SLASHDOG Jilid 2 Bab 6

1

Bab 6 Absolute Demise (Putri Es Abadi)/Incinerate Anthem (Penyaliban oleh Imam Besar Api Ungu)

1

Demi mengejar Lavinia yang sedang memburu Augusta, Tobio dan kawan-kawan terus melesat jauh menembus kegelapan pegunungan. Namun secara mendadak….

Langkah mereka tertahan saat kabut tebal tiba-tiba menyelimuti sekeliling. Begitu mereka menyadarinya, mereka telah berpindah tempat ke sebuah area di mana Barakiel dan seorang pria bertubuh tinggi sudah berdiri tegak di depan mata mereka.

“Eh? Apa-apaan ini? Bukankah tadi kita sedang mengejar Lavinia… tapi kenapa sekarang malah ada Barakiel-sensei di depan kita… huh?” Natsume tak mampu menyembunyikan kebingungannya.

Tobio pun merasakan keheranan yang sama. Namun, ia segera menyimpulkan bahwa kabut misterius tadi kemungkinan besar adalah semacam kekuatan supernatural yang sengaja memindahkan mereka ke tempat ini.

Pria bertubuh tinggi itu melangkah mendekat sembari mengamati mereka dengan sepasang mata peraknya. Sorot matanya begitu tajam menembus, seolah sanggup menelanjangi lubuk jiwa mereka. Pria itu menyunggingkan senyum tipis.

“—Sang Dewa Tiruan dan masing-masing dari Empat Makhluk Terkutuk. Senang bertemu dengan kalian. Aku adalah Satanael.”

—!

Mendengar perkenalan diri pria itu, Tobio, Natsume, dan Sae terkejut bukan main. Mereka langsung mengenali pria di hadapan mereka sebagai salah satu otak utama di balik rangkaian insiden ini. Terlebih lagi, dialah pemimpin yang telah mengkhianati organisasi Azazel.

Sambil mendekap Poh-kun, Shigune bergumam lirih.

“…Pria tampan yang waktu itu dibicarakan…. Jadi dia orangnya, sosok yang membuat kesepakatan dengan Koga-kun.”

Mengingat kembali mutasi mengerikan yang dialami Koga, dan kini menyadari bahwa dalang transaksi tersebut berada tepat di depan mata mereka, Tobio dan yang lainnya paham betul betapa besarnya keterlibatan Satanael dalam insiden ini.

Anjing hitam pendamping Tobio—Jin, tetap bersiaga penuh menghadap Satanael. Mata dan telinganya bergerak aktif memindai area sekitar. Entah bagaimana, instingnya mengatakan bahwa musuh telah mengepung tempat ini sepenuhnya.

Melihat Jin yang bersiap bertarung dalam diam tanpa mengeluarkan geraman sedikit pun sembari memancarkan hawa membunuh, Satanael justru menampakkan ekspresi yang terlihat senang.

Satanael menunjuk ke arah Jin lalu berbicara.

“Sacred Gear-mu itu menyimpan sebuah kehendak khusus di dalamnya. —Apakah kau familier dengan eksistensi yang dikenal sebagai Lycaon?”

“…Aku sempat mendengarnya sedikit dari Gubernur Jenderal Azazel.”

Mengenai kekuatan Sacred Gear yang bersemayam di dalam tubuhnya, Tobio memang telah menerima garis besar penjelasan dari Azazel. Tentu saja belum semuanya diceritakan secara mendetail, karena Azazel berjanji akan melanjutkan kisah itu jika situasi sudah memungkinkan. Namun, Tobio telah memahami gambaran umum mengenai asal-usul kekuatannya.

Satanael pun menjabarkan hal yang sama dengan apa yang pernah diucapkan Azazel.

“Dalam mitologi Yunani, ada sebuah wilayah surga yang disebut ‘Arcadia’. Lycaon adalah nama raja yang menguasai tempat tersebut. Karena terus menumpuk dosa dan menantang sang raja para dewa mitologi Yunani, Zeus, ia harus menerima murka Zeus dan dikutuk ke dalam wujud seekor binatang buas. Namanya diwariskan dalam legenda sebagai sosok raja yang keji.”

Lycaon—.

Sang asal-mula para manusia serigala—raja yang disebut-sebut sebagai leluhur sejati pertama dari ras tersebut. Dalam mitosnya, Lycaon sangat terkenal dengan wujud serigalanya, meskipun itu hanyalah wujud sementara saat para dewa turun ke bumi.

Satanael menatap Jin dengan mata menyipit.

“—Namun, makhluk di depanmu itu bukanlah serigala, melainkan telah bermutasi menjadi seekor anjing. Sesosok dewa tiruan yang sama sekali tidak menyerupai serigala—. Alasan di balik perubahan ini adalah sesuatu yang bahkan tidak mampu dipahami oleh Grigori. Kemungkinan besar, bagi Tuhan yang membuatnya sekalipun, hasil akhir ini adalah sebuah anomali yang berada di luar prediksi.”

Azazel, dengan pengetahuannya yang melintasi berbagai sistem mitologi, pernah mengemukakan beberapa teori, tapi….

Satanael mengangkat jari telunjuknya.

“Ada satu kehendak lagi yang bersarang di dalam Sacred Gear tersebut.”

Benar adanya, Jin—Canis Lykaon—memiliki entitas lain selain Lycaon yang tertanam di dalam dirinya.

Satanael melanjutkan, “—‘Ame-no-Ohabari (Pedang Bulu Ekor Surga)’, pedang terkuat di antara jajaran Totsuka-no-Tsurugi (Pedang Sepuluh Jengkal) yang dikategorikan sebagai pedang suci para dewa, bahkan entitasnya telah mencapai tingkat divinitas tersendiri. Meskipun ia adalah perwujudan dewa, wujudnya tetaplah sebuah bilah tajam—. Kehendak itulah yang juga bersarang di dalam dirimu.”

Sumber dari bilah-bilah terdistorsi yang diciptakan oleh Jin adalah Ama-no-Ohabari—. Namun, pedang tersebut dianggap telah kehilangan divinitasnya. Akibatnya, ia terpengaruh oleh eksistensi Lycaon, dan berubah menjadi bilah terkutuk.

Satanael kemudian menyambung, “Namun, bagiku, fakta bahwa kau lahir dari garis keturunan Himejima bukanlah sebuah kebetulan semata. Sosok yang disembah oleh klan mereka adalah Dewa Hinokagutsuchi. Dan pedang yang digunakan untuk memenggal dewa tersebut—adalah Ama-no-Ohabari. Itulah yang disebut sebagai pedang pembantai dewa. Maka sudah menjadi sebuah keniscayaan takdir bahwa kau terlahir dengan mewarisi kekuatan tersebut.”

Saat pertama kali mendengar hal ini dari Azazel, Tobio akhirnya memahami alasan mengapa Himejima Hanezu begitu terobsesi dengan kekuatannya sampai akhir hayatnya. Bagi seorang pria yang teramat membenci klan Himejima, lahirnya sebuah kekuatan yang mampu membantai dewa sembahan Himejima dari darah Himejima sendiri tentu menjadi hal yang sangat menarik baginya.

—Aku telah membentukmu menjadi bilah terkutuk.

Tobio tidak mengingat momen itu secara mendetail, namun kabarnya itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Himejima Hanezu.

Satanael mengedikkan bahu lalu berkata, “Sebuah perpaduan antara mitologi Yunani dan mitologi Jepang. Terlebih lagi, ini adalah persilangan antara Raja Lycaon yang menyimpan dendam pada Zeus dan sebilah pedang pembantai dewa…. Sungguh selaras dengan gaya Sang Pencipta yang eksentrik, atau lebih tepatnya gila, saat memproduksi Sacred Gear ini. —Bukankah begitu menurutmu? Dewa Anjing Tiruan yang memiliki pedang (taring) pembantai dewa.”

Meskipun Tobio yang dicecar dengan pertanyaan itu….

Canis Lykaon—dalam sejarah Sacred Gear, kasus di mana dua entitas agung bersemayam bersamaan di dalam satu wadah adalah fenomena yang teramat langka. Dan karena keduanya memiliki kekuatan yang masif, tak heran jika eksistensinya digolongkan ke dalam jajaran Longinus. Namun, karena kedua entitas tersebut pada dasarnya bertolak belakang, karakteristik asli mereka saling berbenturan dan terdistorsi hingga membentuk wujud gabungan yang mengerikan saat ini.

Tobio menjawab dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

“…Aku memang tertarik dengan kemampuanku sendiri, tapi demi melewati situasi ini, kekuatan ini hanyalah alat yang kuperlukan untuk bertahan hidup. Kau tampaknya memiliki ketertarikan besar pada Sacred Gear… tapi bagiku, selama kekuatan ini bisa membawa semua orang pulang dengan selamat, hanya itu yang kupedulikan.”

Dari dalam bayangannya sendiri, Tobio memanifestasikan sebilah sabit besar.

Satanael memperhatikan tindakan Tobio dengan tatapan sinis. Dia menunjuk ke arah sabit tersebut. “Namun, bilah pedang itu tampaknya terus memancarkan aura kegelapan yang mengerikan tanpa memedulikan niatmu.”

Sesuai ucapan Satanael, sabit yang digenggam Tobio memancarkan kilatan cahaya yang berbahaya, hingga Tobio sendiri bisa merasakan entitas hitam yang pekat bergejolak dari senjatanya. Ia merasa eksistensi yang bersemayam di dalam dirinya sedang mencoba mendominasi dan mengikis kesadarannya, melampaui kehendaknya sendiri. Saat ini ia masih bisa menahannya, namun jika kekuatan itu bergejolak lebih kuat lagi, ia tak tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Di tengah kecemasan yang mendera itu, sebuah suara yang familier terdengar.

“Bisa tolong jangan mencekoki anak itu dengan pemikiran-pemikiran anehmu?”

Sosok yang muncul adalah Himejima Suzaku. Ia melangkah maju sembari diselimuti oleh aura keagungan yang berani.

Melihat kepala klan Himejima berikutnya telah tiba di lokasi, ekspresi Satanael tampak semakin puas.

“Sang Himegimi[1] dari klan Himejima. Apakah kau sedang memburu sisa-sisa dari Agensi Utsusemi? Atau kau datang ke sini untuk menangkap sang Dewa Anjing?”

Merespons pertanyaan Satanael, Suzaku berbicara sembari memicu kobaran api di telapak tangannya.

“Tentu saja yang pertama. Bawahan-bawahanku sudah mengepung dan bersembunyi di seluruh area ini. Walau jumlah mereka tidak banyak, aku akan memastikan mereka meringkus sisa-sisa agensi. Tapi tolong jangan membenciku jika para praktisi sihir dari Oz, begitu pula dengan bawahanmu sendiri, berakhir terluka atau bahkan tertangkap saat proses ini berlangsung. Bagaimanapun juga, insiden yang meluas sebelumnya terjadi karena ulahmu.”

“Seperti biasa, kau selalu bergerak cepat jika menyangkut urusan membersihkan noda di nama keluargamu. Setelah berbincang dengan seorang kawan, akhirnya aku bisa melihat langsung rupa dari sang anjing. —Nah kalau begitu, sisanya kuserahkan pada si Api Ungu.”

Sembari berkata demikian, Satanael mengaktifkan sebuah lingkaran sihir di bawah kakinya.

“—Mencoba kabur dengan sihir pemindahan ruang? Tidak akan kubiarkan.”

Bereaksi dalam sekejap, Suzaku langsung meluncurkan bola api dari tangannya. Namun dengan mendorong tangannya ke depan, Satanael menciptakan lingkaran sihir pelindung yang membentengi dirinya dari hantaman api Suzaku.

Tubuh Satanael kini mulai diselimuti oleh pendar cahaya terang yang dilepaskan dari lingkaran sihir teleportasi miliknya.

“Sampai jumpa lagi, Tuan dan Nyonya sekalian.”

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, pendaran cahaya itu meredup—dan sosok Satanael telah lenyap dari tempatnya berdiri. Dia tampaknya telah berpindah ke lokasi lain menggunakan sihir teleportasi tersebut.

Suzaku segera berbicara kepada Barakiel.

“Oji-sama, tolong kejar dia. Bagi pria berwawasan luas sepertimu, dalam situasi seperti ini kau pasti bisa melacak koordinat lokasi tempat dia berpindah.”

“Tapi—”

“Mengingat potensi bahaya yang bisa ditimbulkan pria itu, satu-satunya orang di tempat ini yang sanggup mengatasinya hanyalah dirimu, Oji-sama. Serahkan Tobio dan yang lainnya kepadaku. …Apakah kau tidak bisa memercayaiku?”

Mendengar pertanyaan Suzaku, Barakiel tampak ingin menyuarakan sesuatu, tetapi ia menahan kata-katanya dan memilih untuk memanifestasikan sepasang sayap hitam dari punggungnya.

“Maafkan aku.”

Barakiel pun melesat terbang meninggalkan tempat itu. “Kalian semua! Setidaknya jangan bertindak gegabah!” Meninggalkan pesan terakhirnya, Barakiel melesat cepat memburu Satanael.

Kini, hanya Tobio, Natsume, Sae, Shigune, dan Suzaku yang tersisa di area tersebut.

Dengan berani, Suzaku menantang orang-orang yang tampaknya sedari tadi bersiaga di kegelapan sekeliling mereka.

“Keluarlah. Kalian akan menampakkan diri, bukan? Mengingat tuan kalian sudah tak ada di sini, kalian pasti sengaja ditinggalkan untuk bertarung melawan kami.”

Merespons provokasi Suzaku, empat orang pria dan wanita akhirnya keluar dari tempat persembunyian mereka.

Ada pria berkacamata hitam yang sempat mereka temui sebelumnya, seorang pria baru bertubuh tegap dan tampan, seorang pria dengan perban yang membalut lengan kanannya, serta seorang wanita berambut kepang yang tengah mendekap erat sebuah boneka beruang lusuh di kedua lengannya.

Mereka semua mengenakan seragam yang menyerupai seragam Nephilim. Seperti yang pernah dikatakan Barakiel kepada Tobio dan kawan-kawan, ini adalah seragam eksklusif dari Tim Abyss. Wajah-wajah mereka adalah orang-orang yang telah tercantum di dalam dokumen data yang pernah diberikan kepada mereka.

Kelompok lawan tersebut memancarkan hawa keganjilan dari tubuh mereka, terutama dari sorot mata mereka. Seolah-olah mengutuk seluruh dunia, sepasang mata mereka merefleksikan kepuasan yang rusak.

…Latar belakang kisah mereka pun telah tertulis di dalam dokumen data.

Akibat membawa kekuatan Sacred Gear yang mengerikan di dalam tubuh mereka, mereka telah dikucilkan dan dibenci oleh lingkungan sekitar sejak masih kanak-kanak. Bahkan keluarga sedarah mereka sendiri menjaga jarak, dan tidak sedikit dari mereka yang pernah mencoba membunuh anak-anak ini. Karena tumbuh dengan hanya melihat sisi buruk dan kejam dari umat manusia, kepribadian hingga manifestasi kekuatan mereka pun terdistorsi sepenuhnya menjadi mengerikan.

Dikatakan pula bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang belum pernah melakukan pembunuhan. Menimbang rekam jejak tersebut, berdasarkan kebijakan Grigori, mereka seharusnya sudah dieksekusi sebelum sempat menimbulkan kerusakan yang lebih parah, namun….

Satanael justru mengumpulkan mereka semua, mengorganisasi mereka demi memanfaatkan kekuatan mengerikan tersebut alih-alih melenyapkannya.

Wanita yang mendekap boneka beruang melangkah maju satu langkah, lalu bertanya kepada Tobio dan kawan-kawan sembari mengulas senyuman. “Hei, hei, kalian juga pemilik Sacred Gear, 'kan?”

Seketika, senyuman imutnya berubah drastis menjadi seringai kejam saat dia melanjutkan pertanyaannya. “—Sudah berapa banyak orang yang telah kalian bunuh sampai sekarang? Lima? Sepuluh? Atau jauh lebih banyak lagi?”

Mendengar kalimat tersebut, barisan pria di belakangnya ikut melontarkan tawa kecil yang terdengar mengerikan.

Natsume angkat bicara sembari memosisikan Griffon yang bertengger di lengannya. “…Tidak ada alasan bagi kami untuk membunuh orang. Kami hanya bertarung mati-matian demi bisa bertahan hidup.”

Wanita itu memiringkan kepalanya mendengar pernyataan Natsume. “…Maksudmu, meskipun itu demi bertahan hidup, kami tetap tidak boleh membunuh orang? Tapi, jika kami tidak membunuh, bukankah kami yang akan dibunuh? Manusia biasa, meski mereka itu lemah tanpa kekuatan, selalu mencoba membunuh kami.”

Di tengah-tengah kalimatnya, wanita itu mendadak berhenti berbicara… dan sekujur tubuhnya menegang kaku. Hanya kepalanya yang bergerak-gerak cepat dengan sudut yang tidak alami, lalu dia tiba-tiba berteriak histeris.

“AKU AKAN DIBUNUUUUUHH!! AKU AKAN DIBUNUH!!! Maafkan aku, maafkan aku! Aku tidak melakukan apa-apa! Aku hanya melihat!! Aku hanya sedang bermain dengan anak ini!! Mirei-chan dan Yuuri-chan juga cuma bermain karena mereka bilang ingin bermain dengan anak ini, itu sajaaaaa!! Karena itu, maafkan akuuuuu!! Aku tidak melakukan apa-apaaaa!! Fakta bahwa Mirei-chan dan Yuuri-chan berakhir dicincang sampai hancur adalah sesuatu yang sangat aku benci jugaaa!!!”

Mata wanita itu mendadak lurus menatap ke satu titik kosong sembari melontarkan jeritan histeris yang ganjil.

Jeritan itu menjadi sinyal dimulainya pertempuran.

Boneka beruang lusuh yang didekap wanita itu terlepas dari tangannya, mendarat di atas tanah dengan sendirinya, lalu ukurannya membengkak hebat hingga mencapai ukuran raksasa.

Apa yang kini berdiri di hadapan Tobio dan kawan-kawan adalah sesosok boneka beruang raksasa dengan tinggi mencapai tiga meter. Boneka itu membuka mulutnya lebar-lebar dengan mengerikan, memunculkan taring-taring yang tajam, sementara cakar-cakar runcing mencuat dari ujung lengannya yang tak berjari.

Sacred Gear milik wanita ini bertipe Avatar Independen. Karakteristik khususnya adalah melindungi sang pengguna secara otonom. Namun, karena wanita ini memiliki kekuatan yang terlalu masif sejak lahir, tanpa kontrol yang tepat, Sacred Gear ini berakhir menyerang orang-orang di sekitarnya secara membabi buta. Terlebih lagi, cakar dan taringnya telah dilapisi dengan racun mematikan.

Boneka beruang raksasa itu—sang Sacred Gear—kini melesat menerjang ke arah Tobio dan kawan-kawan. Di antara para siswa SMA Ryoukou yang ada di sana, ada tiga orang yang memiliki kekuatan Sacred Gear—tetapi jika bicara jujur mengenai potensi tempur, saat ini praktis hanya ada Tobio dan Natsume. Shigune memang memiliki kekuatan Sacred Gear, tetapi kemampuannya masih belum diketahui, dan di atas semua itu, “Poh-kun” miliknya tampak sama sekali tidak memiliki motivasi tempur karena justru terlihat menguap malas di situasi genting ini.

Tobio dan Natsume mulai menggerakkan Jin dan Griffon demi melindungi Sae dan Shigune.

“Maju! Tebas!”

“Griffon, terbang!”

Atas instruksi Tobio, Jin menciptakan sebilah pedang dari balik bayangan, menggigitnya di dalam mulut, lalu melesat kencang bagai peluru ke arah boneka beruang raksasa tersebut. Griffon juga melesat tinggi menembus langit malam, bersiap melakukan serangan menukik dari ketinggian.

Namun, bukan hanya boneka beruang itu saja yang mulai melancarkan serangan.

Pria bertubuh tampan di barisan musuh mulai menarik napas dalam-dalam, membuat perutnya membengkak hingga ke ukuran yang tidak masuk akal. Tampaknya perut pria itu sedang dipenuhi oleh sesuatu, yang kemudian dia semburkan secara paksa dari mulutnya.

Tobio dan yang lainnya segera menghindar, mengandalkan gerakan defensif hasil latihan keras bersama Barakiel.

BECHAH! —Cairan yang disemburkan pria itu menghantam sebatang pohon besar di belakang posisi mereka setelah mereka berhasil menghindar. Saat mereka menoleh, cairan tersebut berupa zat pekat seperti jeli, dan asap yang mengepul dari batang pohon yang terkena hantaman memperjelas bahwa cairan itu memiliki sifat asam yang sangat korosif. Terlebih lagi, jeli-jeli tersebut menggeliat seolah memiliki kehendak sendiri.

Sacred Gear milik pria ini memiliki kemampuan untuk menciptakan makhluk berupa slime dengan tingkat korosif tinggi di dalam perutnya. Dan jumlahnya tidak hanya satu—. Pria itu terus memuntahkan slime-slime tersebut secara berturut-turut, dan makhluk-makhluk berlendir yang menjijikkan itu mulai merayap untuk mengepung Tobio dan kawan-kawan. Slime tersebut, berdasarkan apa yang tertulis dalam dokumen data, adalah jenis parasit yang akan merayap masuk ke dalam tubuh lawan melalui mulut, hidung, telinga, atau rongga tubuh lainnya, lalu perlahan-lahan melarutkan organ dalam korban dari dalam.

Lalu ada orang ketiga. Pria dengan perban yang membalut lengan kanannya mulai melepas lilitan perban tersebut. Begitu perban itu terlepas, apa yang ada di sana adalah sebuah lengan kanan yang sangat ganjil: di mana seluruh permukaannya dipenuhi oleh formasi mulut-mulut kecil yang berjejal rapat. Berdasarkan dokumen data, jika ada orang yang mendengar kutukan yang dilontarkan dari mulut-mulut tersebut, mereka akan menerima kutukan yang memicu kerusakan ekstrem pada pikiran dan tubuh mereka.

Dan di atas semua itu, ada pria berkacamata hitam. Sama seperti saat menyerang mereka sebelumnya, ia memanifestasikan dua buah patung batu untuk mencuri dan membutakan penglihatan mereka.

Keempat musuh kini bergerak menyerang secara agresif, dan akan menjadi hal yang sangat merepotkan bagi para pemilik Sacred Gear jika mereka sampai terkena dampak langsung dari rangkaian kemampuan tersebut.

Jin, yang bergerak selaras dengan sirkulasi energi kehidupan Tobio, melancarkan satu tebasan kuat dengan pedang di mulutnya ke arah torso boneka beruang raksasa, menorehkan luka lurus diagonal yang dalam dari ujung bahu hingga ke pangkal pinggang boneka tersebut. Saat boneka itu terhuyung-huyung, Griffon menukik tajam dari langit dan menghantamnya dengan serangan serudukan yang telak. Sacred Gear milik wanita itu pun tumbang menghantam tanah.

Meskipun pertempuran baru saja dimulai, Suzaku mengambil satu langkah maju dan mengarahkan pandangannya pada pria pemuntah slime serta pria dengan lengan penuh mulut kutukan.

“Hanya ada satu hal yang ingin kutanyakan. —Kalian semua adalah anggota peringkat bawah dari Tim Abyss, bukan?”

Pria tegap berwajah tampan itu mendengus sinis merespons pertanyaan Suzaku.

“…Tentu saja kami mungkin terlihat seperti kroco jika dibandingkan dengan anggota elite di Tim Abyss, tapi bukankah jumlah kami sudah lebih dari cukup jika tujuannya hanya untuk membunuh kalian semua sampai mati?”

Mendengar pernyataan pria itu, Suzaku mengembuskan napas panjang sembari mendesah kecil. “Sudah kuduga, kalian benar-benar hanya anggota peringkat bawah. Lagi pula, berani-beraninya kalian berbicara dengan nada tinggi seperti itu di hadapanku dan seorang pengguna Longinus. …Aku penasaran apakah Satanael saat ini sengaja mengambil langkah mundur untuk memantau situasi. Ah, sudahlah, tidak penting.”

Semuanya terjadi dalam satu kedipan mata—. Aura kobaran api yang menyelimuti tubuh Suzaku mendadak membengkak hingga ke tingkat yang masif, meningkatkan suhu udara di seluruh area sekitar secara ekstrem. Suhu tersebut mencapai tingkat yang begitu panas hingga seseorang bisa mengalami luka bakar pada organ pernapasannya hanya dengan menghirup udara di tempat itu.

Sambil membentuk letupan api yang menari-nari di tangan kanannya, ia mengarahkan pandangannya ke arah gerombolan slime yang mulai mengepung posisi mereka.

“Pertama-tama—”

Ia menebaskan lengannya secara horizontal sembari membiarkan kobaran api bersemayam di tangannya, dan dalam sekejap, gerombolan slime tersebut langsung disapu oleh lautan api yang luas.

“Mari kita lenyapkan makhluk-makhluk berbau busuk ini.”

Ada setidaknya sepuluh slime yang mengepung mereka, namun semuanya langsung hangus menjadi abu dalam sekejap oleh kobaran api Suzaku.

Lebih jauh lagi, sembari berbalik menatap pria pemuntah slime, Suzaku memosisikan tangan kanannya menyerupai bentuk pistol lalu melakukan gerakan menembak.

Dengan suara ‘Booh!’ yang nyaring—sebuah pilar api mendadak membubung tinggi langsung dari dalam mulut pria tersebut.

“Gaah!”

Pria itu menjerit histeris. Tampaknya pilar api tersebut meledak di saat yang bersamaan ketika Suzaku melakukan gestur menembak dengan tangannya. Kehilangan kesadaran akibat daya hancur serangan tersebut, pria itu langsung tumbang tersungkur ke atas tanah.

“Sekalian saja kututup rapat mulut itu.”

Aksi penembakan misterius itu terjadi dalam durasi yang sangat singkat hingga pergerakannya mustahil untuk diikuti dengan mata telanjang.

Berikutnya, Suzaku berbalik menghadap ke arah boneka beruang raksasa yang tampak mulai berusaha untuk bangkit kembali.

“Selanjutnya—”

Sembari mengangkat telapak tangan kanannya, Suzaku memanifestasikan kobaran api di sana yang perlahan mulai memadat dan membentuk sebuah wujud. Di atas telapak tangannya, kobaran api tersebut bermutasi menjadi wujud seekor burung kecil.

Suzaku melepaskan burung api tersebut, yang langsung melesat kencang menerjang lurus ke arah boneka beruang raksasa. Burung api kecil itu menghantam telak bagian perut sang boneka beruang, melubangi perutnya dengan sebuah lubang besar. Setelah burung api itu berhasil menembus masuk ke dalam perutnya—kobaran api seketika meledak hebat dari dalam tubuh boneka beruang raksasa tersebut, dan seluruh tubuh besarnya langsung dilalap oleh amukan api.

“I-Ini Sacred Gear-kuuuuuUUUU!!!”

Mengingat Sacred Gear-nya tampaknya telah mencapai batas kemampuannya akibat dilalap api dari dalam, wanita pemiliknya melontarkan jeritan histeris.

Anehnya, kobaran api yang dimanipulasi oleh Suzaku sama sekali tidak membakar vegetasi maupun pepohonan di sekitarnya. Kemungkinan besar, ia memiliki kemampuan absolut untuk mengendalikan radius dan target apinya.

ilust

Melihat Sacred Gear-nya hangus terbakar, wanita itu melompat menerjang Suzaku dalam luapan kemarahan yang pekat, lalu mulai melancarkan rentetan serangan fisik menggunakan teknik Taijou (seni bela diri tradisional). Tampaknya karena telah mempelajari keahlian bertarung di bawah naungan Grigori, wanita ini merupakan sosok yang sangat mahir dalam menggunakan teknik Taisabaki (olah gerak tubuh).

Rentetan serangan dorongan telapak tangan dengan tingkat akurasi tinggi, serta tendangan berputar yang indah dan mematikan, dia bergerak dengan rangkaian pergerakan yang telah berulang kali memporak-porandakan musuh-musuhnya di masa lalu.

Namun, karena Suzaku juga sangat terlatih dalam seni pertarungan jarak dekat tanpa senjata, dia dengan lincah menghindar dari semua rentetan serangan wanita itu.

Hanya dengan menggeser bagian atas tubuhnya, serangan-serangan fatal dari lawan melesat lewat begitu saja di sisinya. Begitu melihat adanya celah terbuka, Suzaku melancarkan sebuah hantaman tendangan kaki yang sukses mengempaskan wanita itu telak ke atas tanah.

Suzaku berbicara kepada wanita yang kini terkapar lemas.

“Kekuatan apiku ini memiliki kemampuan untuk menghanguskanmu dengan sangat mudah jika aku mau. Jadi jika aku sampai bertindak serius, maka aku minta maaf.”

Sembari berkata demikian, Suzaku melayangkan satu serangan dorongan pangkal telapak tangan tepat ke ujung dagu wanita yang tak berdaya itu. Seketika itu juga, sang wanita langsung kehilangan kesadarannya.

Suzaku segera mengalihkan pandangan matanya ke target berikutnya. Sosok yang berdiri di sana adalah pria dengan formasi mulut-mulut mengerikan yang berjejal rapat di sepanjang permukaan lengan kanannya.

Mulut-mulut tak terhitung jumlahnya yang menempel di lengan kanan pria itu kini mulai terbuka serentak dan melontarkan gumaman misterius. Sembari merapalkan untaian kalimat terkutuk, mereka mencoba untuk menimpakan kutukan mematikan kepada mereka.

Suzaku langsung bertanya kepada Natsume.

“Burung elang itu… Minagawa-san! Lengan pria itu, apakah kau bisa memotong dan melenyapkannya?”

Mendengar pertanyaan yang tergolong nekat dari Suzaku, Natsume memfokuskan seluruh perhatiannya ke arah pria tersebut. “M-Memotongnya, tapi…!” Natsume menyahut dengan nada bimbang setelah menelan ludah dengan berat.

Melihat keraguan Natsume dalam mengambil keputusan instan, Suzaku tanpa membuang waktu langsung mengalihkan pertanyaannya kepada Tobio. “—Tobio. Apakah kau bisa melenyapkannya?”

Tobio, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam responsnya, langsung meneriakkan perintah tegas kepada Jin.

“JIN! TEBAS!”

Sembari menggigit sebilah pedang di dalam mulutnya, Jin melesat kencang bagai peluru ke arah pria itu dengan kecepatan tinggi.

“Kuh! Jangan meremehkanku! Akan kukutuk bahkan anjingmu sekalian!” Pria itu mengarahkan lengan terkutuknya lurus ke posisi Jin. —Namun, sosok Jin mendadak lenyap dari jarak pandang mata pria itu. Dengan memanfaatkan kelebatan bayang-bayang pepohonan sebagai tempat berlindung, Jin merayap maju menerjang dari titik buta sang lawan.

“Apa! Cepat sekali!”

Akibat tidak mampu mengantisipasi pergerakan kilat Jin, fokus rapalan kutukan pria itu seketika melemah—dan di saat itulah sang anjing hitam langsung menerkamnya dari arah belakang.

Tanpa ampun, Jin menebas putus lengan kanan pria tersebut hingga buntung.

“GAAAAAAAAAAAH! Lengankuuuu, AAAAAH!” Setelah kehilangan lengan kanannya, pria itu langsung tumbang di tempat sembari bergulingan menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Melihat lengan sumber kutukan tersebut telah berhasil diatasi, Tobio mengembuskan napas lega untuk sejenak. Namun….

Dua patung batu pemangsa penglihatan yang sempat disebutkan sebelumnya, rupanya diam-diam telah memangkas jarak dan mendekati posisi Sae. Sae sendiri sama sekali tidak menyadari ancaman patung batu yang merayap mendekatinya—.

Di detik yang krusial itu, Tobio langsung melesat maju! Ia tidak akan membiarkan Sae yang teramat berharga baginya terkena dampak dari teknik mengerikan milik bajingan itu!

Pria berkacamata hitam itu berteriak histeris sembari menyunggingkan seringai yang menjijikkan di wajahnya. “Ada celaaaah terbukaAAA! Sejak tadi, kau terus-menerus mati-matian melindungi perempuan iniii! Kalau begitu, mari kita renggut saja penglihatannya sekaliaaanNNN!”

Pendaran cahaya menyilaukan seketika memancar hebat dari patung batu tersebut—.

“SAE!”

Tobio langsung melompat pasang badan di depan Sae untuk bertindak sebagai perisai hidupnya. Kilatan cahaya yang membutakan mata seketika melingkupi area sekeliling mereka!

Pria berkacamata hitam itu melontarkan tawa terbahak-bahak yang terdengar gila.

“Ah haaaaaaaaaaaaahahahahahah! Serangan itu menghantammu secara langsung! Rasakan itu, rasakaaaanNNN! Apakah sekarang kamu sudah tidak bisa melihat lagi!? Kamu sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi, kan!? Ayo, ayo, ayo, cepat katakan bagaimana rasanya kepadakuuuuUUU! Katakan bagaimana rasanya kehilangan kemampuan untuk melihaaat—tunggu! Huh?”

Pria berkacamata hitam yang sedari tadi menari-nari kegirangan itu mendadak tersentak sadar.

Penglihatan Tobio—sama sekali tidak melemah ataupun mengalami kebutaan. Sebaliknya, pria itu sendiri yang mendadak menyadari adanya kejanggalan dalam dirinya, lalu refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya berkali-kali di depan matanya sendiri.

“Huh? Huh huh huh huh, huuuuUUUUUuuuuuh! KENAPA!? Kenapa justru aku yang kehilangan kemampuan untuk melihaaaat!? AKU TIDAK BISA MELIHAT! BAGAIMANA BISA AKU JADI BUTA!? Jangan bercanda denganku, bangsattttTTT!!!”

Pria yang memiliki kemampuan mutlak untuk mencuri penglihatan orang lain itu, ironisnya justru tumbang akibat pancaran cahayanya sendiri.

Pria itu berteriak histeris setelah meraba wajahnya dan menyadari bahwa kacamata hitam yang menutupi matanya telah lenyap. “K-KaAAUUUUUU! Kau mencuri kacamata hitamku!?”

Sesuai dengan ucapan pria itu, Tobio kini tampak tengah mengenakan kacamata hitam milik lawannya tersebut.

Ternyata pada detik-detik sebelum kilatan cahaya memancar, Natsume dengan sigap telah meluncurkan Griffon untuk menyambar dan merebut kacamata hitam pria itu. Segera setelah kacamata tersebut berhasil dicuri, Tobio yang menerimanya dari Griffon langsung memakainya untuk melindungi matanya sendiri.

Tepat setelah pertempuran sebelumnya, mereka memang telah menerima penjelasan gelombang kedua dari Barakiel mengenai detail kemampuan pria berkacamata hitam tersebut, termasuk fungsi khusus dari kacamata gelap yang selalu ia kenakan. Karena kemampuan patung batu tersebut pada dasarnya bisa memantul dan berbalik menyerang dirinya sendiri, pria itu mustahil bisa menggunakan kekuatannya tanpa mengenakan kacamata pelindung khusus yang dikembangkan oleh pihak Grigori.

Berbekal informasi berharga itu, Tobio dan Natsume langsung bergerak sinkron untuk merebut kacamata hitam tersebut tepat di saat lawan hendak melancarkan aksinya. Serangan kombinasi ini dilakukan secara spontan tanpa adanya rencana tertulis sebelumnya, namun keduanya saling bertukar isyarat jempol karena taktik terstruktur mereka berhasil berjalan dengan sangat mulus.

Ini adalah buah dari hasil pengalaman bertarung bersama yang telah mereka lalui selama ini, sekaligus bukti nyata bahwa latihan keras di bawah bimbingan Barakiel telah membuahkan hasil yang gemilang.

Tobio dengan gerakan cepat langsung menghancurkan patung batu tersebut menggunakan sabit besar di tangannya, lalu kembali berbalik menatap pria itu dengan dingin.

“Apakah kau ingin mendengar apa yang sedang kupikirkan saat ini?”

Pria yang telah kehilangan penglihatannya itu melangkah terhuyung-huyung dengan tubuh gemetar, hingga akhirnya punggungnya membentur sebatang pohon besar di belakangnya.

“Ini bohoooooooonnnnnnnGGG!”

Menghadapi pria yang berteriak frustrasi itu, Tobio mengayunkan sabit besarnya ke bawah—namun ia menahan tajamnya bilah sabit tersebut, dan memilih untuk menghantamkan ujung tumpul bagian bawah gagangnya keras-keras tepat ke arah perut sang lawan bagai sebatang tombak.

“…GAH!”

Menerima hantaman telak yang terasa seolah mengoyak isi perutnya, pria itu langsung kehilangan kesadaran di tempat dan ambruk tersungkur di atas permukaan tanah.

Dengan tumbangnya keempat anggota Tim Abyss termasuk si pria berkacamata hitam, atmosfer permusuhan pekat yang sedari tadi berdesir di area tersebut seketika sirna tanpa bekas. Akhirnya, Tobio dan kawan-kawan bisa bernapas lega untuk sejenak.

Sae langsung memegang wajah Tobio dengan kedua tangannya, lalu bertanya dengan raut wajah penuh kecemasan. “…Tobio, matamu….”

“Aku tidak apa-apa. Griffon berhasil membawakan kacamata hitam ini tepat pada waktunya.” Tobio mengulas senyuman tipis sembari masih mengenakan kacamata hitam tersebut. Melihat hal itu, Sae—yang tampaknya benar-benar merasa lega—mendadak langsung menangis terisak.

“…Bodoh…Tobio bodoh…!”

Saat Tobio melompat melindunginya tadi, Sae benar-benar mengira bahwa Tobio akan kehilangan penglihatannya secara permanen. Sembari melepas kacamata hitamnya, Tobio menggenggam erat tangan Sae.

“…Aku akan selalu melindungi Sae. Tak peduli apa pun konsekuensi yang harus kuhadapi.”

Meski begitu, meski berhadapan dengan lawan yang jelas-jenis membawa niat membunuh yang pekat… pada detik-detik terakhir, Tobio tetap memilih untuk tidak merenggut nyawa mereka. Jika lawan yang ia hadapi adalah monster yang digerakkan oleh pengguna kekuatan supernatural—seperti makhluk Utsusemi dari Proyek Empat Makhluk Terkutuk, Tobio pasti akan membantainya tanpa ada keraguan sedikit pun. Namun, ketika targetnya adalah sesama manusia, walaupun mereka adalah pengguna kekuatan supernatural yang kejam… lubuk hatinya masih menyimpan rasa bimbang yang besar untuk membunuh.

Memang tidak salah lagi bahwa kesadarannya sempat terdistorsi dan termodifikasi saat ia menghabisi Himejima Hanezu dulu… namun meski begitu, esensi kemanusiaannya masih tersisa.

Natsume berdeham kecil lalu menyela pembicaraan. “…Aku minta maaf karena harus merusak atmosfer romantis ini, tapi….”

Tobio dan Sae, yang tersadar kalau sedari tadi mereka sedang saling menggenggam tangan erat-erat, mendadak menjadi salah tingkah dan langsung melepaskan pautan tangan mereka.

““Ah! M-Maaf…”” Keduanya secara serentak melontarkan permohonan maaf kepada Natsume.

—Dan dengan tumbangnya seluruh barisan anggota Tim Abyss di tempat ini, Tobio dan yang lainnya menyadari ke mana langkah kaki mereka harus melangkah berikutnya.

Natsume berbicara kepada Suzaku.

“Anu, Himejima Suzaku…san, terima kasih banyak. Kau sudah menyelamatkan kami. Atau lebih tepatnya, kau praktis menghabisi sebagian besar dari mereka sendirian….”

“Tidak, bukan masalah besar. Bagiku ini bahkan belum seberapa untuk menebus seluruh kekacauan dan kesulitan yang telah ditimpakan oleh pihak Agensi Utsusemi kepada kalian.”

“Namun, bisa menumbangkan lawan-lawan merepotkan itu dalam sekejap mata, seperti yang bisa diduga, level kekuatan dari kepala klan berikutnya dari Lima Klan Utama memang berada di tingkatan yang sama sekali berbeda.” Natsume berkata demikian sembari melayangkan pandangannya ke arah barisan anggota Tim Abyss yang berhasil dilumpuhkan Suzaku seorang diri.

Sembari melipat kedua tangannya di depan dada, Suzaku tersenyum kecut.

“Meskipun aku memang menjalani latihan keras… level kekuatan supernatural mereka sebenarnya tidak terlalu masif. Seperti yang mereka katakan tadi, mereka hanyalah anggota peringkat bawah di dalam struktur Tim Abyss. Walau mereka adalah ancaman besar bagi manusia biasa, siapa pun yang memiliki tingkat pengalaman tempur supernatural tertentu pasti bisa mengatasi mereka dengan mudah. Komposisi tim mereka tergolong ke dalam jenis taktik ‘membunuh dalam pandangan pertama’. Fakta bahwa mereka menyerang dengan jumlah pasukan seperti ini memperjelas bahwa musuh sengaja membagi kekuatan mereka. Mereka hanyalah umpan yang dikirim untuk menguji tingkat keahlian dan kemampuan bertarung kita.”

Natsume berbicara dengan ekspresi wajah yang tenang. “…Artinya, anggota-anggota yang benar-benar merepotkan saat ini masih disimpan sebagai kekuatan cadangan. Dengan metode seperti ini, level kekuatan dari para pengguna kemampuan supernatural yang akan datang untuk meringkus kita masih menjadi misteri yang tidak terukur.”

…Benar adanya. Setelah selesai membaca seluruh dokumen data yang diberikan sebelumnya, ada beberapa nama anggota Tim Abyss yang sejak awal membuat Tobio dan kawan-kawan berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi. Level bahaya dari kekuatan yang mereka miliki jauh melampaui kemampuan kroco-kroco yang baru saja mereka hadapi di tempat ini. Karena itu, sejak awal melangkah ke pegunungan ini, mereka telah mempersiapkan mental hingga ke batas tertentu.

Menyadari ada sesuatu yang janggal, Natsume mendadak mengedarkan pandangan matanya ke area sekitar.

“T-tunggu dulu, bukankah tadi ada dua buah patung batu pemangsa penglihatan!? Ke mana perginya patung yang satunya lagi!?”

—!

Mendengar satu pernyataan itu, Tobio dan yang lainnya kembali memasang posisi siaga penuh sembari mengamati area sekeliling secara saksama. Namun, patung batu yang dicari sama sekali tidak menampakkan wujudnya. Mengingat pria pemiliknya telah tumbang pingsan, apakah patung tersebut otomatis lenyap dengan sendirinya…?

Di tengah kebingungan itu, Shigune dengan ragu-ragu mengangkat tangannya kecil. “…A-anu. Mengenai patung batu yang itu……”

Shigune menunjuk ke arah bawah kakinya sendiri.

Di sana, terlihat Sacred Gear milik Shigune—Poh-kun, yang tengah asyik mengunyah sesuatu dengan suara kunyahan yang terdengar sangat nyaring. Saat diamati lebih dekat, objek yang sedang dilahap dengan santai oleh Poh-kun adalah—patung batu kedua pemangsa penglihatan yang sedang mereka cari. Ia bahkan telah melahap lebih dari separuh bagian dari patung batu tersebut, dan porsi kunyahannya terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda nafsu makannya akan mengendur.

Shigune menjelaskan, “…Anak ini pada dasarnya akan memakan apa saja yang ada di depan matanya. Secara alami hal itu mencakup manusia, dan ia bahkan sanggup melahap habis hal-hal seperti teknik ataupun sihir kutukan yang diluncurkan oleh lawan seperti ini. Apa ya namanya… semacam sihir peramalan? Objek-objek yang digunakan oleh orang-orang dari Agensi Utsusemi dulu, entah itu boneka yang terbuat dari kertas ataupun boneka yang terbuat dari tanah, semuanya langsung habis dilahap olehnya sampai bersih.”

Semuanya langsung habis dilahap sampai bersih—. Alasan mengapa Shigune bertindak sangat tenang sedari tadi rupanya bukan hanya karena faktor keberadaan Koga di sisinya.

Natsume kemudian melemparkan pertanyaan. “Aku sebenarnya sudah penasaran sejak awal, tapi fakta bahwa kau bisa tetap aman dari serangan musuh yang bertarung dengan cara merenggut penglihatan orang lain, apakah itu juga berkat bantuan dari anak ini?”

Tobio pun menyimpan keraguan yang sama. Shigune sejak awal memang sama sekali tidak kehilangan penglihatannya, karena ia bahkan sadar betul bahwa pria berkacamata hitam tadi memanifestasikan dua buah patung batu sekaligus.

Shigune menjawab, “…Aku sendiri kurang paham bagaimana mekanismenya, tapi Poh-kun entah bagaimana bisa membentengi diriku dari pancaran cahaya tersebut layaknya sebuah perisai. Namun, jika dilihat dari bagaimana prosesnya terjadi… mungkinkah dia sebenarnya sedang melahap habis seluruh pancaran cahaya itu… atau semacamnya?”

Melahap pancaran cahaya—. Alih-alih melahap partikel cahaya fisik, tampaknya makhluk itu melindungi Shigune dengan cara mengonsumsi manifestasi kemampuan dari Sacred Gear milik lawan. Makhluk bertopeng misterius yang menjadi wujud Sacred Gear milik Shigune ini rupanya menyimpan potensi sedahsyat itu.

Masih ada banyak sekali misteri dan pertanyaan yang menyelimuti karakteristik Sacred Gear milik Shigune… namun, Natsume langsung menepukkan kedua tangannya dengan keras demi memutus rantai lamunan mereka.

“Fokus kita sekarang adalah mengejar Lavinia!”

Benar, itulah tujuan utama mereka sejak awal melangkah ke tempat ini.

Suzaku menimpali, “Pergilah. Biarkan aku yang mengambil alih penanganan sisa-sisa anggota Tim Abyss ini. Kalian tidak boleh membiarkan sang Putri Es dan sang Penyihir dari Timur berada di tempat yang sama berduaan saja terlalu lama.”

…Tobio sempat bertanya-tanya dalam hati mengenai bagaimana reaksi dari pihak Grigori nantinya sebagai konsekuensi dari penyerahan barisan anggota Tim Abyss yang kalah ini kepada seseorang dari golongan Lima Klan Utama… tapi keselamatan teman mereka saat ini jauh lebih krusial dari apa pun.

Tobio bertukar anggukan tegas dengan Natsume, Sae, dan Shigune. Sembari memercayakan pengamanan lokasi ini sepenuhnya kepada Suzaku untuk sementara waktu, mereka kembali bergerak melesat cepat memburu keberadaan Lavinia—.

 

2

Tobio dan yang lainnya telah melanjutkan kembali pengejaran mereka terhadap Lavinia. Berbekal ingatan akan aroma Lavinia, Jin melesat lurus memimpin jalan menuju ke posisinya.

Sembari terus maju, Tobio lambat laun menyadari adanya kejanggalan dalam atmosfer udara di luar. Terjadi hembusan hawa dingin mencekam dan gelombang panas sedang yang datang secara bergantian, atau bahkan mungkin secara simultan. Semakin jauh mereka melangkah, bentrokan suhu ekstrem itu terasa semakin pekat.

Mereka langsung paham. Sihir es milik Lavinia dan kobaran api Augusta telah mengacaukan temperatur atmosfer di bagian pegunungan ini.

Sembari berlari, mereka dapat melihat dengan jelas jejak-jejak hantaman magis dan energi supernatural di antara pepohonan, permukaan tanah, bongkahan batu besar, dan sekitarnya. Pepohonan tampak tumbang atau berlubang besar, benar-benar mengubah lanskap hutan secara drastis. Ada pohon-pohon yang hangus terbakar hingga menjadi arang, dan ada pula yang terbungkus rapat di dalam balok es. Di beberapa titik, permukaan tanah tampak membeku total, sementara di titik lain tanahnya tampak menganga akibat terkoyak, ditambah kepulan asap dari sisa-sisa vegetasi yang apinya belum bisa padam sepenuhnya.

Bahkan dari arah depan mereka, suara hiruk-pikuk pertempuran yang membahana sudah mulai terdengar. Tampaknya posisi Lavinia sudah sangat dekat.

Setelah mengerahkan seluruh kecepatan lari mereka, Tobio dan yang lainnya akhirnya berhasil keluar dari rimbunnya hutan—dan pemandangan di depan mereka berganti menjadi aliran sungai yang dikelilingi bebatuan tandus.

Lavinia dan Augusta tampak berdiri saling berhadapan di tepi sungai tersebut. Keduanya sama-sama memanifestasikan beberapa lingkaran sihir di depan tubuh mereka sembari saling melempar tatapan mata yang tajam.

Di samping masing-masing dari mereka, berdiri sosok anak bangsawan mulia yang terbuat dari es dan sesosok raksasa agung yang terbentuk dari kobaran api. Makhluk-makhluk itu adalah Sacred Gear milik mereka masing-masing—Longinus mereka.

Lavinia menciptakan tombak es tak terhitung jumlahnya dari rentetan lingkaran sihir miliknya, lalu menghujankannya ke arah Augusta. Augusta sendiri juga menembakkan semburan api raksasa dari lingkaran sihirnya, yang berfungsi untuk meredam dan menetralisasi sihir es Lavinia.

Kekuatan sihir tingkat tinggi dari kedua penyihir itu saling berbenturan hebat; es yang mencair oleh panasnya api, dan api yang padam oleh dinginnya es, hingga memicu pusaran angin kencang yang berembus dengan dahsyatnya.

Di sisi lain, raksasa api yang membawa sebuah salib besar tampak mengayunkan senjatanya dengan kekuatan penuh. Dari salib yang terayun itu, gelombang api ungu dalam skala masif melesat maju, menerjang lurus ke arah sang putri es milik Lavinia.

Sang putri es menyilangkan keempat lengan indahnya, dan seketika itu juga berlapis-lapis pilar es berukuran raksasa mencuat dari permukaan bebatuan tandus, mengunci pergerakan sang raksasa api.

Benturan antara api ungu dan pilar-pilar es tersebut memicu ledakan maha dahsyat yang mengguncang area sekitar.

Sebuah pertempuran sihir yang luar biasa megah tengah tersaji tepat di depan mata Tobio dan kawan-kawan. Tobio dan yang lainnya sampai menelan ludah dengan berat.

Hanya dengan menyaksikan bentrokan yang sedang berlangsung saat ini, mereka langsung paham bahwa ini adalah pertempuran antara dua individu yang level kekuatannya telah melampaui imajinasi maupun batas kemampuan mereka sendiri. Sihir yang dikerahkan oleh kedua wanita itu berada di dalam ranah yang jauh di atas dunia mereka—.

Jika Jin ataupun Griffon nekat menerobos masuk begitu saja, mereka bisa saja hangus terbakar oleh kobaran api yang teramat kuat itu, atau jika sebaliknya mereka terjebak, mereka justru hanya akan menjadi beban yang menghalangi pergerakan Lavinia. Mereka datang memang bermaksud untuk membantu, namun situasi di lapangan sama sekali tidak mengizinkan mereka untuk bertindak ceroboh.

—Mungkin, jika aku mengerahkan kekuatan misterius dari momen saat aku menumbangkan Himejima Hanezu dulu….

Tobio sempat mempertimbangkan opsi tersebut dalam benaknya. Namun, konsekuensi dari kekuatan yang tak terkendali itu berarti ia juga bisa berakhir membunuh teman-temannya sendiri.

Mengenai alasan mengapa Natsume tidak bersedia memotong lengan pria berkutukan tadi, penyebab utamanya adalah karena trauma masa lalu. Saat Griffon bertransformasi dalam pertempuran melawan Agensi Utsusemi dulu, makhluk itu telah memotong putus lengan Doumon Kazuhisa. Berdasarkan apa yang terlihat, insiden itu tampaknya meninggalkan trauma mendalam bagi psikologis Natsume, sehingga sekarang dia tidak sanggup lagi meluncurkan serangan fatal yang mencolok jika lawannya adalah sesama manusia.

…Natsume dan aku pada dasarnya hanyalah siswa SMA biasa. Kami sadar betul bahwa kesiapan mental kami dalam menghadapi situasi ekstrem seperti ini masih seperti anak kecil.

Namun, gadis penyihir di depan matanya saat ini, yang memiliki rentang usia yang sama dengannya, terus-menerus merapalkan sihir pembinasa dengan tekad kuat untuk membekukan lawannya. Itu adalah sebuah bentuk kesiapan mental yang nyata—. Hal itulah yang Tobio rasakan dari dalam diri Lavinia dan Vali. Keduanya, yang tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan supernatural yang serupa, mungkin telah mencapai tingkat ketetapan hati yang sama kuatnya—.

Lavinia dan Augusta masih terus melanjutkan duel magis mereka. Dari lingkaran sihir yang dimanifestasikan oleh keduanya, tidak hanya api dan es yang keluar, melainkan juga badai angin, sambaran petir, anak panah cahaya yang tak terhitung jumlahnya, hingga bola-bola kegelapan pekat. Berbagai fenomena paranormal yang belum pernah Tobio lihat sebelumnya kini terus bermunculan silih berganti di depan mata mereka.

Setiap hantaman dari mantra-mantra tersebut berulang kali memicu mencuatnya tiang-tiang air raksasa dari sungai dan menghancurkan bebatuan di tepi pantai hingga berkeping-keping. Augusta tampak menyunggingkan senyuman penuh percaya diri yang berani, sementara ekspresi wajah Lavinia sama sekali tidak mengendur sedikit pun.

—Dan kemudian, kedua penyihir itu menyadari kehadiran mereka di waktu yang hampir bersamaan.

Augusta berucap, “Astaga, sepertinya urusan Satanael sudah selesai, ya. Lagi pula, tampaknya anak-anak didiknya telah berhasil ditumbangkan.”

Natsume berteriak kencang, “Lavinia! Kami sudah datang sekarang, jadi jangan khawatir!”

Melihat kedatangan rekan-rekannya, ketegangan di pipi Lavinia akhirnya sedikit mengendur.

Melihat respons tersebut, Augusta mendengus meremehkan. “Hei, Ojou-chan yang baru datang, jika kau nekat menginterupsi pertempuran antara sesama pemilik Longinus, hidupmu hanya akan berakhir sia-sia akibat terkena dampak dari sihirku dan milik sang Putri Es.”

Mendengar gertakan dari penyihir tua itu, Natsume menyahut dengan nada gusar, “Apa katamu!”

Augusta kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Tobio—lalu ke arah Shigune yang tengah mendekap “Poh-kun”.

“…Yah, sepertinya aku tidak boleh memperlihatkan celah sedikit pun di hadapan anjing hitam atau Toutetsu itu.”

—Lalu, mata Augusta tertuju pada sosok Sae yang berdiri di samping mereka. “…Subjek uji coba singa hitam, ya. Rupanya dia selamat. …Oh? Kau tidak bisa memanifestasikannya keluar? Itu benar-benar di luar dugaan. Sang Gubernur Jenderal malaikat jatuh itu, mungkinkah dia telah melakukan sesuatu pada subjek tersebut?”

……

…Ucapan Augusta barusan terdengar sangat mengusik ketenangan. Sebagai bagian dari eksperimen kejam oleh Agensi Utsusemi, Sae memang telah dipaksa untuk menampung Sacred Gear Buatan—sebuah entitas tipe Avatar Independen berwujud singa hitam. Tobio sendiri tidak mengingat detail insidennya dengan jelas, tetapi ia sempat mendengar kabar bahwa sebagai akibat dari dirinya yang mencapai fase Balance Breaker kala itu, entitas tersebut telah tercabik-cabik hingga hancur… harusnya situasinya memang seperti itu, tapi….

Lavinia melayangkan pertanyaan kepada Augusta.

“…Yang kaumaksud dengan subjek uji coba singa hitam, apakah itu entitas dari Oz? Gubernur Jenderal Azazel saat ini sedang berada di tengah-tengah proses analisis mendalam terhadapnya. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau tidak melontarkan kalimat yang bisa memicu kecemasan pada Toby dan Shaae.”

Entah bagaimana caranya, Lavinia tampaknya mengetahui dengan jelas kondisi singa yang sempat bersemayam di dalam tubuh Sae, tapi….

Augusta justru menyunggingkan senyuman yang menjijikkan.

“Tepat sekali, meskipun pada awalnya entitas itu adalah sesuatu yang kami sediakan untuk Satanael dan Agensi Utsusemi. Hasil riset Glenda benar-benar sangat berguna, bukan? Dengar, ini semua karena Glenda bersedia mengawasi perkembangan ojou-chan pemilik Putri Es ini.”

“Jadi kau telah merebut paksa informasi mengenai kekhasan Sacred Gear-ku dari Oshishou-sama.”

Mendengar pernyataan Lavinia tersebut, Augusta—langsung melontarkan tawa yang sarat akan makna tersembunyi.

“Kukukuh….”

Sembari mengulas seringai yang teramat buruk rupa, Augusta melontarkan sebuah pengakuan.

“Itu salah besar. Benar-benar keliru. Informasi itu diserahkan secara sukarela kepada kami oleh Glenda sendiri. Segala hal mengenai rahasia kekuatan tipe Avatar Independen milikmu itu.”

—!

…Informasi mengenai detail kemampuan Lavinia ditawarkan sendiri oleh Glenda, dengan kata lain, dari mulut guru Lavinia sendiri…?

Merasa jauh lebih meragukan apa yang baru saja didengarnya dibandingkan dengan Tobio dan yang lainnya, Lavinia melemparkan pertanyaan balik dengan ekspresi wajah yang tampak sangat kebingungan.

“…Apa yang sedang kaubicarakan…?”

Seringai di wajah Augusta menjadi semakin menjijikkan, dan dengan nada penuh suka cita, dia mulai membeberkan sebuah pengakuan yang menghancurkan mental.

“Astaga. Di luar dugaan, kau adalah anak yang lambat dalam mencerna situasi. Kalau begitu, biar kujelaskan dengan sangat gamblang. —Glenda adalah penyihir yang berada di pihak kami. Dia sudah berada di pihak kami sejak awal. Penyihir baik? Penyihir jahat? Itu hanyalah skala penilaian sepihak yang diciptakan dari distorsi informasi yang disebarkan oleh orang-orang di pihak kami. Pada masa itu, terjadi perselisihan golongan yang sangat mengerikan di dunia Oz antara wilayah utara, selatan, timur, dan barat. Lagi pula, para penyihir dari [Negeri Oz] sejak awal memang tidak pernah tertarik pada hal lain selain meningkatkan kapasitas sihir mereka sendiri.”

Untuk sesaat, tubuh Lavinia tampak menegang kaku seolah waktu di sekelilingnya telah berhenti berputar. Keheningan singkat mendadak menyelimuti area tersebut, namun….

Lavinia akhirnya berhasil memeras suara dari tenggorokannya yang gemetar.

“…………Bohong. ITU BOHONG!!!”

Merespons nada suara Lavinia yang sarat akan penolakan emosional tersebut, Augusta kembali berbicara sembari tersenyum mencemooh.

“Itu bukan kebohongan. Jika demikian, bagaimana kalau yang satu ini?”

Penyihir tua itu mengangkat telapak tangannya, membentuk sebuah lingkaran sihir berukuran kecil. Augusta tampak berbicara ke arah lingkaran sihir yang tampaknya berfungsi sebagai media komunikasi jarak jauh tersebut.

“Apakah kau bisa mendengarku, Glenda?”

Setelah jeda beberapa saat, suara seorang wanita lanjut usia terdengar menggema dari balik lingkaran sihir tersebut.

‘…Untukmu yang tiba-tiba menghubungiku, aku penasaran apakah telah terjadi sesuatu yang penting, Augusta.’

Mendengar suara itu, sepasang mata Lavinia seketika melebar sempurna. Dari reaksinya, jelas sekali bahwa suara tersebut adalah suara yang sangat dia kenali.

Augusta dengan riang berbicara kepada sosok di ujung sambungan sihir komunikasi tersebut.

“Saat ini, aku sedang bertarung melawan murid kesayanganmu, sang Putri Es. Bagaimana kalau kau membiarkannya mendengar suaramu sedikit. Bukankah selama ini dia sudah mencari keberadaanmu dengan sangat putus asa?”

Merespons ucapan Augusta, wanita yang tak lain adalah guru Lavinia itu menyahut dengan kalimat berikut:

‘……Tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi.’

Nada suaranya terdengar sebagai sebuah penolakan yang teramat dingin dan mutlak.

“—!”

Lavinia seketika kehilangan kata-kata akibat respons tersebut, dan seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat.

Sangat menikmati kehancuran mental Lavinia, Augusta melepaskan tawa terbahak-bahak.

“Kakakah! Dingin sekali! Bukankah dulu kau kurang lebih sudah menyayangi gadis ini layaknya anak kandungmu sendiri? Dan sekarang kau bisa berkata dengan begitu ringannya! Sungguh tidak punya hati!”

‘…………’

Menanggapi sindiran Augusta, lingkaran sihir komunikasi Glenda sempat hening untuk sejenak. Dan kemudian, ia mengarahkan kalimat terakhirnya kepada sang murid.

‘—Lavinia.’

Bagi sang murid, Lavinia, yang selama ini telah mengerahkan segala daya upaya demi mencari keselamatan gurunya, kalimat balasan ini terasa bagai sebuah hantaman yang sangat disesali.

‘Akan kukatakan sekali lagi. —Tidak ada satu hal pun yang ingin kusampaikan kepadamu.’

Tepat setelah kalimat itu terucap, sambungan komunikasi langsung terputus, dan lingkaran sihir tersebut lenyap tanpa bekas.

Rentetan fakta yang terlalu mendadak dan ekstrem ini membuat Tobio dan kawan-kawan ikut terdiam, tidak tahu harus merespons apa. Sedangkan bagi Lavinia sendiri—.

“…………”

Tongkat sihir di tangannya terjatuh begitu saja ke atas tanah, kedua lengannya terkulai lemas di sisi tubuhnya, dan dengan pandangan mata yang mulai kehilangan fokus, ekspresi wajahnya seketika diselimuti oleh hilangnya ketenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan sang putri es yang berdiri tegap di sampingnya kini telah menghentikan posisi siaganya.

Kekuatannya yang dimanfaatkan secara sepihak, ditambah kenyataan pahit bahwa sosok pelindung yang dulu mengulurkan tangan penuh kebaikan dan memberikan harapan baru di saat dia kehilangan seluruh keluarganya, ternyata adalah salah satu dalang yang bersekongkol dengan musuh yang selama ini dia buru… kenyataan ini jelas merupakan sesuatu yang mustahil untuk bisa dia terima secara logis. Tidak mengherankan jika dia menganggap semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak nyata.

Sembari berusaha membuka bibirnya yang gemetar hebat, Lavinia—.

“…T-tidak mungkin.”

Dalam nada suara yang mustahil keluar dari sosoknya yang biasanya tenang, dari relung terdalam tubuhnya, dari dasar lubuk hatinya, ia menjerit histeris.

“AKU TIDAK PERCAYA!!! Aku tidak mau, aku tidak memercayainya…!!”

Tubuh Lavinia tampak limbung. Kedua kakinya jelas telah kehilangan kekuatannya akibat syok berat yang teramat sangat. Kondisi mental dan fisiknya telah terguncang hingga ke titik terendah.

Namun, bagaimanapun juga, pertempuran di tempat ini masih terus berjalan.

Tobio dan Natsume saling bertukar pandang. Keduanya, yang sejak awal telah sepakat untuk menyelamatkan Lavinia, mengangguk satu sama lain dalam keheningan yang tegas. Tobio dan Natsume langsung melesat maju di detik itu juga, dengan target utama menyelamatkan Lavinia dari posisinya.

Melihat pergerakan mereka, Augusta langsung meluncurkan sebuah lingkaran sihir berbahaya dari tangannya, dan sebuah lingkaran sihir hitam dengan pola geometris yang tak lazim mulai membentang lebar.

“Kalian rupanya sudah kehilangan akal sehat, ya. Sekarang!”

Dalam sekejap mata, sebuah lingkaran sihir hitam berukuran masif mulai mengepung tubuh Lavinia yang saat ini sedang berada dalam kondisi tanpa pertahanan sedikit pun. Energi sihir yang aneh dan mengerikan meluap-luap dari sana, lalu mulai menyelimuti tubuh Lavinia merayap naik mulai dari ujung jari kakinya.

Tanpa sempat memberikan perlawanan, tubuh Lavinia langsung tertutup rapat oleh pekatnya energi sihir hitam tersebut. Tepat di saat seluruh tubuh Lavinia telah sepenuhnya terwarnai oleh hitam pekat, sebuah perubahan juga mendadak terjadi pada diri Augusta.

Tubuh penyihir tua itu tampak memancarkan cahaya menyilaukan, lalu bertransformasi menjadi sebuah bola cahaya murni. Bola cahaya itu kemudian melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah tubuh Lavinia yang telah menghitam, hingga akhirnya memicu benturan keras.

Entitas bola cahaya itu merangsek masuk ke dalam tubuh Lavinia yang telah terbungkus kegelapan pekat.

Seketika itu juga, rentetan lingkaran sihir di sekitar mereka lenyap, dan energi sihir hitam pekat tersebut perlahan memudar seiring dengan tubuh Lavinia yang ambruk tak berdaya ke atas permukaan tanah. Yang tersisa di sana—hanyalah sosok Lavinia seorang diri.

Menyaksikan runtunan peristiwa aneh tersebut, Natsume melontarkan teriakan penuh kebingungan.

“—! Apa yang baru saja terjadi!?”

Beberapa saat kemudian, Lavinia tampak mulai bangkit menegakkan posisinya kembali. Wajahnya masih tertunduk ke bawah, namun dari mulutnya mendadak terdengar suara tawa yang teramat menyeramkan.

‘Ahahah!’

Bagi sosok Lavinia yang asli, melontarkan tawa sekeras dan sekeras ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi.

Lavinia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah mereka. Tatapan matanya yang tajam kini telah dipenuhi oleh aura permusuhan yang pekat. Ia lalu melontarkan kalimat berikut:

‘Sayang sekali. Tubuh gadis muda ini telah resmi menjadi milikku sekarang. Nah, jadi bagaimana sebaiknya kita selesaikan ini?’

“—!?”

Ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Lavinia saat ini benar-benar sangat mirip dengan ekspresi khas milik Augusta, hingga membuat Tobio dan yang lainnya tersentak syok. Aura energi yang berdesir dari dalam tubuhnya pun telah sepenuhnya berubah menjadi milik Augusta!

—Mungkinkah Augusta telah berhasil membajak dan mengambil alih tubuh Lavinia!?

Energi sihir mengerikan beberapa saat lalu rupanya adalah sebuah mantra terlarang yang dirancang khusus untuk merebut kesadaran dan membajak tubuh Lavinia….

Meskipun mereka akhirnya bisa memahami situasi yang terjadi, fakta bahwa Lavinia di depan mereka kini telah kehilangan kesadarannya akibat dicuri oleh penyihir tua dari Oz yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya, tetap saja menjadi sebuah hantaman besar yang membuat Tobio dan kawan-kawan harus memutar otak demi mencari jalan keluar.

Lavinia—atau lebih tepatnya Augusta, sama sekali tidak memedulikan tingkat kebingungan dan kepanikan yang sedang mereka rasakan. Dia langsung memberikan instruksi tegas kepada sang putri es yang berdiri di sampingnya—dan entitas tipe Avatar Independen yang terbuat dari es itu kini tampak mengarahkan keempat lengannya lurus ke posisi mereka!

Lebih buruknya lagi, bahkan raksasa api ungu yang sebelumnya dikendalikan oleh Augusta kini juga mulai memasang posisi menyerang yang agresif ke arah mereka!

Augusta, yang kini berhasil menggerakkan dua jenis kekuatan Longinus es dan api yang menjadi manifestasi dari diri mereka masing-masing, tertawa tanpa rasa takut sedikit pun.

‘Apakah kalian pikir kalian sanggup bertarung melawan kombinasi dua jenis Longinus sekaligus? Bagaimana, wahai anjing hitam dan para gadis pemilik Empat Makhluk Terkutuk?’

Sang putri es tampak menciptakan sebongkah balok es berukuran masif di tangannya, sementara sang raksasa api ungu mengangkat salib besarnya tinggi-tinggi ke udara.

Dalam situasi buntu seperti ini, mereka dipastikan akan menerima hantaman serangan simultan yang teramat mematikan dari perpaduan Longinus es dan api sekaligus.

Tobio baru saja hendak memasang posisi siaga penuh untuk bertahan, namun Natsume mendadak mencengkeram lengan kekar Tobio dengan kuat. “—Kita harus mundur dari tempat ini untuk sementara waktu.”

Natsume baru saja melontarkan sebuah usulan darurat untuk meninggalkan Lavinia di dalam situasi kritis ini.

Ekspresi wajah Tobio seketika berubah menjadi sangat tegang. “T-tapi! Meninggalkannya dalam kondisi seperti ini—”

Tobio baru sempat berbicara sampai di titik itu, tetapi ia mendadak menghentikan kalimatnya saat menyadari bagaimana Natsume tengah menggigit bibir bawahnya dengan sangat keras. Bahkan bagi Natsume sendiri, ini adalah sebuah keputusan menit-menit terakhir yang teramat menyiksa dan memuakkan baginya.

Bagaimanapun juga, untuk saat ini mereka sama sekali tidak memiliki taktik ataupun cara yang aman untuk bisa menyelamatkan Lavinia yang telah tertawan.

“~ ~ ~ ~!!!”

Tobio menyunggingkan ekspresi wajah yang teramat pedih, dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang kecil sembari mengepalkan tinjunya erat-erat meluapkan rasa frustrasinya yang mendalam.

Dan kemudian, Tobio langsung meraih tangan Sae, sementara Natsume menyambar pergelangan tangan Shigune, lalu mereka semua segera melesat mencari tempat perlindungan darurat meninggalkan area pantai berbatu tersebut.

‘Kalian memilih melarikan diri rupanya! Ahahahah!’

Dari arah belakang, suara tawa terbahak-bahak yang melengking tinggi dari Augusta yang kini bersemayam di dalam tubuh Lavinia terdengar menggema memenuhi seisi hutan.

Misi penyelamatan ini telah berakhir dengan hasil yang paling buruk—.

 

[1] Himegimi (姫君) secara harfiah berarti putri yang biasanya digunakan untuk menyebut putri dari seorang bangsawan, keluarga kekaisaran, atau wanita muda dengan status sosial yang sangat tinggi.

Post a Comment

0 Comments