SLASHDOG Jilid 3 Bab 2
Bab 2 Direktur Grau Zauberer/Para Eksorsis (Penyerang) dari Gereja
1
Fasilitas Nephilim tepat setelah liburan Tahun Baru berakhir—.
Tobio dan para murid lainnya dari Kelas Barakiel langsung berganti pakaian ke dalam setelan jersei begitu kembali dari masa liburan. Saat ini, mereka tengah terlibat dalam sebuah pertarungan simulasi melawan para murid dari kelas lain.
Pertandingan tersebut dimulai di arena dalam ruangan, dengan disaksikan langsung oleh para instruktur penanggung jawab masing-masing kelas serta murid-murid lainnya.
Perwakilan yang maju bertanding dari tim mereka adalah Tobio.
Sembari memanifestasikan sebilah sabit besar dari balik bayangan, Tobio berdiri berdampingan dengan Jin, partnernya, untuk menghadapi anggota dari tim lawan—seorang murid laki-laki dari Kelas Armaros.
Nama ‘Kelas Armaros’ tentu saja diambil dari nama instruktur yang bertanggung jawab atas kelas tersebut. Namun, jika bicara mengenai karakteristik sang instruktur sendiri….
Ia adalah sosok malaikat jatuh yang mengenakan helm besi, armor, serta jubah panjang yang sangat mirip dengan kostum pemimpin organisasi musuh dalam acara pahlawan tokusatsu Jepang. Ditambah sebuah penutup mata di wajahnya, serta kapak dan perisai di kedua tangannya, penampilannya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dialah Armaros, salah satu jajaran petinggi dari organisasi Grigori.
Sambil tertawa terbahak-bahak, Armaros meneriakkan instruksi kepada muridnya.
“Gwahahahaha!!! Maju terus, majuuu! Tunjukkan pada mereka semangat juang dan keberanian dari Kelas Armaros!”
Isi teriakannya sama sekali tak terdengar seperti sebuah instruksi taktis, tetapi sang murid laki-laki menyahut dengan lantang, “Grigori! Siap, Bos!”
Slogan “Grigori!” tampaknya telah menjadi jawaban khas yang wajib diucapkan oleh para anggota Kelas Armaros. Hal ini membuktikan bahwa setiap kelas yang ada di fasilitas Nephilim memang memiliki keunikan dan keanehan menonjolnya masing-masing.
Di sisi lain, Barakiel, instruktur yang bertanggung jawab atas kelas Tobio, hanya berdiri diam sambil bersedekap dada, mengawasi jalannya pertarungan muridnya dengan tatapan yang sangat tegas.
“Syukurlah Barakiel-sensei yang menjadi instruktur kita.”
Natsume menggumamkan kalimat itu dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Berdasarkan cerita yang beredar, Armaros kabarnya terlanjur jatuh cinta dan sangat terkesan dengan organisasi jahat yang ada di dalam acara pahlawan tokusatsu Jepang. Sejak saat itu, ia sepenuhnya mengadopsi gaya nyentrik tersebut sebagai ciri khasnya.
Meski begitu, bagi para murid dari Kelas Armaros sendiri, jika mengesampingkan gaya instruktur mereka yang kelewat unik serta kebiasaan mereka yang suka berteriak penuh semangat, sebenarnya tidak ada perbedaan mencolok antara mereka dengan murid-murid normal lain yang menghadiri fasilitas ini.
Murid yang menjadi lawan Tobio saat ini adalah seorang pemuda yang dibesarkan di Amerika. Kekuatan supernatural yang ia manifestasikan di kedua tangannya berupa sebilah pedang berbalut kobaran api putih yang menyala-nyala.
Itu adalah salah satu dari Sacred Gear yang dikenal dengan nama Flame Shake (Tangan-Tangan Api Putih). Kekuatan ini memiliki karakteristik untuk memicu fenomena penyalaan api dari tangan penggunanya, dan tergantung dari bagaimana cara pemanfaatannya, sang pengguna bahkan bisa membentuk kobaran api tersebut menjadi sebilah pedang. Di dalam dunia Sacred Gear, kemampuan jenis ini dikategorikan sebagai salah satu kemampuan yang cukup umum ditemui.
Pemuda yang menjadi lawan Tobio merangsek maju, mengayunkan pedang api putihnya bertubi-tubi. Dari kuda-kuda dan gaya bertarungnya, Tobio bisa langsung merasakan bahwa gaya tersebut bukanlah hasil dari latihan bela diri formal seperti kendo, melainkan sebuah teknik yang diasah langsung melalui pengalaman tempur yang nyata.
Saat Tobio mencoba menangkis tebasan tersebut menggunakan sabit besarnya, pedang kobaran api itu justru meluncur mulus melewati bilah sabitnya tanpa hambatan. Begitu berhasil melewati pertahanan sabit Tobio, pedang api itu langsung diayunkan turun dalam satu gerakan kontinu untuk menebas tubuh Tobio. Beruntung, Tobio dengan sigap melompat mundur demi menghindari serangan.
Mengingat wujudnya yang terbuat dari api, tentu saja sangat wajar jika tidak ada suara dentingan benturan logam yang terdengar saat senjata mereka saling bersentuhan. Jika seseorang diserang dengan teknik manipulasi seperti ini di tengah-tengah pertempuran yang kacau, mereka bisa dengan mudah lengah dan kecolongan.
Terlebih lagi, ukuran panjang dari pedang api putih tersebut juga bisa berubah-ubah secara mendadak saat diayunkan. Bisa dibilang sangat berbahaya jika seseorang hanya mencoba menghindarinya dengan selisih jarak beberapa sentimeter saja.
Ketika Tobio mencoba memangkas jarak untuk melancarkan serangan sapuan horizontal dengan sabitnya, sang lawan dengan cepat mengubah wujud api putihnya menjadi sebuah perisai padat untuk menahan hantaman tersebut.
Baik pedang maupun perisai, keduanya bisa diciptakan secara bebas dari kobaran api putih tersebut. Besar kemungkinan, kemampuan itu juga bisa membentuk jenis senjata lainnya. Selama jalannya pertarungan simulasi ini, Tobio dan teman-temannya menyadari betapa fleksibelnya murid dari Kelas Armaros tersebut dalam menguasai fenomena penyalaan api dari tangannya.
Jika lawan di hadapannya hanya Tobio seorang diri, mendekatinya pasti akan menjadi sebuah tantangan yang sangat berat. Namun, Tobio—tidak bertarung sendirian.
Menyusul serangan Tobio, Jin yang merupakan alter egonya langsung melesat maju untuk menebas lawan menggunakan pedang hitam yang digigit di mulutnya.
Jika Tobio mulai terdesak oleh serangan lawan, Jin akan segera masuk di momen kritis tersebut untuk melindunginya. Sebaliknya, jika Tobio yang mulai melancarkan serangan, Jin akan menambahkan tebasan beruntun sebagai kombinasi penutup.
Dipaksa untuk menggunakan api putihnya demi menghadapi satu manusia dan satu makhluk secara bersamaan, pemuda tersebut harus menanggung tekanan fisik dan mental yang berlipat ganda… Tidak, bahkan lebih dari itu, staminanya langsung terkuras habis dalam sekejap hingga napasnya tersengal-sengal berat.
Begitu intensitas api yang dihasilkan dari tangan pemuda itu mulai meredup, Tobio dan Jin langsung melancarkan serangan pemungkas secara serentak. Mereka bergerak memisah ke arah kanan dan kiri di tengah jalan untuk mengacaukan fokus dan penilaian lawan.
Tepat saat tingkat konsentrasi pemuda itu goyah, keduanya langsung menutup jarak dalam satu hentakan gerakan.
Karena penilaiannya sempat tertunda sesaat, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya kepada Jin yang bergerak lebih cepat daripada Tobio. Namun, sepasang mata Jin mendadak berkilat merah dengan ngeri, dan bilah tajam tiba-tiba mencuat dari dalam bayangan di bawah kaki pemuda itu. Terkejut oleh serangan mendadak yang muncul dari bawah, kuda-kuda pemuda itu langsung runtuh total.
Membidik celah yang tercipta waktu sesingkat tersebut, Tobio langsung melesat maju dalam sekali pijakan.
—Ia menghentikan mata sabit besarnya tepat beberapa milimeter di depan leher sang pemuda, bersamaan dengan Jin yang menodongkan pedang hitamnya dari arah belakang. Pemuda itu telah terjebak dalam posisi skakmat dari dua arah sekaligus.
Pemuda itu akhirnya mengangkat kedua tangannya ke atas dan mendesah pasrah, “Aku menyerah”—.
Pertarungan simulasi antara kelompok Tobio dengan Kelas Armaros pun resmi berakhir.
Mereka telah melewati total tiga pertandingan, dengan hasil akhir dua kemenangan dan satu kali seri. Tobio dan Samejima berhasil mengamankan kemenangan, sementara Natsume—karena mendapatkan lawan dengan karakteristik kemampuan yang paling tidak cocok dengan tipenya—harus puas dengan hasil seri setelah melewati pertarungan melelahkan yang berjalan sangat panjang sebelum akhirnya dihentikan oleh instruktur.
Setelah membersihkan diri di ruang pancuran usai pertandingan selesai, semua anggota berkumpul di dalam ruang kelas Kelas Barakiel untuk mengadakan evaluasi bersama.
“Sial! Ini benar-benar membuatku frustrasi! Aku pasti bisa menang kalau saja diberi waktu sedikit lebih lama lagi!”
Natsume berteriak kesal sembari meneguk sebotol minuman olahraga setelah selesai mandi.
Samejima menyahut dengan tatapan mata yang setengah terbuka sembari mengunyah sebuah balok makanan suplemen padat.
“Tidak, pertarungan tadi memang tidak akan memunculkan pemenang atau pecundang.”
Lawan Natsume sebelumnya adalah seorang pengguna kemampuan yang berspesialisasi pada pertahanan tipe padat. Namun, jika mengesampingkan kemampuan bertahannya yang luar biasa, daya serang serta kecepatan pemuda itu sama sekali tidak ada apa-apanya. Karena itu, bagi kombinasi Natsume dan Griffon yang sangat mengandalkan kecepatan tinggi, serangan-serangan lawan sebenarnya sama sekali bukan ancaman berarti.
Akan tetapi, jika bicara soal “kekuatan”, tingkat serangan Natsume masih belum cukup kuat untuk menembus pertahanan kokoh milik lawannya tersebut….
Masalah ini sebenarnya bisa teratasi dengan mudah jika Griffon bertransformasi ke dalam wujud Empat Makhluk Terkutuk yang memiliki daya serang jauh lebih masif. Sayangnya, Natsume masih belum bisa mengendalikan wujud transformasi tersebut sepenuhnya.
Pada akhirnya, laga tersebut berubah menjadi pertarungan alot yang berlarut-larut tanpa ada satu pun pihak yang mampu mendaratkan pukulan penentu, hingga instruktur terpaksa menyatakannya sebagai hasil seri.
“Seandainya saja aku juga memiliki sebuah teknik rahasia yang mematikan….”
Sae berbicara untuk menenangkan Natsume yang baru saja mengembuskan napas panjang penuh sesal.
“Tidak, kok. Menurutku pertarunganmu tadi sangat luar biasa. Sama sekali tidak ada kesan kalau Natsume sedang terdesak atau kalah.”
Mendengar kalimat tulus dari Sae, Natsume merasa sangat terharu dan langsung memeluk erat tubuh gadis itu.
“Sae! Kau baik sekali!”
Shigune ikut menimpali.
“Bisa bertarung sampai sejauh itu saja sudah sangat hebat. Bagi orang sepertiku yang stamina dan ketahanan fisiknya masih dalam tahap pembentukan, aku pasti sudah kehabisan napas di tengah jalan. Lagi pula, Poh-kun juga tidak melakukan apa-apa selain makan sepanjang waktu….”
Alter egonya yang sedang didekap di dadanya saat ini memang terlihat sedang asyik mengunyah sesuatu tanpa memedulikan sekitar.
Namun, seperti yang dikatakan oleh Shigune, masalah utama mereka saat ini memang berada pada ketahanan fisik. Walaupun ini hanya sebatas pertandingan simulasi, tetap saja sangat sulit baginya untuk mempertahankan fokus dan terus bergerak menghadapi lawan dalam waktu yang lama.
Tingkat konsentrasi yang tinggi serta ketegangan yang konstan selama jalannya pertarungan terbukti sanggup menguras energi dan stamina seseorang dengan sangat kejam. Latihan lari rutin yang selama ini dibebankan oleh Barakiel-sensei kepada Tobio dan yang lainnya bertujuan agar fisik mereka siap menghadapi pertempuran hidup dan mati yang sesungguhnya di masa depan, sebagai konsekuensi karena telah melangkah masuk ke dalam dunia supernatural.
Dalam pertempuran yang mempertaruhkan nyawa, kehilangan kemampuan bergerak akibat kehabisan stamina sama saja artinya dengan kematian instan.
—Kalian harus membangun ketahanan fisik setidaknya agar bisa melarikan diri saat situasinya mendesak. Jika tidak, kalian tidak akan bisa bertarung sama sekali.
Itulah pelajaran mendasar pertama yang ditanamkan oleh Barakiel-sensei saat mereka mulai melatih ketahanan fisik. Baik dalam pertarungan simulasi maupun pertempuran nyata, setelah menjalaninya secara langsung, mereka semua akhirnya mulai memahami betapa krusialnya esensi dari latihan melelahkan tersebut.
Samejima mengalihkan pandangannya dan bertanya kepada Sae dan Shigune.
“Toujou, Nanadaru, apakah ada jenis teknik tertentu yang sedang kalian pelajari saat ini?”
Sae membuka kantong sabuk yang melingkar di pinggang kanannya, lalu mengeluarkan selembar jimat kertas. Di atas permukaan jimat kertas tersebut, tertulis deretan karakter rumit menyerupai mantra gaib.
“Ya. Karena aku mendengar bahwa jenis sihir misterius seperti ini dulunya dipraktikkan di rumah nenek Tobio, demi bisa sedikit membantu semua orang, aku mencoba mempelajari buku-buku dan dokumen mantra yang kuperoleh dari Barakiel-sensei.”
Sembari menjelaskan, Sae mengeluarkan sebuah boneka kertas yang dipotong menyerupai bentuk manusia kecil dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian membentuk sebuah segel tangan dan menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat lirih—.
Setelah boneka kertas itu bergetar sedikit, benda itu tiba-tiba berdiri tegak di atas meja.
[Ooh!]
Sorak kagum seketika terdengar dari teman-temannya.
Sae memfokuskan konsentrasinya lebih dalam, memanjatkan doa di dalam hati, dan boneka kertas tersebut mendadak mulai berjalan melangkah maju di atas permukaan meja.
Tobio menunjukkan ekspresi wajah yang sangat terkejut melihat teknik yang baru saja diperlihatkan oleh Sae. Ia memang tahu kalau Sae mulai mempelajari dasar-dasar Shinto dan Onmyoudou, tapi… ia sama sekali tidak menyangka kalau kemampuan Sae sudah berkembang pesat hingga ke tingkat sejauh ini.
Sae berkata. “…Jika aku bisa menjadi jauh lebih terampil lagi, benda ini nantinya bisa difungsikan sebagai Shikigami. Tapi perjalananku masih sangat jauh.”
Natsume yang terlanjur kagum menggelengkan kepalanya cepat.
“Tidak, tidak! Bisa mencapai tingkat ini secara otodidak tanpa ada guru yang membimbingmu langsung itu sudah sangat luar biasa!”
Ucapan Natsume memang benar. Mengingat Sae sanggup menghidupkan dan menggerakkan boneka kertas hanya dengan membaca buku dan dokumen tanpa panduan seorang guru, jika ia mendapatkan pelatihan yang layak, bukankah Sae berpotensi untuk tumbuh menjadi seorang praktisi sihir yang sangat hebat…? Pikiran itu sempat melintas di benak Tobio.
Shigune tidak ingin ketinggalan. Ia ikut merapatkan tangannya dan menggumamkan sebuah mantra ke arah boneka kertas di atas meja….
Boneka kertas itu sempat bergetar sedikit dan mencoba untuk bangkit berdiri, namun benda itu sama sekali tidak bisa melangkah maju. Pada akhirnya, jimat kertas itu justru melengkung ke belakang dengan ekstrem hingga posisinya menyerupai gerakan Ina Bauer[1].
Karena gagal menggerakkannya dengan anggun seperti Sae, pundak Shigune langsung merosot lemas karena kecewa.
“…Padahal aku sudah belajar banyak dari Sae, tapi tampaknya ini adalah batas kemampuanku saat ini.”
“Sudahlah, jangan berkecil hati,” hibur teman-temannya melihat Shigune yang tampak lesu.
Sae mengangguk tersenyum sambil memasukkan kembali catatan tekniknya ke dalam kantong pinggang.
“Barakiel-sensei berpesan kepada kami agar lebih fokus mempelajari teknik-teknik yang bertujuan untuk mengusir roh jahat.”
Natsume menyahut mendengar hal itu.
“Ah, benar juga. Pria itu memang bilang kalau kita harus menguasai teknik untuk menghadapi makhluk supernatural di samping latihan tempur antarpribadi. Dia bahkan menyebutkan bahwa senjata api yang kugunakan selama misi sebenarnya awalnya dirancang khusus untuk bidang tersebut.”
Mengenai hal itu, Tobio dan semua orang yang ada di ruangan ini memang telah menerima instruksi serupa dari Barakiel-sensei. Meskipun mereka semua awalnya adalah warga sipil amatir, saat ini mereka tidak hanya sekadar mampu menyelesaikan misi, melainkan sudah mulai dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran melawan entitas supernatural—dengan kata lain, iblis dan makhluk gaib.
Bagi Tobio, membicarakan soal entitas supernatural… iblis secara tidak langsung mengingatkannya pada eksperimen kejam yang dilakukan oleh Agensi Utsusemi. Tentang entitas bernama Utsusemi yang dipaksakan masuk ke dalam tubuh teman-teman sekolahnya, serta pemanfaatan alter ego dari para pemilik Sacred Gear tipe Avatar Independen seperti mereka.
Mengingat alter ego kami juga dikategorikan sebagai makhluk supernatural, termasuk Poh-kun yang sedang didekap Shigune, meskipun wujud mereka menyerupai makhluk biasa….
Jika ditarik lebih jauh lagi, para pemimpin dari organisasi yang saat ini mengawasi mereka—Azazel dan instruktur mereka, Barakiel, pada hakikatnya juga merupakan sesosok malaikat jatuh, yang jelas-jelas diklasifikasikan sebagai makhluk gaib tingkat tinggi.
Para petinggi organisasi sebelumnya sudah memperingatkan mereka.
—Selama kalian memilih untuk tinggal di tempat ini, cepat atau lambat kalian akan dihadapkan pada pertempuran melawan iblis, setan, dan youkai.
“…Iblis dan youkai, ya.”
Mendengar gumaman Tobio, sebuah suara tiba-tiba menyahut dari arah pintu.
“Benar sekali. Bukankah iblis dan youkai sebenarnya berada di tempat yang sangat dekat dengan kita?”
Semua orang serentak menoleh ke arah sumber suara—dan di sana berdiri sosok Lavinia.
“Lavinia, ada apa dengan pakaianmu itu?”
Seperti yang dikatakan Natsume, Lavinia saat ini terlihat sedang mengenakan seragam resmi dari fasilitas Nephilim. Berbeda dengan milik Sae dan Natsume, seragam yang dikenakan Lavinia memiliki potongan rok yang panjang hingga ke mata kaki.
Lavinia menjawab sambil tersenyum manis.
“Saat melihat Natsume, Shaae, dan Shigune mengenakannya dengan sangat serasi, aku jadi ikut ingin mencoba memakainya juga.”
Sembari berkata demikian, ia memutar tubuhnya perlahan di tempat untuk memamerkan seragam barunya.
Penampilannya dalam balutan seragam tersebut membuatnya terlihat luar biasa cantik dan anggun, hingga Tobio sempat tertegun sesaat karena terpesona melihatnya.
“Hmph, kalian sedang membicarakan soal iblis? Kalau seperti itu masalahnya, seharusnya kalian bertanya langsung kepadaku.”
Kalimat bernada angkuh itu dilontarkan oleh Vali yang tampak sedang bersandar santai di daun pintu kelas.
Natsume bergantian menatap Lavinia dan Vali dengan heran.
“Kalian berdua datang bersamaan seperti ini, apakah terjadi sesuatu?”
Lavinia dan Vali memang sering mampir ke Nephilim, tetapi setiap kali mereka berdua datang secara bersamaan, itu biasanya menjadi pertanda bahwa sebuah misi khusus akan segera dimulai.
Vali menyahut pendek.
“Ya, kami baru dipanggil Azazel.”
Mendengar konfirmasi Vali, Lavinia mengangguk pelan mengiyakan, “Benar, situasinya memang seperti itu.”
Lavinia kemudian menatap Tobio dan yang lainnya dengan ekspresi serius.
“Gubernur Jenderal Azazel ingin mengajukan sebuah permintaan khusus kepada kita semua.”
Dipimpin oleh Lavinia yang baru saja datang, Tobio dan teman-temannya kini telah berada di dalam salah satu ruang rapat utama di kedalaman fasilitas Nephilim.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, terlihat Azazel sudah duduk santai di salah satu ujung meja panjang yang mendominasi ruangan. Instruktur mereka, Barakiel, berdiri tegak dengan ekspresi berwibawa di sampingnya.
Melihat kedatangan mereka, Azazel mengangkat satu tangannya dengan santai sebagai salam.
“Halo, semuanya. Tampaknya Barakiel benar-benar telah memeras keringat kalian akhir-akhir ini. Nah, silakan duduk.”
Atas sapaan tersebut, Tobio dan teman-temannya segera mengambil tempat duduk secara berjejer di sisi meja yang berlawanan.
Azazel kembali membuka suara.
“Berkat latihan keras dari Barakiel, kemampuan kalian dalam menyelesaikan misi-misi belakangan ini tampaknya sudah berkembang dengan sangat baik.”
Tobio menjawab jujur.
“Kurasa semua itu berkat kerja sama yang solid dari semua orang…. Dan tentu saja, berkat bantuan besar dari Lavinia dan Vali, kami semua bisa kembali dengan selamat dalam setiap misi.”
Itu adalah murni kesan jujur yang dirasakan Tobio. Dirinya, Natsume, Samejima, dan mantan siswa SMA Ryoukou lainnya pada dasarnya hanyalah manusia biasa. Berkat latihan spartan serta serangkaian pengalaman tempur nyata sejak saat itu, entah bagaimana mereka akhirnya bisa tumbuh hingga mampu mengimbangi para pengguna kekuatan supernatural sebagai lawan bertarung.
Namun, dibanding diri mereka sendiri, Tobio sadar bahwa faktor penentu yang membuat mereka bisa melangkah sejauh ini tanpa menderita cedera fatal adalah berkat tingkat kekuatan dan keterampilan luar biasa yang dimiliki Lavinia dan Vali yang tergabung di dalam tim, serta koordinasi kelompok mereka yang terus meningkat pesat.
Natsume tersenyum kecut sebelum akhirnya menimpali.
“Meskipun Anda memuji kami seperti itu, mengingat musuh-musuh yang kami hadapi sejauh ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan mengerikan, rasanya posisi kami masih jauh dari kata aman….”
Samejima ikut menyambung dari samping.
“Benar sekali. Misi-misi yang Anda berikan itu adalah jenis pertarungan di mana jika kami sampai terkena satu hantaman telak saja, tidak akan aneh jika tubuh kami langsung patah atau hancur di tempat. Jika Anda berniat terus memberi kami pekerjaan berbahaya seperti itu, setidaknya berikan kami sedikit jaminan keamanan.”
Azazel terkekeh pelan menanggapi keluhan tersebut.
“Untuk musuh-musuh yang berada di level paling berbahaya, para veteran dan staf senior kami yang akan maju menghadapinya secara langsung. Dibandingkan dengan mereka, misi yang kami berikan kepada kalian sebenarnya sudah disesuaikan dengan batas kemampuan kalian saat ini. Nah, seperti yang dikatakan Tobio, untuk saat ini hanya kalian kelompok yang bisa menjalin koordinasi dengan baik bersama Lavinia dan Vali—yang notabene merupakan aset paling berpengaruh dalam tugas ini. Karena kita harus berurusan dengan para anggota Tim Abyss yang memiliki kekuatan luar biasa kejam, keberadaan Lavinia dan Vali mutlak diperlukan. Mempertimbangkan situasi tersebut, kami tidak punya pilihan lain selain menggunakan susunan tim ini.”
Azazel melanjutkan bicaranya sambil mengedikkan kedua bahunya santai.
“Lagi pula, aku sendiri menaruh harapan besar pada potensi Tobio dan Empat Makhluk Terkutuk yang terus terasah melalui pertempuran nyata. Kalian sendiri sudah mempersiapkan mental untuk hal ini sejak memutuskan bergabung dengan kami, bukan? Jadi untuk sekarang, patuhi saja instruksi yang kami berikan. Sebagai gantinya, kalian juga sudah menerima banyak hak istimewa, 'kan?”
Seperti kata Azazel, memang benar adanya bahwa Tobio dan teman-temannya berhasil mengalami peningkatan kekuatan yang sangat pesat justru di tengah-tengah pertempuran hidup dan mati yang sesungguhnya.
Dan mengenai hak istimewa yang disebutkan… hal itu memang bukan sesuatu yang buruk bagi mereka.
Bagaimanapun, hak istimewa ini sangat berdampak positif pada kenyamanan hidup Tobio dan teman-temannya selama tinggal di fasilitas ini. Salah satu contoh nyatanya adalah melonggarnya izin untuk keluar dari area fasilitas.
Sebelumnya, mereka hanya diperbolehkan keluar pada hari-hari tertentu yang sudah disepakati sebelumnya. Itu pun mereka harus menyerahkan alasan yang sangat jelas, serta menghadapi pembatasan ketat mengenai lokasi tujuan dan durasi waktu bepergian.
Namun sekarang, aturan tersebut telah jauh lebih longgar. Jika mereka hanya ingin pergi ke minimarket di tengah malam, mereka cukup menyampaikan alasan tersebut kepada petugas keamanan yang berjaga di gerbang pintu masuk gedung apartemen.
Bahkan untuk kunjungan kuil pertama di awal Tahun Baru kemarin, mereka bisa mendapatkan izin keluar dengan mudah hanya dengan menyerahkan satu alasan tertulis. Lagi pula, informasi mengenai kuil Shinto tersebut memang sengaja diberikan oleh pihak Azazel kepada Natsume agar mereka bisa menikmati momen liburan. Selama mereka tidak mendekati lokasi-lokasi yang dikategorikan berbahaya, mereka bisa dengan mudah mendapatkan izin untuk pergi ke mana saja. Melonggarnya hak istimewa ini benar-benar membawa perubahan praktis yang membuat kehidupan sehari-hari kelompok Tobio menjadi jauh lebih manusiawi.
Setelah sempat berbincang santai mengenai berbagai hal ringan dengan Azazel, mereka akhirnya mulai memasuki topik utama yang menjadi alasan mengapa mereka semua dikumpulkan di ruangan tersebut.
“Baiklah, mari kita bahas inti masalahnya. Sebenarnya, saat ini ada seorang VIP (tamu penting) yang sedang berkunjung ke negara ini.”
Tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut, Azazel mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya di atas meja.
Di dalam foto tersebut, terlihat sosok seorang pria paruh baya asing dengan perawakan yang sangat maskulin. Rambutnya yang merupakan kombinasi unik antara helai merah dan biru tampak diikat dengan sangat rapi. Sepasang matanya yang sipit dan tajam memiliki karakteristik tidak serasi—di mana mata kanannya berwarna merah menyala, sementara mata kirinya berwarna biru jernih.
Natsume mengambil foto tersebut dan mengamatinya dengan saksama dari dekat.
“Siapa pria asing paruh baya ini?”
Lavinia menyahut pelan untuk menjawab pertanyaan kasual Natsume.
“Dia adalah direktur kami.”
“……Eh? D-direktur?!”
Natsume terbelalak kebingungan karena sama sekali tidak paham, tetapi Azazel segera mengambil alih untuk memberikan penjelasan lebih terperinci.
“Dia adalah pemimpin tertinggi dari Grau Zauberer, organisasi penyihir tempat Lavinia bernaung—Direktur Mephisto Pheles.”
Butuh jeda beberapa detik bagi Natsume untuk mencerna nama tersebut sebelum akhirnya ia berteriak histeris karena terkejut.
“D-direktur, para penyihir!!?”
Melalui pelajaran yang diterimanya, Tobio mengetahui bahwa ada beberapa organisasi penyihir di dunia ini. Selain Grau Zauberer (Penyihir Kelabu) tempat Lavinia bernaung, organisasi terkenal lainnya meliputi Golden Dawn (Ordo Fajar Emas), dan Rosen Kreuzer (Ordo Salib Mawar).
Ada juga organisasi-organisasi kecil lainnya yang biasa disebut sebagai asosiasi. Namun, bagi mereka yang tidak terikat pada kelompok mana pun—para penyihir ilegal tak terdaftar yang kerap dijuluki Penyihir Liar—sebagian besar dari mereka cenderung memiliki pemikiran berbahaya dan terlalu tenggelam dalam riset terlarang. Oleh karena itu, jika tidak ada urusan yang benar-benar mendesak, sangat disarankan untuk menghindari kontak dengan mereka.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan terhadap lelaki tua itu?”
Samejima melemparkan pertanyaan tersebut kepada Azazel.
Azazel lantas menjawab sebagai berikut.
“Bukankah kelompok Penyihir Oz yang merepotkan itu selama ini selalu menjadi duri dalam daging bagi Grigori maupun Lima Klan Utama? Pada dasarnya, kelompok Penyihir Oz memiliki keterkaitan dengan organisasi penyihir asal pria itu. Secara praktis, meskipun Lavinia memiliki motif pribadi, ia bertugas memimpin mereka yang diutus oleh Grau Zauberer untuk memburu dan memusnahkan Penyihir Oz. —Terkait hal ini, direktur Grau Zauberer sendiri sekarang sedang memantau bagaimana konflik ini terus bereskalasi. Telah diusulkan agar kita mengadakan konferensi tingkat tinggi lagi dengan para pengguna kekuatan supernatural tertinggi di negara ini yang menjadi panggung utama dari seluruh urusan ini—yaitu Lima Klan Utama. Sang direktur sendiri yang akan datang langsung.”
Berdasarkan penjelasan dari Azazel dan Lavinia, setelah pertempuran melawan Agensi Utsusemi usai, pihak Grau Zauberer telah melayangkan surat kepada klan Himejima yang merupakan bagian dari Lima Klan Utama. Surat itu berisi ajakan untuk menjalin hubungan kerja sama terkait insiden yang sedang terjadi saat ini.
Pada waktu itu, sosok yang menolak mentah-mentah ajakan kerja sama tersebut adalah….
“Bagaimanapun juga, kali ini kami sudah menghubungi pihak Lima Klan Utama terlebih dahulu. Kami sampaikan bahwa mereka harus menemui sang direktur walau hanya sekadar untuk berbincang. Bagaimanapun, karena sang direktur sendiri yang datang jauh-jauh, demi menjaga kehormatan klan, tampaknya mereka tidak punya pilihan selain menyetujui pertemuan ini.”
Tampaknya, demi mewujudkan hubungan kerja sama tersebut dengan cara apa pun, telah diputuskan bahwa figur-figur penting dari kedua belah pihak harus bertemu secara tatap muka.
Terlebih lagi, dapat dipahami bahwa bagi Tobio dan teman-temannya yang berada di sini, setelah diberi tahu mengenai situasi tersebut, mereka juga dipastikan akan ikut andil dalam urusan ini.
Azazel kemudian melanjutkan ucapannya.
“Inti dari semua ini adalah Direktur Mephisto akan datang ke Jepang. Aku ingin meminta kalian semua, bersama dengan Lavinia, untuk bertindak sebagai pengawal Direktur Mephisto. Yah, aku berharap akan ada sambutan langsung dari Lima Klan Utama, tapi… akan sangat merepotkan jika musuh juga sampai mendengar kabar kedatangannya. Kalian tidak boleh lengah sedikit pun.”
Lavinia menatap Tobio dan yang lainnya sembari berujar.
“Karena situasi ini terlalu berisiko jika aku mengawal direktur seorang diri, aku sangat berharap kalian semua bersedia untuk membantu.”
Natsume mengangguk mantap menanggapi permohonan Lavinia.
“Kami tidak akan menolak permintaan dari seorang teman. Lagi pula, hal semacam ini sudah menjadi tugas kita, tentu saja kami akan melakukannya.”
Sae dan Shigune ikut menyahut, “Ya, benar sekali,” sembari mengangguk setuju dengan senang hati.
Samejima berbicara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Petinggi para penyihir, ya. Aku tidak terlalu paham urusan penyihir, tapi aku cukup penasaran dengan Lima Klan Utama. Berdasarkan cerita yang beredar, semua insiden yang menimpa kita selama ini bersumber dari mereka.”
Tobio juga tidak memiliki keberatan terhadap pendapat Natsume, dan di saat yang sama ia setuju dengan apa yang dikatakan Samejima.
Akar dari dirinya sendiri—.
…Aku penasaran dengan klan Himejima. Hari demi hari, pemikiran itu terus mengusik benaknya dengan kuat.
Ia merenungkan apa yang ingin ia sampaikan jika seandainya bisa bertemu kembali dengan Suzaku, sepupu keduanya, andai ia diberi kesempatan untuk bertatap muka sekali lagi. …Yah, ia sendiri belum tahu pasti apakah pertemuan itu akan benar-benar terwujud atau tidak….
Azazel kembali berbicara.
“Barakiel dan aku, karena posisi kami yang tinggi, tidak bisa hadir secara langsung… tapi aku memercayakan Mephisto kepada kalian. Dia adalah teman lama. Tenang saja, dia bukan orang jahat. Lalu, Vali, ini khusus untukmu. Karena berbagai alasan, kekuatanmu mungkin akan sangat dibutuhkan nanti.”
Sembari bersedekap dada menanggapi ucapan Azazel, Vali menyahut dengan nada angkuh yang khas.
“Aku mengerti. Terlalu mengkhawatirkan jika hanya membiarkan mereka yang pergi. Lagi pula, ada kemungkinan mereka akan bertemu dengan anggota-anggota berpengaruh dari Lima Klan Utama.”
Dengan demikian, partisipasi Vali pun telah diputuskan.
Maka dari itu, Tobio dan teman-temannya resmi mengemban tugas sebagai tim pengawal bagi direktur Grau Zauberer—Mephisto Pheles.
2
Dua hari kemudian—.
Bandara Internasional Tokyo—.
Berada di dalam terminal rute penerbangan internasional, kelompok Tobio tengah menanti kedatangan sang direktur Grau Zauberer—Mephisto Pheles. Jin beserta para avatar lainnya masing-masing menyembunyikan keberadaan mereka di sekitar area tersebut sembari menunggu perintah. Jin bersembunyi di dalam bayangan Tobio, Griffon berada di luar untuk bersiaga sekaligus mengawasi situasi dari udara, sementara Byakusa dan Poh-kun menyamarkan eksistensi mereka agar tidak dapat disadari oleh manusia biasa, sembari tetap berada di sisi master mereka (dengan kata lain, Byakusa tetap bertengger di bahu Samejima dan Poh-kun berada di dalam dekapan Shigune seperti biasa).
Sembari menunggu, terdengar obrolan antara Natsume dan Samejima.
“Mephisto Pheles itu nama yang sangat terkenal, lho.”
“Aku tidak terlalu tahu soal itu, tapi karena dia adalah pemimpin para penyihir, bukankah bisa saja dia sengaja menggunakan nama samaran sebagai lelucon kekanak-kanakan?”
“Mungkin nama itu adalah nama gelar yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh para Direktur.”
“Nanti kalau orangnya sudah datang, kita tanyakan saja langsung kepadanya.”
“Benar juga, kurasa tak ada salahnya.”
Percakapan santai semacam itu terus mengalir di antara mereka.
Dan kemudian, sekitar sepuluh menit setelah jadwal perkiraan mendaratnya pesawat—.
Dari arah pintu kedatangan, muncul seorang pria mengenakan setelan jas, topi tinggi, dan sebatang tongkat sembari membawa sebuah koper attaché.
Karena penampilannya yang sangat mencolok dan mudah dikenali, mereka langsung bisa mengidentifikasinya dalam sekali lihat.
Pria itu juga menangkap sosok Lavinia di kerumunan dan melambaikan tangannya ringan.
Begitu mereka berpapasan, sang pria langsung menyapa.
“Halo, tampaknya kau terlihat sangat bersemangat, Lavinia.”
“Lama tidak berjumpa, Direktur Mephisto.”
Tobio dan yang lainnya kemudian maju untuk memberikan salam.
“Senang bertemu dengan Anda, saya… kami semua di sini adalah pengawal yang diutus oleh Gubernur Jenderal Azazel.”
Mephisto hanya mengangkat topinya sedikit sebagai balasan salam.
“Senang bertemu dengan kalian, anak-anak harimau Azazel… atau lebih tepatnya, anak-anak yang dia persiapkan untuk menjadi harimau. Aku Mephisto Pheles. Mohon bantuannya mulai sekarang.”
Kesan pertama darinya adalah sosok pria yang berwajah tampan. Namun, di saat yang sama, ia diselimuti oleh sebuah atmosfer pekat yang tidak memperlihatkan celah sedikit pun.
Pandangan mata Mephisto mendadak beralih—tertuju pada Vali. Ia menatap anak laki-laki itu dengan ketertarikan yang amat besar.
“Astaga. Yang Mulia, jika aku boleh memanggilmu demikian.”
Vali menggelengkan kepalanya pelan.
“Vali Lucifer saja cukup. Kau pasti sudah mendengar beberapa hal mengenai diriku dari Azazel. Hubunganku dengan keluarga para Maou sedang tidak baik.”
“Fufufu, tapi hubunganmu terbilang baik dengan para Maou yang saat ini menjabat. Karena itu, aku memiliki perasaan yang campur aduk melihatmu berada di bawah pengawasan Azazel.”
“Tidak akan ada masalah selama hal ini dirahasiakan. —Begitulah yang dikatakan Azazel.”
“Memang benar. Setidaknya itu melegakan. Bagaimanapun juga, Dunia Bawah saat ini masih terbagi menjadi dua kubu.”
Semua orang yang ada di sana menyimak percakapan berbobot antara Vali dan Mephisto dengan saksama. Menyadari hal itu, Mephisto menoleh ke arah kelompok Tobio dan mengangkat satu jarinya ke depan bibir.
“Kalian juga sebaiknya jangan menceritakan jati diri aslinya kepada orang lain. —Terutama kepada mereka yang tidak menyukai malaikat jatuh.”
Hal ini juga merupakan sesuatu yang sebelumnya telah diwanti-wanti oleh Azazel.
Identitas asli Vali pada dasarnya adalah rahasia tingkat tinggi. Terutama—akan sangat merepotkan jika hal ini sampai tercium oleh pihak pemerintah Maou.
…Meski begitu, mengingat anak laki-laki berambut perak itu sendiri sudah beberapa kali memperkenalkan dirinya secara terang-terangan dengan nama lengkapnya, Tobio tidak tahu seberapa jauh rahasia ini bisa terus terjaga….
Bahkan bagi Lavinia yang memiliki kedekatan tersendiri dengan Vali, Tobio dan yang lainnya bisa merasakan bahwa ada batasan atau kecanggungan tertentu yang menyelimuti hal tersebut.
Mencoba mencairkan atmosfer yang sempat hening, Natsume akhirnya membuka suara.
“Anu, meskipun kita baru saja saling bertukar salam singkat, bukankah sebaiknya kita segera bergerak sekarang? Ah, saya Minagawa Natsume.”
Natsume berbicara seperti itu sembari menyelipkan kembali salam perkenalannya.
Lavinia menimpali. “Benar apa yang dikatakan Natsume. Karena itu, Direktur, silakan ikut bersama kami.”
“Tentu. Aku serahkan jalurnya pada kalian.”
Rombongan pengawal tersebut, sembari memimpin jalan bagi direktur Grau Zauberer—Mephisto Pheles, akhirnya melangkah meninggalkan area bandara.
Bersama dengan Direktur Mephisto, rombongan tersebut kini bergerak menuju sebuah kuil Shinto yang terletak di distrik Oota, tempat di mana pertemuan dengan pihak Lima Klan Utama akan dilangsungkan.
Berdasarkan informasi yang telah mereka terima sebelumnya, kuil Shinto tersebut memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat dengan Lima Klan Utama.
Rombongan sempat melanjutkan perjalanan menggunakan taksi sebelum akhirnya turun di tengah jalan. Dari sana, mereka memutuskan untuk menempuh sisa jarak menuju kuil Shinto dengan berjalan kaki.
Di tengah perjalanan, saat mereka sedang melintasi area gang-gang sempit yang sepi dan jarang dilalui orang—.
Sesosok anjing hitam yang merupakan alter ego Tobio—Jin, mendadak memanifestasikan wujudnya di sisi sang master sembari menunjukkan kewaspadaan yang meningkat tajam. Tampaknya, ada sesuatu yang sedang mendekat di sekitar mereka.
Kenyataannya, Tobio sendiri tidak bisa memungkiri rasa merinding yang menggelitik kulitnya sejak pertama kali mereka melangkah memasuki gang tersebut. Ada hawa pertarungan, permusuhan, hingga niat membunuh yang pekat terasa di udara.
Rombongan itu langsung menghentikan langkah kaki mereka dan mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling area, tetapi Mephisto justru tetap menatap lurus ke depan dengan sikap dan ekspresi yang teramat tenang.
“Wah, tampaknya kita kedatangan tamu yang tidak biasa di tempat seperti ini.”
—Tanpa mereka sadari, sesosok pria asing dengan penampilan layaknya seorang pastor Katolik telah berdiri tegak di hadapan Tobio yang lainnya. Pria pastor Katolik yang memiliki janggut tipis di wajahnya itu diperkirakan berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahun—.
Seorang pastor Katolik—.
Informasi mengenai mereka telah dipelajari berkali-kali oleh Tobio dan yang lainnya selama di kelas. Sejak mereka berada di bawah perlindungan organisasi malaikat jatuh, salah satu pihak lawan yang paling harus mereka waspadai adalah para pastor Katolik.
Tobio dan yang lainnya segera pasang badan di depan Mephisto, memasang postur protektif untuk menghadapi sang musuh. Sementara itu, Direktur Mephisto justru mengulas senyuman tipis seolah menganggap situasi ini menarik.
“Eksorsis (Anjing Gereja), ya.”
Dari balik lapisan jubah panjangnya, pria itu menarik keluar sebilah pedang yang memancarkan aura yang ganjil dan mistis. Melihat senjata tersebut, Jin beserta alter ego lainnya langsung meningkatkan kesiagaan mereka hingga ke batas maksimal.
Sembari mengunci pandangan mereka pada pedang itu, Vali dan Lavinia pun ikut bersiap dalam posisi tempur.
Pria itu akhirnya membuka suara.
“Tuan Mephisto Pheles. Sebenarnya apa tujuan Anda mendatangi negara ini?”
Sambil menggenggam erat pedang kuno berselimut aura pekat tersebut, sang pria melangkah maju mendekat setapak demi setapak. Di saat yang sama, Tobio dan yang lainnya segera mengaktifkan fungsi penerjemah pada alat komunikasi internal khusus misi yang terpasang di telinga mereka, karena pria itu berbicara dalam bahasa asing.
Meskipun niat bertarung yang terpancar jelas dari pria itu diarahkan langsung kepadanya, Mephisto sama sekali tidak mengubah ekspresi santainya.
“Wah, wah, tampaknya kau membawa sesuatu yang cukup merepotkan (pedang suci), ya. Bagaimana harus kukatakan, aku datang ke sini murni hanya untuk mengadakan diskusi dengan para kesatria sihir di negara ini.”
“Diskusi… begitu ya. Bagaimana kalau Anda menceritakan isi dari diskusi tersebut kepada kami juga?”
Dihadapkan pada interogasi bernada mengancam dari pria itu, Mephisto terkekeh pelan.
“Apakah proposal diskusi semacam ini sedang menjadi tren di dalam Vatikan? Tanpa ada angin atau hujan, kau langsung menghunuskan senjata khusus lalu meminta sebuah percakapan. Hmm. Benda itu adalah Pedang Suci Galatine, bukan? Pedang yang dianggap sebagai saudara kembar dari Excalibur. Sebuah pedang yang luar biasa tangguh. Jika melihat senjatanya, bukankah itu berarti kau adalah sang pemegang pedang suci yang termasyhur, David Cerro?”
Pria itu—pria bernama David tersebut, mengulas senyuman tenang di wajahnya.
“Bisa kubilang aku sangat tersanjung karena namaku diingat oleh sosok sekelas Tuan Mephisto Pheles. Namun, kuharap Anda bersedia memaafkan ketidaksopananku ini, maukah Anda ikut bersama kami? Pihak Vatikan tidak bisa menutup mata terhadap pergerakan bergejolak dari kaum manusia super dan supernatural.”
Vatikan—.
Mendengar nama institusi itu disebut, Tobio langsung teringat kembali pada pelajaran yang pernah ia terima di Nephilim.
Bagi organisasi malaikat jatuh—Grigori, ada dua musuh bebuyutan yang telah berkonflik sejak zaman kuno.
Yang pertama adalah mereka yang menguasai Dunia Bawah yang sama dengan para malaikat jatuh—yaitu kaum iblis.
Sedangkan yang kedua adalah Tuhan dalam Alkitab beserta makhluk surgawi yang mengabdi kepada-Nya—yaitu para malaikat.
Malaikat jatuh, malaikat, dan iblis sering kali dijuluki sebagai Tiga Kekuatan Besar, dan selama bertahun-tahun lamanya, mereka telah terlibat dalam perebutan kekuasaan tiga arah yang tiada akhir.
Dan kemudian, berdiri pula Gereja Kristen yang menyembah Tuhan dalam Alkitab tersebut. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa golongan di dalam Gereja Kristen—dengan golongan utamanya adalah Katolik, Protestan, dan Ortodoks Timur—di mana terdapat kemungkinan yang sangat tinggi bahwa mereka menyimpan kebencian mendalam terhadap siapa pun yang berafiliasi dengan pihak Grigori.
Pihak Gereja juga melatih para agen antisupernatural—para kesatria yang dikenal sebagai “Prajurit Gereja”, atau yang lebih sering disebut sebagai eksorsis.
Baru saja, Mephisto memanggil pria bernama David itu dengan sebutan “eksorsis”, dan David sendiri juga menyebut tentang Vatikan yang merupakan markas besar Katolik.
Berbeda saat menghadapi Tim Abyss ataupun Penyihir Oz, kali ini Tobio dan kawan-kawan harus berhadapan langsung dengan organisasi yang menjadi musuh alami dari Grigori itu sendiri—.
“Kalau situasinya begitu, bukankah lebih baik kalau kita tebas saja mereka semua sampai hancur?”
Tiba-tiba, sebuah suara baru yang melengking terdengar memotong pembicaraan.
Di bawah tatapan waspada rombongan, seorang anak laki-laki berambut putih mendadak memunculkan kepalanya dari balik punggung David. Ia memiliki fitur wajah khas orang Eropa.
Kesan pertama saat melihatnya adalah penampilannya yang sekilas tampak imut layaknya anak berusia dua belas atau tiga belas tahun, tapi sepasang manik matanya memancarkan sorot yang sangat liar dan berbahaya.
Begitu pandangan bocah itu tertuju pada Mephisto, ia langsung bersorak kegirangan.
“Wah, wah! Sense, Sense! Pria berpenampilan keren ini adalah petinggi para penyihir, ya! Aura yang menyelimuti tubuh orang ini benar-benar tiada tanding! Aku bisa gila melihatnya!”
David menegur anak laki-laki di dekatnya itu.
“Freed, mundurlah sedikit dan hadapi saja anjing milik malaikat jatuh yang ada di sebelah sana.”
Tepat setelah memberikan instruksi tersebut kepada sang bocah, pria Katolik bernama David itu mendadak lenyap dari pandangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Terkejut oleh pergerakan instan yang tiba-tiba itu, Tobio dan kawan-kawannya segera memeriksa situasi sekitar dengan panik. Tempat di mana David memanifestasikan wujudnya kembali berikutnya adalah—tepat di dekat Samejima.
Samejima langsung bereaksi dan berbalik untuk menghadapi arah datangnya serangan—namun, tanpa sempat melancarkan serangan balik, ia sudah terlanjur telentang dan terpental jauh akibat tendangan telak David.
“Guah!”
Samejima terempas ke belakang akibat daya hancur dari tendangan David tersebut.
“Manusia yang telah memilih berpihak pada malaikat jatuh. Anggap dirimu beruntung karena tidak langsung terbunuh.”
“K-kau keparat!”
Sebagai bentuk serangan balasan, Natsume menembakkan beberapa rentetan peluru cahaya dari pistolnya ke arah David. Namun, David mengayunkan pedang kuno di tangannya dengan kecepatan luar biasa, menangkis semua peluru cahaya yang ditembakkan Natsume dengan sangat mudah.
“Kau sengaja memperlemah daya outputnya, ya? Jadi ini hanya gertakan. Konsekuensinya, kau bahkan tidak mengincar titik lemah fatal milikku.”
Merespons ucapan David yang berkata demikian sambil menangkis peluru cahaya dengan ekspresi tenang, Natsume pun ikut bersuara dengan nada takjub bercampur kesal.
“Peluru cahayaku bisa dipatahkan semudah itu…!”
…Menyadari bahwa sosok di depan mereka ini adalah musuh dengan peringkat tertinggi di antara semua lawan yang pernah mereka hadapi sejauh ini, Tobio segera menarik keluar sabit besarnya dari balik bayangan. Tepat saat ia hendak memberikan instruksi kepada Jin—.
Mendadak, Mephisto mengambil satu langkah maju dan berbicara kepada Tobio dan yang lainnya.
“Maskot kalian dan pedang yang sedang ia hunus memiliki kecocokan yang paling buruk. Jika sampai terkena satu tebasan saja, Sacred Gear milik kalian akan menderita kerusakan berat yang teramat parah.”
Setelah memperingatkan hal tersebut, Mephisto langsung maju menghadapi David secara mandiri.
Menghadapi Mephisto yang terus menyunggingkan senyuman tenang, David melancarkan serangan kilat dengan kecepatan ekstrem.
Meski tebasan pedang David datang bertubi-tubi, Mephisto tanpa bergerak sedikit pun hanya melakukan satu tindakan sederhana: membentangkan sebuah lingkaran sihir pertahanan tepat di hadapannya.
Pedang suci itu kembali diayunkan dengan kuat menghantam lingkaran sihir tersebut, memicu benturan dahsyat antara pancaran aura suci dan mantra sihir kuno.
Dari balik lingkaran sihir pertahanan itu, David melontarkan pernyataan yang terkesan tak kenal takut.
“Jika, katakanlah sebagai perumpamaan, aku berhasil menghabisi Anda di sini, maka aku dan Galatine mungkin akan mengukir nama kami dalam sejarah para prajurit, persis seperti Yang Mulia Vasco Strada.”
Mephisto menanggapi dengan riang sembari mengusap dagunya perlahan.
“Hmm hmm, begitu ya. Jadi kau ingin disejajarkan dengan monster itu. Sang pendekar pedang legendaris yang bahkan ditakuti oleh eksekutif Grigori seperti Kokabiel…. Sayangnya, tampaknya kau belum cukup mampu untuk mencapai ranah tersebut.”
“Hmph, aku tidak berniat menjadi persis seperti Yang Mulia. Lagi pula, seperti yang sudah diduga, jika aku benar-benar melenyapkan Anda di sini, hal itu pasti akan memicu kontroversi besar.”
“Kalau begitu, menurutku tindakanmu saat ini pun sebenarnya sudah sangat kontroversial.”
Terpisahkan oleh pembatas lingkaran sihir yang tak kunjung retak itu, David memilih untuk melompat mundur demi mengatur kembali kuda-kuda bertarungnya.
Pada momen itulah, Lavinia dan Vali seketika bergerak maju dan memosisikan diri di antara keduanya.
“Jika kau berani mengambil langkah lebih jauh untuk menyerang direktur kami, maka akulah yang akan menjadi lawanmu.”
Sembari melepaskan hawa sedingin es ke area sekeliling, Lavinia berdiri kokoh membentengi Mephisto. Terlebih lagi, bocah berambut perak—Vali, juga ikut mengambil posisi tempur dengan senyuman menantang di hadapan Lavinia.
“Hmph. Seorang pengguna pedang suci sebagai lawan, ya. Aku sudah lama berpikir kalau aku ingin bertarung setidaknya sekali melawan seorang master pedang suci.”
Melihat kemunculan Lavinia dan Vali yang menghalangi jalannya, David menyipitkan matanya.
“…Hmm. Penyihir es dan… bocah nakal, ya?”
Di saat Vali dan Lavinia yang melindungi Mephisto saling melempar pandangan tajam dengan David, anak laki-laki berambut putih yang mengikuti pastor Katolik tersebut—Freed, tiba-tiba merogoh saku dadanya dan mengeluarkan benda yang tampak seperti sebuah tongkat pendek dan pistol.
Kedua benda tersebut adalah senjata yang sudah pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka bahkan telah dilatih untuk mengenali senjata semacam itu selama pelajaran di kelas.
Mengenai tongkat pendek itu, benda tersebut adalah pedang cahaya yang mampu mengubah energi cahaya milik malaikat atau malaikat jatuh menjadi bilah tajam, sementara senjata satunya adalah pistol khusus yang menembakkan peluru cahaya.
Karena Natsume sendiri membawa pistol serupa yang telah dimodifikasi untuk kebutuhan Grigori, mereka langsung mengenali jenis senjata tersebut.
Freed menatap Tobio dan para mantan murid SMA Ryoukou lainnya dengan senyuman penuh kegilaan yang terasa sangat tidak pantas bagi bocah seusianya.
“Senang bertemu dengan kalian, Onii-san-sama. Namaku Freed Sellzen. Mulai sekarang, aku akan sangat senang bisa mengenal kalian—itulah yang ingin kukatakan, tapi sepertinya aku mungkin akan menghabisi kalian semua hari ini juga!”
Sambil menggenggam pedang yang bilah cahayanya telah memanjang serta pistol cahayanya, Freed langsung melesat menyerang mereka pada detik itu juga.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengincar bagian tengah dada dan kepala mereka demi memberikan luka mematikan. Dengan niat membunuh yang terpampang nyata, ia benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda akan menahan diri.
Tobio menangkis tebasan bilah pedang cahaya yang diayunkan Freed menggunakan sabit besarnya.
Melihat fakta bahwa Tobio mampu menghentikan serangannya dengan mudah, senyuman di wajah Freed justru semakin tampak gila dan sinting.
“Kalau begitu, bagaimana dengan yang ini!”
Secara membabi buta, Freed menebaskan pedang cahayanya berkali-kali ke arah Tobio dengan kecepatan luar biasa.
Sembari mengalirkan balik semua tebasan itu dengan ujung sabitnya, Tobio melancarkan serangan balasan yang membentuk pola melengkung—namun, bocah berambut putih itu dengan lincah berhasil menghindarinya.
“Ayo, aku masih punya tembakan dor-dor di sini tahu!”
Menemukan celah di tengah-tengah adu pedang mereka, Freed menembakkan peluru cahaya dalam jarak yang sangat dekat.
Tobio dan Jin merespons secara instan pada saat yang sama; mereka melompat mundur demi menghindari hantaman langsung. Alhasil, Tobio hanya menderita luka gores ringan di bagian lengan.
Namun, berdasarkan apa yang pernah diajarkan kepadanya, jika dia adalah seorang iblis atau vampir, luka gores dari elemen cahaya seperti ini pasti sudah memberikan kerusakan yang sangat masif. Bagi kaum iblis dan vampir, cahaya adalah kelemahan mutlak mereka.
Freed tampak sangat kegirangan melihat keberhasilan Tobio dan Jin dalam menghindari serangannya.
“Ohohoh, kau ternyata lumayan cepat juga, ya!”
Serangan dari arah depan tidak membuahkan hasil yang berarti. Tobio pun saling melempar pandangan dengan Jin untuk mengoordinasikan taktik.
Setelah memutar sabitnya satu kali, Tobio segera merangsek maju secara simultan bersama Jin. Tobio menebaskan senjatanya ke arah Freed.
Freed menahan gempuran Tobio menggunakan pedang cahayanya. Meskipun bocah itu memiliki postur tubuh yang terbilang kecil, fondasi tubuh bagian dalamnya ternyata sangat kokoh. Mengingat adanya perbedaan fisik yang mencolok antara Tobio dan bocah ini, dalam kondisi normal, menerima serangan frontal berturut-turut seperti itu seharusnya sudah cukup untuk menghancurkan keseimbangan kuda-kuda lawan, namun Freed tetap bergeming.
Di tengah gempuran serangan bertubi-tubi tersebut, Jin yang ikut menerjang bersama masternya mendadak melesat melewati Tobio dari belakang dengan kecepatan luar biasa. Ia mengubah wujudnya menjadi peluru hitam melesat lurus, lalu berlari secara lateral meniti dinding bangunan di samping mereka.
Sambil berlari di sepanjang dinding, Jin tiba-tiba memosisikan dirinya tepat di belakang Freed demi melancarkan serangan jepit bersama sang master, Tobio, sebelum akhirnya melompat menerkam musuh.
Dalam taktik serangan jepit ini, Jin menebaskan bilah pedangnya dari arah belakang. Itu adalah sebuah serangan yang dilancarkan pada momentum yang teramat sempurna.
—Namun, dengan meliukkan tubuhnya secara ekstrem, Freed justru melompat ke udara melakukan gerakan akrobatik yang mustahil demi menghindari tebasan tersebut!
Mendarat dengan sangat mulus, Freed tetap mengulas senyuman lebar meskipun ia sempat terdesak.
“Ck ck ck! Dasar anjing sialan! Hehehe! Menyerangku dengan niat membunuh yang sehebat ini… benar-benar membuat gairah bertarungku melonjak sampai ke batas maksimal!”
Akibat serangan jepit barusan, emosi bocah itu tampaknya telah terstimulasi hingga ke tahap yang tidak wajar.
Pandangan mata Freed yang sedang dalam kondisi histeris mendadak beralih—tertuju ke arah Sae dan Shigune yang sedari tadi menyaksikan jalannya pertempuran dari jarak aman di belakang. Bocah berambut putih itu menjilat bibirnya sendiri sembari memancarkan niat membunuh yang pekat ke arah kedua gadis tersebut.
Namun, David langsung berteriak memperingatkan Freed dengan nada tegas.
“Freed! Setidaknya, jangan pernah mencari masalah dengan monster yang wajahnya tertutup itu ataupun masternya!”
Freed, yang baru saja hendak melesat pergi menyerang mereka, terpaksa menghentikan gerakannya di tengah jalan, yang berujung pada hilangnya keseimbangan tubuhnya sesaat.
“Wah, wah, wah! Jadi target yang paling menarik malah tidak boleh disentuh, ya!”
“Benar. Ide yang sangat buruk untuk memicu konflik dengan sosok yang mampu melahap seluruh penduduk di kota ini.”
“Tapi justru itulah yang membuatnya jadi sangat seru! Oh, tidak; kalau aku terus berpikir begitu, aku bisa-bisa dihukum habis-habisan oleh sang guru yang paling mahaguru dari segala guru! Bukankah begitu, Sense?”
Tepat pada saat itulah, sudut mata Freed menangkap suatu pergerakan.
David sendiri, bahkan tanpa perlu diberi tahu oleh muridnya karena ia telah merasakannya terlebih dahulu, langsung bereaksi menghalau serangan Samejima yang datang menusuk rusuknya menggunakan sebilah tombak tajam.
Dengan tombak yang merupakan ujung ekor dari Byakusa yang diselimuti oleh percikan aliran listrik, Samejima merangsek maju menerjang David.
David menahan hantaman tombak tersebut menggunakan pedang sucinya.
Samejima berbicara sembari menepuk perutnya menggunakan tangan yang bebas.
“Serangan tadi benar-benar sakit, Pak Tua. Tapi, berkat instruktur berdarah dingin kami yang seperti monster itu, aku jadi punya kepercayaan diri yang tinggi pada otot perutku sendiri.”
Melihat ke arah Samejima yang tampaknya tidak menerima kerusakan yang berarti meskipun baru saja terpental jauh akibat tendangannya, David pun mengekspresikan rasa kagumnya.
“Wah, tampaknya kau telah melatih tubuhmu dengan sangat baik.”
Meskipun Samejima kini telah kembali bergabung dalam pertarungan, situasi pertempuran melawan David dan Freed ini mulai menunjukkan tanda-tanda kekacauan yang semakin melebar.
—Namun, tepat pada momen krusial tersebut, sebuah suara dari pihak ketiga mendadak menyela jalannya laga.
“—Ya ampun, padahal aku sengaja datang menyusul karena mengira kalian memakan waktu terlalu lama, tidak kusangka kalian malah bermalas-malasan di tempat seperti ini.”
Sosok yang tiba-tiba menampakkan dirinya di sana adalah seorang pria tampan dengan kepala plontos tercukur rapi, mengingatkan pada gaya rambut khas anggota geng jalanan. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, pakaian yang ia kenakan adalah jenis pakaian tradisional yang biasa dipakai oleh para petapa gunung.
“Awah awah! S-Sesuatu yang mengerikan sepertinya sedang terjadi di sini, bukan!?”
Ada satu orang lagi yang menyertai pria itu, seorang gadis mungil dengan suara yang terdengar imut. Memiliki penampilan layaknya murid sekolah dasar tingkat atas, gadis kecil itu terlihat mengenakan jas hujan berwarna kuning terang. Sebuah tas ransel berbentuk menyerupai cangkang kura-kura tampak terikat erat di punggungnya.
Kedua orang yang baru tiba tersebut memang belum sempat menjelaskan identitas mereka, tetapi dari pancaran aura unik khas pengguna kekuatan supernatural yang mengalir dari tubuh keduanya, serta tekanan masif yang mereka lepaskan, bahkan Tobio pun bisa langsung paham bahwa mereka bukanlah manusia sembarangan.
Melihat kemunculan dua orang asing ini, Freed yang tadinya sedang berhadapan dengan Tobio langsung bereaksi spontan. Ia mengarahkan pistolnya—tepat ke arah mereka!
Tanpa memikirkan konsekuensinya, Freed langsung menarik pelatuk pistol cahayanya!
“Langsung kusambut dengan tembakan begitu kalian muncul!”
Peluru cahaya yang ditembakkan oleh Freed melesat lurus dan menghantam tepat di bagian wajah pria bergaya anggota geng tersebut dari arah depan!
Melihat serangannya mengenai sasaran dengan telak, Freed meledak dalam tawa yang penuh kegilaan.
“Kakah kah kah kyan♪ Biarpun dia manusia, kalau menerima bola cahaya tepat di wajahnya, otaknya pasti akan langsung meledak hancur—”
Namun, kalimat Freed mendadak terhenti di tengah jalan.
Sebab pria yang seharusnya tewas akibat hantaman peluru cahaya di wajahnya itu justru tetap berdiri tegak dengan postur yang sangat tenang. Bahkan, tidak ada luka atau kerusakan sedikit pun di wajahnya!
Pria bergaya anggota geng itu hanya sedikit mendistorsi ekspresi wajahnya karena merasa terganggu.
“…Cih. Sesuai dugaan, seharusnya aku menghindarinya saja tadi, ya.”
Melihat kondisi temannya, sang gadis jas hujan pun langsung berteriak panik.
“Hya, Byakko-san! Kau harus menghindarinya! Biarpun tubuh Byakko-san itu sangat kokoh, tolong hindari hal-hal yang memang bisa dihindari!”
Pria yang dipanggil dengan nama Byakko itu berbicara sembari mengusap dahinya yang baru saja terkena hantaman peluru cahaya.
“Yah, perkataanmu ada benarnya juga, Genbu. Aku hanya ingin merasakan sendiri bagaimana kekuatan dari pistol cahaya buatan Vatikan setidaknya sekali. Ini persis seperti apa yang selalu dikatakan oleh Suzaku dan Seiryuu, bukan? Kita harus menjadikan sihir dan teknik kaum heretik sebagai bahan studi kita.”
“Kalau tujuannya begitu, normalnya kau harus menghindarinya setelah merasakannya! Ya ampun! Untuk saat ini, mari kita selesaikan situasi kacau ini dulu!”
Setelah berkata demikian, gadis berjas hujan itu mengeluarkan sejumlah jimat kertas dari dalam tas cangkangnya dan menginfusinya dengan aliran kekuatan spiritual. Dengan memutar lengannya membentuk pola lingkaran, jimat-jimat tersebut melayang satu demi satu di udara, membentuk sebuah formasi lingkaran yang rapi.
Sembari membentuk segel tangan simbolis, gadis itu merapal mantranya.
“Segel!”
Melesat maju sesuai perintahnya, jimat-jimat kertas itu terbang menembus udara dan langsung menempel erat pada bagian gagang pedang cahaya serta pistol yang sedang digenggam oleh Freed.
Seketika itu juga, pancaran energi cahaya dari pedang yang dipegang Freed langsung padam sepenuhnya, mengembalikan wujud senjata tersebut menjadi sekadar tongkat pendek biasa.
Merasa kebingungan dengan apa yang terjadi, Freed menggoyang-goyangkan tongkat pendek tersebut dengan panik.
“Oh oh? Apakah senjatanya rusak… bukan, ini bukan kerusakan. Pistol cahaya kesayanganku dihentikan paksa oleh serangan sialan dari gadis sialan itu!”
Mendengar bahasa kasar yang dilontarkan oleh Freed, sang gadis langsung menunjukkan ekspresi jijik yang amat sangat.
“Uwah, meskipun dia bicara menggunakan bahasa asing, entah bagaimana caranya aku bisa paham kalau dia sedang melontarkan kata-kata yang sangat vulgar. Tipe orang seperti dia adalah jenis yang paling kubenci.”
Melihat kekuatan Freed yang telah berhasil disegel sepenuhnya, kali ini giliran sang pria bergaya anggota geng yang mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah David.
“Jadi yang tersisa sekarang tinggal si kakek pastor Katolik ini, ya? Ini adalah pertama kalinya aku bertarung melawan prajurit dari ajaran Kekristenan, tapi yah, aku pasti bisa mengatasinya.”
Sebuah fenomena pendaran cahaya berwarna putih bersih mendadak muncul membungkus sekujur tubuh pria bergaya anggota geng tersebut. Pada detik fenomena itu bermanifestasi, tekanan udara di sekitar mereka seketika bergetar hebat dan embusan angin kencang mulai tercipta. Badai angin mendadak meledak di area gang akibat efek pendaran cahaya yang dilepaskan dari tubuh pria itu.
Mephisto bergumam kagum.
“Ho. Meskipun masih belum matang, dia mampu menyelimuti tubuhnya sendiri menggunakan touki (aura bertarung). Dia pasti telah melatih dan membangun kekuatan fisiknya hingga ke tahap ekstrem menggunakan metode Sendou[2] atau mungkin Shugen[3].”
David mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling area pertarungan. Menatap ke arah Tobio dan para murid Nephilim lainnya, ditambah Mephisto, Lavinia, serta Vali. Ia kemudian menyipitkan matanya begitu menyadari bahwa dengan kehadiran gadis tas cangkang yang telah menyiapkan jimat spiritualnya beserta pria bergaya anggota geng yang melepaskan hawa bertarung masif, jumlah pihak lawan yang harus ia hadapi kini telah bertambah secara signifikan.
Sembari menyimpan kembali pedang sucinya ke balik jubah, David akhirnya membuka suara.
“…Tampaknya jika kita memaksakan interogasi lebih lanjut di sini, hal itu hanya akan berujung pada cedera parah bagi pihak kita. Freed, kita mundur.”
“Siap, Sense!”
Tepat setelah membalas ucapan David, Freed langsung mengeluarkan sebuah benda yang memiliki bentuk menyerupai granat tangan.
Setelah menarik pin pengamannya, ia melemparkan benda tersebut ke arah rombongan Tobio. Detik itu juga—sebuah kilatan cahaya yang teramat menyilaukan meledak menerangi seluruh area gang.
…Tobio dan yang lainnya terpaksa kehilangan penglihatan mereka untuk sementara waktu akibat efek kilatan tersebut. Namun, pada saat mereka berhasil memulihkan pandangan dan memeriksa area sekitar—sosok David dan Freed sudah tidak lagi berada di sana.
Mephisto berkomentar santai.
“Hmm. Cara mereka menyampaikan undangan diskusi memang terbilang sangat tidak sopan, tapi tampaknya mereka tahu kapan harus mundur saat melihat tidak ada peluang untuk menang. Benar-benar karakteristik yang sangat khas dari para prajurit Vatikan.”
Meskipun David dan Freed telah sepenuhnya mengundurkan diri dari medan tempur, pria bergaya anggota geng serta gadis berjas hujan dan tas cangkang tersebut tetap melangkah maju mendekati rombongan Tobio.
Pria dan gadis kecil itu kemudian memberikan salam perkenalan formal kepada mereka.
Sang gadis membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Di dekat area kakinya, tampak seekor kura-kura dengan ukuran panjang sekitar lima belas sentimeter sedang merangkak. …Sekilas, hewan itu terlihat seperti kura-kura biasa, tetapi bagian ekornya wujudnya menyerupai seekor ular hidup, memberikan impresi visual seolah makhluk tersebut memiliki dua kepala sekaligus.
“Etto, namaku Doumon Genbu, kepala klan Doumon berikutnya yang merupakan bagian dari Lima Klan Utama. Mephisto Pheles-sama, kami datang ke sini ditugaskan untuk menjemput Anda beserta rombongan. Dan makhluk di bawah ini adalah makhluk suci pendampingku, Genbu-kun.”
Gadis kecil bernama Genbu itu memperkenalkan diri sembari mengangkat kura-kura yang ada di dekat kakinya. …Benda itu ternyata adalah seekor makhluk suci. Tobio sendiri tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya yang teramat sangat setelah diperkenalkan secara langsung dengan manifestasi nyata dari Makhluk Suci Genbu (Xuánwŭ/Kura-Kura Hitam) tersebut.
“Ah, lalu, orang yang ada di sebelah ini adalah—”
Mendengar desakan dari Genbu agar dirinya segera memperkenalkan diri, sang pria akhirnya berbicara dengan nada malas seolah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang merepotkan.
“Tampaknya sekarang giliranku untuk bicara, ya? …Haa, namaku Shinra Byakko. Kepala klan Shinra berikutnya.”
Pria itu berucap demikian sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah panjangnya dengan sikap santai.
—Genbu, Byakko.
…Nama-nama tersebut merupakan nama dari makhluk suci yang diemban dan diatur oleh Lima Klan Utama. Terlebih lagi, bagi orang-orang yang telah diberikan izin khusus untuk menyandang nama-nama keramat tersebut, mereka adalah individu-individu terpilih dari dalam lima silsilah keluarga utama yang telah resmi ditunjuk dan dikontrak secara langsung oleh sang makhluk suci itu sendiri.
Tobio dan kawan-kawan menyadari sepenuhnya bahwa kedua orang di hadapan mereka ini bukanlah manusia biasa, melainkan figur-figur sentral yang berada di puncak kepemimpinan Lima Klan Utama.
Merekalah representasi dari Lima Klan Utama yang diutus khusus untuk menyambut rombongan mereka—.
Tobio dan yang lainnya memang sudah pernah bertemu dengan Kazuhisa Seiryuu serta Himejima Suzaku, tapi dengan pertemuan kali ini, itu berarti mereka telah resmi bertatap muka dengan seluruh perwakilan dari Empat Makhluk Suci pelindung arah mata angin, menyisakan Ouryuu milik klan Nakiri saja yang belum mereka temui.
Mengingat bahwa Lima Klan Utama sampai rela mengutus dua kepala keluarga sekaligus hanya untuk menyambut kedatangan mereka, hal ini menjadi bukti nyata bahwa Lima Klan Utama benar-benar memiliki niat serius untuk menyepakati agenda konferensi bersama Mephisto.
Genbu kembali berbicara.
“Jika Anda sekalian tidak keberatan, mohon ikuti langkah kami menuju area Kuil Bagian Dalam yang merupakan salah satu basis pertahanan terkuat milik kami.”
Byakko memberikan isyarat menggunakan dagunya ke arah ujung gang sempit tersebut.
“Mobil jemputan kita sudah diparkir tepat di sebelah sana. Ayo jalan.”
Dengan demikian, rombongan Tobio pun segera bergerak menuju basis pertahanan yang disebut sebagai Kuil Bagian Dalam dengan menaiki fasilitas kendaraan mewah yang telah disiapkan khusus oleh Lima Klan Utama—sebuah mobil limosin.
[1] Ina Bauer adalah gerakan meluncur dengan kedua kaki pada bilah paralel (satu di depan yang lain) di mana kaki depan ditekuk dan kaki belakang diluruskan, sambil melengkungkan tubuh ke belakang.
[2] Sendou berarti “Jalan Para Sennin (Pertapa)’ atau metodologi untuk menjadi makhluk abadi.
[3] Shugen (atau lebih tepatnya Shugendō) adalah agama dan praktik asketisme (pertapaan) asli pegunungan Jepang yang sangat sakral.

Post a Comment