Shangri-La Frontier Bab 29

29 – Topeng Burung with Kelinci vs. Hiu-Tikus Mondok

“Ini… gawat juga, ya.”

“Uhyaa, kalau begini bajuku bakal kotor, wa.”

Sama seperti Ular Raksasa Keserakahan yang mengambil posisi menghadang di depan jembatan gantung menuju Secondale, Mud Digger juga berada di dalam rawa besar yang secara terang-terangan diletakkan tepat di tengah-tengah ngarai yang menghubungkan ke Thirdrema… mungkin.

“Beneran mematikan counter karakter tipe AGI….”

Aku tidak bisa berlari di dalam rawa, yang artinya untuk melewati tempat ini aku harus bertarung melawan boss dalam kondisi hampir tidak bisa bergerak dari tempat berdiri. Cih, harusnya aku sudah memperhitungkannya sejak tahu areanya adalah rawa tandus.

“Sunraku-san mau bagaimana? Kalau begini Sunraku-san maupun aku tidak bisa melompat-lompat, wa.”

“Benar juga, ya…. Untuk sementara mari kita lihat boss-nya dulu baru memikirkannya. Emul, kau… apa boleh buat, berpeganganlah di punggungku.”

Karena sudah membentuk party, aku tidak bisa mengabaikannya dalam pertarungan boss. Ditambah lagi, Emul yang ukurannya sama dengan kelinci biasa pasti bakal terhambat pergerakannya melebihi diriku kalau sampai terperosok ke dalam rawa.

“Siap, wa!”

Sambil sedikit meliukkan tubuh akibat sensasi empuk dan halus yang menempel di punggung, aku melangkahkan kaki ke dalam rawa besar. Sialan, dinginnya air rawa terasa meresap hingga ke sandal yang hampir seperti bertelanjang kaki—perlengkapan yang terpaksa kupakai saat tidak punya baju zirah. Apa enaknya bermain dengan pembatasan yang terkesan hampir tanpa perlengkapan begini, dan yang paling kubenci dari semuanya adalah diriku sendiri yang mulai sedikit terbiasa dengan situasi ini.

“Myok! Sunraku-san, dia datang, wa!”

“Benar…!”

Saat aku berjalan sambil memercikkan air rawa, getaran merambat dari rawa yang bersentuhan langsung dengan kulit telanjangku. Itu tidak salah lagi merupakan pertanda munculnya area boss. Tepat saat rawa membusung seolah terdorong dari bawah, makhluk itu muncul.

“Shiaaaaaaaaaaa!!”

“Makhluk apaan ini?”

Hiu berkepala tikus mondok? Hiu berkaki empat? Tapi kenapa punya kumis…? Bagaimanapun juga, mata tanpa ekspresi milik kepala hiu raksasa seperti itu menatap tajam ke arahku.

“Dia datang, wa!”

“Cih…!”

Sialan, susah banget bergerak! Tidak, mengonfirmasi musuh dulu! Dengan menggunakan Repel Counter secara agak dipaksakan… begitu berhasil memicu serangan critical, aku melempar Mud Digger tepat ke samping menggunakan skill yang memberikan efek knockback kepada pihak penyerang.

Entah dia menyelam secara fisik atau menggunakan semacam kekuatan misterius (yah, kalau bilang karena ini gim sih selesai sudah permasalahannya), Mud Digger yang terlempar ke bagian rawa yang dangkal—yang harusnya cuma menenggelamkan kaki sampai setinggi tulang keringku—menyelam ke dalam rawa seolah tanpa masalah sama sekali. Lalu, dengan kondisi hanya sirip punggungnya saja yang muncul dari rawa—hal yang terlalu klise untuk hiu jenis ini—dia menerjang ke arahku dengan ganas.

“Kyaa! Kulitku bakal dikelupas, wa~!”

“Kau pikir kau Kelinci Putih dari Inaba apa!”

Sial, sampai harus memakai skill penghindaran di bagian paling awal begini…! Aku mengaktifkan Slide Move, yaitu skill untuk menghindar dengan gerakan yang secara harfiah seolah meluncur, demi menghindari terjangan Mud Digger yang berusaha menggigit tubuhku.

Meskipun skill tidak mengonsumsi parameter apa pun, terdapat recast time (waktu jeda) sebelum bisa diaktifkan kembali. Diriku yang telah menghabiskan dua skill penghindaran harus melewati recast time… yaitu sekitar 10 detik secara keseluruhan dari keduanya dengan cara menghindar menggunakan kemampuanku sendiri.

“Ah, harus bagaimana, ya…!”

Rangkum informasinya sebelum Mud Digger berputar balik dan melancarkan serangan lagi! Pertama, ciri khas dari area ini sendiri sudah pasti adalah lumpur yang menjerat kaki sebagai pembatas kelincahan secara terang-terangan. Untuk penentuannya, sejak kaki ditancapkan ke dalam rawa hingga menyentuh dasar, kaki yang satunya lagi bakal terus terjebak di dalam rawa. Artinya, asal aku meningkatkan kecepatan putaran dalam menggerakkan kaki, aku bisa bergerak sedikit lebih cepat!

“Dia datang, wa, dia datang, wa, kita bakal dimakan, waaa!”

“Tidak bakal dimakan!”

Dengan menggerakkan kaki secara paksa memakai Accel—skill yang memberikan penyesuaian sementara pada AGI dan STR—aku berhasil menghindari terjangan susulan di detik-detik terakhir.

Sial, dengan begini benar-benar seluruh skill yang bisa dipakai untuk menghindar sudah kuhabiskan…. Padahal aku ingin menyimpan Accel untuk saat beralih ke serangan, tetapi apa boleh buat. Jeda serangan Mud Digger ternyata jauh lebih singkat dari yang kubayangkan.

“Untuk sementara kita hentikan pergerakannya, kalau begitu… Emul, kalau tidak salah kau punya sihir serangan, 'kan?”

“Eh? Iya, punya, wa.”

“Gunakan itu dan tembakkan tepat di saat Mud Digger hendak menyerang!”

“Dimengerti, wa!”

Apakah tidak apa-apa bergantung pada NPC yang lebih kuat dari diri sendiri? Bukannya aku tidak berpikiran begitu. Namun, begitu aku memutuskan untuk menjadikan Secondale dan area ini sebagai jalur perlintasan saja, aku sudah menetapkan hati untuk tidak memedulikan cara lagi. Meskipun aku tidak mengetahuinya secara pengalaman langsung, aku sering mendengar cerita dari banyak pemain mengenai betapa merepotkannya kekacauan yang disebabkan oleh para pemain baru. Pembatasan tidak mengandalkan NPC kuat seperti Emul bakal dimulai dari area berikutnya saja—begitulah aku memaksa diriku untuk bisa menerima hal ini. Kalau dipikir-pikir begitu, kenyataan bahwa Mud Digger adalah musuh yang kuat mungkin justru merupakan hal yang patut disambut baik, ya.

“Mmm… Magic Edge!”

Emul, yang memanjat punggungku dari posisi menggendong ke posisi hampir menunggangi bahu, berdiri di atas bahuku lalu merapalkan sihir. Pada saat itu, tebasan berbentuk bulan sabit nоntransparan yang tercipta di udara terlempar secara miring, lalu mendarat tepat di wajah Mud Digger yang sedang melancarkan terjangan ketiganya.

Penghindaran Slide Move, penghindaran Accel, ditambah jeda akibat serangan tadi, dan jika aku bersabar sampai ke jarak sangat dekat hingga embusan napasnya bertabrakan… recast selesai!!

“Kulontarkan ke atas!!”

Mengaktifkan kembali Repel Counter. Aku melangkah mundur satu langkah untuk membuat jarak, lalu memukul Mud Digger hingga melayang dari bawah ke atas. Lebih lanjut lagi, aku melancarkan serangan pemungkas menggunakan Spiral Edge, yaitu skill untuk menusuk tajam sambil memutar Belati Danau Rawa yang kugenggam.

Mungkin aslinya ini adalah bentuk pengembangan dari parry, aku paham bahwa penggunaan setengah beralih ke serangan dengan memanfaatkan efek knockback seperti yang kulakukan ini adalah hal yang tidak lazim. Namun, fakta bahwa skill ini tetap terpicu secara benar meskipun digunakan dengan “cara yang bukan jawaban tepat” membuat Shangri-La Frontier memang gim yang paling luar biasa!

“Sip, mari kita mulai! Berpegangan yang erat, ya!”

“Siap!!”

Penggunaan skill atau sihir yang berbeda dari peruntukan awalnya seperti yang dilakukan oleh sang tokoh utama merupakan teknik yang tergolong cukup populer.

Sebagai contoh, “menggunakan jurus serangan beranimasi besar untuk menghindar”, “menggunakan sihir pemulih kepada undead untuk memberikan damage”, dan lain sebagainya.

Post a Comment

0 Comments