The Rise of Kyoshi 23: PErtanyaan dan Meditasi

The Rise of Kyoshi

PERTANYAAN DAN MEDITASI

Kyoshi menjaga langkahnya di belakang Lao Ge saat menyusuri jalanan pasar. Mereka hanya berdua, layaknya seorang gadis dan paman tuanya yang sedang berjalan-jalan santai. Tidak ada yang aneh.

Kecuali fakta bahwa Lao Ge—saat tidak berada di hadapan anggota Flying Opera Company lainnya—berjalan dengan pembawaan seekor naga yang terbungkus pakaian pengemis. Dan Kyoshi adalah… Kyoshi. Para pedagang di kedai mereka menjulurkan leher hanya untuk melongo menatapnya saat ia lewat.

“Bukankah kita di sini untuk membeli beras?” gumamnya, merasa tertekan oleh begitu banyak tatapan. “Kita sudah melewati dua penjaja yang berbeda.”

“Siapa pun dari kita bisa melakukannya sendirian,” kata Lao Ge. Ia mengedipkan mata pada seorang ibu yang sedang menyapu serambi. Wanita itu merengut dan mendorong tumpukan debu ke arahnya. “Kau di sini untuk mengamati.”

Desa Zigan adalah kota utama yang menyuplai makanan dan tenaga kerja ke istana Gubernur Te. Kyoshi sempat terkesan oleh ukurannya saat mereka berjalan masuk dari pinggiran kota, tetapi ia segera menyadari bahwa rumah-rumah yang dibangun kokoh dan hiasan tradisional Kerajaan Bumi itu hanyalah semacam pajangan depan. Mereka tidak bertemu dengan orang sungguhan sampai mereka jauh masuk ke jantung desa. Kyoshi sulit percaya bahwa distrik luar benar-benar kosong, tetapi ia tidak melihat bukti sebaliknya.

Telinganya menangkap suara pertengkaran. Seorang penjaja dan petani yang menyuplai barangnya hampir saja terlibat baku hantam.

“Kau tidak bisa membodohiku!” teriak si penjaja. “Aku tahu panen tahun ini bagus! Harga yang kautawarkan padaku adalah penghinaan!”

Petani itu menggerakkan tangannya dengan liar sambil memegang topi jerami. “Dan kukatakan padamu, sebagian besar panen disita untuk gudang gubernur! Aku harus menetapkan harga berdasarkan sisa biji-bijian yang kupunya!”

“Bagaimana kau bisa terus menaikkan harga padahal ada lautan beras duduk di balik temboknya?” Penjaja itu hampir hilang kendali. “Demi Yangchen, aku bisa melihat atap gudang itu dari sini!”

“Te belum membuka gudang itu selama lebih dari lima tahun! Kau anggap saja makanan itu sudah dimakan oleh roh!”

Lao Ge mendorong Kyoshi agar terus berjalan. Rupanya, mereka di sini bukan untuk menawarkan solusi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kyoshi tahu apa yang ingin dibuktikan Lao Ge; bahwa kematian Te yang akan datang itu beralasan. “Menyimpan makanan untuk keadaan darurat bukanlah hal bodoh atau korup,” katanya.

“Tidak, tapi diam-diam menjual cadanganmu untuk keuntungan pribadi di bawah meja adalah korupsi. Untuk memperkaya diri sendiri, Te telah memperdagangkan biji-bijian yang ia kumpulkan setiap tahun sejak ia diangkat menjadi gubernur. Ia tetap melakukannya saat panen buruk, ketika warganya merasa cukup lapar hingga meninggalkan rumah mereka. Kebanyakan kelaparan adalah buatan manusia, dan dia berada di ambang untuk menciptakan satu kelaparan.”

Lao Ge menendang kerikil ke arah jendela yang tertutup. Tidak ada tanggapan terhadap suara itu. “Katakan padaku, apakah Jianzhu pernah mengecewakan rakyatnya dengan cara seperti ini?”

Kyoshi terpaksa mengakui bahwa Yokoya hanya tumbuh dan makmur sejak Jianzhu menancapkan benderanya di sana. Penduduk kota yang ia lihat di Zigan memiliki tatapan lesu dan terburu-buru seperti pria dan wanita yang kehabisan waktu. Mereka belum mati kelaparan, tapi mereka akan segera mengalaminya. Ia mengenali beban kelaparan di bahu mereka, beban yang sama yang ia rasakan saat ia pergi dari pintu ke pintu di Yokoya setelah dibuang di sana, ditolak oleh setiap keluarga secara bergiliran, dengan pilihan yang makin menipis.

Ia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya pada penduduk desa tersebut. Bagaimana kemanusiaan mereka akan hancur saat kelaparan dan ketidakberdayaan mengambil alih. Bagaimana rasanya melihat kematian mendekat sedikit demi sedikit setiap minggu. Dibutuhkan campur tangan Kelsang untuk menyelamatkannya dari nasib itu.

Sekarang Lao Ge mengklaim dirinya sebagai kemurahan hati bagi Zigan, bagi ratusan orang alih-alih hanya satu gadis. Kyoshi tidak punya alasan untuk menyalahkannya.

◎◎◎

Perjalanan mendaki lereng bukit menuju perkemahan mereka sangat panjang dan berliku. Ia menyadari Flying Opera Company lebih menyukai posisi ketinggian—mungkin pengaruh ibunya yang meresap ke dalam kelompok. Hal itu masuk akal dalam konteks ini. Medan berbatu menyembunyikan mereka dari pandangan, dan dari ketinggian ini mereka bisa melihat tata letak istana Te sejelas peta yang digambar dengan baik.

Gubernur ini secara taktis tidak kompeten karena tidak menempatkan pengintai untuk memantau celah-celah ini, pikir Kyoshi, sebelum menyadari adanya campuran aneh antara Rangi dan Lao Ge yang mulai menular padanya.

Lek mendongak dari api unggun yang sedang ia nyalakan. “Apakah kalian membawa berasnya?”

“Kami membawa ubi jalar.” Kyoshi melemparkan karung goni itu ke tanah. “Beras sedang… bermasalah.”

“Aku bosan makan ubi jalar,” keluhnya.

Kyoshi mengabaikannya dan memanjat lebih tinggi ke tonjolan batu datar tempat Kirima dan Rangi berbaring tengkurap, mengamati istana. Mereka telah melakukan gencatan senjata sementara karena apresiasi bersama terhadap pengumpulan informasi intelijen. Mengintai lokasi kurang lebih sama dengan merencanakan penyerangan.

Ia duduk di belakang mereka tanpa disadari.

“Kita sedang melihat desain siheyuan tradisional yang berasal dari garis keturunan Raja Bumi Hao,” kata Rangi kepada Kirima, terpaku pada kompleks di bawah. Bangunan itu tampak kuno dibandingkan dengan wastu di Yokoya. Ada empat halaman, bukan dua. Dan alih-alih dikelilingi oleh ruangan-ruangan dalam konstruksi yang mulus dan menyambung, bangunan itu tampak seolah-olah lebih dari selusin rumah dengan berbagai ukuran dan ketinggian telah diletakkan ujung-ke-ujung mengikuti pola persegi yang digambar di tanah. Pemilik kunonya pastilah makin kaya seiring waktu, menambahkan lebih banyak ekstensi secara sembarangan—sangat jauh dari visi tunggal yang dimiliki Jianzhu saat membangun rumahnya sendiri.

Bangunan itu masih terlihat sangat mewah, terutama jika dibandingkan dengan desa Zigan yang merosot. Salah satu halaman memiliki kolam bebek-kura-kura mencolok yang terlalu besar untuk sekelilingnya. Kyoshi tahu itu adalah tren baru yang meniru istana kerajaan Negara Api.

“Ada bidang pandang yang tumpang tindih bagi para penjaga di setiap titik tinggi,” kata Rangi. Ia menunjuk ke tiga gundukan atap di tepi terdekat. “Kita harus berasumsi mereka akan dijaga penuh. Jadi, datang dari sudut terbaik, itu berarti ada tiga penjaga yang harus kita hadapi saat mendekat.”

“Lek bisa menjatuhkan dua dari jarak jauh, tapi yang ketiga akan punya waktu untuk membunyikan alarm,” kata Kirima. “Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang arsitektur kuno Kerajaan Bumi?”

“Di akademi, kami mempelajari cara menyerang segala jenis benteng,” ucap Rangi. “Kuil Api yang bertembok, benteng pertahanan Kerajaan Bumi….”

Kirima menatapnya dengan saksama. “Tembok es kutub?”

“Ya,” kata Rangi tanpa ragu. “Kesiapan adalah kunci kemenangan. Bahkan ada rencana untuk Ba Sing Se, meskipun aku akan merasa kasihan pada pasukan yang menjalankannya.”

Sang Pengendali Air itu mengabaikan komentar terhadap negara lain. “Mok pasti ingin menyerang gerbang selatan secara langsung,” kata Kirima. “Jika kita mengatur waktu pendekatan kita bersamanya, kita bisa berasumsi penjaga yang ditempatkan di tembok lain akan dialihkan ke arahnya.”

Rangi mengernyit. “Itu ladang pembantaian.” Tanah di selatan kompleks itu adalah tanah padat yang ditaburi batu lapangan seukuran kepala manusia. “Beberapa Pengendali Tanah di penjaga Te bisa menyebabkan korban jiwa yang masif.”

“Kira-kira Mok tidak peduli,” kata Kirima. “Aku tidak tahu racun apa yang dituangkan Wai ke telinga anak buahnya, tapi mereka telah berubah menjadi fanatik. Dia akan menjebol tembok dengan jumlah massa yang besar.”

Kyoshi bergidik membayangkan pembantaian yang akan menyusul jika para daofei berhasil. Ia belum pernah mendengar tentang pengepungan di mana penyerang tidak membayar harga kemenangan dengan darah.

“Kita punya satu pilihan terakhir,” kata Kirima. “Kita masih tidak tahu di bangunan mana sel penjara itu berada, atau di bawah bangunan mana. Menguasai seluruh istana mungkin satu-satunya cara agar kita punya cukup waktu untuk mencari orang yang ingin kita bebaskan. Jadi alih-alih mencoba menembus kompleks, kita cukup habisi penjaga di tembok selatan, buka gerbangnya dari dalam, dan biarkan Mok berjalan masuk begitu saja.”

“Itu tidak akan terjadi,” kata Kyoshi.

“Gah!” Kirima melompat ke lututnya dan hampir jatuh dari tebing. “Bagaimana kau bisa begitu senyap dengan kaki raksasamu itu?”

“Pelayan harus bisa diam.” Kyoshi menilai pasangan pengendali itu, yang mungkin lebih mirip satu sama lain daripada yang ingin mereka akui. Ia butuh kebijaksanaan dengan segera. Kebijaksanaan konvensional, bukan permainan pikiran terbalik dari Lao Ge. Saat ini, kedua wanita ini adalah sumber terbaiknya.

“Kita harus bicara,” katanya kepada mereka.

◎◎◎

Jam-jam terakhir siang hari dicurahkan untuk lebih banyak latihan. Latihan itu tidak pernah berakhir. Latihan itu bahkan menyerbu mimpinya. Ia yakin Avatar Api berikutnya akan lahir dengan memori ototnya tercetak di anggota tubuh bayi api kecil mereka.

“Ayo cepat!” teriak Wong. “Kau sendiri yang ingin belajar langkah-debu.”

“Apakah kau yakin soal ini?” tanya Kyoshi, yang merasa gugup secara wajar. “Saat aku melihat kalian melakukannya, kalian mulai dari tanah yang padat dan bergerak ke atas. Itu sepertinya jauh lebih aman.”

Ia bertengger di atas pilar batu, salah satu dari sekian banyak pilar yang menghiasi jurang. Jarak antara pilar setidaknya dua belas kaki. Di seberang parit, Wong menantinya.

“Latihan harus lebih sulit daripada kejadian aslinya,” kata Wong. “Tujuannya adalah mencapaiku tanpa melambat. Jika kau tersandung, kau harus kembali ke tempat asalmu dan mencoba lagi. Kau akan melakukannya tiga kali.”

Kyoshi mengintip ke tanah di bawah. Tidak ada yang bisa menahan jatuhnya di lantai batu yang keras. “Bolehkah aku setidaknya menggunakan kipasku?”

“Aku tidak tahu,” kata Wong. “Bisakah kau?”

Ia menarik senjatanya dari ikat pinggang. Berat di tangannya terasa menenangkan saat ia membentangkannya. Ia terpikir bahwa mungkin jika ia mengepakkan kipasnya cukup keras, ia bisa terbang ke udara seperti burung.

“Lakukan atau tetap lapar,” seru Lek.

Seharusnya ia melakukannya saja tanpa ragu. Sekarang ia justru menarik penonton. Seluruh kelompok, termasuk Lao Ge, menonton dari berbagai tempat duduk di sekitar perkemahan.

Presisi, pikirnya dalam hati. Pengaturan waktu. Presisi. Pengaturan waktu.

Ia melompat ke udara kosong. Pada saat yang sama, kerikil dan debu naik dari dasar jurang, bertumpuk satu sama lain, memadat menjadi struktur kaku yang hanya perlu menahan berat badannya cukup lama untuk langkah berikutnya. Ia merasakan bantalan kakinya mendarat dengan anggun di atas stalagmit mini sementara itu, menara bumi yang rapuh.

Lalu ia jatuh menembusnya. Ia jatuh seperti… yah, seperti batu.

Dalam kepanikannya, Kyoshi melepaskan kipasnya dan menggapai pilar dengan tangannya, seperti korban tenggelam yang siap menarik seluruh sekoci ke bawah permukaan bersamanya. Ia menabrak sisi pilar dan terpental, jemarinya mencakar-cakar bagian atas pilar, tetapi tidak menemukan pegangan. Punggungnya menghantam formasi di belakangnya, mengirimnya berputar jatuh wajah duluan ke dasar jurang.

Ia terbaring di sana, terkapar di tanah. Dua suara buk terdengar, kipasnya mendarat setelahnya. Ia merasa—terutama karena ia masih hidup—bahwa seseorang telah mengendalikan tanah di bawahnya menjadi lebih empuk, menutupi batu dengan lapisan pasir. Tebakannya adalah Lao Ge.

“Nol,” ia mendengar Wong berseru. “Mulai lagi.”

◎◎◎

Setiap upaya langkah-debu gagal. Dengan menyakitkan. Keadaannya begitu buruk sehingga Rangi mengalah dan membiarkan Kirima mencoba mengajarinya menggunakan air sebagai penyangga alih-alih tanah. Itu berarti Kyoshi tetap berakhir terkapar di tanah, hanya saja dalam keadaan lebih basah.

“Mungkin sebaiknya kau tidak ikut misi ini,” kata Lek setelah satu kejatuhan yang sangat brutal. Untuk sekali ini ia berbicara karena rasa peduli yang tulus, bukan untuk mengejeknya.

“Kurasa dia tidak bisa tidak ikut,” kata Kirima. “Satu-satunya rencana layak yang kita buat membutuhkan kita semua bekerja sama.”

“Kurasa ada cara untuk memanfaatkan kekuatan mentah Kyoshi,” kata Lao Ge. Ia belum memberikan pendapat soal masalah ini sampai sekarang. “Dia mungkin sebuah palu di dalam tim yang berisi pisau bedah, tapi terkadang pendekatan kekuatan kasar diperlukan. Aku akan menjaganya saat penyerangan nanti.”

Kyoshi hampir harus mengagumi cara pria tua itu memutar peristiwa ke dalam pola yang ia inginkan, seperti seorang penenun yang melihat serat rami mentah dan membayangkan kain yang akan dihasilkannya. “Mungkin itu yang terbaik,” katanya. “Kita bisa saling menjauhkan diri dari masalah.”

◎◎◎

Setiap malam, Kyoshi melihat bulan yang makin membulat, seolah-olah bulan itu sedang berpesta pora di atas rasa ngerinya. Tanggal penyerangan makin dekat, dan suasana di perkemahan menjadi suram. Peran telah ditentukan, latihan dilakukan menggunakan properti cangkang kacang dan koin lepas yang diletakkan di atas diagram yang digambar di tanah. Rasa mual di perut Kyoshi tidak ada hubungannya dengan lapar, dan keringat dingin membuatnya tetap terjaga tidak peduli seberapa jauh ia dari api unggun atau seberapa dekat Rangi tidur di sampingnya.

Sisi positifnya, karena dua anggota paling tidak berguna dalam kelompok dipasangkan, hal itu memberi Kyoshi dan Lao Ge banyak waktu untuk bicara secara pribadi.

“Tidakkah kau bertanya-tanya mengapa tujuan Mok bukan untuk membunuh Gubernur Te?” tanya Lao Ge, sesaat setelah ia memerintahkan Kyoshi duduk dan bermeditasi bersamanya.

Pikiran itu memang sempat terlintas di benak Kyoshi. “Dia tahu kau yang akan melakukannya?”

Lao Ge tertawa. “Dan dulu aku percaya kau tidak punya selera humor. Tidak, alasannya adalah karena dia memiliki informasi yang sama denganku. Istana-istana yang dibangun pada periode Hao sering kali memiliki ruang aman besi yang tersembunyi di kedalamannya. Jika terjadi serangan, tuan rumah akan melarikan diri ke sana dan mengunci dirinya di balik pintu logam yang tidak bisa ditembus. Brankas itu memiliki persediaan untuk bertahan sebulan, yang lebih dari cukup waktu bagi bala bantuan untuk datang. Mok tahu mencoba membunuh gubernur akan membuang-buang tenaga.”

Makin banyak Kyoshi mendengar tentang orang bernama Te ini, makin ia meremehkannya. Ia membuka mata. “Dia akan meninggalkan seisi rumahnya kepada tentara daofei?”

“Apa yang kauharapkan dari pejabat kaya?” kata Lao Ge. “Kau terdengar kecewa. Mungkin kau berasumsi Te akan melangkah ke medan tempur dengan risiko besar bagi dirinya sendiri dan melawan pasukan Mok sendirian dengan pertunjukan pengendalian tanah yang menakjubkan, melindungi puluhan nyawa tak berdosa? Aku tak tahu dari mana kau mendapatkan gambaran seperti itu.”

Emosinya terpancing. Sepertinya pria tua itu tidak pernah membiarkan kesempatan untuk memuji Jianzhu berlalu begitu saja. Ia mencoba menenangkan diri dengan kembali bermeditasi.

Kyoshi telah dilarang mendapatkan pelatihan semacam ini di Yokoya, tapi Rangi telah menemukan waktu untuk mengajarinya dasar-dasarnya selama perjalanan mereka. Dengan tugas berdarah yang membayangi kepalanya, ia merasa latihan ini menenangkan dan menyeimbangkan. Ia seperti batu dingin jauh di bawah—

“Jadi kau bilang padaku bahwa kau tidak pernah bertanya-tanya tentang usiaku?”

Sekarang ia mencoba memprovokasinya dengan sengaja. Sungguh mengherankan betapa mudahnya ia berubah dari visi hipnotis yang mengerikan menjadi anak kecil yang bebal dengan kerutan dan rambut putih. Kyoshi salah karena mengira memanggilnya sifu beberapa kali akan memberinya akses yang konsisten dan tanpa gangguan kepada seorang guru kematian.

“Aku tidak bisa bilang bahwa aku pernah bertanya-tanya,” gumam Kyoshi dari balik giginya.

Lao Ge terdengar sedikit terluka karena kurangnya minat Kyoshi pada rahasianya. “Hanya saja… orang-orang yang pernah secara terbuka menghadapiku di masa lalu dengan nama ‘Tieguai sang Abadi’… semuanya memohon kepadaku untuk rahasia umur panjang. Satu-satunya yang tidak memohon adalah kau dan ibumu.”

Pertama, ia tidak percaya pria itu setua yang ia klaim. Dan kedua, menggenggam kekuasaan dan kendali atas hidup secara membabi buta adalah apa yang dilakukan orang-orang seperti Jianzhu. Te juga, mungkin.

“Sifu,” ucapnya dengan nada menyeret. “Oh, tolonglah, sampaikan padaku misteri keabadian, karena aku ingin melihat era berlalu di depan mataku seperti butiran jam pasir.”

“Tentu saja!” kata Lao Ge dengan riang. “Apa pun untuk muridku tersayang. Kau lihat, semuanya bermuara pada menjaga ketertiban. Menjaga segala sesuatunya tetap rapi, bersih, dan teratur.”

“Maaf?” Ini benar-benar menyinggung Kyoshi, sebagai mantan pelayan rumah tangga. Ia sudah melepaskan standar kebersihannya pada pagi pertama di luar Yokoya, setelah bangun tidur dengan tubuh tertutup bulu rontok Pengpeng. Namun, dengan kebiasaan minum dan keengganannya berganti pakaian, Lao Ge berada di ambang batas bau tak sedap. Apa yang ia tahu soal merapikan sesuatu?

“Penuaan itu sebenarnya hanyalah tubuhmu yang hancur, pada tingkat yang paling kecil dan tidak terlihat, dan lalai untuk menyatukan dirinya kembali,” katanya. “Dengan fokus mental yang tepat, kau bisa menginventarisasi tubuhmu sendiri dan menempatkan setiap bagian kecil yang tidak berada di tempatnya kembali ke tatanan yang benar.”

Kyoshi berasumsi pria itu menyesuaikan pelajarannya dengan latar belakangnya dan bahwa proses sebenarnya jauh lebih rumit. “Dari caramu menggambarkannya, kau harus memutuskan versi dirimu yang mana yang akan terperangkap selamanya.”

“Tepat sekali! Mereka yang tumbuh, berarti hidup dan mati. Kolam yang tergenang itu abadi, sementara sungai jernih yang mengalir mati dalam jumlah kematian yang tak terhitung.”

“Apakah itu pepatah Shoken yang lain? Karena itu tidak terdengar seperti pelajaran spiritual yang pernah kudengar.”

“Itu pepatahku sendiri,” keluh Lao Ge, perasaannya terluka lagi. “Semua kegelisahan tentang roh-roh ini. Aku mencoba mengajarimu tentang pikiran. Sebuah dunia tak terbatas yang telah diabaikan oleh terlalu banyak penjelajah.”

Pikiran. Pikiran Kyoshi melayang ke keberadaan lain, di mana ia sedang duduk bahagia di seberang Kelsang di lapangan hijau saat Kelsang menceritakan tentang keajaiban Dunia Roh. Suaranya yang hangat dan lembut membimbing kesadarannya sampai mereka melintasi batas, bergandengan tangan, menuju negeri di mana kekhawatiran manusia tak bisa membebani mereka.

Ia telah kehilangan itu. Ia telah kehilangan Kelsang, dan kepedihan yang menyusul tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Absennya Kelsang telah menempatkannya dalam kondisi stagnan. Jika Lao Ge ingin ia menjadi stagnan dan selamanya terjebak, ia sudah menguasai pelajaran itu.

Kyoshi menatap pengganti yang duduk di depannya ini, lelucon aneh yang ia dapatkan alih-alih guru aslinya. Itu adalah pertukaran yang cukup buruk untuk membuatnya menangis. “Makhluk-makhluk roh lebih menarik daripada teka-teki mental,” katanya.

“Sayangku,” kata Lao Ge lembut. “Seperti yang akan kautemukan suatu hari nanti, pikiran pun memiliki hantunya sendiri.”

Post a Comment

0 Comments