High School D×D 7 Dad.
Dad.
Masalahnya berakhir dan aku, Azazel, ikut bersama Barakiel yang berencana membeli beberapa oleh-oleh di Jepang.
Sepertinya para idiot lainnya meminta Barakiel untuk membawakan mereka barang-barang saat dia kembali. Astaga, orang-orang itu…. Yah, mau bagaimana lagi karena Gubernur mereka yang adalah aku memang seperti ini.
Ketika aku sedang beristirahat di bangku di dalam toserba, Barakiel kembali sambil membawa banyak tas di tangannya.
“…Hmm. Sepertinya aku punya semua yang mereka minta.”
“Kerja bagus.”
Barakiel duduk di sebelahku. Dia tampak kelelahan. Bagi seorang pejuang tangguh seperti dia, berbelanja pasti sulit. Namun, dia tetap menyelesaikan semuanya sampai akhir begitu diminta melakukan sesuatu.
Aku lalu mengeluarkan kotak bento yang ada di dalam tas yang kubawa.
“Barakiel. Ambillah.”
“Apa bungkusnya ini?”
“Buka saja.”
Ketika dia membukanya, ada sebuah kotak bento.
“…Bento?”
Itu adalah sesuatu yang diberikan Akeno kepadaku saat aku dalam perjalanan ke sini. Dia memberikannya kepadaku tanpa mengatakan apa pun, tetapi aku tahu kepada siapa aku harus memberikannya tanpa bertanya kepadanya.
“Ini….”
Ketika dia membuka kotak bento itu, di dalamnya terdapat hidangan Jepang yang lezat dan penuh dengan warna-warni.
Barakiel menatapku. Aku mendesaknya untuk “Makanlah” tanpa mengatakannya dan dengan tersenyum.
Dia mengambil hashi dan dengan takut-takut memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Momen itu…… setetes air mata menetes dari mata Barakiel.
“…Nikujaga… rasanya seperti Shuri.”
Dia mulai melahapnya dan menjadi ketagihan. Dia terus memakannya sambil diam.
Dia memakannya dengan penuh semangat sambil menitikkan banyak air mata.
Lalu kukatakan pada temanku.
“Serahkan saja Akeno padaku, Rias, dan yang lainnya. Tidak masalah. Pria yang dia cintai itu idiot dan bejat, tapi dia pria yang baik.”
Barakiel menghentikan hashi-nya, dan menutup matanya dengan tangannya. Dia kemudian mengatakannya kepadaku sementara suaranya bercampur dengan tangisan.
“Dia… aku ingin percaya bahwa dia akan… menjaga Akeno.”
“Ya, semuanya akan baik-baik saja.”
“Dia tidak memakan p… payudara wanita, 'kan?”
“Ya, dia tidak memakannya.”
“Begitu ya…. Kau benar.”
Barakiel mulai melanjutkan makannya setelah merasa lega. Dia mulai mengisi mulutnya dengan nikujaga.
Makanan yang dibuat oleh wanita yang dicintainya, yang dia pikir tidak akan pernah dia rasakan lagi. Rasa itu diam-diam, tetapi pasti telah sampai padanya.
Kau akan bisa memakannya lagi. Sebanyak yang kau mau. Dan berapa kali pun yang kau mau.
Ise. Aku tidak bisa mengatakan ini di depanmu, tapi….
—Aku juga merasa aku diselamatkan olehmu juga.
“Sial, aku belum pernah mendengar ada naga yang membuat orang bahagia dengan menggunakan oppai.”

Post a Comment