SLASHDOG Jilid 2 Bab 3
Bab 3 Jalan-Jalan/Kontak
1
Hari Sabtu berikutnya, saat Tobio dan yang lainnya juga mendapatkan hari libur dari Nephilim, mereka bergegas keluar dari gedung apartemen dan berjalan-jalan ke kota. Itu adalah perjalanan yang dilakukan oleh seluruh anggota kelompok bersama-sama, yang terdiri dari Tobio, Sae, Natsume, Samejima, Lavinia, dan Vali.
Samejima dan Vali sepertinya bukan tipe orang yang tertarik untuk pergi jalan-jalan bersama seperti ini, dan Tobio pun merasa terkejut melihat mereka ikut.
Saat berjalan ke distrik perbelanjaan, Natsume melakukan peregangan tubuh sambil mengeluhkan rasa sakit pada otot-ototnya.
“Owowowow, sudah menjadi niatku untuk melakukan latihan yang baik… tapi itu benar-benar melelahkan. Barakiel-sensei yang tidak ramah itu… berencana menerapkan metode melampaui Spartan.”
Sae memberinya senyum kecil.
“Benar sekali. Meskipun begitu, kurasa beliau benar-benar peduli. Ada waktu istirahat setelah menyelesaikan regimen pelatihan, dan beliau selalu menyuruh kita untuk tetap menjaga hidrasi tubuh.”
Seperti yang dikatakan Sae, pengajar berwajah kaku itu, meski tampak tegas seperti yang terlihat dari penampilannya, dia juga orang yang metodis dan sama sekali bukan tipe orang yang tak bisa diajak bicara. Dia memang seorang Spartan seperti yang Natsume katakan, tapi….
Samejima juga membunyikan lehernya dengan tajam.
“Yah, yang jelas ini membangun stamina. Aku bahkan kaget sendiri saat menyadari kalau aku punya stamina untuk berlari sejauh sepuluh kilometer.”
Itu persis seperti yang Samejima katakan, tapi bagi dirinya sendiri yang pada dasarnya memiliki kemampuan atletik, dalam kasusnya regimen membangun stamina ini telah membuahkan hasil. Dibandingkan dengan sebelum dia pergi ke Nephilim, terlihat jelas bahwa lingkar lengannya telah bertambah besar, dan bahkan dari balik pakaiannya, otot-otot dada dan perutnya tampak menonjol.
Tobio juga telah membentuk otot, tapi…. Itu tidak bisa dikatakan setingkat dengan Samejima.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?”
Lavinia yang datang bersama mereka… mengenakan topi dan jubah gadis penyihir seperti biasanya, meski sedang dalam perjalanan pribadi. Saat mereka berjalan bersama, orang-orang yang lalu lalang di jalan memandang mereka dengan aneh.
Natsume mengarahkan jarinya ke arah Lavinia saat dia berbicara.
“Kami mulai denganmu, Lavinia! Pakaian! Untuk seorang gadis muda, penampilan seperti itu benar-benar sangat buruk! Karena bahan dasarnya sudah berada di kelas tertinggi, tidak tampil modis adalah hal yang sama sekali tak bisa diterima! Toujou-san akan membantu juga! Bersama-sama, kita akan mengoordinasikan pakaian untuk gadis ini!”
“Eh? Y-ya.”
Karena kalah telak oleh semangat Natsume, Sae akhirnya setuju.
Adapun Lavinia sendiri….
“Ini tidak apa-apa karena aku seorang penyihir. Penampilan ini adalah yang terbaik untuk meningkatkan kekuatan sihir, jadi ketika saatnya tiba—”
“Ahhh, astaga! Kita ini mau berbelanja, kau dengar, belanja!”
Mengabaikan keberatan Lavinia, Natsume menunjuk ke arah distrik perbelanjaan.
Vali mengembuskan napas panjang saat dia berbicara.
“Apa saja boleh, tapi yang ada di pikiranku sejak dulu adalah aku ingin makan siang di kedai ramen. Kupikir aku ingin ramen dengan kuah kaldu seafood yang kental dan lezat.”
Setelah Natsume memberikan jawaban setengah hati, “Iya, iya,” kepada pemuda berambut perak itu, dia tiba-tiba berbisik di telinga Tobio.
(Ikuse-kun, bukankah sebaiknya kau berbaikan dengan Toujou-san?)
(Eh?)
Tobio terkejut mendengarkan topik yang tak terduga itu.
Seperti yang Natsume katakan, meskipun dalam kehidupan sehari-hari normal mereka kelihatannya tak ada yang aneh antara Tobio dan Sae… dan meskipun demi menjaga hubungan baik dengan teman-teman mereka dalam jangka panjang, mereka bertingkah seolah-olah semuanya normal, sudah jelas bahwa mereka mendapati diri mereka saling merasakan emosi yang kompleks.
Tentu, itu adalah emosi kompleks yang muncul dari insiden ruang ganti. Karena Tobio menjelaskan segalanya di kediaman setelah kejadian itu, kesalahpahaman sebenarnya sudah diselesaikan. Semua orang menyadari status Lavinia sebagai orang yang pada dasarnya bermuka polos dan pelupa.
Meski begitu, masih ada sedikit kecanggungan di antara keduanya, atau lebih tepatnya, perasaan itu masih membayangi di latar belakang. Natsume tampaknya telah merasakan itu.
Natsume masih terus berbisik.
(Begini ya, ketika hal-hal semacam itu terjadi, hal terbaik yang harus dilakukan adalah berbicara dengan si gadis sambil menemaninya berbelanja. Sementara aku menemani Lavinia, kau bisa mengobrol dengannya sambil menemaninya berbelanja.)
(I-itu saja…?)
(Itu saja. Daripada si berandal atau si bocah ramen itu, Toujou-san adalah prioritas utamamu.)
Bagi Natsume, acara jalan-jalan ini adalah kesempatan untuk mengurangi kecanggungan Tobio dengan Sae. …Untuk seseorang yang biasanya suka menggoda mereka, ini tampaknya cukup tak terduga, dan Tobio yang melihatnya merasa cukup terkejut dengan perhatian Natsume. Mungkinkah ini yang mereka sebut sebagai intuisi seorang gadis?
Tobio langsung mengangguk sekali. Natsume juga tersenyum lebar.
“Oi, Ramen Dragon. Bukankah kau juga sering makan ramen di rumah?”
“Hmph, inilah mengapa kau benar-benar tak tertolong, Samejima Kouki. —Suatu kesalahan untuk menyamakan ramen rumahan dengan ramen kedai. Untuk ramen rumahan, ada rasa aman karena hidangan itu langsung siap disantap, sedangkan untuk ramen kedai, kualitasnya karena dimakan langsung di kedai—”
“Bukankah itu hanya karena kau suka makan menu paket anak-anak, Radra-sensei?”
“Meskipun menu paket anak-anak juga bagus untuk porsi anak-anak, seperti dugaan, ramen dari kedai… tunggu, jangan panggil aku Radra.”
“Tentu, tentu, Lucidra, Lucidra.”
Samejima dan Vali terdengar saling menyahut di belakang mereka… tapi bagaimanapun juga, meskipun ia akan menaruh perhatian penuh kepada Sae hari ini, Tobio ingin menikmati acara jalan-jalan ini.
2
Saat mereka berkeliling ke berbagai toko, ketiga gadis itu (terutama Sae dan Natsume) memekik gembira sambil melihat-lihat pakaian sesuka hati mereka. Sejak memasuki toko tertentu, itu waktu belanja resmi dimulai.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertama Tobio menemani Sae berbelanja pakaian. Saat masih menjalani kehidupan biasa, mereka hanya pergi membeli bahan makanan dari supermarket.
Membeli pakaian adalah kenikmatan untuk sepasang kekasih—.
“Kalau begitu, pakaian untuk Vaa-kun juga!”
“Aku tidak terlalu—”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Bukankah kau agak cocok memakai baju perempuan?”
“Laki-laki, aku.”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, serahkan saja pada Onee-san.”
Bukan hanya Lavinia, Natsume bahkan menyeret Vali. Meskipun dia adalah laki-laki, Natsume malah memilih pakaian perempuan untuknya.
Para laki-laki—Tobio dan Samejima, berada di dalam toko sambil mengawasi gadis-gadis berbelanja dari kejauhan. Samejima, yang dengan cepat menyelesaikan belanjanya—setelah membeli peralatan latihan beban, saat ini sedang menunggu gadis-gadis itu selesai.
Tak disangka, Tobio merasa, untuk seorang berandal, dia pandai bersosialisasi. Tobio berpikir bahwa Samejima akan segera pulang setelah selesai dengan urusannya sendiri.
Sementara itu, Jin, Griffon, dan Byakusa sedang bersiaga di luar toko. Karena dengan hanya itu orang-orang yang lewat akan menjadi cemas (kombinasi anjing hitam besar dan elang itu sangat mengerikan), mereka pun menyamarkan keberadaan mereka dengan menipiskan hawa kehadirannya. Karena orang-orang awan tidak memiliki kekuatan supernatural, sepertinya mereka tidak bisa melihat Jin dan yang lainnya.
Samejima tiba-tiba mengajukan pertanyaan.
“Ikuse.”
“Apa?”
“Hal apa yang sudah kaulakukan dengan Toujou minggu ini, hah?”
“Hal apa?”
Untuk pertanyaan Tobio, Samejima membuat isyarat tangan yang agak cabul.
“Pasti yang begituan, 'kan? Hubungan semacam itu, 'kan? Apa tidak masuk akal kalau kukatakan kau menjalani gaya hidup seperti itu setiap hari?”
Begitu ia mengerti maksudnya, wajah Tobio menjadi merah padam. Tobio berbicara dengan panik.
“T-tidak! Sae dan aku tidak punya hubungan seperti itu! K-kami tidak melakukannya!”
Tentu. Bukan karena ia pacaran dengan Sae. Meski begitu, hal semacam itu, itu juga tak terpikirkan.
Melihat reaksi Tobio, Samejima tersenyum kecut sambil memiringkan kepalanya.
“Serius? Padahal, karena hubungan semacam itu, aku sebenarnya bertanya-tanya apakah kau akan membersikan namamu dengan panik seperti itu. Aku mengerti. Yah, karena aku selalu bersama kalian, itu telah menggangguku selama ini ‘Kapan mereka melakukan hal-hal seperti itu?’… tapi kalau bukan hubungan semacam itu, aman untuk dikatakan kecil kemungkinan kalian berdua setuju melakukannya.”
Samejima mengangguk-angguk setuju dengan dirinya sendiri.
…Entah bagaimana, Samejima khawatir tentang apakah ia dan Sae berpacaran, juga ketika mereka melakukan hubungan pria dan wanita.
…Namun, baik Natsume dan Samejima sama-sama mencemaskan hubungannya dan Sae, dan keduanya mencoba mengungkit hal itu…. Bahkan Tobio tak bisa berbuat apa-apa selain tersipu ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang sulit seperti itu.
Samejima berbicara sambil mengarahkan pandangannya ke arah para gadis.
“Kaupikir Toujou itu manis, 'kan? Aku tidak ingat pernah memperhatikannya ketika kita masih bersekolah di Ryoukou, tapi setelah tinggal bersama, aku merasa dia adalah gadis yang baik.” Samejima mengatakannya dengan jujur.
Tampaknya sudah jelas bagi Tobio yang melihatnya dengan perasaan suka, tapi tetap saja, Sae memang manis sampai-sampai Samejima berkata demikian. Atau lebih tepatnya, dia biasanya diklasifikasikan sebagai gadis yang cantik.
Namun, bukannya mencolok, karena atmosfernya yang ringan dan anggun, Sae tidak menonjol di SMA Ryoukou. Dia juga memiliki kepribadian yang sederhana, dan sebenarnya Tobio telah mendengar bahwa Sae sempat populer di kalangan beberapa anak laki-laki, tapi ia belum pernah mendengarnya ditembak siapa pun.
Salah menebak bahwa Tobio, yang mengenang kehidupannya di SMA Ryoukou, merasa terusik dengan kata-kata dan tindakannya, Samejima memberikan penjelasan.
“Ah, aku tidak mengincarnya atau apa pun, jadi jangan khawatir. Aku hanya menyuarakan pemikiran dari sudut pandangku sendiri. Bagiku… saat ini, perempuan itu agak….”
Samejima berbicara tidak jelas. Dia membuat wajah pahit. Mungkinkah dia memiliki pengalaman buruk dengan hubungan asmara di masa lalu…?
Saat Tobio memikirkan itu, Samejima mengubah topik pembicaraan.
“Omong-omong, Ikuse. Setelah setiap sesi latihan dan pertarungan melawan Vali, apakah ada sesuatu yang terus kaupikirkan? Sering kali, biarpun aku memanggilmu, kau benar-benar tidak peduli.”
“Ah… kurasa itu benar. Kukira memang begitu.”
Setelah pertarungan tiruan dengan Vali, ia akan selalu memikirkan kembali pertarungan di kepalanya, tapi….
“Jenis cowok yang merenung setelah menerima luka, ya? Bagaimanapun, apakah kau mencari cara untuk melampaui Vali?”
“Semacam itulah. Meskipun ada perbedaan kemampuan yang besar, sangat menjengkelkan karena itu adalah pertarungan yang jujur saja mustahil dimenangkan.”
Dengan Tobio yang mengatakannya, Samejima mengembuskan napas panjang.
“…Ah, kau serius soal itu?”
“Eh? S-serius soal apa?”
Mereka seharusnya berlatih dengan serius, jadi mustahil Samejima meragukan itu. Pada saat itu, dia tiba-tiba memberi tahu Tobio.
“Jujurlah padaku. Di luar ketika kau melawan Agensi Utsusemi, apakah kau pernah, bagaimana aku harus mengatakan ini, merasa ambisius? Sederhananya, mungkin itu perasaan permusuhan, atau mungkin niat membunuh, atau semacamnya, tapi kecuali saat kau berhadapan dengan orang-orang itu, kau belum menunjukkan hal seperti itu lagi. Rasanya, dibandingkan dengan saat ini, dirimu yang dulu saat kau melawan para bajingan itu jauh lebih memesona. Aku sudah memikirkan itu, sejak aku melihatmu di toserba saat pertama kali kita bertemu.”
“—!!”
Dihadapkan pada komentar singkat dari Samejima, bahkan Tobio pun kehilangan kata-kata. Samejima tidak memedulikannya.
“Kau yang dulu, tanpa belas kasihan terhadap lawanmu, akan seperti ‘Aku akan membantaimu! Aku akan menguburmu!’ Bagaimana aku harus mengatakannya, itu benar? Perasaan ingin menyelamatkan Toujou, itu membuatmu menjadi seperti itu. Tapi, bisakah hal yang sama dikatakan tentangmu saat ini? Kita telah melompat ke dunia monster, tapi saat ini kau memiliki Toujou di dekatmu. Dia yang kauselamatkan mati-matian. Karena itu tampaknya, saat ini, satu-satunya alasan kau untuk menjadi begitu nekat telah hilang. Meskipun kau menjadi kuat, tidak apa-apa kalau kau bisa menghabiskan waktu bersamanya mulai sekarang, 'kan? Ikuse, selama pertarungan tiruan dengan Vali, bukankah kau membawa versi kurang sempurna dari keadaan nekat yang kautunjukkan saat itu?”
……
…Tobio tidak punya kata-kata untuk menanggapi apa yang dikatakan Samejima. Ini karena ia akhirnya merasa dari lubuk hatinya bahwa Samejima tepat. Tentu saja, untuk dirinya sendiri sejak saat itu, untuk merebut kembali Sae dari mereka, ia telah berjuang sampai akhir dengan menggunakan kekuatannya yang baru terbangun secara maksimal. Ia pasti, dalam keadaan nekatnya, telah mempertaruhkan nyawanya—.
Saat ini… seperti yang Samejima katakan, sebagai akibat dari Sae berada di sisinya, sebagai hasil dari mereka menghabiskan waktu bersama, ia telah menghadapi pelatihan sambil mendapatkan rasa aman. Tidak, rasa aman itu penting. Karena jika ia tetap dalam keadaan gugup tanpa batas waktu, kepercayaan dirinya takkan bertahan.
Namun, seandainya ia menghadapi pelatihan dengan kenekatan dari masa itu—.
Melihat Tobio tenggelam dalam pikirannya lagi, Samejima tersenyum pahit. Dia menampar punggungnya dengan bam.
“Kecenderunganmu untuk merenungkan berbagai hal adalah akar dari apa yang kupermasalahkan. Yah, itu saja. Bukankah tidak masalah untuk melawan musuhmu dengan perasaan melindungi Toujou? Mungkinkah kau tipe orang yang mau bertarung demi melindungi seseorang?”
Dengan perasaan ingin melindungi Sae, ia menghadapi pelatihan dengan keputusasaan itu. Untuk Tobio secara pribadi, sudah menjadi niatnya untuk mempersiapkan dirinya dengan menjadi lebih kuat untuk melindungi dirinya sendiri, teman-temannya, dan Sae dari ancaman di masa depan, tapi di satu sisi ia tidak memiliki kepanikan yang ia tunjukkan selama pertempuran dengan Agensi Utsusemi….
…Tobio tampaknya baru mengetahui hal ini saat ia mengingat kembali percakapannya dengan Samejima.
—Lalu, saat Tobio dan Samejima sedang berbicara di antara para pria muda, mereka berbalik setelah merasakan kehadiran dari belakang. Adapun apa yang ada di sana ketika mereka berbalik—.
“…Toby, Shark, ini adalah pakaian yang dipilih Natsume dan Shaae.”
Seorang gadis berambut pirang mengenakan gaun terusan biru muda—Lavinia berdiri di sana.
Rambut pirang lurus panjang yang tampak berkilau seperti sutra, mata biru yang tampak transparan, lengan dan kaki putih panjang yang proporsional, dan meskipun gaun terusan biru muda itu sederhana, itu telah menonjolkan karakteristik khas seorang wanita muda secara maksimal.
Karena dia mengenakan pakaian yang sangat jauh dari topi kerucut dan jubah yang biasa yang membentuk cosplay gadis penyihir, Tobio dan Samejima sama-sama terpikat, mulut mereka menganga kosong.
Wajah Lavinia sangat merah, dan lengan serta kakinya gelisah. Entah bagaimana, penampilannya menunjukkan kondisi yang memalukan.
“…Penampilan ini, beberapa waktu lalu, terasa agak memalukan.”
Pada perilaku dan penampilan yang berbeda dari biasanya, bahkan Tobio secara refleks tersentuh secara emosional.
Di sebelahnya, Samejima menyentuhkan tangannya ke dagunya sambil tersenyum lebar.
“Bukankah ini bagus? Kalau kau jalan-jalan seperti ini sekarang, pasti bakal banyak cowok yang mencuri perhatianmu.”
Tentu saja, jika dibandingkan dengan penampilan gadis penyihir beberapa saat yang lalu, memang sudah banyak orang yang memperhatikannya karena dia adalah gadis berambut pirang yang cantik. Tapi, jika penampilan gaun terusan ini, ceritanya sama sekali berbeda. Masuk akal jika ada banyak orang yang mencoba merayunya jika dia berjalan keliling kota dengan penampilan seperti itu.
Lavinia menanyai Tobio.
“Bagaimana denganmu, Toby? Apa penampilan ini cocok untukku?”
“Ya, kupikir itu sangat manis.”
Mendengar kesan Tobio, Lavinia tersenyum meski wajahnya tersipu.
Untuk meminta seorang pria untuk kesan semacam itu…. Bahkan Lavinia yang dianggap sebagai anak yang unik ternyata adalah gadis remaja biasa pada usianya.
Saat Lavinia menanyakan pendapat dari kelompok laki-laki, Natsume dan Sae muncul. Natsume berbicara dengan penuh percaya diri.
“Bagaimana? Bukankah itu seperti kedatangan gadis ultra-cantik berambut pirang? Lihat lihat, agungkan dia wahai kalian para cowok. Berikan dia pujian. Lalu, ucapkan terima kasih padaku.”
Dihadapkan dengan Natsume yang mengatakan ini setelah membusungkan dadanya dengan bangga, Samejima berbicara dengan mata setengah terbuka.
“Gadis penyihir itu sejak awal memang sudah punya bahan yang berkualitas tinggi. Bukankah kau cuma melucuti pakaian anehnya itu dan mendandaninya dengan gaun terusan?”
“Kau tidak mengerti! Inilah sebabnya mengapa yankee itu buruk! Lagi pula, gaun terusan ini adalah barang paling agung untuk memancarkan pesona Lavinia—”
Saat Natsume dan Samejima terlibat dalam pertengkaran mulut mereka yang biasa, Tobio dan Sae hanya bisa mendesah dengan kepahitan.
Di sebelah mereka, Vali, yang telah mengenakan jaket kulit hitam yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya, berkata, “Kalau aku bisa menjadi sedikit lebih tinggi, aku bisa memakai pakaian seperti ini,” karena dia sepertinya membuat keputusan besar dalam hidupnya.
3
Setelah menyelesaikan urusan baju baru Lavinia, untuk makan siang semua orang pergi ke kedai ramen pilihan Vali. Anak laki-laki berambut perak itu mulai berceramah tentang ramen, tapi karena itu adalah sesuatu yang semua orang akrab, semuanya mengalir dengan lancar… tapi ramen itu sendiri rasanya sangat lezat.
Seusai makan siang, mereka melanjutkan jalan-jalan sambil berinteraksi dari satu toko ke toko lain, membeli barang yang masing-masing inginkan. Adapun yang dibeli Tobio, terutama alat masak dan bahan makanan yang langka.
Sepanjang jalan, pandangan para pria yang lalu lalang tak henti-hentinya tertuju pada Lavinia yang kini telah bertransformasi anggun dengan gaun terusannya. Namun, sepertinya mereka tak bisa memanggilnya meskipun mereka mau. Tentu saja, ada onii-chan berwajah seram dengan rambut cokelat menemaninya.
Pada saat seperti itu, kehadiran Samejima sangat berguna. Bahkan jika mereka berpapasan dengan kelompok pemuda yankee sekalipun, bahkan Tobio kemungkinan besar tidak akan berbelas kasih kepada mereka yang mencoba menyerang gadis-gadis itu.
…Lagi pula, bagi Tobio dan yang lainnya, wujud tipe Avatar Independen mereka aalah pengawal pribadi yang luar biasa, jika anjing hitam besar itu menampakkan diri maka para yankee itu pun langsung mundur ketika dihadapkan dengan tindakan tegas yang tersedia seperti itu.
Setelah menyelesaikan makan siang dan belanja, Tobio dan yang lainnya pergi ke taman yang berada di pusat kota, dan di area lapangan di sana mereka pun bermain dengan Jin dan Griffon, yang juga menjadi sarana olahraga ringan setelah makan.
“Jin-chan! Ayo tangkap!”
Sae melempar frisbee yang baru saja dia beli saat berbelanja tadi, dan Jin mengejarnya, menangkap frisbee dengan lompatan tinggi.
“Ya, kau juga, Griffon!”
Kali ini Natsume melemparkan beberapa bola sekaligus ke udara. Griffon dengan cekatan menyambar bola-bola itu dengan cakar-cakarnya.
Saat bermain dengan Sae, Jin terlihat sangat nyaman. Daripada Tobio yang merupakan masternya, Jin akan menurunkan kewaspadaannya di sekitar Sae jika dibandingkan dengan biasanya sampai memberi kesan bahwa ia mungkin terikat secara emosional dengan Sae. Sisi Jin ini mungkin karena ia adalah bagian lain dari Tobio sendiri. Tidak, sepertinya itu adalah hasil dari Sae yang awalnya memiliki kepribadian yang baik dengan hewan.
Bahkan, kucing putih yang merupakan perwujudan dari Samejima—Byakusa, juga menyentuh kaki Sae. Adapun masternya sendiri, Samejima, sedang berbaring telentang di salah satu bangku taman untuk tidur siang. Sepertinya dia lelah setelah berbelanja.
Tobio sedang duduk di bangku di sebelah Samejima tidur, dari mana ia memperhatikan Sae dan yang lainnya dengan penuh perhatian.
Tatapan Tobio tertuju pada Sae.… Secara garis besar, ia memang sudah menemaninya berbelanja, dan mereka juga mengobrol hampir sepanjang waktu… tapi apakah itu cukup? Apakah ia secara akurat mencapai apa yang Natsume bicarakan? Mengenai kecanggungan yang lahir dari kesalahpahaman mereka, sepertinya hal itu sudah cukup jelas saat mereka berbelanja.… Pada akhirnya, itu hanya perasaan dari sudut pandang Tobio, tapi….
Di mana seorang pemuda seusianya khawatir, perasaan sebenarnya dari seorang gadis seusianya adalah wilayah yang tidak diketahui. Dari sudut pandang Tobio, meskipun Sae adalah teman masa kecilnya, itu adalah sesuatu yang ia tidak pahami.
…Sambil mempertimbangkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua mulai sekarang, apakah lebih baik kami mengobrol lebih banyak?
…Tidak, apa maksudnya ‘bagaimana kelanjutan hubungan mulai sekarang’? Sae dan aku mulai sekarang…. Tidak, tidak, jangan berpikir ke arah yang aneh-aneh. Lagi pula! Ini soal Sae dan aku sendiri yang mendapati diri kami terlempar ke dalam situasi yang unik. Sama sekali tak ada yang perlu dipermalukan—.
……
Setelah memeras otaknya sejauh itu, Tobio menghela napas dalam-dalam dan memutuskan hanya satu hal.
—Setelah ini, aku harus meluangkan waktu untuk menemukan kesempatan bersama Sae, hanya kami berdua.
Dengan menolak ditemani oleh Minagawa Natsume, Samejima, dan yang lainnya, hal semacam itu bisa dianggap sebagai… kencan.
Mereka sendiri telah dilemparkan ke dalam kehidupan yang berbeda dari orang biasa, tapi, bagi dua orang untuk menghabiskan waktu bersama—kemewahan seperti itu seharusnya masih baik-baik saja.
Tobio telah memutuskan sebanyak itu di kepalanya, tapi—.
“Boleh aku duduk di sebelahmu?”
Orang yang tiba-tiba bertanya seperti itu adalah Lavinia. Di tangannya membawa sebuah bingkisan kecil.
Wajahnya menjadi merah padam karena, setelah memikirkan berbagai hal, Tobio sama sekali tidak menyadari kedatangan Lavinia.
“Ah, tentu.”
Setelah menenangkan diri, Tobio meluncur sedikit dari tengah bangku, di mana Lavinia duduk di sebelahnya.
Dia membuka bingkisan kecil itu. Dari situ, dia menyerahkan sebuah cangkir es krim. Dia rupanya telah membelinya dari kedai yang beroperasi di taman. Dari ukuran kotaknya, sepertinya dia membeli beberapa untuk semua orang.
“Karena aku tak tahu rasa apa yang disukai Toby, aku membelikan rasa vanila.”
“Tidak apa-apa.”
Sebenarnya rasa es krim favoritnya adalah cokelat, tapi ia suka vanila juga.
Cangkir es krim vanila itu… terasa seperti stroberi. Lavinia berbicara setelah dia menelan suapan pertamanya.
“Vaa-kun mengalami masalah di kedai es krim. Dia tidak bisa memutuskan mana yang paling enak.”
Sangat mudah untuk menebak apa yang ada dalam pikiran anak laki-laki berambut perak itu saat dia memikirkan rasa es krim sambil memiringkan kepalanya di etalase. Untuk anak muda yang tak peduli terhadap hal-hal yang dia makan, dia ternyata sangat pemilih untuk urusan itu.
Mungkin karena sosok Lavinia yang kini terlihat jauh lebih anggun dari biasanya, di sampingnya, jantung Tobio mulai berdetak dengan sangat kencang.
Entah mengapa, ia merasa sulit untuk berbicara dengannya, dan karena suasana saat ini mengganggu, ia mulai berbicara dengan Lavinia tentang sebelumnya.
“Di ruang ganti itu—”
Tapi, setelah mulai membicarakannya, ia langsung berpikir tentang adegan itu. Saat bayangan sosoknya yang menyatakan bahwa dia telah lahir sejak hari itu, yang telah tertanam di belakang kelopak matanya, melayang di benaknya, Tobio menjadi malu, meskipun Lavinia melanjutkan tanpa memedulikannya.
“Toby, kau ingin tahu bagaimana hubunganku dengan penyihir yang kita temui di tempat persembunyian Agensi Utsusemi.”
“Ah, i-iya.”
Tentu, pada saat itu, ia bertanya padanya tentang itu. Mengingat situasinya yang kacau, ketegangan aneh Lavinia saat itu, dan kondisi Sae, percakapan mereka sempat terputus begitu saja….
Lavinia mulai berbicara.
“Untuk memulainya, sekali lagi aku akan menceritakan kisah tentang orang-orang yang kukejar.… Di antara dunia manusia dan dunia fantasi terdapat Celah Dimensi, dan di dalam sana ada sebuah negeri yang bernama Oz. Negeri para penyihir ini, jika dibandingkan dengan para penyihir sepertiku yang hidup di dunia ini, menggunakan idealisme dan teori yang berbeda. Dan mereka adalah—”
“…Penyihir Oz.”
Lavinia mengangguk atas ucapan Tobio. Dia terus menjelaskan lebih lanjut.
“Di dalam Oz ini, terdapat kastel-kastel di wilayah utara, selatan, timur, dan barat, semuanya berpusat di sekitar Kota Emerald tempat di mana bos dari para penyihir tinggal, dan di kastel-kastel itulah para penyihir wanita yang kuat tinggal.”
“Itu sama persis seperti cerita dongeng anak-anak The Wizard of Oz, ya. Penyihir dari Timur, Penyihir dari Utara, dan seterusnya.”
Benar, ketika masih kecil, Tobio pernah melihat hal yang sama di pertunjukan boneka di TV dan buku-buku cerita bergambar.
Lavinia berbicara dengan ekspresi serius.
“Penyihir yang kita temui di tempat persembunyian Agensi Utsusemi, dia adalah ‘Penyihir dari Timur’ dari Oz.”
—!!
…Wanita tua itu, dia adalah Penyihir dari Timur dari novel anak-anak…. Dari percakapan itu, Penyihir dari Timur itu pasti… seharusnya dianggap sebagai penyihir jahat.”
Lavinia tersenyum pahit.
“Lebih tepatnya, dia adalah Penyihir dari Timur generasi kedua. Penyihir dari Timur—Augusta si Api Ungu. Itulah identitas sebenarnya dari wanita tua itu.”
Generasi kedua…. Dalam novel anak-anak The Wizard of Oz, Penyihir dari Timur seharusnya sudah tewas tertimpa rumah akibat Dorothy yang berpindah ke Negeri Oz bersama dengan rumahnya…. Mengingat hal itu, apakah itu berarti generasi pertama adalah sosok yang tewas tertimpa rumah tersebut?
Tobio dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan, tapi kemudian Lavinia mengatakan hal ini.
“Sebenarnya aku juga memiliki hubungan dengan Oz.”
Dia berbicara sambil menatap lurus ke arah langit.
“…Guru yang mengajariku sihir, dia adalah seorang penyihir yang tinggal di Oz—Glinda, sang ‘Penyihir dari Selatan’.”
—!
…Amat sangat terkejut, Tobio kehilangan kata-kata.
Dalam keadaan normal, membicarakan peristiwa dalam kisah The Wizard of Oz seolah-olah itu adalah kenyataan sejarah adalah sesuatu yang mustahil dipercaya, tetapi dia, Lavinia, menyatakan dirinya adalah murid dari sang Penyihir dari Selatan yang merupakan tokoh dalam cerita dongeng tersebut.
Namun, mengingat kekuatan supernatural yang bersemayam dalam diri Tobio dan yang lainnya, setelah melihat hal-hal seperti monster dan malaikat jatuh dengan mata kepala sendiri, mungkin ini bukan hal yang aneh. Tetap saja, karena setiap kali sesuatu terjadi, mereka akan belajar sesuatu yang baru dari fantasi, bagi Tobio yang belum lama ini hanyalah seorang siswa SMA biasa, setiap kejutannya adalah sesuatu yang membuatnya kebingungan.
—Tapi, Tobio pun sedikit mengerti.
Kenapa dia mengejar penyihir dari dunia Oz?
Lavinia belum berbicara terlalu dalam, tapi mengenai pengejarannya terhadap para penyihir yang bekerja sama dengan Agensi Utsusemi, sepertinya itu karena dia sendiri juga memiliki keterikan personal dengan Oz.
Saat Lavinia membuka mulutnya dan bersiap merangkai kata-kata berikutnya—peristiwa itu mendadak terjadi.
Sosok asing yang aneh muncul di bidang pandang Tobio. Mengarahkan pandangannya ke tempat Sae dan yang lainnya sedang bermain, ada seorang pemuda yang tampak aneh di sana. Dia adalah seorang pemuda berwajah anggun dengan usia yang tampak sebaya, mengenakan kacamata serta blazer yang didominasi warna biru.
Pemuda itu menatap Jin dan Byakusa dengan penuh minat. Dengan apa yang bisa digambarkan sebagai tiba-tiba yang tidak menunjukkan kehadiran yang terdeteksi, pemuda itu muncul di dekat Sae dan yang lainnya. Sae dan Natsume sendiri sedang waspada, menjaga jarak antara mereka dan dia.
…Dia bukan semacam seorang penggoda. Jika dia seorang penggoda, dia akan menatap Sae dan Natsume. Tapi, pria itu telah memusatkan pandangannya pada seekor anjing hitam dan seekor kucing putih. Sikapnya tentu saja seperti orang yang mengerti bahwa itu bukan sepasang anjing dan kucing biasa….
Di sampingnya, Lavinia juga memasang ekspresi kaku di wajahnya. Tobio juga berdiri dan bergerak untuk melindungi Sae dan yang lainnya.
Pemuda itu menyapa mereka.
“Heh, kucing yang cukup manis. Apa ini kucingmu?”
—Pemuda itu menanyai Sae. Karena Byakusa sempat menggosokkan tubuhnya ke kaki Sae, sepertinya dia mengira Sae adalah pemiliknya.
“Siapa bajingan kau ini? Cih, kau bukan pria biasa, 'kan?”
Orang yang menyahuti pemuda itu—adalah Samejima. Mungkin setelah merasakan atmosfer kecurigaan, pada titik tertentu, Samejima terbangun, dan sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sekarang berjalan ke arah mereka. Ada tatapan tajam di matanya.
Pemuda itu sama sekali tidak memedulikan tatapan mengancam yang dilemparkan si yankee itu, dan hanya tersenyum tipis.
“Oh, kau bisa menebak sebanyak itu, ya.”
Setelah pemuda itu memastikan bahwa Tobio dan yang lainnya (dengan pengecualian Vali) telah berkumpul di area lapangan tersebut, dia mulai memperkenalkan dirinya.
“Senang bertemu dengan kalian, Empat Makhluk Terkutuk dan Inugami-kun. Aku Kushihashi, Kushihashi Seiryuu.”
[—!?]
Mendengar pengenalan diri pemuda itu, Tobio, Natsume, dan Samejima tercengang.
Kushihashi… kalau kuingat betul-betul, nama itu seharusnya menjadi salah satu dari Lima Klan Utama.
Sambil tetap waspada, Natsume meminta konfirmasi.
“…Kushihashi? Kau adalah bagian dari Lima Klan Utama, ya?”
Menanggapi pertanyaan Natsume, pemuda itu—Kushihashi Seiryuu mengangguk.
“Ya, aku adalah kepala klan Kushihashi berikutnya. Yah, biarpun aku mengatakan itu mungkin tidak terasa nyata bagi kalian.”
Tiba-tiba, mereka bertemu dengan seorang pemuda yang merupakan anggota dari Lima Klan Utama, dan lagi dia menyebut dirinya ‘kepala klan berikutnya’. Karena Lima Klan Utama yang sama yang telah mengasingkan organisasi Agensi Utsusemi yang baru saja dilawan Tobio dan yang lainnya belum lama ini, melakukan kontak langsung dengan salah satu dari klan yang merupakan fondasi mereka adalah situasi yang tidak biasa.
Hal pertama yang harus mereka konfirmasi adalah—apakah dia datang ke tempat ini dengan niat bermusuhan atau tidak.
Saat Natsume menanyakan niat lawan, dia juga melirik Griffon yang terbang di udara.
“…Kau jelas bukan seorang teman, 'kan? Kalau begitu, musuh?”
Menghadapi interogasi Natsume, Kushihashi Seiryuu berbicara seakan mengejeknya.
“Musuh—aku bisa menjadi salah satunya.”
Kushihasi Seiryuu menunjukkan sikap yang dibilang sangat santai. Di sampingnya, Samejima menjadi kesal. Mengingat kepribadiannya, mungkin saja dia berprasangka buruk terhadap seseorang dengan tipe ini.
Samejima bersiul, dan sebagai tanggapan, Byakusa, yang berada di kaki Sae, langsung menghilang di tempat. Ia langsung melompat ke bahu masternya, Samejima.
Ekor Byakusa melingkari lengan kanannya, membentuk tombak. Sambil mengisinya dengan listrik, mengarah ke arah Kushihashi Seiryuu.
Samejima berbicara dengan kalimat yang lugas dan mengancam. “Kalau kau berani bergerak sedikit saja, aku akan bertindak. Melakukan peregangan tubuh setelah makan rasanya pas.”
“Heh, itu menarik.” Tekanan yang tak terlukiskan dilepaskan dari seluruh tubuh Kushihashi Seiryuu.
Itu terlihat seperti situasi yang meledak-ledak, tetapi Natsume berada di antara mereka berdua dan mendesak untuk menahan diri.
“T-tunggu! Apa kau… menargetkan kami? Untuk alasan apa?”
Kushihashi Seiryuu mengangkat bahunya saat dia berbicara.
“—Agensi Utsusemi, kalian semua terlibat dengan mereka. Atau lebih tepatnya, sangat disayangkan bahwa kalian akhirnya terlibat dengan mereka. Lalu, hasil akhirnya adalah runtuhnya organisasi itu. Mengingat itu masalahnya, tidak mungkin bagi Lima Klan Utama yang menjadi tempat mereka bernaung mengabaikannya begitu saja. Belum lagi kerja sama kalian dengan Grigori.… Ini adalah kejahatan serius bagi kami. Bagaimanapun, kami bermusuhan dengan mereka.”
…Seperti dugaan, mereka dihubungi karena keterlibatan mereka dengan Agensi Utsusemi. Karena ia sempat mendengar bahwa mereka adalah kelompok yang membersihkan orang-orang yang tidak kompeten (seperti pihak-pihak yang terlibat) dari silsilah keluarga, penjelasannya sangat mudah dimengerti. Lebih jauh lagi, tampaknya mereka sama sekali tidak senang dengan Tobio dan yang lainnya menjalin hubungan dengan Grigori.
Namun, meskipun ia belum mengucapkan sepatah kata pun, Tobio akhirnya angkat bicara.
“Jika ini soal orang-orang yang diasingkan… aku sudah mendengar semuanya. Selain itu, setelah insiden itu, kalian telah mengambil tindakan untuk membersihkan mereka yang terlibat dalam peristiwa baru-baru ini.”
Berdasarkan penjelasan dari pihak Grigori, sisa-sisa Agensi Utsusemi dianggap target eliminasi oleh Lima Klan, dan untuk tujuan itulah para agen telah dikirim untuk memburu para penyintas. Para agen dari Lima Klan saat ini terus mengejar anggota Agensi Utsusemi yang melarikan diri bersama dengan para agen dari pihak penyihir.
Dan sekarang, bahkan Tobio dan yang lainnya yang terlibat tanpa sadar menjadi sasaran—.
Itulah poin yang ingin disinggung oleh pertanyaan Tobio.
Kushihashi Seiryuu menjawab sambil menduga arti sebenarnya dari pertanyaan Tobio.
“Tidak adil—bukan? Bahkan aku mengerti bahwa itu sudah diduga. —Tapi, untuk elemen-elemen yang membawa pergolakan, kenyataannya justru karena mereka dicabut lebih dulu, negara ini tetap berdiri seperti sekarang.… Yah, aku juga berpikir tindakan itu terlalu sewenang-wenang.”
Kushihashi Seiryuu tertawa sinis.
Lalu, angin kencang yang tidak wajar mulai bertiup ke seluruh area sekitarnya. Sumber angin ini—adalah pemuda itu, Kushihashi Seiryuu. Dengan dia di tengah, angin bergejolak hebat.
“—Angin?” Natsume berbicara sambil menahan rambut dan roknya tertiup angin.
Lavinia menjawab sambil tidak memedulikan roknya yang berkibar tertiup angin.
“Berhati-hatilah. Kushihashi adalah keluarga yang mengatur Elemen ‘Kayu’ dari Lima Elemen, dan ‘Kayu’ bisa memanipulasi ‘Angin’ dan ‘Petir’.”
Tubuh Kushihashi Seiryuu telah diselimuti sesuatu seperti ‘esensi’ biru. ‘Esensi’ ini, yang keluar dari tubuhnya, terbentuk di belakangnya sebagai—monster dengan tubuh panjang dan kurus seperti ular, memberikan kesan naga oriental.
“Karena kami juga mengikuti perintah, aku ingin kalian tidak mengutukku ketika mati. Aah, tenang saja. Seluruh area ini telah ditutupi oleh penghalang. Evakuasi orang-orang di sekitar pun telah selesai dilakukan. Karena itu, silakan saja mengamuk. Biarkan aku juga menggunakan kesempatan ini untuk bersenang-senang sedikit.”
Menanggapi pernyataan ini, Samejima bersiap untuk bertarung.
“Heh, bagus sekali. Bukankah kau terdengar sangat ceria saat mengucapkan kata-kata seperti itu.”
Kushihashi Seiryuu dengan ekspresi tertarik menatap ke arah anjing hitam besar—Jin, yang berada di depan Tobio, dan pada Lavinia, yang ada di sampingnya.
“Kalau begitu. —Jadi aku akan bertarung dengan pemilik Longinus, dan lagi, dua tipe, ya?”
Tobio juga merasakan semangat bertarungnya dengan kulitnya sendiri, dan mengambil posisi bertarung. Perasaan itu juga ditransmisikan pada Jin, dan anjing hitam itu telah menghasilkan bilah tajam dari bayangannya sendiri, yang ia gigit secara horizontal di mulutnya.
Tobio juga bersiap dengan mengeluarkan sabit besar dari bayangan di kakinya. Sae ada di belakangnya. Tobio mengambil posisi tubuh untuk melindunginya.
…Aku akan melindungi Sae! Aku benar-benar akan menjaganya tetap aman!
Dengan tekad yang kuat ini, ia memutuskan untuk menghadapi Kushihashi Seiryuu. Natsume, Samejima, dan Lavinia juga telah bersiap. Hanya Vali yang tak ada di sini… tapi sepertinya lawan tidak akan menunggunya muncul untuk memulai.
“…Cahaya perlindungan.”
Tanpa disadari, Lavinia membaca mantra dengan melambaikan tongkat yang ia genggam di tangannya. Seluruh tubuh Tobio dan yang lainnya diselimuti cahaya hijau pucat. Tampaknya itu adalah sihir yang meningkatkan kekuatan pertahanan.
Orang yang melakukan langkah pertama—adalah Samejima! Seperti yang diduga, orang yang mendobrak lini depan adalah dia. Tombaknya dipenuhi percikan listrik, dia melakukan lari kecepatan penuh ke depan. Seperti yang dia lakukan selama pelatihan Grigori, bertentangan dengan ketika mereka bertarung melawan Agensi Utsusemi, dia tanpa ragu bergerak cepat menuju lawan yang berada di kejauhan.
Kushihashi Seiryuu tidak menunjukkan indikasi untuk menghindar. Tikaman tombak Samejima melesat dengan tajam ke arahnya. Kushihashi Seiryuu, dengan seulas senyuman yang tersungging di sudut mulutnya, dengan sangat mudah menghindari tikaman tajam Samejima hanya dengan menggunakan gerakan menghindar seminimal mungkin.
Tanpa ragu-ragu, Samejima mendekat saat menyerang dengan tombak. Byakusa, yang bertengger di bahunya, juga pasti akan merentangkan ekor panjang lainnya ke arah Kushihashi Seiryuu seperti cambuk.
Namun, serangan-serangan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengenai si pemuda berkacamata. Gerakan mengelak, yang hanya bisa digambarkan sebagai luar biasa, memberikan kesan yang mirip dengan Vali. Tampaknya sang lawan memiliki pengetahuan yang cukup tentang seni bela diri klasik.
“Maju! JIN!”
Pada saat itu, si anjing hitam, setelah mendengar perintah Tobio, mulai menyerang ke depan dengan kecepatan tinggi seperti peluru, dan mendekati Kushihashi Seiryuu. Ia melepaskan tebasan beruntun dengan bilah tajam yang berada di mulutnya. —Namun, Kushihashi Seiryuu bahkan berhasil mengelak. Tanpa peduli, Jin membuat serangan pedang berulang kali, dan menghasilkan banyak Night Haken dari bayang-bayang di kaki lawannya… tapi Kushihashi Seiryuu hanya melompat tinggi untuk menghindarinya.
Di tengah gerakan menghindar yang dia tunjukkan, Kushihashi Seiryuu merapalkan kata-kata mantra saat dia membuat segel simbolis dengan kedua tangannya.
“Dengan Jupiter (Bintang Kayu) Empat Hijau, ciptakan angin!”
Dalam sekejap, badai tiba-tiba muncul dengan dirinya di tengah, yang membuat Samejima menjauh. Efek sampingnya bahkan mencapai yang lain, dan semua orang hampir tak bisa menahan diri untuk menghindari tertiup di sana. Dengan sihir pelindung Lavinia, mereka entah bagaimana bisa melewati ini.
—Lalu, Sae berteriak, “KYAH!” saat badai itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan dia pun menabrak tanah dengan keras. Bagi Sae yang masih di tengah rehabilitasi, bahkan ditutupi dengan sihir pertahanan, jika dia terkena badai dengan intensitas sebesar itu, tampaknya, meskipun itu mungkin tidak akan menyebabkan luka fisik secara langsung, itu bisa merusak postur pertahanan hingga terjatuh.
“—SAE!”
Tobio kini disibukkan dengan Sae yang jatuh. Natsume melangkah untuk menopang tubuh Sae.
Natsume berbicara.
“Serahkan Toujou-san padaku! Bagaimanapun juga, dengan angin ini, Griffon-ku….”
Dia melihat ke langit. Di atas sana ada sosok Griffon, yang melakukan semua yang ia bisa hanya untuk melawan badai yang dipanggil oleh Kushihashi Seiryuu. Bagi Griffon yang terbang di udara, lawan yang memanipulasi angin bisa dikatakan memiliki afinitas yang buruk.
Namun, itu bukan hanya kombinasi Natsume+Griffon.
Samejima melakukan banyak tebasan tajam dengan tombaknya yang dialiri listrik, tapi meskipun dia akhirnya sampai di depannya, Kushihashi Seiryuu membuat segel baru.
“Dengan Jupiter Tiga Biru, ciptakan petir!”
Apa yang dimanifestasikan bersamaan dengan gaung kata-kata mantranya—adalah sambaran petir. Sambaran petir biru pekat terbentuk dengan Kushihashi Seiryuu sebagai pusatnya.
Tombak yang terbungkus listrik secara paksa terlempar mundur akibat benturan keras dengan sambaran petir biru tersebut. Daya dorong dari serangan itu membuat Samejima kehilangan keseimbangan. Tanpa ampun, lawan melemparkan petir yang terkumpul di tangannya ke arah Samejima.
Pada saat itulah terjadi.
Dalam benak Tobio, kata-kata yang baru saja diucapkan Samejima kepadanya muncul kembali—.
—Yah, itu saja. Bukankah tidak masalah untuk melawan musuhmu dengan perasaan melindungi Toujou?
—Mungkinkah kau tipe orang yang mau bertarung demi melindungi seseorang?
Adegan berikutnya yang melintas dalam kilas balik adalah… tempat persembunyian Agensi Utsusemi, kejadian di ruang pengamatan.
—Jangan menangis… Tobio….
—Aku… senang… bertemu denganmu lagi….
Itu adalah sosok Sae yang pernah mati sekali dengan ditusuk dadanya oleh Jin.
Apakah itu akan terulang…? Apa aku akan membiarkan Sae mati LAGI…?
……
…Jangan main-main denganku. JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU…! UNTUK MELINDUNGI SAE! UNTUK BERJUANG DENGAN SEMUA ORANG!
—UNTUK MELAWAN NASIB, AKU MEMUTUSKAN UNTUK MENJADI KUAT!
“…Mana mungkin aku akan membiarkanmu. MANA MUNGKIN AKU AKAN BISA MEMBIARKANMU!”
Tubuh Tobio—diselimuti oleh kabut hitam. Kabut hitam—kegelapan yang dihasilkan telah sepenuhnya menutupi seluruh tubuhnya. Di sekelilingnya, bilah terdistorsi dibuat satu demi satu.
Tobio, yang telah bergegas ke depan dengan kecepatan tinggi pada saat itu, hanya dengan melampaui kecepatan yang dapat dirasakan Kushihashi Seiryuu, meraih lengan Samejima yang telah terkena sambaran petir dan mendorongnya ke samping. Dengan melakukan ini, serangan lawan dapat dihindari.
Lalu, Tobio yang telah menjadi pengganti Samejima untuk menghadapi sambaran petir Kushihashi Seiryuu—hanya menangkisnya. Petir yang melesat dari kepalan tangan lawan terbang melewati sisi kepala Tobio, membelah udara dengan suara keras.
Tobio, seluruh tubuhnya dibalut aura gelap, menebas dengan sabit besar di tangannya. Kushihashi Seiryuu langsung menghindarinya, tapi serangan Tobio belum berakhir saat ia terus melancarkan serangan beruntun berkecepatan tinggi.
Tebasan tajam, yang tak bisa diikuti dengan mata telanjang, diluncurkan berulang-ulang, menghasilkan jejak gelap gulita, sampai akhirnya, menemukan celah terbuka pada pertahanan Kushihashi Seiryuu, ia menebas tepat ke arahnya!
Kushihashi Seiryuu tak bisa menghindari serangan itu dan tubuhnya terbelah secara diagonal dari bahunya, tapi…. Sosok Kushihashi Seiryuu yang terbelah dua itu mendadak runtuh dan berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berukuran besar yang tersebar di mana-mana.
—Substitusi tubuh? Tepat sebelum tebasan itu mengenai, dia menciptakan perisai dari kelopak bunga raksasa dan berhasil meloloskan diri?
Lavinia sempat mengatakan bahwa Kushihashi adalah klan yang menguasai elemen ‘Kayu’.… Sepertinya rumput dan bunga adalah hal yang sama.
Ketika Tobio memeriksa petunjuk di area tersebut, ia menemukan bahwa Kushihashi Seiryuu telah melarikan diri ke suatu tempat yang jaraknya cukup dekat. Sepertinya dia tidak menghindari tebasan Tobio dengan sempurna, karena pakaian yang dia kenakan terbelah secara diagonal dari bahu hingga ke pinggangnya.
Dia menunjukkan senyum berani ke arahnya… tapi ada darah mengalir dari dekat mulutnya.
“…Hanya dari gelombang gelap itu seluruh tubuhku menjadi mati rasa. Aku mengerti sekarang, jadi ini adalah anjing yang memanipulasi kegelapan, ya….”
Dia menyapu pandangannya ke seluruh area sekitarnya. Tobio juga menirunya dengan mengirimkan pandangan ke sekelilingnya.
Ke mana pun Tobio melangkah, bilah-bilah dengan penampilan terdistorsi telah tercipta, dan semuanya dipenuhi dengan aura gelap. Bahkan sabit besar yang tergenggam di tangannya membawa aura gelap, yang secara bertahap tapi pasti semakin hitam pekat.
Kushihashi Seiryuu, menyeka darah dari mulutnya dengan tangan, sekali lagi membuat simbol dengan kedua tangannya.
“Kalau tidak sehebat itu, maka tidak akan menarik! Kalau begitu, kurasa aku juga harus mengeluarkan yang itu!”
Aura ‘esensi’ biru yang menutupinya kian membubung tinggi! Dapat dengan jelas disadari bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang luar biasa.
“Atas nama Jupiter, sang roh kayu, membawa matahari di atas angin, membawanya ke timur! Dengan Tiga Biru dan Empat Hijau, atas seruanku—”
Tepat saat Kushihashi Seiryuu hendak menyelesaikan rapalan seluruh bait mantra tersebut—. Di ruang kosong antara kelompok Tobio dan Kushihashi Seiryuu, seberkas kilatan petir tiba-tiba menyambar turun dari langit bagaikan pilar raksasa. Walaupun langit di atas mereka berwarna biru cerah, ‘petir’ dengan daya hancur tingkat tinggi tetap saja menghunjam bumi.
Akibat kejadian itu, bukan hanya Tobio dan kawan-kawan, tetapi sang lawan, Kushihashi Seiryuu, menghentikan segel tangan dan mantranya.
“Cukup sampai di sana, kepala klan Kushihashi berikutnya.”
Dia mendengar suara yang sangat familier dari belakang. Ketika ia mengarahkan pandangannya ke arah itu—ia mendapati bahwa itu adalah Barakiel. Aliran listrik mengalir di sepanjang tangannya dengan suara berderak.… Sambaran petir yang luar biasa besar tadi, mungkinkah itu ditembakkan oleh Barakiel? Mau tak mau ia membandingkan daya hancurnya dengan sambaran petir yang ditembakkan oleh Kushihashi Seiryuu.
“Jadi itu adalah pertempuran dengan kepala klan berikutnya dari Lima Klan Utama yang membuatmu membawaku ke sini, ya.”
Vali juga berdiri di sisi Barakiel. Dengan kehadiran mereka berdua, seluruh anggota kelompok kini telah berkumpul lengkap.
Begitu dia menyadari kehadiran Barakiel dan Vali, Kushihashi Seiryuu tersenyum pahit.
“…Malaikat jatuh, Barakiel-dono sang ‘halilintar’, dan Vanishing Dragon yang dirumorkan itu, ya? Ini sesuatu yang luar biasa.”
Kushihashi Seiryuu mengangkat bahunya, tapi semangat juangnya sama sekali tidak berkurang. Bahkan kemunculan Barakiel tidak mengganggu postur bertarungnya. —Namun, tiba-tiba suara lain memanggil dari belakangnya. Bersamaan dengan itu, percikan api menari-nari di seluruh area lapangan.
“—Seiryuu, hentikan ini.”
Mendengar suara itu, Kushihashi Seiryuu tercengang, dan semangat bertarungnya—aura ‘esensi’ biru yang menyelimuti tubuhnya, lenyap tak bersisa.
Kali ini adalah suara yang tidak dikenal Tobio.
Dari belakang Kushihashi Seiryuu, sesosok wujud mendekat sambil dibalut aura api yang bergejolak hebat.
Itu adalah seorang gadis yang mengenakan blazer dengan warna dasar merah—tidak, vermilion. Untuk ukuran usianya, dia sepertinya seumuran dengan Tobio dan teman-temannya.
Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam mengilap yang diikat gaya ponytail.
…Bagi Tobio, hanya dengan sekali tatap gadis ini, ia memiliki perasaan misterius. Melihat wajah gadis itu, seolah-olah wajah itu terasa familier dari suatu tempat. Ini aneh. Ini mustahil. Meskipun perbedaan usia antara orang yang ia ingat dengan gadis di depannya terlampau jauh….
Kushihashi Seiryuu berbicara kepada gadis itu sambil mengembuskan napas panjang.
“…Aku tidak pernah mendengar kabar kalau kau akan datang ke sini. —Suzaku.”
“Ini adalah sesuatu yang memang sengaja tidak diberitahukan kepadamu.”
Gadis yang dipanggil sebagai Suzaku itu melepaskan tawa kecil. Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke arah sini—ke arah Tobio.
—Lalu, dia membungkuk pada Barakiel.
“Sudah lama tidak berjumpa, bukan? —Barakiel-ojisama.”
Melihat kemunculan gadis itu—Suzaku, ekspresi wajah Barakiel menjadi sangat kompleks.
“…Suzaku, huh.”
“Ya, sudah cukup lama sejak terakhir kali kita bertemu.”
Suzaku menjawab dengan cara seperti itu sambil menunjukkan senyuman manis.
“…Kau sudah tumbuh sangat besar.”
“Dengan Oji-sama datang bersama Tobio dan Empat Makhluk Terkutuk… mungkinkah ini juga merupakan takdir?”
“…Aku hanya mengajari mereka cara bertarung.”
Mereka berdua tampaknya saling kenal entah bagaimana… tapi dari reaksi mereka, bisa diduga bahwa mereka memiliki beberapa keadaan yang kompleks.
Mengesampingkan itu, Tobio, yang akhirnya menjadi semakin gelisah, tak bisa menyembunyikan kebingungannya. Seolah-olah gadis itu, Suzaku, mengenalnya. Terlebih lagi, dia tiba-tiba memanggilnya dengan akrab sebagai ‘Tobio’.
Mau tak mau Tobio merasa ragu, tapi gadis yang dimaksud mendekat dan berdiri tepat di depannya.
Dia sama sekali tidak takut pada sabit besar yang digenggam, maupun sosok Tobio yang dibalut kegelapan.
Di atas segalanya, dengan ekspresi sederhana di wajahnya, dia meraih dan menggenggam tangan Tobio.
“Ikuse Tobio. Aku adalah Suzaku. Himejima Suzaku. —Kau adalah ‘sepupu kedua’. Senang bertemu denganmu, Tobio.”
—!!
……
…Mendengar informasi itu, Tobio hanya bisa merasa heran. Dihadapkan dengan sesuatu yang begitu ekstrem ini, ia tak bisa menemukan kata-kata untuk membalasnya.
…Gadis ini adalah seorang Himejima. Apalagi ‘sepupu kedua’-ku.… Dia adalah kerabat sedarahku.
Tangan gadis yang menggenggam erat tangannya—terasa hangat, dan mengingatkannya pada nenek tercinta.
Aah, aku mengerti. Alasan kenapa aku memikirkan nenekku saat aku melihat gadis ini… inilah alasannya.
Suzaku, sambil menunjukkan senyum, melihat ke arah Tobio dan yang lainnya.
“Hanya sebentar, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian. Berkenaan dengan Empat Makhluk Terkutuk yang tersisa, aku ingin berdiskusi. —Maukah kalian berbaik hati menemaniku?”
Tobio dan kawan-kawan bertukar pandang dengan Barakiel. Semua orang menunggu keputusan Barakiel yang telah ditunjuk untuk mengawasi mereka.
Barakiel menjawab, “…Baiklah,” dan mereka pergi ke lokasi yang telah disiapkan Suzaku.

Post a Comment