Junior High School D×D 1 Life.1
Life.1 Murid Pindahan yang Menggelora
Dunia tampak berwarna crimson.
Bunga sakura sudah lama gugur, kini menyisakan dedaunan yang memerah terang. Meski warnanya tidak semerah stroberi atau rasberi. Namun, pemandangan pepohonan yang berkilau gigih di tengah embusan angin musim gugur yang dingin ini terlihat sangat indah di mataku.
“Akhirnya sampai juga,” bisikku pelan.
Di ujung timur yang sangat jauh dari kampung halamanku, sebuah bangunan sekolah yang megah berdiri kokoh di hadapanku.
“Jadi ini—Akademi Kuoh!”
Fajar baru saja menyingsing, tetapi sinar matahari sudah cukup untuk menerangi lambang sekolah yang terpahat di gerbang.
“Ini dia tempat yang bakal jadi rumah baruku.”
Sekolah ini terletak di sebuah kota bernama Kuoh. Gedung sekolahnya yang megah, areanya yang luas, serta fasilitasnya yang serba lengkap adalah hal baru bagiku.
Ini adalah sekolah yang bergengsi di kawasan ini, menyediakan pendidikan terpadu dari jenjang TK hingga Universitas.
“Kalau cerita itu memang benar….”
Aku tak sengaja mendengarnya dari komplotan Golongan Pahlawan yang menghadangku bulan lalu.
‘Sekolah itu adalah rumah bagi malaikat jatuh yang meneliti Sacred Gear.’
Kalau memang ada teknologi untuk mencuri kekuatan, bukankah seharusnya ada juga cara untuk sekadar menyegelnya?
Berada dalam jalan buntu terkait situasi Tensei, aku datang ke sini sambil menggantungkan harapan, sekecil apa pun peluang dari informasi itu.
[Mungkin saja cerita itu memang benar.]
Sebuah suara terdengar dari dadaku. Aku tak perlu melihat untuk tahu siapa pemilik suara itu.
“…Kenapa kau malah muncul?”
[Kejam sekali, menyuruhku diam di depan tempat yang aura kejahatannya sekuat ini.]
Suara Tensei terdengar agak cemas.
[Sekolah ini memang dikelilingi penghalang penyembunyi, tapi aura kuat ini tak bisa dihapus sepenuhnya.]
“Padahal penjelasan sebelumnya bilang murid di sini berasal dari berbagai ras….”
[Dan apa kau pernah dengar kalau ada seekor naga di antara mereka?]
Prosedur kepindahanku cukup mendadak, jadi aku tidak sempat mempelajari semua detailnya. Namun, dari lirikan sekilas, sama sekali tak terlihat tanda-tanda sayap raksasa atau ekor panjang khas naga.
[Mungkin mirip denganku, tersegel di dalam Sacred Gear.]
Jadi biasanya berbentuk senjata, ya, batinku.
[Aura yang sangat dirindukan. Tak disangka hari di mana aku bisa bertemu Naga Langit akan tiba lagi.]
“Naga Langit… kawanmu?”
[Sama sekali bukan, kami berasal dari mitologi dan cerita rakyat yang sepenuhnya berbeda.]
Meskipun sama-sama memiliki kanji untuk “Surga/Langit (天)” pada nama mereka, mereka berdua bukanlah kenalan.
[Kukira pedang yang satu lagi sangat dibutuhkan kalau ingin menantang sang Naga Langit.]
“Aku tidak datang ke sini untuk bertarung.”
[Mungkin di sekolah ini kita mungkin menemukan beberapa petunjuk mengenai keberadaan pedang kedua.]
“Dan sudah kubilang….”
[Omong-omong, Zekka, ayo cari topik lagi.]
“D-dengar aku dulu!”
Dia pasti kegirangan setelah tahu ada banyak orang kuat di sini.
“…Huh, ya sudah, topik tidak penting apa lagi sekarang?”
Dengan enggan mengalah, aku menatap dadaku dengan mata setengah terpejam.
[Kalau begitu, biar kutanya—ada apa dengan penampilanmu ini?]
Pertanyaan Tensei benar-benar tak ada hubungannya dengan pembahasan kami sebelumnya.
“Apa maksudmu? Ini jelas seragam Akademi Kuoh. Enggak cocok buatku?”
[Cocok-cocok saja. Imut, malahan. Tapi, yang kumaksud adalah apa yang ada di balik seragammu.]
“?”
[Kenapa kau pakai sarashi?]
P-pedang ini, kenapa sih dia…!
[Oppai hasil jerih payahmu bakal kelihatan makin kecil, tahu.]
“I-itulah intinya.”
Kalau terlalu menonjol, nanti semua orang bakal menatapku…. Lagi pula, kupikir membungkusnya dengan tebal bakal mengurangi kilaunya kalau-kalau oppai-ku mulai bersinar.
[Aku sungguh tidak mengerti. Kusarankan kau membukanya.]
“M-membukanya… ditolak! Mustahil aku melakukan itu!”
[Kau takkan pernah mencapai puncak ilmu pedang payudara ganda kalau begini terus.]
“Yang ada aku keburu ditangkap polisi sebelum mencapai puncak itu!”
Lagi pula, sejak kapan aku bercita-cita menjadi pendekar pedang mesum seperti itu? Aku pindah ke sini demi mewujudkan impian masa kecilku.
“Kali ini aku pasti akan mendapatkan teman!” seruku lantang pada Tensei dan pada diriku sendiri, sembari mengepalkan tangan erat-erat.
Dan untuk mencapai tujuan itu, aku harus menemukan peneliti Sacred Gear yang dirumorkan itu dan melakukan sesuatu pada Tensei.
“Untuk saat ini, aku harus menjadi murid biasa yang biasa-biasa saja dan tidak mencolok.”
Aku sudah membuang jauh keinginan untuk menjadi pendekar pedang terkuat.
Semakin kuat dirimu, semakin sering kau bertarung, semakin sering pula kau menjadi sasaran.
…Dan ini bahkan bahkan belum termasuk urusan oppai-ku yang semakin besar.
Itu sebabnya, aku tidak hanya akan menahan diri untuk tidak memakai Tensei, tapi aku juga akan berusaha sekuat tenaga agar tidak tampil mencolok.
“Lagi pula, kalau aku bersikap biasa saja, berteman pasti bakal mengalir dengan sendirinya.”
Para murid Akademi Kuoh masih belum mengenalku. Menurut rencanaku, kalau aku bersikap seperti gadis biasa, tak butuh waktu lama sampai aku dapat teman.
“Jadi begitulah ceritanya, kau dengar, Tensei? Kalau kau muncul di sekolah tanpa izin, hubungan kita usai, paham?”
[Aku tahu. Tak usah menatapku sedingin itu.]
Dengan itu, sisanya tergantung padaku. Sudah kuduga, tantangan pertama adalah bertemu teman-teman sekelasku.
“Pertama, aku harus berusaha agar hari pertama pindah sekolah ini berjalan sempurna. Masuk ke kelas tepat waktu dengan elegan, tentu saja sambil tersenyum, lalu memperkenalkan diri secara singkat—nama, asal, hobi, dan sebagainya—setelah itu—”
[…Kau yakin bisa?]
Ya, simulasi di kepalaku sudah sempurna, sekarang aku tinggal menjalaninya dengan tenang dan….
“Hei, lihat gadis itu.”
Aku mendengar percakapan dari arah belakang.
Melirik sedikit ke belakang—dua siswi yang sedang mengamatiku. Dilihat dari seragam bela diri dan tas pedang kendo yang mereka bawa, mereka pasti Klub Kendo. Sepertinya datang lebih awal untuk latihan pagi.
Meski aku ragu mereka sedang membicarakanku, yang padahal sudah berakting sempurna sebagai karakter figuran biasa—.
“Kenapa dari tadi dia bicara sama dadanya sendiri?”
…… ……… ……………
“Dia enggak beranjak sedikit pun dari gerbang sekolah sama sekali, dan terus teriak-teriak soal penjahat atau semacamnya.”
“Dia memang kelihatan aneh.”
“Tunggu, jangan-jangan dia ada hubungannya sama tiga orang idiot itu—”
Ja-jangan-jangan, mereka menganggapku sebagai orang mencurigakan…?
“Yah, enggak sampai sejauh itu, sih. Tapi, tetap saja kita enggak boleh lengah!”
“Benar! Waktu festival kemarin, mereka berhasil lolos dari kita, tapi kali ini mereka harus menerima keadilan!”
Sembari mengobrol begitu, mereka berjalan masuk ke area sekolah, melemparkan pandangan penuh curiga padaku.
Begitu ya, jadi di mata mereka aku ini cewek aneh, yang bicara pada payudaranya sendiri sambil berteriak-teriak….
[Sepertinya mereka sudah jalan jauh. Oppai gadis-gadis itu lumayan juga, ya.]
“……”
[Zekka?]
“……”
[Jangan bilang kau pingsan cuma karena syok begitu?]
Dadaku mulai berkedip-kedip redup seperti jam alarm.
“Ah.”
[Sudah bangun? Kau pingsan barusan.]
“Oh, itu, aku cuma tiba-tiba merasa mengantuk saja….”
[Kurasa tidurmu tadi malam sudah cukup delapan jam.]
Itu bohong. Aku sempat memudar sebentar karena mentalku tak sanggup menahannya.
“Y-yah, pertunjukan sesungguhnya baru dimulai sekarang.”
[Semoga saja.]
“Tadi aku cuma ceroboh saja. Semuanya akan baik-baik saja asal kau tidak mendadak muncul.”
[Aku jadi tidak bisa tidak khawatir….]
Dia memang mengkhawatirkanku, tapi aku jadi serbasalah kalau dia memperlakukanku seperti ini. Apakah terpikir olehnya kalau dia mungkin saja disegel di masa depan?
[Zekka.]
“A-apa lagi kali ini?”
[Aku ini sekutumu, bukan musuh. Kalau butuh bantuan, panggil saja aku kapan saja.]
“Tensei….”
[Maju terus dan jangan menengok ke belakang. Hidup itu ada pasang surutnya[1].]
“Kau memang yang terburuk….”
Padahal aku sempat tersentuh dengan kata-katanya, tapi di saat-saat terakhir, dia masih sempat-sempatnya menyelipkan pelesetan mesum soal oppai.
Lembah apanya coba? Jangan sembarangan bikin peribahasa baru.
Meskipun aku tahu, itu adalah caranya sendiri untuk menyemangatiku.
“Kali ini aku enggka boleh gagal.”
Aku menepuk kedua pipiku untuk menenangkan diri.
Nyalakan ambisi dalam dadamu, jangan lupakan dendammu terhadap oppai.
“Aku datang!”
Dan dengan langkah mantap, aku mulai menginjakkan kaki di tanah Akademi Kuoh.
—JD×D—
“Tempat apa ini…?!”
Padahal aku sudah bersumpah tidak akan melakukan kecerobohan sedikit pun sebelum masuk sekolah. Namun, saat mencari gedung divisi SMP, tanpa sadar aku malah tersesat di tengah-tengah hutan.
“Ugh, aku benar-benar tersesat….”
Tak ada satu jiwa pun di sekitar sini. Hanya ada pepohonan lebat yang mengelilingiku.
“Kudengar ini adalah akademi bergengsi… tapi luasnya kok benar-benar keterlaluan, sih…” gumamku sambil melirik ke arah dada, tapi tak ada respons sama sekali dari Tensei.
Apa dia benar-benar berniat untuk terus diam sampai aku meminta bantuan?
“Padahal aku berniat datang lebih awal, tapi sekarang waktunya sudah tidak tersisa banyak….”
Mungkin kedengarannya aneh, tapi aku ini tipe orang yang selalu saja terlambat karena tanpa sadar menarik berbagai macam masalah. Nenek bilang, ini sudah ada di dalam darah kami, tapi aku sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa sifat suka terlambat dianggap sebagai warisan genetik.
“…Apakah itu bangunan?”
Aku terus berjalan menembus hutan mengandalkan intuisi hingga akhirnya menemukan sebuah ruang terbuka. Di sana, berdiri sebuah bangunan kayu yang sederhana.
“Mungkinkah ini gedung sekolah lama?”
Aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan di sekitarnya, tapi bangunan itu tampak terawat baik, kaca-kaca jendela yang masih utuh. Ada daya tarik misterius dari gedung itu, hingga membuatku secara refleks mendekatinya.
“Tapi, kok ada yang aneh, ya…?”
Aku mendadak menghentikan langkah. Rasa tidak nyaman yang menusuk mulai merayapi kulitku.
Setelah kuperhatikan hati-hati, garis merah samar terlihat di bawah kakiku. Garis itu membentuk pola lingkaran, mengelilingi seluruh bangunan mirip sebuah penghalang.
(Mengingat pengalaman masa laluku, itu tandanya aku bakal dapat masalah besar…!)
Dari dalam hatiku, atau lebih tepatnya oppai-ku, sebuah peringatan bergema, mendesakku untuk melarikan diri.
Aku segera berbalik dan berusaha pergi.
“Apa kau punya urusan di gedung sekolah lama?”
Aku tidak cukup cepat. Seseorang sudah memanggilku dari belakang.
(Haruskah aku balik badan? Atau langsung kabur saja? Mana pilihan yang tepat?)
Sambil merenungkan apa yang akan dilakukan orang biasa pada umumnya… aku pun memutuskan untuk berbalik secara perlahan.
Di sana berdiri orang yang memanggilku—seorang siswi.
“Salam kenal.”
Dia menyapaku dengan anggun sambil tersenyum elegan. Namun, bukan itu yang jadi masalah utamanya.
—Crimson.
Rambut crimsonnya yang berkibar tertiup angin benar-benar menarik perhatianku.
—Indah sekali.
Kulitnya yang seputih salju membuat rambutnya tampak semakin memukau.
Parasnya luar biasa cantik, memancarkan aura bermartabat—siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona hingga tak sanggup berkutik.
Aku bertemu dengannya setelah tersesat di hutan.
—Seorang dewi sejati.
Aku penasaran, bagaimana dia secantik dan seanggun ini?
(Lagi pula, oppai-nya besar banget… huh, oppai?)
Begitu kata “oppai” terlintas di benakku, kesadaranku seketika pulih sepenuhnya.
“…!”
Insting pendekar pedangku yang terbangun membuatku refleks melompat mundur.
“Kau[2], bukan manusia!”
Aku tadi benar-benar ceroboh. Meski hanya sesaat, aku sempat terpikat oleh pesonanya. Kalau bukan karena oppai terkutuk itu, mungkin saja nyawaku melayang saat itu juga.
“Oh, apa aku mengejutkanmu karena tiba-tiba menyapa?”
Gadis itu tampak terkejut lalu meminta maaf saat melihatku berusaha menjaga jarak darinya.
“Sepertinya kau belum begitu mengenalku, ya.”
“…Aku murid pindahan baru mulai hari ini.”
“Oh, pantas saja.”
Aku mengamati reaksi lawanku dengan cermat di tengah percakapan kami yang kaku. Aku tak boleh menurunkan kewaspadaan sedikit pun.
“Ini pertemuan pertama kita, 'kan. Kalau begitu, kenapa kau bisa bilang kalau aku ini bukan manusia?”
Aku tidak merasakan niat jahat darinya. Malah sebaliknya, pertanyaannya justru dipenuhi rasa penasaran yang jujur.
“Aku yakin aku menyembunyikan kekuatanku dengan cukup baik. Dan aku juga yakin tidak meninggalkan jejak teleportasi sama sekali.”
“……”
“Bagaimana kau bisa menyadari identitasku secepat itu? Bisakah kau mencerahkan aku untuk referensi ke depannya?”
Sejujurnya, kecurigaanku ini murni berdasarkan intuisi. Jadi, menjawabnya dengan jujur seharusnya tidak akan merugikanku.
“…Karena itu tidak terlihat alami.”
Kalau aku berusaha berbohong dengan buruk, itu bisa saja memicu masalah baru.
“Tidak terlihat alami?”
“Mana mungkin ada orang yang kecantikannya tiada tara seperti dewi begini.”
Dan kalaupun orang seperti itu benar-benar ada, dia pasti bukan lagi seorang manusia biasa.
Saat aku memberikan jawaban itu, gadis tersebut hanya menatapku dengan pandangan kosong.
“Cuma itu alasannya…?”
“Alasan lainnya, karena oppai-mu itu kelewat besar.”
Payudara yang kelewat besar adalah sebuah ancaman. Meminjam istilah Tensei, itu menandakan bahwa energi kehidupan gadis itu sangatlah kuat.
“Oppa… i-inti permasalahannya, kau menilai begitu cuma dari penampilan luar?”
“Benar. Instingku langsung bilang kalau kau terlalu cantik untuk ukuran seorang manusia.”
Aku menjawabnya dengan sangat serius, tetapi respons sang dewi adalah….
“Hahaha.”
Dia terkekeh pelan.
“Maaf. Tapi, pujianmu itu rasanya jujur dan polos sekali.”
“…Itu bukan pujian.”
Aku hanya menyuarakan apa yang ada di dalam pikiranku.
“…Aku tahu betul kalau penampilan luar dan isi hati seseorang adalah dua hal yang berbeda.”
Sifat aslinya bisa saja sangat jahat.
“Tapi, itu tidak mengubah fakta kalau kecantikanmu sanggup menyaingi seorang dewi.”
Aku menyatakan dengan tegas, sambil tetap memasang kuda-kuda waspada.
Namun, aku langsung merasa malu, mengira aku telah berbicara terlalu banyak.
“Ah… ma-maaf kalau aku menyinggung perasaanmu….”
Wajahku terasa panas membakar. Meskipun aku pemalu, begitu aku angkat bicara, aku malah suka kelepasan bicara terlalu banyak, adalah kebiasaan burukku. Lagi pula, penampilan bisa menjadi topik sensitif bagi sebagian orang.
“Aku sama sekali tidak bermaksud jahat… hanya mengutarakan pendapatku… jadi….”
“Kau tahu.”
Betapa pun cantiknya dia, kupikir dia akan marah dengan ucapanku yang berlebihan.
“Kau ini ternyata cukup menggemaskan.”
“Eh—menggemaskan?”
Namun, responsnya di luar dugaanku.
“Tapi, orang-orang sering menganggapku menakutkan…?”
“Maksudku itu kepribadianmu. Sikapmu yang blak-blakan dan agak polos begitu.”
“…?”
“Kau agak mengingatkanku padanya.”
Ekspresinya menunjukkan bahwa dia sedang mengenang kekasih tercinta. Aku tak tahu siapa orang itu, tapi kuharap dia adalah seseorang yang membenci oppai dan punya banyak teman.
“Jujur saja, aku tak menyangka kau bisa membongkar identitasku semudah ini.”
Seakan ingin memulai kembali pembicaraan dari awal, dia menatap lurus ke arah mataku.
“Kau benar dan salah tentang indentitas asliku.”
Sihir yang tadinya dia sembunyikan mendadak melonjak hebat, melingkupi area sekitar dengan warna yang begitu pekat.
“Aku bukan dewi.”
Dia membentangkan sayapnya—sayap hitam seperti sayap kelelawar.
“Namaku Rias Gremory, dan aku adalah seorang iblis.”
Sepertinya, aku baru saja memahami apa yang dimaksud Tensei soal “aura kejahatan yang kuat”. Rupanya di seluruh sekolah ini memang dipenuhi oleh sosok-sosok mengerikan sepertinya.
Impian untuk membuang pedang, meninggalkan medan pertempuran, dan menghabiskan hari-hari dengan damai—kini rasanya seperti angan-angan yang mustahil.
“Siapa namamu?”
“…Miyamoto, Zekka.”
Sudah sangat jelas kalau dia ini kuat, jadi aku mempertajam seluruh indraku, siap untuk kabur kapan saja.
“Miyamoto?”
Namun, pertempuran tidak segera terjadi—Rias Gremory justru meletakkan tangan di dagunya, tampak sedang berpikir keras.
“Kalau bukan dari pihakku, mungkinkah Onii-sama… tidak, apa jangan-jangan….”
Tidak adil betapa ekspresi bingungnya pun masih terlihat begitu cantik.
“Kalau seperti itu, berarti kau juga bukan orang biasa, 'kan?”
“…!”
“Tenang saja, Zekka-san. Aku tidak punya niat buat mencari masalah, kok.” Bicara dengan nada yang lembut, dia melangkah mendekatiku perlahan-lahan.
“Apa yang kau….”
“Tolong jangan bergerak.”
“Kalau kau maju lebih dekat lagi….”
“Jangan bergerak.”
Kurasa orang-orang seperti dirinya ini adalah tipe yang sering dipanggil “Onee-sama”. Entah kenapa, tubuhku malah menurut pada perintah orang ini—iblis ini.
“Pitamu miring.”
Sang iblis, yang memperkenalkan dirinya sebagai Rias Gremory, menyesuaikan pitaku dengan sangat anggun.
“Eh….”
“Diam. Kalau tidak, aku tak bisa memperbaikinya dengan benar.”
“I-iya.”
Rambut crimsonnya menyapu ujung hidungku—aromanya luar biasa manis dan lembut.
“Nah, sekarang sudah rapi. Kau harus lebih memperhatikan penampilanmu.”
“Err, G-Gremo….”
“Panggil saja Rias.”
“Te-terima kasih, Rias…senpai?”
Kalau dipikir-pikir, seragamnya terlihat sedikit berbeda dari yang kupakai, dan aura yang dia pancarkan juga menandakan kalau dia pasti senpai-ku.
“Sebenarnya ada satu hal lagi yang menggangguku dari tadi.” Tangannya mendadak terulur mendekati dadaku.
“Ri-Ri-Ri-Rias-senpai?!”
“Aku merasakan kekuatan misterius dari dalam drimu. Ini mengingatkanku saat pertama kali bertemu dengannya.”
Dengan lembut dia menarik kembali tangannya lalu menatapku. Ada sedikit sorot kesepian di matanya.
“Kau mirip seperti pedang yang terhunus tanpa sarung.”
Kalau diingat-ingat, Tensei juga pernah mengatakan hal yang serupa. Bahwa aku ini dingin, tajam, dan selalu menebas setiap usaha orang lain yang mencoba mendekatiku.
“Cobalah untuk sedikit rileks. Sayang sekali kalau wajah semanis ini terbuang sia-sia gara-gara kau terlalu tegang.”
Entah kenapa, aku bisa merasakan kalau dia sama sekali tidak sedang berbohong.
“Aku—”
Mungkin, harusnya pada saat itu, aku mengabaikan saja nasihatnya lalu langsung melangkah pergi. Tapi, dialah orang pertama di akademi ini yang menanyakan namaku.
Jadi, aku memutuskan untuk sedikit membuka isi hatiku.
“Aku, tidak tahu caranya untuk rileks.”
Karena aku ceroboh. Karena aku payah dalam merangkai kata-kata. Karena aku tak bisa menurunkan kewaspadaanku sehari pun hanya gara-gara oppai.
“Cuma dengan cara inilah, aku bisa menjalani hidupku.”
Meskipun aku terus-menerus disalahpahami, meskipun aku berjalan berputar-putar, aku hanya bisa terus menerobos maju.
Bahkan ketika diberi tahu hal ini sekarang, aku tak mungkin bisa langsung berubah begitu saja….
“Kalau begitu, kau harus mempelajarinya mulai sekarang.”
Dia menyemangatiku secara lembut namun mantap.
“Itulah alasanmu datang ke sini, bukan?”
“Itu….”
“Aku tahu betul kalau manusia itu tak bisa berkembang sendirian.”
Nada bicaranya terdengar begitu hangat dan emosional, menunjukkan bahwa dia sendiri pasti sudah berhasil melewati berbagai macam rintangan berat.
“Temuilah banyak orang. Lalu, belajarlah dari mereka.”
Sorot matanya seolah menyampaikan—kalau kau melakukan itu, jalanmu pasti akan terbuka dengan sendirinya.
“Kau pasti bisa berubah. Segala impian bisa terwujud selama kau tidak menyerah.” Rias-senpai mengangguk mantap sambil tersenyum cerah.
“Tenang saja, penglihatanku dalam menilai orang tidak pernah salah, kok.”
Sejujurnya, tadinya aku hampir remuk dihantam rasa cemas saat berdiri di depan gerbang akademi tadi. Mungkin aku cuma berusaha membodohi diriku sendiri dengan terus mengobrol bersama Tensei dan berteriak-teriak tak jelas.
Namun, setelah bertemu dengannya, rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang mulai berubah, walau mungkin baru sedikit.
“Dan yang terakhir, karena aku belum menanyakannya dengan benar, tolong beri tahu aku.” Rias-senpai bertanya langsung padaku. “Apa yang ingin kaucapai dengan datang ke sekolah ini, Zekka-san?”
Aku teringat akan hari-hari berat yang kulalui hingga detik ini.
“Aku—”
Namun, tujuanku dari dulu belum berubah sedikit pun.
“Ingin, berteman.”
Hidup sendirian itu sangat kesepian. Seumur hidupku, aku selalu merindukan sosok yang bisa kuhabiskan waktu bersamanya.
“Belajar bareng, bersenang-senang bareng, dan, walau agak takut, bertengkar. Lalu….”
Ada banyak hal yang ingin kulakukan, dan semuanya adalah hal yang sangat biasa bagi orang lain. Hal-hal yang mungkin membuat orang lain tertawa jika mendengarnya.
“Jadi—”
Bagi diriku yang sangat buruk dalam mengekspresikan perasaan ini, dia hanya mengucapkan satu kalimat.
“—kau ingin merasakan masa mudamu, 'kan?”
Rias-senpai tersenyum manis.
Sudah kuduga, di mataku, dia benar-benar terlihat seperti seorang dewi sejati.
“Omong-omong, kenapa kau datang ke gedung sekolah lama ini?”
Setelah beberapa saat berlalu, Rias-senpai bertanya sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.
“Aku, tersesat….”
Kubilang padanya aku sedang mencari gedung divisi SMP.
“Pantas, tidak mungkin kau menemukannya di sini.”
“Kenapa?”
“Soalnya, area ini adalah lingkungan divisi SMA.”
“Di-divisi SMA…?”
Tapi, bukankah sekolah ini adalah sekolah terpadu yang menyediakan pendidikan dari TK hingga universitas….
“Tiap divisi punya area masing-masing. Divisi SMP berjarak beberapa ratus meter dari sini. Letaknya tidak menyatu dengan divisi SMA.”
“Tidak mungkin….”
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, desain seragam yang sempat kulihat tadi memang agak sedikit berbeda.
Jadi seperti katanya, aku memang sudah salah salah arah sejak awal….
“Fufu, kau memang gadis yang menarik, ya.”
Senpai tak sanggup menahan tawanya lagi, tapi dari sudut pandangku, ini adalah situasi yang mengerikan.
“Kurasa sekitar sepuluh menit lagi bel pembukaan akan berbunyi.”
“S-sepuluh menit lagi?!”
Aku tak boleh cuma berdiam diri di sini! Aku harus segera menanyakan arah jalan padanya!
“Kalau kau tidak buru-buru, kau bakal terlambat, lho.”
Terlambat di hari pertama pindah sekolah itu benar-benar tak bisa diampuni!
Penampilanku saja sudah bermasalah, tapi kalau kelakuanku ikut-ikutan bermasalah juga, aku harus bagaimana?
“Diperlakukan sebagai murid nakal… terlibat perkelahian… dipanggil ke ruang BK… dijauhi semua orang….”
“Zekka-san?”
“Gagal berteman dan menikmati masa muda, menghabiskan hidup dalam kesendirian dan tersiksa oleh oppai…!”
Kehidupan yang jauh dari kata biasa—skenario terburuk langsung terbayang jelas di kepala—.
“O-oo-opa, oppai…?!”
Saat kesadaranku kembali, Rias-senpai ternyata sudah memelukku erat.
Tindakannya sendiri bukanlah sesuatu yang tidak senonoh. Tapi, payudara sang dewi ini menempel di tubuhku—.
“Aku memutuskan untuk memelukmu karena kau tak mendengarkan sama sekali.”
“T-terima kasih sudah mengkhawatirkanku, t-t-tapi bisa tolong lepaskan aku….”
“Kurasa pelukanku tidak sekuat itu. Apa mungkin tubuhmu kesakitan?”
“Hatiku yang sakit gara-gara o-oppai!”
Meski Senpai memiringkan kepalanya sekali lagi, dia tetap melepaskanku tanpa banyak protes.
“Terima kasih atas perhatianmu.”
“Tak usah cemas. Kau selalu diterima di gedung sekolah lama ini kalau kau punya masalah apa pun.”
Aku membungkuk dalam-dalam lalu berbalik.
Tentu saja, aku tak bisa belajar rileks dalam waktu sesingkat ini. Jadi, aku memutuskan untuk setidaknya fokus pada apa yang bisa kulakukan sekarang, lalu mulai berlari kencang.
“Zekka-san!”
Saat aku bergegas pergi, namaku dipanggil dari belakang.
Saat aku berbalik, Rias-senpai berkata, seolah merayakan awal dari lembaran baru dalam hidupku.
“Selamat datang di Akademi Kuoh!”
Tirai kehidupan sekolahku pun resmi terangkat, diiringi kibaran rambut crimson yang jauh lebih cerah dari dedaunan di musim gugur.
—JD×D—
Lari. Melesatlah dengan segenap tenagamu. Capai tujuanmu walau hanya lebih cepat satu detakan jantung.
“…I-ini dia… Ini divisi SMP…!”
Tepat seperti yang diinstruksikan Rias-senpai, setelah berlari cepat sejenak, gedung divisi SMP mulai terlihat.
Di balik gerbang, jalannya hanya berupa garis lurus yang panjang; dengan kecepatan seperti ini, seharusnya aku bisa nyaris tiba tepat waktu….
“Aku bakal tellaaaaaaat!”
Namun, seseorang mendadak muncul dari balik pepohonan di tepi jalan.
Rambut pink cerah, sangat mudah disalahartikan sebagai bunga sakura yang mekar di luar musimnya.
Orang ini muncul di depan mataku tanpa peringatan.
““Eh?!”” Seruan kami saling bertabrakan, kami berdua terkejut oleh tabrakan mendadak ini.
Setelah beberapa saat, bunyi gedebuk bergema di udara.
(Aku berhasil mendarat dengan selamat! Tubuhku tidak apa-apa! Meskipun—)
Kami bertabrakan dengan tenaga yang lumayan besar, dan jika mengesampingkan diriku sendiri, aku tak bisa membayangkan orang itu bisa selamat tanpa luka.
Aku segera melompat berdiri dan buru-buru memastikan keadaan pihak lain.
Mungkin, harus kubilang “secara mengejutkan”, tetapi gadis itu telah menyerap benturan tersebut dengan cekatan.
Meskipun tubuhnya amat kecil dan ramping, dia berhasil menetralkan momentum dari tabrakan kami secara sempurna.
“…Kau, tidak apa-apa?”
Saat aku mengulurkan tanganku ke padanya dengan ragu-ragu, dia menggenggamnya dengan erat lalu berdiri.
(Tangannya… ini adalah tangan seorang ahli pedang….)
Aku bisa membedakannya dari genggamannya. Dia sangat berpengalaman.
“Makasih! Kau sendiri enggak apa-apa?!”
“A-aku enggak apa-apa….”
“Baguslah! Tapi, bisa menahan kepalaku yang sekeras batu ini, kepalamu pasti memiliki kekerasan setingkat berlian!”
Aku penasaran apakah itu sebuah pujian atau dia sedang mengejek kekerasan kepalaku.
Meskipun dilihat dari senyuman yang menghiasi seluruh wajahnya dan acungan jempolnya, aku berasumsi itu pujian.
“Maaf. Nilaiku cuma pas-pasan di batas lulus, jadi aku agak panik.”
“Harusnya aku yang minta maaf, aku tadi enggak memperhatikan jalan….”
Setelah kami berdua saling membungkuk minta maaf dengan kepala kami yang sekeras batu dan berlian, gadis itu memperkenalkan dirinya dengan suara nyaring.
“Aku Avi! Kata favoritku adalah ‘keaktifan’, ‘kegigihan’, dan ‘antusiasme’! Senang berkenalan denganmu!”
“A-aku Miyamoto Zekka.”
Saat pandanganku secara tak sengaja beralih ke dadanya, aku melihat pita berwarna merah.
(Oppai kecil, sungguh menenangkan… bukan itu masalahnya!)
Yang harus kufokuskan adalah warna pitanya. Meskipun agak terlambat, sekarang aku tahu dia seorang kakak kelas.
“Sepertinya aku enggak mengenalmu, apa jangan-jangan kau baru masuk ke akademi baru-baru ini?”
Mungkin karena dia memiliki lingkaran pertemanan yang luas, dia bisa mencium aroma orang asing dariku.
“Aku murid pindahan, mulai hari ini.”
“Murid pindahan?! Apalagi, ini hari pertamamu?! Dan nyaris terlambat—itu baru membara!”
Avi-senpai tersenyum lebar. Aku bingung bagaimana harus merespons ucapannya yang blak-blakan, tapi tak ada komentar jahat.
“Anu, Avi-senpai, kenapa kau melompat keluar dari tempat seperti—”
“Aku… tunggu, aaaaaaaaaa!”
Dia tiba-tiba berteriak seolah-olah baru mengingat sesuatu. Setiap kata-katanya meluap dengan semangat.
“Sekarang bukan waktunya untuk mengobrol!”
Dia memungut tas kami berdua, lalu berkata kepadaku dengan ekspresi panik.
“Kita bisa bicara nanti! Sekarang kita harus bergegas!”
“Oh, benar, kita bakalan terlambat.”
“Itu salah satu alasannya, tapi orang-orang itu bakal menyusul sebentar lagi!”
“Orang-orang itu…?”
Sebelum dia bisa menjawab, arti dari perkataannya menjadi jelas.
“Ketemu kau, si anak bermasalah!”
Dari balik pohon, seorang gadis baru melompat keluar dengan raungan keras.
Perawakan pendek, rambutnya bergaya ponytail berantakan, membawa sarung pedang dengan lambang keluarga, dan memakai ban lengan.
“Ack, sudah menyusul?! Kau cepat banget, Mina-chan!”
“Jangan panggil aku Mina-chan! Namaku Minamoto!”
Kemudian, murid-murid lain mulai bermunculan dari balik pohon secara berurutan, semuanya mengenakan ban lengan yang sama.
Dengan gadis bernama Minamoto di barisan paling depan, mereka berbaris rapi seperti pasukan militer yang terlatih.
“Hari ini aku benar-benar akan melemparmu ke ruang BK!”
Dia memelototi kami dengan mata tajam dan berapi-api.
“Eh, Avi-senpai, apa yang harus kita lakukan?”
“Bukannya sudah jelas.”
Setelah jeda singkat, Avi-senpai dan gadis bernama Minamoto itu berteriak secara bersamaan.
“Lari sekuat tenaga!” “Tangkap mereka sekuat tenaga!”
Menerima perintah, pasukan itu mengeluarkan seruan perang yang nyaring.
“““““Uoooooooooooooooo!”””””
Para murid menyerbu ke arah kami seolah-olah ingin memenggal kepala jenderal musuh.
Tanpa pikir panjang, aku mendapati diriku berlari secepat yang kubisa di samping Avi-senpai.
“A-apakah ini zaman Sengoku atau bagaimana?!”
“A-ha-ha! Ini kehidupan sekolah biasa yang sedikit eksentrik!”
“Tak ada yang biasa dari hal ini… belum lagi orang-orang itu….”
“Mereka adalah OSIS! Mina-chan adalah satu-satunya anggota pengurus, tapi kau tak boleh lengah! Kau bakal dalam masalah besar kalau tertangkap oleh mereka!”
Jadi mereka adalah OSIS dari divisi SMP.
Namun, masalah besar itu… mereka tak akan benar-benar memenggal kita atau semacamnya, 'kan?!
“Tapi karena Mina (Wakil Ketua OSIS) di sini, kita benar-benar kurang beruntung!”
Avi-senpai membenturkan kedua tinjunya, kelihatan sangat frustrasi.
“Tidak disangka mereka bakal melakukan penyergapan di gerbang belakang! Astaga, Mina-chan sungguh seorang ahli strategi!”
Sepertinya dia tertangkap oleh OSIS saat berusaha masuk melalui gerbang belakang.
Lalu, dia melarikan diri ke tempat ini dengan pasukan itu mengekor di belakangnya.
(Tunggu, apa mungkin aku terseret ke dalam masalah sekali lagi…?)
Kenapa aku ikut dikejar bersamanya? Apakah aku benar-benar ditakdirkan untuk selalu terlambat?
“Anak-anak bermasalah harus segera menerima pembalasan yang setimpal!” Teriakan wakil ketua menggema dari belakang. Tak lama kemudian, aku pun menjadi target.
“Itu salah… aku bukan anak bermasalah… aku cuma murid pindahan biasa….”
“Zekka-chan, kenapa matamu tiba-tiba kelihatan mati?! Kenapa?!”
Avi-senpai menepuk punggungku dengan keras.
“Sekarang bukan waktunya untuk lari dari kenyataan!”
Dia tiba-tiba menunjuk ke depan.
“Sepertinya kita benar-benar dalam posisi terjepit…!”
Ketika aku melihat jauh ke depan, ada para siswa yang berbaris di depan gedung sekolah.
“Jadi hari ini mereka juga memperkuat barisan depan…!”
“Mereka juga dari OSIS…. Entah kenapa, ada banyak murid berotot….”
“Itu karena OSIS kita adalah golongan yang sangat berorientasi pada pertarungan!”
Biarpun kau mengatakannya seolah itu hal yang wajar, jelas-jelas ada orang yang bukan murid SMP bercampur di antara mereka!
“Aku bakal mengatasi ini, tapi—”
Dia melirikku lalu mengangguk seolah sudah memutuskan sesuatu.
“Kita akan menerobos! Aku akan mencoba membuat celah supaya kau bisa menerobos lewat!”
“D-dan apa yang bakal kaulakukan, Avi-senpai?”
“Jangan cemaskan aku! Aku bakal mengatasinya dengan nyali!”
Rambut pinknya berayun dengan kencang. Matanya menyuruhku untuk rileks dan mengikutinya.
“Rencana kalian tidak akan berjalan seperti biasa, anak-anak bermasalah!”
Namun, segalanya tidak berjalan sesuai harapan. Teriakan marah Minamoto-fukukaichou sekali lagi bergema dari belakang.
“Hentikan mereka, Benkei!”
Untuk sesaat, sesuatu menghalangi cahaya matahari.
“…! Avi-senpai!”
“Eek?!”
Aku menarik seragamnya.
Sedetik kemudian, sesuatu mendarat tepat di depan Avi-senpai dengan kecepatan dahsyat.
“Ini… naginata?”
Sebuah lubang besar menganga di tanah, dan naginata berukuran raksasa tertancap di sana.
“H-hampir saja! Makasih, kau menyelamatkanku!”
“Kelihatannya itu pedang tiruan, tapi kenapa ada di area sekolah….”
“Divisi SMP berorientasi pada olahraga, terutama klub seni bela diri, yang semuanya top-class di tingkat nasional.”
“Meskipun itu tidak menjelaskan apa-apa….”
“Terkadang ada senjata yang beterbangan, terkadang hal-hal misterius terjadi—inilah Akademi Kuoh!”
Aku bakal kesulitan kalau kau mencoba mengabaikannya dengan begitu santai.
Meskipun siswa-siswi biasa lainnya tidak bersenjata dan masalah seperti ini sepertinya tidak terjadi setiap hari.
(…Hanya OSIS yang diizinkan membawa senjata di depan umum? Mungkinkah itu adalah perkumpulan orang-orang dengan kekuatan supernatural?)
Berbagai pemikiran berkecamuk di benakku, tetapi saat ini hal itu bukanlah masalah yang paling mendesak.
“Langkah kalian berhenti sampai di sini.”
Pernyataan tanpa belas kasihan dari sang wakil ketua, yang berhasil menyusul kami saat kami terhenti.
Setelah dia melirik arlojinya, aku merasakan dorongan untuk melihat jam di gedung sekolah.
Waktu hingga kelas dimulai—sepuluh detik.
“Akui kekalahan kalian dengan patuh dan menyerahlah. Untuk saat ini, aku akan melepaskan kalian dengan surat permintaan maaf sepanjang 100 halaman.”
“Mustahil! Tanganku bisa kena radang sendi kalau menulis 100 halaman! Dan bakal mengganggu belajarku!”
“Y-yah, aku bakal repot kalau kau bilang begitu. Lalu setidaknya 5 halaman… tunggu, jangan mengalihkan topik!”
Mungkinkah wakil ketua ini ternyata baik hati?
“Avi-senpai….”
Secara logika, sudah mustahil bisa sampai di kelas tepat waktu.
Aku benar-benar tidak ingin terlambat dan dianggap sebagai murid nakal, tapi toh namaku tetap masuk dalam daftar hitam OSIS.
Dan jika pertarungan sampai pecah, Tensei mungkin akan bertindak.
Jika memang begitu, lebih baik aku menyerah dan meminta maaf, melakukan apa saja demi menghindari situasi yang bisa mengungkap oppai—.
“Pergilah!”
Namun, kata-katanya mengejutkanku.
“Aku akan menahan Mina-chan.”
“Maksudmu menahan itu….”
“Aku bakal menyeret orang-orang di pintu depan ke sini juga. Manfaatkanlah kesempatan itu, dan mungkin kau bisa sampai tepat waktu.”
Ini jelas-jelas merupakan tindakan nekat. Lagi pula, meskipun aku berhasil menerobos, waktunya—.
“Kemungkinan itu tak terbatas selama kau tak menyerah!”
Avi-senpai berteriak sekuat tenaga. Lalu dia melangkah maju seolah-olah ingin melindungiku.
“Aku enggak bakal membiarkanmu terlambat! Hari ini adalah hari pertamamu setelah pindah! Makanya kau harus menjadikannya awal yang sempurna!”
“Tapi Senpai, nilaimu… lalu surat permintaan maaf itu….”
“Itu memang penting, tapi ada hal yang jauh lebih berharga dari itu.”
Avi-senpai tersenyum lebar dan menepuk oppai-nya.
Tidak, mungkin yang dia tepuk adalah hatinya.
“Bagaimana bisa aku menyebut diriku senpai kalau aku meninggalkan kouhai dalam kesulitan!”
Avi-senpai mengambil posisi bertarung. Dia benar-benar berniat menghadapi kerumunan ini.
Semua demi seorang kouhai yang bahkan tidak dia kenal—demi diriku.
“Kenapa kau bertindak sejauh ini….”
“Kau tidak butuh alasan untuk menolong orang yang membutuhkan!”
Dia menertawakan kebingunganku seolah-olah itu adalah masalah sepele. Padahal, di sini aku hanya ingin menyelamatkan diri sediri, setidaknya berusaha menjaga rahasia oppai-ku….
(Ini tepat setelah Rias-senpai mengatakan bahwa dia percaya aku bisa berubah.)
Bukankah aku sudah bertekad untuk tidak gagal, untuk menyukseskan hari pindahanku?
“Zekka-chan! Tolong, nikmatilah kehidupan sekolah yang menyenangkan!”
Avi-senpai hendak melangkah tepat ke dalam medan tempur dengan aura seorang prajurit yang berjalan menuju kematian.
Untuk sesaat, aku merenung apakah aku akan membiarkannya gugur begitu saja.
(Aku seorang siswi SMP biasa… tapi melarikan diri tanpa berbuat apa-apa….)
Aku tak bisa menggunakan Tensei. Aku tak punya niat bertarung. Tapi, apakah itu berarti aku tak bisa berbuat apa-apa?
“Tidak, ada satu cara.”
Aku langsung menggenggam naginata yang tertancap di tanah.
“Tolong, pinjamkan aku kekuatanmu sebentar.”
Ketika aku memohon dengan tenang kepada senjata itu, seolah-olah aku mendengar suara yang keluar dari dalam pedangnya.
“Eh, k-kau bercanda?! Zekka-chan, kau bisa mengangkatnya?!”
Aku menarik senjata yang panjangnya lebih dari dua meter itu dalam satu tarikan dan mengambil ancang-ancang.
(Inilah cara agar kami berdua bisa selamat—)
Menurut ceritanya tadi, meskipun menggunakan senjata sebentar, hal itu seharusnya tak jadi masalah besar di akademi ini.
“Aura di sekelilingnya berubah…?”
Wakil ketua OSIS itu mengerutkan alisnya.
“Namun, tak ada kata ‘mundur’ dalam bushido-ku!”
Dia memberikan perintah tanpa ragu-ragu, lalu pasukannya bergerak maju dengan berani. Baik dari depan maupun dari belakang.
“Avi-senpai, apa kau tahu di mana ruang kelas 2-B?”
“Kelas dua? Apa itu kelasmu, Zekka-chan? Sepertinya ada di sekitar sana….”
Informasi ini sudah cukup. Lalu aku menyalurkan kekuatan ke naginata yang bersandar di bahuku.
“Tolong menunduklah setelah 1 detik.”
“A-apa yang kau—”
“Aku mulai.”
Avi-senpai menunduk kebingungan.
“Mengaunglah.”
Aku membuat tebasan sentrifugal yang sangat besar, dengan diriku sebagai pusatnya.
“Kekuatan yang dahsyat!”
Sesuai dugaan, wakil ketua berhasil menghindar; namun, sisanya tersapu oleh tekanan angin dalam satu empasan.
“…Wah.”
Avi-senpai bergumam terpana, mempertahankan postur menunduknya.
“…Keren sekali… seperti….”
Dia memujiku atas sesuatu; Namun, ini adalah kekuatan kasar tanpa teknik atau keahlian apa pun.
“Jalannya sudah terbuka, ayo pergi, Senpai.”
“Y-ya, ada apa lagi kali ini?!”
“Kali ini, mohon bersiap untuk pendaratan yang agak kasar.”
“…Eh?”
Sama seperti lemparan judo, kucengkeram dan kulempar dirinya ke udara dengan tenaga yang besar.
“T-tunggu—apa yang kaulakukan—?!”
Avi-senpai terlempar terbang ke arah pintu masuk, membentuk garis parabola di udara.
Dia menjerit, tetapi saat dia melambung semakin tinggi, suaranya perlahan menyerap dan menghilang di kejauhan.
“…Terima kasih.”
Karena telah mencoba menolong orang sepertiku. Tolong, sampailah tepat waktu.
“Apa gunanya menyelamatkan orang seperti dia?”
Yang tersisa hanyalah aku dan sekelompok anggota OSIS, termasuk sang wakil ketua.
“Meskipun kami kedatangan kouhai yang luar biasa nekat di sini. Kau sudah siap menghadapi konsekuensinya, 'kan?”
Sang wakil ketua meraih sarung pedangnya.
“Pertarungan duel dilarang di area akademi. Belum lagi murid biasa tidak diizinkan membawa senjata.”
Melihat naginata di tanganku, dia tersenyum seolah ingin berkata, “Kau bukan murid biasa, 'kan?”
“Aku akan membuat pengecualian khusus untukmu. Ini bukan duel, kita akan menjadikannya latihan tanding dan—”
Matanya menyiratkan, “Mari kita bertarung habis-habisan.”
“Aku sangat menyesal, tapi aku tidak berniat bertarung.”
“Hah?”
Sang wakil ketua tak tahu harus berkata apa, ekspresinya bingung setelah jawaban santaiku.
Sejak awal, hanya ada satu tujuan bagiku.
“Yaitu membuat hari pertama kepindahanku sukses!”
Aku memunggungi mereka dan berlari menuju gedung sekolah.
“Berani memunggungiku…. Hentikan dia! Pastikan kalian menangkapnya!”
Beberapa orang di depanku mencoba menghalangi jalanku.
“Niten Ichi-ryuu—”
Seni bela diri yang kuwarisi dari leluhurku ini tak terbatas pada serangan saja.
Berlari seperti angin, mengalir seperti air—menghindari lawan hanya dengan menggunakan pergerakan tubuh.
Meskipun begitu, sang wakil ketua adalah satu-satunya orang yang terus mengejarku—pembicaraannya tentang bushido bukan sekadar omong kosong.
Kalau begitu, ini mungkin akan sedikit mengganggunya.
“Aku permisi dulu hari ini—Mina-senpai.”
“M-Mina?! Na-namaku Minamoto!”
Dia mungkin tidak menyangka akan dipanggil dengan nama panggilannya pada pertemuan pertama kami.
Mukanya memerah, dan langkah kakinya sedikit goyah.
(Jarak, posisi, waktu—tak akan ada kesempatan lain!)
Setelah mempercepat hingga batas kemampuanku, aku menjatuhkan ujung naginata ke tanah dan mendorong diriku ke udara dengan sekuat tenaga.
“Dia melompat—?”
Konon katanya rekor dunia untuk lompat galah adalah lebih dari enam meter.
Ruang kelas di lantai dua berjarak sekitar enam meter dari permukaan tanah.
Kalau begitu, maka aku seharusnya bisa mencapai kelas 2-B!
“Apa-apaan yang kau—”
Menandai itu sebagai kata-kata terakhir sang wakil ketua, aku melesat masuk menembus jendela.
Untungnya, jendela kelas sedang terbuka.
Aku melewati bingkai dan berhasil mendarat.
Apalagi, begitu aku menyentuh tanah, bel berbunyi, menandakan dimulainya kelas.
“…Aku, berhasil.”
Seperti dugaan, aku benar-benar lelah. Akibat insiden tak terduga ini, tubuh dan pikiranku terasa sangat berat.
Aku segera mengangkat kepalaku. Jika aku datang tepat waktu, maka ini seharusnya waktu homeroom.
Dan seperti biasa, ini seharusnya menjadi waktu untuk perkenalan diriku.
“Ini lantai dua, lho….”
Seorang guru berdiri di podium, bergumam sendiri dengan ekspresi kosong karena terkejut.
Aku tak bisa berpikir jernih dan memaksa perkenalan yang sudah kulatih untuk keluar dari mulut.
Meskipun aku tak bisa diam saja, setidaknya aku harus menyebutkan namaku—.
“K-kau ini?”
“Miyamoto.”
Guru itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi kata-kata keluar dari mulutku seakan memotong ucapannya.
Dan aku tak bisa berhenti. Aku memperkenalkan diriku begitu saja.
“Namaku, Miyamoto Zekka!”
Angin musim gugur berembus kencang di belakangku.
Daun-daun merah yang berguguran dan rambut hitamku berkibar dengan kencang.
“Aku berharap, bisa belajar bersama kalian mulai hari ini dan seterusnya.”
Angin semakin kencang, seolah mendorongku ke belakang.
Jendela berderit, pengumuman buletin terkelupas, dan teman-teman sekelasku hampir tak bisa membuka mata.
“…Ini adalah badai. Badai telah tiba.”
Salah satu murid bergumam, melihat ke arahku yang didorong oleh angin berwarna merah.
Aku tak punya banyak ruang untuk perkenalan ini, tapi setidaknya aku akan mengakhirinya dengan senyuman terbaikku.
“Senang, berkenalan dengan kalian.”
Setelah hari itu.
Aku nyaris terlambat dan, meskipun singkat, berhasil membuat perkenalan yang layak—atau begitulah menurutku.
Namun, setelah kejadian itu, sebuah rumor menyebar ke seluruh akademi bagaikan api liar.
Rumor itu mengatakan—bahwa seorang murid pindahan yang mengerikan telah muncul di divisi SMP.
Yang paling menakutkan, dia menaklukkan OSIS dan mengambil alih kendali seluruh kelas hanya dalam hitungan detik pada hari pertama kepindahannya.
Menurut cerita tersebut, walaupun kurasa ini sudah jelas, wajah siswi itu juga bermasalah.
Senyuman yang mengerikan, pandangan mata yang tajam, dan nada bicara yang mengancam—begitulah tuduhannya.
Debut kepindahan Miyamoto Zekka bukan hanya sekadar kegagalan; melainkan sebuah bencana yang luar biasa spektakuler.
—JD×D—
Alhasil, perkenalanku waktu itu malah membuat takut semua orang.
(Padahal kupikir itu berjalan cukup baik….)
Di mana letak kesalahanku? Aku terus meratapi ketidakmampuanku sendiri.
(Tenangkan dirimu. Di saat-saat seperti ini, kau harus menghitung oppai.)
Mengenang benda-benda menjijikkan dan terkutuk itu membantuku mengatasi rasa cemas.
“Dua oppai, empat oppai, enam oppai….”
Aku mengucapkannya sambil duduk di mejaku seolah-olah sedang membaca mantra dengan khusyuk.
“Miyamoto-san menggumamkan sesuatu lagi.”
Bahkan dengan mata terpejam, aku masih bisa mendengar percakapan teman-teman sekelasku.
“Mungkinkah dia sedang memikirkan target selanjutnya?” “Jadi, beneran OSIS?” “Itu terlalu ceroboh bahkan untuk pemimpin rahasia anak-anak nakal.” “Kudengar ini pertama kalinya wakil ketua OSIS membuat pengecualian.” “Tapi dia memiliki aura yang keren, apalagi mukanya!” “Seperti buronan ganteng, 'kan?” “Dia 'kan cewek, kau sudah gila, ya….”
Sementara itu, homeroom telah usai, dan tibalah waktu untuk kegiatan sepulang sekolah.
Seperti biasa, sepertinya mustahil bagi seseorang untuk mengajakku bicara, jadi aku hanya berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.
“““““D-dia berdiri!”””””
Semua teman sekelasku berseru sambil terengah kaget.
(Apa mereka mengira aku ini semacam hewan berkaki empat…?)
Mau bagaimana lagi, jadi aku menurunkan pandangan dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
“Ke mana pun aku pergi—selalu sendirian, ya,” gumamku sembari mengganti sepatuku.
Tensei menepati janjinya dan tetap diam.
Namun, fakta bahwa situasi tidak membaik meski dia diam pasti berarti ini adalah akibat dari tindakan dan pemikiranku yang terlalu naif.
“Aku harus berusaha untuk tidak terlalu mencolok.”
Meski divisi SMA tampak tenang, hanya dengan pindah ke divisi yang berbeda, suasana akademi ini berubah drastis.
Betapa pun panasnya anak-anak di divisi SMP ini, apa yang terjadi tadi pagi sudah agak berlebihan.
“Biasa… biasa… aku orang biasa….”
Aku mencoba menyemangati diri sekali lagi. Aku tak boleh mencolok sampai rumor itu mereda.
“Baiklah! Buat sekarang, aku akan tenang-tenang saja—”
“Ketemu! Hei! Di sebelah sini, di sebelah sini! Aku datang menjemputmu!”
Tiba-tiba, suara riuh terdengar. Yah, itu tidak ada hubungannya denganku.
“Zekka-chan, Zekka-chan, Zekka-chaaaan!”
…Tunggu, sepertinya ada hubungannya.
Saat aku hendak keluar melewati gerbang, aku melihat seseorang berlari kencang menuju ke arahku dari kejauhan.
“Avi-senpai…?”
“Uoooooooooooo.”
“Avi-senpai?”
“Uooooooooooooooooooooooo.”
“Avi-senpai?!”
Sama sekali tak ada tanda-tanda dia bakal berhenti.
Dia melesat melewatiku, lalu menabrak tembok di dekatnya.
“A-apa yang sedang kaulakukan…?”
“Holonk aqu—”
Aku tak bisa hanya berdiam diri dan menonton, jadi aku menarik Senpai keluar dari tembok tempat dia terjebak.
“Bwah, makasih, aku agak kurang jago mengerem pakai kaki.”
“Senpai, apa tubuhmu itu mirip mobil atau bagaimana….”
“Ahaha! Kalau begitu, hatiku adalah bahan bakarnya! Inilah kelahiran mesin gerak abadi, Avi!”
Percuma saja, mungkin ada yang tak beres dengannya akibat benturan saat menabrak tembok tadi.
“Jadi, apa kau punya….”
Tepat saat itu, dia meraih kedua bahuku seolah sudah menunggu momen ini.
“Aku datang untuk mengundangmu!”
“Mengundang?”
“Zekka-chan, apa kau sudah memutuskan mau masuk klub apa?”
“Belum benar-benar….”
“Baguslah! Kalau begitu—”
Avi-senpai menyatakan dengan senyum lebar.
“Maukah kau mengincar posisi pendekar pedang terkuat bersamaku?!”
…Pendekar pedang, terkuat?
“Aku lagi cari partner terkuat!”
…Partner, terkuat?
Ini terlalu mendadak; aku tidak mengerti maksudnya. Meskipun tidak mendadak pun, aku tetap tidak mengerti apa yang coba dia sampaikan.
“Aku merasakan percikan saat melihatmu waktu itu, Zekka-chan!”
Dia menjadi antusias dan mengguncang bahuku kuat-kuat.
“Kekuatan yang sanggup menggunakan naginata, kesadaran hebat, dan yang terpenting—nyali!”
Karena suaranya yang terlalu keras, orang-orang di sekitar berhenti dan menatap kami.
Namun, dia sama sekali tidak peduli.
“Zekka-chan, ilmu pedangmu sangat dibutuhkan olehku!”
Perkataannya membuat jantungku berdebar sesaat.
Yang menyebalkan, hal itu sedikit menggoyahkan tekad yang kupunya sebelumnya.
“Ah, sebagai permulaan, apa kau punya pengalaman memakai pedang? Seperti ikut Klub Kendo di sekolahmu sebelumnya?”
“Aku tidak, pernah berlatih kendo.”
“Jadi tidak ada pengalaman! Tapi, aku menyambut hangat pendekar pedang pemula sekalipun! Tak usah khawatir meskipun kemampuanmu masih kurang!”
“Pendekar pedang, pemula… kemampuan kurang…?”
Ketika aku mencoba memahami apa yang kukatakan, aku menyadari bahwa aku hanya menirukan perkataannya.
Aku tak tahu detailnya, tapi sepertinya dia menilai tinggi potensiku.
“Mari kita melakukan tur sekarang!”
“Maksudku, aku bakal repot kalau kau memintanya mendadak begini.”
“Eh, apa jangan-jangan kau punya rencana sepulang sekolah? Mau langsung ketemu teman-teman?”
“…Tidak juga.”
“Kalau begitu, sudah diputuskan!”
Avi-senpai menggenggam kuat tanganku. Lalu dia melesat dengan kecepatan penuh.
“Eh, tidak, um, tung—!”
“Ayo berangkat sekarang—ke klub kita!”
Dan begitulah bagaimana aku diseret secara paksa.
Tentu saja, kami berdua tak bisa berhenti dan berakhir tersangkut di tembok.
Berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki dari gedung sekolah divisi SMP. Mungkin cuma 1 menit kalau berlari seperti orang gila.
Tempat yang ditujunya sekali lagi adalah sebuah bangunan kecil di tengah-tengah hutan.
“Apa ini, gimnasium kecil?”
“Ini adalah bangunan seni bela diri lama.”
“…Seni bela diri?”
“Kudengar ini tempat yang digunakan Klub Kendo kita dahuuuulu kala.”
Dilihat dari cara bicaranya, apakah dia bagian dari Klub Kendo?
Sepertinya dilarang memakai sepatu di sini, jadi setelah melepas sepatu, kami masuk ke dalam.
“Wah.”
Tanpa sadar aku menghela napas.
Lantai kayu yang sudah usang, dinding bercat putih, udara dingin nan sejuk.
Tempat ini terlihat sangat mirip dengan dojo di rumah. Entah kenapa, aku merasa sangat nostalgia.
“Luarnya mungkin kelihatan kurang bagus, tapi bagian dalamnya lumayan oke!”
“Ya, terlihat jelas tempat ini terawat dengan baik.”
Sembari menyentuh lantai, aku bisa merasakan bekas olah pedang dan olah kaki para pendahulu.
“Apa kau yang merawatnya, Avi-senpai?”
“Kadang Sensei juga ikut bantu. Karena hari ini tak ada rapat, kupikir Sensei akan datang nanti.”
“Rapat… apakah penasihatnya orang yang sibuk…?”
“Dia pustakawan di perpustakaan akademi. Tapi dia juga melakukan penelitian Sacred Gear, dan itu kelihatannya lumayan merepotkan.”
Bentar. Barusan, dia mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan, 'kan?
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku memberimu kejutan, Zekka-chan.”
Aku sudah terkejut duluaan! Siapa sangka aku kalau aku akan menemukan petunjuk secepat ini!
“Perhatikan baik-baik!”
Avi-senpai menjentikkan jarinya. Lalu semua dinding mulai berputar.
Mekanismenya mungkin sama dengan pintu putar. Hal-hal yang mungkin tersembunyi di ruangan lain kini bermunculan.
“Ini…!”
Dinding-dinding baru dihiasi dengan pedang yang tak terhitung banyaknya.
Terbungkus dalam kotak-kotak kaca tebal, jumlahnya lebih dari seratus.
“Apalagi, ini bukan senjata biasa.”
“Zekka-chan memang hebat! Kau memiliki mata yang tajam! Yay, kepala berlian terbaik di Jepang!”
“Tolong jangan mengatakannya seperti objek wisata….”
Dia memuji mata jeliku, tapi jelas-jelas ada beberapa pedang yang tampak mengerikan di antara koleksi itu.
“Pedang youkai, pedang iblis, Sacred Gear Buatan—segala jenis pedang dari berbagai tempat berkumpul di sini.”
Gudang bawah tanah ini juga menyimpan beberapa buku tentang ilmu pedang, yang seharusnya milik sang penasihat.
“Tempat ini, sebenarnya tempat apa?”
Suasananya penuh nostalgia, tapi jelas itu bukan dojo biasa.
Tanpa sadar aku bertanya, merasa kewalahan oleh rasa penasaran.
“Secara umum, ini adalah klub yang didedikasikan untuk meneliti berbagai pedang dengan sejarah menarik dari seluruh dunia.”
Lalu ada sisi tersembunyi. Setelah menahannya sejenak, Senpai menyatakan.
“Ini adalah tempat untuk mencari senjata terbaik, mengasah ilmu pedang terbaik, dan menjadi pendekar pedang terhebat.”
Avi-senpai membusungkan dadanya dan menjawab pertanyaanku.
“Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib, atau dikenal sebagai Pedang Ilmu Gaib!”
Aku menemukan petunjuk penting—seseorang yang meneliti Sacred Gear.
Meskipun sepertinya aku malah melangkah tepat ke tengah-tengah tempat yang mencurigakan.
“Maaf, kami tidak punya teh.”
Dua zabuton diletakkan di tengah dojo.
Aku duduk terlebih dahulu, lalu Avi-senpai kembali sambil menyerahkan sebuah minuman olahraga yang aneh.
“Magica☆Sweat…?”
Penamaannya juga aneh; ditambah lagi, ada gambar gadis penyihir misterius di kemasannya beserta slogan yang belum pernah kudengar.
“Kalau kau meminum ini, kau juga akan menjadi sekelas Maou… gunakan Levia-beaaaaam untuk melawan monster jahat…?”
“Senpai dari divisi SMA yang memberikannya padaku.”
“Aku ingin percaya kalau ini minuman yang benar… omong-omong, apa senpai itu punya dada yang sangat besar?”
“Kenapa kau tiba-tiba membahas payudara? Pokoknya, sedikit lebih besar dari punyaku?”
“…Senpai tanpa payudara besar, rasanya luar biasa. Kalau begitu, aku terima.”
“Kenapa kau tiba-tiba meminumnya sampai habis?! Apa aku pernah mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan pikiranmu?!”
Sambil mengobrol, aku mengetahui bahwa keluarga dari senpai tersebut memiliki bisnis yang berkaitan dengan perawatan medis dan dunia hiburan.
Sepertinya minuman misterius ini ada hubungannya dengan pekerjaan mereka. Rasanya lumayan enak.
“Sekarang, izinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi.”
Dia menegakkan postur tubuhnya dan berkata dengan suara ceria.
“Aku siswi kelas tiga di divisi SMP, ketua dari Pedang Ilmu Gaib, Avi Amon!”
Aku melakukan hal yang sama, menundukkan kepalaku sedikit.
“Kelas dua divisi SMP, Miyamoto Zekka.”
Kata favoritku dulu adalah “terkuat”, tetapi banyak hal telah berubah sejak saat itu.
“Omong-omong, bukankah Amon itu….”
“Kau pernah mendengarnya?”
“Kurasa itu nama iblis yang terkenal. Jadi kau juga salah seorang iblis, Senpai?”
“Benar, eh—kau pernah bertemu dengan iblis?”
Sampai saat ini, aku telah melawan berbagai macam musuh, jadi aku tahu tentang keberadaan berbagai makhluk supernatural.
Dan berbicara tentang iblis, aku bertemu Rias-senpai tepat setelah pindah.
“B-bukankah kau menunjukkan padaku youkai dan pedang iblis padaku karena kau tahu aku sadar akan makhluk-makhluk seperti itu?”
“Oh, itu cuma iseng saja. Kupikir tak apa-apa kalau itu Zekka-chan.”
“Iseng?!”
“Dan itu juga cara yang keren untuk memperkenalkan sebuah klub, bukan?”
Jangan tanyakan itu padaku, apa yang bakal kaulakukan kalau aku adalah orang biasa….
“Di saat seperti ini, kau harus membuat mereka percaya dengan nyalimu!”
Itu adalah rasa percaya diri yang luar biasa! Bisakah kau mencapai sesuatu dengan nyali?!
“Yah, dalam skenario terburuk, aku harus menghapus ingatanmu.”
“Oh, jadi ada sihir praktis seperti itu.”
“Tapi kalau untuk iblis, itu bukanlah sihir melainkan kekuatan iblis. Dan kalau aku yang melakukannya, itu akan bersifat fisik, tahu?”
…Itu gila, mungkinkah mereka menghapus ingatan dengan cara memukulmu?
“Aku benar-benar tidak kompeten sebagai iblis dan tak bisa menggunakan teknik sejago itu.”
Dia berkata dengan nada ceria seolah itu bukan masalah besar.
“Benar-benar tidak kompeten? Tapi kudengar keluarga Amon adalah iblis yang sangat tangguh….”
“Memang benar kalau keluarga Amon berada di urutan ke-7 dari 72 Pilar. Keluarga ini masih punya banyak pengaruh di Dunia Bawah.”
Mengingat status keluarganya, Avi-senpai pastilah semacam seorang bangsawan di dunia iblis.
Lalu kenapa dia, dengan garis keturunannya…. Seolah-olah membaca keraguanku, dia menjelaskan.
“Pertama-tama, aku hampir tidak punya kekuatan iblis. Selain itu, aku tidak kompeten memanipulasinya. Dan yang lebih parah, aku tak bisa menggunakan ciri khas Amon—kekuatan iblis ‘Perisai’, padahal berasal dari keluarga utama.”
Dia juga menambahkan beberapa komentar sarkastik tentang tidak tertarik pada ciri khas tersebut.
“Tapi yang paling penting adalah—”
Avi-senpai memandang sekelilingnya dengan lambat.
“Aku bahkan tak punya satu pun budak.”
Bahkan orang awam sepertiku pun tahu kalau bagi iblis, budak adalah hal yang sangat penting.
“Iblis Kelas Tinggi yang terlemah dan terendah—itulah aku, Avi Amon.”
Setelah itu, Senpai berbagi sedikit tentang kehidupannya.
Tak ada bakat sebagai iblis dan tak ada orang yang mau menjadi budaknya.
Tak ada seorang pun yang tertarik padanya, menjalani hidupnya sebagai orang buangan.
“Tapi, ibuku mengajariku tentang pedang.”
Avi-senpai tidak menunjukkan satu pun ekspresi kesedihan.
Dia segera berdiri dan menggunakan botol plastik kosong seolah-olah itu adalah pedang.
“Selama aku punya pedang, aku bisa mengukir jalan menuju masa depan, meski aku tidak punya kekuatan iblis, meski aku tak bisa menggunakan ciri khas keluargaku.”
Dia bergerak seakan mengayunkan pedang.
Bertentangan dengan kata-kata dan tindakannya yang berapi-api, gerakan pedangnya menunjukkan dedikasi yang jujur pada teknik dasar.
“Kau tahu, impianku adalah menunjukkan bagaimana yang inferior bisa menang atas yang superior di Rating Game.”
Rating Game seperti pertandingan pertarungan di dunia iblis.
Senpai mengarahkan botol plastik itu ke arah langit-langit seperti ujung pedang.
“Aku ingin membuktikan bahwa orang seperti aku pun bisa melakukannya kalau mencoba!”
Mata Senpai berbinar-binar saat dia berbicara.
Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan “terbakar dengan semangat”.
Dia tidak berputus asa. Hanya terus melangkah maju tanpa ragu sedikit pun.
“Oh, maaf, karena hanya membicarakan diriku sendiri.”
Dia sepertinya menjadi malu sendiri, jadi Avi-senpai duduk kembali dengan tersipu.
“Senpai ternyata—”
“Hm?”
“—selalu berlatih sendirian di sini.”
Aku hanya melihat beberapa ayunannya, tapi aku sudah tahu ada jiwa dari ilmu pedangnya.
Dan yang terpenting, tangannya memancarkan kerja keras; kau tak bisa melakukannya tanpa latihan setiap hari.
Sejauh yang kudengar, dia menghabiskan hampir 3 tahun berlatih sendirian di dalam gedung seni bela diri lama ini.
“Aku tidak sendirian, kok.”
Kupikir dia pasti mengalami kesulitan. Namun, Senpai menghilangkan pemikiran seperti itu.
“Ibuku mengajariku ilmu pedang sejak kecil. Dan ilmu itu masih hidup di dalam diriku.” Apalagi, tambahnya. “Dan Sensei membimbingku di akademi ini.”
Dia membicarakannya dengan ceria, tapi aku yakin perasaan jujurnya berbeda.
Aku juga diajari ilmu pedang oleh nenekku.
Dan itulah mengapa aku tahu dari pengalamanku sendiri—guru dan teman tidaklah sama.
(Mungkin, dia sedikit mirip denganku.)
Aku mengerti itu tampak lancang dariku.
Aku tak punya semangat berapi-api seperti dirinya yang membara seperti matahari.
Namun meskipun begitu, aku bisa berempati dengan cara dia dibesarkan, dengan lingkungan tempat dia tinggal.
(Seorang teman—atau tidak sopan bagiku berpikir seperti ini?)
Aku tak mengatakan apa-apa. Namun, aku tidak lagi menganggapnya sebagai orang asing.
“Zekka-chan, kenapa kau senyam-senyum sendiri dari tadi?”
“Eh, enggak kok, aku tidak tersenyum.”
“Kau tersenyum! Ada apa, ada apa! Mungkinkah kau memikirkan hal yang mesum?”
“M-mesum?! Aku benci oppai!”
“Tapi aku enggak bilang apa-apa soal oppai….”
Setelah itu, kami mengobrol tentang berbagai topik dengan Avi-senpai.
Meski aku bilang begitu, dialah yang paling banyak bicara.
Meski begitu, mungkin karena dia mirip denganku, hatiku terasa lebih hangat dari biasanya.
“Kau tadi bilang kau sedang mencari seorang partner.”
Saat matahari terbenam, aku membicarakan topik sebelumnya.
“Apa itu maksudnya mencari budak?”
“Hmm.”
Avi-senpai memiringkan kepalanya, tampak bermasalah.
“Aku percaya bahwa pendekar pedang membutuhkan seseorang untuk mengasah kemampuannya.”
Dia tersenyum masam, mengatakan bahwa sebenarnya itulah yang dia dengar dari Sensei.
“Itulah mengapa aku mencari partner untuk menjadi lebih kuat bersama-sama. Bagaimanapun juga, aku lemah.”
Jadi, lebih baik memiliki seorang rival kalau ingin berkembang, yah, aku tak punya orang seperti itu….
Sebagai iblis, Senpai memandang bahwa mengumpulkan budak sebagai sesuatu yang baru dilakukan setelah dirinya sendiri cukup memenuhi syarat.
“Selain itu, akhir-akhir ini, Rating Game jadi sangat seru. Jadi pada waktunya nanti, bukankah itu akan menjadi kompetisi di mana kau bisa berpartisipasi bersama anggota timmu, tanpa memandang status dan rasmu?”
“Jadi Rating Game sepopuler itu ya, kalau begitu tak apa-apa untuk tidak terburu-buru mengumpulkan budak.”
“Meskipun aku tak bisa bilang pasti bakal jadi seperti itu. Setidaknya, itulah yang dikatakan Sensei saat mabuk.”
“Lalu… apakah kau benar-benar memercayainya…?”
Aku tertarik dengan penasihat ini, tapi karena Sensei itu masih belum datang, mau bagaimana lagi.
“Jadi, bagaimana, Zekka-chan? Maukah kau menguasai pedang bersamaku?”
Yang kuinginkan adalah seorang teman yang setara, bukan seorang majikan iblis.
Lagi pula, kalau sudah begini, tak ada alasan bagiku untuk bercita-cita menjadi pendekar pedang terkuat.
“Avi-senpai, aku—”
Aku benar-benar senang dia menganggapku sebagai partner.
Tapi itu masih membebani pikiranku.
Setelah merenung sebentar, aku memutuskan untuk menolaknya.
“Aku tidak akan mengizinkannya bergabung dengan klub ini.”
Namun, bukan aku yang menyuarakan penolakan itu.
Pemilik suara itu berdiri di depan pintu masuk.
Rambut perak bersinar di tengah matahari terbenam, penampilan rapi, riasan wajah sempurna, dan seragam yang dikenakan secara kasual.
Dan cara dia mengulum permen gagang dengan malas, jika aku harus mendeskripsikannya dalam satu kata—dia adalah seorang “gyaru”!
“Hei, semuanya. Urusan umum OSIS, Schwertleite.”
Dia memberikan perkenalan yang malas, menunjukkan pose peace yang terkesan asal-asalan.
OSIS lagi, meskipun dia tidak memakai ban lengan, aku mengerti dari warna pitanya—dia satu angkatan denganku.
“…Apakah orang berpenampilan gyaru ini kenalanmu, Avi-senpai?”
“Bukan, ini pertama kalinya kami bertemu secara langsung.”
Avi-senpai berdiri dengan sigap.
“Kalau aku tidak salah, kau adalah murid pertukaran dari Norse, Walküre, 'kan?”
“Wa-Walkü…?”
Mereka seharusnya makhluk dari mitologi. Benar-benar ada banyak ras di akademi ini.
“Sekadar kau tahu, ini berbeda dari Valkyrie, yang merupakan nama yang hanya diberikan kepada orang-orang terpilih di antara kaum kami.”
Jadi itu seperti gelar yang hanya bisa disandang oleh para elite mereka.
Norse juga punya kerumitannya sendiri… tunggu, sekarang bukan waktunya untuk merenungkan hal-hal seperti itu dengan santai.
“Seorang gyaru dan seorang walküre—jadi itu membuatmu menjadi gyaruküre!”
Avi-senpai mengatakan hal itu dengan wajah berbinar. Siapa juga yang menyuruhmu membuat istilah aneh-aneh.
“Kedengarannya bagus, haruskah aku menyebut diriku gyaruküre mulai sekarang?”
Dan pihak lainnya malah tampak menyukainya… apakah hal ini memang sudah diduga dari seorang gyaru….
“Nah lalu, apa yang dilakukan anggota OSIS di sini?” Avi-senpai bertanya, memiringkan kepalanya dengan curiga. Benar, itulah masalah utamanya.
“Kupikir OSIS dan klub-klub punya kesepakatan.”
“Kali ini adalah kasus yang tak biasa, selain itu Pedang Ilmu Gaib bahkan bukan klub resmi.”
“Bisa-bisanya kau bilang begitu. Apa alasanmu menyebut klub ini tidak resmi—”
“Anggota klub tidak cukup, menempati ruang klub tanpa izin, banyak pelanggaran—ini sudah jadi organisasi ilegal.”
Aku jadi tidak nyaman mendengar semua kata-kata yang mengganggu itu dan menatap Avi-senpai.
“Ahaha!”
Dia tidak mengatakan apa pun yang masuk akal, hanya tertawa begitu saja. Mengingat dia tidak berusaha membantah, tuduhan itu mungkin benar.
Kalau begitu, aku curiga Sensei yang disebut Avi-senpai sebagai penasihat juga merupakan karakter yang bermasalah.
“Jadi kau adalah Miyamoto Zekka-san.”
Gyaruküre-san menatapku dengan mata mengantuk.
“Hari ini, aku datang atas perintah Yagyuu-kaichou.”
“Geh, Kaichou?!” Avi-senpai berteriak dengan ekspresi ngeri sebelum aku sempat bereaksi.
Pemimpin dari kelompok bersenjata lengkap, OSIS, bukankah itu membuat orang ini menjadi orang yang cukup berbahaya?
“Aku punya dua tugas. Yang pertama adalah mengamati Miyamoto Zekka.” Tampak acuh tak acuh, dia terang-terangan membocorkan informasi itu seolah-olah itu bukan apa-apa.
“Dan yang satu lagi adalah—”
Di belakang punggung gadis berambut perak itu, sesuatu yang mirip dengan lingkaran sihir muncul.
“Mencegah Miyamoto Zekka bergabung dengan Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib.”
Lingkaran sihir bersinar lebih terang dan aku merasakan sensasi kesemutan di kulitku.
“Dengan cara apa pun yang diperlukan.”
Dia menggigit permen yang dikulumnya hingga hancur.
“Secara santai, asal-asalan, dan malas-malasan, aku akan melayanimu.”
—JD×D—
“Tunggu di situ!” Avi-senpai berteriak nyaring.
Seperti yang diduga dari seorang siswi kelas tiga! Dia akan memberikan sebagian pendapatnya untuk melindungi kouhai-nya!
“Ini area bebas sepatu!”
Bukan itu masalahnya. Yah, memang benar sih, tapi bukan itu intinya.
“Oh, maaf.”
Pihak lawan menurut dengan patuh, melepas sepatunya, lalu melangkah masuk ke dojo.
(Setidaknya aku harus menghindari konfrontasi. Di sinilah aku harus turun tangan—)
Aku harus memberi tahunya bahwa kami tidak berniat untuk bertarung, bukannya Avi-senpai!
“Tolong, dengarkan aku, Schwertlebite-san.”
“Aku Schwertleite.”
Melompat masuk dengan antusias lalu malah salah sebut nama—itulah aku.
“Kau tidak perlu bersedih hati.”
“Maaf… ini pertama kalinya kita bertemu, tapi aku salah menyebut namamu….”
“Meskipun itu bukanlah nama yang tidak umum di mitologi Norse. Baiklah, kau bisa memanggilku Schwert singkatnya.”
“Schwert, san….”
Seperti dalam kasus wakil ketua, orang-orang dari OSIS tampak mengintimidasi, tapi sebenarnya sangat baik hati.
“…Aku punya satu pertanyaan. Kenapa Kaichou tertarik padaku?”
“Aku tak tahu detailnya. Apa kau sendiri tidak punya ide, Miyamoto-san?”
“Ide… omong-omong, nama Kaichou adalah….”
“Yagyuu Gichou Zaemon.”
Sama sekali tidak ada ide. Aku tidak mungkin melupakan nama seperti itu.
“Tentu saja, kalau kau tidak berniat untuk bergabung, tak perlu ada masalah yang tidak penting.”
Schwert-san menghadap ke arahku, menjaga jaraknya.
“Sejauh yang kuketahui, bekerja itu terlalu melelahkan.”
Dia tidak punya keinginan untuk bertarung. Dan aku pun memang berniat menolak ajakan itu sejak awal.
“Mengenai masuk ke Pedang Ilmu Gaib, aku—”
Aku merasa kasihan pada Avi-senpai, tetapi aku hanya punya satu pilihan.
“Permisi!”
Tiba-tiba, sebuah suara yang kuat menyela ucapanku sekali lagi.
(…Apakah sudah jadi kebiasaan di akademi ini untuk menerobos masuk tanpa permisi?)
Aku menghela napas melihat pola ini terjadi sekali lagi.
Lalu Avi-senpai, Schwert-san, dan terbelakang, aku ikut menoleh.
Orang yang berdiri di pintu masuk adalah seorang siswi yang mengenakan seragam yang sama dengan Rias-senpai.
“…Yagyuu-kaichou, aku belum mendengar tentang hal ini.” Schwert-san berkata dengan nada getir. Mungkinkah mereka saling kenal?
“Xe-Xenovia! Kau terlalu gegabah!”
Di belakangnya muncul seorang gadis berambut twintail, terengah-engah, menilai dari bahunya yang naik-turun.
“K-kalian berdua, terlalu cepat.”
Dan kali ini adalah seorang gadis pirang yang berpenampilan lembut.
Bangunan seni bela diri lama yang tadinya terasa sepi tiba-tiba menjadi ramai.
“Kendalikan dirimu sedikit! Asia jadi pusing begitu!”
“Maaf, Irina. Tapi, kita harus tiba di sini secepat mungkin.”
“Um… sebentar saja, istirahat….”
Gadis berambut pirang itu amburk ke depan dengan bunyi gedebuk.
“Asia!” “Asia-san!”
Saat mereka berdua berteriak, orang bernama Xenovia menatap ke arah kami dengan tatapan tajam.
“Berani-beraninya kalian…!”
“““Tapi kami tidak berbuat apa-apa?!”””
Pembicaraan tentang aku bergabung dengan klub atau tidak pun sepenuhnya terlupakan.
“Aku hidup kembali.”
Asia-senpai dengan rakus meneguk minuman olahraga yang tadi. Dia seperti hewan kecil dan memberikan kesan disayangi semua orang. Sikapnya lembut dan, yang lebih penting, oppai-nya sederhana! Menakjubkan!
“Er, Senpai….” Avi-senpai bertindak sebagai perwakilan.
Ketiganya, yang berbaris menghadap kami, merespons.
“Aku Xenovia, siswi kelas dua divisi SMA!”
“Sama seperti dia, namaku Shidou Irina. Senang berkenalan dengan kalian.”
“A-Asia Argento namaku! Terima kasih atas minumannya!”
Trio gadis cantik muncul, tapi mereka kelihatan aneh. Haruskah kubilang mereka cukup eksentrik?
“Jadi, para senpai dari Penelitian Ilmu Gaib, untuk apa kalian datang ke sini?” Schwert-san langsung menuju ke intinya. Sebelum kusadari, dia akhirnya berdiri tepat di sampingku dan Avi-senpai.
“Ada rumor tertentu yang sampai ke telingaku.” Xenovia-senpai mengembuskan napas secara berlebihan, lalu mulai berbicara dengan wajah serius.
“Tentang murid pindahan yang mirip dengan Asura yang muncul di divisi SMP.”
Avi-senpai dan Schwert-san dengan cepat menoleh ke arahku.
Tolong berhenti. Jangan lihat aku. Aku adalah siswi SMP biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
“Dan dalam sekejap dia menjerumuskan divisi SMP ke dalam jurang teror.”
Jangan lanjutkan lagi, ada kesalahpahaman besar soal rumor itu, atau lebih tepatnya, sebagian besar hanyalah rekayasa.
“Zekka-chan….”
“Miyamoto-san….”
Dan sudah kubilang, jangan lihat aku. Kalau kalian melakukan itu, rasanya aku benar-benar semacam murid pindahan yang berbahaya—.
“Begitu ya, jadi kau yang bernama Miyamoto Zekka.”
Uah, dia melotot padaku dengan intens.
“Hei, Xenovia, apa yang kaulakukan, melototi kouhai-mu?”
“Murid pindahan itu melototiku dulu, aku cuma menerima tantangannya tanpa rasa takutk.”
Aku tidak melotot! Mataku memang kelihatan jahat dari lahir!
“…X-Xenovia-san tadi didatangi oleh adik kelasnya untuk meminta nasihat.”
Asia-senpai, yang mempunyai senyum keibuan di wajahnya, menyusul menjelaskan. Dia menggemaskan.
“Tolong, lakukan sesuatu terhadap murid pindahan yang mengerikan itu—itulah kata-kata mereka.”
…Tapi isinya tidak menggemaskan sama sekali. Apakah aku benar-benar dipandang sebagai seseorang yang berbahaya?
“Beberapa waktu lalu, aku mendengar rumor tentang klub mencurigakan dengan nama yang mirip dengan kami—Pedang Ilmu Gaib[3].”
Pandangan Xenovia-senpai bahkan menjangkau klub ini.
Saat aku diam-diam melirik ke arah Avi-senpai, dia bersiul tak wajar.
“Meski aku tidak menyangka murid pindahan yang mengerikan itu akan menjadi anggota klub ini.”
Dia mengangguk seolah-olah menghubungkan titik-titik itu—aku dan Pedang Ilmu Gaib, mengerikan dan mencurigakan.
(Anggota? Aku? Apa aku diperlakukan sewenang-wenang sebagai anggota…?)
Bukankah itu kesalahpahaman terbesar saat ini?
“…Haha, aku turut berbela sungkawa.”
Schwert-san, yang berdiri di sampingku, berbisik di telingaku. Kenapa kau malah kelihatan agak senang?!
“Dan siapa sangka kalau kouhai-nya Rossweisse juga salah satunya.”
“Eh?! Aku?! Ini benar-benar salah paham—”
“Alasan itu sia-sia!”
Schwert-san juga tercengang karena diperlakukan secara sewenang-wenang sebagai anggota. Turut berbela sungkawa.
“Murid pindahan yang dirumorkan, klub yang dirumorkan—kami datang untuk memeriksa kalian!”
Toh, sepertinya dia adalah tipe yang terburu-buru, sepertinya dia tidak mau mendengarkan.
“Meski, pada akhirnya, itu hanya rumor yang setengah benar, tapi kalian tadi hampir memulai pertarungan tepat saat kami datang.”
Begitu ya, beberapa saat yang lalu memang ada suasana tegang di antara kami dan Schwert-san.
“Mungkin kita harus melaporkannya pada Sona-kaichou untuk berjaga-jaga,” kata Shidou-senpai, membuat gerakan merenung.
Dan orang yang mengubah ekspresi mereka adalah dua orang di dekatku.
“(I-itu buruk! Kita sudah punya hubungan terburuk dengan OSIS divisi SMA!)”
“(Aku juga bisa kena masalah kalau Sona-san marah padaku! Kelangsungan hidup klub ini bisa terancam!)”
“(E-er, aku ingin meluruskan kesalahpahaman tentangku dulu….)”
““(Itu ditunda dulu!)””
Apa cuma aku saja yang diperlakukan buruk di sini?
Meskipun dengan ketiga orang itu memiliki pemikiran mereka masing-masing, semua orang yang hadir memahami bahwa situasinya menjadi kacau.
“Apa kalian punya penjelasan?” tanya Xenovia-senpai, seperti seorang bos yang menegur karyawannya.
“(Apa yang bakal kita lakukan soal ini?)”
“(Bisakah kita menyelesaikannya dengan nyali?!)”
“(Tapi kalau kita menyelesaikan kesalahpahaman—)”
““(Diam sebentar!)””
Uuu, aku ingin menangis.
“K-kami punya.”
Kami tidak bisa berdiam diri selamanya.
Orang yang akhirnya membuka mulutnya adalah Avi-senpai. Kumohon, tolong, berhasil melaluinya.
“Kami tadi, sedang berlatih, untuk, Rating Game!”[4]
D-dia berbohong dengan sepenuh hati!
Wajahnya pucat, bahasanya terputus-putus—bagaimapun juga, mereka akan mengetahui kebohongan seperti itu!
“Oh, Rating Game!”
Namun, Xenovia-senpai terlihat terkesan karena suatu alasan. Tidak mungkin dia benar-benar memercayai ini…?
“Kelihatannya kami sedang bertarung, tapi sebenarnya itu adalah latihan persiapan untuk game!”
Schwert-san langsung menyambar kesempatan itu dengan sekuat tenaga.
Saat aku terjepit di antara keduanya, mereka mendorong pinggangku seolah menyuruhku untuk ikut membantu mereka juga.
“L… latihan? Sepertinya memang begitu?” kataku sambil tersenyum kaku. Kemudian keduanya menyodokku lagi seolah-olah mengatakan “kerja bagus!”.
“Begitu ya, jadi rumornya cuma sebatas itu, dan kalian cuma melakukan kegiatan klub yang sehat.”
“““Ya!”””
Mungkinkah kami bisa bertahan?!
“Tapi ada pepatah bilang, tak ada asap jika tak ada api.”
Shidou-senpai melontarkan hal itu saat Xenovia-senpai mulai setuju.
Schwert-san mendecakkan lidahnya di sebelahku karena ucapan yang tidak diminta itu. Mereka bisa mendengarmu, lho.
“Um, mengkritik mereka terlalu keras itu agak….”
Asia-senpai yang menyaksikan dengan penuh perhatian, berusaha menengahi. Baik sekali. Identitas aslinya pastilah seorang malaikat.
“…Kalau begitu, mari kita selesaikan dengan pertandingan.”
“““““Pertandingan?”””””
Setelah beberapa saat, Xenovia-senpai tiba-tiba mengusulkan.
“Kalian tidak perlu terlalu berhati-hati. Pada akhirnya, itu hanyalah pertukaran antara senpai dan kouhai. Sesuatu yang sudah kita kenal baik. …Aku tahu, bagaimana dengan Rating Game tiruan?”
Apakah batasan di antara mereka bukannya membahayakan nyawa, melainkan menggunakannya dengan cara rekreasional, ya?
“Ada kalanya perselisihan satu sama lain mengungkap lebih banyak daripada kata-kata.”
Sepertinya komentar itu berdasarkan pengalaman pribadi yang luas. Dua senpai lainnya mengangguk setuju.
“Dengan kata lain, tanya jawab yang membosankan berakhir di sini! Kami akan mengetahui kebenaran perkataan kalian lewat game!”
Tapi, apa sebenarnya yang harus kita lakukan dalam Rating Game tiruan ini.
Bagaimanapun, kami disebut Pedang Ilmu Gaib, jadi mungkin jika itu berhubungan dengan pedang…..
““Ayo lakukan!””
Namun, memanfaatkan kesempatan itu, Avi-senpai dan Schwert-san langsung menyetujuinya.
Sepertinya mereka benar-benar tidak ingin terlibat dengan “Sona-kaichou” ini.
“Heh, kalau begitu sudah beres. Mari kita lanjutkan dengan Rating Game tiruan.” Xenovia-senpai menyatakan dengan puas.
“Itu mengingatkanku pada saat para senpai bertanding tenis.”
“Akademi Kuoh seharusnya seperti ini, ini yang cocok buat kita, bukan?!”
Kalau soal ini, Asia-senpai dan Shidou-senpai juga setuju tanpa ragu.
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan pertandingan antara Klub Penelitian Ilmu Gaib dan Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib seperti biasa!”
Rating Game bisa mengambil berbagai macam bentuk dan acara.
Seperti yang telah kami diskusikan, acara yang dipilih untuk diadakan hari ini di bangunan seni bela diri lama ini bertema “seni bela diri”.
(Ini seni bela diri yang mengerikan, mengerikan-mengerikan-mengerikan, dalam segala hal—!)
Kemungkinan terjadinya kontes ilmu pedang atau pertarungan tangan kosong cukup tinggi. Saat ini, itulah aktivitas yang paling ingin kuhindari.
“O-omong-omong, kita tidak punya wasit.”
Seolah mengingat sesuatu, Asia-senpai menunjukkannya.
“Benar, kita tidak bisa menentukan pemenangnya sendiri secara adil.”
Xenovia-senpai mengkhawatirkan keadilan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali ke Klub Penelitian Ilmu Gaib dan memilih seseorang da—”
“Shidou-paisen, tolong, diamlah sebentar.”
“Kenapa?! Dan ada apa dengan cara pemanggilan itu! Aku ini seniormu, tahu?!”
Shidou-senpai terkejut, tapi Schwert-san tetap tenang dan tidak peduli.
Jika memungkinkan, aku lebih suka kebuntuan ini terus berlanjut…..
“Sepertinya kalian sedang merencanakan sesuatu yang menarik.”
…Yah, tentu saja, akan berakhir seperti ini. Suara asing lain terdengar dari pintu masuk.
“Ah, Sensei!”
“Ciao, sepertinya kau baik-baik saja, Avi.”
Avi-senpai diliputi kegembiraan dan melambaikan tangannya begitu bersemangat hingga seperti mau copot.
(Sensei—begitu, jadi orang ini yang meneliti Sacred Gear—)
Penasaran orang seperti apa dia, aku mengalihkan pandanganku ke arah suara itu, berpikir bahwa pada titik ini tak ada lagi yang bisa mengejutkanku.
(Be, be-be, be-be-be, besar sekali…!)
Aku terperangah oleh oppai-nya.
“Mataku… bakal hancur… mereka menolak ini….”
Melon, semangka, enggak, kata-kata setengah-setengah seperti itu tidaklah cukup.
“Itu adalah bom untuk meluluhlantakan segalanya… kalau aku harus menamainya, itu adalah ‘Senjata Pemusnah OP I’….”
“Apa yang sedang kauoceh dari tadi, Miyamoto-san?”
Sensei menyibakkan rambut ungunya ke belakang dan berjalan ke arah kami.
“Oya, kau adalah….”
Benar-benar kecantikan yang anggun, matanya yang memancarkan kecerdasan menangkapku dari balik kacamata.
“Mi-Miyamoto Zekka, ada apa?”
“Wow. Salam yang mendadak, ya.”
Celah mata Sensei yang panjang sedikit mengendur.
“Aku adalah penasihat tidak resmi dari Pedang Ilmu Gaib—Penemune.”
Lalu hal-hal seperti Pedang Ilmu Gaib adalah klub bermasalah, tidak memiliki penasihat yang tepat—semua kekhawatiran itu sirna—karena aku ternganga mendengar namanya.
“Pene-mune (payudara)?!”
“Penemune.”
“Payudara… oppai… jadi Mune-sensei….”
“Arara, dia tak bisa mendengar apa-apa, matanya tidak melihat apa pun selain oppai.”
Dia dengan ceria mengangkat bahu dan mengalihkan pandangannya ke arah para senpai.
“Senang bisa berkenalan dengan kalian, kurasa, trio Penelitian Ilmu Gaib.”
“Jadi Anda adalah gurunya, Penemune, kami hanya mendengar nama Anda dari penasihat kami.”
Setelah dia bertukar salam dengan Xenovia-senpai dan yang lainnya, Sensei memastikan situasi saat ini.
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan jadi wasitnya.”
Mune-sensei… maksudku, Penemune-sensei menawarkan diri dengan nada santai.
Dia tampak sebagai individu yang tenang; namun, pada kenyataannya, dia memancarkan kesan sebagai tipe kakak perempuan yang ramah.
“Tapi, meskipun temanya adalah ‘seni bela diri’, pertarungan pedang biasa tidak akan seru.”
““““““???????””””””
“Jika kalian bertekad untuk melakukannya, kalian harus membuatnya seru.”
Aku tak bisa memahami maksud di balik perkataan Penemune-sensei sampai pertandingan dimulai.
“Ronde pertama, tema pertandingan pembuka adalah ‘latihan pemanasan’.”
Pesertanya adalah Schwert-san dan Shidou-senpai.
Mereka bergulat di tengah dojo, meski tidak seperti seni bela diri.
“Itu saja?” “Guh, kenapa kau…!”
Kaki, tubuh, dan wajah mereka saling terjalit—aku menyebutnya permainan kusut.
“Kenapa Twister…?”
Sensei menjelaskan kalau ini semacam permainan pesta.
Namun, dua gadis bergumul bersama—apa hubungannya dengan latihan pemanasan?
“Keputusanku tepat untuk meninggalkan peralatan Twister di sini. Terakhir kali, Asia memainkannya memakai cosplay telinga kelinci….”
“Uuu, tolong, jangan bicarakan itu!”
Xenovia-senpai dan Asia-senpai mengobrol dengan normal. Sepertinya mereka bersenang-senang, mengenang sesuatu.
(Kenapa?! Bukankah aneh memainkan permainan yang disebut “Twister” ini di sekolah?!)
Aku merasa aneh dan tidak tahan bahwa tidak ada yang mengatakan apa-apa tentang ini.
Merasakan keraguanku, Sensei, yang berdiri di dekatku, menjelaskan.
“Persiapan itu sangat penting dalam seni bela diri. Sangat penting untuk mengendurkan tubuh demi langkah keamanan.”
Itu masuk akal. Aku tidak punya ruang untuk membantah.
“Lagi pula, yang terbaik adalah menikmati diri, itulah sebabnya aku memilih permainan ini.”
Jadi begitu. Aku terkesan dengan seberapa banyak dia memikirkan hal itu, meskipun sepertinya dia hanya bersenang-senang.
“Lagi pula… gadis-gadis muda yang saling terbelit… hehe, bukankah ini yang terbaik….”
Untuk beberapa saat, Sensei tersenyum nakal. Dan hanya aku yang menyaksikannya.
(I-itu salah, dia memilih Twister cuma demi kepentingannya sendiri?!)
Meski hanya sebentar, dia mengungkapkan sisi cabul yang mirip dengan Tensei.
Aku harus berhati-hati saat berada di dekatnya—intuisiku membunyikan alarm bahaya.
“Ke,napa, lembut sekali[5]…!”
“Payudaramu juga lembut kok, Senpai, kau tahu?”
“A-aku sedang membicarakan tubuhmu… tunggu, di mana kau menyentuh…!”
“Oh, ini force majeure[6], gravitasi, atau semacamnya yang membuatku bergerak.”
Sambil mengatakan itu, Schwert-san bergerak dengan cara menghalangi jalan keluar Senpai.
Yang mengejutkanku adalah fleksibilitasnya yang luar biasa[7]; dia memanfaatkannya sampai batas potensi manusia.
(Menakjubkan, tapi… aku tak tahu harus melihat ke mana….)
Shidou-senpai berdiri dalam posisi kayang. Bagaimana bisa jadi seperti ini?
(Tapi oppai itu sungguh elastis… bahkan menghadap ke langit-langit pun bentuknya tidak berubah…!)
Dari kelihatannya, miliknya tidak sebesar milik Xenovia-senpai; namun, ciri-ciri yang tidak terlihat oleh mata cukup kuat.
Schwertleite yang lembut dan Shidou Irina yang elastis—pertarungan yang hebat.
“Aku tidak akan kalah dari seorang kouhai.”
“Terlalu naif.”
Shidou-senpai bergerak mantap; tetapi, Schwert-san melangkah satu tahap di depan.
“H-hei, jangan menyentuh—kya!”
Tangan Schwert-san menyenggol payudara Shidou-senpai di tengah jalan.
Tubuhnya gemetar, lalu dia kehilangan keseimbangan karena jeritan melengking.
“U, uu… aku tidak akan bisa menjadi pengantin lagi….”
Berbaring telentang, Senpai menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tapi, tak ada yang bisa membuatmu tak bisa menjadi pengantin.
“Maaf, sepertinya aku memang berbakat bahkan dalam hal seperti ini.”
“Apa kau bersikap rendah hati atau mengejekku, yang mana?!”
“Tentu saja, aku sangat menghormatimu, Senpai. Lagian, lawanku adalah Ace Surga.”
“Kau….”
“Meskipun di Twister kau bukan seorang Ace, paling-paling hanya seorang penghangat bangku cadangan.”
“Jadi, kau memang mengejekku!”
Mereka tampak sangat bahagia saat bertukar kata seperti ini. Sejujurnya, aku agak iri.
“Pemenang, Schwertleite dari ‘Pedang Ilmu Gaib’!”
“Yah, itu sudah jelas.”
Setelah pengumuman nyaring Sensei, kami mengamankan satu kemenangan.
“Nah, tema ronde kedua adalah ‘etiket’!”
Tema yang aneh muncul sekali lagi.
“Dalam seni bela diri, etika sangat penting, yeah, sangatlah penting, tanpa keraguan.”
Ucapannya berbau kebohongan, tapi aku bersyukur tak ada pertandingan pedang.
“Kalau begitu, aku akan….”
“Tunggu, Zekka-chan!”
Saat aku hendak melangkah maju, Avi-senpai menghentikanku.
“Aku yang akan maju!”
“T-tidak, sebaiknya aku… dan ronde selanjutnya harusnya antarketua….”
“Meski begitu, aku sudah menghabiskan hampir tiga tahun di dojo ini, tahu? Kemampuan etiketku adalah yang terbaik!”
Jadi, dia bilang siapa pun yang punya kemungkinan menang lebih tinggi harus maju. Aku juga dibesarkan di dojo, tapi tak bisa mengatakannya sekarang.
“Kau adalah seorang pemula dalam seni bela diri, Zekka-chan. Sebagai orang yang memiliki pengalaman bertahun-tahun, aku lebih cocok untuk etiket.”
“Yah, tak apa-apa membiarkan Buchou-san kita pergi?”
Dan seperti itu, ronde kedua dimulai.
Dari pihak kami—Avi-senpai, dan dari pihak lawan—Asia-senpai.
Dan ketika kami berbicara soal etiket yang esensial….
“Ini untukmu.”
Asia-senpai menyodorkan cangkir, duduk dalam pose seiza.
“…Kenapa upacara minum teh?”
Ini tak ada hubungannya dengan seni bela diri! Kami menyimpang ke arah yang sama sekali berbeda.
Selain itu, mereka bahkan menyiapkan tikar tatami dan peralatan teh. Untuk saat ini, aku akan menerimanya dan meminumnya….
“Upacara minum teh adalah etiket tradisional Jepang yang kental.”
Sensei tengah menyeruput teh. Tentu saja, ini adalah aktivitas budaya yang dianggap sebagai puncak dari etika.
“…Dan dilayani teh oleh seorang gadis pirang cantik… hehehe….”
Apa dia baru saja mengatakan itu keras-keras?
(Orang ini! Sudah kuduga, dia hanya bertindak atas dasar keserakahannya sendiri! Yang ada hanyalah pikiran mesum di benaknya!)
Keraguan berubah menjadi keyakinan. Haruskah aku memperingatkannya sekali demi masa depan, ya.
“Um, apa rasanya tidak sesuai dengan seleramu…?”
Kemungkinan karena aku sedang melamun, Asia-senpai menatapku dengan cemas.
“Wajahmu kelihatan menakutkan tadi.”
“Errr, wajahku memang kelihatan menyeramkan dari lahir, tapi tehnya… sangat enak.”
Aku tidak pernah sebahagia ini dengan penampilanku daripada sekarang. Aku membungkuk untuk menghormati keterampilan upacara minum tehnya yang luar biasa.
“Syukurlah. Lega rasanya kalau ini sesuai dengan seleramu.”
Asia-senpai tersenyum manis. Entah kenapa, aku merasa malu dan tidak bisa menatap matanya secara langsung.
“…Hah, lega rasanya aku pernah diajari oleh Akeno-san.”
Dia terlihat sangat menggemaskan bahkan saat menghela napas lega.
Kalau bisa, aku ingin berharap oppai-nya tidak tumbuh lebih besar lagi.
Setelah Asia-senpai selesai, tibalah saatnya untuk peserta berikutnya. Setelah mengganti peralatan, tibalah giliran yang ditunggu-tunggu untuk Avi-senpai, tapi—.
“Wah, wah-wah, wah!”
Dia langsung panik sejak awal. Bagaimanapun juga, cara dia menggerakkan tangannya terlihat berbahaya.
Apalagi, beberapa detik dari awal, dia menumpahkan air bahkan sebelum mulai merebusnya.
“Kyaa?!”
…Dan menyiramkannya ke seluruh tubuh Asia-senpai.
“Aku basah kuyup…!”
“Itulah Avi-ku! Inilah tepatnya mengapa kau adalah muridku!”
Bukannya marah, Sensei memujinya dengan penuh kekaguman. Dan dia memotret tanpa meminta izin terlebih dahulu.
(…Apa sebenarnya yang kusaksikan ini?)
Mau tak mau aku diliputi kebingungan melihat kekacauan yang tak ada habisnya ini.
“Pemenang, Asia Argento dari ‘Penelitian Ilmu Gaib’!”
“A-aku berhasil!”
Akhirnya, Sensei memberikan keputusannya. Yah, aku tak bisa memprotes hasil ini.
“Gah! Maafkan aku, semuanya!”
Avi-senpai meninju lantai. Bahkan orang ini sebenarnya tidak sedang main-main.
(…Meski aku bersyukur atas apa yang telah terjadi.)
Tim kami seri, tapi isi pertandingannya hanya aktivitas hobi.
Hingga saat ini, terdapat Twister dan upacara minum teh—kegiatan yang patut dipertanyakan dan sepertinya hanya ada hubungannya dengan seni bela diri.
Mungkin agak memalukan, tapi masih jauh lebih baik daripada bertarung dengan pedang.
“Sekarang, untuk ronde terakhir temanya adalah ‘anggar’.”
…Anggar? Hah? Apa aku salah dengar?
“Tak ada aturan sulit kali ini. Orang yang berhasil mendaratkan serangan lebih dulu akan menjadi pemenangnya.”
Namun, Sensei mengumumkan itu dengan ekspresi gembira di wajahnya, mengkhianati ekspektasiku.
“Seperti yang diduga, ronde terakhir harus diputuskan dengan cara tradisional—dengan pedang, 'kan?”
—JD×D—
Kami bertiga berkumpul di dekat tembok.
Musuh kami, Xenovia-senpai dan teman-temannya, juga sibuk dalam rapat strategi di sisi berlawanan, sambil mengenakan perlengkapan pelindung.
“Pertandingan… pedang… tebasan… normal… oppai….”
“S-Schwe-chan! Lihat, kesadaran Zekka-chan melayang lagi?!”
“Bahkan menggunakan sihir di kepalanya tidak akan membantu. Heeei, Miyamoto-san.”
Suara mereka sepertinya datang dari suatu tempat yang jauh. Aku merasa tegang, tetapi sensasi kehampaan jauh lebih kuat.
“Pertandingan akan segera dimulai. Bakal jadi kacau kalau kau bahkan tidak mengenakan alat pelindungmu.”
“Apakah tak ada semacam sakelar untuk mengubah semangatnya menjadi maksimal?!”
“Dia bukan mesin. Manusia tidak punya sakelar—oh.”
Sebuah bola lampu muncul di atas kepala sang gyaru.
“Kalau dipikir-pikir, ada satu sakelar di pertunjukan Oppai Dragon.”
“Rasanya canggung kalau tiba-tiba menyentuhnya, jadi mari kita remas dulu sebagai permulaan.”
Mengatakan itu, Schwert-san mulai menggerakkan jarinya dengan cekatan.
Lalu, jemarinya dengan berani meremas payudaraku dari luar seragam—.
“O….”
““Dia terbangun?!””
“Opp, pa-pa-pa, opa-pa-pa-pa-pa-pa-pa-pa-pa-pa.”
““Terba… ngun?”””
Kemalangan tak pernah datang sendirian. Aku merasa seperti luka yang ditaburi garam.
Aku menggigil, bulu kuduk merinding di sekujur tubuhku.
“Uuu, apa yang baru saja aku….”
“Dia terbangun! Hei! Jadi memang ada sakelar untuk antusiasme maksimal?!”
“Tubuh manusia sungguh menakjubkan.”
Sakelar? Maksimal? Aku amat sangat cemas, tahu?
“Zekka-chan, pertandingannya mau dimulai!”
“Ah, ya, aku mengerti, apa iya?”
“Jadi dia masih setengah sadar. Hei, semangat. Aku akan memakaikan alat pelindung untukmu.”
Schwert-san hanya melepas blazerku, lalu dengan ahli memasangkan alat pelindung itu padaku. Avi-senpai kemudian mendekat sambil membawa setumpuk pedang bambu di tangannya.
“Mereka hanya akan memakai satu, tahu?”
“Naif sekali, Schwe-chan! Di saat seperti ini, makin banyak makin baik!”
Aku akan dapat masalah besar kalau kau bicara tentang pedang seolah-olah itu adalah mata uang.
“Apa tidak apa-apa, Miyamoto-san? Meski ini dimaksudkan sebagai pertandingan, ini tetaplah pertarungan.”
Setelah aku dilengkapi dengan alat pelindung dan satu pedang, kami mendiskusikan strateginya, kepala kami hampir bersentuhan.
Meski mengatakannya seperti itu, yang kebanyakan berbicara adalah dua orang lainnya.
“Belum lagi, kekuatan Xenovia-senpai sangat hebat. Secara realistis, kekalahan kita tak terhindarkan.”
Satu nasihat tajam yang menghantam dengan telak secara mendadak.
“Aku mendengar dari Buchou-san kalau Miyamoto-san adalah seorang pemula.”
Dari situ mereka menyimpulkan hanya ada satu jalan menuju kemenangan.
“Itu berarti mencurahkan diri untuk menghindar dan bertahan. Bertahanlah dengan sekuat tenaga dan tunggu memanfaatkan celah.”
“Tapi kekuatan Zekka-chan juga luar biasa, tahu? Ketika keadaan mendesak, dia bisa menunjukkan kekuatan seperti dalam pertarungan itu!”
“Aku tidak tahu soal kekuatan fisik Miyamoto-san, tapi ilmu pedangnya mengandalkan kekuatan mentah. Senpai mungkin akan memberi kita sedikit kelonggaran, tapi kita benar-benar tidak punya harapan menang dengan pendekatan langsung.”
Meski berbicara dengan santai, penjelasan Schwert-san sangat logis.
Tak lama kemudian, Sensei memanggil kami untuk pertandingan, dan dua lainnya dengan antusias mendorongku ke depan.
“Bagaimanapun, lakukan dengan nyali! Tapi jangan terlalu memaksakan diri!”
“Kalau lukanya tidak mematikan, kami bisa mengobatinya nanti.”
Jadi memang akan berujung pada pertarungan? Aku melangkah ke tengah dojo dengan suasana hati yang paling buruk.
“Dua pedang…?”
Xenovia-senpai sudah menunggu, mengambil kuda-kuda yang mengintimidasi.
Namun, yang menarik perhatianku adalah dua pedang yang dia pegang.
Kenapa, bagaimana—tanpa sepengetahuanku, Sensei mengumumkan.
“Tidak ada batasan waktu untuk pertandingan ini. Yang pertama mendaratkan pukulan akan menang.”
Aturan orisinal untuk berjuang sampai akhir tanpa jeda.
“Aku menantikan pertandingan kita. Mari kita bertarung dengan baik.”
“Ah, aku juga, menantikannya….”
Aku berjabat tangan dengan Senpai yang sopan itu. Cengkeramannya sangat kuat.
“Kalau begitu, kalian berdua, bersiaplah.”
Tenanglah. Meskipun sudah sampai pada pertarungan, itu tetap saja sebuah pertandingan. Kami tidak bertarung sampai mati.
Tidak perlu berusaha sekuat tenaga. Dan seperti yang dibilang Schwert-san, lawanku mungkin akan menahan diri.
“Mulailah pertandingan!”
Akhirnya, sinyal dimulainya pertandingan kami. Aku mengambil posisi dan bersiap untuk mengamati pergerakan lawanku untuk saat ini.
“…Dia menghilang?”
Namun, bersamaan dengan sinyal mulai, Xenovia-senpai menghilang dari pandanganku.
“Zekka-chan! Di bawah!” Avi-senpai berteriak dari belakang.
Menurunkan pandanganku, aku menemukan Xenovia-senpai berjongkok sangat rendah, siap menghunus pedangnya.
(S-serangan frontal tiba-tiba?!)
Pedang itu menebas udara kosong, tetapi suara tebasan yang tajam bergema di dekat telingaku.
“Penghindaran yang bagus! Tapi—!”
Xenovia-senpai mengayunkan pedangnya yang lain.
“?!”
Itu ditujukan langsung ke wajahku. Aku mencegat serangan itu secara langsung dengan pedang bambuku.
Meskipun aku terlempar ke belakang, tidak mampu sepenuhnya menyerap dampak benturan tersebut.
(Kecepatan apa ini, kekuatan apa ini…! Dia menahan diri…?!)
Berguling di lantai beberapa kali, aku mengerti apa arti sebenarnya dari “ilmu pedang yang mengandalkan kekuatan mentah”.
“Kau memiliki mata yang tajam. Tak kusangka kau bisa merespons langkah pembukaku.”
Pendekar pedang yang berdiri mengintimidasi di atasku tampaknya benar-benar terkesan.
“Benar-benar… terkesan…?”
Api menyala di sudut hatiku. Kepahitan dalam diriku, dari semua orang, karena khawatir oleh pendekar pedang bersenjata ganda lainnya, memicu tekadku.
(Buruk. Aku harus tenang. Hitung, dua oppai, empat oppai….)
Ingat tujuanmu. Tahan dirimu, apa yang akan kaucapai dengan bersemangat di sini?
“Nah, kalau begitu.”
Setelah aku berdiri, Senpai mengambil posisi yang penuh dengan semangat juang.
“Berapa lama kau bisa mengimbangiku?”
Sosok Xenovia-senpai menghilang sekali lagi.
Tidak, bukan berarti dia benar-benar menghilang, hanya saja dia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.
“Dari kanan…?!”
Secara bertahap mengasah kesadaranku, aku merasakan kilatan biru di sudut pandanganku.
“Jadi, kau bahkan bisa melihat menembus ini!”
Aku entah bagaimana berhasil menangkis dan menghindari rentetan serangan sengit dari dua pedang.
“Kau seperti angin!”
Tapi, karena tak bisa menghindar sepenuhnya, luka ringan mulai menumpuk. Meskipun aku tidak menerima satu pun serangan langsung, aku sepenuhnya bertahan.
“Zekka-chan, maju!”
“Jangan konyol, dia melakukannya dengan baik untuk seorang amatir.”
Mereka berdua menyemangatiku, tapi yang lebih penting, kekuatan yang terpancar dari ilmu pedang lawanku terlalu kuat.
“I-Irina-san. Bukankah dia bertindak kelewatan?”
“Xenovia itu, dia jadi bersemangat.”
Setelah akhirnya mampu membuat sedikit celah, keenggananku untuk bertarung bertindak sebagai rem, menumpulkan pedangku.
“…Apakah barusan kau membiarkannya begitu saja…?!”
Tentu saja, Xenovia-senpai akan merasa tidak nyaman jika hal ini terus berulang.
Bingung dengan kurangnya perlawanan dariku, dia melanjutkan tanpa ragu.
“Kau mempunyai banyak peluang untuk menyerang! Kenapa tidak melawan?!”
“……”
“Selama ini kau hanya bertahan! Kalau kau terus seperti ini, kau tidak akan bisa mencapaiku!”
Aura kuat berkumpul di sekitar tangan kanannya.
“Kalau kau seorang pendekar pedang, cobalah melawan!”
Serangan terkuat dan tercepatnya.
Tidak dapat mengelak tepat waktu, aku pun menghentikannya dengan pedangku secara langsung.
“—?!”
Hasil yang sama seperti di awal. Aku terlempar mundur dengan kekuatan yang dahsyat.
“…Ha… ha… ha….”
Melirik tanganku, aku melihat pedang bambu itu pecah berkeping-keping.
Mungkin karena aku berulang kali berguling-guling di lantai, sebagian helm yang menutupi kepalaku juga telah robek.
“Zekka-chan!”
Avi-senpai, yang menonton dari dekat, bergegas menghampiriku.
“Kenapa kau begitu keras kepala untuk tidak menyerang? Kau melihat celahnya, 'kan?”
Pendekar pedang di depanku melontarkan komentar tajam selagi aku berlutut dan menurunkan pandanganku.
“Xenovia-senpai, Zekka-chan….”
“Maaf, tapi aku harus berbicara dengannya.”
Senpai sedikit meninggikan suaranya.
“Benar, ini bukanlah pertandingan kematian. Tapi, tak ada gunanya kalau dia tidak memiliki keinginan untuk bertarung.”
Kurang kemampuan atau menahan diri—kami tidak membicarakan hal semacam itu.
Orang yang menghadapku telah mengetahui diriku—aku tidak mempunyai niat yang tulus untuk bertarung.
“Apakah kau benar-benar akan mundur seperti ini?”
Tidak diragukan lagi, dia adalah orang yang jujur, menjadi marah demi diriku sendiri.
(Tapi mau bagaimana lagi, 'kan? Lagi pula, aku ingin sekali hidup normal.)
Dan aku tidak memang punya rencana untuk memasuki Pedang Ilmu Gaib.
(Aku hanya melakukannya karena aku dipaksa oleh orang lain dan tidak punya pilihan lain.)
Biarpun aku menjadi serius dan menang, apa gunanya—.
“Dulu sekali, aku adalah seorang pendekar pedang yang suka menyendiri.”
Lalu, seakan membaca pikiranku, Xenovia-senpai mengucapkan kata-kata itu, ekspresi sedih di wajahnya.
“Aku adalah orang yang satu-satunya kelebihan adalah kemampuan pedangnya. Sebagai seorang prajurit Gereja, aku bertarung persis seperti yang diperintahkan atasanku.”
Dia tiba-tiba menatap Shidou-senpai dan Asia-senpai.
“Tapi kemudian aku berhasil menjalin persahabatan yang berharga. Aku ingin melindungi mereka dan memenuhi harapan mereka.”
Aku merasa itu pasti alasannya bertarung.
“…Jadi Xenovia-senpai mempunyai orang-orang penting baginya, ya.”
Aku sangat iri, namun, aku tidak punya—.
“Kau juga memilikinya, bukan?”
Senpai melihat ke arah gadis yang berusaha menopangku.
“Avi Amon sangat peduli padamu.”
“Peduli, padaku…?”
“Jika tidak, apakah dia akan berdiri di hadapanku dengan gemetar?”
Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihat ke arah Avi-senpai. Dia berdiri di hadapan Xenovia-senpai seolah ingin melindungiku.
“Avi, senpai….”
Ini bukan pertama kalinya aku menyaksikan hal seperti ini.
—Kau tidak memerlukan alasan untuk membantu orang yang membutuhkan!
Ketika kami bertemu, dia mencoba menghadapi OSIS untukku, orang asing.
—Zekka-chan, ilmu pedangmu sangat diperlukan untukku!
Terlebih lagi, dia ingin kami menjadi teman, meskipun aku sangat pengecut.
“Kau harus berdiri, kau harus membalas perasaannya.”
Suara Xenovia-senpai dipenuhi dengan emosi.
“Aku tidak memahami hal-hal rumit, dan sejujurnya, aku tidak berencana melakukannya.”
Lalu dia tepat sasaran.
“Kau mempunyai seseorang yang berharga bagimu dan musuh di depan matamu—ini adalah alasan yang cukup bagi pendekar pedang bertarung!”
Kata-kata tanpa tipu daya, sekadar kejujuran. Itu sebabnya menusuk hatiku.
Dan dari kedalaman lubang yang terbuka, sesuatu yang panas meluap, mengisiku.
“Ze-Zekka-chan? Jangan memaksakan diri….”
“Maaf, Avi-senpai. Pada akhirnya, aku masih harus berjuang.”
Rantai dalam diriku mulai terlepas.
Sebelum pertandingan dimulai, Avi-senpai membawa setumpuk pedang bambu.
Aku mengambil dua dari sana, lalu perlahan-lahan mendekati medan pertarungan tempat dia menunggu.
“Mi-Miyamoto-san! Jangan lupa memasang pelindung di kepalamu!”
“Tidak perlu.”
Tidak perlu lari lagi. Kalaupun perlu, itu tidak akan membawa hasil.
“Avi-senpai, aku tidak memahami apa pun.”
“Zekka-chan….”
“Mungkin sudah terlambat. Meski begitu, aku akan senang kalau kau menjagaku.”
Mengatakan hal itu, dan dengan pedang di masing-masing tangan, aku menghadapi pendekar pedang di depanku.
“Xenovia-senpai, terima kasih.”
“Aku hanya mengungkapkan perasaanku, tak usah berterima kasih padaku.”
Dia mengangkat bahu, berkata tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Mulai sekarang, aku akan serius.”
“Ya! Datanglah dengan segenap kekuatanmu! Dan aku akan menghentikanmu dengan sekuat tenaga!”
Tatapan kami akhirnya berbenturan.
Perasaan yang kusimpan dalam diriku meledak seketika.
Saat aura menjalar ke seluruh tubuhku, alat pelindung, yang tidak mampu menahan tekanan seperti itu, terlempar.
““Touki?!””
Shidou-senpai dan Asia-senpai berseru kaget.
“Xe-Xenovia-san!”
“Kekuatan yang sama yang digunakan Sairaorg Bael-san! Dia bukan pendekar pedang biasa!”
Tentu saja, mana mungkin orang yang menghadapinya tidak mengerti.
“Kalian tidak usah memberi tahuku, aku sudah tahu sejak awal!”
Xenovia-senpai menyiapkan kedua pedangnya sekali lagi.
“Sebuah penghalang sudah dipasang. Ayo lanjutkan pertandingannya!”
Sensei, yang diam sampai saat ini, memberi isyarat, seolah-olah dia telah menunggu dengan tepat saat ini.
Di saat yang sama, Xenovia-senpai berlari lurus ke depan.
“Zekka-chan! Menghindar!” Avi-senpai berteriak padaku, yang tidak menunjukkan tanda-tanda mencoba menghindari serangan itu.
Namun, yang terdengar setelahnya bukanlah jeritan atau rintihan kesedihan.
“Kau memblokir pedangku secara langsung…!”
Mata Xenovia-senpai terbuka lebar karena terkejut.
Pedang bambunya diblokir sempurna dengan kedua pedangku.
(Avi-senpai membantuku, melindungiku, setidaknya pertandingan ini—!)
Sekarang aku tidak akan mengabaikan celah! Aku segera melancarkan serangan balik yang kuat.
“Aku akan menang!”
Pedang bambu yang diperkuat dan seluruh anggota tubuhku dengan mudah membuat Senpai terlempar beberapa meter ke belakang.
Dengan suara keras, dia hampir terbentur dinding, tetapi Senpai langsung berdiri.
“…Jadi kau membalas budi, ya? Bakal berbahaya kalau aku tidak berhasil memblokirnya tepat waktu.”
Xenovia-senpai melepas pelindungnya tanpa peduli.
“Sekarang kita berada di posisi yang sama.”
Itu berubah menjadi pertandingan di mana kami berdua bertarung tanpa pelindung, hanya mengenakan seragam kami.
“Tapi kukira kau adalah pendekar pedang bersenjata ganda seperti aku.”
“Aku tidak, sama.”
“Apa?”
“Penggunaan gandaku, adalah yang terkuat yang pernah ada.”
Mendengar itu, Xenovia-senpai tampak bahagia dari lubuk hatinya.
“Kalau begitu, mari kita putuskan siapakah yang memegang senjata ganda yang sebenarnya di sini!”
Pedang kami berbenturan sekali lagi. Namun, tidak seperti beberapa saat yang lalu, kami berimbang.
Untuk memecahkan kebuntuan ini, aku mengincar titik buta, tapi Senpai meresponsnya dengan sempurna dan menjatuhkan pedangnya.
“Niten Ichi-ryuu, Liriope!”
Hanya bayanganku yang terpotong. Itu terurai mirip kabut musim panas.
“Bayangan semu?!”
Aku yang asli ada di belakangnya; sekarang serangan ini tidak dapat dihindari.
Meski begitu, pedangku menembus udara tipis, seakan menebas ilusi.
(Dia menghilang?! Membuat dirinya transparan? Teleportasi? Tidak, bukan seperti itu…!)
Penjelasannya jauh lebih sederhana—dia bergerak dengan kecepatan ekstrem, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
“Tidak kusangka kau akan memaksaku menggunakan Evil Piece, ciri seorang Knight.”
Tubuhnya diselimuti kekuatan iblis.
Kupikir kemampuan dasarnya kelihatannya terlalu tinggi, dan rupanya dia aslinya adalah iblis.
Tapi, itu bukan kecepatan yang tak bisa diimbangi oleh mata dan kakiku.
“Ini mulai menarik!” “Ini adalah pertandingan yang tidak boleh aku biarkan begitu saja!”
Setelah itu, kami bersilangan pedang berkali-kali, luka-luka kecil muncul di kedua tubuh kami.
Akhir pun sudah dekat; Namun, yang menyerah lebih dulu bukanlah tubuh kami.
““—?!””
Saat kami mengunci pedang bambu kami, pedang itu hancur.
Touki dan kekuatan iblis—senjata kami tidak mampu menahan beban seperti itu.
(Akankah hasilnya seri?! Aku tidak akan mengizinkannya!)
Aku akan menang. Tapi Xenovia-senpai merasakan hal yang sama.
Kami tak bisa dihentikan lagi; kami berdua akan terus berjuang sampai akhir yang pahit.
(Mendapatkan pedang bambu baru—aku tidak punya waktu untuk ini—aku harus segera mengambil senjata!)
Di sudut pandanganku ada banyak pedang yang tertancap di dinding.
Entah itu pedang iblis atau pedang youkai—tidak masalah, aku harus mengambil sesuatu untuk bertarung.
“Datanglah! Ex-Durandal!”
Namun, Senpai tidak bersusah payah melihat ke dinding.
Setelah melantunkan mantra singkat, banyak rantai muncul seolah memotong ruang.
(Dia memainkan gerakan pertama dan memanggil senjata dari ruang lain, tapi itu—!)
Pedang yang ada di tangan Xenovia-senpai bisa disebut kelas legendaris.
Apalagi dia sudah mendekatiku.
Sekarang, ini bukan soal tidak punya waktu untuk mengambil senjata baru; pedang biasa tidak akan mempunyai peluang sejak awal.
Lalu, untuk menang melawannya—.
“Datanglah padaku!”
Menghilangkan batasan yang kuberikan pada diriku sendiri, aku berteriak tanpa sedikit pun keraguan.
“Tensei—!”
Kilauan, kekuatan, oppai—hal-hal yang disegel dilepaskan sekaligus.
“Payudaranya bersinar…?!”
Xenovia-senpai berhenti. Kilauan itu bukanlah satu-satunya alasan.
“G-getaran, apa ini gempa bumi?!”
“Bukan itu! Ini!”
Hanya menggerakkan matanya, Xenovia-senpai mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mengerti.
“Pedang-pedangnya ketakutan—?”
Yang mengguncang ruangan itu adalah bilah-bilah pedang yang tak terhitung jumlahnya yang terpasang di dinding.
Nenek telah mengajariku bahwa setiap senjata memiliki kehendaknya sendiri.
Dan mereka mengenaliku, sang pendekar pedang, dan bilah pedangku, ‘Tensei’.
[Aku sudah menunggu momen ini.]
Suara agung bergema.
Kemeja dan sarashi-ku robek, dan selempang putihku berkibar tertiup angin.
Dengan partikel emas menerangi dunia, dia, yang telah disegel, muncul dari dadaku.
“““““Pedangnya muncul dari oppai?!”””””
Wajar jika semua orang tercengang, tapi tanpa memedulikannya, aku menariknya dari belahan dadaku.
“Tensei! Aku—”
[Tak usah menjelaskan. Kau hanya ingin menang, 'kan?]
“Ya, aku harus menang melawannya!”
[Pedang Suci Legendaris dan pendekar pedang dengan payudara indah—aku tak keberatan dengan lawan kita.]
Dengan pedangku mengarah ke arah Xenovia-senpai, aku menyerbu ke arahnya.
“Haa!”
Bunga api memercik dengan hebat dari serangan dan pertahanan kami yang sangat cepat.
“Sacred Gear tipe pedang, bukankah benda itu memiliki pedang kedua…!”
“Dan kau, Senpai, apakah baik-baik saja tidak membelah senjatamu!”
“Bagaimana kau….”
“Saat mengamatinya, saat beradu dengannya, aura pedangnya bisa dirasakan!”
Senjatanya kemungkinan merupakan perpaduan lebih dari dua pedang.
Karena itu, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa itu juga memiliki banyak kemampuan.
(Lebih lanjut, aku butuh lebih banyak kekuatan!)
Pedang yang diberi nama Ex-Durandal ini mampu menyaingi Tensei.
Ada kemungkinan aku bisa mendaratkan setidaknya satu pukulan, tapi tak ada jaminan semuanya akan berjalan semulus itu.
Tanpa sadar mengatupkan gigiku, rasa darah menyebar di mulutku.
“Darah—crimson—ini—!”
Lalu aku menyadari bahwa ada kekuatan tertentu dalam diriku.
Yang terlintas di depan mataku adalah saat aku bertemu dengan dewi berambut crimson.
Pagi itu dia memelukku, lalu payudaranya menyentuh payudaraku—.
“Tensei!”
[Evolution!!]
Tidak punya waktu ragu-ragu, aku memerintahkan, dan dia segera mengindahkan panggilanku.
Kemampuan Tensei adalah “Perampasan”.
Pertama, ia bisa mencuri energi kehidupan musuh dengan [Dual], lalu menyimpannya di dalam dirinya sendiri.
Kedua, ia dapat mengubah akumulasi energi kehidupan menjadi regenerasi berkecepatan tinggi atau touki dengan [Evolution].
Namun, aspek yang paling luar biasa adalah mampu memanfaatkan kemampuan musuh hanya sekali setelah mencuri energi kehidupan mereka.
Aku mewujudkan kemampuannya yang tersimpan di dalam oppai-ku.
“I-ini milik Rias-oneesama….”
Ekspresi Asia-senpai menunjukkan bahwa dia hampir tidak bisa memercayai matanya.
Saat aku bertemu sang dewi, payudara kami bersentuhan, itu sebabnya aku bisa menggunakan kekuatan ini.
Namun, meski tanpa disadari, aku tersiksa oleh rasa bersalah karena mencurinya.
[Tidak, kau belum mencuri apa pun. Jauh dari itu, kau tidak bisa berharap untuk mengambil satu pun pecahannya.]
Tensei berbicara 0,1 detik sebelum kekuatan terwujud.
[Kedengarannya menakjubkan, gadis berambut crimson itu memiliki energi nyuu yang spesial.]
[Seseorang menyebabkan oppai-nya berevolusi hingga ke tingkat ekstrem.]
[Apa yang tersimpan dalam diriku sekarang tidak lebih dari sisa yang lahir dari proses evolusi itu.]
Energi nyuu yang spesial, berevolusi hingga ekstrem dengan bantuan seseorang—aku tak bisa memahami apa yang sedang dia bicarakan.
(Tapi, kalau oppai Rias-senpai tidak akan menyusut sama sekali—)
Lalu aku lega, aku bisa menggunakan kekuatan ini tanpa menahan diri.
[Penyebaran Sacred Gear!]
[Genesis Sword <Crimson>!!]
Kekuatan iblis berwarna crimson melonjak dari bilah pedang.
Karena tidak mampu menahan dampak besarnya, kotak kaca di dinding tempat pedang-pedang disimpan mulai pecah.
“—Ini adalah kekuatan yang kuterima dari Rias-senpai.”
Sedikit lambaian pedang membuat serpihan kaca lenyap.
Jejak crimson tidak meninggalkan apa pun di jalurnya. Serpihan itu tidak menghujani siapa pun.
“…Kekuatan iblis pemusnah, tidak, haruskah aku menyebutnya pedang iblis pemusnah.”
Xenovia-senpai dengan tenang menganalisis tontonan yang sedang berlangsung.
“Kemampuan Sacred Gear di luar standar. Namun, pasti ada harga untuk menggunakannya.”
Dia mengamatiku dengan saksama.
“Izinkan aku bertanya sekali lagi. Kenapa kau rela melakukan apa saja demi Avi Amon?”
Sebagai seorang pendekar pedang, Xenovia-senpai berusaha memahami pendekar pedang macam apa aku itu.
“…Dia adalah orang pertama yang memujiku.”
Kupikir pedang tidak lagi diperlukan, tapi dia dengan tulus menerimanya.
“…Dia adalah orang pertama yang menyebutku sangat diperlukan.”
Aku penasaran apakah aku pernah merasakan sambutan hangat seperti itu sepanjang hidupku.
Aku baru bertemu dengan Avi-senpai, kami hampir tidak saling mengenal.
(Mungkin, aku salah paham tentang dipuji atau sangat diperlukan. Mungkin, itu tidak cukup menjadi alasan untuk bertarung seperti ini—)
Tapi, dia sama denganku.
Seseorang yang, meski sendirian, terus menempuh jalan yang diyakininya.
“Untuk pertama kalinya, aku menganggap seseorang sebagai teman.”
Asal usulnya, didikannya, dan karakternya sama sekali berbeda denganku.
“Itulah sebabnya aku bertarung.”
Meski begitu, aku menganggapnya sebagai teman.
“Jika itu demi dia, maka aku harus bertarung—!”
Seolah menanggapi emosiku yang meluap-luap, energi nyuu yang kuterima dari Rias-senpai menerangi dunia.
Saat ruangan, yang diwarnai crimson, diselimuti oleh keheningan, satu kalimat dari Shidou-senpai mencapai telingaku.
“…Sama seperti Xenovia saat itu.”
Dari cara dia berbicara, tidak diragukan lagi itu adalah kenangan yang berharga.
Orang yang dimaksud mengendurkan bahunya dan, mengucapkan “Astaga,” tersenyum lembut.
“Itu mengingatkanku, aku masih belum mendengar namamu.”
“Tapi kau tahu namaku.”
“Aku ingin mendengarnya darimu.”
Nada suaranya sangat lembut.
Tapi jika dia memintaku, aku akan membalasnya. Sambil menarik napas dalam-dalam, aku berbicara dengan keras.
“Miyamoto Zekka dari Niten Ichi-ryuu!”
Aku mengarahkan pedangku lurus ke depan. Dan lawanku merespons dengan cara yang sama.
“Knight Rias Gremory, Xenovia!”
Aku melihat Evil Piece bersinar di dadanya.
“Persiapkan dirimu, Xenovia-senpai!”
“Aku datang! Zekka!”
Suara kami bersatu. Gerakan kami bersatu. Pikiran kami bersatu.
““Ini penentuan!””
Saling mendekat, kami berkomunikasi dengan mata kami: “Kita akan mengakhirinya dengan satu serangan ini”.
Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib dan Klub Penelitian Ilmu Gaib akan mengakhiri permainan ini!
“Sampai di sini saja.”
Dalam sekejap, cahaya raksasa menyelimuti kami berdua.
Penglihatanku menjadi putih, dan di ambang kehilangan kesadaran, aku melihat Sensei dengan sayap hitamnya mengepak.
“Kalian benar-benar bertindak terlalu jauh. Tapi ini adalah permainan yang menarik.”
Yang menilai pertarungan ini bukanlah Tuhan.
“Atas nama Malaikat Jatuh Penemune, sekretaris jenderal Grigori—pertandingan ini dinyatakan selesai.”
Aku menemukan yang kucari, dan secara kebetulan ikut ditemukan.
—JD×D—
“““Kalian datang ke sini hanya untuk bermain?!”””
Suara kami bersatu secara serempak.
“Kami dengar ada beberapa kouhai yang menarik, jadi itu menggelitik rasa penasaran kami.”
“Tapi bagaimana dengan memeriksa Pedang Ilmu Gaib atau menyebut Zekka-chan sebagai Asura….”
“Kalau kalian benar-benar sekelompok orang yang merepotkan, OSIS divisi SMA yang akan campur tangan, bukan kami.”
Xenovia-senpai menanggapi dengan ekspresi bermartabat, meski Shidou-senpai menegurnya.
“Jangan bicara kelewat sombong. Kau bertindak kelewatan, apakah kau merenungkannya, Xenovia?”
“Salahku karena begitu antusias. Aku benar-benar menyesal.”
Setelah itu, Asia-senpai mendekati Avi-senpai dan menambahkan. “Sejujurnya, Sona-kaichou juga meminta kami untuk memeriksa Avi-san.”
“Sona-san?!”
“Dia cukup khawatir, tahu?”
“…Aku mengerti….”
Avi-senpai terlihat agak senang.
Tampaknya dia mempunyai hubungan dekat dengan ketua OSIS dari divisi SMA.
“Omong-omong, Rias-buchou kami juga meminta kami untuk melihat bagaimana keadaan Zekka-chan.”
“Eh, aku?!”
“Dia khawatir apakah kau menemui masalah atau kesalahpahaman di divisi SMP.”
“Dia benar-benar seorang dewi…!”
“Rias-buchou adalah iblis, tahu?”
Kau tidak perlu menyebutkan detail sepele seperti itu, Xenovia-senpai.
“Mi-Miyamoto-san, kau kenal dengan Rias Gremory-san?”
Schwert-san juga tercengang saat nama Rias-senpai disebutkan.
“Uh-oh, Kaichou kami pasti tidak mengantisipasi hal ini….”
Schwert-san menyesali bahwa segala sesuatunya akan menjadi masalah sekali lagi.
“Hei-hei! Berapa lama kalian bakal basa-basi? Kalian tidak akan pulang sampai kalian membereskan kekacauan ini!”
Pada saat itu, sang penasihat… Penemune-sensei, malaikat jatuh, buru-buru mendesak kami.
Kebetulan pertandingan terakhirnya berakhir seri. Itu terhenti karena kami bisa menghancurkan bukan hanya ruangan ini tetapi juga akademi itu sendiri.
Dengan demikian, pertukaran antara Pedang Ilmu Gaib dan Penelitian Ilmu Gaib diakhiri dengan merapikan gedung seni bela diri lama.
“Kenapa aku juga harus terlibat dalam membersihkan… pakaianku bakal jadi kotor….”
“Kita membuat kekacauan ini bersama-sama, jadi wajar jika kita membereskannya bersama-sama juga.”
Schwert-san terlihat lesu tapi dimarahi oleh Shidou-senpai agar menanggapinya dengan serius.
“Huh, aku iri betapa pekerjaan kotor cocok untukmu, Shidou-paisen.”
“Apa maksudmu?! Kau cuma lancang padaku saja, 'kan?!”
“Enggak-enggak, aku cuma punya rasa hormat. Hanya saja aku tak bisa mengucapkannya dengan benar ketika berbicara dengan Ace Surga.”
“Eh? Jadi kau hanya gugup karena aku sangat luar biasa? Kalau begitu, mau bagaimana lagi.”
“…Sangat berpikiran sederhana.”
Aku iri melihat bagaimana mereka tampak akrab. Sudah kuduga, Schwert-san memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik.
“B-berat….”
“Akan kubantu, Asia-senpai!”
“Avi-san… terima kasih….”
“Ehehe.”
Avi-senpai dan Asia-senpai juga sedang membersihkan. Atmosfer di sana tampak sangat menyenangkan.
Sungguh luar biasa, bisa akrab dengan Asia-senpai… seseorang sepertiku….
“Zekka! Tanganmu tidak bergerak!”
“Y-ya.”
“Kau sekarang adalah kouhai pribadiku. Aku bakal repot kalau kau tidak menganggap ini serius.”
“Meskipun kau mengatakannya seolah-olah aku adalah murid pribadimu….”
Bersama Xenovia-senpai, aku mengambil pedang yang berserakan di lantai.
“Ayo berlatih bersama lain kali. Aku bisa belajar banyak dari olah pedang dan taktikmu.”
“B-begitukah?”
“Sepertinya aku masih kurang berhati-hati.”
“Aku merasa kau akan jadi orang yang lebih bodoh kalau kau berlatih lebih jauh….”
“Apa kau mengatakan sesuatu?”
Enggak. Aku cuma rajin melakukan tugasku.
“Kalau bisa, aku ingin memahami perasaan pedang sama seperti kau, Zekka.”
Xenovia-senpai menatap senjata yang dia ambil.
“Aku juga bisa merasakannya sampai batas tertentu, tapi tidak setepat kau.”
“Walaupun kau sangat memujiku….”
“Jangan rendah hati. Kau melihat menembus Ex-Durandal hanya dengan sekali pandang.”
“Itu mudah dimengerti karena sangat kuat. Sebaliknya, menurutku kaulah yang luar biasa karena berhasil menanganinya….”
Setelah bertanya, aku mengetahui kalau pedang sucinya adalah kombinasi Excalibur dan Durandal.
Keduanya adalah Pedang Suci Legendaris, tapi aku tak pernah menyangka keduanya benar-benar ada, dan lagi, aku bisa menyaksikannya di akademi.
“Durandal itu liar tapi sangat jujur.”
“Begitu, lalu bagaimana dengan Excalibur?”
“Ada banyak suara yang memancar darinya, jadi agak sulit untuk dijelaskan dengan satu karakteristik saja.”
“Kau paham banyak tentang Excalibur hanya dari beberapa pertukaran…?”
Aku merasa bingung, mengira aku telah mengatakan sesuatu yang aneh, tapi Senpai melihat ke kejauhan dan bergumam, “Seseorang yang dicintai pedang, ya.”
Lalu dia menatapku dan menunjukkan senyuman penuh semangat.
“Sepertinya aku punya kouhai yang sangat menarik.”
Setelah itu, dengan bantuan Sensei, kami berhasil mengembalikan ruang klub ke keadaan semula dalam waktu sekitar satu jam.
“Zekka-chan.”
Dengan kejadian yang akhirnya berakhir, aku menarik napas, lalu Avi-senpai berdiri di sampingku.
“Maaf, ini akhirnya menjadi kekacauan besar.”
“…Sama sekali tidak.”
“Kau luar biasa. Rupanya kau sekuat itu.”
“…Maafkan aku karena diam mengenai itu.”
“Jangan cemas, kau tak perlu meminta maaf; malahan—”
Avi-senpai tiba-tiba menundukkan kepalanya.
“Terima kasih, sungguh! Karena bertarung demi Pedang Ilmu Gaib!”
Ucapan terima kasih yang sangat sopan, tidak pantas untuk seorang senior.
“A-Avi-senpai?! Kau tidak perlu terlalu formal!”
Aku jadi putus asa setelah diberi tahu oleh Xenovia-senpai dan memutuskan kalau aku harus bertarung.
Dan sebelum aku menyadarinya, aku akhirnya menggunakan bukan hanya touki tetapi juga Sacred Gear.
Namun, kupikir jika demi orang ini, aku harus menggunakan pedangku.
Mulai sekarang, aku harus memulai hal baru. Ada banyak hal yang harus kukerjakan untuk mendapatkan teman.
(Temui banyak orang dan pelajari banyak hal… ya.)
Mungkin, jika itu ada di sini—.
“Tolong, angkat kepalamu.”
“Tapi….”
“Bukankah akan terlihat buruk kalau ketua klub bersikap seperti ini terhadap anggota klub.”
“Dengar… eh, tunggu, maksudmu.”
“A-aku akan memberi tahumu dulu, tapi aku tidak akan menjadi pendekar pedang terkuat atau semacamnya! Aku melakukan ini hanya karena kau tidak punya cukup anggota! Kalau cuma sekadar jadi anggota klub… ku-kurasa itu tidak masalah untukku.” “Zekka-chan….”
“T-tolong perlakukan aku dengan baik, Avi-buchou.”
Setelah mendengar kata-kataku, Senpai—tidak, Ketua menerkamku.
“Zekka-chaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”
“Tolong, jangan remas o-oppai-ku! Ini pelecehan seksual, tahu?! Aku bakal keluar dari klub, kau dengar?!”
Apa dia mengira aku adalah seseorang yang senang oppai-nya diremas?!
“Kita punya anggota baru, bagus sekali, Avi?” Sensei, yang mengamati, mendekati kami dan dengan lembut mengelus kepala Ketua.
“Meskipun aku punya firasat setelah mendengar namamu, tidak menyangka kau adalah praktisi Niten Ichi-ryuu yang asli.”
“Aku merasa bersalah karena tidak memberitahukan hal itu….”
“Tidak perlu. Padahal kukira yang satu itu sudah hilang, tapi ternyata ada di sini, kali ini bersama keturunan Miyamoto, ya….”
“?”
“Tidak, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Avi dan aku menyambutmu. Bagi seorang pengguna Sacred Gear sepertimu, hari-harimu di sini seharusnya terbukti sangat berharga karena kau sepertinya belum bisa mengendalikannya dengan sempurna.”
Sensei menyiratkan bahwa aku harus menguasai penggunaan Sacred Gear di sini.
“Siapa yang mengira akan tiba saatnya aku menyaksikannya sekali lagi.”
Benar sekali, di tengah kekacauan ini, aku benar-benar lupa kalau aku datang ke sini mencari malaikat jatuh yang dirumorkan.
“Jadi Anda adalah peneliti Sacred Gear terkenal, Sensei, kalau begitu—”
“Oh, yang kaumaksud pasti Azazel, bukan aku.”
“Aza, zel?”
“Dia seorang penasihat di divisi SMA. Meskipun keadaan saat ini cukup sibuk, jadi ini bukan waktu terbaik untuk melakukan penelitian.”
Jadi, apakah itu berarti saat ini aku tak bisa berkonsultasi dengannya….
Saat aku menjadi depresi, berpikir takkan ada kemajuan, Penemune-sensei melengkungkan sudut bibirnya secara sugestif.
“Aku juga seorang malaikat jatuh yang telah hidup lama sekali. Dan khususnya mengenai Sacred Gear tipe pedang, aku mungkin lebih berpengetahuan ketimbang Azazel.”
“K-kalau begitu, Anda juga tahu tentang Tensei?!”
“Enggak.”
H-hah? Dengan perkembangan yang terjadi, bukankah dia akan memberikan kebijaksanaan?
“Tepatnya, aku enggak punya pengetahuan tentang Sacred Gear bernama ‘Tensei’.”
“Apa maksud Anda?”
“Di antara Sacred Gear yang didokumentasikan sampai hari ini, tak ada satu pun yang memiliki nama itu.”
Tapi Tensei tidak dapat disangkal ada di sini, apa maksudnya dengan “tak ada”?
“Kau benar-benar tak tahu apa-apa, ya…. Hei, bagaimana kalau mengatakan sesuatu?”
Pertanyaan Penemune-sensei ditujukan pada payudaraku. Lalu, diiringi kilauan, suara Tensei bergema.
[Itu betul. Nama asliku bukan Tensei. Itu hanyalah nama panggilan yang diberikan Musashi secara asal kepadaku.]
I-itu pertama kalinya aku mendengar ini… Tensei hanyalah sebuah nama panggilan
“Asal atau tidak, menggunakan ‘Ten’[8] untuk namamu cukup ironis bagi ahli pedang.”
[Namaku sendiri tersegel bersama jiwaku, jadi ini masalah sepele.]
“Begitu, ya? Bagaimana Musashi menamainya?”
[Shuusei.]
“Tensei (Orang Kudus Awal Zaman) dan Shuusei (Orang Kudus Akhir Zaman)… ya. Jadi mari gunakan nama-nama itu, kukira. Bagian pentingnya datang berikutnya. Kau tidak akan keberatan kalau aku membocorkannya sedikit, Tensei?”
Dengan dia memberikan izin, Penemune-sensei mengambil inisiatif dan melanjutkannya.
“Apa yang akan kusampaikan padamu sangatlah rahasia. Kau tak boleh mengungkapkan apa yang akan kaudengar, mengerti?”
Dengan sikapnya yang formal, semua orang, bukan hanya aku, mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Sacred Gear Zekka terpilih sebagai Longinus… hampir.”
““““““Hampir?””””””
“Kedua pedang itu merupakan satu Sacred Gear. Dengan kata lain, dengan kedua pedang, bahkan membunuh dewa pun bisa dilakukan.”
Kemampuan untuk membunuh dewa—bukankah itu detail yang penting!
Tapi sebaliknya, apakah itu berarti hanya dengan satu pedang, Sacred Gear-nya lemah?
“Bahkan dengan satu pedang, itu tidak lemah. Malah, ia sangat kuat. Tapi, tak ada artinya jika dibandingkan dengan kekuatannya dengan kedua bilah pedang bersatu. Beberapa abad yang lalu, pedang itu hampir diakui sebagai Longinus, tapi pada saat itu, pedang kedua yang penting itu hilang.”
Jadi karena itulah, tanpa menjadi Longinus ini, pada akhirnya akan terlupakan.
“Meskipun jika aku mengkategorikannya dengan caraku sendiri, itu adalah ‘Extra Longinus’.”
Tak ada yang tahu di mana pedang yang hilang, Shuusei, berada.
“Namun, kekuatannya tidak mengejutkan. Toh, merekalah yang paling disayangi Tuhan.”
Bahkan dengan satu pedang, kemampuan dasarnya menonjol. Itulah rahasia yang Sensei ungkapkan.
“Meskipun mereka disegel dalam Sacred Gear setelah melanggar tabu. Namun, dibandingkan dengan Dragon Eater, yang disegel di lapisan terbawah Cocytus, perbedaan perlakuannya cukup jelas.”
Tabu apa itu, ya. Dosa macam apa yang Tensei perbuat?
Sudah kuduga, apakah dia bertindak terlalu nekat karena oppai? Misteri demi misteri.
“Sekarang aku akan memberi tahu kalian nama sebenarnya dari Sacred Gear yang dimiliki Zekka.”
Namun, setelah kegelapan yang berkepanjangan muncullah seberkas sinar cahaya.
“Saat kedua bilah ini, Tensei dan Shuusei, digabungkan, orang-orang akan takut pada senjata ini.”
Aku akhirnya menemukan sifat sejati dari kekuatanku sendiri.
“Sacred Gear tipe pedang terkuat, Edens Dual!”
—JD×D—
Pada hari aku bergabung dengan Pedang Ilmu Gaib, Avi-buchou dan aku pulang bersama.
“Eh, Zekka-chan, kau tinggal sendirian?! Apakah kau tidak merasa rindu rumah?!”
“Tidak apa-apa. Aku bertukar surat dengan Obaa-chan.”
“Kuno sekali! Sangat menarik! Mungkin aku juga harus berkomunikasi dengan orang lain melalui surat yang ditempelkan pada panah atau semacamnya!”
“Sebaiknya jangan… kau bakal ditangkap….”
Kami mengobrol tentang berbagai topik dengan Avi-buchou sambil berjalan pulang.
“Warna, biru?”
Kami melewati seorang gadis.
Pita biru menawan yang mengikat rambut emasnya yang berkilau memikat perhatianku.
“Orang itu….”
“Seorang kenalan?”
“Bukan….”
“Dia sangat tinggi. Apa dia orang asing? Rambut pirangnya jarang ada.”
Meskipun aku sangat ragu mendengarnya dari seseorang dengan rambut pink….
“Penampilannya dari belakang… dan warna biru itu… biru….”
Aku merasa seolah-olah aku pernah melihatnya, tapi aku tak bisa memastikannya.
“Zekka-chan!”
Avi-buchou berbicara dengan tidak sabar. Mungkinkah dia mengenal orang ini?
“Ini, kroket!”
“…Kenapa kroket?”
Dia memegang dua kroket panas mengepul di tangannya.
“Aku membelinya di toko daging di sana! Baru dibuat!”
“Kapan kau… atau lebih tepatnya, aku enggak bawa uang….”
“Jangan memusingkan detail sepele! Ini! Jangan malu-malu dan makanlah sebelum dingin!”
Bingung, aku menerima kroket yang dia ulurkan padaku.
(Ini pertama kalinya aku menerima sesuatu dari orang lain dengan cara seperti ini….)
Sambil menahan senyum, aku tiba-tiba teringat gadis tadi.
“Dia tidak ada di sini—?”
Saat aku berbalik, tak ada siapa-siapa.
Hanya angin sepoi-sepoi yang dingin dan dunia yang tenggelam dalam keheningan—.
“Ehnak! Ehnak sekahli!”
…Namun, hening adalah pernyataan yang berlebihan.
Bagaimanapun juga, aku merasakan perasaan tidak enak yang samar-samar, atau lebih tepatnya, firasat buruk.
“Yah, pada akhirnya aku akan mengingatnya.”
Mengesampingkan masalah ini, aku mengikuti Senpai dan memakan kroketnya.
Namun, aku seharusnya lebih waspada terhadap gadis berambut pirang itu.
Seharusnya aku merenungkan lebih dalam kenapa dia memicu instingku.
Jika aku melakukannya, mungkin aku tidak akan terlibat dalam insiden yang lebih merepotkan—.
[1] Permainan kata-kata payudara. Tensei mengatakan 人生山あり谷間ありだ yang merupakan sebuah pengalaman pahit dari 人生山あり谷ありだ (idiom asli untuk pasang surut) dan secara harfiah diterjemahkan menjadi "hidup adalah tentang gunung (payudara) dan lembah (belahan dada)".
[2] Zekka cenderung menghentikan kalimatnya saat dia berbicara.
[3] Oka-Ken, kependekan dari Okaruto Kenkyū-bu (オカルト研究部 atau オカルト剣究部) hanya bedanya dari Ken-nya, 研 (ken) untuk penelitian, 剣 (ken) untuk pedang.
[4] Avi gugup sehingga tidak bisa berbicara dengan normal.
[5] Sebuah permainan kata-kata, bisa berarti lembut dan fleksibel (menyiratkan bahwa Schwert benar-benar fleksibel, oleh karena itu dia membalasnya).
[6] Keadaan kahar adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan tidak dapat dihindarkan sehingga suatu kegiatan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
[7] Kata lain, Zekka bisa merujuk pada Schwert yang fleksibel dan payudaranya yang lembut.
[8] Kanji untuk [Ten] adalah [天] yang berarti “surga” atau “langit”.

Post a Comment