Junior High School D×D 2 Life.4
Life.4 Para Pahlawan Menyerang
Pada pagi hari Minggu yang cerah, aku menuju ke tempat pertemuan kami, gerbang sekolah Akademi Kuoh.
Untuk hari ini, kami memutuskan untuk bertemu di sana, naik kereta bersama, lalu berangkat ke kota.
“S-se-selamat pagi!”
Ketika aku tiba, nyaris terlambat, mereka berdua sudah ada di sana.
“Selamat pagi, Zekka-chan… tunggu, kenapa pakai seragam?!”
“Selamat pagi, Miyamoto. Hari ini bukan hari sekolah, tahu?”
Ketua, yang mengenakan pakaian kasual, membuka matanya lebar-lebar, dan Elta-kun, dengan pakaian butlernya yang biasa, memiringkan kepalanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ehh, kudengar aku boleh datang dengan pakaian kasual… tapi, aku hanya punya kimono….”
Belum lagi, semuanya adalah pakaian bekas dari nenek. Tentu saja, aku sangat menyayangi pakaian-pakaian itu, dan itu berbeda ketika aku pergi keluar sendirian, tapi aku berpikir bahwa saat bergaul dengan semua orang, itu akan membuatku terlalu mencolok… jadi aku memilih seragam karena alasan tertentu.
“Kimono itu bagus sekali! Aku yakin itu akan terlihat bagus padamu, Zekka-chan! Aku ingin melihatnya!”
“I-ini bukan sesuatu yang spesial… dan akhir-akhir ini aku tidak punya banyak kesempatan untuk memakainya….”
“Selain seragam dan jersei, Miyamoto, kau benar-benar tidak punya pakaian lain selain kimono?”
“Oh, ada juga kostum miko…. Meskipun aku menerimanya sebagai tanda pertemanan….”
Mendengar jawabanku, sambil tersenyum kecut, dia berkata bahwa dalam beberapa hal, ini adalah deretan busana yang cukup menakjubkan.
“Omong-omong, Elta-kun, kau mengenakan seragam butler-mu… pada akhirnya, Buchou adalah satu-satunya yang mengenakan pakaian biasa….”
“Pandangan seperti itu salah. Karena, pakaianku adalah pakaian formal. Aku harus selalu memakainya, jadi—”
Dia menjelaskan dengan cepat seperti rentetan tembakan senapan mesin tentang bagaimana pakaian butler-nya juga berfungsi sebagai pakaian pribadi.
“Namun dalam situasi saat ini, hal itu tampaknya tidak jauh berbeda dengan seragamku… agak terkesan seperti sebuah argumen yang menyesatkan….”
Karena aku sangat canggung dalam berkata-kata, mengungkapkan pendapatku dengan sembarangan adalah kesalahan fatal.
“Hoo! Jadi kau tidak menganggap pakaian butler-ku bisa diterima! Kita harus membahasnya secara menyeluruh!”
Rupanya, aku telah menyentuh hal yang tabu baginya. Mendekat ke telingaku, dia menghujaniku dengan rentetan logika.
B-berhenti! Banyak sekali kata-kata sulit sampai kepalaku hampir meledak!
Ketua mengamati kami dengan saksama, lalu melontarkan pernyataan yang mengejutkan.
“Mungkinkah kalian berdua berpacaran?”
Mendengar ucapan tenangnya, Elta-kun, yang sebelumnya berbicara tanpa henti, langsung berhenti mendadak.
“A, a-a, apa yang kau bicarakan?! Aku dan Miyamoto pacaran?!”
“Aku sebenarnya tidak bermaksud mengolok-olokmu. Tapi, jika seorang anak laki-laki dan perempuan tampaknya akur, maka….”
“Ojou-sama! Seorang pria dan wanita otomatis jatuh cinta hanya karena mereka berinteraksi itu tidak masuk akal!”
Sang butler memerah padam, merasa cemas memikirkan dasar kesalahpahaman seperti apa yang bisa terjadi.
“Tapi El, di kelas kau bersikap dingin pada semua orang, 'kan? Padahal kau dekat dengan Zekka-chan, kau sering mengobrol dengannya—dan yang terpenting, kau menikmati waktu bersamanya!”
“Maaf kalau aku salah paham karena sengaja menanyakan tentang kalian berdua berpacaran,” kata Ketua sambil menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf.
“O-Ojou-sama, jangan minta maaf…. Memang benar aku sering berinteraksi dengannya, tapi….”
Elta-kun diam-diam melirikku. A-apa kau menyuruhku mengatakan sesuatu juga?
“Uh, mengobrol dengan Elta-kun sangat menyenangkan. Meskipun bakal merepotkan kalau orang-orang di sekitar kita salah paham…. Meski begitu, kalau bisa, aku ingin kita terus akur.”
Saat pertama kali bertemu Lilibette, keadaan menjadi agak kacau karena orang lain salah paham setelah dia memanggilku ke belakang gedung olahraga. Aku ingin akur, tetapi kami harus mengoreksi kesalahpahaman.
“Miyamoto….”
Ketika aku berbalik, seolah ingin bertanya apakah ini sudah cukup, pipinya memerah seolah sedang menahan sesuatu.
“A-aku mengerti perasaanmu… jadi, um… aku akan memberimu pakaian butler!”
Dia berseru, sambil dengan antusias meraih tanganku. Apa ini?
“I-itu tanda pertamanan! Kau juga punya pakaian miko dengan cara yang sama, 'kan!”
“B-benar, tapi….”
“Ojou-sama, tunggu sebentar! Ayo, Miyamoto! Mari kita ganti bajumu!”
“Eh, aku akan memakainya sekarang?! T, t—B-Buchou! Tolong aku—!”
Aku diseret begitu saja, tanpa dimintai pendapat, sementara Ketua dengan riang gembira menyaksikan adegan ini berlangsung.
“Kalian berdua menikmati masa muda kalian, ya?”
—JD×D—
Setelah menaiki kereta, kami tiba di tujuan pada sore hari dan mengunjungi restoran keluarga di depan stasiun.
“Pasta, pizza, atau hamburger—Zekka-chan, menurutmu mana yang lebih enak?!”
Ketua, yang sedang menatap menu dengan intens, bertanya padaku dengan nada serius.
“…mbur…baik……ink….”
“M? Hm? Maaf, bisakah kauulangi?”
“Ada apa, Miyamoto? Kau bicara terlalu pelan sampai kami tidak bisa mendengarmu.”
Mereka berdua menatapku dengan heran, jadi aku menjelaskan alasannya dengan jelas.
“Karena, karena—kita terlalu menonjol!”
Baik karyawan maupun pengunjung melirik ke arah kami.
Karena, kau tahu, di sana ada Ketua, seorang gadis cantik dan mungil, dan kami, dua butler yang menemaninya.
Kami terlihat seperti putri pada umumnya yang bepergian secara menyamar bersama para pengawalnya—tentu saja itu akan menarik perhatian semua orang.
“Pakaian butler cocok untukmu! Kau kelihatan sempurna! Tunjukkan kepercayaan diri!”
“Persis seperti yang dikatakan Ojou-sama. Jangan hiraukan pendapat orang lain, bertindaklah dengan bermartabat.”
Mereka berdua menunjukkan pujian, tapi itu justru membuatku malu dengan caranya sendiri.
Setelah menerima pesanan kami dan menghabiskan semuanya, tempat itu pun tampak tenang, lalu Ketua mengangkat topik tertentu.
“—Zekka-chan, sebenarnya, tentang alasan kita datang ke sini hari ini.”
Elta-kun memasang penghalang agar percakapan kami tidak terdengar orang lain, dan akhirnya kami beralih ke topik utama.
“Pertama-tama, aku benar-benar harus menulis apa yang disebut [Laporan Aktivitas] sebagai Iblis.”
Laporan aktivitas Iblis…? Elta-kun menjelaskan kepadaku, yang kepalanya dipenuhi tanda tanya besar.
“Sebenarnya, Ojou-sama harus bersekolah di sekolah tertentu untuk Iblis Kelas Tinggi di Dunia Bawah. Namun, saat ini dia sedang belajar di Jepang sebagai siswa pindahan. Dan kredit yang dibutuhkan di sekolah Iblis itu harus diperoleh melalui kegiatan mandiri di luar studinya di Akademi Kuoh.”
Jika gagal mendapatkan kredit tersebut, kau akan dipaksa pulang. Ini pertama kalinya kudengar, tapi kedengarannya sangat ketat.
“Cara mendapatkan kredit untuk sekolah Iblis adalah dengan mengirimkan laporan ke Dunia Bawah berisi penelitian tentang berbagai monster dan youkai di Jepang. Meskipun kau juga bisa mendapatkannya dengan membuat banyak kontrak dengan manusia dan mengerjakannya….”
“J-jangan menatapku seperti itu, El! Kegiatan-kegiatan gemilangku masih menanti!”
Faktanya, akademi dan sekitarnya adalah wilayah yang berada di bawah yurisdiksi Gremory dan Sitri.
Aku tidak tahu seberapa cakap Ketua dalam pekerjaannya, tapi mungkin sulit untuk berakting untuknya, seorang Iblis dari Keluarga Amon.
“Jadi, Rias-senpai, misalnya, juga mengirimkan laporan aktivitas.”
“Ya. Laporan aktivitasnya bahkan mungkin ditampilkan sebagai contoh yang baik—oh, lihat, ketemu.”
Elta-kun, yang langsung mulai mencari, menunjukkan layar ponselnya kepadaku.
Aku tak bisa membaca bahasa Iblis, tapi menurutnya, itu tentang seorang penjinak monster dari Jepang.
“P-pokoknya, aku mengerti bahwa laporan aktivitas ini sangat penting bagi Buchou.”
Nah, pertanyaannya adalah bagaimana hal itu bertepatan dengan alasan kami datang ke kota ini….
“—Tepat sekali! Alasan aku datang ke sini adalah untuk mencari [Seniman Terhebat di Dunia]!”
S-seniman terhebat di dunia…? Apa ini tiba-tiba…?
“Apakah kau ingat bagaimana ketua Klub Kerajinan Tangan bercerita tentang bazar gereja, saat kita mengajak El berkeliling akademi?”
“Oh, ya, kalau tidak salah, sesuatu tentang berbagai karya yang dipamerkan dan itu menarik….”
Ingatanku perlahan-lahan menjadi lebih jelas. Lagunte-san mengatakan sesuatu tentang betapa kagumnya dia dengan patung megah di sana. Pasti itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam jika seseorang dengan kepribadian yang ceria seperti dia membicarakannya secara proaktif.
“Miyamoto, terkait karya-karya seniman itu, rupanya, karya-karya tersebut juga beredar di tempat-tempat selain dunia manusia.”
Elta-kun, yang tadinya memejamkan mata, hanya membuka satu mata dan menyatakan hal itu dengan nada misterius.
“Kemungkinan besar, ini bukan orang biasa. Meskipun aku tidak punya banyak waktu untuk menyelidiki, aku tidak menemukan satu pun informasi tentang identitas asli mereka. Hanya satu hal yang pasti, karya-karya mereka dijual bukan hanya kepada manusia. Demikian pula, aku tidak tahu saluran distribusi apa yang digunakan, tapi tampaknya beberapa karya mereka bahkan sampai ke Dunia Bawah.”
Namun, kemunculan mereka di bazar gereja setempat… benar-benar muncul di tempat yang paling tidak diduga.
Namun, akhirnya aku mengerti. Misalnya, Rias-senpai sebelumnya melakukan penelitian tentang penjinak monster dan monster-monster yang berada di bawah kendalinya. Dan sebagai balasannya, Ketua mencoba meneliti seniman ini dan karya-karyanya.
“Seniman misterius dan karya-karya agungnya, yang beredar di berbagai spesies dan dunia, ini seharusnya sudah lebih dari cukup untuk sebuah laporan aktivitas.”
Mereka, yang asal-usulnya tidak diketahui, saat ini berada di Jepang dan memiliki hubungan dengan Dunia Bawah melalui karya-karya mereka. Jika semua ini benar, maka aku juga berpikir kau bisa membuat laporan yang menarik dari hal ini.
“Aku terus mengulanginya, tapi masalahnya terletak pada kenyataan bahwa identitas asli sang seniman terlalu sulit untuk dilacak.”
Dalam kasus Rias-senpai, tampaknya dia bertemu langsung dengan penjinak monster, tapi hal itu tampaknya tidak mungkin terjadi pada kita.
“Atau setidaknya begitulah yang kupikirkan….”
Elta-kun memegang dahinya seolah sedang mengatasi sakit kepala.
“Fufufu! Lihatlah, Zekka-chan—!”
Tiba-tiba Ketua mengeluarkan selembar kertas.
“Salah satu dari sedikit tempatku untuk melakukan pekerjaan Iblis! Di situlah aku mendapatkan beberapa berita besar!”
Itu adalah selebaran iklan berwarna mencolok yang bisa dilihat di surat kabar….
“…Hanya untuk mereka yang melihat ini, kau akan mendapatkan karya Seniman Terbaik Dunia secara gratis.”
I-iklan yang mencurigakan sekali. Apakah benar-benar ada orang yang mau membelinya?
Bagi yang berminat, silakan datang ke… tunggu, itu kota tempat kami berasal! T-tidak mungkin?!
“Tentu saja bisa….”
Elta-kun menghela napas panjang.
“Lebih parahnya lagi, alamat yang tertulis setelah nama kota di brosur ini tidak ada.”
Jadi, alamat palsu. Sekarang aku tidak bisa menganggapnya sebagai hal lain selain penipuan.
“Mereka salah memasukkan alamat secara tidak sengaja! Itu sering terjadi, lho!”
Ketua hanya menertawakannya dengan santai. Padahal, salah mencantumkan alamat dalam iklan terdengar seperti kesalahan fatal….
“Dan jika kita tidak tahu di mana letaknya, kita bisa menemukannya! Karena pasti ada di suatu tempat di kota ini!”
“E-err, Buchou, kau bilang ‘menemukan’, tapi bagaimana kita akan…?”
Karena kemarin aku diminta untuk melakukannya, aku segera berusaha untuk menahan Ketua, yang hampir saja lepas kendali.
“Menurutmu kenapa aku punya mulut dan kaki! Untuk berkeliling dan menyelidiki!”
“K-kau mencoba menyelidikinya dengan berjalan-jalan?! S-setidaknya gunakan kekuatan iblis atau semacamnya untuk mempermudah penyelidikan….”
“Saat ini aku belum bisa melakukan sesuatu yang serumit itu!”
Saat itulah Elta-kun diam-diam berbisik ke telingaku bahwa dia rupanya sudah melakukan penyelidikan dengan kekuatan iblis… tetapi tidak membuahkan hasil. Prospek kami semakin suram.
“Kau tidak perlu khawatir, Zekka-chan. Metode ini ada manfaatnya.”
“Dan itu adalah…?”
“Kita bisa berjalan-jalan di sekitar kota sambil mencari sang seniman!”
Dia sudah menggunakan kata ‘sambil’! Dia benar-benar berniat untuk berkeliling makan, minum, dan sebagainya!
Saat kami menelepon kemarin, Elta-kun memang menyebutkan ‘pada dasarnya hanya bermain-main seharian’… jadi itulah yang dia maksud.
“B-benar, bukankah kota ini berada di bawah yurisdiksi Rias-senpai dan Sona-kaichou? Bukankah jika kita berkeliaran sesuka hati akan menimbulkan masalah bagi orang-orang yang bertanggung jawab…?”
“Jangan khawatir! Aku sudah mendapat izin mereka!”
Ketua, yang dengan bangga membusungkan dadanya sambil berkata ‘ehem’, bahkan merencanakan ini… aku benar-benar kalah.
Dalam hatiku meminta maaf kepada Elta-kun, mengatakan bahwa menghentikannya adalah hal yang mustahil bagiku.
“—Di samping itu.”
Ketua berkata dengan nada agak formal.
“Sepertinya aku akan berhasil melewatinya, seperti halnya dengan tes kemampuan, jadi apa pun caranya, aku tidak boleh gagal mendapatkan poin dari laporan aktivitas. Dan dipaksa kembali ke Dunia Bawah—itu akan menjadi pengkhianatan terhadap semua orang yang telah membantuku selama ini.”
Itulah mengapa dia akan melakukan segala yang dia bisa. Mendengar itu, aku….
“Um, Elta-kun.”
“Aku tahu. Aku memang berniat ikut sampai akhir sejak awal.”
Saat kami saling mengangguk sambil tersenyum, Ketua berdiri dan dengan antusias menyatakan.
“Baiklah! Hari ini mari kita bersenang-senang dan melakukan yang terbaik!”
—JD×D—
“Ayo kita segera pergi dan bertanya-tanya di kawasan perbelanjaan!”
Aku diberi tahu bahwa kota ini memiliki kawasan perbelanjaan yang membentang jauh di depan stasiun kereta api.
“Banyak sekali toko dan orang….”
Aku memang sudah menduga ini, karena stasiunnya besar, tetapi tempat ini bahkan lebih ramai dari yang kubayangkan.
Dan bukan hanya penduduk setempat, ada banyak anak muda yang sengaja datang ke sini untuk bermain—
“Sebagai permulaan, mari kita cari beberapa toko menarik dan kunjungi toko-toko itu! Lalu coba bertanya kepada mereka!”
“T-toko-toko yang menarik?”
“Kita sedang mencari seorang seniman, ingat? Daripada berkeliling di tempat-tempat biasa, sebaiknya kita mencari di tempat-tempat yang agak misterius, agak mencurigakan—mencari di tempat-tempat gaib akan mempermudah kita menemukan petunjuk, bukan?”
Oh, begitu! Sesuai dugaan dari Ketua! Dia bilang ‘mencari’, tapi sebenarnya dia memikirkannya matang-matang—.
“Oh! Toko khusus kue sifon! Itu langka dan mencurigakan!”
“Eh, b-begitu ya…?”
“Makan di tempat! Dan semuanya kelihatan lezat! Ayo cepat masuk!”
Ketua tampak berbinar-binar sambil menjilat bibirnya.
Toko itu dipenuhi banyak pelanggan wanita muda dan tidak ada yang tampak gaib… tidak mungkin dia hanya ingin mencobanya, 'kan?! Kita sedang dalam penyelidikan, 'kan?!
“Mari kita patuhi keinginan Ojou-sama. Ini tentu saja penyelidikan yang tepat.”
“…Kedengarannya kurang meyakinkan kalau kau terus memotret tanpa henti, Elta-kun.”
“J-jangan salah paham! Ini demi laporan! Aku sama sekali tidak berpikir toko ini lucu atau semacamnya!”
Ya, ya. Aku mengerti. Kita anggap saja begitu.
“Cepatlah, kalian berdua!”
Atas desakan Ketua, kami masuk ke dalam toko yang harum itu. Sebenarnya, kue-kuenya sangat enak, tapi—.
“Kostum cosplay-nya cantik sekali! Kalau tidak keberatan, boleh foto bareng?!”
Para karyawan wanita dan pelanggan sama-sama berbondong-bondong menghampiri pemuda tampan yang mengenakan seragam butler, dan tiba-tiba semuanya berubah menjadi acara foto bersama.
“Oke! Masuk ke satu barisan! Dilarang menyerobot barisan!”
Dan yang lebih parah lagi, Ketualah yang bertanggung jawab.
Setiap kali sebelum mengambil foto, Elta-kun secara tidak langsung menanyakan tentang sang seniman.
Aku ragu setelah kami memutuskan untuk masuk ke toko kue, tapi majikan dan pelayan mengatur penyelidikan yang luar biasa.
“………”
Hal yang menyedihkan adalah tidak ada seorang pun yang mau berfoto denganku, meskipun aku mengenakan seragam butler yang sama.
Aku mencoba tersenyum manis, tapi semua orang menjadi takut dan menjauh dariku.
…Sepertinya hidupku tidak semanis kue-kue itu.
Setelah keluar dari toko, kami melanjutkan pencarian di kawasan perbelanjaan.
“Ada banyak juga toko pakaian!”
Karena banyak anak muda datang ke sini, ada berbagai macam toko pakaian, mulai dari toko pakaian modis hingga toko pakaian bekas.
“Zekka-chan, kau bilang kau cuma punya kimono, 'kan? Mau pergi ke suatu tempat?”
“Dengan banyaknya pilihan seperti ini, aku tidak yakin harus masuk ke mana….”
Mengunjungi toko pakaian dengan seseorang seusiaku adalah pengalaman pertama bagiku, jadi aku merasa bingung. Saat itulah Elta-kun memberikan sebuah nasihat—.
“Setiap toko memiliki filosofinya sendiri. Menurut teoriku, toko-toko yang memajang barang dagangannya sehingga menonjol di jalan dari pintu masuknya bukanlah toko yang bagus. Ini bukan soal harga, tetapi karena pemilik toko yang benar-benar menghargai pakaian tidak akan memperlakukannya seperti itu. Dengan kata lain, mereka—”
Elta-kun, cara bicaramu itu terlalu ekstrem, tahu?! Kau bicara terlalu cepat sampai aku sama sekali tidak bisa mengerti!
“Err, Elta-kun, aku akan membiarkanmu memilih tokonya….”
Jika dia memang sangat terobsesi, maka tidak ada cara lain selain memercayai selera estetiknya.
Ekspresi Elta-kun seolah bertanya “Apakah itu tidak apa-apa?”, lalu kami mulai berjalan menuju toko yang membuatnya penasaran—.
“…B-bagaimana dengan yang ini?”
Kami berdiri di depan sebuah bangunan mewah dengan warna putih sebagai tema utamanya dan tenda-tenda bergaris yang terpasang di atapnya.
“I-ini mencurigakan, 'kan? Agak berbau gaib, menurutmu?”
Di luar toko terdapat papan nama dengan nama toko yang ditulis dengan huruf-huruf lucu dan dihiasi dengan boneka-boneka kecil….
“Ehm, bagaimana ya mengatakannya, ini sama sekali tidak mencurigakan, atau lebih tepatnya, ini lucu—”
“B-benar! Kelucuan sebanyak ini adalah gaib! Anda setuju, Ojou-sama?!”
“Nah, kalau kau bilang begitu, memang terasa seperti itu. Ayo masuk ke dalam dulu!”
Apakah benar-benar baik-baik saja…?
Setelah mendapat izin dari majikannya, Elta-kun berlari masuk ke toko dengan kecepatan penuh.
“—Luar biasa!”
Di dalam toko, seperti yang bisa dibayangkan, terdapat deretan pakaian feminin dan juga aksesori lucu serta barang-barang lainnya… aku bertanya-tanya apakah aku harus menyebutnya dengan sesuatu yang wajar, tetapi pakaian para karyawan juga sangat feminin.
“Ini yang kucari sejak kemarin—ah, bukan seperti itu! Maksudku, ini sesuatu yang baru saja kuperhatikan beberapa saat yang lalu!”
Tidak, kau baru bilang “Ah, bukan seperti itu”. Pada saat ini, kau tidak perlu menyembunyikan bahwa kau menyukai hal-hal yang lucu, 'kan?
Bocah tampan berseragam butler itu penuh semangat, dan kedok ‘profesional sempurna’-nya mulai runtuh.
Dia tampak linglung sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya saat berbicara dengan para karyawan dan mengatakan “lucu ini, lucu itu”.
“—Terima kasih, Zekka-chan. Karena telah mengizinkan El memilih tokonya.”
Ketua, yang berdiri di sampingku, menyampaikan rasa terima kasihnya dengan nada yang agak formal.
“Ini bukan sesuatu yang patut disyukuri… dan Elta-kun merasa gatal sepanjang waktu.”
“Benar, dia memang tampak seperti itu. Tapi El sendiri tidak akan mengatakannya, jadi kau sangat membantu.”
Ketua menatap Elta-kun dengan mata yang gembira dan entah kenapa terasa hangat.
“B-Buchou? Ada apa?”
Aku bertanya padanya, merasa sedikit tidak sabar karena mungkin dia akhirnya menyadari bahwa Elta-kun adalah seorang perempuan.
“Kau tahu, akhir-akhir ini aku banyak berpikir, dengan kecepatan ini aku akan lulus ujian dengan selamat dan bisa tetap tinggal di dunia manusia—tapi aku tidak berencana untuk segera mendapatkan budak, dan jika itu terjadi, maka aku akan berpisah dengan El.”
“Oh….”
“Hanya saja aku akan mengakhirinya dengan catatan yang bahagia. Jika begitu, aku ingin El memiliki kenangan indah tentang hari-harinya di dunia manusia. Itulah mengapa melihat bagaimana dia menikmati dirinya membuatku bahagia. Dan sepertinya dia akur denganmu, Zekka-chan. Kupikir wajahnya sekarang terlihat lebih cerah daripada saat kita pertama kali bertemu.”
“Mungkinkah kepergian mendadak ke kota ini juga untuk membawa Elta-kun keluar…?”
“Memang benar bahwa laporan aktivitas sangat penting bagiku. Tetapi laporan itu juga memberikan kesempatan yang sempurna.”
Aku menjadi lebih akrab dengan Elta-kun sedikit demi sedikit berkat kami berbagi sebuah rahasia.
Namun, Ketua juga selalu bersamanya, sebagai penguji sekaligus seorang butler.
Meskipun dia tidak akan mengatakannya sendiri—Ketua jelas mengerti apa yang disukai Elta-kun dan dengan dalih dia akan ikut bermain.
“Maaf… aku tidak menyadari kedalamannya sedalam ini….”
Melihat Elta-kun bersenang-senang, aku jadi menyadari pentingnya hari ini yang selama ini tak terbayangkan.
“…Meskipun, jika dipikirkan matang-matang, aku bisa memahami bahwa kita mungkin harus berpisah dalam waktu dekat.”
Tanpa kusadari, aku dengan sengaja meyakinkan diriku sendiri bahwa hari-hari ini akan berlangsung selamanya.
“—Bukankah menyenangkan, meyakinkan diri sendiri bahwa kau bersenang-senang, aku sangat menyukai hal-hal seperti itu.”
Aku kembali merasa sedih, tapi Ketua dengan antusias menghiburku.
“Alih-alih, kau seharusnya lebih menikmati perasaan itu! Dan aku akan melakukan hal yang sama sebisa mungkin!”
Dia menepuk punggungku dengan lembut sambil berkata, “Jadi kau tidak perlu khawatir.”
“Tidak perlu takut! Lagi pula, Zekka-chan, kau sangat kuat—!”
Elta-kun bilang bahwa aku dan Ketua setara….
Namun, aku sepenuhnya menyadari bahwa aku bergantung pada Ketua.
“—Oh, itu lucu!”
“—Ojou-sama, itu benar, tetapi aku tidak yakin mana yang lebih baik di antara keduanya.”
Setelah itu, aku dan Ketua menghampiri Elta-kun dan berdiskusi bersama tentang pakaian mana yang akan kami pilih.
“Aku suka yang sebelah kanan… oh, kalau begitu, Zekka-chan pakai yang sebelah kiri saja?”
“Begitu. Itu ide yang bagus.”
“Eh, aku juga harus memakainya?! Tidak, pakaian secantik ini agak….”
“Ayo, ayo! Jangan menahan diri!”
Meskipun pada akhirnya aku menyerah di bawah tekanan luar biasa dari pasangan majikan-pelayan itu dan terpaksa berganti pakaian untuk kedua kalinya hari ini.
“K-kau terlalu cantik… Zekka-chan! Mulai sekarang mari kita ikuti jalan ini!”
Tidak! Aku tidak bisa lari dengan ini!
—JD×D—
“—Kami tidak menemukan apa pun!”
Saat kami duduk di bangku di sebuah taman kecil, Ketua menatap langit, sambil mengatakan bahwa kami tidak menemukan petunjuk apa pun.
Langit biru itu perlahan-lahan berubah warna menjadi oranye.
“Wajar saja, Ojou-sama. Kredibilitas selebaran itu terlalu diragukan.”
“K-kami tidak menemukan satu pun petunjuk setelah mencari ke sana kemari, jadi mungkin ini memang terlalu berlebihan….”
Setelah menikmati berjalan-jalan di sekitar kota, kami pun mulai melakukan penyelidikan dengan sungguh-sungguh.
Elta-kun juga mencoba membantu Ketua, jadi pada akhirnya dia menggunakan kekuatan iblis untuk melakukan pencarian, tapi itu pun tidak membuahkan hasil.
“Aku penasaran apakah Seniman Terbaik di Dunia sudah meninggalkan kota ini.”
Ketua melipat tangannya sambil mendesah kesal.
“—Hyahaha! Akhirnya kutemukan kau!”
Saat kami sedang tenggelam dalam kekhawatiran kami di sebuah bangku, seorang gadis memanggil kami dengan suara yang sangat keras.
Saat kami serentak mengangkat pandangan, ada seorang gadis berlari ke arah kami yang tampak seperti siswi SMP.
“—Jepang jauh sekali! Kawasan perbelanjaannya terlalu besar! Banyak makanan enak! Sangat merepotkan!”
Dia mengenakan seragam pelaut putih. Matanya berkilauan ganas, gerakannya kasar meskipun bertubuh kecil, dan energi terpancar dari seluruh tubuhnya—dia tampak seperti babi hutan.
“………!”
Ajaran nenekku bahwa “Para pendekar pedang selalu siap bertempur” membuatku berdiri tegak.
“Zekka-chan?”
Ketua menatapku dengan bingung. Aku tidak tahu siapa gadis yang mendekat itu, tetapi entah kenapa aku punya firasat buruk—dan langsung memberi isyarat pada Elta-kun dengan tatapan mata.
“…Apakah ini lelucon? Menyerang kita di siang bolong dengan begitu banyak orang di sekitar?”
Kebetulan, kami adalah satu-satunya orang di taman saat itu, tapi, seperti yang dia katakan, tidak ada tanda-tanda adanya penghalang yang dipasang.
“Aku dari Golongan Pahlawan!”
Hanya beberapa meter lagi sebelum bersentuhan. Gadis yang melompat itu meraung dengan senyum ganas.
“Baik anak yang menangis maupun yang tidak, aku akan membungkam mereka dengan pukulanku, Wu Song-samaaaaaaaa yang hebat dan tak terkalahkan!”
Hal itu berbeda dengan pertandingan yang biasanya diberi aba-aba sebelum dimulai.
Pertempuran adalah sesuatu yang bisa dimulai secara tiba-tiba tanpa peringatan.
“Sebagai seorang pahlawan, aku menyebut namaku sendiri! Kalau begitu—!”
Sungguh tindakan nekat. Dia menunjukkan kecepatan yang sangat tinggi sehingga seolah-olah dia menghilang sesaat.
Orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Wu Song tiba-tiba melancarkan tendangan menjatuhkan ke arah Ketua.
“Makan ini, Iblis bodoh! Tendangan eksekusi kejahataaaaaaaan!”
Dia bilang akan membungkam dengan pukulan tapi kemudian malah menendang, kata-kata dan tindakannya benar-benar tidak konsisten…!
“Wah—?!”
Beberapa saat sebelum serangan langsung itu terjadi, kedua lenganku bergerak, menghentikan dropkick-nya.
Rok putih bersihnya tersingkap sepenuhnya, dan di mataku tampak seperti pakaian dalam merah yang mencolok.
…Celana dalam ini bukanlah sesuatu yang pantas dikenakan oleh siswi SMP!
Namun, dia sendiri tidak mengindahkannya, malah dia gembira karena tendangannya berhasil dihentikan dan menjilat bibirnya. Kemudian aku mencoba meraih pergelangan kakinya, tetapi dia dengan cepat melakukan salto, menjauhkan diri.
“Gya-haha! Reaksi yang bagus! Seperti yang diberitakan, kau memang sangat kuat—Miyamoto Zekka!”
Tanpa mengalihkan pandangan dari musuh, aku berpura-pura tenang dan mendesak Elta-kun untuk mundur.
“…Miyamoto. Baik. Ojou-sama, serahkan saja padanya. Kita mundur!”
“T-tunggu! Bukankah dia baru saja mengatakan sesuatu tentang Golongan Pahlawan?! Lalu….”
Ketua bingung dengan perkembangan yang begitu cepat dan enggan meninggalkanku sendirian, tetapi—.
“—Masih mengobrol sampai di sini? Bukankah penilaianmu terlalu lambat?”
Wu Song, yang menyebut dirinya pahlawan, menatap kami seolah sedang mengincar mangsanya.
“Meskipun aku percaya bahwa orang yang tiba-tiba melancarkan dropkick memiliki masalah dengan penilaiannya.”
“Itu hanya sapaan. Aku menunjukkan celana dalamku sebagai permintaan maaf, jadi anggap saja impas. Atau haruskah aku menunjukkan oppai-ku?”
“O, oppa…kenapa kau tiba-tiba membahas ini!”
“Kau adalah Oppai Samurai, 'kan? Ahli pedang payudara ganda? Bukankah kau jatuh cinta pada oppai?”
S-sungguh tidak sopan! Begitukah cara mereka memandangku di Golongan Pahlawan?!
“Ini taman di pusat kota, kau tidak keberatan jika orang lain melihat kita?”
“Ha! Orang yang memakai kostum butler yang sangat memalukan seperti ini malah yang berhak bicara!”
“Sangat me… ini pakaian resmiku! Tak ada alasan bagiku untuk dihina!”
Menanggapi ucapan tajam Elta-kun, gadis itu mengangkat bahunya, seolah-olah menganggap enteng kami.
“Memang benar, orang-orang di atas sana menyuruhku untuk sebisa mungkin tidak terlihat. Urusan orang dewasa atau semacamnya. Tapi kau tahu—itu hanya berlaku ketika sesama pengguna kemampuan supernatural atau makhluk supernatural bertarung, 'kan?”
“Maksudmu apa…?”
“Kali ini aku tidak akan menggunakan Sacred Gear-ku. Aura juga. Dan tentu saja aku tidak akan menggunakan senjata apa pun—jadi ini hanyalah perkelahian tangan kosong, antara murid SMP biasa!”
Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang dan tertawa terbahak-bahak.
“Jadi bagaimana dengan ini! Tidak perlu mengusir orang jika itu hanya perkelahian biasa! Aku pintar sekali, 'kan!”
Dia agak polos… menurutku begitu, tapi dia bertindak terlalu lancang dan aku tak bisa membalasnya.
Elta-kun, yang berdiri di sampingku, menghela napas dan mengubah strateginya, mengatakan bahwa dia harus membuat penghalang sendiri.
“Ayo, kita berkelahi! Kalau kau menyerah, serahkan chibi berambut pink dengan payudara kecil itu!”
“‘Chibi berambut pink dengan payudara kecil’?! Apa kau membicarakan aku?! Tinggi dan ukuran payudara kita tidak jauh berbeda!”
“Hah?! Tinggi badan kita berbeda jauh sekali, seperti langit dan bumi!”
“T-tinggi badanku seratus lima puluh dua sentimeter!”
“Dan tinggiku seratus lima puluh tiga! Ini, kemenangan telak bagiku! Dan kekalahan telak bagimu!”
“Lalu bagaimana dengan payudara…!”
“Itu… hei, tunjukkan dengan isyarat….”
Mereka berdua melakukan beberapa gerakan aneh…oh, Wu Song sedang merayakan.
Rupanya, pertempuran telah usai, tapi tak ada langit maupun bumi, hanya pertengkaran yang sia-sia.
“Apa tujuanmu? Kenapa Golongan Pahlawan mengejar Ojou-sama?”
“Aku hanya ingin bertarung! Aku tidak tahu detail-detail sepele dan aku juga tidak peduli!”
Dia mempersiapkan kedua tinjunya. Seperti yang dia nyatakan, tanpa aura atau apa pun.
“—Kita sudah banyak menggerakkan mulut kita, sekarang mari kita gerakkan anggota tubuh kita lebih banyak lagi!”
Wu Song menerobos maju lurus. Dia mengincar Ketua, tetapi aku menghalangi jalannya.
“Menyenangkan! Hibur aku, Samurai!”
Tendangan berputarnya sangat dahsyat, tetapi aku berhasil menangkisnya dengan tangan kananku.
Dia tidak peduli dan memperpendek jarak, menyerang dengan tangannya seolah-olah itu pedang—gerakan ini berasal dari seni bela diri Cina!
“Kau merebut Shi Wengong dariku! Dia adalah mangsaku!”
Omong-omong soal Shi Wengong, dia adalah pahlawan yang pernah kulawan sebelum pindah sekolah. Sepertinya ada sesuatu di antara dia dan Wu Song.
Rentetan serangan dahsyat bertubi-tubi, aku menangkis semuanya menggunakan kedua tangan, tapi—.
“Kau tidak akan menang melawanku dengan terus-terusan bertahan!”
Dengan memanfaatkan kekuatan fisiknya yang luar biasa, Wu Song melompat dan kemudian melancarkan serangan bertubi-tubi dari udara.
“Ora-ora-ora-ora-ora-ora-ora-ora-ora-onya—aduh! Aku menggigit lidahku, oraaaa!”
Sedikit demi sedikit pertahananku menjadi tidak mampu menanggapi badai serangan beruntun.
“Ha! Hanya itu yang kau punya, Samurai! Kalau begitu, aku akan menyelesaikan ini dengan teknik super-ultra-mematikanku!”
Menilai bahwa Miyamoto Zekka tidak memiliki ruang untuk melakukan serangan balik dan menganggap ini sebagai kesempatannya, dia melancarkan tendangan dengan ayunan besar sebelum melancarkan serangan.
“—Teknik rahasia! Langkah Lingkaran Giok dan Tendangan Bebek Mandarin!”
Sungguh teknik tendangan level master. Keadaan mungkin akan menjadi kacau jika dia tidak mengumumkan bahwa dia menggunakan teknik mematikan itu.
“Niten Ichi-ryuu, Putri Malu!”
Sambil menyesuaikan postur dan waktunya, aku menghentikan kakinya dengan tangan kananku.
“Tendanganku tak bisa dihentikan oleh sesuatu seperti—dogyabaaaaaaaa?!”
Dalam sekejap dia terlempar jauh ke belakang. Dia meraih sebuah palang besi di taman bermain, berputar beberapa kali di sekelilingnya, lalu melesat menuju perosotan, meluncur dari perosotan itu dengan bunyi keras ke dalam kotak pasir.
…Baik kata-kata maupun tindakannya berisik, dan cara dia dipukuli juga berisik.
“Elta-kun!”
Namun, dia bukanlah lawan yang akan menyerah begitu saja. Aku berteriak bahwa kita harus segera menjauh darinya.
“…Buha! T-tidak buruk, Samurai!”
Wu Song berdiri dengan goyah, seluruh tubuhnya dipenuhi pasir. Seperti yang kukira, dia memang tangguh.
“A-aku pernah mendengarnya. Teknik ini… ini adalah aiki yang memantulkan kekuatan penuh lawan, 'kan?”
Aku mempelajarinya dengan melihat nenek menggunakannya.
Dan aku hanya berhasil menyesuaikan waktunya karena tendangan itu memiliki gerakan persiapan yang panjang. Keahlianku tidak cukup untuk menggunakannya dalam pertempuran biasa.
“Kalau begitu, aku juga akan serius—tunggu, hei! Mereka tidak ada di sini!”
Saat Wu Song tenggelam dalam dunianya sendiri, kami sudah melarikan diri dari sana.
Penilaian kami tidak selambat itu sehingga kami akan bermain denganmu saat ini!
—JD×D—
Setelah menyelinap keluar dari taman, kami berlari sekuat tenaga menyeberangi jalan belakang yang sepi.
“—Aku akan jadi garda depan! Miyamoto, kuserahkan bagian belakang padamu! Kita harus menjauh dari pahlawan itu dulu!”
Elta-kun, yang berada di depan, memberi instruksi kepadaku, yang berada di belakang.
“A-apa yang harus kulakukan?! Tidak ada yang bisa kulakukan—”
“Ojou-sama, tolong, tetaplah di antara kami! Dan jangan sampai formasi kita berantakan!”
Karena dialah yang seharusnya kami lindungi, Ketua terjepit di antara aku dan Elta-kun. Kemungkinan besar, melihat kekuatan Wu Song beberapa waktu lalu… dia juga menyimpulkan bahwa itu akan terlalu berat bagi Ketua saat ini.
“Untuk sekarang, ayo kita ke stasiun! Ada banyak orang di sana! Musuh tidak akan bisa—”
Saat Elta-kun hendak menyelesaikan kalimatnya, kami semua tanpa sadar berhenti.
“—Apa, ini?”
Ketua bergumam, tercengang. Kami, yang sedang dalam pelarian, tiba-tiba sampai di sebuah plaza yang asing bagi kami.
Rumah-rumah dan toko-toko yang seharusnya berada di sekitar kami lenyap, digantikan oleh bangunan-bangunan kuno.
Patung-patung batu yang megah berjejer seolah mengelilingi kami di plaza berbentuk oval yang indah ini.
Namun hal yang paling membuatku terpesona adalah adanya sesuatu yang terlihat tetapi berada jauh, sangat besar….
“—Menara itu ditinggalkan oleh orang-orang yang bercita-cita mencapai langit dan impian mereka hancur.”
Seorang gadis cantik berkacamata berdiri di tengah plaza, dengan sebuah menara menjulang di belakangnya.
“Saat ini masih dalam proses pembangunan. Tapi, suatu hari nanti aku akan menyelesaikannya. Karena itulah misiku sebagai seorang seniman.”
Dia mengenakan pakaian putih yang sama dengan Wu Song. Seperti perwujudan marmer yang indah, agak agung dan sulit didekati, dingin terhadap siapa pun yang berinteraksi dengannya… tergantung pada orangnya, dia mungkin dapat digambarkan dalam satu kata sebagai ‘intelektual’, bagaimanapun juga, dia tampak seperti seseorang yang tidak bisa kauperlakukan sembarangan. Payudara besar yang tersembunyi di baliknya juga membutuhkan perhatian khusus.
“Akulah Seniman Terhebat di Dunia, Michelangelo.”
Sang genius hebat yang dipuji sebagai [Yang Ilahi] selama Renaisans. Semua orang mengenal nama ini.
Dan kemungkinan besar, tidak, tanpa diragukan lagi berdasarkan keadaan, dia berasal dari Golongan Pahlawan sama seperti Wu Song.
[—Menara Babel, ya. Pantas saja aku terbangun di era sekarang.]
Yang pertama bersuara adalah Tensei di dalam dadaku.
[Menerima hukuman Tuhan, namun tetap utuh tanpa membusuk.]
“Jadi kau adalah pecahan dari Paradise Lost. Sacred Gear ini, [Tower of Babel (Menara Khayalan Raksasa)], sedang dibangun kembali olehku.”
Tensei memberi tahuku bahwa kita berada di dalam penghalang yang diciptakan oleh Sacred Gear miliknya.
[Dan ini bukan Sacred Gear biasa. Sama seperti aku, ini belum lengkap, tapi dalam kata-kata wanita Malaikat Jatuh itu, ini dapat disebut [Extra Longinus]. Jika dalam keadaan lengkap—ia bahkan dapat menghancurkan dewa atau Maou.]
“Sayangnya, penyelesaian menara ini akan membutuhkan waktu. Namun sementara itu, pihak lain akan bertindak.”
[Pihak lain, ya…lalu kupikir… Apa yang ingin kalian capai, mengumpulkan senjata kuno seperti kami sekarang itu sudah terlambat….]
Dia mengabaikan kami dan bertindak seolah-olah dia tidak melihat siapa pun selain Tensei.
“D-dia juga dari Golongan Pahlawan?! Michelangelo, kalau aku ingat betul, dialah yang menggambar [Perjamuan Terakhir]….”
Mungkin dia ingin melanjutkan percakapan atau mungkin hanya ingin mengalihkan perhatiannya, tetapi pada akhirnya dia tanpa sengaja mengucapkan hal itu.
“Salaaaaaaaaah! Yang digambar leluhurku adalah [Pengadilan Terakhir]—!”
Michelangelo, yang tidak melihat siapa pun kecuali Tensei, menjadi sangat marah. Penampilannya berubah dari marmer menjadi lava. Aura kemarahan membuncah darinya…. Nada dan sikapnya berubah, dia seperti orang yang berbeda dibandingkan beberapa detik sebelumnya?!
“Pelajari kembali sejarah seni! [Perjamuan Terakhir] dilukis oleh leluhur bocah terkutuk itu, da, da, da Vin—aaaaaaa, bahkan menyebut nama itu saja sudah menjengkelkan!” Dia merintih, memeluk bagian atas tubuhnya… eh, payudaranya bergetar hebat.
“Haa, haa, haa, amarah ini membuat jantungku berdebar kencang… cepat, aku harus menciptakan…!”
Dia memanggil sebuah bongkahan batu dan banyak pahat dari dimensi lain.
Lalu, sambil memegang pahat seolah-olah itu adalah senjatanya, dia memulai perjuangannya melawan batu.
“—Huf, cukup dulu. Kurasa ini akan menjadi serpentinata yang indah.”
Tekniknya sungguh luar biasa. Bahkan dalam waktu yang sangat singkat ini, dia membuat sketsa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Meskipun mungkin belum sempurna, kau telah menyaksikan karyaku, jadi anggaplah itu sebagai keberuntungan—tapi hiburan berakhir di sini.”
Dia berkata dengan wajah serius, tetapi seniman benar-benar luar biasa karena mampu menenangkan diri dengan menciptakan sesuatu.
Namun setelah hiburan usai, semua aktor berkumpul—ya, gadis berisik itu muncul.
“Aku dipanggil dan datang! Sekarang, gemetarlah ketakutan! Wu Song-sama telah ti—guhe?!”
Aku tidak tahu dari mana gadis sombong ini datang, tapi tiba-tiba dia membentur tanah dengan kepala duluan dengan keras.
“Sakiiiiiit! Jangan macam-macam denganku, Miche! Apa kau berencana membuat otak geniusku jadi bodoh?!”
“Itu tidak enak dilihat, tenangkan dirimu. Kau sudah benar-benar idiot, jadi kau tidak mungkin menjadi lebih bodoh lagi.”
Siapa yang tadi kehilangan ketenangannya, ya…. Bagaimanapun juga, Wu Song, yang benar-benar dibuat bodoh, terlibat perdebatan sengit dengannya. Memanfaatkan kesempatan itu, Elta-kun memanggilku dengan suara kecil.
“Penghalang ini sangat kuat. Aku akan mencoba memindahkan kita keluar dari sini menggunakan teleportasi, tapi….”
“…Jadi, aku mengulur waktu, 'kan?”
Kekuatan musuh yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi jika kita memprioritaskan keselamatan Ketua, maka aku ingin menghindari pertempuran.
“Um, kalian berdua, pada akhirnya aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi….”
Ketua belum memahami situasinya, tapi kami pun tidak tahu persis mengapa dia menjadi target.
“T-tapi mereka dari Golongan Pahlawan, dan kalau begitu kita harus bersembunyi di suatu tempat untuk sementara waktu—”
Karena tidak sabar, dia berbicara dengan cepat, menyarankan untuk mencari perlindungan di balik tempat berlindung untuk sementara waktu.
Lalu dengan ceroboh berlari menuju patung-patung batu para prajurit, yang langsung menarik perhatiannya, dan mencoba bersembunyi di baliknya—.
“…! Ojou-sama!”
Elta-kun membatalkan persiapan teleportasi dan melangkah maju, melindungi Ketua.
Dalam sekejap darah terciprat dari seragam butler-nya.
“““…!”””
Yang mengejutkan kami, lengan kiri Elta-kun terluka parah akibat sabetan pedang dari patung batu seorang prajurit.
“Guh…! Patungnya bergerak…?!”
Dia menekan lengannya ke bawah, wajahnya meringis kesakitan. Aku segera menghancurkan patung itu dengan Tensei, tapi….
“El! Kau berdarah!” “Tidak masalah, luka seperti ini akan berhenti berdarah dalam waktu singkat.”
Menahan keinginan untuk bergegas menghampirinya, aku menghadapi para pahlawan dengan cara untuk melindungi mereka berdua.
“Awalnya, penyerangan itu direncanakan untuk waktu yang agak lebih lambat, tapi—”
Michelangelo mengakhiri pertengkarannya dengan Wu Song dan menyatakan dengan nada dingin.
“Berhasil memancingmu keluar dengan begitu mudah sungguh tak terduga. Kau mungkin datang ke kota ini dengan tujuan lain selain mencariku, satu-satunya kesalahanku adalah bersekutu dengan bocah liar ini.”
Sekilas melirik Elta-kun, aku melihatnya mengangguk meskipun kesakitan—matanya menunjukkan bahwa dia akan memberikan dukungan dan bersiap untuk teleportasi. Aku meminta bantuan gadis itu untuk mengulur waktu.
“…Kenapa kau bersusah payah datang ke bazar gereja?”
“Justru agar kau bertanya-tanya [Kenapa?]. Orang-orang tidak bisa menekan rasa ingin tahu mereka. Namun, diselidiki oleh Gremory atau organisasi terkait akan merepotkan, jadi aku berhati-hati agar rumor tidak menyebar terlalu luas.”
Aku mendengar bahwa Golongan Pahlawan dianggap sebagai organisasi teroris. Biasanya, karya salah satu anggotanya tidak akan muncul di depan umum—tapi karya-karya itu beredar di berbagai tempat dan bahkan sebuah selebaran dikirim ke tempat kerja Ketua. Jelas sekali dia unggul tidak hanya dalam memanipulasi penghalang ini, tetapi juga informasi.
“Hei, Miche! Berhenti mengoceh tanpa henti, saatnya bertarung, bertarung! Ayo cepat kita mulai!”
“Tunggu sebentar, bocah liar. Kita belum mencapai tujuan kita.”
Dengan tatapan tajam, dia menyatakan alasan mereka mengejar Ketua.
“—Kami sedang mencari senjata yang disebut [Malebranche (Cakar Jahat)].”
Malebran, che…?
“Sebuah warisan dari Empat Maou Agung generasi pertama. Namun, untuk saat ini kami belum yakin apakah mereka benar-benar ada.”
Dilihat dari cara bicaranya, secara intuitif aku berpikir bahwa dia sendiri sebenarnya tidak tahu banyak.
Lebih tepatnya seperti “Kemungkinan besar senjata-senjata ini sangat ampuh, jadi mari kita cari”…begitulah yang kurasakan.
“Haa? Ada apa dengan hal-hal [Malebranche] ini?! Ini pertama kalinya bagiku?!”
“Tentu saja. Bahkan di antara Golongan Pahlawan, hanya Kaisar Agung dan para eksekutif yang dekat dengannya yang mengetahui tentang [Malebranche]. Akan merepotkan jika Cao Cao mengetahuinya, jadi kami mengendalikan informasi dengan sempurna… tapi, hari ini situasinya akan berubah drastis. Dan itu berarti ini adalah kesempatan sempurna bagi kami untuk bergerak.”
Jadi, Michelangelo, yang memberi tahu kami hal ini, adalah bawahan langsung dari Kaisar Agung ini.
“Kaisar Agung… aku tidak tahu siapa dia, tapi kami tidak mengetahui beberapa hal yang tidak diketahui berdasarkan rumor yang tidak berdasar.”
“Sekarang aku jadi penasaran tentang itu.”
Tatapan Michelangelo beralih ke arah Ketua.
“Avi Amon, kau seharusnya tahu sesuatu, bukan?”
“A-aku?”
Saat tiba-tiba ditunjuk, Ketua menjadi bingung.
“Percuma saja pura-pura bodoh. Atau haruskah kupanggil kau begini—Avi Agaliarept.”
Agaliarept… kurasa aku pernah mendengar nama ini di suatu tempat….
“Omong kosong!”
Orang yang berseru dari belakang adalah Elta-kun. Aku menanyakan tentang Agaliarept melalui ekspresi wajahku.
“Keluarga Besar yang tersembunyi dalam bayang-bayang, salah satu dari Enam Keluarga Setia Lucifer, keluarga yang mengetahui segala macam [Rahasia] Dunia Bawah.”
Sambil menahan rasa sakit di lengannya, Elta-kun berbicara sambil diam-diam mempersiapkan teleportasi.
“Namun, Keluarga Agaliarept sudah punah sejak lama, mereka sudah tidak ada lagi.”
Tak kusangka majikanku berasal dari Enam Keluarga yang sama denganku. Mungkin, pikiran yang mengganggu ini membuat suaranya sedikit bergetar.
“Pertama-tama, bahkan aku pun sama sekali tidak tahu apa-apa tentang [Malebranche]. Dan bagaimana dan dari siapa kau, seorang manusia, bahkan bukan Iblis dari Enam Keluarga, mengetahui bahwa Ojou-sama adalah keturunan dari Keluarga Agaliarept….”
Namun kemudian Elta-kun, seolah menyadari jawaban atas pertanyaannya sendiri, tiba-tiba mengangkat kepalanya.
“…Tidak mungkin, Keluarga Nebiros?”
Juga salah satu dari Enam Keluarga, Keluarga Nebiros. Dia menggumamkan nama sebuah keluarga yang keberadaannya tidak diketahui.
Sang seniman tetap diam mendengar kata-katanya. Sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak akan memberi tahu kami jawabannya.
Akhirnya, suara Ketua yang tercengang, yang dihadapkan pada kebenaran tentang garis keturunannya sendiri, bergema di seluruh plaza.
“Aku adalah keturunan dari Keluarga Agaliarept…?”
—JD×D—
“—Sepertinya kau benar-benar tidak tahu apa-apa, baik tentang asal usulmu maupun warisan Maou.”
Michelangelo menghela napas setelah menatap Ketua dengan saksama untuk beberapa saat.
Dia menyimpulkan tanpa ragu-ragu, mungkinkah penghalang ini memungkinkan untuk membaca pikiran—.
“Aku seorang seniman. Hal ini sudah jelas bagiku hanya dengan mengamati ekspresi wajah atau gerakan otot.”
Dia buru-buru menekankan betapa tajamnya matanya. Seolah-olah dia tidak ingin hal itu disalahartikan sebagai kekuatan Sacred Gear-nya.
“Kami berharap seorang penyintas dari keluarga yang pernah memerintah [Rahasia] Dunia Bawah mungkin memiliki beberapa petunjuk, tetapi tampaknya sia-sia. Dan Kaisar Agung memerintahkan bahwa jika dia telah memenuhi tujuannya—kita perlu menyingkirkannya.”
Dia memberi isyarat hanya dengan kata-kata kepada Wu Song, yang berdiri di dekatnya.
“Akhirnya giliranmu.”
“Giliranmu, omong kosong, kau begitu sombongnya terus bicara sampai aku hampir terti—”
Saat itu Wu Song diliputi serangan kekuatan iblis raksasa. Elta-kun yang melancarkannya.
“…Kau ceroboh mengira aku tidak akan menyerang karena cedera, sekarang salah satu musuh tidak mampu bertarung.”
Ketua, yang seharusnya kami jaga, menjadi bingung dan tak bisa bergerak. Jadi, untuk membantuku meskipun hanya sedikit, Elta-kun—.
“—Hyahaha. Itu memang kekuatan yang luar biasa, tapi melawan aku ini tidak akan cukup.”
Sebuah suara aneh bergema dari dalam kepulan debu, dan gadis yang tergeletak di tanah dengan wajah menghadap ke atas itu perlahan berdiri.
“I-ini…angka-angka…di dalam lingkaran sihir?”
Tanpa disadari, angka-angka besar muncul di tanah di bawahnya.
Pada awalnya ditampilkan [X], kemudian [IX], [VIII] dan [VII], turun satu per satu.
Dengan touki-nya, gadis itu menyingkirkan awan debu, tubuhnya yang babak belur, lalu mengeluarkan dan menyiapkan pisau biksu Buddha.
“—Saatnya ronde kedua! Hentikan hitungan!”
Pada saat itu angka-angka di bawah kakinya menghilang dan luka yang ia terima dari Elta-kun… benar-benar hilang?!
“Sacred Gear-ku adalah [Ten Count (Sepuluh Tahap Kekuatan Tempur)]! Jika aku bisa berdiri dalam sepuluh detik, aku akan pulih sepenuhnya!”
Ini kemungkinan adalah tipe pemulihan yang langka bahkan di antara Sacred Gear. Tapi siapa sangka penggunanya adalah seorang pecandu pertempuran.
Namun, aku tidak boleh panik. Carilah kelemahan lawan—aku teringat apa yang dikatakan Kaisar Api.
“…Jika aku hanya memotong lengan atau kaki misalnya… apakah akan langsung sembuh… ada kemungkinan bahwa serangkaian jatuh lalu bangun adalah kondisi yang diperlukan… berapa banyak penggunaan yang menjadi batasnya… atau, bagaimana kalau aku menggunakan teknik penyematan….”
Apa yang akan terjadi jika dia tidak bisa bangun dalam waktu sepuluh detik?
“…Kemampuan luar biasa yang memungkinkan pemulihan penuh secara instan, jadi pasti ada beberapa keterbatasan….”
Sembari menganalisis musuh, aku mengintip Elta-kun, tetapi karena serangan mendadaknya gagal, dia sibuk dengan teleportasi.
Ini pasti penghalang yang sangat kokoh, jadi seperti yang diharapkan, kemungkinan kita keluar dari sini dalam waktu dekat sangatlah rendah.
—Yang terpenting, kondisi Ketua saat ini tidak baik. Ini pertama kali aku melihatnya menunjukkan wajah seperti itu.
Entah itu dua lawan satu, tidak masalah, hanya aku yang bisa mempertahankan posisi itu.
“Jangan gemetar ketakutan—aku, kuat.”
Merenungkan kata-kata yang baru saja diucapkan Ketua, aku melepaskan aura sekaligus.
“Wah! Touki yang hebat! Hei, Miche! Akankah penghalangmu bertahan?!”
“Akan bertahan. Dan aku tidak akan membiarkan kalian berteleportasi semudah itu. Meski begitu… kekuatan sebesar ini melampaui dugaan.”
“Dengan laju seperti ini, jumlahnya akan meningkat lebih jauh lagi! Dia benar-benar monster! Dia semakin membara!”
Tidak diragukan lagi, ini akan berubah menjadi pertempuran sampai mati. Namun, diriku saat ini memiliki rencana rahasia kecil.
“…Sepertinya kau sedang merencanakan sesuatu.”
Rupanya, sang seniman berhasil menangkap sesuatu dengan mengamatiku—aku perlu lebih berhati-hati dalam ekspresi yang kubuat.
“Aku tidak merencanakan apa pun. Hanya merenungkan tentang oppai.”
Beberapa hari lalu, aku gagal mengecilkan oppai-ku dengan senjutsu.
Namun, jika aku memanfaatkan kegagalan itu sebagai teknik pertempuran, maka kemenangan mungkin bisa diraih.
“Oppa…maksudmu apa?”
“Oppai tetaplah oppai. Dan kau juga memilikinya. Bahkan besar sekali.”
“H-hu… g-gumamanmu mustahil dipahami.”
Sambil menyembunyikan payudaranya, dia menunjukkan tanda ketidaknyamanan, tetapi kemudian segera menenangkan diri.
“…Omong-omong, apakah saudaramu dalam keadaan sehat, Avi Amon?”
Di tengah situasi yang benar-benar menegangkan, dia tiba-tiba membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan.
Mendengar kata ‘saudara’, Ketua menggerakkan bahunya.
“Apakah kau sedang membicarakan Wiel-nii…?”
Seingatku, dia adalah kakak tertua dan Sieste-san pernah menyebutkan bahwa dia menghilang dalam bentrokan melawan Golongan Pahlawan—.
“Saat menyelidiki [Malebranche], kami membutuhkan beberapa petunjuk tentang Keluarga Agaliarept. Jadi kami terbagi menjadi dua kelompok dan bertindak secara terpisah. Wu Song dan aku bersinggungan denganmu.”
“Lalu,” lanjutnya.
“Samurai kami itu menyerang wilayah Amon, tempat seharusnya rumahmu berada… maaf, maksudku, pergi untuk menyelidikinya. Meskipun kami masih belum mendengar kabar darinya. Jadi, jika kami tahu apa yang terjadi pada kakakmu, kami juga akan tahu hasil operasi itu.”
Mengesampingkan silsilah Ketua, kudengar bahwa tempat dia dibesarkan, tempat dia menghabiskan waktu bersama ibunya, terletak di wilayah Amon.
Maka wajar untuk menduga bahwa mungkin ada beberapa petunjuk di dalam wilayah Amon tempat tinggalnya.
Saat itulah beberapa Samurai menyusup ke Dunia Bawah dan bentrok dengan kakaknya Ketua—.
“Lalu, karena akulah Wiel-nii….”
Ketua menyalahkan dirinya sendiri. Dan dengan perubahan sikap yang drastis, akhirnya dia maju untuk berjuang.
Michelangelo…! Dia sengaja memprovokasi Ketua untuk menyeretnya ke dalam pertempuran…!
“Zekka-chan. Ini adalah pertempuran yang tidak bisa kulewatkan.”
Terlihat jelas gelisah, dia dengan gegabah mengambil dua, lalu tiga langkah, mendekati para pahlawan.
“Bu-Buchou…! Tunggu…! Dalam situasi seperti ini, kau harus tenang…!”
Aku tahu bahwa dia selalu begadang, berlatih, dan kemampuan menggunakan pedangnya meningkat pesat.
Tapi, kalau boleh jujur, untuk melawan mereka berdua, Ketua saat ini—yang kurang kuat.
“A-aku akan…”
Aku ragu untuk angkat bicara. Karena apa yang mesti kukatakan?
—Kekuatanmu tidak mencukupi.
—Kita punya peluang lebih besar untuk menang jika aku bertarung sendirian.
—Tetaplah di belakang dengan tenang, aku akan melindungimu.
Mengingat langkah terbaik untuk memenangkan pertempuran ini, mungkin seharusnya aku mengatakannya.
Namun, bukankah kebenaran ini terlalu berat untuk diterima oleh Ketua yang bercita-cita menjadi yang terkuat?
Aku takut. Takut aku akan menyakitinya dengan pisau yang disebut ‘kata-kata’….
“—Aku tidak akan selalu menjadi orang yang dilindungi!”
Ketua mengabaikanku dan dengan gegabah menyerbu para pahlawan.
“—Wahai patung-patung yang tertidur, hancurkan musuhmu.”
Atas perintah Michelangelo, patung-patung batu di seberang plaza mulai bergerak serentak, sebagian besar mengejarku. Terlebih lagi, sebagian kecil dari mereka dengan jahat mengejar Elta-kun. Seberapa pun aku menebas mereka, jumlah mereka yang banyak menghambatku—aku tak bisa mengejar Ketua yang terus melaju!
Dia, setelah menghancurkan beberapa patung yang mengejarnya dan menerobos masuk, hendak mencapai Michelangelo dengan pedang pendeknya.
“—Wahai patung-patung, tusuklah musuhmu.”
Begitu dia mengucapkan itu, secercah cahaya muncul di menara besar yang terlihat dari kejauhan.
—Saat aku menyadarinya, sebuah anak panah menembus dada Ketua.
Dia ambruk, menghadap langit dan darah merah perlahan merembes ke pakaiannya.
“Buchou!”
Entah bagaimana aku berhasil berlari menghampirinya, dan mencabut anak panah itu, sambil berusaha menahan luka yang mengeluarkan darah dari tubuhnya.
“Patung-patung tidak harus terbatas pada plaza saja. Aku menyembunyikan patung-patung pemanah di menara.”
Seolah telah menyelesaikan pekerjaannya, Michelangelo berbalik dan hendak pergi.
“—Tunggu! Miche, apa maksud semua ini?!”
Orang yang menghentikannya dengan suara mengancam adalah yang diharap musuh kita, Wu Song.
“Dengan mempertimbangkan kekuatan Paradise Lost, aku menangani hal ini sesuai dengan itu.”
“Jadi kau melancarkan serangan mendadak?! Mengakhirinya dengan panah?! Dan kau menyebut dirimu pahlawan!”
“Pada akhirnya, aku hanyalah seorang seniman, bukan seorang pejuang.”
“Michelangelo…!”
Wu Song mengarahkan pisau biksu Buddha ke arah rekannya.
“Kau boleh melukaiku jika mau. Namun, kau mungkin tidak akan bisa melewati penghalang ini—singkatnya, kau tidak akan pernah bisa bertarung lagi, sekuat apa pun lawan yang kauhadapi.”
Michelangelo melirik kami dan menyatakan dengan kepala tenang.
“Lagi pula, kau pasti akan punya kesempatan untuk melawannya lagi.”
Dunia perlahan-lahan menjadi kabur. Tampaknya dia sedang meruntuhkan penghalang itu.
Bahu Wu Song bergetar karena amarah, tetapi pada akhirnya dia menarik napas dalam-dalam dan menyatakan.
“—Miyamoto Zekka. Pertarungan kita ditunda.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, keduanya menghilang entah ke mana.
Sambil menggendong Ketua di lenganku, aku tak bisa bergerak.
Karena tak mampu membalas musuh, yang bisa kulakukan hanyalah tetap diam.

Post a Comment