SLASHDOG Jilid 2 Sang Penghukum/Guru dan Murid Penggila Pedang

1

Sang Penghukum/Guru dan Murid Penggila Pedang

Saat Tobio dan kawan-kawan bertarung melawan sisa-sisa anggota Agensi Utsusemi serta para Penyihir Oz, ada dua orang yang tengah mengawasi dari puncak gunung yang berada tak jauh dari sana.

Mereka adalah agen dari Vatikan—David Cerro dan muridnya, Freed Sellzen.

Tanpa ikut campur dalam pertempuran tersebut, mereka memilih untuk mengamati dengan sabar—menunggu dan melihat situasi—sambil menggunakan teleskop untuk memantau pertarungan di antara organisasi-organisasi yang saling bermusuhan itu.

Sang Putri Es—Lavinia Reini—yang sempat mengamuk, tampaknya berhasil dihentikan oleh kemampuan Longinus, yaitu perpaduan kekuatan sang Hakuryuukou bersama sang Dewa Anjing.

Sambil mengalihkan pandangannya dari teleskop, David bergumam.

“…Absolute Demise, Incinerate Anthem, Divine Dividing, Canis Lykaon… es dan api, putih dan hitam. Jadi, keempat Longinus itu berkumpul di satu tempat yang sama, ya. Apakah ini takdir dari Tuhan yang penuh keajaiban, ataukah sekadar lelucon takdir? —Aku sudah paham situasinya. Kita mundur sekarang, Freed.”

David mengatakan hal itu kepada muridnya yang sedang mencatat di belakangnya.

Di sekeliling sang murid, tergeletak pemandangan mengerikan dari beberapa mayat yang berserakan.

Mereka adalah sisa-sisa anggota Agensi Utsusemi dan Penyihir Oz yang sempat menyerang David dan Freed. Karena mengira ada perwakilan dari pihak gereja yang muncul di tempat ini, mereka langsung menyergapnya. Namun malangnya, senjata makan tuan; mereka justru berbalik dibantai dan berakhir mengenaskan.

David berbicara kepada Freed yang sedang mencabut sebilah pedang cahaya dari jasad seorang penyihir wanita.

“Biarpun kita menghabisi kroco-kroco sesat dan penyihir sebanyak ini, hal itu tidak akan menjadi masalah bagi penyelidikan kita saat ini.”

Sambil menyunggingkan senyum gila, Freed menyahut.

“Hei, hei, Bos. Maksudku, aura yang tadi itu berasal dari Longinus, 'kan? …Yaaah, kalau itu memang kenyataannya, mereka pasti tidak akan bisa dibunuh semudah itu.”

David berkata, “Benda-benda itu adalah sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan kita… tapi karena manusia yang mendiaminya dipilih secara acak, jika mereka kekurangan rasa takwa, hal seperti inilah akibatnya. Sudah semestinya Longinus dikendalikan oleh kita, para umat yang beriman.”

Sambil tersenyum girang, Freed bertanya kepada gurunya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan kalau mereka tidak bisa mengendalikannya? Apa kita bakal melahap mereka juga, huh?”

Saat menanyakan hal itu, Freed menumpukan kedua tangannya di atas kepala.

David menatap ke arah langit sembari menggenggam erat salib yang menggantung di dadanya.

“Tentu saja. Tidak ada pilihan lain selain menghukum mereka.”

—Pertemuan di antara mereka dengan Ikuse Tobio dan kawan-kawan pun sudah semakin dekat.

Post a Comment

0 Comments