Shangri-La Frontier Bab 46
46 – Melayang di Udara adalah Hal Itu yang Ada di Lukisan Dinding
Aku memeriksa peta, lalu menentukan rute dari topografi Thirdrema menuju ke Gua Lautan Pohon Warna-Warni. Melintasi jalan utama secara langsung memang yang paling cepat, tetapi kalau tidak mengamankan tingkat kerahasiaan tertentu, skenario terburuknya adalah berpapasan dengan rombongan yang mengincar unique scenario.
“Lewat sini lalu melalui gang belakang….”
“Kalau lewat sini jadi jalan pintas, wa!”
“Begitu ya… sip.”
Rute sudah ditentukan, sisanya tinggal berlari agar tidak tersandung.
“Tidak ada….”
Sambil menghela napas di sebuah restoran yang dikelola oleh pemain di Thirdrema, Psyger-0 merasa belakangan ini dirinya hanya melakukan permainan petak umpet saja. Di antara “restoran” yang dioperasikan oleh orang-orang yang secara nyata berprofesi sebagai koki di dunia asli berdasarkan teori “Kalau bisa membuat orang berpikir ingin memakan hidangan di dalam gim ini di dunia nyata juga maka kita menang”, Thirdrema adalah salah satu medan pertempuran yang lumayan sengit. Bahkan di antara tempat-tempat tersebut, toko yang utamanya menangani item bahan makanan yang didapatkan dari Gua Lautan Pohon Warna-Warni ini adalah toko favorit Psyger-0. Rekomendasi pribadinya adalah “Caesar Salad Lumut Pendendar dan Tomat Nitro”, yang bahkan menjadi dalang di balik munculnya demam salad di dunia nyata Psyger-0.
“Meskipun sudah kudengar bahwa dia orang yang sangat sibuk, ternyata Hizutomi-kun itu orang yang seperti ikan tuna, ya….”
Apakah penilaian yang cukup tajam berupa berhenti berarti mati itu muncul karena ia merasakan sedikit kekesalan lantaran tak kunjung bisa mengambil langkah pertama untuk berinteraksi? Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mendobrak situasi saat ini? Cara yang dipikirkan Psyger-0 sambil menunggu saladnya adalah “perubahan cara pandang”.
(Dengan kata lain, ini adalah pengubahan urutan prosedur!)
Meski begitu, kalau ditanyai bagaimana cara konkretnya, ia akan kehabisan jawaban. Dunia nyata maupun gim sama-sama tidak berjalan sesuai keinginan, ya… Saat ia menengadah sambil berpikir begitu,
“Eh?”
Sesuatu yang sederhana—seolah hanya digambari alis dan mata pada tudung putih yang menutupi tubuhnya hingga ke sekitar lutut—sedang melayang di udara dengan kelincahan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Anu, itu… hal dari Mesir…”
Bagaikan hal yang memancarkan beam dari matanya dan menyukai jantung manusia yang tinggal di kediaman Dewa Bumi dan Alam Baka…
“…Hah!”
Pada momen itu, pemikiran Psyger-0 menghubungkan kata-kata yang terpisah dengan kecepatan bagaikan kilatan petir. Kaki telanjang, pola ukiran, menyembunyikan, tindakan aneh, orang yang dicari… player name-nya terlalu jauh sehingga tidak terlihat jelas, tetapi kemungkinan terdiri dari empat karakter. Tanpa bukti konkret ia sudah yakin, tudung putih aneh itu tak salah lagi adalah Sunraku/Hizutomi Rakuro.
Kabar baik memang ditunggu sambil tidur, tetapi jika tidak pergi meraih berita gembira secara mandiri, sampai kapan pun tidak ada hal yang bakal maju. Meski merasa berat hati meninggalkan salad yang tak kunjung datang, Psyger-0 berlari menuju ke arah melompatnya Medje… tidak, tudung putih yang diperkirakan sebagai Sunraku dengan membawa sebuah strategi rahasia.
“T-Tolong jangan mendadak melompat sambil menambahkan putaran memutar, wa!?”
“Tidak, maaf, saat menyembunyikan diri seperti ini, rasanya malah jadi makin malu kalau memperlihatkan isinya, jadi tanpa sadar….”
Nama item: “Festa Medje Kafiye (Pakaian Ritual: Tudung Panjang sang Penakluk)”. Diilihat dari mana pun, sosok saat mengenakannya hanya terlihat seperti hal yang ada di lukisan dinding Mesir—padahal setting-nya mirip boss tetapi penampilannya cuma terlihat seperti karakter maskot lucu—atau lebih tepatnya adalah hal itu sendiri, tetapi memiliki performa yang lumayan unique (dalam artian menarik). Barang ini diklasifikasikan sebagai perlengkapan kepala, tetapi karena kain putihnya menutupi hingga ke sekitar lutut, slot perlengkapan kepala saja sudah bisa menyembunyikan hampir seluruh tubuh. Hanya saja sebagai efek kerugian, saat mengenakannya seluruh skill yang menggunakan tangan tidak bisa digunakan sama sekali, sehingga memberikan efek yang tidak lain adalah sampah di dalam pertarungan, menjadikannya benar-benar perlengkapan lelucon. Yah, mungkin penilaiannya adalah tidak masalah jika digunakan sebagai fashion di dalam kota.
Aku yang mengenakan Festa Medje Kafiye ini terkadang melompati atap rumah warga, terkadang melintasi gang belakang, dan terkadang berlari menembus jalan utama. Meskipun sangat mencolok, rasanya tidak mungkin ada orang yang pada pandangan pertama bisa secara sekejap membongkar bahwa ini dan Sunraku adalah orang yang sama. Begitu mereka mengonfirmasi nama lalu akhirnya menyadari bahwa ini adalah Sunraku, aku pasti sudah berhasil melarikan diri. Strategi yang sempurna; penilaian terhadap diriku setelah orang-orang memahami bahwa ini sama dengan Sunraku adalah collateral damage.
“Tapi kenapa kita malah memutar jalan, waa!?”
“Ini tipuan, tahu, fake!”
Menjadikan peti kayu dan dinding sebagai pijakan, terkadang di tempat yang tidak terlihat orang aku menyingkap tudung untuk menggunakan tangan demi memanjat ke atas atap, lalu berlari lagi. Saat ini aku sedang berlari lurus menuju ke rute yang menuju ke Gua Lautan Pohon Warna-Warni… bukannya begitu, melainkan berlari menuju rute yang menuju ke Reruntuhan Besi Zaman Para Dewa. Biarpun begitu, tujuan utamaku tetap tidak berubah yaitu Gua Lautan Pohon Warna-Warni. Ini sepenuhnya hanyalah tipuan, tujuan utamaku adalah membangun rute yang mengarah ke Gua Lautan Pohon Warna-Warni dengan memanfaatkan gang belakang tepat sebelum sampai.
“Dengar ya Emul, kalau mau menipu orang secara serius, setidaknya kau harus menyiapkan kebohongan yang mirip kebohongan, kebenaran yang mirip kebohongan, dan kebohongan yang mirip kebenaran.”
Ini adalah ajaran dari Pencilgon. Ketiadaan kebenaran yang sejati dalam daftar barang wajib itu memperlihatkan kebejatan orang itu, ya. Terlepas dari hal itu, aku membuat sebagian besar orang berpikir bahwa aku menuju ke “Reruntuhan Besi Zaman Para Dewa” demi mengaburkan tujuan utamaku. Seandainya ada yang melihatku menuju ke Gua Lautan Pohon Warna-Warni sekalipun, pendapat sebagian besar orang akan menyapu bersih kebenaran yang cuma dipegang minoritas. Konsep monster Majority Hound benar-benar sangat rasional.
“Nah, mari kita mencolok sepuasnya!”
“Kyaaaa, salto juga tolong ampuni Emul, waaa!!”
Para pemain yang sangat serius menekuni aspek kuliner di ShanFro terbagi menjadi dua jenis.
Dengan kata lain, ada pemain koki yang meminta pemain lain untuk mengumpulkan bahan masakan, dan ada pula pemain koki ala Steven Seagal yang menghajar musuh—bahkan naga sekalipun—hanya dengan pisau dapur dan penggorengan.

Post a Comment