Shangri-La Frontier Bab 12

12 – Sisi Kesamaannya adalah Gagasan Bebas yang Tak Terikat Teori (Ungkapan Secara Memutar)

Jika dilihat dari hasilnya, aku memang berhasil menahan straight, tapi kalah karena kehilangan 2 ronde. Sama sekali tidak disangka kalau bug bakal ditumpuk di atas bug.

“Aaaah, belakangan ini aku cuma melatih teknik lawan NPC, jadi rasanya puas banget.”

“Sama sekali tidak disangka kalau seluruh tekstur kepalan tangan yang memercik itu punya kalkulasi hit.”

“Soalnya kalau itu gagal, kalkulasi hit-nya bakal memercik ke mana-mana dan jadi pedang bermata dua…. Kalau sudah begitu, diinjak-injak dengan tap dance di atas pecahan kepalan tangan saja sudah bikin mati.”

“Bikin tertawa saja.”

Mana mungkin bisa menduga kalau kepalan tangan benar-benar hancur dan jadi peluru sebar gara-gara Shotgun Punch, pikirku paling-paling cuma membelah diri. Sambil memandangi tangkapan layar pertarungan tadi yang dikirimkan oleh para pemain penonton sebagai bentuk tata krama unik di gim ini, aku dan ModoruKatzo menikmati obrolan santai.

“Tapi padahal bukan turnamen, kenapa kau malah balik lagi, Sunraku? Buat mengisi waktu luang sampai gim sampah berikutnya?”

“Enggak, sih…. Sebenarnya belakangan ini aku mulai main Shan-Fro….”

“Really? Hah.”

Aku memaafkannya karena ini diriku, tapi apakah dia tahu kalau secara umum, tertawa dengan wajah seperti sedang melihat kalkun yang sudah dimasak memohon ampun itu adalah hal yang tidak sopan?

“Bukan, bukan, Sunraku, bukannya kau dulu pernah bilang hal keren yang super-bodoh seperti ‘Bukannya gim yang tidak ada bug-nya itu justru gim sampah?’? Kenapa malah debut di Shan-Fro yang berada di titik bertolak belakang dari gim sampah jahanam?”

“Gara-gara memukuli Faer-kuso, aku malah kena semacam sindrom burnout… Jadi pikir buat sekali-kali coba main gim yang dipuji-puji masyarakat luas.”

“Bisa-bisa besok ‘Sembelit’ malah dianggap sebagai gim mahakarya.”

Maksudmu, diriku memainkan gim yang bukan gim sampah itu kemungkinannya lebih tidak masuk akal daripada hujan tombak turun dari langit, ya? ModoruKatzo—yang meskipun tidak sejago diriku dalam menyantap gim sampah secara membabi buta, tetapi menamatkan sebagian besar gim sampah—menatapku bagaikan sedang melihat alien yang memelihara Tsuchinoko. Namun, karena memusingkannya satu per satu cuma bakal bikin konyol, aku pun melanjutkan pembicaraan.

“Tidak, gim itu buatannya lumayan bagus, lho. Meskipun aku sengaja meremehkan gimnya, tanpa bug maupun elemen sampah, aku kena serangan tak terduga dan hampir mati.”

“Aah, maksudmu, kau mau mengembalikan instingmu di Sembelit yang merupakan gumpalan dari perangkap pertemuan pertama dan perusak teori, begitu?”

“Begitulah.”

Mana mungkin aksi yang lebih di luar dugaan daripada gim ini—yang melakukan teleport dan Jurus Bayangan secara bersamaan—bakal terjadi di Shan-Fro. Karena cukup lama menaklukkan Faer-kuso, kemampuanku mengasuh AI bodoh memang meningkat, tapi sebagai gantinya, aku ingin mengembalikan insting respons terhadap perangkap pertemuan pertama yang agak sedikit berkarat.

“Mana mungkin kau menduga kalau ular bakal menembakkan kotoran, 'kan?”

“Bukannya itu serangan yang sangat cocok buat pencinta gim sampah?”

“Hahaha, omong kosongmu boleh juga.”

“Tapi Shan-Fro, ya… Aku coba main juga, kali ya. Soalnya aku tidak bisa merekomendasikan gim ini ke teman dunia nyata, jadi tidak ada topik obrolan yang seru.”

Ya iyalah, mana mungkin menyebarkan gim yang bisa bikin pemainnya jadi mutan perubah tubuh ke masyarakat luas. Skenario terburuknya, tidak menutup kemungkinan bakal muncul tipe-tipe orang berisik yang meributkan “Meskipun virtual, gim yang membengkokkan tubuh itu tidak baik buat kesehatan dan mental!”. Sembelit cukuplah menjadi gim sampah yang terus berlanjut secara kecil-kecilan. Lagian, para pemain yang ada di sini justru datang karena menyukai hal tersebut.

Setelah bertanding beberapa kali lagi dengan ModoruKatzo dan pemain lainnya, aku pun logout dari sarang iblis non-manusia “Sembelit”, sekalian untuk makan.

 

Setelah mengisi cairan dan makanan, aku berpindah dari gim sampah ke gim mahakarya. Terbangun di penginapan Secondale, aku, Sunraku si kepala burung mesum, memastikan bahwa death penalty telah hilang, lalu memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Untuk saat ini, sepertinya lebih baik aku membeli semacam pelindung tubuh, deh….”

Aku sudah paham kalau bertarung dalam kondisi telanjang itu memang gawat. Beruntung serangan kotoran beracun Ular Raksasa Keserakahan tidak punya kalkulasi damage saat mengenai tubuh. Kalau saja saat itu ada kalkulasi damage begitu kena, aku pasti sudah mati sebelum sampai di kota. Ini adalah perlengkapan no-guard yang bahkan terlalu lancang jika disebut pertahanan kertas. Setidaknya, tidak apa-apa kalau cuma perlengkapan awal, yang penting aku memakai sesuatu. Lalu yang terpenting dari segalanya adalah sarana pemulihan. Aku memang terlalu meremehkan gim.

“Peta juga perlu, terus… inventory juga harus dirapikan, ya.”

Pernah kudengar seorang pemain yang juga pegawai kantoran mengeluh bahwa hal yang menyenangkan saat punya banyak urusan itu cuma ada di dalam gim, dan itu memang benar adanya. Jika hal-hal ini adalah pekerjaan rumah atau tugas sekolah, aku pasti sudah menghela napas pelan lalu menundanya ke hari esok.

“Nah, ayo keluar.”

Tokoh utama dan ModoruKatzo adalah “Teman Gim Sampah No. 1” yang belum pernah bertemu secara langsung, tetapi cukup akrab di dunia nyata hingga saling bertukar email. Berbeda dengan tokoh utama yang menyantap gim sampah apa saja dengan nikmat, dia menyukai “gim sampah dengan penyesuaian tingkat kesulitan yang sangat kejam”, dan terkadang mendapat rekomendasi gim dari sang tokoh utama.

Post a Comment

0 Comments