Shangri-La Frontier Bab 20

20 – Pemain Papan Atas yang Saling Bertolak Belakang

“Lho, pemain yang itu kok masih ada di sini, ya…?”

“Kenapa pemain level setinggi itu berdiri tegak di kota pertama, sih?”

“Katanya dia lagi cari seseorang.”

“Maksudku, kabarnya pemain di baliknya itu perempuan, lho.”

“Seriusan? Pemain perempuan pakai karakter pria kekar, ya… Boleh juga, sih.”

“Sudah, jangan dicoba. Orang sepele yang baru mulai seperti kita ini enggak bakal dia gubris.”

 

Liburan musim panas dimulai, dan jumlah pemain baru melonjak drastis, sehingga orang tersebut—bahkan dia sendiri—berpikir bahwa menemukan sosok yang dicarinya akan sangat sulit. Justru karena itulah, di tengah perjalanan saat dia terpaksa hendak kembali ke markas akibat dimarahi oleh petinggi klan, bisa mendengar nama itu adalah sebuah keajaiban yang nyata.

“Ternyata tidak cuma menaikkan level, tetapi player skill juga harus dinaikkan, ya.”

“Ternyata begitu, ya. Padahal levelku sudah sama seperti Sunraku-san, tetapi serangan Vorpal Bunny sama sekali tidak bisa kutangkis.”

“Katanya, orang yang jago bermain gim VR bisa bertarung lumayan bagus meskipun masih level 1…. Kalau kulihat, yang dilakukan Sunraku-san itu seperti hasil tempaan dari gim-gim lain, ya!”

“Biarpun bicaranya sok tahu begitu, buat Rina-chan, gim ini VR pertamanya, 'kan?”

“I-Itu jangan diungkit, dong!”

Seorang pemuda yang mengayunkan pedang barunya seolah menirukan sesuatu—mungkin dalam perjalanan pulang setelah mampir ke toko senjata, seorang gadis Pencuri yang tertawa, dan seorang gadis Penyihir yang membusungkan pipinya. Apakah karena dia terus mencari dan memikirkan nama itu, sehingga dia bisa menangkap kata tersebut di tengah hiruk-pikuk yang riuh? Karena sadar penampilannya memberikan tekanan, dia mendekat secara diam-diam agar tidak terlalu mengejutkan mereka, lalu bertanya dengan tenang.

“Permisi,”

“Ya…? Hyoekk!?”

“Owaa!?”

“Uwooo!?”

Gagal.

Lagi pula, jika dilihat dari sudut pandang orang luar, “seorang pemain level tinggi dengan perlengkapan tempur lengkap berdiri di belakang pemula sambil menyembunyikan hawa keberadaan” adalah tindakan yang cukup buruk bagi kesehatan jantung. Beruntung atau buntung, tidak ada satu pun orang yang menunjukkannya secara tenang.

Tiga orang yang mendadak disapa oleh kesatria berzirah yang jelas-jelas terlihat kuat… Souma, Kaho, dan Rina yang pernah berjumpa dengan pemain berkepala burung aneh, secara kebetulan ketiganya memikirkan hal yang sama persis: “Kenapa mereka selalu mengalami pertemuan yang tidak biasa seperti ini?”

“A-Ada apa… ya?”

“…Aku tidak berniat menyerang. Hanya ada yang ingin kutanyakan…….”

Souma menjadi aneh karena mencampur gaya bicara aslinya dengan bahasa hormat, tetapi kesatria berzirah yang menanggapinya pun bertanya kepada ketiga pemula itu dengan gaya bicara yang agak terbata-bata untuk disebut sebagai bermain peran.

“Apakah kalian… pernah bertemu dengan pemain bernama… Sunraku?”

“Eh, ah, ya….”

“Di hutan, anu… kalau dilihat dari hasilnya, kami ditolong olehnya… mungkin?”

“Awalnya kukira dia jenis monster baru, sih….”

Mengingat sosok bertelanjang dada dengan kepala burung (sebenarnya orang yang cukup baik) yang mendadak melompat dari semak-semak dan menebas mati kelinci lucu—yang pada saat itu terlihat lucu, meski sekarang dia tahu bahwa itu adalah monster yang merepotkan—Kaho pun tersenyum kecut.

“Bisa beri tahu… dia ada di mana?”

“Emm… Kalau tidak salah, dia bilang mau langsung pergi ke Secondale, 'kan?”

“Dia juga bilang mau menaikkan level sedikit lagi, sih.”

“Tapi kalau melihat level yang sesuai untuk Ular Raksasa Keserakahan, bukankah dia sudah menerobosnya?”

(…Pantas saja dicari-cari tidak ketemu.)

Meskipun rasanya seperti sedikit dipermainkan, pemilik toko perempuan yang memberikan berbagai kemudahan agar dia bisa mendekati sosok itu pernah berkata, “Dia itu orang aneh yang menyukai gim sampah, jadi kau harus mengantisipasi bahwa dia akan melakukan tindakan di luar perkiraan.” Tapi, tidak disangka kalau sejak awal dia sudah spawn di hutan dan langsung menuju ke Secondale.

“…Terima kasih atas informasinya. Tidak seberapa sebagai ucapan terima kasih, tetapi terimalah ini.”

“Eh, tunggu—”

“…Kalau begitu, aku terburu-buru.”

“Tunggu sebent… Dia sudah pergi….”

“Kaho, apa yang kau dapatkan?”

“Apa ini, ya… Magic, Scroll… [Teleport (Teleportasi Koordinat)]…?”

Benda yang diberikan oleh kesatria berzirah itu… Magic Scroll (Media Sihir Sekali Pakai) [Teleport (Teleportasi Koordinat)], baru akan mereka ketahui agak lama kemudian bahwa itu adalah item yang tidak akan bisa didapatkan kecuali jika sudah maju sangat jauh sampai ke garis terdepan penjelajahan.

 

Kesatria berzirah itu berlari menembus Hutan Haru Biru dengan AGI yang tak terbayangkan dari penampilannya. Karena [Teleportasi Koordinat] adalah sihir yang melompat ke titik respawn terakhir yang diperbarui, perjalanan ke Secondale harus ditempuh dengan berjalan kaki.

(Aku sudah memikirkan kemungkinan tindakan di luar perkiraan, tetapi… tidak disangka dia bahkan tidak mampir ke kota pertama sama sekali…!!)

Tentu saja, kota paling pertama, yaitu Firstia yang menjadi markas awal bagi pemain yang baru memulai gim, juga berfungsi sebagai tutorial. Tidak disangka dia mengabaikan itu semua dan langsung menuju ke Secondale; terlebih lagi, fakta bahwa dia tidak melakukan respawn berarti dia menerobos Ular Raksasa Keserakahan tanpa pernah mati satu kali pun. Bagaimanapun, karena itu hanyalah bos pertama, asal sudah memahami racun kotorannya yang jebakan pertemuan pertama, itu adalah bos yang mudah. Namun tetap saja, menerobosnya dalam waktu sehari sejak mulai bermain adalah hal yang luar biasa. Jika dia tidak melakukan perjalanan paksa leveling yang terlampau nekat, pasti sosoknya… Sunraku, sudah bisa ditemukan di tahap yang lebih awal.

Kesatria berzirah yang berlari melintasi area yang butuh waktu sepuluh menit bagi para pemain berlevel sesuai hanya dalam waktu dua menit, mendekati Ular Raksasa Keserakahan yang mengangkat kepala sabitnya untuk mengintimidasi tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.

“…‘Highest Strength’, [Enchant Hellfire], ‘Apocalypse’!!”

Pada langkah pertama, dia memberikan buff besar pada STR, pada langkah kedua dia memberikan elemen pada pedang besarnya, dan pada langkah ketiga dia mengentakkan kaki….

“Aku ingin mereka melakukan sesuatu agar kita tidak harus bertarung melawan bos setiap saat…. Walau secara shuttle run mungkin memang lebih baik kalau ada, sih.”

Di belakang kesatria berzirah yang berlari menuju Secondale, tubuh Ular Raksasa Keserakahan dalam posisi mengintimidasi itu terbelah dua secara vertikal… dan di tempat itu hanya tersisa item drop, “Taring Keserakahan”.

Entah beruntung atau buntung bagi siapa, itu adalah kejadian di siang hari.

Area boss akan muncul kembali secara normal jika kita pernah memperbarui titik respawn di kota berikutnya lalu kembali ke kota sebelumnya. Tindakan berulang yang mengalahkan area boss lalu membuatnya muncul kembali disebut sebagai “shuttle run”.

Post a Comment

0 Comments