Junior High School D×D 3 Life.1
Life.1 Formasi! Band Pedang Ilmu Gaib!
Sudah saatnya embun beku pertama datang. Apa kabar semuanya?
Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib sempat sibuk dengan berbagai kegiatan seperti [Kerusuhan Monster Iblis] dan hari orangtua….
Hari-hari yang penuh gejolak telah berlalu dan kini semuanya berjalan dengan damai.
Adapun aku, Miyamoto Zekka—
“Miyamotooo! Penamu tidak bergerak sama sekali!”
“Eeeep! Maafkan aku, Mina-senpai!”
Orang yang duduk di sebelahku adalah wakil ketua OSIS dengan rambut ponytail, yang gemetar karena marah.
“Kau sudah jadi anggota (sementara) OSIS! Setidaknya selesaikan pekerjaan administrasi lebih cepat!”
Peristiwa tersebut terjadi sesudah sekolah di dalam ruang rapat OSIS divisi SMP Akademi Kuoh.
Aku sedang bergulat dengan setumpuk dokumen sambil meminta bantuan dari Mina-senpai.
“Apa maksudmu dengan menjadi ketua OSIS berikutnya?! Tunjukkan keberanianmu!”
“…Semuanya cuma mendesakku saja, aku tidak terlalu….”
“Haaa?! Kau bilang sesuatu?!”
“K-kubilang bahwa aku sangat ingin menjadi ketua OSIS!”
Aku dipaksa masuk ke OSIS… maksudku, bergabung untuk pelatihan.
Aku mengerjakan pekerjaan kasar untuk memahami seluk-beluknya, berkeringat seperti kuda pekerja—.
“Uuu, masa mudaku terlalu keras… masyarakat benar-benar tak kenal ampun….”
Mina-senpai memang menakutkan, tapi dia membimbingku dengan sangat teliti.
Namun, karena panik dan terburu-buru, aku tak bisa mengingat semuanya… hal itu membuatku sepenuhnya menyadari betapa tidak berpengalamannya aku dalam segala hal selain ilmu pedang.
“—Senang bertemu denganmu.”
Pada saat itu, sebuah pintu terbuka dan seorang gadis cantik dengan rambut hitam masuk.
““““Yagyuu-kaichou! Terima kasih atas kerja keras Anda!””””
Anggota lainnya menyambutnya dengan suara lantang setelah berdiri dan membungkuk.
…Ini bukan kantor yakuza, 'kan?
Mereka terlalu berotot, tunggu, aku juga harus memberi salam!
“Terima kasih atas kerja kerasnya, Yagyuu-oyabun.”
“Oyabun (Bos)?”
“Ah, kalau perempun dipanggilnya Anego (Ibu Bos)… bukan, bukan itu, Kaichou, ya, Kaichou!”
“He-he. Aku sebenarnya tidak mengerti, tapi lakukan saja sesukamu.”
Aku memang agak pelupa, tapi sudah dua bulan sejak pertama kali aku bertemu dengannya.
Ketika aku berencana menghadapi Lilibette, yang saat itu masih menjadi anggota Golongan Pahlawan, dia meminjamiku kunci sepeda.
“Bagaimana tugas-tugasmu? Apakah kau sudah terbiasa dengan OSIS?”
Dia bersikap anggun seperti saat pertama kali kami bertemu.
“Mi-Mina-senpai membantuku, tapi….”
Aku melaporkan dengan jujur bahwa pekerjaannya tidak berjalan selancar yang kuharapkan.
Ketua kemudian berpikir sejenak dan bertepuk tangan, seolah-olah sebuah ide terlintas di benaknya.
“Miyamoto-san adalah pengguna dua pedang—orang yang mahir menggunakan kedua tangan, 'kan?”
“Eh, oh, iya.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kau memegang pena di kedua tangan?”
…Yagyuu-anego, apa yang tadi Anda bicarakan?
“Kalau kau menggunakan dua pena sekaligus, kau akan dua kali lebih efisien.”
…Xenovia-senpai saja sudah cukup kalau membuat teori-teori bodoh, tahu 'kan?
“Seperti yang diharapkan darimu, Kaichou! Ini adalah kelalaian di pihakku!”
Namun, sang wakil ketua menjentikkan jarinya, menganggap itu ide yang bagus.
“Jika satu tangan tidak cukup, maka gunakan keduanya! Begitulah adanya, Miyamoto!”
“Kemampuanku menggunakan dua senjata adalah untuk memegang pedang….”
“Jangan terlalu memikirkan detail-detail kecil. Atau lebih tepatnya, selesaikan pekerjaan dengan cepat agar kau tidak ketinggalan kegiatan klub.”
“Benar sih, tapi… oh, itu mengingatkanku.”
Meskipun sudah terlambat, aku menyadari bahwa Schwert-san tidak ada di sana.
Dia salah satu anggotanya, 'kan? Mungkinkah dia sedang bermalas-malasan?
Guh, sebagai anggota (sementara) OSIS, aku tidak bisa mengizinkan itu!
“…Kalau sudah begini, setidaknya aku ingin dia mengajakku juga… tidak, sengaja bolos kerja itu….”
“Hei, berhenti bergumam dan cepat bekerja, Miyamoto!”
Dia menyerahkan pena yang kemudian kupegang di masing-masing tangan.
“Ini rintangan terakhir! Pertama, untuk membangkitkan semangat kita, mari kita bersorak!”
Menurutku, hal itu tidak akan meningkatkan efisiensi kerja kita.
Keyakinan ini asing bagiku, tetapi untuk saat ini aku mengangguk setuju.
Menghentikan pemikiran di saat-saat seperti itu juga diperlukan untuk bertahan hidup di tengah masyarakat….
“Ulangi setelah aku! Aku akan menjadi ketua OSIS!”
“A-aku akan menjadi ketua OSIS!”
“Sekalipun itu mengorbankan nyawaku, aku akan menjadi ketua OSIS!”
“Sekalipun itu mengorbankan nyawaku… sekalipun itu mengorbankan nyawaku, aku tidak akan mampu melakukannya, 'kan?”
“Jangan membantah senpaaaaaaai-mu!”
“Eeeeeeep! Aku akan, aku akan, sekalipun itu mengorbankan nyawaku, aku akan melakukannyaaaa!”
Dan begitu saja, aku mulai bekerja dengan membabi buta.
“—Untuk saat ini, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Karena kelelahan, aku langsung ambruk di atas meja, dan Mina-senpai membawakanku teh dan camilan manis.
“Nyam… eh, kue ini enak sekali!”
“A-aku kebetulan bangun pagi, dan kebetulan saja aku membuatnya sendiri.”
Sikapnya berubah drastis dari sosok iblis beberapa saat yang lalu.
Sambil gelisah, Mina-senpai tampak seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
“Aku sering marah-marah, jadi aku penasaran apakah ini akan membuatmu membenci OSIS, dan itulah alasannya….”
“Dengan kata lain, kau bersusah payah menyiapkan kue-kue buatan tangan ini karena mengkhawatirkanku?”
“………Yeah.”
Dia mengangguk pelan. I-imut.
“Terima kasih, Mina-senpai.”
“B-benar… omong-omong, sudah waktunya aku juga melakukan aktivitas klub!”
Berusaha menyembunyikan rasa malunya, dia berdiri dengan penuh semangat.
“Hah, kau ikut klub juga, Senpai?”
“Kau tidak tahu? Aku ini anggota Klub Kendo, tahu?”
Oh, begitu ya… tunggu, ada Pedang Ilmu Gaib, tapi Klub Kendo yang normal juga ternyata ada.
Sudah beberapa bulan sejak pindahanku, tetapi aku tidak tahu.
“Minamoto-fukukaichou. Bagaimana jalannya penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Musim Dingin?”
Saat Mina-senpai sedang berkemas, Yagyuu-kaichou memanggilnya.
“—Masih kacau balau. Kami belum bisa memutuskan anggota untuk kompetisi tim.”
“—Itu masalah besar. Padahal kemenangan sudah di depan mata.”
Keduanya menunjukkan ekspresi serius. Apa pun yang terjadi, ini seperti pertanda masalah.
“Bagi kami, siswa kelas tiga, ini adalah turnamen terakhir… yah, aku akan mengatasinya entah bagaimana caranya!”
Mina-senpai tersenyum dan keluar ruangan, anggota lainnya pun mulai pergi satu per satu.
“Uuumm… aku juga permisi…”
Aku melewatkan momentum yang pas dan akhirnya tertinggal berdua saja dengan Ketua.
Rasanya sangat canggung! Seharusnya tadi aku cepat-cepat pergi!
“Miyamoto-san.”
Glek. Dia menghentikanku?!
“Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?”
“Mengobrol…m-maksudmu mengobrol santai?”
“Membicarakan topik di luar pekerjaan juga merupakan bagian penting dari komunikasi.”
Alasan yang dia berikan masuk akal sehingga menutup jalan keluarku.
Namun, jika berbicara tentang sesama siswa yang saling mengobrol, topiknya meliputi kegiatan klub, pelajaran—.
“…Apa ada juga obrolan soal cinta? Enggak, meskipun aku dan Kaichou membicarakan hal itu….”
“Obrolan cinta, boleh saja.”
Eh?! Dia tertarik?!
“He-he. Aku juga seorang gadis remaja.”
“Begitu, ya… maaf, aku terlalu terkejut.”
Aku membungkuk, karena menurutku itu sangat tidak sopan, tapi Ketua bilang tidak perlu mengkhawatirkannya, dan mengangkat topik itu sekali lagi.
“Menurutmu, apa yang paling penting untuk menjadi pendekar pedang terkuat?”
Sebuah pertanyaan misterius yang muncul tiba-tiba.
“B-bagaimana dengan obrolan cinta…?”
“Ini adalah obrolan cinta.”
“Apa hubungannya ilmu pedang dengan cinta…?”
“Ini adalah obrolan cinta.”
Dia menatapku dengan mata gelapnya dan menunjukkan senyum elegan yang tampak sangat menakutkan.
“U-untuk menjadi pendekar pedang terkuat, menyempurnakan teknikmu hingga ke titik ekstrem… adalah hal yang dibutuhkan.”
Ketika aku menjawab, karena terdesak oleh senyumnya, Ketua bergumam “uh-huh”.
“Ini memang penting. Tapi, jawabanku sedikit berbeda.”
Setelah jeda sesaat, dia menyatakan dengan suara penuh gairah.
“Yang dibutuhkan untuk menjadi yang terkuat adalah seorang rival.”
“Karena, kau tahu,” lanjutnya.
“Aku ingin mengejar orang itu, aku ingin setara dengannya—inilah perasaan yang muncul karena keberadaan seorang rival. Hal ini sangat penting bagi siapa pun yang membidik puncak.”
“Seorang rival, yang ingin kau kejar….”
Pertama, wajah-wajah anggota Pedang Ilmu Gaib terlintas di benakku. Lalu, wajah-wajah para senpai yang pernah berlatih tanding denganku….
“Memiliki kemampuan hebat, memiliki senjata kuat, ada banyak orang yang seperti itu.”
Dia menatapku seolah bisa menembus segalanya.
“Terutama jika menyangkut ilmu pedang, tak ada seorang pun yang benar-benar bisa mengancam Miyamoto Zekka.”
“I-itu tidak benar… aku tidak sehebat itu…!”
“Bisakah kau membayangkan dirimu kalah dalam pertarungan ilmu pedang murni, tanpa melibatkan kemampuan khusus?”
Itu… sampai saat ini aku tentu belum pernah kalah….
“Bukankah kau sendiri juga merasakan ketidakpuasan yang samar ini?”
Setelah isi hatiku terungkap, aku merasa kehilangan arah.
“Pertempuran besar yang membara dengan nyawa sebagai taruhannya—tidakkah kau menginginkannya?”
Sebagai seorang pendekar pedang, aku menelan ludah.
“Aku memahami bahwa seorang rival itu penting untuk pertumbuhan seseorang.”
Aku merasakannya secara naluriah. Bahwa jika terus begini, aku akan terhanyut oleh perkataannya.
Dan untuk menghindari godaan itu, aku mencoba mengubah topik pembicaraan.
“Pertama-tama, aku merasa ini bukan obrolan cinta….”
“Mengejar lawan yang kauminati adalah fenomena yang mirip dengan cinta.”
Itulah mengapa pada intinya ini adalah obrolan cinta, tegasnya.
Bukankah teori ini agak terlalu mengada-ada?!
“Omong-omong, leluhurmu, Miyamoto Musashi, punya seorang rival.”
“……Apakah maksudmu Ganryuu?”
“Ya. Samurai itu, yang konon menggunakan tiang jemuran.”
Yagyuu-kaichou tersenyum riang.
“Jika pertempuran di Ganryuu-jima terulang kembali—”
Dia mengucapkan hal itu, seolah-olah memberi isyarat tentang peristiwa yang segera terjadi.
“—siapa yang akan keluar sebagai pemenang di kesempatan berikutnya, ya?”
—JD×D—
Setelah meninggalkan ruang OSIS, aku menuju ke ruang klub Pedang Ilmu Gaib.
“Aku harus cepat…!”
Aku ingin bertemu dengan Ketua dan yang lainnya secepat mungkin.
Ini jelas bukan seperti pelecehan kekuasaan Ketua OSIS… maksudku, obrolan ringan tadi membuatku merasa mual!
Saat aku sibuk melakukan itu, semuanya pasti sedang berlatih sebaik mungkin.
Dan agar tidak ketinggalan, aku harus segera menyusul—.
“—Berkilaulah! Dark Draconic Laser (Mata Pembinasaan Naga Jahat)!”
Saat aku memasuki ruang klub, teriakan Lilibette menggema di udara.
Dengan pose yang aneh, dia membuat tanda peace di dekat sisi penutup matanya.
“Keren banget, Lili-chan! Kau berhasil menirukan dialog dan posenya dengan sempurna!”
Dan sebagai tanggapan atas hal itu, Ketua bertepuk tangan untuknya.
“…Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?”
Saat aku bertanya, keduanya tampak gembira.
“Aku sedang mempresentasikan teknik baruku, yang akhirnya berhasil kucapai selama waktu yang kami dedikasikan untuk pengembangan diri.”
“Dia bisa menembakkan laser dari matanya! Bukankah itu menakjubkan?!”
“Hehehe. Bagi seorang kesatria, kemampuan menembakkan satu atau dua laser adalah sebuah kewajaran.”
Aku belum pernah mendengar soal kesatria aneh seperti itu.
……Mereka sudah melakukan latihan terbaik mereka, 'kan?
“Tentu saja. Aku telah melakukan riset yang cermat mengenai teknik-teknik baru.”
“Dan kalimat serta posenya itu kami pikirkan bersama!”
Keduanya menatapku dengan tatapan yang seolah berkata, [Bagaimana? Keren banget, 'kan?].
“W…wow, keren banget.”
““Benar!””
Mereka bertepuk tangan saat aku memuji mereka dengan senyum yang dipaksakan.
Hiks hiks. Yah, anggap saja latihan seperti ini sesekali juga bermanfaat.
“Tapi lasernya sendiri tidak keluar, ya…?”
“Astaga, tolong, berpikirlah secara logika, Zekka.”
“Jika dia menggunakan laser di sini, ruang klub bakal hancur berkeping-keping!”
Itu juga benar… tunggu, kenapa justru aku yang dianggap kurang akal sehat?!
Saat mengobrol dengan mereka berdua, tanpa kusadari, aku lupa tentang percakapan dengan Ketua OSIS—.
“…Omong-omong, di mana Schwert-san? Aku belum melihatnya, tahu?”
“Schwe-chan ada di ruang ganti!”
“Hmm. Kalau dipikir-pikir, dia terlalu lama.”
Sepertinya dia benar-benar ada di sini. Aku juga harus berganti pakaian, jadi ketika aku hendak masuk ke ruang ganti….
“Ah, Schwert-san.”
Si setan pemalas, gyaruküre, telah muncul!
Masih mengenakan seragamnya, dia tampak sedang membaca sesuatu sambil bersandar di loker.
Dia tampak terlalu serius dan tidak menyadari aku masuk.
“Sebuah surat?”
“Uwaaaaaah?! Miyamoto-san?!”
Saat aku memanggilnya, dia sangat terkejut seolah-olah dia melihat hantu.
“Akhirnya kau mati karena kerja keras OSIS yang melelahkan dan datang menghantuiku, yang meninggalkan pekerjaannya, sebagai hantu?!”
“Huuu… tidak, aku belum mati. Dan juga, tolong, berhenti bermalas-malasan.”
Aku membalasnya dengan leluconku sendiri.
…Diriku yang dulu pasti akan terlalu tegang dan tidak akan mampu berbicara dengan orang seperti ini.
Aku merasa inilah perkembangan yang berhasil kucapai di dalam akademi.
“Ahaha. Tapi hari ini aku tidak datang ke rapat OSIS karena ada urusan yang mesti kuselesaikan.”
“Benarkaaaah…?”
“Benar-benar! Ini soal senjata baru yang dikembangkan bersama oleh Norse dan Grigori—”
Dia memberiku penjelasan yang rumit tentang bagaimana dia terpilih sebagai penguji dan hal-hal lainnya.
Beberapa eksperimen untuk beralih ke tahap selanjutnya sedang dilakukan di Kota Kuoh, sebuah lokasi penting di skala dunia.
“Ups, semua orang sedang menunggu, 'kan? Ayo kita ganti baju sekarang!”
Sambil mengobrol, kami berdua melepas seragam kami.
“Omong-omong, yang baru saja kubaca bukanlah surat.”
“Jadi, sebuah faktur?”
“Tentu, ini dari penagih utang… mana mungkin! Itu tidak sopan!”
Schwert-san memasukkan seragamnya ke dalam loker.
“Ini adalah—sebuah undangan.”
Sambil mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan, dia menunjukkan kepadaku selembar kertas dengan aksara-aksara asing yang membingungkan tertulis di sana.
Saat aku membacanya setelah dia menggunakan sihir penerjemahan untukku….
“…Festival Musik Asgard?”
Itulah yang tertulis dengan ukuran fon terbesar di undangan tersebut.
“Ini adalah festival yang akan berlangsung di kota kelahiranku sekitar dua pekan lagi.”
“Oh, sebuah festival Norse…!”
Kedengarannya menarik! Tanpa sadar aku berhenti berganti pakaian dan menghujani dia dengan pertanyaan.
“Ini sangat berbeda dari festival-festival di Jepang, 'kan?”
“Suasananya seperti festival musik rock.”
“Ro…rock?”
“Para Walküre membentuk band dan melakukan pertempuran habis-habisan dengan musik.”
Dia menyatakan hal itu seolah-olah sudah pasti, padahal bukankah musik Norse seharusnya lebih bersifat puitis atau tenang…?
“Walküre dan Valkyrie tingkat tinggi memiliki berbagai macam tugas.”
Bagiku, yang tidak sepenuhnya mengerti hal itu, dia menjelaskannya dari awal.
“Tugas yang sangat penting bagi mereka adalah menghibur para pahlawan.”
“Menurut legenda… ini sebagai persiapan menghadapi yang disebut Ragnarok, 'kan?”
“Ya. Sampai perang itu tiba, para pahlawan dijamu di tempat suci.”
Misalnya, menyiapkan makanan untuk mereka, menari untuk mereka—.
“—Musik juga merupakan bagian dari itu.”
Di zaman sekarang pun, musik masih tetap memikat hati orang-orang.
Aku bisa memahami konsep menghibur para pahlawan dengan bernyanyi atau memainkan alat musik.
“Dan bertarung selama festival adalah tradisi kuno yang bertujuan untuk saling meningkatkan kemampuan.”
“Rupanya ada tradisi seperti itu… omong-omong, kenapa harus rock?”
“Dewi-sama menyukainya.”
Itu konyol. Benarkah ada dewi yang menyukai musik rock?
Pokoknya, aku memahami bahwa musik sangat dihargai di Norse.
“…Jadi itu sebabnya kau pandai bermain musik, Schwert-san.”
Sebelumnya, kami memainkan game bernama [Azazel Quest II].
Selama waktu itu, aku ditugaskan di kelas penyair keliling dan mendapatkan ukulele.
Dan dengan menggunakannya, dia memperlihatkan kepada kami sebuah penampilan yang luar biasa….
“Aku hanya melakukannya untuk bersenang-senang.”
Dia menjawab dengan santai, sambil dengan teliti menata rambutnya.
Namun, undangan itu datang dari Jepang.
Pengirimnya jelas ingin dia—.
“Jadi, kau juga akan berpartisipasi dalam festival itu, Schwert-san.”
“Enggak, enggak. Aku enggak ikut, tahu?”
“Eh?! Tapi kau bahkan mendapat undangan….”
Dan dia membacanya dengan sangat serius tadi, aku yakin dia berencana untuk berpartisipasi.
“Aku sudah terlalu malas untuk bersusah payah memainkan musik dengan serius setelah sekian lama.”
Schwert-san secara tidak seperti biasanya tampak menarik diri.
“Lagi pula, meskipun aku ingin berpartisipasi, aku sibuk dengan banyak hal sehingga itu mustahil.”
“Sibuk, ya katamu… Sepertinya kau juga sering absen dari OSIS….”
“Ah, aku sangat ingin berpartisipasi, sungguh disayangkan.”
“Bukankah suaramu terdengar terlalu seperti robot?!”
Bukankah kau cuma bermalas-malasan karena game menyita banyak waktumu?!
Dia tertawa hambar padaku, padahal aku sedang bersikap sangat serius.
“Belum lagi, kalau aku ikut berpartisipasi, kemenanganku sudah pasti.”
“B-betapa percaya dirimu! Tatapan yang begitu tenang…!”
“Hehehe. Game yang hasilnya sudah kita tahu itu tidak menyenangkan.”
Schwert-san tidak diragukan lagi berbakat.
Dia pandai menangani berbagai hal dan mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan lancar yang dihadapkan kepadanya.
Meskipun dia cenderung sering melewatkan pekerjaan OSIS, dia menyelesaikan tugas-tugas yang benar-benar penting lebih cepat daripada siapa pun.
“Hidup dengan santai, sembarangan, dan malas. Itulah motoku!”
Aku mengerti. Ya, beberapa orang memang hidup seperti itu.
Aku orang yang ceroboh, jadi bertingkah panik adalah hal terbaik yang bisa kulakukan….
“—Omong-omong, ada hal yang sudah mengganggu pikiranku sejak beberapa waktu lalu.”
Mungkin untuk mengubah suasana hati, Schwert-san tiba-tiba menatap dadaku.
“Apa oppai-mu jadi lebih besar lagi?”
Apa tadi pernyataan mengejutkan yang baru saja dia lontarkan?!
“E-enggak-enggak-enggak-enggak, enggak-enggak-enggak-enggak-enggak-enggak-enggak!”
“Dilihat dari sudut mana pun, ukuran ini jelas bukan ukuran siswi SMP.”
“Enggaaaaaaaak!”
“Wa, berhenti berteriak, terima kenyataannya!”
Saat berganti pakaian, kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam.
Penampilan menarik dari bra dan celana dalam imut ala gyaru miliknya, dipadukan dengan kulit seputih salju layaknya bangsa Norse.
Saat membandingkan tonjolan yang tampak seperti milik anak SMP miliknya dengan milikku sendiri, aku….
“Sarashi yang melilit dadamu kelihatan bakal robek.”
Schwert-san segera mendekatiku, dadanya membusung ke depan.
Lalu, seolah membandingkan keduanya, ke payudaraku… dia malah menempelkan payudaranya sendiri?!
“Dua kali lipat dari ukuranku… tidak, mungkin tiga kali lipat?”
Lembut! Hangat! Dan wanginya sangat enak!
“Miyamoto-san, berapa ukuranmu saat ini?”
“M-mana mungkin akan kubilang! Aku akan menggunakan hakku untuk tetap diam!”
Lalu, gyaru-pai itu semakin menekan tubuhnya ke tubuhku.
“Tensei-saaan. Aku ingin tahu ukuran dada Miyamoto-san.”
[Untuk saat ini, E-cup. Tinggal sedikit lagi menuju F-cup.]
Jawaban instan menyusul dibarengi dengan payudaraku yang mulai bersinar. Apa dia terpesona oleh teknik rayuannya dan langsung menoleh padaku?!
[Meski begitu, ecchi gyaru memang mantap.]
“S-sungguh tak tahu malu…. Sacred Gear cabul ini…!”
Aku mengencangkan sarashi dengan sekuat tenaga.
[A-aku tak bisa bernapas, Zekka! M-maafkan aku, maafkan aku—]
“Wajahmu bagai setan. Entah kenapa, kau sedikit mengingatkanku pada Fukukaichou….”
Schwert-san menjauh dariku sambil berkata, “Menakutkan sekali.”
Setelah membungkam Tensei, aku langsung mengenakan jersei.
Setelah percakapan seperti itu, kami meninggalkan ruang ganti.
“—Kau masih berisik seperti biasanya, ya, Schwertleite.”
Seorang wanita cantik berambut perak mengenakan setelan jas berdiri di samping Penemune-sensei….
“Geh! Apa yang sedang dilakukan Paisen di sini?!”
“Jangan cemberut. Dan panggil aku sensei di akademi.”
Wanita yang kulihat untuk pertama kalinya membungkuk, menyapa kami.
“Aku adalah budak Rias-san dan seorang guru di divisi SMA—namaku adalah Rossweisse.”
Baik penampilan maupun cara bicaranya memancarkan kesan kecantikan yang tenang dan dewasa.
“…Kudengar dia adalah mantan Valkyrie dan senpai Schwe-chan.”
Avi-buchou membisikkan beberapa informasi tambahan ke telingaku.
“Aku datang ke Pedang Ilmu Gaib pada kesempatan ini untuk menyampaikan perintah langsung kepada Schwertleite.”
“““Perintah?”””
Rossweisse-sensei mengangkat tangannya, mengaktifkan sihir.
Rupanya, itu untuk keperluan komunikasi, dan sebuah gambar melayang di udara—.
[—Sudah lama tidak bertemu, Schwe-chan.]
Yang diproyeksikan adalah…sepasang oppai raksasa?! Payudara yang luar biasa masif itu berbicara?!
“Suara ini… i-ini mustahil, Freya-sama?!”
Schwert-san berseru tak percaya.
Rossweisse-sensei terbatuk, membersihkan tenggorokannya.
“Freya-sama… uh, sudutnya kurang tepat, kami cuma bisa melihat payudara Anda.”
[Oh, maafkan aku. Aku tidak menyadarinya.]
Gambar itu berubah, menampakkan wajah dengan kecantikan yang tiada tara.
[Selamat siang semuanya—aku dewi dari Norse, Freya.]
Setelah memperkenalkan diri dengan santai dan anggun, semua orang terpukau oleh kecantikannya.
Perumpamaan ini mungkin terdengar kurang pantas… tapi dia memberikan kesan yang kuat sebagai seorang wanita yang sudah menikah.
Dewi-sama menatap tajam ke arah si gyaruküre.
[Posisi pertama Vanadis Academia, Schwertleite.]
Dia berseru dengan suara yang begitu merdu hingga bisa membuatmu kegirangan.
[—Dengan ini aku memerintahkanmu untuk berpartisipasi dalam Festival Musik Asgard.]
—JD×D—
[—Apa kabar, Schwe-chan?]
Sebelum beralih ke topik utama, Freya-sama ingin mengobrol sebentar, sambil tersenyum ramah.
“…Yah, sedikit demi sedikit, begitulah.”
Orang yang dimaksud, Schwert-san, menjawab sambil memainkan ujung rambutnya.
“Kau berbicara di hadapan Freya-sama, tahu? Gunakan bahasa kehormatan yang benar.”
Rossweisse-sensei mengerutkan kening mendengar percakapan informal mereka.
[Tidak apa-apa, Rose. Malah, begitulah seharusnya Schwe-chan.]
“Tapi!”
Sepertinya dia tidak bisa mengabaikan perilaku ceroboh kouhai-nya. Akhirnya dia malah memberikan ceramah panjang lebar.
Sesuai dengan penampilannya yang dingin dan cantik… ternyata dia orang yang tegas, pikirku.
“Hhh, kau memang seserius biasanya, Paisen.”
“S-sial—?!”
Namun, gyaru itu sudah terbiasa dimarahi.
“Itulah sebabnya kau bahkan tidak bisa punya pacar.”
“I-ini tidak ada hubungannya denganku yang sedang menasihatimu!”
“Kau masih perawan meskipun bereinkarnasi sebagai Iblis, 'kan?”
“Pe—gah!”
Rossweisse-sensei ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk.
“B-bukannya aku tidak punya pacar karena aku mau! Meskipun aku sudah berusaha sebaik mungkin di tempat kerja! Lagi pula, aku seorang Valkyrie yang masih perawan yang belum pernah punya pacar sepanjang hidupnya!”
H-huh, aura kecantikan dinginnya tadi….
“Lebih tepatnya, seorang ‘mantan’ Valkyrie yang masih perawan.”
“B-betapa kejamnya! Ya, benar! Pada akhirnya, aku hanyalah seorang Valkyrie tak berguna yang dipecat oleh si kakek tua sialan Odin dan menjadi Iblis! Uaaaaaaaah!”
Dia membanting lantai karena frustrasi sambil berteriak bahwa hari ini dia akan menenggelamkan depresinya dalam alkohol.
Melihat perubahan ini, Lilibette dan Ketua….
“Aku heran mengapa para gadis tempur memiliki begitu banyak orang menyedihkan seperti dia.”
“Dia baru saja memanggil Raja para Dewa-sama dengan sebutan kakek tua sialan, 'kan?!”
Sikap tenangnya telah runtuh sepenuhnya. Ternyata dia memang senpai-nya Schwert-san….
[Ufufu. Kalian berdua sedekat seperti biasanya.]
Freya-sama berkata dengan gembira, sepertinya mereka berdua selalu seperti ini.
“Ro-Rossweisse-sensei.”
Secara refleks aku memanggilnya, yang tampak seperti orang yang sangat bermasalah.
“…Kau adalah, Miyamoto-san, kalau aku tidak salah.”
Meskipun masih pemula, aku tetap bekerja keras setiap hari di OSIS.
Jadi sekarang aku bisa mengerti, meskipun hanya sedikit, betapa sulitnya menjadi orang dewasa yang bekerja.
“K-kalau kau terus berusaha, suatu hari nanti, sesuatu yang baik pasti akan terjadi padamu… itulah yang kuyakini!”
Mungkin itu tidak akan terlalu memberikan semangat, tetapi seseorang yang sedikit menghargai usahanya seharusnya—.
“……!”
Namun kemudian Sensei begitu tersentuh hingga kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
“Dengar, Schwertleite! Beginilah seharusnya seseorang bersikap penuh belas kasih!”
Dia dengan penuh semangat berdiri dan menggenggam kedua lenganku dengan erat.
“Seperti yang diharapkan dari seorang siswa yang menurut Rias-san menjanjikan!”
Aku hanya sedikit menghiburnya dan akhirnya dia memuji-mujiku.
“Kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan malam? Kebetulan aku punya banyak kupon diskon!”
Bu-bukankah dia terlalu bahagia?! Betapa jarang dia mendapatkan pujian selama ini….
“Aku menabung setiap hari, tapi kuponnya hampir kedaluwarsa dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku ingin minum bareng seseorang—”
“Miyamoto-san! Sebaiknya kau menolak!”
Schwert-san menahan Sensei yang mendekatiku dengan penuh antusias.
“Aku tidak akan memaksa seorang siswi untuk minum atau menghabiskan banyak waktunya.”
“Bukan itu yang ingin kukatakan!”
“Kau terlihat terlalu bersemangat. Mungkinkah kau juga ingin bergabung dengan kami?”
“Mana mungkin! Kalau Paisen mabuk, hal-hal buruk bakal terjadi—”
Pertengkaran antara kouhai dan senpai kembali terjadi, meskipun tampaknya dia tidak tahan minum.
Hehe… mungkinkah dia berubah menjadi pemabuk yang menggemaskan sampai-sampai kau tidak akan percaya dia seorang guru, ya?
“Oh, Penemune-sensei, kau juga suka minum, 'kan? Kalau mau—”
“T-tidak, terima kasih, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan.”
“Itu pemandangan langka untuk seorang peminum berat sepertimu. Lalu, Buchou, bagaimana kalau—”
“Maaf, aku ada rencana dengan El malam ini.”
“Lilibe—”
“Aku menolak dengan hormat. Aku punya firasat ini tidak akan berakhir baik.”
Semua orang menolak. Yah, kurasa memang ada hari-hari seperti ini.
“Kalau begitu, aku sangat menantikan malam ini, Miyamoto-san.”
Pada akhirnya, makan malamku dengan Rossweisse-sensei sudah terkonfirmasi.
Schwert-san menatapku dengan tatapan iba… astaga, kau terlalu khawatir!
[—Waktu kita terbatas, jadi mari kita langsung ke pokok bahasan.]
Freya-sama kembali membahas topik itu.
[Schwe-chan, aku akan mengajakmu berpartisipasi dalam festival musik.]
Setelah diberi tahu hal itu, Schwert-san tampak tidak senang.
“Anda memang mengirim undangan, tapi aku tidak akan ikut berpartisipasi, tahu?”
[Nah, itu masalahnya. Kau adalah yang terbaik di akademiku.]
Akademiku? Bukankah dia seorang siswa di Akademi Kuoh?
Ada tanda tanya yang melayang di atas kepalaku, jadi Penemune-sensei menjelaskan.
“Schwe hanyalah seorang siswa pertukaran. Dia berasal dari [Vanadis Academia], tahu.”
“Va, Vana…?”
“Nama lain dari Dewi Freya.”
Hoho. Jadi terjemahan harfiahnya adalah [Sekolah Freya-sama], ya.
Rossweisse-sensei kemudian mengangguk sebagai tanggapan.
“Terdapat banyak sekali sekolah yang dinamai menurut nama dewa di Norse. Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing—tapi kesamaan yang mereka miliki yaitu para Walküre yang belajar di sana dengan harapan menjadi Valkyrie tingkat tinggi.”
Dia juga mengajarkan kepada kami bahwa sekolah Freya-sama berfokus pada bidang seni pertunjukan.
Omong-omong, Rossweisse-sensei lulus dari sekolah lain dengan sistem loncat kelas.
[Festival musik merupakan tradisi penting di sekolahku—]
Freya-sama tersenyum, tetapi nadanya serius.
[Kecuali kau memiliki alasan yang sangat kuat, aku tidak akan mengizinkan ketidakhadiran.]
“T-tapi….”
[Kau adalah panutan bagi para siswa. Kalau kau tidak berpartisipasi, beasiswamu akan kucabut, mengerti?]
“Ugh… kalau begitu aku tidak bisa memutar gacha di game lagi….”
Itu yang kaukhawatirkan? Senpai-mu dari Norse bakal marah lagi, tahu?
“Tapi meskipun aku menekuni musik secara serius setelah sekian lama….”
Dia bilang dia sebenarnya tidak ingin berpartisipasi dalam festival tersebut.
Namun entah mengapa, aku tidak melihat sedikit pun kepercayaan diri yang dia tunjukkan di ruang ganti.
Mungkin aku salah paham, tapi ini tidak terasa seperti kebiasaan bolosnya yang biasa.
Rasanya seolah-olah dia memang memiliki alasan yang mendalam untuk melakukan itu….
[Yah, kau juga sudah seusia itu, Schwe-chan. Pasti kau punya banyak hal yang mesti diurus.]
Sepertinya Freya-sama juga menyadari hal itu.
[Aku mendengarnya beberapa saat yang lalu—rupanya, Reginleif juga akan ikut berpartisipasi.]
Pada saat itu, Schwert-san membuka matanya lebar-lebar.
“Eh, Regin itu? Apa dia membentuk band dengan seseorang?”
Sepertinya dia, yang enggan berpartisipasi, memiliki nyala api kecil yang menyala di matanya.
“…Sekali lagi bersamanya….”
Kebetulan, tidak seorang pun kecuali aku, yang berdiri di dekatnya, yang mendengar gumaman samar itu.
Sebenarnya apa hubungan antara Schwert-san dan orang bernama Reginleif itu?
“…Tapi itu malah membuat partisipasi dalam festival menjadi lebih sulit.”
[Apa maksudmu?]
“Yah, aku tidak punya anggota band. Bagiku, menang sendirian melawan Regin… tidak, maksudku, uhh, lolos kualifikasi saja akan sulit! Jika posisi pertama tersingkir karena dia sendirian, itu akan buruk, bukan?”
Sepertinya membentuk sebuah band akan sulit mengingat hanya tersisa dua pekan sebelum festival.
Dia beralasan bahwa betapapun berbakatnya dia, berkarier solo itu terlalu gegabah.
[Kalau yang kau maksud adalah anggota, bukankah kau sudah memilikinya?]
Lalu Dewi-sama mengamati Ketua, Lilibette, dan aku dari atas ke bawah.
[—Kau bisa membentuk band dengan Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib.]
Eh? Eeeeeeeeeeeeh?!
“A-Anda tidak serius, 'kan?! Anda bercanda, 'kan?!”
[Penemune-san telah memberikan persetujuannya.]
Kami serentak menoleh ke arah pembimbing yang dimaksud.
“Kami akan mengaturnya agar tidak menghambat pelajaran kalian. Tantangan seperti itu juga penting di saat-saat tertentu.”
“T-tapi menyeret semua orang ke dalam masalah ini demi kepentinganku sendiri…!”
“Itulah masalahmu, Schwe, ya, tapi sebenarnya ada keadaan lain yang juga berperan.”
Tatapan Penemune-sensei beralih ke arah Lilibette.
“Hal ini masih diselidiki, tetapi—sesuatu yang mirip dengan sisa-sisa Naga Jahat ditemukan di pinggiran wilayah Norse.”
Semua orang terkejut. Karena, keluarga dan kampung halaman Lilibette hancur oleh Naga Jahat….
“…Jadi akhirnya ada petunjuk.”
Sambil menyentuh penutup matanya dengan lembut, dia dipenuhi semangat juang.
“Baiklah kalau begitu! Ayo kita bentuk sebuah band!”
“Wa, Lunaire-san?!”
“Saat ini, meskipun Tiga Kekuatan Besar telah menandatangani perjanjian, bukan berarti mereka sepenuhnya sejalan dengan Norse.”
Dia juga menambahkan, “Terlebih lagi bagi teroris sepertiku. Aku tidak akan bisa masuk semudah itu.”
“Dengan ini aku bisa melakukan perjalanan ke dunia Norse, ini kesempatan terbaik.”
“Tapi membentuk band itu sangat merepotkan… meskipun kami berdua tidak keberatan….”
Gadis tempur itu mengulur waktu, tapi sang kesatria tidak goyah.
“Buchou, Zekka, kumohon!”
Gadis yang angkuh itu membungkuk dalam-dalam.
“Tolong, bantu aku dan Schwertleite!”
Permohonan tulusnya justru terasa menyegarkan.
“—Buchou.” “—Ya!”
Kami saling memberi isyarat dengan tatapan mata. Semuanya sudah diputuskan.
“Baiklah! Kalau begitu, mari kita bentuk sebuah band, semuanya!”
Setelah keputusan itu dibuat, Ketua mengepalkan tinjunya ke udara.
“Ini sangat merepotkan, tahu? A-apakah kau benar-benar setuju dengan ini…?”
Meskipun Schwert-san menatap para anggota dengan terkejut.
“““Tentu saja!”””
Tanpa ragu sedikit pun, kami mengangguk sambil tersenyum.
“Teman adalah orang-orang yang akan membantumu di saat dibutuhkan! Begitulah kita di Pedang Ilmu Gaib!”
“Buchou-san… aku mengerti. Terima kasih!”
Setelah menikmati kedamaian untuk waktu singkat, kami bersiap untuk menuju medan pertempuran berikutnya, ke kampung halaman Schwert-san.
Tempat di mana sihir dan musik berpadu—dunia mitologi Norse!
“…Semuanya salah si tua bangka itu. Dia terus-terusan melecehkanku secara seksual, yash, gajinya rendah, itu sebabnya aku enggak bisa punya pacaaaaaaaaar!”
Setelah beberapa jam, aku terdiam tanpa kata.
“…Sensei, bajumu terlepas. Lihat, perbaiki kancingnya.”
Kami berjalan di sepanjang jalan pada malam hari sambil aku menyandarkan bahu pada Rossweisse-sensei yang mabuk berat.
“Ugh, sepertinya aku sudah mencapai batas kemampuanku….”
“Sedikit lagi, kau dengar?! Kau bakal bertahan, 'kan?! Kau orang dewasa yang hebat, 'kan?!”
“Ugh…!!”
Sparkle-sparkle-sparkle~ Pelangi terbentang di sampingku.
“Ro-Rossweisse-senseeeeeei—!”
—JD×D—
[Kita punya waktu dua pekan. Sekarang kita akan memutuskan siapa yang mengerjakan bagian mana!]
Itulah instruksi yang diberikan Schwert-san kepada kami setelah percakapan dengan Freya-sama.
Meskipun awalnya dia tidak mau berpartisipasi dalam festival musik itu….
[—Karena keadaan sudah sampai seperti ini, aku tidak punya pilihan lain! Aku pasti akan mempertahankan beasiswaku!]
Pada akhirnya, semuanya demi uang?! Atau setidaknya itulah yang ingin kubalas.
Mungkin, karena kami semua secara resmi setuju untuk berpartisipasi, dia langsung berubah 180 derajat dan mulai bertingkah laku penuh antusiasme seperti seorang gyaru sejati.
[—Baiklah kalau begitu, besok sehabis sekolah datanglah dengan alat musik kalian!]
Jujur saja, aku bingung ketika tiba-tiba disuruh membentuk sebuah band.
Namun, para anggota Pedang Ilmu Gaib selalu bersatu demi seorang teman.
Jadi, bekerja sama itu tidak masalah sama sekali, tapi….
“…Meski begitu, aku tidak bisa memainkan alat musik apa pun.”
Kurasa aktivitasku paling banyak hanya memainkan seruling saat SD?
Pertama-tama, aku tidak membawa alat musik dan, tentu saja, tidak punya cara untuk meminjamnya.
“…Pada akhirnya, aku pulang dengan tangan kosong.”
Setelah menyelesaikan tugas-tugas OSIS sehabis sekolah, aku menuju ke ruang klub.
Dengan bekerja bahkan selama waktu istirahat, aku berhasil menyelesaikan tugas-tugas tersebut sedikit lebih awal.
“K-kurasa tak ada orang lain yang punya alat musik… eh, aku yang pertama?”
Ketika aku memutuskan untuk menunggu sejenak, dan mendapati diriku berada di dalam ruang klub yang kosong, hal itu terjadi.
“Huh?”
Pintu yang menuju ke gudang, yang digunakan sebagai ruang loker, terbuka dengan sendirinya.
“Apakah ini sudah diotomatisasi…atau ini ulah poltergeist…?”
Kemudian asap putih mengepul keluar dari celah pintu.
“K-k-kebakaran?!”
Namun, asapnya tidak berbau dan terasa dingin. Apakah ini… es kering?
Pada saat itu, sebuah siluet muncul dari dalam asap—.
“—Bergemalah, inilah dering jiwaku!”
Duuuuuuuun!
Suara ledakan menggema dari pengeras suara, menyapu asap dalam sekejap.
Sosok yang muncul dari dalam adalah seorang gadis cantik dengan bass biru.
“Basis, Lilibette D. Lunaire—turun ke atas panggung dengan gemilang!”
Dia tampil dengan pakaian baru, seragam sekolahnya yang telah dimodifikasi kini dirombak lebih jauh lagi.
Di bagian atasnya terdapat beberapa sulaman yang membingungkan seperti [Sini lawan aku, Eropa] atau [Jiwa kesatria di seluruh langit dan bumi].
Dia juga mengenakan rok yang sangat panjang… dan blazer-nya tampak sangat berbeda dari sebelumnya!
“A-apakah kau berpakaian seperti sukeban[1]? Kenapa?”
“Fuhaha! Perpaduan antara tradisi dan inovasi! Inilah rock versiku!”
Ya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
“Hm. Sepertinya ada yang lain juga yang datang, Zekka!”
Kesatria Sukeban-sama menunjuk ke arah pintu masuk.
“—Keaktifan, kegigihan, antusiasme, dan rock-n-rooooooll!”
Sebuah troli besar melaju masuk, roda-rodanya berderak.
Di atas nampannya terdapat seperangkat drum beserta seorang wanita cantik bertubuh mungil.
“Drumer, Avi Amon—muncul・secara・mendadak!”
Claaaaaaaang!
Dia memukul simbal dengan penuh semangat.
Tatanan rambutnya juga sempurna… tingkat persiapan seperti ini sungguh luar biasa!
“—Miyamoto, aku akan merasa sedih kalau kau melupakanku.”
Troli tempat Ketua beserta set drumnya berada. Gadis cantik yang mendorongnya mengatakan itu padaku.
“Manajer, Elta Setanachia—bergabung ke dalam medan tempur!”
Mantan butler Iblis itu mengenakan kacamata hitam berbentuk hati.
Dia memperkenalkan diri sambil terlihat agak malu.
“E-Elta-kun?! Apa yang dilakukan anggota klub kerajinan tangan di sini?!”
“Aku mendengar soal kesulitan yang dialami klub kalian dari Avi. Jadi, aku datang untuk membantu.”
B-baiklah, aku sangat menghargai itu.
“Mungkinkah hanya aku yang datang dengan tangan kosong—”
Swooooooooosh!
Suara ledakan telah menenggelamkan perkataanku.
“Gitaris utama, Schwertleite—muncul tepat pada waktunya☆”
Sebuah lingkaran sihir teleportasi berkelap-kelip tepat di tengah ruangan.
Dan seorang gadis tempur dengan gitar seputih salju muncul dari dalam, menunjukkan pose ala gyaru-peace.
Seperti yang kuduga, dia lebih bersemangat dari biasanya… tetapi dengan itu, semua anggota telah berkumpul.
“Baiklah, yang terakhir adalah Miyamoto-san!”
“Eh?”
“Ikuti saja alurnya dan buatlah penampilan masuk yang bergaya.”
Maksudmu berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas seperti yang dilakukan Lilibette dan Ketua tadi?
“Lakukan, Zekka-chan! Yang terpenting bagi band ini adalah kesatuan!”
Semua orang mengangguk setuju setelah mendengar perkataan Ketua.
“A-aku tidak bisa! Lagi pula, aku bahkan tidak punya alat musik!”
“Yah, bagian alat musik memang tak bisa dihindari. Kalau begitu, perkenalkan dirimu saja pada kami.”
Jangan bicara seenaknya! Tapi, tapi, kalau aku tidak melakukannya, ini tidak akan selesai….
“Gi-gitaris pendamping, Miyamoto Zekka—check it out, yo!”
A, ahaha, apa kau barusan jadi seorang rapper?
““““………””””
Semua orang menatapku dengan tatapan dingin! Aku tidak sedang main-main, tahu?!
M-maaf, aku tidak bisa menyiapkan apa pun….
“—Kalian lebih berisik dari biasanya, ya.”
Penemune-sensei muncul tepat setelah perkenalanku.
“Ada apa ini, kau lagi, Zekka… kendalikan kekacauanmu itu.”
Sensei menegurku, sambil bergumam, “Ya ampun!”
Apakah dia berpikir seluruh kekacauan ini adalah salahku…?
“Aku cuma mengikuti alur, tahu!”
““““Tidak baik bermain-main terlalu berlebihan.””””
“Kalian mengkhianatiku?! Apa yang terjadi dengan kesatuan band?!”
Aku berteriak sambil gemetar dan mengepalkan tinju.
“A-aku akan meninggalkan band ini—!”
Suaraku yang luar biasa keras bergema lebih keras daripada alat musik apa pun.
Dan itulah akhir dari band Pedang Ilmu Gaib!
“—Baiklah, mari kita mulai rapat strategi!”
Di bawah arahan Ketua, kami berganti suasana. Dan pengumuman tentang pengunduran diriku lenyap begitu saja.
“Pertama, Miyamoto-san, aku meminjamkan ini kepadamu.”
Schwert-san mengaktifkan lingkaran sihir. Dan dari dalam lingkaran itu, dia mengeluarkan sebuah gitar berwarna merah terang, lalu menyerahkannya kepadaku.
“Ini gitar lamaku, tapi kalau kau tidak keberatan, gunakanlah.”
“Eh, kau menyiapkannya untukku?!”
“Yah, akulah yang dibantu, jadi tidak mungkin aku memintamu untuk membeli gitar.”
Gadis gyaru itu tersenyum canggung.
“Schwert-san… terima kasih!”
Aku akan menjaganya baik-baik!
“Sekarang setiap orang sudah memiliki alat musiknya masing-masing—bagian terpentingnya adalah, seberapa mahir kalian memainkannya?”
Elta-kun tepat sasaran.
“Aku benar-benar amatir… maaf.”
Aku tidak ingin menimbulkan masalah dengan bersikap sok.
“Aku lumayan bisa bermain drum! Aku pernah punya beberapa pekerjaan paruh waktu sebagai drumer, lho!”
Itu tak terduga. Pekerjaan Iblis memang multifungsi.
“Musik adalah hal yang wajar bagi kaum bangsawan. Karena itu, aku bisa memainkan hampir semua alat musik.”
Lilibette menyatakan hal itu dengan penuh percaya diri. Apakah para bangsawan bahkan memainkan gitar listrik?
“Aku juga…ah, tidak, kurasa aku bisa bermain cukup baik!”
Schwert-san berhenti bicara di tengah kalimat dan tersenyum masam.
“Oh, aku memutuskan ini tanpa berdiskusi denganmu, tapi Elta bakal jadi—”
“Manajer kita, benar. Terima kasih banyak.”
Pedang Ilmu Gaib tetap kacau seperti biasanya.
Namun, kali ini kami akan pergi ke luar negeri. Jadi, memiliki seseorang yang mengatur jadwal dan hal-hal semacamnya adalah suatu keharusan.
“Hei, anggota klub, apakah kalian tidak melupakan pembimbing hebat kalian, Penemune-sensei?”
“Tolong bantu jaga Pedang Ilmu Gaib, Elta-kun.”
“Hei, Zekka! Itulah peranku! Meskipun aku terlihat seperti ini, aku masih seorang guru dan—”
“Aku tidak lagi bisa memercayai guru yang suka minum-minum.”
Apa yang terjadi tadi malam dengan Rossweisse-sensei… benar-benar membuatku trauma.
“Ahaha. Serahkan urusan manajemen tugas-tugas kalian padaku. Sebagai mantan butler, aku akan melakukan yang terbaik.”
Elta-kun mengangguk gembira.
“Nah, itu memang hal yang mesti dilakukan siapa pun saat memulai sebuah band.”
Schwert-san, yang paling berpengalaman dalam urusan band musik di antara kami, angkat bicara.
“Pertama, mari kita tentukan namanya—!”
Dia mengatakan bahwa menamainya Klub Penelitian Pedang Ilmu Gaib akan membosankan.
Menyetujui hal ini, semua orang mulai mengusulkan ide, tetapi….
“Bagaimana kalau kita pilih yang keren seperti [Bloody Rose Nocturnes]?!”
“Aku percaya gairah yang membara itu penting! [Pendekar Pedang Musik Dahsyat J&C[2]]!”
“Mungkin lebih baik jika memilih sesuatu yang sangat sederhana seperti [Klub Musik Ringan Gadis Akademi Kuoh], kurasa.”
“Kita juga menginginkan sesuatu yang manis. Menurutku [After School@Cure Heartful] akan sangat bagus.”
“Kalau kita menggunakan templat gaya lama, [Onee-sama Malaikat Jatuh dan Gadis-Gadis Cantik yang Ceria] juga bisa masuk hitungan.”
Selera penamaan kalian terlalu kacau!
Apakah band ini memiliki kesatuan sama sekali, ya…?
[Menurutku [Pasukan Peraba Oppai Freya Oppai] terdengar mantap.]
Tensei pun ikut-ikutan, tunggu, mana mungkin kita bisa memakai nama itu!
Dengan begitu, diskusi ini menjadi sangat panas… atau lebih tepatnya, berubah menjadi kekacauan?
Diskusi itu berlanjut hingga matahari terbenam dan kesimpulan yang berhasil kami capai adalah—.
“—Sudah diputuskan, nama band kita adalah [O.P.P.A.I]!”
Avi-buchou mengakhiri perselisihan tersebut.
Semua orang selain aku menganggapnya sebagai jalan tengah yang masuk akal.
“Tunggu sebentar! Bagaimana ceritanya bisa jadi oppai?!”
Atau lebih tepatnya, bukankah mereka sedikit disesatkan oleh Tensei?!
Aku terlalu malu untuk mengatakannya di depan umum!
“Nah, nama resmi kita adalah [Occult Power Perform All Impact]!”
“Miyamoto, orang-orang tidak akan mengingat namanya kalau terlalu panjang.”
“Setelah disingkat, kebetulan saja jadinya oppai.”
“Terimalah, Zekka. Inilah demokrasi.”
G-guh, mereka hanya bisa kompak di saat-saat seperti ini…!
“Pe-Penemune-sensei! Ini tidak bagus dari segi etika, 'kan?!”
“Tidak apa-apa, 'kan? Aku cukup menyukainya.”
Aku menundukkan kepala. Ketua mengangkat tangannya dan berseru dengan semangat.
“Mari kita lakukan yang terbaik dan mengincar posisi juara festival musik!”
““““Yeah!””””
Bagiku, yang tidak menyukai oppai, menjadi anggota band oppai….
Nilai-nilai kami benar-benar tidak cocok, jadi apa boleh kalau aku keluar saja dari band ini…?
—JD×D—
“—Selamat datang di rumahku!”
Sementara itu, aku pergi ke rumah Schwert-san.
Aku datang ke sini karena peraturan sekolah melarang berlama-lama di sekolah sampai larut malam, tapi….
“…Tidak banyak tempat untuk berdiri… kau membawa banyak sekali barang.”
Majalah-majalah menumpuk di lantai. Rak penuh dengan cakram. Barang-barang anime dan manga berjejer rapi….
“Oh! Apa ini figurin Rias-senpai?!”
“Lebih tepatnya, figurin Switch Princess.”
Itu adalah heroine yang muncul dalam sebuah acara yang sangat populer [Chichiryuutei Oppai Dragon].
Dan Rias-senpai digunakan sebagai modelnya….
Wah, bagus sekali. Aku juga ingin Senpai ada di kamarku.
“Omong-omong, kalau kau menekan mekanisme di punggungnya… lihat, oppai-nya bakal terbang!”
Aku menangkap bagian dada senpai yang kukagumi itu, yang baru saja meluncur ke arahku.
Siapa sih yang pertama kali menciptakan merchandise seperti itu… Rias-senpai pasti juga mengalami masa-masa sulit.
“Seperti yang kukatakan tadi—”
Dia angkat bicara sambil membersihkan lantai dengan asal-asalan.
“Miyamoto-san benar-benar seorang pemula, jadi aku akan mengajarimu secara privat.”
Diputuskan untuk sementara waktu setiap anggota akan berlatih sendiri-sendiri, dan dia menjadi sensei-ku.
“Prioritas utama kita adalah perkembanganmu, Miyamoto-san. Penyempurnaan formasi band akan menyusul kemudian.”
“Apa sebenarnya yang kaumaksud dengan perkembangan…?”
“Cukup memainkan seluruh bagian lagu yang kami pilih untuk babak penyisihan, kurasa.”
Dia menyerahkan selembar partitur musik kepadaku sambil berkata, “Ini dia.”
…Um, aku sama sekali tidak tahu apa yang tertulis di sana.
Aku harus meningkatkan kemampuanku dengan cepat demi kebaikan semua orang. Tanggung jawabnya memang sangat berat!
“Baiklah, mari kita mulai dengan penjelasan tentang masing-masing bagian gitar.”
Istilah-istilah asing seperti head, neck, body, dan lain-lain terus berlanjut satu demi satu.
“Soal posisi, pasang talinya di bahu kiri….”
“Tapi kau memasangnya di bahu kanan, Schwert-san?”
“Punyaku kidal. Kau memegang pik di antara jari telunjuk dan ibu jari….”
Jadi, punyaku itu untuk orang yang menggunakan tangan kanan? Kenapa berbeda?
Untuk sementara, aku mencoba mengatur semuanya sesuai petunjuk.
“…Entah kenapa, itu sangat cocok untukmu.”
Itu bukan sekadar sanjungan, dia benar-benar tampak terkejut.
“Ini mengingatkanku pada Regin. Kau memiliki aura itu dan kepribadian kalian juga sedikit miri—”
“Regin?”
“Ah.”
Dia menutup mulutnya sambil berkata, “Ups.”
“Kau sudah menyebut nama ini beberapa kali, 'kan? Apa dia temanmu?”
Tanpa sengaja aku bertanya karena penasaran.
“Regin adalah… teman masa kecilku.”
Dia perlahan mulai berbicara setelah memberi tahuku bahwa tidak ada gunanya menyembunyikannya sekarang.
“Aku juga mengajarinya bermain gitar dan kemudian kami berdua pernah membentuk sebuah band.”
“Cara kau membicarakannya….”
“Benar. Kami sudah bubar.”
Dia mengenang kembali teman lamanya.
“Regin mudah berubah suasana hati dan sering sakit, jadi dia tidak akrab dengan semua orang….”
Schwert-san bercerita kepadaku bahwa dialah yang selalu menarik tangannya sejak mereka masih kecil.
“Namun jika menyangkut musik, terutama gitar, Regin sangat berbakat.”
Schwert-san membicarakannya dengan bangga, tapi ekspresinya agak terlihat kesepian.
“Jika Regin ikut serta dalam festival musik, maka kemenangan—”
“Kemenangan?”
Saat aku bertanya dengan santai, Schwert-san mengangkat kepalanya dengan terkejut.
Lalu dia buru-buru menelan kata-kata yang hendak diucapkannya.
“Errr, begini… kalau Regin ada di sana, kontesnya akan jadi menarik!”
Sambil mengubah ekspresi wajahnya, dia menunjukkan senyum yang ceria kepadaku.
Entah kenapa, rasanya seperti dia telah menipuku… atau mungkin itu hanya imajinasiku?
“Pokoknya, kita akan menerima kemenangan ini! Aku juga senang mendapatkan uang hadiahnya!”
“Jadi ada hadiah uang juga… tunggu, uang lagi?!”
“Tentu saja kita akan membaginya secara merata, tahu? Mari kita gunakan sebagai dana klub untuk Pedang Ilmu Gaib dan pergi berlibur bersama!”
Seperti biasa, dia tetap setia pada keserakahannya.
Tapi, pergi berlibur bersama semua orang… sungguh kegiatan yang khas anak muda!
Dan aku sudah pernah bilang sebelumnya, tapi aku ingin pergi ke Disneyland!
“—Meski jika bicara lebih serius, kurasa aku harus menanggapi ini dengan sungguh-sungguh.”
Schwert-san menggaruk pipinya karena malu.
Meskipun kemarin di ruang ganti, dia sendiri bilang bahwa bermain musik dengan serius itu merepotkan….
“Ada juga hal-hal tentang perintah Freya-sama dan kasus Lilibette, tetapi bagaimanapun juga, semua orang cukup baik untuk membantuku… jadi kalau aku mengambil jalan pintas, itu tidak akan terlihat keren.”
“Dengan santai dan ceroboh” adalah motonya.
Dia cenderung bermalas-malasan, mudah terbawa suasana, dan terobsesi dengan uang—tetapi aku tahu dari interaksi kami sebelumnya bahwa jauh di lubuk hatinya dia adalah orang yang dapat diandalkan.
“Sejujurnya, ketika semua orang menawarkan bantuan kepadaku, aku sangat senang.”
“Ahaha. Kami langsung menjawabnya, ya?”
“Ya. Aku suka suasana itu. Aku ingin berada di tempat itu.”
Setelah diputuskan bahwa kami akan berpartisipasi dalam festival musik, dia tampak lebih termotivasi dari biasanya.
Aku khawatir dia mungkin terlalu memaksakan diri….
Namun, mungkin kesadaran bahwa dia adalah anggota klub tersebut yang membuatnya bertindak seperti ini.
“…Lagi pula, Regin yang terlambat dewasa itu akhirnya bisa berdiri di depan umum.”
Sambil menggumamkan kata-kata itu, dia menatapku dan mengumumkan dengan riang.
“Tidak akan keren kalau aku terus ragu-ragu sendirian.”
Apa pun keadaannya, begitu kau memutuskan sesuatu, lakukanlah dengan sepenuh hati.
Dia mengedipkan mata ala gyaru dengan antusias.
“Maksudku, aku tidak bisa menunjukkan sisi memalukanku kepada teman-teman yang melakukannya bersamaku—!”
Meskipun aku tidak mengkhawatirkannya pun… semuanya akan baik-baik saja, ya.
“Tapi rasanya memalukan kalau membicarakannya dengan serius. Tadi hanya refleks kelepasan bicara saja karena Miyamoto-san mirip Regin.”
Aku tidak banyak mendapat informasi tentang musik.
Namun, aku sangat memahami tekadnya untuk melakukan ini dengan sungguh-sungguh.
“Aku… akan melakukan yang terbaik! Aku akan berlatih sangat keras dan menjadi lebih baik!”
Aku tak akan bisa menyebut diriku temannya jika aku tidak maju di sini!
“Hehe. Kalau Miyamoto-san bisa jadi lebih baik, maka kemenangan kita hampir pasti.”
“K-kalau aku lebih baik, kemenangan kita sudah pasti…?”
“I-itu cuma bercanda, oke? Kau tidak perlu menanggapinya seserius itu, lho?”
Aku membungkuk sekali lagi kepada Schwert-san.
“Kumohon! Ajari aku bermain gitar!”
“K-kau tidak perlu terlalu sopan… tapi baiklah, mari kita mulai pelajaran kita!”
Baik! Aku akan melakukan yang terbaik—.
“Hari ini adalah kursus untuk pemula. Kita akan belajar tentang tunning, setting, form, picking, membaca notasi TAB, berlatih nada tunggal, dan—”
“T-t-tunggu sebentar! Bukankah ada terlalu banyak hal dalam daftar ini?!”
Aku sama sekali tidak bisa mengikutinya. Schwert-san mencengkeram bahuku dengan kuat.
“Tidak apa-apa. Aku akan mengajarimu dengan benar.”
Dia menatapku sambil tersenyum lebar.
Tensei memang mengatakan [Gyaru adalah yang terbaik], tapi….
“…T-t-tolong, jangan terlalu keras padaku.”
—JD×D—
Aku ingin mengajukan keberatan terhadap Tensei! Gyaru itu menakutkan!
“…U, uh, jemariku sakit….”
Setelah menyelesaikan kursus pemula (?) dan pulang ke rumah, aku langsung ambruk di atas tempat tidur.
“Aku sama sekali tidak tahu kalau bermain gitar sesulit ini.”
Aku menjadi sangat sadar akan kenyataan tersebut.
Kegiatan OSIS, latihan ilmu pedang, dan sekarang latihan musik. Banyak sekali yang harus dikerjakan….
“…Aku jadi ragu apakah aku masih bisa bermain gitar kalau begini terus.”
Kurasa itu bukan sesuatu yang bisa kukuasai dalam sehari.
“……Benar, aku juga punya pekerjaan rumah.”
Schwert-san memberiku bahan pembelajaran musik. Dia bilang aku harus menghafalnya bukan hanya dengan tubuh, tetapi juga dengan pikiran.
Ini juga agar aku bisa memainkan karya kami untuk festival tersebut, meskipun hanya sedikit lebih awal.
“Hm? Ada cakramnya?”
Saat ali membuka buku teks yang sudah usang, sebuah cakram jatuh dari dalamnya.
“Apakah dia merekam video tentang cara bermain musik, ya…?”
Saat aku memasukkannya ke PC dan mencoba memainkannya, yang muncul di layar adalah—.
[Ulasan pelajaran sebelumnya. Mengenai postur, pasang tali pengikat di bahu kirimu….]
Adegan itu terjadi di tempat yang bisa digambarkan sebagai kamar anak-anak.
Itu menunjukkan Schwert-san, yang tampaknya masih duduk di bangku kelas bawah SD.
Dia sedang mengajari seorang gadis yang berdiri di sebelahnya cara memegang gitar.
[Kau memegang pik di antara jari telunjuk dan ibu jari.]
[…S-seperti ini, 'kan?]
[Ya! Kau kelihatan sangat keren, Regin! Sama seperti Freya-sama saat aku melihatnya di festival musik!]
[…Kau benar-benar menyukai Freya-sama ya, Schwe-chan.]
[Tentu saja, aku mengaguminya! Itulah alasan aku mulai bermain gitar!]
Ternyata, gadis yang berdiri di dekatnya adalah teman masa kecilnya, Reginleif-san.
Namun, sebenarnya apa video misterius ini… sebuah video rumahan?
[…Omong-omong, kenapa kau merekam ini?]
Sepertinya Reginleif-san memiliki pertanyaan yang sama.
Dia bertanya demikian sambil menunjuk ke arahku, dengan kata lain, ke arah kamera.
[I-itu, kau tahu….]
Schwert-san terdiam sejenak, lalu buru-buru memasang wajah sombong.
[Ini untuk merekam perjalanan kita menuju kemenangan di festival musik dan menjadi band terbaik!]
[…Hmm. Seperti film dokumenter?]
[Ya, tepat sekali! Hari kita menang akan disiarkan ke seluruh dunia! Akan mendapat rating 100% dan kita akan menghasilkan kekayaan yang lebih besar lagi!]
[…Kau benar-benar ingin menghasilkan uang, ya.]
Jadi, Schwert-san sudah terobsesi dengan uang sejak kecil….
[…Tapi band terbaik, katamu? Padahal aku masih pemula?]
[Tidak apa! Aku akan mengajarimu semuanya dari awal!]
[…Aku sudah membeli gitar, tapi menontonmu saja sudah menyenangkan, Schwe-chan….]
[Keseruan sebenarnya adalah memainkannya sendiri!]
Kepada teman masa kecilnya yang merasa cemas, Schwert-san menunjukkan senyum lebar.
[Hei, ayo kita lakukan bersama, Regin!]
[…Oke, aku mengerti, kalau itu bersamamu, Schwe-chan.]
Lalu satu video demi satu video muncul—.
[—Regin! Gigi susuku copot saat aku bermain gitar pakai gigiku!]
[—Eh?! Kau berlumuran darah?!]
Seiring waktu berlalu, keduanya semakin tinggi.
Tentu saja, keterampilan mereka juga terus meningkat.
[—Schwe-chan. Bagaimana pendapatmu soal lirik ini?]
[—Ini ultra-rock!]
Apa pun yang terjadi, mereka berdua selalu berlatih bersama.
…Kelihatannya sangat menyenangkan.
Aku berharap bisa bermain dengan semua orang seperti ini.
[…Schwe-chan, kenapa kau ingin menang di festival musik?]
Saat mereka sedang berlatih, Reginleif-san menanyakan hal ini padanya.
Orang yang dimaksud menarik tangannya dari tali dan mulai berbicara.
[Yah, aku memang ingin mendapatkan uang dan menjadi terkenal, tapi tetap saja—]
[…Tetap saja?]
Schwert-san memperlihatkan senyum berseri-seri dan hendak memberikan jawabannya.
[Regin, kau tahu, aku—]
Video itu berakhir dengan kata-kata tersebut.
Bagaimana mereka berdua berpisah setelah itu?
Entahlah, dan itu bukan sesuatu yang bisa kuselidiki lebih dalam.
“…Kurasa aku harus berlatih.”
Kembali pada kenyataan, aku mengambil gitar merah itu.
Meskipun jemariku sangat sakit. Meskipun lebih baik jika aku tidur lebih awal.
Aku merasakan sebuah dorongan. Bahwa aku ingin memainkan musik seperti mereka berdua.
“Aku akan pergi ke festival musik bersama Schwert-san, bersama semua orang.”
Lalu aku ingin menampilkan pertunjukan yang akan membuatku merasa senang melakukannya.
“Mungkin, peningkatan drastis dalam waktu singkat hanyalah khayalan belaka.”
Hal itu membuatku ingin melarikan diri dari kenyataan dengan membayangkan betapa menyenangkannya jika ini menjadi tantangan dalam ilmu pedang.
Jika ini tentang menguasai senjata baru atau teknik ilmu pedang, maka aku pun akan mampu mencapainya dalam waktu singkat….
“…Tapi, pedang dan gitar tidak memiliki kesamaan sama sekali….”
Untuk saat ini, aku tidak punya pilihan selain terus maju dengan panik.
[—Dari satu hal, ketahuilah sepuluh ribu hal lainnya.]
Tiba-tiba, dadaku bersinar dan aku mendengar sebuah suara.
“Tensei… yang ini adalah….”
[Pepatah Musashi. Bahkan ilmu pedang yang kauasah pun bisa digunakan untuk musik.]
Kemampuan berpedangku bisa dimanfaatkan, dalam musik…?
[Itulah satu-satunya cara untuk menguasainya dalam waktu singkat.]
Tak sanggup lagi menyaksikan diriku yang menyedihkan itu dalam diam, ia pun memberikan nasihat….
[Saat kau menang, mintalah pelukan dari Dewi Freya, lalu sensasi oppai-nya bisa—]
Aku sama sekali tidak mendengar bagian kedua. Terima kasih atas saranmu, Tensei.
“Keahlianku adalah menggunakan pedang, dan aku mahir menggunakan pedang, jadi jika itu pedang—oh.”
Setelah mendengar nasihat Tensei, sebuah ide terlintas di benakku.
Aku segera membuka laci dan mulai menggeledah isinya—.
“Ini dia.”
Itu adalah pisau kecil dengan panjang sekitar dua puluh sentimeter.
Awalnya, itu adalah senjata portabel yang digunakan terutama untuk membela diri.
“Dengan ini… mungkin aku pun bisa bermain gitar!”
—JD×D—
Berkat saran Tensei, aku menemukan cara inovatif untuk meningkatkan kemampuan bermainku.
Namun, itu saja tidak cukup untuk merasa tenang!
Dalam upaya mencari metode lain untuk berkembang, aku memutuskan untuk mengamati bagaimana anggota lain berlatih.
Nah, bagaimana dengan semua orang selain aku dan Schwert-san?
Drumer・Avi-buchou
“—Yang terpenting dalam bermain drum adalah kepekaan ritme!”
Suara Avi-buchou bergema di area pinggir sungai.
“Dan untuk mempertajamnya, aku mengundang seorang asisten untuk hari ini—silakan, Sensei!”
Pada saat itu, sesosok manusia dengan piringan di kepalanya melompat keluar dari sungai.
“…Ka-kappa?!”
“Izinkan aku memperkenalkanmu! Dia adalah seorang rapper, Salamander Tomita-sensei!”
“Jangan panggil aku sensei, Avi-chan. Lagi pula, aku sekarang mantan rapper. Saat ini aku hanyalah seorang petani mentimun yang rendah hati.”
Dia mengenakan kacamata hitam modis dan kalung rantai berbentuk mentimun yang berkilauan di lehernya.
Aku mengamatinya sambil memberi salam. Dilihat dari auranya, dia adalah seorang youkai….
“Aku bertemu dengannya selama salah satu pekerjaan Iblisku. Drum yang kumiliki juga dipinjam melalui koneksi Sensei!”
“B-begitu, ya… jadi, apa yang mau kalian lakukan sekarang?”
Lalu, irama santai terdengar dari speaker portabel milik Tomita-san.
“Untuk mengembangkan kepekaan ritme, freestyle rap adalah yang terbaik.”
“Freestyle… tunggu, di sini?!”
“YO-YO! Aku Tomita si kappa! Kusuka mentimun dan shirikodama!”
“Sudah dimulai?! Eh, eh, Buchou, apa yang harus….”
“EY-EY! Aku Avi si Iblis! Ini hanyalah latihan menabuh drum!”
“Buchou, kau juga nge-rap?! Tanpa ragu sama sekali?!”
Meski begitu, keduanya mengikuti irama dengan sangat baik.
Ini mungkin sangat membantu dalam mengasah kepekaan ritme!
Ini berbeda dari ucapan “Check it out, yo” palsuku.
Astaga, aku meremehkannya. Nah, bagaimana aku harus….
“Sekarang giliranmu, Zekka-chan, YO!” “Biarkan kami merasakan vibe-mu, YO!”
Gagal kabur. Sang Iblis dan si kappa menyerahkan tongkat estafet itu kepadaku.
Aku terpaksa nge-rap, dan kalimat yang berhasil kuucapkan saat gugup dan panik itu adalah—.
“A-aku Zekka, YO! Tanganku selalu penuh dengan oppai, YO[3]! Boyon-boyon!”
““Lelucon kotor sejak awal….””
Keduanya menunjukkan ekspresi rumit. Suasananya juga jadi agak berat… apa ini salahku?!
Itu pengalaman pertamaku, jadi mau bagaimana lagi, 'kaaaaaan!
Basis・Lilibette
“—Yang dibutuhkan dari seorang basis adalah selalu bersikap tenang dan terkendali.”
Menurutnya, basis adalah dalang di balik layar dalam sebuah band.
Meskipun rupanya, dia menawarkan diri untuk memainkan bas kali ini karena menurutnya itu keren….
“Aku butuh tekad yang cukup kuat agar tidak terpengaruh oleh apa pun.”
Karena berasal dari keluarga bangsawan, dia bisa memainkan hampir semua alat musik.
Itulah sebabnya dia memprioritaskan memperkuat ketahanan mentalnya… untuk yang ini, aku setuju.
“Aneh. Ini benar-benar aneh.”
“Ada apa, Zekka? Apakah ada sesuatu yang tidak kausetujui?”
“Ini kostummu! Kenapa harus jadi bunny girl?!”
Lokasi kami saat ini adalah gerbang depan divisi SMP Akademi Kuoh.
Seorang gadis pirang cantik dengan penutup mata berdiri mengenakan kostum yang sangat vulgar.
“Kelinci adalah hewan yang diburu oleh manusia. Jadi aku berpikir bahwa memerankan peran mereka bisa memberiku perasaan teror yang sesungguhnya.”
Sepertinya dia berusaha menenangkan jiwanya dengan menahan teror tersebut.
Memang benar, para siswa yang lewat, terutama anak laki-laki, memandanginya seperti binatang buas yang kelaparan….
Aku mungkin tidak akan mampu menahannya bahkan sedetik pun.
“Kalau kau begitu bersikeras berpakaian seperti kelinci, kenapa tidak memakai kostum yang ada di taman hiburan saja….”
“Ha! Kau ingin aku menyembunyikan paras cantikku ini?! Hentikan leluconmu, Zekka!”
“Satu-satunya lelucon di sini adalah cara berpakaianmu, Lilibette.”
Oh, ya, omong-omong soal pakaian, ini sudah mengganggu pikiranku sejak tadi….
“Kau mengubah desain seragammu, dan berpakaian seperti seorang sukeban beberapa hari yang lalu, mungkinkah kau hanya suka cosplay?”
“Pertanyaan yang bagus sekali. Aku—eh, hentikan, kau, anak laki-laki di sana!”
Dia menunjuk ke arah anak laki-laki yang diam-diam mengarahkan kamera dari ponselnya ke arahnya.
“Jangan sembunyi-sembunyi, ayo lakukan di tempat terbuka! Dan kalau ada pose yang kauinginkan, katakan dengan lantang!”
“Ya, benar, mengambil foto mengintip itu buruk… tunggu, jadi itu yang kaukhawatirkan?!”
“Ini juga bagian dari latihanku. Nah, semuanya, ambil foto sebanyak yang kalian suka!”
Setelah pernyataannya yang lantang, dia langsung dikelilingi orang, mengubah tempat ini menjadi acara sesi foto dadakan.
“T-tolong, jangan lebih dari lima menit per orang! Dan dilarang mengambil foto dari sudut rendah…!”
Saat aku satu-satunya yang panik memberikan peringatan, dia malah berpose dengan gembira, mengabaikan apa pun.
Dengan kepribadian yang begitu tak tahu malu, aku yakin dia akan selalu bisa tetap tenang dalam situasi apa pun!
Manajer・Elta-kun
“—Aku sempat berpikir untuk membuat beberapa merchandise band di sela-sela tugas manajerialku.”
Elta-kun memberi tahuku sambil mengoperasikan tablet di atap sekolah.
“Sekalian memamerkan keahlianmu sebagai anggota Klub Kerajinan Tangan! Barang apa yang rencananya akan kaubuat?!”
“Untuk saat ini aku sedang mempertimbangkan untuk membuat kaus orisinal band.”
Rencananya, kaus itu akan dijual sekaligus dipakai oleh para anggota band.
“Karena kali ini kita kekurangan waktu, kurasa sebaiknya kita menaruh desain sederhana pada kaus polos.”
“Dengan sederhana maksudmu menambahkan teks… seperti nama band?”
“Itu akan menjadi pendekatan klasik. Tapi karena kita memiliki kesempatan ini, mari kita coba sesuatu yang berbeda. Contohnya—”
Dia dengan cekatan menggerakkan pena di atas tablet, lalu menunjukkan kepadaku contoh yang telah dia buat.
“Jujur saja, aku ingin memilih sesuatu yang imut, tapi seperti yang kautahu, nama band kita adalah oppai.”
Sebuah kaus polos ditampilkan di layar, dan apa yang tertulis di tengahnya—.
“Ta-da! Aku mencoba menambahkan tulisan [I♡toge] di bagian depan!”
“Ditolaaaaaak! Sama sekali tidak!”
“A-apa itu kurang berdampak? Lalu, bagaimana kalau [Poligami] diletakkan di belakang?”
“Itu bahkan lebih buruk! Jadi bahkan lebih tak tahu malu!”
Setelah aku langsung menyangkal, Elta-kun memasang wajah sedih dan muram.
Lalu dia mengeluarkan boneka domba dari sakunya dan mulai bergumam, berbicara dengan boneka itu.
“Itu jahat sekali, ya, Jaime. Padahal aku sungguh-sungguh memikirkan cara memanfaatkan nama band kita….”
[Benar, benar. Elta sudah melakukan yang terbaik. Ini hanyalah keegoisan Miyamoto.]
“Bukan aku yang bersalah di sini, 'kan? Benar 'kan?”
[Tentu saja! Oppai Miyamoto yang harus disalahkan atas segalanya!]
Nama bandnya yang jadi masalah, 'kan! Dan Jaime bersikap kasar padaku seperti biasanya!
“M-maaf, Elta-kun. Mungkin aku terlalu banyak bicara.”
“……Ada lagi?”
“Uhh, eh, aku ingin melihat lebih banyak desain indahmu, Elta-kun!”
Aku berusaha sebaik mungkin, merayunya, lalu Elta-kun perlahan-lahan menjadi lebih baik.
“Kalau begitu aku tidak punya pilihan. Kalau kau bersikeras seperti ini, Miyamoto, maka aku akan senang.”
Dia tersenyum dan mulai membuat desain baru sementara aku terus memuji desain-desain tersebut.
Sebenarnya siapa manajernya di sini, ya… perjalanan yang akan ditempuh pasti penuh dengan kesulitan.
—JD×D—
Pagi buta pada suatu hari. Suara pedang bambu yang saling berbenturan bergema di dalam ruang klub Pedang Ilmu Gaib.
Itu adalah latihan pagi bersama para senpai dari divisi SMA, dan lawanku kali ini adalah Shidou Irina-senpai.
“—Lagi, lagi, lagi.”
Sambil menggumamkan itu, aku menaikkan intensitas seranganku.
“Meskipun masih SMP… tekanannya luar biasa…!”
Terdesak oleh serangan bertubiku, Senpai perlahan-lahan terdorong mundur.
“Tapi…!”
Melihat ayunan besarku, dia langsung menutup celah di antara kami.
Menarik pedang ke belakang, aku mencoba melakukan serangan balik, tapi—
“Kena kau!”
Keahlian Senpai adalah kecepatan dan taktik yang licik.
Kali ini, dia justru memperlebar jarak yang baru saja berhasil dia tutup dengan melompat mundur.
Menghindari pedangku, dia melancarkan serangan balik langsung—.
“—Lagi, menuju puncak yang lebih tinggi.”
Aku secara naluriah menghindar. Punggungku membungkuk, wajahku menghadap ke langit-langit. Goyangan cepat ke belakang dari posisi tegak.
“Eh, bagian tubuh atasnya—apa ini?!”
Dorongan Senpai membelah udara, melewati di antara payudaraku.
“Aku akan mengambil pergelangan kaki kiri dan paha kananmu.”
Saat aku berdiri, aku dengan lembut menggoreskan pedang bambuku di kedua kaki Senpai.
“Selanjutnya, pergelangan tangan kanan dan lengan atas kiri.”
“Ap, eh, tu,”
“Selanjutnya, badan, tenggorokan, bahu.”
“Bukankah kau menebas terlalu banyak?! Aku sudah mati, 'kan?!”
“Berikutnya….”
“Xenovia! Asia-san! Jangan cuma melihat saja dan bantu akuuuuu—!”
Ketika aku tiba-tiba tersadar, latihan itu sudah selesai.
“Kouhai-ku menindasku dengan pedang…”
Dengan cemberut, Shidou-senpai duduk di lantai sambil memegangi lututnya.
“Seperti yang kuduga, Zekka lebih terampil dalam ilmu pedang.”
Xenovia-senpai, yang sedang mengamati pertandingan kami, mengatakan itu sambil tersenyum.
“Kerja bagus, kalian berdua.”
Selain itu, Asia-senpai membawakan air dan handuk untukku dan Shidou-senpai.
“…Maaf, Shidou-senpai, aku sudah kelewatan.”
Aku merenungkan perilakuku. Aku merasa aku terlalu terbawa suasana.
“Um, kali ini adalah kontes keahlian pedang murni….”
Senpai menangis tersedu-sedu.
“Kalau kau menggunakan kekuatan malaikatmu, entah bagaimana hasilnya….”
Saat itu, Senpai berhenti menangis.
“Lagi pula Senpai adalah ace Michael-sama, ini tidak akan mempan dalam pertarungan sungguhan.”
Senpai berdiri, penuh semangat.
“Manusia adalah makhluk yang tumbuh dengan mengatasi kekalahan—!”
Dia mengepalkan tinjunya, sambil berkata, “Ini adalah cobaan lain yang diberikan Tuhan.”
Baik Xenovia-senpai maupun Asia-senpai mengangguk setuju.
“““Ya Tuhan!”””
Ketiganya tiba-tiba mulai berdoa.
…Yah, setidaknya Shidou-senpai sudah pulih sepenuhnya!
“—Zekka, itu memang kekuatan yang luar biasa, tapi apakah sesuatu terjadi?”
Setelah kami berganti pakaian, masih ada waktu tersisa. Senpai pribadiku, Xenovia-senpai, menanyakan hal itu padaku.
Ada juga percakapan yang kami lakukan dengan Yagyuu-kaichou….
“Aku berpikir untuk memanfaatkan waktu yang kumiliki dengan lebih baik untuk menempa pedangku.”
Lagi pula, masih ada hal-hal lain yang harus kulakukan dengan sebaik mungkin.
“Sebenarnya—”
Aku menceritakan para senpai-ku bahwa anggota Pedang Ilmu Gaib telah membentuk sebuah band.
Dan juga mengungkapkan bahwa aku sedang menjalani pelatihan gitar yang intensif.
“Oh, begitu!” “Kedengarannya menarik, bukan!” “Sepertinya menyenangkan!”
Ketiganya menjawab dengan serempak.
“Tapi masalahnya, aku satu-satunya pemula di antara mereka….”
Berkat saran Tensei, aku menemukan metode revolusioner untuk meningkatkan kemampuanku.
Aku sudah melakukan latihan berdasarkan itu, tapi aku juga berpikir lebih baik jika ada satu teknik penentu lagi….
“Aku ingin memberikan beberapa saran, tapi….”
Sambil mengatakan bahwa mereka bertiga tidak begitu paham musik, mereka menggelengkan kepala.
“B-benar, jangan khawatir soal itu.”
Aku merasa tidak enak karena membuat para senpai terlihat sangat bersalah.
“Omong-omong, bagaimana kalau kita berkonsultasi dengan Rias-senpai atau….”
Kalau yang kita bicarakan adalah dewi-sama-ku, mungkin aku bisa berharap mendapatkan bimbingan ilahi.
“Maaf. Rias-buchou sedang absen.”
“Mereka saat ini sedang dalam perjalanan ke Rumania.”
“Bersama dengan Azazel-sensei dan Kiba-san.”
Sungguh disayangkan! Sepertinya mereka ragu untuk menghubunginya kecuali jika terjadi krisis serius.
“—Kalau begitu, meminta bantuan Oppai Dragon mungkin juga bisa berhasil.”
Xenovia-senpai dengan tenang menyarankan.
“Eh, Chichiryuutei-senpai? Dia punya pengalaman bermain gitar?”
“Bahkan aku, teman masa kecilnya, belum pernah melihatnya bermain gitar, lho?”
Sama sepertiku, Shidou-senpai memiringkan kepalanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Dengan dada membusung penuh kebanggaan, Xenovia-senpai menjelaskan alasannya.
“Zekka adalah Oppai Samurai! Seorang wanita yang tumbuh bersama oppai!”
Senpai pribadiku melanjutkan, “Kalau dia, orang yang sangat mencintai oppai.”
“Kalau begitu, mungkin dia bisa mengajarimu trik untuk meningkatkan kemampuan bermain gitar melalui oppai!”
…Kemampuan bermain gitar melalui oppai? Apa kau masih waras?
“Kalau kau ingin bertemu dengannya, mari kita atur jadwalnya.”
“A-aku sangat berterima kasih atas tawaranmu, tapi….”
Bertemu dengan Chichiryuutei-senpai masih agak….
Awalnya, aku tidak yakin apakah aku mampu berbicara dengan baik dengan seorang senpai laki-laki yang belum pernah kutemui.
Namun yang terpenting, kekacauan seperti apa yang bisa ditimbulkan Tensei… sekadar membayangkannya saja sudah cukup membuatku merinding.
Dan ketika aku berpikir untuk setidaknya menanyakan tentang perbuatan heroiknya….
“—[Pailingual]-nya luar biasa—”
Aku kebetulan mendengar tentang salah satu teknik spesialnya.
“Teknik yang memungkinkannya mendengar pikiran lawan, kata-kata dari oppai… ya?”
Bagaimana mungkin seseorang bisa menciptakan teknik sekonyol itu?
“Oppai yang memiliki kehendak sendiri dan bisa berbicara sungguh menakjubkan.”
“Itu artinya mereka mendengar dan memahami apa yang kita katakan.”
Para senpai lainnya juga menerimanya seolah-olah itu adalah fakta yang sudah sewajarnya. Apa aku satu-satunya yang aneh karena merasa bingung di sini?
“Oppai punya kehendak… mendengar apa yang kita katakan… ah!”
Sebuah kejutan menyengat otakku.
“Mendengarkan musik, melalui oppai…?!”
Aku melirik Tensei yang tertidur di dalam dadaku. Ini mungkin bisa terwujud berkat bantuannya.
“Hehe. Sepertinya kau dapat ide, 'kan?”
Aku mengangguk dengan antusias kepada senpai pribadiku, yang sedang menyeringai.
“Sungguh, terima kasih banyak atas bimbinganmu!”
Setelah berpisah dengan mereka, aku menuju ke ruang kelas dengan tas gitar di punggungku.
Matahari, yang terbit lebih tinggi daripada saat aku datang untuk latihan pagi, bersinar terang menyinariku.
“Aku akan mendapatkannya—teknik payudara baru milikku sendiri!”
—JD×D—
Beberapa hari telah berlalu sejak aku mulai bermain gitar.
Di bawah bimbingan Schwert-san, aku dengan sepenuh hati mencurahkan diri pada latihan individu.
Tentu saja, aku juga mendiskusikan dengannya metode peningkatan yang kubuat berkat para senpai dari divisi SMA—.
[—Mengatasi rasa sakit dengan oppai. Itu memang ciri khasmu, Miyamoto-san.]
Gyaruküre menyetujuinya. Meskipun dia merasa jijik begitu aku memberi tahunya….
“Dan hari ini kita akan melihat hasil latihan solo kita! Apakah kau sudah rajin berlatih lagu yang kita pilih, ya?!”
Suara Ketua yang bersemangat menggema di seluruh ruang klub.
…Hehehe, izinkan aku memperkenalkan diriku yang baru dan berevolusi kepada kalian.
“Omong-omong, bagaimana dengan Zekka-chan? Dia masih belum datang?”
Tanpa menyadari keberadaanku, yang bersembunyi dari mereka, dia malah mencari-cari diriku.
“Miyamoto terlambat lagi? Lunaire-san, kau satu kelas dengannya, 'kan?”
“Benar, Elta Satanachia. Tapi, aku tidak tahu di mana Zekka berada.”
“Baiklah, mari kita lanjutkan persiapan untuk saat ini.”
Aku bersembunyi di dalam kotak kardus di dekat rak sepatu.
Dan satu-satunya orang yang tahu tentang itu, Schwert-san, menghindari pertanyaan mereka.
…Kotak kardus yang diberikan Xenovia-senpai kepadaku memiliki spesifikasi yang luar biasa!
Rupanya, ada seorang ahli kotak kardus di antara anggota Penelitian Ilmu Gaib. Aku sama sekali tidak diperhatikan.
“—Nah, ini seharusnya sudah cukup untuk persiapannya.”
Schwert-san, terima kasih sudah melakukan bagianku juga!
Setelah semua orang menyelesaikan persiapan mereka… ya, sudah waktunya.
“Lalu seperti biasa—eh, uwah, pemadaman listrik?!”
Ketua berteriak kaget karena lampu tiba-tiba padam. Anggota lainnya juga membuat keributan tentang apa yang sedang terjadi.
—Untuk saat ini semuanya berjalan sesuai rencana, sekarang giliranku!
Aku merangkak keluar dari kotak kardus dan, bergerak diam-diam, berdiri di pintu masuk dengan gitar di tangan.
“Oohoh! Seorang gitaris misterius muncul di sana!”
Sring! Schwert-san menerangi diriku dengan sihir cahaya.
Memetik pelan dari senar keenam ke senar pertama, aku menarik napas dalam-dalam.
“Hampir saja bertemu (duel)~♡ 'kan kutebas oppai-mu dengan iai~♡”
Sambil menyanyikan lagu cinta (karya sendiri), aku berjalan menghampiri semua orang.
“Dikala kau menyadarinya, kau sudah jatuh cinta~dengan bilah pedangku~♡”
Sambil mengeluarkan suara menggelegar, aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi ke arah langit-langit.
“Gitaris pendamping, ZEKKA—siap melayani Anda!”
…Fuh, aku berhasil melakukannya dengan sempurna.
Lagi pula, sebelumnya hanya aku yang tidak bisa membuat penampilan yang keren.
Karena frustrasi, aku memutuskan untuk mencobanya lagi kali ini!
“““…………”””
Arara. Mereka pasti kesulitan mengenaliku.
Semua orang membuka mata lebar-lebar, mulut mereka menganga.
“Uhh, Ze-Zekka-chan?”
“Ini ZEKKA!”
“Oh, ya….”
Bagaimana? Keren, 'kan? Mantap banget, 'kan?
Dengan bingung, Ketua bertanya padaku dengan wajah yang tampak seperti dia sudah mengambil keputusan.
“Jadi, apa yang sedang kaulakukan?”
Nada suaranya terdengar seolah-olah dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“…Miyamoto, sungguh, kau mengamuk lagi….”
“…Zekka berlatih terlalu keras sampai-sampai dia jadi gila….”
Elta-kun memegang dahinya dan Lilibette menatapku dengan tatapan penuh rasa kasihan.
Suasananya terasa agak aneh.
“Um, aku juga ingin membuat perkenalan yang keren….”
Aku menjelaskan kepada mereka bahwa ini adalah aksi balas dendam atas kejadian terakhir kali.
“…Kalian juga melakukan hal yang sama, 'kan?”
“““Sama sekali tidak miriiiiip!”””
Mereka menjawab serempak, meminta agar tidak disamakan.
“Uuu, Schwert-san….”
“Tahaha. Itu sebabnya aku memperingatkanmu untuk melupakannya.”
Dia mengangkat bahu ke arahku, yang merasa patah semangat, lalu berbicara kepada Ketua dan yang lainnya.
“Semuanya, Miyamoto-san sudah melakukan yang terbaik dengan caranya sendiri, jadi tolong, berikan pujian padanya.”
Baik sekali! Gyaru memang yang terbaik, Tensei!
“Aku terkejut kau sampai mengarang lagu sendiri!”
“…Buchou!”
“Miyamoto punya bakat menulis lirik, menurutku begitu, ya.”
“…Elta-kun!”
“Liriknya cukup avant-garde sehingga orang bisa paham dan mengira itu ancaman pembunuhan.”
“…Lilibette!”
Aku terus-menerus merenungkan lirik-lirik lagu selama kelas berlangsung. Mendapatkan pujian terasa memuaskan, jadi itu membuatku bahagia!
“Yah, susunan katanya agak berlebihan, dengan [kepala] dan [tebas] itu.”
“Teehehe… tapi aku telah mencurahkan seluruh hatiku ke dalam lagu cinta ini.”
Meskipun aku belum pernah merasakan cinta, kupikir lebih baik memilih genre yang menarik.
“““Ini, lagu, cinta?”””
Semua orang meringis. Udara kembali membeku.
“…Miyamoto-san, aku tak bisa membelamu lagi.”
Entah mengapa, gyaru itu tampak pasrah. Tapi yang bagus dari musik rock adalah keterbukaan pikirannya.
Setelah itu, aku resmi ditunjuk sebagai penulis lagu untuk band ini.
…Aku tidak terpilih melalui proses eliminasi karena tidak ada orang lain yang mau melakukannya, oke?
Aku perlu membeli banyak buku tulis dan pensil!
“Baiklah kalau begitu, mari kita mulai pertunjukannya?”
Setelah perkenalanku selesai, akhirnya tiba saatnya untuk mendemonstrasikan hasil dari praktik kami.
Namun, kecuali aku, semua orang sudah memiliki pengalaman. Pada akhirnya, orang yang paling dikhawatirkan semua orang adalah aku.
“Aku, Lunaire-san, dan Buchou-san—kita akan tampil berurutan seperti ini dulu—”
Lalu mereka mulai tampil satu demi satu sesuai urutan yang dia sebutkan.
—Aku sangat gugup, sampai-sampai aku tidak bisa mendengar musiknya!
Sebelum kusadari, giliranku tiba dalam sekejap mata.
“Yang terakhir… adalah Miyamoto-san! Silakan!”
“Y-ya!”
Aku sudah melakukan tuning.
Setelah menghubungkan kabel berpelindung ke amplifier, sebuah tabung vakum menyala dengan bunyi klik.
“Fuh…dua oppai, empat oppai….”
Aku menghitung oppai untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sambil menenangkan napasku.
Dengan gitar merahku yang sudah siap, akhirnya aku mengeluarkan alat petik senar dari saku—.
“““Pikmu… adalah pedang?!”””
Mereka bertiga, kecuali Schwert-san, berteriak serentak.
Pik biasanya berbentuk segitiga.
Namun, pedang yang kusiapkan—adalah pedang pendek dengan panjang kurang dari dua puluh sentimeter.
“…Inilah rahasia pertama di balik peningkatanku.”
Tapi, aku juga punya kejutan lain.
“Ayo lakukan, Tensei!”
Saat aku memerintahkannya, oppai-ku mulai bersinar.
“““Menggunakan Sacred Gear-mu?!”””
Semua orang terkejut. Namun, kali ini tidak ada pedang yang keluar, jadi seragamku tidak robek berkeping-keping.
“Akan kutunjukkan. Teknik payudara baruku—”
Kaki terbuka selebar bahu, tangan kiri menekan senar, pedang di tangan kanan digerakkan perlahan.
“—Namanya adalah [Boobs&Sense of Pitch]!”
Dalam sekejap, aku mengganti pedal multi-efek.
Saat melepaskan senar keenam, dentuman bas rendah sebesar 80 Hz bergema di dalam ruangan.
“Bergetarlah! Oppai-ku!”
[Perfect Pitch!!]
Boing-boing! Payudaraku mulai memantul, suara merambat melalui payudaraku!
Getaran suara menyebar dari oppai-ku—
Ritme suara yang keluar dari oppai-ku—
Saat oppai-ku bergetar, aku masih bisa mendengar suara.
“Lagu keempat, ZEKKA—akan memainkannya!”
Kilauan bilah, petikan senar, sinyal listrik mengalir ke amplifier.
Suara itu, yang diperkuat hingga hampir 100 dB, meledak seketika.
Ruangan yang biasa kami gunakan berubah menjadi panggung kecil.
Setelah pertunjukan berakhir, ruangan kembali hening.
“…Sempurna.”
Orang yang memecahkannya adalah Schweer-san, sambil mengeluarkan gumaman puas.
Semua orang juga menatap kemajuanku dengan mata terbelalak…
“B-bagaimana?! Apakah aku bisa menjadi gitaris yang bisa tampil di depan umum meskipun hanya sedikit—”
Karena sangat senang bisa tampil dengan baik, tanpa sadar aku mencondongkan tubuh ke depan dan kemudian terjadilah ini.
“Eh.”
Seragamku robek. Kenapa, tidak ada pedang yang mencuat dari dadaku?!
M-mungkinkah ini harga yang harus kubayar karena oppai-ku terlalu banyak memantul?!
“Wa-wa-wa-wa-wa-wah! Jangan lihaaaaaaaaaaaaaaat!”
Meskipun aku berhasil menampilkan performa yang keren, pada akhirnya oppai-ku terlihat sepenuhnya.
Uuu, kenapa selalu berakhir seperti ini….
Namun, Ketua dan yang lainnya tidak mengindahkan hal itu dan berteriak, dengan agak bersemangat.
“Penampilanmu luar biasa, Zekka-chan! Oppai-mu terlihat jelas!”
“Kau hebat sekali mencapai level seperti itu, Miyamoto! Meskipun oppai-mu terlihat jelas!”
“Kau memang profesional, Zekka! Meskipun oppai-mu terlihat jelas!”
Aku ingin menikmati pujian ini, tapi…biarkan aku mengambil jersei dulu!
“Aku sudah berusaha sebaik mungkin, mencoba mengejar ketinggalan dari semua orang….”
Aku tersenyum malu-malu, sambil menyembunyikan oppai-ku di dalam jersei.
“Zekka. Bagaimana kau bisa berkembang pesat dalam waktu sesingkat ini?”
Lilibette dan yang lainnya ingin tahu rahasiaku.
“…Pertama, aku memutuskan untuk menggunakan pedang pendek sebagai alat petik.”
Selama latihanku hingga saat ini, aku telah belajar menggunakan berbagai jenis pedang.
Jadi aku berpikir untuk memanfaatkan kemampuan itu dengan baik….
“Setelah menonton Schwert-san bermain dan video edukasi, aku mengagumi teknik memetiknya.”
Aku langsung tahu bahwa meniru hal itu adalah sesuatu yang mustahil.
“Namun, aku lalu membayangkan bagaimana jika alat petik Schwert-san itu adalah pedang…”
Karena dia memang memegang pedang, penampilan musiknya juga bisa disamakan dengan ilmu pedang.
Dan dalam hal ilmu pedang, aku bisa menirunya hampir sempurna.
“Dengan kata lain, kau meyakinkan dirimu sendiri bahwa memetik itu seperti ilmu pedang, Zekka-chan….”
“Aku menirunya dengan saksama, lalu mempelajarinya.”
“W-wow….”
“Alasan aku menggunakan pedang sebagai alat petik adalah karena, pada akhirnya, ini tetaplah sebuah pertunjukan musik.”
Kecuali Schwert-san, yang sudah tahu sebelumnya, semua orang lainnya terdiam.
“Sungguh luar biasa. Video apa pun yang kutunjukkan padanya, dia langsung berhasil mempelajarinya.”
“Yah, ini 'kan ilmu pedang….”
“Hanya di dalam pikiranmu saja, Miyamoto-san, kau tahu?”
…Sebenarnya, tidak ada orang yang bermain dengan pedang.
“Ini sungguh mencengangkan, tapi aku takut bertanya lebih lanjut.”
Elta-kun mengemukakan metode peningkatan kemampuanku yang lain.
“Kau menggunakan oppai, maksudku, Sacred Gear-mu, 'kan?”
“Ya! Namanya [Boobs&Sense of Pitch]!”
“Boobs… sebenarnya ini apa?”
Dia bertanya padaku sekali lagi, senyumnya sedikit berkedut.
“Bukan hanya Tensei, semua oppai bisa bicara.”
““““Oppai, bisa bicara?””””
“Dan jika mereka bisa memahami ucapan, maka hal yang sama seharusnya berlaku untuk musik.”
““““Oppai, bisa memahami?””””
“Lagi pula, musik adalah getaran udara! Dan oppai juga bisa bergetar, jadi ada sinergi di antara mereka!”
““““……………””””
Eeh, tatapan menyakitkan apa itu tadi?
“Dengan kata lain, kau menghafal musik bukan dengan kepala, tapi dengan oppai-mu, 'kan!”
“Benar. Aku ingat akor muncul dalam musik melalui frekuensi oppai.”
Dengan memantulkan oppai-ku, aku bisa langsung ingat akor mana yang harus dimainkan!
Kebetulan, menyetelnya bahkan bisa dilakukan dengan oppai!
“Zekka-chan, melakukan sesuatu yang begitu drastis, kau baik-baik saja…?”
“Aku baik-baik saja. Meskipun—”
Aku menundukkan pandangan, memanggil Tensei.
[Petikanmu dengan tangan kanan menjadi jauh lebih konsisten. Jari-jari tangan kirimu juga bergerak lebih lancar di sepanjang papan fret dibandingkan sebelumnya. Teknik palm muting-mu menjadi jauh lebih baik, memotong nada rendah dengan tepat. Namun, birama keempat dari permainan pentatonikmu bisa—]
Umpan balik yang membingungkan dan penuh dengan kata-kata asing terus berdatangan tanpa henti.
“Kecerdasan musik T-Ten-chan meroket?!”
“Lebih tepatnya, dia berubah menjadi otaku musik yang merepotkan, ya.”
Ini adalah efek samping dari upaya keras untuk menguasai Boobs&Sense of Pitch.
“Setelah aku memakaikan headphone di dada dan membuatnya mendengarkan alunan musik, dia jadi terobsesi dengan musik rock. Setiap ada kesempatan, dia jadi seperti ini dan melontarkan sesuatu yang tidak bisa dipahami… ah, tidak, maksudku, memberikan pendapatnya yang berharga.”
Tanpa dia, aku tidak akan bisa maju. Aku tidak boleh mengeluh!
“…Dengan kemampuan bermainku saat ini, apakah kita bisa berlatih bersama?”
Aku mengintip ke arah Schert-san, yang tersenyum lebar.
“Ayo kita lakukan! Band [O.P.P.A.I] Pedang Ilmu Gaib—resmi beroperasi!”
—JD×D—
Saat kami berlatih bersama setiap hari, waktu berlalu begitu cepat….
Sehari sebelum kami berangkat ke Norse, Schwert-san memberikan sebuah saran.
“Ayo kita kunjungi kuil bersama semua anggota kita!”
Berdoa agar perjalanan aman dan memenangkan festival, begitulah.
Tentu saja, itu mendapat persetujuan bulat. Satu-satunya yang tersisa adalah memutuskan ke mana akan pergi—.
“Dan di situlah Rose-paisen berperan. Sekarang, silakan.”
“Astaga, panggil saja aku Sensei di sekolah. Lalu, mari kita lanjutkan sesuai rencana.”
Rossweisse-sensei datang ke ruang klub kami. Dan tempat yang kami tuju dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasinya adalah—.
“Atap sebuah rumah besar…?”
Lahan yang luas itu dibangun menyerupai taman gantung.
Sebenarnya tempat apa ini? Orang pertama yang menyadarinya adalah Elta-kun—.
“Tempat ini, ini tidak mungkin… rumah Sekiryuutei?”
Eh?! Rumah dari Oppai Dragon-san itu?!
Itu mengingatkanku, ini adalah tempat di mana aku menggendong Sensei ketika dia mabuk berat….
Rossweisse-sensei langsung mengangguk setuju mendengar ucapan Elta-kun.
“Aku sudah mendapat izin sebelumnya agar kalian, para siswi SMP, bisa berkunjung.”
Tak satu pun penghuni berada di rumah. Jadi itu berarti kami tidak bisa menyapa mereka secara pribadi.
—Jika ada kesempatan lain untuk bertemu, aku ingin menyampaikan ucapan terima kasihku dengan sepatutnya.
Lalu, kami pun menuju ke bagian dalam, dengan Sensei memimpin.
“Kuil shinto yang terletak di atap ini bisa dikunjungi oleh orang-orang dari semua ras.”
Ketua dan Elta-kun adalah Iblis.
Sepertinya Sensei menganggap bahwa mereka tidak akan bisa memasuki kuil biasa.
“Ini adalah kuil yang telah disebutkan tadi. Dewa Naga tertentu disembah di sini.”
Sebuah kuil yang agak kecil berdiri di hadapan kami.
Namun, gerbang torii-nya sangat indah dan patung-patung naga yang berdiri di kedua sisinya juga cantik.
Namun, hal yang paling mengesankan adalah kuil utama kayu yang megah itu.
“…Luar biasa.”
Meskipun tampak seolah baru dibangun, tapi orang masih bisa merasakan semangat penciptanya.
Tempat ini benar-benar memiliki aura ilahi—.
“—Selamat datang!”
PYOKON. Sesosok anak kecil muncul dari balik patung naga.
“Senang bertemu dengan kalian. Namaku Kunou!”
Dia mengenakan pakaian miko dan memiliki telinga serta ekor rubah yang bergoyang pelan.
Seorang gadis cantik yang sangat menggemaskan… bukan, gadis kecil yang cantik!
Namun, dilihat dari penampilan dan auranya, dia bukanlah manu—
““““Imuuuutnyaaaaaaaaaa!””””
Hanya aku yang khawatir tentang identitas aslinya.
Semua orang kecuali aku akhirnya buru-buru menghampiri Kunou-san.
“Aku putri Yasaka, pemimpin youkai Kyoto—”
““““Imuuuuuuut!””””
“Aku baru sampai di Kota Kuoh dan mendengar ada tempat—”
““““Imuuuuuuut!””””
Semuanya, tolong, tenang sedikit….
“Kalian semua! Bersikaplah sopan!”
Sensei memukul mereka berempat dengan kipas kertas yang diambilnya dari suatu tempat.
“U-umu. Aku senang melihat kalian begitu bersemangat.”
Setelah itu aku mendengar bahwa Kunou-san ternyata adalah seorang putri dari Kyoto…. Aku sangat menyesal atas kelancangan ini!
“Aku, menyambut kalian, dengan penuh pemujaan.”
Eh? Siapa yang mengatakan itu barusan?
Saat aku menoleh ke arah suara itu berasal—seorang gadis kecil cantik yang baru berdiri di sana?!
“Phis-dono!”
TAP-TAP-TAP-TAP-TAP. Kunou-san dengan gembira berlari menghampirinya.
Lalu dia memperkenalkan gadis yang berada di sampingnya kepada kami.
“Inilah Phis-dono! Dewa Naga-sama yang dipuja di kuil ini!”
“Aku, telah turun.”
Tanpa ekspresi dan menunjukkan tanda peace ganda. Dia tampak sedikit bangga?
“Yang disembah adalah seorang loli, dan miko juga seorang loli, ini benar-benar kuil gadis kecil….”
Elta-kun, yang terobsesi dengan hal-hal imut, menahan mimisannya.
Anggota lainnya juga sangat antusias—
“……Aku tidak bisa, melihat dasarnya?”
Apakah tidak ada yang merasakannya, ya?
Kekuatan tersembunyi dari Dewa Naga-sama ini, meskipun disembunyikan dengan sangat terampil.
Instingku berteriak kepadaku—dia berada di dimensi yang berbeda.
“Lama tak jumpa, Pria dari Eden.”
Eksistensi dunia lain itu tiba-tiba mendekatiku dan mulai berbicara.
[Benar-benar sudah lama sekali, Dewa Naga. Sudah lebih dari seribu tahun sejak terakhir kali kita bertemu secara langsung?]
Dadaku bersinar, diikuti oleh respons Tensei. Apakah mereka saling kenal?
“Dulu dan sekarang, penampilan berbeda, di dalam dada, kenapa?”
[Karena aku mencintai oppai!]
Mendengar jawaban jujurnya, gadis itu memiringkan kepalanya dengan bingung. Benar-benar tidak masuk akal, 'kan?
“…Payudara, Ddraig, sama.”
[Chichiryuutei yang dirumorkan itu, ya. Tapi, aku dan Zekka bertujuan untuk menjadi master hebat pedang payudara ganda—]
Dia mengisyaratkan bahwa meskipun mereka sama-sama mencintai oppai, tujuan akhir mereka berbeda.
Ada banyak hal yang ingin kubalas, tetapi aku tidak mampu memaksakan diri untuk terlibat dalam percakapan aneh mereka.
[Omong-omong, Dewa Naga. Apakah kau tahu sesuatu tentang [Shuusei], belahan jiwaku yang lain?]
“Wanita dari Eden, belum pernah terlihat.”
Gadis itu berkata bahwa dia juga ingin bertanya sesuatu.
“Master hebat pedang payudara ganda, dunia, ciptakan lagi?”
[…Entah. Apa yang harus dilakukan dengan prinsip [Supremasi] tergantung pada Zekka.]
Mungkin itu menyakitinya di titik terlemahnya, jadi Tensei memberikan jawaban singkat.
Lalu gadis itu datang sambil berlari kecil.
“Zekka.”
“Eh, aku? Apa ya…?”
“Aku, Phis.”
“Ah, ya, benar…?”
Dia menatapku dalam diam.
Apa ini?! Apa yang harus kulakukan?! Haruskah aku membuat lelucon?!
[Dia memperkenalkan dirinya dengan caranya sendiri. Menerima salam dari Dewa Naga adalah suatu kehormatan, lho.]
Saat aku bingung, Tensei memberiku penjelasan.
“S-senang bertemu denganmu, Phis…san.”
“Ya, senang bertemu denganmu, Zekka.”
Aku memanggilnya “san” secara spontan, tapi mungkin seharusnya aku menggunakan “sama”…. Aku terlalu gugup.
“Maksudku, bicara hanya berdua saja….”
Aku tidak melibatkan siapa pun dalam percakapan ini.
Meskipun terjadi begitu alami, mungkin itu terlalu egois—.
“—Kunou-chan, daftarlah di Akademi Kuoh di masa depan!”
“—Umu! Suatu hari nanti aku akan menjadi wanita terhormat!”
“—Hehe, sungguh menyenangkan memiliki mimpi.”
“—Dia memang sangat kompeten meskipun masih anak-anak.”
“—Eh, mimisan lagi! Aku overdosis keimutan!”
Mereka mengepung Kunou-san dan bersenang-senang.
…Mereka benar-benar jadi sangat dekat dalam waktu yang sangat singkat.
Meskipun yang terakhir, mantan butler itu, jelas menunjukkan perilaku yang aneh.
“Semuanya, mari kita mempersembahkan persembahan dan berdoa bersama?”
Mengangguk setuju dengan kata-kata Sensei, semua orang memasukkan uang ke dalam kotak persembahan satu per satu.
Ketua, Schwert-san, Lilibette, Elta-kun, dan kemudian—tibalah giliranku.
“…K-kalau aku tidak salah, aku punya koin lima yen…”
Aku yang kikuk ini. Perjuangan di depan kotak persembahan.
Sosok yang disembah di sini berdiri tepat di hadapanku. Saat itu aku seharusnya memasukkan koin ke dalamnya, yang dianggap sebagai pertanda baik….
“Zekka.”
Saat aku sedang merogoh-rogoh dompetku, Phis-san muncul tepat di sebelahku, tanpa kusadari.
Mungkin dia khawatir aku tidak punya uang?
Namun, kemunculannya yang tak terduga membuatku terkejut dan—
“Ah?!”
Aku membalik dompetku.
Kemudian, hanya uang tunai, mulai dari koin hingga uang kertas, jatuh dengan rapi ke dalam kotak persembahan.
“U, u-u-uang sakuku…!”
Semuanya tertelan habis. Aku mendongak, memikirkan apa yang harus kulakukan.
“Sungguh kebaktian yang luar biasa! Phis-dono amat sangat bahagia!”
“Aku, sangat senang.”
Kunou-san kegirangan dengan polos seperti seorang anak kecil.
Phis-san, meskipun tanpa emosi, menggoyangkan bahunya dengan riang.
…Tidak mungkin aku bisa meminta uang itu kembali lagi!
“Semuanya! Berdoalah di kuil menggunakan jatah persembahanku juga!”
“Zekka-chan berusaha mendapatkan nilai yang setara dengan uang persembahannya?!”
Dan seperti itu, dua kali membungkuk, dua kali tepukan tangan, dan membungkuk untuk ketiga kalinya.
Semoga perjalanan kami aman dan semoga kami sukses di festival musik!
“Baiklah, kalau begitu, mari kita kembali?”
Atas aba-aba Sensei, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Kunou-san dan—.
“Zekka.”
Saat itu, Phis-san memanggilku… dan memelukku erat-erat?! Pelukan dari seorang gadis kecil yang cantik?!
“Pertempuran semakin dekat, perlindungan ilahi, diberikan.”
“Pertempuran… ah, umm, terima kasih atas perlindungan dewatanya!”
Apakah ini ungkapan rasa terima kasih atas persembahan yang murah hati?
Itu sebagian besar terjadi secara tidak sengaja… entah kenapa, itu membuatku merasa bersalah.
Jika diperbolehkan, maka izinkan aku untuk berkunjung lagi di masa mendatang.
“Perlindungan dewata dari Dewa Naga-sama! Apakah naga perkasa akan datang membantu di saat kritis atau semacamnya?!”
Melihat pemandangan itu, Ketua dan yang lainnya tertawa bercanda.
“Pelukan yang sangat imut… a-aku sangat iri….”
Elta-kun, yang entah kenapa tampak frustrasi, tiba-tiba berbalik dan berkata, “Kalau begitu, aku juga.”
“Kunou-san, berapa yang harus kuberikan sebagai persembahan untuk menerima pelukan (perlindungan ilahi)-mu?”
“Hm? Maksudmu perlindungan ilahi dari roh rubah?”
“Ya-ya. Kalau uang tidak cukup, maka onee-san akan membelikanmu inarizushi terbaik—”
Pada saat itu, kipas kertas Sensei meletup sekali lagi.
PIIII-PIIII! Itu kartu kuning keduamu!
Elta-kun, tolong, tinggalkan peradaban sekarang juga!
[1] Istilah yang digunakan untuk menyebut siswi sekolah yang berperilaku seperti gadis nakal atau tergabung dalam geng perempuan.
[2] J&C mengacu pada “Joshi chuugakusei” atau “siswi SMP/SMP”.
[3] Permainan kata antara “oppai” dan “teippai” (memiliki banyak barang di tangan).

Post a Comment