Junior High School D×D Cerita Pendek Spesial 2 Bab 3
Bab 3: Strategi Besar sang Kesatria
Semua orang terengah-engah sembari mengenang apa yang baru saja terjadi.
“A-anu… dulu hal seperti itu tidak ada…!”
Ketua teringat saat sebelumnya pergi seorang diri ke gudang bawah tanah.
“Tak disangka ada hantu yang muncul, benar-benar mengejutkan. Tapi karena ini klub gaib, tidak aneh juga, sih.”
“A-Apa-apaan, Lunaire-san sok tenang begitu? Padahal larimu tadi secepat aku, lho.”
Aku pun sama terkejutnya. Kalau di tempat mistis sih lumayan, tapi sampai muncul di sekolah begini….
“Kalau kata Sona-san, di divisi SMA sepertinya ada Tujuh Misteri….”
Menurut Ketua, di divisi SMA juga ada laporan penampakan hantu di ruang musik saat tengah malam, di toilet, dan tempat lainnya. Namun, mari kesampingkan dulu cerita para senpai—
“B-bagaimana, masalah… Ghost Knight di gudang bawah tanah itu?”
Bicara soal kesatria berarmor, hal itu mengingatkanku pada pertemuan pertamaku dengan Lilibette.
…Meskipun lawan kami kali ini sudah bukan manusia lagi.
“Hum. Kemungkinan besar itu adalah arwah kesatria yang menyisakan penyesalan mendalam terhadap oppai.”
Setelah berdehem seolah berbicara sebagai sesama kesatria, dia membuat dugaan sok tahu seperti itu.
“Dia menyerang sambil meneriakkan ‘oppai’. Aku bahkan merasa dia mengincar Zekka dan aku secara khusus—mengapa demikian?! Ini tak lain dan tak bukan adalah diskriminasi ukuran payudara!”
Dia menunjuk oppai kami semua dengan tegas. Sangat tidak menyenangkan, tapi kalau diurutkan dari yang paling besar di Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib, akulah yang paling besar. Lalu diikuti oleh Lilibette, Schwert-san, dan Ketua.
“Masa, sih~? Kesatria wanita yang punya penyesalan sama oppai itu cuma dicari-cari, 'kan~?”
“Schwertleite. Berhentilah iri. Payudaramu juga pasti bakal tumbuh, kok.”
“Siapa juga yang iri~! Padahal oppai Lunaire-san saja kalah dari Miyamoto-san!”
“Ka-kau bilang apa?! Oppai Zekka itu memang sudah di tingkat curang, jadi mau bagaimana lagi…!”
Mereka berdua mulai berdebat soal oppai-ku. Hentikan, jangan bertengkar gara-gara oppai-ku!
“Kalau kesatria hantu itu tidak diatasi, kita tidak bisa membereskan gudang bawah tanah, ya.”
Perkelahian mereka berdua sudah biasa, jadi Ketua memikirkan langkah selanjutnya dengan tenang.
“Baiklah! Pertama-tama mari kita selidiki lawan kita dengan baik! Tanpa mengenal musuh, tak ada kemenangan!”
Serunya sambil memegang buku Kitab Lima Cincin… Dia benar-benar membawanya, ya.
“Untuk sementara, mari kita jadikan ide Lili-chan sebagai acuan!”
“Boleh saja. Lagian kesatria wanita hantu oppai itu paling cuma salah paham saja.”
Tidak biasanya Schwert-san bersemangat, dan kami pun memutuskan untuk pergi ke bawah tanah satu per satu sesuai urutan ukuran payudara tadi. Jika apa yang dikatakan Lilibette benar, berarti akulah yang bakal diincar secara berlebihan—
[…O…ppai…!]
Ya. Begitu turun ke bawah tanah, dia langsung menyerangku. Dia bahkan menghunus pedang di pinggangnya…. Karena kali ini tujuannya penyelidikan, aku langsung mundur ke permukaan tanpa bertarung. Setelah itu giliran Lilibette, lalu Schwert-san, tapi—
“Aku yang salah…. Dia memang menyerang sambil mengerang ‘oppai’….”
“Schwertleite. Tadi aku juga bicara terlalu berlebihan. Mari kita berjuang bersama agar tidak kalah dari Zekka.”
Rupanya mereka berdua juga dilontarkan kata ‘oppai’ oleh lawan. Terakhir, saat Ketua menyusup ke gudang bawah tanah….
“—Aku tidak diapa-apakan, tuh.”
Buchou kembali dengan ekspresi santai tanpa beban.
“Malah dia tidak bergerak sama sekali! Ya memang sih oppai-ku kecil!”
Punya respons sekencang itu justru bikin syok, keluh Ketua dengan rasa kesal.
“Sudah pasti, ‘kan.”
Lilibette mengangguk penuh percaya diri bahwa teorinya benar.
“Sudah kuduga kesatria itu bergerak bereaksi terhadap oppai, dia punya penyesalan atau dendam pada oppai!”
“Insiden aneh lagi, ya. Pakai saja Sacred Gear Miyamoto-san buat menebasnya cepat-cepat.”
“Kalau di balik zirah itu ada oppai sih bisa ditebas, tapi sepertinya tidak ada hawa keberadaan tubuh fisik… Tensei, bisa?”
[Enggak mau tebas besi, ah. Cuma mau tebas oppai~]
“Masa begitu sih~! Tolonglah, Ten-chan~! Oppai-ku sudah dihina, lho!”
Ketua memohon pada Tensei yang ada di dalam dadaku—atau lebih tepatnya, dia menggesekkan pipinya ke oppai-ku.
“…Serius, Zekka-chan memang besar banget ya, wangi lagi.”
“J-jangan dicium! Lalu karena Tensei juga begini, mohon ampunkan dendamnya!”
Jika merangkum hasil penyelidikan, tingkat respons kesatria hantu memang meningkat sesuai urutan besarnya payudara. Yang paling diwaspadai adalah aku. Dan terhadap ketua, dia sama sekali tidak bereaksi.
“T-tapi, anehnya aku tidak merasakan hawa membunuh sama sekali…. Apakah dia benar-benar musuh….”
Kesatria hantu itu memang sampai menghunus pedang, tapi walau berniat mengusirku, aku tidak merasakan semangat bertarung untuk melukai—bahkan saat pertama kali dia mendekat tanpa disadari pun, instingku tidak bereaksi.
“Tapi kalau begini terus, gudang bawah tanah tidak bisa dipakai, ya.”
Ketua menaruh tangan di dagunya sambil berpikir keras.
“Zekka-chan, kalau tidak bisa pakai Sacred Gear, apa tidak bisa mengalahkannya dengan kemampuan murnimu?”
“L-lawan sepertinya lumayan tangguh. Kalaupun bisa mengalahkannya, gudang bawah tanah bakal jadi medan tempur….”
“Kita tidak boleh menebas buku-buku berharga itu. Bagaimana kalau kita memindahkan hantunya dulu?”
“Sayangnya ada penghalang pencegah teleportasi yang terpasang. Tingkat keamanannya yang tinggi justru menyusahkan.”
Dengan kata lain, tidak ada pilihan selain membereskan masalah Ghost Knight di dalam gudang bawah tanah. Padahal gedung bela diri lama akhirnya sudah bersih, tapi di saat-saat terakhir malah muncul rintangan besar.
“Menurut pengetahuanku, hantu itu harus dibasmi dengan kekuatan, atau dibujuk agar bisa beristirahat dengan tenang.”
Lilibette mengajukan dua pilihan besar, tapi kali ini demi melindungi dokumen, kami ingin menghindari pertempuran.
“Lagi pula kalau dia punya penyesalan, kita ingin menyelesaikannya, ‘kan! Mari buat dia puas lalu pergi dari sini!”
Membantu orang yang sedang kesusahan—Ketua memilih opsi kedua berdasarkan keyakinan itu. Tentu saja anggota lain termasuk kami tidak keberatan. Kalau sudah begini, mari buat dia beristirahat dengan tenang secara tuntas.
“Sisa masalahnya adalah penyesalan seperti apa yang dia miliki.”
Hantu itu cuma bisa bicara ‘oppai’. Akan sulit untuk berkomunikasi lewat kata-kata.
“Kalau menurutku, apa payudaranya sendiri yang jadi kompleks baginya?”
“Hum. Memang kalau dilihat dari bentuk zirahnya, tampaknya saat masih hidup dia bukannya berdada besar, melainkan berdada rata.”
Berbagai spekulasi bermunculan… namun teori terkuat saat ini menyimpulkan bahwa saat masih hidup, dia tertekan oleh ukuran oppai-nya.
“Kalau begitu solusinya jelas. Kita buat dia yang dulunya berdada rata menjadi berdada besar, maka masalah selesai.”
Apa yang dikatakan Lilibette memang sangat masuk akal, dan Ketua yang mendengarnya mengangguk mantap.
“Kalau dia puas dan bisa beristirahat dengan tenang dengan cara itu, baguslah! Kalau gagal, mari cari cara lain!”
Lalu, soal bagaimana cara konkret untuk membuat Ghost Knight itu berdada besar….
“—Sebagai sesama kesatria, kali ini akulah yang harus memimpin di depan.”
Lilibette angkat bicara dengan semangat yang tiba-tiba meluap-luap.
“Jangan khawatir, aku punya ide bagus. Apakah di gedung bela diri lama ini ada satu set perkakas?”
Kemudian Ketua membawakan kotak perkakas, dan Lilibette mengambil palu yang ada di dalamnya. Apa yang sebenarnya hendak dia lakukan? Di saat kami merengut bingung, bagian belakang penutup matanya tampak bersinar.
“Jiwa hantu itu bersemayam di baju zirah. Dengan kata lain, baju zirah itulah tubuh aslinya, 'kan?”
Lilibette melanjutkan penjelasannya dengan penuh percaya diri.
“Dengan palu ini, aku akan menempa ulang zirahnya menjadi spesifikasi dada besar!”
“““Hah?”””
“Zekka melakukan pengalihan perhatian, Buchou menangkap kesatria itu, lalu Schwertleite memanaskannya dengan sihir api. Saat bahannya sudah lunak, aku akan memukulnya dengan palu untuk mengubah bentuk zirahnya—bukankah ini rencana yang sempurna?”
Kesatria-sama, kau masih waras…? Fakta bahwa dia tidak bercanda dan sangat serius justru membuatku takjub….
“Emm, Lili-chan, itu artinya kamu mau memproses baju zirahnya langsung, 'kan?”
“Tepat sekali.”
“Anu, pengalaman menempa besi atau semacamnya….”
“Tidak ada! Tapi dengan selera estetikaku, ini sih urusan sepele!”
Orang ini benar-benar kacau. Mana membanggakan selera estetika padahal dia sendiri chuunibyou tanpa sadar.
“M-maksudku, ini bukan lagi membujuk agar beristirahat dengan tenang, tapi sama saja dengan membasminya pakai otot—”
“Itu salah, Zekka! Strategi ini adalah wahyu yang dianugerahkan jalan kesatria padaku!”
Teriak Lilibette sambil mengayunkan palu dengan kecepatan tinggi.
“Kerja sama tim Pedang Ilmu Gaib! Dan martil yang kugenggam ini—dengan menggunakan Dark Dragonic Meteor Hammer, kita pasti bisa menyelesaikannya! Gemetarlah dan tunggulah, wahai Ghost Knight!”
Lilibette tertawa terbahak-bahak dengan keras sambil mengayunkan Dark-apa-lah-itu Hammer.
“Sebagai sesama kesatria, aku akan memberinya pengarahan terakhir—tidak, aku akan memberikannya payudara besar sebagai persembahan terakhir!”
…Daripada kesatria hantu, sepertinya lebih baik kami mengurusi kesatria rekan kami ini dulu.

Post a Comment