Junior High School D×D 1 Life.4
Life.4 Pertempuran Penentu! Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib!
Langit sudah diselimuti kegelapan, saat jalanan bermandikan cahaya lampu jalan.
Kami sedang menuju tujuan kami, sebuah gereja tertentu di pinggiran kota.
“Hah, hah!”
Demi menemui Lilibette-san, aku mengerahkan segenap semangatku untuk mengayuh pedal.
“Pergilah dengan cara yang pantas untuk kalian, katanya. Tapi, kenapa harus sepeda…!”
Kunci yang kami dapatkan dari Sensei melalui ketua OSIS bukanlah alat canggih yang bisa memindahkan kami secara instan.
Ketika kami sampai di tempat yang ditentukan, yang kami temukan hanyalah sepeda biasa.
“Kudengar sepeda ini milik seseorang dari Penelitian Ilmu Gaib, jadi ini pasti sepeda wanita yang punya kekuatan luar biasa!”
“Dilihat dari sudut mana pun… ini cuma… sepeda biasa…!”
Aku membalas di antara helaan napasku kepada Avi-buchou, yang duduk di boncengan belakangku.
“Gadis penyihir berotot lurus di depan! Belok kanan di sana!”
“Kota ini, sungguh, tidak normal…!”
Schwert-san memberi arahan sambil melayang sedikit berkat sihirnya.
Sepeda itu hanya memiliki tempat yang cukup untuk dua orang, jadi dia meluncur dengan sihir.
“Tidak seperti leluhurku, aku adalah wanita yang tidak akan terlambat!”
Apa pun rintangannya, itu tidak masalah. Dengan drift yang sempurna, aku berbelok di persimpangan jalan.
Akan lebih mudah jika kami bertiga bergerak dengan sihir, tapi Schwert-san ingin menghemat tenaganya…. Staminaku juga tidak terbatas, tahu!
“Kudengar dari Ten-chan! Kau bakal jadi master pedang payudara ganda yang hebat, 'kan?!”
Selagi aku terus mengayuh dengan kecepatan penuh, kata-kata Ketua seharusnya menyemangatiku.
“Tidak akan… hah…!”
Dipicu oleh kebencianku pada oppai, aku mulai mengayuh lebih cepat.
“Ahaha! Zekka-chan memang hebat! Kecepatan yang luar biasa!”
“Kekuatan kaki macam apa ini? Aku hampir tidak bisa mengejar dengan sihir!”
Sepeda itu praktis seperti terbakar saat kami tiba di tujuan dalam sekejap.
“Gereja yang disebutkan Kaichou seharusnya ada di tengah hutan ini.” Schwert-san, yang sedang melihat peta di ponsel pintarnya, berkata saat kami berdiri di depan hutan lebat dan gelap.
“Lilibette-san sedang menunggu di depan….”
Setelah meminum Magica☆Sweat yang diberikan Ketua kepadaku, aku memarkir sepeda di sepanjang jalan dan menepuknya.
Terima kasih siapa pun pemilikmu, dengan bantuanmu, kami berhasil sampai di sini dengan cepat.
“Baiklah! Mari kita kobarkan semangat dan maju ke depan!”
“Eh, bukankah seharusnya kita melakukan rapat strategi dulu?”
“…Hehehe, Schwert-san, kita akan melakukannya dengan cara yang pantas untuk kita: menerjang lurus ke depan.”
“Miyamoto-san, senyummu mengerikan! Apakah kau marah karena harus mengayuh seolah-olah nyawamu taruhannya?!”
Aku tidak marah. Aku benar-benar tidak marah meski kalian memaksaku mengambil rute yang paling menyiksa, walaupun itu yang terpendek.
“Kita tidak akan lari atau sembunyi! Menerobos apa pun yang menghalangi adalah jalan Pedang Ilmu Gaib!”
Atas perintah Avi-buchou, kami bergegas ke dalam hutan.
“Eh, mereka sudah menemukan kita?!”
“Tentu saja! Karena kita tidak akan lari atau sembunyi!”
Tepat setelah kami menuju gereja, kelompok yang diyakini sebagai bagian dari Golongan Pahlawan muncul di hadapan kami.
Mereka menunggu untuk menghalangi jalan kami, jadi kami tidak punya pilihan selain berhenti.
“…Astaga, kalau sedang bersamamu memang tidak pernah ada momen yang membosankan.”
Dengan kata-kata itu, Schwert-san mengambil satu langkah ke depan.
“Spesialisasiku adalah sihir pendukung, jadi aku tidak begitu ahli dalam pertarungan—”
Cahaya putih memancar dari tubuhnya, lalu dia mengenakan armor yang tampak seperti seorang valkyrie.
“Tapi kalau menyangkut tugasku, aku akan melakukannya.”
Schwert-san merapalkan mantra, dan empat lingkaran sihir besar muncul di belakangnya.
Lalu, satu pedang raksasa muncul dari masing-masing pedang.
“Sekarang, izinkan aku memperkenalkan anggar sihir gaya Norse pada kalian.”
Dia menatap kami, tatapannya menyuruh kami untuk terus maju dan menyerahkan urusan di sini padanya.
“Bekerja saja sudah merepotkan, tapi lembur adalah yang terburuk.”
Empat pedang raksasa bergerak seolah-olah memiliki kehendak sendiri dan mulai berputar mengelilinginya.
“Saat kalian bertemu dengan Lunaire-san, katakan padanya agar mentraktirku jus Perancis yang mahal lain kali.”
Aku mau yang sangat-sangat mewah, tambahnya.
“Baiklah! Kami akan memberi tahunya!”
“Aku percaya pada semangat walküre!”
Avi-buchou dan aku menepuk punggung Schwert-san lalu menerjang ke depan.
“Aku tidak punya semangat sama sekali. Dan aku bukan sekadar walküre biasa.” Ditinggal seorang diri, dia menghadapi kelompok dari Golongan Pahlawan dan berkata sambil membuka matanya yang tampak mengantuk. “Aku Schwertleite.”
Bersama dengan keempat pedangnya, dayang tempur itu maju ke medan pertempuran.
“Juga dikenal sebagai gyaruküre, secara santai dan perlahan, aku akan bertarung melawan kalian!”
Sementara Schwert-san menahan kelompok dari Golongan Pahlawan, kami terus maju.
Namun, sepertinya musuh tidak bertindak sebagai satu unit tunggal, dan lawan-lawan baru kembali menghalangi jalan kami.
“Iblis…?”
Yang mengejutkan kami, mereka yang berdiri di depan kami memiliki sayap dan ekor hitam.
“Jadi bukan hanya Golongan Pahlawan…?”
Apa hubungan antara Golongan Pahlawan dan iblis? Apa pun hubungannya, kami tidak bisa terus maju tanpa mengalahkan mereka.
“Ini saatnya aku bersinar!”
Avi-buchou melangkah maju.
“Tapi, Buchou—”
“Sudah kuduga, kaulah yang seharusnya menghadapi pemimpin musuh, Zekka-chan!”
Dia menyingsingkan roknya setengah, lalu mengeluarkan pisau yang terikat di pahanya.
“Lagi pula, aku adalah iblis yang akan menunjukkan kepada Dunia Bawah bagaimana pihak yang lebih lemah menang melawan pihak yang lebih kuat.”
Dia bersikeras bahwa itu adalah alasan baginya untuk menghadapi iblis.
“Bahkan melawan musuh sebanyak ini, aku harus membuka jalan bagi kouhai-ku.”
Avi-buchou tidak memperlihatkan sayap dan ekor iblisnya.
Namun, ada kobaran api di matanya, cukup kuat untuk menyaingi bukan hanya matahari, tetapi kobaran api neraka.
“Itulah mengapa kuserahkan Lili-chan di tanganmu!”
Aku tak bisa berbalik mundur setelah diberi tahu sebanyak ini.
“…Ya!”
Setelah melirik Ketua, aku langsung menyerbu.
Tentu saja, para iblis mencoba menghalangi jalanku—.
“Aku tidak akan membiarkan kalian!”
Tapi Ketua memaksa jalan terbuka untukku.
“Aku Avi Amon!”
Sembari ditinggalkan, dia berteriak begitu lantang hingga suaranya bergema di seluruh hutan.
“Kata-kata favoritku adalah ‘keaktifan, ‘kegigihan’, dan ‘antusiasme’! Mari kita bertarung secara adil dan jujur!”
Berkat bantuan semua orang, aku mencapai titik di mana aku dapat melihat gereja.
Seperti yang dikatakan Ketua OSIS, di ruang terbuka di tengah hutan berdiri sebuah gereja yang separuh runtuh.
“Jadi kau yang bernama Miyamoto Zekka.”
Orang yang menghadapiku di bagian paling akhir adalah seorang iblis.
“Aku adalah anggota Golongan Maou Lama, Moebius Fleurety.”
Menilai dari kekuatan iblisnya, dia adalah yang berperingkat tertinggi di antara para iblis sebelumnya.
“Di mana Lilibette-san?”
“Di dalam gereja di depan. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu dengan Shi Wengong.”
“Bisakah kau membiarkanku lewat?”
“Tidak akan terjadi. Kami tidak tahu keberadaan Dewa Naga. Jika Shi Wengong dikalahkan sekarang, kami tidak akan bisa mendapatkan ‘Ular’ itu.”
Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya dan meluncurkan kekuatan iblis dalam jumlah besar ke arahku.
“—!”
Aku segera mengeluarkan senjata dari pinggulku.
Membuat tebasan vertikal dengan pedang di tangan kiriku, aku dengan mudah memotong gumpalan kekuatan iblis tersebut.
“Pedang iblis…. Tapi kudengar kau adalah pemilik Sacred Gear….”
Ini adalah pedang yang kuambil tanpa izin dari ruang klub demi pertempuran ini.
“Seperti yang kuduga, darah Miyamoto—bakat yang cocok dengan segala jenis pedang, sama seperti leluhurmu, ya.”
Dia mengerang, tapi pedang ada untuk digunakan manusia, tak ada pedang yang tidak bisa kutangani sebagai manusia.
“Seperti yang wanita (Kaisar Agung) itu katakan, kau berbahaya. Aku harus menghentikanmu saat ini juga.”
Iblis itu menjentikkan jarinya, dan aku dikelilingi oleh lingkaran-lingkaran sihir.
Yang muncul dari lingkaran itu adalah manusia—bukan, sesuatu yang berwujud manusia.
“Ini….”
Mereka adalah monster bermata satu.
Tinggi sekitar dua meter, dengan tubuh kekar dan kulit biru keruh.
Aura yang sangat buruk, kau tak bisa menyebut mereka makhluk hidup yang normal.
“Ini adalah monster iblis yang diciptakan dengan Longinus tingkat tinggi, Annihilation Maker.”
Dia menjelaskan bahwa mereka adalah monster iblis berbentuk manusia.
“Awalnya, mereka adalah prototipe yang dirancang untuk tujuan pertempuran berikutnya melawan iblis. Ini telah dimodifikasi untuk pertempuran melawan manusia.”
Pertempuran melawan iblis? Meskipun mereka sendiri adalah iblis, mereka berencana untuk bertarung dengan iblis lainnya?
“Mereka memiliki kekuatan tempur yang cukup untuk mengalahkan seorang manusia, meskipun manusia itu adalah keturunan pahlawan.”
Aku mengerti bahwa monster iblis berbentuk manusia itu sangat tangguh.
Namun, fakta bahwa dia memanggil anak buah menunjukkan bahwa dia sendiri tidak ingin terlibat secara langsung.
Dengan kata lain, dia menghindari konfrontasi secara langsung denganku.
“Kalau begitu, ada kesempatan.”
Aku akan menyeret iblis ini ke dalam jangkauan tebasan pedangku. Dan untuk melakukan itu, kekuatannya sangat diperlukan.
“Datanglah, Tensei!”
Mendengar panggilanku, oppai bersinar terang.
—JD×D—
Bentrokan melawan monster-monster iblis berbentuk manusia itu sangat sengit.
Monster-monster ini, tanpa kehendak sendiri, maju ke depan tanpa rasa takut atau ragu sedikit pun.
“—!”
Dengan Sacred Gear Tensei di tangan kananku dan pedang iblis di tangan kiriku, aku melepaskan teknik gaya dua pedangku secara maksimal.
“Tensei, tingkatkan keluarannya!”
[Jangan gegabah.]
Menghindari pukulan monster iblis, aku menghantamkan lututku ke perutnya.
Saat monster itu menggeliat kesakitan, aku dengan cepat memenggal kepalanya dengan kedua pedang.
[Jaga kekuatanmu tetap terkendali. Pedang di tangan kirimu itu enggak akan sanggup menahannya.]
“Aku tidak punya, kemewahan seperti itu.”
Monster-monster iblis berbentuk manusia lebih tangguh dari yang kuperkirakan. Seperti yang diharapkan dari ciptaan yang disebut Longinus.
[Kau harusnya tahu. Pedang sekaliber ini tidak akan cukup, bahkan cenderung tidak berguna.]
Dia sungguh-sungguh percaya bahwa aku butuh senjata yang layak untuk kekuatanku, senjata yang mampu menahan kekuatanku.
Jelas sekali aku tak bisa mengeluarkan potensi penuhku dengan pedang sembarangan, dan Tensei juga sama frustrasinya.
[Kalau saja boneka-boneka itu punya oppai.]
“Lakukan sesuatu soal tidak bisa mencuri kekuatan jika musuh tidak punya oppai!”
[Tidak mungkin.]
“Menurutku otot dada juga bagus!”
[Jangan bercanda. Siapa yang mau memotong oppai pria.]
Kelemahan Tensei adalah dia tak bisa menyedot energi kehidupan dari mereka yang tidak memiliki oppai.
[Waspada. Pembacaan energi tinggi dari kedua sisi dan belakang.]
Selagi aku dengan saksama menaklukkan monster iblis, yang menyerbu ke arahku, dalam jarak dekat, Tensei memperingatkanku.
“Mereka bahkan punya senjata jarak jauh…!”
Monster-monster iblis itu mulai menembakkan sesuatu seperti pancaran sinar cahaya dari mata satu mereka.
“Pedang iblis, tolong, bertahanlah…!”
Aku menghindar dengan merayap di tanah dan menyalurkan lebih banyak touki melalui lenganku.
Aku mengayunkan kedua pedang seolah ingin membelah udara, mengirimkan gelombang tebasan yang membelah musuh di kejauhan.
Sekarang sebagian besar musuhnya sudah—.
“Masih terlalu dini untuk bersantai, pengguna dua pedang.”
Moebius Fleurety benar-benar luput dari pandanganku.
Sembari tertawa jahat, dia merentangkan tangan kanannya ke arahku sekali lagi.
Lalu melancarkan serangan kekuatan iblis yang dahsyat, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
“Aku tidak bisa, menghindar…!”
Aku akhirnya menahannya dengan pedang-pedangku.
Kakiku terbenam ke dalam tanah, dan aku terdorong mundur beberapa meter.
“Sesuatu, seperti ini…!”
Aku berhasil memotong kekuatan iblis.
“Kali ini aku akan mendekat dan—”
[Sangat disayangkan, Zekka.]
“Apanya? Aku tidak terluka, tahu?”
[Sepertinya hanya sampai di sini batasnya.]
Saat aku hendak menyerang iblis itu, partnerku, Tensei, mendadak berkecil hati karena suatu alasan.
Namun, dia tidak menyerah dalam pertempuran, melainkan pada pedang iblis yang kugenggam di tangan kiriku.
Saat aku siap bertarung, bilah pedang itu sendiri hancur berkeping-keping.
[Pedang iblis itu bertahan cukup lama, tapi ini sudah batasnya.]
Aku kehilangan pedang keduaku. Untuk saat ini, Tensei di tangan kananku adalah satu-satunya senjataku.
“Meskipun aku hanya memiliki satu pedang….”
Aku menggenggam Tensei dengan kedua tangan.
“Meskipun aku tidak bisa mencuri kekuatan dari seorang pria….”
Secara realistis, aku tahu ini adalah situasi yang berbahaya.
Tak bisa menggunakan dua pedang, tak bisa menggunakan kemampuanku, tapi memangnya kenapa?
“Sungguh mengesankan kau berhasil mengalahkan para monster iblis. Tapi sepertinya itu cukup menguras staminamu. Jadi mari kita selesaikan ini.”
Banyak lingkaran sihir muncul di belakang punggungnya, melancarkan serangan iblis yang kuat.
(Aku harus menang, lalu aku harus menemui Lilibette-san.)
Aku terus memutar otakku secara intens. Apakah ini benar-benar waktunya, tidakkah ada cara untuk—.
[Zekka! Menghindar!]
Saat Tensei berteriak dengan nada panik yang tidak biasa, aku akhirnya menyadarinya.
Menatap ke langit, seberkas cahaya merah terlihat di antara bintang-bintang.
[Dia datang!]
Bidang pandangku berwarna merah menyala.
Secara refleks, aku melompat jauh ke belakang, tetapi saat aku merasakan serangan itu, semuanya sudah tenang kembali.
Tak ada apa pun di sekitarku.
Pepohonan, tanah, serangan kekuatan iblis musuh—semuanya lenyap hanya dalam satu serangan ini.
“Mustahil!”
Iblis itu juga sama terkejutnya, meninggikan suaranya pada peristiwa—bukan, malapetaka—yang terjadi tepat di depan matanya.
[Naga Langit…!]
Tensei mengerang. Mungkinkah itu adalah salah satu kekuatan Longinus, Sekiryuutei?
“Daya hancur yang mengerikan, seperti yang diharapkan dari Welsh Blaster Bishop.”
Dari langit, sosok baru muncul di medan pertempuran yang baru terbentuk ini.
Setelah mendarat dengan cepat, dia berdiri di sampingku dan meletakkan tangannya di bahuku.
“Kau telah berusaha dengan baik.”
“Xenovia, senpai…?”
“Ya, aku datang.”
Tapi kenapa?
Tanpa memberiku waktu untuk menyuarakan keraguanku, dia mengalihkan pandangannya ke arah iblis yang telah menjaga jarak.
“Biasanya, akan terlalu lancang bagiku, seorang murid SMA, untuk campur tangan dalam perkelahian murid SMP.”
“Tapi,” dia menghadapi pria itu.
“Akan berbeda ceritanya jika bukan hanya Golongan Pahlawan, tetapi Golongan Maou Lama yang juga terlibat.”
Rupanya, ada sesuatu di antara mereka. Dia memfokuskan tatapannya secara tajap pada pria itu.
“Jadi kaulah yang mengganggu kouhai-ku.”
“Budak dari adik Maou palsu itu, huh.”
Pria itu mengerutkan alisnya, merasa jijik hingga ke lubang hatinya.
“Tidak disangka Sekiryuutei akan datang bersama—”
“Dia tidak ada di sini. Serangan tadi hanyalah sebuah salam pembuka.”
Itu cuma salam pembuka?
“Hehe, serangan pembuka sangatlah penting.”
Aku merasa serangan yang tak biasa itu tidak hanya akan memulai pertarungan, tetapi juga bisa mengakhirinya.
“Pokoknya, dia sibuk mempersiapkan ujian promosi. Aku sendiri sudah cukup untuk menangani sisanya.”
“Apa katamu…?”
“Apakah kau tidak mendengar? Aku sendiri sudah cukup untuk orang sepertimu.”
Mendengar kata-kata tersebut, kemarahan pria itu mencapai titik didih. Dia tidak melihat apa pun selain Xenovia-senpai.
“Serahkan sisanya padaku.”
Xenovia-senpai memanggil pedangnya.
Bersama dengan rantai yang terhitung jumlahnya, partnernya, Ex-Durandal, muncul.
Senjata gabungan yang terbuat dari pedang suci Durandal dan Excalibur, mungkin akan bertahan bahkan melawan pedang terkuat sekalipun. Senpai menggenggamnya dan—.
“Ambil ini dan pergilah.”
Namun, dia tidak mengambil kuda-kuda, tapi menyerahkan Ex-Durandal begitu saja kepadaku.
“Kalau itu kau, Zekka, kau akan bisa menggunakannya dengan baik.”
“Eh, tapi….”
“Kau adalah pengguna dua pedang, jadi kau butuh pedang kedua, 'kan?”
Matanya memberi tahuku bahwa ini bisa menahan kekuatanku.
Tentu saja, dengan Pedang Suci Legendaris, aku akan mampu melepaskan seluruh kekuatanku.
“Jangan khawatir. Aku meminjam Ascalon sebagai penggantinya.”
Dia tersenyum penuh arti dan memanggil pedang besar dari lingkaran sihir yang asing.
[Pedang Pembunuh Naga….]
Tensei bergumam, merasa sangat terkesan.
Jadi dia memberiku pedang sucinya, partnernya, karena ini sudah cukup baginya.
“Cepat, tidak ada waktu—”
Saat Xenovia-senpai mengatakan itu, aura mengerikan terpancar dari gereja.
Apa yang terjadi di dalam? Aku harus cepat-cepat menemui Lilibette-san.
“Terima kasih untuk Ex-Durandal-nya!”
Karena tidak punya waktu untuk ragu, aku menerimanya.
Dan saat aku mengambilnya, kehendak dan kemampuan Ex-Durandal mengalir ke dalam pikiranku.
(Excalibur memiliki enam kemampuan: penghancur, mimikri, kilat surgawi, khayalan, transparan, pemberkatan.)
Di sisi lain, Durandal, mungkin karena sangat menyukai Xenovia-senpai, tidak banyak berbagi denganku seperti Excalibur.
(Ya, aku mengerti. Pada akhirnya, partnermu adalah Xenovia-senpai.)
Setelah aku memberi tahu dia bahwa aku memahami posisiku, dia secara kasar menjelaskan cara menggunakannya.
“Terima kasih, Senpai. Sepertinya ini akan membantuku.”
“Seperti yang diharapkan dari kouhai pribadiku. Kalau begitu, cepatlah pergi. Kawanmu sedang menunggu.”
“Ya!”
Aku tidak akan membiarkan hal-hal yang dipercayakan kepadaku sia-sia. Aku menuju Lilibette-san dengan kecepatan penuh.
Seolah memberiku dorongan dari belakang, Xenovia-senpai akhirnya berkata, “Semoga bimbingan Tuhan menyertai pengguna pedang suci yang baru, Miyamoto Zekka!”
—JD×D—
Aku akhirnya sampai di gereja.
Di dalam, aku menemukan Shi Wengong, yang memimpin Golongan Pahlawan, dan Lilibette-san.
Cahaya bulan masuk melalui lubang di langit-langit, menerangi tempat kudus tua yang terabaikan itu.
“—”
Aku tertegun. Adegan yang benar-benar tak terduga menantiku.
Shi Wengong telah dikalahkan.
Dan orang yang berdiri adalah seorang kesatria dengan rambut keemasan melambai, pita birunya telah hilang.
“Lilibette-san…?”
Jelas sekali, dialah yang telah mengalahkan Shi Wengong.
“Zekka, apakah itu kau?”
Dengan penutup matanya yang terlepas, aku bisa melihat mata keemasannya. Dia terengah-engah.
“Aku mengalahkan, pemimpin musuh.”
Tatapannya agak kabur ketika dia mencoba menceritakan kembali apa yang telah terjadi.
“Shi Wengong telah kehilangan kekuatannya berkat Sacred Gear-mu. Itu sebabnya dia bisa melewati penghalang kota, memanggil rekan-rekannya dari dalam, dan menjalankan rencana untuk mencuri Tensei—”
Dia sempoyongan hingga hanya mengingat kejadian itu saja sudah cukup untuk membuatnya pingsan
“Namun, aku tidak berpikir, dia akan memiliki ‘Ular’ Ophis (Dewa Naga Nirbatas).”
Untuk mengimbangi kekuatannya yang dicuri, Shi Wengong menyiapkan apa yang disebut ‘Ular’ yang kudengar berulang kali.
“Itulah kenapa aku, juga tidak punya pilihan, selain menggunakan kekuatan naga jahat.”
Berdiri di dekatnya membuatnya semakin jelas bahwa kekuatan yang mendidih di dalam dirinya memancar keluar.
“Sebentar lagi, aku akan berhenti menjadi diriku sendiri.”
Dia menatapku dan berkata, “Tolong, lari.”
Saat berikutnya, seluruh tubuhnya diselimuti aura hitam kebiruan.
Gumpalan aura itu menyebar tanpa henti, cukup untuk memenuhi seluruh gereja.
[Dia telah dilalap oleh kutukan naga jahat.]
Tensei berkata setelah melirik Lilibette-san, menahan niat jahat yang diarahkan pada kami.
Sebelum kusadari, bahkan siluet naga jahat bisa terlihat jelas di belakangnya.
[…Aura kelas Raja Naga, dan kehadiran ini—tapi dia seharusnya sudah binasa sejak lama.]
Meski dia tidak menyatakannya secara eksplisit, sepertinya Tensei punya petunjuk mengenai identitas asli naga jahat itu.
[Dia sudah kehilangan kesadaran dirinya.]
Tensei berkata terus terang.
[Hati-hati, sebelum kau menghadapi naga jahat itu sendiri.]
Dia sengaja menghilangkan kata-kata baik, agar aku bisa bertarung, agar aku tidak punya pilihan lain selain bertarung.
[Membunuh atau dibunuh. Pada tingkatmu saat ini, mencuri kekuatan juga akan sulit. Buang pikiran naif seperti mengembalikannya menjadi normal.]
Aku yang penakut dari masa lalu selalu mengandalkan kata-kata itu untuk membenarkan pertarungan.
Aku bertarung dengan enggan karena Tensei berkata demikian.
Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak mengindahkan perasaan lawanku.
Sejak awal, aku tidak punya niat untuk mengingat musuh yang kukalahkan.
Aku selalu berdiri di medan tempur dengan tekad setengah hati.
“Orang di depanku adalah Lilibette-san.”
Tapi melakukan itu tidaklah baik. Aku tidak akan lagi bisa melupakannya.
[Apa yang kaubicarakan?]
“Maksudku dia bukan naga jahat.”
Aku dengan jelas menolak kata-kata Tensei.
“Lawanku adalah Lilibette D. Lunaire.”
Ilmu pedangku selalu demi kepentinganku sendiri.
Tapi mengenang hari-hari yang dihabiskan bersama Lilibette-san dan semuanya, aku bisa melihat jalan baru.
Kami belajar bersama, berjuang bersama, berlari bersama, dan tertawa bersama.
“Semua orang membantuku. Jika bukan karena mereka, aku tidak akan berdiri di sini saat ini.”
Aku pun menyadari apa artinya menggunakan pedang untuk orang lain.
“Terima kasih, Tensei, karena selalu menyemangati diriku yang putus asa sampai sekarang.”
[Zekka….]
“Tidak apa-apa sekarang. Karena aku tidak lagi sendirian.”
Dengan suara lembut namun mantap, aku menyatakannya pada pedang di tangan kananku.
“Aku harus melakukan duel ini atas kehendakku sendiri.”
Ini adalah takdir.
Bahwa semuanya akan menjadi seperti ini sudah ditentukan pada saat kami bertemu.
“Aku belum pernah melawan naga jahat, dan aura yang terpancar darinya sungguh dahsyat.”
Mungkin, orang biasa bahkan tidak akan bisa melarikan diri, apalagi bertarung.
Namun, orang yang menghadapinya bukanlah sembarang orang, melainkan aku.
“Aku memahaminya sekarang. Ilmu pedangku ada untuk saat ini.”
Latihan keras dan menyiksaku tidaklah sia-sia. Meneteskan air mata atas masalah yang disebabkan oleh Sacred Gear-ku bukanlah sia-sia.
Setiap hari kuhabiskan mengayunkan pedangku dalam kesendirian, semua itu demi hari ini.
“Aku senang karena tidak menjadi orang biasa. Dengan cara ini, aku bisa berhadapan langsung dengan Lilibette-san.”
Kami berjanji akan berduel suatu hari nanti.
Maka inilah saatnya aku memenuhinya.
Aku tidak punya niat untuk membunuhnya, aku juga tidak ingin mengucapkan kata-kata agung seperti menyelamatkannya.
Pada akhirnya, itu hanyalah pertikaian biasa antara sesama gadis.
“Kau akan bergabung denganku dalam pertengkaran pertama (Pertarungan Sengit) dalam hidupku, 'kan?”
Dengan senyuman lebar, aku mengambil posisi bertarung bersama Tensei.
[…Mempercayakannya pada keturunanmu… Musashi membuat pilihan yang tepat….]
Tensei mengucapkannya, tampak kesepian namun di saat yang sama dipenuhi dengan kegembiraan.
[Benar! Ini adalah pertarungan sengit Miyamoto Zekka! Siapa lagi yang akan menebas kalau bukan aku!]
Partnerku menyetujui tekadku.
[Lihatlah baik-baik, naga jahat! Ini adalah mimpi yang lama diidam-idamkan dari Niten Ichi-ryuu!]
Manusia tidak bisa berubah dengan sendirinya.
Bagaimana aku harus menyampaikan perasaan ini kepada orang-orang yang kutemui selama ini?
Aku canggung dalam berkata-kata, canggung secara sosial, dan memiliki tatapan mata yang jahat; kata-kata tentu tidak akan cukup untuk menyampaikannya dengan baik.
Itu sebabnya—
“Rasa syukur, rasa hormat, tantangan—aku akan menuangkan semua ini ke dalam pedangku!”
Aku dengan keras menyatakan namaku pada Lilibette-san.
“Miyamoto Zekka, empat belas tahun, maju bertarung!”
—JD×D—
Ledakan menggelegar bergema di udara.
Gereja, yang sudah berada di ambang kehancuran, hancur seluruhnya, dan dari celah-celah reruntuhan, kami melompat ke udara terbuka.
Pertarungan berpindah dari dalam ruangan ke luar ruangan, dengan serangan kuat yang terjadi lebih intens dari sebelumnya.
“[Dark Breath Mode Zero (Hancurkan Bumi, Api Azure Naga Jahat).]”
Mengayunkan pedangnya secara mekanis, Lilibette-san melepaskan semburan api yang menelan tanah.
Melompat ke udara akan membuatku seperti sasaran empuk, tapi meskipun aku menembus sebagian apinya, pandanganku akan terhalang, membuatku tertinggal satu langkah.
“Excalibur Mimic!”
Kalau begitu, aku akan mengaktifkan salah satu dari enam kemampuan Excalibur, Mimikri.
Ini memungkinkanku untuk mengubah panjang bilahnya sesuka hati.
Aku memanjangkan Ex-Durandal hampir seratus kali lipat.
“Keaktifan, kegigihan, dan antusiasme!”
Aku penasaran berapa beratnya. Aku mengayunkan pedang suci amat sangat panjang itu dengan tekad murni.
Raungan yang memekakkan telinga, tidak seperti apa pun yang pernah kudengar, bergema. Segala sesuatu dari kiri ke kanan hancur lebur—tidak hanya nyala apinya—lalu berhenti.
“[……!]”
Lilibette-san berhasil memblokir serangan ini.
Dampaknya seharusnya sekuat dihantam bangunan, jadi seperti yang diharapkan, kekuatan naga jahat menentang norma.
“[…Tidak mungkin, aku, kalah!]”
Sama sepertiku, dia melepaskan opsi untuk terus melarikan diri.
Setelah dengan paksa menangkis pedang suci, dia menggunakan Ex-Durandal sebagai pijakan untuk mendekat.
Aku segera membatalkan ‘Mimikri’, tetapi dia sudah mendekatiku.
(Pertarungan jarak dekat! Sesuai yang kuinginkan!)
Pedang kami berbenturan dengan kekuatan yang sangat besar. Tak satu pun dari kami yang punya niat untuk mundur, kami terus maju.
Jarak kami sangat dekat hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan.
“[Miyamoto, Zekka!]”
“Lilibette-san!”
Aku sama sekali tidak akan mengalihkan pandanganku. Kami saling menatap tanpa berkedip, bahkan ketika percikan api beterbangan.
“[Aku yang akan menang!]”
“Tidak, akulah yang akan menang!”
Setelah itu, kami melesat ke kiri dan ke kanan melintasi tanah, tak henti-hentinya mengulang proses menebas dan ditebas.
Meskipun pertarungan berlangsung sengit, aku semakin gembira.
[Zekka! Dari bawah!]
Tepat setelah teriakan Tensei yang tiba-tiba, sebuah tombak—bukan, ekor naga—muncul dari dalam tanah.
Dengan transformasi naga jahatnya, dia telah menumbuhkan ekor dan, tanpa disadari, menyelipkannya ke dalam saat kami beradu pedang.
“Kau…!”
Menghindari serangan dari bawah dengan jarak amat tipis, aku segera melakukan serangan balik dengan Tensei, membuatnya berguling dengan keras.
Hantaman ini terasa seperti yang terbaik sejauh ini—tetapi, aku tidak mampu menebas oppai-nya.
[Seperti yang kubilang, Zekka, dengan keadaanmu sekarang, menebasnya tidak akan membuatmu mencuri kekuatannya.]
Tensei mengingatkanku agar aku tidak lupa bahwa pada tingkatanku saat ini, naga jahat berada di luar jangkauan.
[Dan bertarung dalam jarak dekat itu bagus, tapi jangan lupa memperhatikan sekelilingmu.]
Seperti katanya, aku ceroboh. Namun, melihatku merenungkannya, dia tersenyum pahit.
[Kau menikmatinya dan terlalu asyik, aku memahami perasaan itu dengan cukup baik.]
“Eh, menikmati…?”
Setelah diberi tahu hal itu, aku sadar—aku tersenyum tanpa sadar.
[Penggunaan dua pedang secara sempurnauntuk pertama kalinya, lawan yang setara untuk pertama kalinya, tidak mungkin itu tidak menyenangkan, 'kan?]
Tensei berkata dengan gembira. Dia juga menikmati pertarungan ini.
“…Aku benar-benar harus berterima kasih pada Xenovia-senpai.”
Karena memberiku kekuatan untuk melawannya, dan memberiku kekuatan untuk bertarung dengan kekuatan penuhku.
[Tapi pertarungan tidak berlangsung selamanya. Saatnya menyelesaikan ini.]
Aku mengangguk sebagai jawaban dan menghadap ke depan.
Bangkit kembali, dia berdiri di sana dengan sayap naga yang tumbuh dari punggunya.
“[Belum, selesai.]”
Merasakan dirinya berada dalam posisi tidak menguntungkan setelah terluka, dia mengepakkan kedua sayapnya dan terbang ke langit.
“[Datanglah, para pelayan.]”
Dia memerintahkan, menatap ke bawah dari langit, dan lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya mengelilingiku.
Yang muncul dari lingkaran itu adalah kawanan naga berukuran kecil dan sedang.
“[Berburu.]”
Mematuhi perintah Lilibette-san, para naga mengalihkan pandangan mereka ke arahku seperti predator.
[Naga itu sekelas Raja Naga. Jadi memiliki banyak naga sebagai pelayan adalah hal yang wajar.]
Tensei menambahkan, tapi jika dia memanggil bawahannya, waktu untuk menyelesaikan pertempuran ini telah tiba.
Tapi aku tidak akan menyebutnya licik. Lagi pula, kami berdua sama sekali tidak ingin kalah.
“Meski begitu, ke mana pun aku pergi, aku hanya akan dikepung oleh musuh….”
Aku berada dalam situasi sulit dengan musuh yang terus-menerus mengepungku dari semua sisi.
Tapi, kalau aku tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Lilibette-san tanpa mengatasi krisis ini, maka—.
“Ayo! Tensei! Ex-Durandal!”
Aku terjun langsung ke dalam kerumunan naga tanpa ragu sedikit pun dan menebas kawanan musuh tanpa ampun.
[Kalau saja mereka semua adalah gadis-gadis cantik dengan oppai!]
Meski aku antusias, kenyataan kalah jumlah tidak berubah.
Berapa lama pun aku bergerak, luka perlahan muncul, tapi jumlah naga tidak berkurang sedikit pun.
Sedikit demi sedikit, situasinya berbalik, dan aku merasakan bagaimana mereka perlahan menyudutkanku.
[Begitu banyak musuh dan tidak satu pun dari mereka memiliki oppai! Kenyataan memang kejam!]
Tensei mengeluh dengan lantang. Bahkan aku ingin menggunakan kemampuannya.
Itu benar, oppai—kalau saja musuh punya oppai—.
“Ex-Durandal?”
Pada saat itu, pedang suci menjadi panas.
Memahami apa yang aku dan Tensei butuhkan, dia mendesakku untuk menggunakan kemampuannya.
“Begitu, ternyata ada pilihan ini…!”
Mengikuti petunjuk pedang suci, aku memperoleh teknik untuk memecahkan kebuntuan ini.
“Atau lebih tepatnya, tak ada pilihan lain…!”
Aku mengangkat Ex-Durandal ke langit dan merapalkan mantra.
“Excalibur Nightmare! Excalibur Blessing!”
Aku menggabungkan kemampuan Khayalan dan Pemberkatan secara bersamaan.
Cahaya ungu yang kuat meluap dari pedang Ex-Durandal.
Kemampuan Excalibur Nightmare sudah sangat jelas.
Aku memberikan khayalan pada naga dan diriku sendiri.
“Aku dikelilingi oleh wanita cantik dengan payudara besar!”
Dalam sekejap, para naga yang tadinya terlihat begitu menakutkan berubah menjadi gadis-gadis cantik.
Aku membalikkan situasi sulit itu, mengubahnya menjadi skenario harem.
Tentu saja, betapa pun imutnya penampilan mereka, aku memahami bahwa kenyataannya, mereka adalah naga.
[O-oppai…!]
Namun, ada satu orang yang sangat antusias dengan kejadian saat ini—Tensei.
Dia gemetaran karena kemunculan oppai yang tak terhitung jumlahnya secara mendadak.
“Kau seharusnya bisa mencuri kekuatan musuh seperti ini!”
[Tentu saja bisa!]
Aku menyiapkan kedua pedangku. Yang tersisa hanyalah mencapai Lilibette-san sambil mengalahkan musuh lainnya.
“Excalibur Rapidly!”
Menambahkan kemampuan Kilat Surgawi dari pedang suci, gerakanku menjadi lebih cepat.
Dalam sekejap mata, dalam sekejap, dengan kecepatan kilat—aku memotong oppai musuh.
[Dual!!]
Mengalahkan satu musuh membuat suara bergema dari Sacred Gear-ku.
[Dual!!]
Aku mengalahkan yang lain, dan yang lainnya—setiap kali suara Tensei bertumpuk.
[Dual!!]
Ya, berikan padaku, beri aku lebih banyak oppai!
[DualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDualDual!!]
Setiap kali aku menebas oppai gadis-gadis cantik itu, oppai-ku bersinar, ukurannya bertambah besar.
Aku membuka jalan menuju Lilibette-san sambil meningkatkan kekuatanku.
[RANKUP<E>!!!!]
Kemudian aku mendengar teriakan yang tidak kukenal.
Aku memahami arti rank-up melalui tubuhku sendiri.
“P-pakaianku…!”
Karena tidak sanggup menahan tekanan, seragamku meledak, dan bersamaan dengan itu, sarashi robek di mana-mana.
“Ini, tidak mungkin, ukuran dadaku…!”
[Tepat sekali, dengan menimbun sejumlah besar energi nyuu, oppai-mu naik ke tahap berikutnya, Zekka.]
Rupanya, aku sekarang berukuran E-cup. Aku pasti akan menyesalinya.
Tapi saat ini, itu tidak masalah.
Karena aku sudah lelah menebas begitu banyak oppai!
[Kalau begitu, ucapkan mantranya dan klaim kemenanganmu.]
Kata-kata itu mengalir ke dalam kesadaranku dari Tensei.
“Edens Dual (Pedang Ganda Paradise Lost).”
Tanpa berpikir dua kali, aku menyiapkan kedua pedang dan berseru.
“Limited Balance Break (Teknik Terlarang Terbatas)!”
—JD×D—
Bunga-bunga merah crimson bermekaran dengan lebat di sekitarku.
Energi nyuu berubah menjadi kelopak bunga yang beterbangan, mewarnai tubuh dan pedangku dengan warna cerah yang sama seperti orang itu.
[Balance Breaker adalah tahap selanjutnya yang dicapai dengan meningkatkan kekuatan Sacred Gear.]
Kekuatannya dapat mengguncang keseimbangan dunia sehingga dianggap terlarang.
[Dan Sacred Gear bisa mengubah bentuk atau kemampuannya tergantung pada emosi pemiliknya. Itu bisa disebabkan oleh pertemuanmu dengan wanita berambut crimson atau mungkin karena kontak dengan oppai ultra-evolusinya. Bagaimanapun juga, kehadirannya pasti meninggalkan dampak yang signifikan padamu.]
Jadi itu sebabnya warnanya crimson sama seperti miliknya. Kekuatan tanpa henti meluap dari dalam diriku.
[Biasanya, mencapai Balance Break akan memungkinkanmu menyebarkan kemampuan khusus pedang ganda, ‘Penghalang’. Kebetulan, kau juga bisa menggunakan tabu utama, Pedang Supremasi[1], tapi, tanpa Shuusei, kau hanya akan mendapatkan peningkatan statistik dasar.]
Jika aku bisa mengerahkan segalanya dalam pertarungan ini, maka itu sudah cukup.
[Selesaikan dalam 10 detik. Dalam keadaanmu sekarang, kau bahkan akan mampu bertarung melawan dewa.]
Sudah diduga, sisi negatifnya adalah batas waktu.
Maka ini bukan waktunya untuk bermain-main. Aku menaruh kekuatan pada kedua lengan, menyebarkan bunga crimson ke mana-mana.
“Excalibur Destruction!”
Mengaktifkan kemampuan Penghancur pedang suci, aku menghantamkan Ex-Durandal ke tanah.
Tanah bergetar, dan seluruh area retak, menyelimutinya dalam awan debu raksasa.
“Excalibur Transparency!”
Aku segera menggunakan kemampuan Transparan, menghilang sepenuhnya agar menyatu dengan debu.
Tapi lawanku adalah seekor naga, dia mungkin bisa melihat menembus transparansiku dengan insting liarnya.
“Membingungkannya meski sesaat saja sudah cukup!”
Aku melesat ke depan, juga mengaktifkan kemampuan mempercepat, Kilat Surgawi.
Targetku adalah Lilibette D. Lunaire, yang melayang sendirian di langit.
Tepat seperti yang kuduga, naga itu tidak bisa langsung bereaksi terhadapku, yang melompat secepat kilat.
“[……!]”
Lilibette-san tidak bisa menyembunyikan keheranannya, melihat bagaimana aku muncul tepat di hadapannya secara tiba-tiba.
Ini adalah kesempatan emasku. Sampai saat ini, aku telah menggunakan semua kemampuan Excalibur, tapi aku menyimpan satu trik untuk yang terakhir—akhirnya aku melepaskan pedang suci Tirani.
“Meraunglah! Durandal!”
Xenovia-senpai memberi tahu kalau pendekar pedang tidak membutuhkan alasan atau motif yang rumit.
Cukup menghantam musuh dengan segenap tenaga, dengan segenap hati, itu sudah cukup.
“[Ze, Zekka, aku….]”
Lilibette-san mencoba menghentikannya dengan rapiernya, tetapi pedang itu tidak bisa menahan kekuatan Durandal dan patah, jatuh ke tanah.
Sekarang oppai-nya terlihat dengan jelas!
(Tensei, kau bilang tidak ada pilihan selain membunuh, bahwa aku tak bisa mencuri kekuatannya seperti biasanya—)
Tapi dalam mode Balance Breaker, aku bahkan bisa bertarung melawan dewa, 'kan?
(Kalau begitu aku harusnya bisa—)
Jika Tensei mencuri energi kehidupan lawan, yaitu kekuatan mereka….
(Kalau begitu aku seharusnya bisa mencuri kutukan Lilibette-san, bukannya energi kehidupannya!)
Pikiranku mencapai Tensei bahkan tanpa harus kuucapkan.
“Dengan oppai ini tepat di depan matamu, kau tidak akan bilang kalau kau tidak bisa, 'kan?!”
[Astaga, kau memang beda, tapi justru itulah yang membuatmu menjadi master hebat pedang payudara ganda!]
Aku, Tensei, dan Ex-Durandal—satu orang dan dua pedang menjadi satu.
“Niten Ichi-ryuu, Jurus Rahasia ke-1—”
Bersinarlah, pedang gandaku. Sampailah, perasaanku.
“—Mekarnya Ratusan Bunga Secara Berantai!”
Dengan kilatan crimson pada pedangku, aku menebas oppai Lilibette-san.
Setelah mendarat di tanah, tubuhnya berubah.
Aura jahat di sekelilingnya menghilang, dan naga-naga yang dipanggil juga ikut menghilang.
Sepertinya aku hanya mampu memotong kutukannya saja.
Namun, Lilibette-san tetap berlutut, tidak bergerak sedikit pun.
“Jadi kau adalah kesatria biru dari waktu itu, Lilibette-san.”
Saat Shi Wengong hanya mencari Sacred Gear-ku, dialah satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia.
“Maaf karena melupakannya.”
Aku meminta maaf, memandangnya sambil mendekat.
“Karena tidak bisa mengingatnya, meski kau selalu berada di sisiku.”
Aku pernah bertukar pedang dengan kesatria biru itu.
Baginya, orang yang penuh harga diri, dilupakan adalah hal yang lebih memalukan dari apa pun.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Yang paling bisa kulakukan hanyalah meminta maaf.
Dan mencoba menyampaikan perasaanku dengan benar, baik dengan kata-kata maupun dengan pedang.
“…Apakah kau bersedia berdamai dengan orang sepertiku?” ucapnya, akhirnya memecah kesunyiannya.
“Aku mau.”
Aku benci meninggalkan pertengkaran ini tanpa penyelesaian.
“Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu di akademi, Lilibette-san.”
Dia tetap berlutut, jadi aku berjongkok untuk menatap matanya.
“Aku tidak bisa menghapus masa lalu, bahwa aku pernah menyakitimu, tetapi jika kau bersedia memaafkanku.”
Kemungkinannya tidak terbatas selama kau tidak menyerah. Memercayai hal itu, aku mengulurkan tangan kananku padanya.
“Lilibette!”
Mungkin ini adalah langkah pertama menuju perubahanku, hubungan kami yang berubah.
Memperkuat tekadku, aku memberi tahunya.
“Jadilah temanku!”
—JD×D—
“Ini kekalahanku.”
Lilibette menurunkan bahunya, duduk di sampingku di atas tumpukan puing yang dulunya adalah gereja.
“Tetapi mata kananmu… kutukan naga jahat sudah….”
Menggunakan Ex-Durandal sebagai cermin, aku melihat pola rumit di dalam mata kananku.
Sama seperti yang terukir di tubuh Lilibette.
Namun, pola tersebut muncul sesaat, lalu mataku kembali normal seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Sepertinya aku berhasil mencuri kutukan itu, tapi tak bisa melepaskannya secara penuh.”
Meskipun aku mengeluarkan kekuatan kutukan yang terkumpul dalam diriku dengan menggunakan Evolution, sepertinya kutukan itu masih tetap tertinggal.
Terlebih lagi, tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kutukan darinya membuatku menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah Balance Break yang tidak sempurna.
“Ini salahku kalau—”
“Tapi sekarang kita sama!”
Mendengar nada suramnya, aku buru-buru menjawab tanpa pikir panjang.
“Aku selalu menginginkan sesuatu yang sama dengan temanku.”
Walaupun itu kutukan, aku tidak menyesal.
“Zekka….”
“Eh, kau tidak senang dengan itu? M-mungkin aku terlalu percaya diri…. Lagi pula, kutukan itu adalah sesuatu yang kaubenci, Lilibette, jadi aku harusnya tidak terlalu senang….”
“Cukup. Kau terus mengejutkanku.”
Tampak menyerah, Lilibette menatap ke langit.
“Omong-omong, kau menepati janjimu. Setelah kalah dalam duel, aku kini menjadi milikmu, Zekka.”
Sebagai seorang kesatria, dia dengan setia menepati janjinya.
“Tidak perlu memikirkannya seperti itu.”
“Tapi kalau begitu—”
“Kita bisa bertarung semau kita mulai sekarang, jadi jangan terpaku pada hal itu.”
Dia tak bisa menerimanya, jadi aku mengusulkan.
“Kali ini, mari kita membuat janji yang benar.”
Aku dengan tulus menatap matanya.
“Aku akan menerima duel darimu kapan saja, Lilibette.”
Baginya, yang terobsesi dengan duel, ini bukanlah usulan yang buruk.
“Tetapi sebagai gantinya, andalkan aku jika lain kali kau berada dalam keadaan darurat.”
Aku hanya ingin dia mengandalkanku setiap kali dia dalam masalah, apa pun yang terjadi.
Kekayaan, gelar, kisah pahlawan—aku tidak butuh semua itu.
Karena aku belajar ada sesuatu yang lebih berharga, sesuatu yang tak tergantikan.
“…Sudah kuduga, kau adalah pahlawanku, Zekka.”
“Salah.”
Aku tidak ingin menyangkal kata-katanya terlalu keras, tapi aku akan kesulitan jika dia salah paham.
“Aku adalah temanmu, Lilibette.”
Ini bukanlah kisah pahlawan. Karena aku akan lebih dekat dengannya daripada pahlawan mana pun.
“…Begitu, jadi itu sebabnya kau kuat.”
Entah kenapa, Lilibette sepertinya dia memahami sesuatu.
Beberapa saat setelahnya, kami mengobrolkan hal-hal kecil.
“Oh! Itu Lili-chan!”
“Hei, aku tidak bisa berlari lagi!”
Avi-buchou yang penuh luka, dan Schwert-san yang kelelahan muncul dari kejauhan.
Aku senang sekali, meski percaya pada mereka, aku tetap bernapas lega. Sekarang semua orang selamat—.
“Seperti yang diharapkan dari kouhai-ku, kau tampil dengan sangat luar biasa.”
“Xe-Xenovia-senpai?!”
Saking sibuknya dengan orang lain, aku tidak menyadari bagaimana senpai pribadiku berdiri di belakangku.
“Jadi rumornya hanya sekadar—rumor. Murid pindahan itu bukanlah Asura atau Maou.”
Dia berkata begitu, melihat pemandangan pertempuran dan kawan-kawanku yang berdiri di sampingku.
“Meski begitu, dia juga bukan murid biasa.”
“Lalu, siapakah aku…?”
“Coba kita lihat. Kalau aku harus menuliskan hasil penyelidikanku—”
Mengamati wajahku, pedang di kedua lenganku, tubuhku penuh dengan luka, Senpai tersenyum.
“Murid pindahan adalah seorang gadis samurai, mari kita gunakan itu.”
Mengambil kembali Ex-Durandal dariku, Xenovia-senpai berbalik dengan gagah.
“Te-terima kasih banyak!”
Saat aku mengucapkan terima kasih padanya dengan panik, Senpai melambaikan tangannya sedikit lalu pergi.
(Dia keren sekali.)
Aku tidak akan pernah melupakan utang budiku padanya. Senpai mungkin menolaknya, tapi aku pasti akan membalasnya.
“Avi Amon, Schwertleite….”
Saat aku melihat kembali ke arah mereka, kedua kawanku sudah berdiri di depan Lilibette.
Dia menundukkan kepalanya tetapi kemudian berbicara, mengambil keputusan.
“Aku minta maaf!”
Lilibette yang penuh kebanggaan membungkuk dalam-dalam.
“Aku, aku—”
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjelaskan dirinya sendiri. Namun, keduanya memotongnya dengan senyuman mereka.
“Tak usah minta maaf! Tidak masalah selama kau baik-baik saja, Lili-chan!”
“Kau sangat ceroboh, bukan? Jadi kau bertugas bersih-bersih untuk sementara waktu, Lunaire-san!”
Mereka tidak memedulikannya sedikit pun.
Karena sama sepertiku, mereka sangat peduli pada Lilibette.
“Semuanya….”
Avi-buchou merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop.
Surat pengunduran diri dari klub yang telah dia tinggalkan untuk kami.
“Aku ingin menghargai perasaanmu, Lili-chan. Aku, kami, akan menerima pilihan apa pun yang kaubuat, Lili-chan.”
Dia melanjutkan.
“Itulah sebabnya, beri tahu kami sekali lagi, Lili-chan, apakah kau akan keluar dari Pedang Ilmu Gaib dan—”
Sebelum Avi-buchou selesai, Lilibette mengambil amplop darinya.
Lalu dia melemparkannya ke udara, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil dengan pedangnya.
“Namaku Lilibette D. Lunaire, keturunan pahlawan D'Artagnan!”
Kemudian dia menyampaikan pidatonya yang biasa, dipenhi dengan rasa percaya diri.
“Orang yang bertujuan untuk menjadi kesatria terkuat dan suatu hari nanti menebas naga jahat!”
Dia membanggakannya, tidak perlu menyembunyikannya lagi. Sudah kuduga, begitulah seharusnya dia.
“Aku sempurna dalam segala hal! Baik itu penampilan, ilmu pedang, atau pekerjaan rumah tangga, aku tidak punya kekurangan!”
Rasanya… itu agak terlalu berlebihan.
“Atau begitulah yang kupikirkan, tapi sepertinya ada kekurangan besar dalam diriku.” Dia berbicara sambil tersenyum.
“Aku selalu sendirian, dan oleh karena itu aku tidak terlalu mengenal makhluk bernama ‘manusia’.”
Tidak ada jejak masa lalunya yang percaya pada kesendirian.
“Aku pernah keluar dari Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib, dan betapa pun lancang kedengarannya, aku ingin kalian memaafkanku karena mengharapkan hal ini.”
Rambut emasnya yang seperti bulan berkilauan di bawah langit malam.
“Aku ingin terus menikmati masa mudaku bersama kalian!”
[1] Ditulis menggunakan kanji 覇剣 yang sama dengan Breakdown the Beast (覇獣, Monster Supremasi) dan Juggernaut Drive (覇龍, Naga Supremasi).

Post a Comment