SLASHDOG Jilid 1 Prolog
Ia tak tahu apakah itu sebuah mimpi atau ilusi. Namun, itu adalah kenangan yang melekat erat.
Itu terjadi di masa kecilnya—pada usia tujuh tahun, ia telah pergi ke beberapa reruntuhan di kota tetangga untuk bermain sambil berpura-pura bertualang. Di bawah langit musim dingin bulan Januari, ketika salju baru saja mulai sedikit menumpuk, orang itu muncul di depan matanya. —Itu adalah seorang malaikat hitam.
Pria itu memiliki sepasang sayap hitam yang tumbuh di punggungnya. Malaikat bersayap hitam itu tampak seumuran ayahnya, atau mungkin sedikit lebih tua.
Pria malaikat itu membungkuk agar mereka berada pada tingkat pandangan yang sejajar dan berkata, “…Nah, kalau begitu, mungkinkah kau belum menyadarinya?” sambil menepuk kepalanya, pria itu tersenyum.
“Jika demikian, jika benda itu bersemayam di dalam dirimu, maka cepat atau lambat duniamu akan berubah sepenuhnya. Tapi, sekarang, saat ini, kau tidak boleh putus asa, ya? Lagi pula, kau—”
Sambil meletakkan satu jari di dadanya, pria itu berkata, “Dari antara tiga belas tipe, hanya milikmulah yang dinobatkan sebagai ‘dewa’. Meskipun, itu adalah ‘dewa’ palsu—”
Sering kali ia tak bisa memahami apa yang dibicarakan pria itu. Ia tak bisa mengerti—tetapi kenangan itu tetap melekat dengan sangat jelas. Pada saat itu, ia menanggapi suara teman yang datang menjelajah bersamanya yang telah memanggil-manggil dirinya. Ketika ia menoleh ke arah pria itu lagi—semuanya sudah terlambat karena malaikat hitam itu sudah tak ada lagi di sana.
Ia tak tahu apakah itu mimpi atau ilusi.
Prolog
Awal bulan Mei—.
Selama SMA—tidak, tepat sebelum satu-satunya, karyawisata sekali seumur hidup di SMA, Ikuse Tobio perlu absen.
Kemarin, kondisi fisiknya sangat buruk. Ia mengalami demam yang tak kunjung turun dan tubuhnya tak bertenaga. Kepalanya pusing, dan kakinya juga goyah.
Meskipun ini adalah awal dari Golden Week, itu bukan alasan untuk ceroboh… tetapi, ia masih terserang penyakit mendadak. Dokter juga telah menganjurkannya untuk beristirahat.
“Jadi, karena aku bakal membelikan oleh-oleh, kau bakal berbaring dengan patuh?”
Sambil berkata demikian dan berdiri tersenyum di depan pintu masuk adalah seorang gadis berambut setengah panjang. Dia adalah teman sekelas Tobio di kelas dua SMA yang sama. Dia juga teman masa kecilnya, Toujou Sae. Senyumnya tampak jahil.
“…Aah.”
Tobio menanggapi sambil cemberut di balik masker.
Dia datang untuk memeriksa kondisi Tobio sebelum berangkat. Dari sudut pandang Tobio, mau tak mau ia merasa kesal.
Rencana karyawisata itu adalah pelayaran kapal pesiar mewah selama sepuluh hari mengelilingi Kepulauan Hawaii.
Bagi Tobio, seharusnya itu menjadi perjalanan ke luar negeri pertamanya. Sebagai seorang pelajar, mustahil ia tidak menantikannya. Dengan tubuhnya terasa sangat berat, rasa kesalnya pun makin menjadi.
Sae menyodok dahi Tobio yang menunjukkan ekspresi murung.
“Kita bisa pergi kapan saja setelah dewasa. Lalu kita pergi bersama, jadi cobalah bertahan untuk kali ini.”
“…Dasar bodoh. Aku ingin pergi hari ini. Lagian, kau bilang bakal menemaniku, tapi ujung-ujungnya aku yang harus mentraktir, 'kan?”
“Aku ketahuan.” Sae tertawa kecil sambil tergelak. Tobio mengembuskan napas, mengusap dahinya yang tadi ditusuk.
Setelah selesai menggoda Tobio, Sae mengambil tasnya.
“Yah, sudah waktunya. Maaf, ya.”
“Ah, tunggu dulu.” Tobio memanggil Sae kembali sambil merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti seuntai tasbih doa.
Ia memasangkannya di pergelangan tangan kiri Sae.
“Ini peninggalan mendiang Baa-chan-ku, beliau selalu memastikan aku memakai ini setiap kali aku bepergian. Karena aku tak bisa ikut pergi, aku ingin kau yang membawanya dan semoga terlindungi selama karyawisata.”
Sae menatap untaian tasbih itu, lalu mengusapnya perlahan dengan penuh rasa terima kasih.
“Makasih.”
“Um… yah, bagaimana bilangnya ya, aku ingin kau menjaga diri.”
Berkata demikian, wajah Tobio, yang sudah merah karena demam, semakin merah.
“Apa?”
“Eh… kau tahu penyakit dan semacamnya, virus dan sebagainya.”
“Bukannya itu yang mungkin kaualami.”
Menerima balasan sarkastik seperti itu, mulut Tobio melengkung membentuk “へ”.
Sewaktu dia membuka pintu depan, Sae menoleh sekali lagi dan berkata, “Aku pergi dulu.”
Dia tersenyum sedikit kesepian, lalu pergi.
Empat hari setelah teman-teman sekolahnya berangkat—.
Mereka telah melakukan perjalanan dengan pesawat dari Narita ke Honolulu. Dari sana, mereka menaiki kapal pesiar “Heavenly of Aloha” di pelabuhan, dan sekarang seharusnya sudah tiba di Pulau Kauai, Hawaii.
Membayangkan teman-teman sekolahnya menjilat bibir mereka usai menikmati masakan kapal mewah, berkeliling ke setiap pulau, dan menikmati pertukaran budaya secara menyeluruh, pemikiran itu kemungkinan besar akan membuat hatinya terasa pahit.
Menjelang siang, kondisi fisiknya perlahan membaik. Setelah mengambil koran dari celah surat, Tobio pun bersiap menyiapkan sarapan siang.
Di rumah itu tak ada siapa pun selain Tobio sendiri. Ini karena ia sudah berpisah dari keluarga sedarahnya. Karena itu, sangat melegakan baginya bahwa Sae akan datang untuk menyiapkan makan malam.
Meski pagi itu tidak sampai meminta seseorang menyiapkan makanan dan sejenisnya, Tobio tetap menggoreng telur, yang ia makan bersama roti.
Teman-teman sekolahnya mungkin sudah beres menyantap makanan yang elegan. Berpikir seperti itu, ia menjadi sangat tertekan.
Ia pindah ke depan TV, dan sambil menatap layar dengan pandangan kosong, ia menggigit rotinya sedikit demi sedikit.
[Hingga saat ini, kondisi para korban selamat masih belum diketahui—]
Tobio terus mengunyah roti sambil menonton TV tanpa minat tertentu.
[Para siswa dan guru SMA Ryoukuu yang sedang menjalani karyawisata telah berhasil naik—]
Apa…?
Tobio mendengar nama SMA yang terasa begitu familier, dan seketika seluruh perhatiannya tertuju pada layar televisi.
Di layar televisi menayangkan rekaman laut yang diambil dari udara. Seperti adegan dari film, sebagian besar lambung kapal pesiar mewah itu terlihat tenggelam ke dalam laut sambil mengeluarkan asap.
Ia bertanya-tanya apakah ia tak salah dengar. Ini mestinya mustahil! Hal-hal di luar batas seperti ini, tidak seharusnya terjadi!
Hati Tobio dihantam berulang kali saat teks kejam di layar TV menampilkan: “Kapal Keram Misterius Heavenly of Aloha”.
Begitu nama kapal penumpang itu sudah dipastikan, Tobio membelalakkan matanya karena terkejut. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Napasnya menjadi tak beraturan dan detak jantungnya meningkat cepat, dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras.
Tobio mengambil koran yang tadi ia ambil dan kini tergeletak di atas meja.
Ia memeriksa berita dalam salah satu artikelnya. Isinya membuat tubuh Tobio gemetar.
‘Kapal Pesiar Mewah, Kecelakaan di Laut!’
‘Mimpi Buruk dalam Karyawisata!’
‘Status 233 Siswa SMA di Atas Kapal Belum Diketahui—’
‘Tidak Ada Harapan bagi Korban Selamat—’
Nama sekolah itu, SMA Ryoukuu—.
Dan Tobio, memikirkan teman masa kecilnya, Sae, yang telah ia lalui masa SMA bersama.
—Aku pergi dulu.
Dalam benak Tobio, kata-kata terakhir yang diucapkan oleh teman masa kecilnya kembali terngiang. Sae, yang memberinya tatapan yang terlihat sedikit kesepian sambil tersenyum. …Ada sesuatu tentang kombinasi itu yang menandakan betapa tak terelakkannya nasib ini.
“…Sae.”
Dengan seluruh tenaganya seakan terkuras habis, Tobio terduduk lemas di tempatnya berada.
Hari itu, Ikuse Tobio kehilangan 233 teman sekolahnya, termasuk teman masa kecilnya Toujou Sae—.

Post a Comment