Junior High School D×D 4 Seiren Tsukahara

1

Seiren Tsukahara.

—Aku selalu menginginkan sebuah tempat untuk pulang.

 

Aku, Tsukahara Seiren, tidak memiliki bakat sebagai seorang pendekar pedang. Di dunia pertarungan tempat yang kuat dianggap benar, aku selalu diperlakukan sebagai keberadaan yang salah.

“Kenapa kau selalu kalah?”

“Kepalamu keras. Firasatmu buruk. Lagi pula, bukankah kau memang tidak cocok untuk urusan bertarung?”

Seberapa keras pun aku berusaha untuk mengimbangi lawan, aku tetap tidak mendapatkan hasil apa pun.

Oleh karena itu, di sudut dojo, di sudut arena pertandingan, aku selalu hanya bisa menundukkan kepala.

Terhadap kenyataan yang dijatuhkan tanpa belas kasihan, aku tidak punya pilihan selain memejamkan mata dan menyumbat telinga untuk bertahan.

“—Seiren, datanglah ke rumah Ojii-chan.”

Di tengah penelantaran oleh orangtua maupun kakak-kakakku, serta dipinggirkan oleh banyak rekan seperguruan.

Kala itu, satu-satunya tempat melarikan diri bagiku adalah rumah ojii-chan.

Dia sudah pensiun dari kompetisi aktif, dan tidak pernah marah ataupun memarahi jurus pedang cucunya.

“—Hari ini, secara spesial, maukah Ojii-chan perlihatkan bentuk jurus yang dipikirkan oleh leluhur kita?”

Kenapa Ojii-chan saat itu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, niat sebenarnya sudah tidak kuketahui lagi.

Namun, apa yang diperlihatkan saat itu telah terpatri dengan dalam sebagai ingatan.

Hening, tanpa kesia-siaan, dan tanpa keraguan.

Di sana terdapat sebuah kebenaran yang teramat sangat indah.

“Bentuk jurus yang dipikirkan oleh leluhur kita itu sempurna.”

Kemudian yang diceritakan adalah kisah kepahlawanan sang Kensei, Tsukahara Bokuden.

Kisah tentang dia yang menguasai jurus pedang hingga puncaknya, membimbing banyak murid, lalu menjadi sebuah legenda.

“Dia menunjukkan bentuk yang lebih benar daripada siapa pun. Karena itulah semua orang mengaguminya dan berkumpul untuk belajar padanya.”

Aku ingat betapa dada ini tersentuh dengan kuat oleh kata-kata itu.

—Kebenaran, adalah sebuah daya tarik.

—Jika benar, maka orang-orang di sekitar akan mengakui.

—Jika berada dalam kebenaran, tempat untuk diriku sendiri pun bisa diciptakan.

“Kalau begitu, aku pun akan menjadi sempurna.”

Sejak hari itu, demi menjadi sempurna, aku mulai mengumpulkan kebenaran.

Postur yang benar. Makanan yang benar. Tidur yang benar. Ayunan pedang yang benar. Pernapasan yang benar.

Dan—bentuk jurus pedang yang benar.

Jika segalanya menjadi sempurna tanpa cela, aku bisa menjadi kuat. Aku bisa menjadi manusia yang diakui oleh banyak orang.

Seperti leluhur, suatu saat nanti aku mungkin bisa menyebut diriku sebagai Kensei.

Aku yang menyadari hal itu menjadi semakin tenggelam ke dalam jalan bentuk jurus—

 

Beberapa tahun telah berlalu sejak saat itu, dan aku telah menjadi murid kelas satu SMP.

Melalui berbagai macam suka dan duka, aku juga telah dipercayakan jabatan sebagai ketua Klub Kendo.

Jika sesuai dengan apa yang kupikirkan sewaktu kecil, aku yang telah menguasai bentuk jurus seharusnya dicintai oleh semua orang, tetapi….

“—Kenapa kau tidak bisa melakukannya sesuai dengan bentuk jurus?”

Akan tetapi, para anggota klub yang ada di hadapanku memiliki wajah yang tampak lelah.

“Posturnya berbeda. Sudut kakinya berbeda. Pernapasannya berbeda.”

Jika masuk ke dalam bentuk jurus yang benar, bahkan tanpa bakat pun seseorang bisa menang dalam pertarungan.

Hal itu telah terbukti dari diriku sendiri yang sempat disebut sebagai pecundang namun mampu membuahkan hasil.

Karena itulah aku mencoba mengajarkannya kepada semua orang. Aku mencoba membetulkan kesalahan mereka.

“Padahal jika melakukannya dengan benar dan menjadi sempurna, kalian bisa menjadi kuat….”

Meskipun demikian, mengapa semua orang justru menjauh?

Aku tidak salah. Padahal aku hanya melakukan hal yang benar sepanjang waktu—….

 

Aku berpikir jika aku benar, semua orang akan mengikutiku.

Namun, kenyataannya sangat jauh dari ideal.

Meskipun telah menjadi ketua, Klub Kendo selalu penuh dengan perselisihan dan terasa tidak nyaman.

Saat aku tak tahu harus berbuat apa, aku mengetahui keberadaan orang itu.

—Miyamoto Zekka.

Sosok perwujudan dari kekuatan sempurna yang menjadi keidealanku.

Mungkin dia tidak sesempurna diriku hingga ke kehidupan pribadinya.

Meskipun demikian, dari segi jurus pedang, dia tentu lebih sempurna daripada siapa pun.

Karena itulah dia mendapatkan tempat seperti Pedang Ilmu Gaib maupun OSIS, serta diandalkan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Aku akan menjadi seperti Miyamoto-senpai.”

Demi pasti memilih jalan yang benar.

Demi menjadi lebih kuat. Demi mendapatkan tempat yang tidak akan tergoyahkan.

Satu-satunya hal yang membuatku terus bertahan saat itu adalah tekadku untuk mengikuti jejaknya.

Post a Comment

0 Comments