SLASHDOG Jilid 1 Sang Penghukum/Penggila Pedang Pemula
Sang Penghukum/Penggila Pedang Pemula
Sebuah tempat tertentu di Italia—.
Ada sebuah SMA di kota pedesaan di provinsi terpencil. Di bangunan sekolah tua itu, seorang eksorsis sedang mengambil tindakan tegas.
Menggunakan bangunan sekolah tua milik SMA tersebut sebagai markas, seorang Iblis dan budak-budaknya akan berkumpul malam demi malam. Mereka akan mengundang penduduk sekitar dengan kata-kata manis, mengabulkan keinginan mereka, dan kemudian akan meminta imbalan.
Setelah mendeteksi hal-hal semacam itu yang berada di dekat kekristenan—Vatikan yang merupakan markas besar Katolik, itu bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja oleh para pengikut yang telah menebas Iblis dan Malaikat Jatuh selama bertahun-tahun.
Vatikan segera mengirimkan seorang agen—seorang prajurit, yang kemudian melakukan upacara eksorsisme pada Iblis-Iblis tersebut.
Upacara tersebut—dengan kata lain, untuk memusnahkan Iblis.
Bagian dalam bangunan sekolah tua yang telah menjadi markas Iblis itu, keseluruhannya basah kuyup oleh darah. Baik itu koridor, dinding, kursi, meja, hampir semuanya tertutup oleh darah.
Adapun penyebabnya, sebilah pedang yang melepaskan gelombang suci, yang digenggam di tangan seorang pendeta Katolik pria, telah melaksanakan penyelamatan (pemusnahan) para Iblis.
Pedang panjang kuno yang melepaskan aura suci yang kuat dari bilahnya, tanpa kesulitan telah membersihkan para Iblis yang menjadikan bangunan sekolah tua itu sebagai markas mereka, dan telah memusnahkan mereka.
Bagi Iblis-Iblis yang dibantai oleh senjata khusus yang mengubah kesucian menjadi perlindungan ilahi, karena itu bukan sejenis makhluk tingkat tinggi, mereka telah direduksi menjadi sampah sebelum akhirnya lenyap. Khusus untuk persenjataan legendaris yang dikenal sebagai [Pedang Suci], aura kuatnya sanggup melenyapkan bahkan makhluk tingkat tinggi sekalipun.
Pedang yang dihunus oleh pendeta Katolik pria itu juga termasuk di antara [Pedang Suci] legendaris tersebut.
Untuk alasan itu, meskipun Iblis yang berada di bangunan sekolah tua ini adalah Kelas Tinggi, mereka tak bisa menghindari luka fatal begitu tertebas.
Pendeta Katolik pria itu adalah seorang keturunan Italia berusia pertengahan tiga puluh tahun. Sambil mengelus janggut tipis di tangan kirinya, ia telah menyudutkan pemimpin para Iblis di dalam sebuah ruangan di lantai dua bangunan sekolah tua tersebut.
Iblis yang telah mempekerjakan budak-budak tersebut—adalah seorang Iblis wanita. Dari penampilannya, dia tampak seperti seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun, tetapi karena Iblis bisa mengubah bahkan penampilan mereka, kau tak bisa memastikan usia mereka dari pandangan sekilas. Pendeta Katolik itu berbicara.
“Sangat disayangkan, aku telah menghancurkan budak-budakmu. Yang tersisa… hanyalah kau sendiri, ya.”
Gadis yang merupakan Iblis itu memelototi sang pendeta Katolik dan menjerit. “Beraninya kau membunuh budak-budakku, dasar utusan ilahi yang menjengkelkan!!”
Mata gadis Iblis itu melepaskan kilauan yang berbahaya, dan aura berwarna biru berkumpul di sekitar tangannya. Mengarahkan tangannya ke arah si pendeta, dia menembakkan kekuatan para Iblis—kekuatan iblis. Jika sampai terkena serangan langsung, bahkan pendeta Katolik itu pun takkan bisa lolos dengan selamat.
…Tapi, pendeta Katolik itu dengan mudah menghindarinya, dan dengan cepat menyelinap ke dalam dekapan gadis Iblis itu, melakukan tebasan menyapu dengan pedang suci.
Sesaat kemudian, gadis Iblis itu memekik dalam penderitaan yang mematikan. Dengan asap yang mengepul dari seluruh tubuhnya, sosoknya runtuh sedikit demi sedikit, hingga akhirnya lenyap.
Setelah sepenuhnya membantai Iblis-Iblis di bangunan sekolah tua itu, pendeta Katolik pria itu memberikan satu ayunan pada pedang sucinya sebelum mengembalikannya ke dalam sarungnya.
Setelah menyelesaikan penyelamatan Iblis, sang pendeta Katolik keluar dari bangunan sekolah tua itu.
Menunggunya di depan gerbang adalah asistennya, seorang anak laki-laki berambut putih yang juga merupakan muridnya. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu menunjukkan ekspresi jahil. Mengenai pakaiannya, itu adalah pakaian pendeta khusus anak laki-laki.
Anak laki-laki itu, di hadapan sosok gurunya yang telah menyelesaikan pekerjaannya tanpa cedera, berada dalam semangat yang tinggi.
“Hei, rupanya David-sense[1]! Bahkan dengan melawan Iblis-Iblis keji nan kejam, Anda sama sekali telah menghancurkan mereka dengan sangat indah dan tak terkalahkan! Aku juga memasang penghalang di sekitar bangunan sekolah tua itu persis seperti yang diinstruksikan.”
Di hadapan muridnya yang ceria, pendeta Katolik itu—David Serro, dengan cepat memeriksa isi tugas berikutnya dari catatan di sakunya. Perintah tertulis di sana.
…Catatan itu berisi informasi tentang aktivitas mencurigakan di Jepang yang melibatkan Malaikat Jatuh dan sekelompok penyihir, dan David diperintahkan untuk segera menuju ke sana.
Anak laki-laki yang menjadi muridnya bertanya sambil mengintip ke arah catatan itu.
“David-sense, David-sense! Seperti dugaan, kita akan pergi ke sana, 'kan?”
Setelah memastikan perintah tersebut, David memasukkan kembali catatan itu ke dalam sakunya.
Pendeta Katolik David Serro adalah seorang agen Vatikan—seorang prajurit Gereja. Sejauh ini, ia telah membasmi tidak hanya Iblis keji dan Malaikat Jatuh, tetapi juga berbagai monster jahat. Kekuatan satu-satunya yang ia miliki adalah [Pedang Suci] dan kekuatan yang menyertainya.
“Ya, di atas semua itu, kita harus menyelidiki lokasi konflik antara Grigori dan para penyihir dari Oz. —Mari kita bersiap-siap. Untuk saat ini, kita akan kembali ke subdivisi, lalu segera meninggalkan negara ini.”
Mendengar pernyataan David, anak laki-laki itu membuat kegaduhan.
“Hyahahaah! Negara asing! Mari pergi dan hantam para heretik di negara asing! Aku harus memuji payudara Malaikat Agung Gabriel-sama karena sekali lagi telah meningkatkan imanku secara perlahan!”
“—Dengar, Freed. Tujuan kita hanyalah untuk menyelidiki Malaikat Jatuh dan para penyihir yang berkeliaran di Jepang, dan memusnahkan mereka tergantung pada situasinya. Berdasarkan intelijen, orang-orang itu tampaknya sedang menjalankan rencana berbahaya sesuka hati mereka di negara tersebut.”
“Aku paham, aku paham, kalau begitu, itu artinya tergantung pada situasinya kita harus mengeksekusi penghakiman dengan [Galatine] milikmu itu ya, Sense.”
Anak laki-laki itu—Freed Sellzen, mengarahkan pandangannya pada apa yang tergantung di pinggang gurunya—[Pedang Suci Galatine].
“Kau juga harus ingat bahwa penghakiman dilakukan di bawah pembenaran belas kasihan, Freed.”
Mendengar kata-kata gurunya, Freed memasang pose memberi hormat.
“Siap, Sense. Kita akan menghantam mereka dengan menahan diri☆”
Dari tempat yang tidak diketahui oleh Ikuse Tobio dan yang lainnya, setiap kekuatan besar mulai bergerak—.
[1] Sense (センセ).

Post a Comment