Shangri-La Frontier Bab 7
7 – Si Mesum Merasakan Betapa Mahalnya Harga Efisiensi
Aku sedang kesulitan karena barang-barang di inventory-ku terlalu menumpuk dan aku ingin mengatasi rasa lapar, tapi tidak punya cara untuk menyalakan api. Saat aku menyampaikan kepada tiga orang itu bahwa aku ingin mereka menyalakan api dan aku akan memberikan beberapa potong daging sebagai imbalannya, dengan senang hati mereka menyetujuinya.
“Anu… Fireball!!”
“““Ooo.”””
Saat Rina mengucapkan mantra sihirnya, bola api yang muncul dari ruang hampa menghantam tumpukan ranting pohon yang telah dikumpulkan, lalu berubah menjadi api unggun.
Mungkin kelompok tiga orang ini juga pemula yang baru saja mulai. Aku juga ikut bergabung, dan kami semua menatap api unggun itu seolah-olah sedang melihat batu permata.
“Ah, ternyata bisa dipanggang sekaligus…. Bagian seperti ini praktis banget ala gim, ya.”
“Anu… Sunraku-san?”
“Panggil Sunraku saja tidak apa-apa, kok. Kita 'kan sama-sama pemula di Shan-Fro, jadi tidak ada atasan atau bawahan.”
“Tapi karena sepertinya Sunraku-san lebih tua, aku tetap pakai -san. Anu, Sunraku-san… kenapa penampilannya bisa begitu…?”
Rina yang sepertinya sempat kagum sejenak dengan sensasi menggunakan Fireball, bertanya kepadaku dengan raut wajah ragu-ragu saat melihatku memanggang daging secara gencar.
“Gim ini, pada saat pembuatan karakter, kita bisa menjual perlengkapan awal, lho.”
“Eh, begitu, ya!?”
“Makanya, selain perlengkapan kepala dan senjata ini, semuanya sudah kujual, dan jadilah wujud tragis begini.”
“Eh, tapi 'kan titik awalnya di kota, bukannya bisa langsung beli perlengkapan?”
Gadis Pencuri bernama Kaho menyampaikan keraguan itu, tetapi saat kuberi tahukan bahwa asal-usul Pengembara membuat titik spawn awalnya acak, aku malah mendapatkan tatapan kasihan yang diiringi desahan “Uwah”. Entah kenapa hatiku jadi terasa agak sakit.
“Omong-omong, kelinci yang tadi itu… apa namanya, ya?”
“Vorpal Bunny?”
“Nah iya, apakah Vorpal Bunny itu sekuat itu?”
“Gimana, ya….”
Melihat sekali lebih baik daripada mendengar seribu kali, tetapi karena wujud aslinya tidak ada di sini, kurasa pakai peragaan saja sudah cukup. Dengan kecepatan saat menepis serangan Vorpal Bunny, aku mengarahkan tongkat kayu tepat ke leher Souma, pemuda yang melempar pertanyaan tadi.
“Dia menyasar leher secara tepat dengan kecepatan sekitar segini, lalu mungkin cuma perasaanku saja, tapi sepertinya semua serangannya bakal jadi critical.”
“C-Cepatnya….”
“Yah, karena dia cuma menyasar leher, kalau sudah terbiasa harusnya dia monster yang gampang diatasi, sih.”
“Eh, levelnya Sunraku itu berapa, sih?”
“12, karena rasanya sudah mulai agak susah naik level, aku berpikir mau berburu sedikit lagi baru mencari kota.”
“Ah, padahal begitu tapi masih mau berburu, ya…. Maksudku, tinggi banget! Padahal belum ada sehari sejak beli Shan-Fro, tapi sudah bisa menaikkan level sampai sejauh itu, ya—”
Aku menyukai Souma yang berbicara santai tanpa memedulikan perbedaan usia, tidak seperti kedua gadis itu. Aku beranggapan bahwa senioritas di dalam gim pada dasarnya ditentukan oleh waktu bermain. Tentu saja aku tidak sampai berkata bahwa urutan usia itu sama sekali tidak berlaku, tapi bagiku, pemain yang mulai bermain di periode yang sama adalah rekan seangkatan tanpa memandang usia.
“Yah, soalnya meskipun diselingi istirahat, aku mengurung diri di hutan ini selama sekitar tujuh jam berturut-turut, sih. Gara-gara itu inventory-ku jadi sesak banget, ditambah lagi tingkat kelaparanku sudah di ambang bahaya….”
“Ah, makanya kau butuh api, ya.”
“Begitulah. Ah, sepertinya semuanya sudah matang…. Nah, ini imbalannya, ya.”
Dari daging yang dipanggang, karena daging Orc kelihatan agak kotor, aku membagikan daging kelinci dari Almiraj & Vorpal Bunny kepada mereka bertiga, lalu aku sendiri menggigit daging Orc.
“Nng—… Secara keseluruhan rasanya tawar?”
Rasanya memang ada, tapi jika dibandingkan dengan memakan hal yang sama di dunia nyata (meskipun daging babi), rasanya entah kenapa terasa agak hambar dan teksturnya tipis. Apakah ini bentuk perhatian agar pemain tidak merasa puas hanya dengan makan di dalam gim? Kalau cuma makan ini terus-menerus, memang benar lama-kelamaan orang tidak bakal tahan, lalu pilih logout dan ingin makan bacon asli…. Dibuat dengan sangat baik, ya.
“Ah— rasanya aku mau logout terus makan daging.”
“…? Bukannya tinggal logout saja?”
“Tidak, soalnya aku masih lebih ingin main gim ini daripada itu.”
Saat aku berkata begitu, mereka bertiga pun mengangguk paham diiringi gumaman “Ah—”. Karena aku belum pernah pergi ke kota sekalipun, aku belum pernah logout sejak pertama kali memulai gim ini. Namun, andaikan kita bisa menyimpan data dan logout di dalam area pertarungan, tidak sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada akhirnya. Kalau sampai dibuat sedetail ini, malah bikin aku ingin mengategorikannya sebagai gim sampah karena saking niatnya….
“Ah, benar juga, meskipun agak kurang tahu diri, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi?”
Karena aku tidak butuh informasi yang selevel situs walkthrough (panduan strategi), aku minta mereka bertiga memperlihatkan jajaran barang di toko senjata kota pertama dan peta area sekitar sini, lalu aku pun menentukan langkahku ke depannya.
Setelah berpisah dengan mereka bertiga yang sepertinya datang ke hutan demi quest pengumpulan tanaman obat, aku memutuskan untuk menuju ke arah yang berlawanan dari arah datangnya mereka… yaitu kota kedua, “Secondale”.
Gim full-dive dalam karya ini disetel sebagai sesuatu yang “sampai batas tertentu, bakat alami seseorang dapat menembus tembok sistem”.
Andaikan ada si A dan si B yang memiliki level, status, skill, dan perlengkapan yang benar-benar sama persis, orang yang memiliki kemampuan motorik lebih bagus “di dalam gim VR” dapat dikatakan lebih kuat.
Dalam arti tertentu tidak jauh berbeda dengan dunia nyata, tetapi dengan kata lain, itu juga berarti “meski di dunia nyata kau memiliki kekurangan, dengan menaikkan level secara gila-gilaan dan memakai perlengkapan terbaik, kau bisa menjadi kuat dengan lebih mudah daripada di dunia nyata”, sehingga gim jadi bisa diterima masyarakat… begitulah gambarannya.

Post a Comment