SLASHDOG Jilid 1 Bab 2
Bab 2 Anjing Hitam/Kelahiran
1
Begitu tiba di rumah di apartemennya, Tobio langsung duduk di sofa ruang tamu. Ia mengembuskan napas panjang.
Ia tiba-tiba menatap ke arah langit-langit.
—Apakah kejadian Sasaki yang mengendalikan monster kadal itu benar-benar bukan mimpi?
Ia menanyakan hal itu pada dirinya sendiri, tetapi ingatan yang begitu hidup adalah penolakan yang jelas terhadap kemungkinan tersebut.
Ada sesuatu yang lain dengan penampilan Sasaki….
Apakah monster kadal dengan sesuatu yang mirip tentakel menjulur dari mulut mereka adalah hal yang benar-benar ada di dunia ini? Monster seperti yang muncul di dunia manga dan game, mungkinkah itu ada dalam kenyataan!? Tidak mungkin! Apa alasan makhluk seperti itu harus ada—.
……
Dalam keheningan, Tobio membenamkan wajahnya di kedua tangannya.
…Apakah itu mimpi? Atau sebuah ilusi?
Mungkinkah karena rasa kehilangan yang teramat besar atas kematian teman-teman sekelasnya yang membebani pikiran dan tubuhnya, hingga menyebabkan ilusi seperti itu?
Salah. Monster milik Sasaki telah memberi perintah. Monster itu. Monster itu telah melukainya.
Ia menoleh ke arah tasnya yang tergeletak menyamping.
Dari bagian mulut tas yang sedikit terbuka, ia menangkap sekilas bayangan sebuah benda bulat.
Di sepanjang jalan pulang ke rumah, ada berkali-kali ia mempertimbangkan untuk membuangnya, tetapi, karena ia akan berada dalam bahaya kematian jika bukan karena kehadiran Minagawa Natsume di sana, ia tak bisa begitu saja mencampakkannya tanpa ragu.
Ini adalah cerita yang konyol. Jasad mereka yang tak pernah ditemukan, teman-teman sekolahnya yang hilang lalu membawa monster dan menyerangnya. Kenapa ia harus diincar? Tak peduli bagaimanapun ia memikirkannya, tak ada alasan baginya untuk dibunuh. Apa yang dikatakan Minagawa Natsume, ketika memikirkannya dengan tenang, terdengar seperti lelucon yang aneh.
Namun, Tobio melihat sendiri monster berbentuk kadal itu. Kepala monster itu seketika dibuat melayang oleh elang milik Minagawa Natsume. Peristiwa-peristiwa ini adalah fakta. Jika ia mencoba berpura-pura bahwa itu adalah mimpi, bayangan yang jelas itu akan muncul kembali dari pikirannya.
…Kalau memang begitu masalahnya, bukankah itu berarti, tidak hanya Sasaki, tetapi sisa teman sekelasnya yang kondisinya tidak diketahui juga akan hidup…? Demikian pula, saat itu ketika ia melihat Sae juga adalah hal yang nyata? Dan Sae, seperti halnya Sasaki, membawa monster bersamanya…?
Tidak, terlalu dini untuk menarik kesimpulan seperti itu, pikir Tobio. Meskipun hal-hal yang terjadi tak bisa dipahami, ia tak ingin membayangkan bahwa Sae akan hidup dan mencoba membunuhnya dengan monster seperti itu.
Duduk di sofa ruang tamu, Tobio mengembuskan napas panjang sekali lagi.
—Ia sudah kelelahan.
Seluruh tubuh Tobio didera oleh rasa letih. Biarpun ia memiliki energi untuk membuat makan malam, ia tidak memiliki nafsu makan.
Tobio berdiri dan kembali menatap ke arah tasnya. …Sambil memandangi benda yang disebut sebagai ‘telur’ itu, ia seketika mulai mengingat berbagai hal yang telah terjadi hari itu. Tobio mengambil tas yang masih menyimpan ‘telur’ tersebut, lalu meletakkannya di dalam bak mandi.
Ini seharusnya sudah bagus. Ia ingin melupakan hal ini setidaknya sampai besok pagi.
Tobio menutup pintu kamar mandi, kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Diserang oleh rasa kantuk begitu ia berbaring, Tobio pun segera tertidur lelap.
2
“Guk!”
“Uwah!”
Seekor anjing besar menggonggong dan Tobio mengeluarkan teriakan yang menyedihkan. Punggungnya bahkan sampai membungkuk karena terkejut.
“Hei, karena sebentar lagi kita akan menjadi siswa SMA, kau tidak boleh begitu terkejut hanya karena gonggongan anjing.”
Sambil mengelus kepala anjing itu, Sae tersenyum kecut padanya.
Itu di rumah Sae. Di halaman rumahnya, ada seekor anjing Golden Retriever yang dititipkan oleh kerabatnya. Tampaknya keluarga Sae sedang merawat anjing itu sementara kerabat mereka pergi berlibur.
Kejadian itu terjadi saat mereka masih duduk di bangku SMP. Ia sedang berada di rumah sendirian pada hari libur, ketika Sae menelepon dan memintanya untuk datang ke rumah gadis itu.
Ia datang demi memenuhi permintaan untuk membantu mengurus anjing tersebut, tetapi bagi Tobio sendiri, sebagai seseorang yang lemah jika berhadapan dengan hewan, melindungi Sae dari anjing itu adalah hal yang mustahil.
Anjing Golden Retriever itu sangat ramah, tetapi memiliki sifat seperti anak manja yang nakal. Hanya dengan menyadari bahwa Tobio bukanlah Sae, ia akan menggunakan seluruh kekuatan dari tubuh besarnya yang kuat untuk bermanja-manja pada Tobio. Bagi orang-orang yang menyukai anjing, mereka akan menganggap perilaku seperti itu menyenangkan, tetapi bagi seseorang yang lemah terhadap hewan, hal itu tak terlihat sebagai apa pun selain ancaman.
Sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan cepat, anjing itu mengejar Tobio yang melarikan diri dari halaman. Mengejar lawan yang melarikan diri, begitulah insting seekor anjing. Dengan memotivasi anjing itu secara tidak langsung, Tobio telah menjadi teman bermain yang ideal untuk menghadapi anjing tersebut. Meskipun demikian, bagi Tobio ini tak ada bedanya dengan dikejar oleh binatang buas.
“Hei! Sudahlah!”
Biarpun ia marah, begitu keceriaan anjing Golden Retriever itu sudah tersulut seperti ini, tak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikannya dengan tenang.
“Ahahaha! Berjuanglah, Tobio!”
Sementara itu, Sae justru duduk di beranda sambil memperhatikan Tobio yang panik.
“Bodoh! Tolong aku!”
Permohonan seperti itu sia-sia belaka, karena Tobio kemudian dikalahkan oleh anjing itu yang melompat ke arahnya dari belakang, membuatnya jatuh tersungkur di halaman.
Anjing itu kemudian tanpa ampun memanjat ke atas punggungnya dan mulai menjilati bagian sekitar kepalanya dengan rakus.
“Uwah! Cu-cukup, hei! Uowaaaaah!”
Tobio berada di atas rumput halaman, dengan mata yang setengah berkaca-kaca saat ia menggeliat dan meronta, tetapi serangan si anjing tidak juga berhenti.
“Kinjirou! Berhenti!”
Dengan perintah dari Sae tersebut, anjing bernama Kinjirou itu berhenti menjahili Tobio. Ia dengan cepat menjauhkan diri dari Tobio dan menunjukkan perilaku berpose duduk yang benar.
Setelah gempuran anjing itu berhenti, Tobio mengambil kesempatan untuk berdiri perlahan. Penampilannya benar-benar kusut dan lelah.
Karena merasa benar-benar khawatir, Sae dengan ragu-ragu mengamati wajah Tobio.
“A-apakah kau baik-baik saja?”
“…A-aku baik-baik saja.”
Entah bagaimana, ia nyaris tak bisa menjawab demikian. Tetap saja, mengenai keberadaan anjing besar itu, Tobio masih belum bisa terbiasa.
Sae dengan lembut mengelus kepala Tobio.
“Maafkan aku, Tobio.”
Dengan sikap Sae yang secara terang-terangan berperilaku seperti seseorang yang sedang menghibur anak kecil, Tobio tidak mampu marah kepadanya.
Itu karena rasanya sungguh menyenangkan. Karena kelembutan yang tersalurkan dari tangan gadis itu, rasanya teramat nyaman.
Jika teman-temannya melihatnya, itu akan menjadi pemandangan yang memalukan. Kecuali untuk si anjing, momen dirinya yang sedang dimanja seperti ini adalah sesuatu yang takkan pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Namun, kehangatan Sae terkadang bisa membuat suasana hatinya menjadi tenang.
“Ya ampun, Tobio benar-benar tidak berdaya di hadapan Sae-chan.” Tiba-tiba terdengar suara itu diiringi senyum geli yang kecil. Saat menoleh ke belakang, nenek tercinta rupanya telah berada di sana.
Tobio buru-buru menjauh dari Sae sambil melontarkan alasan-alasan. “I-ini… jadi, cuma sedikit…!”
Melihat reaksi Tobio, sang nenek dan juga Sae tak bisa menahan senyum geli yang menyenangkan. Tidak akan sememalukan ini bagi Tobio jika situasinya dibalik.
Tobio mengembuskan napas dalam-dalam meskipun sang nenek sedang mengelus kepala anjing Golden Retriever tersebut. Tiba-tiba nenek itu bergumam.
“…Tak ada gunanya membenci anjing itu, Tobio. Suatu hari nanti, anak yang telah memilihmu akan… tidak, mungkin anak yang telah memilihmu itu sudah muncul sekarang.”
Kata-kata yang diucapkan oleh sang nenek itu tidak mampu dipahami oleh Tobio… tetapi, saat ia menatap si anjing dengan tatapan yang lembut, meskipun kilasan itu terjadi begitu cepat, kata-kata tersebut menjadi mustahil untuk dilupakan—.
3
“Sae… Baa-chan….”
Ketika terbangun, kamar miliknya sendirilah yang ia lihat. Kamar itu gelap.
—Ia baru saja bermimpi.
Tentang waktu yang dihabiskan bersama dua orang tercinta yang kini tak lagi ada—.
Tobio mengusap air mata yang tanpa disadari telah menetes. Hanya dengan menggeser pandangannya, ia melihat tampilan jam di dalam kamar. Waktu sudah menunjukkan sekitar tengah malam. …Ia masih lelah. Biarkan ia melanjutkan tidur seperti ini sampai pagi. Ada sekolah besok, jadi sebaiknya ia mandi di pagi hari saja.
Mandi—.
Benar juga, ada sebutir ‘telur’ di dalam kamar mandi. Pada saat itu, Tobio teringat akan ‘telur’ tersebut, serta insiden dengan monster itu, dan juga teringat kembali tentang urusan Natsume.
—Tidurlah.
Dengan cara itu, Tobio menentukan pilihannya. Berada sendirian, ia hanya ingin tidur sampai pagi tanpa memikirkan hal lain.
Ia memejamkan mata, mematikan kesadarannya.
……
…Namun, ia merasa heran. Pikirannya sangat riuh. Kesadarannya tak bisa sepenuhnya padam. Ada semacam sensasi yang menyelimuti tubuhnya. Tobio perlahan membuka matanya. Ruangan itu gelap. Satu-satunya suara hanyalah detak jarum jam alarm di tengah keheningan.
Pikirannya gelisah. Kenapa bisa begitu sekarang?
Tiba-tiba, ia melihat ke arah tirai yang tertutup. Ia menjulurkan tangan ke arahnya. Dengan menariknya sedikit, ia menengok ke luar.
“—!”
Pada saat itu, tubuh Tobio menegang.
—Dari celah tirai, ada seseorang yang tengah mengintip ke dalam.
Ia menutup tirai dengan panik. …Tidak, tidak mungkin! Ini adalah lantai lima dari kompleks apartemen. Lagi pula, jendela di samping tempat tidur tidak memiliki balkon. Di sisi lain jendela itu tak ada apa-apa. Tobio turun dari tempat tidur, dan dengan hati-hati menjangkau tirai itu lagi. Dengan entakan kuat, ia menarik tirai untuk melihat ke luar jendela. —Namun, tak ada siapa-siapa di sana.
Seperti dugaan, apakah ia hanya berhalusinasi? Setelah melihat hal-hal semacam itu sore tadi, apakah sekarang ia mengalami halusinasi yang aneh?
Tobio membuka jendela, hanya menjulurkan kepalanya keluar, dan dengan gelisah melihat ke sekeliling. Tetap saja, tak ada perubahan. Tak ada siapa-siapa di sana. Tobio mengembuskan napas dalam-dalam dengan lega. Pada saat itu—.
PLAT…. Sesuatu jatuh ke atas kepala Tobio. Ia menyentuhnya dengan tangan. …Itu adalah sejenis cairan lengket. …Cairan itu jatuh dari atas?
“……temu…….”
Menyadari adanya suara, pada saat itu Tobio sontak mendongak.
“Ketemu kau.”
Ia mendongak menatap sebuah wajah yang tersenyum tipis. Seorang anak laki-laki muram yang berusia sekitar sebaya—sesuatu seperti laba-laba besar dengan banyak kaki tengah merayap di dinding kondominium dengan posisi terbalik.
“—!”
Tobio yang terkejut segera menarik kepalanya kembali ke dalam kamar, berniat menutup jendela. —Namun, monster laba-laba itu menahan jendela agar tidak menutup dengan kaki-kakinya. Merasa takut dengan kekuatan besar yang tersalurkan melalui jendela, Tobio buru-buru mengambil langkah mundur dari tempat itu.
Sementara itu, anak laki-laki itu masuk perlahan melalui jendela didampingi oleh monster laba-laba. Ketika ia berdiri di tengah kamar, ia menatap Tobio sambil menunjukkan senyum tipis.
“Ketemu kau. Palsu.”
Dengan bahasa yang patah-patah, anak laki-laki itu mengatakan hal tersebut. Monster laba-laba yang mendampinginya berbalik ke arah Tobio dengan kilatan aneh di matanya.
—Utsusemi.
Benar, makhluk di depannya ini sama dengan makhluk milik Sasaki dari sore tadi. Seseorang dengan wujud teman sekolah yang membawa monster. …Apakah yang satu ini juga merupakan siswa dari SMA Ryoukuu? Ia bukanlah orang yang dikenalnya. Namun, kemungkinan besar itu adalah teman sekolahnya. Itu pun jika kata-kata Natsume bisa dipercayai.
Setelah kadal adalah laba-laba, ya… Tobio merasa sungguh ironis bahwa tak ada dari keduanya yang merupakan makhluk baik untuk ditemui.
…Bagaimanapun juga, ia akan dibunuh jika terus begini. Di depan mata anak laki-laki itu, monster laba-laba itu memancarkan kekuatan tak terbantahkan yang terasa sangat nyata. Dengan semua niat membunuh yang diarahkan kepadanya, Tobio bisa langsung menyadari hal itu.
Dengan tubuh yang didominasi oleh rasa takut, Tobio mulai berlari menuju pintu kamar. Sesuatu seperti sutra laba-laba melesat ke arah kakinya, tetapi dengan susah payah ia entah bagaimana mampu membuka pintu sambil menghindarinya. Setelah melakukan itu, ia mulai melewati ruang tamu dengan berlari menuju pintu masuk. Ia berniat segera melarikan diri. Ini adalah pilihan terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup tertinggi.
Tobio tiba di pintu masuk, melepas rantai pengunci, dan membuka pintu—. Di sisi lain pintu, seorang gadis sendirian sedang berdiri di sana. Di sampingnya, apa yang tampak seperti monster katak raksasa melompat dari sudut.
“Ketemu kau.”
Mengucapkan kata-kata itu, tangan si gadis menjulur ke depan. Sebagai tanggapan atas hal tersebut, katak yang melompat dari sudut itu membuka mulut besarnya. Sama seperti monster kadal yang ia lihat sore tadi, lidahnya yang menjulur memiliki sesuatu seperti cakar yang menyerupai taring tajam. Sesuai dengan instruksi si gadis, lidah katak itu melesat menerjang Tobio!
“Sialan!”
Sambil mengumpat, Tobio segera membungkukkan tubuhnya. Ia merasakan pergeseran udara saat lidah aneh itu memotong udara di atasnya ketika melintas. Ia baru saja nyaris berhasil menghindarinya. Setelah baru saja lolos dari serangan itu, ia tidak berniat menerima serangan lagi.
Utsusemi, gadis ini juga!
Tobio entah bagaimana menegakkan posisinya, tetapi ada suara langkah kaki yang mendekat dari belakang. Saat menoleh ke belakang, anak laki-laki dan makhluk berwujud laba-laba raksasa itu telah mencapai pintu ruang tamu. Si gadis dan monster katak juga sedang menerobos masuk dari pintu depan.
—Ia terjebak di antara mereka.
Si gadis Utsusemi dari depan, si laki-laki Utsusemi dari belakang. Mereka berdua perlahan-lahan semakin mendekat. Di tengah lorong dari pintu masuk menuju ruang tamu, Tobio berada di dasar jurang keputusasaan.
—Ia akan dibunuh jika terus begini.
Tanpa ampun kedua orang yang merupakan Utsusemi itu terus merangsek maju. Mereka memiliki penampilan seperti teman sekelas yang tidak ia kenal. Apakah ia pernah mengenal mereka saat mereka masih hidup? Selain karena dibunuh oleh teman sekelas, dibunuh oleh teman sekelas yang tidak mengenalnya adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Dalam pelarian ini, pikiran-pikiran seperti itu berputar di kepala Tobio.
—Namun, pintu menuju ruang ganti tiba-tiba tertangkap oleh mata Tobio. Pada saat itu, ia mendadak teringat.
Di dalam bak mandi kamar mandi—ada si ‘telur’! Benar, ia telah meletakkan ‘telur’ itu di sebelah sana.
—Kau tentu tidak ingin benda itu mati, 'kan? Kata-kata Natsume terngiang kembali di benaknya. Dengan tetap waspada, Tobio terus memangkas jaraknya menuju kamar mandi sedikit demi sedikit.
Saat ia menjulurkan tangannya menuju pintu kamar mandi, kedua Utsusemi itu menjulurkan tangan mereka untuk memberi perintah pada monster masing-masing. Pada saat monster-monster itu mengarahkan niat membunuh kepadanya, Tobio yang berada di antara mereka buru-buru bergerak untuk membuka pintu kamar mandi. Sambil membawa kunci masuk bersamanya, ia membuka pintu menuju kamar mandi.
Sesaat kemudian, ia mendengar suara keras dari belakang. Sambil menoleh ke belakang, ia melihat apa yang tampak seperti tentakel milik Utsusemi telah menembus pintu kamar mandi. Seperti yang diduga, jika sesuatu dari daging dan darah hantaman itu tidak hanya akan meninggalkan lubang untuk lewatnya udara.
Dengan tergesa-gesa, Tobio membuka tas yang ia letakkan di kamar mandi.
“…Ini….”
Tobio melihat isi tas tersebut, kehabisan kata-kata. ‘Telur’ yang berukuran sebesar bola sofbol itu—sudah retak.
Retak? Sejak kapan? Seharusnya tidak ada retakan di sini!
Itulah yang membuat Tobio bertanya-tanya, tetapi sudah pasti bahwa ‘telur’ itu pecah… hanya cangkang kerasnya yang tersisa, meskipun ia tak bisa memastikan apakah ini adalah bukti bahwa sesuatu telah menetas.
(…Tidak, tidak mungkin! Minagawa Natsume jelas-jelas mengatakan ini penting! Tanpa ini, aku akan dibunuh!)
Tobio dengan cepat mencari ke bagian dalam kamar mandi, tetapi isi dari ‘telur’ itu tidak terlihat di mana pun. Meskipun terdengar konyol, insting Tobio mengatakan bahwa elang milik Minagawa Natsume berasal dari ‘telur’ semacam itu—atau jika tidak, ia membayangkan akan ada organisme lain di dalamnya. Dan dengan begitu, ia sempat berpikir bahwa ketika makhluk itu muncul ia akan dapat bersaing dengan Utsusemi yang menyerang. Namun sebaliknya, ini justru… kosong?
Tidak mungkin, apakah yang dikatakan Minagawa Natsume itu sebuah kebohongan? Atau mungkin, mungkinkah ia tidak sengaja telah diberi ‘telur’ kosong?
Bagi Tobio yang menganggap ‘telur’ itu sebagai harapan terakhirnya, ia mulai perlahan-lahan dikuasai oleh keputusasaan. Tanpa ampun dari arah belakang, suara kehancuran pintu yang bertahap terdengar.
…Tak ada jalan untuk melarikan diri. Yang tersisa untuk dilakukan hanyalah menunggu untuk dibunuh.
Ambruk tepat di sana, Tobio gemetar saat waktu menghitung mundur menuju kematiannya. —Sekarang, saat itu telah tiba.
—DOKUN.
Dengan jantungnya yang berdebar kencang karena rasa takut dan ketegangan—sebuah denyutan dan palpitasi yang sangat berbeda terjadi di dalam tubuhnya. Di dalam tubuhnya—ia mendapatkan sensasi yang mirip dengan sesuatu yang sedang diproduksi dari bagian terdalamnya, yang hingga kini belum pernah ada di sana.
DOKUN. DOKUN.
Namun, sedikit demi sedikit, dari jantung Tobio pastinya—seluruh tubuhnya mulai berdenyut secara nyata, dan sebuah sensasi hangat terasa.
Memang, ada ‘sesuatu’ yang tak terlihat di dalam jantungnya—. Apa identitas dari ‘sesuatu’ ini, ia tidak tahu, hanya sebuah perasaan bahwa “sebentar lagi ia akan ada di sini”, adalah semua yang dapat ia pahami. Denyutan itu tidak berhenti. Denyutan itu meningkat dengan cepat. Bersamaan dengan perasaan bahwa “sesuatu itu akan ada di sini sesaat lagi” yang semakin mendekat, ada juga perasaan bahwa itu mungkin sebuah ilusi—tidak, sudah pasti bahwa ada sesuatu yang muncul dari tubuh Tobio.
Sementara itu, suara keras terdengar dari belakang. Itu pastilah pintu yang telah hancur sepenuhnya. Dari sana, melalui lubang di pintu, wajah Saat si laki-laki Utsusemi muncul. Ia telah tertangkap.
“Ketemu kau.”
Setelah mengatakan hal tersebut, wajah itu ditarik kembali, dan lidah si monster menjulur melalui lubang di pintu dan mulai mencoba membuka kunci.
Namun, seolah-olah sebagai tanggapan, jantungnya telah menguat sementara itu, menjadi semakin cepat.
Tobio meletakkan tangannya pada pancuran kamar mandi. Ia menyalakan pemanas air dan meletakkan tangannya pada keran.
Si laki-laki Utsusemi yang didampingi oleh laba-laba masuk melalui pintu kamar mandi yang kini telah terbuka. Begitu makhluk itu menyadari keberadaannya, matanya menyipit seolah-olah dengan penuh kegembiraan. Laba-laba besar itu menggeliat saat ia membidikkan sasarannya pada Tobio.
Tobio menghadapi laba-laba itu, lalu menyemprotnya dengan air pancuran panas yang telah dipanaskan hingga suhu maksimal.
Terhantam dari depan oleh air pancuran yang sangat panas, laba-laba yang sekujur tubuhnya basah kuyup itu menderita dengan hebat di tempat.
Serangan balasan itu telah membuahkan hasil—. Namun, itu hanyalah pemikiran yang sekilas, karena dari sisi si laki-laki Utsusemi, si gadis Utsusemi mendadak muncul bersama monster katak.
Begitu si gadis melihat pancuran air yang dipegang Tobio dan kondisi si laba-laba, ia menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pintu masuk kamar mandi. Lidah katak dengan taring di ujungnya itu berubah menjadi sebuah cambuk, yang diayunkan lurus ke arahnya.
Tobio secara insting mengelak ke samping, tetapi akibatnya lidah katak itu memotong pancuran air yang sedang dipegangnya. Dengan bagian ujung pancuran yang telah hilang, selang tersebut sementara itu menyemprotkan air panas dengan sangat deras.
Karena tidak tahan dihujani air panas, Tobio terpaksa segera menghentikan aliran airnya.
Saat Tobio mencoba menghindari air panas di lantai kamar mandi, lidah katak itu kembali menyerang. Tobio yang terkejut menginjakkan kakinya pada air mendidih di lantai, dan seketika merasakan panas yang menyengat hingga kakinya terpeleset. Beruntung karena terpeleset, ia berhasil menghindari hantaman langsung dari lidah tersebut… tetapi ia kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang ke arah bak mandi.
Merasakan sakit akibat pinggangnya yang membentur bagian dasar bak mandi, Tobio memejamkan mata. Ketika ia membuka matanya, katak itu sedang menatap rendah ke arahnya dari depan. Dari belakang, monster laba-laba tengah merayap di sepanjang dinding kamar mandi sambil bersikap waspada.
Niat membunuh—. Tidak salah lagi bahwa apa yang terpancar dari kedua monster itu adalah nafsu darah yang murni. Inilah yang dirasakan Tobio dengan seluruh tubuhnya.
Akan dibunuh—.
…Aku tak mau itu terjadi.
…Akhir seperti ini, akhir yang bahkan aku tak tahu apa alasannya… aku sama sekali tidak menginginkannya…!
Aku tidak ingin mati—.
Aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati.
Aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati!
…Siapa pun, tolong aku.
Seketika saat ia dipenuhi oleh pemikiran itu, Tobio diserang oleh gelombang detak jantung yang hebat.
…DOKUN. DOKUN!
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia berpikir orang lain pasti akan bisa mendengarnya juga.
——bio. ——pa-apa.
——Tobio. Tidak apa-apa.
Pada saat ini, dalam situasi seperti ini, dapat dikatakan bahwa apa yang secara tak terduga muncul kembali di dalam pikiran Tobio—adalah suara dari mendiang neneknya. Dengan wajah keriput yang basah, neneknya berkata:
—Tobio. Kau adalah anak yang diberkati. Anak yang dicintai lebih dari siapa pun.
—Namun, Obaa-chan ingin kau menjadi sedikit lebih bahagia, Tobio.
—Makanya, Obaa-chan, untuk sesaat saja, memasang segel pada Tobio yang diberkati.
—Tapi tahukah kau, Obaa-chan yakin suatu hari nanti kau akan melihat hal-hal yang jauh lebih menyakitkan daripada saat ini.
—Ingatlah ini saja, Tobio. Dirimu yang lain yang ada di dalam dirimu akan menyelamatkanmu ketika tak ada orang lain yang bisa melakukannya.
Ketika ia masih lebih muda, neneknya mendekapnya erat-erat, dan bergumam dengan cara seperti ini. Kata-kata itu, meskipun merupakan kata-kata yang masih belum bisa ia pahami, telah terukir di bagian terdalam dari jiwa Tobio.
—Kau unik di dunia ini, karena “ ” telah memilihmu.
—Biarpun itu hanyalah sebuah tiruan dari cangkang “ ”.
Tak terdengar—kata yang tidak mampu ia ingat itu, tetapi meski begitu, terlepas dari keadaannya, suara sang nenek memberi Tobio rasa rindu yang fana.
DOKUN—.
Ia dihantam oleh satu denyutan besar yang sangat mencolok. Untuk sesaat, ia kehilangan sensasi pada tubuhnya dan kesadarannya mengabur… tetapi, ia segera pulih kembali ke kondisi semula. Namun, detik berikutnya, sesuatu melesat dengan kecepatan tinggi dan melewati pipi Tobio yang telah mendarat di dalam bak mandi!
Di depan matanya, wajah monster katak dengan lidah menjulur itu—telah tertusuk oleh apa yang tampak seperti sebuah bilah tajam. Sebuah bilah tajam yang telah meregang hingga ke langit-langit sambil menusuk menembus si katak. Monster katak itu dengan cepat diempaskan ke langit-langit kamar mandi. Melihat hal itu, karena merasakan adanya bahaya, monster laba-laba itu langsung lenyap dari pandangan Tobio.
Ia sendiri ambruk di dalam bak mandi. Di sana, di belakangnya—adalah dasar dari bak mandi. Apa sebenarnya yang tadi melompat keluar dari arah belakang sana?
Setelah menegakkan kembali posisinya, Tobio melihat ke arah dari mana bilah tajam itu berasal.
—Dari bayangannya sendiri, sebuah bilah tajam tunggal telah muncul.
Saat Tobio menyaksikan dengan napas tertahan, bayangan yang ia refleksikan menggeliat seolah-olah memiliki tujuannya sendiri. Bayangan itu perlahan-lahan membentuk sebuah wujud—dan penampilannya sungguh mencengangkan.
Apa yang telah muncul dari bayangan itu adalah seekor anak anjing dengan bulu hitam.
Dahi anak anjing itu memiliki tonjolan yang tajam—bilah tajam itu telah tumbuh dari sana. Anak anjing itu melompat keluar dari bak mandi, menarik bilahnya keluar dari katak yang telah ditusuknya ke langit-langit. Monster katak itu jatuh ke lantai, masih hidup meskipun ada banyak darah yang mengalir dari wajahnya.
Monster katak itu, yang masih memiliki lubang yang mengebor di wajahnya, kembali menyerang dengan taring tajam lidah yang sebelumnya ia gunakan pada Tobio—hanya saja kali ini ia menembakkannya ke arah si anak anjing.
ZASHU~, suara tebasan seperti itu bergema di dalam kamar mandi.
—Daging terkoyak berserakan. Lidah monster itu, dan bahkan seluruh tubuhnya, teriris menjadi potongan-potongan kecil, dagingnya berserakan di seluruh kamar mandi. Anak anjing itu telah melompat dalam sekejap dan mencacah si katak dengan bilah tajam di dahinya…!!
Secara sistematis, anak anjing hitam legam itu melompat dari dinding ke dinding kamar mandi, seketika mencabik-cabik monster katak, dan kini mengincar si monster laba-laba yang pertama.
Dengan hancurnya si monster katak, si gadis Utsusemi kehilangan kesadaran dan ambruk di tempat.
Adapun monster laba-laba yang mendampingi si anak laki-laki, setelah menilai situasi menjadi berbahaya, ia mulai mundur melarikan diri. Anak anjing itu tidak mengizinkannya, dan ia menumbuhkan bilah-bilah tajam dari punggungnya seperti sayap untuk memangkas jarak.
Tobio terkesima oleh rangkaian peristiwa ini.
…Dari bayangannya sendiri, seekor anak anjing… telah lahir? Bukannya dari ‘telur’, makhluk ini justru muncul dari bayangan? Anjing ini bisa menumbuhkan bilah tajam. Bilah tajam itu, dalam sekejap mengubah monster katak itu menjadi potongan-potongan daging.
Meskipun fenomena yang melampaui imajinasi terus terjadi satu demi satu, anak anjing hitam di depan matanya memberinya perasaan kuat akan ‘sesuatu’. Sama seperti sebelumnya, perasaan berdenyut itu—tak ada bedanya dengan apa yang berasal dari anak anjing ini. Anjing hitam kecil ini yang seolah ia panggil atas kehendaknya sendiri. Tidak, apakah ia yang memanggil anjing ini…?
Saat si laki-laki Utsusemi sedang mundur, anak anjing hitam itu, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, memangkas jarak dalam sekejap. Anak anjing hitam itu, layaknya peluru hitam, melesat tepat melewati sisi monster laba-laba. Ketika semuanya telah mereda, monster laba-laba yang mengikuti si anak laki-laki kehilangan kekuatannya. Sesaat kemudian, tubuh laba-laba itu terbelah menjadi dua. Karena telah kehilangan laba-labanya, si anak laki-laki tumbang dengan dramatis di tempat seperti yang dialami si gadis sebelumnya.
Dalam waktu kurang dari satu menit, anak anjing itu telah membereskan tubuh kedua monster tersebut.
Dan tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Para Utsusemi tidak bergerak. Setelah beberapa saat, apa yang tampak seperti lingkaran sihir muncul kembali di bawah tubuh para Utsusemi dan monster mereka, yang kemudian lenyap dalam sekelebat cahaya.
…Hanya Tobio dan si anak anjing yang tertinggal di dalam kamar mandi. Anak anjing itu menggerakkan telinganya, dan mulai menggunakan hidungnya. Tampaknya menyadari sesuatu, anak anjing itu dengan gesit melompat keluar dari kamar mandi. Begitu makhluk itu meninggalkan kamar mandi, Tobio mengikutinya.
Ia menyusul anak anjing tersebut di ruang tamu. Menatap pemandangan di depannya, Tobio kehilangan kata-kata.
Karena sebuah organisme berbulu yang sangat besar telah menunggu di tengah ruangan. Jendela ruang tamu telah hancur. Monster itu memiliki bulu, dan seperti serangga, bagian kepala, dada, dan perutnya terbagi menjadi tiga bagian, ia juga memiliki enam kaki, tetapi bagian kepalanya, alih-alih terlihat seperti serangga, lebih mirip seperti kepala reptil. Monster aneh itu tampak seperti tubuh ngengat dengan kepala kadal yang menempel padanya. Tentu saja, poin utamanya adalah anak laki-laki di sampingnya yang telah menerobos masuk ke dalam ruangan.
Namun, di depan monster seperti itu pun, anak anjing hitam yang telah menumbuhkan bilah tajam itu bersiap tanpa rasa takut sedikit pun. Anak anjing itu menerjang maju tanpa ragu. Untuk menghindari sasarannya, monster itu terbang naik sedikit—tetapi si anak anjing langsung bereaksi dengan menendang dinding untuk melanjutkan pengejarannya. Melanjutkan kejar-kejaran yang sibuk itu, dalam sekejap dua kaki monster tersebut telah terpotong.
Karena ukurannya yang besar, kemampuan manuver monster bersayap itu menjadi terbatas di dalam ruangan. Sebaliknya, tubuh kecil anjing hitam itu sangat diuntungkan untuk bermanuver. Jika terus begini, metode anak anjing tersebut akan mengakhirinya lewat taktik.
Sementara Tobio sedang memahami situasi dengan cara ini, anak laki-laki yang menjadi pengendali monster tersebut terlihat jelas sedang menginstruksikan monsternya dengan gerakan tangan menyapu yang lebar. Monster berbulu itu memancarkan kilatan redup di matanya, dan saat si anak anjing meluncurkan serangan keduanya—makhluk itu sengaja membiarkan dirinya dihantam dari depan! Ini berarti bilah tajam si anak anjing akan dengan mudah menusuk dalam ke dada monster itu, tetapi hal ini juga memungkinkan si monster untuk mencengkeram erat anak anjing tersebut dengan empat kaki yang tersisa. Dengan kondisi seperti itu, ia mengepakkan sayapnya dan melesat keluar dari dalam ruangan.
—Anak anjing itu dibawa ke luar!
Ini buruk. Tempat ini adalah apartemen lantai atas. Seandainya dugaannya benar, tujuan monster itu adalah—tampaknya untuk menjatuhkannya dari ketinggian yang luar biasa. Monster itu berniat menjatuhkan si anak anjing dari langit yang tinggi. Walaupun ia adalah anjing asing yang bisa menumbuhkan bilah tajam, jika dijatuhkan dari ketinggian seperti itu…!!
Tobio, yang mengkhawatirkan si anjing, memutuskan untuk mengincar anak laki-laki yang mempekerjakan monster berbulu tersebut. Setelah entah bagaimana berhasil membuka jarak, ia dengan cepat melemparkan pot terdekat dengan seluruh kekuatannya ke punggung si anak laki-laki, menghantam tubuhnya. Setelah mengeluarkan suara tersedak, anak laki-laki itu jatuh dengan dramatis di tempat ia berada.
Setelah memastikan hal ini, Tobio segera berlari ke balkon. Pikiran tentang anak anjing yang dibawa ke langit sungguh mengusiknya.
Setibanya di balkon, Tobio melihat sesuatu di bawah cahaya bulan—itu adalah monster yang sedang terbang di udara di depan apartemen sambil mencengkeram si anak anjing. Jika bukan karena empat kaki yang mencengkeram anak anjing yang menusuk dadanya, makhluk itu pasti sudah jatuh pada saat itu juga—. BASHU-, bergema di langit malam, sebuah suara hantaman yang tumpul terdengar.
Gambaran di mata Tobio kemudian, adalah sebuah pedang raksasa yang telah muncul di bawah cahaya bulan. Tobio telah menyaksikan dengan jelas momen kemunculannya. Dengan cara itu, tepat sebelum monster itu hendak menjatuhkannya, tubuh si anak anjing memancarkan cahaya redup. Detik berikutnya, anak anjing itu telah mengalami transformasi menjadi sebilah pedang raksasa tunggal, yang menusuk tubuh monster bersayap itu dan membuatnya tercerai-berai.
Bilah pedang besar itu jatuh di atas atap di depan apartemen.
…Tobio menarik napas. Di bawah cahaya bulan di depannya, ada sebuah pedang tidak beraturan yang tertancap di atap bangunan apartemen.
Pikiran Tobio teringat kembali sejak saat itu.
—Tak ada gunanya membenci anjing itu, Tobio. Suatu hari nanti, anak yang telah memilihmu akan… tidak, mungkin anak yang telah memilihmu itu sudah muncul sekarang.
Ahh, Baa-chan. Apakah ini yang kaubicarakan waktu itu? Tapi, apakah benar—
—“anjing” itu?
Tobio menekan satu tangannya pada dadanya yang berdenyut dengan sangat kencang. Alasan mengapa jantungnya menjadi seperti itu, apakah karena rasa takut, ataukah, mungkin, karena ia sama sekali tak pernah menyangka dirinya akan mendapatkan kekuatan semacam itu—.
“…Milikmu sungguh luar biasa.”
Dari arah belakang, terdengar suara tercekat dari pihak ketiga masuk ke dalam pendengarannya.
Ia terkejut saat melihat sosok Minagawa Natsume memasuki jarak pandangnya di atas atap apartemen tersebut. Gadis itu benar-benar datang berkunjung tepat seperti yang telah ia janjikan.
“Kau baik-baik saja? Aku sedikit terlambat.”
Gadis itu menatapnya sambil merasa khawatir. Tobio duduk di tempat itu, pikirannya linglung, lalu menjawab, “Entah bagaimana, begitulah.”
Ketika cahaya itu memudar, saat ia memastikan kondisi dari master monster bersayap tersebut, ia menelan kembali kata-kata, “Kuharap kau datang sedikit lebih cepat.”—
Setelah rangkaian serangan itu berakhir, begitu ia keluar dari koridor, ia melihat ke arah ruang tamu di mana burung elang tersebut sedang hinggap di atas sofa.
“Aku juga terkejut. Setelah berkomunikasi denganmu di restoran keluarga sore tadi, aku berniat datang untuk membicarakan berbagai hal bersamamu, tapi kau sudah berada di bawah serangan saat aku tiba di sini. Apalagi oleh tiga orang sekaligus. Itu pasti sangat berat untuk pertarungan keduamu.”
Natsume mengatakannya dengan santai. Berada di bawah serangan oleh tiga orang, dan dari sudut pandang gadis ini, satu-satunya kata untuk menggambarkan hal itu hanyalah “berat”.
Natsume mengeluarkan suara yang mengatakan, “Lucu sekali!” Saat ini, ia sedang menggendong anak anjing tersebut. Ketika berubah menjadi bilah pedang, anak anjing hitam itu akhirnya tertancap di atap apartemen, jadi elang milik Natsume membawanya kembali ke sini. Saat elang itu terbang ke atap, si anak anjing telah kembali ke wujud aslinya.
—Bilah-bilah tajam muncul dari tubuhnya!
Namun, terlepas dari rasa khawatir Tobio, Natsume tetap menggendong anak anjing yang tubuhnya kini sudah bersih dari bilah. Mengibas-ngibaskan ekornya layaknya anak anjing normal, makhluk itu sedang dimanja oleh Natsume.
Tubuh kecil anak anjing berbulu hitam legam itu menyimpan kekuatan yang telah membantai monster-monster tersebut. Dengan menjulurkan bilah tajam dari sekujur tubuhnya, ia telah mendemonstrasikan kekuatan yang luar biasa.
“Nah, mari kita keluar dari sini.”
Natsume mengajukan usulan semacam itu.
“Pikirku aku sempat berharap untuk tetap tinggal di sini untuk beberapa waktu, tetapi apa boleh buat. Tolong kemas beberapa barang bawaan, tapi cukup kebutuhan pokok saja. Musuh kita tahu soal rumahmu. Lagi pula, meskipun kau mengalahkan mereka sekali, setelah satu jam, tidak, mungkin setelah tiga puluh menit, mereka akan menyerang lagi, bukan?”
Tobio setuju bahwa bahaya itu hanya berlalu untuk sementara waktu saja.
“…Dengan kegemparan seperti ini, aku penasaran apakah seseorang telah melaporkannya.”
Tobio tiba-tiba menyuarakan pemikiran seperti itu secara lantang.
Benar juga, jendela telah hancur, dan kamar mandi telah luluh lantak hingga ke bagian pintunya. Dengan suara-suara yang mengganggu seperti itu, tidak akan mengejutkan jika warga sekitar mulai gempar. Namun, Minagawa Natsume menggelengkan kepalanya.
“…Mereka menyelesaikan persiapan sebelum melakukan serangan, jadi kegemparan semacam itu tidak akan terjadi. Semua orang akan tetap tertidur lelap.”
…Ia tak bisa memahami signifikansi dari apa yang disebutkan gadis itu dengan begitu tenangnya. Hal itu berada di luar kemampuan pemahaman Tobio. Namun, ini tak bisa dikatakan sebagai lelucon, karena rasanya seolah-olah rasa abnormalitas ini adalah kondisi yang terjadi saat ini.
Natsume berbalik sambil tersenyum dan berkata, “Karena aku tahu tempat yang bagus untuk bersembunyi dari mereka, mari kita pergi ke sana.”
“Tempat untuk bersembunyi?”
“Ya, di sanalah tempat tinggalku sekarang. Itu adalah tempat di mana seseorang bisa menghabiskan waktu dengan aman sambil merasa aman dari para Utsusemi. Makanya, karena aku akan memberi tahumu banyak hal yang perlu kauketahui, kau harus cepat-cepat bersiap pergi!”
Sambil mendorong punggung Tobio, Natsume buru-buru mendesaknya.
“Apakah benar-benar ada tempat sebagus itu? Maksudku, kita bisa membersihkan tempat ini—”
“Dah! Dengar ya, cepat siapkan barang bawaanmu!! Di sini tidak aman! Kalau kau mencoba mengeluh, Onee-san ini akan menyeretmu ke sana dengan menarik celana dalammu.”
Seperti yang bisa diduga, karena berpikir kata-kata meledak-ledak dari Natsume itu memang merepotkan, Tobio berhenti mengajukan keberatan dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk mengambil barang bawaannya.
Tobio dan Natsume melanjutkan karyawisata menyusuri jalanan di larut malam.
Tobio membawa dua tas besar, satu di pundaknya dan satu lagi di tangannya. Tas-tas besar ini, yang di rumah tadi hanya diisi dengan barang-barang kebutuhan minimum, sedang dibawa saat ia mengikuti Natsume, yang berjalan melewati jalan-jalan di malam hari.
“Bagaimanapun juga, lebih aman untuk meninggalkan area yang padat penduduk.”
Saat Tobio membawa barang bawaan yang berat, ia melakukan yang terbaik untuk mengimbangi langkah cepat Natsume. —Di belakang Tobio, si anak anjing datang mengikuti di belakangnya sambil berlari kecil.
Tiba-tiba ekspresi Natsume berubah sepenuhnya. Ia mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Tobio. Tatapannya terfokus pada apa yang ada di belakang Tobio.
Saat Tobio menoleh ke belakang, ia melihat anak anjing hitam yang mengikutinya tengah mengarahkan perhatiannya pada kegelapan yang berada tepat di batas cahaya lampu, dan sedang menyeringai memamerkan taringnya dengan nada mengancam.
Saat makhluk itu menatap jalanan yang gelap dengan mata menyipit, sebuah sosok yang perlahan-lahan mendekat pun muncul.
“Tidak mungkin….”
Tobio berucap dengan cemas sambil menelan ludah.
“Ya, pengunjung.”
Utsusemi—.
Seorang anak laki-laki mendekat dengan mantap, terlihat sangat tidak berekspresi secara mengerikan, memunculkan perasaan bahwa ia kekurangan jiwa. Di sampingnya, ada monster ular yang telah muncul dari sekitar sudut jalan.
Tobio dan Natsume saling bertukar pandang. Ini untuk menentukan tindakan mereka selanjutnya. Apakah untuk melarikan diri, atau untuk bertarung.
Namun, sebelum mereka sempat melakukannya, tiba-tiba sebuah fenomena seperti nyala api melilit tubuh ular tersebut! Ular besar itu terbakar dengan hebat di jalanan yang gelap, dan dengan tubuhnya yang menggeliat, monster itu seketika berubah menjadi arang—.
Sementara Tobio kehilangan kata-kata atas kejadian ini, Natsume, setelah melihat fenomena tersebut, mengembuskan napas lega.
Dengan kematian ular tersebut, teman sekolah yang mendampinginya—si Utsusemi juga dipindahkan pergi oleh lingkaran sihir. Dengan fenomena itu yang telah diverifikasi, suara langkah kaki yang mantap pun terdengar.
Muncul dari kegelapan, seorang gadis berambut pirang dengan penampilan aneh melangkah ke dalam cahaya. Selain itu, alasan ia berpenampilan aneh adalah karena ia mengenakan jubah dan topi kerucut. Meskipun ia terlihat seperti orang asing, ia berpakaian seolah-olah sedang melakukan cosplay penyihir. Tobio terpesona oleh penampilannya yang anggun. Meskipun sulit menilai orang asing, mungkinkah gadis itu… sebaya dengannya?
Gadis yang berpakaian seperti penyihir itu, sambil mengarahkan mata birunya kepada Tobio dan Natsume, berucap, “Kau lambat, Natsume. Kau tidak sengaja membawa mereka bersamamu untuk menemuiku?”
Natsume menunjukkan pose meminta maaf sambil berkata, “Maaf, maaf,” kepada gadis itu. Gadis asing itu fasih berbahasa Jepang. Tampaknya ia adalah kenalan dari Minagawa Natsume…. Dimulai dengan fenomena pembakaran tadi, dengan semua insiden yang terjadi secara berturut-turut, pemahaman Tobio tak bisa mengimbangi semua itu.
Natsume mendekati Tobio yang kebingungan, lalu mengambil salah satu tas dari tangannya.
“Mari kita pergi. Mereka akan menyerang di area yang sepi ini. Karena kita tak bisa pergi ke area padat penduduk, kita harus meninggalkan area ini dengan cepat.”
Merespons nada bicara serius Natsume, Tobio mengangguk, dan mereka pun bergegas pergi.
4
“Ayo kemari, masuk, masuk.”
Larut malam, Tobio akhirnya tiba di tempat aman yang dibicarakan Natsume—sebuah bangunan apartemen tertentu. Yang ia bayangkan tentang sebuah tempat persembunyian di dalam hutan adalah tempat yang terpisah dari area perkotaan, tetapi ternyata tempat itu sebenarnya hanya berjarak sekitar sepuluh menit dari stasiun tetangga. Penampilannya juga seperti bangunan apartemen yang sangat umum, tapi….
Selagi Tobio masih merasakan sedikit ketidakpastian tentang apakah mereka benar-benar akan aman dari serangan di tempat seperti ini, ia dipersilakan masuk ke sebuah apartemen tertentu. Sebuah sofa dan TV, pemutar DVD, serta sebuah ruangan sederhana dengan rak-rak buku.
Sambil menunjuk ke arah gadis berambut pirang, Natsume berbicara lagi.
“Gadis ini adalah Lavinia. Sebagai penghuni yang tinggal di tempat persembunyian ini, dia adalah sekutu kita untuk saat ini.”
Gadis berambut pirang itu—Lavinia membungkuk sederhana dan berkata, “Mohon bantuannya.”
Setelah ia menyelesaikan sapaan ringan ini, dengan suara gemeresik, Natsume mulai menggeledah rak-rak yang melengkapi ruangan tersebut.
“Nah kalau begitu, jadi—pertama-tama, kau memerlukan konfirmasi.”
Natsume, setelah berbicara demikian, kemudian mengambil sebuah DVD tertentu dan memasukkannya ke dalam pemutar video.
“Apa itu yang kaucari sejak kita tiba?” Tobio bertanya kepada Natsume.
“…Ini untuk menegaskan kembali keadaan dirimu dan Natsume.” Jawaban itu secara mengejutkan diberikan oleh gadis berambut pirang, Lavinia.
Tobio mulai menyaksikan dengan penuh perhatian rekaman video yang muncul di layar TV. Itu adalah program berita yang meliput kecelakaan kapal pesiar besar dari sebuah kapal tertentu. Itu bukanlah sesuatu yang tidak ia ketahui. Selama dua bulan terakhir, insiden itu telah menjadi pergolakan terbesar dalam hidupnya.
Insiden Heavenly of Aloha—.
Kapal pesiar mewah yang seharusnya ia dan Natsume naiki. Kapal itu telah tenggelam bersama teman-teman sekolah mereka, kapal dengan nama ‘surgawi’ tersebut. Meskipun video itu tidak bersuara, Natsume juga menunjukkan ekspresi yang rumit. Bukan hanya Tobio, ia juga pasti menderita selama dua bulan ini, membawa luka mental akibat kehilangan teman-teman sekelasnya.
Video pun berganti. Apa yang ditampilkan layar sekarang, itu adalah suatu tempat di lingkungan perkotaan. Di dalam video tersebut, mirip dengan yang diambil menggunakan kamera video rumah, sekelompok laki-laki dan perempuan diperlihatkan.
Tobio terus menonton dengan alis berkerut.
“Apakah itu… Yada…? Kojima…?”
Tobio kehilangan kata-kata. Kelompok-kelompok anak muda diperlihatkan secara berturut-turut. Ada banyak wajah yang ia kenali. Gambar-gambar kelompok anak muda ditunjukkan berturut-turut tanpa jeda. Jumlahnya bukan lima puluh atau seratus.
Video itu memperlihatkan orang-orang yang, hingga beberapa saat lalu, diyakini Tobio keberadaannya tidak diketahui. Namun, stempel waktu pada video tersebut menunjukkan angka digital yang menandakan suatu periode di bulan Juni, tepat setengah bulan yang lalu—.
Dua ratus tiga puluh tiga siswa kelas dua SMA Ryoukuu yang masih dinyatakan hilang. Kenyataannya, peluang untuk bertahan hidup secara praktis tidak ada. Namun, pada video di depannya, semua orang yang keberadaannya tidak diketahui itu ternyata masih hidup dan aktif.
…Meskipun ia tidak mengerti mengapa mereka menuntun monster, atau apa alasan mereka mengincar mereka, mereka… mereka semua ternyata masih hidup?
Kalau begitu, bukan hanya teman-teman sekolahnya, tetapi Sae juga—.
Tobio menyadari bahwa dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia dapat merasakan secercah harapan. Hatinya yang hancur terasa seperti sedang sembuh sedikit demi sedikit. Namun, perasaan rapuh itu lenyap pada video berikutnya.
Salah satu teman sekolah laki-lakinya diperlihatkan di layar. Ada monster seperti buaya di sisinya. Dari mulut monster itu, sebuah lidah menjulur dengan lunglai. …Tidak, itu adalah sebuah tentakel.
Teman-teman sekolah yang lain diperlihatkan di layar sedang menuntun berbagai monster yang berbeda. Seperti katak, laba-laba, ular, dan kadal yang baru saja ia temui…. Beberapa tampak seperti serangga besar macam ngengat dan belalang sembah. Ada monster-monster mengerikan yang ukurannya mustahil untuk dipastikan, dan juga mereka yang memiliki penampilan terdistorsi. Mereka adalah monster-monster yang hampir mirip dengan yang ada di film dan game.
Mereka menjulurkan lidah yang seperti tentakel, menangkap seekor babi hidup. Meskipun video itu tidak bersuara, penampilannya saja sudah tragis, saat monster-monster itu mencabik-cabik babi hidup tersebut, dan melahapnya. Darah menetes dari ujung mulut monster-monster itu.
Tobio mencengkeram mulutnya, sambil mati-matian menahan rasa ingin muntah yang merangsek ke tenggorokannya, saat ia menyipitkan mata menatap video tersebut.
Natsume, yang telah melihat video itu sekali sebelumnya, juga tak bisa melihat langsung ke pemandangan tersebut.
Setelah itu, penjelasan Natsume terus berlanjut beriringan dengan video. Isinya adalah tentang ekologi monster dan bagaimana cara menghadapi mereka.
Meskipun kepalanya terasa aneh, Tobio entah bagaimana tetap menjaga ketenangan pikirannya, dan dengan ekspresi patuh mulai mengisi kepalanya dengan informasi tersebut.
Inilah yang dipahami oleh Tobio—.
Makhluk-makhluk ini, mereka adalah monster dengan kemampuan khusus yang menakutkan dan kapabilitas fisik yang tinggi. Untuk serangan remeh, tidak akan mungkin bisa memotong daging di bawah kulit mereka. Biarpun berhasil dipotong, ketahanan mereka yang tidak biasa akan memungkinkan mereka untuk menutup luka tersebut dengan segera.
Untuk mengalahkannya, inti atau bagian kepalanya harus dihancurkan. Tampaknya inti tersebut berada di posisi yang jika pada manusia disebut sebagai jantung. Kelemahan mereka pada dasarnya tidak berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Namun, mereka jauh lebih kokoh daripada makhluk biasa.
Sepanjang berbicara, Natsume terus menyebut mereka sebagai “monster”.
“Video ini adalah bukti dokumentasi nyata tenang asal-usul monster-monster aneh itu, dan selama ini dirahasiakan oleh orang-orang seperti kita. Ini sama sekali bukan CG, bukan juga akting. Mereka adalah para siswa kelas dua SMA Ryoukuu yang hilang dalam kecelakaan kapal waktu itu. Teman sekolah kita. Dan sekarang, mereka mengendalikan monster sungguhan. Berpasangan dengan monster masing-masing, mereka tampaknya dijuluki sebagai—Utsusemi.” Natsume mengatakannya dengan nada yang teramat datar.
Lavinia kemudian menimpali. “Yang kami maksud dengan Utsusemi adalah makhluk tiruan yang diciptakan oleh organisasi tertentu di negara ini. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan supernatural buatan—yang bisa dikategorikan sebagai Inou Tsukai (Pengguna Kemampuan Khusus). Dan saat ini, mereka sedang dimanipulasi oleh organisasi tersebut.”
…Dalam situasi saat ini, tak ada yang benar-benar bisa dikatakan.
…Tobio berpikir itu adalah cerita yang kelewat konyol.
Kekuatan supernatural untuk mengendalikan monster? Diciptakan oleh sebuah organisasi di suatu tempat di Jepang? Terlebih lagi, memanipulasi teman-teman sekolah untuk menyerang mereka? Ini seperti cerita dari manga atau film fiksi. Jika ia tidak mengalaminya sendiri, ia pasti tidak akan pernah percaya. Ia akan menilainya sebagai khayalan gila seseorang.
Namun—ia tak punya pilihan selain memercayainya. Kenyataan bahwa mereka dikejar dan diserang oleh sesosok monster adalah nyata. Begitu pula dengan makhluk yang melawan monster itu—anak anjing hitam yang menumbuhkan bilah tajam dari dahinya.
Melihat anak anjing yang meringkuk di sampingnya, keadaan memastikan bahwa Tobio tidak mampu menyetujui bahwa ini adalah pernyataan yang gila dan sembrono.
Natsume kembali melanjutkan.
“Para Utsusemi, para operator yang mengendalikan monster—tubuh mereka hanya bisa berfungsi sebagai satu set. Dan tubuh-tubuh itu, teman-teman sekolah kita yang berpartisipasi dalam karyawisata tersebut, jumlahnya ada 233 orang.”
Di hadapan Tobio yang masih kehilangan kata-kata, Natsume menegaskan demikian.
“Dan seakarang, mereka telah kembali ke Jepang demi menghabisi para siswa yang selamat—aku, dan kau.”
“Ini tidak lucu!”
Tobio melontarkan beberapa kata kecaman.
Itu tentu saja wajar. Itu karena ia sedang diincar oleh teman-teman sekolahnya yang telah menjadi monster.
Ini benar-benar bukan lelucon. Namun, apa yang terlintas di pikirannya adalah monster-monster yang telah menyerang sebelumnya—para Utsusemi. Kebencian yang mereka pancarkan, juga hasrat membunuh itu, terasa begitu nyata. Buktinya jelas: mereka benar-benar berniat menghabisinya secara langsung.
Natsume kembali bersuara.
“Tidak salah lagi, kita akan terus diincar ke depannya. Mereka telah diarahkan untuk mengincar kita yang selamat karena tidak berpartisipasi dalam karyawisata itu. Itu karena organisasi yang memanipulasi mereka dari balik bayang-bayang berhasrat untuk menangkap kita dengan cara apa pun.”
“Tunggu sebentar…. Kenapa mereka mengincar kita?”
Pertanyaan yang paling ingin Tobio ketahui jawabannya. Apa sebenarnya alasan utama mereka mengincar dirinya dan Minagawa Natsume—setelah memikirkannya matang-matang, hanya itu yang bisa Tobio pikirkan. Dengan hati-hati, Tobio melirik ke arah anak anjing yang duduk di sampingnya.
Sambil menoleh juga ke arah elangnya, Natsume berbicara.
“Sepertinya memang karena hal itu. Griffon milikku, anak anjing milik Ikuse-kun itu, adalah hal-hal yang serupa namun sepenuhnya berbeda dengan monster yang mendampingi mereka.”
“—Pusaka Suci. Mereka disebut Sacred Gear. Kasarnya, itu adalah sebutan untuk kekuatan tak biasa seperti ini. Namun, kekuatan kalian ini bersifat alami—kalian terlahir dengan kekuatan ini. Ini sebenarnya bukan hal yang langka. Banyak tokoh yang namanya tercatat dalam sejarah serta para atlet sukses modern yang tanpa sadar memiliki kekuatan seperti itu. Hanya saja, agar kekuatannya bisa mewujud ke dalam bentuk nyata, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi, sang pemilik harus memiliki kapasitas kemampuan dalam jumlah tertentu.” Lavinia berbicara dengan acuh tak acuh. Ia tampaknya sedang menderita penilaian dari tempat lain.
“Jika dijelaskan secara lebih mendetail, makhluk yang lahir bersama dirimu dan Natsume diklasifikasikan sebagai Sacred Gear tipe ‘Avatar Independen’. Sementara itu, para Utsusemi adalah tiruan buatan manusia dari Sacred Gear tipe tersebut.”
……Istilah-istilah asing yang tak bisa dipahami terdengar satu demi satu, otak Tobio berada di ambang kejenuhan total.
…Pusaka Suci? Sacred… Gear…? Itulah identitas asli anak anjing miliknya dan elang milik Minagawa Natsume, dan monster-monster yang mendampingi para siswa yang menyerang mereka… itu semua hanyalah replika palsu dari mereka?
Natsume melanjutkan ceritanya tanpa memedulikan hal itu.
“Organisasi yang menggerakkan Utsusemi sangat berambisi untuk menangkap orang-orang seperti kita, apa pun caranya. Kemampuan kita yang gagal mereka amankan saat tragedi di lokasi adalah sesuatu yang mutlak mereka butuhkan. Demi mencapai tujuan itu, mereka sengaja memanfaatkan karyawisata tersebut dan memanipulasi para siswa SMA Ryoukuu. Dengan membuat mereka hilang tanpa jejak, organisasi tersebut tampaknya berpikir bahwa perubahan situasi ini akan menguntungkan bagi mereka. Dengan menggunakan teman-teman sekolah kita, aku penasaran apakah mereka berpikir mereka bisa membuat kita lengah. Dan sekarang, monster yang menyerang kita sendirian tadi… tampaknya adalah salah satu dari mereka yang sedang dimanipulasi.”
“Kenapa dari tadi kau terus-terusan bilang ‘tampaknya’ dan ‘semacam itu’? Lagi pula, siapa yang mengajari Minagawa-san hal-hal ini?”
Tobio menanyakan hal ini kepada Natsume, saat gadis itu mengeluarkan DVD dari pemutarnya. Dengan DVD di satu tangan Natsume menjawab, “Aku diajari oleh orang yang memberiku ini. Orang yang dianggap sebagai [Gubernur Jenderal] mereka. Ketika aku menerima rekaman video ini, yang baru saja kutunjukkan pada Ikuse-kun, aku menerima penjelasan ini.”
Bagi Natsume dan sekarang Tobio juga, tak ada yang bisa menyembunyikan kegelisahan mereka. Bahkan Natsume telah menderita hal-hal yang tak bisa diterima seperti itu, seperti tidak siap menghadapi serangan berturut-turut oleh para Utsusemi.
“Selain itu, aku menerima tiga butir ‘telur’ dari [Gubernur Jenderal] itu. Akulah ‘petugas’ yang diserahi tanggung jawab untuk mendistribusikan telur-telur tersebut. Diberi pekerjaan aneh seperti itu, aku jadi heran. Ugh.”
“Orang macam apa dia? [Gubernur Jenderal] ini.”
Natsume juga menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Tobio.
“Hmm, aku pun tak tahu. Tampaknya Lavinia dan penghuni lain yang tinggal di sini mengetahui tentang dirinya, tetapi sejauh membahas identitas asli [Gubernur Jenderal], hal itu dijaga sebagai rahasia. Namun, aku diberi tahu bahwa Ikuse-kun dan aku akan bisa semacam menemuinya begitu aku menyerahkan telur terakhir.”
“…Benar juga, aku penasaran sejak tadi. Apa sebenarnya ‘telur’ itu?”
Natsume menimpali sesaat kemudian.
“Itu adalah ‘telur’ manifestasi Sacred Gear. Bahkan Griffon-chan-ku juga lahir dari ‘telur’ itu. Itu seharusnya menjadi sesuatu yang demi memancing keluar kemampuan bawaanku. Dia mengatakan sesuatu tentang hal itu yang bertindak seperti perangkat pemicu kemampuan. [Gubernur Jenderal] melakukan penelitian semacam itu. Maksudku, bukankah anak anjingmu juga lahir dari sana? Itu sebuah kejutan, bukan! Bahwa anjing dan burung akan lahir dari dalam sana!”
—Ia menjawab dengan ceria.
Mendengar jawaban Natsume, Tobio menatap anak anjing hitam yang sedang mengibas-ngibaskan ekornya di dekatnya.
…Tidak, anak anjing ini tidak menetas dari ‘telur’. Anjing ini telah muncul dari bayangannya sendiri. …Mungkinkah itu memiliki semacam signifikansi tertentu….
Namun, ‘telur’ itu kosong. Mungkin benda itu memang sudah menetas waktu itu, jadi itu bisa menjadi hal yang telah termanifestasi.
Natsume dengan lembut mengelus kepala Griffon yang sedang bertengger di sandaran kursi.
“Griffon-ku—elang ini sudah menolongku berkali-kali. Selain itu, [Gubernur Jenderal] itu pernah bilang, ‘Hanya makhluk-makhluk ini yang bisa menolong kalian. Mereka akan menyingkirkan bahaya apa pun yang menimpa kalian. Ini adalah takdir bagi mereka yang terlahir dengan Sacred Gear.’”
…Sungguh cerita yang tidak masuk akal.
Di tengah kebingungannya, hati Tobio dipenuhi dengan amarah yang tak tahu harus diluapkan ke mana.
Semua ini berarti dirinya dan Minagawa Natsume memiliki kekuatan supernatural. Lalu, ada organisasi tertentu di negara ini yang menginginkan kekuatan mereka, hingga menyerang kapal pesiar mewah tersebut. Namun, karena mereka tidak berada di dalam kapal, akibatnya justru teman-teman sekolah mereka yang menjadi korban dan hidupnya hancur, begitu pula dengan para kru kapal yang sama sekali tak tahu apa-apa. …Apakah karena mereka—tidak, apakah karena dirinya sehingga pengorbanan sebesar ini harus terjadi di dunia ini?
Apakah ini salahnya jika Sasaki… teman-teman sekelasnya, dan sekarang Sae, menjadi tawanan mereka, dan dimanipulasi…?
…Lalu sekali lagi, di sisi lain, apakah mereka bahkan masih bisa dianggap hidup…?
Sae—apakah kau masih hidup?
“…Hanya ada satu hal yang ingin kutanyakan, semuanya… apakah teman-teman sekolah kita masih hidup?”
Ia tak bisa menerimanya. Kehilangan teman-teman sekolah secara sepihak dan tak bisa diantisipasi ini. Mereka telah diubah menjadi Utsusemi atau semacamnya demi memerintah monster. Itu adalah—kesalahan mereka.
Sae telah direnggut oleh orang-orang tak dikenal itu, dan keberadaannya telah diubah untuk mendampingi sesosok monster….
Natsume tersenyum lebar.
“Ya, mereka hidup. Bahkan sahabatku sendiri, meski sekarang sudah menjadi Utsusemi, sudah pasti masih hidup.”
“—!!!”
Mendengar kalimat itu, secercah harapan membuncah di dalam hati Tobio.
…Mereka hidup. …Sae juga hidup…!! Tidak peduli bagaimanapun kondisinya saat ini… Sae belum mati!! Dia masih hidup!
Seketika itu juga, perasaan lega yang membawa vitalitas dan energi yang luar biasa besar meluap dari dalam diri Tobio.
Sampai beberapa waktu lalu, akibat serangkaian insiden yang tak masuk akal, rasa takut terhadap monster mendominasi jiwanya, tetapi sekarang ia dapat memahami bahwa ia tidak boleh tidak percaya jika ia ingin mengumpulkan kekuatannya.
—Untuk Sae dan teman-teman sekelasnya yang sedang dikendalikan, apakah benar-benar tak ada cara untuk membalikkan prosesnya?
Pada saat itu, Natsume terus berbicara sambil mengamati wajah Tobio yang tampak bersemangat.
“Jadi, mari kita ganti topik di sini. …Maukah kau bekerja sama denganku?”
Sambil tersenyum, Natsume mengajukan usulan itu.
“Kau harus bekerja sama denganku. Dan setelah membentuk tim, bersama-sama kita akan menghancurkan organisasi di balik para Utsusemi itu. Lagi pula, bukankah terlalu mencemaskan jika bergerak sendirian? Melawan sekitar 200 orang atau lebih? Jumlah murid yang selamat karena tidak ikut karyawisata bahkan tidak sampai sepuluh orang. Hitungan kasarnya sederhana, itu berarti jatah lebih dari 20 musuh untuk setiap orang. Kalau kita bertindak ceroboh, jumlah itu bisa saja bertambah.”
“‘Kalau kita bertindak ceroboh’, apa maksudmu?”
“Bukan tidak mungkin ada lagi dari kita, para penyintas yang tersisa, yang akan tertangkap, 'kan?”
Tiba-tiba, Natsume mengucapkan kalimat yang mengerikan itu dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi.
“Biasanya, aku tidak akan sudi melawan teman sendiri. Karena aku dekat dengannya, karena dia adalah gadis yang sangat baik. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan ragu jika dia muncul di hadapanku.”
Ia bisa merasakan tekad yang kuat dari nada bicara Natsume.
“Dari dua orang yang menyerangku tadi, yang berkacamata adalah teman dekatku. Sejak awal masuk SMA, aku selalu bersama dengan teman itu. Dia berniat membunuhku tanpa ragu sedikit pun…. Berulang kali aku berteriak agar dia berhenti tapi, gadis itu benar-benar dipenuhi dengan niat membunuh hingga ke batasnya. Setelah itu, ketika aku diberi tahu oleh [Gubernur Jenderal] tentang serangkaian keadaan ini, sudah jelas bahwa ada sesuatu yang lahir di dalam diriku—gadis itu hidup. Jika mereka hidup, maka aku bisa menyelamatkan mereka! Sekarang pikiran Ikuse-kun pasti telah mencapai kesimpulan yang sama.”
Natsume menyatakan keputusannya untuk membulatkan tekad agar sesekali bertarung melawan teman-teman sekelas tersebut.
Tobio mengamati mata Natsume. Berbeda dari saat gadis itu menggunakan gaya bercanda, ia memancarkan raut wajah ketahanan dan keseriusan. Kekuatan terpancar dari pupil matanya.
Itu adalah sebuah kesopanan. Usulan terbesar darinya. Mengingat situasi saat ini, dua orang terasa lebih menenangkan daripada satu orang. Ketika bertarung melawan monster-monster itu, seperti saat mereka menyerang rumahnya, adalah pendekatan yang bagus untuk mencapai komponen kecil dari kemenangan.
Tiba-tiba, ia mengarahkan pandangannya ke arah anak anjing hitam yang duduk di depan matanya. Mampu menumbuhkan bilah tajam di kepalanya, dan bahkan mengubah tubuhnya menjadi objek seperti pedang raksasa. Makhluk itu jelas merupakan sejenis monster. Tapi—. Berbeda dengan monster yang menyerangnya, ia tak bisa merasakan permusuhan atau kebencian apa pun. Hanya saja pupil mata itu memancarkan pancaran cahaya yang begitu lembut.
…Untuk menganggapnya sebagai sekutu. Untuk percaya bahwa secercah harapan dapat diperoleh bahkan dalam keadaan aneh ini.
Walaupun itu hanyalah sebuah pengganti yang telah mengatasi kenyataan, jika ia memiliki “kekuatan” untuk mengubah keadaan saat ini—ia akan bergantung padanya.
“—Aku akan menyelamatkan mereka, semuanya.”
Dan kemudian, Sae akan—.
Pernyataan Tobio terdengar begitu kuat. Ketetapan hati dan tekad baru kini lahir di dalam benaknya, tujuannya telah diputuskan.
Misalnya, sekalipun teman sekelasnya akan menyerang, ia tidak akan ragu untuk menumbangkan mereka. Ia percaya itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka—. Hal itu mungkin akan ia hadapi di jalan yang membentang di depan, demi melawan keberadaan yang telah memutarbalikkan takdir mereka. Dari cengkeraman orang-orang itulah, ia akan menyelamatkan semuanya. Pada saat itu tiba, semua yang telah dirampas akan dikembalikan.
“Ya!”
Natsume menunjukkan raut wajah yang benar-benar terkejut. Barangkali, itu karena dia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu.
Sembari melangkah mendekat, ia memajukan wajahnya untuk memastikan ekspresi Tobio dengan mata kepalanya sendiri.
“Terima kasih! Sungguh, terima kasih banyak!”
Sebelum ia selesai berbicara, ia telah menggenggam tangan Tobio dan menjabatnya dengan penuh semangat.
“A-aah…. Kalau bukan karena bantuanmu, kurasa aku tidak akan bisa menghadapi semua ini sendirian.”
Hanya dengan mendengar keputusan Tobio, seluruh wajah gadis itu merekah menjadi senyuman sembari membentuk pose kemenangan.
“Baiklah, dengan ini kita sudah mendapatkan teman seperjuangan keempat kita!”
“Keempat?”
Dengan pikiran bingung, Tobio balik bertanya. Natsume lalu menunjuk jarinya ke arah gadis berambut pirang di sana.
“Benar, Lavinia juga sekutu kita. Lalu, ada personel pendukung penting dari pihak [Gubernur Jenderal]. Maksudku, meskipun penghuni apartemen ini semuanya punya latar belakang yang rumit, mereka bukan orang jahat, kok. Aku akan memperkenalkanmu nanti. Tapi, dia hanyalah bocah kurang ajar. Lalu, tersisa satu orang lagi, cowok yang perlu kuserahkan ‘telur’ terakhir kemarin. Dia juga termasuk dalam kelompok penyintas SMA Ryoukuu.”
Tanpa ekspresi, Lavinia mengangkat tangannya.
“Salam kenal dariku. Kasarnya, aku adalah seorang gadis penyihir.”
…Ga-gadis penyihir…? Dari pernyataan Lavinia, bayangan tentang fenomena kobaran api yang terjadi di jalanan tadi mendadak terlintas di dalam benak Tobio.
Meskipun Tobio tidak punya pilihan lain selain memiringkan kepalanya, Natsume yang tampak riang langsung menyatakan:
“Kalau begitu, tindakan kita selanjutnya sudah diputuskan!”
“Tindakan selanjutnya?”
“Eeh, sekarang kita harus bergabung dengan cowok yang telah kukirimkan salah satu ‘telur’ kepadanya. Cowok itu juga pindah ke tempat persembunyian ini untuk sementara waktu, hanya saja entah kenapa dia pergi keluar. Padahal, karena teman-teman sekelas yang merupakan Utsusemi juga selamat, rasanya aneh kalau menganggap diri kita sebagai penyintas.”
Kepada Natsume yang menggerutu sambil menggumamkan sesuatu, Tobio bertanya lagi.
“Omong-omong, siapa dia?”
“Dia adalah Samejima Kouki. Pokoknya, mari kita jadikan gedung apartemen ini sebagai markas utama kita.”
Samejima Kouki—Tobio tersentak begitu mendengar nama itu.
Itu bukanlah nama yang belum pernah ia dengar. Di SMA Ryoukuu dulu, dia dikenal sebagai salah seorang berandal—.

Post a Comment