Shangri-La Frontier Bab 15

15 – Hal yang Bikin Jengkel Kalau Efisiensi Waktunya Buruk

・Batu Kerikil

Batu kerikil yang tidak ada keistimewaannya sama sekali. Sama sekali tidak memiliki nilai sebagai bijih mineral, tetapi memiliki nilai guna sebagai peluru kerikil.

・Bijih Besi Kelabu

Bijih besi berwarna kelabu. Meskipun tidak memiliki efek khusus, bijih ini dapat diolah untuk berbagai kegunaan. Karena tidak memancarkan kilau meskipun digosok, nilainya sebagai barang hiasan berada di tingkat paling bawah.

・Bijih Besi Perak

Bijih besi berwarna perak. Perlengkapan yang menggunakan bahan ini memiliki efek “Ketahanan Sihir”. Warnanya perak, tetapi ini adalah besi.

・Fosil Peti Rawa

Fosil yang kemungkinan merupakan bagian dari suatu monster. Peti rawa yang berdiri berjajar di Rawa Tandus Penuh Sengsara terkadang memuat ingatan dari makhluk hidup di zaman purba yang sangat lampau. Apakah hasil galian ini sekadar sisa-sisa masa lalu ataukah warisan dari masa lalu, semuanya tergantung keberuntungan….

 

Mengayunkan beliung secara monoton selama sepuluh menit memang terasa lumayan seperti gim sampah, tapi hasilnya bisa dibilang cukup memuaskan, 'kan? Terutama item Fosil Peti Rawa yang mendadak drop cuma satu buah ini benar-benar memancarkan aura yang sangat langka.

Tampaknya setelah ditambang dalam jumlah tertentu, objek batu… pilar rawa? itu bakal runtuh dan tidak bisa ditambang lagi. Tepat saat Bijih Besi Kelabu terakhir drop, pilar rawa itu pun runtuh.

“Nah, sekarang harus bagaimana, ya….”

Yah, kembali dulu lalu meminta dibuatkan senjata adalah pilihan terbaik, sih. Untuk saat ini aku mau memeriksa apa saja yang bisa dibuat dari item yang baru saja kukumpulkan. Kalau kurang, aku bakal memanggul beliung lagi, dan kalau sudah cukup, aku bakal menaikkan level memakai senjata yang sudah dibuatkan baru memanggul beliung lagi. Di area ini masih ada banyak pilar rawa, jadi untuk sementara aku bakal menggali satu per satu secara acak demi verifikasi item.

Tapi sungguh, aku sangat terbantu karena sekolahku masuk libur musim panas lebih awal dibanding sekolah lain. Lagian, kalau sudah bicara soal musim libur musim panas, bagi sebagian besar industri itu adalah masa puncaknya meraup keuntungan. Tentu saja, Shan-Fro yang sedang melesat sebagai gim mahakarya sudah pasti bakal memperbarui rekor penjualannya di musim libur musim panas, dan kota pertama dipastikan bakal dipenuhi oleh pemain-pemain baru.

Meskipun terdengar agak kasar, kalau para pemain baru mulai bertualang secara serentak, segala area dan item bakal dilahap habis bagaikan kawanan belalang. Katanya tindakan pencegahan sudah disiapkan, tapi pemandangan di mana pemain ada di mana-mana itu lumayan… yah, bakal mengganggu.

 

“Halo, aku sudah mengumpulkan bijih besi. Apa saja yang bisa dibuat dari ini?”

“Coba kulihat… Hou, lumayan banyak juga yang kau kumpulkan. Kalau segini sih harusnya hampir semua barang bisa dibuat.”

Kalau menggali satu pilar rawa sampai habis bisa membuat senjata, artinya kecuali ada kejadian luar biasa, kecil kemungkinan beberapa pemain perlu terus-menerus menggali pilar rawa. Yah, tapi aku tetap bakal menggali, sih.

“Fumu, fumu….”

Di antara senjata-senjata baru yang ditampilkan, ada dua yang menarik perhatianku.

・Belati Danau Rawa

10.000 Mahni

・Gergaji Ganda Buas

16.000 Mahni

“Yah, aku cuma penasaran saja, sih, tapi yang bakal kubeli sudah pasti. Buatkan dua Belati Danau Rawa, ya.”

Setelah menjual berbagai item yang kudapatkan di Hutan Haru Biru, aku punya lumayan banyak sisa uang. Lagian, mau bagaimanapun aku bakal menggali pilar rawa dan berburu monster lagi, jadi beli yang satunya lagi nanti saja.

“Baiklah, Nii-chan ini pengguna gaya dua pedang, ya?”

“Nng? Yah, begitulah.”

“Sudah lama sekali rasanya tidak membuatkan dua senjata yang sama untuk gaya dua pedang! Hahahahaha!!”

Hee, apakah pengguna gaya dua pedang itu sedikit, ya? Meski begitu, tampaknya urusannya tidak selesai hanya dengan menyerahkan bahan dan uang lalu langsung jadi. Karena aku disuruh datang lagi saat malam tiba, aku jadi tidak ada pekerjaan.

“Harus bagaimana, ya….”

Yah, menaikkan level saja kali, ya.

 

Maka dari itu, aku kembali lagi ke Rawa Tandus Penuh Sengsara. Aku sempat berpikir harus bagaimana sampai malam tiba, tetapi pada akhirnya aku memutuskan untuk menaikkan level. Aku juga harus mencari uang, jadi untuk sementara ayo bantai Mud Frog secara membabi buta, ayo lakukan itu.

Lalu, mungkin karena ini gim, suara kuakan melengking yang seolah-olah secara terang-terangan bilang “Aku mau menyerangmu sekarang, bersiaplah” bergema dari atas kepala.

Saat mendongak, burung yang sempat kulihat sekilas saat pertama kali datang ke sini… kalau dilihat lagi sekarang, monster yang mirip burung nasar meluncur turun seolah hendak menyerangku.

“Terima kasih banyak karena target verifikasi datang sendiri menghampiriku.”

Sambil melangkah satu langkah ke samping untuk melepaskan diri dari tendangan cakar tajam burung nasar yang menyasar kepalaku, aku mencoba menghantamkan Kapak Tangan Goblin ke kaki burung nasar tersebut.

“GyAEE!!?”

“Ugeh! Langsung hancur dalam satu pukulan!?”

Yang satu menjerit karena rasa sakit luar biasa, dan yang satunya lagi menjerit karena kerugian. Meskipun sudah aus, ketahanannya masih tersisa dua pertiga, lho, tapi siapa sangka bakal hancur dalam satu pukulan. Apakah ini monster kokoh yang tidak mempan dilapisi Kapak Tangan Goblin, ataukah bagian kakinya itu yang sangat kokoh… yah, sudahlah.

“Oryaaa!”

Aku melemparkan kapak tangan yang tersisa ke arah burung nasar, lalu mengambil kapak tangan baru… meski disebut baru, kapak ini sudah aus saat mengalahkan Mud Frog… dan mendekati burung nasar yang pergerakannya terhenti gara-gara kapak yang kulempar mengenai sayapnya.

“Kepala! Sayap! Badan! Sekali lagi kaki!!”

Kuh, aku sudah memukulinya lumayan banyak tapi tidak kunjung tumbang. Apakah Kapak Tangan Goblin memang cuma sampai Mud Frog batas kemampuannya? Pemandangan memukuli burung nasar yang jatuh ke tanah secara kalap menggunakan alat batu memang lumayan konyol, tapi setelah terus memukulinya secara membabi buta selama sekitar empat puluh detik, akhirnya burung nasar itu menyisakan bulu lalu berubah menjadi poligon dan meledak.

“Memakan waktu lama, ya…. Atau lebih tepatnya, cuma bulu, ya.”

Sambil memungutnya, aku mencoba memeriksanya.

 

・Bulu Bandit Vulture (Burung Bangkai Penyamun)

Sehelai bulu dari Bandit Vulture. Secara harfiah hanya bulu biasa, dan tidak memiliki nilai selain digunakan sebagai bukti dari Serikat Pencuri. Namun justru karena itulah, ini adalah bukti dari orang-orang yang dulunya hanya diperlakukan sebagai penjahat.

 

“Sama sekali tidak sebanding!!”

Melihat nilainya yang terlampau rendah sebagai imbalan dari kerja keras, tanpa sadar aku menjerit.

Pada kenyataannya, monster yang terus-menerus terhuyung-huyung selama 40 detik pada dasarnya adalah hal yang tidak mungkin.

Namun, karena serangan critical memiliki efek knockback sekitar 1 detik, secara teori jika pemain bisa terus-menerus melancarkan critical berturut-turut menggunakan senjata dengan jumlah pukulan banyak seperti pedang ganda atau gaya dua pedang, sebagian besar monster kroco bisa dikunci total. Tentu saja, hal itu hanya berlaku jika pemain bisa terus-menerus mengayunkan senjata di sudut paling optimal terhadap monster yang sedang menggeliat kesakitan.

Sebagai catatan, monster yang levelnya sudah lumayan tinggi akan melepaskan status terhuyung-huyung secara paksa menggunakan aksi khusus.

Post a Comment

0 Comments