Junior High School D×D 4 Life.0
—Mekarlah dengan indah, wahai para gadis yang masih menguncup.
Life.0
Untuk Obaa-chan,
Sudah bulan Desember, ya.
Ini surat pertamaku setelah sekian lama. Apakah Obaa-chan sehat-sehat saja?
Beberapa waktu lalu, aku pergi ke Eropa Utara bersama teman-teman Pedang Ilmu Gaib.
Kami jalan-jalan melihat kota, main gitar, dan bernyanyi.
Meski melelahkan, rasanya sangat menyenangkan!
Lalu, aku bertemu dengan seorang pendekar pedang bernama Sasaki Yotsuba-san.
Aku sempat beradu pedang dengannya, tetapi….
Maaf.
Kemampuanku masih belum mampu mencapai taraf Ganryuu.
Aku benar-benar disadarkan betapa belum matangnya aku sebagai seorang pendekar pedang.
Setelah mengalami kekalahan pertama dari pendekar pedang seumuran dan kembali ke Jepang, aku kembali merenungkan hari-hari yang telah kulewati di Akademi Kuoh.
Seperti yang sudah sering kuceritakan kepada Obaa-chan, aku benci fakta bahwa oppai-ku bisa bercahaya.
Rasa cemas bahwa semakin aku kuat, aku akan semakin terisolasi pun tak pernah bisa hilang sepenuhnya.
Biasanya aku tidak memikirkannya, tetapi ada saat-saat tertentu ketika ingatan masa lalu kembali memicu rasa takut.
Karena itulah, aku memutuskan untuk pindah sekolah, dengan harapan bisa mengatasi masalah Tensei di sekolah… dan menjadi manusia biasa… agar bisa menjalani hari-hari yang menyenangkan.
Namun pada akhirnya, aku justru mendapatkan banyak teman seperti Avi-buchou, Lilibette, Schwert-san, dan Elta-kun.
Aku juga bisa akrab dengan para senpai yang luar biasa.
Akan tetapi, melihat perjuangan orang-orang di sekitar, aku jadi berpikir.
Anggota Pedang Ilmu Gaib yang lain pun masing-masing memikul beban masalah sendiri.
Mulai dari urusan keluarga, tanah kelahiran, teman masa kecil, hingga asal-usul diri….
Mereka berangsur-angsur bertumbuh dewasa sembari mengatasi semua persoalan tersebut.
—Lalu, bagaimana dengan diriku sendiri? Apakah aku sudah berkembang seperti mereka?
Oppai-ku masih bercahaya dan bahkan bisa berbicara.
Masalah Tensei pun belum ada satu pun yang terselesaikan.
Dan seperti sebelum pindah sekolah, aku tetaplah sosok penakut, rendah diri, dan kerdil.
Keberhasilanku mendapatkan teman pun mungkin hanya sebatas keberuntungan semata.
—Sebenarnya, aku ingin menjadi seperti apa ke depannya?
Menjadi ketua OSIS karena didorong oleh orang-orang di sekitar?
Menjadi pendekar pedang yang kuat karena tidak ingin kalah dari Yotsuba-san?
Atau bertarung melawan para pahlawan demi melindungi kehidupan sehari-hari?
Target yang tampak wajar seperti itu memang ada banyak, dan memang harus dicapai.
Namun sejujurnya, tak ada satu pun yang terasa benar-benar pas di hati.
Entah bagaimana harus mengungkapkan rasa ganjal ini….
Mungkin rasanya seperti jalan hidupku belum memiliki satu prinsip yang benar-benar kukuh? Pada akhirnya, kupikir aku belum tahu apa hal yang ‘paling ingin aku lakukan’ saat ini.
—Apakah cukup dengan sekadar berjuang secara buta?
—Jika aku terus-menerus hanya mengejar kekuatan dan hasil, bukankah aku akan kembali terisolasi?
Di tempat bernama Pedang Ilmu Gaib ini, aku telah berhasil menikmati masa muda yang selama ini aku idamkan.
Lantas, apa yang harus aku lakukan setelah ini? Jika ke depannya aku tetap ingin melangkah menuju masa depan bersama semua orang, bukankah aku juga membutuhkan sebuah ‘mimpi’ baru untuk dapat terus melangkah ke depan?
Aku harus menemukan sebuah tujuan yang ingin aku wujudkan dengan kehendak diriku sendiri—….

Post a Comment