Shangri-La Frontier Bab 2
2 – Pemburu Gim Sampah, Hendak Menantang Gim Mahakarya
Setelah menamatkan sebuah gim sampah, biasanya untuk beberapa saat seseorang akan merasa bisa memaafkan hampir segala hal. Bagi diriku yang sekarang, kata-kata guru wali kelas yang mencairkan nasihat sederhana “Jangan bertindak melampaui batas selama libur musim panas” menjadi puluhan kali lebih panjang pun sanggup kuterima dengan senyuman dan kuabaikan begitu saja. Setidaknya kata-kata sang guru wali kelas tidak bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya beberapa menit lalu, dan walau panjang, tidak sampai menguras emosi. Jika dibandingkan dengan super-logika milik Faeria (si lonte) yang tidak keberatan membunuh karakter mob—yang hingga satu menit sebelumnya menolak pembunuhan—demi dunia, betapa masuk akalnya kata-kata guru itu.
“…Oleh karena itu, selama mataku masih bisa melihat, kalau sampai ada yang nekat ‘debut libur musim panas’ (berubah drastis demi gaya-gayaan), tanpa ampun akan kuadakan wawancara tiga pihak antara guru, murid, dan orangtua. Bersiap-siaplah. Ya, bubar!!”
Mendengar kata-kata itu, kelas yang tadinya diselimuti aura tidak bersemangat—sampai-sampai bisa dikatakan sekelompok zombi masih memiliki lebih banyak vitalitas—seketika kembali hidup.
Libur musim panas nanti mau jalan-jalan ke mana, ya? Musim panas tahun ini hal ini bakal populer, lho. Aku mau liburan bareng pacar. Tahun ini aku pasti bakal dapat pacar.
Bersamaan dengan terdengarnya topik dari orang-orang dengan kehidupan nyata yang sangat terpenuhi seperti itu, topik dari kalangan yang tidak seperti mereka pun ikut terdengar.
(…Musim panas tahun ini sebaiknya aku melakukan apa, ya?)
Tahun lalu… saat libur musim panas kelas satu SMA, aku melakukan cara menghabiskan liburan yang bahkan menurutku sendiri gila, yaitu memainkan tiga gim sampah berskala besar secara berturut-turut. Namun, bagi diriku yang sekarang telah menamatkan gim sampah tingkat ekstrem seperti Faer-kuso, aku memiliki keyakinan bahwa gim sampah kelas semenjana tidak akan sanggup memuaskanku lagi.
(…Yah, lagi pula hari ini aku memang berniat mampir, lihat-lihat dulu baru kuputuskan, deh.)
Setelah memutuskan untuk menuju ke toko gim yang sudah agak lama tidak kusinggahi gara-gara berfokus menuntaskan Faer-kuso, aku pun merapikan barang-barangku lalu pulang sekolah.
“………”
Tanpa menyadari adanya tatapan mata yang terus menatapku dengan lekat.
Apakah gim sampah itu? Jika diizinkan berbicara sebagai orang yang telah menaklukkan tak terhitung banyaknya gim sampah, bagiku gim sampah adalah “ketidakrasionalan”. Elemen-elemen yang tidak bisa diatasi dengan skill bermain—seperti cerita, bug, maupun sistem gim itu sendiri…. Seberapa banyak poin-poin buruk seperti itu dapat ditumpuk, itulah indikator dari sebuah gim sampah menurut jawabanku. Dari sudut pandang tersebut, gim dengan tingkat kesulitan yang tidak masuk akal tidak bisa dikategorikan sebagai gim sampah menurut definisiku. …Yah, walau di dunia ini ada juga racun tingkat air raja yang menggabungkan tingkat kesulitan tidak masuk akal + elemen tidak rasional seperti Faer-kuso, sih.
Jika dilihat dari sudut pandang itu, gim yang satu ini berada di kutub berseberangan dari gim sampah; tidak diragukan lagi adalah sebuah gim mahakarya.
“Shan-Fro (Shangri-La Frontier), kah….”
“Oho, apakah besok bakal turun tank gara-gara si Pemburu Gim Sampah-kun mendadak mau menyentuh gim mahakarya berskala besar?”
“Bahkan bukan tombak lagi, ya?” batinku. Sambil tetap memegang kemasan gim, aku berbalik dengan mata setengah terpejam, dan terlihatlah wanita pemilik toko ini yang sedang menatapku dengan geli. Karena gim-gim yang kubeli selalu berupa stok menumpuk yang membingungkan toko ini (gim sampah), tanpa terasa kami jadi cukup saling mengenal hingga sering mengobrol santai.
“Yah, begitulah…. Soalnya setelah menamatkan Faer-kuso, rasa-rasanya aku sudah kekenyangan gim sampah untuk sementara…. Mumpung libur musim panas, aku berpikir untuk sesekali memainkan gim yang disanjung oleh khalayak ramai.”
“Eh, seriusan kau menamatkan Faer-kuso? Kudengar kalau main solo, pertarungan lawan last boss-nya makan waktu paling cepat dua jam, lho.”
“Saat kupukul rahangnya pakai tangan kosong, dia tumbang dalam waktu tiga puluh menit, kok.”
“Benar-benar keanggunan seorang legenda, ya. Tapi Hizutome-kun yang bisa menamatkannya juga sama ajaibnya, sih.”
Di toko gim kelolaan pribadi bernama “SHOP Rock ‘n’ Roll” ini, tersimpan banyak sekali gim sampah. Di masa kini, ketika gim VR full-dive telah menjadi arus utama dan gim yang menggunakan layar monitor disebut sebagai gim retro, pada masa-masa awal gim VR baru dirilis, gim-gim diluncurkan bak bintang-bintang yang sangat kacau—sampai-sampai ungkapan “bercampurnya permata dan batu” terasa terlalu halus. Jika gim mahakarya ada satu persen, empat puluh persennya adalah gim biasa, dan lima puluh persen sisanya adalah gim sampah; kondisi masa itu bagaikan batu dan sedikit permata yang tenggelam di dalam sup lumpur. Bagi orang aneh (pemburu gim sampah) sepertiku, masa itu bisa disebut sebagai semacam era mitologi.
“Tapi tetap saja Shan-Fro itu hebat, ya. Sampai sekarang masih saja laku keras, dan kemungkinan mulai besok bakal makin laris lagi.”
“Iwamaki-san sendiri bagaimana libur musim panas tahun ini? Kalau tidak salah ingat, sebelumnya sempat bilang kalau tahun ini panen besar, 'kan?”
“Yup, mulai akhir bulan ini toko bakal tutup sementara selama seminggu.”
“Ah….”
Aku paham. Jika aku, Hizutome Rakuro, adalah seorang pemilih makanan yang makanan pokoknya adalah gim sampah, maka wanita pemilik toko ini, Iwamaki Mana, adalah seorang pemilih makanan yang makanan pokoknya adalah gim otome. Alasan mengapa Rock ‘n’ Roll tutup secara tidak berkala (meskipun ada pola tertentu) hampir selalu diketahui oleh para pelanggan tetap.
“Ya sudahlah, aku beli yang ini.”
“Sip, terima kasih atas pembeliannya~! Sebelum main gim, selesaikan dulu urusan kamar mandi dan isi nutrisi dengan benar, ya~”
“Jangan lupa istirahat setiap dua jam sekali juga, lho.”
Karena kami berdua sama-sama pemain gim tingkat berat, kami saling mengingatkan peringatan terkait VR sebelum aku melangkah keluar dari Rock ‘n’ Roll. Di tengah jalan pulang, aku berpapasan dengan seorang siswi yang mengenakan seragam SMA tempatku bersekolah. Namun, karena pikiranku telah tercuri oleh gim di dalam kantong plastik, aku tidak memedulikan siapa sosok tersebut.
“Selamat da~tang…. Oh, ya ampun, kau rupanya.”
“Kabar baik, lho. Gamer pemakan segala itu akhirnya bakal main gim populer.”
“Iya, benar, Shan-Fro yang dulu pernah kurekomendasikan padamu.”
“Fufufu, Hizutome-kun 'kan tipe orang yang selalu menyamakan nama pemainnya, jadi kalau dicari mungkin bakal ketemu, lho?”
“…Wah, gadis yang sedang jatuh cinta itu memang kuat sekali, ya.”
Sebagai premis, di dunia dalam karya ini, “Aku mau pergi main sepak bola di luar!” dan “Aku mau main gim di rumah, ya!” diterima dengan makna yang hampir sama.
Dunia ini sangat ramah terhadap para neet—di mana e-sports telah berakar kuat di masyarakat, sehingga asal bisa mengaku “sementara ini aku amateur gamer (pemain gim amatir)”, secara formal seseorang sudah bisa terbebas dari status pengangguran.

Post a Comment