SLASHDOG Jilid 2 Bab 7

1

Bab 7 Dewa Anjing Bilah Terdistorsi di Langit Malam Bercahaya -Night Celestial Slash Dogs-

1

Kuartet Tobio, Natsume, Sae, dan Shigune, sembari memperlebar jarak antara diri mereka dengan Lavinia yang tubuhnya telah dibajak oleh Augusta, akhirnya bertemu dengan trio Samejima, Vali, dan Koga saat mereka tengah berlari menyusuri lereng pegunungan. Tampaknya mereka bertiga juga telah berhasil memukul mundur para pembunuh yang mengincar mereka.

Setelah berkumpul kembali, Tobio dan yang lainnya segera melaporkan insiden pertemuan mereka dengan Satanael, serta situasi kritis yang menimpa Lavinia—.

Mendengar hal itu, ekspresi wajah Vali seketika berubah drastis. Dia menghampiri Tobio dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Lalu setelah itu kalian lari begitu saja!? Tanpa menyelamatkan Lavinia! Kuh!”

Bagi anak laki-laki yang biasanya selalu menunjukkan ekspresi dingin dan tenang, perubahan emosional yang begitu meledak-ledak tepat saat situasi Lavinia disampaikan benar-benar membuat Tobio dan yang lainnya terkejut.

Vali langsung melesat pergi ke arah jalur yang baru saja dilewati Tobio dan kawan-kawan. Namun, Natsume dengan sigap menahannya dengan menarik lengan anak laki-laki itu.

“Tunggu dulu, Vali! Kau mau pergi ke mana!?”

“Aku akan menyelamatkan Lavinia meskipun aku harus melakukannya sendirian!”

Sembari menepis kasar tangan Natsume, anak laki-laki itu baru saja hendak berbalik—.

[Hentikan, Vali. Lawanmu saat ini mengendalikan dua jenis Longinus sekaligus. Itu adalah beban yang terlalu berat bahkan untuk dirimu yang sekarang.]

Suara Albion mendadak terdengar bergema dari boneka naga yang bertengger di bahu Vali.

Vali balas berteriak ke arah Albion. “Jika situasinya mendesak, armor itu akan lebih dari cukup!”

[Wujud armor itu masih belum sempurna. Apalagi, bagi tubuh sekecil itu yang belum mampu menampung seluruh kekuatanku sebagai Hakuryuukou, nekat menggunakannya hanya akan menempatkan nyawamu sendiri dalam bahaya maut.]

Mendengar penuturan dari naga yang bersemayam di dalam tubuhnya sendiri, Vali, dengan kedua tangan yang bergetar hebat menahan frustrasi, melontarkan kalimat berikutnya dengan getir. “…Lagi pula, ini adalah nyawa yang sudah pernah dibuang sekali!”

Tepat di saat itu, sebuah suara dari pihak ketiga ikut menyela obrolan mereka.

‘Nah, nah, jangan berkata seperti itu, Vali.’

Kali ini, suara yang terdengar dari boneka naga di bahunya adalah suara milik Azazel.

“—Azazel!”

“Gubernur Jenderal!”

Vali dan Natsume serentak menatap ke arah boneka naga tersebut.

Azazel kembali berucap.

‘Aku tidak terlambat menghubungi kalian, 'kan? Aku sudah menerima laporan singkat dari Barakiel. —Nah, jadi bagaimana situasi di lapangan sekarang?’

Tobio dan yang lainnya segera menjabarkan situasi pelik Lavinia secara mendetail. Azazel terdiam untuk sejenak guna merenungkan fakta tersebut dan….

‘…Begitu ya, penyihir-penyihir Oz yang merepotkan itu. Jadi target utama mereka sejak awal memang adalah Lavinia sendiri, huh. Sejak awal, rencana mereka hanyalah memojokkan mental gadis itu agar mereka bisa mengambil alih kendali atas dirinya. Tapi, nekat memanfaatkan guru Lavinia sendiri dengan cara seperti itu….’

Tobio menyuarakan rasa frustrasinya. “…Ini adalah kesalahan kami. Padahal sejak awal kami sudah menduga bahwa itu adalah sebuah jebakan….”

Tobio dan semua orang memang sempat mempertimbangkan kemungkinan adanya jebakan. Namun terlepas dari kewaspadaan itu, mereka tetap terserang di tengah-tengah celah kelengahan yang sesaat. Tidak hanya Tobio, Natsume juga menunjukkan raut wajah yang teramat terpukul karena didera rasa bertanggung jawab yang besar.

Tobio menyuarakan penyesalan mendalam gadis itu. Samejima juga tampak melipat kedua lengannya dengan ekspresi wajah kesal. Semua orang yang berada di tempat itu kini tengah bergelut dengan rasa bersalah atas tanggung jawab masing-masing.

Azazel mendengus geli.

‘…Astaga, padahal belum lama waktu berselang sejak kalian semua pertama kali bertemu, tapi kalian sudah memiliki rasa kesetiakawanan yang begitu kuat. Tentu saja, berkat ikatan inilah rencana Agensi Utsusemi bisa hancur berantakan sebelumnya, tapi… Bagaimanapun juga, jika Augusta sampai mulai bertindak serius, untuk saat ini tidak ada satu pun dari kalian yang sanggup menghadapinya selain Lavinia sendiri. Lagi pula, bisa diasumsikan bahwa orang-orang itu telah menyiapkan serangan balik untuk menghadapi beberapa taktik kalian. —Biar bagaimanapun, kalian semua masih terlalu hijau.’

Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menyanggah pernyataan telak itu.

Natsume akhirnya melayangkan pertanyaan kepada Azazel.

“Gubernur Jenderal, apakah ada cara untuk menyelamatkan Lavinia?”

Bahkan Vali pun ikut menimpali di titik ini.

“Azazel! Bagaimana caranya!”

‘Tenanglah dulu, Vali.’

Azazel memperingatkan Vali yang tampak tidak sabaran lewat kata-katanya. Dan kemudian, Azazel melanjutkan.

‘Itu bukan hal yang mustahil. Rencana ini harusnya bisa diwujudkan dengan menggunakan taktik yang selama ini telah kalian latih dan simulasikan berulang kali.’

“—!”

Semua orang, terkecuali Koga, tampak menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Azazel dengan saksama.

Azazel meneruskan penjelasannya.

‘Jika itu adalah kekuatan milik Tobio, harusnya memungkinkan untuk memotong dan memisahkan penyihir tua Oz itu dari tubuh Lavinia. Lagi pula, hal tersebut merupakan karakteristik utama dari Sacred Gear milikmu.’

Tobio menelan ludah dengan berat sebelum akhirnya berbicara.

“…Aku tidak bisa memotongnya begitu saja dengan… dengan pedang Jin. Jika aku menebasnya seperti itu, aku justru akan berakhir membunuh Lavinia dan Augusta sekaligus.”

‘Sama sekali tidak. Bilahmu bukan sekadar teknik untuk memotong setiap objek fisik. Bilahmu adalah pedang khusus yang mampu memotong bahkan hal tak berwujud seperti konsep, termasuk teknik ataupun sihir. Lagi pula, wujud itu adalah Sacred Gear yang diklaim mampu memotong bahkan dewa sekalipun.’

Pedang yang mampu memotong bahkan hal tak berwujud seperti konsep, teknik, ataupun sihir.

Azazel kembali melanjutkan bicaranya.

‘Pikirkan, berdoalah. Sacred Gear adalah sebuah kekuatan super yang menarik energinya dari luapan pikiran serta perasaan terdalam pemiliknya. Tentu saja, situasi saat ini adalah kondisi yang paling cocok. Namun, kau juga harus menyanggupi sebuah ketetapan hati yang sepadan.’

“…Ketetapan hati?”

Azazel berucap dengan sangat gamblang.

‘—Balance Breaker. Kau harus melepaskan untuk sementara waktu teknik terlarang yang telah kaubawa sejak lahir. Kau pasti sudah dibekali dengan barang yang diperlukan untuk mengantisipasi situasi darurat ini, 'kan?’

Tobio segera merogoh kantong bagian dalam baju di dadanya dan mengeluarkan sebuah peralatan yang selama ini selalu ia bawa sejak tiba di tempat ini.

—Benda itu adalah lima untai tasbih doa.

Benda-benda tersebut adalah replika alat yang diproduksi oleh Azazel dan para peneliti Grigori berdasarkan tasbih doa asli milik mendiang nenek Tobio. Dulu, sang nenek telah memurnikan tasbih tersebut menggunakan Juhou (Teknik Terkutuk Buddha) demi menyegel fase Balance Breaker milik sang cucu.

Azazel berucap, ‘Tasbih doa itu adalah alat yang berfungsi untuk menekan balik teknik mendiang nenekmu. Setiap untainya akan memungkinkanmu untuk mempertahankan kesadaran warasmu selama maksimal sepuluh detik. —Tapi, ingatlah baik-baik bahwa benda itu masih berada dalam tahap eksperimental. Bisa saja terjadi insiden yang tak terduga, atau mungkin ada efek samping yang muncul setelah kau memicu fase Balance Breaker nanti. —Apakah kau tetap bersedia menggunakannya?’

Menanggapi pertanyaan krusial dari Azazel tersebut, Tobio—.

“Aku akan menggunakannya. Aku pasti akan menyelamatkan Lavinia-san dengan mengerahkan kekuatan Balance Breaker-ku. Dan setelah itu, kita semua akhirnya bisa pulang bersama dengan selamat.”

Itu adalah sebuah keputusan yang instan. Tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Azazel kemudian beralih berbicara kepada Sae.

‘Toujou Sae, kemungkinan besar, sosok yang memegang kunci utama keberhasilan taktik ini adalah dirimu. Jika teman masa kecilmu itu sampai kehilangan kesadaran warasnya nanti, teruslah panggil namanya tanpa henti.’

“A-apakah tindakan seperti itu saja sudah cukup?”

Mendengar pertanyaan ragu-ragu dari Sae, Azazel justru tertawa kecil.

‘Ya, hal seperti itu justru memegang peranan yang mengejutkan pentingnya.’

Azazel lalu mengarahkan kalimatnya kepada Vali.

‘…Vali, apakah kau juga akan ikut bergerak? Mengingat betapa tidak stabilnya kapasitas kekuatan Tobio saat ini, tingkat kemungkinan kegagalannya terhitung sangat tinggi. Kekuatanmu juga akan sangat diperlukan di sana.’

“Albion sudah memperingatkanku bahwa kekuatanku sendiri pun saat ini masih belum stabil. Kau juga mengingat detail itu dengan baik, bukan?”

‘Meski begitu, apakah kau tetap ingin mencobanya?’

“—Jangan sampai kau menyesalinya nanti. Akan kuperlihatkan kepadamu bagaimana caraku mengendalikannya.”

Ekspresi wajah Vali tampak mencerminkan keteguhan tekadnya yang teramat kuat.

Azazel kemudian menyapa masing-masing perwakilan dari Empat Makhluk Terkutuk.

‘Bagi Minagawa Natsume dan Samejima Kouki, rasanya hal ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi… tapi bagi kalian berdua yang baru saja bergabung, Nanadaru Shigune dan Koga Hyousuke, apa yang akan kalian lakukan?’

Dalam situasi pelik ini, berhubung mereka masih belum bisa mendapatkan bantuan langsung dari seluruh unit organisasi, Azazel bermaksud menanyakan apakah duo Shigune dan Koga bersedia bertaruh nyawa demi menyelamatkan seorang gadis yang bahkan baru saja mereka temui.

Mengenai tanggapan Shigune—.

“…Meskipun aku tidak terlalu paham detail situasinya, jika dia adalah teman dari teman sekolahku, aku pasti akan ikut membantu menyelamatkannya!” Sembari mendekap erat tubuh “Poh-kun” dengan tubuhnya yang masih gemetar, gadis itu menjawab dengan tegas.

Koga menyahut sembari melipat kedua lengannya di dada.

“Yah, aku sudah terlanjur naik ke atas kapal ini. Jadi sekalian saja berlayar sampai ke ujung tujuan.”

Merespons jawaban singkat pemuda itu, Azazel memberikan sebuah peringatan keras.

‘…Tampaknya kau telah menerima sesuatu dari Satanael, tapi bukan pilihan yang bijak untuk terlalu sering mengerahkan kekuatan tersebut. Kemungkinan besar, hal itu tidak akan berujung pada sesuatu yang baik, paham?’

Tampaknya Azazel telah mendapat laporan mengenai wujud transformasi misterius milik Koga sebelumnya.

Koga hanya mengedikkan bahunya dengan santai.

“Kecuali menghadapi orang-orang yang menaruh permusuhan mutlak kepadaku, aku tidak akan sembarangan mengumbar kekuatan itu. Tapi, karena ini adalah kekuatan yang berhasil kudapatkan dengan harga yang mahal, aku sendiri tidak tahu sampai batas mana aku bisa menggunakannya. Fokus utamaku hanyalah demi menyelidiki rahasia Empat Makhluk Suci dan Ouryuu yang memicu luapan rasa ingin tahuku yang teramat besar.”

ilust

Mendengar pernyataan egosentris dari Koga tersebut, Azazel hanya bisa berucap, ‘Ini benar-benar merepotkan,’ dalam nada suara yang terdengar heran.

Tobio sendiri… masih belum bisa menebak apa niat dan tujuan asli dari Koga. Namun mengingat bagaimana kejamnya pemuda itu saat membantai sisa-sisa anggota dari Agensi Utsusemi sebelumnya, Tobio tetap menaruh rasa kewaspadaan yang tinggi terhadapnya.

Setelah Azazel selesai memastikan ketetapan hati dari setiap orang yang berada di sana, sebuah hawa dingin yang mendadak mencekam tiba-tiba berembus ke arah mereka. Pandangan mata semua orang seketika terfokus ke satu arah yang sama.

…Tampaknya sosok Lavinia yang telah dibajak oleh Augusta kini tengah bergerak mendekati posisi mereka.

Sae tampak menengadahkan telapak tangannya ke udara, dan sesuatu yang hinggap di atas kulitnya adalah butiran putih—salju. Ia menatap ke arah langit dengan tatapan mata yang sarat akan kecurigaan.

“…Salju?”

Butiran itu lambat laun semakin lebat hingga akhirnya—berubah menjadi fenomena turunnya salju yang sama sekali tidak sesuai dengan musimnya.

Azazel menyahut. ‘…Salju, ya. Jika Sacred Gear milik Lavinia sampai menaikkan kapasitas kemampuannya, hal itu memungkinkan untuk menciptakan badai salju ekstrem lewat manipulasi cuaca abnormal… bahkan bisa memicu badai es total.’

Kemampuan yang bahkan sanggup menulis ulang kondisi cuaca alam sekitar. Hal itu sekali lagi mengingatkan Tobio dan yang lainnya akan ancaman mengerikan dari karakteristik khusus yang dimiliki oleh Sacred Gear milik Lavinia—dari Longinus.

Setelah itu, Tobio dan kawan-kawan mendengarkan pembagian strategi penanggulangan secara mendetail dari mulut Azazel. Azazel kemudian melontarkan kalimat penutup sebagai kesimpulan.

‘Setelah aku berhasil terhubung kembali dengan Barakiel, kami akan segera berkoordinasi untuk tiba di lokasi kalian secepat mungkin. Astaga, bagi seorang Gubernur Jenderal sendiri untuk menampakkan diri secara langsung di lapangan sebenarnya adalah tindakan yang teramat berisiko, lho. Terlebih ini berlangsung tepat di hadapan Mephisto. Lagi pula, kalian semua!’

Azazel berseru lantang kepada semua orang yang ada di sana.

‘Jangan sampai mati, paham!? Masih ada banyak hal yang harus kuajarkan kepada kalian nanti. Bawa pulang kembali Lavinia!’

[YA!!!]

Semua orang berseru kompak dengan satu kesatuan tekad yang membakar dada.

Operasi penyelamatan Lavinia telah resmi dimulai—.

 

2

Badai salju yang benar-benar tidak sesuai dengan musimnya itu kian lama kian bertiup kencang, dan dalam prosesnya, timbunan salju mulai menumpuk di seluruh area tersebut. Salju bahkan telah menebal hingga ke titik di mana kaki mereka meninggalkan jejak yang jelas setiap kali melangkah.

Demi mencegah Lavinia yang telah dibajak oleh Augusta pergi semakin jauh hingga mencapai desa, Tobio dan yang lainnya telah bersiap menghadangnya di lereng gunung dekat wilayah desa—tepatnya di tepi sebuah kolam yang luas. Lokasi ini berada tepat di titik paruh antara tempat pertempuran Lavinia sebelumnya dan tempat di mana teman-teman mereka tadi saling berkumpul kembali.

Sangat mudah untuk memahami mengapa mereka menyepakati area sekitar kolam ini sebagai medan pertempuran. Di tepi kolam tersebut—situasi ke segala penjuru dapat dimata-matai dengan jelas sembari mereka tetap bersembunyi di balik tempat perlindungan. Kini mereka tengah menanti kemunculan Lavinia.

Akan tetapi, meski mereka tetap diam terpaku di sana, suhu udara terus-menerus merosot tajam. Embusan napas mereka tampak memutih di udara dan tubuh mereka tidak bisa berhenti menggigil. Hal itu wajar saja, karena pada saat mereka berangkat dari markas di mansion, mereka sama sekali tidak terpikir untuk mempersiapkan langkah darurat menghadapi cuaca dingin yang ekstrem.

Tak lama berselang, dari tengah-tengah tirai salju yang lebat, mereka menangkap siluet sesosok tubuh di seberang tepian kolam. Itu adalah seorang gadis jubah putih—Lavinia.

Sebagai awal dari bagian pertama strategi mereka, trio Natsume, Samejima, dan Koga akan memusatkan seluruh perhatian mereka kepada Lavinia—atau lebih tepatnya, kepada Augusta. Natsume dan yang lainnya segera melompat keluar dari balik tempat persembunyian.

Pihak lawan pun langsung menyadari pergerakan mereka. Namun saat ia mengambil satu langkah maju…. Begitu mencapai bibir kolam, ia terus melangkahkan kakinya menuju ke permukaan air kolam tanpa menghentikan langkahnya. Begitu saja dia mengambil langkah berikutnya—.

Anehnya, kaki gadis itu sama sekali tidak tenggelam ke dalam kolam. Hal itu disebabkan karena air kolam tersebut telah membeku menjadi es. Augusta melangkah maju secara perlahan di atas kolam yang membeku itu selangkah demi selangkah.

‘Oh astaga, tiga anak dari Empat Makhluk Terkutuk.’ Augusta mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan raut wajah yang tampak terhibur.

‘Jadi si anjing dan naga putih tidak ada di sini, ya. Mungkinkah mereka sedang memasang sejenis perangkap tersembunyi?’ Augusta menyunggingkan senyum tanpa rasa takut.

Aura es yang pekat mendadak berhimpun di belakang tubuhnya, yang kemudian mulai memadat membentuk sesuatu. Bentukan itu memanifestasikan sepasang lengan, kepala, dan gaun. Begitu melihat apa yang mewujud di belakang Augusta, napas semua orang seketika tertahan.

—Sebab sesosok putri es raksasa dengan tinggi belasan meter telah menampakkan wujudnya!

Padahal wujud yang biasanya dikerahkan oleh Lavinia sebelumnya hanya memiliki tinggi sekitar tiga meter. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mendalam melihat wujud Sacred Gear es yang ukurannya melonjak sekitar empat kali lipat dari biasanya. Mungkinkah ukurannya benar-benar bisa berubah sedrastis ini hanya karena digerakkan oleh orang yang berbeda? Ataukah Lavinia yang biasanya justru sengaja menekan balik luapan kekuatannya? Dulu gadis itu memang pernah berkata bahwa dia tidak bisa mengendalikan kekuatan Longinus tersebut dengan sempurna, tapi….

Augusta mengacungkan tongkatnya ke depan dan sejumlah lingkaran sihir seketika mengembang luas di hadapannya.

‘Nah kalau begitu, siapa yang akan menjadi lawan pertamaku?’ Energi sihir sang penyihir tua melonjak hebat, dan berbagai sihir dengan bermacam-macam atribut langsung ditembakkan bertubi-tubi dari lingkaran-lingkaran sihir tersebut!

“Griffon!”

“Ayo maju, dasar keparat!!”

Natsume segera meluncurkan Griffon ke angkasa bersamaan dengan Samejima yang membelitkan ekor Byakusa yang menyerupai tombak di sekeliling lengannya.

Hujan panah es dan bola api yang tercipta dari sihir melesat cepat mengincar Griffon yang tengah terbang di langit. Namun, Griffon berhasil menghindari semuanya dengan lincah. Sementara itu, saat dihujani oleh rentetan petir sihir, Samejima menangkisnya menggunakan tombak ekor Byakusa yang telah diselimuti elemen listrik. Meski begitu, daya hantam sihir tersebut teramat dahsyat, sampai-sampai setiap hantaman yang ia tahan berakhir mendorong tubuhnya mundur ke belakang.

Koga dengan cekatan memanipulasi gauntlet yang terpasang di lengan kanannya, lalu mengaktifkan fase sebelumnya bersamaan dengan Sacred Gear miliknya sendiri—Blitz.

“—Balance Break.”

[Si-xiong HúnDùn Over Booster!!!!]

Aura hitam pekat menyebar luas berbarengan dengan gema suara tersebut, mengubah penampilannya menjadi wujud zirah bertenaga.

—Namun, Tobio tidak melewatkan fakta bagaimana tepat di saat Koga mengambil wujud ini, tubuhnya sempat limbung sedikit untuk sesaat. …Mungkinkah itu adalah efek negatif yang timbul akibat transformasi tersebut?

Tepat saat ia mengkhawatirkan hal itu, Koga yang telah berhasil memulihkan posisi tubuhnya dengan cepat segera berdiri di depan Natsume. Menggunakan rambutnya yang memanjang dan mengeras dari kepalanya, ia menghantam hancur setiap sihir yang mendekat ke arah gadis itu.

Koga berucap, “Minagawa, aku yang akan maju di depan. Karena kau adalah manusia biasa dari darah dan daging, kau bisa langsung berubah jadi abu jika terkena satu serangan saja, 'kan?”

“Terima kasih! Tapi mau bagaimana lagi! Griffon milikku masih belum bisa bertransformasi dengan mudah!” sahut Natsume atas saran blak-blakan dari Koga.

Dalam pertempuran melawan Agensi Utsusemi sebelumnya, Griffon milik Natsume dan Byakusa milik Samejima memang sempat bertransformasi ke wujud monster sejati mereka, namun tidak ada tanda-tanda hal itu akan terjadi dalam kondisi sekarang.

Rambut Koga yang mengeras mendadak memisahkan diri dengan sendirinya, menciptakan untaian yang menyerupai cambuk. Dengan cambuk-cambuk tersebut, dia menyapu bersih baik sihir yang ditembakkan Augusta maupun serangan es dari putri es raksasa yang berdiri di belakang sang penyihir.

Sembari menghancurkan serangan lawan, Koga kembali berbicara.

“Begitu, ya. Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”

Untaian cambuk rambut yang diproduksi Koga dengan cepat menjulur panjang ke arah Griffon yang tengah terbang dan Byakusa yang berada di bahu Samejima. Cambuk itu langsung melilit tubuh Griffon dan Byakusa.

Tepat di saat semua orang bertanya-tanya ‘apa yang terjadi’, zirah bertenaga Koga mendadak bersinar terang. Sejenis energi berhimpun di bagian kepalanya, yang kemudian mengalir melewati untaian cambuk dan masuk ke dalam tubuh Griffon serta Byakusa yang terlilit. Griffon dan Byakusa mulai memancarkan cahaya yang sama persis seperti Koga—.

Secara bersamaan, tubuh Natsume dan Samejima tampak berdenyut dengan jelas. Dalam sekejap, pendaran cahaya dari Griffon dan Byakusa melonjak semakin dahsyat, memancarkan kilatan terang benderang ke area sekitar.

…Begitu kilatan cahaya itu mereda, sesosok binatang raksasa berkaki empat yang menyerupai monster griffon dengan dua pasang sayap di punggungnya tampak tengah terbang di udara. Sementara di samping Samejima, kini berdiri seekor binatang putih raksasa dengan banyak ekor panjang dan taring mencuat layaknya harimau bertaring pedang.

—Griffon dan Byakusa telah bertransformasi ke wujud monster raksasa mereka.

Melihat hal itu, Augusta mengerang pelan.

‘Oho, mereka kembali ke wujud asli dari Empat Makhluk Terkutuk. Tampaknya sisa kekuatan dari Balance Breaker Buatan yang dianugerahkan oleh Satanael telah memaksa mereka untuk mengambil ke wujud tersebut.’

Koga melepaskan lilitan cambuk rambutnya dari Griffon dan Byakusa lalu mengedikkan bahu.

“Aku hanya membagi kelebihan kekuatan yang tidak bisa kukendalikan kepada mereka. Yah, ini harusnya bisa membuat situasi jadi sedikit lebih baik untuk sementara waktu.” Sembari berbicara, ia meluncurkan cambuk rambutnya ke arah Augusta.

…Kelebihan kekuatan yang tidak bisa ia kendalikan….

Tobio tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya yang kian menebal melihat kondisi berbahaya dari tubuh Koga saat ini. Akan tetapi, Natsume dan Samejima—meskipun berkat bantuan Koga—kini telah berhasil mendapatkan kembali kekuatan transformasi dari pertempuran melawan Agensi Utsusemi sebelumnya, sehingga daya serang mereka melonjak drastis.

“Griffon… bukan, tunggu! Kyuuki! Ciptakan badai!”

“Kalau begitu ayo, Toukotsu!! Hancurkan dia dengan petir!!!”

Partner mereka—Empat Makhluk Terkutuk, setelah mendengar perintah dari Natsume dan Samejima, langsung menyemburkan badai angin kencang dan sambaran petir masif, yang dayanya jauh melampaui serangan sebelumnya, tepat ke arah Augusta.

Dengan membentangkan berlapis-lapis lingkaran sihir, Augusta balas menembakkan pilar-pilar es di samping tombak es yang dihujankan oleh putri es. Ekspresi wajahnya kini telah kehilangan ketenangan sebelumnya saat ia meluncurkan serangan balasan yang sesuai dengan reputasinya.

Melalui kombinasi serangan dari Natsume, Samejima, dan Koga, mereka berhasil menahan pergerakan Augusta di tempatnya. Dan dengan begitu, di depan mata mereka sendiri, salah satu analisis yang disampaikan Azazel terbukti kebenarannya.

Semuanya terjadi tepat seperti apa yang dikatakan Azazel sebelumnya.

‘Kemungkinan besar, penyihir tua Oz itu tidak akan menggunakan sihirnya sendiri bersamaan dengan dua Longinus sekaligus. Aku memperkirakan dia paling banyak hanya akan mengombinasikan sihir dengan satu Longinus saja. Untuk menggunakan dua Longinus secara simultan, dia tidak akan nekat melakukannya kecuali dalam situasi yang benar-benar terdesak.’

Mendengar hal itu, Natsume sempat bertanya, “Kenapa?”

Kala itu, Azazel menjawab sebagai berikut.

‘Bagi Sacred Gear, kecuali dalam situasi yang sangat ekstrem, atau mungkin bagi individu yang luar biasa langka, menggunakan dua jenis secara bersamaan adalah hal yang sangat berat. Terutama bagi Longinus yang merupakan Sacred Gear tingkat keterlaluan, mengaktifkan dua jenis sekaligus akan… menjadi beban yang luar biasa masif bagi tubuh. Paling ringannya, stamina dan energi sihir pengguna akan terkuras habis total. —Bahkan ada kemungkinan hal itu akan mengikis paksa garis usia penggunanya. Jika ia nekat menembakkan sihir di atas beban itu, entah harga seberat apa yang harus ia bayar nantinya. Tentu saja sang penyihir telah meningkatkan kewaspadaannya karena ia berharap bisa memakai dua Longinus, tapi sebaliknya, pihak lawan justru bisa memanfaatkan celah itu untuk memojokkannya.’

Azazel lalu menambahkan satu hal terakhir.

‘Bagaimanapun juga, menghadapi lawan yang memegang Longinus akan menuntut upaya yang sepadan. Jika pertempuran ini bisa diseret hingga waktu yang lama, aku rasa celah bagi kalian untuk menang akan terbuka lebar. Jangan gunakan serangan mencolok yang memakan terlalu banyak stamina. Cukup kerahkan kekuatan yang kalian butuhkan untuk mengimbangi serangannya, lalu ulur waktu selama yang kalian bisa. Aku yakin ia akan mulai kesulitan secara tiba-tiba.’

Melalui serangan bertubi-tubi dari wujud transformasi Sacred Gear milik Natsume dan Samejima, Augusta kini mulai bertarung sembari diselimuti oleh luapan energi yang pekat. Lambat laun, jika situasi ini terus bertahan—.

Namun, meski mereka menunggu, semuanya akan menjadi sia-sia jika wanita itu berhasil melarikan diri di saat-saat terakhir.

Tepat di saat trio Natsume memojokkan Augusta, bagian strategi mereka berikutnya mulai bergerak.

Sebuah kilatan putih mendadak melesat turun ke medan pertempuran—.

Itu adalah Vali yang tengah mengepakkan sayap cahayanya. Aura yang melonjak dari dalam tubuh Vali telah terakumulasi menjadi gumpalan energi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dengan memosisikan dirinya di jarak yang agak jauh tadi, dia rupanya telah menyelesaikan persiapan untuk meningkatkan auranya untuk sementara waktu demi menyatukannya dengan jiwanya. Fakta bahwa dia menampakkan diri di sini menandakan bahwa persiapannya telah rampung sepenuhnya.

Augusta berbicara kepada Vali yang tengah melayang di angkasa.

‘Jadi akhirnya kau menampakkan diri juga, bocah Hakuryuukou.’

Vali menyahut dengan ekspresi wajah yang teramat tidak senang.

“…Betapa cerobohnya. Untuk ukuran penyihir tua dari Oz, aku sebelumnya menilai bahwa dia sendiri harusnya sudah lebih dari cukup untuk memberikan perlawanan. Tapi nyatanya, karena sosok yang berjasa baginya berada di pihak lawan… hal itu pasti memberikan pengaruh negatif pada Sacred Gear miliknya.”

Mendengar kalimat tersebut, Augusta menyunggingkan senyuman yang teramat memuakkan, lalu nekat mempergunakan nada bicara milik Lavinia sendiri.

‘Vaa-kun, kuharap kau tidak terlalu marah karena masalah ini. Bukankah kau ingin tetap menjadi Vaa-kun yang keren seperti biasanya?’

Hal itu—kemungkinan besar adalah sebuah tabu. Itu adalah batasan yang sama sekali tidak boleh dilanggar.

Aura yang menyelimuti tubuh Vali—seketika tersembur keluar dalam kapasitas yang luar biasa masif. Raut wajah anak laki-laki itu kini sepenuhnya dipenuhi oleh kemarahan yang membakar.

“…Dengan wajah dan suara itu, beraninya kau menyebut namaku…? Menginjakkan kakimu ke dalam teritoriku… dengan kaki sekotor itu……”

Sembari gemetar hebat, Vali berteriak lantang.

“Akan kubantai kau habis-habisan hanya dalam waktu setengah menit!!! Balance Break!!!”

[Vanishing Dragon Balance Breaker!!!!!!!!]

Bersamaan dengan gema suara yang bergaung, tubuh Vali melepaskan kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata—.

Setelah cahaya itu mereda, apa yang terpampang di sana adalah armor pelat putih bersih yang tengah mengepakkan sayap cahaya. Itu adalah wujud Balance Breaker milik Vali—Divine Dividing Scale-mail. Armor tersebut memanifestasikan bentuk yang pas dengan postur tubuh Vali yang kecil.

Albion berseru memperingatkan.

[Vali! Kau hanya bisa mempertahankan wujud armor ini dalam waktu yang sangat singkat!]

“Sepuluh detik pun sudah lebih dari cukup!!”

Begitu mengaktifkan kemampuannya, Vali memanfaatkan kecepatan tingginya untuk menyentuh tubuh Augusta sekali sebelum akhirnya melesat mundur mengambil jarak. Mengincar posisi Vali yang tengah menjauh, Augusta segera membentangkan lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya.

‘Astaga, betapa mengerikannya!! Jadi kau sudah bisa memicu Balance Breaker bahkan dengan tubuh sekecil itu! Bukankah ini sangat luar biasa! Tapi! Bagaimana dengan ini!’

Dari lingkaran sihir yang tak terbilang banyaknya, dia meluncurkan rentetan sihir dalam skala yang sama sekali tak sebanding dengan serangan apa pun sebelum ini.

Kobaran api, bongkahan es, embusan badai, sambaran petir, kegelapan, hingga cahaya; itu adalah rentetan penuh dari segala jenis elemen. —Namun, Vali sama sekali tidak bergeming. Dia merangsek maju dengan kecepatan tinggi, meningkatkan aura tubuhnya hingga batas maksimal, lalu mengacungkan tangan kanannya ke depan.

“—Bagi dua!!”

[Divide Divide Divide Divide Divide Divide Divide Divide!!!!]

Bersamaan dengan gema suara yang menandakan aktifnya kemampuan tersebut bergaung berkali-kali, sebuah perubahan drastis terjadi pada volume dan skala dari sekian banyak sihir yang mengincar Vali. Serangan sihir itu menyusut menjadi setengahnya, lalu menyusut lagi menjadi setengahnya, dan berkurang lagi menjadi setengahnya seolah-olah mengalami reduksi yang berulang-ulang secara instan.

Hingga akhirnya, gempuran penuh dari serangan sihir tersebut telah menyusut ke skala yang hampir setara dengan ketiadaan. Vali dengan mudah menepis sisa serangan itu hanya dengan kibasan tangannya. Dia memang belum bisa mengurangi kekuatan dari Augusta sendiri menjadi setengahnya, namun hal itu terbukti sangat efektif untuk sihir milik sang penyihir.

Augusta terbelalak syok.

‘—Kemampuan reduksi menjadi setengah milik Hakuryuukou! Saat berada dalam fase Balance Breaker, kekuatannya bahkan bisa mencapai tingkat sejauh ini!’

Vali menghimpun aura yang luar biasa masif di tangannya lalu menembakkannya lurus ke arah Augusta! Augusta sempat membentangkan lingkaran sihir tipe pertahanan, tapi—.

Akibat gempuran pengeboman aura dari Vali yang berada dalam wujud armor telah melampaui prediksi Augusta baik dalam hal kekuatan maupun densitasnya, sang penyihir tua seketika terdesak hingga berlutut menahan beban.

‘……!!! Bagaimana bisa seorang anak kecil memiliki kekuatan sebesar ini…!! Ini adalah kekuatan Dua Naga Langit…!!! Jadi ini adalah Lucifer!’

Akibat daya hantam dari pengeboman aura tersebut, retakan-retakan mulai tercipta di permukaan kolam membeku yang menjadi pijakan kakinya, yang kemudian mulai menjalar luas ke segala arah.

Menyadari bahwa Augusta telah berlutut di tempatnya, Vali segera mengalihkan pandangannya ke arah putri es raksasa di belakang wanita itu.

“Akan kunegasikan itu!”

Sembari mengacungkan tangannya, Vali melepaskan tembakan bom aura ke arah putri es! Menyadari ancaman tersebut, sang putri es turut menjulurkan keempat lengannya dan memproduksi tombak-tombak es dalam jumlah masif dengan kekuatan yang luar biasa.

Sang putri es kemudian meluncurkan tombak-tombak itu ke arah Vali yang tengah melayang di udara. Meski Vali menembak jatuh tombak-tombak tersebut menggunakan auranya, dia terus merangsek mendekat, dengan cepat menyentuh tubuh putri es sekali, lalu kembali melesat mundur mengambil jarak. Ia kemudian mengarahkan kemampuan reduksinya kepada sang putri es.

“Terbagilah menjadi dua!”

Bahkan pemandangan di sekitar putri es tampak terdistorsi hebat. Tampaknya kemampuan Vali bahkan bisa memengaruhi ruang di sekitarnya.

Aura reduksi milik Vali menyelimuti tubuh putri es, tampak mulai menyusutkan ukurannya—namun sang putri es juga melepaskan aura putih kebiruan yang pekat, dan terbukti mampu menahan efek tersebut. Aura reduksi Vali dan aura es milik putri es saling berbenturan sengit—bukan, aura milik putri es justru tampak mendesak balik, bahkan ruang di sekitarnya yang sempat terdistorsi lambat laun mulai kembali ke kondisi semula.

Mungkinkah aura milik putri es sanggup melampaui kekuatan Vali yang sekarang?

Tidak, jika dibandingkan dengan saat ia pertama kali bertransformasi, aura yang menyelimuti tubuh Vali kini telah meredup drastis. Berdasarkan fakta ini… tampaknya ada batas waktu yang sangat ketat mengenai seberapa lama dia bisa mempertahankan wujud ini. Mereka memang telah mendengar kabar bahwa untuk saat ini Vali hanya bisa memicu Balance Breaker dalam waktu yang teramat singkat.

Bakat Vali adalah sesuatu yang mutlak. Dia berhasil mencapai fase Balance Breaker yang merupakan evolusi tertinggi dari sebuah Sacred Gear di usianya yang masih sangat belia. Namun, bakat emasnya itu tidak serta-merta datang bersamaan dengan kuantitas cadangan aura yang memadai di dalam tubuhnya sendiri. Dengan kata lain, meski dia bisa memasuki fase Balance Breaker, dia kini telah kehabisan bahan bakar.

Meski begitu, Vali… tetap membalas dengan sisa aura yang dia miliki tanpa membubarkan wujud transformasinya.

“Bagi dua, bagi dua! Bagi dua bagi dua bagi dua bagi dua bagi dua bagi dua bagi dua……!!!”

Bagaikan seorang anak kecil yang berteriak histeris karena kehilangan kendali atas dirinya, Vali entah bagaimana berhasil menyemburkan luapan auranya hingga batas tertinggi kekuatannya tepat ke arah putri es. Vali menjerit lantang dari langit—.

“Jika menahan beban sejauh ini saja aku tidak becus, maka untuk bisa menghantam pria itu—untuk bisa menghantam Rizevim akan menjadi hal yang mustahil!!! Dan lagi, melihat orang baik terluka di depan mataku sendiri adalah sesuatu yang sama sekali tidak akan kubiaaaaarkan!!!”

Dia meneteskan air mata sembari menjerit dengan volume suara yang teramat frustrasi—.

Vali melepaskan apa yang tampak seperti sisa kekuatan terakhir dari dalam tubuhnya! Kuantitas aura yang luar biasa masif tersembur keluar dari dalam postur tubuhnya yang mungil.

“Oleh karena itu, terbagilah menjadi duAAAAaaaaaAAAAaa!!!”

—Tepat di waktu itu.

Sebuah suara retakan kering yang memekakkan telinga bergaung di seluruh area. Hal berikutnya yang bisa mereka lihat, salah satu lengan milik putri es telah hancur meledak. Tidak terbatas pada fenomena itu saja, seluruh tubuh putri es tampak terdistorsi baik secara vertikal maupun horizontal seiring ukurannya yang tampak kian menyusut!

Lengan lainnya ikut melayang hancur, gaunnya runtuh, dan akhirnya bagian kepalanya pun ikut patah terlepas.

Melihat wujud putri es hancur lebur dan menghilang, Albion berseru lantang.

[—Berhasil! Kita berhasil, Vali!]

Wujud armor itu seketika lenyap seiring Vali yang kembali ke wujud normalnya. Napasnya terengah-engah dengan berat dan menyakitkan, tetapi ekspresi wajahnya kembali menunjukkan kepolosan seperti biasanya.

“…Tentu saja. Karena aku adalah… keturunan dari Maou, Vali Lucifer….”

Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Vali kehilangan kesadarannya dan langsung jatuh merosot dari angkasa. Natsume dan Samejima dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum sempat menghantam permukaan tanah.

Samejima berucap sembari membopong tubuh Vali.

“…Kau benar-benar seorang lelaki sejati, Lucidra-sensei. Astaga, selalu saja memaksakan diri!”

Tobio, setelah memastikan pencapaian luar biasa dari Vali, kini telah merangsek maju, mendekati posisi Augusta selangkah demi selangkah. Lima untai tasbih doa tampak terpasang di lengannya. Si anjing hitam Jin berada setia di sampingnya—.

Sembari meneteskan air mata, Natsume berteriak lantang ke arah Tobio dan Jin.

“Vali sudah memperlihatkan aksi kerennya!! Ikuse-kun!!! Tobio!! Tebas dia sekarang jugaaaaAAAAAAA!!!”

“—Ya, aku mengerti.”

Ia telah menetapkan hatinya sepenuhnya.

Sembari berjalan maju, Tobio merapalkan mantra terlarang yang sebelumnya telah diajarkan oleh Azazel.

<<——Melolonglah atas pembantaian seribu manusia fana.>>

Kegelapan—mulai berhimpun di sekelilingnya. Kegelapan dari dunia ini, kegelapan dari keabadian, segala wujud yang pekat menyelimuti satu orang manusia dan satu ekor binatang tersebut. Di tengah wujudnya yang tengah dibentuk ulang oleh kegelapan abadi, Tobio mendadak teringat akan untaian kalimat yang pernah diucapkan oleh Lavinia.

 

—Bagi diriku di masa itu, jika dibandingkan dengan kondisiku yang sekarang, akibat kehilangan Papa dan Mama, aku benar-benar terpuruk—dan aku diselimuti oleh rasa benci terhadap ‘Iblis Es’.

 

<<——Bernyanyilah atas pembantaian sepuluh ribu makhluk gaib.>>

Lavinia-san, saat aku kehilangan Sae dulu, aku pun sempat didera oleh kesedihan dan kebencian yang mendalam. Oleh karena itu, meski tidak sepenuhnya sama, kurasa aku bisa memahami apa maksudmu waktu itu.

Ini adalah apa yang dirasakan oleh Tobio.

 

—Untuk itu, karena ini adalah situasiku, aku ingin kalian semua memenuhi tujuan kalian masing-masing. Aku tidak ingin menjadi penghambat. Biarpun aku harus melakukannya sendirian, aku akan tetap memburu mereka.

 

<<——Namaku, yang tenggelam dalam kegelapan terdalam, adalah Dewa Tiruan yang melintasi Malam Kutub.>>

Lavinia telah menyelamatkan mereka. Gadis itu telah mendukung mereka hingga saat-saat terakhir. Baik itu kekuatan supernatural, maupun monster; bersama dengan mereka yang baru saja menapakkan kaki ke dalam dunia yang benar-benar asing ini, dia telah bertarung melawan Agensi Utsusemi hingga akhir.

 

—…Natsume, Shark, Shaae, Toby… terima kasih.

 

<<——Wahai kalian, binasalah oleh bilah hitamku.>>

Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku kepada gadis itu. Mereka semua pun demikian.

Karena berkat dirimu, Sae akhirnya bisa kembali pulang, dan aku pun bisa kembali dari fase Balance Breaker—.

 

—Pada tipe Avatar Independen, walaupun kau mencoba menyelidiki kekuatan yang tertidur di dalamnya, di saat kau mendekati kebenaran tersebut ada kemungkinan kau akan tertelan oleh kekuatan itu. Dirimu yang lain adalah bagian dari dirimu, versi lain dari dirimu. Kalau kau menunjukkan celah sedikit saja, versi lain dari dirimu itu bisa bertukar posisi denganmu.

 

Aku juga memahami detail itu. Aku sangat paham bahwa sesuatu yang bersemayam di dalam diriku ini teramat sangat berbahaya.

Dari hari ke hari, rasa takut bahwa kesadaranku akan dicuri olehnya kian tumbuh menguat.

Namun, untuk benar-benar mendekatinya, untuk menyelidiki kekuatan yang tertidur di dalam, Tobio merasa hal itu adalah urusan nomor dua.

Aku—bersama Sae, bersama semua orang, demi membawa dirimu kembali ke tempat yang aman, justru karena kami diserang oleh ketidakadilan inilah, kami memutuskan untuk meraih kekuatan ini.

Tobio menyerukan bait terakhir dari mantranya. Tubuhnya, yang telah diselimuti sepenuhnya oleh kegelapan pekat, kini mengambil wujud seekor binatang dengan enam buah ekor.

<<——Betapa bodohnya Engkau, wahai Tuhan berwujud aneh.>>

OOOOOOooooooOOOOOOOOOON…….

Di sampingnya, Jin melepaskan lolongan yang teramat dahsyat—. Raungan itu terbukti bergaung secara visual di seluruh area sekitar.

Azazel telah mengajarinya nama dari wujud Balance Breaker ini—.

—Night Celestial Slash Dogs (Dewa Anjing Bilah Terdistorsi di Langit Malam Bercahaya).

Mungkin akibat aura kegelapan yang dilepaskan oleh Tobio dan Jin, hujan salju yang sebelumnya dipicu oleh putri es mendadak terhenti, dan pancaran cahaya bulan mulai mengintip dari balik awan yang sarat akan salju.

…Jika dibandingkan dengan kesempatan sebelumnya, kesadarannya kali ini tidak sepenuhnya didominasi oleh sesuatu yang bersemayam di dalam dirinya. Berkat tasbih doa yang terpasang di lengannya, Tobio berhasil mempertahankan kepribadian aslinya…. Namun, retakan-retakan sudah mulai tercipta di salah satu untai tasbih doa tersebut. …Ia tidak bisa mempertahankan wujud transformasi ini untuk waktu yang lama.

Sepasang binatang itu, sembari disinari oleh cahaya bulan, mulai memproduksi senjata khusus mereka dari dalam bayangan. Tobio mencengkeram sabit besarnya. Di sisi lain, pedang yang digigit oleh Jin di mulutnya kini telah terukir dengan pola terlarang—sebuah mantra kuno.

Sebuah fenomena aneh turut terjadi pada pemandangan alam di sekitarnya, di mana pedang-pedang cacat berukuran raksasa mulai bermunculan satu demi satu dari permukaan tanah. Itu adalah efek samping dari aktifnya Night Celestial Slash Dogs, sebuah imbas dari luapan aura kegelapan.

Di tengah-tengah pemandangan alam yang telah berubah total itu, keduanya mempersiapkan senjata masing-masing, mendekati Augusta yang telah berlutut di tempatnya. Pandangan mata Augusta tertuju ke arah mereka.

‘—Jadi si anjing hitam berhasil meneruskan jejak Vanishing Dragon. Astaga, wujud Balance Breaker putih dan hitam sekaligus. Mungkinkah sesuatu tengah terjadi dengan Longinus di dunia ini….’

Meski bergumam demikian, Augusta mulai bangkit berdiri, sembari membentuk sebuah lingkaran sihir di depan tangannya.

‘Bahkan jika boneka putri es telah dihancurkan, terlalu terburu-buru untuk berpikir bahwa semuanya telah diputuskan! Saksikanlah sendiri sihir dari Oz!’

Dalam skala yang sama sekali tidak sebanding dengan sebelumnya, lingkaran sihir dalam jumlah yang seolah tanpa batas terbentuk hingga sepenuhnya memenuhi seluruh area tersebut! Dari lingkaran-lingkaran itu, berbagai jenis sihir dari bermacam-macam atribut ditembakkan tidak hanya kepada Tobio, melainkan kepada setiap orang yang berada di area sekitar!

Cakupan dari gempuran sihir tersebut berada pada tingkat di mana tampaknya tidak hanya mereka yang akan celaka, melainkan tingkat kerusakan masif pun akan menimpa seluruh area sekitar—hingga ke gunung itu sendiri. Bahkan ada kemungkinan hal itu akan berimbas sampai ke area desa.

Tepat saat sihir berskala raksasa itu meluncur deras mengincar posisi Tobio, untaian kalimat Azazel mendadak terlintas di dalam benaknya.

—Bilahmu bukan sekadar teknik untuk memotong setiap objek fisik. Bilahmu adalah pedang khusus yang mampu memotong bahkan hal tak berwujud seperti konsep, termasuk teknik ataupun sihir.

Tobio bersiap mengayunkan sabitnya—. Pola mencurigakan pada bilah pedang yang digigit di mulut Jin memancarkan kilauan terang.

—Lagi pula, wujud itu adalah Sacred Gear yang diklaim mampu memotong bahkan dewa sekalipun.

[——Kill (Bantai). ……Kill (Putuskan). ……Kill (Mari babat habis). ……Kill (Bunuh). ——Saksikan caraku membantai!!]

Tobio membuat satu ayunan masif dengan sabitnya! Jin turut melesat maju, menyapu pedangnya dari sisi ke sisi!

Sebuah daya kejut yang teramat dahsyat mengguncang udara dengan hebat, menyebar luas ke seluruh penjuru! Secara bersamaan, salah satu untai tasbih doa di lengannya hancur berantakan.

Sepasang belahan, seolah-olah ruang itu sendiri telah robek terbelah, tercipta tepat di depan mereka. Hal yang sama pun terjadi pada jalur rentetan serangan sihir tak terhitung yang tadinya meluncur ke arah mereka.

Dan kemudian—. Setelah terpotong oleh serangan tebasan Tobio dan Jin, rentetan sihir itu meledak dalam skala yang luar biasa masif.

Tidak hanya Tobio dan yang lainnya sama sekali tidak terluka, melainkan melihat sihirnya hancur terpotong tepat di depan matanya sendiri membuat mata Augusta terbelalak ngeri sembari tubuhnya gemetar hebat.

‘Nah kalau begitu, jika situasinya seperti ini, bagaimana dengan ini!! Raihlah kedamaian lewat Salib Suci, wahai Imam Agung Api Ungu!!!’

Kobaran api ungu seketika melonjak dari seluruh tubuh Augusta, yang kemudian memadat membentuk sesosok raksasa dari api ungu di sampingnya. Raksasa itu segera mengayunkan salib yang digenggamnya lurus ke arah Tobio dan Jin, melepaskan semburan api ungu yang teramat masif.

Tobio dan Jin dengan sigap melesat dari posisi tersebut, mengikis jarak dengan kecepatan tinggi yang sama sekali tak bisa diikuti oleh pandangan mata Augusta. Menghampiri posisi raksasa api ungu dalam sekejap mata, ia mengayunkan sabitnya dalam jarak dekat. Raksasa itu turut merespons dengan cepat, menggunakan salibnya demi menahan sabit Tobio—namun Jin, yang telah memutar ke arah belakang, segera meluncurkan tebasan ke arah raksasa tersebut dari posisi buta.

Tepat di saat pedang di mulut Jin—yang telah terukir dengan mantra terlarang—menebas tubuh raksasa tersebut, sensasi dari tebasan itu tampaknya langsung tersalurkan kepada pemilik aslinya, Augusta—.

‘GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHH!’

Sebuah jeritan lantang tanpa kata seketika lolos dari mulutnya.

Tentu saja, mereka telah mengontrol dayanya sedemikian rupa agar tidak sampai merusak tubuh fisik Lavinia. Pada akhirnya, hanya Augusta yang tengah merasuki tubuh itulah yang menderita kerusakan.

Pergerakan raksasa itu turut melambat, namun ia tetap bersikeras mengayunkan salibnya. Tobio menghindari gempuran raksasa tersebut dengan pergerakan sekecil mungkin. Terkadang, sisa-sisa kobaran api ungu akan melesat terbang, tapi hal itu pun bisa dihindari dengan cepat oleh Tobio.

Dalam kondisinya yang sekarang, pergerakan raksasa itu terasa jauh terlalu lambat bagi Tobio. Lambat dan teramat berat. Dalam rentang waktu yang dibutuhkan lawan untuk membuat satu pergerakan saja, Tobio dan Jin sudah bisa mengeksekusi sepuluh kali tebasan.

Tanpa ampun, mereka mencacah habis wujud raksasa api ungu tersebut; Tobio dengan sabitnya dan Jin dengan pedangnya. Sembari melakukan hal ini, satu untai tasbih doa lainnya kembali hancur berantakan.

Setelah berhasil memotong hancur raksasa tersebut, Tobio mengikis jarak dengan Augusta dan mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Kini yang tersisa hanyalah memotong dan memisahkan Augusta sepenuhnya dari tubuh Lavinia.

—Namun, seolah menyadari ancaman tersebut, Augusta sekali lagi menyelimuti dirinya sendiri dengan kobaran api ungu, membungkus tubuh Lavinia di dalam kobaran api.

‘Bagaimana? Apakah aku harus menggunakan kobaran api ini untuk mengubah tubuh gadis ini menjadi abu!?’

Sang penyihir dari Oz mencoba melayangkan ancaman di saat-saat terakhirnya. Tobio tidak bisa menahan diri untuk tidak menahan tangannya mendengar kalimat Augusta. Retakan-retakan kini sudah mulai tercipta di untai tasbih doanya yang ketiga. Mungkin akibat lonjakan dalam pengerahan kekuatan Balance Breaker miliknya yang jauh melebihi kesempatan sebelumnya, ritme hancurnya tasbih doa kini kian bertambah cepat. Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu bahkan satu menit pun.

Tepat di saat kritis itu terjadi, di atas kepala Augusta—sesuatu tampak melesat terbang di angkasa. Itu adalah Griffon yang telah kembali ke wujud aslinya sebagai Kyuuki. Kyuuki tampak menjatuhkan sesuatu dari cengkeramannya.

—Setelah diamati lebih dekat, benda itu adalah Sacred Gear milik Shigune, “Poh-kun”. Kyuuki rupanya telah menerbangkannya tinggi-tinggi ke udara sebelumnya.

Tepat saat makhluk bertopeng itu terjatuh bebas, sang master, Shigune, segera meneriakkan perintahnya.

“Poh-kun! Telan semua api-api ituuu!!”

“Pooh!”

Mendengar titah dari sang master, “Poh-kun” alias Toutetsu, membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengambil posisi mengisap!

Dan kemudian, kobaran api ungu yang menyelimuti tubuh Lavinia langsung tersedot masuk ke dalam mulut “Poh-kun”!

Melalui aksi lahap dari “Poh-kun”, Augusta kini benar-benar telah kehilangan akal seiring seluruh kobaran api tersebut akhirnya tersedot habis total tanpa sisa.

Setelah mendarat di atas kolam yang membeku, “Poh-kun” melepaskan suara sendawa pelan, “Gefuh.”

Bahkan mata Augusta tampak kedutan melihat aksi di luar nalar dari Sacred Gear milik Shigune tersebut.

‘—Mustahil! Api ungu milikku!! Api dari sebuah Longinus berhasil dimakan!?’

Azazel dulu pernah mengatakan hal ini.

‘Ada perbedaan dalam hal kapasitas kemampuan dari Empat Makhluk Terkutuk dan Empat Makhluk Suci di berbagai titik sejarah tergantung dari siapa individu yang mengendalikannya, tapi Toutetsu sendiri adalah pengecualian. Tak peduli siapa pun orang yang mengendalikannya, makhluk yang satu itu murni adalah sebuah gangguan massal. —Ia memakan segalanya. Apa pun dan segalanya.’

Tepat seperti apa yang dikatakan sang Gubernur Jenderal, kekuatan “Poh-kun” alias Toutetsu terhitung sangat sederhana. —Ia memakan segalanya. Bahkan jika ia harus berhadapan dengan kobaran api dari sebuah Longinus sekalipun.

Kini Augusta telah dibuat sepenuhnya tanpa pertahanan. Tobio menilai bahwa ini adalah momen penentu antara kemenangan dan kekalahan, lalu mencengkeram erat gagang sabitnya. Samejima berseru lantang.

“Lakukan sekarang juga, IKUSEE!”

Sae yang berada dalam posisi berdoa turut berteriak.

“—Tobio. Tolong! Selamatkan Lavinia-san!!!”

Memisahkan Augusta dari tubuh Lavinia—.

Perasaan, harapan; sebuah Sacred Gear adalah kekuatan supernatural yang merespons luapan pikiran terdalam dari masternya.

Jika aku sendiri mengharapkannya dengan teramat kuat, hal itu pasti akan terwujud. Aku pasti bisa mencapainya!

Suara dari sesuatu yang bersemayam di dalam diri Tobio—sosok dari mimpi tempo hari—mendadak kembali bangkit di dalam benaknya. Tidak, sekali lagi, sosok itu seolah tengah mendesak Tobio.

<<Bilahmu bisa menjangkau apa saja.>>

Ya, jika itu adalah kemampuan ini, ia pasti bisa menjangkaunya! Tak peduli tempatnya, tak peduli apa pun penghalangnya—.

<<Tetapi, bilahmu itu juga akan melukai segalanya.>>

Tidak, Jin (bilah) milikku tidak akan pernah melukai teman-temanku sendiri!!

<<Lagi pula, kau sudah terlanjur berhenti menjadi seorang manusia.>>

Biarpun memang begitu, tidak masalah. Jika aku bisa menyelamatkan seseorang dengan cara berhenti menjadi manusia—.

Hei, kau wujud Dewa Tiruan yang bersemayam di dalam diriku! Jika kau begitu ingin memakan sesuatu, maka makan saja kemanusiaanku ini!

<<Kau adalah inang yang bodoh. Bahkan tanpa perlu melakukan hal merepotkan seperti itu, situasi ini bisa diselesaikan dengan mudah hanya dengan membantai Lavinia Reni bersama dengan penyihir Oz tersebut sekaligus.>>

Jangan bercanda!! Mana mungkin aku sudi memilih opsi seperti itu! Meskipun kau adalah bilah yang sanggup menebas apa saja, sosok yang menentukan hal apa yang pantas ditebas adalah aku sendiri!!

<<Perasaan itu hanya akan menodai dirimu dengan kegelapan. Lagi pula, suka atau tidak, kau telah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam rantai pertempuran.>>

Meski begitu, untuk saat ini, aku hanya menuntutmu untuk mengabulkan hal ini saja!! Selamatkan rekanku, Lavinia Reni!! Keluarkan kekuatan penyelamat itu!!

“Karena itu, buatlah serangan ini menjangkaunyaaaaAAAAAAA!!!”

Mengincar posisi Augusta—di dalam tubuh Lavinia, Tobio mengeksekusi satu ayunan ke bawah dalam skala masif dengan sabitnya. Serangan tebasan Tobio memproduksi sebuah gelombang kejut dahsyat yang, setelah melewati tubuh gadis itu, melesat lurus ke arah belakang, memotong jajaran pepohonan di depan dalam jarak yang teramat jauh, hingga mencapai gunung itu sendiri, meninggalkan sebuah jalur lurus berukuran raksasa di sepanjang area yang dilewatinya.

……

…Setelah jeda satu ketukan, sebuah aura gelap perlahan merembes keluar dari dalam tubuh Lavinia.

Aura tersebut berhimpun di sampingnya, di mana ia kemudian memadat membentuk sebuah wujud fisik. Setelah terpisah dari tubuh Lavinia, bentukan itu memanifestasikan figur asli dari Augusta.

Melalui aksi yang teramat mengagumkan, serangan Tobio berhasil memisahkan Augusta dari Lavinia dengan sempurna.

Sebuah garis vertikal tampak tercipta di tubuh Augusta, di mana kobaran api ungu mulai menyembur keluar dari sana. Augusta kini tengah dibakar oleh kobaran apinya sendiri. Penyihir tua itu berbicara dengan ekspresi wajah yang sarat akan rasa tidak percaya.

“…Konyol, bagaimana bisa hanya aku sendiri yang tertebas…? …S-situasi ini adalah… Glenda, Oz… aku, aku adalah—”

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Augusta telah hangus berubah menjadi abu akibat lahapan api ungu tersebut—.

Mengenai kondisi Tobio yang baru saja menebas mati sang penyihir tua, sesosok manusia….

Sesuatu di dalam diri Tobio meninggalkan sebuah peringatan terakhir untuknya.

<<Kau memprioritaskan keselamatan Lavinia Reni di atas segalanya. Menyelamatkan penyihir itu bukanlah salah satu opsi yang kausediakan. Oleh karena itu, dia dibantai dengan tenang. Jika kau ingin memilih hal apa yang ingin kautebas, kau harus memperluas kesadaranmu atas bilah pedang ini lebih jauh lagi. Kau harus tetap sadar, atau bilahmu hanya akan mencacah habis segala hal secara sembarangan.>>

…Tobio tidak memiliki kata-kata untuk membalas suara batin tersebut. Meskipun dia adalah seorang musuh, ia pada akhirnya telah berakhir merenggut nyawa orang lain….

Ia menatap lurus ke arah mata pisau dari sabit besarnya. Tidak, ia melotot tajam ke arah benda itu. Jika ia tidak memegang kesadaran penuh atasnya, bilah pedangnya sendiri akan berubah menjadi senjata jagal yang akan mencacah habis segala hal tanpa belas kasihan—.

Mungkin karena aura pertempuran baik dari diri mereka sendiri maupun dari pihak musuh telah sirna sepenuhnya, wujud Balance Breaker milik Tobio seketika luruh terurai, dan ia kembali ke wujud normalnya seperti biasa.

Mengenai kondisi tasbih doanya… untai kelima kini telah mengalami keretakan. Tampaknya ia benar-benar sudah berada di batas tertingginya.

Mengingat tanda-tanda bahwa kolam yang membeku itu berada di ambang keruntuhan, Tobio dengan terburu-buru segera memapah tubuh Lavinia lalu berbalik arah mundur. Ia merebahkan tubuh Lavinia di depan teman-teman mereka, dan Natsume langsung memeluknya erat, menyerukan namanya sembari menangis histeris.

“Lavinia! LAVINIA!”

Di mana pada titik itu—.

“……Uun……”

Lavinia memberikan respons pelan.

Melihat gadis itu berada dalam kondisi aman, Natsume menyunggingkan senyuman sembari air matanya kian terurai pelan.

“—!! Astaga, jangan membuatku khawatir sampai sejauh ini!!”

Setelah berhasil menyelamatkan Lavinia dan menumbangkan Augusta, Samejima—mungkin akibat teramat kehabisan energi—langsung duduk tersungkur tepat di posisinya berada.

“Kasus selesai. Astaga, benar-benar pertempuran yang melelahkan.”

—Kemudian, suara Azazel mendadak terdengar dari boneka yang berada di bahu Vali yang telah pingsan.

‘Merespons. Bagaimana hasil akhir dari operasi kalian?’

Tampaknya dia sengaja menghubungi mereka karena didera rasa khawatir.

Setelah mereka mengabarkan perihal kondisi keselamatan dan kesuksesan misi tersebut, Azazel segera menyahut kembali.

‘Lavinia aman kalau begitu. Bagus, siapa pun di antara kalian, cepat amankan sisa kobaran api ungu milik Augusta. Benda itu—adalah sebuah Sacred Gear yang akan terus berkelana dari satu master ke master lainnya. Jangan sampai kalian melewatkannya.’

“Benda itu berkelana dari satu orang ke orang lain?”

Saat alis semua orang bertaut mendengar informasi yang baru pertama kali mereka ketahui—.

Di seberang kolam, muncullah seorang gadis yang mengenakan pakaian bergaya gotik yang tidak asing bagi mereka. Dia adalah Walburga, murid dari Augusta.

Di tangannya—seberkas api berwarna ungu tampak menyala-nyala.

“—!!”

Melihat pemandangan itu, semua orang spontan menahan napas karena terkejut.

Sambil menyunggingkan senyum jahil, Walburga berkata, “Mfufu♪ Api ini tidak akan kuberikan pada kalian! Aku akan mengambilnya kembali!”

Begitu kalimatnya selesai, Walburga langsung bergerak cepat untuk meloloskan diri.

Mendengar ucapan gadis itu, Azazel mendecit kesal.

‘Cih, dia benar-benar licik. Mau bagaimana lagi. Setelah kalian bertemu dengan Barakiel, segera mundur dari sana. Kita akan mengevaluasi semuanya setelah ini. Lagi pula, satu perselisihan saja dengan Lima Klan Utama sudah cukup membuat repot.’

Mendapat perintah dari Azazel, Tobio dan yang lainnya segera menghubungi Barakiel lewat ponsel.

Namun saat mereka hendak mundur, ada satu orang yang rupanya sudah melangkah pergi meninggalkan lokasi terlebih dahulu.

—Orang itu adalah Koga.

Arah langkah kakinya benar-benar berbeda dengan rute yang akan diambil oleh Tobio dan kawan-kawan.

Samejima berteriak memanggilnya.

“Koga! Ikutlah dengan kami. Lagi pula, meskipun dia cuma paman-paman bersayap hitam, hidupmu setidaknya bakal terjamin untuk sementara waktu kalau ikut dengannya, 'kan?”

Sambil mengedikkan bahu, begini respons Koga:

“—Yah, biarkan aku sendiri dulu untuk saat ini. Toh, ada pepatah yang bilang kalau sesama Empat Makhluk Terkutuk pasti akan saling berpapasan dengan sendirinya, jadi kita bakal segera ketemu lagi nanti.”

Setelah mengatakan itu, dia menghilang ke dalam kelebatan hutan bersama dengan Sacred Gear-nya, Blitz.

"Oi, Kogaaa!!"

Samejima sempat meneriakkan namanya, tapi—

"Sampai jumpa, Same-chan, semuanya."

Hanya menyisakan kata-kata perpisahan itu, Koga bergegas pergi dengan langkah cepat—.

 

3

Di jalan masuk menuju hutan—.

Setelah pertempuran berakhir, Himejima Suzaku dan Kushihashi Seiryuu yang mengawasi dari tempat persembunyian jarak jauh melihat Tobio dan kawan-kawannya, beserta Barakiel, bersiap meninggalkan area tersebut menggunakan mobil.

Suzaku membuka suara.

“Meskipun Satanael sepertinya berhasil lolos, tampaknya pertemuan mereka bagaimanapun juga tetap terlaksana.”

Seiryuu menghela napas panjang sebelum menimpali.

“Sepertinya Agensi Utsusemi sudah dibuang oleh mereka. Orang-orang agensi yang termakan godaan itu juga ikut membantu, tapi Satanael dan Penyihir Oz memang sudah tidak tertolong lagi karena telah melibatkan Lima Klan kita.”

“…Lalu, mengenai para kepala klan dari masing-masing rumah, perintah macam apa lagi yang akan mereka bebankan kepada kita setelah ini, ya?”

Seiryuu memberikan sedikit nasihat kepada Suzaku.

“Tapi Suzaku, melihat bagaimana klan terus bungkam sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang akan mereka perintahkan kepada kita ke depannya. Apakah kau sudah siap menghadapi hal itu? —Ah, pertanyaan itu seharusnya kutanyakan pada diriku sendiri juga, ya.”

Seperti yang dikatakannya, alasan mengapa jumlah korban luka bisa ditekan seminimal mungkin saat Tobio dan yang lainnya bertarung melawan Augusta—Penyihir Timur dari Oz—adalah karena para praktisi dari Lima Klan Utama telah ditugaskan untuk menerapkan teknik pengosongan massa dalam skala besar.

Terlebih lagi, demi mencegah adanya gangguan terhadap mereka, para praktisi tersebut juga telah menghadang sisa-sisa anggota Agensi Utsusemi dan para Penyihir Oz. Berkat andil mereka, pertarungan Tobio dan kawan-kawan melawan Augusta murni menjadi urusan mereka sendiri.

Suzaku menjawab.

“Jelaskan saja bagianmu sendiri. Kalau aku… tidak punya pilihan lain selain meyakinkan kepala klan kami secara paksa, meski itu bertentangan dengan keinginannya.”

Kini, tibalah saatnya untuk memikirkan penjelasan seperti apa yang harus mereka berikan.

“—Kalau begitu, bagaimana kalau kalian memberi tahu aku alasan yang bisa membuatku setuju?”

Bersamaan dengan suara dari orang ketiga tersebut, mereka tiba-tiba merasakan hawa keberadaan roh yang sangat kuat di dekat mereka. Saat Suzaku dan Seiryuu berbalik untuk melihat siapa orang itu, berdiri seorang pria tinggi yang mengenakan seragam militer. Berpenampilan seperti pemuda di awal usia dua puluhan, ia adalah pria tampan dengan tatapan mata yang tajam.

Pakaian itu bukanlah seragam militer dari Pasukan Bela Diri, melainkan pakaian formal khusus milik praktisi dari rumah tersebut.

Sampai pria itu menyapa, Suzaku sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehadirannya. Kemampuan pria ini untuk menyembunyikan hawa keberadaannya hingga tak terdeteksi merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Suzaku berkata dengan nada tertahan.

“…Jadi kau datang juga. —Kepala klan Nakiri saat ini, Nakiri Nakagami Ouryuu.”

Benar saja, pria berseragam militer itu adalah salah satu pemimpin dari Lima Klan Utama—kepala klan Nakiri saat ini, Nakiri Nakagami Ouryuu. Orang yang mengikat kontrak dengan Makhluk Suci terkuat, Ouryuu (Huánglóng).

Ouryuu berbicara kepada Suzaku dan Seiryuu.

“Dalam waktu dekat, aku ingin menginterogasi orang-orang yang terlibat dalam insiden Agensi Utsusemi, dimulai dari Ikuse Tobio, di ‘Kuil Bagian Dalam’. Aku juga berniat untuk mengusulkan hal ini kepada kepala klan lainnya. Aku penasaran, apakah rencana ini akan terwujud atau tidak.”

Seiryuu tersenyum getir mendengar pernyataan itu.

“…Sampai berniat membawa mereka ke Kuil Bagian Dalam, kau tampaknya sangat serius, Ouryuu.”

Suzaku menyipitkan mata dan melayangkan pertanyaan.

“…Apa yang sebenarnya kaurencanakan terhadap mereka?”

Ouryuu menjawab singkat.

“Itu semua—tergantung pada jawaban mereka nanti.”

Pandangan mata Ouryuu tertuju ke arah jalan yang dilewati oleh mobil yang dikendarai Barakiel tadi.

“…Anjing, ya. Kalau begitu, mari kita lihat bagaimana ini akan berakhir.”

Post a Comment

0 Comments