SLASHDOG Jilid 3 Bab 3

1

Bab 3 Lima Klan Utama/Kuil Bagian Dalam

1

Tobio dan yang lainnya telah naik ke dalam mobil limosin.

Kaca jendela limosin tersebut tampak buram dan sangat gelap. Akibatnya, tidak hanya orang dari luar yang mustahil mengintip ke dalam, tetapi mereka yang berada di dalam pun sama sekali tidak bisa melihat situasi di luar.

Dengan kata lain, prosedur pengamanan ketat telah diterapkan agar selama perjalanan, rombongan Tobio tidak akan pernah tahu ke mana mereka sedang dibawa pergi.

Suasana di dalam kendaraan terasa begitu hening.

Pada awalnya, Mephisto dan gadis berjas hujan—Doumon Genbu, sempat mendiskusikan rencana agenda mereka ke depan secara singkat. Namun, di sisi lain…. pria yang penampilannya menyerupai anggota geng—Shinra Byakko, terus duduk sembari melipat dada. Seluruh tubuhnya memancarkan aura intimidasi kuat yang seolah-olah menolak percakapan lebih lanjut.

Akibatnya, terciptalah keheningan panjang di mana baik kelompok Tobio maupun pihak perwakilan Genbu tidak ada yang berani memulai pembicaraan.

—Kemudian, menyadari hal tersebut dan tampaknya bisa merasakan atmosfer yang canggung, Genbu berinisiatif merogoh kulkas mini yang terpasang di dalam limosin dan mengeluarkan beberapa botol minuman dingin dari sana.

“Kami menyediakan minuman dingin di sini, jadi silakan ambil dan jangan sungkan.”

Sembari terkekeh dengan senyum yang sedikit dipaksakan, ia berusaha keras mencairkan suasana yang kaku.

Melihat interaksi tersebut, Tobio berpikir bahwa Doumon Genbu sebenarnya bukanlah gadis yang buruk. Gadis itu kini sedang mengelus dengan lembut kepala kura-kura yang meringkuk di atas pangkuannya—Makhluk Suci Genbu.

Sembari menerima minuman yang disodorkan, Natsume memanfaatkan momen itu untuk bertanya kepada Genbu.

“Mengenai… Kuil Bagian Dalam milik Lima Klan Utama itu, tempat seperti apa sebenarnya itu?”

Genbu pun menjelaskan.

“Seperti yang bisa kalian duga, masing-masing keluarga utama dan keluarga cabang dari Lima Klan Utama sebenarnya memiliki kediaman besar dan kuil pusat mereka sendiri. Namun, di negara ini juga terdapat beberapa markas rahasia khusus yang digunakan sebagai tempat berkumpul bagi para anggota resmi Lima Klan Utama yang berwenang. Dan dari sekian banyak tempat tersebut, Kuil Bagian Dalam merupakan basis pertahanan utama yang menduduki peringkat tertinggi.”

Natsume mengangguk paham.

“Begitu rupanya. Jadi tempat itu bukan milik salah satu keluarga saja. Tadinya aku sempat mengira kalau kami akan dibawa langsung ke kediaman utama klan Nakiri, yang memimpin Lima Klan Utama.”

Mendengar hal itu, Byakko langsung menyahut dengan ketus.

“Kediaman utama klan Nakiri bukanlah tempat yang bisa dikunjungi sembarangan. Bahkan kontraktor makhluk suci seperti aku dan Genbu saja jarang sekali dipanggil ke sana. Kalau sudah menyangkut klan Nakiri, memang begitulah hukumnya.”

Klan Nakiri yang memegang posisi pemimpin memang memiliki status yang teramat istimewa, bahkan di antara Lima Klan Utama sekalipun.

Genbu kembali menyambung perkataan temannya.

“Karena itu, untuk agenda seperti sekarang yang melibatkan diskusi bersama seluruh perwakilan dari lima keluarga, mengadakan pertemuan di Kuil Bagian Dalam dinilai jauh lebih tepat dan netral daripada harus mendatangi kediaman masing-masing keluarga.”

Mephisto, yang merupakan pihak yang mengajukan permohonan konferensi ini, tampak sangat bersemangat.

“Bisa diundang langsung oleh para pilar utama yang memimpin para pengguna kekuatan supernatural di Jepang saja sudah merupakan sebuah kehormatan besar, bukan? Aku benar-benar sangat menantikannya.”

Menanggapi ucapan tersebut, Lavinia menimpali sembari tersenyum manis.

“Benar. Meskipun sistem yang digunakan oleh Genbu berbeda dengan kami, siapa pun yang mempelajari seni sihir pasti akan sangat tidak sabar untuk melihat seperti apa Kuil Bagian Dalam itu.”

Genbu hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.

“Mengenai lokasi pastinya, mengingat ada banyak sekali orang-orang berbahaya di luar sana yang memusuhi kami, aku mohon pengertiannya mengapa kami harus merahasiakan rutenya.”

Meskipun usianya masih sangat muda, Tobio dapat merasakan bahwa Doumon Genbu adalah seorang gadis yang luar biasa dewasa dan berpikiran jernih.

Sembari percakapan itu terus mengalir, mobil limosin mewah tersebut terus melaju membelah jalanan.

Terkait lokasi dari Kuil Bagian Dalam, rombongan Tobio sebenarnya sudah pernah mendengar informasinya dari Azazel, meskipun hanya secara tidak langsung.

Wilayah yang dianggap sebagai tanah leluhur sekaligus asal-usul dari Lima Klan Utama—para pengguna kekuatan supernatural—diyakini berada di prefektur Nara. Mereka mendengar kabar bahwa wilayah tersebut telah dipenuhi oleh berbagai basis pertahanan milik Lima Klan Utama sejak zaman kuno.

Meskipun mereka tidak mendapatkan penjelasan mendetail dari Genbu maupun Byakko, berdasarkan informasi dari Azazel, tampaknya mereka akan menempuh perjalanan yang melintasi seluruh prefektur tersebut.

Pada kenyataannya, sejak mereka mulai berangkat, beberapa jam memang telah berlalu.

Setelah sempat berhenti sejenak untuk pergi ke toilet di sebuah kedai teh tradisional kuno bergaya Jepang (yang tampaknya tempat ini pun masih memiliki keterikatan dengan Lima Klan Utama), mobil limosin itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Hingga pada suatu momen, rombongan Tobio tiba-tiba merasakan sensasi aneh berupa rasa merinding yang disertai demam mendadak yang menyerang tubuh mereka.

Melihat reaksi tersebut, Genbu langsung berbicara sembari melemparkan senyuman.

“Kita akan segera sampai.”

Genbu menegaskan hal tersebut dengan penuh keyakinan meskipun ia sendiri tidak bisa melihat situasi di luar mobil. Kemungkinan besar, kepastiannya itu berkaitan erat dengan sensasi merinding dan hawa panas yang baru saja mereka rasakan.

Tiba-tiba, Mephisto angkat bicara.

“Hmm. Tampaknya kita baru saja melewati penghalang mistis lapisan pertama.”

Mendengar pernyataan Mephisto, Byakko langsung menyeringai sinis.

“Seperti yang diduga dari pemimpin para penyihir, atau haruskah aku menyebutmu sebagai makhluk kuno? Kau tampak sangat tenang meskipun baru saja melewati sebuah penghalang mistis.”

Menanggapi sindiran Byakko, Mephisto hanya menunjukkan senyum penuh arti yang misterius.

“Yah, itu hanyalah jenis penghalang mistis yang memang mengizinkan makhluk seperti aku untuk lewat.”

Sambil tetap melipat kedua tangannya, Byakko menggumam pelan.

“Kau benar-benar sosok yang mengerikan, ya.”

Padahal, jika mengingat kejadian sebelumnya, Mephisto sempat memberikan bantuan yang sangat berarti bagi para agen Gereja yang menyerang mereka—David dan Freed, tapi sekarang ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa….

Setelah itu, tubuh mereka kembali diserang sensasi merinding dan hawa panas yang serupa sebanyak beberapa kali. Tak lama kemudian, mobil limosin itu perlahan berhenti, dan dari arah luar terdengar suara derit berat dari sesuatu yang bergeser.

Genbu berucap, “Gerbang utama sedang dibuka.”

Tampaknya suara berat dan berisik itu berasal dari gerbang utama tempat tersebut yang sedang bergeser terbuka.

Setelah gerbang dipastikan terbuka lebar, mobil kembali melaju perlahan, dan dari titik itu mereka masih harus berkendara masuk selama beberapa menit ke depan.

Natsume yang merasa heran pun bergumam.

“…Padahal kita sudah melewati gerbang utama, tapi mobil ini masih terus berjalan maju?”

Genbu menyahut dengan nada sedikit tidak enak hati.

“…Kuil Bagian Dalam ini memang luar biasa luas. Perjalanannya hanya tinggal sebentar lagi, kok.”

Beberapa menit setelah penjelasan gadis itu, mobil limosin tersebut akhirnya benar-benar berhenti total.

Pintu mobil kemudian dibukakan dari luar oleh seseorang.

Setelah dipersilakan, Tobio dan yang lainnya segera melangkah keluar dari mobil—dan pemandangan yang langsung tersaji di hadapan mereka adalah sebuah kediaman kuno raksasa yang tampak sangat megah dan elegan.

Terlebih lagi, sekelompok orang tampak berdiri berbaris rapi di kedua sisi jalan yang menghubungkan pintu mobil menuju pintu masuk kediaman tersebut. Di satu sisi, tampak barisan orang-orang yang mengenakan pakaian ritual khas pendeta Shinto, sementara di sisi seberangnya dipenuhi oleh barisan orang-orang yang mengenakan pakaian yang menyerupai seragam militer kuno.

Dan tepat di ujung barisan tersebut—berdirilah beberapa sosok yang sudah sangat tidak asing lagi bagi mereka. Sosok itu adalah Himejima Suzaku dan Kushihashi Seiryuu.

Sembari melangkah membelah barisan para petinggi dan pejabat Lima Klan Utama, rombongan Tobio akhirnya tiba di hadapan kelompok Suzaku.

Suzaku menyambut kedatangan Tobio dan yang lainnya dengan senyuman hangat, sebelum kemudian membungkuk hormat memberi salam kepada Mephisto.

“Mephisto Pheles-sama, selamat datang di tempat kami setelah menempuh perjalanan jauh dari negara yang sangat luar biasa. Silakan lewat sini, kami telah menyiapkan ruang perjamuan khusus untuk menyambut Anda.”

“Kehormatan sepenuhnya ada di pihakku. Mohon bantuannya untuk hari ini.”

Setelah itu, Suzaku membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Tobio dan yang lainnya.

“Aku senang kau bersedia datang, Tobio. Begitu juga dengan kalian semua.”

Berbeda dengan Suzaku yang melemparkan senyum ramah kepada kelompok Tobio, Kushihashi Seiryuu justru melangkah untuk menyambut kedatangan kelompok Byakko.

“Terima kasih atas kerja kerasmu, Byakko. Dan juga Genbu-chan.”

Byakko menjawab sembari menggaruk bagian belakang kepalanya dengan santai.

“Sesuai dengan laporan darurat yang baru saja kami kirimkan, para tamu sempat diserang di tengah jalan. Orang-orang dari Vatikan itu benar-benar mengirimkan pengacau yang sangat merepotkan.”

Seiryuu menanggapi sembari mendorong bingkai kacamata di pangkal hidungnya ke atas.

“Jadi bajingan-bajingan dari gereja itu bahkan berani melakukan penyelidikan sampai ke wilayah kekuasaan kita, ya. Gara-gara ulah para prajurit Gereja itu, seluruh kepala klan saat ini benar-benar sedang murka besar.”

Mendengar hal itu, Byakko hanya bisa menghela napas panjang, sementara Genbu tampak sangat jengah dan frustrasi.

“…A-aku pasti sudah membuat Papa khawatir lagi.”

Seiryuu tersenyum masam melihat reaksi gadis itu.

“Yah, mau bagaimana lagi, ayah Genbu 'kan memang tipe orang yang sangat mudah cemas….”

Di tengah-tengah obrolan singkat antara para kepala klan berikutnya tersebut, Suzaku dan yang lainnya mulai mengarahkan rombongan untuk segera melangkah masuk ke dalam kediaman utama.

“Baiklah semuanya, mari silakan ikuti langkah kami lewat sini—”

Namun, tepat sebelum mereka menginjakkan kaki di area selasar pintu masuk kediaman, para mantan siswa SMA Ryoukou tersebut mendadak dihentikan.

“Sebelum melangkah masuk, kami meminta izin untuk memasangkan benda-benda ini pada familiar kalian.”

Benda yang dikeluarkan oleh Seiryuu dari wadah yang dibawa oleh pelayannya—adalah beberapa buah cincin. Tampaknya cincin-cincin tersebut berukuran variatif agar bisa dipasangkan di area lengan, kaki, ataupun leher. Terdapat pola-pola ukiran rumit di permukaan cincin tersebut yang telah dialiri energi sihir tingkat tinggi, bahkan sebelum dipasangkan pun benda itu sudah memancarkan aura tekanan yang sangat kuat.

Melihat Tobio dan yang lainnya sempat ragu-ragu dan waspada selama beberapa saat, Mephisto langsung menenangkan mereka.

“Tenang saja, tidak perlu cemas. Aku bisa menjamin kepada kalian semua bahwa benda itu sama sekali tidak akan melukai kalian.”

Mengikuti ucapan sang direktur, Lavinia pun menimpali sembari tersenyum tanpa dosa.

“Karena Direktur sudah menjaminnya, maka semuanya pasti akan baik-baik saja. Lagi pula, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk, kita tinggal menghancurkan benda ini lalu kabur bersama-sama.”

Mendengar kalimat yang terdengar cukup ekstrem namun diucapkan dengan wajah tersenyum manis itu membuat yang lain hanya bisa pasrah….

Tobio dan yang lainnya saling bertukar pandang lalu mengangguk setuju.

Sesuai instruksi yang diberikan oleh Seiryuu, mereka mulai memasangkan cincin-cincin tersebut pada area leher dan kaki Jin serta familiar lainnya. Sesaat setelah cincin itu terpasang, insting dan reaksi dari para familiar mereka seketika berubah menjadi sangat lesu dan pasif….

Anehnya, hanya kondisi Poh-kun saja yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan berarti setelah cincin itu melingkari tubuhnya. Ia tampak sangat santai dan tidak terpengaruh sedikit pun.

Tobio dan yang lainnya akhirnya berhasil mencapai area selasar pintu masuk kediaman tersebut. Bangunan ini memang merupakan sebuah rumah tradisional kuno bergaya Jepang, tetapi… ukurannya benar-benar luar biasa masif hingga dari ujung ruang masuk utama saja, mereka sama sekali tidak bisa melihat di mana ujung dari koridor panjang yang membentang di dalam sana.

Area selasar depannya sendiri memiliki ukuran yang luar biasa luas. Ruang masuk utama itu setidaknya memiliki luas yang setara dengan dua puluh lembar tikar tatami.

Namun, di atas semua itu, begitu rombongan Tobio melangkah mendekati area dalam selasar, kulit mereka langsung menangkap adanya tekanan intimidasi yang sangat pekat dan menyesakkan.

Sosok yang berdiri tegak tepat di depan pintu masuk bagian dalam—adalah seorang pria paruh baya yang tubuhnya diselimuti oleh aura luar biasa kuat serta atmosfer yang terasa menusuk kulit. Pria itulah yang menjadi sumber utama dari tekanan luar biasa yang mereka rasakan sejak tadi. Dari seragam militer gagah yang dia kenakan serta tatapan matanya yang setajam silet, Tobio dapat langsung menyimpulkan bahwa level kekuatan pria ini berada di kasta yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan barisan orang-orang yang berjaga di luar tadi.

“Mephisto Pheles-dono. Mohon maaf karena telah membuat Anda menunggu lama. Aku adalah kepala klan Nakiri saat ini, Nakiri Nakagami-no-Ouryuu. Di sini aku bertindak sebagai pemimpin tertinggi dari para pembawa makhluk suci.”

—.

…Tobio dan para mantan siswa SMA Ryoukou seketika terpaku menganga mendengar proses perkenalan diri pria tersebut.

Pria berseragam militer di hadapan mereka ini ternyata adalah figur sentral sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dari klan Nakiri, klan utama yang memimpin Lima Klan Utama. Sebagai kepala klan saat ini, dialah sosok legendaris yang mengikat kontrak dengan Makhluk Suci Ouryuu (Huánglóng/Naga Kuning)—.

“Senang bertemu denganmu. Aku telah mendengar banyak reputasi hebat mengenai bakat luar biasa kau yang berhasil menduduki posisi kepala klan Nakiri di usia yang terbilang sangat muda. Aku sudah lama menantikan momen pertemuan kita ini.”

“Aku pun merasakan hal yang sama. Merupakan sebuah kehormatan terbesar bagiku bisa bertatap muka secara langsung dengan sosok Pheles-dono yang agung.”

Nakiri Nakagami-no-Ouryuu kemudian menjabat tangan Mephisto dengan erat.

Setelah itu, arah pandangan mata Ouryuu perlahan bergeser dan tertuju lurus kepada kelompok Tobio.

DEGG! Tobio dan yang lainnya seketika merasakan sensasi mengerikan, seolah-olah hanya dengan sekali lirikan saja, pria itu telah berhasil menguliti dan melihat menembus seluruh rahasia terdalam yang ada di dalam tubuh mereka.

Ouryuu pun kembali berbicara.

“Empat Makhluk Terkutuk, para sekutunya, dan juga sang anjing hitam. —Mari, silakan masuk, para tetua sudah menunggu kedatangan kalian di dalam.”

Di bawah panduan dan arahan langsung dari Ouryuu, Suzaku, serta perwakilan lainnya, rombongan Tobio pun akhirnya melangkahkan kaki mereka untuk masuk lebih dalam ke area interior kediaman misterius tersebut—.

 

Setelah berjalan kaki selama hampir sepuluh menit menyusuri koridor panjang yang berliku-liku….

Bagian dalam dari kediaman ini benar-benar terasa luar biasa luas hingga rombongan Tobio kini sudah sama sekali kehilangan arah dan tidak tahu lagi bagaimana rute untuk bisa jalan keluar dari sana.

Pada akhirnya, mereka dituntun menuju sebuah fusuma yang begitu dibuka, langsung memperlihatkan sebuah ruangan yang, sesuai dugaan, memiliki ukuran yang sangat luar biasa luas. Ruangan tersebut tampaknya memiliki luas yang jauh melebihi seratus lembar tikar tatami. Tempat itu tidak lain adalah sebuah aula perjamuan.

Mereka dituntun ke sebuah area tempat berjejernya banyak karpet persegi panjang berukuran satu orang (karpet-karpet tersebut dihiasi dengan tenunan lambang keluarga Lima Klan Utama). Karena bukan bantalan zabuton, karpet-karpet ini memberikan kesan sebagai barang milik kalangan sosial atas.

Di hadapan Nakiri Nakagami-no-Ouryuu, Suzaku, dan para pemilik Empat Makhluk Suci lainnya yang duduk di atas karpet tersebut, terdapat sebuah area yang posisinya satu tingkat lebih tinggi—bagian ruangan dengan lantai yang ditinggikan, menghadap langsung ke arah mereka.

Sebuah tirai tampak tergantung menutupi bagian depan tingkat atas tersebut, membuat mereka tidak bisa melihat siapa yang sedang duduk di balik lantai yang ditinggikan itu.

Suzaku, Nakiri Nakagami-no-Ouryuu, dan yang lainnya duduk dengan sikap hormat, lalu menundukkan kepala mereka. Bahkan Shinra Byakko, yang sedari tadi menunjukkan sikap agresif, ikut menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat.

Ouryuu kemudian melapor kepada orang-orang yang berada di tingkat atas. “Kami datang mendampingi Tuan Mephisto Pheles, beserta Ikuse Tobio dan teman-temannya.”

Tak lama kemudian, terdengar suara-suara dari balik tirai. Suara itu bukan hanya milik satu orang.

“Bagus, bagus. Kerja keras kalian sangat kami hargai, Ouryuu dan seluruh anggota Empat Makhluk Suci.”

“Tuan Pheles, dan kalian semua juga, silakan duduk.”

“Hohoho, kedatangan tamu dari luar negeri ke tempat ini… sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali, ya?”

Itu adalah suara orang-orang lanjut usia. Ada suara pria maupun wanita.

Mephisto berkata, “Kalau begitu, permisi,” lalu duduk di atas karpet, diikuti oleh Lavinia yang mengambil posisi duduk di belakangnya.

Meskipun begitu, Vali adalah yang pertama kali langsung mengempaskan pantatnya untuk duduk….

Tobio dan yang lainnya kemudian menyusul dengan posisi seiza. Namun, Samejima justru duduk bersila sendiri….

Setelah semua orang duduk, salah satu tetua di balik tirai kembali berbicara. “Meski begitu, seperti yang diduga, ini pertama kalinya seseorang yang begitu asing diseret ke hadapan kami—terlebih lagi seorang iblis.”

Tobio dan teman-temannya dibuat bingung oleh ucapan tetua tersebut. Namun, Lavinia dan Vali tetap tenang, seolah-olah mereka sudah mengetahui apa yang dimaksud oleh sang tetua.

Tampaknya Suzaku dan Empat Makhluk Suci lainnya juga memahami arti dari pernyataan tersebut.

Saat tatapan mata Tobio dan yang lainnya tertuju padanya, Mephisto berbicara dengan nada ceria. “Ah, tampaknya Ikuse dan anak-anak dari Empat Makhluk Terkutuk belum diberi tahu oleh Grigori. Itu cukup tidak sopan dari pihak kami. —Aku adalah apa yang kalian sebut sebagai iblis. Iblis murni. Yah, meskipun aku sudah cukup lama tidak pulang ke Dunia Bawah.”

……

…Mata Tobio, Sae, Natsume, Samejima, dan Shigune seketika melebar karena terkejut mendengar pengakuan mendadak itu.

Sesaat kemudian, setelah akal sehat mereka berhasil mencerna informasinya—.

[E-eeeeeeeeeeeeeeeeeeeehh!?]

Mendengar pengakuan Mephisto, Tobio, Samejima, Natsume, dan Shigune serentak berteriak histeris karena terkejut. Meski tidak ikut berteriak, Sae menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak kaget.

Melihat reaksi tersebut, Vali mendengus pelan melalui hidungnya. “Kukira kalian sudah tahu. Kalau berbicara tentang ‘Mephisto Pheles’, dia sudah jelas adalah seorang iblis. Setidaknya bacalah buku. Dia itu iblis yang terkenal.”

Natsume menyahut dengan gugup. “A-aku juga tahu nama Mephisto Pheles saat membaca buku sendiri, tapi… d-dia yang asli? Selama ini kukira itu cuma nama samaran.”

Mephisto mengangguk menanggapi pertanyaan Natsume. “Aku tidak tahu apa yang tertulis di buku itu, tapi kemungkinan besar, itu memang menceritakan tentang diriku.”

…Mephisto Pheles. Dari pengetahuan yang Tobio miliki, dia adalah iblis dalam legenda yang dipanggil oleh Georg Faust, sang astrolog, ahli nujum, dan alkemis terkenal.

Lavinia ikut menjelaskan. “Meskipun dikategorikan sebagai Extra Demon, beliau berasal dari generasi yang sama dengan Empat Maou Agung yang asli, sesosok iblis dari zaman kuno. Selain itu, Direktur Mephisto telah menjabat sebagai ketua dewan asosiasi penyihir sejak masa lampau.”

Mephisto menambahkan. “Identitas asliku pada dasarnya tidak dipublikasikan ke publik. Di dalam asosiasi, hal ini hanya diungkapkan kepada para praktisi sihir yang telah mendapatkan hak istimewa tingkat tertentu.”

Setelah mengetahui hal ini, Tobio akhirnya memahami sikap yang ditunjukkan oleh David dan eksorsis Gereja lainnya beberapa waktu lalu. Mereka bersikap seolah-olah sudah tahu bahwa Mephisto adalah seorang iblis.

Seiryuu berkata, “Kami juga sudah lama mendengar rumor tersebut.”

Di tengah-tengah percakapan itu, salah satu orang yang duduk di area lantai yang ditinggikan memotong pembicaraan. “Kalau begitu, Tuan Mephisto. Mengenai insiden yang melibatkan Anda, pihak kami, dan para malaikat jatuh, bagaimana kalau kita mulai pembahasannya?”

“Tentu, lagi pula itulah tujuanku datang ke sini.”

Begitu Mephisto menjawab demikian, Suzaku berdiri dan menghadap ke arah Tobio dan yang lainnya sembari berbicara. “Karena diskusi para petinggi akan segera dimulai, kalian semua silakan ikut kami untuk bersiap di ruangan terpisah.”

Di dalam aula pertemuan tersebut, hanya Mephisto, para tetua di atas lantai yang ditinggikan, serta Nakiri Nakagami-no-Ouryuu yang menetap, sementara yang lainnya dipindahkan ke ruangan lain.

Dengan demikian, para petinggi dari Kuil Bagian Dalam Lima Klan Utama dan Mephisto Pheles selaku direktur Grau Zauberer mulai saling bertukar informasi mengenai insiden yang disebabkan oleh Agensi Utsusemi, serta orang-orang yang terlibat di dalamnya—.

 

Sekitar tiga puluh menit kemudian—.

Setelah sebuah pemberitahuan yang menyatakan bahwa “Diskusi tampaknya telah selesai” disampaikan ke ruangan mereka, Tobio dan yang lainnya sekali lagi melangkah menuju aula pertemuan tadi.

Saat ini, Tobio dan para kepala Lima Klan Utama berikutnya duduk bersama-sama.

Tampaknya memiliki sesuatu yang perlu disampaikan juga kepada Tobio dan kawan-kawan, orang-orang yang duduk di lantai yang ditinggikan pun mulai berbicara. “Sebenarnya, di dalam Lima Klan Utama sendiri saat ini sedang terjadi perbedaan pendapat secara internal.”

—!

…Itu adalah sebuah pengakuan yang mengejutkan. Di dalam Lima Klan Utama ternyata sedang terjadi perpecahan.

Pria yang mengenakan seragam militer—Nakiri Nakagami-no-Ouryuu, mengambil alih pembicaraan. “Ada perbedaan pandangan antara golongan yang berpusat pada Kuil Bagian Dalam ini, dengan empat klan lainnya, yaitu Kushihashi, Shinra, dan Doumon yang berpusat pada klan Himejima.”

Lima Klan Utama merupakan keluarga tradisional yang sangat menghormati adat kuno, yang sebisa mungkin menjaga jarak dari pengaruh luar. Hingga saat ini, mereka telah melindungi negara ini dari balik layar sesuai dengan aturan mereka sendiri, dan secara tegas melenyapkan siapa pun yang melanggar hukum tersebut. Itu adalah lembaran sejarah mereka yang tak terbantahkan.

Namun, di tengah-tengah sejarah panjang itulah rangkaian insiden baru-baru ini terjadi.

Terkait hal ini, golongan yang berpusat pada Kuil Bagian Dalam—meski mereka sedang bertukar informasi dengan Grau Zauberer serta orang-orang yang terlibat dalam insiden tersebut—memiliki pandangan yang kuat bahwa, tergantung situasinya, mereka harus bekerja sama demi menyelesaikan masalah ini.

Sebaliknya, kubu empat kepala klan saat ini yang dipimpin oleh Himejima, bersama Kushihashi, Shinra, dan Doumon, bersikeras bahwa mereka harus menyelesaikannya sendiri dengan tegas. Ada juga semacam refleksi diri dari pihak mereka bahwa sikap longgar terhadap pihak luarlah yang memicu pengkhianatan dari Agensi Utsusemi.

Sebagai pemimpin mereka, klan Nakiri, sembari mempertimbangkan pendapat dari kedua golongan, sengaja memilih untuk tetap berada di posisi netral. Kendati demikian, sosok yang mengusulkan gagasan kepada para kepala klan dari setiap klan agar mendengarkan langsung kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam insiden saat ini, dan berhasil mendapatkan persetujuan mereka, adalah Nakiri Nakagami-no-Ouryuu.

Latar belakang yang memicu perpecahan pendapat dalam masalah ini adalah pertimbangan bahwa, di era modern di mana kekuatan supernatural sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi, Lima Klan Utama pun perlahan-lahan mulai kehilangan otoritas mereka.

Permohonan kerja sama yang diajukan oleh Grau Zauberer sebelumnya sempat ditolak sekali karena adanya penolakan keras dari pendapat empat klan dari Himejima, Kushihashi, Shinra, dan Doumon.

Namun kali ini, karena permohonan tersebut diterima secara sepihak oleh Kuil Bagian Dalam setelah meminta manajemen senior Grau Zauberer datang ke Jepang, jika mereka menolaknya untuk kedua kali, maka kelak mereka akan dinilai oleh organisasi praktisi asing lainnya sebagai pihak yang menaruh kecurigaan yang tidak perlu.

Bahkan hingga saat ini, klan Himejima, Kushihashi, Shinra, dan Doumon dalam hati menganggap diskusi ini paling-paling hanya formalitas belaka. Saat ini, alasan mereka menahan diri dan tidak menyulut konflik yang tidak perlu semata-mata demi menunjukkan rasa hormat kepada Kuil Bagian Dalam.

Para tetua di atas lantai yang ditinggikan bergantian berbicara.

“…Begitulah situasinya.”

“Berada dalam kondisi pelik seperti ini, para penerus muda pembawa makhluk suci dari Empat Makhluk Suci bertindak sebagai penengah bagi kedua kelompok.”

“Menyaksikan anak-anak muda harus menengahi urusan kami sendiri adalah sesuatu yang memalukan.”

“Namun, Suou, kepala klan Himejima saat ini, memiliki pemikiran yang jauh lebih keras kepala daripada kami.”

Dari cara berbicara orang-orang di balik tirai tersebut, tampaknya Lima Klan Utama sedang menghadapi kerumitan internal yang cukup kompleks, sesuatu yang baru pertama kali diketahui oleh Tobio dan yang lainnya.

Suzaku yang sedari tadi mendengarkan hal ini—.

“…………”

Dia hanya memejamkan mata tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Tidak membantah, juga tidak membenarkan. Bahkan dari sudut pandangnya sendiri, tampaknya memang tak ada yang bisa dia ucapkan.

Natsume kemudian bertanya kepada para tetua di atas lantai yang ditinggikan.

“…Aku mengerti keluhan kalian. Kalau begitu, apa tujuan kalian sengaja mengundang kami ke sini?”

Benar saja, jika hanya untuk mendengarkan penjelasan ini, mereka hanya perlu berbicara singkat dengan pihak yang bersangkutan.

Mengapa mereka harus memanggil Tobio dan para murid Nephilim untuk kedua kalinya? Padahal mereka hanyalah pengawal Mephisto belaka. Jika urusan Mephisto sudah selesai, hal berikutnya yang harus mereka lakukan adalah pulang.

Mendengar pertanyaan menohok dari Natsume, para tetua di atas lantai yang ditinggikan mulai membicarakan inti persoalan yang sebenarnya.

Meskipun tidak terlihat, Tobio bisa merasakan bahwa tatapan mata para tetua di balik tirai itu kini tertuju lurus ke arah dirinya.

“—Kami ingin mencari tahu tentang anjing itu.”

Para tetua berbicara dari balik tirai.

“Itu adalah sesuatu yang lahir dari garis darah kami. Meskipun itu adalah kekuatan yang didapatkan dari dewa pagan, fakta bahwa kekuatan itu bersemayam di dalam tubuh seseorang yang mewarisi darah Himejima menjadi perhatian yang sangat serius bagi kami.”

“Bagi kami, itu adalah wabah asing—jika hal itu berpotensi menjadi ancaman, kami tidak akan bisa mengabaikannya begitu saja.”

“Sebaliknya, jika ada keuntungan sekecil apa pun, kami ingin menguji kemampuan tersebut.”

“Hal ini disebabkan karena pendapat kami terbelah. Di antara pendapat-pendapat tersebut, bahkan ada yang menyuarakan posisi radikal bahwa kami harus melenyapkanmu tanpa perlu berdiskusi lagi.”

Seseorang tiba-tiba meninggikan suaranya mendengar hal itu. Sosok itu tidak lain adalah Sae.

Dengan suara dan tubuh yang gemetar, Sae menghadapi orang-orang di tingkat atas dengan ekspresi yang teguh.

“…Apakah itu sebuah ancaman barusan? Yang baru saja kudengar adalah, jika kekuatan Tobio… jika kekuatan semua orang tidak berguna, maka tidak masalah bagi kalian untuk membunuh mereka begitu saja.”

Sae menyuarakan protesnya demi membela Tobio.

Sae melanjutkan. “Bagi diriku sendiri, Tobio, Natsume, Shigune, Samejima-kun, dan Koga-kun, andai insiden itu tidak terjadi, andai kami tidak membangkitkan kekuatan ajaib ini, kami pasti akan menghabiskan hari-hari kami… sebagai murid SMA biasa.”

Semua orang mendengarkan kata-kata Sae dalam diam. “Aku tidak akan menuntut agar kami bisa kembali ke hari-hari biasa itu. …Namun, bagi Tobio dan kami semua, menuntut lebih dari ini adalah hal yang….”

Sae—kehilangan kata-katanya di titik ini, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Natsume segera merangkulnya dan menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan.

Dia pasti sudah memendam banyak hal hingga saat ini. Selalu menunjukkan senyum ramah, dia adalah gadis muda yang tidak pernah meledak-ledak sebelumnya, tetapi setelah mendengar percakapan barusan, seluruh emosinya tumpah ruah. Itulah kesan yang ditangkap oleh Tobio.

Tobio telah mengenal Sae sejak mereka kecil; Sae adalah gadis yang penyabar, namun ketika berbicara, dia adalah sosok yang memiliki keberanian besar.

Melihat teman masa kecilnya berbicara sampai sejauh itu, Tobio memilih momen tersebut untuk bangkit berdiri. “Aku… apa yang harus kulakukan? Karena kalian ingin mengukur kemampuanku, apakah benar jika kuasumsikan kalian ingin menguji sesuatu?”

Nakiri Nakagami-no-Ouryuu menanggapi Tobio yang baru saja berbicara dengan berani. “Para kepala klan dan tetua dari setiap rumah ingin memahami kekuatan dari Ikuse Tobio—dirimu. Apakah kekuatan anjing hitammu yang lahir dari darah Himejima adalah sesuatu yang benar atau salah bagi kami, dan bagi negara ini. Aku juga salah satu orang yang ingin mengetahuinya. …Karena itu, akan lebih cepat jika kau menguji kemampuanmu melawanku. Para tetua yang terhormat, bagaimana menurut Anda sekalian?”

Ouryuu meminta persetujuan kepada orang-orang di atas lantai yang ditinggikan. “Ya. Mari kita serahkan hal ini kepada Ouryuu.” Pernyataan singkat itulah yang terdengar sebagai jawaban.

Ouryuu berdiri dan menjelaskan sekali lagi kepada Tobio.

“—Begitulah adanya. Tergantung pada kemampuan yang kautunjukkan, kau mungkin bisa menyandang nama keluarga Himejima.”

Setelah mengembuskan napas panjang, Tobio membuat pernyataan tegas langsung ke arah Ouryuu. “…Itu tidak penting. Bagiku, menjadi seorang Ikuse saja sudah cukup. Namun, jika ini bisa diterima oleh kalian semua, maka setelah ini tidak boleh ada lagi campur tangan aneh dari pihak kalian.”

Menghadapi sosok Tobio yang dengan tenang memancarkan aura semangat bertarung, Nakiri Nakagami-no-Ouryuu menyunggingkan senyum tanpa rasa takut. “Sikap itu, sepertinya kau sudah mengumpulkan pengalaman tempur yang cukup banyak. —Ekspresi yang bagus.”

Begitu pertarungan antara Tobio dan Ouryuu diputuskan, ada seseorang yang tiba-tiba bangkit berdiri pada saat itu. “Jika Kakek, Nenek, dan Ouryuu tidak keberatan, aku juga punya sesuatu yang ingin kuuji.”

Sosok itu adalah Shinra Byakko. Dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Samejima. “Teman seperjuangan yang memiliki familiar kucing yang sama, serta kekuatan dari Empat Makhluk Terkutuk yang dirumorkan itu, aku ingin berkenalan langsung dengan mereka.”

Tampaknya terpancing oleh provokasi Byakko, Samejima ikut bangkit berdiri dan menatap tajam ke arahnya dari jarak yang sangat dekat. Menghadapi ucapan, tindakan, dan sikap yang sepenuhnya meremehkan dari atas seperti itu, Samejima tidak bisa lagi berdiam diri menerima penghinaan. “Kedengarannya menyenangkan. Lagi pula, entah kenapa aku juga merasa tidak senang sejak pertama kali kita bertemu.”

Demikianlah pertarungan antara Tobio melawan Ouryuu, serta Samejima melawan Byakko dimulai—.

 

Setelah berpindah tempat dari aula perjamuan, Tobio dan Samejima kini bertarung melawan Ouryuu dan Byakko di bawah langit cerah. Area tersebut menyerupai halaman tengah, sementara teman-teman mereka, para pemilik Empat Makhluk Suci, Mephisto, dan para tetua mengawasi jalannya laga (seperti sebelumnya, para tetua menonton dari balik tirai yang tergantung).

Halaman tengah itu pada dasarnya berwujud taman bergaya Jepang, lengkap dengan batu-batu besar yang ditata di berbagai sudut, sebuah kolam, serta beraneka ragam pepohonan yang tumbuh subur.

Tobio berdiri berhadapan langsung dengan Nakiri Nakagami-no-Ouryuu.

Tobio telah memanifestasikan sebilah sabit besar dari bayangannya sendiri, lalu mengambil kuda-kuda dengan menggenggam senjata itu erat-erat menggunakan kedua tangan. Cincin kekuatan sihir di tubuh Jin juga telah dilepas untuk sementara, dan sang anjing hitam kini ikut mengambil kuda-kuda siaga di sisi Tobio.

Ouryuu, sembari merenggangkan sarung tangan yang dikenakannya, berbicara kepada Tobio.

“—Silakan maju kapan pun kau siap.”

Ouryuu menyampaikan deklarasi itu dengan sangat tenang. Ucapan singkat tersebut tampak lahir dari rasa percaya diri yang tinggi, namun bukan berarti dia meremehkan lawannya. Pasalnya, tubuh Ouryuu diselimuti oleh aura tak kasatmata yang begitu pekat sekaligus tenang, menciptakan atmosfer ganjil yang sama sekali tidak menyisakan celah sekecil apa pun untuk diserang.

Sebelum pertarungan dimulai, Tobio sempat menerima saran dari Mephisto.

—Kukira kau sudah menyadarinya, tetapi keluarga Nakiri dilatih dengan sangat keras dalam Onmyoudou, Shinto, Shugendou, dan mereka mampu memanifestasikan kekuatan Buddhisme melaluinya. Selain itu, Makhluk Suci Ouryuu  melambangkan elemen tanah, yang berarti dia menguasai daratan. Kau harus selalu ingat bahwa hanya dengan menapakkan kaki di atas tanah, mereka dapat melepaskan kekuatan supernatural yang luar biasa besar.

…Karena pemilihan halaman tengah ini juga berarti mereka bertarung di atas tanah, Tobio pun bertindak sangat waspada.

Namun, jika hanya berdiri terpaku sembari mengamati pergerakan dan celah pada lawan, pertarungan ini tidak akan menemui titik terang.

Setelah memantapkan hati, Tobio mencengkeram kuat-kuat gagang sabitnya. Pada detik itu juga, dia melesat maju bersama sang anjing hitam—bersama Jin.

Berlari kencang berdampingan dengan Jin dalam pola zigzag, Tobio terus mengamati reaksi lawan sembari menerapkan strategi serangan kombinasi yang bervariasi.

Saat mereka bergerak dalam kecepatan tinggi dengan pola zigzag tersebut, baik Tobio maupun Jin (tidak jelas siapa yang lebih dulu, atau apakah mereka bergerak bersamaan) langsung mengaburkan fokus penilaian musuh.

Taktik ini hampir selalu berhasil melumpuhkan lawan mana pun. Bahkan selama misi-misi sebelumnya, strategi ini sanggup menembus pertahanan anggota Tim Abyss sekalipun.

Akan tetapi, Ouryuu sama sekali tidak terusik oleh pergerakan lincah Tobio dan Jin. Dia bahkan tidak mengalihkan fokus pandangannya ke arah mereka.

Meski sempat dibuat bingung oleh ketenangan sang lawan, Tobio tetap menjaga kewaspadaannya sembari bergerak cepat bersama Jin untuk menebas dari titik buta.

Dia berniat melancarkan tebasan yang nyaris bersamaan dengan terkaman Jin. Namun, tepat pada saat sabitnya diayunkan ke bawah—.

Ouryuu, dengan kaki yang sedikit melayang, mengentakkan kakinya dengan ringan ke tanah. Sesaat kemudian, tanah di sekitarnya mendadak melonjak naik dalam volume yang masif, membentuk dinding kokoh yang menangkis telak tebasan sabit Tobio dan cakaran Jin.

Sekali lagi, Ouryuu mengentakkan kakinya, dan tanah yang tadinya melonjak tinggi langsung runtuh kembali ke bentuk semula seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.

—Dan tepat pada insting sepersekian detik itu, Ouryuu melepaskan tendangan lurus yang sangat cepat dan tajam tepat ke arah perut Tobio! Tanpa sempat menghindar, Tobio menerima hantaman telak di bagian rusuknya.

“Gahah!”

Sembari mengerang kesakitan akibat serangan yang masuk telak tersebut, tubuh Tobio terlempar ke belakang. Demi membalaskan dendam Tobio selaku masternya, Jin mencoba menebas Ouryuu dari samping—namun sosok Ouryuu mendadak lenyap dari tempatnya, membuat tebasan sang anjing hitam hanya membelah udara kosong.

“Lambat.”

Bersamaan dengan ucapan itu, Ouryuu telah memutar ke belakang Jin dengan kecepatan yang melampaui insting seekor binatang. Sebelum Jin yang menyadari hal ini sempat membalikkan badannya, Ouryuu kembali mengentakkan kakinya ke tanah, dan tanah di bawah kaki sang anjing hitam langsung melonjak ke atas dengan sangat cepat!

Merasakan bahaya tersebut, Jin segera melompat untuk menghindari tanah yang melonjak. Namun—. Tampaknya telah membaca arah lompatannya, Ouryuu sudah bergerak lebih cepat dan menghadangnya di udara, lalu mendaratkan satu pukulan telapak tangan yang sangat keras tepat di perut Jin. Menerima hantaman tunggal yang dahsyat itu, tubuh Jin ikut terlempar jauh!

Tobio bangkit berdiri dan kembali memperbaiki posisinya. Ouryuu mampu memanifestasikan kekuatan supernatural yang luar biasa hanya dengan gerakan minimalis seperti mengentakkan kaki ke tanah, mematahkan serangan kombinasi mereka berdua dengan mudah, hingga membalikkan keadaan dengan serangan balasan yang telak.

Hanya dari pertukaran serangan singkat ini, Tobio akhirnya menyadari satu hal.

—Dia berada di tingkatan yang jauh di atasku.

Lawan telah membaca serangan kombinasi mereka secara sempurna. Bahkan pergerakan mereka berdua terpantau sepenuhnya. Dinding tanah yang dia panggil dengan satu hentakan kaki tadi bahkan bukanlah sebuah mantra sihir tingkat tinggi.

Kendati demikian, Ouryuu kembali berbicara kepada Tobio. “Ada apa? Apakah sudah selesai, padahal ini baru dimulai?”

Setelah sempat mengambil jarak untuk sementara waktu, Tobio kembali melesat maju untuk kedua kalinya. Kali ini, dia berfokus untuk menumbuhkan bilah tajam dari bayangan di bawah kaki Ouryuu.

Dari bayangan kaki Ouryuu, tumbuhlah bilah meliuk yang tajam—Night Haken. Namun, Ouryuu menghindarinya hanya dengan sedikit pergerakan tubuh, lalu dengan sentakan ringan dari ujung jarinya, dia menghancurkan bilah Night Haken tersebut hingga berkeping-keping.

Tobio kembali memanifestasikan Night Haken dari bayangan yang berada di titik buta lawan. Namun, tanpa perlu membalikkan badan untuk melihat, Ouryuu menghindari tusukan itu dengan kelenturan tubuhnya, lalu mematahkan bilah tersebut dengan satu sapuan tangannya.

Memanfaatkan momentum tersebut untuk memangkas jarak, Jin menerkam sembari mengayunkan pedang yang digigit di mulutnya ke arah Ouryuu. Seolah bergerak selaras dengan ritme makhluk itu, Ouryuu berkelit dengan anggun untuk menghindari tebasan Jin.

Baik serangan dari titik buta maupun koordinasi serangannya dengan Jin, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengenai target.

Pergerakan kami benar-benar dibaca secara sempurna—. Tobio sampai pada kesimpulan pahit tersebut.

Melihat ekspresi wajah Tobio yang menegang, Ouryuu pun berbicara. “Karena perbedaan kemampuan kita sudah sangat jelas, biarkan aku membeberkan salah satu keahlianku. Melalui aliran energi bumi, aku bisa memahami seluruh pergerakan lawan. Jiwamu, atau yang biasa kausebut sebagai aura, dapat kurasakan secara langsung melalui tanah. Karena itu, bahkan tanpa perlu melihat pergerakanmu sekalipun, aku bisa memprediksi langkahmu selanjutnya.”

—!

…Tobio seketika kehilangan kata-kata. Dengan kata lain, hanya dengan menapakkan kaki di atas permukaan tanah, musuh mereka dapat membaca niat, memahami pergerakan, sekaligus mengetahui tindakan mereka berikutnya.

Pantas saja serangan Ouryuu bersarang begitu mudah di tubuh mereka, sementara serangan mereka sendiri tidak ada yang menyentuhnya sama sekali.

Tidak, terlepas dari apakah dia memiliki kemampuan khusus itu atau tidak, teknik menghindar dan murninya kemampuan bertarung Ouryuu-lah yang menciptakan jarak perbedaan yang begitu masif. Kemungkinan besar, lawan bahkan belum mengeluarkan sepersepuluh dari kekuatan aslinya.

Sebagai seseorang yang telah menerima pelatihan kekuatan supernatural sejak usia dini, dia menunjukkan perbedaan kelas yang teramat jauh dibandingkan dengan orang yang baru mengenal dunia seperti ini kurang dari satu tahun.

Ouryuu menyunggingkan senyum tanpa rasa takut. “Nah, Ikuse Tobio. Kekuatan yang konon katanya sanggup membantai para dewa sekalipun, bagaimana kalau kautunjukkan hal itu kepadaku?”

Mendengar provokasi tersebut, Tobio membetulkan posisi genggaman pada sabitnya, sembari memutar otak memikirkan strategi serangan berikutnya.

Di sisi lain halaman, pertarungan antara Samejima melawan Shinra Byakko juga telah dimulai.

Ekor Byakusa yang semula berada di bahu Samejima kini telah melilit lengan kanan Samejima, bertransformasi menjadi sebilah tombak yang dialiri daya listrik berkekuatan tinggi hingga memercikkan bunga api yang menyengat. Jika seseorang tertusuk oleh tombak itu—tidak, bahkan hanya dengan tersengat aliran arus listrik bertegangan tinggi tersebut, tubuhnya dipastikan akan hangus terbakar.

Samejima melesat maju dan menghunjamkan tombaknya lurus-lurus dari arah depan. Byakko menghindari tusukan tombak tersebut hanya dengan sedikit gerakan mengelak, memastikan dirinya tidak masuk ke dalam jangkauan sengatan listrik yang menyelimuti senjata itu.

Byakko segera berlari menyusul; dengan langkah kaki yang teramat ringan dan lincah—sangat kontras dengan ukuran tubuhnya yang kekar—ia memangkas jarak, lalu menghujani Samejima dengan puluhan kombinasi pukulan dan tendangan bertubi-tubi.

Karena Samejima sendiri juga telah semakin mahir dalam pertarungan jarak dekat, ia berhasil mementahkan dan menghindari serangan-serangan Byakko menggunakan keluwesan tubuhnya.

Berdasarkan informasi yang pernah mereka dengar, klan Shinra utamanya mengadopsi aliran Shugendou[1]. Mereka terkenal karena mendidik para pemuda mereka dengan latihan asketisme[2] yang sangat keras dan terisolasi di dalam hutan pegunungan sejak masa kanak-kanak (bahkan ada pemuda dari klan lain yang sengaja mempelajari Shugendou demi melatih ketahanan fisik dan spiritual mereka).

Oleh karena itu, tubuh Byakko yang telah ditempa melalui latihan asketisme tersebut memiliki keunggulan mutlak dalam Taijutsu. Ditambah lagi, di dalam kekuatan Buddhisme yang diasah lewat asketisme itu, konon bersemayam kekuatan yang mampu mengusir roh jahat dan iblis.

Setelah itu, Samejima dan Byakko saling bertukar serangan bertubi-tubi dalam jarak dekat. Namun, tepat ketika Samejima melepaskan sebuah tendangan tinggi yang kuat, Byakko mendadak menghentikan seluruh pergerakannya.

Tendangan Samejima yang tidak dihindari itu menghantam telak sisi kiri leher Byakko. Namun—. Leher kekar Byakko yang telah ditempa dengan sangat keras berhasil menahan benturan tendangan Samejima tanpa bergeser satu inci pun. “Cih!”

Samejima mendecitkan lidahnya kesal ketika menyadari tendangan lurusnya sama sekali tidak menghasilkan dampak berarti. Demi mencegah kakinya ditangkap oleh lawan, Samejima segera menarik kakinya kembali dan melompat mundur untuk menjaga jarak aman.

Byakko membunyikan sendi-sendi lehernya lalu mengembuskan napas panjang. “Yah, karena kau ternyata sanggup melangkah sejauh ini, mungkin sudah saatnya aku berubah ke wujud itu. Hei, familiar kucing. Mari kita tunjukkan padanya sedikit dari sisa kekuatan Makhluk Suci Byakko (Báihŭ/Harimau Putih).”

Tubuh Byakko… perlahan-lahan mulai membengkak dan membesar.

“Dari arah barat di antara empat penjuru mata angin, jawablah panggilanku!! Wahai salah satu dari Empat Makhluk Suci yang menguasai elemen logam, BYAKKOO!!!”

Shinra Byakko merapalkan mantra pemanggilan tersebut. Di atas permukaan tubuhnya, mendadak muncul sebuah lingkaran sihir—sebuah pola lingkaran Lima Elemen.

Kedua lengan, bahu, dada, punggung, kaki, dan lehernya seketika membengkak hingga ukurannya menjadi lebih dari dua kali lipat dari ukuran semula. Pakaian yang dikenakannya tidak mampu menahan tekanan dari pemuaian otot yang mendadak tersebut hingga robek dan hancur berkeping-keping, menyisakan pakaian dalamnya saja yang sanggup bertahan menampung wujud raksasanya.

Lebih jauh lagi, seluruh permukaan tubuhnya mulai ditumbuhi bulu-bulu lebat, dan bentuk kepalanya pun bertransformasi sepenuhnya. Masing-masing matanya berubah menjadi besar dan melotot tajam, mulutnya melebar, dan dari sela-selanya tumbuh taring-taring yang runcing.

Dengan demikian, makhluk yang kini termanifestasi di tempat itu—adalah sosok monster humanoid berwujud setengah manusia setengah binatang. Ukuran fisiknya setidaknya mencapai dua kali lipat dari ukuran tubuh aslinya.

Sesosok manusia harimau putih—. Sebuah mutasi yang sangat tepat digambarkan demikian.

Mephisto yang menyaksikan dari bangku penonton ikut berkomentar. “Aku pernah mendengar bahwa ada beberapa metode dalam pemanggilan makhluk suci. Metode yang paling umum adalah memanifestasikan wujud fisik dari makhluk suci itu sendiri secara utuh. Namun, ada pula metode lain di mana kekuatan makhluk suci tersebut merasuki dan menyatu dengan tubuh sang kontraktor. Tampaknya wujud yang kita lihat sekarang adalah jenis yang kedua.”

Shinra Byakko, yang kini telah bertransformasi penuh ke dalam wujud manusianya, mengembuskan napas dalam-dalam lalu berbicara. “Saksikan sendiri kedahsyatan kekuatan yang mampu kuhasilkan dalam wujud ini!”

Tanah di bawah kaki Byakko mendadak meledak hancur! Ledakan itu dipicu oleh daya dorong yang luar biasa masif saat Byakko mulai melesat maju.

Byakko sendiri mendemonstrasikan kecepatan gerak yang teramat luar biasa hingga pergerakan tubuh raksasanya tidak mampu lagi ditangkap oleh mata telanjang, sepenuhnya melampaui batas kemampuan persepsi dan reaksi yang dimiliki oleh Samejima.

Samejima sama sekali tak bisa mendeteksi pergerakan lawannya menggunakan indra penglihatan. Bahkan ketika instingnya berhasil merasakan keberadaan musuh, Byakko dipastikan sudah menghilang dari titik tersebut.

Memanfaatkan metode bertarung yang pernah diajarkan secara langsung oleh Barakiel, Samejima mencoba menganalisis pergerakan lawan secara tenang dengan memaksimalkan seluruh pancaindranya—tidak lagi mengandalkan mata, ia kini bertumpu pada indra pendengarannya. “Di sana!”

Tepat saat membalikkan badannya ke arah belakang, Samejima menghunjamkan tombaknya dengan sangat tajam dan cepat. —Namun, tusukan tombak itu berhasil dielakkan. Meski begitu, selama jarak di antara mereka cukup dekat, lawan dipastikan tetap akan terkena dampak sengatan listriknya. “Lumpuhlah!!”

Samejima melepaskan sambaran petir terkuatnya langsung dari ujung tombak! Seluruh permukaan tubuh Byakko seketika diselimuti oleh aliran listrik yang menyengat ke segala arah—.

Namun, di tengah-tengah hantaman sambaran petir yang dahsyat itu, lawan justru menyunggingkan sudut mulutnya dan tersenyum dengan sangat tenang. “—Kakaka! Sambaran petir yang lumayan bagus. Tapi, yah, kekuatan segini masih belum cukup.”

Meskipun asap tampak mengepul dari seluruh permukaan tubuhnya, Byakko langsung mencengkeram kuat-kuat tombak Samejima, mengunci posisinya agar tidak bisa melarikan diri lagi—lalu menghantam perut Samejima dengan satu pukulan telapak tangan yang teramat kuat.

BLAARR! Suara dentuman keras yang terdengar seolah-olah membelah udara bergaung hebat di area sekitar. Menerima hantaman telak yang luar biasa dahsyat itu, tubuh Samejima langsung terlempar jauh ke belakang hingga menghantam dan menjebol dinding kediaman dalam-dalam. Setelah dinding tersebut hancur akibat benturan tubuhnya, Samejima tampak terdiam dan tidak lagi memberikan respons apa pun.

Byakko, yang tampaknya langsung kehilangan minat setelah melihat kondisi lawannya, membalikkan badan untuk menghadap ke arah Nakiri Nakagami-no-Ouryuu. “Ouryuu. Yang satu itu ternyata cuma—”

Namun, Byakko mendadak menyadari sesuatu. Tanpa dia sadari, ada sesuatu yang menyerupai seutas tali putih tebal telah melilit erat sebuah batu taman berukuran besar yang terletak tidak jauh di dekatnya. Tali tersebut tampak menjulur panjang dari arah reruntuhan dinding.

Sayangnya, pada saat Byakko membalikkan badannya ke arah reruntuhan dinding tempat Samejima terlempar tadi, semuanya sudah terlambat. “Byakko!!! Cepat menciut!!”

Bersamaan dengan pekikan keras itu, ekor yang semula melilit batu besar tersebut mendadak menegang kuat. Pada detik berikutnya, tubuh Samejima melesat keluar dengan sangat cepat dari dalam reruntuhan dinding bagaikan anak panah. Jumlah ekor yang tumbuh dari tubuh Byakusa kini berjumlah dua; dengan satu ekor lainnya bertindak sebagai poros jangkar yang melilit batu besar untuk menarik tubuhnya, Samejima berhasil meluncurkan dirinya sendiri maju ke depan dengan daya dorong yang luar biasa kuat.

Tepat pada momen ketika ujung tombaknya berhasil ditangkap oleh Byakko sebelumnya, Samejima yang langsung menyadari bahaya tersebut telah menyusun dan mengeksekusi rencana balasan ini tanpa sedikit pun disadari oleh lawannya. “Menyenangkan sekali!!!”

ilust

Menghadapi serangan tombak lurus dari arah depan yang dilancarkan Samejima, Byakko yang tampak kegirangan segera mengambil posisi untuk menghadangnya. Sembari menurunkan pusat gravitasinya, dia berniat mematahkan serangan itu dengan tinjunya, tetapi—.

Tepat saat Byakko mencoba mencegat Samejima dengan pukulan telapak tangan, pada detik itu juga Samejima mendadak menghunjamkan tombak yang semula diarahkan lurus ke depan langsung ke permukaan tanah. Tindakan itu seketika mematikan momentum lari kencangnya. Pukulan telapak tangan Byakko, yang seharusnya mampu menghantam dan mengempaskan Samejima, akhirnya hanya membelah udara kosong.

Setelah berhasil menghentikan kecepatannya secara mendadak, Samejima menapakkan kakinya dengan kokoh ke tanah. Memanfaatkan momentum saat Byakko kehilangan keseimbangan dan berusaha memperbaiki posisinya, Samejima langsung mengambil posisi menyerang dengan melilitkan ekor Byakusa ke kaki kanannya. Kaki kanan itu seketika diselimuti oleh percikan daya listrik pekat—.

Dalam satu gerakan kilat, dia melayangkan sebuah tendangan tinggi yang kuat tepat ke arah kepala Byakko.

Semua itu terjadi dalam sekejap mata. Dengan posisi kepala Byakko yang terbuka lebar tanpa pertahanan akibat lengah, tendangan Samejima beserta hantaman aliran listriknya telak bersandar di sana.

Melihat serangannya berhasil masuk di saat lawan lengah, Samejima sempat menyunggingkan senyum puas… namun, dengan erangan “Gahah!”, dia mendadak memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Ternyata, dampak dari pukulan telapak tangan raksasa Byakko sebelumnya benar-benar terasa sangat masif, dan fisiknya jelas tidak terbebas dari luka. Efek hantaman dahsyat itu rupanya telah merasuk hingga ke bagian terdalam perutnya—.

Pada momen itu juga, Samejima langsung ambruk ke tanah dengan napas yang terengah-engah.

Byakusa, yang berada di bahunya, segera menjulurkan ekor yang terhubung dengan kaki di tanah untuk memeriksa bagian tubuh Samejima yang terluka. Byakusa mulai mengaktifkan teknik penyembuhan dengan mengasimilasi ekornya ke dalam tubuh Samejima demi memulihkan luka-luka sang master.

Di sisi lain, Byakko yang baru saja menerima hantaman tendangan telak tadi tampak berdiri dengan asap yang mengepul keluar dari mulut dan hidungnya.

Sembari mengangkat sudut mulutnya, dia berbicara dengan nada geli yang telengas. “Heh. Tampaknya kau bukan yankee sembarangan. Padahal kau bahkan belum membangkitkan kekuatan Empat Makhluk Terkutuk, ya.”

Samejima menyahut di sela-sela napasnya yang berat dan tersendat. “…Dan kau juga jelas bukan anak geng motor biasa. Dasar harimau bajingan.”

Ketika Samejima dan Shinra Byakko sedang terlibat dalam pertarungan sengit semacam itu, duel antara Tobio melawan Nakiri Nakagami-no-Ouryuu telah bergeser ke tingkatan yang jauh lebih tinggi.

Dalam pertarungan melawan Ouryuu, seluruh pola serangan Tobio dan Jin telah terbaca sepenuhnya secara mutlak, bahkan dievakuasi sedemikian rupa hingga tak ada satu pun tebasan yang berhasil mengenai sasaran.

Karena pergerakan mereka akan selalu terbaca selama kaki mereka masih menapak di atas permukaan tanah, akhir dari setiap pergerakan tersebut selalu berujung pada serangan balasan yang telak dari Ouryuu.

—Andai aku memiliki sepasang sayap di punggungku seperti malaikat atau malaikat jatuh, aku pasti bisa melancarkan serangan dari langit. Pikiran semacam itu sempat terlintas begitu saja di benak Tobio.

Namun, aku hanyalah manusia biasa—. Memang manusia yang memiliki kekuatan supernatural, tapi tetap saja manusia biasa. Setidaknya untuk saat ini—.

Tobio memfokuskan konsentrasinya secara penuh kepada Jin, lalu melalui gelombang pikirannya—dia mengirimkan sebuah instruksi tak kasatmata.

Setelah menerima perintah tersebut, Jin langsung melompat mundur setelah sempat bertukar beberapa hantaman singkat dengan Ouryuu. Tepat setelah itu, tubuh sang anjing hitam mendadak amblas dan tenggelam ke dalam bayangan sebuah batu taman. Dia telah berpindah ke dalam dimensi bayangan.

Beberapa detik kemudian, Jin melesat keluar dari bayangan objek yang berbeda, lalu dengan cepat menenggelamkan diri lagi ke dalam bayangan sebatang pohon. Belum sempat sosoknya terlihat jelas, ia sudah muncul kembali dari bayangan benda lain dan langsung menyelam ke dalam bayangan batu berikutnya.

Ia mulai bergerak berpindah-pindah dari satu bayangan ke bayangan lainnya secara acak.

Jika keberadaannya selama ini dideteksi melalui getaran di permukaan tanah, maka dengan bergerak melewati dimensi bayangan, apakah Ouryuu masih bisa membaca pergerakannya saat ia muncul ke permukaan?

Ouryuu tersenyum tipis. “Begitu ya, kalau dipikir-pikir kembali, anjing itu memang memiliki kemampuan untuk berpindah tempat melalui bayangan.”

Begitu ucapan itu selesai dilontarkan, Ouryuu—yang ekspresi wajahnya sedari tadi selalu tampak tenang—mendadak tidak mampu lagi mengejar pergerakan lawan, bahkan hanya dengan pandangan matanya sekalipun.

Menghadapi Ouryuu yang posisinya mulai goyah, Jin mendadak termaterialisasi bagaikan sebutir peluru dari balik bayangan sebuah objek, melancarkan terkaman cepat dengan pedang yang digigit erat di mulutnya!

Meski tidak bisa lagi merasakan pergerakan Jin melalui tanah, Ouryuu masih mampu berkelit dengan sangat lincah menghindari terkaman berkecepatan tinggi tersebut menggunakan kelenturan fisiknya. Jin segera menenggelamkan diri kembali ke dalam bayangan terdekat, lalu muncul dari bayangan lain untuk menebas Ouryuu sekali lagi.

Tobio juga tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini; dia ikut melesat maju ke depan sembari memfokuskan seluruh kekuatan pikirannya!

—Dari bayangan setiap objek yang ada di sana, tumbuhkan bilah-bilah tajam!

Dari balik bayangan setiap benda yang berada di sekitar posisi Ouryuu, bilah-bilah meliuk seketika mencuat ke permukaan. Bilah-bilah itu mengarah lurus ke tubuh Ouryuu, namun serangan bertubi-tubi itu pun masih sanggup dielakkan olehnya.

Kendati demikian, Tobio terus berlari kencang tanpa terpengaruh sedikit pun, lalu melompat tinggi ke udara pada detik berikutnya. Berbagai bilah tajam terus mencuat dari bayangan objek secara berurutan, dan Tobio memanfaatkan bilah-bilah tersebut sebagai pijakan kakinya di udara.

Selaras dengan pergerakan lincah Tobio, bilah-bilah baru akan tercipta di mana pun dia akan melangkah, membuatnya bisa melompat dari satu bilah ke bilah berikutnya dengan bebas.

Tanpa perlu membiarkan kakinya menyentuh permukaan tanah, dia terus bergerak di udara menggunakan bilah-bilah bayangan sebagai tumpuan. Dengan strategi ini, saat lawan tidak lagi mampu mendeteksi keberadaan posisinya secara pasti melalui tanah, seharusnya dia bisa menciptakan sedikit celah pada pertahanan kokoh sang musuh!

Menggunakan bilah tajam yang mencuat dari bayangan objek terdekat dengan Ouryuu sebagai pijakan terakhirnya, Tobio mencengkeram kuat-kuat gagang sabit besarnya, lalu tanpa menunda waktu langsung melesat turun melancarkan tebasan dahsyat!

Ouryuu bergerak refleks untuk menghindari tebasan tersebut, namun—.

“MUNCULLAH!”

Bersamaan dengan pekikan keras Tobio, sebilah Night Haken secara instan mencuat tepat dari balik bayangan di bawah kaki Ouryuu!

Itu adalah serangan simultan yang dilancarkan oleh Tobio. Meski begitu, Ouryuu masih sanggup menghindari tusukan tersebut dengan melompat mundur secara lincah.

Inilah saatnya!

“JIN!!!”

Perintah Tobio meluncur deras dari bibirnya. Sebilah Night Haken berukuran dua meter mendadak mencuat dari bayangan di bawah kaki Ouryuu, dan dari balik bilah bayangan yang meliuk tajam itulah sang anjing hitam mendadak menampakkan dirinya.

Serangan Jin yang berpindah-pindah dari balik bayangan, manifestasi bilah tajam Tobio yang berulang kali hingga menjadikannya sebagai pijakan di udara untuk menyerang, Night Haken yang mencuat dari bawah kaki—dan terakhir, sang anjing hitam yang mendadak muncul dari dalam bayangan Night Haken itu sendiri!

Akhirnya, setelah dihujani oleh rentetan serangan beruntun yang menggunakan metode bertarung tidak biasa dan mustahil diprediksi, untuk pertama kalinya Ouryuu—melebarkan kedua matanya karena terkejut.

—Namun, terlepas dari itu, lawannya adalah penerus Lima Klan Utama yang akan menjadi kepala klan Nakiri berikutnya.

Dalam hitungan fraksi detik, dia langsung menancapkan kedua kakinya dengan kokoh ke tanah, memicu bumi melonjak ke atas dengan sangat masif demi melindunginya dalam wujud dinding pertahanan. Sayangnya, daya dorong Jin yang mendadak muncul dari balik bayangan Night Haken bergerak jauh lebih cepat daripada proses terbentuknya dinding tanah tersebut, dan serangannya sukses mendarat di tubuh Ouryuu!

“Hah!” Ouryuu memekik lantang menolak tunduk, seulas aura keemasan yang sangat pekat seketika menyelimuti seluruh tubuhnya, dan dia langsung mengintersep Jin dengan sebuah tendangan keras.

Setelah bertukar hantaman hebat dengan tendangan tersebut, Jin melompat mundur untuk menjaga jarak aman untuk sementara waktu….

Menerima rangkaian serangan beruntun barusan, Ouryuu—kini mendapati sebuah luka goresan pedang yang cukup jelas di lengan kiri bawahnya.

—Serangan kombinasi tanpa henti dari Tobio dan Jin akhirnya berhasil melukai fisik Ouryuu.

Melihat hasil tersebut, para tetua di balik tirai langsung menaikkan nada suara mereka karena terkejut.

“…Nakagami-no-Ouryuu baru saja terkena satu tebasan pedang.”

“Padahal keduanya sama sekali belum mengeluarkan kekuatan asli mereka… atau lebih tepatnya, mereka berhasil melakukan ini tanpa perlu mengaktifkannya sama sekali…!!”

“Mengerikan… anjing hitam itu benar-benar mengerikan.”

Genbu berdiri terpaku dengan mulut yang sedikit ternganga.

“…I-ini pertama kalinya aku melihat Ouryuu-san sampai meneteskan darah dalam pertarungan. Padahal saat menghadapi sebagian besar praktisi sihir ataupun monster sekalipun, dia biasanya selalu keluar tanpa luka sedikit pun!”

Meskipun sedang bertarung di sisi lain halaman, Byakko yang sempat melirik jalannya duel tersebut tampak menyeringai lebar.

“Hahahah! Kau benar-benar berhasil melakukannya, ya! Seperti yang diduga dari seorang pemilik Longinus! Tapi, mulai dari titik ini, segalanya mungkin akan menjadi sedikit mengerikan.”

Selaras dengan apa yang diucapkan oleh Byakko, Ouryuu—meski masih menyunggingkan senyum berani—mulai meningkatkan level tekanan dari aura keemasan yang menyelimuti tubuhnya ke tingkatan yang jauh lebih masif.

Ouryuu berbicara sembari membetulkan posisi sarung tangannya. “Bahkan tanpa menggunakan wujud terlarang sekalipun, kau sudah mampu mendemonstrasikan kekuatan yang berada di luar batas kewajaran, ya. —Kalau begitu, saat kau berubah ke dalam wujud monster hitam tersebut, seberapa mengerikan monster yang akan tercipta? Aku mendengar bahwa kau sudah bisa mengakses wujud itu. Apakah kau bersedia menunjukkannya padaku? Aku juga akan memperlihatkan wujud makhluk suciku yang sebenarnya.”

Ouryuu menyatakan bahwa dia akan mulai bertarung dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Dalam situasi seperti itu, Tobio pun dipaksa untuk mengeluarkan seluruh modal terbaiknya, yang berarti—.

…Wujud terlarang, dengan kata lain transformasi menuju Balance Breaker. —Namun, karena besarnya potensi bahaya yang menyertainya, perangkat pengendali berupa untaian tasbih sihir mutlak diperlukan.

Terkait untaian tasbih tersebut, berkaca dari berbagai pengalaman pahit sebelumnya, Tobio kini selalu membiasakan diri untuk membawa setidaknya dua untai ke mana pun dia pergi.

Akan tetapi, dengan pria di hadapannya ini sebagai lawan, dia bahkan tidak yakin apakah membawa sepuluh untai tasbih saja akan cukup untuk menahan kekuatannya. Lagi pula, pria ini adalah tipe petarung yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan Augusta si Api Ungu—.

Mendengar arah pembicaraan tersebut, perdebatan sengit seketika pecah di antara para tetua di balik tirai.

“T-tunggu dulu, Ouryuu! K-kau tidak boleh melepaskan kekuatan penuh Makhluk Suci Ouryuu dan teknik terlarang Longinus di tempat ini!”

“Ada kemungkinan getaran energinya akan menghancurkan seluruh mantra perlindungan yang telah dipasang di area ini beserta bangunan Kuil Bagian Dalam sekaligus….”

“Sebaliknya, di satu sisi ada Nakagami-no-Ouryuu yang merupakan pemilik potensi tempur tertinggi di pihak kita, dan di sisi lain ada anjing tabu yang lahir dari darah Himejima. …Tidakkah kalian ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa di antara keduanya yang akan keluar sebagai pemenang?”

Mengingat adanya perbedaan pandangan yang tajam bahkan di antara para tetua Kuil Bagian Dalam sendiri, Ouryuu tetap mengambil kuda-kuda yang tegas tanpa ada niat untuk mundur sedikit pun. Sikapnya yang keras kepala itu seketika menciptakan atmosfer mencekam yang sangat berat di udara.

Tobio mengembuskan napas panjang dan mulai memantapkan hatinya untuk bersiap. —Namun, tepat pada momen krusial itulah insiden lain terjadi. “Ah.”

Shigune yang sedari tadi menonton jalannya pertarungan mendadak memekik kaget.

“A-ada apa, Shigune?”

Tepat saat Natsume mulai melayangkan pertanyaan, Shigune mengarahkan pandangan matanya dengan panik ke arah familiarnya—ke arah Poh-kun yang sedang berada di dalam dekapannya.

“I-itu… Poh-kun mendadak memakan cincin pembatasnya….”

Persis seperti apa yang dikatakan oleh Shigune, Poh-kun dengan sangat lahap mulai mengunyah cincin kekuatan sihir yang seharusnya terpasang ketat untuk menyegel kekuatan di tubuhnya.

[—!]

Melihat pemandangan ganjil tersebut, seluruh orang yang berada di tempat itu seketika menunjukkan ekspresi wajah yang syok luar biasa. Otot di sekitar kelopak mata Byakko tampak berkedut hebat.

“Serius? Sebuah perangkat sihir penyegel yang bahkan tidak akan bisa dilepas secara paksa oleh iblis tingkat tinggi atau youkai sekalipun!?”

Kushihashi Seiryuu sedikit menyipitkan matanya sembari membetulkan posisi kacamata yang dikenakannya. “Seperti yang diduga, dia memang yang terkuat di antara Empat Makhluk Terkutuk, meskipun penampilannya masih kecil.”

Doumon Genbu, yang seketika menjadi panik dan kebingungan, langsung menyuarakan pendapatnya kepada para senior. “A-apakah kita harus memasangkan cincin baru lagi di tubuhnya? A-atau, apakah metode seperti segel langsung akan jauh lebih efektif…?”

Para staf dan pengikut dari Lima Klan Utama benar-benar dibuat ketakutan setengah mati melihat fakta bahwa Poh-kun—sang Toutetsu—telah berhasil membebaskan dirinya sendiri. Jika sebuah cincin yang dialiri kekuatan sihir tingkat tinggi bisa dikunyah dan dimakan dengan begitu santai tanpa peringatan apa pun, sangatlah wajar jika mereka semua langsung merasa ngeri.

Di tengah situasi pelik tersebut, Poh-kun tetap asyik melanjutkan aktivitasnya mengunyah cincin sihir hingga suara kriuk kunyahannya terdengar dengan sangat jelas di area sekitar.

Atmosfer ketegangan yang semula tercipta untuk bertarung kini telah berubah total menjadi tidak kondusif. Mephisto, yang sedari tadi hanya menonton dalam diam, tampak bertepuk tangan sembari memberikan saran kepada para tetua.

“Sebuah saran kecil untuk kalian semua. Bukankah sebaiknya kita menghentikan duel ini sampai di sini saja? —Toutetsu saat ini telah berada dalam kondisi terlepas dari segelnya. Apakah kalian tidak menyadari seberapa masifnya dampak dari hal seperti itu?”

Menanggapi usulan logis tersebut, para tetua akhirnya menyuarakan pendapat setuju, dengan gumaman seperti “…Memang benar” dan “Hmm, kurasa pengujiannya sudah cukup sampai di sini.”

Dari balik tirai yang tergantung, tetua yang memiliki posisi paling tinggi memberikan perintah langsung kepada kelompok Ouryuu. “Ouryuu, Byakko. Sudah cukup. Kita telah mempelajari dan mengetahui dengan jelas mengenai kemampuan dari anjing hitam serta Empat Makhluk Terkutuk.”

Selaras dengan titah dari atasannya, Ouryuu segera membungkuk hormat, setelah itu dia sepenuhnya melenyapkan seluruh touki yang menyelimuti tubuhnya. Byakko juga mengendurkan kuda-kudanya dan perlahan-lahan kembali berubah ke wujud manusianya yang semula.

Byakko kemudian berbicara kepada Samejima. “Tadi itu sangat menyenangkan. Jika ada kesempatan lain kali, mari kita lakukan lagi.”

Samejima menunjukkan seringai tipis dan menyahut, “Aku tidak akan pernah mundur dari tantangan apa pun yang ditawarkan.”

Tobio juga telah menyudahi posisi bertarungnya. Tampaknya mengalami kelelahan yang luar biasa secara mendadak, dia mengambil napas dalam-dalam beberapa kali untuk menstabilkan kondisinya.

Saat berjalan melewati posisi Tobio, Ouryuu membisikkan satu hal kepadanya. “Aku sebenarnya sangat ingin menghadapi entitas yang sedang tertidur di dalam dirimu. —Kau tadi terus memfokuskan konsentrasimu agar tidak tertelan oleh kekuatannya sendiri, bukan? Meski begitu—”

Ouryuu mengalihkan arah pandangan matanya menuju ke posisi Sae. “…Gadis itu, dalam hal kemanusiaanmu, dia adalah sosok entitas yang terus mempertahankan apa yang kauanggap sebagai kehidupan biasa, bukan? Yah, kurasa itu bukan urusanku.”

Meninggalkan Tobio dengan deretan kalimat penuh makna tersebut, Ouryuu pun melangkah pergi.

Dengan demikian, rangkaian pertarungan antara Tobio melawan Ouryuu serta Samejima melawan Byakko resmi dinyatakan berakhir—.

 

2

Setelah rangkaian pertandingan uji coba melawan kelompok Nakiri Nakagami-no-Ouryuu selesai, Tobio dan teman-temannya diizinkan untuk tinggal sementara waktu di Kuil Bagian Dalam.

Kamar-kamar yang disiapkan sebagai tempat mereka menginap merupakan ruang bergaya tradisional Jepang yang sangat luas. Desain langit-langit, fusuma, hingga hamparan tikar tatami-nya, semuanya tampak begitu elegan dan berkelas. Skala ruangan tersebut bahkan dengan mudah mencapai luas setidaknya lima puluh lembar tikar tatami.

Terlukis pada permukaan fusuma tersebut figur dari Lima Makhluk Suci, yang tidak lain adalah Empat Makhluk Suci beserta sang Naga Kuning.

Tobio, Samejima, dan Vali dituntun menuju satu ruangan besar yang dikhususkan untuk tamu laki-laki. Sementara itu, Sae, Natsume, Shigune, dan Lavinia dipandu menuju area kamar khusus untuk tamu perempuan.

Berdasarkan informasi yang mereka terima, telah diputuskan bahwa rombongan mereka akan menghabiskan waktu satu malam di tempat ini. Sebelumnya, saat Mephisto Pheles dan pihak atasan Kuil Bagian Dalam berdiskusi via komunikasi jarak jauh, mereka sempat mempertimbangkan opsi bagi rombongan Tobio untuk tinggal lebih lama dari itu—atau setidaknya, begitulah yang disampaikan oleh Direktur Mephisto kepada mereka.

Namun, saat ini mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu tinggal, mengingat situasi yang sempat memanas akibat adanya insiden kecil selama pertandingan berlangsung.

Di bagian tengah ruangan, Samejima tampak langsung merebahkan tubuhnya sembari merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar ke atas tatami.

“…Ah, melelahkan sekali. Si bodoh itu, berani-beraninya dia langsung menyerangku dengan kekuatan penuh seperti tadi…. Yah, karena kita setidaknya dapat fasilitas makan gratis dan tempat tidur yang nyaman dari semua kekacauan ini, aku akan memanfaatkannya tanpa sungkan.”

Di sisi lain, Vali berbicara sembari mengamati lukisan makhluk suci yang tertera di pintu geser fusuma. “Humph. Aku benar-benar tidak bisa menyukai atmosfer tempat ini. Lagi pula, sangat membosankan jika kita hanya disuruh menunggu dalam posisi siaga di sini sepanjang waktu. Andaikan aku juga diberi kesempatan bertanding melawan para kepala klan berikutnya pengguna makhluk suci itu, aku pasti tidak akan mengeluh, tapi….”

Saat Tobio bertarung melawan Nakiri Nakagami-no-Ouryuu sebelumnya, Vali sebenarnya merasa sedikit bersemangat. Entah bagaimana, dia sempat menyimpan secercah harapan bahwa dia mungkin akan mendapatkan giliran untuk bertarung melawan orang seperti Kushihashi Seiryuu, misalnya, yang kebetulan sedang berada di lokasi.

Namun pada akhirnya, tidak ada jadwal pertandingan yang disediakan untuk Vali. Akibat hal itu, suasana hatinya kini menjadi agak buruk. Dia merasa tidak puas karena bukan hanya Tobio, melainkan Samejima pun mendapatkan jatah bertarung sedangkan dirinya tidak.

Melihat hal tersebut, Tobio mulai memikirkan cara untuk mengembalikan suasana hati Vali yang memburuk, sembari sesekali mengusap bagian tubuhnya yang masih terasa nyeri akibat dampak serangan Nakiri Ouryuu. Luka-luka itu masih menyisakan rasa sakit yang cukup pekat. Untungnya struktur tulangnya tidak mengalami cedera serius, meskipun mungkin akan meninggalkan beberapa bekas memar yang membiru.

Samejima mendadak menyahut. “Jangan terlalu dipikirkan, Tobio. Lagi pula, kalau dibandingkan dengan orang itu… bajingan yang menamai dirinya Nakiri Ouryuu, sudah jelas level kekuatanmu berada di atas si harimau berengsek tadi. Tanpa menggunakan wujud Balance Breaker, kau dan Jin jelas memiliki batas kemampuan tersendiri.”

Vali langsung merespons komentar tersebut dengan nada dingin. “Oh ho, jadi Samejima Kouki sekarang sudah mulai bisa menilai perbedaan kekuatan dalam skala kecil, ya. Faktanya, pria dari keluarga Nakiri itu memang merupakan sosok petarung terkuat yang ada di tempat ini. Bahkan selama pertandingannya melawanmu tadi, Ikuse Tobio, dia kemungkinan besar bahkan belum mengeluarkan sepersepuluh dari total kekuatan aslinya yang sebenarnya. Kalaupun dalam skenario kasarnya kau berhasil mengakses Balance Breaker sekalipun… secara tak terduga, kau mungkin tetap akan bisa ditekan olehnya.”

Vali memberikan analisis tajamnya mengenai sosok Nakiri Ouryuu.

Kesal menanggapi gaya bicara dan sikap angkuh bocah tersebut, Samejima langsung bangkit berdiri, menghampirinya, lalu menarik kedua belah pipi Vali kuat-kuat dengan kedua tangannya. “Apa katamu, ‘Oh ho, Samejima Kouki sekarang sudah bisa memperkirakan kekuatan dalam skala kecil’—! Dengar ya, itu semua karena aku sudah digembleng habis-habisan lewat latihan super neraka dari pak tua Barakiel!”

“Jan'an thari phiphi-khu!”

Sembari menahan tubuh Vali yang terus memprotes dalam cengkeramannya, Samejima kembali berbicara kepada Tobio. “Jadi, soal fasilitas onsen yang katanya ada di sini, bagaimana kalau kau pergi menyegarkan diri dulu, Tobio?”

Kalau dipikir-pikir kembali, pelayan wanita yang menuntun mereka menuju kamar ini memang sempat menyebutkan fasilitas tersebut sebelumnya.

“Itu bagus untuk membantu memulihkan luka-lukamu, bukan? Karena aku dan Lucidra-sensei baru akan menyusul masuk belakangan, pergilah dulu dan beri tahu kami bagaimana kondisinya nanti.”

Setelah mempertimbangkannya sejenak, Tobio akhirnya menerima tawaran Samejima dan memutuskan untuk pergi menuju onsen.

 

Keluar dari area kamar yang telah disiapkan, dia berjalan menyusuri koridor panjang yang sunyi. Setelah melewati rangkaian belokan tajam ke arah kanan dan kiri berulang kali, dia akhirnya berhasil tiba di area onsen yang menjadi tujuannya.

Di tengah perjalanan tadi, ia sempat meminta bantuan seorang pelayan yang kebetulan berpapasan di koridor untuk menjelaskan rute lokasinya, dan setelah itu butuh waktu beberapa menit tambahan baginya untuk benar-benar sampai.

Bagaimanapun juga, ia hanya bisa dibuat takjub sekaligus bingung oleh betapa masifnya skala keseluruhan dari kediaman ini. Kendati demikian, Tobio merasa bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Kompleks kediaman luas ini merupakan tempat yang digunakan secara bersama-sama oleh orang-orang dari lima keluarga besar yang selama ini bertugas mengendalikan sisi gelap Jepang dari balik layar. Jika mengingat bahwa tempat ini secara turun-temurun telah menjadi situs paling krusial bagi Lima Klan Utama, maka sangat masuk akal jika ukuran areanya menjadi begitu luar biasa luas.

Kamar ganti pakaian di area pemandian ini pun terasa sangat lapang. Tobio sudah bisa mencium aroma khas belerang serta merasakan kelembapan udara hangat yang menguar dari onsen.

Setelah melepaskan seluruh pakaiannya, ia mengulurkan tangan untuk mendorong pintu pembatas, dan sesuai dugaan, area bak mandinya berukuran sangat luas. Terlebih lagi, ini merupakan jenis pemandian luar ruangan. Di bawah naungan langit musim dingin yang dingin, Tobio merasa bahwa kolam air panas di hadapannya—yang tampak sanggup menampung hingga beberapa puluh orang sekaligus—terlihat sangat indah dan menenangkan.

Tobio kemudian melangkah menuju area pembasuhan yang berada di sudut untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menceburkan tubuhnya ke dalam onsen.

—Dan meskipun hari sudah sangat larut, ia mendapati sesosok anjing hitam besar yang kini sudah berdiri dengan tenang di samping tempat pembasuhan tersebut. Tampaknya, makhluk itu diam-diam telah mengikutinya sampai ke area pemandian. Karena selama tinggal di kompleks apartemen mereka memang sudah sangat terbiasa menggunakan fasilitas pemandian umum bersama-sama, tampaknya Jin secara alami langsung ikut melangkah mengikutinya ke mari.

ilust

“Jadi, Jin yang pertama masuk ke onsen, ya? Atau lebih tepatnya, kau bakal kelihatan buruk kalau basah kuyup.”

Bahkan seandainya ia diizinkan masuk, tetap saja, masa anjing juga ikut berendam…? Lagian, rasanya tidak ada papan pengumuman bertuliskan “hewan peliharaan diperbolehkan” yang ditempel di mana pun.

Tepat ketika Tobio berpikir untuk menyuruh Jin menunggu di luar, sebuah suara tiba-tiba menyapanya.

“Tidak apa-apa, kok. Karena anak itu adalah alter egomu, silakan masuk saja tanpa perlu khawatir.”

Terkejut, Tobio menoleh—dan di sana berdiri Suzaku dengan rambut yang diikat ke atas! Dia telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya—.

Kulit putih yang mulus, dada yang menggairahkan, pinggang ramping, dan paha yang indah. Bagi remaja laki-laki seumurannya, pemandangan yang tertangkap matanya ini adalah racun yang mematikan—tidak, ini terlalu menyilaukan.

Tobio langsung membuang muka dan buru-buru menutupi bagian intimnya sendiri.

“—! Su… Himejima-san?! K-kenapa bisa ada di sini?!”

“Kenapa, tanyamu? Bukankah tempat ini adalah bagian dari Kuil Bagian Dalam milik Lima Klan Utama? Apa aneh kalau aku, kepala klan Himejima berikutnya, menggunakan onsen di tempat seperti ini?”

Apa yang dikatakannya memang benar…. Namun, Tobio tadi diberi tahu oleh pelayan kalau ini adalah area laki-laki.

“B-bukan itu maksudku! Ini 'kan area laki-laki—”

“Di sini area pemandian campur, lho. Tapi, karena memang ada orang-orang yang merasa canggung, makanya disediakan beberapa tempat pemandian terpisah.” Suzaku menjawab dengan tenang.

Mengingat kembali, Tobio memang tidak ingat pelayan itu pernah berkata “area laki-laki”. Ia hanya bertanya, “Di mana onsennya?” dan pelayan itu hanya menunjukkan arah ke tempat ini tanpa penjelasan lebih lanjut.

—Ternyata ini pemandian campuran!

Detik itu juga, pemuda itu dihantam oleh kenyataan yang mengejutkan.

Seolah bisa menebak reaksi Tobio, Suzaku berkata, “Benar sekali. Kalau begitu, beruntung sekali orang yang kautemui di sini adalah aku.”

Sungguh di luar dugaan—. Ia bisa memaklumi kalau ini pemandian campur. Tapi, berada di sini dalam situasi seperti ini jelas berbahaya.

“M-maaf, aku akan langsung pergi sekarang!”

Tobio buru-buru berbalik untuk pergi, tapi— “Tunggu, Tobio!” Suzaku menahan tangan Tobio.

Saat Tobio menoleh ke arahnya, gadis itu tersenyum dan berkata, “—Biar kubasuh punggungmu.”

Sementara itu, Jin yang berada di dekat mereka sama sekali tidak peduli dan malah menguap lebar—.

 

Onsen itu sangat luas. Suara air yang mengalir dari pancuran terdengar begitu jelas di tengah keheningan.

“……”

Tobio duduk mematung di area bilas. Suzaku duduk di belakangnya, dengan lembut menggosok punggung Tobio menggunakan handuk kecil.

…Bicara soal punggungnya yang dibasuh oleh perempuan selain anggota keluarga, terakhir kali hal itu terjadi adalah saat ia mandi bersama Sae sewaktu mereka masih kecil. Walau sebenarnya kejadian itu agak sulit dihitung…. Yang jelas, sejak ia memasuki masa pubertas, ini pertama kalinya punggungnya dibasuh oleh seorang perempuan.

Tak lama kemudian, Suzaku mengguyurkan air hangat ke punggungnya. Dengan ini, sesi basuh punggung tampaknya sudah selesai.

“T-terima kasih,” ucap Tobio sambil memutar otak mencari cara untuk keluar dari situasi canggung ini.

Tiba-tiba, Suzaku mengusap punggung Tobio langsung dengan tangannya.

Sentuhan mendadak itu membuat Tobio refleks ingin melompat berdiri, tapi ia berusaha keras mengendalikan kepanikannya. Meskipun mereka masih berkerabat darah, tetap saja rasanya mendebarkan bagi pemuda dan gadis seumuran berada dalam situasi intim seperti ini.

Suzaku berbisik pelan, “Kau sering melatih tubuhmu, ya?”

“Eh?”

“Kelihatan dari lekuk otot di punggungmu. …Yah, meski berkata begitu, ini sebenarnya pertama kalinya aku melihat punggung laki-laki seumuranku dari jarak sedekat ini.”

“T-terima kasih banyak.”

“Jangan sungkan begitu. —Yah, kita ini 'kan masih kerabat.”

Lalu, di tengah keheningan yang sempat tercipta, tepat ketika Tobio berniat curi-curi kesempatan untuk berdiri dan pergi lebih dulu, suara Suzaku kembali terdengar.

“Bagaimana kalau kita berendam di onsen? Mari mengobrol sebentar.”

Alhasil, karena ajakan tersebut, Tobio akhirnya berakhir berendam di kolam bersama Suzaku. Di dalam kolam yang luas itu, mereka berdua menenggelamkan tubuh hingga batas dada sambil menjaga jarak.

…Tentu saja, Tobio-lah yang sengaja menjaga jarak. Hal itu ia lakukan karena posisinya yang sangat rawan. Sambil kebingungan harus membuang muka ke mana, ia bergeser menjauh atas inisiatif sendiri. Sedikit saja matanya melirik, ia pasti akan langsung melihat payudaranya tanpa sengaja.

Di tengah keheningan uap air panas yang mengepul, Suzaku tiba-tiba membuka suara.

“…Apa kau membenci klan Himejima?”

Sebuah pertanyaan yang sangat lugas. Tobio menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

“…Aku tidak punya kesan yang baik tentang mereka.”

“…Begitu ya, wajar saja. Walaupun dia sudah diasingkan, kalian semua harus mengalami penderitaan pahit akibat ulah pemimpin Agensi Utsusemi itu.”

“…Bahkan orang seperti dia pun dikabarkan diasingkan hanya karena dianggap tidak memenuhi standar kalian. …Begitu pula dengan nenekku….”

“…Ya, begitulah tradisi klan Himejima… ah tidak, tradisi Lima Klan Utama.”

—Tradisi kaku.

Sebuah aturan mutlak yang dianut oleh keluarga-keluarga pemilik kekuatan supernatural sejak zaman kuno—. Justru karena memegang teguh aturan itulah klan Himejima bisa makmur hingga saat ini. Namun di sisi lain, aturan itu juga melahirkan kebencian dan dendam yang mendalam.

Suzaku berbicara sambil menatap langit malam yang bertabur bintang.

“Aku pun punya anggota keluarga yang sangat berharga bagiku. Seorang sepupu yang manis, dan seorang bibi yang cantik. Tapi, karena tradisi kaku itu… aku terpaksa kehilangan mereka.”

Sorot matanya tampak sayu, memancarkan kepedihan mendalam dari masa lalu yang ia kenang.

“…Sampai sekarang pun aku masih merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan mereka berdua. Seandainya aku punya kekuatan dan bakat yang lebih besar… Akeno… dan juga Oba-sama pasti….”

Setelah mengucapkan kalimat itu, sorot mata Suzaku berubah total. Pancaran kesedihan tadi digantikan oleh tatapan tajam yang penuh tekad dan keteguhan hati.

“Kelak, aku akan menjadi kepala klan berikutnya. Karena itulah, ada banyak reformasi yang ingin kulakukan. —Aku ingin mengubah klan ini demi mereka yang telah tiada.”

Suzaku mengalihkan pandangannya ke arah Tobio, lalu berkata lirih, “Aku benar-benar minta maaf soal pertarungan mendadak tadi. Itu semua karena klan Himejima dan para tetua menganggapmu sebagai sosok yang berbahaya….”

“Apa karena… aku bersama dia?”

Tobio melirik ke arah Jin. Makhluk itu tampak sedang mengendus pancuran air panas dengan rasa ingin tahu. Jin sempat mencoba mencelupkan diri tadi, tapi langsung melompat keluar lagi. Tampaknya ia memang belum terbiasa dengan air hangat.

Suzaku menjelaskan, “Lima keluarga besar takut jika suatu hari nanti kekuatanmu lepas kendali dan kau mengamuk. Tapi yang paling mereka takuti sebenarnya adalah jika silsilah keluargamu diselidiki, dan hubungan darahmu dengan klan Himejima terungkap ke publik. Pihak keluarga utama sangat cemas nama baik Himejima di negeri ini akan tercoreng.”

Jadi, karena alasan itulah pertarungan tadi diadakan. Tobio kini menyadari bahwa duel itu merupakan semacam ujian untuk memastikan apakah Nakiri Ouryuu mampu menghentikannya jika sewaktu-waktu ia lepas kendali.

Suzaku melanjutkan, “Tapi jika kita terus bertindak seperti ini, kebencian dan dendam hanya akan terus menumpuk hingga memicu bencana baru. Tragedi yang melahirkan tragedi lain hanya akan menjadi rantai kutukan tanpa akhir. Namun, kepala klan Himejima saat ini merasa hal itu bukan masalah. Baginya, jika konflik terjadi, mereka tinggal menindasnya dengan kekuatan militer. Mereka lebih memilih menutup-nutupi kebusukan yang ada dan terus menggunakan cara lama seperti yang sudah-sudah.”

Tanpa disadari, selagi mereka mengobrol, jarak di antara keduanya terkikis sedikit demi sedikit. Tobio terus bergeser mundur secara perlahan, namun ia malah berakhir menyudut di tepian kolam, hingga akhirnya Suzaku berdiri tepat di hadapannya.

“…Aku pribadi, atas nama klan Himejima, berpendapat bahwa bakat atau anugerah apa pun tidak boleh disia-siakan. Bahkan kekuatan berbahaya sepertimu pun sama sekali bukan masalah—”

Setelah melangkah begitu dekat hingga napasnya bisa terasa, Suzaku baru menyadari posisinya dan buru-buru meminta maaf.

“…Maaf. Aku malah terbawa suasana dan mengoceh sendiri. …Aku aneh sekali, ya? Tiba-tiba mendekatimu tanpa ragu seperti ini—padahal kita baru bertemu—dan malah membahas topik seberat ini….”

Meskipun tingkah lakunya tampak malu-malu, sorot mata dan ucapan Suzaku terasa sangat tulus. Tobio pun bisa merasakan bahwa tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Ia tidak bisa membayangkan Suzaku sebagai orang yang bermuka dua. Terlebih lagi, gadis ini sangat mengingatkannya pada mendiang neneknya, sehingga mustahil baginya untuk mencurigai Suzaku berniat buruk.

Tobio pun menyuarakan isi hatinya yang jujur.

“Aku… tidak begitu paham soal situasi internal klan Himejima ataupun Lima Klan Utama. Karena, aku dibesarkan di tengah keluarga biasa dan menjalani hidup yang normal. …Kekuatan supernatural milikku pun sempat disegel dan ingatanku tentang itu sangat kabur. Yang jelas, sampai sebelum tahun ini, aku hidup tanpa tahu apa-apa tentang dunia sisi lain.”

Tobio menatap langsung ke arah Suzaku.

“Meski begitu, saat pertama kali bertemu denganmu, aku sama sekali tidak merasa kau orang yang menakutkan. Saat kami bertarung melawan para penyihir pun, kau datang membantu kami. Aku… mungkin memang tidak bisa membantumu secara langsung dalam urusan klan. Apalagi tradisi keluarga kalian sangatlah ketat. Tapi—”

Sambil menggaruk pipinya yang merona merah karena malu, Tobio melanjutkan, “Kalau cuma sekadar jadi teman curhat sambil minum kopi di kafe, aku masih bisa melakukannya.”

Berdasarkan penjelasan panjang lebar tadi, mustahil baginya untuk ikut campur langsung dalam urusan internal klan Himejima. Membantu perjuangan Suzaku secara terang-terangan pun rasanya terlalu sulit. Namun, jika hanya menjadi teman berbagi keluh kesah, ia rasa ia sanggup. Itulah jawaban terbaik yang bisa Tobio berikan saat ini.

Mendengar jawaban itu, Suzaku spontan menutup mulutnya saat matanya mulai berkaca-kaca. Detik berikutnya, karena terlampau emosional dan terharu, ia langsung menerjang dan memeluk Tobio erat-erat.

“Tobio!”

Sensasi kelembutan tiada tara khas tubuh seorang gadis langsung menyapu seluruh indra peraba Tobio. Lengan, dada, perut, hingga paha Suzaku yang begitu lembut kini menempel erat di tubuhnya tanpa menyisakan celah sedikit pun.

Mengalami stimulasi sehebat ini jelas membuat otak remaja laki-laki seumurannya langsung mengalami overload. Kini, kepalanya tidak bisa memikirkan hal lain selain sensasi luar biasa dari lekuk tubuh wanita di pelukannya.

Bagaimana aku harus bereaksi?! Apa boleh aku membiarkan ini?! Apa ini dilarang?! Tidak, ini jelas dilarang! Dilarang oleh siapa?! Ah, masa bodo', pokoknya dilarang!

Di tengah isi kepalanya yang mulai kacau balau, Tobio berusaha keras mengeluarkan suara.

“U-umm…!”

Namun, tepat pada saat itu, Suzaku perlahan merenggangkan pelukannya. Dengan mata yang masih basah berkaca-kaca, ia menangkup kedua pipi Tobio dengan lembut menggunakan kedua tangannya.

“…Tobio. Aku pasti akan membuat keluargaku menerimamu. Kita akan membuktikan bersama-sama kalau kau sama sekali tidak berbahaya, dan—”

Saat wajah mereka kian mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, sebuah suara yang sangat familier tiba-tiba memecah suasana.

“Tobio?”

Tobio refleks menoleh ke arah sumber suara tersebut—dan di sana, Sae sedang berdiri tanpa sehelai benang pun.

“—! S-Sae?!”

Di saat otaknya bahkan belum sanggup memproses situasi gila yang sedang dihadapinya, keadaan justru mendadak bergeser ke arah yang jauh lebih mengerikan.

Tidak hanya Sae, di belakangnya tampak Natsume, Lavinia, dan Shigune juga ada di sana! Dan tentu saja, mereka semua juga sedang telanjang bulat!

“Eh? Tobio?”

Natsume ikut menoleh ke arah kolam karena mendengar seruan Sae. Begitu matanya bertemu pandang dengan Tobio, ia langsung menjerit histeris.

“—T-tunggu dulu…. K-k-k-k-k-k-k-k-kenapa kau ada di sini?!”

Kontras dengan yang lain, Lavinia justru tersenyum santai sambil membiarkan dadanya yang luar biasa besar berguncang pelan.

“Oh, ada Toby. Ternyata kau sudah masuk lebih dulu, ya.” Reaksinya benar-benar kasual seperti biasa.

Sementara bagi Shigune—.

“…S-sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di depan mataku….”

Dia benar-benar membeku, syok melihat seorang pemuda berendam di kolam yang sama dengan mereka, terlebih lagi pemuda itu sedang melakukan kontak fisik super intim dengan seorang gadis—yang tidak lain adalah Suzaku.

Setelah sempat tertegun sejenak, Suzaku menyapa Sae dan yang lainnya dengan ekspresi kelewat tenang.

“Wah, ternyata ada Toujou-san, Minagawa-san, Nanadaru-san, dan juga Lavinia.”

Natsume langsung berteriak protes, “Cuma ‘wah’ tanggapanmu?! K-kenapa kalian berdua bisa berendam bareng?!”

Suzaku menjawab dengan polos sambil memiringkan kepalanya sedikit.

“Ini 'kan memang pemandian campuran. Karena kebetulan aku dan Tobio berada di sini pada saat yang bersamaan, kami akhirnya saling membasuh tubuh satu sama lain.”

““——?!””

Sae dan Natsume langsung mematung seketika mendengar jawaban itu.

Detik berikutnya, bahkan Toujou Sae yang biasanya selalu bersikap santun dan lembut kini memasang ekspresi luar biasa dingin, sembari memancarkan aura kegelapan yang sangat mengerikan.

“…Tobio? Bisa tolong jelaskan apa maksud dari semua ini?”

ilust

“S-Sae! Dengar dulu! Ada alasan di balik semua ini!”

Meskipun Tobio dengan panik berusaha menjelaskan, Suzaku sama sekali tidak mundur.

Pada saat itulah Natsume berseru menuduh, “Seorang pria dan wanita yang seumuran, saling memandikan di pemandian campuran! Padahal kalian bahkan bukan sepasang kekasih!”

Tiba-tiba saja kesalahpahamannya berubah jadi saling memandikan! Masalah ini justru semakin runyam setiap detiknya!

Namun, Suzaku tetap sangat tenang. “Tapi kami 'kan berhubungan darah. Tidak ada yang aneh dengan hal itu.”

“Sepupu 'kan boleh menikah, tahu?! Jelas tidak boleh! Pokoknya tidak boleh!”

Suzaku merenungkan ucapan Natsume. “Menikah dengan Tobio? …Begitu ya.”

“Kenapa kau malah serius memikirkannya hanya karena aku menyebutkannya tadi?! Serius?!”

Natsume sangat terkejut sampai-sampai matanya hampir melompat keluar.

“Shaae, wajahmu galak sekali. Ada apa?” Lavinia menatap wajah Sae dengan bingung.

Sae, yang tubuhnya gemetar dari kepala hingga kaki, berteriak dengan mata yang berkaca-kaca, “…A-aku! Aku dan Tobio bahkan saling menggosok punggung sampai kami hampir lulus SD!”

Kenapa malah membahas hal itu sekarang?! Bahkan Tobio sendiri dibuat bingung oleh teriakan Sae.

“Astaga, kalian akrab sekali, ya.” Suzaku hanya tersenyum manis.

Sae memegang dadanya sendiri sambil membandingkan dirinya dengan Suzaku. “…Tobio, apa karena ukuran dada? Apa akan lebih baik kalau punyaku lebih besar seperti Lavinia atau Suzaku-san?”

Mendengar keluhan jujur dari teman masa kecilnya itu, Tobio akhirnya berhasil memikirkan kata-kata untuk membalas, “Eh, umm, soal itu… ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan ukuran dada. Tolong dengarkan dulu penjelasanku—”

“Kyaaa! Awawawa, ke-kenapa ada laki-laki di sini?!”

Orang yang baru saja masuk sambil berteriak histeris adalah kepala keluarga Doumon berikutnya yang masih SD—Genbu. Tobio merasa tidak sopan jika melihat tubuh gadis SD yang polos itu tanpa busana.

“Genbu, kau sudah datang rupanya.” Suzaku tersenyum menyambut kedatangan temannya.

“Uuuh, a-aku tidak tahu kalau ini pemandian c-campuran! Jadi Ikuse-san ternyata bajingan anjing lolicon mesum?!”

Genbu langsung melemparkan kura-kura yang dibawanya—Makhluk Suci Genbu—ke arah Tobio.

Makhluk Suci itu menarik kepala dan kaki-kakinya ke dalam tempurung, lalu melayang berputar tepat ke arah wajah Tobio—.

 

3

Setelah keluar dari onsen, Tobio beristirahat sejenak di kamar tamu. Wajahnya terasa berdenyut-denyut kesakitan. Ini karena wajahnya baru saja terkena hantaman telak dari serangan berputar Makhluk Suci Genbu.

Samejima dan Vali pergi ke onsen setelah Tobio selesai. Saat ini, mereka pasti sedang menikmati berendam air hangat.

Tak lama kemudian, keduanya kembali, dan Samejima menyapa Tobio dengan senyum lebar.

“Dengar ini, Tobio.”

“Apa?”

“Hehehe, aku iri setengah mati. Bisa-bisanya kau mandi bareng gadis-gadis SMA di pemandian campuran.” Sepertinya dia sudah mendengar tentang insiden di pemandian tadi dari seseorang.

Tobio menghela napas dengan wajah yang memerah.

“…Tapi, punya mereka besar sekali, ya,” ucap Samejima dengan seringai mesum. “Tapi pemandangannya indah sekali, 'kan? Kau disuguhi lautan dada begitu.”

Bisa dibilang begitu… Pikiran Tobio mau tidak mau melayang kembali ke kejadian tiba-tiba tadi. Yang bisa dia ingat hanyalah kulit putih yang berkilau dan… lekuk tubuh indah gadis-gadis tanpa busana yang menawan itu.

“……”

Tobio tidak bisa membantah kata-kata Samejima. Lagi pula, sebagai pemuda yang sehat, pemandangan indah seperti itu tentu saja menjadi sesuatu yang ia nikmati. Mustahil ia tidak merasa senang.

—Namun, saat Tobio dan Samejima sedang asyik mengobrol, Vali menyela dengan nada kecewa.

“Sial, apa-apaan ini?”

“Ada apa, Lucidra-sensei?”

Menjawab pertanyaan Samejima, Vali menghela napas panjang. “Tidak ada susu kopi di sini. Padahal aku dengar, setelah berendam di pemandian umum atau pemandian air panas, kita wajib minum susu kopi.”

“Ah, jadi minum susu kopi setelah berendam itu hal yang spesial, ya?”

Saat Samejima menanggapi begitu, Vali mengungkapkan kekesalannya dengan wajah datar. “Tentu saja begitu. Duh, mengecewakan sekali.”

Dalam segala hal, anak laki-laki berambut perak ini memang punya standar dan perhatian yang luar biasa tinggi kalau menyangkut makanan dan minuman. Azazel pernah membocorkan, “Naga, selain haus akan pertempuran dan harta karun, juga sangat suka makan,” tapi tetap saja….

Sambil memperhatikan gurauan antara Samejima dan Vali, Tobio terus memutar otak mencari cara untuk menemui Suzaku karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.

Selagi sedang berada di kediaman neneknya, ia berniat mencari tahu lebih detail tentang klan Himejima, yang merupakan asal-usulnya. Karena sudah bersusah payah datang ke markas Lima Klan Utama, ia ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin, terlepas dari terbatasnya petunjuk yang ia miliki saat ini.

Untuk memahami kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya, serta untuk mengendalikan dan mengembangkannya, ia merasa informasi tentang klan Himejima sangatlah krusial.

…Tapi, mengingat kejadian memalukan baru saja terjadi, kalau aku ingin menemui Suzaku lagi, aku harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru dengan teman-temanku.

Tepat di saat ia sedang kebingungan berpikir—kejadian itu mendadak terjadi!

DuuuuuuuUUUUUMMMMM!

Seluruh kediaman—bukan, seluruh area itu diguncang oleh benturan yang sangat dahsyat!

Samejima yang terkejut langsung memasang posisi waspada sambil berteriak, “Gempa bumi?!”, tapi Vali—.

“…Tidak mungkin.” Vali bergumam seolah mencurigai sesuatu, lalu menoleh ke arah tertentu.

Tak lama setelah itu, terdengar langkah kaki terburu-buru dari koridor, dan pintu kamar mereka terbuka lebar. Orang yang masuk adalah seorang pelayan kediaman tersebut.

Dengan ekspresi wajah yang tegang, pelayan itu menyampaikan pesan kepada Tobio dan yang lainnya. “Semuanya, harap segera berkumpul di aula pertemuan tadi. Penjelasan mengenai apa yang baru saja terjadi akan disampaikan di sana.”

Entah dari mana, bau hangus mulai tercium di udara.

 

Di aula pertemuan sebelumnya, teman-teman mereka, Mephisto, Suzaku, serta para kepala klan Lima Klan Utama berikutnya, ditambah beberapa praktisi yang tampaknya adalah bawahan mereka, telah berkumpul.

…Namun, hal yang mencurigakan adalah Nakiri Nakami-no-Ouryuu menjadi satu-satunya orang yang tidak terlihat di sana.

Samejima menjadi yang pertama membuka suara. “Guncangan apa yang terjadi tadi?”

Mendengar itu, Doumon Genbu menjawab dengan gugup, “I-itu… y-youkai…!”

—Youkai.

Tiba-tiba saja, nama makhluk mitos itu disebut. Jadi, guncangan hebat tadi adalah ulah para youkai…?

Suzaku menjelaskan kepada Tobio dan yang lainnya yang masih tampak kebingungan. “Kuil Bagian Dalam ini, beserta wilayah luas yang mengelilinginya, dilindungi oleh penghalang yang dipasang pada jarak tertentu. Agar manusia biasa tidak mendekat dan tidak sembarangan melangkah ke sini, kami memasang penghalang pengusir manusia. Di saat yang sama, ada juga penghalang untuk mencegah masuknya makhluk jahat—monster dan youkai seperti roh jahat sungai dan gunung.”

Mephisto kemudian menyela. “Penghalang itu sangat kuat. Itulah kenapa ada banyak persyaratan ketat bagi iblis sepertiku untuk bisa melewatinya.”

Penjelasan Mephisto sangat masuk akal. Saat dalam perjalanan naik limosin tadi, Tobio beberapa kali merasakan sensasi dingin yang menusuk kulit. Kemungkinan besar, itu adalah saat mereka melewati batas-batas penghalang tersebut. Memang benar, saat itu Mephisto dan Byakko sempat membicarakan sesuatu yang cukup serius, yang kini disadari Tobio bahwa mereka sedang membahas tentang penghalang ini.

Suzaku melanjutkan, “Jika ditotal dengan penghalang di kediaman Kuil Bagian Dalam ini, semuanya ada lima lapis. —Dan lapis pertama baru saja dihancurkan oleh para youkai.”

“—?!”

Tobio dan yang lainnya terkejut setengah mati mendengar informasi itu. Salah satu markas terkuat dari kelompok pengguna kekuatan supernatural yang telah melindungi Jepang dalam bayang-bayang sejak zaman kuno, kini sedang diinvasi oleh youkai!

Tobio dan murid-murid Nephilim lainnya benar-benar terpaku oleh kenyataan yang sama sekali tidak terduga ini. Sebaliknya, rekan mereka, Lavinia dan Vali, tampak bereaksi dengan sangat tenang…. Sementara Mephisto hanya menyunggingkan senyum sinis.

Shinra Byakko meraung marah mendengar hal itu. “Lalu, siapa sebenarnya bajingan bodoh yang berani-beraninya mencari gara-gara di markas Lima Klan Utama ini?!”

Salah satu praktisi menjawab dengan sangat hati-hati, “…Inugami Gyoubu dan pengikutnya.”

“—?!”

Informasi ini membuat para kepala klan berikutnya, termasuk Suzaku, serta para tetua di lantai yang ditinggikan, langsung terkejut.

Suara-suara penuh keterkejutan terdengar dari balik tirai tempat para tetua berada.

“Youkai Agung dari Shikoku—pemimpin para bake-danuki[3], menyerang tempat ini?!”

“Mustahil! Mengapa youkai kuno seperti dia menginvasi tempat ini?!”

Praktisi tersebut mematikan lampu aula, menyalakan proyektor, dan menampilkan sebuah gambar pada dinding. Meskipun tampaknya itu hanya rekaman situasi di luar, tapi…. Gambar yang diproyeksikan berasal dari kamera pengawas jalan setapak di tengah hutan. Di situlah lokasi penghalang lapis pertama berada.

Jalanan yang terlihat sebenarnya tidak berbeda dari beberapa saat lalu, namun—segerombolan besar makhluk yang menyerupai binatang mulai bermunculan di layar. Masing-masing adalah binatang berkaki empat sepanjang dua meter dengan wujud aneh, diselimuti aura yang menyeramkan, dan mereka bergerak menyusuri jalan hutan dengan kecepatan luar biasa.

Dengan dorongan kekuatan yang dahsyat, gerombolan itu akhirnya menabrak sebuah dinding yang tak kasatmata. Dinding ini rupanya adalah penghalang itu.

Kelompok monster aneh—bake-danuki itu terus menabrakkan diri ke dinding transparan tersebut secara membabi buta tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Namun, untuk bisa meruntuhkan penghalang itu sepenuhnya, dibutuhkan kekuatan yang sangat besar…. Di saat itulah, rekaman mulai menampilkan sebuah siluet raksasa. Itu adalah monster raksasa dengan ukuran sepuluh kali lipat dari bake-danuki biasa—.

Begitu monster ini muncul di layar, gangguan sinyal mulai mengacaukan gambar. Bahkan melalui kamera pun, sangat jelas bahwa aura yang menyelimuti monster tersebut berada di tingkat yang sangat berbeda—.

Aura yang menyelimuti makhluk raksasa itu membubung hingga batas maksimal, sebelum akhirnya ia menembakkan gumpalan energi spiritual raksasa dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, layar langsung dipenuhi distorsi statis, lalu seluruh gambar menjadi gelap gulita. Tampaknya kamera yang terpasang hancur akibat dampak dari tembakan energi luar biasa dari monster tersebut.

[……]

Tobio dan yang lainnya menahan napas menyaksikan kejadian luar biasa yang terekam kamera itu, tak mampu berkata-kata.

Kushihashi Seiryuu kemudian bergumam sambil mengelus dagunya, “Jadi monster raksasa itu adalah ‘Inugami Gyoubu’…. Kalau dipikir-pikir, cerita tentang para praktisi spiritual yang bertarung melawan Gyoubu tanuki memang sudah diwariskan turun-temurun di setiap keluarga kami….”

Begitulah penjelasan Seiryuu.

Genbu menyahut dengan nada ragu, “M-membahas itu, lima lapis penghalang yang mengelilingi Kuil Bagian Dalam akan semakin kuat jika semakin dekat dengan kediaman utama! Meskipun penghalang pertama dan kedua dihancurkan, bukan berarti para youkai bisa dengan mudah menembus penghalang ketiga dan seterusnya….”

Namun, praktisi yang mengoperasikan proyektor segera mengganti ke gambar lain. Gambar yang ditampilkan kali ini berasal dari lokasi yang berbeda dari penghalang lapis pertama tadi.

Kali ini bukan jalan setapak, melainkan area yang sepenuhnya berada di dalam hutan lebat. Tampaknya itu adalah hutan wilayah pribadi kediaman. Dan di sana, gambar tersebut menunjukkan monster-monster yang berbeda dari Bake-danuki sebelumnya.

Praktisi itu menjelaskan, “…Ada kelompok lain yang menyerang bersama dengan kelompok Inugami Gyoubu….”

Yang terpampang di sana adalah kerumunan makhluk humanoid setinggi hampir tiga meter. Makhluk-makhluk tersebut memiliki satu atau dua tanduk yang tumbuh di kepala mereka—mereka adalah Oni! Kawanan Oni itu terlihat sedang berbaris menembus hutan.

Sambil terus memantau layar, praktisi itu menambahkan, “—Ura dan para bawahan Oni-nya.”

“—?!”

Kembali dihadapkan pada informasi yang mengejutkan, seekor Oni berukuran luar biasa besar kini terpampang di depan mata semua orang yang hadir. Ukurannya mungkin dua kali lipat dari Oni biasa. Sambil menggenggam sebuah gada tebal di tangannya yang raksasa, makhluk itu diselimuti oleh aura yang sangat mengerikan—.

Melihat itu, para tetua berbisik dengan suara tercekat, “…Oni jahat itu!”

“Inugami Gyoubu dan Ura benar-benar menyerang bersama-sama?!”

“…Mereka jelas-jelas telah bersekutu. Mana mungkin Bake-danuki dan Oni bisa bekerja sama, apalagi sampai menyerang tempat ini…!”

Bahkan para tetua di balik tirai pun bergetar ketakutan menghadapi serangan serentak dari Inugami Gyoubu dan Oni jahat legendaris tersebut.

Melihat Tobio dan yang lainnya terdiam kaku karena dikejutkan oleh informasi yang bertubi-tubi, Mephisto memberikan penjelasan tambahan kepada mereka. “Ura adalah sosok Oni yang menginspirasi cerita dongeng terkenal di negara ini—Momotarou.”

Samejima tersenyum kecut mendengar informasi itu sambil menepuk dahinya sendiri. “…Hei, hei, hei, Momotarou dan bake-danuki? Bukannya kami belum pernah mendengar cerita dongeng, tapi ini keterlaluan…!”

Praktisi itu kemudian melapor kepada para tetua dan para pemilik Empat Makhluk Suci, “Saat ini, untuk mempertahankan penghalang kedua dan ketiga, seluruh praktisi dari Kuil Bagian Dalam telah dikerahkan untuk melakukan perlawanan balik. Pertempuran sengit bahkan sudah pecah di sekitar penghalang lapis kedua!”

Suzaku menyipitkan matanya melihat situasi darurat ini. “…Sayang sekali Ouryuu sudah telanjur pergi dari sini. Bagaimanapun juga, segera hubungi pihak luar! Ini keadaan darurat!”

Suzaku memerintahkan demikian, tetapi—

Seorang praktisi lain dengan wajah pucat menyela, “…Ada sebuah penghalang kuat yang berbeda dari penghalang kita yang menyelimuti seluruh wilayah kediaman…. Saat ini kita tidak bisa mengirim transmisi radio ataupun shikigami ke luar…. Dari pola energinya, kami yakin ini adalah penghalang dari Penyihir Oz…!”

—?!

…Wilayah luas kediaman Kuil Bagian Dalam ternyata telah sepenuhnya dikurung oleh penghalang milik para penyihir dari Oz—.

Mendengar hal itu, Byakko menghantamkan tinjunya ke atas lantai tatami dengan sangat keras karena murka. “…Artinya kita benar-benar terisolasi dari dunia luar! Terlebih lagi, para penyihir dan youkai itu bersekutu?!”

Aliansi antara para penyihir Oz dan youkai—.

Dan mereka kini sedang menginvasi Kuil Bagian Dalam! Motif mereka masih menjadi misteri…. Kejadian ini berlangsung begitu tiba-tiba hingga membuat Tobio dan yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa selain kebingungan menghadapi situasi yang kacau ini.

Mereka mencoba memeriksa ponsel mereka dan peralatan komunikasi yang dipinjamkan oleh Grigori, tapi seperti dugaan, tak ada satu pun alat yang bisa terhubung ke luar.

Hanya Vali yang tampaknya menikmati situasi menegangkan ini seorang diri. “Fufufu, aku mulai bersemangat. Ini panggung yang sangat cocok untukku.”

Suzaku menoleh ke arah Seiryuu, Byakko, dan Genbu. “Pertama-tama, mari kita ikut bertarung. Kita tidak boleh membiarkan mereka menginjakkan kaki di tanah ini. —Semuanya bersiaplah. Mari kita tunjukkan pada mereka kekuatan dari para kepala klan berikutnya yang telah menjalin kontrak dengan Makhluk Suci.”

“““Siap!””” Para kepala klan berikutnya menjawab dengan mantap.

Sesaat setelah itu—.

DuuuuUUUUUMMMMM…!

Sekali lagi, seluruh wilayah kediaman diguncang dengan hebat.

Para pemilik Empat Makhluk Suci langsung menyadari arti dari guncangan ini, membuat ekspresi wajah mereka menegang masam.

Suzaku berbicara, meski suaranya terdengar tercekat tegang, “…Seiryuu, tampaknya mereka juga telah menembus penghalang kedua. Kita tak boleh membuang waktu.”

Di tengah ketegangan yang mencekam itu, Sae menggenggam erat tangan Tobio, tampaknya karena merasa sangat gugup. Tobio membalas genggaman itu dengan lembut.

…Benar. Bagaimanapun situasinya, mereka harus melindungi diri mereka sendiri—.

Pertempuran melawan para youkai yang mendadak muncul itu kini akan segera dimulai.

 

[1] Shugendo adalah tradisi spiritual kuno dari Jepang yang menggabungkan unsur-unsur Buddhisme, Shinto, shamanisme, dan sihir Taois, dengan fokus pada pertapaan dan penyatuan diri dengan alam.

[2] Asketisme adalah gaya hidup atau paham yang bercirikan penolakan terhadap kesenangan duniawi dan kenikmatan indrawi, demi mencapai tujuan-tujuan spiritual yang lebih tinggi.

[3] Youkai yang menyerupai anjing rakun.

Post a Comment

0 Comments