High School D×D DX.1 Life.5
Life.5 Love Song untuk sang Malaikat Tereinkarnasi
Ketika suhu udara di luar mulai mendingin dan musim dingin yang sesungguhnya sudah di depan mata—.
Di dalam ruang klub rasanya sangat langka, karena yang ada di sini hanya aku, Asia, dan Xenovia saja.
“Omong-omong, kalau Irina sedang berpisah kegiatan dari kita, dia itu lagi melakukan apa, ya?”
Aku membisikkan perkataan tersebut sembari minum teh di dalam ruang klub.
“Kabarnya dia sedang menjalankan perannya di Surga—peran sebagai seorang malaikat.”
Xenovia yang duduk di kursi berseberangan denganku berkata seperti itu.
Ooh, Surga, peran seorang malaikat, ya. Di antara anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib kita, Irina adalah satu-satunya malaikat tereinkarnasi. Karena selain dirinya, semuanya adalah iblis.
Yah, walau guru penasihat kami, Azazel-sensei, adalah seorang malaikat jatuh, sih.
Dalam kehidupan sehari-hari aku sering beraktivitas bersama dengan Irina, tetapi di luar itu memang lebih banyak kegiatan kami yang terpisah. Contohnya saat pekerjaan iblis sedang berlangsung.
Kami berkumpul di ruang klub ini pada larut malam untuk menunggu pemanggilan dari manusia, tetapi pada rentang waktu tersebut, Irina tidak ada di sini.
Biarpun Tiga Kekuatan Besar yaitu iblis, malaikat, dan malaikat jatuh sudah menandatangani perjanjian damai, karena dia seorang malaikat, rasanya tidak mungkin kalau dia ikut terlibat dalam pekerjaan iblis.
Ya, yah, meski sesekali dia membawakan kami minuman sebagai konsumsi tambahan, sih…. Tapi kalau cuma itu, bukan berarti dia terlibat secara langsung.
“Sepertinya pada hari libur pun sesekali dia pergi seorang diri. Katanya itu demi pekerjaan malaikat….”
Asia mengatakan hal tersebut sembari menyendok stroberi dari kue bolunya menggunakan garpu.
Dengan kata lain, Irina melakukan berbagai pekerjaan di tempat yang tidak kami ketahui, ya.
“…Pekerjaan malaikat, ya. Sangat menarik.”
Tanpa sadar aku membisikkan kalimat itu, tetapi pada saat yang bersamaan wajah Asia dan Xenovia langsung berbinar-binar. …Mereka yang merupakan mantan umat beriman ini memang sangat sensitif dengan kata malaikat dan Surga, ya….
“Benar sekali, aku juga sangat tertarik dengan pekerjaan Irina—tidak, dengan peran sehari-hari para malaikat. Karena dulunya aku adalah prajurit gereja, bukan berarti aku tidak mengetahuinya sama sekali, tetapi sebagai seorang teman, aku ingin melihat bagaimana cara Irina bekerja. Bagaimana menurutmu, Asia?”
“Iya, Xenovia-san! Aku, sekali saja, ingin sekali mencoba melihat pekerjaan seorang malaikat!”
Waduh, sepertinya aku telah memicu tempat yang aneh. Mereka berdua benar-benar sudah masuk ke dalam mode orang gereja yang taat beragama. Lagi pula sebelum bereinkarnasi mereka pernah terikat dengan gereja, wajar saja kalau mereka merasa penasaran.
“…Tapi, pada akhirnya apakah hal itu akan merepotkan dia, ya….”
Asia seketika menjadi sungkan. Walau sesaat rasa penasarannya meluap-luap, begitu berpikir dengan tenang, dia mungkin merasa kalau hal tersebut akan membuat repot Irina—maupun Surga. Benar-benar mirip Asia yang berhati lembut.
Namun, demi menyapu bersih perasaan rendah hati milik Asia tersebut, gadis itu membuka pintu dengan megah lalu muncul ke hadapan kami. —Irina.
Irina mengangguk-angguk sembari mengulas senyuman jahil.
“Fufufu! Aku sudah mendengar pembicaraan kalian! Boleh saja, kalian bertiga! Coba perhatikan pekerjaanku!”
Sepertinya, kali ini perkembangan ceritanya bakal berhubungan dengan pihak gereja….
Pada hari libur berikutnya, lokasi yang aku, Asia, dan Xenovia capai adalah sebuah bangunan yang berhubungan dengan pihak gereja yang terletak di pinggiran kota tetangga. Bangunan ini sepertinya merupakan salah satu basis bagi para umat beriman yang beraktivitas di sekitar daerah sini.
Selain itu, tempat ini juga menjadi markas pusat bagi pihak Surga di wilayah yang berada di bawah sistem kerja sama antara Tiga Kekuatan Besar.
Kabarnya sehari-hari Irina sering pergi ke sini untuk bekerja, memberi laporan, dan semacamnya.
Walaupun aku sudah sering mendengar ceritanya, mungkin karena tempat ini baru saja didirikan secara mendadak demi aliansi Tiga Kekuatan Besar, penampilannya terlihat cukup baru.
Walau sudah menjadi hal yang lumrah untuk sesuatu yang berhubungan dengan gereja, sebuah salib besar tampak sangat mencolok di bangunan tersebut. Jika hanya dilihat dari ukuran bangunannya saja, besarnya hampir setara dengan gedung sekolah baru di Akademi Kuoh. Desainnya bukan bergaya Barat, melainkan bergaya modern yang dibuat dengan sangat megah.
Irina yang meminta kami untuk datang ke sini hari ini. Irina sepertinya sudah tiba di sini satu langkah lebih cepat dari kami, tapi….
Kami sudah mendapatkan izin dari Rias dan yang lainnya. Dia melepas kami pergi sembari berkata, “Karena ini kesempatan yang bagus, pergilah belajar mengenai gereja.” Dia juga bilang akan mengurus pembicaraan dengan pihak malaikat di belakang layar.
Seperti yang diharapkan dari wanita yang kucintai! Bukan cuma bisa memahami situasi, dia bahkan mau melakukan hal sampai sejauh itu! Ah, Rias benar-benar sosok yang sangat baik, ya…. Tapi kalau dipikir-pikir, jika pada zaman dahulu aku berkata, “Aku ingin pergi ke gereja!”, dia pasti bakal sangat marah besar. Tiga Kekuatan Besar ini benar-benar sudah menjadi sangat damai, ya!
…Uuugh, lagi pula karena aku seorang iblis, mendekati bangunan yang berhubungan dengan gereja saja sudah membuat seluruh tubuhku merinding kedinginan. Hal itu sepertinya juga dirasakan oleh Asia dan Xenovia. Mau bagaimana lagi. Karena kami ini iblis, hanya dengan mendekati tempat yang berhubungan dengan Surga saja sudah membuat kami merasa takut secara insting.
Namun sejak perdamaian terjalin, iblis dan malaikat tidak lagi saling bertikai, serta dalam keseharian berusaha untuk tidak terlalu saling campur tangan. Akan tetapi, jika ada musuh atau tujuan yang sama, kami akan saling bergandengan tangan.
“…Setelah menjadi iblis, setiap kali aku melihat gereja di tengah kota, rasa dingin selalu menjalar. Fufufu, ini mungkin sangat cocok bagi mantan umat beriman yang bereinkarnasi menjadi iblis.”
Xenovia membisikkan hal semacam itu secara percaya diri sambil mengejek dirinya sendiri…. Karena kau bereinkarnasi menjadi iblis secara nekat, hal-hal seperti itu sebaiknya dipasrahkan saja, 'kan? Yah, walau akan bagus kalau dia mau mendengarkan nasihat itu, bagian tersebut sepertinya memang sulit untuk dituntaskan di dalam hatinya. Lagian, Xenovia dan Asia dibesarkan di fasilitas milik gereja.
“…Aku ingin ikut serta dalam misa.”
Aah, Asia sedang menatap bangunan itu dengan tatapan mata yang jauh! Tampaknya ada sesuatu yang terpanggil dari dalam dirinya sebagai mantan umat beriman! Tapi kalau iblis sampai ikut serta dalam misa, acara yang suci bakal berbalik menjadi situasi akhir zaman di mana suci dan iblis bercampur aduk, jadi itu tidak boleh!
Omong-omong hari ini, Asia yang merupakan mantan biarawati mengenakan seragam Akademi Kuoh sama seperti aku dan Xenovia. Memang agak aneh mengenakan seragam di hari libur, tapi aku berpikir kalau pergi ke tempat yang berhubungan dengan gereja, rasanya akan lebih baik jika memakai pakaian yang rapi. Xenovia mengenakan seragam karena mengikuti caraku, tetapi Asia sampai akhir sempat ragu apakah harus pergi dengan pakaian biarawati atau tidak. Pada akhirnya, mempertimbangkan kepedulian terhadap pihak lawan, dia mengambil kesimpulan bahwa “dirinya yang sekarang adalah budak Gremory”, sehingga dia memutuskan mengenakan seragam sama seperti aku dan Xenovia.
“Kalian sudah datang ya, semuanya!”
Saat kami sedang berdiam diri di depan bangunan, seseorang muncul dan menyapa kami. Itu adalah Irina.
“Hari ini aku bakal memperlihatkan pekerjaan malaikat, lho♪”
Suasana hatinya sangat bagus. Suaranya juga terdengar cerah dan lantang. Dia kelihatan sangat senang. Jika dilihat dari situasinya, rasanya mirip seperti perasaan senang saat teman datang berkunjung ke rumah?
Irina menyerahkan sebuah benda kepada kami. Itu adalah card strap yang dikalungkan di leher. Jenis kartu identitas pegawai yang sering dikalungkan oleh para pekerja kantoran di leher mereka.
Di dalam tali gantungan itu terpasang benda yang tampak seperti kartu ID dengan foto wajah kami yang tertempel di sana.
Irina menunjuk ke arah kartu itu sembari memberikan penjelasan.
“Itu adalah kartu izin khusus yang diperuntukkan bagi Ise-kun dan yang lainnya. Kartu itu dirancang agar tidak ada pengaruh timbal balik meskipun kalian melangkahkan kaki ke tempat yang berhubungan dengan Surga. Benda itu baru saja dikembangkan belakangan ini, jadi sepertinya baru ada untuk porsi orang-orang yang berkepentingan saja.”
Pantas saja. Bagi iblis untuk melangkahkan kaki ke wilayah kekuasaan Surga itu, walau sudah mengikat aliansi sekalipun, tetap saja agak bermasalah. Terutama kemampuan Twilight Healing milik Asia, kabarnya jika dia pergi ke tempat yang berhubungan dengan Surga, akan ada berbagai dampak buruk yang bermunculan. Penyebabnya sepertinya karena kemampuan itu bahkan sanggup menyembuhkan iblis dan malaikat jatuh yang merupakan musuh bagi Surga….
Apakah hanya dengan mengalungkan tali ini di leher, masalah di sekitar situ bisa terselesaikan?
Meskipun merasa agak ragu, aku, Asia, dan Xenovia tetap mengenakan tali gantungan tersebut.
—Gh.
Kemudian, secara ajaib rasa dingin menyeramkan yang menyerang seluruh tubuhku hingga tadi mendadak lenyap seolah-olah bohong belaka. Efek tersebut juga dirasakan oleh Asia dan Xenovia, mereka memperhatikan tangan dan kaki mereka sendiri dengan raut wajah terkejut.
“Selama mengenakan kartu izin itu, jangan gunakan kemampuan iblis kalian, ya. Karena benda ini masih dalam tahap penelitian, kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.”
Irina memberikan penjelasan tambahan sembari mengedipkan matanya.
Yang benar saja. Selama mengenakan benda ini, penggunaan kemampuan sama sekali tidak diperbolehkan, ya. Apalagi jika memakai kekuatan sihir, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi. …Uuugh, walau sangat menolong, tetap saja terasa sedikit menakutkan.
Tapi, karena kartu ID milik kami sudah disiapkan, Rias pasti sudah membicarakannya terlebih dahulu, lalu terjadi interaksi antara pihak iblis dan pihak malaikat. Kelancaran urusan ini membuatku merasakan hubungan saling percaya antara kedua kubu berkat adanya aliansi.
Namun, bisa-bisanya hanya dengan selembar kartu ini mereka sanggup memberikan izin bagi keberadaan yang aneh bagi Surga. Yah, karena ini bukan markas utama di Vatikan maupun di Surga, mungkin urusannya bisa selesai hanya dengan tingkat sebesar ini. Kalau sampai pergi ke tempat yang berskala besar, penanganannya pasti bakal berubah.
“Yah, kita hanya perlu tidak menggunakan kekuatan kita saja, 'kan?”
Xenovia mengucapkan hal itu dengan santai, tapi….
Aku justru khawatir kalau kau malah bakal menggunakan kekuatanmu…. Setiap kali Xenovia melancarkan serangan mengandalkan kekuatan fisik, aku selalu merasa kalau baut di dalam kepalanya makin longgar dan dia jadi makin bodoh. Padahal saat pertama kali bertemu dengannya, aku mengira dia adalah seorang pendekar pedang wanita yang sangat kuat dan kelihatan keren. Sekarang, sampai-sampai Kiba setiap kali selalu bicara padaku dengan nada kecewa, “Aku ingin Xenovia memperluas variasi tekniknya. Aku rasa dia sama sekali tidak berpikir saat bertarung…”, hingga wibawanya sebagai seorang Knight semakin merosot jatuh.
“Kalau begitu, mari kita masuk.”
Di bawah panduan Irina, kami pun masuk ke dalam bangunan tersebut.
—D×D—
Tanpa ada kendala apa pun, kami melewati pintu otomatis lalu melangkah masuk ke dalam. Suasana di bagian dalamnya, sepintas tak ada bedanya dengan gedung perkantoran yang bisa ditemukan di mana saja.
Orang-orang berkepentingan yang lalu-lalang di koridor juga mengenakan setelan jas. Kelihatan persis seperti pekerja kantoran biasa.
Namun saat sedang berpikir begitu, aku berpapasan dengan pastor dan biarawati di koridor. …Pastor dan biarawati yang asli. Pakaian biarawati yang digunakannya sama persis seperti yang dimiliki Asia! Sementara untuk yang pastor… membuatku teringat pada bajingan Freed itu.
Orang-orang berkepentingan yang mengenakan setelan jas tidak menunjukkan reaksi khusus saat berpapasan dengan kami. Meski begitu, para pastor dan biarawati sepertinya menyadari keberadaan kami, mereka memperlihatkan raut wajah sedikit terkejut sekaligus mengarahkan tatapan penuh rasa penasaran.
…Mengingat mereka adalah agen yang ditugaskan di sini, mereka pasti paham kalau kami ini iblis. Selain itu, mereka juga sudah mengerti identitas kami yang sebenarnya.
“…Ah, orang yang itu, ya.”
“…Aku pernah mendengarnya dari rumor, tapi….”
Suara berbisik dari orang-orang yang berpapasan juga terdengar di telinga.
Yah, kalau mengalungkan tali gantungan yang tertera tulisan “Hyoudou Issei” di leher, orang yang tahu pasti akan dengan mudah menyadarinya.
…Tapi, ada hal lain yang jauh lebih menarik perhatianku. Hal itu adalah sapaan dari orang-orang yang lalu-lalang kepada Irina.
“Selamat datang kembali, Ace Irina-sama.”
“Malaikat Irina, selamat hari ini.”
“Irina-sama, tolong nanti awasi doa kami kepada Tuhan.”
Orang-orang yang mengenakan setelan jas—tanpa membedakan pastor maupun biarawati, begitu melihat Irina mereka langsung menautkan kedua tangan untuk berdoa atau membungkukkan kepala!
Setiap orang dari mereka memperlakukan dan menghormati Irina bagaikan seorang santa! Perlakuan mereka benar-benar dipenuhi dengan rasa hormat yang meluap-luap!
Begitu, ya! Aku sering melupakannya, tapi Irina itu adalah Ace milik Malaikat Agung Michael-san! Sebuah posisi penting yang mengemban salah satu dari dua belas kartu—mulai dari Ace sampai Queen milik Michael-san! Ya, malaikat bawahan Michael-san hanya bisa berjumlah dua belas orang saja! Karena dia adalah salah satu dari mereka, kalau dipikir-pikir itu memang posisi yang sangat luar biasa!
…Karena biasanya dia hanya kelihatan seperti gadis SMA yang energik dan ceria, aku jadi sering melupakan peran Irina. Benar juga, jika dilihat dari sudut pandang para umat beriman, karena dia adalah Ace milik Michael-san, dia pasti merupakan sosok yang sangat dihormati.
“…Irina itu, ternyata luar biasa, ya.”
Aku membisikkan hal itu pelan. Irina hanya tertawa terbahak-bahak sembari berkata, “Sudah ah, Ise-kun ini bicara apa sih,” tapi… ya, mulai sekarang aku akan melihatnya sebagai malaikat yang sedikit lebih luar biasa.
“Sangat luar biasa…! Aku juga jadi kagum pada Irina-san!”
“Benar sekali…. Bagi mantan umat beriman, jika di ujung pengabdian iman terdapat proses menjadi malaikat, tak ada kehormatan yang lebih besar dari itu. Memiliki teman seorang malaikat, mungkin aku boleh merasa bangga akan hal itu.”
Asia dan Xenovia memancarkan binar di mata mereka, lalu menautkan tangan dan mulai berdoa! Apalagi doa itu ditujukan kepada teman mereka, Irina! Ah, sejak datang ke sini rasanya iman mereka berdua makin mendalam! Meskipun sehari-hari menjadi iblis, pada dasarnya yang ada di lubuk hati mereka tetaplah rasa iman kepada Tuhan.
Irina yang mendapat doa dari kedua temannya juga menunjukkan raut wajah yang tampak malu-malu seraya berkata, “K-kalian berdua bikin aku malu saja.” Ada apa dengan atmosfer ini!? Apakah ini yang dinamakan agama?
Tiba-tiba Irina menoleh ke arah kami, lalu mengulas senyuman dengan raut wajah yang merasa agak canggung.
“Maaf ya. Orang-orang yang datang ke sini semuanya adalah orang-orang yang memiliki pemahaman di antara semua golongan…. Tapi bagaimanapun juga, aku rasa mereka menganggap iblis—atau lebih tepatnya Ise-kun dan yang lainnya sebagai hal yang sangat langka.”
Aah, soal hal itu, ya.
“Aku sama sekali tidak keberatan. Lagi pula, orang-orang ini pasti tahu berbagai macam hal, 'kan? Soal teroris, maupun soal kekacauan yang baru-baru ini terjadi di Dunia Bawah.”
“Yah, begitulah. Orang-orang yang ditempatkan di markas aliansi Tiga Kekuatan Besar ini adalah mereka yang telah memenuhi syarat tertentu di antara semua golongan. Biasanya mereka tidak bergerak di depan umum, melainkan bekerja di belakang layar untuk mendukung kami. Sambil melakukan hal itu, mereka juga menyebarkan ajaran agama atau melakukan pembersihan roh jahat.”
Irina berkata demikian. Di saat kami sedang bertarung di balik layar, aku mendengar kalau pihak Surga juga ikut bergerak. Pastor dan biarawati yang baru saja berpapasan tadi rupanya yang melakukan hal tersebut…. Namun ketimbang hal itu, Irina mengucapkan sesuatu yang menarik perhatianku.
“Pembersihan… terhadap iblis?”
Karena berpikiran buruk aku pun bertanya, dan Irina tentu saja tertawa canggung.
“Bukan, iblis yang menjadikan area sekitar sini sebagai wilayah kekuasaan mereka—seperti Rias-san maupun Sona-san, mereka adalah rekan penting dalam hubungan aliansi. Kami tidak akan melakukan hal semacam itu. Lagi pula tidak mungkin Rias-san dan yang lainnya melakukan hal-hal buruk, 'kan?”
Tentu saja begitu. Mana mungkin Rias berbuat jahat dengan mengincar manusia biasa. Malah sebaliknya, dia sampai menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang terhadap manusia.
Kalau begitu, pembersihan apa yang mereka lakukan?
“Aah, maksudnya pembersihan terhadap roh jahat atau roh-roh keji, 'kan?”
Xenovia menjawab keraguanku. Aah, roh jahat, ya. Masuk akal. Hantu-hantu nakal dan semacamnya, 'kan?
Irina ikut mengangguk.
“Iya, roh jahat atau roh keji itu tak pernah ada habisnya, mereka adalah keberadaan yang bermunculan secara tanpa batas. Kami melakukan pembersihan untuk menyelamatkan orang-orang yang kesulitan karena hal semacam itu.”
“Hal itu juga dilakukan oleh Rias-oneesama, ya.”
Asia menyambung pembicaraan. Ya, Rias juga sering mendapat permintaan untuk melakukan pembersihan roh jahat berdasarkan permohonan yang masuk.
Irina menarik napas dalam-dalam sembari menaiki anak tangga.
“Sebenarnya, karena adanya sistem kerja sama Tiga Kekuatan Besar, keberadaan eksorsis cenderung mengalami pengurangan.”
Soal itu sepertinya Azazel-sensei juga pernah menceritakannya secara singkat waktu itu… Irina melanjutkan.
“Pastor, biarawati, atau mereka yang sanggup bertarung melawan makhluk aneh di gereja—maksudku para prajurit. Para prajurit tersebut dibatasi lawan bertarungnya akibat dampak dari sistem kerja sama ini. Sampai saat ini mereka bertarung dalam perebutan wilayah melawan iblis dan malaikat jatuh. Namun karena iblis, malaikat jatuh, hingga youkai sudah menjadi sekutu, lawan mereka jadi makin berkurang. Saat ini lawan utama mereka mungkin hanyalah monster atau vampir yang sampai sekarang masih menolak aliansi. Berkat hal itu, jumlah prajurit di masa depan juga cenderung menurun. Jika dunia sudah damai, tak ada alasan untuk bertarung lagi, 'kan? Meskipun jumlah prajurit tidak berkurang secara drastis karena adanya musuh bersama berupa teroris….”
Ternyata ada situasi semacam itu…. Dunia eksorsis juga sangat berat, ya. Pastor eksorsis yang kehilangan pekerjaan, kah….
“Bagi seseorang yang mempertaruhkan nyawa dalam pertarungan demi Tuhan, menyuruh mereka membuang pedang yang menjadi alasan hidup mereka tentu terasa sangat menyakitkan. Jika itu aku, aku pasti akan bergulat dalam kesulitan hidup untuk waktu yang cukup lama.”
Xenovia berkata demikian. Itu adalah kegelisahan yang khusus dirasakan oleh seorang prajurit, ya. Dia juga pernah sekali memikirkan jalan hidupnya, hingga nekat bereinkarnasi menjadi iblis. Waktu itu dia sepertinya cukup bergulat dengan batinnya sendiri….
“Omong-omong, kecuali untuk posisi yang sangat tinggi, fakta mengenai keberadaan Tuhan sengaja dirahasiakan. Mana mungkin kami bisa menyampaikan hal semacam itu kepada para umat beriman yang taat.”
Irina memberikan penjelasan tambahan dengan binar mata yang memancarkan rasa sedih. Begitu ya, orang-orang di sini pada dasarnya tidak tahu mengenai ketiadaan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Tentu saja, karena setelah mengetahui hal itu, Asia, Xenovia, dan Irina sampai hampir kehilangan keseimbangan batin mereka. Bagi mereka yang menggantungkan hidup di gereja, informasi tersebut tidak ubahnya racun yang sangat keras. Jika sampai tidak bisa memercayai apa pun lalu menjadi putus asa, akibatnya akan sangat berbahaya.
Setelah semua orang selesai menaiki anak tangga, kami tiba di lantai atas, tapi sebenarnya kami mau menuju ke mana? Meskipun merasa heran, aku tetap berjalan mengekor di belakang Irina—hingga dia berhenti di depan sebuah pintu tertentu.
Pada pintu itu terukir tulisan bahasa Surga, bahkan terdapat ukiran relief salib di atasnya. Pintu yang terasa sangat berwibawa. Apakah orang yang ada di dalamnya ini adalah sosok yang sangat berpengaruh?
Sebelum mengetuk pintu, Irina berkata kepada kami.
“Sebenarnya ya, hari ini ketua cabang yang mengawasi seluruh staf Surga di wilayah ini sedang berkunjung. Biasanya dia sangat sibuk, dia selalu bolak-balik antara markas besar gereja di Vatikan dengan Surga, tapi khusus hari ini jadwal dia kebetulan sedikit luang. Dia adalah malaikat tereinkarnasi sama seperti aku, lho.”
Hee, ketua cabang. Omong-omong, sosok berpengaruh dari pihak malaikat yang mengawasi seluruh wilayah sekitar sini itu sepertinya tidak kuketahui. Aku cuma belum pernah mendengarnya saja. Rias dan Sensei pasti sudah mengetahuinya.
Staf dari pihak Surga benar-benar penuh misteri. Yah, kalau bicara soal itu, staf di belakang layar dari pihak iblis maupun malaikat jatuh juga tidak terlalu aku ketahui, sih….
“Ketua cabang yang merupakan malaikat tereinkarnasi, ya. Dia pasti dulunya adalah umat beriman tingkat orang suci. Aku jadi tidak sabar ingin bertatap muka dengannya.”
Xenovia membusungkan dadanya penuh harapan, tetapi melihat dirinya yang seperti itu, Irina justru mengulas senyuman yang memiliki arti mendalam.
“Ufufu, Xenovia pasti bakal terkejut.”
Sambil berkata begitu, Irina mengetuk pintu. Orang di dalam memberikan balasan dengan sangat sopan, “Silakan, silakan masuk.” …Jika ditebak dari suaranya, dia adalah seorang wanita muda.
Begitu pintu terbuka dan kami melangkah masuk ke dalam ruangan—seorang biarawati tampak duduk di kursi kerja kantor khusus eksekutif. Dia mengenakan kerudung dengan rapi, sehingga kondisi rambutnya tidak bisa terlihat.
Dia adalah seorang onee-san bermata biru dengan paras wajah khas Eropa Utara! Fitur wajahnya sangat tegas bagaikan seorang aktris, benar-benar seorang wanita yang sangat cantik! Umurnya… sekitar akhir puluhan tahun, mungkin. Dia memancarkan ekspresi wajah yang ramah, serta diselimuti aura bernuansa sangat baik hati.
“Wah-wah, selamat datang, semuanya.”
Biarawati itu berdiri lalu menyambut kedatangan kami.
Sikap penyambutan yang sangat lembut. Namun, yang menjadi fokus perhatianku adalah bentuk tubuh sang onee-san! Bentuk tubuhnya yang tegas memang agak sulit terlihat dari balik pakaian biarawati yang menyamarkan lekuk tubuh, tetapi karena belakangan ini kemampuan pengamatanku terhadap wanita sedikit meningkat, aku bisa membuat perkiraan tersendiri sampai tingkat tertentu.
Kemungkinan besar, tipe payudara besar yang tersembunyi! Tipe yang kalau bajunya dilepas bakal sangat luar biasa! Pinggulnya tipe yang cocok untuk melahirkan, ketebalan kakinya tidak terlalu kurus maupun terlalu tebal, pasti berada dalam ukuran yang sangat pas!
Meskipun aku melayangkan tatapan mesum kepadanya, sang biarawati hanya tersenyum ramah. Entah mengapa, hal itu justru membuatku merasa bersalah, apakah karena tempat ini adalah bangunan yang berhubungan dengan gereja!? Saat melihat senyuman biarawati cantik yang memancarkan atmosfer suci bersih ini, meskipun aku seorang iblis, aku mendadak sangat ingin bertobat!
…Aku menyadari Xenovia yang ada di sampingku mendadak menegang baik ekspresi wajah maupun seluruh tubuhnya. Wajahnya jadi sangat pucat pasi, lho!
Dengan suara yang terengah-engah dan meninggi, Xenovia melontarkan perkataan.
“Si-Si-Si-Si-Si-Si-Si-Si-Si-Sister Griselda! Ke-ke-ke-ke-ke-ke-ke-kenapa bisa ada di Jepang!?”
K-kenalan, kah? Xenovia kelihatan sangat terkejut dan panik setengah mati. Melihat dirinya yang sampai tergesa-gesa dan kebingungan seperti ini adalah momen yang sangat langka! Padahal biasanya dia selalu bersikap gagah berani.
Wanita yang dipanggil Sister Griselda itu tetap menyunggingkan senyuman tanpa terputus lalu mulai berbicara. Saat dia mengarahkan punggung tangannya ke arah kami, di sana muncul ukiran huruf Q yang bersinar.
“Selamat datang, budak-budak Gremory sekalian. Aku adalah Queen dari Gabriel-sama sang Empat Seraph, bernama Griselda Quarta. Aku mengemban tugas sebagai ketua dari cabang ini. Mohon bimbingannya mulai sekarang.”
Ooh, Queen dari Gabriel-sama sang Empat Seraph! Queen dari malaikat cantik nan luar biasa itu! Ini pasti posisi jabatan yang sangat penting di Surga.
“Sister Griselda… dia adalah sosok umat beriman yang sangat tersohor. Saat aku masih terikat dengan gereja dulu, aku sudah berkali-kali mendengar namanya.”
Bahkan Asia juga sampai mengetahuinya. Irina mengangguk-angguk seraya berkata, “Sebagai informasi, kartu yang dikuasai oleh Gabriel-sama adalah Heart. Berarti Sister Griselda adalah Q dari Heart. Dia dipanggil oleh semua orang dengan sebutan ‘Queen of Heart’.”
Hee, Queen of Heart! Irina adalah Ace, dan lambang kartu yang dikuasai oleh Michael-san adalah Spade. Kalau begitu, Irina adalah Ace of Spade! Keduanya sama-sama merupakan kartu-kartu yang sangat kuat di dalam jajaran permainan kartu.
Bisa berkumpulnya malaikat bernilai Q Heart dengan malaikat bernilai Ace Spade di cabang ini, tempat ini memang benar-benar menjadi markas penting bagi para malaikat, ya.
Tapi yah, kenyataan bahwa Irina adalah Ace Spade itu rasanya masih belum bisa kurasakan secara nyata. Mungkin karena aku sudah mengenal Irina di kehidupan sehari-hari, rasa kagum dan hormat itu jadi tidak terlalu terasa….
Pandangan Sister Griselda beralih kepadaku.
“Kau adalah Hyoudou Issei-san sang Sekiryuutei, bukan? Aku sudah sering mendengar cerita tentangmu. Sosok harapan masa depan Dunia Bawah yang telah mengukir berbagai pencapaian luar biasa.”
“P-pujian yang berlebihan, menyebutku sebagai sosok harapan masa depan….”
Kalau dipuji seperti itu oleh seorang wanita cantik, aku jadi malu sendiri! Sambil merasa malu hingga wajah memerah, aku juga merasa sangat sungkan… tetapi Sister Griselda tetap tersenyum ramah sambil melanjutkan perkataannya secara tegas.
“Kabarnya hawa nafsu—salah satu dari tujuh dosa besar milikmu sangatlah kuat. Benar-benar sangat mencerminkan sosok iblis, ditambah lagi kau adalah naga. Dalam ajaran Tuhan, naga adalah keberadaan yang jahat. ‘Iblis dengan nafsu dan naga’…. Ufufu, itu adalah ungkapan yang bisa membuat para umat beriman muda kami yang tidak tahan benturan langsung pingsan hanya dengan mendengarnya saja.”
A-aku ini sedang dipuji atau sedang diejek, aku jadi tidak tahu pasti….
Melihatku yang bingung harus merespons bagaimana, Irina membisikkan sesuatu ke telingaku.
(Sister Griselda itu sangat tegas terhadap iblis, lho. Mau bagaimana lagi, sebelum adanya aliansi, dia mempertaruhkan diri demi Tuhan dan demi Surga untuk bertarung melawan iblis maupun malaikat jatuh. Di antara seluruh golongan Kristen, dia masuk ke dalam jajaran lima besar di antara para eksorsis wanita. Tapi, dia bukan orang jahat, kok. Yang barusan itu cuma sejenis gurauan khas Sister terhadap iblis saja)
Biarawati tangguh yang sudah sering melakukan pembersihan iblis terhadap para iblis! A-apalagi itu gurauan ala Sister? Berseberangan dengan kata-katanya, aku memang tidak merasakan adanya niat jahat, jadi itu memang benar-benar salam sapaan yang diselingi dengan gurauan.
“Nah, berikutnya adalah—Xenovia.”
Pandangan Sister berikutnya beralih kepada Xenovia. Ujung bibir Xenovia berkedut dan dia berusaha memalingkan pandangannya, tetapi pada saat itu juga Sister melangkah maju dengan cepat lalu mencengkeram wajah Xenovia dengan kedua tangannya.
Dengan wajah yang tetap tersenyum ramah tetapi memancarkan suara yang sangat penuh penekanan, Sister itu berkata kepada Xenovia.
“Sudah lama tidak berjumpa, ya, Prajurit Xenovia. Aku sama sekali tidak menyangka akan bisa bertemu kembali denganmu di tempat seperti ini.”
Warna suaranya pada dasarnya tetap tenang, tetapi entah mengapa terasa ada sedikit nada kemarahan yang terselip di dalamnya….
“…Y-ya, Sister Griselda. S-sudah lama tidak berjumpa…. A-apakah Sister sehat-sehat saja…?”
Ooh, ini pertama kalinya aku melihat Xenovia sampai gemetaran suaranya dan seluruh wajahnya dipenuhi keringat! Benar-benar segar!
“Apakah sehat-sehat saja, katamu? Kenapa demi menjalankan tugasmu pergi ke Jepang, lalu tanpa pulang kembali malah bereinkarnasi menjadi iblis? Ditambah lagi sampai hari ini kau sama sekali tidak memberikan komunikasi apa pun, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu? Kalau aku boleh melemparkan perkataan padamu hari ini, dengan muka seperti apa kau berani datang ke tempat ini…!”
Tangan yang mencengkeram wajah Xenovia makin bertenaga, nada bicaranya makin memanas dan terus naik! Berbeda 180 derajat dari kesan lembut sebelumnya, tekanan yang sangat luar biasa kini menguasai seluruh isi ruangan!
Irina berkata kepadaku dan Asia.
“Sister dan Xenovia berasal dari fasilitas yang sama, dan Sister adalah senior kerja dari Xenovia. Hubungan Xenovia dengannya adalah yang paling lama di sana. Aku juga saat berpasangan dengan Xenovia sudah sering dibantu olehnya.”
Ternyata begitu alasannya! Hee, kenalan dari kampung halaman Xenovia! Karena dia hampir tidak pernah menceritakan masa lalunya, semuanya terasa penuh misteri, tapi ternyata dia punya kenalan di negara asalnya, ya.
Dengan wajah yang dicengkeram tanpa ada jalan untuk kabur, Xenovia berkata kepada Irina.
“Irina! K-kenapa kau tidak menceritakan soal Sister Griselda sampai sekarang! K-kalau ketua cabang di sini adalah dia, aku tidak akan mau datang ke sini hari ini!”
“Kalau kukatakan begitu, kau pasti tidak akan mau datang hari ini, makanya aku diam saja. Lagi pula, kau sendiri tidak memberikan kabar sama sekali kepada Sister Griselda, 'kan?”
“Y-ya jelas saja! Kalau sampai aku bicara… aku bisa dibunuh!”
Xenovia menggerak-gerakkan tubuhnya berontak, tetapi karena kedua pipinya dicengkeram dengan kuat, dia tak bisa melarikan diri. Karena ditahan dengan erat menggunakan kedua tangan, wajahnya berubah menjadi bentuk yang konyol. Melihat hal tersebut, Irina pun sampai menyemburkan tawa dengan sangat geli.
Sister Griselda berkata sembari menarik dan meregangkan kedua pipi Xenovia hingga batas maksimal.
“Saat mendengar kalau kau bereinkarnasi menjadi iblis di Jepang, aku sampai hampir pingsan dan merasa seperti mau gila. Kau yang telah kubesarkan dengan penuh kasih sayang serta kuajarkan ajaran Tuhan dengan begitu mendalam, bagaimana bisa malah menjadi seorang iblis… kau ini memang sejak dulu adalah anak bermasalah yang tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, bertindak sesuka hati, dan membuat teori sendiri yang tidak jelas, tetapi aku percaya kalau kau adalah seorang gadis yang memiliki hati yang lembut, lho?”
Ya, itu benar sekali seperti yang dikatakan Sister Griselda. Xenovia itu tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, bergerak sesuka hati, dan memiliki pemikiran yang tidak jelas, benar-benar seorang gadis yang sangat merepotkan. Kami juga selalu dibuat kesulitan setiap saat olehnya, Sister Griselda!
Tapi—bukan cuma itu saja yang ada pada diri Xenovia.
Tiba-tiba Asia angkat bicara kepada Sister Griselda.
“Sister Griselda, tolong maafkan Xenovia-san…. Meskipun perkataan dari diriku yang diusir dari gereja dan menjadi iblis ini mungkin tidak memiliki daya persuasif… meski begitu, Xenovia-san adalah orang yang sangat baik. Dia adalah rekan penting kami, dan aku pun sudah berkali-kali dibantu olehnya. Jika tidak ada Xenovia-san, pasti akan ada seseorang yang terluka lebih parah lagi. Lagi pula… Xenovia-san adalah teman yang sangat berharga bagiku. Mohon maafkanlah dia.”
Asia membungkukkan badan meminta maaf dengan mendalam. Dia pasti berusaha membela rekannya—temannya. Ya, bagi Asia, Xenovia adalah teman yang sangat berharga.
Mendengar perkataan Asia, Sister Griselda melepaskan pipi Xenovia. Wajahnya kembali ke ekspresi lembut seperti sebelumnya.
“Sister Asia, aku tahu tentang dirimu. Tampaknya kau telah melalui masa-masa yang sangat sulit akibat pengaruh dari Sacred Gear yang bersemayam di dalam tubuhmu, ya. Nanti aku akan menerbitkan kartu ID khusus yang baru untukmu. Kalau kau membawanya seperti saat ini, meskipun terbatas hanya di wilayah ini saja, kau akan bisa ikut serta dalam acara gereja sampai tingkat tertentu.”
Mendengar hal tersebut, Asia sangat terkejut dan merasa sangat sungkan.
“B-bagaimana bisa… apakah boleh? Benda sepenting itu diberikan kepada diriku yang sudah menjadi iblis….”
Atas pertanyaan Asia yang ragu-ragu dan ketakutan itu, Sister Griselda mengangguk dengan senyuman penuh di wajahnya.
“Tentu saja, meskipun kau menjadi iblis, selama di dalam hatimu masih terdapat rasa iman, kau adalah kawan seperjuangan kami. Karena statusmu sebagai iblis mungkin akan ada banyak ketidakbebasan, tetapi jika kau percaya pada ajaran Tuhan, kita pasti bisa menghabiskan waktu yang luar biasa bersama-sama.”
Asia sangat tersentuh oleh perkataan Sister hingga matanya berkaca-kaca menahan haru.
“Baguslah, Asia! kau bahkan mungkin bisa ikut serta dalam misa!”
Saat aku mengatakan hal itu, dia merespons dengan ceria dan tampak benar-benar bahagia dari lubuk hatinya, “Iya!”
Sister kembali menarik dan meregangkan pipi Xenovia dengan elastis.
“Sister Asia, kalau kau tidak keberatan, tolong tetaplah menjadi teman bagi gadis yang merepotkan ini ke depannya, ya.”
“Tentu saja! L-lalu, aku ini sebenarnya sudah bukan seorang Sister lagi….”
“Setidaknya aku akan tetap memperlakukanmu sebagai seorang sister, kok.”
Mendengar perkataan Sister Griselda, Asia rasanya benar-benar hampir pingsan saking bahagianya. Hari ini pasti menjadi hari terbaik baginya. Karena dengan menjadi iblis, hal-hal yang selama ini dia kunci rapat-rapat satu per satu mulai terbebas.
Ternyata Sister yang satu ini benar-benar orang yang sangat baik, ya.
“Kepada Sister Asia, nanti akan kuajarkan cara menangani iblis yang diliputi hawa nafsu dan iblis yang bertindak seenaknya sendiri. Ufufu, bagaimanapun juga aku ini sudah berpengalaman melihat dan mengusir banyak iblis. Hal sepele seperti itu sudah menjadi keahlianku.”
…Sepertinya, dia bakal sangat tegas dan tanpa ampun kepadaku dan Xenovia.
Irina kembali berkata kepada Sister.
“Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, hari ini aku berencana memperlihatkan pekerjaan malaikat kepada mereka semua.”
“Ya, itu adalah hal yang sangat luar biasa. Seorang iblis yang datang menyaksikan pekerjaan malaikat. Tidak ada momen yang membuat rasa signifikansi dari aliansi Tiga Kekuatan Besar terasa begitu kuat selain ini. Pastikan kalian melihat peran malaikat hari ini. Ace Irina, lakukan tugasmu tanpa ada cela sedikit pun.”
“Siap!”
Irina merespons dengan memberi hormat secara ceria.
Dengan demikian, kami pun akhirnya melangkah untuk menyaksikan pekerjaan seorang malaikat.
—D×D—
“Aah, Malaikat. Dengarkanlah pengakuan dosaku ini~”
Di kapel yang berada di dalam bangunan, seorang jemaat pria berlutut dan melakukan pengakuan dosa.
“Ya, silakan. Jika tidak keberatan denganku, mari kudengarkan ceritamu.”
Irina memunculkan lingkaran di atas kepalanya, membentangkan sayap malaikatnya, dan mendengarkan keluh kesah sang jemaat. Jemaat tersebut adalah salah satu pihak berkepentingan yang bekerja di cabang ini, jadi dia bisa menyadari keberadaan malaikat.
Jika situasi saat ini dijelaskan dengan singkat, katanya ini adalah “Ruang Konseling Malaikat”. Irina diminta berkonsultasi oleh jemaat yang ingin mencurahkan masalahnya, lalu dia mendengarkannya di kapel seperti ini.
“Tuhan pasti akan mengampunimu yang telah meminjam banyak DVD mesum.”
Mendengar masalah pria itu, Irina menjawab demikian. Kami bertiga menyaksikan pekerjaannya dari bangku panjang kapel. Tapi, walau masalahnya sendiri aneh, penampilan Irina yang menjawabnya juga rasanya agak janggal.
Dia mengenakan gaun bulu putih bersih, memancarkan efek anggun nan suci menggunakan kekuatan cahaya, serta memaksakan nada bicara dan sikapnya agar tetap santai namun sopan, membuat pemandangan itu malah terlihat konyol.
“Yah, Ruang Konsultasi Irina ini bukankah efek panggungnya terlalu berlebihan?”
Begitulah kataku saat mengajak Asia dan Xenovia berbicara, tetapi….
“……”
“……”
Dua orang yang bersangkutan justru memperlihatkan rasa tertarik yang mendalam saat menyaksikan cara kerja Irina. Bagi mereka berdua, hal seperti ini sepertinya sangat menambah pengetahuan.
…Yah, sangat disayangkan, tapi kepekaan dan sudut pandangku sepertinya berbeda dengan mereka.
Ini pasti karena perbedaan lingkungan tempat kami dibesarkan. Aku merasa disayangkan karena tidak bisa berbagi perasaan yang sama dengan mereka berdua.
Setelah itu pun, Irina tetap mendengarkan dan menjawab cerita dari para jemaat yang berkunjung dengan sungguh-sungguh.
Setelah sekitar dua jam, ruang konsultasi pun selesai, dan Irina menuju ke pekerjaan berikutnya. Tentu saja, kami bertiga juga ikut mengekor di belakangnya.
Kami menuju ke katedral lain di dalam bangunan, di mana Irina melayani pasangan suami istri muda yang membawa bayi.
“Malaikat-sama, tolong beri anak ini nama yang suci.”
Ooh, mereka datang untuk meminta malaikat memberi nama.
“Baiklah!”
Irina menyanggupinya dengan senang hati, lalu menggerakkan penanya di atas kertas yang telah disediakan.
“Ini dia! Nama anak ini ditulis dengan kanji ‘冶虎武 (Yakobu)’ dan dibaca ‘Jacob’-kun! aku meminjam nama ini dari orang suci!”
Kau ini geng motor zaman dulu apa, haaaaah!? Ada apa dengan pilihan kanji yang terkesan asal-asalan itu! Tidak, dia pasti memikirkannya dengan sungguh-sungguh saat memberinya nama!
“Terima kasih banyak, Malaikat Irina-sama!”
Ararara! Orangtua sang bayi kelihatan sangat bahagia, lho! Ini 'kan nama pas-pasan yang kelewatan anehnyaaaaa!
“Ya, nama yang bagus.”
“Benar, seperti yang diharapkan dari Irina-san.”
Xenovia dan Asia pun ikut menyetujuinya!? Aku tidak paham lagi! Perasaan para jemaat benar-benar tidak bisa kumengerti saat ini!
Berikutnya, tempat yang dituju Irina adalah sebuah studio di dalam bangunan. Di sana sudah disiapkan peralatan fotografi dan seorang fotografer pria khusus. Sesi pemotretan foto Irina yang sudah berganti pakaian renang pun dimulai!
“Ya, bagus sekali, Irina-sama. Kalau begitu berikutnya pose yang seperti ini.”
“S-seperti ini?”
“Benar sekali! Jepretan satu lembar didapat!”
Lampu kilat menyala ke arah Irina yang berpose dengan imut.
…Katanya, ada majalah khusus kalangan internal berjudul “Weekly Brave Angel” yang diterbitkan untuk sebagian jemaat. Konon liputan utama kali ini akan mengulas tentang Ace milik Michael-san—yaitu Irina.
“Irina-san sepertinya sangat populer di antara orang-orang yang mengetahui keberadaan malaikat di gereja.”
Asia memberiku informasi tersebut.
…Ternyata dia juga melakukan hal-hal yang mirip idol seperti ini, ya. Tidak, hal itu juga berlaku untuk kami, sih. Bagaimanapun juga, Irina memang terkenal dan populer di industri sebelah sana.
Lagi pula Irina itu imut, sih. Aku paham kenapa dia bisa populer, tapi… i-ini juga termasuk pekerjaan malaikat, kah… Rasanya makin lama makin jauh dari citra yang kubayangkan….
Kepada Irina yang telah selesai melakukan pemotretan, pria fotografer itu berkata, “Fufufu, Irina-sama, apakah hari ini Anda ditemani oleh pacar Anda? Apakah dia pacar naga yang sedang dirumorkan itu?”
Sang fotografer melayangkan pandangannya kepadaku. …Oho, apakah aku dirumorkan sebagai pacarnya Irina?
Wajah Irina seketika merona merah.
“B-b-b-bukan seperti itu…! Ise-kun itu teman masa kecilku, atau lebih tepatnya…!”
Suara Irina meninggi dan dia menjadi panik setengah mati.
“Irina-sama kan sangat populer di antara para jemaat, jadi kalau sampai terungkap punya pacar, para penggemar pria pasti akan sangat terkejut.”
Sang fotografer tertawa terbahak-bahak sambil mengucapkan hal tersebut.
Di saat Irina sedang kebingungan—,
“…Apakah dia pacar Anda?”
“Hoh, pacar, ya.”
Asia yang berkaca-kaca dan Xenovia yang memicingkan mata sedang menatapku dengan tajam!
“S-sudah cukup! Ise-kun juga katakan sesuatu!”
Irina mendekatiku dan meminta bantuan untuk meluruskan masalah ini—. Namun pada saat itu, kaki Irina tersandung kabel peralatan pemotretan.
“Kyya!”
Dia jatuh terjerembap ke arahku! Aku berhasil menopang Irina dengan baik, tapi—.
Munyuk, sentuhan lembut kulit malaikat menyengat ke tanganku! Begitu kulihat, akibat kehilangan keseimbangan, bra dari pakaian renangnya tersingkap, dan tanganku langsung menyentuh payudara Irina secara langsunggggggggg!
S-seperti biasa, oppai ini terasa kenyal dan memberikan keberadaan yang sangat mantap! Dan yang paling penting, tekstur kulitnya benar-benar kelas atas! Benar-benar sentuhan ala malaikat!
“Ooh, Irina-sama! Berpelukan dengan pacar masa kecil di tempat seperti ini benar-benar sangat berani, ya!”
Momen saat aku dan Irina saling berpelukan langsung dijepret satu lembar foto oleh sang fotografer!
Irina sendiri menampilkan ekspresi tersiksa seolah sedang menahan rasa malu.
“…T-tidak boleh di tempat seperti ini, Ise-kun. …Begitu ya, k-kau bermaksud melompati hubungan teman masa kecil dengan cara seperti ini, ya….”
Sambil mengatakan hal itu, Kamu! Sayapmu berkedip-kedip hitam putih, lho! Kau sedang menghadapi krisis menjadi malaikat jatuh! Sadarlah! Aku tidak masalah kalau terus melaju seperti ini, tapi apa boleh kalau kau sampai jatuh, Irinaaaaa!
Guni~, ada dua orang yang menarik pipiku.
“…Cukup sampai di situ.”
“Kami tidak akan membiarkanmu mendahului di depan mata kami. Kalau mau melakukan hal itu, kita harus melakukannya bertiga bersama-sama.”
Pipiku ditarik oleh Asia dan Xenovia.
…Tidak, Xenovia, pemikiranmu juga sudah sangat tidak beres, tahu?
Setelah itu pun, pekerjaan malaikat Irina masih terus berlanjut. Mulai dari merapikan dokumen, kelas memasak, hingga menjadi teman minum teh.
…Daripada malaikat, dia lebih mirip serabutan yang serba bisa? Tapi, semua orang yang meminta bantuan tampak menunggu, berharap, dan mengandalkan Irina. Keberadaan malaikat sepertinya jauh lebih penting bagi para jemaat gereja daripada yang kubayangkan.
Kami bertiga sedang beristirahat sejenak di kantin bangunan.
“Yah, hari ini benar-benar menyenangkan, ya.”
Aku mengutarakan kesan yang sejujurnya. Sebenarnya, ini sangat menambah pengetahuan. Ini pertama kalinya aku mengunjungi cabang yang berhubungan dengan Surga, dan pertama kalinya juga aku berinteraksi sebanyak ini dengan para jemaat. Sangat segar.
“Hari yang paling luar biasa.”
“Ya, benar-benar hari yang luar biasa.”
Xenovia dan Asia sepertinya sangat puas. Tentu saja. Karena mereka bisa menyaksikan kembali hal-hal yang selama ini dikunci rapat-rapat.
“Sepertinya kalian sudah selesai melihat-lihat semuanya, ya.”
Yang muncul adalah Sister Griselda. Sister berkata seraya tersenyum ramah.
“Omong-omong, aku ingin meminta para prajurit muda melakukan latihan praktik eksorsis, apakah kalian ingin menyaksikannya?”
Praktik eksorsis. Itu cukup menarik minat.
“Hanya saja, roh jahat yang menjadi targetnya agak sulit ditemukan…. Karena belakangan ini kami baru saja melakukan pemusnahan massal berskala besar.”
Pandangannya beralih kepadaku. …Eh? Aku?
“Aku akan sangat senang jika kau yang merupakan iblis sekaligus naga mau menjadi lawan bagi para prajurit muda kami… Bagaimana jika kami hanya melakukan pembersihan pada hawa nafsumu saja? Sifat mesum itu tidak baik, lho?”
Aku dibuat tercengang oleh usulan tidak jelas dari Sister, tetapi Asia dan Xenovia justru mengangguk menyetujui.
“Benar juga, mungkin akan lebih baik jika bagian mesum dari Ise-san disucikan sedikit saja.”
“Ya, mesum itu boleh saja, tapi hawa nafsu yang berlebihan terkadang bisa membuat wanita kebingungan.”
Apa-apaaaaaan itu!? Hawa nafsu mesumku mau disesuaikan dengan pembersihan roh!? Mana ada hal konyol seperti itu!
“Irina! Katakan sesuatu!”
Aku meminta bantuan kepada Irina—tetapi Irina sambil memerahkan wajahnya berkata, “…Karena aku ingin menjalin hubungan yang tidak membuatku jatuh menjadi malaikat jatuh dengan Ise-kun, sepertinya aku setuju? Cuma bercanda, sih.”
Dia malah mengedipkan matanya padaku! Apakah ini karena kekuatan gereja yang ada di bangunan ini, ataukah berkah dari Surga, kenapa semangat jemaat mereka bertiga malah makin meningkat setelah sampai di sini!?
“Tidaaaaaaaaak! Mana mau aku kalau hawa nafsu seksualku sampai dihilangkaaaaaan!”
Aku yang melarikan diri dari tempat itu sambil dikejar oleh Xenovia, berpikir dari sudut pandang pemahaman gereja bahwa “hawa nafsu = dosa”, untuk sementara waktu aku tidak ingin mendekati bangunan ini lagi.
Bagaimanapun juga, iblis yang toleran terhadap hal-hal erotis memang yang terbaik!

Post a Comment