Shangri-La Frontier Bab 6

6 – Penjahat Kelamin Liar Telah Muncul!

Almiraj bernasib sial yang kutemui di tengah jalan tidak menjatuhkan item apa pun, tetapi karena aku sudah punya sekitar 30 potong daging Almiraj, aku tidak membutuhkannya lagi. Sambil mengernyitkan dahi karena merasakan pergerakan yang agak terhambat, aku berjalan menuju ke arah datangnya suara.

“Di sebelah sini… Ah, itu dia.”

Aku terhalang oleh semak-semak rumput yang tinggi, tetapi memang ada tiga pemain yang bergerak di jalan setapak hewan—gabungan yang bikin iri berupa satu laki-laki dan dua perempuan…. Nama mereka terlihat melayang di atas kepala, mengindikasikan bahwa mereka adalah pemain.

“Kesatria, Pencuri, Penyihir…. Bagus sekali.”

Seingatku, Penyihir seharusnya mempelajari Fireball sejak awal. Walau ingatanku agak samar, Penyihir harusnya secara seragam memiliki elemen api di awal gim. Aku punya sekitar 70 potong daging mentah dari gabungan daging Almiraj, daging Orc, dan daging Vorpal Bunny. Jika kubagikan beberapa, mereka mungkin mau berbagi api denganku.

Saat aku sedang bingung bagaimana cara menyapa mereka, tampaknya ketiga orang itu bertemu dengan monster.

“Wah, lucunya!”

Lucu, berarti Orc dan Goblin dicoret.

“Kelihatannya seperti kelinci…. Tapi apakah ini monster juga, ya?”

Hum, Almiraj, kah? Vorpal Bunny itu musuh langka, tidak mungkin mereka bertemu secara spesifik….

“Kelinci ini berjalan dengan dua kaki, lho.”

Itu Vorpal Bunny, tahu!!

Saat aku menyembulkan wajah dari semak-semak, sialnya si gadis Penyihir sedang mendekati Vorpal Bunny tanpa kewaspadaan sedikit pun. Dari pengalamanku mengalahkan puluhan Vorpal Bunny, aku bisa memahami dengan sangat jelas bahwa kelinci pemenggal leher itu sedang menunjukkan gelagat akan menyerang.

“Tungguuuuuuuuuuuu!!”

“Eh?”

“Ah?”

“Ha?”

Sesosok burung setengah telanjang melompat keluar dari semak-semak sambil mengayunkan pedang ganda. Aku yakin jika begini terus tidak akan keburu, jadi bersamaan dengan lompatan, aku mengaktifkan Flash Counter. Aku melompat ke antara si gadis Penyihir dan Vorpal Bunny yang hendak menerjangnya, lalu menepis pisau dapur yang dipegang Vorpal Bunny menggunakan bilah pedang kanan. Aku memutar tubuh, lalu menghantamkan bilah pedang kiri ke Vorpal Bunny dari bawah ke atas dalam gerakan memutar. Tampaknya seranganku masuk critical, sehingga Vorpal Bunny yang tewas seketika meledak menjadi poligon. “Yah, item drop-nya tidak jatuh, ya,” batinku santai sambil mengambil posisi mendarat dan berbalik menghadap ketiga orang itu.

Dan di sinilah akhirnya semua orang di tempat ini memahami situasi dan hasilnya, terlepas dari detail prosesnya.

…Yaitu hasil berupa “seorang penjahat kelamin bertopeng burung setengah telanjang dengan tatapan mata yang terlampau tajam mendadak melompat dari semak-semak lalu membantai kelinci lucu dengan kejam”.

“Kiyaaaaaaa!!”

“Iyaaaaaaa!!”

“Uwaaaaaaaa!!”

Ketiga orang itu menyiapkan senjata, menerjang maju, dan mengayunkan senjata mereka ke bawah….

“Uwoh, bahaya!!”

Jujur saja, diserang dari tiga arah bersamaan saat posisi berjongkok setelah mendarat membuat tengkukku agak merinding. Dengan menggunakan Tap Step—skill kedua yang kukira tidak akan terpakai—aku menjauhkan jarak sambil meminta penghentian pertempuran dengan suara keras dan nada bicara yang mudah dipahami.

“Stop! Stoop! Aku ini pemain! Stooop!!”

“Penjahat kelamiiiin!!”

“Kalau itu memang tidak bisa kubantah! Tapi coba lihat! Player name-ku muncul, 'kan!? Serius nih!!”

“Mati kauuuuu!!”

Bukannya aku tidak punya pengalaman PvP, tetapi tentu saja aku ingin menghindari pertempuran PvP pada pertemuan pertamaku dengan pemain Shan-Fro. Pada akhirnya, sampai gadis Pencuri dari kelompok tiga orang itu menjadi tenang dan menahan dua orang lainnya, aku terpaksa bertarung hanya dengan mengulang-ulang gerakan menghindar dan menepis.

 

“Anu, itu… Maafkan kami, padahal Sunraku-san sudah menolong kami dari monster berbahaya….”

“Ah, tidak, aku yang lebih salah karena tergiur uang sampai nekat berpetualang dengan perlengkapan penjahat kelamin begini….”

Setelah berhasil mengubah penilaian mereka dari “Rare Enemy Penjahat Kelamin Berkepala Burung” menjadi “Sunraku, Pemain Berpakaian Aneh”, aku membungkukkan badan kepada ketiga orang itu. Anak laki-laki Kesatria bernama Souma, gadis Pencuri bernama Kaho, dan gadis Penyihir bernama Rina. Di gim ini penampilannya bisa diubah sesuka hati, tetapi katanya hanya suara yang tidak bisa diubah. Karena itu, konon sering terjadi kejadian di mana penampilannya berupa gadis kecil tetapi begitu bersuara ternyata seorang bapak-bapak. Namun, ketiga orang ini dari suaranya sepertinya adalah anak SMP. Aku benar-benar minta maaf karena telah membuat junior dari segala junior ketakutan tanpa alasan, tetapi karena bulu hewan tidak bisa dijadikan perlengkapan tanpa diolah, mau bagaimanapun sampai tiba di kota penampilanku akan tetap seperti ini, jadi apa boleh buat.

“Anu, kalau boleh tahu, apakah Sunraku-san dari tadi terus menaikkan level di sini…?”

“Ah—yah, begitulah. Awalnya aku cuma berniat melihat-lihat gerakan monster, tapi pada akhirnya aku malah ingin mencoba berbagai verifikasi.”

Ini sudah seperti kebiasaan saat aku bermain gim sampah dulu. Karena rasio drop di bawah koma sudah jadi hal yang lumayan biasa, tubuhku sudah terbiasa dengan prinsip “pokoknya berburu MOB musuh sampai mereka habis”.

Tidak, kalau spawn tanpa batas tolong maafkan aku.

Pada dasarnya, hampir tidak ada keuntungan yang didapatkan dari tidak mengenakan pelindung tubuh di gim ini.

Oleh karena itu, sebagian besar pemain starter setengah telanjang yang jumlahnya lumayan banyak biasanya akan segera membeli pelindung tubuh paling murah.

Maka dari itu, sejumlah kecil pemain setengah telanjang yang ditemui di luar area kota umumnya adalah:

・Penjahat kelamin yang bergairah saat penampilannya yang setengah telanjang dilihat orang lain

・Seorang masokhis (M) yang sengaja menikmati kondisi saat menerima damage besar

Bisa dikatakan salah satu dari dua tipe tersebut. Meskipun tokoh utama kita dalam arti tertentu mungkin lebih tepat disebut sebagai orang barbar yang telah liar.

Post a Comment

0 Comments