SLASHDOG Jilid 1 Bab 3
Bab 3 Teman Seperjuangan/Orang Keempat
1
Tobio menyambut pagi di salah satu kamar di ‘tempat persembunyian’ tersebut. Kamar itu sangat sederhana, hanya ada satu tempat tidur dan sebuah meja tulis. Melihat anak anjing hitam yang meringkuk tidur di ujung tempat tidur, ia kembali menyadari kebenaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi kemarin. Sembari berbaring di tempat tidur, Tobio mengembuskan napas.
…Ia juga telah menemukan secercah harapan di tengah keputusasaan. Bagaimanapun juga, meski telah diserang oleh kenyataan yang sulit diterima, ia tetap ingin menyelamatkan semua orang… untuk menyelamatkan Sae.
Tobio kembali membulatkan tekad di dalam hatinya. Setelah mendapatkan ketetapan hati yang kuat, Tobio memikirkan kembali tujuan mereka hari ini di dalam benaknya.
—Pergi untuk menemui salah seorang berandal dari SMA Ryoukuu yang bernama Samejima Kouki.
Sembari masih berada di atas kasur, Tobio mengingat kembali apa yang ia ketahui tentang Samejima Kouki. Terakhir kali ia melihat pemuda itu adalah saat upacara pemakaman bersama untuk teman-teman sekelas mereka. Itu terjadi beberapa minggu setelah kecelakaan kapal pesiar “Heavenly of Aloha”—.
Tobio ingat bahwa hari itu cuacanya sangat cerah. Di bawah langit biru tanpa awan, upacara pemakaman bersama itu dilaksanakan dengan khidmat. Nasib dari 233 siswa SMA Ryoukuu memang masih belum menemui titik terang antara hidup atau mati, tetapi harapan akan keselamatan mereka tampaknya sudah dianggap pupus.
Jasd para guru, serta para kru kapal “Heavenly of Aloha” berhasil ditemukan, dan mereka turut disemayamkan dalam pemakaman bersama tersebut.
Di luar gedung persemayaman, area sekitar dipadati oleh awak media yang berkerumun setelah mengendus informasi, membuat peristiwa ini disiarkan secara besar-besaran di TV.
Upacara pemakaman itu diadakan atas nama seluruh orangtua yang berduka. Pemakaman tersebut tetap dilaksanakan di bawah keadaan di mana status hidup atau mati mereka masih belum bisa terkonfirmasi. Keluarga yang ditinggalkan tampak berduka, tetapi Tobio merasa janggal dengan betapa rapi dan lancarnya upacara pemakaman tersebut berlangsung.
Kursi untuk para siswa yang seperti Tobio, yang selamat karena tak berpartisipasi dalam karyawisata, jumlahnya kurang dari sepuluh kursi. Ada beberapa kursi yang kosong. Ada seorang perwakilan murid yang berdiri di depan mikrofon, mengucapkan kata-kata perpisahan. Mendengarkan kata-kata itu, isak tangis mulai terdengar dari keluarga yang berduka.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Benar-benar ada perasaan seolah-olah pemakaman ini hanyalah pertunjukan sandiwara saja. Dari keluarga yang berduka, terutama mereka yang merupakan orangtua siswa, kesedihan mereka memancarkan perasaan yang mirip dengan sebuah pertunjukan panggung. Keluarga siswa yang berduka, di luar tangisan mereka, tak tampak seperti orang-orang yang benar-benar sedih, dan terlepas dari situasinya, tak memiliki penampilan yang kuyu. Di tempat itu, ia secara nyata merasa seolah-olah itu hanyalah penampilan dari emosi duka yang menutupi sikap masa bodoh.
Setidaknya pada saat pemakaman neneknya dulu, tak ada rasa ketidaknyamanan yang aneh seperti itu. Pemakaman itu hanya menyimpan rasa sedih yang muncul akibat berpisah dengan orang yang dicintai.
Terlepas dari keraguan Tobio, pemakaman itu terus berjalan. Setelah dipikir-pikir lagi, “ketidaknyamanan” yang ada pada tahap itu tampaknya terikat dengan insiden saat ini.
Pemakaman telah berlangsung dan waktu penutupan pun sudah hampir tiba. Kemudian, pintu dilemparkan terbuka dengan keras oleh seseorang yang masuk. Berusia sebaya dengan Tobio, dia adalah seorang anak laki-laki dengan rambut berwarna cokelat muda. Semua orang yang hadir langsung memfokuskan pandangan pada penampilannya. Di tangan anak laki-laki itu tergenggam sebuah buket bunga.
Seorang berandal telah menyusup masuk dengan cepat dengan sikap yang sangat tidak sopan. Dengan ekspresi ketus di hadapan mendiang, dia berdiri dan menatap sebuah foto peringatan tertentu. Sosok dalam foto tersebut, orang itu adalah seorang anak laki-laki berwajah galak dengan rambut yang juga berwarna cokelat.
Kemudian, dia meletakkan buket bunga yang dibawanya dengan lembut di atas altar.
“Dasar bodoh….”
Bahkan tanpa menangkupkan kedua tangannya, dia hanya berkata demikian, lalu segera membalikkan tumitnya untuk pergi. Setelah muncul seperti angin, berandal itu pergi dan menghilang seperti angin pula.
Bagi Tobio, apa yang meninggalkan kesan terbesar baginya dari pemakaman bersama itu adalah pemandangan yang satu ini.
Dia adalah Samejima Kouki. Berandal yang paling ditakuti di SMA Ryoukuu.
Sambil menatap ke arah langit-langit, fuu… mengembuskan napas dalam-dalam, Tobio kembali membenamkan kepalanya ke bantal.
“…Berandal nomor satu di Ryoukuu… Samejima.”
—Biarpun ia tak memiliki ingatan apa pun sebelumnya tentang Minagawa Natsume, ia masih bisa mengingat Samejima Kouki dengan jelas.
Dengan ejekan pada diri sendiri seperti itu, ia menutupi matanya dengan lengan. Mengenai situasi pemuda di SMA itu, karena dia menyandang gelar berandal seperti itu, ia berpikir hanya karena itulah ia bisa mengingatnya. Samejima Kouki adalah tipe orang yang harus dihindari selama kehidupan sekolah sehari-hari.
“Shark bukanlah orang jahat.”
Suara seperti itu terdengar dari arah dekat. Itu adalah suara seorang gadis. Tobio melonjak bangun dan mulai memeriksa tempat tidur. Ia menarik selimutnya dan di sana ada—.
“Selamat pagi.”
Mengenakan kemeja putih berkancing satu yang kebesaran adalah sosok gadis berambut pirang—itu adalah Lavinia.
“A… app…!”
Tobio tak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas saat dihadapkan pada kejadian yang teramat mengejutkan ini. Selama hidupnya, sesuatu seperti berada di tempat tidur yang sama dengan seseorang yang berlawanan jenis tak pernah terjadi (tepatnya hal itu pernah terjadi ketika ia tidur siang bersama Sae saat mereka masih kecil, tetapi karena mereka masih anak-anak, itu tak dihitung) jadi ini adalah kejutan yang sangat besar bagi dirinya.
Apa yang kini mendobrak masuk ke dalam pandangannya—adalah kulit putih seputih salju yang terlihat jelas dari paha gadis itu serta payudara montoknya. Karena ia hanya mengenakan selembar kemeja saja, kaki Lavinia hampir sepenuhnya terekspos. Sebuah pemandangan yang beracun bagi anak laki-laki SMA yang sehat, tetapi juga sekaligus menjadi obat. Dengan cahaya matahari yang mengalir masuk dari jendela, kemeja putih itu tampak menjadi transparan….
Sembari pipinya merona merah, Tobio membuang muka tak berani melihatnya sambil bertanya, “K-kenapa kau ada di sini…!”
Ia menyadari suara dirinya terdengar gugup, dan terlebih lagi ia merasa sangat malu.
Tanpa memedulikannya, Lavinia berbicara sambil mengucek matanya karena masih setengah tertidur.
“…Tadi malam aku bangun untuk pergi ke toilet. Hal berikutnya yang kusadari, aku sudah ada di tempat tidur ini.”
Hal berikutnya yang Lavinia sadari, ia sudah ada di tempat tidur ini—. Tak ada alasan bagi Tobio untuk bisa memercayai sesuatu yang teramat samar seperti itu, tak ada pula cara untuk mengetahui sudah berapa lama tubuh gadis itu berada di sini.
“Apakah ada masalah?”
Saat Lavinia sebaliknya memiringkan kepala dan bertanya, Tobio membalas, “Kau malah bertanya begitu kepadaku!” dan keduanya pun mulai berdebat kecil.
Tobio, setelah menyimpulkan suasana saat ini terlalu membingungkan, segera mengganti topik pembicaraan.
“…Jadi Shark itu, maksudnya Samejima?”
Sebelumnya, Lavinia mengatakan kata ‘Shark’. Pada saat itu, ia sedang menggumamkan nama Samejima. ‘Same (鮫) = Shark’, itu hal yang sederhana, tapi tampaknya memang begitulah adanya.
Lavinia menjawab tepat setelah menguap sekali.
“Benar sekali. Shark adalah Shark. Karena auranya benar-benar seperti hiu, kupikir itu sangat cocok.”
Samejima memiliki aura seperti hiu…. Apakah karena dia seorang berandal dan dianggap agresif? Tetap saja, ketika Samejima berada di SMA Ryoukuu, meski dia seorang berandal, dia adalah tipe orang yang popularitasnya di kalangan gadis-gadis terbilang sangat baik. Bisa dibilang tipe berandal yang tampan. Namun, omongan genit tak pernah sekalipun terdengar darinya, hanya pembicaraan tentang wajahnya yang gagah yang masuk ke telinga seseorang.
Lavinia melanjutkan bicaranya.
“Shark tampaknya tak kembali ke gedung apartemen ini tadi malam. Kemungkinan besar, kurasa dia sedang berada di luar untuk membasmi Utsusemi menggunakan Sacred Gear-nya.”
…Di luar membasmi Utsusemi, ya. Untuk menyebut hal itu teramat berani, itu sudah melampaui tindakan yang sembrono. Dia kemungkinan besar juga memiliki Pusaka Suci berwujud hewan, sesuatu seperti tipe Avatar Independen, sama seperti milik Minagawa Natsume. Jadi hal itu seharusnya bisa dilakukan jika lawannya adalah Utsusemi, tapi yang paling mengejutkan adalah ketahanan mentalnya. …Sesuatu seperti bertarung melawan monster-monster itu sepanjang hari, apakah dia bisa mengatasinya? Bagi Tobio sendiri, mustahil ia akan bisa menggunakan penilaian yang tenang. Hanya dengan mempertimbangkan tingkat kelelahan mental dan fisik, pendekatan seperti itu tampaknya sangat serampangan.
…Dibutuhkan tekad yang kuat untuk bisa pergi keluar seperti itu, tetapi apakah kepemilikan Samejima akan tujuan yang tak tergoyahkan seperti itu akan cukup? Baginya, untuk menghadapi pertempuran semacam itu sendirian hanya dengan temperamen tidak biasa dari seorang berandal biasa, hal itu sulit untuk dibayangkan.
Terlebih lagi, ada satu karakteristik khusus yang merepotkan dari “Utsusemi”. Tobio mengingat kembali informasi tentang “Utsusemi” yang ia terima tadi malam.
Utsusemi—monster yang mereka gunakan, begitu mereka telah mengingat bau lawan dari darah mangsanya, mereka bisa mengirimkan pengetahuan tentang aroma tersebut kepada sesama Utsusemi. Bagi Tobio, hal ini terjadi ketika Utsusemi yang dikerahkan oleh temannya, Sasaki, menyayat pipinya. Tampaknya makhluk itu telah mengingat bau dari darahnya sendiri yang tumpah pada saat itu. Utsusemi kemudian akan mengejar target mereka dengan melacak aroma lawan yang telah diingat pada satu kesempatan tersebut. Dan dengan demikian, Utsusemi telah menyerbu rumah Tobio.
Apakah ada tempat di mana ia bisa menemukan kelegaan di mana ia tak akan bisa ditemukan?
Sejak mereka mendobrak masuk ke rumahnya, ia tak terpikir untuk kembali—belum saatnya. Namun, bertolak belakang dengan keinginannya, teramat mudah bagi mereka untuk menyerang tempat itu. Guncangan batinnya tak terukur.
Sesuai yang ia dengar, Natsume juga sudah diserang di rumahnya, dan memberi tahu bahwa dia akhirnya berakhir di sini. Gadis itu saat ini tinggal di kamar lain di kondominium yang sama.
Kondominium yang telah disiapkan oleh [Gubernur Jenderal] ini, lokasinya berada di pinggiran kota. Tampaknya tempat ini terdiri dari beberapa struktur khusus, yang membuatnya menjadi tempat yang tak bisa ditemukan oleh Utsusemi dengan mudah.
…Sejak sebelumnya berada di rumahnya, ia sejak saat itu telah memperoleh pemahaman tentang pihak lawan. Tobio dan kawan-kawan sudah mendapatkan sejumlah informasi tentang keberadaan sesuatu seperti organisasi yang memanipulasi para Utsusemi. …Meski ia tak mengerti mengapa orang-orang itu tak bisa merebut kondominium ini. Tampaknya ia tak punya pilihan lain, bahwa demi menolong mereka yang telah diubah menjadi Utsusemi, mereka harus menemukan markas pihak lawan sebelum hasil seperti itu tercapai.
…Tak banyak waktu tersisa, pikirnya. Dalam waktu yang terbatas ini, bagaimana ia harus hidup, seberapa kuat ia harus menjadi—hal itu, Tobio bisa memahaminya, adalah dilema saat ini.
Tiba-tiba, Lavinia bertanya sambil melihat ke arah anjing hitam itu.
“…Toby, ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“A-ada apa?”
Sambil menatap anjing hitam itu dengan mata birunya, Lavinia menyatakan pertanyaannya.
“—Anjing kecil ini, apakah ia menetas dari ‘telur’? Maksudku, apakah ia memang muncul dengan cara keluar dari dalam ‘telur’ itu dengan menghancurkannya, bukan? Aku penasaran apakah ia terlahir dengan cara seperti itu.”
……
…Tobio tak bisa menemukan kata-kata untuk menjawab. Telur itu—benda itu memang telah pecah, tetapi isinya kosong. Anjing itu—ia telah muncul dari bayangannya sendiri. Pemandangan yang digambarkan gadis itu, di mana makhluk itu muncul dengan cara keluar dari dalam dengan menghancurkannya, ia tak pernah melihatnya.
“…Bagaimana kau bisa mendengar tentang hal itu?”
Sembari menelan ludah, Tobio menjawab demikian.
Lavinia—menatap tajam ke arah anak anjing itu. Mata biru dari si gadis muda dan mata merah dari si anak anjing.
“…Anjing kecil ini, ia jelas-jelas memiliki atmosfer yang berbeda dari apa yang dimiliki Natsume dan Shark.”
…Griphon milik Minagawa Natsume memiliki atmosfer yang berbeda…. Tobio tak menyuarakan perasaan tersebut pada saat itu, tetapi satu-satunya hal yang ia pahami secara intuitif yaitu ada sesuatu yang mencurigakan tentang keberadaan anak anjing tersebut.
“Toby, kalau anjing kecil ini juga merupakan sebuah Sacred Gear, ada aturan sederhana yang berkaitan dengan bentuk apa yang diambilnya, kemampuannya, dan bagaimana ia memanifestasikan kekuatannya.”
Lavinia mengatakannya secara langsung sambil meletakkan satu tangan di dadanya.
“—Kekuatan dari ‘hasrat’. Pusaka Suci—Sacred Gear menjadi kuat dari hasrat yang kuat, merespons kepada pemiliknya. Sudah hampir pasti bahwa anjing kecil itu merespons hasrat kuat milik Toby.”
…Kekuatan dari ‘hasrat’. Maksudnya, anak anjing hitam itu akan menjadi kuat sebagai respons terhadap hasrat-hasrat miliknya…?
Tobio juga ikut menatap anak anjing itu, sedangkan yang bersangkutan hanya menunjukkan tatapan kosong saja.
—Kemudian, saat Tobio dan Lavinia sedang menatap tajam ke arah anak anjing itu, terdengar ketukan di pintu yang telah dibiarkan terbuka.
“Selamat pa—. Pintunya terbuka—?”
Natsume muncul di dalam kamar sambil berkata demikian. Karena yakin ia telah mengunci pintu dengan aman saat masuk tadi malam, Tobio yang terkejut segera sampai pada pemikiran, “Jangan-jangan Lavinia yang membuka kuncinya saat dia datang ke sini?”
“Sudah pagi, tahu. Cepatlah bangun, semuanya sudah si—ap! Waaoh! Apa yang sedang kalian lakukan?”
Natsume terperanjat oleh situasi yang ia lihat di sini. Hal itu memang bisa diduga. Keadaannya sudah menjadi sama seperti sebuah kamar di mana seorang pria telah membawa seorang wanita ke tempat tidur.
“E-enggak, ini…!”
Ini adalah Tobio yang berdiri sembari menawarkan alasan yang tak memuaskan.
“Sungguh memalukan? Hal-hal seperti itu kadang diucapkan dalam manga Jepang pada saat-saat seperti ini.”
Kata-kata tak tertarik seperti itu keluar dari mulut Lavinia yang tak berekspresi. Seseorang akan tergoda di dalam hatinya untuk melontarkan Tsukkomi berupa, “Manga macam apa itu!?”
“Hei, oy oy oy oy oy! Aku enggak berbuat apa-apa!?”
Sambil menunjuk jarinya ke arah Tobio, yang tak bisa melakukan apa-apa selain panik mencoba menjelaskan, Natsume memanggilnya keluar.
“Ikuse-kun! Meskipun sangat bagus untuk memperdalam hubungan dengan teman baru, bukankah ini namanya memperdalamnya terlalu jauh!?”
“I-itu, ini…!”
Natsume melayangkan keberatannya saat ia mendekat hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat—ia tersenyum lebar.
“Cu—ma bercanda. Aku mengerjaimu. Lagi pula, Lavinia mengembara ke sini di tengah malam saat setengah tertidur, apakah aku benar? Dia selalu masuk ke tempat tidurku dengan cara yang sama. Selain itu, dalam penilaianku, Ikuse-kun sangat tulus jika menyangkut soal gadis-gadis.”
……
…Melihat ke arah Lavinia, ada perawan berambut pirang yang mengatakan, “Memang begitu” sebagai tanda setuju. …Kesalahpahaman itu kemungkinan besar sudah klir, tetapi hal ini sama sekali tak membuat pikiran Tobio merasa sepenuhnya puas.
Di ruangan tempat mereka menonton video pada malam sebelumnya, trio Tobio, Natsume, dan Lavinia menikmati late breakfast.
—Mengenai sarapan tersebut, apa yang telah tersaji di depan mata Tobio adalah sebuah teko dan mi cangkir. Natsume dan Lavinia mulai bersiap-siap, dengan terburu-buru menuangkan air panas.
Melihat hal itu, hanya ada satu hal yang bisa Tobio katakan.
“…Mi cangkir di pagi hari, ya.”
Tobio tak akan pernah bertahan hidup dengan makanan siap saji dan makanan cepat saji jika diberi pilihan. Sejak neneknya meninggal, tiga kali makan sehari yang dulu disiapkannya dengan begitu akurat dengan keseimbangan yang sangat baik telah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi ia rasakan. Namun, untuk ada situasi seperti dirinya yang tak bisa menyiapkan makanan yang layak, terkecuali saat ia sedang keluar bermain dengan teman-teman atau menjalankan urusan penting, hal seperti itu tak pernah terjadi. Namun, ketika ia memasak sendirian setelah neneknya meninggal, sebelum ia mulai menerima makanan yang disiapkan oleh teman masa kecilnya, Sae, ia telah menjadi teramat akrab dengan makanan kemasan yang buruk seperti itu.
Saat kedua gadis itu, tanpa menunjukkan perhatian khusus, mulai menuangkan air panas, Tobio berbicara kepada mereka berdua sambil berdiri.
“Omong-omong, aku sempat membawa beberapa makanan kaleng dan beberapa bumbu ketika aku meninggalkan rumahku. Aku juga bisa memasaknya. Jadi, errr, bahan-bahan apa yang kalian berdua miliki yang tak kupunya?”
Mendengar pernyataan Tobio—bukan, pernyataan seorang pemuda tentang makanan yang tak terduga, Natsume menjadi tercengang—.
“Y-ya, di ruang penyimpanan ada beberapa roti dan susu, dan seharusnya ada beberapa telur.” —Ia menjawab demikian.
“Ruang penyimpanan tersedia untuk digunakan bersama oleh semua penghuni yang tinggal di sini. Seharusnya ada beberapa bahan makanan yang bisa kaugunakan di dalam lemari es yang ada di sana.” Dari Lavinia yang telah mengangkat tangannya, ia telah menerima informasi yang sangat bagus.
“Aku mengerti. Kalau begitu, bisakah kalian menunggu 20 menit saja? Aku akan menyiapkan sarapan.”
Memberi tahu mereka berdua hal itu sambil tersenyum, Tobio pergi untuk mengumpulkan bahan-bahan makanan.
—20 menit kemudian.
Berjejer di atas meja, menunya terdiri dari sebuah cangkir plastik yang diisi dengan potongan sayuran yang dicelupkan ke dalam mayones, roti lapis tuna, dan roti panggang Prancis yang dihiasi selai untuk hidangan penutup.
Melihat hal ini, Natsume yang terang-terangan terpesona berseru riuh, “Luar biasa, luar biasa!” Ekspresi wajah Lavinia tampaknya tetap tak berubah, namun matanya terpaku pada roti panggang Prancis tersebut.
Tobio berbicara sambil melipat celemek.
“Mohon maaf, baik roti lapis tuna maupun roti panggang Prancis sama-sama menggunakan roti, meskipun untuk saat ini, aku bisa menyiapkan hidangan ini yang kesannya hanya ala kadarnya.”
Mengingat keadaan yang ada, demi membuat para gadis itu memakannya, Tobio telah menyiapkan sesuatu yang hanya sedikit lebih lezat, menyajikan menu yang sederhana dan bisa dimakan dengan cepat.
Namun, Natsume, salah satu gadis yang dimaksud, meraih tangan Tobio dan dengan cepat mengguncangnya ke atas dan ke bawah dengan rasa gembira yang luar biasa.
“Ini luar biasa, Ikuse-kun! S-sudah pasti, aku tak menyangka kau adalah tipe pemuda yang bisa memasak! Iya—, aku mungkin telah menemukan sebuah temuan yang bagus.”
…Temuan, ya. Tobio sedikit bingung dengan respons itu, tetapi, karena segalanya tampak berakhir dengan menyenangkan, ia berpikir pasti ada makna yang baik di balik hal tersebut.
Lavinia, yang sudah mulai makan, mengeluarkan kata “Ottimo” dari mulutnya sambil mengunyah.
Ottimo—itu adalah kata dalam bahasa Italia untuk “lezat”. Berdasarkan hal itu, apakah itu berarti Lavinia berasal dari Italia? Bicara tentang hal itu, Tobio teringat ada seorang pelukis Italia terkenal dengan nama yang sama seperti Lavinia.
“Karena mi cangkirnya sudah telanjur dibuka tutupnya, aku akan membawakannya untuk Vaa-kun setelah ini.” Lavinia berkata demikian sambil melihat ke arah wadah mi cangkir tersebut.
“Vaa-kun?” Tobio mengajukan pertanyaan setelah mendengar nama yang asing bagi dirinya. Natsume mengembuskan napas.
“…Dia bocah lancang yang tinggal di apartemen ini yang kusebutkan tadi malam. Alasan mengapa kami hanya makan mi cangkir selama ini, anak itulah yang memberikan mi cangkir itu kepada kami. Dia sedang melewati masa pertumbuhan yang benar-benar tak sehat. Tapi sekarang kami benar-benar dijamu oleh masakan Ikuse-kun!”
…Seseorang tak bisa menahan diri untuk tak bertanya-tanya, orang-orang seperti apa yang tinggal di kompleks apartemen ini? Respons yang lebih baik dari perkiraan ini membuat Tobio merasa sedikit gugup.
Natsume mulai memakan hidangan yang telah selesai disiapkan oleh Tobio.
“Kalau begitu, sehubungan dengan rencana hari ini, kita akan pergi menemui Samejima-kun seperti yang kujelaskan tadi malam.”
“Itu tidak masalah, tapi apakah kita tahu di mana dia berada? Atau jangan-jangan, kau sudah menghubunginya dan dia sedang dalam perjalanan kembali ke sini?”
Menanggapi pertanyaan Tobio, Natsume mengeluarkan ponselnya.
“Menghubunginya… tak ada gunanya. Sebagai jaga-jaga, aku memang memastikan untuk memaksa Samejima-kun memasukkan nomor teleponnya, tetapi aku tak pernah bisa tersambung karena dia tampaknya tak pernah menyalakannya. Aku tak bisa menahan diri untuk tak bertanya-tanya jangan-jangan dia hanya memberiku nomor palsu.”
Atau mungkin dia mengabaikan semua panggilan telepon. Dengan kata lain, tak ada cara untuk menghubunginya dari sini. Hasilnya, dia tampaknya melakukan apa pun yang dia mau tanpa diketahui oleh orang lain.
Kalau begitu, itu berarti keberadaan Samejima Kouki sama sekali tak diketahui. Apakah itu berarti para Utsusemi sudah…. Meskipun asumsi dan dugaan terburuk mulai bermunculan di benak Tobio, Lavinia berkata, “Tak apa-apa. Karena aku sudah menempatkan tanda persamaan sihirku pada Shark, posisinya bisa ditentukan.”
Suara Natsume berseru, “Seperti yang diduga dari seorang gadis penyihir.” Sampai baru-baru ini, Tobio pasti akan mengernyitkan alisnya kepada siapa pun yang mengaku sebagai “gadis penyihir”.
Lavinia mengeluarkan sebuah tongkat kayu kecil dari saku dadanya, yang mulai memancarkan cahaya biru dari ujungnya.
Tobio kehabisan kata-kata melihat fenomena ini. Meskipun ia ingin memercayai bahwa cahaya di ujung tongkat itu adalah semacam trik, dengan mengingat keadaan di sekitarnya, tampaknya apa yang disebut gadis penyihir ini tak selalu merupakan lelucon belaka.
Lavinia segera berdiri, dan berputar sekali. Setelah itu, tongkat tersebut terlihat memancarkan cahaya yang jauh lebih terang saat diarahkan ke arah tertentu.
Sambil menunjuk ke arah itu, Lavinia berbicara.
“Shark ada di sebelah sana, di arah ini. Namun, reaksinya agak buruk. Kemungkinan, itu adalah tempat yang sulit dijangkau oleh sihirku… mungkin musuh sudah memasang medan kekuatan yang aku tak tahu bagaimana cara menembusnya.”
Mendengar hal itu, Natsume bertanya.
“Dengan kata lain, Samejima-kun menerobos ke suatu tempat sendirian melawan kerumunan musuh?”
Lavinia mengangguk dalam diam. Natsume menunjukkan tampang kesal di wajahnya.
“…Si Yankee itu, menjadi begitu asyik mengalahkan musuh, dia kemungkinan besar langsung pergi menuju perkemahan lawan tanpa diundang, bukan…?!”
Natsume, sambil mengertakkan giginya, mengepalkan tangannya yang gemetar. Sambil menunjukkan senyum masam, matanya telah berubah menjadi pandangan penuh amarah. Ia melangkah menuju pintu masuk dengan membuat langkah kaki yang sangat bising.
“Aku akan menangkap si Samejima Kouki itu! Terlepas dari kesiapan tempur kita, itu bukan alasan untuk meninggalkannya di luar sana sendirian!”
Bergabung dengan Samejima—. Itu berarti dimulainya kembali pertempuran melawan Utsusemi—teman-teman sekolah mereka sendiri.
2
Setelah meninggalkan tempat persembunyian gedung apartemen, ketika mereka telah tiba di pusat kota, Minagawa Natsume menyerahkan sebuah kartu mikro SD kepada Tobio.
“Itu berisi data tertentu yang telah disiapkan oleh [Gubernur Jenderal]. Aplikasinya bisa dipasang dengan bebas dengan memasukkan kartu tersebut ke dalam ponsel. Cepat lakukan sekarang.”
Sembari diburu-buru olehnya, Tobio mengeluarkan ponselnya sendiri. Ponsel itu masih dalam keadaan mati sejak tadi malam. Setelah menerima penjelasan Natsume soal tak menghubungi polisi, dan tak ada gunanya melibatkan orang lain, ia secara sukarela mematikan ponselnya.
…Seandainya ia membiarkannya tetap menyala, dan ia menerima panggilan dari seorang teman, ia takkan bisa mengatakan apa-apa dengan kondisi mentalnya saat ini. Mulai hari ini dan untuk waktu mendatang yang tak bisa ditentukan, ia tak bisa menghadiri sekolah. Ia tak memiliki ekspektasi untuk bersekolah. Ini dilakukan demi tak melibatkan siswa yang ada saat ini, karena tampaknya ada kemungkinan besar mereka akan ikut tertangkap oleh musuh jika ia pergi ke sekolah. Sampai insiden ini diselesaikan, ia tak bisa kembali ke rutinitas biasanya.
Saat ia memasukkan kartu yang ia terima dari Natsume ke dalam ponselnya, aplikasi tersebut mulai terpasang secara otomatis, dan aplikasinya pun berjalan.
Foto-foto anak muda muncul di layar. Itu adalah daftar foto dari dua ratus tiga puluh tiga siswa yang telah menjadi Utsusemi.
“Demi langkah penanggulangan di masa depan, tak ada ruginya untuk menghafal wajah-wajah lawan kita.” Natsume berkata demikian.
Orang-orang yang ia kenal, orang-orang yang tak ia kenal, semuanya ditampilkan secara berturut-turut di layar.
—Ada juga banyak teman-teman sekolah yang tak dikenal.
Di antara dua ratus tiga puluh tiga siswa kelas dua SMA Ryoukou yang telah menjadi Utsusemi, ada teman sekelas yang ia kenal dekat, dan ada pula siswa dari kelas lain yang ia ketahui hanya dari penampilannya. Namun, mayoritas adalah orang-orang yang namanya tak bisa ia cocokkan dengan wajah mereka.
Memang begitulah adanya. Karena ia bukan seorang guru, sesuatu seperti mencocokkan semua nama dan wajah teman-teman sekolahnya adalah hal yang tak bisa ia lakukan.
Namun, ia berterima kasih atas aplikasi ini. Ketika waktunya tiba, ini akan berfungsi sebagai referensi. Terkait mereka yang tampaknya mencurigakan, jika diizinkan mendekati mereka, ia kemudian akan bisa membuat penilaian yang baik.
Lavinia membuat ujung tongkatnya bersinar. Jika seseorang melihat pemandangan seperti itu di pusat kota, dengan dirinya yang mengenakan topi runcing, mereka akan berpikir itu adalah seorang gadis pirang yang sedang ber-cosplay dengan mainan tongkat menyala dan mengenakan jubah. Demi menghindari perhatian yang tak diinginkan, mereka menemukan taksi di jalan atas panduan Lavinia, lalu bergegas menuju tujuan mereka.
Apakah anak anjing hitam itu akan bisa ikut naik ke dalam mobil, ia sempat khawatir, tetapi anak anjing yang bersamanya sesaat sebelumnya telah menghilang tanpa ia sadari. Menyadari kehilangannya, Natsume berkata, “Tampaknya begitulah sifat partner kita. Omong-omong, misalnya Griffon-chan, aku memperkirakan dia sedang terbang tinggi di langit.”
Ia menjawab dengan ceria. Menurutnya, Sacred Gear yang menetas dari telur—si anak anjing dan Griffon milik Natsume berbeda dari Utsusemi milik teman-teman sekolah mereka dalam arti bahwa orang-orang yang tak terkait, dari perspektif mereka, tetap tak menyadari keberadaan makhluk-makhluk tersebut. Mereka baru akan terlihat oleh orang lain jika pemiliknya berharap agar mereka bisa merasakannya. Selama ia tak berhasrat agar mereka melihat anak anjing itu, mereka tak akan bisa melihatnya kecuali jika Tobio mengizinkan, Natsume menjelaskan.
Anjing kecil itu telah berlari mengikutinya sejak ia meninggalkan rumah. Setelah mengantarnya sampai saat taksi itu berangkat, anak anjing itu bersikeras menolak untuk berpisah dari Tobio.
Keberadaan macam itulah mereka, yang disebut sebagai Sacred Gear tipe Avatar Independen. Bagi mereka yang tak terkait, keberadaan makhluk ini tak bisa dikenali—. Namun, ketika pemiliknya berada dalam keadaan genting, mereka pasti akan datang berlari ketika dipanggil. Natsume tiba-tiba berbicara.
“Mungkin bagus kalau kau memberinya sebuah nama. Untuk saat kau ingin memanggilnya, karena kupikir akan merepotkan jika tak ada nama.”
…Sebuah nama, ya. Karena semua yang telah terjadi sejak tadi malam, ia tak mempertimbangkan hal seperti itu sampai sekarang. …Anjing hitam kecil ini, terlepas dari dirinya yang merupakan kekuatan supernatural miliknya, ia memiliki kehendaknya sendiri, jadi sebuah nama mungkin memang sangat diperlukan.
Sembari berkendara di dalam taksi, Tobio memperhatikan pemandangan di luar saat ia memikirkan berbagai masalah mengenai urusan si anjing, urusan yang akan terus berlanjut dari titik ini ke depan.
Di dalam taksi, mereka merasa khawatir menjadi sasaran Utsusemi. Namun, perjalanan siang itu berjalan lancar; taksi berhasil melewati dua kota dengan damai. Setibanya di pintu masuk sebuah taman umum, mereka mulai mencari Samejima Kouki dengan panduan Lavinia. Sepanjang jalan, mereka tetap waspada terhadap setiap warga yang mereka temui. Meskipun tak ada dari mereka yang tampak seperti Utsusemi—karena sebagian besar tak terlihat seumuran siswa—mereka tak bisa memastikannya. Pada jam seperti ini, para siswa seharusnya sedang berada di tengah pelajaran. Jika ada seorang siswa yang terlihat sendirian di area perumahan saat ini, mereka pasti akan cukup mencolok.
Melanjutkan perjalanan, mereka bertiga tiba di sebuah toko serba ada yang sudah gulung tikar, terletak di pinggiran area perumahan. Kisah kebangkrutan toko ini bahkan sudah sampai ke telinga Tobio. Karena kalah bersaing dengan mal agresif di kota sebelah, lingkungan sekitar sedang mempertimbangkan untuk meruntuhkannya. Telah diputuskan bahwa sebuah pusat kebugaran olahraga komprehensif, lengkap dengan kolam renang dalam ruangan, akan dibangun di lokasi tersebut.
Tobio dan Natsume mempersiapkan diri di depan toserba yang sepi itu. Saat ini, tempat itu tak lain merupakan tempat yang berbahaya, terlepas dari mana tempat itu didirikan. Bagaimanapun juga, dengan bagian dalam bangunan yang tak menyisakan tanda-tanda kehidupan, keadaannya adalah yang paling buruk untuk diserang oleh Utsusemi.
Meskipun demikian, bahkan seorang amatir pun bisa melihat bahwa cahaya dari tongkat Lavinia bersinar sangat terang ke arah bagian dalam toserba tersebut. …Tampaknya Samejima Kouki ada di dalam.
Setelah memastikan apa arti dari hal ini, Natsume berbicara, “Takkan aneh sama sekali kalau tempat ini telah menjadi sarang Utsusemi.”
Anjing hitam kecil yang sempat menghilang juga telah muncul kembali secara tak kasat mata di kakinya. …Dengan kata lain, tampaknya begitulah situasinya. Karena ada kemungkinan besar tubuh sang master berada dalam bahaya—. Sampai batas tertentu, ia ada di dalam tubuh tersebut dan terpanggil oleh situasi saat ini. Mempertimbangkan skala toserba tersebut, mustahil untuk mengetahui apakah jumlah Utsusemi yang telah menerobos masuk bukan hanya satu atau dua orang saja.
“Mari kita masuk.”
Tanpa menunjukkan keraguan khusus, Lavinia melakukannya sambil menghadap ke belakang ke arah mereka dengan sikap mengundang. Tak mungkin untuk masuk melalui gerbang depan karena penutupnya telah diturunkan. Karena Samejima saat ini berada di dalam, seseorang akan bertanya-tanya dari mana dia berhasil masuk. Tobio merenungkan apakah pintu masuk staf mungkin terbuka.
Mereka bertiga pun mencari pintu masuk staf.
“Pokoknya, tempat ini benar-benar suram…” gumam Natsume, suaranya bergema pelan di dalam toserba.
Setelah itu, mereka telah menemukan pintu masuk setelah memutari bagian belakang. Seperti dugaan, gerbang khusus staf telah dibuka paksa oleh seseorang, memudahkan mereka untuk menyusup.
Di dalam toserba, tempat itu secara alami gelap gulita, karena semua penutup jendela telah tertutup rapat. Natsume mengeluarkan dua penlight dari tasnya, dan memberikan satu kepadanya. Karena ujung tongkat Lavinia bersinar, ia tampaknya tak membutuhkan lampu.
Ketiganya melangkah maju menyusuri lantai satu sambil menjaga jarak tertentu. Natsume berbicara dengan suara berbisik agar Lavinia bisa mendengarnya, tetapi musuh kemungkinan besar tak akan bisa mendeteksinya.
(…Si Yankee itu, dia ada di lantai berapa?)
(Aku tak tahu. Karena medan kekuatan di sini membuat sihirku sulit digunakan, ada semacam hambatan pada tanda yang kutempatkan pada Shark. Tapi, aku yakin dia ada di dalam sini.)
Saat dia menyatakan hal itu, cahaya dari ujung tongkatnya berulang kali berkedip secara tak teratur. Tampaknya ada sesuatu di dalam toserba ini yang memberikan efek buruk pada kemampuan Lavinia yang semestinya bisa menggunakan sihir.
Natsume diam-diam membisikkan sebuah saran.
(Mari kita cari lantai demi lantai. Akan merepotkan kalau kita bergegas ke atas dan kebetulan berpapasan dengan kerumunan orang. Lavinia, bisakah kau menggunakan semacam sihir komunikasi?)
Lavinia mengangguk atas pertanyaan Natsume, dan menggambarkan sesuatu di udara dengan tongkatnya. Bersamaan dengan gerakan tongkat tersebut, sebuah lingkaran terpancar dari cahaya di ujungnya. Terlebih lagi, karakter-karakter aneh terukir dalam desain lingkaran tersebut, membentuk sebuah lingkaran sihir kecil yang telah muncul di depan mata mereka.
…Itu tampak mirip dengan jenis lingkaran sihir yang muncul setiap kali Utsusemi lenyap… bukan, tampaknya ada perbedaan dalam desainnya. Ketika lingkaran sihir kecil itu lenyap, ada kristal-kristal bercahaya seukuran butiran beras yang melayang di udara. Kristal bercahaya itu mulai bergerak dengan sendirinya, memasuki telinga Lavinia, Natsume, dan dirinya sendiri. Tobio merasa takut oleh kejadian mendadak yang melibatkan tubuhnya… terutama karena benda itu telah masuk ke dalam telinganya.
Sambil tak sengaja melepaskan kekehan kecil melihat reaksi Tobio, Natsume berbisik sambil memegang telinganya dengan tangannya.
‘(Bisakah kau mendengarku?)’
—!! Pada saat yang sama ketika suara Natsume terdengar dari depannya, Tobio terkejut karena juga mendengarnya secara langsung dari dalam telinganya.
(Dengan memegang telingamu, suaramu akan ditransmisikan kepada kami. Ini adalah salah satu mantra sihir Lavinia.)
…Ucapan yang sungguh tak masuk akal. Lavinia berdiri di sampingnya dengan sedikit bangga, membentuk tanda peace, tetapi sihir—fenomena supernatural—benar-benar ada…. Lalu, apakah fenomena pembakaran itu juga merupakan sihir yang nyata? …Namun, seseorang mungkin bertanya-tanya apakah ia harus begitu terkejut pada jam selarut ini. Bagaimanapun juga, ia telah terus-menerus dihadapkan pada fenomena semacam itu sejak tadi malam—.
…Jika demikian, apakah ada juga penyihir yang terlibat dengan lingkaran sihir yang muncul saat Utsusemi lenyap? Sama seperti Lavinia membantu mereka, mungkinkah itu penyebabnya? Meskipun berbagai tebakan seperti itu berputar-putar dalam pikiran Tobio, untuk saat ini pencarian Samejima adalah yang paling mendesak, jadi ia meninggalkan pertanyaan tentang Lavinia sampai setelah masalah ini diselesaikan. …Akan sangat baik untuk menanyakannya setelah mereka sekali lagi kembali dalam keadaan hidup dari tempat ini.
Natsume mengucapkan sebuah konfirmasi.
(Kita akan berpisah untuk sementara waktu untuk mencari. Kita periksa satu lantai demi satu lantai. Kita masing-masing akan mencoba menghubungi yang lain ketika kita mencapai lantai dua, dan kita akan memutuskan dari sana. Kalau menemukan Samejima-kun, hubungi kami yang lain pada waktunya setelah itu.)
Mengangguk menyetujui, trio tersebut untuk sementara menjauhkan diri untuk memulai pencarian.
Berjalan melewati bagian dalam toserba yang tertutup dan sama sekali tak ada orang, jantung Tobio berdetak dengan gelisah. Dari dalam setiap toko, setiap barang dagangan telah disingkirkan, hanya menyisakan lembaran plastik dan tangga untuk keperluan pembongkaran, tanpa satu pun rak barang dagangan yang bisa ditemukan. Ini adalah berkah dalam artian bahwa hanya ada jumlah tempat yang terbatas untuk bersembunyi.
…Dengan kelas-kelas yang telah berakhir, ketiadaan mereka yang telah meninggalkan sekolah membawa kengerian tersendiri, begitu pula dengan ketiadaan apa pun yang selayaknya ada di toserba yang diinginkan orang-orang. Terlebih lagi, di dalam bangunan ini, ada teman-teman sekolah yang ditemani oleh monster-monster seperti yang telah menyerang mereka tadi malam. Ini adalah sesuatu yang Tobio sulit terima mengingat bahwa ia adalah seorang siswa SMA biasa sampai kemarin.
Meski demikian, ia entah bagaimana bisa untuk sementara mempertahankan tekad yang kuat, dengan keberadaan perkasa dari anak anjing hitam yang berlari kecil sebelumnya membantunya untuk tak kehilangan akal sehatnya dalam situasi ini. Sebuah tonjolan tajam muncul dari kepala anjing itu—sebuah objek seperti bilah tumbuh di sana, makhluk itu telah melakukan sesuatu yang serupa dengan membuat persiapan yang baik untuk pertempuran.
…Apa yang telah membuatnya bisa memperoleh tekad yang kuat ini, ketika ia sebelumnya begitu ketakutan, tak lain adalah memercayai penyelamatan teman-teman sekelasnya—dan bersatu kembali dengan Sae.
Jika memang benar Sae akan berada di sana mulai sekarang—.
Tobio menemukan kekuatan dalam pemikiran itu saja, menahan rasa takutnya saat ia melangkah maju.
(Ada sesuatu di sebelah sana?)
Suara Natsume terdengar langsung di telinganya. Tobio juga berbisik sambil memegang telinganya.
(Tak ada yang khusus. Bagaimana dengan di tempatmu?)
(Masih belum ada apa-apa. Meskipun Griffon sudah pergi ke depan tadi, tak ada yang khusus yang muncul.)
…Jadi jika menyangkut lantai satu, tak ada hal yang menarik perhatian khusus?
Di tempat Tobio sekarang telah tiba, ada sebuah eskalator yang terhenti. Haruskah ia naik dari sini? Atau mungkin akan lebih baik untuk menaiki tangga. Keputusannya adalah mereka semua akan bergabung kembali—ini adalah hal utama yang harus dipertimbangkan.
Anak anjing itu merasakan sesuatu dan mulai menatap ke arah titik tertentu. Tobio menelan ludah saat ia mengarahkan penlight ke arah tersebut. Apa yang ditatap oleh anak anjing itu adalah sebuah pilar. …Apakah ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya? Bahkan dengan cahaya lampu, ia tak bisa melihat apa-apa, jadi mungkin bijaksana untuk mengumpulkan yang lain setidaknya untuk sementara waktu.
Dari balik pilar, seekor kucing putih muncul. Kucing itu memiliki bulu putih bersih. Ekornya yang panjang berayun dari satu sisi ke sisi lain.
…Seekor kucing liar yang telah memasuki toserba? —Namun, ia segera merevisi pemikiran tersebut. Utsusemi yang dimiliki orang-orang itu adalah monster yang meniru bentuk hewan. Jika seseorang menerima hal itu, maka kucing ini juga adalah…?
Saat Tobio sedang menegang, siluet lain kemudian muncul dari balik pilar. Terpapar oleh penlight, terlihat seorang pemuda jangkung dengan rambut berwarna cokelat.
—Itu adalah Samejima Kouki.
Pemuda itu—Samejima menurunkan pandangannya sambil menggunakan tangannya untuk melindungi matanya dari cahaya yang bersinar dari penlight. Dia tampaknya sedang melihat ke arah sebuah ponsel. Anak anjing itu juga menatap kucing yang menemaninya tanpa bergerak sedikit pun. Hanya sedikit, Samejima mengembuskan napas.
“…Tampaknya orang ini tak menyerupai mereka yang ada di dalam daftar. Jadi, dia dari kelompok penyintas? Astaga, anak seperti itu malah datang ke tempat seperti ini.”
Samejima melayangkan keluhan seperti itu sambil mencengkeram bagian belakang kepalanya dengan tangannya yang besar.
Karena mereka yang satu sama lain tak lagi menimbulkan ancaman, Samejima berbicara, “Kau yang di sana, apakah kau datang ke sini bersama dengan Natsume dan gadis penyihir itu?”
“…Yeah, mereka juga sedang mencari di lantai satu.”
“…Orang yang menangkap pergerakanku—apakah itu si gadis penyihir, ataukah si keparat berambut perak sombong itu yang menentukan di mana aku berada? …Astaga, padahal mereka bilang aku bisa berbuat sesukaku untuk sementara waktu. Aku akhirnya mendapatkan petunjuk tentang dalang di balik semua ini—dan sekarang malah begini.”
Samejima mengumpat saat berbicara.
—Kemudian, Samejima mengarahkan pandangannya ke arah eskalator di depan seolah menyadari sesuatu. Hal yang sama, si kucing putih dan anak anjing hitam menatap ke arah yang sama. Tobio juga terdorong untuk menatap ke arah tersebut… ia tak bisa melihat apa-apa dalam kegelapan, tetapi perasaan bahwa ada sesuatu di sana tetap ada.
“…Seperti yang kuduga, tampaknya memang ada sesuatu di sini.”
Samejima sedang menatap tajam ke arah eskalator di depan mereka.
“Mengidentifikasi keberadaan seperti itu, akan baik bagimu untuk menghafal bagaimana cara melakukannya. Dengan menajamkan indramu dengan Pusaka Suci, bahkan seorang amatir dalam bertarung pun harusnya bisa menghafalnya dalam sekejap.”
Samejima berbicara demikian saat ia bergerak ke sisi Tobio, menghadap ke arah eskalator. Setelah menemukan Samejima, ia sempat berpikir untuk melapor kepada Natsume dan Lavinia sambil pergi ke lantai dua—tetapi pada saat itu ia mendengar suara para gadis di telinganya. Secara bersamaan sebuah suara besar bergema di lantai satu.
‘Ikuse-kun! Maaf! Kami telah diserang! Lavinia dan aku sedang saling menyokong saat ini! Dan bagaimana di tempatmu!?’
Diserang!? Lawan-lawan telah tiba-tiba muncul di lantai satu! Mereka pasti datang menuruni tangga dari arah atas.
Sambil memegang telinganya, Tobio berbicara kepada Natsume dan Lavinia.
“Aku menemukan Samejima Kouki di sini! Apakah ada yang bisa kami lakukan!? Haruskah aku membawa Samejima dan pergi ke tempat kalian!?” Atas saran yang diajukan Tobio ini, Samejima hanya terkekeh.
“Jadi, gadis penyihir itu ada di sana, ya? Kalau begitu, seharusnya tak ada alasan untuk mengkhawatirkan si otak burung itu. Sayang sekali, api mereka harus menungguku menyelesaikan urusanku di atas.”
Mengatakan hal itu, Samejima mengangkat si kucing putih, menempatkannya di atas bahunya, dan terus berjalan menaiki eskalator.
“Oy!”
Saat Tobio mencoba memanggilnya kembali, suara Natsume ditransmisikan.
‘Ikuse-kun! Suara barusan itu, apakah itu Samejima-kun? Pokoknya, tolong kejar dia untukku!’
“Tapi! Apakah kalian sungguh baik-baik saja di sana?”
‘Jangan meremehkan Griffon-chan-ku. Lagi pula, lawan Utsusemi yang biasa-biasa saja ini tak bisa melawan si gadis penyihir di sini.’
Pada saat itu, terdengar suara hantaman dari dalam disertai kilatan cahaya merah yang bersinar dalam kegelapan.
Seperti yang dikatakan Natsume, Lavinia telah secara instan mengalahkan monster bersama Utsusemi tadi malam dengan fenomena pembakaran tersebut. Bahkan pasangan Natsume dan Samejima seharusnya tak menjadi penyebab kekhawatiran semacam itu, pikirnya, karena begitulah kuatnya mereka.
“…Maafkan aku! Aku akan mengikuti Samejima! Kalian sama sekali tak boleh mati, Minagawa-san! Lavinia-san!”
‘Dimengerti!’
‘Itu dimengerti.’
Jawaban penuh semangat dari kedua gadis itu mencapai telinganya. Meskipun ada keinginan untuk pergi ke tempat para gadis berada… Tobio menepisnya dan melanjutkan menaiki eskalator untuk mengejar Samejima.
Menaiki lantai dua, mereka segera mendapati lampu-lampu menyala. Kecerahan yang tiba-tiba membuat Tobio dan Samejima silau. Namun, berkat cahaya tersebut, seluruh lantai menjadi terlihat oleh mereka.
Dan kemudian, yang menunggu mereka di lantai dua—adalah monster-monster raksasa. Seekor belalang sembah, seekor kumbang rusa, seekor kepiting, seekor kura-kura, sekelompok monster dengan penampilan yang mirip dengan hal-hal tersebut—. Ada juga variasi katak dan laba-laba yang ia lawan tadi malam. Di samping mereka ada anak-anak laki-laki dan perempuan. Itu adalah Utsusemi, teman-teman sekolah mereka sendiri. Dari pandangan sekilas, ada kira-kira tak lebih dari sepuluh orang tersebar di depan mereka.
…Dalam situasi unik yang ia alami hari kedua, terlibat dalam pengalaman seperti itu, ia seharusnya tak pernah menghadapi begitu banyak lawan.
Bagi Tobio, besarnya kekerasan yang akan datang terasa seperti sentakan dingin di punggungnya.
—Namun, orang itu malah tertawa geli, “Kukuku,” menunjukkan senyum tanpa rasa takut.
Samejima, tanpa ragu, melangkah maju selangkah demi selangkah menuju garis musuh.
“Byakusa, ayo pergi.”
Inilah yang ia katakan kepada kucing yang duduk di bahunya. Setelah itu, ekor panjang kucing itu berdiri tegak seperti peniti—dan kemudian terbelah menjadi dua. Kedua ujung ekor yang terbelah itu terus memanjang, salah satunya melilit lengan kiri Samejima. Ekor putih yang melilitkan dirinya di lengan tuannya mulai terus mengubah bentuknya—benda itu bertransformasi menjadi sebuah tombak berbentuk kerucut yang sangat besar.
“—Tombak kucingku bisa menembus apa saja. Kemarilah, kemari, dan biarkan diri kalian ditembus oleh orang ini.”
Dengan tombak yang telah tumbuh di lengan kirinya, Samejima melayangkan deklarasi perang kepada para Utsusemi.
Tepat setelah sinyal awal pecahnya perang tersebut, monster laba-laba menyerbu dari depan. Dengan menurunkan posturnya, ia menembus monster laba-laba itu dengan tombak di lengan kirinya, dengan membawa titik atas ke ketinggian yang sangat rendah.
Samejima mengangkat laba-laba yang telah ia tembus dan menahannya di atas kepalanya di udara, kemudian mengayunkan tombaknya ke bawah, melemparkannya ke arah musuh seolah membuangnya. Pada saat itu, laba-laba yang binasa itu terlepas dari tombak dan terlempar ke depan. Monster-monster itu terpencar dari tempat tersebut. Samejima berbalik ke arah kepiting yang menyerang dari sisi kanannya, dan dengan tangan kanannya memberi sinyal arah kepada si kucing.
“Incar celah di cangkang kerasnya!”
Salah satu dari dua ekor kucing putih itu melilit dan melesat keluar dengan kecepatan tinggi! Monster kepiting itu tak bisa menghindar saat sebagian dari cangkangnya benar-benar runtuh akibat hantaman ekor tersebut! Ekor putih itu, seperti pedang rapier yang tipis dan tajam, menembus tubuh kepiting, membuatnya tak bisa bergerak. Ekor itu bergerak bebas di dalam, dan Tobio menyadari bahwa benda itu sedang menghancurkan intinya. Tombak Samejima, dimanipulasi oleh kucing dengan ekor tipis yang tajam, membor ke dalamnya. Samejima dan si kucing telah menyamakan napas mereka untuk melancarkan dua serangan serentak.
—Dan, pada saat itu juga, sesosok monster lain menyerang Tobio. Sama seperti tadi malam, monster katak dengan lidah meneteskan air melompat ke arahnya. Tobio mengarahkan tangan kanannya ke arah katak tersebut dan mengirimkan perintah kepada anjing hitamnya. Anak anjing itu melesat dengan kecepatan tak terlihat, menyerbu melewati katak tersebut, dan bilah di dahinya membelahnya menjadi dua.
Melihat pemandangan ini, Samejima mengeluarkan siulan pujian.
Selanjutnya, Samejima menghindari bilah lengan kembar milik belalang sembah sambil menembus perutnya dengan tombak, lalu melompat untuk menghindari serbuan kumbang rusa yang terbang rendah ke tanah.
“—Nja, rasakan ini!”
Ia mengarahkan tombaknya ke bawah menggunakan energi dari lompatannya, dan menusuk ke dalam kumbang rusa dari atas. Ia kemudian mencabut tombaknya, yang telah menembus lantai dua, dan masing-masing menyapu kumbang tersebut secara horizontal. Monster kumbang rusa yang penampilannya telah sepenuhnya berubah akibat kekuatan itu dibiarkan terbuang di atas lantai.
Di sisi lain, Tobio juga sedang membersihkan tubuh monster. Dalam situasi ini, Tobio benar-benar merasakan kekuatannya.
—Bertarung! Menang!
Meskipun ini baru hari keduanya sejak terjerumus ke dalam dunia yang aneh ini, kekuatan anak anjing itu adalah hal yang nyata. Kemudian, kekuatan Samejima di sampingnya benar-benar membanjiri Utsusemi lainnya.
…Ini adalah, mungkinkah ini perbedaan antara Sacred Gear asli dan buatan? Berpikir dengan cara seperti itu, Tobio dan Samejima, secara alami, dengan mudah menghindari terkena satu pukulan pun. Sacred Gear itu sendiri, tampaknya, menunjukkan kekuatan yang lebih besar daripada yang diperkirakan oleh penggunanya.
Namun, ada satu lawan yang serangan Samejima tak bisa tembus. Itu adalah monster kura-kura. Cangkang kerasnya menangkis tombaknya. Monster kura-kura itu berfokus pada pertahanan dengan menyembunyikan kepala dan anggota tubuhnya di dalam cangkangnya. Samejima mendecakkan lidahnya. —Tetapi, si anak anjing melompat masuk tanpa peduli.
Seberapa tajamkah bilah anjing itu hingga bisa merusak cangkang tersebut—.
Namun perilaku anjing itu melebihi ekspektasi Tobio. Makhluk itu menggunakan bilah yang telah tumbuh untuk menyerang tempat di mana kepalanya sebelumnya ditarik masuk.
Mendekati tempat di mana kepala sebelumnya ditarik masuk—ia mendorong bilah yang memanjang dari dahinya ke depan. Meskipun kura-kura itu telah bersembunyi di dalam cangkangnya, bagian di mana kepala ditarik masuk tak tertutup oleh cangkang keras. Memanfaatkan tubuh kecilnya dan bilah tersebut, si anjing membidik ke sana. Bilah tajam tersebut memanjang, menusuk monster kura-kura yang telah menarik diri ke dalam cangkangnya. Dari ujung kepala kura-kura yang tersembunyi di dalam cangkang, benda itu menembus lurus ke ekornya. Nyawa kura-kura itu telah berakhir.
“Jika menyerang cangkang tak ada gunanya, seranglah di tempat yang tak ada cangkangnya. Bukankah aku melakukan sesuatu yang serupa dengan Byakusa?” Samejima berkomentar demikian.
Benar saja, ketika kucing putih itu mengalahkan si kepiting, ia melakukannya dengan mengincar celah di cangkang kerasnya. …Setelah melihat itu, apakah anak anjing hitam itu segera mempelajari hal semacam itu? Mengasumsikan hal itu yang terjadi, bisa ditentukan bahwa kecerdasan anak anjing itu lebih tinggi daripada yang ia duga.
Dua orang telah naik ke lantai dua, dan telah menyelesaikan pertempuran pertama mereka hanya dalam beberapa menit—.
Sepuluh Utsusemi telah sepenuhnya dimusnahkan. Teman-teman sekolah yang monsternya dikalahkan ambruk di tempat setelah kehilangan kesadaran. Sambil memastikan bahwa semua teman sekolah lenyap melalui lingkaran sihir, Samejima bertanya kepada Tobio.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
Tobio mengangguk dalam diam.
“Ketika kau datang ke sini, apakah kau menekan hasratmu untuk melarikan diri? Untuk apa? Untuk alasan tak bisa dipahami apa, yang lahir dari semacam idealisme konyol yang benar-benar konyol yang memenuhi pikiranmu, hingga kau memilih untuk bertindak? Apa motivasimu untuk bertarung? Anjing itu, apa yang kaulihat ketika kau bertarung bersamanya?”
Di depan pandangan Samejima, mata anak anjing hitam itu memancarkan kilauan merah yang membara. Sesuatu yang begitu kuat yang kemungkinan besar akan merangsang keberanian seseorang.
Dipertanyakan oleh Samejima, Tobio melihat ke arah langit-langit.
“…Aku juga takut. Tapi—”
Melihat ke depan, Tobio berbicara kepada Samejima.
“Ada orang-orang yang ingin kuselamatkan tak peduli berapa pun biayanya, teman-teman yang ingin kubantu tak peduli berapa pun biayanya. …Meskipun aku adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk bertarung, aku akan mati sambil berdiri tegak.”
Mendengar hal itu, Samejima untuk pertama kalinya melembutkan ekspresinya yang biasanya agresif dan menunjukkan emosinya.
“…Heh. Tampaknya kau bukan sekadar orang biasa yang bimbang.”
Samejima membalikkan kakinya ke arah eskalator dan mulai naik ke lantai tiga. Tobio juga mengikuti pada waktunya.
Saat keduanya sedang menaiki eskalator, Samejima bertanya tanpa menoleh ke belakang.
“…Seorang wanita, ya?”
Satu kata itu datang sebagai kejutan yang sama sekali tak terduga. Meskipun Tobio hanya berbicara tentang “orang-orang yang ingin kuselamatkan”, Samejima rupanya telah melihat menembus hal itu.
Sebagai akibat dari hal itu dipahami, Tobio menjadi bingung sementara wajahnya berubah merah.
“Eh! E-enggak, itu….”
Samejima tertawa saat Tobio berbicara sambil terbata-bata.
“Haha, seorang wanita, ya. Bukankah itu bagus? Memasang gaya keadilan yang aneh seperti itu, itu cukup menarik.”
Samejima mengulurkan tangannya ke belakang.
“Aku Samejima Kouki.”
Tobio, terlepas dari keterkejutannya, segera mengulurkan tangan dan menerima jabat tangan tersebut.
“Ikuse Tobio, mohon bantuannya.”
Ini adalah berandal nomor satu masa lalu SMA Ryoukuu—Samejima Kouki. Namun, tampaknya dia adalah orang yang jauh lebih baik daripada yang dirumorkan.
Menaiki lantai tiga, dan sekali lagi melewati lantai empat, mereka akhirnya mencapai lantai lima.
Setelah itu, segerombolan Utsusemi yang menunggu mereka, pastinya tak kurang dari tiga puluh. Ada berbagai macam variasi monster mengerikan, semuanya menatap mereka dengan tatapan tidak menyenangkan. Ditatap oleh tak kurang dari tiga puluh monster seperti itu adalah tontonan yang benar-benar mengejutkan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sesuatu dengan tubuh yang tampak mirip tumbuhan raksasa.
Pandangan Samejima terfokus pada satu titik tunggal. Tobio mengikuti pandangannya, dan di sana ada sosok seorang pria yang jelas-jelas salah tempat.
Itu adalah seorang pria di paruh kedua usia dua puluhan yang mengenakan setelan jas bisnis.
Sambil menunjukkan senyum tanpa rasa takut, pria itu mendekat. Dia berbicara sambil tersenyum sarkastik.
“Yah, hanya ini yang ada. Hanya dua orang. Atau jangan-jangan, ada orang ketiga juga di bawah?”
Samejima bertanya dengan nada mengancam.
“…Sang dalang?”
“—Kau bisa bilang aku adalah salah satu dari mereka. Namaku Doumon Kazuhisa. Aku berpartisipasi dalam [Proyek Empat Makhluk Terkutuk] saat ini. Karena tampaknya menyenangkan, aku datang untuk memeriksa pemandangan ini.”
“…Empat Makhluk Terkutuk? Apa-apaan itu?”
Samejima bertanya lagi mengenai ungkapan yang Tobio sendiri pun tak pernah mendengarnya sebelum ini. …[Proyek Empat Makhluk Terkutuk]?
Melihat reaksi tersebut, pria itu kemudian menunjukkan ekspresi bingung.
“Hou, apakah orang-orang dari [Grigori (Geng Malaikat Jatuh)] itu belum menyebutkannya? Yah, sudahlah.”
Pria itu memberi isyarat dengan jarinya. —Pada saat itu, monster-monster yang tadinya berjaga di belakangnya secara bersamaan mulai bergerak.
Pria yang menyebut dirinya Doumon itu membentangkan tangannya, saat dia berbicara kepada Tobio dan Samejima.
“Pokoknya, aku akan membawa kalian kembali bersamaku. Karena kami membutuhkan kucing dan anjing yang kalian bawa. ‘Utsusemi’ dan semacamnya, itu tak lebih dari eksperimen kecil demi kepentingan ini.”
Meskipun mendengar hal itu, Samejima, tanpa mundur sedikit pun dari situasi tersebut, dengan berani angkat bicara.
“Pusaka Suci yang asli—Sacred sesuatu atau apa tadi namanya? Kau melibatkan mereka dalam hal ini untuk alasan yang tak masuk akal seperti itu. Karena ini adalah kesempatan yang bagus, mengapa kau tak melepaskan temanku?”
“Tentu saja, temanmu adalah Maeda Nobushige kalau tak salah. Yeah, dia telah diubah menjadi Utsusemi.”
Dengan beberapa patah kata itu, ekspresi Samejima berubah menjadi kemarahan. Tobio dikejutkan oleh perasaan semangat bertarung yang luar biasa intens dari sebelahnya.
Tobio memiliki ingatan tentang nama itu. Maeda seharusnya menjadi salah satu dari sedikit teman Samejima. Sering kali, ia akan menangkap basah keduanya sedang berkumpul di SMA Ryoukuu.
“Kalau begitu, izinkan aku menjawab seperti ini. Akan kuhajar kau, keparat sialan!”
Sekali lagi tombak terbentuk di lengan kiri Samejima. Ia berada dalam kesiapan tempur penuh.
“Sungguh, betapa kasarnya.”
Pria itu segera meludahkan kata-kata seperti itu dari mulutnya.
Mengambil posisi, Samejima bertanya kepada Tobio.
“…Apakah si otak burung dan si gadis penyihir belum naik ke atas? Orang ini kemungkinan besar akan sulit dihadapi terlepas dari semua upaya yang dihabiskan untuk mencoba menangkap sang dalang.”
Dengan anggukan Tobio memegang telinganya dan mulai mempertanyakan kedua orang itu.
“Minagawa-san, Lavinia-san, bagaimana keadaan di sana? Kami sedang bertarung dengan kerumunan besar di atas sini.”
Demikian laporannya, tetapi apa yang terdengar adalah suara panik Natsume.
‘Di sini juga, kami terjebak di tengah-tengah permusuhan dengan Utsusemi yang menyerbu dari luar dan tak bisa meloloskan diri! Meskipun Lavinia membakar dan melumpuhkan mereka, ini tak ada habisnya. Aku bisa bilang, mungkin, sekitar empat puluh lawan sedang mendekat.’
—Empat puluh! Itu tak jauh berbeda dengan yang ada di sini, tak berbeda sama sekali!
Tampaknya ada pertempuran sengit di lantai satu juga.
‘Kalau sudah jadi begini, aku akan “membekukan” mereka saja.’
‘T-tolong simpan itu sebagai jalan terakhir! Seluruh tempat ini bisa membeku total! Kau dengar aku! Demise Girl (Putri Es Tanpa Pandang Bulu)!’
Sesuatu yang tampaknya menjadi kartu truf… meskipun tampaknya tak ada yang berubah karena bala bantuan tak akan tiba di lokasi mereka.
“…Mengerti, kami akan bertahan setidaknya agar kami tak mati di sini.”
‘Eeh, kami juga, kami akan bertahan hidup!’
Setelah mendengarkan komunikasi yang berlangsung di sebelahnya ini, Samejima mengembuskan napas.
“…Yah, itu memang mirip si otak burung, sangat tak masuk akal. Astaga, kita hanya perlu melakukan apa yang harus dilakukan untuk meraih kemenangan.”
Samejima berbicara kepada Tobio.
“Keparat bernama Doumon atau apa pun itu tak boleh dibiarkan lolos, karena aku punya berbagai pertanyaan tentang kasus ini untuknya.”
“Ya, aku tahu.”
Setelah memastikan, Tobio dan Samejima mengambil langkah maju bersama partner mereka—si anak anjing dan si kucing. Selain itu, kerumunan Utsusemi mulai bergerak. Monster-monster itu mulai membuat gerakan lincah. Menyerang dari depan, anak anjing hitam dan tombak Samejima menebas monster kelabang raksasa dan belalang, menusuk mereka hingga mati. Ini dengan mudah diselesaikan dengan mereka yang hanya menyerang ke arah pihak lawan. —Namun, pendekatan ini tidak efektif terhadap jenis monster yang menggunakan sulur atau tentakel untuk bertarung dari jarak jauh. Akibatnya, Tobio dan Samejima terbatas pada pertempuran jarak dekat hingga menengah.
Untuk maju, mereka tak punya pilihan selain memotong tentakel reptil dan sulur tumbuhan. Ini menjanjikan pertempuran yang sulit, karena tampaknya tak dapat dihindari bahwa lengan atau kaki mereka akan terjerat setidaknya sekali. Saat mereka berhati-hati untuk membersihkan jalan, anak anjing Tobio dan Samejima dengan tombaknya memotong setiap rintangan satu per satu.
Duo tersebut merasa bingung. Mengapa mereka tak mengumpulkan seluruh jumlah besar orang itu bersama-sama dan menyerang sekaligus? Hanya sekelompok sekitar empat dari banyak monster yang akan menyerang pada satu waktu…. Di samping Samejima, bagi Tobio yang baru memiliki kekuatan terbangunnya sejak kemarin dan hari ini, kemungkinan besar akan mungkin untuk menundukkannya jika sekitar sepuluh orang menyerangnya sekaligus, tetapi orang-orang itu tak melakukan upaya untuk melakukannya sama sekali.
Alasannya—rupanya karena pria bernama Doumon itu. Pria itu, tangannya di dagu, mengarahkan pandangannya ke arah mereka, tampak sangat tertarik. Tanpa berlebihan dia akan mengeluarkan instruksi kepada Utsusemi, hanya mengarahkan mereka dengan beberapa gerakan kecil dengan jari telunjuknya. Melihat hal itu, Tobio sampai pada satu kesimpulan tunggal.
Kemungkinan besar, Doumon sedang mengamati pertempuran. Dengan sengaja, dia hanya menggunakan sejumlah Utsusemi yang ditentukan pada satu waktu, semua agar dia bisa merasakan pengalaman menonton perkembangannya.
Seperti Tobio, Samejima tampaknya juga mencurigai hal yang sama, saat ia mendecakkan lidahnya.
“…Jadi penonton, ya? Status sosial yang bagus. —Benar-benar buang-buang waktu!”
Perilaku Doumon tampaknya telah membahayakan suasana hati Samejima.
Itu terjadi tepat saat Tobio dan Samejima mengalahkan monster tawon dan capung yang datang terbang. Sambil menganggukkan kepalanya, Doumon memasukkan tangannya ke dalam saku dadanya.
“Ya ya, ini sudah jelas. Seperti sebelumnya, yang asli memang berbeda. Aku telah menyadari fakta bahwa terus menunjukkan perbedaan dengan yang buatan tampaknya tak diperlukan. Khususnya, kondisi Samejima Kouki dalam menangani Pusaka Sucinya adalah kelas atas. Seperti yang diduga dari orang yang membawa satu bagian dari [Empat Makhluk Terkutuk]. —Artinya, haruskah kita mengubah situasi selanjutnya?”
Apa yang dikeluarkan pria itu—adalah beberapa potongan kertas yang menyerupai jimat. Tobio tak tahu apa arti tulisan magis pada objek-objek tersebut. Dengan jimat-jimat itu di tangannya, Doumon mulai menggumamkan sesuatu seperti mantra dengan suara pelan.
“…Apa yang lahir dari tanah, yang rohnya diusir dari besi, dengan sarana air dimurnikan, segeralah maju ke hadapanku.”
Pria itu melepaskan jimat-jimat tersebut, dan jimat-jimat itu melayang di udara seolah memiliki kehendak sendiri, membentuk sebuah pentagram. Setelah semua jimat memancarkan cahaya yang tidak menyenangkan, sebuah bayangan besar lahir di atas lantai. Bayangan itu membesar dan mulai membentuk rupa.
…Apa yang muncul di hadapan Tobio dan Samejima, adalah sebuah gundukan tanah liat mirip manusia setinggi tiga meter. Makhluk itu begitu tinggi hingga kepalanya hampir membentur langit-langit. Seperti hantu tanpa wajah, ia tak memiliki mata, hidung, mulut, maupun telinga, dan hanya melihat lengan yang hampir setebal tiang telepon saja sudah memenuhi seseorang dengan sensasi yang mengerikan.
Doumon tertawa.
“Bagaimanapun juga, ini adalah garis keturunan berharga keluargaku. Kemarilah sekarang, boneka tanah liatku akan menangkap kalian.”
Pria itu menjentikkan jarinya, dan boneka tanah liat itu perlahan-lahan hidup, menanggapi perintahnya.
Sambil mengambil posisi dengan tombaknya, Samejima meludah sebagai respons.
“…Benda itu cukup bagus untuk sihir si gadis penyihir, cukup bagus untuk monster yang dipanggil oleh bocah sialan sepertimu, jadi seharusnya bisa untuk apa saja.”
“Meski begitu, jika dibandingkan, apa yang kalian miliki mungkin sama saja dengan sekecil kutu. Sungguh, keadaan yang sangat tidak menyenangkan.”
Boneka tanah liat itu melayangkan sebuah pukulan besar. Kekuatannya menyebabkan udara bergetar. Hantaman langsung—bukan, bahkan hanya tergores saja oleh serangan seperti itu akan menyebabkan kerusakan masif. Samejima melompat mundur untuk mengambil jarak, lalu segera menusuk dengan tombak. —Namun, hanya nada kering yang menggema di atas lantai, tombak tersebut telah sepenuhnya ditolak oleh tubuh boneka tanah liat! Tampaknya, kekerasan boneka tanah liat itu melebihi kemampuan ofensif dari tombak yang dimiliki Samejima. Pada titik ini, anak anjing hitam menebasnya dengan sepasang bilah yang telah tumbuh dari punggungnya seperti sayap—tetapi, hanya nada kering yang sama yang dihasilkan karena tampaknya tak menimbulkan kerusakan apa pun pada boneka tanah liat.
Melihat hasil tersebut, Doumon mencibir.
“Tampaknya, saat ini boneka milikku melampaui kalian. —Yah, kalau begitu, mari kita selesaikan ini.”
Pria itu, sekali lagi, mengucapkan sebuah mantra sambil mengeluarkan jimat. Jimat-jimat itu terbang di udara, menyebar di belakang Tobio dan Samejima untuk memanggil boneka tanah liat kedua. Bala bantuan telah muncul di belakang mereka. Dari depan boneka tanah liat dari sebelumnya juga sedang mendekat.
“…Keparat!”
“…Kuu.”
Tak lama kemudian, Tobio dan Samejima telah sepenuhnya ditundukkan oleh boneka tanah liat—.
“Kalau begitu, bagaimana kita harus melakukan ini?”
Karena boneka tanah liat Doumon, Tobio dan Samejima telah ditundukkan di lantai. Boneka tanah liat itu menindih Tobio dengan lengan kanannya dan Samejima dengan lengan kirinya. Tobio merasakan tekanan kejam yang diberikan oleh lengan boneka tanah liat yang menindihnya. Ia bisa memahami dari hal ini bahwa ia tak bisa menyelinap keluar hanya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Si anak anjing dan si kucing sekarang sedang dipegang di tangan boneka tanah liat yang lain, menghilangkan setiap kesempatan untuk melarikan diri.
Doumon sekali lagi mengelus rahangnya dengan tangan, merenungkan sesuatu dengan tenang sambil menatap perangkat seluler di tangannya. Tangan yang mengoperasikan perangkat seluler tersebut berhenti bergerak. Dengan pandangan jijik ke arah Tobio, dia berkata, “Benar, tampaknya kau sedang menuntun orang itu ke sekitar tempat ini.”
Pria itu memberi tahu Utsusemi yang berjaga di belakangnya.
“Pergilah sebelum orang yang mengikuti dari belakang itu sampai di sini.”
Setelah itu, dari mereka yang berada di depan kelompok di belakangnya muncul beberapa orang yang tak bisa diidentifikasi.
—!!
Seorang teman Tobio ada di antara mereka.
“…Sasaki?”
Memang, itu adalah teman yang baru saja ia temui kembali kemarin. Pada kesempatan itu, ketika monster kadal yang dipimpinnya terbunuh, lingkaran sihir membawanya pergi…. Sasaki sekali lagi memimpin monster kadal di tempat ini sebagai bagian dari kelompok.
Doumon berbicara, “Kemarin, anak ini dikalahkan olehmu, bukan? Namun, dengan teknologi di sini, kami bisa menghidupkan mereka kembali bahkan hanya dengan satu bagian tubuh saja. Akan mustahil jika anaknya juga yang terbunuh, tetapi adalah keberuntungannya bahwa kasusnya merupakan jenis di mana kebangkitan dimungkinkan. Oleh karena itu, dia sekali lagi bisa memimpin partnernya.”
…Daripada deskripsi dari Doumon, Tobio sedang mengalami kondisi mental yang bingung karena sekali lagi menghadapi sosok temannya.
“Hentikan Sasaki! Ini aku, ini Ikuse!”
Saat itu ia tak bisa—. Tobio dengan putus asa memohon kepadanya. Namun, Sasaki tak menjawab sama sekali. Dia hanya berdiri di sana tanpa ekspresi.
Samejima dengan frustrasi menyipitkan matanya dan berkata, “…Percuma saja. Selama kau tak menumbangkan organisasi yang mengendalikan orang-orang ini, mereka takkan berhenti menyerang.”
Sementara Doumon tengah menikmati reaksi ini, dia membuat Sasaki berdiri di depan boneka tanah liat yang sedang memegangi si anak anjing dan si kucing. Doumon, dengan cengkeramannya pada leher Sasaki, membuatnya menariknya lebih dekat lagi ke depan. Tepat di depan—si anak anjing masih memperlihatkan bilah tajam di dahinya.
“Tetap saja, aku menduga kau tak akan membunuh seorang manusia, bukan? Apa yang akan terjadi jika [Empat Makhluk Terkutuk] yang berfungsi sebagai Pusaka Sucimu mengingat darah manusia, bagaimana mungkin aku tak menantikan sesuatu yang sungguh menarik seperti itu?”
Berbicara dengan riang, mata pria itu—ternoda oleh kegilaan.
…Ia berniat membunuh Sasaki dengan tubuh anak anjing itu sendiri…!!
Tobio dibuat tak bisa berkata-kata oleh perilaku yang mengejutkan tersebut, tetapi ia terus berjuang untuk menyelinap bebas dari tangan boneka tanah liat. —Namun, melawan kekuatan kasar yang begitu kokoh, Tobio bahkan tak bisa bergerak sedikit pun.
“……Cih!!! Kau keparat, tindakan pengecut seperti itu…!!”
Samejima berteriak saat dia berjuang dengan cara yang sama, tetapi pria itu hanya mengembuskan napas.
“Apa yang kaukatakan? Berbicara tentang asal mula semua ini, kalianlah yang bersalah karena tak naik ke kapal pesiar mewah itu. Yah, aku percaya bahwa Sacred Gear yang kalian miliki merasakan bahaya dan memicu demam kalian. Apalagi, sebagai akibat dari keterlibatan kelompok menjengkelkan dari mereka yang jatuh dari surga, kami bahkan tak menyadari ketidakhadiran kalian sebelumnya. Berkat itu, kami tak bisa membuat perubahan drastis pada rencana tersebut. Berani-beraninya mereka mendahului kami dengan memanipulasi informasi seperti itu, orang-orang bersayap hitam itu!”
Pria itu sepenuhnya beralih ke senyum pahit.
“Yah, karena alasan-alasan seperti itu, tampaknya mereka disebut sebagai Gregori (Para Pengawas Anak-Anak Tuhan). Fumu fumu, bagaimanapun juga Sacred Gear adalah hadiah dari Tuhan.”
Sasaki sedang—melihat ke arahnya, mulutnya bergerak.
“Pengkhianat.”
“Sasaki….”
Emosi yang menyayat hati membanjiri Tobio.
—Pengkhianat.
Benar, jika demikian halnya, maka tampaknya ia adalah seorang pengkhianat. Dengan tak berpartisipasi dalam perjalanan itu, ia telah membuat mereka terlibat. Setelah terlempar ke dalam situasi abnormal ini hanya karena sesuatu yang begitu tak masuk akal, ia telah mulai bertarung dengan teman-teman sekolahnya yang merupakan para pemimpin monster.
Apakah ini semacam pengecualian untuk sebuah pengkhianatan…!?
Tiba-tiba, pikiran Tobio teringat sebuah adegan percakapan yang ia lakukan dengan Sasaki sebelum karyawisata tersebut.
Setelah sekolah, saat kembali ke rumah, Sasaki sempat berbicara dengan suasana hati yang malu-malu.
‘Dengar, Ikuse. Aku sudah berpikir, tentang menyampaikan perasaanku kepada Morose dari kelas C pada karyawisata yang akan datang nanti….’
Sasaki sering kali membicarakan masalah tentang Morose. Meskipun Tobio tak tahu apa-apa jika menyangkut urusan asmara, ia setidaknya sadar bahwa Sasaki merindukannya. Sasaki menepuk punggung Tobio.
‘Seandainya aku ditolak mentah-mentah, kau pastinya harus ada di sana untuk menghiburku! Tolong, aku memohon padamu!’
Seorang siswa biasa. Sasaki hanyalah seorang siswa SMA biasa.
Dia akan belajar, dia akan berolahraga, dia tertawa, dia marah, dia menangis, dia mencinta. Namun, semua ini adalah hal yang khas bagi seorang siswa SMA yang muda.
Saat Doumon membawa Sasaki mendekat ke bilah si anak anjing, Sasaki mengeluarkan suara yang teredam.
“…………I……kuse…….”
—! …Itu tadi, namanya..?
Meski masih tanpa ekspresi, Sasaki meneteskan air mata.
“……To……long…….”
Dia seharusnya tak sadar. Teman-teman sekolahnya—teman-teman sekelasnya semua telah dibuat ulang menjadi makhluk yang sekadar memerintah monster. Bahkan baru tadi, mereka datang menyerangnya mencoba membunuhnya. Karena saat ini, kesadarannya telah dicuri, dan berfungsi di bawah kendali Doumon dan kelompoknya.
Namun, Sasaki telah… memanggil namanya. Dia meminta tolong.
Karena kejadian ini, air mata Tobio—mengalir deras di pipinya.
Melihat rangkaian peristiwa ini, Doumon mulai gemetar.
“Ini… luar biasa! Jadi dia masih sadar sebagian sampai sejauh ini! Ini cukup menarik! Tangkap mereka, ini benar-benar harus segera dilaporkan kepada staf! Karena data tentang Sacred Gear Buatan sejauh ini tak mencukupi, mendapatkan sesuatu yang seperti ini sangatlah berharga!”
…Sampai akhir, dalam cara pria ini memandang mereka, Sasaki, para siswa Ryoukuu, mereka tak lebih dari sekadar objek baginya…? Bagaimana bisa dia mampu melakukan kekejaman seperti itu? Bagaimana mungkin orang yang tak manusiawi seperti itu bisa ada?
“….Jangan ma…!!”
Tobio—tak bisa menahan amarahnya lagi.
“Jangan main-main denganku…!! Kenapa, kenapa kalian keparat tak berhenti menyuruh Sasaki dan yang lainnya membantu penelitian kalian jika mereka tak berguna…!?”
Doumon mencibir. “Kalianlah yang bersalah karena tak berpartisipasi. Bukan, melainkan kelompok mereka yang jatuh dari surga yang menyembunyikan kalian. Karena itu, karena kami tak bisa menahan diri, apakah kau pikir kami punya pilihan lain selain beralih ke rencana B? Untuk rencana tersebut, tentu saja sangat penting untuk memiliki banyak anak muda yang berfungsi sebagai tubuh eksperimental untuk [Proyek Empat Makhluk Terkutuk]. Kerja sama mereka sepenuhnya diperlukan.”
Aku tak peduli. Bagaimanapun keadaannya, mereka tak seharusnya terlibat! Karena mereka—mereka tak bisa menjalani kehidupan biasa! Meskipun mereka bisa menerima kekuatan semacam itu, tak satu pun dari mereka yang akan meminta sesuatu seperti ini! Mereka seharusnya menjalani hidup seperti biasa saja!
Mengingat sesuatu, Doumon berbicara dengan geli.
“Ikuse…ya. Aah, berbicara soal itu, aku yakin ada data yang mengatakan bahwa kau akrab dengan Toujou Sae. Tampaknya bagus, kau harus menemuinya. Dia telah menjadi seorang Utsusemi yang luar biasa. Aku mengingatnya!”
—Sae.
Setelah melihat Tobio bereaksi keras ketika ia mendengar nama itu, Doumon mencibir dengan lebih ofensif lagi.
“Dia berteriak berkali-kali di tengah-tengah eksperimen. ‘Tobio, Tobio’—katanya. Memang, dia memanggil-manggil namamu. Tentunya kau paham.”
……
……………
Tobio, kehilangan kata-kata untuk diucapkan—menggertakkan gerahamnya dengan keras, diliputi oleh frustrasi dan kemarahan, sementara air mata tanpa henti mengalir turun. Matanya menatap tajam ke arah Doumon dengan penuh niat membunuh.
…Aah, jadi seperti itu, ya.
…Orang-orang ini…adalah ‘kejahatan’…!!
…Orang-orang ini, tak ada yang tak akan mereka lakukan demi keserakahan mereka, baik itu kepadaku, kepada Sasaki, kepada Sae, keinginan-keinginanku—mereka akan melakukan apa saja untuk memuaskan niat jahat mereka.
—Aku takkan membiarkannya.
Aku takkan membiarkan mereka berbuat sesuka hati mereka…!!
Orang-orang sialan ini, aku takkan membiarkan hal seperti ini diabaikan begitu saja…!!
Untuk menyelamatkan Sasaki, teman-temannya, Sae! Orang-orang ini, ia pasti akan menyelamatkan orang-orang yang penting baginya dari tangan iblis mereka.
Pada saat itulah. Pikirannya teringat kata-kata Lavinia.
——Kekuatan dari hasrat. Pusaka Suci—Sacred Gear menjadi kuat dari hasrat yang kuat, merespons kepada pemiliknya.
——Sudah hampir pasti bahwa anjing kecil itu merespons hasrat kuat milik Toby.
Ia menoleh ke arah anak anjing hitam yang sedang ditahan.
Hei, kau lahir dari bayanganku. Bisakah aku meminjamkan perasaanku, hasratku kepadamu? Demi diriku, bisakah kau menjadi <<Bilah>> itu?
Sementara si anak anjing sedang ditahan oleh monster-monster, mata merahnya mulai bersinar merah.
DOKUN…….
Dari dalam dirinya sesuatu berdenyut dengan lembut. Ada perasaan bahwa ia dan anjing itu terhubung, bahkan lebih kuat daripada tadi malam.
Kalau begitu, demi diriku, jadilah <<Bilah>> itu—. Bunuh orang-orang itu dengan menjadi <<Bilah>> itu!
Sesuatu di dalam diri Tobio pecah dengan hebatnya—.
—Bunuh. Bunuh bunuh bunuh bunuh bunuh bunuh bunuh bunuh!!
Musnahkan mereka sepenuhnya!!! Bantai mereka!!!
“A-akan kupinjamkan hasraaaaaaaaaaaaaaaaaatttkuuuuuuuuuuu!!! Kau akan menjadi <<Bilaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh>>ku!!”
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh…….
Anak anjing itu merespons teriakan Tobio, yang menyebar dan bergema di seluruh lantai.
Dalam sekejap—sesuatu yang gelap dihasilkan dari tubuh anak anjing itu, yang kemudian menyebar. Benda itu juga keluar dari tubuh Tobio yang akhirnya menyelimuti boneka tanah liat. Tobio perlahan-lahan mulai bangkit berdiri. Mengenai kekuatan dahsyat dari lengan boneka tanah liat yang menindihnya, bagian itu dilarutkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia terbebas setelah kehancuran lengan raksasa tersebut. Kekuatan luar biasa miliknya ini telah berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Lambat laun membengkak di dalam dirinya, ada perasaan bahwa kekuatan itu sepenuhnya mengonsumsinya. Jumlah denyutan terus meningkat. Bertindak bersamaan, anak anjing hitam itu telah menumbuhkan bilah yang tak terhitung jumlahnya dari tubuhnya yang telah menghancurkan lengan boneka tanah liat.
Bersama-sama Tobio dan si anak anjing telah dibebaskan dari kekangan mereka, sementara Doumon yang berada di depan berdiri sepenuhnya kaku. Menyelimuti tubuh Tobio dan si anjing, ada sesuatu seperti aura hitam.
Tobio tak terpengaruh oleh ‘kekuatan’ dari dalam dirinya ini—ia sekadar bisa mengenali bagaimana cara menggunakan ‘Bilah’ itu.
Mengulurkan tangannya di depan tubuhnya, Tobio menggumamkan beberapa patah kata.
“—Tembus, semuanya.”
Jauh lebih intens daripada sebelumnya, aura hitam menyelimuti tubuh anak anjing itu. Sesaat kemudian, Utsusemi yang berjaga di belakang pria itu—bilah yang tak terhitung jumlahnya muncul dari bayang-bayang di bawah kaki monster yang menemani mereka, berhasil menusuk mereka!
Melihat sekeliling, melalui bilah raksasa yang lahir dari bayang-bayang di bawah kaki mereka, kedua boneka tanah liat yang menahan Samejima dan si kucing putih terbelah secara vertikal.
Ini adalah salah satu kemampuan si anak anjing. Kemampuan untuk melayangkan serangan dari bayang-bayang. Selama itu berada di dalam bidang pandang Tobio, bilah anak anjing itu bisa ditumbuhkan dari bayangan mana pun. Cara menggunakan kemampuan ini baru saja muncul di dalam kepala Tobio.
“…A-apa, apa-apaan ini!? Bilah tajam dari bayangan!? Jumlah pedang yang tak terhitung!? Bagaimana bisa hal ini terjadi!?”
Dengan pemandangan yang begitu intens, Doumon sangat kebingungan, dan saat dia menatap ke depan maupun ke belakang, apa yang dilihatnya adalah kekacauan mutlak.
Tobio berbicara sementara si anak anjing berdiri bersiap di sisinya.
“…Tiba-tiba terpikir olehku, nama apa yang seharusnya kuberikan padamu.”
Natsume telah mengatakannya. Sangat penting bagi partner mereka untuk memiliki nama. Tobio, pada saat ini, merasa yakin tentang nama mana yang harus dipilih.
“—<<Jin>>. Kau adalah Jin. Bilahku demi membunuh segalanya.”
Dan begitulah, ini adalah nama yang telah ia ciptakan untuk dirinya yang lain—.
Tobio memerintahkan anak anjing itu—Jin.
“Jin, tebas.”
Bilah anak anjing itu melesat ke depan dengan apa yang bisa dikatakan sebagai kecepatan dewa. Kecepatan itu begitu berlebihan hingga monster-monster dari Utsusemi dipotong habis tanpa bisa merespons sama sekali. Makhluk itu memperpendek jarak sekali lagi menyusup ke bawah kaki monster-monster—atau jika tak begitu, bilah yang tak terhitung jumlahnya akan bangkit dari bayang-bayang, dan, dengan menggunakan teknik penembusan, mereka dijadikan sasaran untuk dicincang. Lantai dari lantai lima diubah menjadi ruang aneh tempat bilah-bilah terdistorsi yang tak terhitung jumlahnya telah bertunas.
Gugup oleh pembalikan situasi yang drastis dan tiba-tiba, wajah Doumon berkedut saat dia menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain.
“Tak masuk akal! Membersihkan puluhan dari mereka dalam sekejap!? Apa! Apa-apaan Pusaka Suci itu!? Itu bukan salah satu dari Empat Makhluk Terkutuk, bukan!? Bilah tajam yang muncul dari bayang-bayang!? Kemampuan seperti itu sama sekali tak dikenal!!”
Tobio mendekati pria itu. Ia tak punya rencana untuk memaafkannya. Karena ini pastinya adalah salah satu gembongnya—.
Doumon mengeluarkan jimat-jimat baru dari saku dadanya, dan melemparkannya ke arah Tobio setelah merapalkan sebuah mantra. —Namun, sebagai akibat dari Jin yang muncul dari dalam bayangan di bawah kaki Doumon, benda-benda itu sepenuhnya diubah menjadi sampah. Makhluk itu telah berpindah melalui bayangan. Ia sudah mempelajari bagaimana cara menggunakan kemampuan perpindahan itu dari sebelumnya. Selama itu berada di dalam bidang pandangannya, ia bisa dengan bebas memindahkan Jin dari dalam bayang-bayang. Jin mengarahkan senjata khusus di dahinya ke arah Doumon. Partnernya, Jin, tak memberikan Doumon jeda sedikit pun.
“Hanya kau yang tersisa.”
Apa yang terlihat di depan mata Tobio, mengenai pria yang telah jatuh terduduk di tempatnya, ia merangkak mencoba untuk melarikan diri. Ketenangan dari beberapa saat yang lalu tak hadir sedikit pun.
“Hii. Menjauh! Menjauhlah dariku!”
Mata pria itu tampak seperti mayat.
Saat Tobio mengangkat tangannya, sebuah kecemerlangan yang menyilaukan muncul secara horizontal di lantai. Saat ia menyaksikannya, sesuatu yang seperti lingkaran sihir muncul, yang dari sana sesosok orang keluar.
Seorang pria yang berusia sekitar empat puluh tahun muncul dari tengah lingkaran sihir dan mendekati Doumon yang sedang menjerit.
“Kazuhisa!! Mundur dari sini!”
Doumon mengenalinya.
“Kepala Bagian Himejima!”
—Himejima. Himejima, ya?
Tobio menunjukkan reaksi terhadap nama itu.
…Tak mungkin, hal seperti itu tak mungkin terjadi.
Pada saat itu, Doumon memanfaatkan kesempatan dari jiwanya yang terguncang untuk mengambil objek seperti silinder dari sakunya, dan menembakkannya ke arahnya. Seketika, sebuah kilatan menyebar ke seluruh lantai, merampas penglihatan Tobio dan Samejima. Dengan penglihatan mereka yang silau, hanya suara pria yang muncul dari lingkaran sihir yang bisa terdengar.
“—Menarik. Bisa bertemu denganmu. <<Anjing>>.”
Pada saat mata mereka pulih, semuanya sudah terlambat karena pria-pria itu telah lenyap. Demikian pula, Utsusemi juga telah sepenuhnya pergi. Melalui lingkaran sihir itu, mereka tampaknya telah melarikan diri dari tempat ini.
“…Heh, mereka lolos, ya.”
Samejima menghela napas seperti itu sambil terengah-engah.
Aura hitam di sekitar Tobio menghilang dan ia tiba-tiba tampak lelah, segera duduk. Karena upaya dari meledak dengan amarah, tampaknya ia telah membakar staminanya sekaligus.
Dari jarak dekat, dua pasang langkah kaki sedang menaiki eskalator.
“Ikuse-kun, Samejima-kun! Apakah kalian aman!?”
Itu adalah Minagawa Natsume dan Lavinia. Mengingat kekotoran pakaian mereka, bisa disimpulkan bahwa ada pertempuran sengit di bawah.
“Kau terlambat, otak burung.”
Menanggapi pernyataan mengejutkan Samejima, Natsume dengan marah memarahinya.
“Siapa yang kaumaksud otak burung!? Kaulah penyebab semua ini karena telah menerobos masuk ke sini sesukamu, bukan?”
Saat keduanya mulai berdebat di tempat lain, Lavinia berbicara sambil mendekati Tobio.
“…Toby, hasratmu tersampaikan pada anak itu, bukan?”
Anak anjing itu—Jin tengah mengibaskan ekornya di sampingnya. Melihat hal itu, Tobio tersenyum. “Aah, terima kasih kepadamu.”
Memang, berkat saran Lavinia, Tobio telah mengekspresikan pikiran yang kuat, hasrat yang kuat. Melalui itu, Jin telah memperoleh kekuatan.
Sambil tersenyum, Lavinia sekadar berkata, “Itu bagus sekali.”
Natsume, yang telah selesai berdebat, mengembuskan napas dalam-dalam di belakangnya sambil berkata, “Nah sekarang, karena semua anggota sudah berkumpul, saatnya untuk sekali lagi bertemu dengan [Gubernur Jenderal]. Terakhir kali, ia tak menjelaskan berbagai hal secara mendetail.”
Mata keras Samejima tak menawarkan keberatan. Ia pun memiliki hal-hari tentang situasi saat ini yang ingin ia dengar dari sosok yang dianggap sebagai [Gubernur Jenderal] ini.
Setelah istirahat sejenak, keempatnya menyelinap keluar dari toserba, dan berjalan menuju lokasi [Gubernur Jenderal].
3
Sore hari itu, setelah turun di stasiun yang ditentukan, Tobio dan kawan-kawan, mengikuti panduan Natsume, berjalan dengan tergesa-gesa.
Dari stasiun itu sekitar lima belas menit berjalan kaki ke gedung multi-penyewa yang merupakan tujuan mereka. Ini adalah lokasi yang ditentukan oleh [Gubernur Jenderal] di mana Natsume bisa menjalin kontak.
Kehadiran pria itu tak bisa dirasakan dari luar. Untuk memeriksa bagian dalam, Tobio telah memasuki gedung bertingkat tersebut. Ruangan yang dimaksud berada di lantai empat. Namun liftnya rusak, dan karena itu tak bisa digunakan. Dengan demikian, mereka semua menaiki tangga, dengan lantai empat sebagai tujuan mereka.
Setelah naik, ada cahaya redup yang datang dari balik pintu tertentu. Mereka memutar kenop pintu, dan sambil membuat suara kii, mereka membukanya. Ruangan itu diatur seperti ruang kelas bimbingan belajar, dengan entah berapa banyak meja putih panjang dan kursi yang berjejer. Mereka bisa melihat sesuatu yang menyerupai layar besar.
Meskipun saat itu siang hari, ada tirai hitam yang tergantung di jendela. Jika bukan karena cahaya di langit-langit, kemungkinan besar ruangan itu akan gelap gulita.
Pada jarak dekat, ruangan itu dilengkapi dengan pengeras suara yang mulai mengeluarkan suara.
<<…Halo, hadirin sekalian, mereka yang dulunya adalah siswa kelas dua di SMA Ryoukuu.>>
Tiba-tiba, suara seorang pria terdengar melalui pengeras suara. Tobio dan Samejima bereaksi terhadap kata-kata “SMA Ryoukuu” diucapkan. Sedangkan Natsume yang menjadi satu-satunya yang akrab dengan suara ini, tetap tenang.
<<Tampaknya, Minagawa Natsume, kau telah dengan rajin mencapai tujuanmu.>>
“Tampaknya begitu. Jadi, seperti yang dijanjikan, kami bertiga telah berkumpul. Tidakkah ada berbagai hal yang harus kami ketahui sekarang?”
<<Sepertinya begitu.>>
Di kaki Tobio, Jin sedang duduk. Griphon berada di dekat Natsume. Kucing putih itu dalam posisi waspada di kursi tepat di sebelah Samejima.
<<Pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah pemimpin dari sebuah organisasi yang meneliti kemampuan supernatural seperti Sacred Gear. Nama organisasi ini adalah [Grigori]. Di luar penelitian Sacred Gear, kami juga melakukan hal-hal seperti melindungi para pemiliknya. Kondominium tempat kalian semua bersembunyi, itu adalah salah satu tempat persembunyian bagi orang-orang dengan kemampuan seperti itu.>>
…[Grigori]. Omong-omong, pria yang menyebut dirinya Doumon juga menggunakan nama itu. Jika ingatan Tobio benar, nama itu seharusnya muncul dalam catatan Alkitab.
Tobio berbalik menghadap sumber suara.
“Aku punya banyak pertanyaan, dan aku ingin mendengar jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.”
<<Aah, biarpun aku berada dalam posisi superior, meskipun aku bisa menghubungi kapan saja, aku tak dalam posisi mendiskusikan informasi rahasia… tapi baguslah, kalian semua tampaknya telah memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya.>>
“Kami memahami bahwa kami membawa hal-hal yang disebut Sacred Gear ini, kekuatan yang menurut akal sehat tak terbayangkan. Orang-orang itu, yang merupakan rekan sebagai bagian dari agensi tertentu di negara ini, menyerang kapal, dan kekuatan kamilah yang menjadi tujuan dari kekacauan itu—”
<<Kira-kira seperti itu, Ikuse Tobio. Sebelum kita berbicara tentang agensi itu, aku ingin kalian mendengar tentang komplotan orang-orang itu. Dari sisi bawah negara ini, sejak zaman kuno, telah ada banyak kelompok orang yang telah mengobarkan perang melawan roh-roh jahat. Itu adalah kekuatan pria yang kalian temui. Onmyoudou, atau mungkin sihir, metode seperti itu digunakan untuk memanggil kekuatan supernatural muncul di tangan seseorang—. Hal itu sangat mirip dengan sihir yang dipraktikkan oleh Lavinia, tetapi juga sangat berbeda.>>
…Jadi kekuatan supernatural tak terbatas hanya pada sihir saja, tetapi meluas hingga mencakup Onmyoudou juga. Sialan, bagaimana bisa kami melibatkan diri kami dalam hal-hal ini? Pikiran Tobio dan kawan-kawan gelisah.
[Gubernur Jenderal] melanjutkan.
<<Dari antara para Inou Tsukai ini ada lima keluarga yang memiliki kekuatan yang sangat kuat, yang dikenal oleh orang-orang di negara ini sebagai [Lima Klan Utama].>>
“Lima Klan Utama?”
Mendengar kata-kata Natsume, [Gubernur Jenderal] menjelaskan lebih lanjut.
<<Doumon, Kushihashi, Shinra, Himejima, dan terakhir Nakiri. Ini adalah [Lima Klan Utama]. Mereka yang merupakan keturunan dari klan-klan ini adalah spesialis pembasmi roh jahat yang telah melindungi negara ini dari bayang-bayang, bahkan mungkin memberikan nyawa mereka dalam pemenuhan tugas mereka. —Meskipun begitu, orang-orang di pinggiran dari masing-masing klan ini telah mengamuk. Ini adalah kelompok yang saat ini menyerang kalian, dan mereka adalah dalang di balik urusan ini.>>
Samejima, sambil duduk dengan pose yang tak sopan dengan kakinya ditopang di atas meja, berbicara, “Sekarang setelah kau menyebutkannya, ketika Ikuse dan aku diserang oleh pria itu pagi ini bukankah dia menyebut dirinya Doumon?”
Benar, pria yang tersenyum ofensif itu telah menamai dirinya sebagai ‘Doumon’. Lalu, pria yang datang sebagai penolongnya yang muncul melalui lingkaran sihir, dia telah memanggilnya ‘Himejima’.
<<Mereka menemukan para pemilik Pusaka Suci yang di dalamnya roh-roh jahat yang dikenal sebagai [Empat Makhluk Terkutuk] telah disegel. Orang-orang itu memiliki kemampuan kelas atas di antara tipe Avatar Independen. Minagawa Natsume, Samejima Kouki, tampaknya tak salah lagi bahwa kalian memiliki [Empat Makhluk Terkutuk].>>
Natsume dan Samejima masing-masing memandang burung elang dan kucing. Tobio berbalik ke arah Jin.
…Ini adalah salah satu dari [Empat Makhluk Terkutuk]? Sejak awal, kami bahkan tak diberi tahu tentang [Empat Makhluk Terkutuk] ini. Aku mengerti bahwa, karena satu dan lain alasan, mereka disebut roh jahat. Hewan-hewan ini, ada cukup banyak hal bagi seseorang untuk mengerti bahwa mereka tak persis seperti hewan biasa.
…Tapi, hal ini akan berhubungan dengan [Proyek Empat Makhluk Terkutuk] yang sebelumnya diucapkan oleh Doumon.
<<Empat Makhluk Terkutuk, yang terdiri dari Konton/Húndùn (Kekacauan), Toukotsu/Táowù (Kebodohan), Toutetsu/Tāotiè (Kerakusan), dan Kyuuki/Qióngqí (Kelicikan), mereka adalah monster legendaris yang muncul sebagai pembawa nasib buruk. Mereka dimusnahkan pada zaman kuno, dan diubah menjadi Sacred Gear. Itu telah diwariskan hingga hari ini, dan sekarang telah menjadi kekuatan kalian.>>
…Seseorang bisa merasakan sesuatu yang mengerikan dari nama-nama itu.
Samejima mengeluarkan ponselnya, dan sedang mencari informasi tentang [Empat Makhluk Terkutuk].
“…Bahkan dengan pencarian singkat, ada banyak hal yang tidak kupahami, tapi aku mengetahui bahwa nama-nama yang disebutkan tadi tampaknya dikaitkan dengan sesuatu yang disebut Empat Makhluk Suci (Empat Simbol) atau semacamnya. Sesuatu seperti Genbu dan Suzaku. Apakah ada hubungan dengan [Empat Makhluk Terkutuk] ini?”
<<—Ada. Masing-masing keluarga dari Lima Klan Utama mengatur salah satu dari Empat Makhluk Suci dan Ouryuu. Ketika seseorang lahir di dalam keluarga yang memiliki kekuatan mahakuasa ini, ada aturan bahwa mereka akan dianugerahi nama kemampuan tersebut seperti Suzaku atau Genbu. Orang-orang yang terlibat dalam urusan ini pada saat ini adalah kebalikannya, mereka semua berasal dari antara mereka yang tak mewarisi nama rumah tangga mereka.>>
“…Entah bagaimana, semua ini terasa semakin seperti fantasi. Sudah cukup sulit berurusan dengan gadis penyihir dan Sacred Gear, tapi meski begitu dari sisi bawah negara ini ada hal-hal seperti eksorsis dan orang-orang dengan kemampuan supernatural dan apalah….”
Natsume merenung sambil memegang tangan ke dahinya. Seperti yang diduga Natsume, ia kesulitan memahami situasi ini. Tobio pun merasakan hal yang sama. Dengan monster, Sacred Gear, sihir, dan sekarang Empat Makhluk Suci, semua ini jauh di luar pemahaman mereka, mengingat mereka adalah siswa SMA biasa sampai saat ini, Tobio bertanya.
“…Orang-orang yang menyerang kami mengatakan mereka menginginkan Empat Makhluk Terkutuk. Apakah itu berarti Pusaka Suci kamilah yang mereka incar?”
<<Ahh, benar. Orang-orang yang bertindak dari sisi bawah kali ini—mereka yang berafiliasi dengan [Agensi Utsusemi], sejak awal, mereka diusir secara paksa dari rumah tangga mereka sebagai pengganggu, sehingga mereka tak lebih dari sekadar orang buangan. Orang-orang itu telah berkumpul, menaruh dendam yang parah terhadap para kepala keluarga yang sepenuhnya memutuskan hubungan dengan mereka. Mereka membutuhkan kekuatan untuk menang atas mereka. Karena itu, mereka dikerahkan untuk mendapatkan kekuatan dari [Empat Makhluk Terkutuk].>>
“—Jadi itulah alasan di balik serangan terhadap kapal pesiar mewah. Mereka berusaha memanfaatkan Empat Makhluk Terkutuk untuk menentang Empat Makhluk Suci dan semacamnya.”
Terhadap pernyataan Samejima, [Gubernur Jenderal] menegaskan dengan ‘Benar’.
<<Orang-orang itu menyerang selama karyawisata semata-mata untuk mengambil semua siswa. Merupakan hal yang menguntungkan bagi orang-orang itu, fakta bahwa setengah dari kapal tenggelam jauh ke dalam air dengan cara seperti itu. Menguntungkan karena tampaknya menghemat waktu mereka untuk mengatur beberapa mayat manusia yang hilang. Setelah itu, yang tersisa hanyalah berurusan dengan keluarga yang ditinggalkan. Bagaimanapun, untuk itu mereka menggunakan hipnotis sehingga kerabat akan berduka untuk anak-anak yang kelangsungan hidupnya tak diketahui. Seharusnya kalian yang menghadiri upacara pemakaman bersama memiliki perasaan tak nyaman. Sampai batas tertentu, upacara pemakaman itu akan tampak seperti sebuah tindakan sandiwara. Orang-orang itu mematikan harapan apa pun untuk anak-anak mereka yang ada di dalam pikiran orangtua. Semuanya demi mencapai ambisi mereka—>>
…Dengan cara itu, [Gubernur Jenderal] telah menjelaskan asal-usul perasaan tak nyaman dari upacara pemakaman bersama tersebut. Orang-orang yang kini menargetkan mereka, telah mengendalikan pikiran kerabat para siswa…!!
…Dari cerita itu, ia telah mengembangkan kemarahan terhadap keegoisan ekstrem mereka. Orang-orang dari agensi itu, yang telah diasingkan dari Lima Klan Utama, demi menang atas orang-orang yang telah mengusir mereka, menyerang para siswa SMA Ryoukuu. Bukannya kekuatan yang ia, Minagawa Natsume, dan yang lainnya miliki adalah penyebabnya, melainkan bukankah kasusnya bahwa situasi seperti itu, yaitu situasi di mana mereka tak ditargetkan sejak awal, tidak akan pernah terjadi pada awalnya?
Bagi dirinya dan Sae untuk menghabiskan hari-hari bersama secara damai dan biasa, tampaknya menjadi situasi yang sangat mustahil—.
Natsume bertanya, “Jadi kalau begitu, apa alasan Anda bekerja sama dengan kami, [Gubernur Jenderal]? Meskipun aku menyadari kalau Anda telah mengatur berbagai hal seperti menindaklanjuti orang asing seperti kami di tempat ini, bagaimana aku tahu kalau Anda bukan orang baik?”
Itulah yang juga dirasakan oleh Tobio. Tampaknya tak ada alasan untuk memberi mereka begitu banyak perhatian, bukan? Tentu saja, ia memercayakan pertempuran kepada mereka, tetapi dengan pengecualian wajahnya, pada saat ini ia memberi mereka informasi sebanyak ini.
<<Mengenai Utsusemi, teknik yang digunakan untuk mengembangkan mereka adalah dari dalam organisasiku—mereka adalah hasil dari kebocoran informasi yang berkaitan dengan Sacred Gear Buatan. Informasi mengenai kalian semua dan masalah Empat Makhluk Terkutuk juga dibocorkan ke dalam agensi itu oleh seorang informan di dalam organisasi. Sejak awal, organisasi kami secara efektif menyebabkan bencana ini. Dalam hal ini, pada dasarnya, bisa dipastikan bahwa kamilah yang harus bertindak untuk menghentikannya… tetapi, ada keadaan rumit yang terkait dengan dunia ini, sehingga kami tak bisa dengan mudah ikut campur. Meskipun kami mendukung kalian, dari perspektif yang berbeda, tak ada pilihan selain memandangnya sebagai sebuah skandal. Organisasi kami ingin menghalangi eksperimen saat ini pada Sacred Gear Buatan, dan juga untuk menangkap orang yang telah menjadi pengkhianat.>>
—!
…Mereka sepenuhnya kehilangan kendali mendengar kata-katanya. Hanya Lavinia, yang telah menyadari keadaannya, bertindak tenang, tetapi Tobio dan kawan-kawan tak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.
Saat ekspresinya berubah menjadi kemarahan, Samejima dengan keras memukul meja.
“Njya, jadi kami harus melalui hal-hal seperti itu karena ketidakmampuanmu!? Sialan dengan itu!”
Samejima tak bisa menyembunyikan kemarahannya, dan Tobio pun hanya berhasil untuk tak menyerah pada amarahnya, hal itu sungguh benar-benar keterlaluan. Lavinia mengangkat tangannya.
“Shark, tolong jangan hanya menyalahkan Gubernur Jenderal. Sejujurnya, kali ini, mengingat organisasiku—asosiasi penyihir juga telah mengejar kelompok yang berpartisipasi dengan orang-orang itu, ini bukan hanya kegagalan di pihak organisasi Gubernur Jenderal. Meskipun ada beberapa faktor buruk, kita semua terikat pada skandal saat ini. Terlepas dari ini, [Grigori] dan aku bekerja sama dan telah berencana untuk mengejar orang-orang itu, dan di sinilah kita. Sampai sekarang, aku belum mendiskusikan hal ini dengan Shark dan yang lainnya, dan aku percaya itu adalah tanggung jawabku. Kalau kalian marah, maka aku meminta kalian untuk marah kepadaku. Tapi, aku hanya ingin kalian menyadari hal ini. Seandainya kita melakukan diskusi luar biasa ini sekaligus, pastinya kepala Natsume, Toby, dan Shark akan terasa mau pecah. Jadi, agar kalian semua bisa memahami fakta-fakta keras ini sedikit demi sedikit, kami memilih untuk menjelaskan berbagai hal secara bertahap.”
Lavinia dengan cepat menundukkan kepalanya untuk meminta maaf. Nada suaranya tampak telah menurun sampai batas tertentu.
…Jadi, bukan hanya ada pengkhianat di organisasi [Gubernur Jenderal], tetapi juga beberapa orang mencurigakan yang dikejar oleh asosiasi penyihir, dan keduanya berkolaborasi dengan [Agensi Utsusemi], serta ikut serta dalam Utsusemi—eksperimen Sacred Gear Buatan serta [Proyek Empat Makhluk Terkutuk]…?
Samejima menunjukkan ekspresi kompleks sebagai tanggapan atas permintaan maaf Lavinia, saat ia menggaruk kepalanya dan, tanpa tempat untuk dituju, “Ah, sialan!” ia mengumpat.
Dengan paksa menekan kemarahannya, Samejima memotong pembicaraan untuk bertanya kepada [Gubernur Jenderal].
“Sudah selarut ini, tidak masalah kalau hal-hal yang membingungkan terus bertambah. Sudah cukup baik bahwa kita datang untuk memusnahkan semua keparat itu. Selain itu, aku hanya punya satu hal lagi untuk ditanyakan kepadamu.”
Samejima berbalik dan melotot ke arah pengeras suara.
<<Apa itu?>>
“Mereka yang diubah menjadi Utsusemi oleh para keparat itu, bisakah mereka dikembalikan ke keadaan semula lagi?”
Pertanyaan itu, itu juga pertanyaan yang disimpan oleh Tobio dan Natsume.
<<—Mereka bisa dipulihkan. Aku pribadi menjaminnya.>>
Mendengar itu Samejima memukul telapak tangan kanan dengan tinju kirinya. Ekspresinya penuh energi.
<<Maeda Nobushige—. Dia adalah temanmu. Jika dia bisa dibawa kembali dengan selamat, aku berjanji untuk memulihkannya ke keadaan semula. Hal yang sama berlaku untuk teman-teman Minagawa Natsume dan Ikuse Tobio.>>
Mendengar itu, ekspresi Tobio dan Natsume menjadi cerah.
“Mengingat kau adalah seseorang yang sama sekali tak kukenal, aku tak bisa memercayai perkataanmu begitu saja, bukankah begitu? Aku tak bisa menerima caramu menangani masalah ini… tapi, demi mengembalikan temanku seperti semula, aku bersedia memberimu kesempatan, jadi ini adalah kesempatanmu untuk melunasi utangmu. Setelah apa yang dilakukan agensi itu, aku merasa sangat terpukul. Untuk menghancurkan mereka, kau mendapatkan dukunganku.”
<<Apa yang kulakukan tak bisa dimaafkan. Aku ingin minta maaf karena tak bisa menunjukkan wajahku saat ini. Tapi, aku berjanji kita akan bertemu langsung suatu hari nanti.>>
Suara [Gubernur Jenderal], sampai akhir ia menanggapi dengan ketulusan penuh.
Natsume berbisik kepada Tobio, “Sikap Samejima-kun itu, itulah yang akan kausebut sebagai tsundere,” dan terkekeh.
Masalah saat ini, akan memakan waktu cukup lama sampai mereka mendalami bagian dasarnya. Ada manuver rahasia yang kemungkinan besar melebihi imajinasi mereka. Tapi, setidaknya ada satu kabar baik yang luar biasa. Harapan—kini bisa terlihat dengan jelas!
—Ia akan mengambil Sae kembali.
Hingga saat ini, ia belum bisa bertemu dengan teman masa kecilnya. Tapi, kini ia memiliki teman-teman yang bisa membantunya.
Ia akan menyelamatkannya. Tanpa gagal—ia akan merebut kembali hari-hari biasa itu.
Natsume menanyakan masalah yang berbeda.
“Nah, [Gubernur Jenderal]. Anak-anak lain—sisa dari mereka yang selamat, apa yang terjadi dengan mereka?”
Tentu, seperti yang dikatakan Natsume. Selain mereka sendiri, ada orang lain yang tak berpartisipasi dalam karyawisata itu. Termasuk mereka sendiri, totalnya ada sembilan orang—. Bahwa mereka akan terjebak dalam skandal saat ini, karena memperoleh kemampuan yang sama dengan mereka, itu tak seharusnya terjadi, bukan?
[Gubernur Jenderal] berbicara.
<<Meskipun ada sembilan orang yang tak berpartisipasi dalam karyawisata tersebut, tak salah lagi bahwa hanya ada empat orang yang merupakan [Empat Makhluk Terkutuk]. Namun, untuk yang lain, ada mereka yang merupakan manusia biasa, dan juga mereka yang memiliki Sacred Gear lainnya. Saat ini diketahui bahwa tujuh dari sembilan orang memiliki Sacred Gear—mereka adalah orang-orang dengan kemampuan khusus. Di antara mereka, empat di antaranya adalah [Empat Makhluk Terkutuk].>>
“Jadi dua yang tersisa adalah manusia biasa?”
Terhadap pertanyaan Natsume, [Gubernur Jenderal] menjawab, “Uhuh.”
<<Untuk mereka yang merupakan orang biasa, mereka telah dikeluarkan dari urusan ini, dan menjalani kehidupan biasa yang tak berubah. Tapi, adapun Empat Makhluk Terkutuk dan tiga orang lainnya dengan kemampuan khusus, mereka sedang dikejar oleh orang-orang itu. Mengenai Empat Makhluk Terkutuk yang tak berada di antara kalian, mereka telah menolak untuk bekerja sama dengan kami dan mengamuk sendiri. Mengenai tiga yang tersisa, pihak kami sudah menyembunyikan lokasi mereka.>>
Sangat mungkin untuk mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu untuk informasi dari penyintas lainnya cukup berharga. Jika memungkinkan, aku ingin semua orang bertarung bersama… tetapi, karena di antara mereka yang selamat adalah para siswa yang memiliki atmosfer tidak menyenangkan, aku ragu untuk menghubungi mereka. …Aku berdoa agar, bagi para siswa yang tak memiliki kemampuan, mereka bisa terus menjalani kehidupan biasa, pikir Tobio dengan kuat.
<<Mengenai [Empat Makhluk Terkutuk], tentu saja sering kali terjadi kasus di mana mereka berempat ditarik ke tempat yang sama. Sejak zaman kuno, setiap kali mereka terbangun, ini telah menjadi prinsip unik yang tak bervariasi dari [Empat Makhluk Terkutuk]. Entah beruntung atau tidak, itulah alasan kalian semua berkumpul di satu gedung. Cepat atau lambat, kalian terikat untuk bertemu dengan dua orang yang tersisa.>>
…Dua orang? Ketiganya, Tobio, Natsume, dan Samejima merasa bingung. Mengenai Empat Makhluk Terkutuk—bukankah hanya ada satu yang tersisa? Omong-omong, ketika [Gubernur Jenderal] membuat pernyataannya beberapa saat yang lalu, ia tak memasukkan Tobio di antara mereka. Orang-orang yang ia tunjuk seperti itu—hanya Natsume dan Samejima.
[Gubernur Jenderal] berbicara kepada Tobio.
<<—Pemuda dengan anjing hitam, Ikuse, ya. Anjingmu itu kurasa tak menetas dari ‘telur’, bukan? Makhluk itu muncul di sebelahmu dengan sendirinya—. Bukankah begitu keadaannya?>>
—!
…Benar, Jin tak menetas dari telur itu. Ia bangkit dengan sendirinya dari bayang-bayang.
…Setelah ditebak dengan benar, Tobio menelan ludah.
“…Bagaimana, mengenai hal itu…?” Ia bertanya balik dengan ragu-ragu.
<<Yah, berani kukatakan, saat ini kau adalah eksistensi yang melebihi skema orang-orang itu. Kau adalah orang yang tak biasa, sangat mirip dengan Lavinia kurasa. Orang-orang itu memperkenalkan elemen asing ke dalam proses mencuri [Empat Makhluk Terkutuk]. Ikuse Tobio, anjing yang kaumiliki itu—tampaknya merupakan eksistensi dari dimensi yang sama sekali berbeda.>>
Melihat ke arah Lavinia, ia menyipitkan matanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Mungkin, Toby adalah elemen asing yang berada di luar semua ekspektasi mereka.”
…Benda seperti aura hitam itu, itu bukan kekuatan Empat Makhluk Terkutuk? Kalau begitu, mengenai kekuatan sejatinya… identitas sejati Jin, apa itu? Baru saja, ia mengatakan bahwa tiga orang yang memiliki kemampuan khusus yang tak berada di antara [Empat Makhluk Terkutuk] sedang disembunyikan… artinya, ia adalah salah satu dari mereka yang dia bicarakan.
Tampaknya Lavinia dan [Gubernur Jenderal] entah bagaimana telah melihat kebenaran di balik kekuatan Tobio….
<<Ikuse Tobio, apakah nenekmu masih ada?>>
“Tak ada lagi. Beliau meninggal sewaktu aku masih SMP.”
Kenapa mengungkit hal itu? —Meskipun merasa bingung Tobio berbicara tanpa kebohongan.
<<Begitukah, aku penasaran apakah kau tak keberatan memberi tahuku nama keluarga nenekmu yang dulu.>>
“…Itu dulu Himejima.”
…Ketika Doumon telah menamai pria yang muncul pada waktu itu sebagai Himejima, Tobio sempat terkejut sesaat. Itu bukan karena kebetulan, karena itu adalah nama yang sama dengan nama keluarga neneknya yang dulu.
Mendengar itu [Gubernur Jenderal]—mulai tertawa.
<<……Kukukukuku>>
“…Gubernur Jenderal? Apakah sesuatu terjadi?”
Natsume berbicara sementara tanda tanya melayang di atas kepalanya.
<<…Tidak, tidak juga. Hanya saja ironinya terlalu menusuk, sampai-sampai setelah sekian lama aku dibuat kehabisan kata-kata. …Tampaknya, sekeras apa pun kau mencoba melenyapkan kegelapan di dalam keluarga, di kehidupan sekarang hal itu sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, ya, Kepala-dono. Kukuku, itu adalah ‘anjing’, lho, ‘anjing’. Kau yang begitu membenci halilintar, apakah kau sanggup melenyapkan si ‘anjing’ itu juga?>>
Merasa geli [Gubernur Jenderal] terkekeh sendiri seperti itu. Tak ada yang bisa memahami makna sejatinya.
“…Mungkinkah, dengan [Lima Klan Utama] yang kausebutkan tadi, apakah ada hubungan antara baa-san-nya dan pria itu?”
Rupanya Samejima memikirkan hal yang sama dengan Tobio, saat ia menyuarakan pertanyaan seperti itu.
Namun, [Gubernur Jenderal] sengaja tak mengatakan apa-apa tentang itu.
<<Tidak, jangan pikirkan itu sekarang. Kalau benar semua hal telah ditentukan, maka kurasa semua orang terkait dengannya. Tapi, pemuda dengan anjing hitam. Kau memiliki hal-hal lain untuk mengisi pikiranmu di luar masalah ‘Himejima’. Mengenai nama itu, itu adalah bagian dari urusan yang sangat berat yang melibatkan hal-hal dengan sisi bawah negara ini.>>
Sampai saat ini, Tobio belum mengerti.
Mereka mengadakan pertemuan dengan [Lima Klan Utama], di mana mereka akan menentang takdir mereka—.

Post a Comment