Cygnus Maidens Jilid 1 Bab 1
Bab 1 – 2 April
Kamis, 2 April 2099, 10 pagi. Juumonji Alisa turun dari mobil di tempat parkir Bandara Haneda. Mengikuti jejak kakak tertua keduanya yang turun dari kursi pengemudi, dia menuju ke terminal bandara.
Dia adalah saudara tiri dari Kepala Keluarga Juumonji saat ini, Juumonji Katsuto, yang membawanya dua tahun lalu. Ibunya adalah seorang wanita Rusia yang membelot dengan nama Darya Andreevna Ivanova. Alisa setengah Jepang dan setengah Rusia, dengan penampilan yang jauh lebih mirip dengan orang Rusia.
Rambut pirang terang, mendekati perak muda, mata hijau, tungkai ramping, dan garis pinggang tinggi. Bahkan di Tokyo di mana jumlah orang dari berbagai ras meningkat, penampilannya menonjol.
Meskipun bukan sifat etniknya yang menarik perhatian publik. Itu adalah kecantikan dan proporsinya. Penampilan simetris yang umum bagi para penyihir bersama dengan kombinasi faktor daya tarik wanita dari kedua etnis bahkan menarik perhatian mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama, yang biasanya hanya akan melihat lawan jenis di lobi bandara.
Namun, bagi Alisa sendiri yang tidak suka menjadi pusat perhatian, hal ini benar-benar merepotkan. Setelah tiba di lobi bandara, dia bersembunyi di balik pengawalnya dan menelungkupkan wajahnya.
“Alisa, sepertinya dia sudah tiba.”
Pria muda yang dia gunakan sebagai tameng dari tatapan itu memanggil Alisa. Namanya Juumonji Yuuto. Putra kedua dari Keluarga Juumonji, yang menjadi saudara laki-lakinya dua tahun lalu dan satu tahun lebih tua darinya. Mulai April ini, dia juga akan bersekolah di SMA Satu yang berafiliasi dengan Universitas Sihir Nasional, yang juga akan dikunjungi Alisa, sebagai siswa kelas dua.
Yuuto tidak diragukan lagi adalah putra kedua dari Keluarga Juumonji, tetapi dia memberikan citra yang sangat berbeda dari kakak laki-lakinya, Katsuto, yang menggantikan sang Kepala Keluarga. Tingginya 177 sentimeter, tapi dia terlihat langsing. Sebenarnya dia cukup berotot, tapi dia terlihat lebih kurus dengan pakaian. Menggunakan ekspresi yang berbeda, dia bisa disebut ‘bugar’.
Yuuto awalnya adalah sepupu Katsuto. Ayahnya adalah adik dari Juumonji Kazuki, mantan Kepala Keluarga Juumonji. Ketika orangtuanya meninggal satu demi satu, Kazuki mengadopsinya.
Dia ada di sini untuk menjadi pendamping bagi Alisa dan orang yang dia tunggu. Dia juga yang membawa Alisa ke bandara dengan mobil. Saat ini pun, di akhir abad ke-21, seseorang harus berusia 18 tahun ke atas untuk mendapatkan SIM untuk mengemudikan kendaraan roda empat, tetapi ada celahnya. Dalam hal diperlukan untuk bekerja dan ada dokumen tertulis dari bisnis, lisensi dapat diperoleh pada akhir wajib belajar. Yuuto menggunakan kondisi khusus ini untuk mendapatkan SIM ketika dia lulus SMP.
Menanggapi panggilannya, Alisa mengangkat kepalanya dan melihat pengumuman kedatangan. Dikatakannya, papan informasi menunjukkan bahwa penerbangan domestik dari Bandara New Chitose tiba sepuluh menit lebih lambat dari jadwal. Alisa, yang tertunduk karena tatapan menyebalkan itu, dengan cepat mendapatkan kembali semangatnya.
Alisa dengan gelisah memperhatikan gerbang kedatangan. Dari sana, gadis yang ditunggunya muncul, membawa koper beroda bersamanya.
“Asha!”
Gadis yang baru saja turun dari pesawat adalah orang pertama yang meninggikan suaranya. Seorang gadis cantik, dengan rambut hitam lurus pendek. Matanya yang besar dan bundar tentu saja membuat semua orang yang melihatnya tersenyum. Kontras dengan penampilannya yang manis, tubuhnya glamor dengan payudara dan pinggul yang menawan.
Asha adalah nama panggilan Alisa. Gadis ini adalah satu-satunya orang selain mendiang ibunya yang memanggilnya seperti itu.
“Mina!”
Alisa balas berteriak dengan nama panggilan gadis lain.
Nama panggilan Tookami Marika, teman terdekatnya yang dibesarkan bersama seperti saudari.
Keduanya saling bergegas, dan saling berpelukan erat, seolah mempercayakan diri mereka satu sama lain.
“Asha, aku di sini!”
“Selamat datang, Mina.”
“Kita akan selalu bersama sekarang, 'kan?”
“Ya, itu membuatku sangat bahagia. Kita akan bersama lagi.”
Ini adalah lobi kedatangan Bandara Haneda. Ada banyak orang di sekitar mereka. Tapi baik Alisa maupun Marika sama sekali tidak peduli dengan mata dan telinga orang lain. Mereka tetap berpelukan seperti itu, dengan antusias bertukar kalimat yang menyesatkan.[1]
“Ah, Alisa, Tookami-san? Sudah mulai ramai, jadi bukankah sebaiknya kita keluar dari sini?”
Yuuto memanggil keduanya, tenggelam dalam dunia mereka sendiri, dengan ekspresi canggung di wajahnya.
Sebagai catatan tambahan, penyebab keramaian adalah bertambahnya jumlah penumpang yang datang yang berhenti karena perhatian mereka dicuri oleh dua gadis cantik yang saling berpelukan.
Alisa dan Marika berpisah karena ucapan Yuuto.
Alisa, yang sekarang menyadari perhatian yang didapatnya, menghindari menatap matanya karena malu, tetapi Marika berbalik menghadap Yuuto dan menatap lurus ke matanya.
“Marika saja tidak masalah.”
Bukan ‘Tookami-san’, hanya Marika. Itu bisa terlihat ramah, atau dia membuka diri untuknya, jika hanya isi dari apa yang dia katakan dianalisis. Tapi nada yang hanya bisa digambarkan sebagai agresif, atau lebih tepatnya berduri, sama sekali tidak bisa disebut ramah.
“Ah, dan tidak perlu menambahkan ‘san’ atau ‘chan’.”
“O-oke?”
Yuuto membungkuk ke belakang, bukan karena dia kewalahan, dia hanya tidak tahu cara yang baik untuk menanganinya.
“…Kalau begitu, jangan tinggal di sini. Marika, Alisa, dan aku akan pergi dengan mobil. Ingin kami mengantarmu ke apartemenmu?”
“Tentu, Juumonji-san.”
Yuuto, mendengar jawaban kaku Marika, hampir membuat kerutan muncul di wajahnya.
“Alisa dan aku sama-sama Juumonji…..”
“Aku memanggil Alisa ‘Asha’, jadi menurutku itu tidak akan membingungkan.”
“Itu benar.”
Dia berbicara dengan sangat jelas sehingga dia tidak bisa mengatakan bahwa dia juga bisa memanggilnya dengan namanya. Yuuto menelan desahannya dan mulai berjalan, memimpin jalan menuju Alisa dan Marika.
◇ ◇ ◇
Marika, yang diterima di SMA Satu yang berafiliasi dengan Universitas Sihir Nasional, berencana untuk tinggal sendiri di Tokyo sampai dia lulus. Apartemen yang akan dia gunakan untuk efek itu adalah, menggunakan delimitasi lingkungan sebelum diperkenalkannya reformasi administrasi baru, berlokasi di Kuramae, Kota Taito, (bekas) Tokyo. Orang yang mengatur apartemen sewaan ini adalah Yuuto.
Adapun mengapa Yuuto, seorang siswa SMA, dapat melakukan ini, adalah karena gedung apartemen itu dikelola oleh perusahaan real estat yang memiliki hubungan dekat dengan Perusahaan Uwaki, sebuah perusahaan yang dikelola oleh Juumonji. Sederhananya, koneksi orangtua. Tapi tetap saja, Yuuto-lah yang berinisiatif mencari apartemen. Bukan ayahnya Juumonji Kazuki, atau kakaknya yang Kepala Keluarga saat ini Juumonji Katsuto, yang melakukan upaya untuk Marika, yang dia lakukan karena Alisa peduli pada Marika.
Yuuto adalah anggota keluarga yang menyayngi Alisa, yang bergabung dengan keluarga dua tahun lalu. Tidak, mungkin lebih tepat untuk mengatakan dia peduli padanya, daripada menyayanginya.
Kedua orangtua Yuuto sendiri telah meninggal dan diadopsi oleh Juumonji. Dia tidak bisa menganggap Alisa, yang ibunya meninggal dan diasuh di keluarga orang lain, bukan urusannya. Kakak laki-lakinya, Katsuto, membawa Alisa, dan dia melibatkan diri dengan membantunya membiasakan diri dengan Keluarga Juumonji dan Tokyo. Mungkin karena inilah Alisa paling memercayai Yuuto daripada siapa pun di keluarganya.
Bagi Yuuto, Marika tidak lebih dari sahabat spesial Alisa.
Yuuto sendiri tidak memiliki perasaan khusus terhadap Marika.
Mereka tiba di apartemen Marika pada pukul 11 siang. Setelah menurunkan mereka di depan apartemen, Yuuto meninggalkan mobilnya dan pulang.
Alisa adalah orang yang memegang kuncinya. Keduanya segera memasuki apartemen.
Listrik dan air sudah diurus (karena semua listrik, gas tidak digunakan). Selanjutnya tinggal menunggu jasa pindahan tiba pada waktu yang telah ditentukan.
Untuk saat ini, mereka membuka jendela untuk ventilasi dan langsung duduk di atas karpet untuk bersantai. Mereka mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting seperti: “Pesawatnya agak terlambat, ya” “Ada banyak turbulensi di jalan”, dan seperti “Apakah terjadi sesuatu pada paman dan bibi?” “Tidak, semuanya baik-baik saja”, sampai interkom pintu berdentang.
“Itu mungkin Yuuto, jadi aku akan membukanya.”
Alisa berdiri perlahan dan berdiri di depan interkom. Di monitor muncul orang yang dia harapkan, Yuuto.
Dari kediaman Juumonji ke apartemen ini berjarak kurang dari sepuluh menit berjalan kaki. Lingkungan dalam jarak berjalan kaki juga merupakan permintaan yang dibuat Alisa untuk Marika.
Yuuto naik ke kamar, membawa tas dari toko nirawak.
“Aku membawa teh. Dengan suhu seperti ini, lebih baik dingin, 'kan?”
“Yuuto-san, terima kasih banyak.”
“Terima kasih banyak. Mari kita minum.”
Setelah mendengar ucapan terima kasih Alisa, Marika tidak bisa memberikan respons dingin. Dia dengan tenang menerima teh botol dari Yuuto.
Yuuto membeli lebih dari sekadar minuman. Tas yang terbuat dari plastik dapat terurai ini juga berisi beberapa makanan ringan. Meskipun ini belum jam makan siang, perlahan-lahan mencapai waktu untuk merasa lapar. Namun, peralatan makan dan furniturnya belum tiba. Kompor induksi dan microwave yang dilengkapi dengan kemampuan memasak otomatis dibawa ke kamar terlebih dahulu, tetapi lemari es harus dibawa oleh jasa pindahan, jadi tak ada yang bisa dimakan di kamar. Marika terpaksa mengakui bahwa makanan ringan adalah pembelian yang cerdas. Faktanya, dia menjangkau sandwich yang Yuuto beli.
Juumonji Yuuto, seorang pria dengan ketekunan yang tidak sesuai dengan usianya.
Interkom berdering sekali lagi, tepat setelah mereka selesai makan.
“Halo, siapa itu?”
Sebelumnya, Alisa berjalan ke depan interkom dan menekan tombol untuk menjawab, tapi model di apartemen ini bisa bekerja dengan perintah suara. Selain itu, dengan apartemen sebesar ini, suara penelepon dapat terdengar meskipun berdiri di dekat jendela.
Di luar interkom adalah jasa pindahan. Marika berdiri, memeriksa kartu identitas mereka melalui monitor, dan membuka kunci pintu masuk.
Apartemen ini berada di lantai atas sebuah gedung berlantai dua belas. Mereka harus menunggu beberapa saat sebelum interkom berdering lagi. Marika, yang sedang menunggu bel dengan nada berbeda dari interkom, menjawab, dan Yuuto pergi ke pintu masuk.
Saat Yuuto membuka pintu, di sisi lain ada dua orang jasa pindahan dan gerobak yang membawa barang bawaan.
Meskipun dia akan tinggal sendiri, ada banyak barang, seperti kursi, meja, lemari es, AC, lemari, dan banyak lagi. Berharap bantuan laki-laki diperlukan untuk pekerjaan fisik, Yuuto datang untuk membantu.
Tapi ketika dia melihat jasa pindahan menggunakan exoskeleton bantuan kekuatan, dia menyadari bahwa dia mungkin tidak diperlukan.
Itu adalah seorang gadis yang pindah ke rumah baru. Ada banyak hal yang tidak ingin dilihat oleh pria seumuran, jadi dengan berada di sana dia hanya mengganggunya. —Yuuto berpikir seperti itu.
“Marika, aku akan pergi dari sini.” Ucap Yuuto pada Marika sebelum pulang.
“Oke, terima kasih.” Balas Marika, bukannya enggan atau dingin tapi secara normal, membalas salam perpisahan.
“Alisa, jika sudah larut, telepon aku dan aku akan menjemputmu.”
“Ya, aku mengerti.”
Balasan Alisa lebih ramah daripada Marika. Tetapi apakah dia memperlakukannya dengan terlalu formalitas adalah pertanyaan yang belum terjawab.
◇ ◇ ◇
Setelah furnitur dan peralatan listrik dipasang, Alisa dan Marika bersenang-senang sambil membereskan peralatan makan dan pakaian.
Mereka mulai tepat setelah tengah hari, dan semuanya sudah ada di tempatnya sebelum jam 5 sore. Menimbang bahwa dibutuhkan dua orang untuk mengatur apartemen satu kamar yang dimaksudkan untuk hidup sendiri, hasilnya mungkin tidak terlihat terbaik.
Meskipun mereka bercakap-cakap, peralatan makan segera dibereskan. Sebagian besar bahan pelajaran di era ini serba digital, sehingga tidak butuh waktu lama untuk merapikannya. Meski tinggal sendiri, Marika memilih meja kecil untuk empat orang—artinya, sebenarnya hanya untuk dua orang—alih-alih meja kerja atau meja tulis.
Menyimpan pakaian membutuhkan waktu. Ini seharusnya menjadi sesuatu yang cepat untuk diselesaikan, tetapi komentar tentang ukuran dan desain serta keheningan yang terjadi menyebabkan mereka berhenti menggerakkan tangan. Fenomena membekukan ini sering terjadi, terutama saat menyimpan pakaian dalam. Dalam hal menyimpan pakaian, mungkin lebih baik jika hanya salah satu dari mereka yang menangani tugas itu.
Pokoknya, tugas pindahan sudah selesai dan semuanya termasuk tempat tidur siap digunakan. Kardus masih digunakan untuk mengangkut barang, tetapi kardus dapat dibuang ke tempat pengumpulan sampah umum di ujung ruangan bahkan tanpa perlu mengikatnya. Setelah tempat dibersihkan, Alisa menelepon ke rumah seperti yang dia janjikan. Ini masih sore, tapi kalau dia pulang sendiri, Yuuto akan cukup menyebalkan. Dia tidak akan membentaknya, tapi itu tidak membuat ceramahnya tidak terlalu menjengkelkan.
‘Aku ingin kau berhenti memperlakukanku seperti anak kecil’ adalah apa yang benar-benar dipikirkan Alisa. Tapi dia mengerti bahwa Yuuto menunjukkan kepeduliannya yang tulus, jadi tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Halo, ini Juumonji yang berbicara.”
Menjawab panggilan itu adalah suara tenang milik seorang gadis yang lebih muda dari Alisa.
“Kazumi-san? Ini Alisa.”
“Ya, ini Kazumi.”
Di sisi lain panggilan adalah Juumonji Kazumi, adik tirinya yang akan segera memulai tahun keduanya di SMP.
Meski dua tahun lebih muda, Alisa tidak memanggilnya ‘Kazumi-chan’ dan Kazumi juga tidak memperlakukannya sebagai kakak perempuan. Ini bukan karena dia tidak menerima Alisa sebagai keluarga. Bahkan saat mereka bertemu di dalam rumah, Kazumi tidak memperlakukan Alisa dengan kasar. Sejak awal, dia bereaksi terhadap kehadiran Alisa hanya sebagai bisnis, sampai-sampai orang bertanya-tanya apakah dia benar-benar yang lebih muda.
“Haruskah aku memanggil Yuuto-san?”
Sebelum Alisa mengajukan permintaannya, Kazumi terlebih dahulu bertanya, tetapi bukan karena Alisa sering berbicara dengan Yuuto. Itu hanya tebakan bagus Kazumi.
“Ya, tolong lakukan.”
Dan seperti biasa, Alisa tidak keberatan dia didahului.
“Tolong tunggu beberapa saat.”
Meskipun Alisa menelepon dari terminal portabelnya, dia hanya menggunakan suara. Terminal ini juga memiliki fitur panggilan video, tetapi apakah akan menggunakan kamera selama panggilan seluler atau tidak adalah masalah pilihan. Dan Alisa hanya penyuka suara.
Alih-alih menggunakan unit komunikasi suara, musik yang ditahan dapat didengar dari terminal yang langsung diletakkan di telinga seolah-olah itu adalah smartphone lama. Soal selera Katsuto, musik Keluarga Juumonji bukan pop, tapi klasik.
“Aku sudah mengambil alih telepon. Ini adalah Yuuto.”
Melodi delapan birama berhenti dimainkan saat Yuuto menjawab panggilan tersebut.
“Ini Alisa. Kami sudah selesai, jadi aku akan pulang.”
“Mengerti. Aku akan segera ke sana, jadi tunggu sebentar.”
Alisa akan dengan tenang bersikeras ‘Aku akan pergi sendiri’, tetapi dia segera diingatkan tentang siapa yang ada di sisi lain.
“Mengerti.”
“Yah, sampai jumpa dalam sepuluh menit.”
Karena ini sepuluh menit, dia mungkin datang dengan berjalan kaki. Sepertinya dia masih belum cukup overprotektif untuk membawa mobil dalam jarak sedekat ini.
Itu tidak membuatnya kurang puas. Apa yang mengintai di hatinya tanpa sadar muncul di wajahnya. Melihat raut wajah Alisa, Marika dengan akurat menebak isi panggilan telepon yang tidak bisa dia dengar.
“Kau benar-benar dicintai, Asha.”
“…Bukan seperti itu. Memang benar Yuuto-san baik padaku, tapi dia cuma khawatir. Aku baik-baik saja dengan itu, tapi itu bukan sesuatu seperti cinta.”
“Eeeh….”
Marika memandang Alisa, yang memberikan bantahan singkat, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Dengan tatapannya, dia juga mengkritik Alisa.
“Apa ada sesuatu yang ingin kaukatakan?”
Tidak tahu bahwa Marika mengkritiknya, Alisa bertanya lugas.
“Tidak ada.”
Marika dengan dingin membantah pertanyaan Alisa. Tapi Alisa, yang bersamanya sejak mereka masih kecil hingga dua tahun lalu, mengerti bahwa Marika tidak senang dengannya.
Juga, ini tentang sesuatu yang bodoh.
“Itu bukan wajah seseorang yang tidak punya apa-apa untuk dikatakan.”
Alisa memandang Marika, yang jelas-jelas menghindari topik itu, dengan mata setengah tertutup—yang disebut mata mencemooh.
“Kau salah. Aku cuma berpikir seperti itu.”
Nada suara Marika jelas terlihat cemberut. Alisa memahami inti dari apa yang dipikirkan teman masa kecilnya.
“Meskipun benar bahwa Yuuto-san memiliki perasaan yang lebih kuat padaku daripada perhatian…. Aku tidak memiliki perasaan seperti yang kaupikirkan, Mina.”
“Tapi dia tampak seperti pria yang sangat baik. Dan dia lebih tampan dari kakakmu.”
Marika membalas dengan nada kesal.
Yang dia panggil ‘kakak’ adalah Katsuto, Kepala Keluarga Juumonji saat ini. Dia terakhir melihat Katsuto dua tahun lalu, tapi Alisa tidak membantah komentarnya.
Penampilan Katsuto hampir identik dengan dua tahun sebelumnya, dan banyak wanita akan setuju bahwa Yuuto lebih tampan. Alisa tidak mengatakannya, tapi menurutnya juga begitu.
“Aku tak pernah memandang Yuuto seperti itu.”
Tapi itu soal yang berbeda. Alisa menjelaskannya.
Yuuto diadopsi ke dalam cabang utama Keluarga Juumonji, jadi dari segi hubungan darah, dia adalah sepupu. Pada dasarnya tidak akan ada masalah kendatipun dia adalah target kasih sayangnya.
Tapi sejujurnya, Alisa memiliki masalah dengan hubungannya yang lain di dalam keluarga, dan membawa perselingkuhan ke dalam rumah pasti akan membuat hubungan yang sudah bernoda menjadi lebih buruk. Alisa tidak tertarik menginjak ranjau darat yang begitu mudah dikenali.
Mungkin disampaikan kepada Marika bahwa Alisa sangat tidak menyukai subjek ini. Marika menarik kembali kecemburuannya terhadap Yuuto yang telah berada di sisi Alisa selama dua tahun.
◇ ◇ ◇
Butuh delapan menit bagi Yuuto untuk membunyikan interkom di kamar Marika lagi. Setelah mengatakan ‘dalam sepuluh menit’, dia tiba sedikit lebih cepat dari jadwal. Tapi yah, itu masih dalam batas kesalahan.
“Permisi.”
Setelah Yuuto menyapa mereka, dia bertanya, “Kau belum pergi berbelanja?”
“Belum.”
Alisa menjawab pertanyaan itu dengan jawaban jelas, agak bingung.
“Kau juga tidak bisa memasak, 'kan? Marika, kau mau ikut makan di rumah kami?”
Mungkin saja pertanyaan tentang belanja yang mengarah ke saran ini.
Yuuto jelas mengatakannya dengan niat baik. Dia baru saja pindah, jadi tentu saja sulit untuk pergi berbelanja dan memasak pada saat ini.
Marika juga tidak curiga dia punya motif lain.
“Tidak usah, aku akan memesan saja.”
Tapi dia menolak ajakan Yuuto. Marika tidak memiliki perasaan apa pun untuk Yuuto sendiri, tetapi perasaan sakit masih ada pada Keluarga Juumonji, yang mengambil Alisa darinya.
Baik Alisa maupun Yuuto tidak dapat merasakannya, tetapi mereka tidak membuatnya mempertimbangkan kembali.
“Baiklah, sampai jumpa besok, Mina.”
“Ya, sampai jumpa besok.”
Ketika Alisa mengumumkan di depan pintu bahwa dia akan datang lagi besok, Marika mengangguk dengan gembira.
◇ ◇ ◇
Secara alami, Alisa tidak banyak bicara. Dia bukan pendiam, tetapi dia memiliki kepribadian yang pendiam.
Yuuto juga pandai memperhatikan orang lain, tapi dia tidak memiliki karakter yang lembut. Dia adalah tipe yang menunjukkannya melalui perilaku dan tindakannya daripada kata-kata. Dia tidak memiliki keterampilan dalam membuat percakapan dengan seorang gadis.
Mereka berdua menghabiskan kira-kira sepuluh menit berjalan dalam keheningan.
Akhirnya, mereka bisa melihat gerbang ke kediaman Juumonji.
Kediaman Juumonji sendiri tidak terlalu besar. Tapi mengingat lokasinya, sangat luas sehingga sulit dipercaya bahwa ini adalah Tokyo, padahal ini adalah pusat kota.
Yang tidak terlalu mengejutkan, mengingat kediaman Juumonji mewarisi seluruh situs Lembaga Penelitian Kesepuluh, yang ditutup. Sepintas, mereka terlihat dipisahkan oleh tembok, tapi tanah tempat berdirinya fasilitas bekas Lembaga Penelitian Kesepuluh yang belum dihancurkan juga dimiliki oleh Keluarga Juumonji.
Keluarga Juumonji mengambil alih real estat bekas Lembaga Penelitian Kesepuluh milik pemerintah karena mereka diberi tugas untuk mengelolanya dan mencegah kebocoran informasi.
Lembaga Penelitian Kesepuluh ditutup pada tahun 2066. Lebih dari tiga puluh tahun telah berlalu sejak ditutup, tetapi saat ini pun banyak dari hasilnya dianggap sebagai rahasia militer paling top.
Keluarga Juumonji adalah penghalang pertahanan terakhir ibu kota, dan Keluarga Tooyama adalah senjata rahasia untuk melindungi orang-orang penting. Jika rahasia sihir kedua keluarga bocor, itu bisa membuat lubang di dinding yang melindungi pusat negara. Karena alasan itulah pemerintah menunjuk Keluarga Juumonji sebagai penjaga gerbang bekas Lembaga Penelitian Kesepuluh.
Oleh karena itu, meskipun gerbang ke kediaman Juumonji tidak terhubung langsung dengan fasilitas lain dari Lembaga Penelitian Kesepuluh, itu lebih aman daripada yang terlihat. Dari gerbang itu, hanya satu anak laki-laki yang keluar.
“Tatsuki, kau mau keluar?”
Nama anak laki-laki yang dipanggil Yuuto adalah Juumonji Tatsuki. Adik ipar Yuuto, dan saudara tiri Alisa yang lebih muda darinya sekitar enam bulan.
Tatsuki tidak mengabaikan Yuuto.
“Aku akan jalan-jalan sebentar.”
Dia memberikan jawaban yang sangat singkat dengan wajah kesal dan mencoba melewati Yuuto.
“Selarut ini? Apa kau sudah selesai bersiap-siap untuk besok?”
Mendengar bagian pertama dari kalimat Yuuto, Alisa berpikir ‘Aku bukan satu-satunya…’, dan kabut kelabu yang membebani pikirannya sedikit berkurang. Tapi bagian kedua dari kalimat itu, membuatnya sekali lagi sadar akan duri yang menusuk hatinya.
“Aku sudah selesai sejak lama. Kalau kau mau, aku bisa pergi sekarang.”
Jawaban Tatsuki membuat Yuuto terlihat malu.
“Tatsuki-san, tolong segera kembali.”
Alisa memohon kepada Tatsuki, memasuki dirinya ke dalam percakapan saat Yuuto tampaknya kehilangan kata-kata. Saat Tatsuki akan berangkat besok, makan malam bersama seluruh keluarga direncanakan untuk malam ini. Ibu Tatsuki, Keiko, juga harus mengerahkan segalanya untuk malam ini, alih-alih menyerahkannya pada kompor otomatis.
Alisa berpikir bahwa Tatsuki tidak mungkin melupakan itu. Tapi sejak kepergian Tatsuki diputuskan, Alisa melihat ibu tirinya dengan ekspresi kesepian, dan dia tidak bisa menahan diri untuk mengatakan sesuatu.
Tapi Tatsuki tidak membalas, dia hanya menatapnya sejenak dan segera pergi.
[1] Ungkapan yang digunakan Alisa untuk “bersama” juga bisa berarti “menikah”.

Post a Comment