Junior High School D×D 2 Last kiss.
Last kiss.
“—Astaga, sama sekali tidak membosankan bersama kalian.”
Elta-kun, yang tadinya digendong, entah bagaimana berhasil berdiri sendiri dan tersenyum seolah menyerah.
Di bawah langit Dunia Bawah, dia menoleh ke arah kami, memandang anggota Pedang Ilmu Gaib dan berbicara.
“Lilibette D. Lunaire-san.”
“Apa itu, Elta Pruflas?”
“Aku minta maaf karena menyebut teknikmu dengan nama-nama yang panjang dan buruk. Serangan itu luar biasa. Sangat bergaya. Karena telah membuka jalan untuk kami—aku sungguh berterima kasih.”
“Tak usah berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan sebagai seorang kesatria.”
Lilibette bersikap tenang, tapi pujian yang diterimanya jelas membuatnya merasa menang.
“Juga, Schwertleite-san. Aku minta maaf karena mengatakan bahwa kau adalah siswa teladan hanya karena kurangnya kemauan.”
“Ah, setelah kausebutkan, kau memang sering mengolok-olokku….”
“Aku tidak akan mengolok-olokmu lagi. Malah, kau dengan sabar memberi kami waktu. Keberanian dan ketekunan itu sungguh patut dikagumi. Kau telah menyelamatkan kami—karena itulah, terima kasih.”
“J-jadi? Kalau kau merasa berterima kasih, maka akan kuterima ucapan terima kasihmu, oke? Kau memang banyak omong dan itu mengesalkanku, dan kita juga sama-sama Bokukko… tapi sudahlah, sekarang semuanya baik-baik saja! Ya!”
Aku menduga dialah yang paling menyimpan dendam terhadap Elta-kun.
Namun, setelah menerima permintaan maaf beserta ucapan terima kasih, dia tampaknya sudah tidak menyimpan dendam.
“Ojou—bukan, Avi Amon-san.”
Ujian kemampuan sudah berakhir. Jadi memanggilnya dengan sebutan master tidak memungkinkan lagi saat ini.
“Aku telah menyebabkan banyak masalah dan kesulitan pada Anda. Dan meskipun aku adalah butler Anda, aku sama sekali tidak bisa melakukan apa pun yang pantas untuk posisi itu…. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
“Apa yang kaukatakan! El sudah sangat membantuku! Kau adalah butler terbaik!”
Apa yang membuat seseorang menjadi Iblis Kelas Tinggi. Dari kehidupan sehari-hari hingga bagaimana seharusnya seorang bangsawan bersikap—pemeriksaan menyeluruh Elta-kun membantu Ketua untuk memulai lembaran baru sebagai Iblis, dan untuk itu dia bersyukur.
“No…A-Amon-san…itu….”
“Panggil saja Avi!”
“…Kalau begitu, Avi.”
Dia mempersiapkan diri dan menatap Ketua dengan saksama.
“Aku—Elta Satanachia, akan menebus semua kebohongan yang telah kukatakan dan semua aturan yang telah kulanggar dengan mengikuti organisasi ini hingga saat ini. Ini mungkin akan memakan waktu lama.”
Dia melanjutkan dengan ‘Meskipun begitu’.
“Aku akan menjadi Iblis yang dapat dengan bangga berjalan di tempat terbuka, dengan kakiku sendiri.”
Sejenak, Ketua terkejut mendengar nama Satanachia, tetapi kemudian langsung tersenyum.
“Ya! Kalau itu El, kau pasti bisa!”
“Baiklah. Se-selain itu, jika, mungkin, aku berhasil menjadi Iblis yang layak dan kau menyetujuinya, Avi….”
Namun, dia tidak bisa melanjutkannya.
“—Aku sedang mempertimbangkan untuk mencari seseorang yang mau menjadi budakku ketika aku dewasa nanti.”
Ketua, yang menyadari maksudnya, melanjutkan dengan mengatakan bahwa itu murni rencana masa depannya.
“Ada banyak hal yang tidak bisa kulakukan. Jadi, kurasa aku ingin memiliki seseorang di sisiku sebagai budak yang bisa melihat keadaan sekitar dan mengatakannya kepadaku dengan jujur, seperti seorang butler.”
“Avi….”
“Jika suatu hari nanti kau menjadi [Queen]-ku, maka aku akan sangat bahagia!”
Dengan senyum dan ekspresi ceria di wajahnya, Ketua mengulurkan lengan kanannya.
“Mari kita lakukan yang terbaik bersama-sama! Lalu, menjadi kuat dan bertemu lagi!”
“…Ya.”
Elta-kun mengangguk, menggenggam tangannya erat-erat.
Lalu, akhirnya, dia menoleh kepadaku.
“Sejujurnya, bahkan sekarang pun aku tidak yakin harus berkata apa kepadamu.”
“A-ha-ha… lagi pula kita baru mengalami pertarungan sengit.”
Entah itu ucapan terima kasih atau permintaan maaf, kami sudah saling bertukar kata-kata di atap sekolah.
“Lalu, yang harus kulakukan saat ini adalah ini, kurasa—”
Dia segera mendekatiku dan mencium pipiku.
“Ci?! K, k-k…kenapa…?!”
“Fu-fu, hanyalah isyarat perpisahan, hal itu sangat umum dilakukan di antara orang-orang yang dekat.”
I-itu, bahkan di dunia manusia, mungkin hanya orang-orang di Barat yang benar-benar melakukannya…!
“Mari kita bertemu lagi, Miyamoto.”
Dia tidak mau mengucapkan ‘Selamat tinggal’.
Dengan ekspresi puas, dia mengisyaratkan bahwa itu adalah janji untuk bertemu lagi.
“Sampai jumpa, Elta-kun.”
Aku tidak bisa terus-terusan merasa malu hanya karena sebuah isyarat perpisahan semata.
Aku akan mengganti suasana dan membuat janji dengan cara yang serupa—.
“Hohoho! Jadi perpisahan ala Eropa juga tidak masalah bagi Zekka! Tak kusangka kau menerimanya dengan tenang!”
Namun, Lilibette, yang menyaksikan rangkaian peristiwa ini, entah mengapa gemetar dan diliputi rasa cemburu.
Atau lebih tepatnya, memang benar-benar ada kobaran api biru di belakangnya….
“Kalau begitu, aku, yang berasal dari Prancis, juga harus melakukannya! Sekarang, diam dan julurkan pipimu!”
“Tidak, Lilibette, matamu terlihat terlalu menakutkan, atau bagaimana aku mengatakannya….”
“Ini bukan untuk didiskusikan! Kalau kau tidak ingin terbakar oleh apiku, maka terimalah!”
Entah mengapa, sifat kompetitifnya yang biasanya muncul kembali dan Lilibette dengan antusias menerjangku.
Aku secara refleks menggunakan Schwert-san sebagai tameng, sama seperti yang biasanya dia lakukan padaku.
“Gya! Kenapa kau menciumku! Miyamoto-san ada di sana!”
“Hm? Kenapa Schwertleite… jadi kau juga ingin menerima kelompok persaudaraanku?”
“Menyebalkan sekali! Ekspresi wajahmu yang seperti ‘Astaga’ itu menyebalkan! Dasar naga manja yang terlalu kompetitif!”
“Na-naga manja… itu memalukan! Akulah kesatria tertinggi! Tarik kembali ucapanmu sekarang juga!”
Pertengkaran pecah di antara keduanya, yang akhirnya berubah menjadi perkelahian ribut.
“Astaga. Dan aku baru saja memperbaiki pendapatku tentang mereka.”
“Semua ini gara-gara Zekka-chan menolaknya, tahu?”
“Aku tidak bermaksud menolaknya…. Aku hanya menghindar secara refleks setelah diserang….”
Yang bisa dilakukan Ketua dan Elta-kun hanyalah mengangkat bahu.
“Tapi aku juga bisa memahami perasaan Lili-chan. Meskipun hanya di pipi, dicium oleh laki-laki yang ada di pikiranmu—”
“Aku seorang perempuan.”
Semua orang terbisu setelah kemunculannya yang tiba-tiba. Duo yang bertengkar itu juga menatap ke arah sini dengan tercengang.
“Seandainya memungkinkan, aku ingin hal itu tetap menjadi rahasia antara aku dan Miyamoto… tapi setelah itu terjadi….”
Setelah sejauh ini mengakui semuanya, aku bisa menerimanya, tapi tatapan aneh dan penuh gairah apa ini yang kurasakan tertuju padaku?!
Lalu apa maksudmu dengan ‘itu terjadi’, kalau diungkapkan dengan tidak senonoh… tidak, memang benar aku meremas payudaramu!
“Zekka-chan, tepat ketika kupikir kau sudah akur dengan El—!”
“Miyamoto-saaan, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan—!”
“Zekka, apa yang kaulakukan ketika aku fokus pada pengembangan diri—!”
Bertindak serempak, mereka mendekatiku sambil berkata, “Ada apa dengan menyembunyikan rahasia dari rekan-rekan?”
Aku dikerumuni banyak orang… E-Elta-kun, jangan cuma berdiri di situ dan lakukan sesuatu!
“Fufu. Klub seperti itulah Pedang Ilmu Gaib, 'kan?”
Suasananya sering kali ramai, berisik, dan merepotkan, tetapi meskipun begitu, aku tetap menikmatinya.
Aku senang.
Sepertinya mulai sekarang aku akan bisa lebih menikmati masa mudaku bersama semua orang.

Post a Comment