Junior High School D×D 1 Life.2

cover

Life.2 Muncul Secara Mengejutkan! Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib!

Beberapa waktu telah berlalu sejak aku pindah ke Akademi Kuoh.

Aku menjalani hari-hariku yang menyendiri seperti biasa, tidak mampu berbaur dengan teman-teman sekelas.

Namun, sekarang aku punya kegiatan klub! Sangat kontras dengan hari-hariku yang menyendiri itu!

Mungkin aku membuat kesalahan fatas pada awalnya, tetapi situasi perlahan-lahan membaik, bukan?!

“Hari ini kita kedatangan murid pindahan.”

Guru wali kelas kami menyatakannya saat homeroom di pagi hari, mengubah spekulasiku menjadi kepastian.

(Seseorang pindah di waktu yang persis sama denganku. Mungkinkah ini kesempatanku untuk berteman dengannya—?)

Terutama karena kemungkinan besar mereka tidak akan punya teman setelah pindah sekolah.

Berjuang untuk berbaur dengan mulus ke dalam kelas, mereka pasti memiliki perasaan kesepian yang sama seperti yang kurasakan.

Lalu, yang akan tampil dengan agungnya adalah aku, Miyamoto Zekka!

Aku sangat gembira dengan kedatangan seseorang yang bisa kuanggap sebagai sekutu lain, seperti Avi-buchou.

“““““M-murid pindahan?!”””””

Reaksi teman-teman sekelasku sangat berbeda denganku.

Pertama, siswa-siswi yang duduk di dekat jendela segera menutupnya.

“Jalan dari tanah diblokir!”

“Menempelkan selotip penguat pada kaca—beres!”

Kenapa mereka bertingkah sangat ketakutan? Lagi pula, murid pindahan itu tidak akan menerobos masuk dari luar.

“Semuanya! Mari tetap tenang dan bertindak bersama!”

Ketua kelas memberi perintah kepada kelas yang kini kacau-balau.

“Untungnya, semua orang di kelas ini adalah anggota dari beberapa klub seni bela diri! Kalau sampai terjadi pertarungan habis-habisan, kali ini kita pasti bisa mengatasinya!”

Ini cuma murid pindahan yang datang, tapi ucapan-ucapan yang terlontar terdengar begitu mengerikan.

(Kalau dipikir-pikir, klub seni bela diri berkembang pesat di divisi SMP….)

Klub-klub tradisional seperti kendo, anggar, atau panahan Jepang adalah hal yang biasa.

Tapi, ada juga beberapa klub eksentrik seperti klub shuriken, klub persenjataan masa depan, klub senjata fiksi, dll.

Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 30 klub bela diri resmi, apalagi jika memasukkan klub tidak resmi.

“Omong-omong, bagaimana status Miyamoto-san?!”

“Aktivitasnya terhenti saat ini! Respons energinya meredup!”

“Jika kebetulan ada murid luar biasa lainnya, bentrokan dengan Miyamoto-san tak lagi bisa dihindari.”

“Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tapi ketua kelas, ini….”

“Kalau kita tak bisa menyelamatkan mereka, setidaknya kita harus menyelamatkan akademi.”

A-apa aku ini seorang kaiju atau semacamnya?!

“Ehm, semuanya, aku memahami kekhawatiran kalian, tapi ini sudah waktunya bagi murid pindahan….”

Guru ingin mempercepat segalanya. Atau lebih tepatnya, apa maksudnya dengan “Aku memahami kekhawatiran kalian”?

“Kalau begitu, silakan masuk.”

Ketika guru mengatakan itu, sambil menghadap pintu, semua teman sekelasku menahan napas.

“Permisi!”

Pintu terbuka lebar dengan penuh semangat.

Dan orang yang masuk secara anggun adalah seorang gadis dengan rambut pirang keemasan, berkilau bagaikan bulan.

Pita biru menghiasi rambutnya, penutup mata berlambang khusus menutupi mata kirinya, dan dia mengenakan seragam yang mengingatkan pada bangsawan dari abad pertengahan.

Sama halnya dengan Schwert-san, tapi apakah Akademi Kuoh mengizinkan modifikasi seragam?

“Hadirin sekalian, aku senang bertemu dengan kalian.”

Atmosfer di sekelilingnya terasa megah, suaranya terasa elegan dan bahkan anggun.

Tapi lebih dari itu, oppai-nya sangat tidak mencerminkan seorang siswi SMP!

Tatapan semua orang pasti terpaku padanya.

“Namaku Lilibette D. Lunaire.”

Dia benar-benar seperti—seorang kesatria.

“Rupanya, beberapa murid bersedia menantangku.”

Melihat situasi ini sekilas, dia menyentuh penutup matanya dan menyatakan.

“Duel adalah apa yang kaumau. Mereka yang tidak takut dengan mata naga jahatku dipersilakan untuk menghadapiku kapan saja.”

Meskipun aku yakin teman-teman sekelasku bereaksi berlebihan.

“Karena aku datang ke akademi ini untuk menjadi yang terkuat!”

…Pada kenyataannya, aku merasa bahwa, memang, seorang murid pindahan yang luar biasa telah datang.

 

Orang ini berbahaya.

Aku sempat berpikir dia itu orang aneh yang bahkan membuatku tampak biasa saja.

Lagi pula, baik seragamnya, perkenalannya, atau cara bicaranya—semuanya terasa berlebihan… atau lebih tepatnya, bukankah itu berbau chuunibyou?

(Tapi bisa dibilang inilah alasan mengapa aku punya kesempatan berteman dengannya….)

Bahwa dia terlihat tidak cocok dengan atmosfer kelas itu sudah jelas; lalu jika sesama penyendiri sepertiku mendekatinya—.

“Dari mana asalmu, Lunaire-san?!”

Seorang siswi bertanya padanya dengan suara ceria. Tanpa sadar aku menajamkan telingaku dan mendengarkan.

“Dari api penyucian mawar biru. Meski beberapa orang juga menyebutnya Prancis.”

Bukankah itu berarti kau dari Prancis?!

“Siapa yang mengajarimu bahasa Jepang?”

“Aku pernah membaca buku peninggalan nenekku, yang berkewarganegaraan Jepang. Aku masih belum mahir dalam kanji, tapi bahasa Jepangku lumayan bagus, 'kan?”

Dia dipenuhi rasa percaya diri, atau lebih tepatnya, terlalu percaya diri. Meski begitu, dia sudah mengatakan hal-hal seperti ‘mata naga jahat’ atau ‘api penyucian’, jadi menurutku akan menjadi bencana jika dia mempelajari kanji lebih dari ini….

“Bisakah kau menjelaskan secara spesifik apa maksudmu dengan ‘menjadi yang terkuat’?”

“Menjadi seorang kesatria yang lebih kuat dari siapa pun, lebih bangga dari siapa pun—itulah cita-citaku.”

“““““Oh.”””””

Dengan setiap jawabannya, suasana kelas menjadi semakin ramai, suara-suara ceria terdengar dari sana-sini.

(Sepenuhnya diterima—?!)

Aku terkejut bahwa meskipun hari ini adalah hari pertamanya pindah, dia sudah bisa berbaur dengan kelas.

Ini salah. Bukankah ini sangat berbeda dengan pindahanku?

“Cara bicaranya aneh, tapi ternyata sangat mudah didekati.”

“Dan tidak meratakan OSIS atau menerobos masuk dari jendela.”

Aku tak bisa membantahnya…. Tapi jika menyangkut keadaanku yang memilukan, tak bisa bergerak dari sudut kelas….

“Lunaire-san, sedikit saran untukmu.”

Seseorang menasihatinya dengan suara pelan.

“Hati-hati dengan Miyamoto-san.”

Aku?! Hati-hati denganku?! Kau baru bilang itu?!

“…Kalau kau membuatnya marah, itu akan jadi masalah besar buatmu.”

“…Benar, dia setara dengan ketua OSIS itu, tahu.”

“…Mungkin kali ini dia akan mengalahkan anak-anak nakal dari SMA Destroy sebagai pemanasan?”

“Zekka-sama yang berakting sebagai penjahat adalah yang terbaik! Aku jadi bersemangat!”

Semua orang bicara seenaknya sendiri.

Ya, aku membuat kesalahan pada hari kepindahanku, tapi tetap saja, ceritanya terlalu dilebih-lebihkan dan tersebar luas.

Bukankah keheranan seharusnya hanya berlangsung selama sembilan hari? Jika bertahan selama itu, maka suatu saat nanti aku akan dianggap sebagai Raja Iblis!

“—Dia.”

Sebelum kusadari, matanya yang sedingin es tertuju padaku dengan tajam.

“—Akhirnya.”

Lunaire-san tiba-tiba berdiri dan menuju ke arahku karena suatu alasan.

“K-kalau kau terlibat dengan Miyamoto-san….”

“Mohon diam.”

“Tapi….”

“Ketahuilah bahwa saranmu tidak diperlukan. Sudah kubilang tadi. Aku tidak datang ke sini untuk bermain-main.”

Dia dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak berniat akrab dengan mereka.

Dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah dan bertindak seolah-olah ingin menyingkirkan orang lain, semua yang ada di sana tidak punya pilihan lain selain tetap diam dan memperhatikan apa yang dikatakannya.

Dia telah menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk berteman…!

“Jadi kau adalah Miyamoto Zekka.”

Murid pindahan itu berdiri di hadapanku. Karena ragu untuk menjawab, aku pun berdiri menghadapnya.

“Namaku Lilibette D. Lunaire.”

Aku tahu. Atau lebih tepatnya, tidak mungkin aku bisa melupakannya secepat ini.

“Ini memang mendadak, jadi mungkin membuatmu terkejut.”

Lalu, dia berlutut seperti seorang kesatria sungguhan dan menggenggam tanganku.

“Aku tertarik padamu.”

Aku tak tahu di mana dia menyembunyikannya, tapi Lunaire-san memegang sebatang mawar biru di tangannya—.

“Tolong, terimalah ini.”

Dan dia menyerahkannya padaku.

Karena tak sanggup mengikuti perkembangan yang kacau ini, tanpa sadar aku menerimanya.

“““““Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh?”””””

Bertindak sebagai perwakilan perasaanku, semua orang di kelas berseru.

Maksudku, ini itu hal yang ‘itu’, 'kan?

Dia mendekatiku dan berbisik pelan di telingaku.

“Aku akan menunggumu di belakang gimnasium sepulang sekolah.”

Miyamoto Zekka, di puncak usianya yang ke-14.

Sepertinya aku akan mendapatkan seorang kekasih sebelum mendapatkan seorang teman.

—JD×D—

Selesai sekolah, aku berjalan menuju ke tempat yang telah ditentukan, dengan harapan dan kecemasan yang berbaur menjadi satu.

(Ini pertama kalinya aku ditembak…. Dan kurasa ini bukan semacam lelucon….)

Aku akan sangat kecewa kalau ini cuma tipu-tipu belaka.

“Aku telah menunggumu.”

Sesampainya aku di belakang gimnasium, Lunaire-san sudah ada di sana.

Tapi hanya dengan sekali pandang saja sudah membuat semua kecemasanku hingga saat ini menguap tanpa bekas.

“Lebih baik kalau ini cuma lelucon….”

Alasan aku spontan berucap begitu adalah senjata yang terselip di pinggangnya.

“Kalau kau membawa pedang, itu berarti….”

Mengubah firasat burukku menjadi kenyataan, kesatria di hadapanku dengan penuh semangat menghunus rapiernya.

“Aku adalah keturunan pahlawan D'Artagnan, Lilibette!”

Dengan pedang rapier yang siap di tangan, dia membuka mata birunya lebar-lebar.

“Kau pasti mengenali pedangku! Akhirnya aku bisa berduel secara adil denganmu!”

Dia berbicara dengan tegas; namun, aku justru merasa bingung dan baru membalas setelah jeda beberapa saat.

“T-tapi aku tidak…?”

Seketika itu juga, atmosfer di sekitar kami benar-benar membeku.

Lunaire-san mendadak kaku, tapi hampir saat itu juga, ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi tenang.

“Ha, lelucon yang menarik. Lupakan wajahnya, tapi kau ingin bilang kau bahkan lupa pada pedangku?”

“Kupikir ini pertama kalinya aku melihatnya.”

Sekali lagi, kata-katanya berhenti. Dia bertanya lagi untuk memastikan, bibirnya berkedut.

“Kau serius mengatakan itu?”

“Apa mungkin kita pernah bertemu?”

Aku benar-benar tidak ingat dan mengatakan hal itu padanya.

Seolah menerima pukulan telak, dia menurunkan ujung pedangnya ke tanah.

“Jadi artinya aku bahkan tidak layak untuk diingat, ya.”

Dia mengalihkan pandangannya, menggumamkan sesuatu dengan pelan.

“…Tidak, itu tidak mungkin… mana mungkin aku dianggap sebagai orang biasa-biasa saja….”

Aku tak bisa mendengar semuanya dengan jelas, tetapi Lunaire-san mendongakkan wajahnya, tampak mantap.

“Kalau seperti itu, aku akan membuatmu ingat lewat duel ini!”

Aku tak tahu proses berpikir seperti apa yang dia miliki, tetapi akhirnya, dia pun menyatakan duel.

“Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu, lalu mencapai puncak yang jauh lebih tinggi!”

Dan sekarang dia mengucapkan kalimat-kalimat keren, rasanya seperti adegan dari film.

Namun, menghadapi situasi yang bertentangan dengan ekspektasiku, aku bertanya dengan takut-takut, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Um, ini bukan pernyataan cinta…?”

“Pernyataan? Apa yang kaubicarakan?”

Aku mencoba bertanya, tetapi dia hanya memiringkan kepalanya saat mendengar kata “pernyataan cinta”.

“Mungkinkah kau yang ingin menyatakan cinta padaku?”

“Eh, aku?!”

“Yah, meskipun aku sendiri yang mengatakannya, bisa dipahami kalau kau mendambakan kecantikan yang begitu luar biasa ini.”

“T-tapi aku tidak mendambakan apa pun?!”

“Ha, tatapanmu sudah tertuju pada dadaku sejak tadi, bukan?”

…Yah, kalau soal itu, aku tak bisa membantahnya!

“Kalau kau mengalahkanku dalam duel, aku tidak keberatan menjadi milikmu.”

Lunaire-san sepertinya sudah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, jadi kata-katanya memancarkan aura yang begitu pekat.

Ujung rambutnya yang terikat berayun kencang, menunjukkan betapa bersemangatnya dia.

Dia terlihat mirip anjing yang sedang mengibaskan ekornya…. Tunggu, bukan itu maksudku!

“B-bukankah kau memberiku sebatang bunga mawar?”

“Itu adalah surat undangan untuk berduel.”

Undangan duel?! Tapi sama sekali tidak terlihat seperti itu!

“Bukankah biasanya melempar sarung tangan atau semacamnya di saat-saat seperti ini….”

“Cara itu terlalu klise. Karena itulah, aku mencoba melakukannya dengan caraku sendiri.”

Lalu bagaimana aku bisa tahu! Meskipun aku yang menerimanya juga ikut bersalah, sih!

“Belum lagi, sarung tangan itu harusnya dijaga agar tetap bersih. Konsep melakukan sesuatu yang kotor adalah hal yang asing bagiku.”

Meski terus-terusan bilang duel ini, duel itu, kenapa kau justru bersikap modernis dalam hal ini saja?!

“Kau punya keluhan?”

“Isinya cuma keluhan saja.”

“Astaga, ternyata kau tidak bisa puas dengan sebatang mawar saja. Kalau begitu, tunggulah sekitar satu jam. Haruskah aku mengusahakan membeli sekitar seratus batang lagi?”

“Ini bukan soal jumlah… dan mengusahakan…?”

“Aku akan pergi ke toko bunga di stasiun.”

Modernis lagi. Meskipun sudah jelas tak mungkin tumbuh begitu saja di sekitar sini.

“A-aku tidak butuh mawar lagi.”

“Begitu, ya….”

Ekor—maksudku, rambut—Lunaire-san terkulai lesu.

Aku penasaran, apakah akhirnya antusiasmenya mulai surut.

“Kalau begitu, ayo kita berduel.”

Setelah itu, Lunaire-san berusaha melepas penutup matanya.

[Mata kiri itu, rupanya Sacred Gear.]

Lalu Tensei, yang sebelumnya tertidur, tanpa sadar memberiku saran.

[Jangan lengah, ada aroma naga yang kuat darinya.]

Jadi itu artinya Sacred Gear tipe naga, ya. Tapi, kalau begini terus, ini akan berujung pada pertarungan….

“Tak ada yang selamat setelah menyaksikan mata naga jahatku! Bersiaplah!”

“Aku sama sekali belum siap! Jadi tolong, tunggu sebentar!”

Aku panik dan berusaha menghentikannya.

“Sungguh keras kepala. Apa ada hal lain yang ingin kaukatakan?”

“A-aku tidak berduel lagi….”

“Tidak berduel lagi? Kau, pendekar pedang?”

Mungkin terlalu mengejutkan baginya, Lunaire-san terdiam membeku, tak bisa mencernanya. Beberapa hari lalu, aku memang sempat bertanding melawan Xenovia-senpai. Namun, itu adalah pengecualian, atau bagaimana ya bilangnya, pokoknya, aku tidak bisa terus bertarung.

(Padahal tadinya kukira pernyataan cinta dan memikirkan berbagai hal… tunggu, pernyatan cinta?)

Selagi dengan panik mencari cara untuk melarikan diri dari situasi ini, aku teringat cara untuk menolak.

“Aku—aku ingin fokus pada kegiatan klub!”

Berpikir itu adalah alasan terbaik untuk menghindari pertarungan, aku meninggikan suaraku dan dengan jelas mengatakan itu padanya.

“I-itulah sebabnya aku tidak punya waktu untuk bersamamu!”

Sudah beres! Itu dia! Kedengarannya sangat normal!

“Fokus pada kegiatan klub…?”

“I-itu benar!”

“Kenapa…?”

“B-biarpun kau bertanya padaku… benar! Sesuatu seperti kekurangan anggota dan perlu merekrut anggota baru!”

“……”

“Tak ada waktu untuk berduel! Ah, gawat sekali! Benar, aku harus pergi ke kegiatan klub, cepat!”

Aku mungkin terdengar seperti Avi-buchou, tapi aku harus kabur dari sini dengan mengandalkan nyali.

“…Jadi itu berarti kau tidak bisa menerima duel sampai urusan klubmu tenang.”

“Te-tepat sekali!”

“Hmm….”

“Kalau kita bertarung sekarang, kurasa aku tidak akan bisa menunjukkan satu persen pun dari kekuatan asliku! Sungguh disesalkan!”

“Hmmmmmm….”

Cara berbicara yang bersemangat tinggi ini sangat melelahkan. Tapi, saat dipastikan lagi, tangannya yang berniat melepaskan penutup matanya, dan pedangnya menunjukkan keraguan.

“Kalau begitu, aku akan bergabung dengan klubmu.”

Lalu aku menyadari dia bukanlah orang yang bisa dibendung hanya dengan alasan seperti ini.

“B-bergabung?”

“Aku akan membantumu dan mendaftar sebagai anggota sampai urusan kegiatan klubmu beres.”

“Eh….”

“Dan ketika kau mencapai tujuanmu, kita akan bertarung secara adil dan jujur.”

Apa yang orang ini bicarakan….

“Inilah yang dinamakan ‘kesatriaan’. Aku hanya menginginkan pertarungan yang serius dan setara.”

Ini tidak tampak seperti lelucon, dia benar-benar serius.

Klub kami sudah diisi oleh orang-orang aneh; jika dia bergabung juga, reaksi kimia seperti apa yang bakal terjadi, ya?

“Lu-Lunaire-san, aku tidak yakin apakah klub itu tidak terlalu berat untukmu….”

“Pertama-tama, beri tahu aku, klub macam apa itu? Seperti, apa namanya?”

“K-klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib… itu namanya.”

“Penelitian Pedang  okaruto[1] tidaklah begitu menarik, dan pedang adalah keahlianku.”

D-dia benar-benar langsung ikut-ikutan.

“Kalau begitu ayo kita segera berangkat ke sana. Tunjukkan jalannya, Zekka.”

“Mendadak menghilangkan panggilan hormat?! Bukan—”

“Kau juga boleh memanggilku Lilibette.”

“Err, kalau begitu, Lilibette-san…?”

“Itu juga boleh. Meskipun sementara, kita masih akan menjadi rekan, jadi tidak perlu sungkan.”

“Oh, b-baiklah….”

Hei, apa yang kulakukan, malah jadi malu-malu begitu!

“Kalau begitu, ayo berangkat!”

“Y-yay…?” Dan begitulah, dengan syarat harus berduel nanti, kami mendapatkan anggota baru.

—JD×D—

“Anggota baru?!”

Segera setelah kami memasuki ruang klub, Avi-senpai, yang sedang membereskan, berteriak kaget.

“Luar biasa! Itu menakjubkan sekali, Zekka-chan!”

“Hehehe….”

Dia menggenggam tanganku dengan antusias, mengguncangnya kuat-kuat. Rasanya tidak buruk juga dihargai sebanyak ini….

“Jadi, kau adalah ketua klub ini.”

“Benar sekali! Aku Avi Amon!”

Tapi, jika ada satu kendala, itu mungkin gadis yang terobsesi dengan jiwa kesatria ini.

“Namaku Lilibette D. Lunaire. Karena alasan tertentu, aku ingin bergabung dengan klub ini!”

“Salam yang antusias! Terlepas dari alasan atau masalahmu, kami menyambutmu dengan hangat! Senang bertemu denganmu, Lili-chan!”

“Aku berterima kasih atas kemurahan hatimu. Sekarang, karena aku telah bergabung, setidaknya aku akan memenuhi kewajiban minimumku.”

Mereka berdua berjabat tangan dengan erat. Huh, prosesnya berjalan lumayan lancar….

“Kau sekelas dengan Zekka-chan, 'kan? Apakah kau memutuskan untuk bergabung karena berteman dengannya?”

“Dia bukan temanku. Lagi pula, aku tidak punya teman.”

Lilibette-san langsung membantahnya. Wajahnya tampak seolah ditanyai hal itu lagi akan membuatnya merasa mual.

“Tapi, Zekka dan aku memiliki ikatan khusus yang tak bisa diungkapkan kepada orang lain.”

Namun, dia menambahkan komentar yang tidak perlu itu.

“Ikatan khusus, mungkinkah….”

“B-bukan itu, Avi-buchou. Dia tidak mengacu pada hal-hal semacam itu.”

“Kami melakukan hubungan seks[2] yang penuh gairah beberapa saat yang lalu.”

“Zekka-chan?!”

“I-itu bukan—”

Jangan mengatakannya seperti itu! Kalau kau enggak menambahkan kata “janji”, orang-orang bakal salah paham!

Tapi dia juga bakal khawatir kalau aku bicara soal duel….

“Kerja bagus, semuanya.”

Tepat pada saat itu, Schwert-san muncul.

“Schwe-chan! Kau akhirnya datang!”

“Tugas OSIS memakan waktu sedikit lebih lama… jadi, siapa dia?”

Lilibette-san memperkenalkan dirinya sekali lagi pada Schwert-san yang kebingungan.

“Lilibette, yang ditakdirkan untuk Zekka.”

“I-itu benar-benar salah paham!”

Aku tak bisa menghentikannya, yang makin lama makin bertindak berlebihan. Untuk saat ini, aku harus menjelaskan bahwa dia adalah anggota baru.

“Orang aneh lainnya lagi, ya.”

Namun, Schwert-san menunjukkan sikap acuh tak acuh seperti biasanya, jadi aku mendekatinya dan berbisik di telinganya.

“(Schwert-san, kau ditugaskan untuk mengawasiku, 'kan?)”

“(Benar. Kecuali saat jam pelajaran, aku diperintahkan untuk menjalankan tugasku.)”

“(Kalau begitu kurasa kau seharusnya melihat kejadian di belakang gimnasium—)”

Dia pasti tahu tentang Lilibette-san yang mengacungkan rapier dan berbicara tentang duel.

Aku ingin bertanya apakah OSIS bisa mengambil tindakan.

“(Di belakang gimnasium? Apa maksudmu?)”

“(Eh.)”

“(Maaf. Aku agak sibuk main game tadi.)”

Bagaimana dengan tugasmu?! Kau cuma bermalas-malasan! Apa yang bakal kaulakukan kalau aku berbuat sesuatu?!

“Tunggu di situ.”

Lilibette-san tiba-tiba memasukkan dirinya ke dalam percakapan kami.

“Schwertleite, 'kan? Apa hubunganmu dengan Zekka?”

Lalu, dengan tatapan tajam, dia menatap Schwert-san, menggunakan perawakannya yang tinggi.

Dia benar-benar seperti anjing pemburu, memancarkan tekanan yang tak terbayangkan terhadap orang yang mendekati majikannya.

“Hubungan kami, ya. Hmm, agak rumit, tapi kenapa kau—oh.” Schwert-san menunjukkan ekspresi yang berbinar-binar.

Dia tersenyum jahil dan melirik ke arahku—orang ini juga sepenuhnya salah paham.

Aku mohon padamu, jangan mengatakan sesuatu yang aneh. Karena Lilibette-san tetap diam dengan wajah tidak puas.

“Ya-ya, sudah cukup bermesraannya. Mari kita mulai kegiatan klub kita sekarang juga!”

Ketua dengan ceria mengakhiri hal ini. Apakah kami tadi bermesraan… aku tidak yakin, tapi ini waktunya untuk memulai kegiatan klub hari ini.

 

Empat zabuton dibentangkan di tengah ruangan.

“Kita punya camilan hari ini. Sona-san yang menyediakannya.”

Tergeletak di lantai adalah kemasan yang menampilkan seorang gadis penyihir misterius di masing-masing bungkusnya.

Inilah momen ketika aku akhirnya penasaran siapa sebenarnya gadis ini.

“I-ini memang hal yang biasa, tapi kenapa dia rutin memberikannya pada kita?”

“Karena dia orang yang baik! Dia bilang, ‘Makanlah yang banyak dan jadilah lebih kuat’!”

Ketika aku bertanya, sepertinya masih tersisa cukup banyak di belakang ruang klub, jadi aku kagum dengan betapa baiknya dia.

“Tapi aku bukan anggota, tak apa-apa?”

Meskipun santai, Schwert-san tiba-tiba memperhatikan hal-hal seperti itu.

Kurasa aku belum menyebutkannya, tetapi meskipun aku bergabung dengan klub, Schwert-san tidak.

“Tidak seperti Miyamoto-san, aku tidak ingin sengaja mencampuri urusan yang merepotkan.”

Dia berkumpul dengan kami seperti ini semata-mata karena tugasnya mengawasiku sebagai anggota OSIS.

“Tenang saja. Kau bahkan mentraktirku camilan, jadi aku tidak berbahaya kecuali kau mencoba sesuatu yang aneh.”

“Begitukah, tapi tugasmu 'kan mencegahku bergabung dengan Pedang Ilmu Gaib….”

“Yah, banyak hal yang terjadi. Meski sebagian besarnya adalah kesalahan Xenovia-senpai.”

Bahkan memengaruhi OSIS, mungkinkah Xenovia-senpai merupakan orang yang berpengaruh…?

“Ini cukup enak. Sampai-sampai membuatku ingin menembakkan Levia-beam ke arah kaijin yang jahat.”

Terlepas dari lelucon Lilibette-san, cara makannya sangat anggun, berbanding terbalik dengan cara bicara dan perilakunya.

“Sekarang.” Avi-senpai mengangkat topik utama. “Ada juga anggota baru yang bergabung hari ini, jadi menurutku kita harus mengadakan rapat!”

Latihan itu penting, tetapi diskusi harus didahulukan, begitu ya.

“Aku sangat enggan mengatakan ini, tapi mata OSIS dan, tentunya, seluruh murid di sekolah sedang tertuju pada kita!”

Aku tidak sengaja melirik Schwert-san, tetapi dia terus makan camilan itu dengan santai.

“Kita tidak tahu kapan mereka akan melakukan penyelidikan, dan ada juga masalah keuangan karena anggota kita sekarang lebih banyak. Ini bisa jadi lebih sulit dikelola hanya dengan nyali seperti sebelumnya.”

Menjadi klub tidak resmi berarti tidak ada anggaran klub.

“Karena itu, aku telah merancang tujuan untuk Pedang Ilmu Gaib.”

Menjadi proaktif, Avi-buchou memandang kami dan kemudian menyatakan.

“Sebagai permulaan, mari kita diakui sebagai klub resmi!”

Itu adalah ide yang sangat masuk akal. Sebenarnya, masih menjadi misteri bagaimana klub ini bisa bertahan sejauh ini, meski tidak resmi.

Atau lebih tepatnya, apa yang dilakukan Penemune-sensei… dia tidak mungkin pergi ke pub, 'kan…?

“M-menurutku ini adalah tujuan yang bagus.”

“Aku setuju. Lagi pula, Pedang Ilmu Gaib terlalu mencolok.”

“Sebagai pendatang baru, aku tidak keberatan. Aku akan mematuhi perintah.”

Meskipun aku merasa itu adalah tujuan yang luar biasa bagus untuk Avi-buchou.

“Dan aku masih siswi kelas tiga, Onee-san kalian.”

Ketua dengan bangga mencoba menyampaikan bahwa dia telah mempertimbangkan hal ini matang-matang.

“Dan ketika kita sudah mendapat anggaran, mari kita gunakan sebaik-baiknya! Bagaimana kalau jalan-jalan ke suatu tempat?!” Dia berkata dengan nada paling bersemangat yang dia miliki hari ini.

“Aku ingin pergi ke Osaka! Aku ingin makan banyak makanan lezat sampai kenyang!”

Saat kupikir ini terlalu normal baginya, senpai ini akhirnya cuma mau jalan-jalan ke suatu tempat!

Tapi kita sedang membicarakan anggaran klub di sini, jadi pertama-tama, kita harus membeli peralatan yang diperlukan, dan sisanya harus ditabung—.

“Aku ingin mengunjungi Okinawa.”

“Kalau yang kita bicarakan adalah Jepang, maka aku tertarik pada Tohoku. Kalau pergi ke luar negeri, kupikir Amerika Selatan bagus.”

Apa cuma aku saja yang memikirkan hal-hal praktis?! Kalian berdua juga malah ikut-ikutan?!

“Apa ada tempat yang ingin kaukunjungi, Zekka-chan?”

Akhirnya, Avi-buchou bertanya padaku.

Aku ingin bilang kita harus menghemat uang, tapi mereka bakal langsung memarahiku.

(Biasanya di sinilah aku harus membaca suasana! Dan aku yang biasa tidak punya pilihan selain mengikuti arus!)

Tapi tempat yang ingin kukunjungi—walaupun tiba-tiba bertanya padaku—di mana, coba pikirkan, diriku—!

“…Ke.”

“““Ke?”””

“…Tokyo Disneyland.”

Untuk jawaban yang akhirnya kuucapkan, mereka bertiga menatapku dengan ekspresi kosong.

“Zekka-chan, sekadar mengingatkan, ini adalah perjalanan untuk kegiatan klub.”

“Bahkan aku pun tidak akan mengatakan itu, tahu?”

“Ketahuilah bahwa inilah saatnya kau harus memberikan jawaban yang benar.”

Uuuu, mereka menyudutkanku! Jahat sekali!

(Tapi aku ingin mencoba pergi ke sana!)

Masih menjadi misteri mengapa aku satu-satunya yang dianggap sebagai anggota yang tidak serius.

“Baiklah, mari kita kesampingkan Zekka.”

Ketua berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal lain dengan bijak, dan pada saat itu, kebaikannya sangat menyentuh hatiku….

“Pokoknya, tujuan utama kita adalah mendapatkan pengakuan sebagai klub resmi. Masalahnya adalah—”

“Jumlah anggota, 'kan?”

“Tepat sekali!”

Seperti yang diharapkan, Schwert-san, sebagai anggota OSIS, berpengalaman dalam masalah ini.

“Ada berbagai syarat untuk diakui sebagai sebuah klub. Isi kegiatan klub dan rekam jejaknya diteliti dengan cermat, tapi ini hanyalah klub SMP, jadi persyaratannya tidak terlalu ketat.”

Dia menjelaskan bahwa untuk mengompensasi hal ini, jumlah anggota sangatlah penting.

“Mendapatkan pengakuan sebagai klub resmi membutuhkan setidaknya satu penasihat dan minimal empat anggota.”

Dalam kasus Pedang Ilmu Gaib, penasihatnya adalah Penemune-sensei. Mengenai anggotanya, itu adalah Avi-buchou, Lilibette-san, dan aku—totalnya ada tiga orang.

Kami membutuhkan satu anggota lagi untuk memenuhi kriteria.

“Aku beri tahu sekadar memastikan, jangan berharap padaku. Aku sudah sangat sibuk dengan tugas OSIS, dan berpartisipasi dalam klub secara bersamaan itu merepotkan. Selain itu, aku takut memikirkan apa yang bakal dilakukan Kaichou kalau aku bergabung dengan Pedang Ilmu Gaib.”

Tampaknya dia juga memiliki beban tugas yang lumayan berat. Meskipun hari ini dia santai-santai saja saat mengawasiku.

“Satu orang lagi, ya….”

“Begitu rupanya, kalau begitu mendapatkan anggota baru menjadi prioritas utama kita.”

Tidak termasuk Avi-buchou, dua anggota resmi lainnya, Lilibette-san dan aku, bergumam cemas.

“…Ini bakal sulit, 'kan?”

Ketika aku mencoba mencairkan suasana dengan ragu-ragu, Avi-buchou mengangguk dalam-dalam.

“Ya, tujuan Pedang Ilmu Gaib adalah menjadi pendekar pedang terkuat bersama-sama.”

Di luar itu, mungkin, ada partisipasi dalam Rating Game.

Faktanya, keempat individu yang hadir di sini semuanya memiliki kemampuan supernatural.

“Mengingat sifat klub kita, menarik siswa biasa bakal terbukti sulit.”

Sejauh ini, segala sesuatunya berjalan secara ajaib, tapi aku tak bisa membayangkan bahwa seorang siswa biasa, yang tidak punya kekuatan supernatural dan pengalaman ilmu pedang, dapat beradaptasi secara tiba-tiba.

“Saat aku mendengarnya, Pedang Ilmu Gaib sedang diawasi. Namun pada awalnya, bukan berarti orang-orang takut terhadap hal tersebut.”

Persis seperti yang dikatakan Lilibette-san.

“…Schwert-san, apakah ada individu dari pihak kita di divisi SMP?”

Aku merenungkan bahwa kita mungkin harus mencari siswa yang memiliki afiliasi supernatural.

“Tak ada yang kutahu. Saat ini, masalah-masalah mengenai informasi pribadi cukup merepotkan, dan banyak murid di akademi ini memiliki keadaan khusus, sehingga tak ada data yang mudah diakses.”

…Kupikir, dalam kasus kepindahanku, ada juga beberapa prosedur rumit yang diurus oleh ibuku.

“Jadi pada akhirnya, kita tidak punya pilihan selain mencari mereka secara langsung.”

Avi-buchou mengepalkan tangannya dengan tegas.

“Secara pribadi, aku lebih memilih mereka yang memiliki antusiasme daripada mereka yang memiliki bakat dan perasaan. Bagaimanapun, aku ingin orang-orang yang bercita-cita menjadi lebih kuat untuk bergabung.”

Dia tidak asal memilih sembarang orang. Namun, meski begitu, seperti halnya Lilibette-san dan aku, kriteria penilaiannya agak kabur.

“Mari kita bertukar pikiran tentang cara merekrut anggota dulu!”

Setelah itu, kami mengajukan berbagai ide.

“Sudah kuduga, kita harus mendekati mereka secara individu dan penuh semangat—”

“U-untuk saat ini, ayo buat poster atau semacamnya—”

“Bagaimana kalau memanfaatkan daya tarik seksual—”

“Pertama-tama, kita harus mulai dengan menanam mawar—”

Kami sibuk berdiskusi, bertukar sentimen seperti, “ini kurang tepat,” “itu tidak bisa,” “yang ini mungkin berhasil.”

Rapat kami yang penuh semangat berlanjut hingga malam hari, bahkan sampai persediaan camilan penyihir kami habis.

—JD×D—

“Berhenti di situ, Pedang Ilmu Gaib!”

Saat istirahat makan siang, OSIS menemukan kami dan mulai mengejar kami.

‘Minamoto-senpai mendekati kalian dari belakang, kira-kira sepuluh meter jauhnya. Kalian masing-masing harus melarikan diri satu per satu.’

Petunjuk kasar Schwert-san terdengar melalui interkom.

“Zekka-chan! Lili-chan! Mari kita berpisah di sini dalam tiga arah berbeda!”

“Mengerti. Aku akan menuju ke kanan.”

“Aku belok kiri!”

“Eh, a-aku akan… jalan lurus saja?”

Keduanya berpencar dengan cepat ke kiri dan ke kanan, meninggalkanku sendirian.

“Jangan lari, Miyamoto!”

Minamoto-senpai mengejarku tanpa ampun… sudah kuduga!

“Berhenti memasang poster tanpa izin!”

“M-mohon maafkan aku, Mina-senpai!”

“M-Mina?! Kau, kouhai-ku, berani sekali memanggilku begitu!”

Ups, itu kelepasan tanpa sengaja. Aku harus menutupi ini bagaimanapun caranya….

“M-menurutku itu nama panggilan yang sangat lucu dan menggemaskan!”

“Lu… ja-ja-ja-jangan main-main!”

G-gawat, itu malah makin membuatnya naik pitam.

“Kau dan cuma kau seorang yang benar-benar tidak akan kuampuni! Akan kupastikan kau tidak akan pernah bisa mengoceh lancang seperti itu lagi!”

Maka dimulailah permainan kejar-kejaran yang intens di seluruh area akademi bersama Mina-senpai, diselingi dengan saling melempar omongan seperti tadi.

Ketika aku akhirnya berhasil mengecohnya, seluruh tubuhku sudah mandi keringat.

 

“Ugh, tadi itu mengerikan….”

Aku berjalan sempoyongan ke ruang klub setelah jam pelajaran selesai dan langsung duduk. Semua orang menyambutku dengan ucapan penyemangat, “Kerja bagus.”

“Tapi kau hebat juga bisa kabur dari Minamoto-senpai. Dia lumayan menakutkan, 'kan?”

“B-bicara dengannya, dia terlihat cukup baik, kok.”

“Eh, benarkah?”

“Saat aku sedang kabur, dia menasihatiku agar tetap terhidrasi dan memberiku jus.”

“Ada apa dengan situasi ini….”

Ekspresi Schwert-san menunjukkan kebingungannya.

“Aku sudah menyadarinya, tapi sama seperti Xenovia-senpai, Miyamoto-san sepertinya disukai oleh para pendekar pedang.”

Dia berkomentar sambil melirik Avi-buchou dan Lilibette-san.

(Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku sering menarik perhatian orang-orang kuat sejak dulu….)

Hal ini terutama berlaku bagi pendekar pedang perempuan yang, seingatku, terus mengejarku bahkan setelah aku mengalahkan mereka.

“Tapi urusannya enggak bakal berjalan mulus, ya.”

Avi-senpai mendesah, merenungkan kesulitannya, sementara kami semua memeras otak dengan cara yang sama.

Kami telah memutuskan bahwa kami membutuhkan anggota baru untuk mendapatkan pengakuan klub resmi.

Upaya kami sejauh ini suram, dan OSIS terus mengawasi kami dengan ketat.

“B-bagaimana kalau meminta saran dari Penemune-sensei?”

“Yah, Sensei tampaknya sangat sibuk saat ini.”

“Bagaimanapun, kita perlu memutus lingkaran setan ini.”

“Kalau Sensei tidak bisa, lalu bagaimana kalau meminta saran dari para senpai.”

Meminta saran dari senpai kami sepertinya merupakan ide bagus, terutama karena usaha kami sendiri menemui jalan buntu.

“Lalu, bagaimana kalau jangan membuang-buang waktu dan menuju ke divisi SMA sekarang juga?” Schwert-san memberi usul.

“Oh! Schwe-chan, yang biasanya enggan mengambil inisiatif, ternyata sangat proaktif hari ini!”

Memang. Meskipun aku curiga ada alasan tersembunyi di balik antusiasmenya.

“Miyamoto-san, aku akan berterima kasih kalau kau berhenti menatapku dengan mata penuh kecurigaan seperti itu.”

“M-maaf… bukan begitu maksudku….”

“Yah, aku memang punya niat terselubung, sih.”

Sudah kuduga!

Schwert-san mengobrak-abrik tasnya dan mengeluarkan sebuah lencana.

“Ta-dah! Ini adalah lencana rahasia yang baru rilis belum lama ini!”

Lencana itu menggambarkan seorang pria dengan kostum bergaya kesatria yang agak aneh.

Meski mengenakan pakaian mirip maskot, terlihat jelas bahwa itu adalah karakter pria tampan dengan wajah rupawan.

“S-siapa ini…?”

“Ini adalah Darkness Knight Fang dari acara tokusatsu Chichiryuutei Oppai Dragon.”

Oppai, Dragon…?

Acara tokusatsu mesum? Bolehkah anak SMP menonton acara seperti itu?

“Zekka, kau tak tahu soal Oppai Dragon?”

“Ini sangat populer, terutama di Dunia Bawah!”

“Favoritku adalah Fang-sama, tapi aku juga sangat menyukai Hellcat-chan.”

Aku tak bisa memahami semua ini. Apa aku yang ketinggalan zaman, atau semua orang di sini yang terlalu kelewatan?

“Meski belum diadakan di divisi SMP, tapi festival divisi SMA baru saja selesai, jadi akses masuknya agak longgar.”

Schwert-san menekankan bahwa bahkan anggota OSIS divisi SMP seperti dirinya bisa masuk dengan mudah.

“Omong-omong soal itu, bukankah festival sekolah kita sudah sangat dekat?! Aku sama sekali lupa!”

“Yah, tidak seperti festival megah di divisi SMA, festival kita cukup sederhana.”

Kami murid pindahan tidak terlalu memahaminya, tetapi mereka berdua sangat asyik mendiskusikan festival sekolah yang akan datang.

“Dan begitulah ceritanya. Ayo kita pergi meminta saran dari para senpai, dan selagi di sana, aku akan meminta Kiba-senpai, yang memerankan Fang-sama, untuk menandatangani lencana ini.”

 

Maka dari itu, kami berangkat menuju divisi SMA.

“Genshirou-senpai! Fukukaichou pergi ke Klub Manga dan belum kembali! Kami tidak bisa menghubunginya!”

“Gen-chan! Kali ini, rumor beredar tentang Klub Mahjong melakukan strip mahjong kali ini!”

“Hei-hei, kalaupun kalian memberi tahuku semua ini sekaligus, kenapa Kaichou selalu menghilang di saat-saat seperti ini….”

Saat kami berdiri di pintu masuk divisi SMA, pemandangan aktivitas siswa-siswi yang panik terbentang di hadapan kami.

Mereka menyebut “Kaichou” ini, “Fukukaichou” itu, mungkinkah mereka berasal dari OSIS divisi SMA?

“Zekka, bagaimana pendapatmu soal siswa laki-laki yang diapit oleh dua gadis itu?”

“Meskipun kau bertanya padaku… dia kelihatan mengalami situasi yang sulit?”

“Aku mengerti. Yang kutanyakan adalah apa yang kaulihat sebagai seorang pendekar pedang.”

Apa yang kulihat… bagaimana ya, ada semacam aura kehitaman? Dan aku tidak bermaksud membicarakan kepribadiannya!

“Wah wah, Lunaire-san, berselingkuh? Laki-laki mana yang menarik perhatianmu?” Schwert-san, yang berdiri di dekatnya, menggodanya dengan nada bercanda.

Orang yang dimaksud menjawab dengan tatapan sedingin es. “Apakah kau menuduhku berselingkuh? Silakan, katakan lagi, Schwertleite.”

“Astaga, dia marah! Aku pergi dari sini!”

“Berhenti! Berikan penjelasan yang benar, atau kau akan menjadi karat di pedangku—”

Schwert-san melesat pergi, dan Lilibette-san langsung mengejarnya.

“Ayo pergi juga!”

“Y-ya.”

Kami mengejar keduanya yang telah pergi lebih dulu, bersama Avi-senpai dan aku yang menginjakkan kaki ke area divisi SMA.

“Oh, Kiba-senpai!”

Setelah kami berempat berkumpul kembali, Schwert-san menemukan orang yang kami cari di dekat lapangan olahraga.

“Meskipun dia tampaknya dikelilingi oleh sejumlah siswi.” Lilibette-san berkomentar sambil memegang tengkuk Schwert-san.

Tolong, lepaskan dia… kalau enggak, tatapan aneh dari orang-orang di sekitar kita….

Bagaimanapun juga, senpai yang dimaksud dikelilingi oleh begitu banyak gadis sehingga kami tak bisa mendekatinya.

“Miyamoto-san, tolong lakukan sesuatu.”

“Aku?!”

“Yah, dalam situasi seperti ini, Zekka-chan adalah kandidat yang paling cocok!”

“B-Buchou, bahkan kau juga….”

Bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam kerumunan ini? Kalau aku mencoba menerobos, aku yang malang ini bakal langsung roboh, tahu?

“Lunaire-san.”

“Ada apa, Schwertleite?”

“Aku butuh bantuanmu sebentar.”

Saat aku sedang panik, mereka berdua berunding dengan suara pelan.

“Begitu, jadi ini sumber kekuatan Zekka.”

“Kau akan mengerti setelah mencobanya.”

Lilibette-san melepaskan cengkeramannya dan mendekatiku.

“Ayo pergi.”

“Eh?”

Tanpa ragu sedikit pun, Lilibette-san langsung meremas oppai-ku.

“Wa—”

Seluruh tubuhku gemetar akibat kejadian yang tak terduga ini.

“Kenapa kau menyentuh oppai-ku—?!”

Saat aku berteriak, gadis-gadis di sekitar Kiba-senpai bereaksi keras.

“““““Menyentuh oppai?!”””””

Suasana berubah secara dramatis, dan semua orang berpencar dalam kebingungan. Saat mereka melarikan diri, mereka meneriakkan hal-hal seperti “Penjelmaan Eros ada di sini” dan “Dia akan melecehkanmu di dalam pikirannya.” Aku heran apa-apaan semua ini.

“…Astaga, padahal kupikir saat ini dia sedang mempersiapkan ujiannya.”

Suara merdu Senpai bergema, menyiratkan orang yang dimaksud tidak berada di tempat.

“Nah, kalau begitu, siapa kalian?”

Kiba-senpai mengarahkan pandangannya ke arah kami, orang-orang yang tersisa.

“Kami dari Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib. Kami ada urusan denganmu.”

“Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib….”

“Kami tidak akan menyita banyak waktumu. Bisakah kau meluangkan waktu sebentar untuk kami?”

“Yah, aku tidak keberatan.”

“Apakah ada masalah?”

“Bukankah sebaiknya melepaskan tanganmu dari dadanya?”

Lilibette-san berbicara dengan wajah serius sambil terus meremas oppai-ku.

“Eh, Zekka, wajahmu kelihatan pucat sekali. Kau baik-baik saja?”

Kalau kau sadar, maka tolong berhenti dan lepaskan tanganmu dari oppai-ku!

 

“Tanda tangan Darkness Knight Fang-sama!”

Schwert-san senang dengan tanda tangan di lencananya.

…Hee hee hee, aku senang, pengorbanan oppai-ku yang diremas telah membuahkan hasil.

“Kalian sangat membantuku tadi. Aku cukup kesulitan karena tak bisa pergi ke mana-mana.”

Kiba-senpai memberi perkenalan singkat kepada kami, mengungkapkan bahwa dia juga budak Rias-senpai.

Aku ingat Avi-buchou menyebutkan ketika kami pertama kali bertemu bahwa iblis biasanya memiliki banyak budak.

“Bagaimana cara mendapatkan anggota baru?”

Setelah mendapatkan tanda tangan Kiba-senpai, kami beralih ke masalah utama—meminta saran untuk Pedang Ilmu Gaib.

“Coba kupikir.”

Sambil memberi pengantar bahwa dia tak bisa segera menyusun rencana konkret, dia memberikan sebuah petunjuk.

“Pertama-tama, kalian harus memberi tahu semua orang tentang sisi baik kalian.”

““““Sisi baik?””””

“Aku hanya mendengar rumor negatif tentang kalian, tapi kalian baru saja membantuku.”

Mungkin kami memang agak berulah.

Namun, jika kami menonjolkan sisi baik kami, siswa akan melihat kami dari sudut pandang yang baru. Begitulah.

“Temanku… dia mirip, perkataan dan tindakannya yang biasa bermasalah, tapi kenyataannya, dia lebih bersemangat dan benar dari siapa pun. Pria yang sangat baik. Itu sebabnya orang-orang secara alami berkumpul di sekitarnya.”

Itulah yang Kiba-senpai katakan dengan tatapan mata yang lembut.

“Sisi baik kami—”

Itu membuatku merenung. Menurut pandanganku, kami selalu melakukan hal-hal sesuai keinginan kami sendiri. Apa yang harus kami lakukan mulai sekarang agar bisa diterima oleh semua orang?

“Sekarang, saatnya aku untuk pergi.”

Saat dia bersiap untuk pergi, Kiba-senpai mengucapkan kalimat yang penuh makna.

“Mungkin, seorang pahlawan yang mewujudkan mimpi dan harapan ternyata berada sangat dekat.”

 

Setelah itu, Pedang Ilmu Gaib membubarkan diri tanpa mencapai kesimpulan.

Tetapi, aku lalu menyadari telah melupakan sesuatu, jadi, meskipun ruang klub mungkin sudah dikunci, aku memutuskan untuk kembali.

“Zekka?”

“Oh, Lilibette-san?”

Tepat saat itu, aku bertemu secara tak terduga dengan gadis berambut pirang keemasan. Entah kenapa, dia dengan canggung mengalihkan pandangannya tapi mungkin dia juga melupakan sesuatu.

Dan saat kami menuju pintu masuk bersama-sama, bertentangan dengan ekspektasi, kuncinya ternyata terbuka.

Berpikir tidak ada hantu di dalam, kami mengintip ke dalam….

“—Ha—!”

Di sana berdiri Avi-buchou, mengayunkan pedang bambu sendirian.

Bahkan setelah kami berpisah tadi, dia tetap tinggal dan terus berlatih.

“…Caranya mengayunkan pedang masih amatir. Tapi, itu jujur dan penuh semangat.”

“…Ya.”

“…Aku tidak membencinya.”

“…Aku juga mengagumi ilmu pedang Buchou.”

Kami mengamatinya secara diam-diam sebentar.

“Apa kalian sedang mengintip?”

Tapi kemudian sebuah suara tiba-tiba memanggil kami, dan kami yang terkejut malah terjatuh ke dalam ruangan seperti longsoran salju.

“H-huh, kenapa kalian bertiga ada di sini?”

Sambil bernapas terengah-engah, Avi-senpai bertanya dengan nada terkejut sambil menyeka keringat di dahinya.

Meskipun kau bertanya kenapa… kami saling melirik dan lalu mengangguk.

“Karena kami adalah anggota klub.”

“Tepat sekali. Mari kita mengobrol sebentar.”

“Jika Miyamoto-san tetap tinggal, maka aku juga tidak punya pilihan lagi.”

Kami mengambil pedang bambu dan mendekati Avi-buchou.

“Arara! Bukankah kalian tampak sangat bersemangat!”

Setelah beberapa saat, Penemune-sensei muncul.

“Hehe, aku penasaran apakah aku terlalu protektif.”

Mungkinkah dia muncul karena kekhawatirannya terhadap Avi-buchou?

“Tapi ini sudah makin larut.”

Saat Sensei melirik ke arah jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 19.00.

“Nah, anak-anak, kalian pasti sudah lapar, 'kan?”

““““!!!””””

Kami semua segera mengerti maksudnya.

“Sekarang, ayo kita pergi makan!”

 

Lalu, kami pergi makan bersama.

“Ekstra sayuran dan ekstra minyak!”

“Porsi normal untuk semuanya, ya.”

“Tidak perlu bawang putih. Dan aku ingin celemek pinggang.”

Penemune-sensei membawa kami ke restoran ramen; tapi, di dalam, segala macam istilah ajaib[3] yang tidak kuketahui berseliweran. Saat ditanya dengan cepat oleh pegawai toko, semua orang bisa merespons dengan benar, dan hanya aku yang kebingungan tak bisa berkata-kata.

(“Ekstra” mungkin meminta porsi lebih besar, ya…?)

Ini adalah pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini, jadi aku tidak familier dengan sistemnya.

Namun, karena lapar dan cemas, aku—.

“S-s-s-semuanya ekstra-ekstra-ekstra!”

Seketika itu juga, semua orang di restoran berhenti makan dan menatapku.

A-apakah suaraku terlalu keras?

“Kau serius, Nona Muda?”

“Eh, oh, ya.”

“Huh, ini pertama kalinya seseorang meminta itu sejak si bocah putih itu, tapi sepertinya kau sudah memantapkan hatimu.”

Memantapkan hati? Apa benar-benar perlu hanya untuk sekadar makan ramen?

Lalu Penemune-sensei yang duduk di sebelahku memberikan nasihat lainnya.

“Zekka, itu juga disajikan dengan nasi gratis, tahu?”

“K-kalau begitu, tolong nasi porsi besar juga, ya!”

“Ahaha!”

Entah kenapa, Penemune-sensei tertawa terbahak-bahak hingga dia harus menahan air mata.

Dia sudah minum bir, jadi dia mungkin hanya agak mabuk.

“Ini pesananmu!”

Yang muncul di depan mataku adalah seporsi ramen setinggi gunung disertai yang disertai dengan nasi porsi besar—dua gunung.

“Seperti yang diharapkan dari Zekka-chan, kau makan banyak sekali!”

“Aku seriusan bisa mati kalau makan itu.”

“Begitu rupanya. Jadi, buat menjadi lebih kuat, kau butuh asupan kalori, ya.”

Apa-apaan ini?

“Kalau kau merasa kenyang, beri tahu aku. Aku akan membantu. Tak apa-apa, menyerah lebih awal juga butuh keberanian.” Penemune-sensei berkata begitu, tapi apa kau menyuruhku mundur setelah mendapat begitu banyak perhatian orang?

“…Aku tidak akan menyerah.”

Semua orang memperhatikan; Aku tak bisa membiarkan mereka kecewa padaku dan membenciku.

Dan menyisakan makanan adalah sesuatu yang tak boleh kuabaikan.

(Bayangkan! Kau sedang menghabiskan semua ramen ini!)

Jika dilihat lebih dekat, dua gunung di hadapanku ini, mereka… mirip oppai!

“Aku tidak akan kalah dari oppai!”

Aku membuka semua kancing jaketku, melonggarkan pita, dan mengambil sumpit.

““““Selamat makan!””””

Sambil merapatkan tangan, kami berempat mulai makan.

Pada akhirnya, untuk menghabiskan semuanya, tidak hanya anggota Pedang Ilmu Gaib, tetapi seluruh pelanggan di restoran harus ikut membantu.

Dan tentu saja aku mengalami hal yang sangat buruk keesokan harinya….

—JD×D—

Sehari setelahnya kami menerima saran dari Kiba-senpai, saat setelah pulang sekolah.

“Kita harus melakukan sesuatu untuk festival sekolah.” Lilibette-san tiba-tiba menyatakan, memecah keheningan.

“Akan ada peristiwa langka dan berskala besar, jadi aku yakin kita tidak punya pilihan lain selain memanfaatkannya.”

Aku setuju dengannya. Tentu saja, salah satu motivasinya adalah merekrut anggota baru, tapi yang terpenting, ini adalah acara pertama yang bisa kuikuti. Kalau bisa, aku ingin menikmatinya.

“Festival sekolah, ya. Kalau menyangkut acara-acara besar di akademi kita, hal-hal seperti festival olahraga atau pertarungan ketua OSIS biasanya dianggap sebagai acara besar.”

Artinya, setiap tahunnya para murid membenamkan diri dalam kegiatan klub mereka. Meski begitu, tetap fokus pada kekuatan, seberapa besar pemikiran olahraga yang dimiliki akademi ini, sih….

“Festival sekolah di divisi SMP itu punya tiga paket lengkap: biasa saja, tidak menarik, dan terlalu serius.”

Aku penasaran apakah tidak apa-apa bagi seorang anggota OSIS untuk mengatakan hal itu….

“Acara ini menjadi sangat serius sejak ketua OSIS yang saat ini menjabat.”

“Lebih tepatnya, Kaichou berusaha sekuat tenaga mengarahkan kegiatan klub ke satu tujuan.”

Khususnya, berbagai upaya diarahkan pada klub-klub seni bela diri.

(Entah kenapa, sepertinya mereka sedang bersiap menghadapi konflik besar….)

Namun, terlepas dari kesanku, aku mungkin cuma terlalu memikirkannya.

“…Tapi.”

Aku, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara.

“Menurutku, kalau kita berhasil meramaikan festival sekolah, itu akan membuktikan bahwa Pedang Ilmu Gaib memiliki nilai.”

Setelah itu, aku merenungkan keunggulan dari Pedang Ilmu Gaib.

Aku yakin ada cukup banyak, tapi yang paling menonjol adalah kebebasan.

Kudengar sampai saat ini, klub kami adalah satu-satunya yang mampu menghadapi OSIS secara terang-terangan.

“Bagus sekali, Zekka.”

“Tentu saja, kalau acara ini tetap diadakan, maka aku ingin membuatnya menyenangkan!”

“‘Pedang Ilmu Gaib akan membawa angin segar’ juga tidak terdengar buruk sebagai jargon.”

Jika kami bisa mengubah atmosfer di akademi, mungkin semua orang akan memperbaiki opini mereka terhadap kami.

Lalu aku akan menjadi populer… mendapat teman… hee hee hee….

“Miyamoto-san, ekspresi wajahmu agak menyeramkan.”

G-gawat, aku tak sengaja menunjukkan wajah itu lagi?!

“Kalau begitu, haruskah kita tampil meriah di festival sekolah?!”

“““Ayo kita lakukan.”””

Meski begitu, ada masalah.

“Jadi, apa yang bakal kita lakukan?!”

“““……”””

Aku diberi tahu bahwa ada beberapa klub budaya, jadi sepertinya berlatih di auditorium adalah hal yang lumrah.

Kami mempunyai ide-ide seperti pertunjukan musik, menari, kaligrafi, dan sejenisnya, tapi tidak ada satu pun yang tampak menarik.

“Pertama-tama, melakukan sesuatu dengan persiapan seadanya tidak akan menggugah hati banyak orang.”

Seperti yang dikatakan Lilibette-san, ide apa pun yang kami pikirkan, semuanya tidak masuk akal bagi kami.

“Lalu bagaimana dengan duel?!”

“Tidak! Mari kita lakukan dengan cara yang damai dan biasa saja!”

“Whoa, Zekka-chan melompat kaget tiba-tiba!”

Aku tidak terlibat dalam pertarungan pedang sungguhan lagi.

“Tapi, apa yang bisa kita lakukan untuk menggerakkan hati orang-orang, ya….”

Avi-senpai menatap ke langit-langit, dan Lilibette-san melipat tangannya.

Schwert-san juga berpikir sambil mengutak-atik lencana di pakaiannya.

(Hm—lencana?)

Kalau dipikir-pikir, aku pernah mendengar tentang acara populer yang berfokus pada Dunia Bawah.

Aku tidak ingin menyebutkan judulnya dengan lantang, tapi mungkin itu bisa menjadi petunjuk.

“Bagaimana kalau melakukan sesuatu yang mirip dengan Chichiryuutei Oppai Dragon?”

Setelah aku bergumam, tiga orang lainnya tampak seperti tersambar petir.

“““Oppai, Dragon.”””

Aku penasaran apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

“Ah!”

Seolah-olah dia tiba-tiba mendapatkan pencerahan, Avi-buchou berseru.

“Oppai Samurai!”

Samurai? Bagaimana dengan Dragon?

“Kita adalah pendekar pedang, jadi itu pasti Oppai Samurai!”

Aku tidak terlalu paham, tapi anggota lain sangat antusias.

“Benar, konsepnya bersifat universal, jadi mengadaptasinya ke ilmu pedang seharusnya enggak sulit.”

Lilibette-san mengangguk berulang kali, menyetujui itu, tidak seperti menari dan bermain musik, ilmu pedang adalah keahlian kami.

“Dan sudah pasti orang-orang dari sisi supernatural tahu tentang Chichiryuutei Oppai Dragon. Ini akan menjadi sinyal bagi para siswa akademi yang memiliki kekuatan mengenai identitas asli kita.”

Menjelaskannya seperti itu rasanya agak salah, tapi itu pasti akan meningkatkan peluang untuk mengidentifikasi mereka yang berasal dari sisi yang sama dengan kami.

“Itulah yang kita butuhkan!”

“Err, aku tahu aku menyarankannya, tapi apa maksud kalian….”

“Dengan kata lain, kita akan membuat Oppai Dragon versi kita sendiri!”

“Tapi parodi sederhana seperti ini….”

“Sama sekali tidak sederhana! Itu ide yang cemerlang, Zekka-chan!”

“Sudah kuduga, pada saat dibutuhkan, Miyamoto-san selalu menjawab tantangan.”

“Tidak disangka kegemaran Zekka pada oppai bakal membuahkan hasil seperti ini.”

Mereka memujiku… 'kan?

Dan aku benci oppai, tolong jangan bilang kalau aku menyukainya meskipun tidak sengaja.

“Tapi, bisakah kita melakukannya tanpa izin?!”

“Keluarga Gremory memegang hak cipta untuk Chichiryuutei Oppai Dragon.”

“Kalau begitu tidak apa-apa karena kita punya Zekka-chan!”

“Zekka, pergi dan bernegosiasilah secara benar dengan putri dari Gremory.”

A-aku harus pergi dan meminta izin pada Rias-senpai?

“Pedang Ilmu Gaib akan merevolusi festival sekolah dengan Oppai Samurai!” Avi-buchou menyimpulkan. Apakah kita benar-benar akan melakukan ini?!

“Baiklah! Mari kita cerahkan suasana kasar di divisi SMP ini!” Ketua mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, dan anggota lainnya mengikutinya.

“Pertama, menurutku kita harus mulai dengan menonton seluruh serial tokusatsu-nya.”

Sepertinya Schwert-san punya videonya, jadi kami memutuskan untuk begadang semalaman dan tenggelam dalam tontonan itu.

Mengambil tindakan segera setelah memutuskan sesuatu—ini juga salah satu keunggulan Pedang Ilmu Gaib.

“Kalau begitu, ayo lakukan yang terbaik, Lili-chan, Schwe-chan.”

Dan akhirnya.

“Zekka-chan—bukan, Oppai Samurai!”

Dua orang lainnya menepuk pundakku, menyemangatiku.

“A-aku adalah Oppai Samurai—?!”

Rupanya, peran utamanya sudah diputuskan tanpa diskusi.

—JD×D—

“Uuu… aku bakal terbunuh oleh oppai…”

Semalam, kami menonton maraton serial tokusatsu itu sekaligus sampai tuntas.

Konsepnya sendiri sangat tradisional, menarik bagi kaum muda maupun tua, baik laki-laki maupun perempuan.

Namun, ada satu aspek yang menurutku sama sekali tak bisa dikompromikan.

“Oppai, oppai, oppai, selalu oppai….”

Pemeran utamanya, Oppai Dragon, sesuai dengan julukannya, terus-menerus berteriak ‘oppai’.

“Kepalaku bakal pecah… bakal berubah jadi belahan dada….”

“Zekka-chan, kau kelihatan sangat lelah, ya?!”

“Aku, overdosis, oppai….”

Kalian bertiga yang aneh karena bisa begitu bersemangat.

“Miyamoto-san, kau pingsan berkali-kali di pertengahan tontonan.”

“Apa yang menakutkan dari oppai, sih? Bukankah oppai adalah sumber kekuatanmu, Zekka?”

Tampaknya tak ada yang mengerti mengapa aku babak belur begini.

Lalu, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk memperjelasnya.

“Aku! Benci! Oppai—!”

Hal yang paling kubenci adalah oppai, hal kedua yang paling kubenci adalah oppai, lalu disusul oleh mentimun.

“““Kau benci oppai…?”””

“Aku tidak sudi!”

Ketiganya bertukar pandang. Aku tak percaya aku mengucapkan sesuatu yang begitu mencengangkan.

“P-pokoknya, ada apa sih, dengan naga yang menyukai oppai?”

Tentu saja, aku sudah punya firasat buruk hanya dari mendengar judulnya saja.

Kenyataannya, jika menyangkut sang protagonis, seluruh tindakannya didorong oleh oppai.

“Rias-senpai dan Kiba-senpai juga muncul entah kenapa….”

“Yah, itu sudah jelas. Soalnya, Oppai Dragon 'kan budaknya Rias-senpai.”

Avi-buchou melambaikan tangannya seolah berkata, “Apa sih yang kaubicarakan?”

“Akan kukatakan sekadar memastikan, tapi Oppai Dragon itu sebenarnya ada, lho.”

“Sebenarnya? Dia karakter fiksi, 'kan?”

“Naga penyuka oppai bukanlah karakter buatan, dia orang sungguhan.”

“Orang, sungguhan…?”

“Dia siswa di divisi SMA.”

L-lalu dia berteriak tentang oppai bahkan di sekolah?

Bukankah dia orang mesum tingkat tinggi!

“Dia adalah Sekiryuutei saat ini, yang juga dikenal sebagai Chichiryuutei, 'kan? Kau benar-benar tak tahu apa-apa, ya, Zekka?”

Bahkan Lilibette-san pun pernah mendengar nama itu.

“Dia di akademi ini… apalagi, di divisi SMA….”

Aku tidak ingin bertemu dengannya kalau bisa, atau lebih tepatnya, selamanya!

“Omong-omong, namanya adalah—”

“Kau tidak perlu memberi tahuku!”

Karena, kalau aku tahu….

[Tak kusangka dia jadi Oppai Dragon sekarang.]

Sebuah suara terdengar dari dadaku. Jadi dia keluar juga.

[Sebelum kita bisa menguasai pedang payudara ganda, salah satu Naga Langit, Sekiryuutei menjadi Oppa—]

“Tensei, diamlah!”

Aku menekan oppai-ku sendiri dengan kuat. Biasanya, dia patuh, tapi lain ceritanya jika menyangkut oppai.

“Zekka-chan! Ten-chan tidak akan bisa bicara kalau seperti itu.”

“Dan aku melakukan ini memang supaya dia tidak bisa bicara!”

Tensei menjadi pemberontak setelah mengetahui keberadaan Oppai Dragon.

“Mari kita lupakan oppai Zekka untuk saat ini, sudah saatnya kita beralih ke topik utama.”

Bantuan dari Lilibette-san mengarahkan diskusi kami kembali ke jalurnya.

“Benar. Dan kita tidak punya banyak waktu lagi. Ayo buat rencana untuk festival sekolah.”

Avi-buchou mengambil alih kepemimpinan.

“Di festival sekolah, kita akan menampilkan Chichiryuu… bukan, ‘Pedang Payudara Ganda Oppai Samurai’!”

Wajah Avi-buchou tampak berseri-seri, seolah-olah mengatakan, “Nama yang bagus, bukan?”

Yah, aku jelas bukan naga… tapi itu semua karena Tensei mengutarakan omong kosong “penguasaan pedang payudara ganda” itu!

“Jadi, kita akan menjadikannya pertunjukan pertarungan pedang yang penuh aksi, pada dasarnya pertunjukan teater panggung.”

“Ilmu pedang yang memesona, tarian pedang, kurasa itu juga bagus sesekali.”

Mereka berdua sepertinya setuju, tapi aku sama sekali tidak yakin kami harus melanjutkannya.

“Aku sendiri yang mengusulkannya, tapi oppai itu agak… yah, kurang pantas….”

“Kita juga mendapat izin dari Rias-senpai, jadi tidak masalah!”

Aku mendengar dari Avi-senpai bahwa Rias-senpai adalah orang penting di Akademi Kuoh.

“Secara hukum, sebagai anggota OSIS, aku tidak berhak membantu.”

“B-benar…! Jadi kita tidak bisa melanjutkannya, 'kan…?!”

“Yaaah, kalau aku menerima ini sebagai kompensasi—”

Kedua tangan Schwert-san penuh dengan merchandise Oppai Dragon.

“Aku berkonsultasi dengan Asia-senpai untuk meminta saran! Dan dia memberiku banyak sekali barang langka!”

“Aku juga bicara dengan Kiba-senpai lagi, dan dia memberiku kartu pos bertanda tangan.”

Dengan kata lain, tanpa sepengetahuanku, mereka menyiapkan alat tawar-menawar untuk Schwert-san….

“Menerima sebanyak ini, bahkan aku pun tak bisa menolak.”

Rakus sekali orang ini! Anggota OSIS yang terhormat! Ada koruptor yang mudah disuap di antara jajaran kalian!

“Karena itu, kau bisa mendapatkan slot waktu dan negosiasi dengan pihak-pihak yang terkait padaku.”

Dia berjanji untuk melakukan tugasnya dengan baik. Dia takut pada ketua OSIS, tapi harta karun di depan matanya membuat rasa takutnya pun lenyap seketika.

“Kami akan menyerahkan detail kecil pada Schwe-chan. Yang kita perlukan sekarang adalah mendiskusikan tugas dan peran kita!”

Avi-buchou menunjuk Lilibette-san lebih dulu.

“Musuh yang keren dan cantik! Lili-chan akan berperan sebagai Darkness Knight Fang!”

“Keputusan yang masuk akal.”

Mereka berdua adalah pendekar pedang, dan Lilibette-san juga memiliki bentuk tubuh dan wajah yang anggun, membuatnya cocok untuk peran tersebut.

“Aku akan menangani narasi! Aku akan memanaskan suasana!”

Kami juga mempertimbangkan dia untuk memerankan Hellcat, tetapi kali ini memutuskan untuk membatalkan ide itu karena kekurangan personel.

“Schwe-chan akan bekerja di belakang layar! Dan pada hari festival, dia akan mengawasi pencahayaan dan akustik!”

Meskipun dia berkolaborasi dengan kami, kami tak bisa menampilkannya di depan panggung, jadi diputuskan baginya untuk mengelola tugas di belakang panggung sendirian.

“Dan akhirnya—”

Avi-senpai akhirnya menunjuk ke arahku.

“Oppai Samurai, Zekka-chan!”

Disebut seperti itu sekali lagi membuatku sangat cemas.

“Um, aku sejujurnya bilang tadi, aku sangat benci oppai….”

“Dan tentu saja kami akan memintamu menyanyikan lagu temanya!”

“K-kau tidak bermaksud….”

“Schwe-chan! Putar musiknya!”

Mengikuti perintah tersebut, dia menekan tombol playback di ponselnya.

 

DI SUDUT SUATU NEGARA

HIDUPLAH SEEKOR NAGA PENYUKA OPPAI—

 

“Ma-matikan, tolong, matikan!”

Pikiranku tak bisa menahannya. Aku secara naluriah meminta jeda.

“K-kalian benar-benar ingin membuatku menyanyikan ini…?”

Lagu ini sungguh tidak masuk akal. Aku ingin menatap mata orang yang menciptakan lagu ini.

“Tentu saja! Meskipun kita akan mengganti ‘naga’ dengan ‘samurai’!”

T-tidak, aku benar-benar menolak menyanyikan ini!

“Kenapa kau begitu jijik pada oppai?”

Melihat reaksiku sejauh ini, Lilibette-san bertanya dengan serius.

“Kenapa, tanyamu….”

Mungkin tak ada gunanya menceritakan kembali hidupku sampai saat ini.

Kalau aku harus menyimpulkannya secara ringkas, kehidupan sehari-hariku selalu didominasi oleh oppai.

(Aku tidak kompeten dalam berinteraksi dengan orang lain, tapi kalau aku menyanyikan lagu seperti itu, aku tidak akan bisa menunjukkan wajahku di sekolah lagi.)

Mengamati ketidakmampuanku untuk menangani hal ini, Avi-buchou melipat tangannya dengan wajah lesu.

“Yah, kalau kau begitu keras menentangnya.”

Benar, kita harus membuang Oppai Samurai. Ayo pilih cerita pahlawan tanpa oppai!

“Kalau begitu kau butuh latihan mengatasi oppai!”

Namun, pantang menyerah adalah salah satu keunggulan Avi-buchou.

“Latihan, mengatasi, oppai?”

“Tepat sekali. Agar kau, Miyamoto-san, bisa bersiap untuk peran ini, mempelajari gerakan karakternya saja tidak cukup, kau harus mulai menyukai oppai itu sendiri.”

“Tempa dirimu dengan kobaran api, jepit dirimu di antara oppai—kalau kau seorang pendekar pedang, kau harus mengatasi kesulitan.”

Mereka berdua setuju, tapi bagaimana dengan sudut pandangku?!

“Diriku yang anggun ini akan menyelesaikan masalah Zekka.”

Lilibette-san membusungkan dadanya dengan bangga.

“Kau akan berlatih tarian pedang bersamaku dan sekaligus menaklukkan oppai. Ada apa? Di tanganku, itu akan jadi permainan anak-anak.”

“Tepat sekali! Alasan Oppai Dragon dan Darkness Knight Fang bisa melakukan pertarungan spektakuler seperti itu adalah karena mereka sebenarnya adalah teman dekat!”

Bersama Lilibette-san, kami akan meningkatkan koordinasi kami sementara aku juga berusaha mengatasi masalah oppai-ku.

Meskipun ini demi festival sekolah yang menyenangkan, tugas-tugas yang mesti kujalani terus menumpuk.

“Tinggal masalah kostum….”

“Tak bisakah kita meminjamnya dari para senpai?!”

“Aku punya firasat itu akan jadi masalah soal hak cipta, tapi bagaimanapun juga ukuran kita tidak cocok.”

Wajar saja karena tidak hanya ada perbedaan usia tetapi juga perbedaan gender antara kami dan karakter asli Oppai Dragon.

“Kalian tampaknya kesulitan. Serahkan kostumnya padaku, Penemune.”

Orang yang mendadak muncul adalah penasihat kami, yang kehadirannya tak bisa ditebak.

“Aku mungkin kelihatan seperti ini, tapi sebenarnya aku cukup berpengalaman dalam hal cosplay.”

Kebetulan, Sensei adalah orang yang paling senang dengan kami menampilkan Chichiryuutei Oppai Dragon.

“Pertama, kita perlu mengukur tubuh untuk kostumnya… tunggu, kenapa kau mengacungkan pedang bambu, Zekka?”

“Untuk jaga-jaga kalau Sensei mencoba melecehkanku.”

“Hee hee, Sensei senang kau secara bertahap mulai mengekspresikan individualitasmu.”

Aku tak ingin menunjukkan individualitasku dalam situasi seperti ini.

“Omong-omong, siapa yang akan memainkan peran kunci sebagai Switch Princess?” Lilibette-san bertanya setelah terlintas di benaknya.

Heroine adalah hal wajib dalam setiap narasi apa pun, dan Oppai Dragon tidak terkecuali.

Avi-buchou tercengang mendengar kata-kata itu. Dia mungkin lupa.

“Peran yang dimainkan oleh putri dari keluarga Gremory adalah yang paling menantang, bukan?”

“Tentu saja, kita membutuhkan seseorang yang akting dan penampilannya menyaingi Rias Gremory-san.”

“Dan mereka juga pasti memiliki oppai yang besar!”

Seseorang yang memiliki penampilan mencolok, aura kedewasaan, dan oppai yang besar.

Di antara anggota yang hadir di sini, satu-satunya yang memenuhi semua kriteria….

“K-kenapa semuanya menatapku? Jangan-jangan—”

Mata kami secara bersamaan beralih ke arah Sensei.

“Sensei! Aku percaya pada Anda!”

“Tidak ada pilihan lain sekarang.”

“Anda datang ke ruang klub sesuka hati, jadi kali ini penuhi tugas Anda sebagai penasihat dengan benar.”

“…Kita pergi ke liang kubur bersama-sama.”

Dengan semua orang diberi peran masing-masing, tibalah waktunya untuk memulai persiapan dan latihan khusus.

Lalu, Sensei begadang semalaman dan segera membuat kostumnya.

“Yaaaay, ini Switch Princess kalian!”

Mengenakan kostum heroine, Sensei berpose canggung.

“Rasakan iniiii! Oppai flaaaaaash!”

““““……””””

Melihat hal ini, aku bisa membayangkan wajah Rias-senpai yang berkedut.

Hari ini cuacanya cerah; meski begitu, di antara kami, terjadi salju lebat di luar musimnya.

—JD×D—

Hari itu, suasana tak biasa menyelimuti ruang kelas.

“Bukankah kau duduk terlalu dekat…?”

Duduk tepat di sebelahku adalah seorang gadis dengan penutup mata, postur tubuhnya sempurna.

Kami begitu dekat sehingga hanya tinggal beberapa sentimeter lagi, dan bahu kami akan saling bersentuhan.

“Aku menyatakan kepada Avi Amon bahwa aku akan menjaga Zekka.”

Beberapa hari lalu, Pedang Ilmu Gaib memutuskan untuk memproduksi pertunjukan panggung berjudul ‘Pedang Payudara Ganda Oppai Samurai’.

Dan kunci keberhasilannya bergantung pada kemampuanku mengatasi rasa benciku terhadap oppai.

Untuk mencapai hal ini, aku perlu memperdalam hubunganku dengan Lilibette-san, yang dengannya aku juga akan memperagakan tarian pedang.

“Kita harus bisa saling memahami dengan lebih baik.”

“Lalu, orang yang duduk di sebelahku sampai kemarin….”

“Aku menyuruhnya untuk menyerahkan kursi ini padaku, kecuali dia ingin menjadi karat di pedangku.”

“Kau malah mengancam?!”

“Kejamnya. Aku mengajukan permintaan secara sopan. Dan omong-omong, dia menyerahkannya dengan senang hati.”

Begitu, jadi dia menyerahkannya dengan senang hati… apakah duduk di sebelahku semenyebalkan itu… uuu….

“Ketahuilah bahwa selalu bersama adalah jalan terpendek menuju saling pengertian.”

Meski begitu, kau masih terlalu dekat!

“Jadi keduanya benar-benar pacaran?”

“Kudengar Lilibette-san yang menembaknya duluan.”

Tolong, dengarkan baik-baik. Beberapa rumor tak berdasar menyebar di kelas bagai api liar.

“Haruskah kita duduk di kursi yang sama saja?”

“Apa maksudmu?”

“Dari segi tinggi badan, aku harus duduk di bawahmu, lalu oppai-ku akan tertekan ke punggungmu. Dengan kata lain, kau bisa berlatih mengatasi kelemahanmu sambil mengikuti pelajaran—”

Aku penasaran apa yang sebenarnya dia katakan. Aku tak bisa memahaminya lagi.

“Ugh, kau sepertinya tidak senang. Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan duduk di pangk—”

“Tolong, biarkan aku belajar dengan normal.”

Pada akhirnya, kami pun mengikuti pelajaran dalam jarak yang terlalu dekat.

 

Kegigihan Lilibette-san… atau lebih tepatnya, pencarian kami untuk saling memahami atau semacamnya, tidak mau berhenti.

“Lakukan peregangan dengan benar!”

Saat pelajaran olahraga, aku melakukan senam bersama Lilibette-san.

“Perhatikan aku baik-baik! Kau harus melakukannya seperti ini! Busungkan dadamu lebih busung lagi!”

Mengenakan bloomers, Lilibette-san memperagakan gerakan dengan sempurna.

Namun, tatapanku tanpa sadar mengarah ke oppai-nya, berayun secara dinamis tepat di depan mataku.

(Lilibette-san sangat percaya diri dengan penampilannya, jadi dia mungkin tidak merasa malu sama sekali….)

Aku tak bisa menjadi seperti dia, jadi tanpa sadar aku sedikit membungkuk ke depan seakan ingin menutupi dadaku.

Kebetulan, hari ini kami memiliki lari ketahanan, jadi semangat Lilibette-san sangat mencolok.

“Zekka, ayo berlomba meraih posisi pertama.”

“Eh….”

“Ada apa dengan respons yang tidak bersemangat ini? Kau kurang berkomitmen sejak tadi.”

Setelah mengencangkan kembali tali sepatunya, Lilibette-san berdiri di sampingku.

“Dan kau dari tadi tidak melakukan apa-apa selain mengintip dadaku.”

“A-a-aku tidak melakukannya, kok?!”

“Jangan bohong! Kalau kau memang berniat melihatnya, lihatlah sampai hal itu tertanam di dalam pikiranmu!”

Kau tidak perlu mengatakannya sekeras itu…. Aah, cara teman-teman sekelas menatapku itu terasa menyakitkan.

“Aku tidak keberatan kau menatap oppai kalau itu bisa meningkatkan antusiasmemu. Kalau kau lebih menyukainya seperti itu, maka untuk mempercepatnya, aku bisa membiarkanmu menyentuhnya sedikit saat kita berlari dan—” Sambil menjulurkan oppai-nya, dia berjalan mendekat tanpa ragu-ragu.

“Tidak, bukan cuma menyentuh, lebih baik lagi, kau harus meremasnya! Ubah kemalanganmu menjadi sesuatu yang berguna, atau bagaimanapun peribahasa itu berbunyi! Larilah sebagai Oppai Samurai!”

Aku dalam posisi sulit tanpa jalan keluar, tetapi beruntung bagiku, Sensei memberi aba-aba untuk memulai.

“Aku harus menjauh darinya… secepat mungkin…!”

Jika aku di depan, tak ada oppai yang masuk ke dalam pandanganku.

“Awal yang bagus, Zekka!”

“Eh, kenapa kau sudah menyusul?!”

“Jangan lupa kita sedang berlomba! Sekarang remas oppai-ku dan larilah lebih cepat lagi!”

“T-tidak mungkin aku akan melakukan itu!”

“Remas!”

“Aku tidak mau!”

Kami mengitari lapangan olahraga dengan kecepatan tinggi, dan setelah mengukur waktunya, Sensei menatap kami dengan rasa kagum.

“Ini adalah rekor nasional untuk tingkat SMP….”

Namun, aku sama sekali tidak peduli dengan rekor apa pun, dan hanya berusaha setengah mati untuk melarikan diri dari oppai.

 

“Dan kau mau pergi ke mana?”

Saat istirahat makan siang, Lilibette-san juga menegurku.

“K-ke mana saja boleh, 'kan….”

“Kita akan makan siang, 'kan? Lalu kenapa kau mencoba meninggalkan kelas?”

“Meskipun kau menanyakan itu padaku….”

Suasana terasa berat denganku di kelas, dan lagi, sekarang ada Lilibette-san di dekatnya.

Aku tidak bisa bersantai dan makan dengan semua tatapan tertuju padaku.

“Kau bisa berlatih bahkan sambil makan. Jadi kau tidak boleh berpisah dariku.”

“Berlatih sambil makan?”

“Aku memikirkan bagaimana aku bisa membantumu, meski hanya sedikit, jadi aku menyiapkan ini.”

Dia mengeluarkan banyak majalah dari tasnya. Dan setiap majalah tersebut menampilkan wanita cantik dengan payudara sangat besar di sampulnya.

“A-apa-apaan yang kau… itu tidak senonoh, tahu?!”

“Ini disembunyikan di belakang gedung sekolah divisi SMA. Tepat setelahnya, seorang siswa datang ke sana dan berteriak ‘inilah harta karunku!’, sambil menitikkan air mata dari balik kacamatanya. Tampaknya, ini cukup berharga.”

“Meskipun menurutku ini milik orang berkacamata itu….”

“Akulah yang menemukan ini. Tapi sudahlah, ini oppai yang sangat bagus, 'kan? Dan yang halamannya tersegel itu bahkan lebih—”

“Aku sama sekali tidak tertarik pada oppai di halaman tersegel!”

Mungkin karena aku terlalu berisik, orang-orang di sekitar memandangku seperti memandang makhluk aneh.

“““““Oppai, di halaman tersegel…?”””””

Kalian salah paham, aku tidak tertarik pada hal-hal seperti itu….

“Nah, ayo makan sambil membicarakan oppai dan—”

Aku mengabaikan kata-kata Lilibette-san dan melompat keluar dari kelas.

“Kenapa kau lari dariku?!”

“Tolong, jangan ikuti aku lagi!”

“Terimalah oppai-nya!”

“Aku enggak mau!”

Dan dengan demikian dimulailah lari ketahanan kedua hari ini dimulai antara aku dan Lilibette-san.

“…Haa… haa…. A-aku akhirnya sendirian….”

Berhasil meloloskan diri pada akhirnya, aku sampai di tempat yang biasanya kugunakan untuk makan siang.

“Oppai ini, oppai itu di setiap kesempatan….”

Aku duduk di tempat teduh di belakang bangunan tua tak bernama yang tidak populer.

[Apakah kau baik-baik saja dengan ini?]

Pada saat itu, Tensei, yang sejak tadi diam memperhatikan, memecah keheningan.

[Hanya makan siang bersama seharusnya sudah cukup, 'kan?]

“Tapi aku ingin makan dengan tenang…. Aku benci ditatap seperti itu….”

[Gadis itu benar-benar ingin bersamamu.]

“……”

Itu cuma karena keinginannya untuk berduel denganku, dan dia juga bilang dia membantu Pedang Ilmu Gaib demi kepentingannya sendiri.

(Dan sepertinya dia tidak akan menjadi temanku….)

Meski begitu, walau suasananya sangat bising sejak pagi hari, perasaan aneh apa ini?

Sekarang setelah akhirnya aku bisa sendirian, aku penasaran mengapa rasanya malah kesepian.

[Di sini sangat sunyi.]

“Ya….”

[Kau tampaknya agak sedih.]

“A-aku tidak kesepian atau apa pun…”

Aku memang selalu seperti itu.

[Yah, aku menyerahkan pilihan mengenai hidupmu padamu, tapi bagaimana dengan makan siang?]

“Apa maksudmu? Aku cuma akan makan di sini.”

[Dan apa yang mau kaumakan?]

“…Oh.”

Aku benar-benar lupa. Aku sangat ingin melarikan diri darinya dan meninggalkannya di ruang kelas.

[Bagaimana kalau kembali untuk mengambilnya?]

“…Tidak makan siang tidak akan menyulitkanku sama sekali.”

[Itu punya pengaruh besar pada pertumbuhan oppai, tahu.]

Dan aku enggak peduli soal itu.

Untuk saat ini, aku akan menahan perut kosongku dan bersembunyi di sini sampai bel tanda masuk berbunyi.

“Ketemu, kau!”

Tiba-tiba, suara keras bergema.

Melihat ke arah suara itu, aku melihat Lilibette-san, yang napasnya tersengal-sengal dan mandi keringat.

“K-kenapa kau ada di sini….”

“Aku menjelajahi seluruh area akademi utnuk mencarimu di mana-mana.”

Kegigihannya sungguh tak terbayangkan; aku tidak mengira dia akan berusaha sejauh itu mengejarku.

“Hidungku juga cukup tajam. Dan aku ingat aromamu.” Dia berkata begitu sambil menunjuk hidungnya, tapi itu bukan karena aku bau, 'kan…?

“Boleh aku duduk di sebelahmu?”

“…Err.”

“Kalau begitu, permisi.”

Meskipun aku belum mengizinkannya, Lilibette-san tidak peduli dan tetap duduk.

“Apakah kau melarikan diri karena khawatir dengan pandangan orang lain terhadapmu?”

Tentu saja, sebagian dari itu adalah aku tidak terlalu menyukai seluruh latihan mengatasi oppai ini. Namun, seperti yang dia sebutkan, alasan utamanya terletak pada tatapan curiga yang kudapat dari orang lain.

Aku tidak tahu kapan Tensei akan mulai bertingkah dengan oppai sebagai katalisnya.

Sudah lama aku hidup menghindari perhatian publik, ini adalah hari-hari biasa dalam hidupku, sebuah kebiasaan.

“Kau harus membiarkan orang lain mengatakan apa yang mereka mau.”

Menganggap diamku sebagai pembenaran, dia menatap ke kejauhan dan mengatakan ini seolah-olah itu adalah hal yang jelas.

“Pertama-tama, kau tidak bisa akrab dengan semua orang.”

Dia menyiratkan bahwa tidak akan ada konflik di dunia jika kau bisa berteman dengan semua orang.

“Kalau begitu, kenapa kau mencoba bersamaku, Lilibette-san?”

“Aku ingin mengatakan ini semua demi duel kita.”

Jadi, ada alasan lain selain sekadar tindakan mementingkan diri sendiri?

“Ini adalah caraku untuk menjadi keras kepala.”

“Keras kepala?”

“Aku ingin membuatmu mengingatku.”

Dia tersenyum pahit, seolah-olah aku seharusnya sudah mengetahuinya.

“Baik itu duel atau lebih dari itu, aku tidak tahan merasakan kekalahan demi kekalahan.”

Apakah Lilibette-san pernah kalah dariku dalam sesuatu…?

“Dan kau juga menarik minatku.”

“Meskipun kau tertarik pada orang sepertiku….”

“Benar, Zekka yang asli ternyata jauh dari apa yang kubayangkan—seorang penakut dan pencemas. Kau takut pada oppai dan langsung kehilangan harapan. Sangat berbanding terbalik denganku, dan biasanya kita mungkin tidak akan pernah saling berhubungan.”

Aku sadar akan sifat penakutku, tapi itu cara yang penyampaian yang cukup tajam.

“Tapi terlepas dari semua itu, kau kuat.”

Kata-kata yang diucapkan Lilibette-san hampir tidak terdengar.

“Aku harus tahu dari mana kekuatan itu berasal.”

Seorang penakut dan seorang yang percaya diri—dua hal yang saling bertolak belakang—tetapi justru itulah mengapa ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami dengan tetap bersama.

Lilibette-san menatap lurus ke arahku dan menyatakan.

“Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Zekka.”

Sebuah pernyataan yang begitu jujur hingga cukup membuatku, yang mendengarnya, merasa malu.

“…Bagaimanapun juga, pertunjukan Pedang Ilmu Gaib semakin dekat, jadi akan merepotkan kalau kau selalu menghindariku.”

Seolah ingin mengabaikan topik utama, Lilibette-san membuka tas di tangannya.

Omong-omong, aku sempat penasaran apa yang ada di dalam sana.

“Sepertinya kau tidak membawa bekal makan siang, 'kan?”

Apa yang dia ambil dari tasnya adalah dua kotak bento yang berwarna-warni.

Dia menyerahkan salah satunya kepadaku.

“Eh, kau yang membuatnya…?”

“Aku yakin aku sudah mengatakannya sejak awal: mari kita saling mengenal lebih baik. Mengundang seseorang untuk makan dan tidak menjamunya itu bertentangan dengan kesatriaanku.”

Aku tidak yakin apakah makanan dan sejenisnya ada hubungannya dengan kekesatriaan, tapi aku merasa dia menunjukkan kepedulian yang mendalam dengan caranya sendiri.

“Tenang saja. Membuatmu kabur lagi hanya akan mengganggu waktu makan. Aku tidak membawa majalah-majalah itu, kok.”

“Lilibette-san….”

Aku akan menerima kebaikannya. Meski sedikit, hal itu menyentuh sudut hatiku.

“A-aku akan dengan senang hati menerimanya.”

Aku tidak berniat menolaknya.

Dia mengejarku selama ini dan bahkan menyiapkan makanan.

Aku tersenyum secara spontan, dan melihat ini, Lilibette-san juga membuat bahunya bergidik sedikit.

Pada akhirnya, istirahat makan siang untuk kami berdua dimulai—tapi ada satu masalah.

“…O-ppai?” gumamku keheranan setelah membuka kotak bento.

“Ini adalah bento Switch Princess.”

Rias-senpai yang telanjang bulat ada di sana.

Payudaranya yang menggairahkan terpampang jelas, dan dia bahkan mengedipkan mata.

“Bagus sekali, bukan? Aku percaya diri dengan kemampuan memasakku.”

“……”

“Butuh banyak usaha untuk menciptakan kembali rambut crimsonnya. Padahal tugas tersulitnya adalah membuat dadanya terasa tiga dimensi. Dan apa kau tahu, untuk ujung oppai-nya, aku menggunakan abon ikan merah muda jadi—Zekka?”

“Ha, haha, hahaha….”

“Hehe. Kau begitu tersentuh oleh kesempurnaan ini sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tanganmu juga tidak bergerak. Kalau begitu, tak ada pilihan lain, aku akan menyuapimu.”

Menggunakan sumpitnya sendiri, Lilibette-san menempelkan bagian merah muda Rias-senpai ke bibirku.

“Mengucapkan ‘aam’ terlalu klise, ya.”

Itu tidak penting lagi. Aku bahkan tidak berniat untuk membalasnya.

“Ini, zoom-zoom iyaaan.”

Aku merasa sangat serbasalah saat memakannya.

Bento oppai itu sangat lezat, tetapi juga menyiksa perutku.

—JD×D—

“Hanya segitu saja kemampuanmu, Oppai Samurai?”

Kami mengadu pedang bambu dengan Lilibette-san di gedung seni bela diri lama.

Kami berlatih sambil memasukkan alur dari naskah, dan setelah beberapa hari berlatih, bentuknya akhirnya mulai terlihat.

“Kira-kira begitu, kurasa.”

Setelah kami selesai, Lilibette-san menurunkan pedangnya.

“Zekka, ilmu pedangmu masih kurang bertenaga.”

“Yah….”

“Entah menyerang atau menghindar, rasanya seperti kau menahan diri. Seolah-olah kau secara tidak sadar mengerem diri sendiri.”

“Aku antusias melakukannya, tahu?”

“Aku mengerti. Tapi, ilmu pedang Miyamoto Zekka tidak seharusnya seperti ini.”

Lilibette-san berkomentar tanpa menahan diri.

“Tampilkan lebih banyak hasrat membunuh.”

“Hasrat membunuh… tapi kita cuma berakting….”

“Kau tidak bisa menggerakkan hati orang lain kalau ilmu pedangmu tidak asli.”

“Meski kau berkata begitu….”

“Astaga, sudah kuduga, di sinilah aku harus menggunakan oppai sebagai motivasi untuk—”

“Kalau begitu ayo berlatih lagi! Sekarang, cepatlah! Aku penuh motivasi!”

“Unh. Kalau kau bersemangat, ayo lakukan sekali lagi.”

Dia mengangguk kegirangan setelah menerima saranku untuk melanjutkan.

…Bukannya aku terprovokasi oleh oppai karena rasa takut padanya, tahu?

Kali ini yang kami lakukan hanyalah tarian pedang biasa, sebuah pertunjukan, tetapi karena kami memutuskan untuk melakukannya, aku ingin membuatnya sukses.

Setelah itu, kami melanjutkan latihan khusus, dengan Avi-buchou dan Schwert-san bergabung dengan kami.

“Mari kita akhiri untuk hari ini!”

Avi-buchou memerintahkan setelah matahari sudah terbenam.

“Ayo pulang, Zekka.”

Lilibette-san menungguku dengan sabar di dekat pintu masuk.

Aku sudah menerimanya, tetapi telah diputuskan bahwa sampai festival sekolah tiba, kami harus pergi dan pulang sekolah bersama-sama sebisa mungkin.

“Ahaha, kau seperti anjing setia—Aduh! Sakit! Kepalaku bakal hancur!”

“Siapa yang kau sebut anjing? Mau coba ulangi sekali lagi?”

“M-maafkan aku, Mi-Miyamoto-san, tolong, hentikan dia!”

Lilibette-san mencengkeram kepala Schwert-san. Itu adalah pemandangan yang sudah biasa kulihat.

“U-um, kalau begini terus, sesuatu yang buruk bakal terjadi pada kepala Schwert-san.”

“Kalau begitu, aku akan meremukkannya sekalian. Bagaimana kalau jus Walküre Norse yang baru dipetik?”

Namanya terlalu seram, apalagi akan menimbulkan skandal internasional. Aku menenangkan Lilibette-san dengan mengatakan “whoa, whoa”[4].

“Haa, haa, kupikir aku sudah mati tadi. Kau benar-benar cuma mendengarkan Miyamoto-san saja, ya.”

“Aku tidak mendengarkan siapa pun. Aku hanya berpikir itu adalah tindakan yang benar dan mengikuti kata hatiku.”

“Dan inilah tsunde—Eep! Aku permisi dulu untuk hari ini!”

Schwert-san lari secepat yang dia bisa.

“Hmph, dia hanya pandai melarikan diri.”

Dia menggelengkan kepalanya, berkata, “Astaga.” Meskipun membuat alasan, frekuensi dia memaafkannya semakin bertambah.

Setelah itu, Avi-buchou juga meninggalkan ruang klub, mengatakan dia ingin mampir ke tempat Sona-kaichou.

“Ayo pulang.”

“Tentu.”

Menjadi satu-satunya yang tersisa, kami juga beranjak pulang.

 

“Kau juga semakin terikat pada Pedang Ilmu Gaib, Lilibette-san.”

Aku, yang pernah melihat situasinya, mengatakan demikian saat kami berjalan di sepanjang tepi sungai.

Dengan sikapnya di awal dulu, Schwert-san pasti benar-benar sudah berubah jadi jus.

“Aku cuma terbiasa, bukannya terikat.”

“B-begitukah? Kalian tampak cukup dekat.”

“Kau salah.”

Dia mengoreksiku, tidak ingin disalahpahami.

“Sedangkan untuk Pedang Ilmu Gaib, aku hanya memberikan dukungan sementara, tidak lebih, tidak kurang.”

Aku mengerti dia secara eksplisit menyatakan dia tidak ingin bersikap lebih ramah dari yang diperlukan.

“Hal yang sama berlaku untuk Schwertleite. Dia juga membantu demi kepentingannya sendiri.”

“Kurasa kau benar.”

“Oleh karena itu, kita tidak boleh terobsesi dengan masa kini. Kecuali Klub Penelitian Pedang Gaib berhasil di festival sekolah, tidak ada—… Zekka, tolong, jangan bermuka muram seperti itu. Bukannya aku mengkritik siapa pun.”

“Ya.”

“Aku hanya ingin menyemangatimu, jadi… tidak perlu terlalu memikirkannya, oke?”

Lilibette-san mencoba menjelaskan dirinya dengan canggung. Dia mungkin terdengar berhati dingin, tapi sebenarnya, dia dengan sungguh-sungguh menghadapi situasi Pedang Ilmu Gaib saat ini.

“Tidak apa-apa, Lilibette-san, aku mengerti apa yang ingin kausampaikan.”

“B-begitukah… baiklah kalau begitu!”

Sebaliknya, aku senang dia memikirkannya sebanyak ini meskipun dia adalah anggota sementara.

“Pedang Ilmu Gaib pasti akan melakukan tugasnya dengan baik! Dan ketika tujuan kita tercapai, berduellah denganku!”

“Eh, ooh, ya, duel….”

Saat kata “duel” muncul, tanpa sadar aku menoleh ke arah lain.

“Tentu saja kau tidak melupakannya?”

“Soal itu, yah….”

“Kau akan memenuhi janjimu, 'kan?”

Suasana menjadi sedikit meresahkan. Lilibette-san menatapku dengan curiga di matanya.

“Err—”

“Katakan dengan jelas.”

Sejujurnya, setelah semua ini, aku enggan melawannya dengan pedang sungguhan.

Aku mencoba mengatakan sesuatu untuk mengubah topik.

Namun, yang mengakhiri percakapan kami adalah seorang laki-laki dan perempuan yang tidak dikenal—.

“Tunggu, Horii-kun!”

“Kemari, Susan!”

Pasangan yang sedang bermesraan berjalan melewati kami.

Masalahnya terletak pada penampilan mereka: perempuan itu mengenakan armor Jepang dan laki-laki yang dikejarnya mengenakan armor kesatria Barat.

…Apa-apaan ini?

“Mama, apa itu?”

“Kau tidak boleh melihat itu!”

Seorang anak di dekatnya mempunyai reaksi yang sama denganku, dan ibunya memandang mereka seperti memandang orang-orang mencurigakan.

Tapi, ini adalah kesempatan untuk mengubah topik duel!

“Itu orang-orang yang aneh, ya, Lilibette-san.”

Aku segera mulai berbicara tentang pasangan misterius itu.

“I-ini pertama kalinya aku melihat orang-orang berpenamplan seperti ini.”

“Pertama kali, apakah itu benar?”

Setelah itu, Lilibette-san menatapku dengan lebih curiga lagi.

“M-maaf, sebenarnya, aku pernah melihat armor Jepang….”

Lagi pula, kami memajangnya di rumah. Aku ingin tahu apakah aku terlalu impulsif, membuatnya terdengar mencurigakan.

“Dan bagaimana dengan armor kesatria Barat?”

“Aku yakin aku belum pernah melihatnya.”

“Tolong, cobalah untuk mengingatnya.”

“Tidak, aku benar-benar belum pernah!”

“……”

Lilibette-san terdiam.

“…Bahkan setelah semua ini, kau masih tidak ingat, ya.”

Ada apa dengan suasana tidak nyaman ini?! Dia bahkan lebih muram dari sebelumnya?!

“…Tak ada gunanya bahkan setelah kita begitu sering mengadu pedang selama latihan. Mungkin, metodeku sampai sekarang terlalu naif.”

Setelah tanpa sadar berbicara pada dirinya sendiri, dia berbalik ke arahku.

“Zekka.”

Lilibette-san memberi tahuku dengan tekad bulat.

“Maukah kau datang ke rumahku?”

 

Dan begitulah akhirnya kami buru-buru memutuskan untuk pergi ke rumahnya.

Aku akan sendirian bahkan jika aku kembali ke rumah, jadi setelah dia bersusah payah mengundangku, aku memutuskan untuk menerima tawaran itu.

“Kau berasal dari Perancis, 'kan? Di mana kau tinggal di sini?”

“Di hotel.”

Aku punya firasat dari sikap anggunnya, tapi aku penasaran apakah dia benar-benar orang kaya.

“Aku tinggal di sebuah kastel untuk saat ini.”

“Kastel…?”

“Ya. Saat pertama kali melihatnya, aku memutuskan untuk segera tinggal di sana.”

Apa ada bangunan bersejarah seperti kastel di Kota Kuoh?

Kalaupun ada, bagaimana cara menggunakannya sebagai hotel?

Yah, ini Lilibette-san yang sedang kita bicarakan, dia mungkin cuma melebih-lebihkan.

—Dan itu adalah kesalahan besar dariku.

“Kita sampai.”

Setelah berjalan beberapa saat, yang muncul di depan mataku memang sebuah kastel.

Dan bukan bergaya Jepang, melainkan bergaya Barat, seperti yang ditemukan di Eropa.

“Kau suka? Cukup megah, bukan?”

“Li-Lilibette-san, ini 'kan….”

Ada tarif untuk menginap jangka pendek dan semalam di pintu masuk.

Bahkan aku, yang bukan orang paling berpengetahuan, mengerti bahwa ini adalah tempat yang tidak boleh dimasuki oleh murid SMP.

“Kamarku ada di lantai paling atas.”

Dia memamerkan tentang memesan kamar suite, tapi bukan itu masalahnya.

“Ini bukan hotel biasa, um, yah—”

“Nah, ayo masuk!”

Aku ragu-ragu, dan Lilibette-san menarik tanganku, menyeretku lurus ke depan.

(Apa kita benar-benar akan masuk—?!)

Dalam suasana saat ini, sudah terlambat untuk menolak.

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa agar kami tidak berpapasan dengan seseorang saat berjalan masuk.

“Kau bisa menaruh barang-barangmu di sana. Anggap saja seperti di rumah sendiri.”

Kami entah bagaimana berhasil mencapai kamar di lantai paling atas, dan itu benar-benar indah.

Kamarnya luas, dan tata letak serta fasilitasnya hampir identik dengan rumah biasa.

“Bahkan ada dapur….”

“Bukankah itu hal biasa di Jepang? Aku akan menyiapkan makan malam, jadi bersantailah sebentar.”

Tentang hal itu biasa… aku tak tahu. Lagi pula, ini pertama kalinya aku berada di tempat seperti itu.

Setelah melepas blazernya, Lilibette-san mengenakan celemek dan mulai memasak.

Aku merasa bersalah hanya menunggu, jadi aku berdiri di sisinya, ingin membantu sesuatu.

“Apakah kau pandai memasak, Zekka?”

“Tidak, aku tidak begitu bisa memasak.”

“Dapur juga merupakan medan perang. Aku akan kesulitan kalau kau masuk dengan tekad yang setengah-setengah.”

Mengatakan itu, Lilibette-san mengeluarkan pisau dan mengarahkannya padaku, 'kan?

Mungkinkah aku akan dibunuh?! Maafkan aku karena meremehkan urusan memasak!

“Setidaknya kau bisa memotong beberapa bahan, 'kan?”

Berbeda dengan nada bicaranya, ekspresinya ramah, dan dia mengulurkan gagang pisaunya padaku.

“Syukurlah…. Kupikir aku pasti akan dimasak….”

“? Apa maksudmu?”

“I-itu bukan apa-apa! Jangan khawatir! Setidaknya dalam menangani pisau, aku tidak akan kalah dari siapa pun!”

“Aku bisa tenang kalau kau bertekad…. Kalau begitu, aku mengandalkanmu.”

Dan seperti itu, banyak hidangan lezat yang akhirnya berjejer di meja makan, semuanya tampaknya merupakan masakan rumahan Prancis.

“I-ini enak!”

Mengambil satu gigitan, aku tak bisa menahan diri untuk berseru.

“Wajar saja. Karena aku… dan Zekka membuat ini bersama-sama.”

Padahal setelah memotong sayuran, yang kulakukan hanyalah melihatnya memasak. Keahlian Lilibette-san sungguh luar biasa.

“Lihat, ada sisa makanan di mulutmu. Tidak perlu terburu-buru begitu.”

Lilibette-san, yang duduk tepat di depan, membungkuk dan segera menyeka bibirku hingga bersih.

Ternyata dia sudah terbiasa melakukannya, mungkin dia punya adik.

“S-sudah lama sejak terakhir kali aku makan masakan rumah….”

Di rumah, nenek selalu memasak untukku, tapi setelah datang ke sini, setiap hari aku harus puas dengan makanan yang dibeli di supermarket atau minimarket.

Sambil menyantap hidangan satu demi satu, aku terus mengatakan berkali-kali betapa menakjubkannya Lilibette-san.

“Hmph, dipuji sebanyak ini rasanya tidak buruk,” ucapnya dengan tenang, tapi kemudian mengalihkan pandangannya sedikit dan bergumam dengan suara rendah.

“K-kalau begitu, apakah kau keberatan kalau aku memasak setiap hari sampai waktu duel kita tiba?”

“Aku merasa tidak enak mengatakan ini, tapi aku yakin semua orang juga akan senang, kalau kau melakukannya untuk Pedang Ilmu Gaib.”

“…Aku tidak peduli, orang lain….”

Tidak biasanya baginya, dia terbata-bata, jadi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.

Setelah itu, kami melanjutkan makan malam sambil mengobrol dengan Lilibette-san tentang berbagai hal.

Tentang ilmu pedang, tentang sekolah, tentang kegiatan klub.

Aku tak tahu apakah itu bermakna atau tidak, tapi aku yakin waktu yang kami habiskan sangat memuaskan.

“Kau bisa menginap untuk hari ini.”

Saat perutku sudah agak tenang, Lilibette-san tiba-tiba mengusulkan ini.

“E-e-enggak! Tiba-tiba menginap!”

“Jangan dipikirkan. Lagi pula, aku juga tinggal sendirian.”

Bukan itu maksudnya, tapi justru beragam permasalahannya jika bermalam di tempat seperti ini.

Pertama-tama, bahkan memasukinya adalah masalah besar….

“Aku sudah menyiapkan bak mandi. Dan kau bisa menggunakan pakaian santaiku untuk hari ini.”

“Tapi….”

“Saat kau melepas pakaian, masukkan ke dalam mesin cuci. Kalau ada yang mudah berubah bentuk atau ada hiasannya, masukkan ke dalam keranjang di dekatnya dulu.”

“Um….”

“Apakah kau mungkin takut aku akan melakukan sesuatu pada pakaian dalammu? Tidak perlu khawatir, aku hanya akan memeriksanya sedikit lalu mencucinya secara normal.”

Apa maksudmu “memeriksanya sedikit”?! Ini bukan arti dari “mencuci secara normal”, tahu?!

“D-dan kau tidak akan menerobos masuk saat aku sedang mandi, 'kan…?”

“Tidak boleh?”

“Tidak boleh!”

“Heh, aku cuma bercanda. Sekarang, pergilah.”

Itu buruk bagi jantungku. Aku pergi ke kamar mandi mendahului Lilibette-san.

“Kamar mandinya juga mewah….”

Seperti yang diharapkan, semuanya tergantung pada tempatnya; ukuran dan kualitas bak mandi sangat berbeda dari yang ada di rumahku.

“Haa….”

Setelah membilas diri, aku membenamkan diri ke dalam bak mandi hingga ke leherku dan tanpa sadar menatap langit-langit.

“Sudah lama sekali sejak aku berendam di bak mandi….”

Setelah meninggalkan rumah, aku selalu mandi menggunakan pancuran.

Mungkin hal ini sangat menenangkan hatiku karena aku adalah orang Jepang.

“Lilibette-san adalah orang yang baik.”

Sebanyak apa pun dia mengatakan ini demi duel, pada awalnya aku tidak berpikir dia akan bekerja sekeras ini.

“Kenapa dia berbuat sejauh itu demi aku, ya.”

Ini bukan hanya tentang duel, dia juga bilang bagaimana iniadalah caranya untuk jadi keras kepala.

Bahkan sejak awal, meskipun kami baru pertama kali bertemu, aku merasakan sesuatu seperti obsesi darinya.

“Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Lilibette-san….”

Dia pandai memasak, terlalu percaya diri, dan tak disangka sangat perhatian. Caranya tahu cara lainnya, aku tahu apa yang ada di permukaan.

Namun, aku tak tahu jati dirinya dan apa alasannya bertarung. Ya, dia bilang bahwa tujuannya adalah menjadi kesatria terkuat, tapi aku belum tahu alasannya.

“Aku penasaran apakah pada akhirnya aku akan memahaminya.”

Dengan pikiran linglung, aku memikirkannya secara santai.

Aku akan memuaskan diri dengan ini sedikit lebih lama lagi.

Aku mengangkat tanganku untuk menyingkirkan poni yang basah dan menempel di dahiku.

Pada saat itu, aku tak sengaja menekan panel sentuh di bagian samping dengan sikuku.

“Eh?”

Tiba-tiba, lampu padam dan lampu neon berwarna pelangi menyala.

“A, a-a, apa ini—?!”

Bahkan musik misterius mulai terdengar; sesuatu akan segera dimulai, membuat waktu santaiku terasa seperti sebuah kebohongan.

“Ba-bagaimana cara menghentikannya—”

Aku berulang kali menekan panel sentuh, mencoba mengembalikan semuanya menjadi normal, tapi sayangnya, tak ada yang berubah.

Saat itulah Lilibette-san, merasakan ada sesuatu yang tidak beres, menerobos masuk dengan wajah bingung.

“Zekka! Apa yang….”

“Eh.”

Aku berdiri telanjang bulat di depan Lilibette-san.

Dia mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan terakhir, pandangannya beralih ke dadaku, berhenti di situ.

“Oppai, luar biasa.”

Suara berbisiknya bergema di dalam kamar mandi.

“Ti-tidaaaak!”

Hari itu, aku mengeluarkan jeritan terkeras dalam hidupku.

—JD×D—

“Haa….”

Setelah mengeringkan rambutku, aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.

Di sampingku ada pakaian tidur yang terlipat rapi, tapi—.

“Itukah yang mereka sebut ‘daster’? Ini pertama kalinya aku melihat hal seperti ini….”

Terbuat dari kain tipis dan halus, inilah yang pertama kali disiapkan untukku. Namun, aku tidak mungkin memakai sesuatu seperti ini, jadi setelah memohon pada Lilibette-san yang cemberut, dia meminjamkan seragam olahraga sekolahnya.

“Aku tak bisa santai….”

Dari pakaian ini, aku bisa mencium aroma harum orang lain.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, kamar ini hanya punya satu tempat tidur.

Seharusnya disebut ‘king-size’, jadi ada cukup ruang untuk dua orang tidur bersama.

Tapi kenapa aku tidak bisa menahan perasaan tegang karena dua gadis seumuran berbagi satu ranjang?

“Maaf membuatmu me—kenapa kau duduk seiza?”

Lilibette-san masuk, rambut emasnya yang bagaikan rembulan terikat ke atas.

Berbeda denganku, dia berpakaian anggun dengan daster.

Melihatnya lagi, pakaian itu terlihat sangat provokatif hingga aku ragu apakah itu benar-benar pakaian tidur.

Kurasa aku tidak akan pernah bisa tinggal di Eropa jika hal ini merupakan hal yang lumrah di sana.

“Bersantailah sedikit lagi. Kita 'kan tidak sedang bertarung sampai mati.”

Jika aku terlalu tegang, dia mungkin juga tidak akan merasa nyaman.

Aku entah bagaimana berhasil merilekskan postur dudukku, lalu meletakkan kedua kaki di lantai yang hangat.

“Nah, kalau begitu.” Lilibette-san dengan anggun duduk di sampingku.

“……”

Meski tadi banyak mengobrol saat makan malam, kini, entah kenapa, kami berdua terdiam.

Aku penasaran kenapa jantungku berdebar kencang.

“Sepertinya kau menggunakan losion kulit yang kuberikan.”

Saat aku bilang kalau aku tidak merawat kulitku sebelum tidur, Lilibette-san memarahiku dengan keras.

Lalu dia memberiku banyak kosmetik yang kelihatan mahal dan bahkan menjelaskan secara detail cara menggunakannya.

Memiliki aroma wangi yang sama yang terpancar dari Lilibette-san terasa aneh bagiku.

“Apakah kau sudah menggosok gigi?”

“Y-ya.”

“Apakah kau sudah memotong kukumu?”

“Kuku? Tapi aku baru memotongnya kemarin.”

“…Kau juga memolesnya dengan baik. Kalau begitu, tidak masalah.”

Apakah ada kebiasaan merawat kuku sebelum tidur di Prancis?

“Kalau begitu, mari kita redupkan lampunya.”

Lilibette-san memainkan sakelar yang terpasang di tempat tidur.

Cahaya putih berubah menjadi pendar redup yang hangat.

“Kalau gelap gulita, kita tidak akan bisa melihat apa-apa, jadi setidaknya seredup ini diperlukan.”

Aku tidak begitu mengerti, tapi sepertinya dia tidak bisa tidur saat gelap gulita.

Tidak masalah, sepertinya kita akan mengakhiri hari tanpa insiden.

Merasa lega, aku berbaring telentang.

“…Lilibette-san?”

Namun, dia tidak ikut berbaring.

Jauh dari itu, dia justru mendekatiku dengan ragu-ragu lalu mengangkangi perutku.

“Aku tidak punya pengalaman dalam hal semacam ini. Tapi aku pasti akan menyelesaikannya sampai akhir.”

Mengatakan sesuatu yang penuh makna tersirat, dia melepaskan dasternya.

“Li-Li-Li-Lilibette-san?”

Di bawah cahaya redup, dia menyingkapkan oppai-nya yang tersembunyi dan kulitnya yang putih bersih.

“Errr, apakah kau tipe orang yang tidak bisa tidur tanpa telanjang?”

“Omong kosong apa yang kaubicarakan? Kita akan tidur bersama, jadi pakaian tidak diperlukan, 'kan?”

“Ti-ti-tidur bersama?!”

Dia bahkan mencoba melepas kait branya, jadi aku secara refleks menghentikannya.

“Itu artinya menghabiskan malam bersama.”

“E-e-e-enggak!”

“Aku juga percaya akan lebih cepat untuk menangani rasa bencimu terhadap oppai dengan menggunakan pengalaman langsung.”

Keberaniannya kali ini menutupi apa pun yang telah dia lakukan selama ini. Aku tidak menyangka ini akan terjadi!

“Tidak perlu khawatir, ini juga pengalaman pertama bagiku. Atau kau sudah berpengalaman, Zekka?”

“T-tidak mungkin!”

“Kalau begitu, kita berdua pemula. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Tapi kemudian dia menambahkan.

“Aku berjanji akan menyerahkan diri jika kau memenangkan duel. Karena itu, kita tidak boleh melakukan permainan abnormal hari ini. Mari kita lakukan secara standar—”

Aku enggak peduli soal itu!

Meskipun dia berada tepat di atasku dan aku tak bisa melarikan diri, yang bisa kulakukan hanyalah mengangkat kepalaku.

“Tato…?”

Yang membuatku tenang dalam sekejap adalah sebuah tato yang terukir di perutnya.

“…Oh, ini.”

Mengikuti perkataanku, Lilibette-san melihat perutnya sendiri.

“Sebenarnya, ini adalah sebuah kutukan.”

“Kutukan?”

Kemudian Lilibette-san melepas penutup matanya untuk pertama kali. Mata emas yang berkilau tersembunyi di baliknya.

“Tubuhku dihinggapi oleh kekuatan Naga Jahat.”

Lilibette-san mengusap perutnya dan kemudian menutupi mata emasnya.

“Sebelum kita berhubungan seks, izinkan aku bercerita tentang diriku—”

 

Cerita yang disampaikan Lilibette D. Lunaire padaku rasanya seperti dongeng.

Namun, itu bukanlah kisah kepahlawanan.

Itu adalah kisah hidupnya, penuh dengan aib dan keputusasaan.

“Aku terlahir sebagai keturunan seorang pahlawan.”

Sebuah keluarga yang mewarisi darah kesatria agung D'Artagnan.

Dia terlahir sebagai putri sulung dari keluarga Lunaire, yang dianugerahi gelar Knight.

“Orangtuaku tegas, tetapi pada saat yang sama adalah orang-orang yang baik hati. Adik perempuanku sangat menyayangiku, kakak perempuannya.”

Dia dibesarkan dengan baik.

Jadilah kesatria terkenal, menjadi kesatria yang bisa melindungi orang-orang.

Dia diajari untuk menghargai ikatan dengan teman-temannya, seperti pahlawan D'Artagnan yang mengalahkan kejahatan bersama Tiga Musketir.

“Ada banyak kesatria di keluarga Lunaire. Aku melakukan yang terbaik untuk diakui oleh mereka.”

Itu adalah takdirnya sebagai D'Artagnan generasi berikutnya.

Untuk menjadi kesatria panutan dan melindungi orang-orang bersama keluarganya.

“Aku tidak menganggap takdirku kejam. Sebaliknya, aku malah bangga pada diriku sendiri karena mempunyai tujuan hidup.”

Dia memiliki hubungan yang luar biasa dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang-orang menyapanya ketika lewat, orang-orang berlatih bersama dengannya—dia menyayangi mereka sebagai rekan yang berharga.

Setiap hari yang dia habiskan dengan senyuman di wajahnya sangat memuaskan baginya.

“Tetapi ketika naga jahat itu, atau tepatnya, seseorang yang mengendalikan kekuatan naga jahat, muncul, segalanya berubah.”

Beberapa tahun yang lalu, seseorang yang menggunakan kekuatan naga jahat muncul.

Kekuatan orang itu bisa dikatakan setara dengan naga jahat itu sendiri. Baik orang-orang maupun kota diinjak-injak dan dihancurkan dalam sekejap mata.

“Aku sangat ingin membantu orang-orang di sekitarku.”

Dia mengerti bahwa lawannya bukanlah seseorang yang bisa dia kalahkan sendirian.

Namun, dia mengambil tindakan, percaya bahwa mereka bisa menang jika dia bertarung bersama semua orang seperti leluhurnya.

“Namun, kenyataannya tidak seperti itu.”

Orang-orang hanya berpikir untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

Dia berhenti dan memohon untuk bertarung dengan para kesatria yang telah sering berlatih bersamanya.

“Tapi mereka menyuruhku pergi dan bertarung sendiri jika aku mau.”

Berkata begitu, Lilibette-san menunjukkan ekspresi yang sangat kesepian sehingga aku belum pernah melihatnya seperti itu.

“Setelah sibuk bicara tentang harga diri, semua orang berebutan untuk melarikan diri, mengatakan mereka tidak ingin mati.”

Kepada mereka, yang melarikan diri, dia ingin mempercayakan setidaknya keluarganya, setidaknya adik perempuannya.

“Mereka menggerutu sebagai balasan bahwa mereka tidak peduli dengan anak orang lain.”

Pada akhirnya, orang-orang yang dia yakini sebagai rekannya bukanlah rekan sama sekali.

“Mereka mencemoohku. ‘Gadis yang kelewat bodoh,’ kata mereka.”

Dia mengusap mata emasnya melalui kelopak mata seolah-olah untuk meredakan rasa sakit.

“Maka hanya aku yang diampuni. ‘Jalani hidupmu dengan penyesalan karena membawa kutukan ini,’ begitulah yang dikatakan padaku.”

Pada akhirnya, baik keluarganya maupun warga kota musnah ditelan kobaran api.

Dia bahkan tidak dapat menemukan mayat adik perempuannya, yang sangat memujanya.

“Aku mencari dengan panik. Aku menyingkirkan puing-puing, menggali reruntuhan dan lumpur, tapi tidak menemukan adik perempuanku.”

Satu-satunya hal yang akhirnya dia temukan hanyalah pita biru adik perempuannya.

Pita yang biasa digunakan Lilibette-san untuk mengikat rambutnya.

“Saat itulah aku sadar. Kau tidak bisa mengandalkan rekan mana pun.”

Itu sebabnya dia memilih kesendirian.

“Orang yang benar-benar kuat selalu sendirian.”

Dia tidak punya keluarga lagi. Dan dia juga tidak menginginkan teman, kekasih, atau rekan.

Dia memantapkan hati untuk menempuh jalan pedang seorang diri.

“Pada hari ketika aku kehilangan segalanya, aku bersumpah untuk menjadi kesatria terkuat dan membasmi musuh itu dengan tanganku sendiri.”

Api balas dendam membara di mata emas Lilibette-san.

 

“Menjijikkan, bukan?”

Dia menunduk, dengan lembut menelusuri kutukan yang terukir di perutnya.

“Sacred Gear di mata kiriku awalnya adalah Sacred Gear biasa.”

Namun, setelah menerima kutukan tersebut, ia bermutasi menjadi subspesies di mana kekuatan naga jahat bersemayam hingga hari ini.

“Ada kalanya ketika kekuatan itu melonjak dari dalam diriku dan aku tak berdaya untuk menghentikannya.”

Dia didorong menuju kegilaan, mendambakan untuk melenyapkan segalanya, membumihanguskan segalanya.

“Aku penasaran berapa lama lagi aku bisa bertahan.”

Dia mengaku bahwa kutukan itu secara bertahap menjadi semakin kuat. Transformasi Sacred Gear-nya adalah buktinya.

“Aku tidak punya banyak waktu lagi.”

Kekuatan naga yang ditanamkan dari luar bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh manusia.

Lambat laun, bahkan jiwanya akan tercemar oleh kutukan tersebut, setelah itu kesadarannya akan binasa, dan dia akan menjadi naga.

“Itulah mengapa aku harus cepat-cepat tumbuh lebih kuat.”

Sejak awal, dia menyatakan bahwa alasannya datang ke akademi ini adalah untuk menjadi yang terkuat.

“Dan untuk itu, aku harus melampaui Miyamoto Zekka bagaimanapun caranya.”

“Melampaui, aku?”

“Jika aku bahkan tidak bisa mengalahkanmu, aku tidak punya harapan untuk membalaskan dendam pada musuh bebuyutanku.”

“A-aku bukan orang yang sehebat itu sampai kau berkata begitu tentangku….”

Dia terlalu berlebihan menilaiku.

Aku mencoba membantah kata-katanya dengan raut wajah serbasalah.

“Kau selalu seperti itu, Zekka.”

Tatapan Lilibette-san tajam, dan nadanya dipenuhi amarah.

“Meskipun memiliki kekuatan, kau meremehkan dirimu sendiri tanpa alasan. Padahal kau bersinar begitu terang saat itu.”

“Sa-saat itu?”

“…Kau tidak ingat, ya? Kau benar-benar tidak ingat. Jadi kau tidak tahu kepahitan yang kurasakan.”

Dia merasa seolah-olah diperlakukan sebagai orang asing oleh seseorang yang kaupikir dekat denganmu.

Tapi pertemuan kami di akademi seharusnya menjadi pertemuan pertamaku dengan Lilibette-san….

“Aku belum pernah melihat keterampilan pedang dan bakat seperti itu.”

Dia berbicara seolah-olah mengingat kenangan berharga.

“Sejujurnya, aku mengaguminya. Tidak peduli berapa banyak musuh yang mengepungmu, tidak peduli seberapa terlukanya dirimu, kau menghadapi musuhmu sendirian. Aku merasa itulah idealisme yang harus kucapai.”

Seolah-orang merangkum, Lilibette-san menyatakan,

“Zekka, kau adalah pahlawanku.”

Mimpi mendorong orang untuk maju, hal yang sama juga terjadi padaku dan Lilibette-san.

“Itulah mengapa, tolong, jangan mengabaikan kekagumanku begitu saja.”

“Entah itu musuh atau pertarungan… aku cuma dikejar-kejar oleh oppai….”

“Apakah kau serius akan menyalahkan semuanya pada oppai lagi?”

“Eh.”

“Apakah oppai adalah akar dari semua masalahmu? Apa semuanya berantakan karena oppai?”

“Itu….”

Aku terdiam.

“Apakah oppai benar-benar musuh bebuyutanmu—?”

Lilibette-san mengambil lengan kananku dan meletakkannya di atas oppai-nya.

Sensasi tonjolan putih yang besar dan lembut menyebar di telapak tanganku.

“Bisakah kau merasakannya, jantungku berdebar sangat kencang.”

Aku bisa. Suara debaran yang sangat intens.

“Kau yang membuatku jadi seperti ini, Zekka, kau tahu?”

Lilibette-san tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Dan kemudian bibirnya nyaris menyentuh bibirku—.

“Li, Lilibette-san!”

Aku secara refleks mendorongnya menjauh.

“K-kita tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini, atau bagaimana harus kukatakn….”

Apa pun yang keluar dari mulutku, tindakanku mengatakan, “Aku tak bisa menerimanya.”

“Apakah kau menolakku karena rasa bencimu pada oppai?”

Dia melanjutkan seolah-olah dia sudah mengantisipasi hasil ini.

“Atau kau menolak terhubung denganku sebagai seorang manusia?”

Saat aku mendorong Lilibette-san ke samping, aku sama sekali tidak memikirkan oppai.

Aku hanya takut melangkah lebih jauh, takut hubungan kami akan berubah.

Aku tak bisa menggunakan oppai sebagai alasan seperti yang selalu kulakukan.

“Aku tidak keberatan, bukan berarti aku berharap seseorang ada bersamaku sejak awal. Lagi pula, aku tidak menganggap diriku sebagai seseorang yang bisa dicintai oleh Zekka.”

“Lilibette-san… aku….”

“Tetapi meski aku memahaminya, itu tetap terasa menyakitkan.”

Ini hanyalah hubungan sementara, tidak boleh melebihi itu.

Itu adalah jalan yang dipilih oleh penolakanku.

“Tapi, tidak apa-apa begini.”

Pada saat itu, aku tak tahu harus berkata apa pada Lilibette-san.

“Jika tak bisa mengingatnya, cukup ukir saja dalam ingatanmu.”

Dia menunjukkan senyuman yang kesepian.

“Kau tidak akan bisa lagi—melupakanku.”

—JD×D—

“…Zekka?”

Saat itu masih sangat pagi, ketika malam belum sepenuhnya berganti menjadi siang.

Saat aku bersiap-siap, Lilibette-san hanya mengangkat bagian atas tubuhnya, masih dalam keadaan setengah tertidur.

“Kau bangun pagi sekali, ya,” katanya, dengan bahu dan dadanya terekspos di balik dasternya yang kusut.

Mengingat apa yang terjadi tadi malam, aku tidak sanggup menatap matanya secara langsung.

“Apakah aku membangunkanmu?”

“Apakah kau sudah mau berangkat…?”

“Aku merasa ingin kembali dan sedikit berolahraga.”

Aku masih belum bisa sepenuhnya memahami emosi yang berputar-putar dalam diriku.

Apa arti Lilibette-san bagiku?

Siapakah aku sebenarnya?

Saat aku tak bisa menemukan jawaban atas sesuatu bahkan setelah merenungkannya, aku biasanya mulai dengan mengayunkan pedang.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berlari?”

Lilibette-san tersenyum, dengan ekspresi mengantuk di wajahnya.

Ketika aku ragu untuk menjawab, dia segera mulai berpakaian.

Setelah itu, kami berlari melewati lingkungan sekitar bersama-sama, kami berdua mengenakan seragam sekolah yang sama.

“Masih belum ada orang di sekitar,” gumam Lilibette-san saat kami berlari di sepanjang jalan tepi sungai yang sudah tak asing lagi.

“Kita mungkin seharusnya memakai satu lapis pakaian lagi.”

Pagi hari di awal musim gugur cukup dingin. Embusan napas kami keluar membentuk kepulan putih tipis.

“…Zekka, tolong jangan abaikan aku.”

Dia menatapku dengan muram, yang sejak tadi tetap diam.

“Aku tidak mengabaikanmu.”

“Apakah kau merasa canggung tentang tadi malam?”

“Uh….”

“Tidak perlu berpura-pura bersikap tenang secara tidak alami. Malah, akan menjengkelkan kalau kau bersikap tenang dan santai.”

“Sungguh egois….”

Tapi, meski disebut narsis, Lilibette-san tampak puas.

“Zekka.”

Kami mengobrol sambil berlari.

“Apa yang ingin kaucapai di akademi ini?”

“…Masa muda.”

“Dan apa arti masa muda bagimu? Apa yang akan membuatmu puas?”

“…Aku ingin punya teman.”

Kami tidak saling memandang, hanya berkomunikasi lewat kata-kata.

“Apakah teman diperlukan ketika kau memiliki kekuatan sebesar ini?”

Tapi aku tidak kuat—itulah yang ingin kukatakan tapi aku menahan diri.

Aku ingat dia memintaku untuk tidak menolak kekagumannya.

“Itu adalah mimpiku sejak aku bisa mengingatnya.”

“Untuk mencari teman?”

“Karena aku belum berhasil punya teman satu pun.”

Aku membuka diri padanya tentang kesendirianku di masa lalu.

Itu cerita yang memalukan, jadi aku jarang membicarakannya.

Tapi menurutku tidak apa-apa untuk memberi tahu dirinya.

“Menurutku kau, yang sekuat itu, tidak butuh teman. Meskipun begitu mari kita kesampingkan hal itu untuk saat ini. Bukankah mencari teman adalah sesuatu yang bahkan bisa dilakukan anak-anak dengan mudah?”

Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya sadar akan berbagai hal dapat menemukan seseorang untuk diajak bermain.

Aku mengerti maksudnya, tapi faktanya aku, seorang siswi SMP, tidak bisa melakukannya.

“Kau bisa mencapai mimpimu. Cukup katakan pada orang lain ‘ayo berteman’.”

“Kau membuatnya terdengar sangat mudah….”

“Apa susahnya dengan itu?”

“……”

Pada akhirnya, aku tidak memiliki keberanian untuk menghadapi orang lain dan mengatakannya.

Hari-hari sepi di masa lalu selalu terlintas di benakku.

Takut ditolak, aku melarikan diri.

(Namun, aku sendiri menolak Lilibette-san kemarin dan—)

Pada saat ini, keseriusan dari apa yang telah kulakukan mulai terasa.

Aku segera ingin meminta maaf tetapi menahannya, mengira itu hanya karena aku yang melarikan diri.

Aku yang kikuk dengan kata-kata, pasti akan gagal menyampaikan perasaan yang meluap-luap ini apa pun yang kukatakan.

“Sudah kuduga, aku tidak bisa dengan bebas mengatakan sesuatu seperti ‘ayo berteman’.”

“Kalau begitu izinkan aku mengatakannya, itu sangat seperti dirimu, Zekka.” Dia terkikik, tapi nada dari tawa itu tidak meremehkan.

“Apakah kau akan marah kalau aku mengatakan itu padamu, Lilibette-san?”

“Aku tidak akan marah. Meskipun kau mengatakan itu, aku tidak akan menjadi temanmu.”

“…Karena menjadi yang terkuat dan menyendiri, 'kan?”

“Tepat. Lagi pula, orang yang benar-benar kuat selalu sendirian.”

Hal itu juga didukung oleh pengalaman masa lalunya.

Kau hanya bisa mengandalkan diri sendiri; dia juga berpegang teguh pada keyakinannya sendiri.

“Tapi, tidak ada yang akan dimulai kalau kau tidak mengungkapkannya lewat kata-kata. Untuk saat ini, cobalah katakan pada orang lain selain aku.”

“Tak ada gunanya mengatakan itu pada orang lain selain Lilibette-san.”

“……”

“Apa?”

“Bukan apa-apa….”

Lilibette-san tiba-tiba terdiam, tetapi kemudian menggelengkan kepalanya, mengabaikannya.

“Omong-omong, festival sekolah sebentar lagi tiba.”

“Lusa, 'kan?”

“Ini juga latihan terakhir.”

“Benar.”

“Mari kita buat ini sukses.”

“Ya.”

Percakapan kami bukanlah sesuatu yang penting, tetapi suasana tanpa kepura-puraan itu terasa menyenangkan.

Rasa canggung yang kurasakan di pagi hari memudar sebelum aku menyadarinya.

“Zekka, ayo kita lomba lari.”

“Duel? Aku tidak akan memberimu apa pun meski kau menang, tahu?”

“Hee hee. Aku hanya ingin berlari dengan kecepatan penuh.”

“Jadi begitu. Kalau begitu, ayo lari.”

Tanpa kami sadari, bulan di pagi hari memudar, dan matahari pun naik ke angkasa.

—JD×D—

Lalu, tibalah hari festival sekolah.

Kami bersiap di sudut ruang kelas yang telah disulap menjadi ruang tunggu sementara.

““““Kecantikan yang tanpa cela….””””

Avi-buchou, Lilibette-san, Schwert-san, dan Penemune-sensei.

Mereka berempat menunjukkan antusiasme yang membingungkan sambil menatapku.

Orang yang terpantul di cermin berukuran penuh adalah aku, dihiasi dengan riasan dan terbalut kimono mewah.

“Pakaian Oppai Dragon seharusnya armor, 'kan…?”

Penampilanku menyimpang dari apa yang ada di video, jadi aku bertanya dengan ragu kepada Sensei, yang bertanggung jawab atas kostum.

“Yang itu keren juga. Tapi kita memiliki gadis-gadis muda yang imut untuk memainkan peran. Makanya, aku memutuskan akan lebih baik menggunakan penampilan samurai yang keren dan imut.”

Dia bilang dia tidak ingin menempuh rute yang sama, tapi meski begitu, kenapa kostumnya mirip kimono….

Wajahku, yang kupikir akan tersembunyi oleh helm, terpampang jelas, tetapi yang paling mengkhawatirkanku—.

“Aku harus memakai pakaian dalam….”

“Kimono seharusnya dikenakan di atas tubuh telanjang! Itu adalah adat kuno!”

“Biasanya, baju dalam dipakai di bawahnya, jadi jika terlepas—”

“Ah, tradisi itu luar biasa! Jepang adalah yang terbaik! Samurai hebat!”

Percuma saja, Sensei sepertinya tidak berniat mendengarkan perkataanku.

“Omong-omong, aku menggunakan manga dari tahun '90-an yang ditujukan untuk gadis-gadis muda sebagai inspirasi dan—”

Sensei mulai kehilangan sentuhan dengan kenyataan. Akan memakan waktu terlalu lama untuk mendengarkannya dengan serius, jadi aku akan melewatkannya.

“Bukankah tidak apa-apa, Zekka? Memperhatikan keaslian dengan cermat bukanlah hal yang buruk.”

“Lilibette-san, kau bisa mengatakan ini karena kau memakai pakaian dalammu….”

“Itu wajar saja karena pakaianku bergaya Barat. Di mana kau bisa menemukan wanita yang mengenakan gaun di atas kulit telanjang?”

“Tepat di depanmu!”

Orang yang berperan sebagai penjahat Fang, Lilibette-san, mengenakan pakaian yang mirip dengan bangsawan Eropa.

Kau bahkan bisa menyebutnya bergaya kesatria karena dia membawa pedang di pinggulnya.

“Aku lebih suka menggunakan pedang kesayanganku, tapi sayangnya, aku terpaksa harus menggunakan replika ini.”

“Tidak mungkin kau bisa menggunakan pedang sungguhan di festival sekolah….”

Berbeda dengan Lilibette-san yang merasa kecewa, aku bisa menggunakan pedang palsu dengan tenang.

“Kau terlihat lebih keren dengan pedang! Cocok untukmu!”

“Y-yah, aku cukup sering memakai kimono di rumah.”

Dan ada juga saat ketika aku memperlengkapi pedangku dan pergi ke medan tempur.

Tanpa kusadari, hanya tersisa belasan menit hingga giliran kami, jadi seorang anggota staf datang untuk memanggil kami.

Sudah hampir waktunya untuk memamerkan puncak dari usaha kami untuk festival sekolah.

 

Di belakang panggung.

Tempat kami akan tampil disebut auditorium dan biasanya digunakan untuk hal-hal seperti upacara sekolah.

Tak lama lagi giliran kami, jadi kami membentuk lingkaran saling berhadapan.

“Akhirnya tiba waktunya!”

Avi-buchou mengumumkan dengan penuh semangat.

Dia penuh semangat seperti biasa, dan anggota lainnya juga tidak terpengaruh.

Aku, di sisi lain, merasa seolah-olah oppai-ku akan meledak karena ketegangan.

“Aku mengerti bahwa mengatakannya tepat sebelum naik ke panggung itu aneh….”

Aku berkecil hati dan secara tak sengaja mengungkapkan keraguanku.

“Apakah akan ada pengunjung, ya…?”

Kudengar sebelumnya bahwa festival sekolah bukanlah topik hangat di divisi SMP.

Jadi aku penasaran bagaimana jika kami tampil dengan bangga ke atas panggung, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

“Kau tidak perlu khawatir soal itu! Kami bekerja keras untuk mempromosikannya!”

“Untuk lebih spesifiknya, inilah yang kami lakukan.”

Schwert-san menunjukkan kepada kami layar di ponselnya.

Di sana, terdapat foto gedung utama divisi SMP dan….

[Gulingkan OSIS! Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib akan memulai revolusi!]

Ada spanduk besar yang terpasang dengan slogan seperti itu.

Dan aku tak tahu kapan dia berhasil memotretnya, tetapi spanduk itu bahkan memuat fotoku di atasnya.

“Apakah ini foto editan?”

“Tidak, ini asli.”

“Aku tidak ingat memberikan izin untuk menggunakan wajahku… bagaimana dengan hak cipta gambarku atau semacamnya….”

“Aku, dari, luar negeri, bahasa Jepang, tidak mengerti.”

Orang ini, nanti aku pasti akan mengadu soal dia ke OSIS!

“Yah, secara serius, pada akhirnya, kami sangat ingin menarik perhatian. Dan saat semua orang sedang berlatih, aku dan Buchou membuat ini. Kami memasangnya kemarin.”

“Tapi aku tidak ingat pernah melihatnya.”

“Tentu saja, kau biasanya berjalan sambil menundukkan kepala.”

Aku tak bisa membantah ketika dia mengatakan ini.

“Omong-omong, ada juga spanduk seperti ini.”

“Masih ada lagi?!”

Mengatakan bahwa mereka memasangnya di bangunan-bangunan penting, Schwert-san menunjukkan sisanya kepada kami, menggeser layar ponselnya.

[Debut Miyamoto Zekka, yang terkuat di akademi!]

[Oppai Samurai vs Darkness Knight, pertarungan abad ini!]

[Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib adalah nomor satu!]

[Katakan tidak pada kerja keras! OSIS, perbaiki gaya kerja kalian!]

Yang terakhir tidak ada hubungannya dengan festival sekolah. Atau lebih tepatnya, bukankah ini agenda pribadi Schwert-san?

“Aku juga berlarian membawa megafon!”

Avi-buchou berbangga diri dengan lantang. Aku membayangkan dia berlari dan beriklan di depan umum.

“Divisi SMP terdiri dari orang-orang yang berjiwa olahraga, jadi mereka sangat sensitif terhadap kata-kata seperti ‘terkuat’ atau ‘nomor satu’.”

“Kalau begitu, rasanya kita bukannya menambah jumlah pengunjung, tapi malah menambah jumlah musuh….”

“Apalagi, melakukannya dengan cara memprovokasi OSIS, atau lebih tepatnya, Yagyuu-kaichou benar-benar membuat kta menonjol.”

“Daripada menonjol, itu malah menempatkan kita tepat di daftar buronan….”

Jika ada spanduk seperti itu di seluruh akademi, maka akan sulit bagi siapa pun untuk mengabaikannya.

“Bahkan, ketika aku mengonfirmasi hal ini dengan seorang staf, sepertinya jumlah orang tidak seperti apa pun di masa lalu.”

Sudah kuduga! Lagi pula, kami sedang mencari keributan!

“Bisa dibilang hampir semua murid hadir, tidak termasuk mereka yang sedang mengikuti tur khusus.”

Tadinya aku merasa gugup, tetapi sekarang aku merasa hal itu menambah lebih banyak tekanan.

“Bukankah ketua OSIS marah karena kita melakukan hal seperti ini…?”

“Sebenarnya, ini sangat tenang di garis depan. Dan Minamoto-san bahkan dengan antusias membuat boneka kertas untuk berdoa memohon cuaca cerah sebagai bentuk antisipasi.”

“Mina-senpai….”

“Tapi acara ini diadakan di dalam ruangan. Agak konyol tindakannya itu.”

Jangan sebut dia konyol! Itu hanya menunjukkan kalau Mina-senpai benar-benar orang yang baik!

“Lunaire-san cukup populer berkat paras cantiknya, dan Miyamoto-san juga memiliki banyak penggemar mirip kultus. Jadi, jumlah perhatiannya sudah cukup tinggi sejak awal.”

Ini pertama kalinya aku mendengar tentang penggemar mirip kultus, tetapi selain kebenarannya, setidaknya ada penontonnya.

Sekarang sisanya tergantung pada sejauh mana kami mampu membuahkan hasil dari latihan kami.

“Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib, lima menit lagi sampai giliran kalian.”

Seorang staf menyuruh kami bersiap.

“Banyak yang telah terjadi hingga titik ini, 'kan?” Avi-buchou tiba-tiba angkat bicara. Tapi, tak ada yang menyelanya.

“Zekka-chan, Schwe-chan, Lili-chan—aku tidak mengira akan ada begitu banyak orang di Pedang Ilmu Gaib.”

Kami hanya mendengarkan dengan saksama. Karena yang menyatukan kami semua tak lain adalah dia.

“Kita berlatih bersama, berlari bersama, khawatir bersama, dan ada juga insiden ketika Zekka-chan menderita karena gunung ramen itu.”

Kau tidak perlu menyebutkan bagian terakhir itu. Aku akan memesan porsi kecil lain kali.

“Walaupun kubilang ‘jangan gugup’ atau ‘tetaplah tenang’, menurutku kalian takkan sanggup melakukannya.”

Tapi, meski begitu, Avi-buchou membusungkan dadanya dengan bangga.

“Keaktifan, kegigihan, dan antusiasme! Jika itu kita, kita pasti akan berhasil!”

Dia dengan antusias mendorong lengan kanannya ke depan.

“Yah, kita sudah melangkah sejauh ini, jadi biarkan saja terjadi.”

Schwert-san dengan santai meletakkan tangan kirinya di atas.

“Mari kita tunjukkan pada mereka pertunjukan yang sempurna.”

Lilibette-san mengulurkan tangan kanannya dengan percaya diri.

“Apa pun hasilnya, mari kita lakukan agar kita tidak menyesal.”

Sensei juga menanggapinya dengan sikap senang.

“Sekarang, Zekka-chan, kau juga!”

Didorong oleh Avi-buchou, aku juga mengulurkan tangan kananku.

Dengan tangan semua orang yang saling bertumpuk, tatapan tak tergoyahkan kami saling bertemu.

“Ayo, Pedang Ilmu Gaib!”

““““Ya!””””

Pertarungan kami dimulai sekarang.

 

Pertunjukan pun dimulai.

Saat tirai dibuka, panggung, yang tadinya gelap gulita, diterangi dengan cahaya kemerahan yang redup.

Di tengah berdiri satu-satunya protagonis, aku.

‘Pada zaman dahulu kala.’

Narasi bergema di seluruh auditorium, diselimuti keheningan.

‘Di suatu tempat hiduplah seorang samurai penyukai oppai.’

Narasinya berlanjut dengan nada tenang sehingga aku bahkan ragu apakah itu benar-benar Avi-buchou.

‘Baik di hari cerah, hari hujan, atau hari berangin, dia menggunakan pedangnya demi mencari oppai.’

Lalu, daun-daun merah berjatuhan dari langit-langit. Bukan badai salju berwarna guguran bunga sakura, melainkan badai merah.

Itu adalah dedaunan yang dikumpulkan Schwert-san dengan dalih tugas membersihkan.

Panggung itu seketika ternoda warna merah.

“————————”

Aku dengan tenang menghunus dua pedang yang terpasang di pinggulku.

Dan dengan gerakan santai, aku menunjukkan ayunan seperti air mengalir.

Aku tidak tahu tentang penampilanku, tetapi ketika menyangkut ilmu pedang, aku telah berlatih sepanjang hidupku.

Itu sebabnya aku akan menunjukkan kepada mereka ilmu pedang yang lebih indah dari siapa pun yang hadir di sini.

“…Cantik sekali.”

Bahkan tanpa melihat ke arah penonton, aku mengerti betapa terpesonanya mereka.

Suasana di auditorium begitu khidmat hingga gumaman pelan seseorang pun bisa terdengar.

‘Dia adalah orang yang mencintai oppai dan dicintai oleh oppai, pendekar pedang terkuat.’

Narasi Avi-buchou secara bertahap menjadi semakin kuat.

Kemudian, memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat, aku dengan indahnya membalut pedang itu dengan touki.

‘Sebelum ada yang sadar, orang-orang mulai memanggilnya demikian.’

Setelah itu, sebagai gerakan permulaan, aku melepaskan kilatan tajam sebagai sinyal awal.

Daun-daun merah yang berserakan di lantai terempas oleh tekanan pedangku.

Lalu, menghujani penonton seperti bintang-bintang.

‘Dia dipanggil Oppai Samurai!’

—JD×D—

BGM yang mencolok, pencahayaan yang terang, dan suara benturan pedang yang bergema.

Saat kami melewati titik tengah pertunjukan, anehnya suasana di tempat tersebut menjadi sangat intens.

“Pertahanan lawan terbuka lebar!”

“Maju! Kau harus menyerang lebih banyak dan mematahkan pertahanan mereka!”

“Tunggu dulu untuk memulihkan staminamu! Itu juga akan mengurangi ruang gerak lawanmu!”

“Aku mengandalkanmu! Uang makan siangku dipertaruhkan!”

Lilibette-san dan aku beradu pedang dengan sengit.

Itu sangat kontras dengan suasana tenang dari acara asli Oppai Dragon.

Alih-alih acara tokusatsu, sekarang ini menyerupai duel 1 lawan 1 yang intens.

Sorakan, pekikan, dan segala macam seruan gembira meletus dari para penonton.

“Kau tak kenal lelah, Oppai Samurai!” teriak Lilibette-san, pedang kami saling beradu sengit.

Sambil tetap berakting sesuai karakter, aku berbisik kepada Lilibette-san.

“(Bagaimana harus kukatakan, mereka menjadi bersemangat dengan cara yang tidak kita duga.)”

“(Aku merasakan sedikit haus darah, tapi tidak apa-apa asalkan penonton merasa senang?!)”

Divisi SMP semuanya tentang olahraga dan memiliki kecenderungan kuat terhadap pertarungan bersenjata.

Namun meski begitu, situasi ini memanas segera setelah kami memulai pertarungan pedang kami.

(Menurut naskah, sekaranglah saatnya aku harus menerima tebasan dari Lilibette-san, berakhir dalam situasi terjepit, dan kemudian membalikkan keadaan dengan membangkitkan kekuatan oppai….)

Tapi sepertinya para penonton sudah memasang taruhan, dan meskipun akal sehat menyatakan bahwa Oppai Samurai, sang pembela keadilan, harus menang, entah bagaimana ini berubah menjadi situasi di mana mundur bukanlah pilihan.

Menemukan diriku dalam situasi genting ini, aku melirik ke arah di mana Avi-buchou berada dan menyadari Schwert-san sedang mendiskusikan sesuatu dengan seorang staf….

“—?!”

Saat itu, saat aku menepis pedang Lilibette-san, dentang lonceng bergema di seluruh auditorium.

Itu mengingatkan pada gong dalam pertarungan seni bela diri.

Aku tidak ingat kami pernah menggunakan efek suara ini sebelumnya, mungkinkah ada masalah teknis….

‘Ronde pertama berakhir!’

Sang narator, Avi-buchou, berteriak. Penonton merespons dengan keributan yang lebih keras.

(R-ronde pertama?! A-apa yang terjadi?!)

Tanpa membuang waktu, para staf muncul di kedua sisi panggung, membawa air, handuk, dan kursi lipat untuk Lilibette-san dan aku, yang berdiri terpisah.

“Zekka-chan, perubahan rencana!”

Di antara staf, ada juga Avi-buchou.

Schwert-san bergegas menemui Lilibette-san untuk menjelaskan sesuatu.

“A-apa maksudmu dengan perubahan rencana….”

“Jangan bicara! Fokus pada pemulihan!”

Dia mengatakan ini sambil menyeka keringatku dengan handuk, seolah-olah ini adalah pertandingan sungguhan.

“Ini tiba-tiba, tapi kau harus bertarung secara serius!”

“S-secara serius…?!”

“Maaf, keadaannya jadi terlalu intens. Jika Oppai Samurai menang sesuai rencana, mungkin akan terjadi kerusuhan.”

Ada apa dengan ini?! Apakah kejadian mendadak seperti ini mungkin terjadi?!

“Sisi baiknya, kau tidak perlu menyanyikan lagu Oppai Samurai.”

Aku lega soal itu, tapi aku memang tidak punya waktu untuk itu.

“Jadi, lakukan yang terbaik!”

Avi-buchou kembali ke samping panggung di mana dia sedang melakukan narasinya… atau haruskah aku menyebutnya “komentar”. Staf di sekitar Lilibette-san juga secara bertahap meninggalkan panggung.

“Sepertinya kau bersenang-senang.”

Saat ronde berikutnya hendak dimulai, suara sorak-sorai sedikit mereda.

Memanfaatkan jeda ini, seorang penonton di barisan depan berdiri dan berbicara kepada Lilibette-san.

“…Kenapa, kau, di sini….”

Aku tidak bisa melihat wajah penonton itu dengan jelas karena topeng. Namun, Lilibette-san tampak terkejut.

“Kenapa kau bertanya? Aku datang untuk memeriksa bawahanku yang tidak menunjukkan hasil.”

“Shi Weng—”

“Aku yang sekarang bisa memasuki penghalang kota ini.”

“Begitu…. Karena kekuatanmu telah dicuri oleh Zekka….”

“Namun, aku sudah menyiapkan langkah-langkah untuk pertarungan berikutnya. Dengan itu, aku juga bisa membuat kekacauan di sini. Meski merupakan anggota Golongan Pahlawan yang sama, tidak seperti Cao Cao, pemimpin (Kaisar Agung) kami akan mengizinkannya.”

“I-itu tidak bisa, akademi akan….”

“Hehe, jadi kau sangat menyayanginya, membuatku semakin ingin menghancurkannya.”

Dengan kata-kata itu, dia kembali ke tempat duduk penonton.

Bawahan? Hasil? Penghalang? Dari kejauhan, aku tidak dapat sepenuhnya memahami pembicaraan mereka.

‘Keluar dari panggung!’

Saat pengumuman bergema, para penonton meninggikan suara mereka untuk mengantisipasi dimulainya kembali pertandingan dan menghentakkan kaki ke tanah dengan begitu kuat hingga venue mulai berguncang.

Sepertinya aku tidak punya waktu untuk mencari tahu penonton misterius itu.

‘Ronde kedua, bertarung!’

Dengan suara gong, kami saling beradu pedang sekali lagi.

(Tak ada kekuatan pada pedang Lilibette-san—?)

Pada saat itu, aku tak bisa merasakan ketajaman sebelumnya.

Gerakannya kekurangan energi, dan tekanan dari pedangnya hilang.

Saat aku memandangnya dengan rasa ingin tahu, ekspresinya dipenuhi dengan penderitaan.

Lilibette-san…?

“Fang! Pedangmu semakin tumpul!”

“Apakah menurutmu kau bisa menang seperti ini?!”

“Bertarunglah dengan serius! Apa yang terjadi dengan gerakan-gerakan sebelumnya!”

Seperti yang diharapkan, para penonton segera menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Lilibette-san.

Dan alih-alih menyemangatinya, mereka malah melontarkan kata-kata yang mendekati cemoohan atau ejekan.

Biasanya, Lilibette-san akan menertawakannya dengan nada mencemooh.

“……!”

Tapi tidak peduli seberapa banyak yang mereka katakan, ekspresinya menjadi semakin muram.

Dia dengan cepat menjadi penakut, dan aku, yang tahu ilmu pedang biasanya, tidak percaya betapa kasar ayunannya.

Dia seperti anak kecil yang bertemu monster yang sangat menakutkan—.

“…Aku minta maaf.”

Lilibette-san berkata dengan suara rendah selama pertarungan kami.

“…Aku benar-benar minta maaf karena telah melibatkanmu.”

Bagiku, sepertinya dia berulang kali berbicara pada dirinya sendiri daripada meminta maaf.

Aku tidak tahu alasannya.

Tapi, yang pasti dia mengerut karena takut akan sesuatu.

Situasi saat ini, yang biasanya membuatmu ingin berpaling, terus berlanjut seiring dengan semakin banyaknya pelecehan verbal yang kejam dari para penonton.

(Aku mengenali adegan ini.)

Kenangan hari-hari ketika aku diejek karena oppai-ku bersinar, semakin besar, dan sejenisnya.

Kehidupan sehari-hariku ketika aku tak bisa berbuat apa-apa selain menutup telinga, mengalihkan pandangan, dan bertahan di sudut ruang kelas.

(Pada saat itu, tak ada yang membantuku.)

Sekarang, dia seperti diriku yang dulu.

(Aku ingin tahu apakah orang biasa akan berpura-pura tidak memperhatikan dan berpaling.)

Aku teringat cerita masa lalunya yang dia bagikan padaku, bagaimana tidak ada seorang pun yang membantunya.

—Apakah kau akan menyalahkan semuanya pada oppai lagi?

Aku merenungkan kata-kata yang dia ucapkan padaku malam itu. Aku terus-menerus memikirkannya sejak saat itu.

Tidak diragukan lagi, itulah salah satu alasan aku menjadi seorang penyendiri.

Tapi, apakah hanya itu saja penyebabnya?

(Tidak.)

Mungkin, di masa lalu, aku dikendalikan oleh oppai.

Tapi apa jadinya diriku yang sekarang jika aku terus menggunakan oppai sebagai satu-satunya alasan?

(Aku masih membenci oppai, meski begitu—)

Jika aku bisa menyelamatkan kawanku tepat di depan mataku, maka ini bukan waktunya untuk memikirkan trauma.

“Mulai sekarang, aku harus mengatasi oppai.”

Pada saat kami berhenti bersilangan pedang, aku mengambil jarak dan secara dramatis membuka area dadaku.

Aku menjadi setengah telanjang, dengan kimonoku yang hampir terlepas dan oppai terekspos oleh semua orang.

“““““Ooooooooooooooooooooo.”””””

Baik laki-laki atau perempuan, semua orang berteriak melihatku bertelanjang dada tiba-tiba.

Mereka yang mengejek Lilibette-san juga lupa tentang hinaan mereka dan menatapku. Itu benar, oppai memanipulasi orang-orang hanya dengan keberadaannya.

Lihat aku lebih banyak, arahkan emosimu lebih banyak padaku, beri Lilibette-san kesempatan untuk bangkit kembali!

“Aku adalah seorang pendekar pedang yang mencintai oppai dan dicintai oleh oppai!”

Aku dengan kuat mengangkat pedangku ke arah langit-langit dan berteriak ke mikrofon.

“Bersinarlah, oppai-ku!”

Saat aku memerintahkan Tensei, oppai-ku memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Sebagian besar penonton pasti mengira itu adalah trik panggung dan bukan kekuatan Sacred Gear.

“Aku adalah Oppai Samurai!” Sebuah pernyataan untuk masa laluku.

Yang ingin kujangkau bukanlah penonton, tapi seorang gadis yang berdiri di depanku.

“Kenapa….” Dia bergumam dengan suara yang begitu pelan hingga mikrofonnya pun tidak bisa mengangkatnya.

Dia tak bisa memahaminya justru karena dia tahu kebencianku terhadap oppai.

“Kecemasan, ketakutan, penyesalan—ada hal-hal yang tidak bisa kauatasi sendirian.”

Aku memutuskan untuk menghadapi oppai tanpa melarikan diri, berkat pertemuan kita.

“Prajurit kegelapan, jika kau tersesat dalam kegelapan—” Aku berteriak ke arah Darkness Knight, bukan, ke arah Lilibette-san. “Dengan cahaya oppai ini, aku akan mengusir kegelapan itu sendiri!”

“Zekka….”

“Itulah sebabnya, majulah kepadaku!”

Itu bukan baris dari naskah atau apa pun.

Lilibette-san tersenyum mendengar kata-kata kikukku.

“Sudah kuduga, kau adalah pahlawanku.”

Cahaya kembali ke matanya. Bulan yang memudar naik ke angkasa sekali lagi.

—JD×D—

Keesokan harinya, setelah tirai festival sekolah ditutup.

Rapat evaluasi Pedang Ilmu Gaib selesai, dan semua orang pulang ke rumah.

“…Kita tidak mendapatkan anggota baru, ya.”

Aku mengeluhkan hal itu kepada Lilibette-san saat kami berjalan di sepanjang tepi sungai seperti biasa.

“Ini baru satu hari. Pahamilah bahwa masih terlalu dini untuk merasa berkecil hati.”

“Meskipun keadaan menjadi begitu heboh.”

“Mereka terlalu bersemangat, jadi tidak heran kalau OSIS menegur kita.”

Pertunjukan itu sendiri bukan sekadar sukses, tetapi juga kemenangan gemilang.

Mereka mengabaikan iklan mencolok kami dan fakta bahwa klub tidak resmi membuat penampilan publik.

Namun, duel sengit antara aku dan Lilibette-san mengakibatkan venue dan perlengkapan rusak, yang membuat Mina-senpai dan yang lainnya murka.

“Rupanya, kita dicap sebagai kuartet aneh di akademi.”

“Ugh….”

“Kita tentu meninggalkan kesan yang baik pada semua orang. Masalahnya adalah, sepertinya tidak ada yang mau bergabung dengan kita.”

Jadi rasanya canggung bergabung dengan grup yang begitu erat di akhir pertunjukan ini, kurasa.

“Tetap saja, aku senang kita melakukannya.” Lilibette-san berkata dengan megah, matahari terbenam memancarkan kilau keemasan di belakangnya.

“Zekka, terima kasih.”

“Apa aku sudah melakukan sesuatu yang pantas diberi ucapan terima kasih?”

“Kau membantuku bangkit kembali, bukan?”

Dia mengacu pada bagaimana aku secara dramatis membuka kimonoku dan menyatakan diriku sebagai Oppai Samurai selama pertunjukan.

“Itu… karena aku tak bisa hanya berdiam diri….”

“Tapi kau paling membenci oppai. Bukankah itu tak tertahankan bagimu?”

“Jauh lebih tak tertahankan melihat bagaimana semua orang menghinamu, Lilibette-san.”

Aku tahu betapa bersungguh-sungguhnya dia karena aku telah mengamatinya selama ini.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan depresinya yang tiba-tiba, tetapi aku tidak bisa hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa.

“Jika oppai bisa mencapai sesuatu, maka aku baik-baik saja.”

“Haha, kau benar-benar menyukai peran Oppai Samurai.”

“Oppai Samurai… teman sekelasku juga memanggilku seperti itu sekarang….”

Kami berjalan kembali, mengobrol tentang hal-hal sehari-hari.

“Um, Lilibette-san.”

Setelah beberapa saat, aku berhenti dan memanggilnya.

(Ayo berteman, katakan saja.)

Dia selalu berbicara tentang bagaimana dia sendirian.

Aku pernah menolaknya sekali, jadi itu mungkin tidak menyenangkan, atau aku mungkin terluka.

Tapi aku tidak akan tahu pasti kecuali aku bertanya.

“Denganku—”

“Aku sangat berterima kasih padamu, Zekka.”

Dia menyela sedetik lebih cepat.

“Untuk tinggal bersama orang sepertiku. Jika aku lengah, kita mungkin benar-benar menjadi teman.”

Namun, kata-katanya mengandung nada kesedihan.

“Aku bahkan berpikir akan menyenangkan jika merasa puas dengan keadaan seperti sekarang.”

Meskipun ada kata “tapi”.

“Sama seperti caramu menghadapi masalahmu sendiri, aku tidak bisa berpura-pura masa laluku tidak pernah terjadi. tidak bisa mencapai apa yang kuinginkan tanpa membayar harga apa pun.”

Dengan senyuman bagai bulan purnama, Lilibette-san berkata, “Ini adalah perpisahan, Zekka.”

[1] Lilibette menganggap ‘occult (オカルト)’ sebagai kanji (恐怪蝕妬の剣を究める) dan mendapat kesan seperti ‘pedang gerhana misterius luar biasa yang penuh dengki’.

[2] Lilibette salah menggunakan kata tersebut (terutama dalam konteks yang ia gunakan) dan akhirnya mengatakan ia dan Zekka berhubungan intim. Dan awalnya Lilibette ingin mengatakan bahwa mereka saling bertukar janji dengan Zekka (seperti yang dijelaskannya dalam baris berikutnya).

[3] Zekka mengacu pada kata-kata khusus yang digunakan di toko ramen saat melakukan pemesanan.

[4] Kata yang digunakan Zekka khusus untuk menenangkan kuda, menggunakannya terhadap orang lain bisa dibilang mengolok-olok mereka.

Post a Comment

0 Comments