Shangri-La Frontier Bab 40
40 – Keputusan Cepat, Permainan Berlepotan
“Daya serangnya kurang.”
Saat respawn untuk keenam kalinya—tepatnya di dalam ruang tunggu arena pertarungan—aku menyampaikan hal itu kepada Emul. Sama sekali tidak kukira aku bakal dihantam dengan jumlah serangan awal dan dominasi level. Setelah mencoba beberapa kali, aku berhasil memahami polanya dan tahu bahwa penaklukannya sendiri cukup mudah…. Namun, sebagai masalah yang bisa dibilang wajar, aku membentur tembok berupa status yang kurang.
Bagaimanapun juga DPS (Damage Per Second)-ku kurang. Sekawanan anjing… Majority Hound ini kemungkinan adalah monster yang muncul sebagai “satu kesatuan monster” tetapi “memiliki HP bar terpisah”. Boleh dibilang mereka mirip boss yang punya HP bar di setiap bagian tubuhnya.
“Prosedur penaklukannya sih secara garis besar sudah kupahami, tetapi kalau waktu untuk mengalahkan satu ekor tidak dipersingkat, aku bakal terkoyak.”
Sebaliknya, itu berarti jika poin itu bisa diatasi, mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Bahkan jika aku ingin menekan dengan serangan critical, diserang oleh hound lain tetap saja merepotkan. Hanya saja, mungkin karena aku terlalu waspada akibat mereka adalah anjing berbulu hitam, begitu dicoba ternyata mereka cuma monster kroco yang cuma menang jumlah dan kerja sama saja, rasanya agak anti-klimaks.
“Begitu ya, wa?”
“Pokoknya sebentar lagi aku bakal level up, jadi aku mau pergi cari EXP sebentar.”
“He?”
Nah wahai para anjing, waktunya makan! Menunya adalah aku, tetapi di antara kalian cuma ada satu ekor yang bakal kubantai, ya itu kau, kasihan sekali! Uwah, ternyata kurang satu, ah maaf sepertinya aku harus mengalahkan satu ekor lagi, baiklah kau saja, ah tunggu setidaknya biarkan aku mengalahkan yang ini dulu… Uboa!
“Sip, level up.”
“Kau mati secara sangat mengalir, wa!?”
Sekitar lima menit kemudian, setelah menyelesaikan leveling, konfirmasi pola gerakan, dan sedikit melampiaskan kekesalan, aku menyapa Emul yang tertegun sembari keluar dari ruang tunggu arena pertarungan. Dalam skenario ini—terlebih lagi pada pelatihan pertarungan praktis di arena ini—hal terbaiknya adalah tidak ada death penalty, jadi aku bisa melakukan serangan nekat berkali-kali.
Sebagai gantinya, EXP yang didapatkan sangat sedikit jika digabung dengan efek aksesori, itu hal yang menyulitkan. Kalau saja tidak ada EXP yang didapatkan dari Mud Digger—meski kemungkinan sudah dibagi dua dengan Emul—aku pasti harus mengalahkan puluhan Majority Hound lagi. Lagian, EXP yang didapatkan secara terang-terangan sangat rendah, ya; apa karena mereka event enemy makanya EXP-nya diturunkan secara terang-terangan? Awas kau, ya.
Aku membuka jendela status, lalu mengalokasikan status point yang didapatkan dari EXP Mud Digger dan beberapa ekor Majority Hound. STR… bukannya itu, melainkan masing-masing 5 poin ke STM dan DEX.
“2 poin sisanya buat jaminan kalau ada apa-apa… yah, segini cukuplah.”
Yang kurang memang daya serangnya, tetapi menaikkan daya serang sekarang pun bagaikan menyiram air ke batu panas. Kalau begitu, aku akan menaikkan DPS dari arah yang berbeda.
“…Sip! Perhatikan baik-baik Emul, sekarang aku bakal menghabisi kawanan anjing itu.”
“Uwah, berjuanglah wa!”
Pada saat seperti ini, menyatakan target kepada orang lain—meski cuma bergaya—bikin semangat jadi makin terpacu. Setelah menyatakan janji kemenangan kepada Emul, aku melangkah masuk ke arena pertarungan.
“Trik kalian sudah terbongkar, dasar para anjing! Bakal kubuat kalian jadi kerumunan tanpa arah… biarpun kalian ini anjing, sih!”
Kata-katanya sama sekali tidak punya arti khusus, dan dari awal aku juga tidak berpikir mereka paham, tetapi niat provokasinya sepertinya tersampaikan. Para Majority Hound pun menerjang maju diiringi raungan…. Begitu ya, komandannya adalah kau, toh.
“Sudah kuingat mukamu, oraa!”
Setelah mencoba beberapa kali, ada hal yang berhasil kupahami. Monster ini jika berdiri sendiri tidak memiliki performa yang begitu merepotkan; kerepotannya benar-benar terkumpul saat pertarungan kelompok… Namun, tetap saja kerja sama mereka terlalu bagus. Kalau diselesaikan dengan alasan “AI-nya unggul”, sih memang selesai di situ, tetapi aku menemukannya setelah terus-menerus mengamati.
“Bukannya membusungkan dada di belakang, kau malah menyusup di antara anak buahmu; sifatmu tidak bagus sama sekali, ya.”
Ada individu yang cuma menggonggong tanpa melakukan serangan secara jelas, sesosok komandan yang terus-menerus memberikan perintah dari zona aman sembari menyusup di antara para penyerang. Monster inilah yang kulihat sebagai kunci dari monster bernama Majority Hound ini.
Rupanya dugaanku tepat sasaran. Saat menyadari bahwa aku cuma menargetkan individu komandan, Majority Hound lainnya melompat menerjang demi menggigitku, tetapi gerakan mereka secara jelas kehilangan kehebatannya.
Melihat para Majority Hound yang saling bertabrakan di udara saat menerjang, sama sekali tidak terlihat seperti kawanan monster yang tadi mengurungku dari empat arah dan menggigit keempat anggota tubuhku untuk menghabisiku secara pasti.
Efisiensi waktu akibat perbedaan level memang sulit diatasi, tetapi jika aku terus menumpuk jumlah serangan dan serangan kritis menggunakan Vorpal Chopper bagaikan menghantamkan ice pick, batas kemampuan mereka pasti bakal tercapai suatu saat nanti.
“Gara-gara orang yang menyatukan kelompok majority sudah tidak ada, kalian cuma jadi kumpulan individu minority, begitu?”
Sindirannya lumayan terasa dan menarik. Mengalahkan satu per satu Majority Hound yang pada akhirnya mulai bertengkar sesama teman itu jauh lebih mudah daripada menghindari serangan pemain level tinggi.
“Yosha, oraa!”
Ekor terakhir berubah menjadi poligon lalu meledak hancur, dan aku bersorak gembira atas rasa pencapaian ini. Meskipun mereka adalah mob musuh tipe HP relatif sedikit, dengan perbedaan level mendekati 40, mengalahkan satu ekor pun butuh waktu. Biarpun sedang bertengkar sesama kawan, AI para Majority Hound tidak sebodoh itu sampai pasrah dipukuli hingga mati, jadi mengalahkan mereka satu per satu lumayan menguras tenaga.
Pada saat seperti ini, kesatria otak otot yang menumpuk statusnya secara bodoh ke STR membuatku agak sedikit iri.
“Kerja bagus, Sunraku-san, wa!”
“Aah, ya, kalau bisa berikutnya tolong monster tunggal saja….”
Ekor pertama (sepuluh ekor lebih) ini jujur saja bikin semangat agak turun.
“Berikutnya benar-benar cuma satu ekor, wa!”
“Hee, memangnya satu ekor yang seperti apa….”
Ekor kedua, seekor beruang yang tumbuh tentakel berkepala mirip ular dari punggungnya… Parasite Tentacle.
“Secara pengindraan ini bukan satu ekor, tahu!”
Sialan, tak peduli mana yang tubuh aslinya, bakal kuhajar kalian sampai babak belur!!!
Q. Bukankah ini agak gampang padahal level rekomendasinya 85?
A. Level rekomendasi tidak cuma memperhitungkan status, tetapi juga kekuatan perlengkapan.
Artinya adalah “Secara umum jika memiliki status dan senjata yang didapatkan di level 85, kau bisa menjalani skenario dengan nyaman”, dan bukan berarti tidak mungkin diselesaikan jika berada di bawah itu. Hanya saja jalan menuju penyelesaiannya akan jadi pertapaan berat.
Ditambah lagi, syarat terpicunya “Undangan dari Negeri Kelinci” saja yang luar biasa ketat, sedangkan isinya tergolong lumayan mudah.

Post a Comment