat jatuh. Hal seperti itu terjadi sepanjang tahun di mana-mana. Hanya sebatas itu saja.”
Pantas saja, rupanya sudah kausimpulkan.
“Buchou. Aku sudah membawanya.”
Bersamaan dengan suara sesuatu yang diseret, Koneko-chan muncul. Dia muncul dari dinding yang hancur, dan yang dia seret adalah sayap hitam—Malaikat Jatuh Reynare. Koneko-chan menyeret Reynare yang terpental akibat pukulanku dan masih pingsan, ya.
Tapi, kata-katanya “sudah membawanya” itu…. Seperti biasa, perilakunya sangat luar biasa tidak sesuai dengan tubuh kecilnya itu.
“Terima kasih, Koneko. Nah, mari kita buat dia bangun. Akeno.”
“Baik.”
Akeno-san mengangkat tangannya ke atas. Seketika, sesuatu seperti air tercipta di udara. Apakah itu yang dinamakan kekuatan iblis?
Akeno-san menyiramkan gumpalan air yang tercipta di udara itu ke arah Reynare yang tergeletak.
Byur! Setelah suara air menyiram, suara batuk “Uhuk! Uhuk!” keluar dari Reynare. Tampaknya dia sudah sadar, malaikat jatuh itu membuka matanya perlahan. Buchou menatapnya dari atas.
“Selamat sejahtera, Malaikat Jatuh Reynare.”
“…Putri dari keluarga Gremory, kah….”
“Salam kenal, namaku Rias Gremory. Kepala keluarga Gremory berikutnya. Meskipun hanya sebentar, mohon ingat baik-baik, ya.”
Buchou menyampaikannya sambil tersenyum, namun Reynare menatap Buchou dengan tajam. Lalu, dia mendadak menertawakannya.
“…Kaupikir kau berhasil? Sayang sekali. Meskipun rencana kali ini dirahasiakan dari atasan, ada malaikat jatuh yang sependapat dan bekerja sama denganku. Saat aku dalam bahaya, mereka akan—”
“Mereka tidak akan datang membantu.”
Buchou memotong perkataan Reynare dan mengucapkannya dengan tegas.
“Itu karena Malaikat Jatuh Kalawarner, Malaikat Jatuh Dohnaseek, Malaikat Jatuh Mittelt, mereka bertiga sudah kulenyapkan.”
“Bohong!”
Reynare mengangkat tubuh bagian atasnya dan membantah perkataan Buchou dengan keras. Buchou mengambil tiga helai bulu hitam dari balik pakaiannya.
“Ini adalah bulu sayap mereka. Sebagai sesama, kau pasti tahu hanya dengan melihatnya, 'kan?”
Melihat bulu sayap itu, ekspresi Reynare langsung mendung seketika. Rupanya, apa yang dikatakan Buchou adalah kebenaran.
“Sejak bertarung dengan Malaikat Jatuh Dohnaseek yang menyerang Ise dulu, aku sudah menduga kalau ada beberapa malaikat jatuh yang sedang menyusun rencana di kota ini. Tapi, karena kupikir itu adalah rencana keseluruhan malaikat jatuh, aku mengabaikannya. Betapa pun hebatnya aku, aku tidak akan melakukan kebodohan dengan menjadikan seluruh malaikat jatuh sebagai musuh. Tapi, ketika mendengar mereka mendadak bergerak secara sembunyi-sembunyi, aku mengajak Akeno untuk pergi berbicara sedikit dengan mereka. Saat bertemu langsung, mereka dengan mudah membeberkan bahwa ini adalah rencana pribadi mereka. Katanya kau berjanji akan memberikan posisi tinggi jika mereka mau bekerja sama. Makin rendah orang yang menyusun rencana konyol secara sembunyi-sembunyi di belakang, makin ingin mereka membeberkan apa yang mereka lakukan, ya.”
Buchou mengejeknya. Reynare menggertakkan giginya karena kesal.
“Karena yang mendekati mereka cuma dua orang perempuan, sepertinya mereka meremehkan kami. Mereka memberitahukannya padaku sebagai hadiah kematian. Fufufu, padahal mereka malaikat jatuh bodoh yang bahkan tidak tahu siapa yang lebih dekat dengan kematian. Berhubung mereka mau sependapat dengan rencana konyolmu, sepertinya level mereka memang rendah, ya.”
Begitu, ya. Ternyata “ada urusan” yang dikatakan oleh Buchou adalah hal itu. Dia membereskan malaikat jatuh yang lain di belakang layar….
Rupanya Buchou sudah memikirkannya dengan matang….
Padahal aku malah bicara yang tidak-tidak tentang Buchou….
Gawat. Aku rasanya mau menangis karena terharu.
“Setiap orang yang terkena serangan itu akan lenyap tanpa sisa. Putri dari keluarga Duke yang memiliki Kekuatan Pemusnah. Soalnya Buchou adalah pemilik kemampuan yang disebut sebagai genius di antara iblis muda.”
Kiba mengucapkan hal itu seakan memuji majikannya.
“Dia adalah orang yang sampai dijuluki sebagai ‘Ruin Princess Berambut Crimson’, lho?”
Akeno-san tertawa kecil.
R-Ruin Princess…. Julukan yang sangat mengerikan….
J-Jadi, aku adalah budak dari Ruin Princess, ya? S-seram….
Buchou mengalihkan pandangannya ke lengan kiriku. Sepertinya dia sedang melihat gauntlet-ku.
“…Naga merah. Harusnya lambang seperti ini tidak ada sampai baru-baru ini…. Jadi, begitu rupanya.”
Apakah hanya perasaanku saja kalau sorot mata Buchou tampak sedikit terkejut?
“Aku sudah tahu alasan terbesar kenapa Ise bisa menang melawan malaikat jatuh.”
Buchou menyatakannya dengan tenang.
“Malaikat Jatuh Reynare. Sacred Gear milik Hyoudou Issei ini bukanlah Sacred Gear biasa. Itulah penyebab kekalahanmu.”
Mendengar kata-kata Buchou, Reynare mengangkat salah satu alisnya dengan heran.
“—Boosted Gear (Pelindung Tangan Kaisar Naga Merah), salah satu Sacred Gear yang sangat langka di antara Sacred Gear. Lambang naga merah pada gauntlet itu adalah buktinya. Walaupun itu kau, kau pasti sudah pernah mendengar namanya, 'kan?”
Mendengar kata-kata Buchou, ekspresi terperanjat muncul di wajah Reynare.
“B-Boosted Gear… salah satu dari Longinus (Alat Pemusnah Dewa)…. Sacred Gear terlarang yang dikatakan bisa memberikan kekuatan yang melampaui Maou bahkan Tuhan meskipun hanya sementara…. Kenapa bersemayam di tangan bocah seperti ini!?”
“Jika sesuai dengan legenda, kemampuan Boosted Gear adalah melipatgandakan kekuatan pemiliknya setiap sepuluh detik dalam hitungan waktu dunia manusia. Meskipun awalnya hanya satu, jika kekuatannya melipat ganda setiap sepuluh detik, pada akhirnya akan menjadi kekuatan setingkat Iblis Kelas Tinggi atau petinggi malaikat jatuh. Dan jika dilatih sampai batas maksimal, bahkan bisa mengalahkan Tuhan.”
Apakah itu benar, Buchou!? Bisa mengalahkan Tuhan!?
…Apakah itu kekuatan dari Sacred Gear-ku? Meskipun ada ukiran seperti naga merah yang terukir di gauntlet-ku. Alasan Sacred Gear ini terus mengucapkannya adalah karena kekuatanku dilipatgandakan setiap kali suara itu muncul, ya. Makanya, kekuatan di dalam tubuhku terus bertambah.
Pada akhirnya Reynare ketakutan saat melihatku juga karena kekuatanku sudah melampaui kekuatannya tanpa disadari. Sacred Gear macam apa ini….
Aku menatap Sacred Gear yang terpasang di lengan kiriku dengan rasa cemas dan ngeri.
Boosted Gear. Sacred Gear-ku. Benda ini benar-benar hebat. Ah, tapi bukankah dengan ini legenda kesuksesanku sebagai iblis sudah terjamin?
“Yah, sebesar apa pun kekuatannya, Sacred Gear yang membutuhkan waktu memiliki risiko yang besar pula. Tidak ada musuh yang mau menunggu kekuatannya bertambah secara terus-menerus. Kali ini, bisa dikatakan kalau sikap lawan yang jemawa yang menentukan hasil pertarungan.”
Ugh. Buchou menegurku. M-memang benar, tidak ada musuh yang mau memberikan waktu bagi lawan untuk power up, ya. Meskipun kuat, tapi kelemahannya juga banyak, ya, Sacred Gear-ku ini.
Buchou mendekatiku. Aromanya terasa sangat wangi dari rambut crimsonnya.
Usap, usap.
Buchou mengelus kepalaku.
“Tapi ini menarik. Budakku memang hebat. Ternyata Ise memang anak yang menarik, ya. Aku akan lebih dan lebih memanjakanmu lagi.”
Buchou tersenyum manis. Meskipun senyumannya indah, tapi dalam artian tertentu terasa menakutkan…
“B-Buchou.”
“Ada apa?”
Buchou tersenyum. Aku merasa bersalah, lalu menundukkan kepala.
“Maaf. Waktu itu, saat aku bilang ingin pergi menyelamatkan Asia dan Buchou tidak mau memberikan bantuan, aku malah mengucapkan hal-hal yang sangat tidak sopan…. Padahal Buchou sudah bergerak di belakang layar….”
Aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf. Aku benar-benar berpikir bahwa Buchou adalah iblis yang sangat dingin. Makanya, aku mengucapkan hal-hal yang sangat keterlaluan. Aku ingin meminta maaf dari lubuk hatiku atas hal itu.
Buchou mengelus kepalaku yang sedang menunduk. Tanpa sadar, aku menangis. Ya, karena aku tidak berhasil mencapai tujuanku.
“B-Buchou… a-aku… tidak sanggup melindungi Asia….”
“Tidak perlu menangis. Melihat sosokmu yang sekarang, siapa yang bisa menyalahkanmu?”
“Tapi… tapi, aku….”
Buchou mengusap air mataku dengan jarinya.
“Tidak apa-apa. Kau hanya masih kurang belajar sebagai seorang iblis. Hanya sebatas itu. Jadilah lebih kuat. Berlapang dadalah karena mulai sekarang aku akan terus mempekerjakanmu secara keras. Pawn-ku, Ise.”
“Baik.”
Aku akan berusaha. Aku pasti akan menjadi lebih kuat. Aku berjanji.
“Kalau begitu, mari kita selesaikan tugas terakhir.”
Mendadak mata Buchou menjadi tajam, dan memancarkan kekejaman. Buchou mendekati Reynare. Malaikat jatuh itu ketakutan.
“Aku akan melenyapkanmu, Malaikat Jatuh-san.”
Nada suaranya dingin. Niat membunuh terpancar di dalamnya.
“Tentu saja, aku juga akan mengambil kembali Sacred Gear itu.”
“J-Jangan bercanda! K-kekuatan penyembuh ini demi Azazel-sama dan Shemhaza-sama—”
“Hidup demi cinta itu bagus juga. Tapi kau terlalu kotor. Sangat tidak elegan sama sekali. Hal seperti itu tidak akan kumaafkan.”
Tangan Buchou mengarah ke arah Reynare. Dia berniat membunuhnya seketika.
“Aku datang.”
Saat itu, sosok seseorang muncul dari dinding yang berlubang. Si pastor—Freed Sellzen. Si pastor berengsek itu! Setelah kabur sekali, dia malah kembali lagi!
“Wah-wah! Atasanku sepertinya lagi dalam bahaya! Harus gimana, ya!”
Melihat kedatangan si pastor, Reynare berteriak, “Bantu aku! Kalau kau membantuku, akan kuberikan hadiah atau apa pun!”
Freed tersenyum licik dan menyebalkan.
“Hmm, hmm. Aku mendapatkan perintah yang sangat bagus dari malaikat-sama. Eh? Berarti hal-hal mesum juga boleh, dong? Menurutku, menyetubuhi malaikat-sama itu kehormatan yang paling tinggi, dan bisa jadi peningkat status juga.”
“Kuh…. J-jangan bercanda, bantu aku!”
Wajah malaikat jatuh itu berkerut karena marah. Dia juga tampak panik. Tidak, dia memang panik. Dia pasti berpikir, “Manusia biasa tidak akan mengkhianatiku!”
“Arararara, padahal menurutku aku ini serius, lho…. Lagi pula, hal segitu saja tidak apa-apa 'kan, malaikat-sama? Tidak boleh, ya? Ya sudah kalau begitu. Kalau begitu, aku menghilang saja, deh. Lagi pula, kelihatannya situasi pertarungan lagi rugi berat begini.”
Freed menggerakkan tubuhnya dengan gaya yang konyol sambil menggunakan nada bicara yang main-main.
“K-kau 'kan seorang pastor!? Kau harus menyelamatkanku! Aku adalah malaikat jatuh yang perkasa! Kalian cuma—”
“Ogah banget punya atasan yang dibantai sama iblis sampah. Kau memang cantik, tapi langkahmu kurang matang, alias bodoh juga, ya. Paling mentok cuma bisa jadi bahan onani saja. Silakan mati sana. Yah, malaikat jatuh yang sudah dibuang sama Tuhan sih jangankan ke surga atau neraka, kau cuma bakal kembali ke ketiadaan saja. Kalau bisa, aku bakal senang banget kalau kau mau memberikan laporan eksperimen ‘Pengalaman Ketiadaan’, lho? Ah, tidak bisa, ya. Soalnya ketiadaan, sih. Mana mungkin bisa. Ketiadaan itu 'kan namusan! Bercanda! Ah, aku 'kan mantan orang Kristen! Dasar nakal!”
Setelah mengucapkan hal itu, dia mengalihkan pandangannya dari Reynare seakan sudah tidak tertarik lagi. Akibat tindakan itu, ekspresi putus asa muncul di wajah Reynare. Mengenaskan. Inilah akhir dari malaikat jatuh yang mengincar kekuatan dan berbuat semena-mena.
Freed mengarahkan senyuman lebar ke arahku.
Eh? Aku?
“Ise-kun, Ise-kun. Kau punya kemampuan yang bagus banget, ya. Aku jadi makin penasaran. Sangat layak untuk dibunuh, tahu! Menurutku, kau masuk 5 besar iblis yang paling ingin kubunuh, jadi mohon bantuannya, ya. Kalau ketemu lagi nanti, mari kita bertarung saling membunuh secara romantis, ya?”
Cess.
Sesuatu yang dingin merayapi punggungku. Meskipun dia tersenyum, tapi niat membunuh yang luar biasa memancar darinya. Itu adalah surat tantangan yang jelas untukku. Tidak, itu adalah ancaman pembunuhan.
“Kalau begitu, dadaaah! Bye-bye! Semuanya, rajin gosok gigi, ya!”
Setelah melambaikan tangan, Freed menghilang dari tempat itu dengan cepat. Cepat sekali. Dia langsung menghilang seketika, si bajingan itu.
Tapi entah kenapa, rasanya aku akan bertemu dengannya lagi mulai sekarang. Entah firasat atau apa. Aku bisa merasakan sesuatu yang menyeramkan yang tidak bisa digambarkan.
“Nah, Malaikat Jatuh Reynare yang bahkan dibuang oleh hambanya. Sungguh kasihan, ya.”
Nada bicara Buchou tidak memancarkan simpati sedikit pun. Reynare gemetaran hebat. Alasan aku merasa sedikit kasihan padanya mungkin karena dia pernah menjadi pacarku yang bernama “Yuuma-chan”. Yah, itu juga cuma jebakan kotor miliknya, sih.
Pandangan Reynare beralih padaku. Mendadak dia memperlihatkan mata yang memohon kemurahan hati.
“Ise-kun! Tolong aku!”
Suara itu adalah milik Yuuma-chan saat masih menjadi pacarku.
“Iblis ini berniat membunuhku! Aku sangat menyukaimu! Aku mencintaimu! Makanya, mari kita kalahkan iblis ini bersama-sama!”
Reynare kembali berakting menjadi Yuuma-chan, lalu memohon padaku sambil meneteskan air mata.
Aku yang merasa sedikit kasihan padanya benar-benar bodoh, Yuuma-chan. Tidak, malaikat jatuh berengsek.
“Goodbye, cintaku. Buchou, aku sudah tidak tahan lagi…. Tolong selesaikan….”
Mendengar hal itu, ekspresi malaikat jatuh itu langsung membeku seketika.
“…Jangan beraninya mendekati budakku yang manis. Lenyaplah.”
Blasss! Kekuatan iblis yang dilepaskan dari tangan Buchou mengempaskan malaikat jatuh itu tanpa menyisakan bekas sedikit pun. Yang tersisa setelahnya hanyalah perasaan yang tak bisa digambarkan dan bulu-bulu hitam yang menari-nari di dalam gereja.
—D×D—
Cahaya hijau samar terapung di angkasa panti imam.
Itu adalah Sacred Gear milik Asia.
Tampaknya, benda itu telah terbebas setelah Raynare dikalahkan.
Cahaya hangat itu menyinari diriku. Buchou kemudian mengambil cahaya tersebut ke dalam genggamannya.
“Nah, mari kita kembalikan ini kepada Asia Argento-san.”
“Ta-tapi, Asia sudah….”
Benar, Asia sudah tidak bisa hidup kembali. Pada akhirnya, aku tidak mampu menyelamatkannya.
Padahal aku sudah bersumpah akan melindunginya! Padahal aku sudah bersumpah akan menyelamatkannya!
Jika setelah mengalahkan malaikat jatuh pun aku tetap tidak bisa menyelamatkannya, lalu apa artinya aku datang ke sini….
Tidak, berpikir seperti itu sangat tidak sopan kepada rekan-rekanku.
Mereka telah bertarung demi aku dan Asia. Padahal tidak ada keuntungan sama sekali bagi mereka.
“…Buchou, semuanya, terima kasih banyak atas apa yang telah kalian lakukan demi aku dan Asia. Ta-tapi, meskipun kalian sudah bersusah payah membantuku, Asia sudah….”
“Ise, menurutmu apa ini?”
Buchou mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Crimson—.
Merah seperti darah, bidak catur berwarna crimson yang sama persis dengan warna rambut Buchou.
“Itu….”
“Ini adalah bidak Bishop, Ise.”
“Hah?”
Aku mengeluarkan suara kebingungan karena jawaban yang terlalu mendadak itu.
“Aku memang terlambat menjelaskannya kepadamu, tetapi jumlah bidak yang bisa dimiliki oleh iblis bergelar bangsawan terdiri dari delapan Pawn, masing-masing dua Knight, Rook, dan Bishop, serta satu Queen, dengan total lima belas bidak. Sama seperti permainan catur pada umumnya. Meskipun aku telah menggunakan satu bidak Bishop, aku masih memiliki satu bidak Bishop tersisa.”
Sambil mengatakan hal itu, Buchou melangkah menuju tempat Asia berada dengan tetap memegang bidak crimson tersebut.
Dia meletakkan bidak Bishop crimson itu di atas dada Asia yang terbaring kaku seperti sedang tertidur.
“Peran Bishop adalah mendukung anggota grup yang lain. Kemampuan penyembuhan gadis ini bisa dimanfaatkan sebagai Bishop. Meskipun ini belum pernah terjadi, aku akan mencoba mereinkarnasikan biarawati ini menjadi iblis.”
Kekuatan sihir berwarna crimson menyelimuti tubuh Buchou.
“Atas nama Rias Gremory, aku memerintahkanmu. Kau, Asia Argento. Agar jiwamu kembali ke tanah ini dan menjadi iblis demi kembali menjadi budakku! Kau, sebagai Bishop-ku, bersukacitalah atas kehidupan yang baru ini!”
Bidak itu memancarkan cahaya crimson dan tenggelam ke dalam dada Asia. Pada saat yang sama, Sacred Gear milik Asia juga memancarkan cahaya hijau samar lalu menyatu ke dalam tubuhnya.
Setelah memastikan bidak dan Sacred Gear telah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh Asia, Buchou menghentikan gelombang kekuatan iblisnya.
Kemudian, Buchou menghela napas, “Fuu.”
Aku hanya bisa memandangnya dengan tercengang.
Tak lama kemudian, kelopak mata Asia mulai terbuka.
Melihat hal itu, aku tidak sanggup menahan perasaan yang membuncah dari dalam dada.
“Loh?”
Suara Asia.
Suara yang kupikir tidak akan pernah bisa kudengar lagi.
Rias-buchou memberiku senyuman hangat.
“Justru karena aku menginginkan kekuatan gadis itu yang mampu memulihkan iblis sekalipun, aku mereinkarnasikannya. Fufufu, Ise, selebihnya adalah tugasmu untuk melindunginya. Bagaimanapun juga, kau adalah senpai iblisnya.”
Asia menegakkan separuh tubuhnya. Setelah menoleh ke sana kemari, pandangannya tertuju padaku.
“…Ise-san?”
Tanpa sadar aku langsung memeluknya yang sedang memiringkan kepala dengan bingung.
“Mari kita pulang, Asia.”

Post a Comment