SLASHDOG Jilid 2 Bab 2
Bab 2 Latihan/Pusaka Suci
1
Sudah setengah bulan berlalu sejak Tobio dan yang lainnya mendatangi institusi pelatihan Grigori—Nephilim.
Adapun apa yang mereka pelajari selama pulang-pergi ke sana, dimulai dari pendidikan umum, mereka secara bersamaan diajarkan segala hal tentang makhluk supernatural dan fantasi yang ada di dunia ini.
Tentu saja, Nephilim bukanlah sekolah resmi. Untuk sementara, ada beberapa kelas dan banyak laki-laki dan perempuan yang terdaftar di sini, tetapi bagi Tobio dan teman-temannya, mereka harus memperoleh pengetahuan tentang dunia yang baru saja mereka masuki ini lebih dahulu. Melihat bagaimana mereka akan hidup mulai sekarang, setidaknya mereka harus menyadari hal-hal supernatural dan fantasi. Karena itu, setelah mereka mulai dengan menyapa para siswa yang belajar di institusi ini, Tobio dan yang lainnya berkumpul di kelas yang terpisah.
Mengenai kekuatan supernatural, terutama penjelasan tentang Pusaka Suci—Sacred Gear yang ada di dalam diri mereka, meskipun mereka juga telah menyaksikan sihir seperti yang digunakan Lavinia.
Mengenai makhluk fantasi, konten pelajaran itu adalah mengulas makhluk-makhluk yang ditangkap oleh Grigori—monster.
Dengan kata lain, kuartet Tobio, Sae, Natsume, dan Samejima, dalam setengah bulan mereka datang ke Nephilim, mereka dilatih dalam pendidikan dan pengetahuan tentang kehidupan yang belum pernah mereka alami sampai sekarang, juga dunia yang belum pernah mereka alami sampai saat ini.
Baru-baru ini, tentang Tobio yang memanifestasikan kekuatan supernaturalnya sendiri, telah memulai pertempuran dengan pengguna kekuatan supernaturalnya sendiri, itu adalah cerita yang sering diulang yang mencengangkan… tidak, cerita yang tampak seperti lelucon.
Meskipun demikian, sudah menjadi fakta bahwa itu telah terjadi padanya dan bahwa ia kini sedang diajari tentang hal itu. Kekuatan supernatural adalah sebuah realitas, dan secara khusus bersemayam di dalam dirinya, ada sihir dan kekuatan iblis. Itu adalah sesuatu yang ia alami secara mendalam dalam pertempuran sebelumnya saat nyawanya terancam bahaya maut.
Namun, terlepas dari pengetahuan dan pendidikan yang ia peroleh dalam ketenangan yang datang setelah pertempuran, apa yang diajarkan kepadanya tak lain adalah hal yang membingungkan.
Sambil mengerutkan alisnya pada keadaan ini, ia mengekspresikan dirinya seperti itu.
“…Sepertinya mereka dengan serius menjelaskan apa saja yang hal-hal dari dunia fantasi itu….”
Mungkin tak terelakkan bahwa ia pun berpikir seperti itu. Pelajaran yang ia terima tentang supernatural dan fantasi berada di luar batas akal sehat. Tetap saja, mengingat ia tinggal di sini, ini adalah pengetahuan dasar dan basis informasi. Tampaknya mustahil untuk hidup sebagai siswa di sini dan tak tahu tentang hal-hal ini.
Meskipun diajarkan pengetahuan permukaan, ada juga pelajaran dalam menggerakkan tubuh, yang bisa disebut pendidikan jasmani yang sangat mirip dengan pelajaran sekolah yang sebenarnya.
Pada saat yang tepat ini, duo Tobio dan Samejima, yang mengenakan pakaian atletik, terus berlari di lintasan lari dalam ruangan institusi tersebut.
Setelah mengitari trek berkali-kali, mereka pun menyelesaikan jarak yang ditentukan sejauh lima belas kilometer.
Setelah selesai lebih dulu, Samejima segera duduk setelah mencapai garis finis, di mana dia bernapas dengan gusar dengan suara ‘zuuhaa’. Samejima, dengan keringat yang mengucur dari seluruh tubuhnya, mengumpat.
“…Astaga, membuat kita berlari berkilo-kilometer…! Ini seperti kita mengincar Olimpiade…! Aku belum pernah berlari seperti ini sejak SMP…!”
Setelah mencapai garis finis setelah Samejima, Tobio berbicara sambil tersengal-sengal.
“…Menurut apa yang dikatakan Barakiel-sensei, itu karena semuanya dimulai dengan stamina…. Aku merasa entah bagaimana mengerti mengapa stamina untuk berlari dari satu tempat ke tempat lain diperlukan. Bagaimanapun, kita adalah pemula di dunia ini. Karena mungkin akan ada orang-orang yang tanpa henti mengincar nyawa kita yang baru pemula ini, kalau kita setidaknya tidak punya stamina untuk berlari… tentu tidak aneh kalau kita mati di kesempatan berikutnya.”
Mereka diajari segala macam hal oleh pemimpin malaikat jatuh—Barakiel.
Mengenai sistem utama di Nephilim, itu adalah kasus di mana sejumlah siswa yang ditentukan akan menerima bimbingan di bawah satu guru. Mengumpulkan beberapa siswa dalam satu ruang kelas, berbeda dengan sifat sekolah pada umumnya yang gurunya berpindah-pindah untuk setiap mata pelajaran. Karena alasan itu, dalam kasus Tobio dan yang lainnya, mereka menerima pelajaran di bawah bimbingan Barakiel. Dalam hal ini, mereka dikenal sebagai siswa Kelas Barakiel.
Jumlah pemimpin Grigori terbatas, jadi menerima instruksi di bawah salah satu dari mereka itu sangat berharga, atau begitulah kata Gubernur Jenderal Azazel.
Apakah itu karena harapan untuk Tobio dan yang lainnya, atau karena mereka dianggap berbahaya—.
Barakiel itu, setelah mengajari mereka pengetahuan dasar, dia telah menugaskan Tobio dan yang lainnya untuk meningkatkan stamina mereka. Toh, tanpa stamina, mereka tidak akan naik ke level yang lebih tinggi. Untuk alasan itu, mereka telah ditugaskan untuk melakukan lari yang intens.
Dalam situasi Samejima, dia menderita luka serius di pertempuran sebelumnya, tetapi setelah pulih ke kondisi hampir seperti biasanya, dia juga berlari jarak jauh sambil meninggalkan keluhannya karena telah direhabilitasi. Dia diberi tahu bahwa ini juga merupakan fungsi dari Sacred Gear yang bersemayam di dalam dirinya. Kucing putih yang merupakan Sacred Gear-nya—Byakusa, melangkah ke arah masternya yang baru kembali dari lari jarak jauh, bertingkah manja sambil menggosokkan kepalanya ke arahnya.
Berbicara tentang Sacred Gear, mengenai partner Tobio, Jin, yang telah berlari bersama masternya sejauh lima belas kilometer, ia duduk dengan sopan tepat melewati garis finis. Tidak seperti masternya, Jin tidak kehabisan napas sekali pun.
Entah karena staminanya yang buruk, atau memang Sacred Gear tidak merasa lelah…. Bagaimanapun juga, masternya, yang dalam kondisi buruk, berada di sebelah Jin membuat suara ‘zu-ha-’ karena kehabisan napas.
Tobio, yang sedang rehidrasi, setelah meregangkan tubuhnya hingga batasnya, mengambil tali untuk melakukan latihan lompat tali yang menjadi menu berikutnya dalam regimen.
Sambil melirik Tobio yang mulai lompat tali, Samejima berbicara. “…Aku sudah berpikir sejak tadi, Ikuse, tapi bukannya menjadi siswa teladan, apa kau hanya benci kalah?” Dia memulai seperti itu.
“Apa ini tiba-tiba sekali?”
Samejima berbicara kepada Tobio yang balik bertanya sambil melompat.
“Yah. Tingkah lakumu patut dicontoh seperti siswa teladan, tapi ada sesuatu soal sorot matamu, seperti kau tidak akan menunjukkan kelemahan apa pun meskipun itu hanya kepada anjing yang menjadi alter egomu.”
Samejima juga mulai lompat tali di samping Tobio.
“Dari awal, aku bukan siswa teladan. Nilaiku biasa saja, dan dengan kekuatan fisik juga keahlianku tidak menonjol.”
Seperti yang Tobio katakan, sejak ia berada di SMA Ryoukou, ia bukanlah tipe orang yang menonjol. Ia hanyalah anak SMA biasa yang nilainya cukup baik, dan latihan fisiknya tidak lulus maupun gagal. Adapun teman masa kecilnya, Sae, dialah yang populer di kelas.
Mendengar itu, Samejima tertawa.
“Begitu, ya. Karena meskipun kita berasal dari sekolah yang sama, selama aku di sana, aku tak tahu apa-apa tentangmu. Kalau kau adalah tipe siswa yang tidak menonjol, tidak mungkin aku tahu tentangmu, ya.”
Jika itu adalah Samejima dari masa lalu, seseorang seperti Tobio yang tidak bermanfaat atau berbahaya akan sama saja dengan batu di pinggir jalan. Seandainya Tobio kuat dalam perkelahian, atau mungkin menjadi target dambaan para siswi, sepertinya kabar tentangnya akan sampai ke telinga Samejima… tapi sayangnya, ia tidak memiliki sifat seperti itu.
Sebaliknya, berkaitan dengan Samejima yang terkenal dengan kenakalannya, Tobio sudah cukup sering mendengar tentangnya.
Entah bagaimana, mengingat mereka berdua berlatih lompat tali berdampingan, Tobio pun merasa bahwa takdir adalah hal yang cukup lucu.
Di tengah-tengah lompat tali Tobio dan Samejima, suara-suara gadis terdengar.
“…Zeh zeh, l-lari seperti ini… tentu saja, ini bagus untuk diet. Selain itu, apa kau yakin baik-baik saja, Toujou-san?”
“…Fuuh, entah bagaimana, aku bisa berjalan sedikit.”
Itu adalah Natsume dan Sae yang kehabisan napas. Keduanya mengenakan pakaian olahraga. Sepertinya Natsume baru saja menyelesaikan lari jarak jauh yang ditentukan yang telah dilakukan Tobio dan Samejima.
Untuk Sae yang tidak diberkahi dengan Sacred Gear seperti Tobio dan yang lainnya, hanya porsi kelas saja sudah cukup, tapi karena menjadi kesempatan yang baik untuk membangun staminanya sendiri, dan setelah direhabilitasi, dia telah memilih untuk melakukan sedikit latihan ringan. Meskipun itu ringan, mengingat itu adalah Sae setelah melalui insiden itu, tidak salah lagi baginya itu intens. Dia meneteskan keringat bahkan dari berjalan di lintasan.
Adapun Samejima yang terluka dalam insiden yang sama… dia telah berlari jarak jauh dan sekarang bahkan melompati tali dengan lompatan ringan berulang-ulang seolah-olah dadanya tak pernah tertusuk.
“Menjadi kuat bukanlah kelebihanku.” —Ucap Sae yang hampir tertawa.
Setelah semua orang selesai berlari, saat mereka berpindah ke kegiatan berikutnya, mereka mengamati sosok Barakiel, yang menjabat sebagai pengajar untuk kelas Tobio dan yang lainnya sekaligus pengawas pelatihan mereka.
Dia memeriksa Tobio dan yang lainnya dengan ekspresi kaku dan mengangguk sekali.
“Hmm, jadi sepertinya kalian sudah menyelesaikan lari jarak jauh. Itu masih menyisakan setengah dari regimen, tapi setidaknya pastikan untuk rehidrasi diri kalian sendiri.”
Pada pandangan pertama, pria jangkung itu memberikan atmosfer yang mengintimidasi, namun, bertentangan dengan penampilannya, dia adalah orang yang cukup penuh perhatian. Mengenai pelatihan khusus mereka, tanpa menoleransi kompromi pada apa pun, dia sama sekali tidak akan menyerah sampai semua orang menyelesaikan apa yang telah ditentukan, tetapi setelah mengukur batas mental dan fisik Tobio dan yang lainnya, dia memastikan bahwa pelatihan itu tak akan pernah melampaui batas mereka.
Alih-alih mendesak Tobio dan yang lainnya dengan suara keras, mengingat bahwa mereka benar-benar amatir, dia akan, sambil mengamati mereka secara pribadi, berjalan di antara mereka sembari memberikan saran.
Samejima akan mengajukan keluhan tentang ini, tetapi dia pun kemudian diam-diam akan menyelesaikan apa yang ditentukan, tampaknya bukan hanya karena tekanan diam yang dilepaskan Barakiel, tetapi juga karena dia merasakan dari atmosfer di sekitar tubuhnya bahwa dia adalah seseorang dengan kehadiran yang kuat.
Seperti ini, Tobio dan yang lainnya telah menyelesaikan dasar dari latihan khusus mereka, tapi setelah melatih stamina dan kekuatan mereka, mereka akan berpindah lokasi untuk latih tanding. Dari lintasan lari, mereka pindah ke ruang latihan yang luas. Langit-langitnya sangat tinggi, itu adalah tempat yang telah dibuat agar mudah untuk bertarung.
Lalu, pada waktu itu—.
“Sepertinya giliranku.”
Orang yang muncul di hadapan Tobio dan yang lainnya, dengan senyum tak kenal takut di wajahnya, adalah seorang anak laki-laki berambut perak—Vali.
Tentu, Vali akan menjadi lawan tanding mereka saat ini.
Seperti Tobio dan yang lainnya, meskipun tidak setiap hari kerja, Vali juga akan muncul di Nephilim. Grigori telah memberi tahu Vali untuk menjadi lawan tanding Tobio dan yang lainnya.
Vali sendiri tampaknya secara pribadi menikmati sparing ini—.
“…Fufuh, Ikuse Tobio, Samejima Kouki, majulah, dan persiapkan diri kalian. Sepertinya sang Vanishing Dragon ini akan menjadi lawan kalian hari ini juga.”
Menegangkan tubuh kecilnya dengan mantap, dia berdiri menghadap pasangan Tobio dan Samejima.
Tampaknya, karena menikmati pertumbuhan Tobio dan Samejima yang di luar ekspektasi, dia mengambil inisiatif untuk mengambil alih sebagai lawan tanding dari keduanya.
Tobio dan Samejima ditemani oleh partnernya masing-masing—Jin dan Byakusa.
Tobio, dengan menempatkan Jin di depannya, dan Samejima, dengan menempatkan Byakusa di bahunya, mereka menyesuaikan diri dengan gaya bertarung masing-masing.
Sambil berdiri di sepanjang dinding, Natsume dan Sae bersorak.
“KAWAN-KAWAN! Hari ini kalian pasti akan mengalahkan Vaa-kun!”
“Cobalah untuk tidak terluka, kalian bertiga!”
Tak satu pun dari ini sama sekali mudah bagi seseorang seperti Tobio. Ia ingin setidaknya bisa menghindari cedera, karena meskipun lawannya lebih muda, itu adalah saran yang sangat tidak masuk akal.
Tobio dan Samejima, dan kemudian Vali, Barakiel berdiri di antara kedua pihak ini. Setelah membuktikan bahwa kedua belah pihak siap untuk bertarung, dia mengumumkan dimulainya pertandingan sparing dengan berkata, “Mulai!”
Yang pertama bergerak adalah Samejima. Ekor Byakusa yang ditaruh di bahunya diubah menjadi lebih panjang. Itu membungkus dirinya seperti kumparan di sekeliling lengannya dan membentuk dirinya menjadi tombak tajam berbentuk kerucut. Pada saat itu—listrik mulai mengalir melaluinya sambil menghasilkan suara percikan.
Pada saat konflik dengan Agensi Utsusemi tempo hari, Samejima tanpa sadar membawa Byakusa ke tahap berikutnya—selangkah lebih dekat ke bentuk Empat Makhluk Terkutuk yang sebenarnya. Dengan melakukan itu, Byakusa mencapai transformasi menjadi makhluk putih—hewan besar berukuran setidaknya tiga meter yang berpenampilan seperti harimau bertaring pedang. Saat ini tidak dalam wujud itu, tetapi berkaitan dengan fenomena percikan yang telah dimanifestasikan ketika berubah menjadi makhluk besar, ia menjadi mampu melepaskannya dari ukuran kucingnya yang biasa, dan Samejima sekarang memproduksinya dari tombak tersebut.
Tobio mengikuti dengan menjaga jarak agar tidak tersengat listrik itu. Transformasi juga terjadi pada kombinasi Tobio+Jin. Dari bayang-bayang di kakinya, Jin tanpa suara akan menciptakan bilah tajam bermata satu, yang kemudian ia pegang secara horizontal di mulutnya. Jin, sebagai pengganti kemampuan yang hilang saat ia masih anak anjing di mana ia menumbuhkan bilah dari tubuhnya, ia malah menjadi mampu menumbuhkan bilah secara sukarela dari setiap dan semua bayangan.
Dengan kata lain, sepertinya Jin menjadi mampu menumbuhkan bilah sesuai keinginannya sendiri. Ini adalah bukti bahwa Jin telah memiliki kesadaran diri dibandingkan ketika ia masih anak anjing.
Selanjutnya, Tobio juga menunjukkan pertumbuhan kemampuannya.
“—Keluarlah.”
Tobio, dengan gumaman saat ia fokus, memanifestasikan senjata khusus dari bayangan di kakinya. Sebuah gagang panjang, yang tumbuh dari bawah kakinya, dicengkeram oleh Tobio yang kemudian menariknya keluar dalam sekali jalan.
Apa yang ia pegang di tangannya, itu adalah bilah melengkung dengan gagang, sebuah sabit besar. Dengan busur elegan, itu adalah senjata khusus untuk menuai target. Itu bukan sabit untuk menuai rumput liar, itu mirip dengan sabit besar yang digunakan oleh malaikat maut.
Kemampuan Sacred Gear-nya meningkat dalam pertempuran dengan Agensi Utsusemi, seperti Jin, Tobio juga mendapatkan kemampuan untuk menghasilkan bilah dari bayangan sesuka hati.
Selama pertempuran dengan Agensi Utsusemi, Tobio juga secara pribadi mengalami bahwa, bukan hanya partnernya, Jin, ia sendiri harus bergerak selama pertempuran. Jika ia lari dari satu tempat ke tempat lain di medan tempur, memberi perintah pada Jin saat ia melakukannya, ia tidak akan selamat dari pertempuran mulai dari sekarang. Tobio, sebagai master Jin—tubuh utama, pasti akan diincar lawan.
Jika masternya dalam bahaya, tampaknya Jin akan bertindak untuk melindunginya, tetapi tampaknya ada batasan untuk itu juga. Jika lawannya lebih kuat dari Jin, semuanya akan berakhir. Karena itu, sebagai seorang master, Tobio sendiri harus menjadi kuat.
Hal yang sama juga diperlukan bagi Samejima yang terhubung dengan Sacred Gear-nya. Melakukan sesuatu seperti itu akan mustahil jika masternya tidak kuat.
Tobio telah memilih sabit besar sebagai senjata yang akan ia gunakan dalam pertempuran. Sebelum ini, ia telah mencoba menggunakan dan mengayunkan berbagai macam senjata tajam khusus… tetapi senjata yang paling familier di tangannya adalah, secara tak terduga, sabit besar. Sekilas, sabit itu tampak jauh lebih sulit untuk ditangani jika dibandingkan dengan pedang, tapi begitu Tobio menerimanya di tangannya, ia mendapati dirinya dengan terampil memutar-mutar sabit besar itu, mengangkatnya ke atas kepala, menariknya dengan keras, dan kemudian mengayunkannya ke bawah. Meskipun teman-temannya menganggap pemilihan sabitnya tidak menyenangkan (Vali menganggapnya bagus), Tobio secara naluriah berkata, “Ini dia,” dan menganggapnya sebagai senjata khusus miliknya.
Dengan ini Tobio, berhadapan dengan Vali sebagai mitra latihan tanding, mempersiapkan diri setelah memutar sabit besar itu beberapa kali.
Orang yang memulai lebih dulu adalah Samejima. Dengan gesit merangsek masuk, dia mengarahkan tombak yang hidup dengan percikan api ke arah Vali. Vali, tanpa menunjukkan tanda-tanda menghindar, terhadap hantaman tombak yang mendekat dengan gesit, dengan pashin dia mengubah lintasan serangan dengan sapuan tangannya. Tanpa membiarkan sesaat pun berlalu, Vali, yang membidik Samejima, meluncurkan pancaran cahaya—gumpalan aura dari tangannya. Samejima entah bagaimana bertahan melawan tembakan itu dengan menggunakan tombak sebagai perisai, dan guncangan hebat dari gumpalan aura itu mendorong mundur tubuh si berandal itu. Namun, Samejima tidak sampai terempas ke belakang.
Tobio kebetulan juga sudah mulai beraksi, dan Jin berada tepat di belakangnya. Setelah berubah menjadi peluru hitam, Jin mendekati Vali dengan kecepatan tinggi yang tak bisa diikuti oleh mata, dan menebasnya dengan bilah di mulutnya. Vali, dari depan, terhadap bilah yang diacungkan—menghentikannya dengan mencengkeram dengan dua jari di tangan kanannya. —Tapi, setelah menjadi seukuran anjing dewasa, berat badan Jin secara alami menambah kekuatan serangan, dan Vali yang secara fisik kalah besar terpaksa hancur posturnya. Vali, yang juga merasakan ini, langsung melepaskan dan mengempaskan Jin dengan gelombang kejut. Meskipun ia telah terlempar ke belakang, Jin, dengan anggung menegakkan posisinya di udara, telah mendarat dengan sangat baik.
Tobio+Jin dan Samejima+Byakusa, mengatur ulang kuda-kuda mereka, bersiap untuk sekali lagi maju ke arah Vali.
Ini adalah perbedaan tingkat keahlian mereka bertiga saat ini. Sejak saat mereka bertemu, Tobio dan yang lainnya juga telah berkembang, dan hasil akhir dari latihan mereka adalah mereka tidak lagi sepenuhnya tidak berdaya melawan anak laki-laki berambut perak itu.
Meski begitu, saat ini pun Tobio dan yang lainnya tak bisa melihat peluang untuk menang. Itulah sejauh mana kekuatan anak itu. Dalam pertarungan tiruan dengan Vali ini, yang telah diulang lebih dari sepuluh kali, hingga kini perilakunya hanya menangkis setiap serangan dengan ringan.
Tobio dan Samejima kembali melancarkan serangan… tapi apakah itu sabit yang diayunkan Tobio atau tombak yang dilepaskan oleh Samejima, bahkan dengan Vali yang sepenuhnya terpojok oleh ancaman mereka, dan meskipun Jin dan Byakusa telah menunjukkan serangan koordinasi yang luar biasa dengan master mereka, itu tidak memerlukan upaya serius dari anak laki-laki berambut perak itu.
Tobio mengayunkan sabit ke bawah dengan postur menyerang dari gaya yang entah bagaimana ia kembangkan sendiri. Membidik kerah baju, ia menebas secara diagonal untuk mengirisnya—tapi Vali, dengan hanya meninggalkan bayangan, dengan mudahnya menghindari ayunan dari sabit besar itu.
Bersamaan dengan serangan masternya, Tobio, yang mengiris udara kosong, Jin juga melompat ke depan sekali lagi, meluncurkan serangan tambahan dari berputar-putar ke titik buta Vali. Vali dengan mudah menghindar, tapi dari bayang-bayang di kakinya, bilah-bilah berbentuk aneh dengan cepat bertunas keluar. Mata Jin bersinar merah. Anjing hitam itu membuat itu muncul atas kehendaknya sendiri.
Vali bahkan berhasil menghindari bilah dari bayang-bayang itu dengan melompat dari tempat itu. Namun, sesuatu yang putih telah melilit kaki Vali.
Ekor yang melilit kakinya itu pun mengalirkan listrik, yang ditransmisikan pada Vali yang baru saja mendarat. Tubuh bocah itu diserang dengan keras oleh listrik dengan suara percikan… tapi Vali, mungkin karena mengumpulkan aura di dalam tubuhnya, tampaknya tidak terlalu terpengaruh. Namun, ekor yang melilit kakinya adalah sebuah kepastian.
“Ada celah!”
Samejima, setelah mendekat, mencoba menusuk Vali dengan tombak berselubung listrik. Sepertinya dia menduga bahwa tak ada cara untuk menghindarinya dalam situasi ini—tapi Vali menunjukkan sepasang sayap yang bersinar dengan cahaya dari punggungnya.
—Itu adalah Sacred Gear miliknya.
Dengan efek samping dari manifestasi Sacred Gear tersebut, ekor Byakusa yang melilit kaki Vali terputus secara paksa.
Vali, setelah menumbuhkan sayap bercahaya, telah terbang ke langit-langit yang tinggi. Melihat mereka dari dekat langit-langit, dia tertawa sinis.
“Celah? Fuh, untuk orang sepertiku, ini bahkan belum menjadi sesuatu yang bikin antusias.”
Dia menghujani gumpalan aura secara acak dari langit-langit! Tobio atau Samejima, keduanya tak bisa terbang ke sana, tak bisa berbuat apa-apa! Bilah sabitnya patah hanya dengan satu tembakan, dan Byakusa yang berada di bahu Samejima juga terkena serangan langsung, yang membuatnya terlempar. Bahkan Jin yang melompat sekuat tenaga tak bisa menghindarinya. Menerima gumpalan aura dengan tubuh mereka, dampaknya menyerang mereka di semua tempat seperti dipukul dengan senjata tumpul.
Setelah memastikan bahwa senjata khusus Tobio dan Samejima telah terpisah dari mereka, Barakiel mendesah dan mengangkat tangannya.
“Cukup!”
Dengan satu pernyataan itu, akhir dari pertarungan tiruan diumumkan. Pada akhirnya, tanpa bisa membuat Vali menunjukkan huruf ‘s’ dari serius kali ini juga, Tobio dan Samejima sama-sama menggertakkan gigi mereka dengan kecewa.
Menanggapi suara Natsume, yang telah bersorak, berkata, “Itu tadi menyedihkan, anak-anak muda!”, Tobio tak bisa berkata apa-apa. Samejima membalas, “Diam, Otak Burung!”….
Namun demikian, inilah perbedaan kemampuan saat ini antara Tobio dan Vali. Perbedaan antara dirinya dan yang lebih muda itu masih sangat lebar sampai pada tingkat yang kejam.
2
“Owowow….”
Sambil membasuh keringat di bawah pancuran ruang pancuran setelah latihan, Tobio masih merasakan sisa-sisa rasa sakit di sekujur tubuhnya. Setelah latihan lari tadi, ada satu sesi lagi, pertarungan tiruan dengan Vali… tapi ia selalu dikalahkan tanpa mendaratkan satu pun serangan yang berarti. Seluruh tubuhnya penuh dengan memar.
Setelah dikalahkan dua kali, yang mengakhiri latihan intensif hari ini, ia mandi untuk membersihkan diri. Samejima, yang telah menyelesaikan mandinya dengan sangat cepat, sudah pergi lebih dulu. Dia juga penuh memar, tetapi karena dia cukup bugar, dia langsung pergi jalan-jalan. Karena mengendarai motornya adalah cara khasnya untuk mengubah suasana hati, entah itu baik atau buruk, dia pergi bermotor untuk menenangkan diri.
Sedangkan Tobio yang suasana hatinya belum pulih benar, sembari mandi, ia menajamkan fokusnya dan memeras otak, mencari teknik yang bisa memungkinkannya mendaratkan serangan pada lawan yang terampil.
Meskipun ia telah memilih sabit besar sebagai senjata khususnya, ukurannya yang terlampau besar membuat penggunaan dan persiapannya menjadi terlalu mencolok. Dalam kasus melawan Vali tadi, entah saat ia mengayunkannya ke bawah dari atas atau mengayunkannya dari bawah, setiap gerakannya terlalu besar. Jika lawannya terampil, mereka akan dengan mudah membaca niat dan arah serangan selanjutnya hanya dari posisi tubuhnya. Jika ia benar-benar melatih fisiknya, sepertinya kecepatan serangannya bisa ditingkatkan, tapi…. Bagi dirinya yang baru-baru ini menjadi siswa SMA biasa, sangat sulit untuk segera mendapatkan sifat yang diperlukan seperti itu.
—Seperti dugaan, hal terpenting untuk menjadi kuat adalah dengan terhubung dengan Jin.
Itu wajar saja, tapi metode terkuat, menurut Tobio, adalah kemampuannya, yaitu si anjing hitam ‘Jin’ yang merupakan Sacred Gear-nya. Kecuali orang bodoh, tak ada orang yang takkan memanfaatkan kekuatannya semaksimal mungkin.
…Untuk meningkatkan jumlah variasi dalam serangannya sendiri, tak ada pilihan selain dengan Jin.
Dari situ, Tobio kembali merenungkan berbagai cara untuk berkombinasi dengan Jin. Setelah berlalu cukup lama, ia pun menyadari bahwa ia sedang mandi. Terkejut karena terlalu lama melamun, ia pun mematikan keran air sambil menggelengkan kepala.
Karena ia mengenakan bagian bawah di ruang ganti, dengan tubuh bagian atas yang masih telanjang, ia duduk di bangku yang telah disediakan. Bahkan saat ia mengelus Jin yang ada di sisinya, pikiran Tobio masih dipenuhi oleh evaluasi latihan khusus hari ini.
Tidak peduli seberapa banyak ia memikirkannya, untuk saat ini, perbedaan kekuatan di antara mereka memang mutlak dan tak terbendung. Menerima jawaban realistis itu adalah caranya menenangkan emosinya hari ini juga.
…Jadi, setiap hari, aku hanya bisa meredam rasa frustrasi karena tak bisa menang.… Tanpa diduga, pemikiran itu terasa cukup sinis dan merendahkan diri sendiri bagi orang yang benci kalah sepertiku.
Dengan Samejima pergi mengendarai motornya, Tobio merasa temannya itu juga sedang mencari pengalihan suasana hati yang sama seperti dirinya.
Bagi remaja laki-laki seusia mereka, dikalahkan oleh seorang junior pastilah terasa menjengkelkan.
“Toby, bukankah tidak baik jika tidak minum setelah bertanding?”
—Terdengar sebuah suara dari sampingnya, bersamaan dengan sebotol air yang disodorkan di depan matanya. Tobio secara spontan menerimanya sambil berucap “Terima kasih,” dan langsung meneguknya….
…Namun, menyadari ada sesuatu yang janggal, ia mengalihkan pandangannya ke samping.
Seorang gadis berambut pirang mengenakan baju renang balap—Lavinia—sedang duduk tepat di sebelahnya. Terkejut dengan kemunculan mendadak itu, Tobio langsung berdiri seketika.
“Lavinia-san! Kenapa kau bisa ada di sini!?”
Ini adalah ruang pancuran putra. Bagi seorang perempuan seperti Lavinia berada di sini adalah hal yang tak biasa.
Namun, mendengar ucapan Tobio, Lavinia hanya memiringkan kepalanya dengan bingung.
Mungkin karena dia tidak mengenakan topi kerucutnya yang biasa, rambut pirangnya tampak berkilau cerah. Apalagi rambut dan baju renangnya tampak basah. Sepertinya dia baru menggunakan kolam renang dalam ruangan.
Gadis itu memang sering memanfaatkan fasilitas di institusi ini. Kadang-kadang dia juga datang untuk memeriksa latihan khusus mereka… tapi karena dia tidak melihatnya seharian ini, Tobio mengira dia tidak datang.
“Panggil Lavinia saja tak apa-apa, 'kan?” jawabnya dengan kalimat yang sama sekali tidak menyambung. Terlebih lagi, dia juga langsung ikut berdiri.
…Karena mendapati dirinya melihat baju renang balapnya dari jarak dekat, Tobio langsung mengalihkan pandangannya dengan panik.… Bagi remaja laki-laki yang sehat, kulit putih mulus milik gadis Kaukasia itu—terutama di sekitar bagian pahanya—terlampau silau untuk dipandang.
Tobio berbicara sambil mengalihkan pandangannya.
“E-enggak, bukan itu masalahnya sekarang! Ini ruang ganti putra!”
Meski sudah diperingatkan, Lavinia sama sekali tidak memedulikannya. Dia melangkah ke depan loker tertentu dan—dia tidak berniat melepas baju renangnya di sini, 'kan?! Apakah ini ruang ganti putri!? Ia hampir panik karena tebakannya salah, tapi ia telah menggunakan tempat ini berkali-kali, dan hari ini secara khusus ia masuk bersama Samejima. Tentu saja, Bagaimanapun ia memikirkannya, ini adalah “ruang ganti putra”.
Kalau memang begitu, dalam hal salah paham, Lavinia-lah pihak yang sepenuhnya keliru….
Jika ia meliriknya—pemandangan yang tersaji di sana adalah Lavinia yang mulai melucuti baju renangnya tanpa ragu! Karena tak tahu harus berbuat apa lagi, Tobio langsung menarik Jin ke dalam pelukannya, lekat-lekat wajah Jin untuk mengamankan arah pandangannya.
Bagi Jin sendiri, karena tiba-tiba didekap oleh masternya, ia terpaksa untuk berdiri dengan dua kaki belakangnya dan menatap lurus ke pemandangan yang ada tepat di depan matanya. Anjing hitam itu memasang ekspresi “!?!?” dalam kebingungan.
Di tengah situasi absurd akibat kombinasi Tobio dan Jin yang mendadak ini, Lavinia dengan santainya tetap berbicara dengan ritme pemikirannya sendiri.
“Bagaimana pertarungan tiruan dengan Vaa-kun tadi?”
“A-aku kalah telak.”
“Itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Sejak Vaa-kun bertemu Gubernur Jenderal Azazel, dimulai dari Sacred Gear, dia terus memperkuat dirinya, dan karena itu, untuk saat ini dia adalah seseorang yang tak bisa diharapkan untuk ditandingi oleh Toby dan Shark yang baru saja membangunkan kekuatannya.”
“I-itulah masalahnya. T-tapi, meski begitu, karena aku ingin menang, aku terus memperdalam hubunganku dengan Jin; aku ingin menjadi kuat.”
“Itu yang terbaik. Yang pasti, kau adalah pemilik tipe Avatar Independen.”
Segera mengeluarkan sisa pakaian ganti dari loker, Tobio menghargai bahwa pilihan paling bijak adalah menyerah pada situasi ini… tetapi ketika percakapan mereka terus berlanjut, entah mengapa terpikir olehnya bahwa mungkin lebih baik tetap tinggal sampai topik pembicaraan berubah. Kekacauan yang ditimbulkan oleh kemunculan Lavinia sudah terlihat jelas.
Tiba-tiba, sebuah topik terlintas di benak Tobio. Karena istilah tipe Avatar Independen yang baru saja disebutkan, ia ingat bahwa Lavinia juga memiliki Sacred Gear dengan tipe yang sama.
“L-Lavinia-san, kau juga memiliki Sacred Gear tipe Avatar Independen, 'kan?”
“Ya. Aku juga seperti Toby dan yang lainnya.”
Ingatan Tobio kembali pada sosok putri es raksasa yang tak biasa. Dari seluruh tubuh makhluk itu, mengalir gelombang hawa dingin yang menusuk hingga ke pikiran dan raga.
“…Lalu bagaimana dengan Sacred Gear milik Vali….”
“Ya, aku yakin kau diajari tentang itu di kelas, tapi berbeda dari aku dan Toby, untuk Vaa-kun, miliknya adalah jenis Sacred Gear yang memiliki roh jahat yang tersegel di dalamnya. Itu memanifestasikan kemampuan roh jahat itu, Karakteristiknya. Sayap cahaya yang muncul dari punggungnya, kau bisa menganggapnya sebagai peralatan untuk mewujudkan kekuatan roh jahat.”
Ada berbagai macam Sacred Gear yang beragam, dan semuanya telah dikelompokkan menjadi beberapa tipe, tetapi ia telah mendengar dalam pelajaran bahwa jumlah Sacred Gear yang memiliki karakteristik yang tak bisa dikategorikan juga tidak sedikit. Sacred Gear yang dimiliki Vali berbeda dari tipe Avatar Independen milik Tobio dan yang lainnya, melainkan termasuk dalam tipe Roh Jahat Tersegel. Mengenai roh jahat tersegel itu, biografi tertulisnya adalah monster iblis dari legenda, Naga Legendaris…. Ia pernah mendengar bahwa di dalam Sacred Gear Vali tersegel salah satu naga terkuat yang disebut sebagai ‘Dua Naga Langit’, sang Vanishing Dragon. Ketika mereka mempelajari itu di kelas, bukan hanya Natsume dan Samejima saja yang tercengang.
““Itu bukan hanya di dalam kepalanya!?””
Karena selama ini mereka mengira itu hanyalah delusi sindrom chuunibyou yang diciptakan oleh Vali, segera setelah mereka mengetahui bahwa cerita naga itu nyata, mata mereka langsung melotot karena terkejut (meskipun, pada akhirnya mereka tetap menyimpulkan bahwa gelarnya sebagai Maou Lucifer tetaplah bagian dari sindrom chuunibyou yang sedang kumat).
Mengenai karakteristik dari Sacred Gear Vali, dia sempat menggunakannya ketika Tobio mengamuk dalam pertempuran melawan kepala insinyur dari Agensi Utsusemi—Himejima Hanezu, meskipun Tobio sendiri tidak mengingatnya. Namun, selama pertarungan tiruan, dia tidak pernah menggunakan karakteristik tersebut. Manifestasi sayap cahaya memang terjadi, tetapi itu tidak digunakan untuk mengeluarkan kekuatan supernatural bawaan dari Sacred Gear-nya. Dengan kata lain, Tobio dan yang lainnya, bagi Vali, Tobio dan yang lainnya hanyalah lawan pada tingkat sepele seperti itu. Menghadapi kenyataan tersebut, Tobio merasa sangat terpukul.
Seolah-olah bisa membaca perasaan Tobio yang sebenarnya, Lavinia berkata, “Aku juga sudah bilang, tapi kau tidak boleh merasa berkecil hati, Toby. Semuanya dimulai dari sini. Toby dan Vaa-kun memiliki Sacred Gear yang sama denganku, yang sedikit spesial. Jika selama di sini kau belajar menggunakannya dengan benar, seharusnya sangat mungkin untuk mengejutkan Vaa-kun.”
Tentu, sehubungan dengan Sacred Gear yang Tobio, Lavinia, dan Vali miliki, sejujurnya ia telah menerima penjelasan bahwa ada garis pembatas yang jelas antara milik mereka dan yang dimiliki oleh Natsume serta Samejima.
Hanya ada tak lebih dari tiga belas Sacred Gear saat ini yang merupakan inkarnasi yang bahkan dapat menggulingkan dewa—yang disebut sebagai Longinus. Kekuatan transendental yang, jika mau, dianggap mampu membunuh bahkan dewa sekalipun, hal seperti itu bersanding di dalam dirinya.
Ia tiba-tiba menatap ke dalam mata Jin. Pupilnya berwarna merah terang seperti warna darah. Bayangan dirinya sendiri tercermin di dalam pupil Jin… tapi jauh di luar itu, sepertinya ada sesuatu yang sangat dalam bersembunyi di sana….
Kekuatan yang mampu membunuh bahkan dewa…. Baginya… itu tidak benar-benar terasa nyata….
Menurut Natsume, ketika ia mengamuk waktu itu, bukan hanya ruang pengamatan, bahkan pegunungan di sekitarnya telah menumbuhkan banyak sekali bilah besar. Apalagi itu sepenuhnya karena kekuatannya….
Kekuatan yang tak terkendali di dalam dirinya, itu membuatnya merasa tidak berguna. Sungguh menakutkan bahwa kekuatan supernatural yang bahkan ia sendiri tidak sadari bisa dengan mudah mengekspos lingkungan sekitarnya ke dalam bahaya maut.
Lavinia berbicara.
“Sebagai seseorang yang diberkahi dengan tipe Avatar Independen yang sama, bolehkah aku memberimu satu saran? …Kau perlu mencapai penyatuan dengan Scared Gear di sisimu, yang juga bisa dilihat sebagai perpanjangan dari dirimu sendiri—”
“Penyatuan….”
“Menghubungkan dan memerintah, itu secara alami adalah cara yang jelas untuk memanipulasi Sacred Gear dari atas. Tapi, cara yang benar untuk memanipulasi Sacred Gear yang merupakan alter egomu, yaitu dengan bersimpati dengannya, beresonansi dengannya, tidak hanya dalam tubuh, kau harus menjadi satu dari hati dan jiwa. Di lubuk terdalam dari Sacred Gear, konon jika dan hanya jika kau bisa mencapainya, maka kau akan mendekati kebenaran yang sejati darinya.”
“…Lubuk terdalam dari… Sacred Gear….”
Pupil mata Jin—. Apakah ada sesuatu yang tertidur di dalam diri mereka? Apakah gadis ini mengatakan bahwa anjing hitam ini memiliki sesuatu di dalam dirinya?
—Bilahmu, bisa menjangkau apa saja. Tetapi, bilahmu itu juga akan melukai segalanya—.
—Toh, kau sudah bukan manusia lagi.
—!!! Tubuh Tobio berkedut saat kata-kata itu muncul kembali di benaknya.
…Dalam mimpi itu, sepertinya ada suara dari tempat yang sangat dalam, dalam kegelapan. Mungkinkah kegelapan itu adalah lubuk terdalam dari Jin… atau lebih tepatnya, itu adalah sesuatu yang ia bawa, kegelapan yang ada di dalam kekuatan yang ia miliki…?
Lavinia melanjutkan. “…Aku telah berbicara dengan nada sok tahu, tapi sejujurnya, aku juga masih belum bisa mengendalikan bonekaku sendiri dengan mahir. Untuk benar-benar ahli dengan Sacred Gear, kalau aku menyelidiki kebenaran dengan tujuan untuk berintegrasi dengannya… aku akan mulai memahami boneka itu. Seharusnya aku yang mengendalikan boneka itu, putri itu, tapi kenyataannya putri itu bukanlah semacam boneka…. Setidaknya begitulah rasanya, dan itu cukup menakutkan…. Meskipun aku sudah mempelajari sihir, ketakutanku terhadap kekuatan yang telah bersarang di dalam diriku sejak lahir tidak berkurang sedikit pun.”
Berbeda dari nadanya yang biasa, dalam kata-kata yang Lavinia ucapkan saat ini, Tobio tak bisa tidak merasakan perasaan semacam kesedihan sekaligus menyimpan rasa ngeri di dalamnya. Meskipun Lavinia telah lama menghadapi Sacred Gear tipe Avatar Independen jika dibandingkan dengan dirinya sendiri, dia masih merasakan hal yang sama tentangnya….
“Aku ingin kau berhati-hati juga, Toby. Pada tipe Avatar Independen, walaupun kau mencoba menyelidiki kekuatan yang tertidur di dalamnya, di saat kau mendekati kebenaran tersebut ada kemungkinan kau akan tertelan oleh kekuatan itu. Alter egomu adalah bagian dari dirimu, versi lain dari dirimu. Kalau kau menunjukkan celah sedikit saja, versi lain dari dirimu itu bisa bertukar posisi denganmu.”
Lavinia memperingatkannya dengan cara itu.
Jin… bisa bertukar tempat denganku…?
Tobio telah mengunci mata dengan Jin, tetapi anjing hitam yang dimaksud hanya memiringkan kepalanya.
…Jin, makhluk yang kutemui dalam mimpiku sebelumnya, apakah ia sedang menunggu kesempatan untuk bertukar tempat denganku…?
Tobio baru menyadari bahwa, baginya untuk menguasai kekuatan Jin, diperlukan ketetapan tekad yang matang.
Lalu, setelah mendengar kata ‘sihir’ secara kebetulan, Tobio tiba-tiba teringat kembali pada si wanita tua—penyihir yang ia temui di tempat persembunyian Agensi Utsusemi. Saat itu, Lavinia memelototi penyihir lawan dengan mata yang sangat dingin….
Tobio melanjutkan untuk menanyakan hal itu.
“…Lavinia-san, penyihir yang kaulihat di tempat persembunyian Agensi Utsusemi… apa ada semacam hubungan di antara kalian…?”
Sangat jelas bahwa wanita tua yang Lavinia hadapi—penyihir yang memerintahkan raksasa api ungu itu, adalah target kebencian Lavinia. Sebagai sesama pengguna sihir, mungkinkah ada semacam hubungan di antara mereka?
Secara garis besar, ia telah diberi tahu bahwa penyihir itu terhubung dengan Penyihir Oz…. Dengan nama seperti Penyihir Oz yang muncul dari literatur dongeng anak-anak, Tobio dan yang lainnya sempat dibuat bingung….
Setelah Tobio bertanya, curiga bahwa Lavinia mungkin tidak akan menjawab, ia mengalihkan pandangannya dari Jin, meliriknya sekilas dari sudut mata—.
“Itu adalah musuh.”
Wajah Lavinia ternyata sudah sangat dekat dengannya! Tobio terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Namun, penampilan Lavinia… saat ini hanya berupa selembar handuk yang tergantung di lehernya…. Dua bukit putih payudaranya, dan apa yang ada di bawahnya… Tobio akhirnya melihat semuanya!!
Lavinia berbicara tanpa memedulikan hal itu sama sekali.
“Aku datang ke sini demi menghentikan penyihir itu… menghentikan mereka.”
Terlepas dari penampilannya saat ini, ekspresi wajahnya tetap seperti biasanya….
Itu terjadi pada saat itu juga.
“Kau di dalam, Tobio? Aku membawakanmu botol untuk minum, tapi… apa ada orang di dalam?”
Sebuah suara terdengar dari luar! Itu adalah suara Sae!! Bagaimana bisa waktunya seburuk ini! Berada dalam situasi seperti ini, pikiran Tobio terhenti total. Ia memikirkan betapa bagusnya jika ia bisa bersembunyi di dalam bayangan seperti Jin.
Paling tidak, untuk melewati situasi ini, ia harus keluar untuk menerima botolnya. Tubuh bagian atasnya saat ini memang telanjang, tapi… bagi Sae, yang telah bersamanya sejak kecil, mereka memiliki hubungan di mana gadis itu telah melihat bagian atas tubuhnya berkali-kali. Seharusnya tidak ada masalah jika hanya sejauh ini.
Lalu, ia akan meminta Lavinia tetap tinggal di sini, dan pada saat yang sama ia akan bergegas maju untuk menerima botol minuman itu.
“Apa itu Shaae? Kalau ini soal Toby, dia ada di sini, kok.”
Dari semua hal, Lavinia malah menjawab Sae yang berada di luar dari dalam sini! Apalagi, dia memberi tahunya bahwa Tobio ada di dalam sini! Seperti biasa, Lavinia memanggil Sae dengan sebutan “Shaae”.
Setelah jawaban itu, keheningan singkat terjadi di luar, dan kemudian pintu perlahan-lahan terbuka.
Sae dengan malu-malu mengamati keadaan di dalam.
“…Tobio dengan… Lavinia-san…?”
Saat dia mengatakan itu, pemandangan yang tersaji di depan mata Sae adalah Tobio yang bertelanjang dada, seorang gadis tanpa busana dengan handuk yang tergantung di lehernya, dan di samping mereka ada seekor anjing hitam yang menemani.
Dihadapkan pada situasi yang kelewatan ini, saat Sae menatap Tobio dan Lavinia secara bergantian, mulutnya menganga tanpa sadar, dia menjadi bungkam sepenuhnya.
“……”
—Gawat.
Gawat gawat gawat gawat gawat gawat!! Tobio, buru-buru mencari alasan, mulai berbicara.
“U-umm, ini… Sae, ini tidak seperti kelihatannya!”
Sae, sambil memasang senyum yang dipaksakan, mengulurkan botol minuman ke arah Tobio. Namun, Sae lalu melihat botol yang sudah setengah diminum yang diletakkan di atas bangku di sebelah Tobio.
“Ini adalah botol untuk rehidrasi… atau begitulah seharusnya, kecuali sepertinya kau sudah meminumnya. Kalau begitu, akan kusimpan botol cadangan ini. Sampai jumpa nanti—”
Seperti katanya, Sae mencoba meninggalkan tempat itu, tetapi lupa membuka pintu dengan benar, dia pun menabraknya.
“Aduh! …A-aku baik-baik saja.”
Sementara ujung hidungnya terasa menyengat, dengan senyum yang dipaksakan, Sae buru-buru membuka pintu dengan gumaman “Eheheh”, dan langsung pergi melesat.
……
…Tobio, yang sudah kehabisan akal atas situasi ini, terduduk lemas, tak tahu harus berkata apa lagi mengenai keadaan ini selain, “Ahh, sekarang aku sudah mengacaukannya….”
Adapun Lavinia—
“?”
Dia hanya berdiri diam di sana dengan tanda tanya imajiner melayang di atas kepalanya.

Post a Comment