SLASHDOG Jilid 1 Bab 1

1

Bab 1. Kembali/Serangan

1

Bulan Juli. Saat panas mulai terasa semakin menyengat—.

Ikuse Tobio dan seorang temannya sedang berada di kereta dalam perjalanan pulang dari sekolah—mereka membuka-buka majalah di dekat pintu.

“Kalau dipikir-pikir, suspensi yang ini mungkin lebih bagus.”

“Kalau begitu, bukannya bakal lebih cepat kalau kita cari barang-barangnya di tempat barang rongsokan dekat bantaran sungai?”

Mendengar pendapat Tobio, temannya mendesah dengan mata setengah terpejam.

“Bodoh. Barang-barang seperti itu, orang yang enggak paham hal-hal seperti memilih suku cadang motor sendiri seharusnya enggak mengendarainya. Kalau jelek, bukannya ada kemungkinan tak terduga seperti menerima hukuman berat dalam kecelakaan lalu lintas? Sudah kuduga, tidak diragukan lagi, dengan menabung uang beli dan memasang suku cadang baru, itu membuat semuanya lebih romantis, bukan?!”

Temannya berbicara dengan penuh semangat, matanya berkilau antusias.

Dewasa ini, dia tampak tergila-gila dengan sepeda motor, dan demi menyelesaikan motornya, dia dengan senang hati bekerja paruh waktu meski dilarang sekolah.

Kebetulan, mendapatkan SIM motor umum di sekolahnya dan sekolah Tobio juga merupakan pelanggaran aturan sekolah. Jika ketahuan, diskors langsung sudah tak bisa dihindari.

Bagaimanapun, mereka sudah kelas dua SMA. Konon, laki-laki seusia itu sewajarnya memiliki minat pada motor dan mobil.

“Tobio juga harus bikin SIM. Kita berdua bisa pergi tur! Pasti seru banget!”

Belakangan ini, dia sering mengundang Tobio untuk melakukannya.

Tobio sama sekali bukan tanpa minat. Namun….

“Ooh, itu tidak terdengar buruk… tapi aku sedang tidak terlalu berminat,” balas Tobio sambil tersenyum masam.

“Begitu ya, memang enggak gampang untuk melupakan….” Temannya tiba-tiba menunduk, menatap lantai gerbong kereta.

‘Masih belum terpecahkan! Insiden tenggelamnya Heavenly of Aloha. Kasus yang membayangi Amerika Serikat.’

Saat Tobio membacanya, bayangan kecil tampak di wajahnya.

Dua bulan lalu, Tobio berada di tengah-tengah insiden itu.

Tenggelamnya kapal pesiar mewah yang ditumpangi 233 teman sekolahnya. Sebagai penyintas insiden tersebut, Tobio dikejar media setiap hari.

Itu wajar saja. Jika kapal yang membawa siswa SMA Jepang terbakar dalam kecelakaan laut, tentu menjadi berita besar. Itu adalah berita utama di stasiun TV mana pun setiap hari, dengan media tidak menunjukkan perhatian saat mewawancarai para penyintas insiden itu, serta pihak terkait.

Pemakaman bersama untuk teman-teman sekolah yang telah meninggal dilakukan di tengah kegemparan seperti itu. Tobio, yang hadir sebagai salah seorang korban selamat, cukup menjadi sorotan selama pemakaman.

Beberapa siswa selain Tobio yang juga selamat tidak dalam keadaan bisa bersekolah untuk sementara waktu.

Mereka menjadi sasaran tatapan ingin tahu dan juga menuduh tetapi, terlebih lagi, ada masalah yang jauh lebih serius.

Tiba-tiba saja, teman-teman sekelas yang sampai belum lama ini begitu hidup dan ceria telah tiada. Banyak guru juga turut menjadi korban dalam kecelakaan itu, tidak banyak orang di sekolah yang bisa memberikan penghiburan. Kejadian itu, mengingat betapa tereksposnya ke publik, dibutuhkan waktu untuk mengatur dan menerima pemikiran seperti itu di benak seseorang. Para siswa yang ditinggalkan, terus diburu pers, tak punya pilihan selain tinggal di rumah sampai kegaduhan atas insiden itu mereda.

“Dari kejadian itu, bukankah aneh kalau tak ada satu pun yang ditemukan selamat?”

Untuk pertanyaan temannya, Tobio menurunkan pandangannya.

“Aah, cuma mereka yang tidak berpartisipasi dalam karyawisata yang selamat. …Di antara kami, jumlahnya kurang dari sepuluh, termasuk aku sendiri.”

Mereka yang selamat dari tahun ajaran yang sama dengan Tobio, semuanya terbatas pada siswa yang belum bisa mengikuti karyawisata juga. Di antara siswa yang hadir serta para guru, tak ada yang selamat.

Ketika kapal terbelah menjadi dua, separuhnya telah tenggelam ke dasar laut, sementara separuh lainnya terus dicari. Dari sini, mayat beberapa guru ditemukan, itulah satu-satunya mayat yang ditemukan dari mereka yang ada di kapal. Dari pencarian itu, mayat para siswa tak pernah ditemukan dalam keadaan utuh. Upaya untuk mengangkat bangkai kapal yang tenggelam ke dasar laut pun terus dilakukan, tetapi kapal itu ternyata tersangkut di celah sempit yang tak terduga, sehingga proses pengangkatannya menjadi sangat sulit. Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan semuanya bisa dipulihkan.

Orang-orang di TV mengemukakan berbagai teori tentang kecelakaan tenggelamnya kapal tersebut, sementara gosip yang mencurigakan beredar tentang kisah sebenarnya di balik kejadian itu. Setiap hari ada komentator yang meragukan mengatakan, ‘Penyebabnya adalah senjata rahasia negara tetangga!’ atau ‘Fenomena supernatural!’, ‘Ini ulah UFO!’ dan sejenisnya, tetapi semua pembicaraan itu tampaknya hanya omong kosong.

—Itu karena penyebab kecelakaan tenggelamnya kapal itu masih belum diketahui.

Teori yang meragukan hanyalah sarana untuk mengikuti arus tanpa menghadapi kenyataan.

Namun, masyarakat Jepang mudah bosan dengan topik tersebut. Tanpa ada kemajuan dalam kasus ini, dalam sebulan telah berlalu liputan korupsi politik menjadi isu utama, sedangkan berita tentang kecelakaan tenggelamnya kapal itu secara bertahap dianggap kurang layak diberitakan.

Mungkin sikap dari keluarga mendiang para siswa yang tidak mempermasalahkan hal ini adalah penyebabnya. Meskipun awalnya terdengar suara-suara lantang yang menyerukan, “Ambil risiko!” dan sejenisnya, seolah-olah mereka telah menyerah, lambat laun hal itu menjadi masalah yang tidak ingin mereka hadapi lagi.

Setelah satu bulan berlalu, mereka yang selamat bersama Tobio masing-masing telah menentukan sekolah baru mana yang akan mereka masuki dari beberapa sekolah yang telah menerima mereka. Di antara mereka, tidak ada satu pun yang memilih untuk tetap bersekolah di SMA Ryoukuu setelah semua yang telah mereka lalui. Seluruh teman sekolahnya tidak ada lagi yang bertahan di sana.

Oleh karena itu, para siswa yang selamat semuanya berpencar, melarikan diri dari para wartawan media serta tetangga lama mereka saat masih bersekolah di tempat pertama dulu, yang juga memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.

“Waktu itu benar-benar gila. Karena kamera media massa, setiap hari di depan gerbang utama selalu penuh sesak.”

Saat temannya mengenang kejadian itu, Tobio menunjukkan ekspresi pahit.

Seperti yang dikatakan temannya, ia selalu dimintai komentar setiap hari di sekolah, tetapi tak ada satu pun dari komentar tersebut yang digunakan.

Awalnya orang-orang memperlakukannya seolah-olah ia terluka, tetapi mereka juga memberinya tatapan yang merepotkan. Ia hampir tidak pernah berbicara dengan siswa yang ditemuinya, hingga akhirnya ia bisa mendapatkan ketenangan.

Awal musim panas—memasuki bulan Juli, waktu kejadian tersebut tak lagi dibicarakan, kecemasannya berubah menjadi ketenangan, dan ia bisa menenangkan diri dengan caranya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan secara mendalam rasa kehilangan akan teman-teman sekelasnya.

“Yah, memikirkan hal-hal ini pasti menyakitkan, jadi bukankah sebaiknya kau mencurahkan dirimu untuk beradaptasi dengan kehidupan baru ini? Memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu pastinya berbahaya bagi pikiran dan tubuhmu.”

Sambil menepuk punggungnya, temannya memberikan kata-kata penyemangat. Tobio berterima kasih dan dengan patuh menuruti kata-kata tersebut.

Sementara itu, kereta telah tiba di stasiun tempat temannya turun.

“Ah, kalau begitu aku turun di sini. Satu hal lagi. Jangan khawatir dan tetaplah semangat.”

Dia turun dari kereta dan menunjukkan pose mengepalkan tangan tanda menyemangati kepada Tobio sambil tersenyum. Tobio memberikan jawaban singkat, “Ah, sampai jumpa,” dan menjabat tangannya.

“……”

Tobio tinggal sendirian di dalam gerbong kereta dan mengembuskan napas.

Maaf—.

Dalam hatinya, Tobio meminta maaf kepada temannya.

Di antara teman-teman barunya, sebuah celah yang dalam masih ada. Celah yang sampai saat ini masih terasa belum terpenuhi.

 

Sambil terguncang-guncang di dalam kereta, Tobio menatap ke arah langit.

Ketika ia sendirian, ia memiliki lebih banyak waktu untuk menatap sesuatu dengan tatapan kosong seperti ini.

Tiba-tiba mengeluarkan ponselnya, Tobio menurunkan pandangannya ke layar pesan masuk. Sebagian besar kotak masuknya digunakan untuk pengarsipan, demi menjaga agar masa lalu tidak menghilang.

Alamat-alamat itu adalah milik teman-temannya yang tewas dalam kecelakaan tersebut. Pesan-pesan itu dikirim dari mereka hingga hari terjadinya kecelakaan. Saat naik kereta sendirian, memeriksa pesan masuk telah menjadi rutinitas sehari-hari. Setiap kali ia melihat pesan-pesan itu, wajah teman sekelasnya terbayang di benaknya, menimbulkan rasa kesepian sekaligus memberikan perasaan nostalgia. Tidak mungkin untuk mengirim balasan ke pesan-pesan ini, semuanya hanya menumpuk. Namun, meskipun mereka tak bisa saling berkirim pesan, ini adalah satu-satunya titik kontak Tobio dengan mereka.

Dan ia pun terus memeriksanya, hingga jarinya berhenti di salah satu pesan. Pengirimnya adalah Sae—Toujou Sae. Gadis yang merupakan teman masa kecil Tobio.

‘Baru naik pesawat sekarang. Menantikan perjalanan udara yang nyaman. Sampai jumpa nanti. Dan pastikan kau istirahat dengan benar!’

Pesan yang pastinya dikirim dari bandara. Ini dia, kontak terakhir darinya.

Kehidupan barunya telah dimulai, kehidupan yang sudah mulai ia biasakan, di mana Tobio, ketika ia sendirian, sering kali menangis di kamarnya. Karena ia tiba-tiba akan diserang oleh rasa kehilangan yang teramat besar.

Biarpun ia mengirimkan pesan kepada mereka, biarpun ia menelepon mereka, Sae dan teman-temannya tidak akan kembali. Hari-hari biasa yang penuh tawa itu tak akan pernah kembali.

Tertawa bersama saat jam istirahat, menertawakan teman sekelas mereka yang ditegur oleh guru setelah tertidur selama pelajaran. Jam istirahat makan siang, ramainya obrolan konyol di atap sekolah, menghabiskan waktu bersama teman-teman yang berisik di karaoke dan game center setelah pulang sekolah, kenangan demi kenangan dari hari ke hari.

Sae yang pergi ke sekolah yang sama dengannya hingga SMA—. Karena mereka tinggal berdekatan, itu adalah hal yang biasa terjadi. Gadis itu selalu menunjukkan senyumannya yang tak terlupakan kepadanya.

—Hari-hari biasa itu tak akan kembali.

Pada hari keberangkatannya untuk karyawisata, Sae tampak memiliki raut wajah yang sangat kesepian saat dia pergi—.

Ia takkan pernah bisa lagi mendengar alasan di balik raut wajah seperti itu.

Sesuatu yang penting telah hilang untuk selamanya. Sesuatu yang tak bisa dipulihkan kembali oleh Tobio.

 

Tobio, alih-alih turun di stasiun yang biasa ia lalui, memilih turun dua stasiun lebih awal.

Ia bisa mampir ke toko buku, menghabiskan waktu di game center. Ia belum bisa pulang. Karena kedua orangtuanya berada di luar negeri, biarpun ia kembali ke rumahnya sendiri, takkan ada siapa-siapa di sana. Bagi Tobio yang tak memiliki saudara kandung, kembali ke rumah pun akan menjadi tempat yang sepi.

Ia hanya bisa hidup berkat uang yang dikirimkan oleh orangtuanya. Ia juga melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Ia juga belajar memasak, setidaknya sampai pada tahap di mana ia bisa menyiapkan bekal bento-nya sendiri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari gaya hidupnya.

Dengan tidak langsung pulang ke rumahnya, ia tidak akan kesepian sendirian. Jika ia sendirian, ia akan didera oleh penderitaan batin.

Sendirian, kembali ke apartemen yang besar itu, ia hanya akan memikirkan teman-teman sekelasnya lebih banyak daripada saat siang hari. Begitu pikiran seperti itu dimulai di kepalanya, pikiran itu akan terus memenuhi benaknya sampai ia meninggalkan rumah keesokan harinya.

Rasa kehilangan itu akan mengikis pikirannya dengan kejam. Daripada terjebak dalam hal itu, ia bahkan sempat berpikir untuk melarikan diri ke tempat kerabatnya di luar negeri, tetapi ia sudah memiliki teman-teman baru, dan akan sangat menyakitkan jika harus berpisah dengan mereka juga.

Seandainya pun ia pergi ke luar negeri, ia tidak akan bisa bersatu kembali dengan mereka. Lagi pula, biarpun ia pergi, kecil kemungkinan ia akan melupakan teman-teman sekelasnya begitu saja.

Dengan berbagai pemikiran tersebut, pada akhirnya Tobio memutuskan untuk pulang terlambat. Sebisa mungkin, ia akan melihat-lihat toko buku, menikmati permainan di game center. Hanya dengan melakukan itu, rasa sakitnya bisa sedikit diringankan.

Jam 6 sore telah berlalu, dan jam 7 malam pun tiba. Matahari terbenam cukup lama di musim panas, sehingga hari masih terang meskipun sudah pukul 7 malam.

Tobio, setelah kalah dalam game tarung yang sedang dimainkannya tepat saat mencapai pertempuran bos terakhir, sambil mengembuskan napas panjang akhirnya memutuskan untuk pulang. Pada saat ini, kota mulai jarang penduduknya, hanya menyisakan orang-orang seperti pekerja kantoran yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Tobio berjalan dengan tatapan mata yang kosong.

Saat itulah ia sampai di penyeberangan jalan. Tiba-tiba melihat ke arah trotoar di seberang jalan, mata kosong Tobio menangkap sesuatu. Seketika itu juga, matanya terbuka selebar yang ia bisa.

Sae!?

Apa yang sedang ia lihat saat ini adalah sosok yang seharusnya mustahil ada—. Melihat hal seperti itu, jantung Tobio mulai berdetak dengan kencang.

Mereka memiliki hubungan di mana masing-masing telah menyaksikan pertumbuhan satu sama lain sejak usia dini. Tidak mungkin ia salah lihat!

Sebelum ia sempat mencoba menjangkaunya, lampu lalu lintas pejalan kaki berubah menjadi merah. Seperti yang diduga, orang-orang yang pulang kerja itu menjadi seperti dinding, membuat jalan tak bisa dilewati.

Cepat berubah jadi hijau! Sae ada… Sae ada tepat di sana!

Saat Tobio memperhatikan, beberapa pria dan wanita berkumpul di sekitar Sae. Melihat hal itu, Tobio semakin terkejut.

Di antara wajah-wajah tersebut, salah satunya adalah teman baik dari kelasnya; itu adalah sosok Sasaki Kouta.

Sasaki sedang berbicara panjang lebar dengan Sae. Dan kemudian, kelompok yang beranggotakan Sasaki dan Sae itu berjalan pergi ke suatu tempat.

Aku harus menerobos! Tapi, lampunya masih belum berubah.

Ia menyadari kelompok Sae akan menyeberang mengikuti lampu yang bergantian. Ketika lampu berubah, kelompok yang sedang berjalan itu nyaris hilang dari pandangan. Menerobos kerumunan orang, Tobio mulai berlari.

Dia masih hidup—.

Ia belum tahu pasti apakah orang itu memang benar-benar Sae. Itu mungkin saja ilusi yang terbentuk dari keinginannya sendiri.

Namun, jasadnya belum ditemukan dari laut. Mayat-mayat mereka tak pernah ditemukan.

Mereka belum tentu mati. Ada 200 orang atau lebih, jadi tidak aneh kalau beberapa orang hanyut dan terdampar di suatu tempat di pulau!

Hilangnya ketenangan dirinya, dan pikirannya yang berputar-putar akibat ilusi tersebut membuatnya berpikir demikian.

Tobio mengejar kelompok itu dengan panik seperti orang gila.

 

Seiring tenggelamnya matahari, warna senja pun semakin pekat.

Tobio terengah-engah selagi ia mengejar kelompok tersebut. Namun, karena tertahan oleh lampu lalu lintas lagi beberapa menit yang lalu, ia telah kehilangan jejak ke mana kelompok itu pergi.

Lambat laun, ia terus berjalan menuju jalanan yang sepi.

Saat ia melangkah menyusuri jalan yang remang-remang, suasana menjadi sangat sunyi. Pada saat itulah, sekilas ia melihat sebuah siluet memasuki area proyek konstruksi di ujung pandangannya.

Ia langsung mengejarnya hingga tiba di depan bangunan yang sedang dibangun tersebut. Itu adalah lokasi pembangunan sebuah kondominium. Pintu masuk ke area proyek secara aneh terbuka, membuatnya mudah untuk menyelinap masuk.

Tobio, setelah memastikan tak ada yang melihat, melangkah ke dalam lokasi tersebut. Ia terus berjalan memasuki area yang dipenuhi oleh struktur baja dan kayu.

Karena lampu listrik memang tidak dimaksudkan untuk menjangkau tempat ini, ditambah lagi hari yang mulai gelap, jarak pandang di dalam menjadi sangat buruk. Tobio menyalakan lampu latar ponselnya, lalu terus berjalan dengan bantuan cahaya tersebut.

Saat itulah, tepat ketika ia berbelok di sudut jalan. Seseorang sedang berdiri di sana—.

Tobio sangat familier dengan siluet punggung itu. Meskipun orang itu mengenakan kemeja putih dan bukan seragam sekolah, dia adalah salah satu dari kelompok yang Tobio ikuti tadi. Tak salah lagi, itu adalah punggung dari teman yang bersekolah di tempat yang sama dengannya hingga musim semi tahun ini.

“…Sasaki?”

Dengan hati-hati, Tobio memanggilnya.

Meski dipanggil, Sasaki tetap berjalan menantang ke arah dalam. …Tobio mulai merasa khawatir tentang apa yang ada di depan. …Ia mulai bertanya-tanya apakah orang tersebut sedang sadar, atau bahkan apakah dia masih manusia.

“Sasaki… apa yang sedang kaulakukan?”

Sekali lagi, Tobio memanggilnya. Kemudian anak laki-laki itu berbalik menghadapnya. Saat tubuhnya berputar, lampu latar ponsel yang tadi menyinari punggungnya kini menerangi matanya.

“—!”

Tobio mengeluarkan suara tertahan dan tersentak mundur.

Dari balik punggung Sasaki… sesuatu yang sangat besar sedang mengunyah sesuatu. Makhluk itu menyadari keberadaan Tobio, dan mulai bergerak mendekatinya. …Itu adalah makhluk yang menyerupai kadal raksasa. Mulut makhluk itu berlumuran darah. Lidahnya menjulur keluar dengan suara kecapan yang basah saat menatap Tobio dengan penuh rasa ingin tahu. Anak laki-laki yang berdiri di dekatnya sudah pasti Sasaki. Haruslah Sasaki. Tobio sangat yakin.

Pada saat itu, sesuatu menggelinding. Saat ia mengarahkan cahayanya ke benda tersebut, tampak kepala seekor anjing yang terputus tergeletak di sana. Terdapat luka robek yang dalam di kepala itu. Kulit di sekitar salah satu bola matanya telah terkoyak.

“Hii!” Tobio menjerit kecil, menciut ngeri melihat pemandangan itu.

Kadal itu mulai mengunyah kembali anjing tersebut. …Suara kunyahan yang ia dengar sebelumnya pastilah… suara makhluk itu saat mengunyah sisa tubuh si anjing!

Di depannya, Sasaki tetap tanpa ekspresi, menatap Tobio dengan leher yang sedikit dimiringkan. Dada kemeja putihnya telah ternoda merah oleh cipratan darah anjing tersebut.

Sasaki—. Dia benar-benar Sasaki. Dia adalah teman sekelas yang sama, orang yang selalu pergi ke karaoke dan arkade bersamanya. Namun, jika biasanya dia selalu menunjukkan senyum jahil penuh canda, kini dia hanya menatap Tobio tanpa emosi. “Sasaki,” ia ingin memanggilnya lagi tetapi suaranya tidak mau keluar. Kemungkinan besar karena tubuh dan pikirannya telah lumpuh oleh rasa takut.

“Kau… apa yang sedang kaulakukan?”

Tobio, yang entah bagaimana berhasil memaksakan kata-kata itu keluar, mempertanyakan perasaannya sendiri tentang apakah ia sedang terjebak dalam lelucon praktis temannya.

“……tem……u.” Sasaki mengeluarkan suara. Volumenya sangat kecil hingga takkan terdengar kecuali jika benar-benar memfokuskan pendengaran.

Detik berikutnya, tepat di depan matanya, laki-laki itu menunjukkan senyuman yang mengerikan dari dunia lain. Mulut tipisnya terbuka, matanya menyipit, menatap Tobio dengan senyum yang gila.

Kadal itu, yang telah selesai memakan anjing tersebut, menghentikan santapannya dan mendekat. Mustahil untuk merasakan emosi apa pun dari mata itu, yang penampilannya menyerupai binatang buas yang telah menyudutkan mangsanya.

Saat seluruh tubuh Tobio terasa mati rasa dan dingin, makhluk yang berwujud Sasaki itu perlahan membuka mulutnya. “Lakukan.”

Ia mendengar suara desingan udara yang seperti mencabik, diikuti oleh suara patahan yang tumpul dari arah belakangnya. Saat berbalik ke sana, ia menemukan bahwa kayu yang tadi bersandar di dinding telah terbelah menjadi dua. Tobio mendengar suara embusan angin tambahan, dan langsung berbalik kembali.

Tobio melihat kembali ke depan, di mana dari mulut kadal itu, sebuah lidah panjang yang menjuntai terjulur dan menggeliat-geliat layaknya sebuah tentakel. Sesuatu yang mirip air liur menetes di sepanjang lidah tersebut ke tanah.

Di ujung tentakel aneh itu, terdapat objek keras yang mirip dengan cakar atau taring.

Tobio menyadari bahwa pipinya telah tersayat. Saat ia mengusap pipinya dengan tangan, tangannya langsung berlumuran darah. Sayatan itu mengenai bagian dekat telinganya.

…Kadal… monster?

Itu adalah makhluk yang melampaui akal sehat, setidaknya bagi Tobio. Ukurannya sekitar 3 meter. Dengan panjang seperti itu, wujudnya mengingatkan pada komodo, meskipun ia sendiri tidak ingat ada komodo yang memiliki tentakel aneh seperti itu sebagai pengganti lidahnya.

“……Ketemu kau…….” Makhluk dengan penampilan Sasaki itu mendekat sambil tersenyum ngeri saat mengatakannya. Monster kadal di depan Sasaki merespons.

Tobio secara insting meraih batang besi yang tergeletak di dekat kakinya. Sambil memegang besi itu dengan tangan yang gemetar, ia menghadapi monster tersebut.

“H-hentikan lelucon ini kalau ini cuma bercanda, Sasaki.”

Meskipun ia mencoba tersenyum dengan memaksakan ujung mulutnya terangkat, otot-otot di pipinya telah benar-benar menegang karena ketakutan.

Sementara Tobio mengangkat batang besi tersebut, monster kadal itu terus mendekat tanpa ada tanda-tanda berhenti. Tobio merespons dengan melangkah mundur sedikit demi sedikit.

Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari tentakel lidah monster itu yang menggeliat ngeri. Secara intuisi, ia tahu bahwa ia akan mati saat ia mengalihkan pandangan dari tentakel yang menyerupai lidah tersebut.

Ia tak tahu seberapa jauh lidah itu bisa meregang, tetapi ia berpikir adalah tindakan bijaksana untuk memanfaatkan kesempatan ini demi membuka jarak. Ini adalah keputusan yang diambil Tobio.

Ia perlahan-lahan mundur sedikit demi sedikit untuk menjauh.

(Sama sekali bukan ide yang bagus untuk mengalihkan pandangan dari tentakel itu.)

Tobio memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

Tangannya merasakan sesuatu yang keras. Itu adalah koin-koin sisa yang ia tukarkan di game center tadi.

Tobio mengambil koin-koin di sakunya, lalu melemparkannya ke arah monster kadal tersebut. Koin-koin yang dengan mudah dikorbankan itu menyebabkan lidah monster kadal itu turun, menciptakan celah waktu yang ia rasa bisa digunakannya untuk kabur.

Ia mengubah posisinya untuk melarikan diri dan langsung mulai berlari, tetapi tentakel yang meregang itu masuk ke dalam jangkauan pandangannya. Tobio secara refleks bersiap mempertahankan diri menggunakan batang besi silinder tersebut melawan tentakel yang menjulur. Namun, tentakel itu justru melilit batang besi tersebut.

“Ku….”

Ia mencoba mengibaskan tentakel yang melilit besi itu, tetapi sebuah kekuatan yang luar biasa besar menariknya.

Perlawanannya sia-sia, karena besi di tangan Tobio berhasil direbut oleh tentakel tersebut. Atas instruksi Sasaki, monster kadal itu melemparkan batang besi bulat tersebut jauh-jauh. Suara benturan logam yang kering terdengar.

Kembali beralih kepada Tobio, mangsa aslinya, monster kadal itu melangkah maju mendekat selangkah demi selangkah.

Tobio menyusut mundur, diselimuti oleh teror. Ia mencoba melarikan diri lagi, tetapi kakinya segera tertangkap oleh tentakel, menyebabkan ia langsung tersandung dan jatuh. Saat ia mencoba untuk berdiri, ia menyaksikan monster kadal itu semakin mendekat.

Melihat pemandangan ini, orang yang berwujud Sasaki itu menyeringai. Lidah monster kadal itu bergerak meliuk-liuk, mengarahkan ujungnya yang mirip taring tepat ke arah Tobio.

Selesai sudah riwayatku! Setelah menyimpulkan demikian, sesuatu melesat di antara Tobio dan monster itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

…Ketika tak terjadi apa-apa bahkan setelah menunggu beberapa detik, Tobio dengan penasaran melirik ke arah monster tersebut. —Kemudian tampak tentakel yang memanjang itu telah terpotong menjadi dua, dan monster kadal itu memekik tanpa kata.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya semudah itu.”

Tiba-tiba, ia mendengar suara seorang wanita muda dari arah belakang. Pemilik suara itu, bersamaan dengan suara langkah kaki, muncul di samping Tobio. Gadis itu mengenakan seragam sekolah dari suatu tempat. Usianya sekitar sebaya dengannya. Rambutnya diikat ke belakang.

Bagi Tobio, rasanya ia pernah melihat siswi ini di suatu tempat, tetapi… mungkin karena situasi yang membingungkan ini, ia tak bisa mengingatnya dengan jelas.

Saat Tobio melirik gadis itu, dia melangkah satu langkah ke depan.

“Aku yang akan menjadi lawanmu.”

Begitulah katanya kepada si kadal, sambil menjulurkan tangannya ke depan. Merespons provokasi gadis itu, Sasaki memberi instruksi kepada monster kadal dengan tangannya. Kadal itu mencoba menyerangnya dengan lidahnya yang panjang. —Dalam sekejap, ada sesuatu yang terus melintas di antara Tobio dan gadis itu dengan kecepatan yang luar biasa. Sesuatu itu menghilang ke dalam kegelapan sambil menyerempet sisi tubuh monster itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Sesaat kemudian, lidah monster itu terkulai pelan. Terdapat luka sayatan di lehernya, menjalar dari kepala hingga ke tanah. Tubuhnya kehilangan seluruh kekuatan, dan ambruk ke lantai.

Seolah-olah kehilangan kesadaran pada saat yang sama, orang yang mirip Sasaki itu juga langsung tumbang di tempat.

Masih dilingkupi rasa takut, Tobio berada dalam kondisi yang terlalu bingung untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Monster kadal itu—telah mati. Organisme seperti makhluk dengan leher yang terputus itu seharusnya tidak ada. Bahkan jika ada, setidaknya hal itu menentang akal sehat—.

Dari kegelapan di depan, terdengar suara kepakan sayap, seperti kepakan burung pemangsa besar—seekor burung yang tampak seperti elang datang terbang ke arah mereka. Burung itu, setelah hinggap di lengan si gadis, bermain-main dengan gadis tersebut. Gadis itu juga mengelus kepala burung itu sambil berkata, “Pintar, pintar”. Sebelumnya, apa yang melesat melewati Tobio rupanya adalah burung yang sekarang hinggap di lengan gadis itu. Jika memang begitu kejadiannya, lalu apakah burung ini yang mengalahkan monster tersebut?

Ia masih ragu, tetapi Tobio sekarang merasa lega karena ia berhasil selamat. Ia mengembuskan napas pelan.

—Namun, rasa leganya itu hanya sekejap, karena Sasaki yang terbaring di tanah mulai diselimuti oleh fenomena cahaya misterius. Cahaya itu juga menyelimuti monster kadal yang kini telah mati. Itu adalah cahaya biru, yang terpancar dari sesuatu yang berbentuk lingkaran di atas tanah, yang diukir dengan karakter-karakter asing. …Seolah-olah, itu tampak seperti sesuatu yang mirip “lingkaran sihir” yang sering terlihat di dalam game dan manga. Sesuatu yang mirip lingkaran sihir itu memancarkan kilauan yang lebih menyilaukan hingga membuat orang ingin menutup mata mereka. …Setelah kilatan itu berhenti, ia melihat ke lokasi tersebut, di mana monster kadal dan Sasaki tidak lagi dapat ditemukan.

…Setelah fenomena yang mirip seperti disihir oleh siluman rubah[1], apa yang terbentang di depan mata Tobio membuatnya sangat tercengang hingga kata-kata benar-benar hilang darinya.

“Ikuse…kun, 'kan?”

Sama sekali tidak terkejut dengan fenomena ini, gadis itu bertanya sambil menatap wajah Tobio.

“I-itu aku… dan kau adalah…?”

Tobio menjawab demikian. Gadis itu tampak agak familier. Namun, ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Sudah pasti ia pernah melihatnya di suatu tempat….

“Aku Minagawa Natsume. Kau benar-benar… tidak tahu, ya…. Kita belum pernah berbicara secara langsung, jadi nama dan wajahmu pun tidak cocok di ingatanku. Kalau saja aku tidak melihat fotomu.”

Gadis yang menyebut dirinya Natsume itu mengeluarkan ponsel dari saku roknya, lalu memperlihatkan layarnya kepada Tobio. Jelas sekali, tampaknya ada foto Tobio sebagai gambar di ponselnya. Inilah yang ingin disampaikan Natsume dengan menunjukkan layar ponselnya.

Di bagian bawah, bersama dengan pemandangan yang familier, ia telah difoto sedang berbicara dengan teman-teman lamanya.

Melihatnya, Tobio mengerti secara intuisi.

“Kau, maksudmu—”

Ketika Tobio hendak mengatakannya dengan lantang karena terkejut, Natsume melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum puas.

“Uh huh, aku adalah penyintas kelas dua SMA Ryoukuu, sama sepertimu.”

 

2

“Kalau aku, aku mau satu krim vanila kental dengan sirup dan sesuatu dari drink bar. Errr, apa yang ingin kaupesan, Ikuse-kun?”

“Tidak usah, terima kasih, aku tidak memesan apa-apa.”

Tobio menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Menanggapi pesanan Natsume, pelayan itu pun pergi menuju dapur.

Setelah pertemuan dengan orang yang mirip Sasaki dan serangan dari monster kadal tadi, mereka berdua mendatangi sebuah restoran keluarga.

Natsume sempat berkata, “Karena ini cerita yang panjang, mari kita pergi ke tempat lain yang lebih tenang,” lalu ia membawa Tobio ke sini.

Setelah gadis itu kembali ke tempat duduknya setelah memilih minumannya dari drink bar, Tobio membuka percakapan.

“Apa maksudmu tadi?”

“Apa?”

Terhadap pertanyaan Tobio, Natsume merespons dengan nada bicara yang santai. Dengan sikap yang sedikit kesal, Tobio mengernyitkan alisnya dan bertanya lagi.

“Ada apa dengan semua ini? Apa cerita di balik kejadian tadi?”

Kata ‘itu’ jelas merujuk pada pertemuan dengan teman Tobio sebelumnya—insiden dengan Sasaki dan monster kadal. Monster apa sebenarnya itu? Itulah yang sedang Tobio tanyakan. Natsume, yang duduk di seberangnya, setidaknya tahu sesuatu tentang monster tersebut.

“Seperti yang kaulihat, itu adalah monster dan masternya.”

Natsume menjawab tanpa ragu. Sebelum Tobio sempat mengajukan pertanyaan lain, ia melanjutkan.

“Makhluk yang terlihat seperti teman sekolah kita itu menciptakan monster tersebut, yang disebut sebagai ‘Utsusemi’. Dengar, mereka adalah sejenis prototipe dari Avatar Independen—atau setidaknya begitulah tampaknya. Mereka dan monster mereka, secara kolektif disebut ‘Utsusemi’.”

Sambil berkata demikian, ia membasahi jarinya pada gelas es kopi yang telah datang, lalu menuliskan karakter katakana untuk ‘Utsusemi’ di atas meja dengan air tersebut.

“Utsusemi?”

Karena tidak asing dengan kata itu, Tobio menunjukkan ekspresi bingung.

“Uh huh, Utsusemi. Yah, begitulah nama resminya atau setidaknya itulah yang kudengar…. Tapi begini, mereka—dan gadis itu juga, para Utsusemi memiliki penampilan seperti siswa-siswi kelas dua SMA Ryoukuu yang hilang pada hari kecelakaan itu.”

“Ap….”

Tobio tertegun kehilangan kata-kata. Natsume tetap mempertahankan ekspresi serius saat ia melanjutkan ceritanya.

“Meskipun aku tidak tahu detail pastinya, 233 teman sekolah kita yang berada dalam bencana laut itu, saat ini, masing-masing dari mereka dipasangkan dengan monster seperti yang kita temui beberapa saat yang lalu.”

Ia terus saja mengatakan hal-hal yang sulit dipercaya satu demi satu.

Sejak pemakaman bersama, ia memang telah bertemu dengan beberapa penyintas kecelakaan lainnya. Namun, ia belum pernah bertemu gadis ini di SMA Ryoukuu.

Harus bertemu dengan seseorang yang berada dalam situasi serupa, hal ini berada di luar kemampuan pemahaman Tobio.

Melihat ekspresi bingung di wajah Tobio, Natsume menghela napas dan memasukkan tangan ke dalam tasnya.

“Aku tahu rasanya aneh tiba-tiba mengatakan hal-hal aneh seperti ini. Lagi pula, karena kau akan mendengar semuanya lagi di lain hari, untuk saat ini—”

Ia mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna putih dari tasnya. Ukurannya kira-kira sebesar bola sofbol.

“Peranku adalah memastikan untuk memberikan ini kepada Ikuse-kun.”

Natsume meletakkan benda bulat putih itu di atas meja. Tobio dengan hati-hati mengambilnya.

Benda itu tampaknya seperti benda bulat biasa yang sangat wajar. Namun, pada saat itu, benda bulat tersebut mulai berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri.

“Uwah!”

Sambil mengeluarkan teriakan yang menyedihkan, Tobio menjatuhkan benda bulat itu ke atas meja.

“Kau harus berhati-hati dengannya. Kau tentu tidak ingin benda itu mati, 'kan?”

Sambil menyendok krim vanila kental yang baru saja dibawakan oleh pelayan, Natsume tanpa ragu mengatakan sesuatu yang terdengar mengerikan.

Ia dengan gembira menyendok krim vanila itu ke dalam mulutnya.

“Mati, apa maksudmu?”

Tobio yang merasa khawatir langsung memprotes pilihan kata Natsume yang mengerikan itu.

“Utsusemi itu, tampaknya, ditujukan untuk kita para siswa yang selamat dari karyawisata tersebut karena tidak ikut serta. Faktanya, bukankah kau juga baru saja diincar? Aku juga telah diincar baru-baru ini.”

“Cerita yang sangat konyol. Bagaimana mungkin aku bisa memercayai hal itu?”

“Egois sekali kalau kau tidak percaya, Ikuse-kun, terutama mengingat kau sendiri baru saja diserang. Kalau aku tidak datang tepat waktu, makhluk itu pasti sudah membunuhmu.”

Ia teringat kembali bagaimana Sasaki dan monster itu tiba-tiba menghilang secara tak terduga saat terbungkus oleh cahaya dari benda yang tampak seperti lingkaran sihir.

“…Cahaya itu yang membawa mereka pergi.”

“Ya. Entah bagaimana, setelah mengalahkan monster tersebut, hal itu menyebabkan pemiliknya jatuh pingsan—ketika hal itu terjadi, mereka berdua menghilang bersama dengan fenomena cahaya tersebut. Ini benar-benar seperti fantasi.”

Natsume terkekeh dan tertawa. Tobio tiba-tiba merasakan pemahaman yang muncul dalam dirinya.

Natsume mengarahkan sendoknya ke arah Tobio.

“Jadi, ‘telur’ itu sangat penting. Bukankah itu akan menjadi senjata yang berharga bagi siswa SMA biasa yang tidak berdaya seperti kita?”

Natsume memandang ke luar jendela. Mengikuti arah pandangannya, Tobio juga melihat ke luar toko. Di dahan-dahan pepohonan di tepi trotoar tempat orang-orang berlalu lalang, burung yang tadi sedang hinggap di sana. Burung itu melihat sekeliling sambil tampak gelisah. Dari kilatan tajam di matanya, rasanya seolah-olah matahari masih belum tenggelam bagi makhluk itu.

“Nah, karena kita tak bisa terus berada di dalam toko selamanya dan elang-chan-ku tidak melihat ada orang yang mengintai di luar, sebaiknya kita segera pergi, bukan?”

Natsume, setelah menghabiskan krim vanila kentalnya, langsung berdiri.

“Hei, tunggu dulu!”

Natsume mendekati Tobio yang masih menyimpan banyak pertanyaan untuknya, lalu berdiri menghadapnya. Saat Tobio merasa salah tingkah oleh tindakannya yang tiba-tiba, gadis itu mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Tobio sambil menunjukkan senyuman puas. Memasuki rongga hidung Tobio, tercium aroma manis yang berasal dari rambut Natsume.

“Nanti, aku akan mengunjungimu di rumah.”

Ia membisikkan sesuatu yang penuh teka-teki di telinga Tobio dan kemudian pergi.

Tobio yang benar-benar terpaku langsung menepuk wajahnya yang memerah. Ia menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya.

“…Tunggu, bagaimana dia bisa tahu di mana rumahku?”

Sambil menyuarakan pertanyaan tersebut, ia menatap benda bulat yang dibawa oleh gadis itu.

‘Telur’—.

Apakah sesuatu akan lahir dari benda ini?

Sebelumnya, denyutan yang ia rasakan dengan tangannya terasa sangat nyata.

Dengan pemikiran yang mengerikan itu, Tobio akhirnya memasukkan benda yang disebut sebagai ‘telur’ itu ke dalam tasnya.

[1] Istilah Jepang 狐につままれる (Kitsune ni tsumamaredasou) adalah sebuah idiom yang menggambarkan perasaan sangat bingung, tercengang, atau merasa tidak percaya atas sesuatu yang aneh dan gaib yang baru saja terjadi di depan mata, seolah-olah sedang dikerjai oleh sihir rubah.

Post a Comment

0 Comments