SLASHDOG Jilid 2 Bab 1

1

Bab 1 Memulai Kembali/Kehidupan Baru

1

Tempat itu—gelap gulita.

Tanpa sedikit pun cahaya, hanya ada kegelapan pekat yang murni tanpa suara apa pun—.

Matanya terbuka, tetapi hari masih gelap. Seharusnya ia bisa mendengar, tetapi bahkan suara sekecil apa pun tak terdengar.

Meskipun ia menggerakkan jarinya, ia tak merasakan apa-apa. Tidak, apakah ia benar-benar menggerakkan jarinya? Apakah jarinya bahkan bergerak? Ia bahkan tak bisa merasakan itu—.

Menyadari bahwa ia bahkan tak bisa mendengar detak jantungnya sendiri, ia—Ikuse Tobio merenungkan apakah ia berhalusinasi tentang kematiannya sendiri, tetapi….

Bersamaan dengan suara gertakan seperti sengatan listrik, ia diserang oleh rasa sakit yang tajam di sekujur tubuhnya, diikuti oleh perasaan seperti sarafnya sedang dicabut.

Sambil memejamkan mata menahan sakit, saat ia membukanya kembali—cahaya telah membentang di depan matanya. Sebuah lengan putih terulur dari hadapannya.

Sepertinya lengan itu milik seseorang yang dikenalnya. Lengan dari seseorang yang mengulurkan tangan seolah ingin menariknya bangkit. Untuk menggapainya, Tobio menjulurkan tangan kanannya sendiri, tapi—. Lengan kanannya itu berwarna hitam legam.

Lengan hitam tersebut sama sekali tak terlihat seperti lengan manusia—. Terbungkus oleh bulu hitam tebal dengan kuku-kuku tajam di kelima jarinya, lengan itu persis seperti cakar binatang buas.

Tobio menyentuhkan tangannya ke wajahnya sendiri. Untuk pertama kalinya, apa yang ia rasakan di sana adalah sesuatu yang sama sekali asing dibanding wajahnya yang biasa.

Mulut yang menonjol, telinga yang meruncing ke atas, dan seluruh wajahnya tertutup bulu yang sama seperti lengannya.

Lengan seseorang yang terulur dari balik cahaya itu—lambat laun semakin menjauh. Tobio buru-buru menjangkau untuk meraih lengan tersebut, tetapi tampaknya jarak mereka tak kunjung menyusut.

Pada akhirnya, ia gagal menggenggam tangan orang itu. Sesuatu, andai saja ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menggapainya…!

Saat memikirkan hal itu, yang terlintas di benaknya adalah sebuah tonjolan yang terdistorsi. Jika dipikir-pikir, rasanya seperti ada sesuatu yang akan tumbuh keluar dari lengannya. Dengan benda itu, ia harusnya bisa menggapai tangan tersebut.

—Jangan, itu tidak boleh. Kalau aku memanjangkan tonjolan itu, Blade itu, aku justru akan melukai tangan orang itu.

Untuk memangkas jarak dengan orang berharga yang kian menjauh itu, yang ia miliki hanyalah bilah menjijikkan itu—.

Tiba-tiba, suara itu berbisik tepat di dekat telinganya.

‘—Bilahmu bisa menjangkau apa saja. Tetapi, bilahmu itu juga akan melukai segalanya—’

Suara itu, menyudahi kalimatnya dengan nada mengejek.

‘—Lagi pula, kau sudah terlanjur berhenti menjadi seorang manusia.’

 

2

—Pagi.

Saat terbangun, Tobio mendapati dirinya bermandikan keringat dalam jumlah yang tak wajar.

Sambil menegakkan separuh badannya, ia memandang ke sekeliling kamar dengan tatapan kosong. Napasnya terengah-engah, dan jantungnya berdegup begitu kencaang. Ia baru sadar kalau seluruh tubuhnya gemetaran.

Karena hal itu, ia mengejutkan anjing hitam yang tadinya tidur meringkuk di tengah ruangan, yaitu partnernya, <<Jin>>.

Awalnya Jin hanyalah seekor anak anjing, tetapi selama insiden beberapa hari lalu, ia telah berubah menjadi anjing dewasa yang gagah dan besar. Tentu saja, prosesnya melalui metode yang sangat berbeda dari pertumbuhan anjing biasa….

Sembari menarik napas dalam-dalam, Tobio menutupi wajah dengan tangannya. Ada tetesan air yang menempel di sana. Itu adalah air mata.

—Mimpi apa itu….

Sebuah mimpi buruk yang teramat nyata hingga tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Setelah menenangkan napas dan membiarkan detak jantungnya kembali normal, ia mengembuskan napas panjang.

—Ayo bangun dari tempat tidur. Setelah memutuskan ini, Tobio beranjak bangun dan menyibakkan selimut tipisnya. Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu. —Rasanya, kenyal.

Hm? Tobio menyadari ada kelembutan misterius yang tersalurkan ke tangannya. Merasa curiga, ia mengalihkan pandangannya ke area di sebelahnya di atas ranjang.

“Uun….”

………

Seketika itu juga, pikiran Tobio langsung semrawut.

Aneh. Ini benar-benar aneh. Ada seorang gadis yang sedang tidur di sampingnya. Gadis itu hanya mengenakan selembar kemeja putih. Apa yang tersaji di depan mata sehat seorang remaja laki-laki sepertinya adalah sepasang kaki jenjang yang putih mulus.

—Dia adalah Minagawa Natsume.

Gadis yang sangat ia kenal. Namun, ini aneh. Harusnya Natsume tidur di kamar lain di gedung apartemen yang sama. Berpikir kalau dirinya mungkin masih setengah bermimpi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga mengucek matanya.

Setelah mengedipkan mata, untuk kedua kalinya ia memeriksa sosok yang sedang tidur di sebelahnya itu.

“Tunggu sebentarr… kenapa kau menarik selimutnyaaa….”

Menggerutu dalam tidurnya, Natsume menarik kembali selimut tipis yang tadi sempat menutupi tubuhnya.

Enggak, bukan begitu, tunggu sebentar. Kau memasuki kamarku tanpa ketahuan? Enggak, bukan itu masalahnya. Masalah utamanya adalah kenapa gadis ini bisa naik ke tempat tidurku?!

Tenang, tenanglah diriku! Tarik napas dalam-dalam seperti tadi.

Ini buruk—. Aku tak bisa tenang. Berada di samping seorang gadis yang berpenampilan menggoda hanya dengan kemeja putih, bagi remaja seusia Tobio, ini adalah pemandangan yang menyegarkan mata—bukan, maksudnya ini racun! Karena rambut yang biasanya selalu dia ikat kini digerai bebas, kesan seksinya jadi begitu terasa. Apalagi, bentuknya agak berantakan. Sepertinya dia banyak berguling saat tidur tadi.

Tobio mengguncang bahu gadis yang tidur di sebelahnya.

“H-hei. Bangunlah.”

“…Uh. Ayolah, sebentar lagi…. Lagian, kemarin 'kan munya munya….”

Kemarin kenapa!? Apa aku melakukan sesuatu kemarin!? Mau seberapa keras pun aku memeras otak, aku tak bisa mengingat apa-apa.… Biarkan aku berganti pakaian dan pergi ke ruang komunal apartemen. Mari lakukan itu.

Sambil mengendap-endap keluar dari tempat tidur selembut mungkin, Tobio melangkah ke depan lemari pakaian.

Sambil mendesah, ia melepas baju tidurnya. Namun, tepat saat ia baru mengeluarkan pakaian.

Interkom mengeluarkan bunyi ‘pin pon’. —Dan pada saat yang sama, tanpa jeda sedikit pun, telinganya menangkap suara pintu depan yang terbuka dengan bunyi dentang.

“Yoo, Ikuse, kau sudah bangun?”

Samejima! Itu adalah Samejima Kouki yang juga tinggal di gedung apartemen yang sama. Suara lantangnya terdengar dari arah pintu masuk. Seketika itu juga, keringat dingin langsung mengucur deras dari seluruh tubuhnya.

“Hm? Apa, jadi kau belum bangun? Ya sudah. Kalau begitu biar aku yang membangunkanmu.”

Bersamaan dengan suara Samejima, terdengar bunyi langkah kaki berat yang melangkah maju dari koridor.

“Aku datang bersama Shark karena kau lama sekali.”

Bahkan suara Lavinia pun terdengar! Entah bagaimana, si gadis penyihir Lavinia juga ikut mengunjungi kamar Tobio bersama Samejima.

“Hei, apa Minagawa Natsume tidak ada di kamarnya? Lagi pula, kenapa aku harus melakukan tugas kekanak-kanakan begini….”

Bahkan anak laki-laki berambut perak itu—Vali juga ikut!?

Tunggu! Tunggu dulu di sana! Ini gawat! Minagawa Natsume sedang tidur di ranjangku! Apalagi, ini adalah saat yang tidak tepat karena aku setengah telanjang setelah mengganti pakaian tidurku!

Jika pemandangan ini sampai terlihat, aku tak tahu harus membuat alasan apa!

“Jarang sekali Tobio kesusahan bangun pagi.”

—!! S-suara ini adalah suara Sae, teman masa kecilnya!! Bukan cuma Samejima dan Lavinia, bahkan satu orang yang tidak boleh melihat situasi ini pun ikut datang!?

“Uun…. Fuhaa…. Astaga, jangan berisik sekali di pagi hari.”

Seolah menjadi serangan pemungkas, suara orang yang terbangun terdengar dari belakangnya.

Dalam kondisi baru melepas baju tidur—Tobio yang setengah telanjang itu menoleh, dan pandangannya langsung bertemu dengan Natsume yang baru saja menegakkan separuh tubuhnya dari kasur.

Saat ekspresi wajah Tobio mulai menegang,

“…….”

Ekspresi Natsume langsung membeku karena belum bisa mencerna situasi saat ini.

Secara visual, dia membandingkan Tobio yang setengah telanjang dengan kondisi dirinya sendiri. Secara perlahan menatap ke pakaian yang sedang ia pakai, wajahnya berangsur-angsur memerah. Tiba-tiba, sambil meraih selimut tipis, ia menutupi separuh wajahnya. Sambil melirik sekilas ke arah Tobio dengan salah tingkah, ia menyembunyikan wajahnya dengan selimut tipis karena malu.

Eh? Ada apa dengan reaksi itu….

Jika itu Natsume yang biasanya, Tobio mengira gadis itu akan berteriak marah dan melemparkan bantal ke arahnya. Melihat reaksi tak terduga dari Natsume, Tobio pun jadi ikut bingung.

“Jadi ini, penyerangan saat tidur….”

Natsume terkekeh kecil dengan nada yang agak kecewa.

Bukan, bukan, bukan, bukan begitu!

“B-bukan begitu! Ini—”

“Tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkanmu, Ikuse-kun. Kau 'kan memang sedang berada di usia yang seperti itu. Aku sudah pernah dengar, bagi anak laki-laki, ada beberapa hal yang memang tidak bisa mereka kendalikan….”

Gadis ini, dia benar-benar salah paham…. Ini menjadi perkembangan situasi yang sangat canggung.

“Sebentar, bukan, bukan. Bukan begitu kubilang—”

Ingin menjelaskan, Tobio tanpa sadar mendekati Natsume dalam kondisi dirinya yang masih setengah telanjang.

“Yo—! Tobio—!”

Anak laki-laki berpenampilan seperti berandalan yang membuka pintu dengan sentakan keras itu—Samejima Kouki, langsung membatu dengan senyuman yang membeku di wajahnya begitu melihat situasi di dalam kamar.

Natsume yang wajahnya merona merah di atas ranjang, dan Tobio yang mendekatinya dalam kondisi setengah telanjang.

Dari sudut pandang orang ketiga, siapa pun pasti akan memikirkan hal yang sama jika diperlihatkan pemandangan seperti ini.

“…Ah. Ah—, apa aku mengganggu?”

Ekspresi Samejima, yang tiba-tiba menggunakan bahasa formal yang biasanya tak pernah keluar dari mulutnya, terlihat sangat bodoh dan sama sekali tidak cocok dengan tampang sangarnya. Adapun orang yang masuk setelah dirinya—.

“Ada apa dengan Ikuse Tobio? Aku butuh sarapan sek….”

Itu adalah Vali, tapi tepat saat dia mencoba melihat situasi di dalam, orang yang berdiri di belakangnya—Lavinia—menutupi matanya dengan tangannya.

“? Hei, aku tak bisa melihat apa-apa?”

“Adegan seperti ini terlalu cepat untuk Vaa-kun.”

“Apa? Bahkan tidak boleh untukku yang mewarisi darah Maou? Begitukah….”

Lalu, orang yang terakhir melangkah masuk—.

“…Tobio?”

Itu adalah Sae—.

…Ah, aah, aaaaah…. Orang nomor satu yang paling tidak boleh melihat situasi ini akhirnya telah melihatnya. Tobio menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia tak bisa memikirkan satu pun alasan.

—Untuk hari pertama Tobio, ini adalah awal yang paling buruk.

 

3

Sarapan pagi itu terasa begitu tidak menyenangkan.

Di ruang kosong gedung apartemen yang bisa dimasuki siapa saja, Tobio menghela napas panjang dengan wajah yang masih memerah padam. Sementara itu, Minagawa Natsume juga menunjukkan gelagat serupa dengan wajah yang tak kalah merona.

Natsume menyibukkan diri dengan memberi makan elang yang bertengger di bahunya. Elang miliknya itu bernama Griffon.

Duduk di seberang mereka berdua, Samejima, sambil menggigit roti sarapannya, bolak-balik melirik Tobio dan Natsume secara bergantian.

Di pangkuan Samejima, seekor kucing putih meringkuk tidur setelah menyelesaikan makannya. Kucingnya bernama Byakusa.

Lavinia menyeruput supnya dengan tenang, sedangkan Vali—sibuk melahap roti berisi ham dan telur yang berlumuran saus, mayones, serta saus tomat.

Karena ini adalah pagi hari di hari libur, semua orang mengenakan pakaian santai rumah masing-masing. Tobio memakai T-shirt dengan celana pendek, Natsume mengenakan kamisol dan hot pants, sementara Samejima juga mengenakan celana pendek seperti Tobio, tetapi dengan atasan singlet. Rambut Natsume yang biasanya selalu diikat kini dibiarkan tergerai. Menurut Samejima, rambut terurai itu membuatnya kelihatan seperti “kepala burung”. Natsume sempat mengamuk mendengarnya dan berseru, “Maksudmu aku berotak burung!?” meskipun akhirnya mereda….

Lavinia mengenakan pakaian kasual biasa, dan Vali mengenakan T-shirt dan celana pendek, lengkap dengan syal yang selalu melilit lehernya seperti biasa.

Khusus untuk Lavinia dan Vali, penampilan mereka saat ini sama seperti biasanya. Tampaknya mereka telah menyetok beberapa pasang pakaian yang identik.

Suasana hening yang aneh terus menyelimuti kelima orang itu. Dentingan sendok dan garpu terdengar begitu nyaring.

Mungkin karena sudah tidak tahan lagi dengan atmosfer canggung ini, pelipis Samejima tampak berkedut sebelum akhirnya membuka mulutnya.

“Bukankah ini sudah cukup? Sepertinya itu cuma salah paham. Memangnya tak ada apa-apa yang terjadi di kamar Ikuse dan Minagawa?”

Samejima sendiri sudah menerima penjelasan mengenai kejadian tadi.

Karena sudah biasa melihat tabiat Natsume yang ceroboh dan pelupa, Tobio yang rajin dan lurus langsung bisa memahami situasi hanya dengan satu kalimat: “Ini cuma salah paham.”

Dengan perasaan tidak enak, Natsume—melirik sekilas ke arah Toujou Sae.

“…Bukan itu masalahnya. Aku merasa ini benar-benar keji bagi Toujou-san….”

Tatapan Sae dan Tobio—bertemu. Seketika, wajah keduanya kembali memerah. Tampaknya Natsume memperhatikan Tobio dan Sae, tapi meski statusnya adalah teman masa kecil, mereka berdua justru tidak berani saling tatap dan malah sama-sama salah tingkah.

Samejima mencibir sambil mengunyah makanannya.

“Yah, bagi seorang pria, bukankah satu atau dua skandal itu hal yang biasa? Bahkan kau, Ikuse, kau juga pasti ingin dekat dengan beberapa gadis sekaligus, 'kan?” ucapnya dengan begitu enteng.

DOGAH! Itu adalah suara hantaman keras Natsume, yang sedari tadi bersandar di meja, tepat di atas kepala Samejima. Sambil memegangi kepalanya yang habis digeprek, Natsume meracau panik dengan kepala yang disembunyikan di dalam lipatan lengannya.

“DASAR BODOH! Ya ampun, bisa-bisanya kau bicara begitu di depan mereka berdua! Uuh! Bukan begitu, sumpah bukan begitu Ikuse-kun, Toujou-san! Semalam, aku bangun untuk ke toilet saat larut malam! Hal berikutnya yang kutahu, aku sudah terbangun di atas kasur Ikuse-kun—”

Setelah berbicara sejauh itu, dia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena teramat malu.

“Sekarang aku tidak akan bisa menikah!”

“T-tunggu dulu. Bukankah ucapanmu itu malah membuatku terdengar sepenuhnya seperti pihak yang bersalah?”

Seperti yang sudah diduga, Tobio langsung melayangkan protes atas kalimat ambigu itu.

“Lagi pula, bangun untuk ke kamar mandi, cuma buat menyelinap ke tempat tidur cowok di kamar yang berbeda, itu bukan pencapaian yang biasa. Selanjutnya, mulai hari ini kita mulai menghadiri sekolah tiruan itu.”

ilust

Sambil mengusap bagian kepala yang habis dipukul, Samejima yang merasa tersudut menyahut dengan kesal.

“Berisik, berisik, beriiisik! Kau yang kerjanya naik motor keliling kota sepanjang tahun tidak usah bicara!”

“Apa katamu?!”

Entah bagaimana, hari ini pun dimulai dengan pertengkaran pagi hari antara Natsume dan Samejima. Apalagi, mereka berdua sama sekali tidak mengindahkan protes Tobio.

Tobio hanya bisa menghela napas karena merasa heran. Saat ia menoleh ke arah Sae—gadis itu, sambil memperhatikan perdebatan Natsume dan Samejima, tampak tersenyum kecil.

…Syukurlah, kesalahpahamannya sudah beres. Yah, hubungan mereka berdua adalah jenis hubungan yang sudah terjalin sejak kecil. Bersama Sae, Tobio bisa merasa tenang karena gadis itu memahaminya lebih baik dari siapa pun.

Di dekat kaki Tobio, anjing hitam besar—Jin baru saja menghabiskan makannya. Ia melahap habis satu kilo tenderloin ayam rebus yang telah disiapkan untuknya. Karena ia adalah anjing besar, wajar saja jika ia bisa makan sebanyak itu. Ditambah lagi, ia makan dengan porsi seperti ini dua kali sehari, pagi dan malam. …Tobio tahu betul porsi makan sebesar itu tidak normal, tapi….

Saat pertama kali bertemu, Jin berukuran sangat kecil, namun dalam waktu yang singkat ia tumbuh sebesar ini—. Tobio pun mulai terbiasa dan tidak lagi merasa heran dengan segala keanehan yang menimpanya.

Sejak insiden sebelumnya—pertarungan melawan Agensi Utsusemi—dua bulan telah berlalu. Mereka berempat: Tobio, Sae, Natsume, dan Samejima, yang sempat terseret dalam insiden tersebut, setelah segalanya berakhir tiba-tiba, kembali dipertemukan di gedung apartemen ini, dan kehidupan baru mereka pun dimulai.

Bagi Tobio dan yang lainnya, setelah bersinggungan dengan sisi gelap negara ini, belum lagi dunia supernatural dan fantasi, mereka tak bisa berharap untuk kembali ke kehidupan lama mereka. Mengandalkan organisasi yang saat ini menjaga mereka—Grigori, Tobio dan teman-temannya memutuskan untuk keluar dari sekolah mereka sebelumnya.

Selama sekitar dua bulan sejak saat itu, sembari tinggal dan bersiap di apartemen ini, mereka telah belajar mandiri.

Sae dan Samejima sempat menderita luka-luka akibat insiden itu, tetapi berkat bantuan dari Grigori, mereka telah menunjukkan kemampuan yang sangat baik—bukan, bahkan di luar ekspektasi, dan kini sudah bisa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa masalah. Untuk Samejima, karena dia adalah pengguna Sacred Gear tipe Avatar Independen, tampaknya kemampuan pemulihannya telah diperkuat dengan menyesuaikan diri dengan Byakusa, atau begitulah yang disampaikan pihak organisasi.

Adapun kasus Sae… karena sebelumnya singa hitam yang sempat bersemayam di dalam dirinya, mereka diberi tahu bahwa mungkin ada semacam pengaruh pada tubuh fisiknya. Mereka tidak menyadari adanya efek samping yang dihasilkan dari teknik yang digunakan Agensi Utsusemi pada partisipan lainnya, karena itulah Sae masih harus diperiksa setiap hari oleh Grigori. Tobio hanya berharap segalanya tetap aman dan tenang… karena itulah satu-satunya keinginannya saat ini.

Di tengah situasi tersebut, telah diputuskan bahwa hari ini Tobio dan yang lainnya akan diantar oleh perwakilan dari Grigori menuju institusi bernama Nephilim, sebuah institusi yang dihadiri oleh anak-anak pemilik Sacred Gear, untuk sekadar orientasi dan berkeliling.

Gedung apartemen ini sendiri sebenarnya merupakan asrama bagi para murid dari institusi tersebut. Tobio belum pernah melihat penghuni selain kelompok mereka. Namun, dari cara penggunaan ruang komunal, jelas sekali ada orang lain selain mereka yang tinggal di sini.

Seperti yang telah diberitahukan dalam pembicaraan sebelumnya, Tobio dan yang lainnya diputuskan akan masuk ke dalam kelas yang disebut ‘Kelas Barakiel’.

Ia bertatapan dengan Sae. Sae, yang menyadari tatapan Tobio, merasa agak tidak nyaman dengan penampilannya sendiri.

“…Sudah kuduga, pakaian ini agak aneh, ya.”

Mengenai apa yang sedang dikenakan oleh Sae—itu adalah seragam Nephlim yang disediakan oleh Grigori. Tidak hanya Sae; Tobio, Natsume, dan Samejima juga telah mengenakan seragam Nephilim.

Itu adalah seragam dengan gaya desain yang cukup mencolok. Warna dasarnya adalah biru… tapi, yang membuat Tobio dan yang lainnya khawatir adalah bagaimana potongannya terasa sedikit melenceng dari standar normal.

Daripada seragam sekolah, pakaian ini lebih mirip seragam organisasi penanggulangan khusus yang dikenakan oleh siswa SMP dan SMA yang biasa ada terlihat di manga dan anime. Sepintas, pakaian ini tidak berbeda dengan kostum cosplay.

Melihat hal ini, bahkan Natsume dan Samejima sampai menghentikan pertengkaran mereka untuk menyuarakan pendapat mereka. Sembari berdiri dari tempat duduknya, Natsume memegangi ujung roknya.

“Benar saja, roknya agak kependekan.”

Melihat sekilas paha mulus khas siswi SMA yang terekspos akibat rok pendek tersebut, Tobio langsung mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah.

Sambil memasukkan jarinya ke kerah seragam yang terasa sempit, Samejima bersikap sangat terganggu.

“Astaga, jadi kita tidak boleh pakai baju santai, ya. Ini rasanya terlalu formal buatku.”

Semua orang sepertinya merasakan hal yang sama. Bagi Tobio… meski ia juga lebih memilih seragam sekolah biasa, ia merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar bahkan setelah terperosok ke dalam dunia seperti ini.

Di ‘ruang kelas’ Nephilim ini, mereka bisa belajar secara normal seperti siswa biasa—atau begitulah yang diinfokan kepadanya. Untuk hal itu, ia merasa sangat berterima kasih. Meski kehidupan mereka sebagai manusia biasa telah direnggut, ia tetap ingin mengenyam pendidikan layaknya manusia biasa. Dengan ini, pengetahuannya tidak akan tertinggal di bawah rata-rata anak-anak seusianya.

Namun, apa yang akan mereka pelajari tidak terbatas pada subjek akademis saja.

—Berdasarkan informasi yang ia terima, mereka juga akan diajarkan cara yang tepat untuk menggunakan Sacred Gear, serta cara untuk melawan pengguna kekuatan supernatural dan makhluk-makhluk tak biasa.

Setelah dianugerahi kekuatan aneh seperti itu, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa mereka abaikan. Kecuali jika mereka bisa menguasainya, kehidupan tenang yang mereka jalani saat ini pun bisa saja hancur kembali. Hal inilah yang paling ingin mereka hindari. Karena bagaimanapun, mereka akhirnya bisa melewati pengalaman mengerikan itu demi mendapatkan ketenangan ini—.

Tentu, dengan melewati begitu banyak rintangan dan tragedi, Tobio dan yang lainnya bisa berada di sini sekarang.

Sejak saat itu, sisa-sisa dari Agensi Utsusemi dan para penyihir yang bekerja sama dengan mereka—Penyihir Oz, belum datang menyerang lagi. Namun, untuk menganggap bahwa ini adalah akhir dari segalanya… tampaknya tidak sesederhana itu.

Ini hanyalah masa tenang sementara. Dalam hal ini, opini semua orang sama.

Ada juga penyintas lain selain mereka—Empat Makhluk Terkutuk. Bisa jadi, saat ini pun mereka sedang bertarung melawan musuh di suatu tempat.

Memikirkan hal itu, mereka tak bisa menahan rasa bersalah atas ketenangan ini, meski hanya sementara.

Namun, Tobio sangat menghargai masa-masa damai ini. Apa yang telah hilang darinya memang sangat besar, tetapi yang diperolehnya juga tak kalah berharga. Justru karena situasi inilah ia bisa bertemu Natsume, Samejima, Lavinia, dan Vali. Lebih dari segalanya, ia bahkan sekali lagi tertawa bersama Sae. Ia ingin menjaga baik-baik suasana ini.

Saat Tobio sedang merenungkan hal itu, Sae mengangkat tangannya.

“Rencananya aku mau membuat kari untuk malam ini, apakah ada bahan yang ingin ditambahkan, atau mungkin ada bahan yang tak bisa kalian makan?”

Sae mulai tinggal di sini bersama Tobio dan yang lainnya. Ia telah hidup terpisah dari orangtuanya yang telah diselamatkan.

Karena keluarga Sae juga sempat terseret dalam insiden itu, mereka berada dalam posisi tidak menjalani kehidupan biasa. Menerima kerja sama Grigori, mereka menjalani kehidupan baru di bawah identitas yang diubah di wilayah terpencil yang tidak tersentuh oleh pengaruh jahat.

Hal ini juga dilakukan pada siswa-siswi lain dan anggota keluarga mereka yang berhasil diselamatkan dari institusi penelitian tersebut. Di bawah pengawasan Grigori, entah bagaimana mereka kini menjalani kehidupan yang damai. Grigori telah mengubah sebagian ingatan mereka, tapi… yang paling penting adalah mereka hidup tanpa masalah, itulah yang Tobio pikirkan.

Di antara mereka, Toujou Sae ingin menemani Tobio dan yang lainnya. Dia memang masih harus berjalan dengan bantuan tongkat, namun di luar itu dia sangat sehat. Bagi kelompok Tobio, dialah orang utama yang bertanggung jawab atas urusan dapur.

Natsume mengangkat tangannya.

“Ah, aku ingin fukujinzuke[1] dan rakkyou[2] sebagai pelengkap kalau tak jadi masalah.”

“Selain pelengkap standar, kurasa tidak perlu tambahan apa-apa lagi.”

Begitulah ucap Samejima. Baginya, ketimbang masakan yang mewah dan rumit, ia lebih suka cita rasa masakan rumahan. Dalam hal ini, seleranya sangat cocok dengan masakan Sae (begitu pula dengan masakan Tobio). Sebagai seorang berandal, ia bahkan tak pernah mengeluh sekali pun tentang masakan Sae.

Lavinia juga mengangkat tangannya.

“Kalau aku, yang rasanya agak manis boleh juga.”

Sae mengumpulkan pendapat semua orang.

“Baiklah, aku mengerti. untuk Tobio juga yang agak manis, 'kan? Ujung-ujungnya kita selalu membuat dua panci sekaligus.”

Vali tiba-tiba berbicara setelah menenggak susunya.

“Aku tidak terlalu ambil pusing soal kari, tapi setidaknya aku ingin kau memasukkan mi Cina yang berukuran sedang.”

Natsume langsung membalas ucapan Vali.

“Padahal menunya kari, mana cocok dicampur mi Cina?”

“Fuh, sepertinya kau belum tahu, Minagawa Natsume. Saat kau menambahkan kari ke mi rebus berukuran sedang, rasanya akan menjadi kari ramen. Bubuk kari yang meresap ke dalam lekukan mi itu sangat menggugah selera.”

“Untuk Vaa-kun, dia bahkan memasukkan mi ke dalam setup[3],” timpal Lavinia.

…Jadi Vali selalu memasukkan mi bahkan ke dalam kari dan setup, ya. Kalau dipikir-pikir, Tobio juga ingat Vali pernah bertanya, “Apa tidak ada mi?” ketika mereka memasak kari atau setup.

Samejima menyemburkan tawa kecil ‘bufuh’.

“Lucidra-sensei ini isinya cuma mi, mi, dan mi terus. Gara-gara keseimbangan nutrisinya yang aneh begitu, makanya badanmu jadi cebol.”

Vali merasa tak terima dengan ejekan itu.

“Mumuh! Samejima Kouki, bukankah sudah kubilang untuk berhenti memanggilku Lucidra?”

Natsume juga mengangkat bahunya pada selera makan Vali.

“Tidak, tidak, kalau udon dicampur sisa kari, atau spageti dicampur sisa setup… kalau yang seperti itu aku masih paham.”

“Seorang penikmat sejati akan memasukkan mi China.”

Membusungkan dadanya dengan bangga, bocah berambut perak itu terus saja mengoceh soal mi… tapi tiba-tiba merasakan kehadiran di belakangnya, dia melemparkan ucapan tanpa menoleh sama sekali.

“Wah, wah, tidak biasanya bagimu datang kemari pagi-pagi begini. —Azazel.”

Tatapan semua orang tertuju pada satu titik.

Tanpa ada yang menyadari, seorang pria berjas telah masuk dan dengan santainya membuka kulkas di ruangan tersebut. Setelan jasnya tampak seperti barang mahal yang sudah agak usang. Pria itu membuka tutup botol plastik minuman berkarbonasi yang ada di dalam kulkas, lalu menenggaknya dengan rakus.

Sambil menduduki salah satu kursi kosong di meja makan, dia mengamati semua orang yang hadir.

“Yo, anak-anak muda.”

“Gubernur Jenderal Azazel!”

Natsume terkejut melihat kedatangan pria itu—Gubernur Jenderal Grigori, Azazel. Karena kedatangannya yang begitu tiba-tiba, tidak hanya Natsume, melainkan Tobio, Sae, dan Samejima juga ikut terkejut.

Adapun Vali dan Lavinia, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut dan tampaknya dengan tenang menerima kehadiran Azazel….

Azazel bertanya pada Tobio dan yang lainnya.

“Bagaimana rasanya? Permisi, kalau boleh aku meminta dua lembar roti panggang, Toujou Sae.”

Azazel meminta roti kepada Sae. Tanpa sadar menjawab “Y-ya,” Sae menempatkan dua lembar roti ke dalam pemanggang roti.

Vali menginterogasi Azazel.

“Sampai sengaja muncul di meja makan begini, apa itu berarti kau punya urusan penting?”

Sambil terus meneguk minuman berkarbonasi, Azazel berbicara.

“Yah, itu juga salah satu alasannya, tapi panggilan ‘kalian semua’ itu rasanya terlalu berjarak. Cukup panggil ‘kalian’ saja 'kan bisa. Lagi pula, aku juga yang ingin membangun keakraban dengan kalian. Hei, bukankah hari ini hari pertama kalian masuk? Yah, aku berada di posisi yang memimpin institusi ini. Tak ada salahnya 'kan berinteraksi di pagi hari dengan siswa pindahan baru?”

Azazel memperlakukan mereka dengan sangat ramah.

Dia bukanlah orang yang jahat. Bimbingan yang diberikan kepada Tobio, Natsume, dan yang lainnya, serta para siswa dari SMA Ryoukuu, tidak diragukan lagi merupakan bentuk kebaikan dari pria ini. Ditambah lagi, fakta bahwa Sae bisa tinggal bersama mereka di sini juga berkat bantuan dari Azazel.

Namun, Tobio tetap tak bisa menebaknya—. Motivasi asli dari pria ini adalah satu-satunya kebenaran yang masih belum bisa ia pahami. Fakta bahwa dia datang ke sini dengan cara seperti ini, mungkin ada sesuatu di balik “membangun keakraban” ini. Niat asli pria ini benar-benar tak bisa dibaca.

Azazel telah mengeluarkan sebuah buklet dari saku dadanya. Buku itu terasa familier bagi Tobio dan yang lainnya. Untuk mempelajari tentang Nephilim, sepertinya ini adalah apa yang disebut sebagai ‘buku panduan pendaftaran’.

Azazel membalik-balik halaman buku panduan dengan satu tangan.

“Untuk jaga-jaga, apakah kalian sudah membacanya?”

Tobio, Sae, dan Natsume mengangguk. Sementara Samejima langsung membuang muka….

Singkatnya, apa yang tertulis di dalam buku panduan itu adalah mengenai tempat seperti apa Nephilim itu, orang-orang seperti apa yang menghadirinya, dan apa saja yang diajarkan di sana. Selain itu, tertulis juga mengenai sumpah yang harus dipatuhi oleh mereka yang tinggal di institusi tersebut, serta hukuman bagi yang melanggar sumpah itu.

Karena ditulis dengan pilihan kata yang terlampau fantasi dan tak biasa, meskipun ini bukan tulisan Vali, buku itu malah tampak seperti draf latar karya sastra yang ditulis oleh anak laki-laki dengan sindrom chuunibyou. Namun, tempat itulah yang kini menjadi dunia keseharian mereka—.

Dibandingkan dengan kehidupan normal yang mereka nikmati hingga beberapa waktu lalu, ini seperti terjun ke dunia yang sepenuhnya terputus dari kehidupan mereka sebelumnya.

Setelah mengetahui respons dari Tobio dan yang lainnya, Azazel menyunggingkan senyum lebar.

“Kalau sudah dibaca baguslah. Nah, kalian bisa bertanya pada staf pengajar kalau ada yang tidak kalian pahami.”

Terdengar bunyi dentingan yang menandakan roti di dalam pemanggang telah matang. Sae lalu menyajikannya kepada Azazel.

Azazel berbicara sambil mengunyahnya.

“Begitu aku selesai makan, aku akan menunjukkan jalan untuk sampai ke Nephilim.”

Dengan begitu, sarapan pagi (yang diselimuti oleh atmosfer aneh) berlanjut bersama Azazel.

 

4

Setelah selesai sarapan, Tobio dan yang lainnya segera mengambil tas mereka, bersiap berangkat sekolah.

Mengikuti Azazel yang telah menunggu mereka di lantai satu gedung apartemen, alih-alih keluar dari gedung, mereka justru berjalan menuju lift gedung apartemen.

Meski merasa curiga, rombongan Tobio terus mengikuti Azazel.

Sebelum memasuki lift, Azazel menyerahkan sesuatu yang menyerupai kartu identitas berwarna hitam.

“Ini adalah kartu identitas eksklusif untuk personel resmi… yah, kalau dari sudut pandang kalian, anggap saja ini kartu pelajar kalian.”

Tobio menerima salah satu kartu tersebut. Meskipun kartu hitam itu tidak memiliki foto, terdapat deretan huruf yang sama sekali tak bisa dibaca oleh Tobio.

Sebelum menaiki lift, Azazel meminta Tobio dan yang lainnya untuk ikut masuk. Sacred Gear Tobio dan yang lainnya—partner mereka Jin, Griffon, dan Byakusa juga menemani master mereka. Jin ada di sisi Tobio, Griffon di bahu Natsume, dan Byakusa di dekat kaki Samejima.

Namun, Lavinia dan Vali tidak ikut naik ke dalam lift.

Lavinia membuka suara.

“Karena aku bukan murid di sana, kami tidak akan pergi bersama kalian. Tapi, aku akan datang bersama Vaa-kun nanti untuk berkunjung.”

“Yah, sebaiknya kalian membiasakan diri dulu dengan area aneh itu sebelum kami datang.”

Vali berbicara dengan kekehan ‘fufun’ khasnya yang menunjukkan sikap kurang ajarnya.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi.”

Begitu Azazel mengucapkan salam perpisahan kepada Lavinia dan Vali, pintu lift pun tertutup.

Tanpa menekan tombol lantai di dalam lift, Azazel mendekatkan kartu identitas hitam tadi di depan perangkat pemindai yang terletak di bawah deretan tombol. Segera setelah itu, tanpa penundaan, lift tersebut—mulai bergerak turun.

Ketika mereka naik tadi, mereka sudah berada di lantai satu. Fakta bahwa lift ini bergerak turun bahkan dari posisi itu—.

“Apartemen ini sebenarnya memiliki rubanah.”

Samejima tersenyum pahit.

Entah bagaimana, ada banyak fasilitas tersembunyi di gedung apartemen ini yang tidak mereka ketahui.

Namun, Tobio sendiri sebenarnya sudah menyadari keberadaan alat pemindai di dalam lift. Setiap kali naik lift, ia selalu penasaran. Ia sama sekali tidak menduga bahwa alat itu ditujukan untuk mengakses rubanah.

Puluhan detik telah berlalu sejak mereka naik. Lift masih terus bergerak turun. Bahkan Tobio pun menyadari bahwa ini bukan lagi kedalaman ruang bawah tanah yang biasa. Angka penunjuk lantai sudah berhenti berfungsi karena tak tahu persis posisi pasti mereka.

Di antara mereka yang ada di dalam, Natsume berbicara kepada Azazel.

“Hei, Gubernur Jenderal! Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu, Minagawa Natsume-kun, ada apa?”

“Anda, Gubernur Jenderal, nama Anda Azazel, 'kan? Bukankah itu juga nama malaikat jatuh yang muncul di dalam Alkitab?”

Benar saja, hal itu adalah sesuatu yang juga mengusik pikiran Tobio. Pria itu—Azazel telah memperkenalkan dirinya sebagai malaikat yang telah jatuh, malaikat jatuh. Berdasarkan penyelidikan berulang Tobio, nama Grigori tertulis dalam berbagai mitologi—yang berkaitan dengan Perjanjian Lama. Di sana, disebutkan bahwa pemimpin dari para Grigori juga bernama Azazel.

“Ya, itu benar.”

Azazel membenarkannya dengan santai.

…Pria di depan mata mereka ini adalah eksistensi yang berada di level mitologi, sekaligus bos besar dari organisasi malaikat jatuh…. Natsume berseru “Whoa” dengan nada kagum, tapi Tobio justru merasakan kengerian yang tak terlukiskan.

Bahkan saat mereka sedang mengobrol, lift akhirnya tiba di tempat tujuan.

Begitu pintu terbuka, yang tersaji di hadapan mereka adalah ruang terbuka yang serbaputih. Langit-langitnya sangat tinggi, ruangannya melebar secara horizontal, dan kedalamannya luar biasa luas. Tak lama kemudian, lantai di dekat kaki Azazel terbuka, dan semacam mesin muncul dari bawah.

Mesin itu menyerupai mesin pemeriksa tiket otomatis yang biasa ada di gerbang stasiun kereta.

Azazel berbicara sambil mengayunkan kartu di tangannya.

“Ini adalah salah satu gerbang menuju Nephilim. Perhatikan baik-baik. Aku akan lewat duluan, jadi kalian masuklah dengan meniruku.”

Sambil berkata demikian, Azazel mendekati kartunya ke mesin tersebut. Lampu hijau pada mesin menyala dan menampilkan tanda panah. Azazel melangkah melewati mesin tiket itu—dan langsung menghilang begitu saja dalam selubung cahaya redup!

Azazel, yang berada di sana sampai beberapa saat yang lalu, telah lenyap sepenuhnya! Mereka segera menyadari bahwa itu adalah kekuatan khusus dari mesin tiket tersebut….

“Heh, menarik sekali.”

Natsume sangat gembira dengan fenomena yang terjadi di hadapan mereka. Menuju di depan mesin tiket, dia tanpa ragu meniru Azazel dan memegang kartunya di depan mesin. Setelah itu, begitu dia melangkah lewat—seperti sebelumnya, Natsume juga lenyap diselimuti cahaya.

“Kurasa kita juga harus pergi.” Sembari mengembuskan napas, Samejima menyusul di belakang Natsume.

Sembari saling mengangguk, Tobio dan Sae bergerak menyusul Natsume dan Samejima—.

 

Melewati mesin tiket, ia bersiap untuk diselimuti oleh cahaya seperti sebelumnya—.

Apa yang muncul di depan mata Tobio—adalah suatu tempat di dalam sebuah gedung.

Berbeda dari ruang putih sebelumnya, tempat yang tampaknya merupakan interior bangunan ini memiliki desain dalam yang hitam berkilau. Ia memeriksa ke arah depan, di mana ada lorong panjang yang mengarah lebih dalam. Saat ia melihat ke samping, ada mesin tiket berjejer di kiri dan kanan, dan ketika ia melirik ke belakang, ada juga lorong panjang yang membentang lebih dalam. Dengan langit-langit yang tinggi, ia dapat melihat bahwa interior bangunan ini menempati ruang yang sangat besar.

“Baiklah, semuanya sudah berkumpul kalau begitu. Selamat datang di Nephilim.”

Setelah akhirnya tiba, Azazel mengucapkan kalimat tersebut untuk menyambut Tobio dan yang lainnya.

Natsume, Samejima, dan Azazel, setelah melewati mesin gerbang tiket terlebih dahulu, sedang menunggu… dan ada satu lagi, seorang pria jangkung yang berdiri di sana. Dia memiliki perawakan yang tegap dan fitur tubuh yang berotot. Bahkan Tobio dan yang lainnya bisa merasakan dari hawa keberadaannya bahwa dia bukan orang biasa.

Setelah menyadari kekhawatiran mereka atas kehadiran pria itu, Azazel pun memperkenalkannya.

“Kalian pasti mengira dia yang akan bertanggung jawab atas latihan kalian, ya? Tepat sekali, aku meminta bantuan orang ini, yang saat ini kebetulan sedang bebas tugas dari posisinya sebagai stafku. Dia adalah bagian dari jajaran manajemen Grigori, dan namanya—adalah Barakiel.”

Pria itu—pria yang dipanggil Barakiel—melangkah maju.

“Mohon bantuannya untuk ke depan.”

Itu adalah salam yang singkat dan sederhana.… Tapi, pria itu menatap Tobio dengan tajam dan lekat.

Hal itu sempat mengganggu Tobio, tapi… pria bernama Barakiel itu segera menambahkan,

“Maaf, wajahmu agak mirip dengan seseorang yang kukenal. Tak usah dipikirkan.”

Dia melayangkan permintaan maaf singkat sepanjang dua kalimat itu.

Namun, orang ini adalah ‘Barakiel’…. Mengingat nama kelas mereka adalah ‘Kelas Barakiel’, berarti orang ini akan menjadi pengajar bagi Tobio dan yang lainnya….

Sambil menepuk punggung Barakiel, Azazel berbicara kepada semua orang.

“Jadi, mulai hari ini dan seterusnya, kalian akan menerima instruksi dan pelatihan dari Barakiel. Karena kalian juga akan bergantung padanya untuk bimbingan di dalam institusi ini, yah, kuharap kalian bisa segera terbiasa dengan gaya hidup di sini.”

Dengan demikian, kehidupan baru—atau mungkin bisa dibilang cobaan baru bagi Tobio dan kawan-kawan telah resmi dimulai.

 

[1] Sayuran acar dalam kecap.

[2] Daun bawang jepang.

[3] Buah-buahan dan sebagainya yang dimasak dengan dikukus atau direbus dan dibubuhi gula.

Post a Comment

0 Comments