Shangri-La Frontier Bab 30
30 – Batas Diri yang Sangat Dirasakan dari Sudut Pandang Pemula
“Edge Climb!”
Pada kenyataannya, kesampingkan dulu kalau itu sihir, kebutuhan untuk meneriakkan nama skill itu sebenarnya sangat kecil. Namun, jika ingin mengaktifkannya dengan lebih pasti, mengaktifkan skill lewat pengenalan suara memang jauh lebih baik.
Dengan pengetahuan tentang Shan-Fro yang kudapatkan saat mencari di internet, aku menusukkan Belati Danau Rawa ke perut Mud Digger yang berdiri tegak lurus layaknya kapal tenggelam, lalu memanjat tubuh Mud Digger dengan menggunakan mata pisau sesuai arti harfiahnya. Sebenarnya ini atraksi yang sepertinya bisa dilakukan meski tanpa skill, tetapi aku yang sekarang, Sunraku, telah membuang STR secara total, jadi tanpa adanya penyesuaian dari skill, aku tidak akan bisa melakukan atraksi yang sama.
Awal mulanya aku mempelajari skill ini adalah ketika aku mencoba menancapkan Vorpal Chopper—yang sejatinya merupakan pisau pemotong daging—seperti penggunaan kapak es untuk memanjat dinding demi bisa menempel pada kaki Lycagon si Penyergap Malam. Berbeda dengan serigala hitam terkutuk yang hanya mengikis ketahanan Vorpal Chopper, perut Mud Digger sangat lunak, sehingga aku yang memiliki STR rendah sekalipun bisa memanjatnya dengan sangat lancar berkat penyesuaian dari skill.
Memang benar, momen saat melakukan gerakan yang jelas-jelas mengabaikan hukum fisika seperti inilah yang paling membuatku merasa sedang bermain gim. Terlalu setia pada hukum fisika pun bakal terasa membosankan dengan caranya sendiri.
“Uhyaa! Luar biasa sekali, waa!”
“Untuk sementara aku sudah berhasil memanjatnya, sih…. Tapi sekarang, kita harus bagaimana?”
“Gyaaaa, orang ini tidak punya rencana, waa!”
Mau bagaimana lagi, memikirkan apa pun tentang gambaran besar strategi, keputusan mendadak pada akhirnya tetaplah refleks saraf tulang belakang. Yah, tidak apa-apa…. Saat ini aku adalah seorang pemuja efisiensi, gengsi soal bermain solo atau semacamnya sudah kubuang ke dalam lumpur, walau nanti harus kuambil lagi, sih. Kepala Mud Digger yang mirip hiu putih besar ini hanya berada di tingkat menengah ke bawah sebagai tempat berpijak, tetapi bagi diriku yang bisa berlari cepat sekuat tenaga di atas tali dalam gim, ini bukanlah hal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
“Aku bakal menjaga keseimbangan di atas makhluk ini, jadi tolong tembakkan serangan sihir secara beruntun.”
“B-Beruntun!? A-Apakah tidak ada arahan untuk meningkatkan daya hantam satu serangan…?”
“Pikirkan daya hantamnya belakangan! Go!”
“A-Akan kucoba lakukaan, waa! [Add Spell (Mantra Tambahan)]!”
Sambil mengalihkan kesadaranku dari Emul yang mulai merapal sihir, aku terus berdiri di atas bibir Mud Digger di bawah kakiku layaknya seorang pesulap akrobatik.
Namun, dari pihak monster juga tidak punya alasan untuk sengaja mempertahankan kondisi yang tidak stabil. Sepertinya efek goyah pada Mud Digger telah sirna, lalu dia mulai mengamuk dengan buas. Akan tetapi, tindakannya yang tidak langsung membenarkan posisi tubuh melainkan memaksakan diri untuk menggigitku adalah tindakan yang tergolong “keberuntungan” bagiku…!!
“Pijakan ini jauh lebih stabil daripada dipaksa berlari di atas kawat berapi!”
Kau bertanya apa memang ada gim seperti itu? Ada, lho.
Taring, ujung moncong, bibir…. Tempat yang bisa dijadikan pijakan ada banyak sekali. Kepala hiu yang bagian kepalanya saja berukuran sebesar mobil ringkas, kemampuan fisik yang beberapa kali lipat lebih unggul daripada dunia nyata, dan yang terpenting, justru karena ini adalah gim, hal yang serba nekat seperti ini bisa diwujudkan.
“Aku bisa melakukannya wa, Sunraku-san!”
“Hantamkan tepat di bagian moncongnya!”
“Bicara seenaknya saja…! [Magic Edge]!”
Aku sadar bahwa menyuruhnya menembakkan sihir dalam kondisi terlempar ke udara—karena melompat melepaskan diri sambil menginjak wajah Mud Digger yang akhirnya kehilangan keseimbangan setelah mengamuk sekuat tenaga—adalah hal yang terlalu nekat. Namun, jika tidak memberikan serangan balasan di sini, kita harus mengulangnya dari awal lagi, dan jujur saja aku tidak percaya diri bisa menghasilkan hasil yang sama.
Sihir Emul yang bercampur dengan jeritan teraktifkan, dan bilah energi sihir yang membanggakan ukuran dua kali lipat dari yang sebelumnya menghantam tepat pada bagian muka… bukan, melainkan mata kanan Mud Digger.
“Shigiyyyyyyyyyyaaaaaaaa!?”
Meski begitu, Magic Edge yang daya hantamnya meningkat tampaknya berhasil menghasilkan damage yang cukup besar. Mud Digger yang menjerit histeris menggeliat kegirangan lalu tenggelam ke dalam rawa… tidak, dia memantul sekali di rawa yang dangkal lalu terbaring begitu saja. Tiba-tiba terbersit rasa janggal kecil di benakku, tetapi hal itu langsung sirna seketika.
“Berhasil! Kita berhasil, wa, Sunraku-sa—woah.”
“Yah, jadinya bakal begini, wa.”
Menyusul Mud Digger yang roboh, aku dan Emul terjatuh ke dalam rawa. Fall damage itu sendiri hanya menguras sepertiga dari HP-ku yang berarmor tipis sehingga tidak seberapa, tetapi kami dipaksa merasakan pengalaman lulur lumpur di sekujur tubuh.
“Akyaaaaaa, bajukuuuuuuu!!!?!”
“Aah…. Rasanya seperti menempelkan tisu basah ke sekujur tubuh….”
Terlebih lagi, karena sekujur tubuh berlumuran lumpur, gerakan tubuh terasa sangat berat. Mirip seperti saat server pada gim daring yang hanya memiliki server lemah sedang menjerit. Walaupun jadi berlumuran lumpur, kalau melihat kondisi tadi harusnya dia sudah terkalahkan dan………………
“Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu…!!”
Mud Digger tidak ada. Tidak, jelas-jelas ada riak air dari sesuatu bermassa besar yang tenggelam ke dalam rawa, yang artinya ini belum selesai. Identitas rasa janggal tadi adalah, kalau dipikir-pikir, aku belum melihat tindakan yang dibilang Emul seperti “Zudoon”. Tindakan khusus? Sisa HP yang menjadi flag-nya? Tidak berhasil dihabisi, sehingga teraktifkan? Seluruh rawa bergetar, serangan area, kematian….
“Emul!!”
“Wanyo!?”
Guna menyusun informasi yang terurai, aku memaksa tubuhku yang hendak menghentikan seluruh gerakan selain berpikir untuk bergerak. Walau agak kasar, aku memegang telinga Emul lalu menariknya keluar dari rawa dan melemparkannya ke luar area rawa. Pada momen berikutnya, seluruh area rawa yang luas mendadak mulai bergetar, dan gerakanku menjadi tidak bisa bergerak selangkah pun dari tempat itu seolah-olah diikat oleh rantai akibat kekuatan paksaan mirip sistem.
Sial, jangan-jangan ini tipe tindakan khusus yang begitu teraktifkan, dipastikan bakal kena…? Tunggu dulu, selain menghabisi tipe AGI, apakah monster ini juga menghabisi pemain solo!?
“Tubuhku… tidak bisa bergerak…!”
“S-Sunraku-san! Bawah! Dia datang dari bawah, waaaa!!”
“Bawah…!?”
Kilas balik masa lalu… walau agak sedikit berbeda, di tengah kondisi tubuh yang tidak bisa digerakkan, berbagai informasi tersusun layaknya teka-teki gambar.
Serangan yang disebut “Zudoon”. Monster yang menyelam dan berenang di dalam lumpur layaknya di dalam air. Fakta bahwa… monster itu mampu… berdiri tegak lurus dari rawa meski hanya untuk beberapa detik. Menghentikan gerakan lawan, lalu dari bawah….
“Aah…… permainan pukul tikus, ya.”
Pada momen berikutnya, rasa di bawah kakiku menghilang. Lewat permainan pukul tikus milik Mud Digger yang tidak memiliki palu untuk memukul dari atas, aku terlempar tinggi ke udara akibat hantaman ke atas dengan daya hantam beberapa kali lipat dari yang kulakukan pada Mud Digger.
Mud Digger (Penggali Lumpur).
Memiliki kepala hiu, tubuh tikus tanah dengan empat kaki yang berkembang secara tidak wajar, serta kumis lele…. Ciri khas terbesar dari boss area yang tergolong sebagai chimera dalam arti luas ini adalah tindakan khusus yang teraktifkan saat HP-nya berada di bawah 20%.
Dia menyelam jauh ke dalam tanah, lalu dengan menggetarkan rawa, dia memaksakan gerakan para pemain yang menginjakkan kaki di rawa untuk berhenti, kemudian dari antara orang-orang yang berada di dalam rawa, dia akan menerbangkan satu orang secara acak dari tepat di bawah mereka menggunakan ujung moncongnya sekuat tenaga.
Jika menantangnya solo, seseorang dipastikan akan menerima serangan jika berada di dalam rawa, ditambah lagi kerusakan akibat jatuh dari ketinggian tempat terlempar akan membuat HP habis secara total. Walau serangan ini bisa digagalkan meski secara solo jika tidak memasuki rawa, karena sulitnya menyeimbangkan antara damage adjustment dan melarikan diri dari rawa di area yang pergerakannya dibatasi ini, monster ini diberikan dua julukan oleh para pemain.
Karena perlakuan kejam yang secara terang-terangan menumpas AGI akibat medan area serta pertahanan tipis yang bisa dilindas tanpa kesulitan, dia dijuluki sebagai “Pembantai Prajurit Ringan”.
Dan satu lagi, karena jika ditantang seorang diri akan menerima serangan instant kill secara hampir pasti….
Dia dipanggil “Pembantai Solo”.
Sebenarnya, karena pada pertemuan pertama monster ini hampir dipastikan bakal membuat 1 anggota kehilangan HP secara total, jika tidak ada anggota yang bisa melakukan kebangkitan, di kalangan party acak hal ini akan memicu perselisihan besar terkait poin pengalaman maupun item drop. Karena alasan itulah, di antara para pemain dia kerap dipanggil—atau mungkin tidak dipanggil—sebagai “Pembawa Perselisihan”.

Post a Comment