Shangri-La Frontier Bab 34

34 – Dengan Demikian, Kau Terkepung oleh Tombak-Tombak Kekacauan

Bisa dikatakan Secondale bukanlah kota yang terlampau besar, sedangkan pemandangan Thirdrema yang terlihat dari balik gerbang dipenuhi oleh kehangatan dan keaktifan… sebuah kota yang memenuhi seluruh syarat sebagai “kota besar fantasi”. Promosi para pedagang kaki lima yang dilontarkan seperti hujan angin kepada para pengunjung kota membuatku mengerutkan dahi karena bising, tetapi di saat yang sama, aku merasakan vitalitas yang memancar dari mereka seolah mengalir ke dalam diriku.

Jika Firstia dan Secondale adalah kota yang membentang secara mendatar, maka Thirdrema adalah sebuah bukit dengan kastel yang berdiri di pusat kota sebagai puncaknya. Oleh karena itu, pemandangan yang menungguku saat melangkah ke sana—setidaknya bagiku yang tidak pernah bepergian jauh selain untuk membeli gim—merupakan hal yang menyegarkan, serta cukup untuk menyulut semangatku hingga membara.

“Fuhyaa, tak peduli kapan pun dilihat, ini kota yang sangat indah waa.”

“Begitulah.”

“Mu, respons Sunraku-san rasanya hambar sekali, wa.”

Memang benar kalau ini pemandangan yang luar biasa, tetapi bagaimanapun juga aku ini seorang gamer. Menamatkan gim dalam jumlah yang lumayan banyak berarti aku juga telah menyaksikan berbagai macam stage.

Misalnya, pijakan yang dibuat di atmosfer persis di bawah sebuah planet. Misalnya, kastel yang begitu raksasa hingga membuatku ingin bertanya apakah ada raksasa yang tinggal di sana, hasil dari penyelesaian kasar atas pesanan “pokoknya buat kastel yang megah”. Misalnya, jurang tempat teksturnya hancur sehingga fondasi berbentuk siber terlihat dari langit dan tanah yang retak-retak.

Lantaran gim itulah—karena VR full-dive itulah—aku berdiri, berjalan, melihat, mendengar, dan merasakan pemandangan-pemandangan yang kini kuterangkan kepada Emul sembari berhenti di depan gerbang.

“Aku memang bukan prajurit yang mendapat bimbingan dari Dewa Takdir, tetapi aku sudah pernah melihat berbagai tempat.”

“Hebat sekali, wa! Seperti dugaanku, Pionir-san sudah mengunjungi berbagai tempat, wa!”

Meski berwujud manusia, isinya tetaplah Emul si Vorpal Bunny. Melihat sosoknya yang melompat-lompat seolah sedang menari, tanpa sadar aku pun mengukir senyuman.

“Nah, sekarang harus bagaimana, ya.”

“…? Kita tidak mencari penginapan, wa?”

“Bukan, itu sih memang sudah kewajiban, tetapi maksudku adalah apa yang harus kita lakukan terhadap situasi saat ini.”

Di Secondale dulu, berkat paduan pas antara waktu dan periode, aku cuma melihat sedikit pemain secara sekilas. Namun, jika kotanya sebesar ini, pemain yang menjadikannya sebagai basis jumlahnya pasti lumayan banyak. Aku agak terkejut melihat cukup banyak pemain yang kembali ke Secondale bukannya sibuk menuju ke area berikutnya. Tapi kalau tidak salah, area boss akan respawn jika kita memperbarui save point di kota berikutnya lalu kembali, 'kan? Kalau begitu, tidak mengherankan jika ada pemain yang bolak-balik untuk mengumpulkan material.

Aku memahami hal itu, dan jika boleh kutambahkan, aku juga tahu bahwa penampilanku mencolok dalam artian yang buruk. Namun, aku merasa nuansa tatapan mereka kali ini sedikit berbeda.

Ada apa, ya? Sejak tadi para pemain yang keluar dari Thirdrema menuju Secondale terus memperhatikanku. Akan tetapi, respons mereka bukanlah “Ada orang gila muncul”, melainkan pandangan yang mengandung konfirmasi seperti, “Jangan-jangan itu dia?”

Aneh sekali. Memang aku mengalami berbagai pengalaman menegangkan, tetapi harusnya aku tidak melakukan tindakan mencolok yang sampai diketahui pemain lain…. Jangan-jangan, saat perjumpaan “orang mencurigakan” pada first contact di Hutan Haru Biru, ketiga orang itu menyebarkannya dengan tulisan semacam “Ada pemain yang sangat mencurigakan www”!? Tidak, aku ingin percaya bahwa itu tidak terjadi, tapi….

“Yah, aku memang orang mencurigakan, sih.”

Kalau tiba-tiba ada orang yang mirip pegulat profesional bertopeng—bukan beruang—melompat keluar dari dalam hutan, apa yang akan kau lakukan? Kalau aku jadi mereka, aku bakal mengambil foto lalu tertawa terbahak-bahak, jadi mau bagaimana lagi.

“Ayo pergi Emul, mari kita cepat cari penginapan.”

“B-Baik, wa.”

Lalu, bahuku tiba-tiba dicengkeram oleh salah satu pemain yang berpapasan, membuat langkah pertamaku menuju Thirdrema harus tertunda lagi. Tidak, cepatlah biarkan aku melangkah masuk ke kota. Kenapa aku harus terus-menerus berhenti di depan gerbang? Tatapan penjaga gerbang terasa menyakitkan, tahu.

“K-Kau! Penampilan itu, kau Sunraku, 'kan!?”

“He?”

“Sunraku-san, apakah dia kenalanmu, wa?”

Aku ditanyai begitu oleh seorang pemain wanita tak dikenal yang mendadak mendekat dan mencengkeramku. Emul bertanya apakah dia kenalanku… tapi “Animalia”, aku tidak merasa ingat dengan nama ini.

Aku sempat berpikir apakah dia teman gim sampahku, tetapi kalau memang begitu, rasanya dia tidak akan berbicara seformal ini padaku. Lagipula, jika itu dia yang sudah dipastikan sedang memainkan gim ini, dia tidak akan menyapa secara terang-terangan begini.

“Permisi, kau ini siapa, ya?”

Bicara soal gim, perlengkapan yang makin kuat seiring berjalannya permainan adalah hukum mutlak. Kekuatan perlengkapan biasanya berbanding lurus dengan kemewahan penampilannya. Oleh karena itu, hanya dengan melihatnya saja aku tahu bahwa perlengkapan milik Animalia ini bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan di area awal seperti ini.

Namun hal itu justru makin membingungkanku. Mengapa pemain dengan perlengkapan yang memancarkan aura tidak bisa dibuat kecuali di area yang sangat jauh berada di kota tahap awal seperti ini? Lagian, dari mana dia tahu namaku?

“Sapaan atau… semacamnya, tak perlu dipikirkan. Cuma ada satu hal yang ingin kutanyakan….”

Gwash! Pemain bernama Animalia itu mencengkeram bahuku sangat kuat seolah ingin menghancurkannya, lalu menatapku lebar-lebar sembari bertanya. Berkat kesadaranku, aku berupaya keras menahan jariku yang refleks hampir menarik senjata. Sementara itu, Emul membuat suara pofun! kecil sembari menyembunyikan telinga terkulai yang mendadak muncul ke dalam rambutnya dengan panik.

“Bagaimana caranya! Kau tame! Vorpal Bunny!?”

“………!”

Jangan sampai ketahuan, Emul.

Aku menahan Emul yang bermaksud merespons secara refleks. Sambil bersyukur karena mengenakan topeng yang menyembunyikan perubahan ekspresi wajahku, aku memutar otak dengan kecepatan tinggi.

Di mana bocornya? Tidak, kemungkinan besar membawa Emul… membawa Vorpal Bunny terlihat oleh pemain lain adalah perkiraan yang paling masuk akal. Aku melakukan kesalahan. Aku lupa bahwa tidak disapa dan tidak terlihat oleh siapa pun adalah dua hal yang berbeda. Sial, apa aku mengabaikannya saja lalu kabur ke dalam kota? Tidak, menilai hal itu sebagai jawaban terbaik masih terlalu dini.

Bagaimana ini? Membeberkan unique scenario jelas berada di luar opsi. Informasi memiliki nilai justru karena dimonopoli. Lagi pula, kalaupun disuruh memberi tahu, aku cuma bisa menjelaskan, “Karena aku punya Jiwa Vorpal, aku dipanggil oleh Oyabun”… Begitu ya, tidak ada alasan bagiku untuk menyembunyikannya.

Lagian, bagaimana syarat terpicunya Unique Scenario “Undangan dari Negeri Kelinci” justru adalah hal yang ingin kutanyakan……

“Tidak, kalau ditanya bagaimana caranya, aku sendiri tidak terlalu paham….”

“Benar juga, ya, hal seperti ini 'kan harusnya dibagikan kepada semua orang, Kesatria Revolusioner Sunraku-kun?”

Nama itu tidak memiliki arti sama sekali di dalam gim ini. Nama itu mengacu padaku di dalam gim yang berbeda dari gim ini. Nama itu menunjukkan hubunganku dengannya di dalam gim tertentu.

Oleh karena itulah, dari arah sumber suara—dari balik gerbang Thirdrema—serangan kejutan yang diincarnya… sebuah tebasan yang secara akurat mengincar kakiku untuk menghentikan pelarian, berhasil kuhindari dengan menepis lengan Animalia-shi yang mencengkeram bahuku dan melompat berdasarkan naluri. Kemudian, meskipun aku paham bahwa ini adalah langkah buruk jika dilihat secara objektif, aku mengambil jarak untuk menjauh dari gerbang.

“Kau muncul juga, Prajurit Pensil…!!”

“Hei hei, kalau di sini namaku Arthur Pencilgon, tahu, Sunraku-kun. Lagi pula, jangan menyebut orang seperti menyebut monster, dong.”

Meski penampilannya berbeda, pembunuh yang mengenakan topeng menutupi hidung ke atas itu tetap membuat orang paham “Ah, dia ini wanita cantik”, dan secara mengejutkan tampaknya menggunakan wajah aslinya di dunia nyata…. Sang pemain “Prajurit Pensil” yang dulu dibunuh olehku bersama ModoruKatzo di gim penjarahan akhir zaman Unite Rounds—yang sekarang bernama “Arthur Pencilgon”—menatapku sambil mengukir senyuman yang tampak sangat menikmati situasi dari lubuk hatinya.

Post a Comment

0 Comments