Shangri-La Frontier Bab 14

14 – Menyampingkan Pekerjaan Utama Demi Mengumpul Barang, Rasanya Ada Saja Tipe Orang Begitu

Area berikutnya, yaitu area yang wajib dilewati demi bisa pergi dari Secondale ke Thirdrema, “Rawa Tandus Penuh Sengsara” adalah padang belantara yang dipenuhi banyak rawa sesuai namanya, tapi kabarnya item mineral bisa didapatkan sebagai drop di sana. Mendapatkan perkataan yang anehnya tidak ramah untuk ukuran seorang NPC, “Nanti juga tahu kalau sudah ke sana”, aku yang sekalian merapikan item telah membeli berbagai barang kebutuhan seperti obat pemulih dan peta secara benar, lalu tiba di Rawa Tandus Penuh Sengsara.

“Nah… pertama-tama verifikasi item drop dari monster dulu, deh….”

Begitulah rencananya, tapi sebelum itu aku harus memastikan seberapa jauh Kapak Tangan Goblin masih bisa berguna. Tergantung situasinya, mungkin aku harus memprioritaskan membuat senjata terlebih dahulu. Untuk sementara, yang kurancang sebagai samsak percobaan adalah monster bernama Mud Frog yang menjadi bahan pembuatan seri Pakaian Kulit Bilah Pemisah.

Melihat dari penjelasan perlengkapannya, sudah tidak salah lagi kalau makhluk ini punya ketahanan terhadap tebasan. Kesesuaian jenis senjata seperti ini memang sudah hukum alam yang sangat klise, dan karena sepertinya bagian tubuh tertentu juga punya ketahanan terhadap tusukan, apakah mengalahkannya disarankan memakai hantaman atau sihir? Atau mungkin ada tipe lainnya, ya? Tampaknya di gim ini senjata api juga ada sebagai senjata, tapi apakah itu tergolong tusukan atau perlakuan lain, ya?

“Yah, tidak disangka gara-gara ketajamannya terlampau buruk, dia malah punya atribut hantaman juga, aku jadi makin kagum padamu, Kapak Tangan Goblin.”

Selama bisa menutup mata pada fakta bahwa ketahanannya berkurang dengan kecepatan mengerikan kalau memakai skill, senjata sekali pakai yang menggabungkan hantaman dan tebasan ini benar-benar sangat bagus. Untuk saat ini, urutan prioritasnya adalah bijih besi, lalu monster. Dari kejauhan terlihat monster yang mirip anjing dan monster yang mirip burung, tapi mungkin karena jaraknya terlalu jauh, itu tidak masuk ke dalam jangkauan pencarian musuh milik AI musuh.

“Memang benar kata-katanya, ‘nanti juga tahu kalau sudah melihatnya’….”

Tiba di tepi rawa yang lumayan luas, aku memahami arti dari kata-kata bapak-bapak NPC berewokan itu. Tepat di tengah-tengah rawa, tumbuh sesuatu yang tampak seperti gumpalan batu. Di beberapa tempat terlihat bagian dengan tekstur mirip bijih mineral yang berbeda dari batu biasa, sehingga tampaknya itu adalah objek yang memuat item bijih mineral di area ini. Dan secara kebetulan, hal lain yang kucari juga ketemu.

“Gegogo, gegogo.”

“Katak… kah itu?”

Mendengar suara kuakan dan ciri-ciri umumnya, tidak salah lagi kalau itu adalah Mud Frog. Hanya saja, berbeda dari katak di dunia nyata yang bentuknya seperti bidak catur ditempeli tangan dan kaki, bagaimana cara mengatakannya, ya… apakah lebih pas dideskripsikan sebagai katak yang menempelkan bagian-bagian biologis ke kotak balok? Bentuk katak yang benar-benar unik.

“Atau lebih tepatnya, besar banget, woi.”

Katak itu ukurannya ada sebesar anjing ras besar, lho. Karena berlumuran lumpur, warna kulitnya tidak kelihatan, tapi yah, paling-paling warnanya sama dengan pakaian kulit yang kukenakan sekarang.

Coba dulu baru tahu, aku memegang dua Kapak Tangan Goblin lalu….

“Sssha, rasakan iniii!”

“Gegyoo!?”

Bodo' amat, kau pikir aku bakal bertarung di dalam rawa yang jelas-jelas membatasi pergerakan, dasar katak bodoh. Seperti yang diharapkan dari gim mahakarya yang kualitasnya tidak masuk akal, aku bisa melemparkan senjata tanpa ragu-ragu. Meskipun aku menyasar matanya dan meleset secara normal, kapak tangan—meski cuma alat batu—mengenai bagian wajahnya sehingga Mud Frog mendongak lebar lalu terbalik… dasar katak!

“Hahhaa! Kesempatan!!”

Saat melangkah ke dalam rawa lumpur, sesuai dugaan, aku tidak bisa berlari, dan harus melangkah sambil menarik kaki dari dalam rawa satu per satu. Namun, apakah bagian itu disesuaikan sedemikian rupa, hingga aku sampai di dekat Mud Frog, kondisi mendongaknya tidak kunjung lepas.

“Soalnya bagian ini benar-benar memancarkan aura titik lemah, sih…. Hhnn!!”

“Gyuee…!!”

Katak itu hancur bagaikan… atau lebih tepatnya memang katak itu sendiri, pokoknya Kapak Tangan Goblin (cadangan) yang kuhantamkan ke Mud Frog yang titik lemahnya terbuka lebar menancap dalam ke perutnya disertai efek critical. Apakah itu menjadi luka fatal, Mud Frog berubah menjadi poligon lalu berhamburan musnah.

“Untuk sementara, ambil kembali yang tadi kulempar… yah, aku sudah tahu, sih, kalau item drop-nya itu kulit.”

Mengingat NPC menjualnya sebagai perlengkapan pelindung, itu pasti bukan rare item. Menurut taksiranku, kulit punggungnyalah yang merupakan rare drop. Untuk sementara aku paham kalau Kapak Tangan Goblin masih bisa beraksi melawan Mud Frog, jadi verifikasi monster kuhentikan dulu dan aku beralih ke tujuan utamaku, yaitu penambangan bijih besi.

“Beliung, ternyata bukan cuma sebagai item, tapi bisa diperlengkapi sebagai senjata juga, ya….”

Beliung ini senjata kuat yang tidak bisa diremehkan sama sekali. Di gim-gim bertema survival, selain gampang dibuat cuma dengan batu runcing dan ranting pohon, pemain juga bisa melancarkan serangan “menusuk” lewat gerakan “menebas”, jadi ada orang-orang yang menjadikannya sebagai senjata utama. Beliung yang dikuasai secara sungguh-sungguh oleh pemain berlatar belakang gim bisbol bisa ditegaskan sebagai gumpalan niat membunuh yang lebih berbahaya daripada tombak asal-asalan.

“…I-Ini… berat…!”

Aku memukulkan beliung ke gumpalan batu dengan gencar, tetapi mungkin karena bisa dipakai sebagai senjata, STR-ku yang sekarang membuat penanganannya agak sedikit sulit. Bukannya tidak bisa diayunkan, tapi sekali mengayun saja sudah memakan dua pertiga stamina, jadi efisiensinya terlalu buruk.

Meskipun begitu, setelah berjuang keras mengayunkan beliung ke batu terus-menerus, aku menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk menambang item bijih besi sebanyak yang bisa diambil.

Gunung berapi… kepala divisi… beliung… ugh, kepalaku pusing.

Post a Comment

0 Comments