Shangri-La Frontier Bab 5

5 – Penanti Tak Kunjung Datang, Pihak Sini adalah Orang Barbar

Tempat berganti ke “Firstia”, kota yang menjadi markas pertama bagi pemain yang baru memulai Shangri-La Frontier. Seiring datangnya musim libur musim panas dan diperkuatnya server, kota biasa tanpa tempat wisata khusus itu memiliki persiapan yang matang untuk menampung ribuan pemain baru. Di sinilah makhluk itu berada.

“Hebat banget…. Perlengkapannya kelihatan jelas kalau dia level tinggi….”

“Aku pernah lihat lambang itu di internet, lho. Kalau tidak salah itu milik klan pemain garis keras penakluk gim….”

“Kalau tidak salah, klan itu bukannya tidak bisa ikut tes masuk kalau levelnya belum minimal 90, ya?”

“Terus kenapa pemain garis keras seperti itu ada di kota pemula…. Wah, dia nengok ke sini!”

Setelan pelindung tubuh penuh warna platina yang membungkus seluruh tubuh, lambang menyerupai serigala yang menggigit pedang terukir di jubah yang berkibar di punggung, serta pedang besar yang melayang menempel di punggung oleh entah kekuatan apa—berbeda dengan pemula yang umumnya menggantungkan senjata di sabuk. Pemain dengan penampilan yang jelas-jelas bukan pemula itu menatap lekat-lekat para pemain yang baru login seolah-olah sedang mencari seseorang. Meskipun harus bersusah payah karena disapa oleh pemain yang salah mengira dirinya sebagai NPC yang berhubungan dengan cerita atau dimintai tangkapan layar, sosok berzirah platina itu tetap bertahan. Namun, setelah sekitar dua jam waktu dunia nyata berlalu, dia pun pergi seolah-olah telah menyerah.

 

“Ini gawat…. Ini benar-benar di luar dugaanku….”

Tampaknya di gim ini pemain tidak bisa menyimpan permainan jika tidak berada di tempat seperti penginapan di kota. Karena pada dasarnya aku memang tidak berniat logout untuk sementara waktu, aku terus berkeliaran di dalam hutan dan membantai monster satu per satu. Namun, di sinilah timbul dua masalah.

Masalah pertama adalah beban perlengkapan. Selama ukurannya tidak terlampau besar, sebagian besar item pada dasarnya akan tersimpan ke dalam inventory, tetapi jika jumlahnya melebihi batas tertentu, aksi akan mendapatkan penyesuaian minus. Setelah mengumpulkan 12 buah, menghabiskan 4 buah, dan baru saja mendapatkan 1 buah drop baru, saat memasukkan Kapak Tangan Goblin ke-9 ke dalam inventory, rasanya gerakanku mendadak terasa aneh seolah-olah sedang mengenakan pakaian yang sangat tebal.

Untuk saat ini, selain Goblin, aku juga telah mengalahkan kelinci bertanduk (Almiraj), babi bertubuh manusia (Orc) yang merupakan monster terkuat di fantasi dewasa sekaligus pesaing Goblin, hingga monster langka seperti kelinci pemenggal leher berkaki dua (Vorpal Bunny). Seluruh aksi dari Vorpal Bunny tampaknya menyasar leher dan terasa selalu melancarkan critical. Namun, pola tindakan yang hanya menyasar satu target justru menjadi mangsa empuk begitu aku terbiasa—meskipun dia seekor kelinci.

Akan tetapi, “Vorpal Chopper (Pisau Dapur Mematikan)”, senjata drop yang dijatuhkan Vorpal Bunny dengan rasio sekitar 5% menurut perasaanku, adalah senjata yang lumayan berguna. Ketimbang Pedang Ganda Prajurit Bayaran yang menjadi perlengkapan awal, senjata ini merupakan peningkatan tingkat tinggi secara keseluruhan.

Ditambah lagi, efek tambahannya berupa penyesuaian pada critical damage sangat cocok dengan gaya bertarungku. Selain itu, levelku juga sudah naik. Vorpal Bunny bisa dibilang musuh yang lumayan menguntungkan, baik secara item maupun EXP (poin pengalaman).

PN: Sunraku

LV: 12

JOB: Prajurit Bayaran (Pengguna Gaya Dua Senjata)

9.000 Mahni

HP: 30

MP: 10

STM: 25

STR: 10

DEX: 15

AGI: 25

TEC: 20

VIT: 1(2)

LUC: 55

Skill

・Spin Slash

・Screw Pierce

・Knuckle Rush

・Tap Step

・Flash Counter

Perlengkapan

Kiri Kanan: Pedang Ganda Prajurit Bayaran

Kepala: Topeng Burung Menatap (VIT+2)

Dada: Tidak Ada

Pinggang: Tidak Ada

Kaki: Tidak Ada

Aksesori: Tidak Ada

Untuk saat ini, Vorpal Chopper akan kusimpan sampai Pedang Ganda Prajurit Bayaran rusak. Di gim ini, kita bisa mengalokasikan poin ke status saat naik level. Berkat mencapai level 12, aku mendapatkan 55 poin, dan untuk sementara setengahnya kubagikan ke LUC. Kesan yang kurasakan, perubahan tingkat drop-nya bisa dibilang hanya berada di level margin kesalahan, tetapi aku memang merasa item jadi sedikit lebih sering drop.

Lalu soal skill, aku mendapatkan dua dari kenaikan level, dan satu lagi terpelajari secara otomatis saat aku menepis serangan Vorpal Bunny lalu memukul kelinci itu hingga jatuh. Tampaknya selain dari naik level, ada juga skill yang bisa dipelajari dengan memenuhi kondisi tertentu. Mengenai kesanku saat menggunakan skill, rasanya seperti diberi keyakinan di dalam kepala bahwa “skill ini harus digerakkan seperti ini”. Di beberapa gim era dulu, ada gim yang memaksa tubuh mengambil gerakan sesuai skill. Namun, karena hal itu bisa disalahgunakan dengan berbagai cara, sekarang gaya utamanya adalah pengarahan pikiran… atau lebih tepatnya bantuan pikiran.

Dua skill yang kupelajari sejak awal memiliki gerakan yang lebar, sehingga kurang efektif untuk musuh dengan ukuran yang setara atau lebih kecil dariku, tetapi DPS-nya tinggi. Di antara skill yang baru kupelajari, Screw Pierce memiliki waktu eksekusi yang cepat, serangannya ringkas, dan daya rusak satu pukulannya tinggi… tetapi kurang kusukai karena tidak bisa dilancarkan bertubi-tubi. Tap Step adalah skill yang memberi penyesuaian pada tindakan menghindar, sedangkan Flash Counter sebaliknya, memberi penyesuaian pada serangan balasan setelah melakukan parry.

Kesimpulannya, saat ini hanya Screw Pierce yang bisa dibilang lumayan berguna. skill awal memiliki gerakan terlalu lebar sehingga tidak ada kesempatan pakai, sedangkan skill menghindar dan menepis sudah bisa dicakup dengan player skill-ku sendiri. Dibandingkan dengan berbagai gim sampah yang memiliki game balance sangat buruk hingga melewati batas suka atau benci, MOB kroco tingkat ini terlampau baik hati hingga membuatku ingin meneteskan air mata. Mereka tidak tembus pandang, tidak membuat bayangan, dan mau mati dengan benar. Justru karena tidak bisa memenuhi kondisi minimal inilah bug di gim sampah sama sekali tidak lucu.

 

Mari kembali ke topik utama.

Masalah pertama adalah kapasitas inventory yang mulai mepet. Masalah ini masih bisa diatasi jika aku mengonsumsi item jenis daging… tetapi mengonsumsinya itulah yang menjadi masalah kedua.

“Aku ceroboh…. Siapa sangka daging dalam keadaan mentah tidak bisa dimakan.”

Tampaknya di gim ini, item jenis daging setidaknya harus diolah dulu seperti dibakar atau direbus agar bisa digunakan sebagai item pemulih kelaparan. Sebanyak apa pun aku mencoba memakan daging mentah, rasanya tidak bisa dimasukkan ke dalam mulut karena rasa nafsu makan yang menurun. Dan masalah terbesarnya, aku sama sekali tidak memiliki cara untuk menyalakan api. MP yang tidak naik maupun turun dari Lv.1 mengindikasikan secara jelas bahwa aku sama sekali belum mempelajari sihir apa pun.

“Kalau begini terus, aku bisa-bisa respawn gara-gara mati kelaparan….”

Sekalian saja aku ingin respawn akibat ulah monster, tetapi dikalahkan oleh Goblin juga rasanya agak menyebalkan. Tapi, respawn karena mati kelaparan juga terlalu konyol. Saat aku sedang memikirkan apa yang harus dilakukan, entah kenapa aku mendengar suara orang lain selain diriku yang rasanya sudah sangat lama tidak kudengar.

Pada dasarnya, jika membeli batu pemantik “Batu Api” yang dijual di semua toko perlengkapan di dalam gim dengan tingkat probabilitas tertentu, kau tidak akan kesulitan menyalakan api.

Post a Comment

0 Comments